Pandanganya berubah menjadi datar. Dia benar benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Sedih. Kecewa. Marah. Dendam. Sayang. Karena itu semua dia tidak bisa berbuat apapun. Dia sudah tidak PEDULI. SAKURA TIDAK PEDULI.

Berjalan dengan santai. Tanpa mempedulikan mereka berdua. Sakura mengambil sekotak besar susu coklat, dan menutup kembali pintu kulkas dengan kasar dan meninggalkan mereka.

Hotaru menarik paksa tangannya saat dia melihat Sakura berjalan kearah mereka. Sasuke yang terkejut saat Hotaru menarik tangannya dan dia lebih terkejut melihat Sakura yang berjalan ke arah mereka.

"Saku–" ucapan Hotaru terputus saat Sakura menutup pintu kulkas itu dengan keras.

Mereka hanya melihat kepergian Sakura dari sana. Mereka bingung bagaimana cara menjelaskan situasi yang barubsaja terjadi. Dan mereka lebih bingung saat melihat reaksi Sakura yang terkesan biasa.

Acara makan siang mereka terasa canggung bagi Sasuke dan Hotaru. Pasalnya Sakura bahkan tidak pernah memandang mereka berdua. Dia lebih memilih duduk bersama ibunya.

Saat selesai makan siang kedua orangtuanya dan Hotaru memutuskan untuk pulang. Tidak lama seperti Mikoto. Benar bukan apa yang Sakura bilang.

Sasuke dan Sakura mengantar merka kedepan rumah walau Sakura sudah dilarang oleh Kizashi untuk keluar rumah terlebih dahulu. Sakura dan kedua orangtuanya saling berpelukan saat mereka hendak masuk mobil. Namun saat Hotaru ingin memeluknya Sakura lebih memilih mengalihkan perhatiannya dengan menghampiri sang ayah dan memeluk kembali leher ayahnya. Karena ayahnya berada didalam mobil.

Sasuke yang melihat itu hanya tersenyum kaku terhadap Hotaru. Dan mereka hanya berjabat tangan biasa.

Seusai kepergian orangtuanya Sakura lebih memilih diam dikamarnya. Membaca komik mungkin bisa sedikit menghiburnya.

Sasuke mengantarkan makan malam Sakura ke kamarnya. Entah kenapa Salura bahkan tidak keluar kamarnya sepeninggal orangtuanya.

Tok. Tok.

Tidak ada jawaban

Tok. Tok.

Masih sama. Dengan pelan Sasuke membuka pintu kamar Sakura mendapati Sakura tengah tertidur dengan lautan komik diatas kasurnya.

Sasuke merasa deja vu saat ini. Dengan perlahan Sasuke membangunkan Sakura untuk makan. Setidaknya Sakura harus makan agar penyakitnya tidak datang lagi.

Dengan perlahan Sakura membuka matanya. Dia melihat Sasuke dihadapannya.

"Makanlah. Agar kau cepat sembuh"

Sakura hanya mengangguk. Dia pin berjalan kekamar mandinya. Setidaknya dia harus sikat gigi dulu bukan?

Sasuke terus memperhatikan Sakura yang sedang memakan makanannya. Sikapnya terlampau biasa. Apa dia tidak melihat kejadian didapur tadi?

"Sakura untuk kejadian tadi. Aku hanya membantu Hotaru karena tangannya teriris" Sasuke mencoba menjelaskannya. Sasuke takut Sakura salah paham.

Sedangkan Sakura hanya mengangguk seperti tidak keberatan. Apa yang terjadi padanya?

"Sungguh itu hanya spontan saja"

"mmm.."

"Kau... Marah?"

Sakura senyum mengejek "Sejak kapan Senpai mempedulikanku?" tanyanya tenang.

Ya. Sejak kapan Sasuke mempedulikan apa yang dipikirkan Sakura.

Hari hari berikutnya Sakura bertingkah aneh menurut Sasuke. Memang dia sudah lama tidak memasak untuk Sasuke. Sakura menyapanya dan tersenyum seperti biasa. Namun, senyumannya tidak seperti dulu. Menurut Sasuke itu seperti senyum yang sering ia dapatkan dari para pegawainya. Senyuman formal.

