Disclaimer: I own nothing but the plot and several OC's


Chapter 10


Lily Luna Potter adalah versi mini dari Ginny Weasley. Rambut merah yang sama, mata cokelat yang sama, hidung yang sama dan bahkan, sikap yang sama. Dia juga pintar seperti Ginny, walau tidak sepintar Hermione atau Rose. Semakin dewasa Lily semakin mirip dengan Ginny, apalagi dengan penampilannya sekarang, rambut diikat ekor kuda.

Lily terlihat heran melihat keadaan di ruang makan yang kaku.

"Lily! Kau pulang lebih awal," kata Harry, memecahkan suasana kaku yang sebelumnya menyelimuti ruangan.

"Pacar Dominique tiba-tiba saja pulang jadi dia menendangku keluar. Aku malas berkeliaran sendiri jadi aku memutuskan untuk pulang," jelas Lily sambil menuangkan jus ke dalam gelas.

Hening lagi. Mata Lily mencermati setiap orang yang ada disana. Semuanya terlihat tegang dan sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan mereka. Tidak seperti kedua kakaknya yang sepertinya mewarisi kemampuan Harry dalam 'tidak menyadari keadaan sekitarnya', Lily mewarisi kejelian Ginny dalam memecahkan sesuatu. Dia melihat selembar perkamen tua di meja, perkamen yang mengingatkannya pada sesuatu yang dia ingat Binns pernah katakan di kelas (ya, Lily sendiri terkejut dia bisa mengingat sesuatu yang dikatakan Binns). Ekspresi wajahnya berubah cerah ketika dia menyadari perkamen apa itu dan dia ingin mencoba mengetahui apa yang ada di pikirannya tepat.

"Jadi, apa yang sedang kalian lakukan? Bisa aku bergabung?" tanya Lily tenang, dia menyandari di dinding sambil menyeruput jusnya.

Mereka saling berpandangan bingung.

"Kita hanya berkumpul untuk makan siang," pekik Rose cepat dan agak terlalu keras.

"Yeah," sahut Harry. "Mereka kebetulan sedang libur jadi mereka semua kemari untuk makan siang! Dan aku kira kau akan makan bersama Dominique, jadi maaf Lils, tapi kami sudah makan. Bagaimana kalau kau ajak sepupumu yang lain—entahlah Lucy atau Molly—makan siang?"

Lily tertawa tertahan. Kepalanya menggeleng pelan sementara matanya tertutup. Kemudian dia menatap setiap orang yang ada di ruangan sebelum berkata. "Kalian pikir aku tidak akan sadar bahwa Rose dan Dad baru saja berbohong padaku?"

Mereka semua terkesiap.

"Lily, sweetheart, mana mungkin mereka berbohong padamu?" Hermione tertawa kikuk.

"Yang benar saja Bibi Hermione. Aku bisa menilai ketika seseorang berbohong di depan mukaku," Lily meletakkan gelasnya di meja.

Dia melipat kedua tangannya di dada dan menatap lurus pada wajah Rose. "Jadi, Rose Weasley—ups, atau harus aku bilang, Rose Potter?"

Semua orang disana menghela nafas tertahan, mata melebar dan menatap Lily tidak percaya. Lily hanya mendengus.

"Yang benar saja. Kalian pikir kalian bisa menyembunyikan ini dariku? Aku tahu Mum curiga tentang itu, tapi dia tidak pernah mengatakan apapun karena dia tidak mau percaya itu. Dan aku rasa kalian baru saja menyadari siapa Rose sebenarnya," Lily menggeleng pelan. "Tentu Dad dan Bibi Hermione tahu karena mereka melakukannya. Aku tidak heran Al tidak menyadarinya karena dia terlalu mirip dengan Dad. Jujur, aku tidak mengira Rose tidak mengetahuinya! Padahal setiap petunjuk ada disana!"

"Pe—petunjuk apa?" tanya Rose gugup.

