ROSE WEASLEY AND IRIS ZABINI
Thanks semua yang sudah membaca fanfic ini... Rama Diggory Malfoy, Aleysa GDH, zean's malfoy, degrangefoy, Reverie Metherlence, Putri: Thanx reviewnya
Disclaimer: JK Rowling
Rose's POV
Al dan aku berjalan menyusuri jalanan ke Hogsmeade yang penuh dengan daun-daun yang berguguran. Anak-anak Hogwarts sudah banyak yang melewati kami dan memandang kami dengan aneh. Aku tidak peduli dan Al juga sepertinya begitu. Iris dan Ken lewat di depan kami. Aku tersenyum dan melambai, Al terlihat sedih dan tertekan.
"Al, kau terlihat lebih sedih dari kemarin... ada apa?"
Al memandang Iris dan Ken yang menghilang dikejauhan.
"Aku bingung... ada sesuatu yang membuatku benar-benar bingung," jawab Al.
"Ini tentang cewek yang kau suka? Kau sudah bicara dengannya?"
"Sudah..."
"Lalu?"
"Tidak ada..."
"Dia menolakmu?"
"Tidak! Dia mencintaiku, tapi dia mengatakan hal yang aneh tentang dia adalah orang yang salah."
"Bagaimana?"
"Entahlah..."
"Siapa dia?"
"Aku tidak bisa bilang padamu, Zabini."
"Baiklah, aku mengerti!" kataku, memandang Al dengan sedih. Al sangat bingung dan tertekan. Apa gunanya aku sahabat dan sepupunya kalau tidak membantu meringankan kesedihannya. "Kalau dia mengatakan bahwa dia adalah orang yang salah berarti dia tidak yakin kau benar-benar menyukainya."
"Aku yakin dia menyukai aku... dia mencintaiku," kata Al dengan keyakinan yang nyata.
"'Dia adalah orang yang salah'... bisa berarti keluarganya tidak menyukaimu atau Uncle Harry dan Aunt Ginny, maksudku Mr. dan Mrs. Potter tidak menyukainya."
"Aku yakin sekali keluarga kami tidak akan menyetujui hubungan ini."
"Maksudmu ini cinta terlarang... wow! Keren, Al! Aku dari dulu ingin salah satu dari keluarga kita terlibat cinta terlarang, seperti Romeo dan Juliet."
"Aku senang kisah cintaku membuatmu gembira, Zabini, tapi jangan memanggil keluargaku dengan 'keluarga kita' dan aku tak tahu apa itu Romeo dan Juliet."
"Romeo dan Juliet itu adalah sebuah roman percintaan Muggle yang sangat menyedihkan... kau harus membacanya, Al."
"Terima kasih tawaranmu, Zabini, tapi aku tidak tertarik."
"Apa yang terjadi dengan Lily dan Corner, Al? Aku tidak melihat mereka melewati kita."
"Lily tidak ke Hogsmeade hari ini, dia sakit."
"Apa? Lily sakit apa?"
"Entahlah..."
"Aku tidak melihatnya saat sarapan tadi, apakah dia di rumah sakit?"
"Tidak... dia dan Rose tidak turun sarapan."
"Mengapa?"
"Jangan tanya aku, Zabini... Kau pikir aku pengawas mereka?" tanya Al jengkel.
"Memang bukan, tapi...'
"Sudahlah, Zabini, tutup mulut!"
Aku memandang Al dengan perhatian. Suasana hatinya sedang buruk. Hari ini memang suasana hati semua orang jelek.
"Iris!" kata suara dibelakangku aku menoleh dan melihat Malfoy berjalan ke arah kami.
"Oh, Vampir!" kataku ketika Malfoy mendekat.
"Al, ini Scorpius Malfoy... Vampir, ini Albus Potter sepupu, eh, temanku!" kataku memperkenalkan mereka.
"Aku sudah mengenal Malfoy, Zabini!"
"Tapi kalian belum diperkenalkan secara resmi kan?"
"Memang belum..."
"Nah, sekarang kalian bisa jadi sahabat," kataku tersenyum. Aku senang kalau kami bisa bersahabat dengan Slytherin. Aku ingat apa yang dikatakan Uncle Harry saat tahun pertama bahwa dia dan Aunt Ginny tidak peduli di asrama mana Al ditempatkan karena semua asrama sama saja. Ini maksudnya agar kami bisa mengadakan persekutuan asrama dan berteman dengan siapa saja. Termasuk asrama Slytherin.
Malfoy dan Al saling mendelik.
"Oh, ayolah!" kataku tidak sabar dan menyeret mereka berdua menyusuri jalan ke Hogsmeade.
Aku tidak tahu dimana aku harus menemui Mrs. Zabini. Apakah aku harus menunggunya di Tree Broomsticks atau aku langsung ke Dervish and Banges, toko yang menjual peralatan sihir, termasuk jubah. Aku memandang sekeliling mencari-cari Iris, tapi jalan desa itu dipenuhi dengan anak-anak dan orang-orang dewasa yang sedang berbelanja. Jadi tidak mungkin menemukan Iris di tengah kerumunan. Aku memutuskan untuk langsung ke Dervish and Banges, mungkin ibu Iris sudah menunggu di sana.
