Cingcangkeliiing~ Assseeekkk~ Tice balik iniii xD ngahahahaa
Huumm... Gakusah banyak cingcongcangcung lagi deh ya, kita langsung liat ripiu
-RisufuyaYUI: Hum, aku kejam yah? Aku kejam? Berani-beraninya kamu bilang gituu HUUUH! *deathglare* wkwkwkwk aku akui, aku memang sangat kejam kalo masalah bikin story-_- dan sangat senang membuat salah satu / salah dua / salah tiga tokohnya terluka xD wahahahaha maap untuk Hinata lovers =_= Arigatou, Risufuya-san udah mau baca sampe detik-detik terakhir :')
-kirei- neko: Wahahaha xD Hurtnya cuman implisit aja kok xD gak banyak-banyaak xD arigatou karena sudah RnR ;)
-shinigami-chan: kenappaaa? ooh kenapaaa? Ah, sudahlah cukup membuat Hinata yang terluka, jangan ditambah dua lagi ahahahaha xD lagian kalo mereka berantem, ini story bisa-bisa selese chapter lima belas-_- wkwkwk~ Makasih yaa udah mau RnR!
.16718979: Aaahh kamu unyu sekali indri-chan x') doumo arigatou gozaimasu pake banget bangeeettaaann yaahh.. Aku pasti ganbatte kok, soalnya udah minum Mirai Ocha xD
-sasunata chan: Iya nih sasu-chan :( kalo ripiu dikit, bikin semangat sangat turuuunnnn T^T tapi gakpapalah, kan aku udah minum Mirai Ocha~ wahahahah xD nanti kubaca dan kuripiu ceritamu deeh~ Arigatou!
-Axx-29: Wahahaha~ Kenapa dia harus ke Suna ya? Hum, baca aja di chapter ini yaahh~ Update ASAP? Aye aye captain! xD Doumo gozaimasu!
Okay, let's read the LAST CHAPTER of 'The Reason I Love You', a Naruto fan fiction by: Anonymous Hyuuga. happy reading!
Warning: Stoic Hinata, Extrovert Sasuke, Typo(s), OOC, Like a rubish, Bad plots.
Disclaimer: Of course, Naruto's dad (Masashi Kishimoto sensei)
Happy Reading :)
.
.
.
.
The Last Chapter
.
.
.
"FINALLY I FOUND YOU"
Sudah seminggu sejak Sasuke memutuskan untuk kembali ke Suna. Aku merasa benar-benar kesepian saat ini. Seharusnya memang Naruto juga kembali ke mari. Namun aku bersyukur ternyata status mereka masih dalam program pertukaran pelajar, sehingga Naruto tidak kembali saat ini juga. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan jika di sini ada Naruto.
Sebulan sudah berlalu sejak Sasuke memutuskan untuk kembali ke Suna. Seharusnya kini aku sudah terbiasa dengan ketidakhadirannya di sisiku. Namun dadaku tetap saja terasa sesak saat menyadari bangku di sebelahku kini kosong dan dingin. Tanpa pria cerewet itu. Pria cerewet yang mampu membuat aku jatuh ke dalam hal bernama cinta.
Lima bulan. Tidak terasa sudah lima bulan aku memendam hasratku untuk berjumpa dengannya. Bahkan kini aku sudah hampir mengikuti upacara kelulusanku. Jangankan bersentuhan, mendengar suaranya pun tidak. Aku semakin gelisah ditinggal seperti ini oleh Sasuke, terlebih lagi kini aku benar-benar sendirian dan terpuruk. Malam-malam kini kuhabiskan hanya untuk menangis, sehingga di sekeliling mataku sudah ada lingkaran hitam yang tampak kontras di kulitku yang putih pucat ini.
Aku menginginkannya di malam kelulusan nanti. Berdiri di sampingku, mengenakan tuxedo hitam yang senada dengan warna rambutnya. Tersenyum lembut padaku. Melingkarkan lengannya di pinggangku. Dan di balik semua itu, tetap menjadi tunanganku. Tunanganku yang sangat aku cintai.
Aku tersadar hal itu tidaklah mungkin. Hal yang sangat mustahil. Yang tidak akan pernah kudapatkan.