Seperti sekarang Sakura hanya menyapanya tanpa melihat ke arahnya. Sakura malah masih terfokus pada acara kartun pagi hari. Sedangkan dulu Sakura akan menatapnya dan tersenyum padanya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sakura? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Sasuke?

Kenapa Sasuke harus merasa terganggu dengan sikap Sakura sekarang? Bukankah dulu dia tidak pernah mempedulikan apapun yang Sakura lakukan.

Hari ini adalah hati penandatanganan proyek baru Sasuke. Sasuke tahu itu adalah perusahaan yang bergerak di industri perfilm-an. Dan perusahaan terbesar di Taiwan. Jadi mungkin ini akan sangat menguntungkannya.

Sekarang Sasuke sedang menunggu orang itu. Orang dari AKS Etertainment.

Tok.. Tok..

"Sasuke-sama, Akasuna-sama dari AKS Entertainment sudah tiba" beritahu sekretaris Sasuke.

"Suruh mereka masuk"

"Baik.." ucap sekretarisnya.

"Hai.. Kita berjumpa lagi.. Hehe.."

Sasuke membulatkan matanya saat dilihatnya orang yang akan bekerja sama dengannya itu.

"Kau.."

Sepeninggal Sasuke yang berangkat kekantornya, Sakura hanya berdiam diri saja. Semenjak kejadian didapurnya Sakura sebenarnya sangat malas untuk pergi kesana dan berdiam lama disana.

Dan tentang sikapnya terhadap Sasuke ia memang sudah tidak memperdulikan apa pun yang akan Sasuke lakukan. Sakura sudah sangat lelah. Namun, Sakura juga tidak mau melepaskan hubungannya dengan Sasuke. Biarlah seperti ini.

Dan lagi, Sakura memutuskan untuk berhenti menjadi seorang penulis. Sakura tidak ingin membuatnya selalu berfantasi tentang kisah cinta dan kehidupannya seperti cerita yang ia tulis. Dimana setiap permasalahan yang ada itu sudah ada jalan keluarnya dan berakhir seperti yang ia inginkan. Semuanya berjalan di jalurnya.

Tidak seperti kisah hidupnya. Dia tidak akan tahu apa yang akan terjadi dengan pilihan yang diambilnya. Sad end or Happy end. Dia tidak mengetahuinya.

Mengambil handphonenya dan mengetikan pesan untuk Sai–editornya. Inilah langkah awalnya.

"Jadi?"

"Seperti yang kubilang tadi. Aku akan berhenti menulis" jawab Sakura santai.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" sambil meminum latte yang ia pesan.

"Bekerja sesuai gelar yang kuterima. Kau tahu bukan orang orang menganggapku seorang pengangguran"

"Salahmu yang merahasiakannya. Apa kau akan mendatanginya cheery?" tanya Sai lagi.

"Aku rasa. Dan berhenti memanggil ku cheery. Aku sudah berhenti." ketus Sakura.

"Baiklah Ohime-sama"

Sakura mendengus kesal. Kenapa Sai selalu membuatnya kesal. Tak apa namun dia juga orang yang menyenangkan.

Suasana sangat tidak mengenakan diruang kerja Sasuke, karena sang empunya terus saja menatap orang yang akan menjadi rekan bisnisnya. Pasalnya semenjak tadi orang dihadapannya ini hanya mengajaknya berbicara tentang sesuatu yang bukan urusan bisnis.

Apa dia kesini hanya untuk bermain main? Dan lagi kenapa yang dia bahas adalah tentang Sakura. Apa dia sedang memanasinya?

Sasuke memang tidak mengetahui masa kuliah Sakura. Dan itu membuat seolah olah pria dihadapannya ini adalah orang yang paling mengenal Sakura. Tch. Menyebalkan.

"Bisa kita serius sekarang?" kesal Sasuke.

"Baiklah baiklah" dan Sasoripun memasang wajah pura pura serius.

Mereka membaca isi dokumen kerjasama mereka. Lalu menandatanganinya. Lihat! Mudah bukan? Dan pembahasan ini tidak perlu memakan waktu lama jika mahluk merah ini tidak berbelit belit.