"Al, ada yang harus aku lakukan... aku harus membeli jubah... kita bertemu lagi di Tree Broomstick jam duabelas, ya?"
"Biar aku menemanimu membeli jubah, Zabini," kata Al.
"Tidak usah... Vampir, tolong temani Al, ya! Aku harus pergi... bye!" aku melambai dan berlari meninggalkan Al dan Malfoy yang berdiri bengong di tengah jalan.
Aku melewati Honeydukes, Zonko's Joke Shops dan tiba di Dervish and Banges duapuluh menit kemudian. Mrs. Zabini sedang duduk di bangku untuk pengunjung sambil membaca Witch Weekly.
"Terlambat 30 menit," kata Mrs. Zabini, berdiri masuk ke sebuah ruangan di sebelah kiri toko.
Aku mengikutinya dan masuk pada ruangan yang berukuran besar dengan kain-kain yang beraneka warna tergeletak sembarang di meja dan di lantai. Seorang penyihir wanita berumur sedang mengukur kain ungu dengan meteran. Peyihir itu mengangkat muka dan memandang kami.
"Oh, akhirnya Miss Zabini sudah tiba. Kemari, Nak!"
Penyihir itu menyuruhku berdiri di depan cermin dan membiarkan meterannya mengukur sendiri, tangan dan kakiku.
"Jubah anak-anak perempuan Hogwarts..." katanya, mencari-cari kain hitam ditengah kain yang beraneka warna. "Aku sudah membuat dasi Slytherin untuknya, Mrs. Zabini. Aku meyimpannya di konter depan."
"Terima kasih, Madam Dervis," kata Mrs. Zabini datar.
Satu jam kemudian kami keluar dari Dervis and Banges dengan tas-tas belanja besar di tanganku. Mrs. Zabini berjalan di sampingku dengan kaku.
"Mother, kalau kau ingin makan siang kita bisa ke Three Broomstick," kataku, mengikuti langkah Mrs. Zabini yang cepat.
"Jangan... aku sengaja menemanimu belanja karena ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kita harus mencari tempat yang sepi... ayo ke Hog's Head!"
Kami meninggalkan jalan utama dan memasuki jalan setapak kecil. Di ujung jalan ada tempat minum kecil dengan papan tanda dari kayu yang bertulis Hog's Head. Kami masuk dan memilih tempat duduk di sudut yang remang-remang. Pelayan bar, seorang laki-laki gemuk berkulit pucat mengantarkan pesanan kami.
"Aku sudah menemukan rumah untuk kita di Prancis Selatan. Di sana daerah pantai jadi udaranya hangat," kata Mrs. Zabini, setelah pelayan gemuk itu meninggalkan kami.
"Mother, apa yang kau bicarakan?" tanyaku kaget.
"Rumah kita! Kita tidak bisa lagi tinggal di Zabini Mansion lagi, kita..."
"Mengapa kita tidak tinggal di Zabini Mansion lagi?" tanyaku tak percaya.
Mrs. Zabini menatapku heran. "Apakah Alan tidak memberitahumu bahwa ayahmu dan aku saat ini sedang mengurus perceraian?"
"Tidak!" kataku sambil berdiri. Tidak mungkin! Aku benci perceraian. Aku yakin Iris sama sekali tidak tahu tentang hal ini. Alan? Jadi ini yang disembunyikan Alan dari Iris. Ini yang dimaksudkan Alan dengan latihan untuk menguatkan diri kalau kita terluka. Sehingga, kalau berita ini datang kita bisa kuat menerimanya. Iris mungkin akan menerima dengan tabah dan sabar, tapi aku tidak. Aku, Rose Weasley dan aku tidak menyukai perceraian. Kalau Mr. Zabini masih mencintai istrinya mengapa harus bercerai?
"Duduk!" desis Mrs. Zabini marah.
"Mengapa? Mengapa kalian bercerai?"
"Ini bukan urusanmu, Iris... ini urusan orang dewasa... kau hanya perlu diam dan menerimanya. Kami sudah memutuskan bahwa kau akan ikut denganku dan Alan akan tinggal di Mansion."
"Aku tidak akan ikut denganmu."
"APA?"
"Aku tidak ingin berpisah dengan Alan... dan aku harus tahu mengapa kalian bercerai."
"Kami sudah tidak bisa hidup bersama lagi."
"Mengapa kalian tidak bisa hidup bersama lagi? Bukankah kalian sudah bisa melewati kehidupan bersama selama bertahun-tahun? Kenapa sekarang?"
"Tutup mulut, Iris... aku tidak ingin kau bersikap kurang ajar... bersikaplah seperti anak yang menghormati orangtuanya!"
"Aku bersikap kurang ajar? Aku bersikap seperti seorang anak, Mom, anak yang tidak ingin orangtuanya bercerai."
"Jangan memanggilku Mom... aku tidak ingin ketidaksopanan ini diucapkan di luar."
"MOM!" aku menjerit, pelayan bar yang sedang menyimpan gelas yang baru dikeringkan langsung kaget. "Aku akan memanggilmu, Mom, karena aku tidak peduli dengan kesopanan."