Menyadari akan hal bodoh yang aku khayalkan, pandangan mataku kembali mengabur. Air mata kurasakan sudah memenuhi kedua pelupuk mataku. Hatiku disesakki rasa rindu yang begitu mendalam. Aku menginginkan sentuhannya. Aku menginginkan suaranya. Aku menginginkan kehadirannya di sampingku. Terlebih, aku menginginkan cintanya.
"Hinata Hyuuga, ini sudah yang kesekian kalinya dalam tahun ini kau tidak memperhatikan pelajaranku," ucap seseorang, membuyarkan lamunanku. Aku mendongak dan mendapati Kakashi-sensei tengah menatap datar ke arahku dengan sebelah matanya yang tidak tertutup.
"Gomen ne," sahutku pelan. Sangat pelan.
Aku mendengar Kakashi-sensei mendesah. Kurasa ia memahami kondisiku yang sedang tidak baik. Wajar saja ia mengetahuinya, karena hampir semua orang di segala penjuru dunia ini tahu aku bertunangan dengan Sasuke. Jangan tanya padaku dari mana aku mengetahuinya, karena semua orang pasti membaca situs pribadi milik keluarga Uchiha, dan sudah pasti juga berita pertunanganku dengannya sudah terpampang dengan jelas di situs itu.
Tak lama setelah aku ditegur oleh Kakashi-sensei, bel tanda pulang sekolah berbunyi. Aku tidak memberi salam terlebih dahulu dan segera keluar dari kelas tanpa permisi. Dengan langkah yang tampak kepayahan karena kurang tidur, aku berjalan menyusuri koridor yang masih belum terlalu ramai. Kakiku terus menuntun tubuhku untuk berjalan entah ke mana, hingga akhirnya aku keluar dari gedung sekolah.
Aku terus menyusuri jalanan tanpa memedulikan lingkungan sekitarku. Terkadang aku juga menabrak beberapa orang yang melintas melewatiku. Tiba-tiba, tanpa tanda-tanda akan turun hujan, air langit itu segera membasahi tubuhku. Namun aku tidak peduli. Aku tidak mempercepat ataupun memperlambat jalanku. Aku tidak memedulikan orang-orang yang berlalu-lalang mencari tempat untuk berteduh. Sebagian dari mereka memandang dan mengecapku sebagai gadis aneh karena berjalan di tengah hujan lebat seperti ini. Tapi sekali lagi, aku tidak peduli.
Sungguh aku tidak membutuhkan tempat berteduh. Aku tidak membutuhkan payung atau semacamnya. Yang kubutuhkan hanya satu. Hanya Sasuke.
Sesaat setelah memikirkan hal itu, aku mendongak dan mendapati pemandangan yang sangat mengejutkanku. Aku mendapati dua orang laki-laki sedang berjalan bersama di bawah atap-atap pertokoan di pinggir jalan. Aku memicingkan mataku dan semakin terkejut ketika melihat salah satu dari kedua laki-laki itu berambut kuning dan yang satunya berambut sehitam burung black raven. Aku menggigit bibir dan mengepalkan kedua tanganku erat. Berusaha mengumpulkan segenap keberanian untuk menghampiri mereka.
Mungkinkah... mereka Sasuke dan Naruto?
Tidak. Itu tidak mungkin. Mereka berdua sedang berada di Sunagakure saat ini. Itu tidak mungkin.
Segala persepsi yang melintas di otakku pun segera buyar karena dikalahkan rasa penasaran dalam diriku. Aku melangkah dengan langkah kaki lebar dan segera menghampiri kedua orang itu. Dengan tanpa banyak bersuara, aku berjalan di belakang mereka dan berusaha mendengar perbincangan mereka. Beberapa orang yang melintas memandangku dengan pandangan aneh yang lagi-lagi tidak kuhiraukan.
"...Tidak, Sasuke-san. Aku serius,"
Nama itu. Perkataan lelaki bersurai kuning itu terus terngiang-ngiang dalam otakku.
'...Sasuke-san...'
Apakah?
Tanpa dikomando lagi, kedua tanganku segera meraih tangan mereka. Aku menarik mereka sehingga membalik ke arahku. Kudapati mata mereka membelalak saat melihatku. Terlebih saat melihat aku yang menatap mereka dengan penuh air mata.
"Hah, Sasuke-san. Sudah kubilang mengobrol di sini sama sekali tidak aman," ucap Naruto salah tingkah. Kurasa ia hanya ingin mencairkan suasana dengan bercanda.
