A/N: Dear my lovely readers, you're really incredible amazing. Thank you for your opinion, your thought, and everything you wrote in my review. I love you guys, but I already have my own plot. So enjoy and don't forget to leave your review. Again, I love you guys.
ROWLING HAS! I'M JUST HAVING SOME FUN WITH HER CHARACTERS SO JUST ENJOY IT
Chapter 10
Tanpa berpikir panjang lagi aku langsung ber-Apparate menuju tempat kejadian perkara setelah Nicholas mengatakan semuanya. Ber-Apparate secara langsung membuatku sedikit pusing melihat jarak antara London dan North Yorkshire tidaklah dekat. Kepulan asap hitam menjulang yang menyambutku pertama kali saat aku menginjakkan diri disana. Kerumunan Auror dan para pencari berita membuatnya semakin terlihat dramatis. Aku melangkah dengan keresahan akan Draco. Sejak Nicholas mengatakan hal ini sampai aku menginjakan diri disini hanya Draco yang memenuhi pikiranku. Bagaimana bisa ia terjebak dengan dua pembunuh dengan gangguan jiwa disana? Apa yang ia pikirkan sampai tak bisa melarikan diri secepatnya? Dan apa yang dilakukannya sampai kastil tua itu terbakar?
"Kenapa kalian tak memadamkan apinya?" tanyaku pada Harry dengan tatapan yang terus menatap kastil yang perlahan termakan api itu.
Harry terkejut dan langsung menatapku. "Hermione?"
"Apa yang kau lakukan disini?" tanyanya.
"Kenapa kalian tak memadamkan apinya, Harry?" tanyaku kemudian menatapnya dan air mataku meleleh secara perlahan.
Harry menggeleng. "Mereka memasang mantra pembatas dan peilindung."
"Lalu kenapa tak kau hancurkan?"
"Tak semudah itu, kami Auror.."
"Panggil ahli mantra!" tandasku.
Harry langsung memegang tanganku. "Mereka menggunakan dark magic. Kau tahu tak semudah itu menghancurkannya."
Dan kini aku yang hancur saat mendengarnya. "Hermione dengarkan aku," ujar Harry sambil memegang pundakku. "Kami akan mengerahkan seluruh kemampuan untuk mengeluarkannya."
Air mataku semakin membanjir dan Harry memelukku. "Draco," bisikku.
Sudah berapa lama dia di dalam sana? Meskipun ia dapat melindunginya dari api, tapi asap pembakarannya akan meracuninya secara perlahan. Aku tak mampu membayangkan apa yang akan terjadi padanya.
Pandanganku beralih pada beberapa Auror yang sedang dirawat oleh para Healer yang kuduga adalah rekan Draco yang berhasil melarikan diri. Kulepaskan pelukan Harry lalu menghampiri mereka. Aku berdiri di hadapan mereka dan sontak mereka langsung menatapku dan melepaskan masker oksigen yang secara sihir terpasang di mulutnya. "Miss Granger," ujar salah seorang dari mereka.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanyaku tanpa berbasa-basi sambil terus mengawasi Auror lain yang tengah berusaha memadamkan apinya tapi terlihat percuma karena air itu tak mampu menembus pelindung gaib yang di pasang oleh dua bedebah itu.
"Pagi tadi kami mendapatkan infromasi bahwa Malcolm bersaudara menempati kastil ini sebagai persembunyiannya. Tepatnya Mister Malfoy yang berhasil melacaknya."
Mendengar namanya disebut membuatku semakin tersadarkan bahwa ia tengah berjuang di dalam sana sementara aku hanya bisa menunggunya di luar sini. "Kami akhirnya menyiapkan rencana penyergapan. Ternyata Malcolm bersaudara ini benar-benar sadis dan tak terkendali, kami sudah berhasil membekuknya namun mereka berhasil melarikan diri ke bawah tanah kastil itu. Saat itulah Mister Malfoy mengejarnya dan tak lama kemudian api menyulut dari bawah dan beberapa kami berhasil menyelamatkan diri," ia berhenti sejenak untuk menarik napas.
"Sementara Mister Malfoy dan Earl, salah satu Auror kami terperangkap di bawah sana."
Napasku seakan tercekat saat mendengarnya. Kucoba untuk berpikir jernih dan langsung kembali kepada Harry yang kini tengah sibuk memberikan komando kepada para anak buahnya. "Mereka terjebak di bawah tanah, bukan?" ujarku.
"Kau sudah mendengarnya?" Harry berbalik tanya padaku.
Aku mengangguk. "Cari blueprint dari kasti ini. Pihak Kementerian pasti memiliki rancangan dan konstruksi apa yang digunakan kastil ini melihat dari sejarah dan umurnya. Cari jalan masuk atau jalan pintas yang di bangun di kastil ini. Kita bisa menyelematkan mereka dengan itu."
Setelah penjelasan panjang lebarku itu Harry hanya menggeleng. "Sihir mereka terlalu kuat. Pelindung gaib itu terpasang 20 meter dari kastil itu dan dibuat mengelilinginya. Tak ada celah sama sekali. Kita sama sekali tak dapat mendekatinya sebelum pelindung itu di hancurkan."
Aku lemas dan mencoba menghelas napas sepanjang mungkin. "Lalu rencana apa yang telah kau jalankan?"
"Para ahli mantra sedang mencari celah untuk mematahkan mantra pelindungnya. Saat mantranya perlahan mulai rapuh lalu kami akan langsung memecahkannya dan mematikan apinya."
Aku menghela napas panjang lagi dan berbisik. "Bagaimana kalau kalian terlambat?"
"Jangan memikirkan hal itu. Serahkan padaku."