"Iris!"
"Mengapa kau tidak menyayangi kami, Mom? " kataku, teringat Iris yang sangat takut pada ibunya. "Padahal kami semua menyayangimu, mencintaimu... tapi kau mau meninggal kami."
"Siapa yang bilang aku tidak menyayangi kalian... Siapa yang melahirkan kalian? Siapa yang menggendong dan menyusui kalian waktu masih bayi, siapa yang terbangun di malam hari untuk mengganti popok kalian dan membuai kalian supaya tertidur lagi? Siapa? Aku kan? Tentu saja, aku sangat menyayangi kalian... Aku juga tak ingin malakukan ini... aku tak ingin berpisah dari kalian berdua, tapi aku tak bisa hidup dengan ayahmu lagi... kami memang tidak berjodoh."
"Mom, kalau kau memang tak bisa hidup bersamanya mengapa kalian menikah?"
"Kami dijodohkan..."
"Kau kan bisa menolaknya, Mom, kalau kau tidak mencintai Dad."
"Aku mencintai ayahmu... aku sangat mencintainya, karena itulah aku menikah dengannya... aku tahu dia menikah denganku karena dijodohkan orangtuanya. Jadi aku tak ingin memiliki anak dengannya, aku tahu anak-anak itu nanti akan menderita karena orangtuannya tidak saling mencintai."
"Tapi Dad mencintaimu, Mom... aku yakin itu."
"Apa?"
"Ya... Dad mencintaimu! Dia menikah denganmu tentu karena mencintaimu... kalian menikah secara sihir... tentu sihir itu tidak bisa menipu."
"Aku... aku..."
"Kalian hanya perlu saling bicara saja, Mom! Cobalah untuk bicara dengan, Dad... aku tahu kalian tidak pernah saling bicara selama bertahun-tahun ini... bicaralah dan tanya Dad, apakah dia mencintaimu atau tidak... ini demi kami, Alan dan aku... Kumohon, Mom!" kataku. Aku harus melakukan ini untuk Alan dan Iris serta Mr. Zabini yang aku yakin sangat mencintai istrinya.
"Iris, kemarilah!" kata Mrs. Zabini, berdiri.
Aku menghampiri Mrs. Zabini dan kami saling berpelukan sesaat.
"Kau kelihatan berbeda, Iris," kata Mrs. Zabini mengawasiku dengan penuh perhatian.
"Aku sudah semakin dewasa, Mom," kataku tersenyum.
Mrs. Zabini tersenyum dan senyumam itu menjadikan wajahnya bercahaya dan cantik. Pantas saja, Mr. Zabini menyukainya, Mrs. Zabini benar-benar cantik.
"Ayo, aku akan mengantarmu ke Hogwarts."
"Jangan, Mom... aku akan ke Three Broomstik, teman-temanku menunggu di sana," kataku cepat.
"Baiklah, kita ke Three Broomstik."
Scorpius' POV
Aku memandang kepergian Iris dengan kengerian. Apa yang harus aku bicarakan dengan Potter sialan ini. Cowok yang disukai Iris.
"Ayo, kita ke Honeydukes!" kata Potter santai, lalu berjalan meninggalkanku.
Aku yang tidak mau berdiri sendiri di tengan jalan langsung berjalan menyusul Potter. Kami menghabiskan satu jam waktu kami dengan mencoba semua permen yang ada di Honeydukes. Potter dengan senang hati mencoba permen rasa darah yang langsung membuatnya berlari keluar dan muntah-muntah. Dia muncul kembali dengan wajah pucat dan aku menertawakannya. Dia kemudian menantangku untuk mencoba Kacang Segala-Rasa berwarna putih pucat yang ternyata adalah rasa muntah dan aku menahan diri untuk tidak muntah-muntah.
Sebenarnya tidak sulit berbicara dengan Albus Potter, asal kau bisa menahan diri untuk tidak menghina sepupu Banshee-nya, yang diceritakannya dengan penuh perasaan.
"Rose tidak suka dengan orang yang melanggar janji," kata Albus, saat kami sudah duduk dengan nyaman di Three Broomstick.
"Iris juga seperti itu," kataku teringat Iris.
"Oh ya? Aku tidak tahu Iris seperti itu. Sejak Senin kemarin sikapnya agak berubah, ya?"
"Ya... tapi aku dan Alan senang karena Iris terlihat lebih ceria dan bersemangat dibandingkan Iris yang biasa."
"Terlalu bersemangat menurutku... yang lebih aneh lagi Rose bisa berteman dengannya."
"Sebenarnya aku dan Alan ingin berterima kasih pada Weasley karena dia membuat Iris berubah menjadi orang yang lebih ceria."
Kami terdiam sambil menikmati minuman kami. Pintu Three Broomstick terbuka dan Weasley yang memakai sweater hitam sederhana dengan jeans biru masuk, diikuti oleh Davis. Mereka masuk dengan tertawa-tawa dan tidak menyadari Potter dan aku sedang mengamati mereka. Mereka mengambil tempat di depan kami dan memesan Butterbeer.