Hal itu tidak membuatku menjadi lebih rileks. Perlahan, kepalan di tanganku pun melonggar. Aku mulai terisak pelan dengan kepala tertunduk. Kuangkat tangan kiriku untuk mengelap air mataku. Sedang tangan kananku menyentuh dadaku, berusaha menetralisir segala gejolak perasaan yang sedang berkecamuk dalam batinku.
"Hinata-chan," panggil Sasuke setengah berbisik. Isakkanku semakin kuat ketika mendengar suara pria itu.
Pria yang sudah menggantung aku selama lima bulan.
Sasuke perlahan berjalan mendekatiku. Ia meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Kuberanikan diri untuk menatap wajahnya. Kembali hatiku berdesir saat dua bola mata hitam kelam itu menatapku sendu. Senyuman tipis penuh afeksi tersirat di bibirnya, membuat aku salah tingkah. Tak kubiarkan perasaan itu berlarut-larut membuaiku. Aku menarik diriku dengan kasar untuk menjauhinya.
Detik berikutnya, telapak tangan kananku mendarat di pipi kiri Sasuke.
Sasuke tidak mengeluarkan reaksi apapun terhadap tamparan dariku. Sorot matanya meredup. Ia pun menoleh ke arahku dan kembali menatapku dengan ekspresi sedih―mungkin lebih tepatnya rasa bersalah.
"Maaf," hanya sebuah kata singkat mengalir dari bibir tipis pemuda itu mampu membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aku menggenggam tangan kananku dan memposisikannya di depan dadaku. Isakkan kembali keluar dari bibirku. Detik berikutnya tubuhku berakhir dalam pelukan hangat Sasuke. Aku menikmati pelukan itu. Pelukan yang sanggup mengangkat segala beban berat di atas pundakku. Aku menyandarkan kepalaku di dada bidangnya.
Kurasakan dagu Sasuke menempel di puncak kepalaku. Ia terus-menerus memelukku tanpa memedulikan tubuh dan rambutku yang sudah basah akibat air hujan. Sesaat sesudahnya, Sasuke melepaskan pelukannya, dan aku kembali merasakan rasa kehilangan yang sangat menyakitkan itu menyerangku. Baru saja Sasuke hendak mengatakan sesuatu, aku segera menghujani dadanya dengan ribuan pukulan dari kedua tanganku―berusaha menyalurkan perasaan marahku padanya.
Kudengar Sasuke mendengus geli. Aku semakin mempercepat pukulanku pada dada bidangnya.
"Kau kejam! Kau meninggalkan aku selama lima bulan dengan berkata bahwa kau di Sunagakure, padahal kau sedang asyik-asyikkan dengan Naruto-kun! Kau jahat, Sasuke!" bibirku meracaukan kata-kata kemarahan pada Sasuke, "Apa kau tidak... memikirkan perasaanku? Apakah... apakah kau tidak tahu... betapa aku sangat... mencintaimu? Aku... aku―"
Tangisku pecah sudah. Benteng pertahananku hancur tak bersisa lagi. Kutumpahkan segala emosiku dengan air mata yang jauh lebih deras daripada sebelum-sebelumnya. Rasa takut dan lega bercampur menjadi satu, menyisakan rasa sakit yang begitu mendalam di hatiku. Sasuke memahami keadaanku. Ia menahan pergerakkan kedua tanganku dalam genggamannya, dan menariknya hingga menyentuh dada bidangnya. Dengan penuh kelembutan, Sasuke memandangku. Ia berusaha berargumen namun―sepertinya―memilih untuk mengurungkan niatnya.
"Um, maaf teman-teman. Di sini hujan. Bagaimana dengan minuman hangat di rumahku?" suara Naruto membuatku tersadar pria itu berada di antara kami. Aku segera melepaskan genggaman Sasuke dan beralih ke Naruto.
"Na-Naruto-kun," panggilku lirih. Tak kuasa kupandang wajahnya akibat kesalahan yang sudah banyak kutumpahkan padanya, "Maafkan kata-kata kasarku waktu itu."
Aku bisa mendengar Naruto terkekeh pelan. Ia mengangkat tangannya dan mengelus lembut kepalaku. Aku pun memberanikan diriku untuk menatap wajahnya. Pria bermata biru itu memandangku dengan penuh kelembutan. Namun, di balik itu semua, tersimpan luka yang mendalam yang tak pernah dan tak akan pernah ia lampiaskan padaku. Karena satu alasan. Karena ia begitu mencintaiku. Rasa sakit kembali menusuk ulu hatiku, ketika menyadari aku tak bisa membalas cintanya. Mengabaikan rasa cinta yang begitu besar yang sudah ia curahkan padaku.