Lily mendengus lagi. "Kau menyukai puding cokelat seperti Dad dan aku ingat kalian berebut puding cokelat saat natal dua atau tiga tahun yang lalu. Kau juga seorang Seeker yang hebat, itu petunjuk paling solid yang aku dapat,"

Hermione mengerutkan dahinya. "Lily, Ron juga pemain Quidditch. Hanya karena dia seorang Keeper sewaktu di Hogwarts itu berarti dia bukan ayah Rose,"

"Please Bibi Hermione. Aku masih ingat bagaimana Paman Ron dalam mengendarai sapu, dia tidak sehebat Dad. Tidak ada di keluarga Weasley yang bisa mengendarai sapu sehebat Dad. Dad natural dalam bermain Quidditch seperti Grandpa James dan anak lain dalam keluarga Potter yang aku tahu. Contoh, James dan Al, keduanya sangat natural dalam sapu seperti Rose. James mungkin Chaser seperti Grandpa James dan Al seorang Beater bersama Malfoy—kalian pasangan yang bagus—tapi cara mereka mengendarai sapu sangat familiar dan aku melihat itu di cara Rose mengendarai sapu,"

"Kau menilai dia anak Dad berdasarkan kemampuan menaiki sapu?" tanya Al tidak percaya.

"Tapi aku benar, ya kan Al?" Lily balik bertanya dengan seringai penuh kemenangan menghiasi wajahnya.

"Sejak kapan kau tahu tentang ini?" Hermione bertanya pelan.

Lily mengangkat bahu. "Aku mulai menyadari ini sekitar setahun setelah Mum meninggal. Tapi aku kira itu karena kalian sudah sangat dekat. Tapi aku melihat bagaimana Dad melihat Rose, itu sama seperti Dad melihat Al. Aku dan James mungkin anak Dad juga, tapi Dad tidak menyayangi kami seperti dia menyayangi Al dan aku melihat itu dengan caranya melihat Rose,"

"Lily flower," Al memanggil Lily dengan panggilan kesayangannya untuk adik perempuan satu-satunya itu. "Aku rasa Dad tidak—"

"Apa?" potong Lily tajam. "Dad tidak seperti itu dan Dad menyayangi kita sama besarnya? Pfft. Yang benar saja Al,"

"Lily—"

"Dad. Kumohon. Diam," ujar Lily pelan dan tajam. Matanya menatap Al dalam. "Kau tahu kenapa aku tidak bicara lagi denganmu Al? Aku tidak seperti James, aku tidak peduli kalau kau seorang Slytherin! Tapi aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Dad menyayangimu lebih daripada aku! Kita masih berbicara beberapa bulan setelah Mum meninggal, benar? Jika aku meninggalkanmu karena kau seorang Slytherin, aku pasti sudah berhenti lama sebelumnya!"

Nafas Lily terengah-engah dan wajahnya memerah. Al terdiam, dia tidak pernah melihat Lily kehilangan kendali seperti itu. Ya, Lily pernah marah beberapa kali, tapi ini? Ini. Lily tidak marah. Dia murka.

Harry tertohok dengan pernyataan Lily tadi. Ya, dia menyayangi Al dan Rose lebih, karena mereka mengingatkan Harry akan apa yang mungkin dia dan Hermione punya jika saja keadaannya berbeda. Sementara James dan Lily adalah pengingat tentang kenapa semuanya berbeda. Tapi kali ini Harry menyadari bahwa dia telah bertindak sangat egois. Tidak seharusnya dia melimpahkan kekesalannya, kekecewaannya atas apa yang terjadi pada James dan Lily. Anak-anaknya sendiri. Harry hanya bisa berharap dia bisa memperbaiki semuanya.

"Lils, aku—"

Lily mengangkat tangannya, meminta Harry berhenti berbicara. "Kau tahu Dad. Aku tidak peduli lagi. Hanya—hanya katakan padaku kenapa kau menikahi Mum, jika kau tidak pernah mencintainya?"

"Semuanya terlalu—"

"Terlalu apa? Rumit?" potong Lily dengan nada mencemooh. "Dad, aku punya seluruh musim panas untuk mendengar ceritamu yang rumit itu,"

"Lily—"

"Berhenti memanggilku dengan nada seperti itu! Aku tidak ingin dikasihani!"

Hermione menaruh tangannya di atas punggung tangan Harry untuk menarik perhatiannya. Harry menoleh, terlihat sangat sedih dan terpukul. Hermione menggeleng pelan. Harry mengangguk, mengerti pesan tersembunyi Hermione. Jangan ungkit-ungkit hal ini.