"Bisa kita bicara serius?" ucapnSasori dengan tegas dan raut wajah yang benar benar serius.

Sasuke mengangkat alisnya heran. Bukankah dari tadi dia memang serius. Bukankah Sasori sendiri yang bercerita kesana kemari. Tapi lihatlah perubahan raut wajahnya itu. Sasuke seperti merasa berhadapan dengan orang lain. Namun, karena rasa penasarannya Sasuke pun menganggukan kepalanya.

"Aku ingin membicarakan tentang Sakura. Aku memang tidak mengetahui tetang apapun yang terjadi diruamah tangga kalian. Dan jangan sampai aku mencari tahu.

Jika kau menyakiti Sakura, kau tidak perlu khawatir. Karena aku yang akan berada paling depan untuk melindunginya. Apapun itu hal yang bisa membantunya aku akan membantunya.

Kau tahu? Aku merasa janggal saja tentang pernikahan kalian."

Sasuke tidak tahu harua menjawab apa sebenarnya. Dia hanya memandang dokumen dihadapannya kosong.

Kenapa ia merasa takut sekarang? Bukankah jika Sakura pergi hidupnya akan kembali seperti semula. Dan semuanya berada di tempatnya masing masing. Seperti itukan yang Sasuke pikirkan dulu? Tapi kenapa sekarang dia tidak bisa memikirkan hal seperti itu lagi?

Apakah tempat dimana tidak ada Sakura dalam kehidupannya akan membuat semuanya kembali seperti semula. Jika tempat dimana Sakura tidak ada dalam kehidupanya. Maka Sakura akan pergi dalam kehidupannya. Seperti itukan?

Tanpa Sadar Sasuke menggelengkan kepalanya kecil.

Sasori yang melihat tingkah Sasuke saat Sasori mengatakan itu semua hanya bingung. Apa benar terjadi sesuatu. Sasori memang harus mencari tahu.

"Baiklah sebaiknya aku pergi dulu. Dan yoroshiku" Sasori pun pergi dari sana.

Sakura sedang duduk ditaman belakang rumahnya. Angin sore membuatnya terbuai. Menenangkan.

Menikmati angin yang berhembus. Sakura mejamkan matanya. Ia sedang memikirkan hal hal apa yang akan terjadi. Dan apa yang harus ia lakukan selanjutnya.

Pertama dia berhenti menjadibseorang novelis. Sekarang ia harus mencari pekerjaan. Sakura tahu siapa yang harus dia datangi. Namun dia juga tau apa yang akan terjadi selanjutnya.

Dulu dia meneruskan kuliah dengan jurusan kesekretarisan. Itu semuanya hanya untuk bisa berdampingan dengan Sasuke. Namun itu hanya angannya saja.

Menyebalkan. Dia benar benar berpikiran sempit. Sakura belum pernah mengalami yang namanya melamar pekerjaan. Dulu Sai yang menawarkan dirinya menjadi editor bagi Sakura. Kenapa Sai tahu kemampuan Sakura? Karena dirinya dan Sakura pernah mengikuti lomba menulis dan Sakura mendapatkan juara kedua. Dan Sai juara pertamanya.

Puk.

Sakura terlonjak kaget saat seseorang seseorang menepuk bahunya. Dan iapun mendelik tajam untuk siapapun yang sudah mengganggu lamunannya.

"Hn" gumam Sasuke saat melihat tatapan Sakura.

" Eh! Hehe Senpai. Kukira siapa. Hehe" Sakura merasa malu sendiri.

"Apa yang kau lakukan disini? Sudah sore mari masuk" ajak Sasuke. Dan sakura pun menangguk. Laly mengekori Sasuke yang masuk kedalam rumah mereka.

Tbc

Segitu dulu yah.. Idenya mentok.. Dan mungkin besok besok aku juga bakalan agak telat up.. Tapi diusahaiin setiaphari.. Oh ya disini ada yang pake apk wattpad? Gimana kalo cerita ini aku up juga disana.. Aku disini mgg bisa ngebales review kalian.. Haha PD gila..

Dan maaf juga kalo makin kesini makin gaje..