Namun apa daya, aku tak bisa membodohi perasaanku.
"Sudahlah. Hentikan isakkanmu itu, Hinata-chan! Ayo kita semua ke rumahku. Aku yakin Kaa-san sudah membuatkan sepanci ramen panas!" seru Naruto, berusaha memperbaiki keadaan di antara kami, dengan seringai lebarnya. Aku tersenyum saat menatap sahabatku itu. Saat itu juga, tak kurasakan lagi beban di pundakku. Semuanya terangkat karena kehadiran mereka.
"Hinata-chan, kau jangan marah lagi pada Sasuke. Toh sebenarnya ia datang ke Suna untuk menjenguk Mikoto-sama, Ibunya yang sedang sakit.
Mataku membelalak mendengar perkataan Naruto. Aku menoleh ke arah Sasuke dan memandangnya penuh tanya.
"Gomen ne aku tidak memberitahumu," ucap Sasuke sambil menyeringai salah tingkah yang hanya kusambut dengan dengusan.
"Ah, Hinata-chan! Aku baru teringat sesuatu! Bodoh sekali aku sudah mengabaikanmu! Andaikan aku tidak mengingkari janjiku waktu itu, aku tak akan pernah melihat kalian berdua bertunangan!" dengus Naruto sesaat setelah menyeruput kuah ramennya. "Kau tahu, aku jatuh cinta pada perempuan bodoh di Sunagakure! Kau tahu karena apa?"
Aku mengedikkan daguku untuk meminta penjelasan lebih dari Naruto.
"Hanya karena perempuan itu berambut sama denganku! Kuning, Hinata!" jelas Naruto berapi-api. Aku dapat menangkap dengan jelas kekesalan dalam nada bicaranya.
Aku tersedak mendengar perkataannya. Buru-buru Sasuke mengambilkan aku segelas air yang segera kutenggak sampai habis. Setelah aku berhenti terbatuk-batuk, aku tertawa lepas―jenis tawa yang cukup jarang kugunakan. Tawaku yang cukup membahana itu membuat Naruto mendengus kesal.
"Ah, mungkin kau mengenalnya, Sasuke-san!" kata Naruto dengan mulut penuh.
"Mengenal siapa, maksudmu?" tanya Sasuke bingung.
"Perempuan itu!" kata Naruto tidak sabar. Ia kembali memasukkan ramen itu ke dalam mulutnya yang masih penuh.
"O namae wa?" tanya Sasuke lagi sembari memasukkan ramen ke dalam mulutnya dengan tenang―jauh berbeda dengan Naruto.
Naruto seperti berusaha mengingat―mungkin―nama keluarga perempuan itu. Setelahnya ia berkata, "Sabaku no Temari!"
Kini giliran Sasuke yang tersedak, dan tiba giliranku untuk mengambilkannya segelas air.
"Maksudmu kakak dari Gaara?" tanya Sasuke dengan mata membelalak.
"Bingo! Benar sekali, Sasuke! Yah, Gaara sudah bercerita padaku bahwa ia mengenalmu. Lalu kami berteman dekat, ia mengajakku ke rumahnya dan aku bertemu dengan Temari. Saat aku melihat rambut kuningnya yang―uh―sangat indah, aku segera jatuh cinta padanya dan segera mengirimkan pesan pada Hinata-chan bahwa aku tidak bisa menepati janjiku! Bodohnya aku!" racau Naruto panjang lebar. Penjelasannya ternyata belum selesai, "Dan lebih bodohnya, ah Sasuke-san, kau pasti sudah tahu betapa―erh!"
Sasuke terlihat menahan tawa. Ekspresinya sangat lucu saat itu. Namun ia segera berdeham pelan dan menimpali, "Yah, ia cukup sering berganti pasangan."
"Nah!" timpal Naruto menyetujui. Ia tampak sangat kesal pada dirinya sendiri. Aku sampai tidak tahu harus merasakan apa. Apakah aku harus merasa kesal akan kehadiran perempuan itu, ataukah aku harus bersyukur; karena dengan kehadiran gadis itu, aku bisa mengenal Sasuke dan jatuh cinta padanya?