"Duduklah Lily. Kami—aku dan Hermione—sedang mencoba menjelaskan hal yang sama pada Rose dan Al, well, Scorpius disini juga jadi dia tahu," kata Harry, berusaha terdengar normal.

Lily menarik kursi di ujung meja, Al di kanannya dan Harry di sisi kirinya. Dia tidak berkata apapun, hanya menatap kosong pada meja di depannya.

"Jadi sampai mana tadi?" tanya Harry, melirik cemas pada Lily.

"Sesuatu tentang Paman Neville dan Bibi Luna," sahut Rose pelan. Dia bergerak-gerak tidak nyaman di kursinya.

"Oh yeah. Jadi, semuanya sempurna dalam minggu-minggu pertama kami di Hogwarts. Sampai—"

0oooo0oooo0

Malam Halloween. Hari yang paling tidak disukai Harry. Kenapa? Karena ini terlalu mengingatkannya pada kedua orangtuanya dan banyak hal tidak menyenangkan terjadi di malam Halloween. Contoh? Hermione terjebak di kamar mandi.

Tapi sejak Voldemort sudah tidak ada. Harry mengira kali ini dia bisa menghabiskan malam Halloween yang tenang untuk pertama kalinya. Seharian itu berjalan dengan sangat baik dan lancar. Kebetulan hari Halloween jatuh di akhir pekan, jadi dia hanya menghabiskan waktunya seharian di sisi danau bersama Hermione—mengerjakan essai ramuan yang diberikan Slughorn.

"Ngomong-ngomong Harry, kita harus pergi ke pesta Professor Slughorn besok malam," kata Hermione tanpa berhenti mencatat essai ramuannya.

Harry berhenti memainkan pena bulunya. Dia sudah menyelesaikan essai sepanjang sepuluh inci itu sejak tadi. Tidak seperti Hermione yang saat ini essainya sudah mencapai empat belas inci, Harry merasa dia tidak perlu menambah-nambah isi essainya. Lagipula Hermione sudah membaca essai Harry dan cukup puas dengan isinya walau dia berkata dia ingin Harry lebih serius belajar. Harry hanya nyengir dengan komentar Hermione itu.

"Itu besok? Bukan minggu depan?"

Hermione berhenti menulis. "Ya Harry itu besok. Sekarang diam sebentar, aku harus membaca ulang essaiku,"

Harry terkekeh dan kembali berbaring di atas rumput. Matanya tertutup menikmati hangatnya sinar matahari di kulitnya.

"Oke, aku sudah selesai," kata Hermione riang, terdengar sangat puas dengan hasil essainya.

"Jadi, pesta Slughorn besok? Boleh kita tidak datang?"

"Ya Harry, pesta Professor Slughorn dan tidak, kita tidak boleh tidak datang. Bagaimana kalau itu berefek pada nilai kita?"

Harry mengangkat bahu. "Aku tidak peduli. Aku kembali karena aku ingin merasakan sekolah dengan normal dan tenang. Aku tidak benar-benar peduli dengan nilai,"

Hermione tergagap mendengar pengakuan Harry. Kemudian dia menarik nafas dalam-dalam dan melirik pada Harry. "Yasudah. Kau tidak perlu datang. Aku bisa pergi dengan yang lain,"

"Tunggu. Dengan siapa?"

"Cormac McLaggen,"

Harry melompat bangun. Mulutnya menganga tidak percaya. "Tidak, tidak dan tidak Hermione. Aku tidak akan pernah membiarkanmu berdua saja dengan si McLaggen!"

Hermione mengangkat bahu, wajahnya tidak berekspresi. "Kau bilang kau tidak mau datang. Jadi aku pikir, Cormac pasti ingin pergi denganku,"

"Baiklah! Aku pergi denganmu!"

Hermione menyeringai, senang karena rencananya berjalan sesuai dengan perkiraannya. Dia senang bermain-main seperti itu dengan Harry. Hermione pikir, Harry terlihat sangat lucu ketika sedang cemburu. Itu membuat Hermione benar-benar ingin menciumnya dan membawanya ke tempat ti—

0oooo0oooo0

"MUM!", "BIBI HERMIONE!", "PROFESSOR GRANGER!"