"Mereka pacaran?" tanyaku pada Potter yang terlihat sangat tertekan.
"Seperti itulah..." jawabnya, membuang muka.
Pintu Three Broomstick terbuka lagi berkali-kali dan banyak anak-anak Hogwarts yang masuk menghindari udara dingin bulan November.
Aku melihat Alan masuk dengan aneh, antara sadar dan tidak. Aku berpikir mungkin Alan baru saja menghabiskan sebotol Whisky Api. Aku memanggilnya dan dia duduk bersama kami.
"Apa yang terjadi Alan?" tanyaku.
"Aku baru saja meninju Corner."
"Apa?" tanyaku dan Potter bersamaan.
"Dia berciuman dengan Arlena di Madam Puddifoot's ... aku pikir dia sedang bersama Lily."
"Arlena Deverill kan pacarmu Alan!" seruku kaget.
"Kami putus semalam..." kata Alan. "Tapi Lily... aku pikir Lily dan Corner..."
"Lily sakit," kata Potter, memandang Alan dengan selidik.
"Oh, Lily sakit? Sakit apa?"
"Yang pasti tidak membahayakan nyawanya, Zabini," jawab Potter.
"Oh..."
"Sejak kapan kau memanggil Lily dengan nama kecil, Zabini?" tanya Potter.
"Aku tidak punya maksud apa-apa, Potter... aku hanya meresa lebih enak memanggilnya Lily kerena kau ada disini."
Potter memandang Alan tidak percaya, aku juga memandang Alan dengan menyelidik. Ada yang aneh di sini. Mengapa Alan memukul Corner apakah karena Deverill? Rasanya tidak mungkin, Alan yang memutuskan Deverill. Mungkin ada sesuatu yang ada hubungannya dengan Lily Potter.
Potter dan aku masih menatap Alan penuh curiga ketika suara keras dan ceria terdengar,
"Alan!"
Kami berbalik dan melihat Iris muncul bersama Mrs. Zabini yang tersenyum pada Alan. Alan hanya melongo seperti kehilangan kata-kata.
"Mom, ini temanku Albus Potter, ini Vampir... Malfoy, maksudku Scorpius, Mom masih ingatkan? Dan Rose kemarilah... Ini Rose Weasley temanku!"
Aku melongo memandang Weasley yang datang bergabung dengan kami meninggalkan Davis. Iris menarik Rose dan mendekatkannya ke Mrs. Zabini.
"Selamat siang semua!" kata Mrs. Zabini.
"Apa kabar Mrs. Zabini?" kataku.
"Baik-baik saja, Scorpius... Sudah lama aku tidak melihatmu... kau sudah dewasa, ya? Bagaimana kabar ibumu."
"Mom baik-baik saja..." jawabku.
"Albus Potter dan Rose Weasley ini adalah anak dari..."
"Aku tahu, Iris!" kata Mrs. Zabini memotong perkataan Iris lalu tersenyum pada Weasley dan Potter.
Potter balas tersenyum dengan ramah dan Weasley untuk sementara tidak dapat berkata-kata seperti Alan.
"Alan, kau tidak mencium, Mom," kata Iris, menarik Alan berdiri dan mendorongnya ke arah Mrs. Zabini.
"Apa kabar, Mother?" kata Alan, setelah mencium pipi Mrs. Zabini dengan kaku.
"Baik-baik saja, Alan... ayahmu juga baik-baik saja," kata Mrs. Zabini, tersenyum. "Aku akan menyerahkan barang-barang Iris padamu karena aku harus kembali ke Mansion."
Dia menyerahkan kantong belanja Iris pada Alan.
"Sampai jumpa natal nanti!" katanya pada Iris dan Alan, lalu melambai pada kami yang lain.
Alan masih berdiri mematung dengan tas belanja di tangan. Weasley menatap pintu seolah pintu itu telah membuatnya sangat terkejut. Iris tersenyum pada aku dan Albus.
"Maaf aku terlambat," katanya, lalu meletakkan sisa tas belanjanya di meja.
"Rose!" kata Weasley.
"Ada apa, Rose Weasley?" tanya Iris dengan tajam.
Weasley menatap Iris sesaat kemudian memeluk Iris dengan airmata bercucuran.
"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan, tapi aku sangat berterima kasih... kau memang orang yang paling hebat yang pernah kukenal... aku... aku..."
"Kau membuat bajuku yang cantik penuh airmata, Rose!" kata Iris, melepaskan pelukan Weasley.
"Ini airmata bahagia," kata Weasley, tertawa dengan airmata bercucuran.
"Semalam airmata untuk orang lain, sekarang airmata bahagia, lalu airmata apa lagi yang kau miliki, Rose?" tanya Iris tersenyum.
Weasley tertawa, memeluk Iris lagi, lalu memegang tangannya. "Aku telah melakukan yang terbaik dengan Ken... Aku berusaha dan kau tidak akan menyesal menyerahkan tugas ini padaku."
"Aku percaya padamu..." kata Iris, memandang Davis, yang tersenyum padanya.