Omong-omong soal cinta, aku masih meragukan statusku dengan Sasuke saat ini.
Malam ini adalah malam spesial bagi kami, siswa dan siswi kelas tiga Konoha gakuen. Semua dari kami menghadiri upacara kelulusan yang merangkap pesta dansa pada malam ini. Bahkan ini adalah malam yang spesial bagi kedua siswa pertukaran pelajar, karena kedua dari mereka diperkenankan untuk menghadiri pesta megah ini.
Malam ini aku mengenakan gaun dengan bahan entah apa yang berwarna ungu gelap dengan kesan glamor yang sangat kental karena bahan gaun itu yang begitu lembut dan mengilap. Gaun itu panjangnya mencapai mata kakiku, dan cukup merepotkan pergerakanku. Sarung tangan dengan bahan senada dengan gaunku pun ikut memeriahkan penampilanku malam ini. Tidak hanya mengenakan gaun itu, aku juga mengenakan sepatu tinggi sederhana, yang mampu membuat tinggi badanku tidak terlampau jauh dari Sasuke.
Dengan hati-hati aku keluar dari mobil sedan biru metalik milik Sasuke, agar rambutku yang sudah ditata rapi oleh penata rambut profesional itu tidak rusak akibat terkena langit-langit mobil. Rambut panjangku digelung ke atas―mirip dengan model rambutku ketika akan melaksanakan pertunangan dengan Itachi―dan diberi aksesoris berupa jepit rambut perak dengan bertahtakan berlian yang―sepertinya―hanya sepuluh karat yang cukup berat. Tidak hanya itu, aku membawa sebuah tas tangan kecil berwarna lavender dengan manik-manik di sekitarnya―cukup membuatku muak sebenarnya―dan juga dengan isinya yang sangat berharga.
Akhirnya aku pun sukses keluar dari mobil itu. Dengan gaya anggun, aku berdiri menunggu keka―err―Sasuke keluar dari mobilnya. Pemuda yang kutunggu-tunggu itu pun datang menghampiriku dengan senyuman angkuh khas Uchiha―yang notabene jarang dikeluarkan oleh pemuda konyol itu.
Sasuke tampak sangat tampan dan berkilauan dibalut tuxedo warna lavender itu. Celana panjang warna hitam dan sepatu yang sudah disemir sehingga mengilap pun turut menambah pesona bungsu Uchiha itu. Banyak yang menganggap aku adalah wanita yang sangat beruntung karena bisa berdiri di samping pemuda ini dengan jarak yang sangat dekat, dari pandangan orang-orang yang berlalu-lalang. Paling tidak, kali ini aku setuju akan pendapat mereka. Aku sangat beruntung memilikinya. Tunggu. Memiliki?
"Mari," ucap Sasuke sambil menawarkan lengannya. Tanpa ragu aku segera mengaitkan lenganku pada lengannya dan kami berjalan berdampingan. Aku merasakan segala pesona milikku keluar bersamaan dengan pesona milik Sasuke Uchiha. Dan aku bangga karenanya.
"Um, Sasuke," aku berkata datar, "Kuharap tak ada dansa ataupun tarian lainnya malam ini."
Sasuke mengerling ke arahku. Ia tersenyum penuh pengertian dan menjawab, "Anything for ya."
Aku melirik ke arahnya dan berkata sarkastik, "Kupikir kau pria bodoh yang tidak mengerti bahasa Inggris."
"Cih. Jangan remehkan aku. Pendidikan di Sunagakure sangatlah menekankan siswanya untuk belajar bahasa Inggris. Terlebih aku adalah seorang Uchiha. Sebagian besar anggota keluarga Uchiha bisa―" jelas Sasuke yang segera kupotong.
"Tak usah besar mulut, Uchiha," desisku.
"Aku tak suka mendengarmu memanggil nama belakangku," kata Sasuke dengan bibir yang dikerucutkan.
Aku tersenyum geli melihatnya, namun memutuskan untuk tidak menanggapi perkataannya.
Ia tampan. Sempurna dengan segala kepintaran dan kekayaannya. Pesona yang begitu kuat mampu menjerat ratusan wanita hanya dengan sekali kedipan. Hal itulah yang membuat sebagian besar wanita menyukainya. Namun di balik itu semua. Kekonyolan dan kebodohannyalah yang sudah menjeratku. Menjeratku dalam jaring-jaring cinta.