Al, Rose, Lily dan Scorpius berteriak bersamaan.

Hermione berhenti. Matanya berkedip. Harry tersenyum geli.

Rose menghela nafas. "Hanya—kumohon, untuk kesekian kalinya. Jangan terlalu detail!"

Hermione tersenyum kecil. "Oh, benar. Maaf."

0oooo0oooo0

Jadi Halloween berjalan begitu saja tanpa kejutan yang berarti. Kecuali ketika mereka kembali menemukan Neville dan Luna keluar dari lemari sapu tapi selain itu tidak ada hal-hal berarti lainnya.

"Harry, berhenti menarik-narik kerah kamejamu. Kau terlihat baik-baik saja,"

"Aku benar-benar benci memakai jas. Ini mencekikku. Bayangkan headline Daily Prophet besok pagi, 'Harry Potter: The Man Who Won, Dead by His Own Suit', orang-orang akan tertawa membacanya,"

Hermione tertawa, dia mempererat tangan yang melingkar di lengan Harry. "Kau terlalu dramatis Harry. Kau baik-baik saja. Lagipula jika jas itu mencekikmu aku akan disana untuk menyelematkanmu,"

Harry nyengir. "Benarkah?"

"Setelah aku melihatmu tercekik selama—hmm—lima menit?"

"Menyebalkan,"

Hermione tertawa lagi, dia mengecup pipi Harry sekilas. "Ayo tampan, kita akan terlambat,"

0oooo0oooo0

"Ini membosankan," gerutu Harry. Tangan kanannya memutar-mutar gelas berisi jus labu dengan gesture malas.

"Harry, kita baru ada disini—entahlah, dua puluh menit?"

"Tapi Hermione, ini membosankan! Ayo kita kabur,"

Hermione memutar matanya. "Tidak. Kita tidak akan mencari masalah,"

"Ayolah. Selama ini kita melanggar peraturan untuk menyelamatkan pantat orang lain—"

"Harry! Perhatikan bahasamu!" tegur Hermione.

"—untuk sekali ini saja, kita melanggar peraturan untuk bersenang-senang! Ayolah Hermione," Harry membujuk Hermione. Matanya menatap penuh harap pada orang yang dia kenal sejak kelas satu itu.

Hermione menghela nafas. Harry tahu betul bagaimana tatapan itu berefek padanya. "BAIKLAH!"

Harry menyeringai. Cepat-cepat ia menarik tangan Hermione dan menyelinap keluar dari pesta Halloween yang diselenggarakan oleh Slughorn. Hermione memutar matanya melihat antusiasme Harry, tapi diam-diam merasa senang karena itu.

Sepasang anak remaja itu berlari menyusuri lorong yang sepi. Bergandengan tangan, tertawa-tawa.

Terdengar suara langkah kaki. Harry menarik Hermione ke sebuah celah yang gelap, memeluknya erat sambil mendengarkan suara langkah kaki itu dengan seksama. Hermione menutup mulutnya, menahan kikikan yang mendesak keluar dari bibir mungilnya.

Setelah suara langkah kaki itu terdengar menjauh, Harry itu kembali menarik Hermione. Sekali lagi mereka berlari-lari menyusuri lorong, melewati gerbang dan melompati tanaman. Terus berlari menjauhi kastil.

Lalu mereka sampai, di sebuah danau yang besar.

"Indah sekali," bisik Hermione. Matanya menatap bulan yang terlihat begitu bulat,begitu terang. Cahayanya memantul di danau,berkilauan bagaikan berlian.

Harry menatap sosok di sampingnya, tangannya bergerak, menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah si anak perempuan. Ia bergumam, "Ya, indah sekali,"

Hermione menoleh. Mata cokelatnya menatap mata hijau di hadapannya. Mereka tersenyum.

Harry mendekatkan wajahnya, bibirnya menyapu bibir Hermione dengan lembut. Mereka berciuman.

"Kita akan terkena detensi," gumam Hermione. Ia berbaring di atas rumput yang hangat, kedua tangannya terlipat di atas perutnya. Matanya menerawang, memandang ke langit luas.

Di sampingnya, Harry berbaring menyamping, tangan kirinya menopang kepalanya. "Oh ya?" guraunya, ia tersenyum lebar.