"Kalau begitu aku pergi dulu... Terima kasih, Iris!" kata Weasley, lalu pergi duduk bersama Davis.
Iris duduk dan tersenyum memandang kami.
"Untuk apa Rose berterima kasih padamu?" tanya Potter.
"Bukan apa-apa," jawab Rose mengambil Butterbeer Potter dan meminumnya.
"Tapi dia memang berterima kasih tadi... pasti ada sesuatu... Rose tidak pernah mengeluarkan airmata seperti itu... Rose tidak pernah menangis, apalagi di depan orang."
"Sudahlah, Al... aku lagi malas bicara."
"Alan, kau masih bersama kami kan?" tanyaku, memandang Alan yang masih berdiri mematung.
"Apa yang kau lakukan pada, Mother?" tanya Alan, duduk di samping Iris.
"Mengapa kau tidak memberitahu Iris, maksudku, memberitahuku kalau Mom dan Dad akan bercerai?" tanya Iris, mengabaikan pertanyaan Alan.
"Aku tidak ingin kau bersedih."
"Alan Zabini, si penjaga hati, penjaga hati orang lain agar orang lain tidak bersedih... menganggap yang dilakukan adalah terbaik untuk semua orang... tahu tidak, Alan, semua yang kau lakukan itu membuat orang lain terluka... membuat orang lain sedih."
"Apa maksudmu, Iris?"
"Iris... aku tidak akan apa-apa kalau kau memberitahuku tentang perceraian itu... aku tidak terbuat dari kaca yang mudah pecah... aku kuat, tapi kau mengganggap aku..."
"Maaf!"
"Belum Alan, masih ada masalah semalam... mengapa kau tidak mengatakan bahwa kau menyukainya?"
"Apa yang kau bicarakan?"
"Kau tidak ingin aku menyebut namanya di sinikan, Alan?" tanya Iris sambil melirik Potter.
"Apa?"
"Di koridor lantai dua, Alan, kalau itu lebih mencerahkan pikiranmu yang kabur."
"Kau... kau menguntitku..."
"Aku tidak menguntitmu, Alan, kebetulan saja aku mendengarmu."
"Bagus, Iris!"
"Apa yang bagus, Alan? Sikapmu yang sok jadi pelindung, menyerahkannya pada cowok lain padahal kau ingin dia menjadi milikimu? Itu yang bagus, Alan?"
"Kau tidak mengerti perasaanku, Iris."
"Apa yang tidak kumengerti? Aku tahu kau mencintainya, Alan sejak pertama kali melihatnya, aku tahu kau menyimpan foto-fotonya, aku tahu kau merasa tidak pantas untukku. Begitukan Alan?"
"Brengsek, Iris... kau membuka lemariku!"
"Ya... harus ada yang melakukannya, Alan! Harus ada yang tahu kau mencintainya... Harus ada yang memberitahumu bahwa dia terluka... kuberitahu kau Alan, kau telah membuatnya terluka semalam dan itu lebih parah dari luka yang kau berikan padanya setahun yang lalu."
"KELUARGANYA MEMBENCI AKU!" teriak Alan, membuat mata semua anak yang berada di Three Broomstick memandang kami. "Aku tidak ingin keluarganya membencinya karena dia bersamaku."
"KAMI TIDAK MEMBENCIMU!" jerit Iris, tak kalah kerasnya. "Berapa kali harus ku katakan bahwa kami tidak membenci darah murni... mereka tidak membenci darah murni. Yang mereka inginkan adalah kau mencintainya, menyayanginya dan tidak meninggalkannya... mungkin mereka akan memantraimu sedikit, tapi itu tidak akan membunuhmu... mereka hanya ingin kau bisa bergabung dan bersahabat dengan mereka.
Alan dan Iris saling bertatapan.
"Aku mau kembali ke kastil," kata Alan, meyimpan tas belanjaan Iris di atas meja dan berjalan keluar meninggalkan Three Broomstick, diiringi pandangan ingin tahu anak-anak lain.
Iris duduk di kursi, menyambar Butterbeer Potter dan meminumnya sampai habis.
"Benar-benar brengsek! Orang yang sok melindungi padahal yang paling banyak melukai..." desis Iris pada dirinya sendiri.
"Apa yang kau bicarakan dengan Alan, Iris?" tanyaku, bertukar pandang dengan Potter.
"Bukan urusanmu, Vampir! Tutup mulut! Karena aku sedang tidak ingin bicara apa-apa."
Potter dan aku saling pandang lalu membuang muka. Semua orang sedang aneh hari ini. Bahkan Mrs. Zabini yang kaku pun terlihat aneh hari ini. Tidak apa-apa selama aku tetap waras dan Iris tetap menjadi Iris.
Iris' POV
"Iris, mana Lily?" tanya Rose padaku ketika kami keluar dari Aula Besar habis makan malam.
"Di kamar... dia tidak mau bertemu siapa-siapa," jawabku
"Anak itu!" kata Rose mendesis. "Aku harus bertemu dengannya. Ayo!" kata Rose, memegang lenganku, dia menarikku dengan cepat menuju ruang rekreasi Gryffindor.