Malam upacara kelulusan ini berlangsung meriah. Seperti janji Sasuke, tak ada dansa atau tarian lainnya malam itu di antara kami. Kami hanya menghabiskan waktu di pinggiran hall dengan segelas minuman ringan di tangan kami masing-masing. Sesekali Sasuke membisikkan kata-kata cintanya tepat di telingaku, membuat jantungku berdetak cepat dan wajahku memerah sempurna.
"Bertemu dan berpisah sudah menjadi suratan manusia, entah itu berpisah karena kurang cocoknya, atau berpisah karena memang sudah takdirnya. perih dan sakit akan merasuk ke jiwa namun ketika hati dengan bijak menerima segala kenyataan yang ada, pasti semua kan baik-baik saja," suara dari speaker besar di sudut ruangan menghentikan aktivitas kami. Kami menoleh ke arah panggung dan mendapati Naruto dengan jas hitam tengah berdiri di belakang mikrofon. "'Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan―seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran'. Itulah kata seorang Kahlil Gibran."
Sejak kapan Naruto menjadi seorang yang bijak?
"Kawan, sekalipun kita tak lagi bersama, kuharap kita kan terus berteman. Selamanya terikat dalam ikatan pertemanan dan tanpa tembok penghalang di antara kita." ucapan Naruto terhenti. Aku bisa mengerti gerakan tangan Naruto yang menyatakan kesedihannya. Namun senyum tetap ia paksakan agar terus tersungging di bibirnya. "Yah, anggaplah ini kata-kata terakhirku untuk saat ini. Karena teman, aku akan menetap di Sunagakure mulai besok."
Seluruh siswa dan siswi saling berbisik saat mendengar perkataan Naruto. Beberapa dari siswa perempuan yang merupakan penggemar Naruto meneteskan air mata―yang merusak make up mereka tentunya. Begitu pula aku, tak luput dari kesedihan karena akan ditinggal sahabatku satu-satunya, Naruto. Aku berlari tunggang langgang ke arah panggung dengan air mata berderai. Tanpa banyak bicara, dengan sigap aku memeluk tubuh Naruto di atas panggung.
"Ti-tidak, Naruto-kun," bisikku lirih tepat di depan telingamu.
Naruto mengelus punggungku dan berkata, "Hinata-chan. Ini bukan berarti pertemuan terakhir kita."
"T-tapi, Naruto-kun.. Aku menyayangimu," kataku di sela-sela isakkanku yang semakin kuat.
"Aku juga, Hinata-chan. Tapi kau masih punya Sasuke, orang yang sangat mencintaimu. Kau harus berjanji padaku untuk menjaga cinta dan perasaannya, ya Hinata-chan?" tanya Naruto sembari melepaskan pelukanku. Ia menghapus air mata yang sudah melunturkan riasanku.
Aku menggeleng kuat-kuat―bukan menyatakan penolakkan atas permintaannya. Namun terlebih karena tidak ingin ia meninggalkan aku sekarang.
"Hinata-chan, mungkin ini yang terbaik untuk kita. Kau tidak membutuhkanku lagi. Kini kau sudah tidak sendiri. Kau memiliki sahabat sejati yang pasti tak akan pernah meninggalkanmu,"
Ucapan Naruto membuat tangisku kian menderas. Aku tak tahu lagi harus mengatakan apa. Aku menyayangi Naruto. Namun aku mencintai Sasuke. Aku tidak bisa hidup hanya dengan salah satu dari mereka. Aku membutuhkan mereka berdua. Tapi aku harus memilih. Memilih tetap aman dalam kasih sayang Naruto sebagai sahabat. Atau hidup dengan dinaungi cinta Sasuke.
Pesta besar itu pun berakhir. Berbagai tawa dan tangis telah terjadi di ruangan besar ini. Aku berdiri di depan Sasuke yang tengah menatap intens tepat ke arah mataku. Kesedihan masih merajalela di dalam hatiku karena Naruto yang memutuskan untuk menetap di Sunagakure. Tetapi di balik itu semua, aku juga bahagia karena Sasuke juga memutuskan untuk menetap di Konohagakure. Kurasa sudah saatnya mereka melepas status sebagai 'Pelaksana Program Pertukaran Pelajar' dan menggantinya dengan 'Pelaksana Program Pertukaran Tempat'.
Sisa-sisa tangisku akibat memberikan salam perpisahan masih ada terlihat di pelupuk mataku yang mulai membengkak.