Hermione mendengus, "Kau tentu sudah terbiasa dengan detensi, tapi aku?"

"Bukankah kau juga sering ikut didetensi bersamaku dan Ron?" gurau Harry, matanya berkilat jahil. Sikapnya itu membuatnya mendapatkan hadiah berupa pukulan di dahi oleh Hermione. Ia berguling, berpura-pura mengerang kesakitan.

Hermione memutar matanya, walau ia tertawa pelan. "Kalian benar-benar berpengaruh buruk untukku," gerutu Hermione lagi.

"Ah tapi kau menyayangi kami," Harry kembali berguling dan mencium pipi Hermione, "Dan aku yakin sekali kau mencintaiku,"

Wajah gadis itu bersemu, ia tertawa, tawanya terdengar agak gugup. "Tingkat kepercayaan dirimu memang sangat tinggi Mr Potter,"

"Ah itu hanya salah satu dari sekian banyak keahlianku Miss Granger," mereka berdua tertawa dan berciuman lagi.

Entah berapa lama mereka berbaring disana. Angin dingin bertiup, tanda bahwa musim dingin akan segera tiba. Hermione mendekatkan dirinya pada Harry, sementara Harry mengalungkan tangannya di pinggang Hermione, berbagi kehangatan tubuh mereka.

"Harry! Hermione! Apa yang kalian lakukan di luar sini? Ini sudah lewat jam malam!" Draco Malfoy berseru dari kejauhan.

Hermione memekik kaget, "Demi janggut Merlin! Itu Draco!" sontak ia berdiri, begitu pula dengan Harry. Harry langsung meraih lengan Hermione, menariknya, mengajaknya ikut berlari bersamanya.

"Hey! Harry! Hermione!"

Hermione memandang Harry tidak percaya, "Harry! Itu tadi Draco!"

Harry nyengir, "Aku tahu,"

"Dia itu Ketua Murid!" jerit Hermione lagi. Harry malah tertawa, mereka terus berlari melewati kebun Hagrid dan terus berlari menuju gerbang kastil. Terus berlari menyusuri lorong.

"Kita mau kemana?"

"Ruang Rekreasi Gryffindor!"

Hermione menggeleng tidak percaya, tapi ia terus berlari mengikuti Harry. Sampai akhirnya mereka berada di depan lukisan Nyonya Gemuk yang tampak sudah terlelap. Harry mengetuk-ngetuk lukisan itu, berusaha membuat Nyonya Gemuk terbangun. Tapi Nyonya Gemuk hanya menggumam tidak jelas dan tetap tertidur.

"Susah sekali membangunkannya," gerutu Harry.

"Harry, ini sudah lewat tengah malam dan tentu dia terlelap!"

"Yeah, tapi kan seharusnya—"

"MR POTTER! MISS GRANGER!" Harry dan Hermione melonjak kaget, bahkan Nyonya Gemuk pun ikut terbangun.

"Ada apa? ada apa?" tanya Nyonya Gemuk sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Lalu matanya menangkap sosok Harry dan Hermione, ia menggerutu.

Harry dan Hermione menoleh ke asal suara. Wajah mereka memucat melihat siapa gerangan yang berteriak memanggil mereka. "Oh Merlin," bisik mereka bersamaan.

"Ikut aku sekarang!" kata McGonagall yang terlihat memakai jubah tidurnya.

Harry dan Hermione menelan ludah, tapi mengikuti Kepala Sekolah sekaligus mantan kepala asrama mereka ke ruang Kepala Sekolah. Tidak banyak perubahan yang Harry lihat di ruangan yang dulu ditempati oleh Dumbledore itu, hanya jumlah buku yang semakin banyak.

"Duduklah Mr Potter, Miss Granger," kata McGonagall.

"Aku sangat kecewa dengan kalian berdua. Terutama kau Miss Granger, kukira kaulah yang seharusnya mengingatkan Mr Potter di sini untuk tidak melanggar peraturan, tapi kau malah ikut bersamanya!" Minerva McGonagall menatap kedua murid kesayangannya itu tidak percaya. Baru beberapa saat lalu Professor Sinistra membangunkannya, mengatakan padanya bahwa ada dua orang murid dari asramanya yang menyelinap keluar kastil. Lalu Minerva meminta kedua Ketua Murid, Draco Malfoy dan Padma Patil, untuk mencari dua murid yang hilang itu bersama para Professor yang lain.