Tanpa menghiraukan anak-anak lain yang sedang duduk bercengkrama di ruang rekreasi Gryffindor, Rose langsung menyeretku menaiki tangga.
"LILY!" teriaknya saat memasuki kamar anak-anak perempuan kelas lima.
Lily yang sedang duduk di tempat tidur sambil membaca Perjalanan Penyihir Buta ke Dunia Muggle langsung menutup bukunya dan menatap Rose dan aku.
"Zabini? Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Lily.
"Berjualan... tentu saja bertemu denganmu... mengapa kau menyembunyikan diri dari semua orang?"
"Bukan urusanmu, Zabini! Keluar dari kamarku sekarang!"
"Tidak! aku tidak akan keluar sebelum bicara denganmu."
"Rose, mengapa kau membawanya ke mari... bawa dia pergi!"
Lily mendelik padaku, aku tersenyum dan pura-pura memandang lemari di sudut ruangan. Aku tidak bisa bilang, bukan aku yang membawa Rose, tapi Rose yang memaksa masuk ke kamar ini.
"Apa yang kau lakukan, Lily? Menyembunyikan diri seperti pengecut?"
"Brengsek Zabini! Aku tidak ingin bicara denganmu. KELUAR!"
"Tidak, Lily! Aku tahu apa yang kamu pikirkan, tentang Alan kan?"
"Keluar atau aku akan mengutukmu dan kau tidak akan bisa melihat matahari besok!"
"Lihat ini, Lily!" kata Rose, melemparkan sesuatu pada Lily.
Lily yang tidak bisa menghindar, menangkap benda itu dan menatap Rose.
"Album foto?"
"Bukalah!" perintah Rose.
Aku duduk disamping Lily dan ikut melihat foto bersama Lily. Aku menatap gambar-gambar itu dengan takjub, semuanya adalah gambar-gambar Lily. Lily saat tahun pertama dengan wajahnya yang imut dan lucu. Lily sedang duduk di danau membaca sesuatu. Lily bersama Rose sedang terbang di lapangan Quidditch dengan jubah merah yang berkibar ditiup angin. Objek foto ini cuma satu, Lily.
"Siapa? Siapa yang mengambil fotoku?" tanya Lily terkejut dan ingin tahu.
"Siapa ya, Lil? Kukira dalam hatimu kau tahu."
"Alan!" kata Lily datar.
"Kau tahu arti gambar-gambar ini, Lil?"
"Tidak!"
"Gambar ini artinya bahwa dia mencintaimu... bahwa hanya dirimu yang selalu ada dipikirannya... dari pertama kali melihatmu sampai sekarang."
"Mengapa dia tidak mengatakannya padaku?" tanya Lily, airmatanya jatuh membasahi gambar dalam Album. "Mengapa, Zabini? Padahal aku... aku juga ingin bersamanya, aku juga menyukainya. Aku mencintainya."
"Kau mau tahu apa alasan dia tidak mengatakan bahwa dia mencintaimu?"
"Apa?"
"Dia takut keluargamu akan membencimu kalau kau bersama dengannya. Dia takut kau akan menderita bersamanya... dia takut dia tidak akan bisa membuatmu bahagia."
"Alasan yang aneh," kata Lily, menghapus airmatanya.
"Dia memang seperti itu, dia ingin semua orang bahagia," kata Rose.
"Bagaimana kalau aku bahagia bersamanya?"
"Kau harus mengatakan itu padanya, Lil," kata Rose, "Cuma kau yang bisa merubah semuanya."
"Terima kasih sudah menunjukkan ini padaku," kata Lily, menutup album foto. "Kami memang harus membicarakannya."
"Bagus! Nah, sekarang kau bisa turun makan malam... mungkin masih ada sisa puding," kata Rose, tersenyum.
Lily tersenyum lalu berjalan keluar. Rose dan aku mengikutinya dari belakang.
"Rose, terima kasih karena sudah membereskan masalah Alan," kataku, ketika kami duduk di lantai toilet lantai dua.
"Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja... aku tak ingin Lily bersedih."
" Ceritakanlah, bagaimana kau bisa membuat Mother terlihat err... lebih manusiawi?"
"Aku mengatakan padanya kalau ayahmu mencintainya."
"Cuma itu?"
"Ya... ibu dan ayahmu tidak saling mengerti karena mereka tidak saling bicara dan tidak saling jujur satu sama lain. Dalam sebuah hubungan yang diperlukan adalah komunikasi, mereka harus sering berkomunikasi dan bersikap jujur agar mereka bisa mengerti apa yang dipikirkan pasangan."
"Rose, terima kasih saja tidak cukup untuk apa yang kau lakukan padaku dan keluargaku," kataku, memandang Rose dengan penuh perhatian.
"Sudahlah... harus ada yang melakukannya... ini untuk kebahagian semua orang..." kata Rose, tersenyum. "Ceritakan tentang Ken!"
"Kami bersahabat, Rose... dan itu merupakan awal yang baik. Kalau kita sudah kembali ke tubuh masing-masing, kau bisa membuatnya menjadi pacarmu."
"Ya..."