Hall sudah mulai sepi. Para siswa dan siswi, juga guru-guru sudah mulai beranjak pulang. Yang tersisa di tempat ini hanyalah aku, Sasuke, dan juga beberapa petugas kebersihan yang berlalu-lalang.
"Ayo, Hinata-chan kita pulang," ajak Sasuke sembari menarik tanganku.
Aku mengangguk. Namun, saat kita sudah hampir tiba di mobil Sasuke, aku teringat akan sesuatu yang ada di dalam tas tanganku.
"Tunggu, Sasuke-kun," kataku mencegah pergerakkan Sasuke. Sasuke pun berbalik dan menatapku bingung saat melihat aku yang tengah sibuk mencari sesuatu di dalam tas tanganku.
Akhirnya aku menemukannya. Sebuah kotak beludru kecil berwarna perak yang sangat halus. Aku membuka dan mengeluarkan isinya.
"Kau bilang, aku harus memberikannya pada orang yang tepat," ujarku seraya menyematkan benda itu di jari manis kiri milik Sasuke. Sasuke terperangah saat diperlakukan demikian olehku. Aku tersenyum lembut padanya dan berjinjit untuk mengecup bibirnya sekilas. "Dan kau orang yang tepat, Suke."
Sasuke tersenyum ke arahku. Senyuman yang sangat lembut, yang mampu membuat alat pemompa darahku memacu dengan sangat cepat. Pipiku memerah ketika tangan Sasuke mulai bergerak menyentuhnya. Ia mendekatkan bibirnya pada telingaku dan bertanya dengan setengah berbisik, "Mengapa kau memilihku?"
Aku menjawab tanpa merubah posisi, "Karena... aku mencintaimu."
Sasuke mengecup telingaku sekilas, menyalurkan rasa geli di sekujur tubuhku. Lalu ia bertanya lagi, "Apa alasanmu mencintaiku?"
Pertanyaan apa ini? Apakah ini pertanyaan jebakan? Apakah Sasuke ingin mengujiku?
"Sebenarnya tak ada alasan yang cukup spesifik," jawabku sekenanya dengan wajah tertunduk, menyembunyikan rona merah di kedua pipiku.
"Aku tak yakin," timpal Sasuke tak percaya. Ia membuat jarak di antara kami.
Menyadari adanya jarak di antara kami, aku mendekatinya dan memegang erat kedua bahunya dan berjinjit.
"Karena ketampananmu," ucapku sembari mengecup pipi kirinya. "Karena pesonamu," lanjutku dengan kecupan manis mendarat di pipi sebelah kanannya. "Karena kebaikkanmu," aku melanjutkan ciumanku ke hidungnya yang mancung. "Dan terlebih, karena kebodohanmu," terakhir, kudaratkan bibirku di bibir Sasuke. Kami berpagutan cukup lama dengan tanganku melingkari lehernya dan tangannya merengkuh pinggangku. Aku dapat merasakan Sasuke tersenyum di sela-sela ciuman kami. Ciuman yang cukup dewasa untukku.
Segala beban dalam diriku pun terangkat sudah tanpa bekas. Kelegaan yang amat sangat kurasakan di dalam jiwa dan ragaku. Aku benar-benar gadis paling beruntung di dunia ini. Mendapatkan segala sesuatu yang kuinginkan dengan mudah. Hidup di antara orang-orang yang sangat menghargaiku. Sahabat yang menyayangiku dengan sepenuh jiwanya. Calon kakak ipar yang sangat menyayangiku juga dan selalu siap menjagaku. Dan terlebih tunangan yang begitu mencintaiku dan amat-sangat kucintai.
Akan kulakukan apapun untuk merebut mereka bertiga kembali dalam pelukanku jika ada yang berani merenggut mereka dariku.
"Hinata-chan," panggil Sasuke setelah ciuman kami berakhir.
"Hn?" sahutku singkat.
"Ayo cepat kita pulang. Aku sudah tidak sabar merencanakan pernikahan kita," kata Sasuke dengan seringai lebar, membuat pipiku merona merah dengan sempurna.
The end.
Um, jangan ke mana-mana dulu, Minnaa~ Masih ada epilog di next chapter! Wkwkwk, silakan reviews-nyaa~ Akan kuterima dengan sangat senang hatii..
"Never Stop Trying To Be Better, And Better."
-Anonymous Hyuuga-