"Maaf Professor," gumam Harry dan Hermione pelan.

Minerva menghela nafas, "Aku tahu kalian sedang jatuh cinta—" wajah Harry dan Hermione bersemu "—tentu aku tahu! Aku bisa melihatnya dengan jelas di mata kalian! Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan. Apa pendapat Mr Weasley soal hubungan kalian? Aku juga tahu dia sering merasa—umm—cemburu pada kalian,"

Harry dan Hermione berpandangan, "Ron belum tahu soal ini Professor, aku—tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Ron. Seperti yang Professor tahu sendiri, dia sering merasa cemburu pada kami," ujar Harry pelan.

Minerva mengangguk, "Aku tahu, dia iri pada ketenaran dan kekayaan Harry. Dia juga iri pada kepintaran Hermione, juga pada hubungan kalian berdua, dia bisa melihat betapa kalian melengkapi satu sama lain. Aku yakin dia bisa melihatnya,"

Hermione mendesah, "Karena itulah kami tidak bisa memberitahukan hal ini padanya. Setidaknya jangan sekarang,"

"Tindakan yang sangat bijaksana Hermione," kata Minerva, kedua tangannya bersidekap di atas meja.

Harry dan Hermione terlihat bingung.

"Maksud anda Professor?" tanya Hermione.

Minerva menghela nafas, "Baru-baru ini aku mendengar ramalan baru, Kingsley yang memberitaukannya padaku—"

"Ramalan apa professor? Apa itu ada hubungannya denganku?" kali ini Harry yang bertanya. Tubuhnya menegang, Hermione menggenggam tangan Harry erat.

Tatapan Minerva berubah, ia memandang kedua muridnya sedih, sadar kebersamaan mereka tidak akan bertahan lama. "Ini tentang kalian bertiga. Kau, Hermione dan Mr Weasley,"

Harry dan Hermione kembali saling berpandangan. Kedua pasang mata itu terlihat ketakutan. Terakhir kali sebuah ramalan terjadi, Harry kehilangan kedua orangtuanya. Harry tidak ingin kehilangan Hermione, begitu pula sebaliknya.

"Apa? bagaimana bisa?" tanya Harry lagi.

Minerva mengangkat tangannya, "Biarkan aku bicara," Harry dan Hermione mengiyakan. "Ramalan itu mengatakan bahwa tiga orang manusia dipertemukan oleh takdir, menjalin sebuah tali persahabatan yang kuat. Di antara mereka bertiga terdapat satu orang yang memiliki sebuah kekuatan tidak terkira. Sebuah kekuatan yang terbentuk dari perasaan cemburu dan kemarahan yang kian bertumpuk. Orang itu meninggalkan dua yang lain karena kemarahan, menyebabkan dua orang itu membentuk sebuah ikatan baru yang lebih kuat dari sebelumnya—"

"Saat Ron meninggalkan tenda," bisik Hermione.

Minerva mengangguk membenarkan, "Kekuatan orang itu akan semakin bertambah seiring dengan bertambahnya kekuatan ikatan dua orang lainnya, hingga akhirnya sulit terkalahkan,"

Mereka terdiam sejenak.

"Jadi Ron memiliki kekuatan yang sulit dikalahkan—" bisik Harry.

"Kekuatan yang berasal dari cemburu dan amarah," lanjut Hermione.

"Tepat sekali, bahkan Ron Weasley bisa menjadi Pangeran Kegelapan yang baru yang mungkin lebih kuat dari Lord Voldemort," ujar Minerva.

Tubuh Hermione dan Harry menegang. Voldemort saja sudah sulit untuk dikalahkan, jika Ron bisa menjadi lebih kuat dari Lord Voldemort maka akan—

"Berbahaya, sangat berbahaya," gumam Hermione.

"Apa tidak ada yang bisa lakukan untuk mencegahnya Professor?" tanya Harry.

Minerva menghela nafas berat, ia melepas kacamatanya. "Sebenarnya aku menyadari ada satu jalan untuk mencegah ramalan itu terjadi,"

"Bagaimana professor? Aku akan lakukan apa saja untuk mencegah hal itu terjadi," ujar Harry tegas, Hermione yang berdiri di sampingnya mengangguk, mengiyakan pernyataan Harry.