"Rose, apa yang akan kita lakukan kalau kita sudah kembali ke tubuh masing-masing? Apakah kau masih ingin berteman denganku?" tanyaku.
Aku pasti akan merasa kehilangan Rose, kalau kami sudah kembali ketubuh masing-masing. Aku akan kembali kekehidupanku yang monoton. Segalanya akan kembali seperti biasa. Aku akan kembali menjadi ejekan anak-anak di koridor, dan akan kembali disebut orang aneh yang sinting. Aku juga tidak akan berbicara dengan Albus lagi. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan.
"Hei, jangan sedih! Segalanya memang tidak akan kembali seperti biasa lagi. Banyak hal yang telah berubah, Alan dan Lily, Malfoy yang menyukaimu, lalu Al yang sedang jatuh cinta pada seseorang, tapi kita akan tetap berteman... kau akan tetap menjadi temanku. Mulai sekarang kau harus bisa melindungi dirimu sendiri karena Alan atau aku tidak akan selalu ada di sampingmu untuk melindungimu."
Sesungguhnya aku tidak ingin orang lain melindungiku. Aku ingin melindungi diriku sendiri. Seperti yang pernah dikatakan Rose: kau hanya perlu sedikit keberanian. Yang aku perlukan adalah sedikit keberanian untuk melindungi diriku sendiri dan semangat. Aku punya sihir dan tongkat sihir, tidak ada yang perlu aku takutkan.
"Terima kasih, Rose!" kataku, memeluk Rose.
"Hei, jangan mulai berterima kasih lagi! Aku bosan mendengarnya," kata Rose, tersenyum.
Aku juga tersenyum.
"Sebenarnya siapa cewek yang disukai, Al?" tanya Rose.
"Eh... entahlah, dia tidak menceritakannya padaku," kataku memandang lantai yang lembab. Maafkan aku, Rose! Aku tidak bisa mengatakan kalau Albus mencintaimu.
Rose mengawasiku dengan tidak yakin.
"Sudahlah, Rose, kau bisa menanyakannya sendiri nanti."
Al's POV
Madam Marshall mendengus padaku ketika aku meninggalkan perpustakaan malam itu. Dia masih marah tentang insiden buku-buku berjatuhan di rak-rak Transfigurasi. Aku tidak sengaja menjatuhkan buku-buku itu, ketika mengambil buku di rak paling atas. Sebenarnya tak satupun dari buku-buku itu yang robek, tapi Madam Marshal yang merasa bahwa buku-buku itu mempunyai nyawa langsung mengomeliku selama lima belas menit.
Aku menyusuri koridor yang menghubungkan perpustakaan dengan bangunan utama sambil memikirkan kehidupan cintaku yang sama sekali tidak menarik. Sepupuku yang kucintai menyatakan dirinya sebagai orang lain yang mencintaiku. Apakah dia sudah tidak waras? Tampaknya begitu karena dia berteman dengan orang yang tidak waras seperti Iris Zabini.
Saat aku melewati jalan pintas menuju ruang rekreasi Gryffindor, di belakang permadani hias, aku melihat Lily sedang berciuman mesra dengan seseorang. Aku mengerjapkan mata. Tidak mungkin, Lily sedang sakit di kamar anak-anak perempuan. Aku mengerjap mata lagi, pemandangan itu tidak berubah. Lily masih berpelukan dan berciuman mesra dengan seorang berambut hitam. Siapa dia? Aku mendekati mereka dan...
"ALAN ZABINI, BRENGSEK!" teriakku berang, menarik Zabini menjauh dari Lily dan meninju rahangnya dengan keras.
"AL!" jerit Lily, ketika Zabini terjatuh di lantai seperti karung beras yang berat.
Aku mengatur nafasku perlahan, mendelik pada Zabini.
"Alan, kau baik-baik saja?" tanya Lily, mendekati Zabini, memeriksa rahangnya.
"Aku tidak apa-apa," Zabini menjawab, meringis ketika rahangnya tersentuh tangan Lily.
"Kau bisa berdiri?" tanya Lily, membantu Zabini berdiri.
"Aku baik-baik saja, Lily," jawab Zabini tegas.
Aku terpana memandang pemandangan ini. Apa ini? Sejak kapan mereka saling mengenal? Mengapa aku tidak pernah tahu? Harusnya aku mengawasi adikku kan?
"Menjauh darinya, Lily," kataku.
"Mengapa kau memukulnya?" tanya Lily, memandangku dengan marah.
"Karena dia mencium adikku," jawabku singkat.
"Mulai sekarang kau harus terbiasa melihat kami, Al... Alan adalah pacarku sekarang," kata Lily.
"Kau masih terlalu kecil untuk..."
"Aku lima belas tahun, dan aku tidak akan membiarkan kakakku mengatur apa yang harus kulakukan."
"Zabini, pergilah aku ingin bicara dengan adikku!" kataku, mendelik pada Zabini.
"Tetap di tempatmu, Alan... kau harus mendengar apa yang aku dan kakakku bicarakan."
"Ini adalah urusan keluarga, Lily, dan aku tak ingin orang luar mendengar apa yang kita bicarakan."
"Alan bukan orang luar, Al... dia pacarku dan dia akan ikut bersamaku liburan natal nanti."
"APA?" Zabini dan aku berteriak kaget.
Lily menyuruh Zabini diam dengan pandangan.
"Kau tidak bisa mengundang dia begitu saja, Lil."
"Aku bisa... aku akan menyurati Mom dan Dad besok."
"Tapi... tapi..."
"Kuharap kau bisa berteman dengan Alan, Al, karena sekarang kalian berdua adalah orang yang penting dalam hidupku."
Aku mendelik pada Alan, aku belum bisa menerima ini. Adik kecilku, punya pacar dan dia adalah Alan Zabini, Slytherin berdarah murni.
Alan tersenyum padaku, aku tidak membalas.
"Zabini, kalau kau berani menyakiti adikku, aku akan membuat hidupmu seperti di neraka. Ingat, yang tadi baru dari aku, kau harus menghadapi yang lain nanti."
"Kurang dua, masih sepuluh sepupu dan sembilan paman, bibi dan orangtua, serta kakek dan nenek," kata Zabini, memandang Lily. Lily tersenyum kecil.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanyaku bingung.
"Pergilah, Al!" kata Lily.
Aku memandang mereka lagi, mendengus, lalu berjalan meninggalkan mereka. Tidak apa-apa, selama Lily bisa bahagia. Aku yakin Mom dan Dad juga akan senang selama Lily senang. Selama Zabini tidak bertingkah aneh, semua akan baik-baik saja.
Aku melihat Rose sedang duduk termenung di kursi dekat perapian ketika aku tiba di ruang rekreasi. Aku mendekatinya dan melihat bahwa dia sedang dalam perenungan yang dalam sehingga dia tidak menyadari kehadiranku. Aku duduk disampingnya. Dia mengangkat muka, menatapku dan kembali larut dalam perenungannya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?"
"Aku memikirkanmu dan Rose," jawab Rose, membuatku langsung berang.
"Hentikan menyebut dirimu orang lain," kataku marah.
"Apa yang kau lakukan sekarang, Albus?" tanya Rose, mengabaikan kemarahanku.
"Tidak ada..."
"Kau tidak boleh mencintai Rose... kau harus mencoba untuk mencintai orang lain."
"Aku akan tetap mencintaimu, Rose, sampai nanti."
Rose tersenyum suram.
"Aku sangat berharap kau merahasiakan ini, Albus... semuanya harus kembali seperti biasa saat keadaan kami kembali normal. Kau tidak boleh mengatakan perasaanmu pada Rose... jangan buat dia sedih karena tak bisa membalas cintamu. Rose harus bahagia karena dia adalah orang paling baik yang pernah kutemui."
"Rose, dengar! Aku tahu kau sedang mencari alasan untuk mengabaikan perasaan kita, tapi..."
"Aku tidak sedang mencari alasan, Albus... aku benar-benar serius."
"Dengar, aku..."
"Mengapa kau tidak menyukai Iris Zabini, Albus?" tanya Rose.
"Apa? Zabini?"
"Ya... mengapa kau tidak menyukainya?"
"Mengapa kita bicara tentang Zabini?"
"Jawab saja, Albus... demi aku, kumohon!"
"Aku tidak menyukainya karena aku tidak merasakan apa-apa saat bersamanya... aku bahkan pernah menciumnya, ingat! Tapi tak ada yang terjadi."
"Aku mengerti," kata Rose, airmatanya bercucuruan di pipinya.
"Mengapa harus menangis untuknya, Rose?"
"Aku menangis untuk diriku sendiri..."
Aku bingung, apa yang menyedihkan Rose? Tapi aku tak ingin melihatnya menangis. Hatiku sakit melihatnya menangis. "Maafkan aku!"
"Tak perlu minta maaf, Albus! Aku yang harusnya minta maaf... aku tahu akhirnya akan seperti ini... aku tahu kalau semuanya kembali normal aku tidak akan bicara denganmu lagi... aku sedih... aku... aku... bisakah kau mencium aku?"
"Apa?" aku kaget. Aku tidak menduga bahwa Rose akan memintaku menciumnya. Aku juga ingin menciumnya. Sangat ingin.
Aku mendekatkan wajahku padanya dan menciumnya. Sempurna. Aku sudah tahu kalau menciumnya aku akan merasakan kesempurnaan. Benar-benar sempurna. Aku seperti telah menemukan kebahagiaan. Di sinilah tempatku bersamanya. Bersama harum strawberi lembut dari rambutnya, dan bibirnya. Bibirnya di bibirku.
Setelah berciuman beberapa saat, kami memisahkan diri dan saling bertatapan.
"Terima kasih... aku tidak akan melupakanmu. Kau akan menjadi cinta pertama dan terakhirmu... selamat tinggal!" katanya, berdiri lalu berjalan meninggalkan aku.
Apa maksud selamat tinggal tadi? Dia berkata seolah-olah kami tidak akan pernah bertemu lagi. Bukankah kami sepupu, kami akan selalu bertemu dan aku akan selalu ada bersama Rose selamanya, aku tidak akan pernah meninggalkannya.
Review please!
Riwa Rambu