"Kalian tidak akan menyukainya, bahkan mungkin kalian akan menderita seumur hidup kalian,"

Harry memandang Hermione, yang balas menatapnya tidak yakin. "Apa itu Professor?" tanya Hermione. perasaan tidak enak menyelimutinya.

"Salah satu dari kalian harus terus menjaganya. Mencegahnya berbuat hal yang berbahaya, mencegahnya merasa cemburu dan menekan amarahnya—"

"Itu aku kan? Yang harus menjaga Ron," bisik Hermione.

Harry menoleh, ia menatap Hermione dan Minerva bergantian. "Apa? Itu konyol!"

Hermione menoleh, menatap Harry sedih. "Tidakkah kau lihat Harry. Jika aku bersama Ron, aku bisa membuatnya yakin bahwa kau tidak bisa mendapatkan segala yang kau inginkan. Bahwa sang pahlawan tidak selalu mendapat sang gadis," Hermione menelan ludah, "Satu tindakan simpel dariku, bisa mencegah semua itu terjadi,"

"Itu benar Harry. Semua yang Hermione ucapkan itu benar," ujar Minerva berat.

Harry menoleh pada Minerva, tatapannya tajam dan penuh dengan amarah. "Aku tidak bisa membiarkan Hermione berkorban seperti itu! aku tidak akan membiarkannya!"

Minerva menghela nafas berat, "Ramalan itu memiliki dua bagian, aku baru menyampaikan bagian pertamanya. Dan di bagian kedua ini, kaulah yang harus berkorban, Harry,"

Harry dan Hermione kembali memusatkan perhatiannya pada Minerva.

"Pada ramalan kedua dikatakan bahwa adik dari ketiga sahabat itulah yang paling berbahaya. Dia berdarah dingin, tidak akan ragu untuk menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya. Kekuatannya berkali lipat dari sang kakak, sama-sama diawali dengan kemarahan dan cemburu. Dan jika dia dan kakaknya bergabung maka kehancuran dunia yang terjadi," ujar Minerva pelan.

"Ginny," bisik Harry dan Hermione bersamaan.

Minerva mengangguk berat.

"Dan akulah yang akan menjaga Ginny," bisik Harry. Minerva kembali mengangguk.

Hermione memeluk Harry erat, Harry balas memeluknya. Inilah akhir dari hubungan mereka.

0oooo0oooo0

"Hanya itu?" tanya Lily ketika Hermione berhenti berbicara. "Karena sebuah ramalan kalian menikahi orang yang tidak kalian cintai?"

Hermione mengangguk. "Terakhir kali sebuah ramalan muncul, Harry kehilangan semuanya. Kedua orangtuanya, Sirius, Remus dan teman-teman kami yang lain. Kita hanya tidak mau mengalami itu lagi,"

Lily terlihat berpikir. "Kalian yakin ramalan itu benar? Bukan karangan McGonagall saja?"

"Aku rasa Minerva tidak akan berbohong pada kami, Lily. Kami mempercayainya dan Kingsley. Mereka tidak pernah berbuat apapun yang merugikanku atau Harry," lanjut Hermione.

Lily mengangguk-angguk. Dia terlihat berpikir keras.

"Jadi, Mum dan Paman Ron akan pengganti Voldemort," gumam Al. Ia menghela nafas. "Aku tidak percaya Mum bisa melakukan hal seperti itu. Mum bahkan tidak mewarisi apa yang orang bilang 'Weasley Temper' tidak seperti Paman Ron,"

"Itu hanya ramalan. Dan itu tidak pernah terjadi," bisik Lily.

"Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Rose pelan.

"Setelah itu, aku kembali pada Ginny dan Hermione kembali pada Ron. Kalian tahu aku dan Ginny menikah empat tahun setelah lulus dari Hogwarts. Setahun kemudian James lahir. Kemudian Hermione dan Ron menikah," jelas Harry dia mengambil segelas air dan mulai meneguknya.

"Jadi kapan Dad dan Bibi Hermione membuat Rose?" tanya Lily polos.


End of Chapter 10