Aku semakin gila menunggu semua ini. Waktu terus berjalan dan para ahli mantra belum menampakan hasil kerjanya sementara api terlihat semakin besar dan tak terkendali. Kutinggalkan kelompok yang mengerubungi Harry dan berjalan ke arah para ahli mantra yang tampak tak melakukan apapun.
"Apa yang kau lakukan?" tanyaku tak percaya pada mereka.
Salah satu dari mereka hanya menatapku dengan sebelah alis yang mengangkat. "Kenapa kau tak berusaha menghancurkan mantra pelindungnya?" tanyaku dengan nada suara yang meninggi.
Ia menggeleng dengan mudahnya. "Kami sudah mencoba dengan sekuat tenaga, namun tak ada hasil yang signifikan. Sihirnya terlalu kuat dan sangat kuno. Bila mereka tak selamat anggap saja takdir tak berpihak pada mereka."
Mendengar perkataan itu darahku seakan mendidih dibuatnya. Tanpa berpikir panjang lagi kuraih kerah jubahnya dan menariknya sampai ia terlihat tercekik. "Kau punya kekasih?" tanyaku.
Ia menggeleng. "Aku sudah menikah," jawabnya tercekat dengan raut wajah ketakutan.
"Kau mau tahu rasanya bila istrimu kulempar ke dalam kastil itu dan ia terperangkap disana sementara aku akan mengatakan padamu bila istrimu tak selamat anggap saja takdir tak berpihak padanya?" tanyaku semakin mengetatkan cengkramanku.
"Hermione," Ron datang untuk melepaskanku dari pria dengan mulut yang tak pernah bersekolah di hadapanku ini.
Aku melepaskannya karena Ron menarikku dan saat itu juga ia langsung mengambil napas yang panjang. Aku berjalan selangkah untuk kembali berhadapan dengannya sementara Ron dengan sigap memegang pergelangan tanganku. "Jadi, simpan omong besarmu! Aku mau kau mencari segala cara untuk menghancurkan mantra ini dan jangan berhenti sampai kau berhasil . Dan aku tak mau mendengar lagi alasan bodohmu untuk menyerahkan ini pada takdir."
Ia hanya menuduk dan kemudian mengangguk pelan. "Jawab aku!"
"Baiklah, aku akan mengerahkan semua kemampuanku."
Dengan kalimat terakhirnya itu aku mundur beberapa langkah dengan Ron yang masih memegang tanganku sementara pria itu kembali merapalkan mantra untuk pelindung sialan ini.
Para wartawan semakin berdatangan untuk meliput berita ini secara ekslusif. Pasti mereka menganggap ini kejadian besar dan layak untuk disiarkan secara langsung. Nicholas tadi sempat memberikanku cangkir plastik berisi kopi dan aku berterima kasih akan hal itu. Saat aku lihat api mulai sedikit mengecil dan perasaan lega mulai sedikit menjalar di tubuhku namun seketika musnah saat aku mendengar dentuman dari bawah tanah dan separuh dari kastil ini ambruk perlahan.
"No!" aku berteriak dan melemparkan cangkir yang kupegang tadi lalu berlari ke arah kastil itu dan seseorang sudah berhasil menangkapku.
Aku meronta sekuat tenaga dan menangis tak karuan. "Tidak! Draco!"
"Tenangkan dirimu, Hermione," ujar Harry yang masih mendekap tubuhku dan membawanya mundur.
Aku masih berusaha melepaskan diri dan untuk sekali lagi aku mendengar suara dentuman dari kastil itu dilanjutkan dengan suara pecahan gelas yang maha dahsyat. Mantra pelindung kastil ini hancur bersamaan dengan kastil yang sekarang ikut amblas bersamanya.
"Draco," isakku.
Aku tak percaya bahwa aku akan kehilangan dia selamanya dalam cara seperti ini. Berpisah darinya sudah menjadi neraka tersendiri bagiku. Dan kini ia benar-benar pergi dari dunia ini selamanya dengan cara yang tragis seperti ini. Seandainya aku masih memiliki jam pemutar waktu yang dihadiahi oleh Dumbledore dulu, aku akan kembali ke saat aku dengan bodohnya melepaskannya dari hidupku. Atau aku akan mencegahnya untuk menangani kasus ini. Atau apapun caranya agar semua hal ini tak terjadi padanya. Padaku. Agar kami bisa bersama saat ini dan untuk selamanya.
Harry masih mendekap erat tubuhku agar aku tak mencoba untuk berlari ke arah kasti itu dan kini Ron juga sudah ikut mendampingiku dengan tangan yang sedari tadi mengusap lengan atasku. Aku masih berada di dekapan Harry saat melihat sebuah sosok keluar dari reruntuhan dan kepulan asap di hadapanku. Ia membopong seorang lagi di sampingnya sebelum jatuh bersamaan. Mataku yang mengabut karena sedari tadi tergenang oleh air mata langsung awas dan keluar dari dekapan Harry. Kufokuskan kembali penglihatanku dan aku tak salah. "Draco!" teriakku.
Aku langsung berlari menghampirinya sementara seorang Auror lagi mengambil alih Earl yang ikut tergeletak di sisi Draco. Aku menelentangkan tubuhnya yang terjatuh tadi. Denyut nadinya melemah dan aku tak dapat merasakan detak jantungnya. Matanya tertutup sempurna dan ia tampak benar-benar tak berdaya. Ada bau terbakar dari jubahnya dan kulit putih sepucat marmer miliknya terlihat penuh dengan bercak noda hitam jelaga.
"Draco," panggilku lalu menepuk-nepuk pipinya namun tak ada respon berarti darinya.
Kembali kucari denyut nadinya yang tadi melemah namun sekarang sama sekali tak bisa kurasakan. "Bangun, Draco!"
"Bangun, Draco!" ujarku lagi dengan berurai air mata.
Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung melakukan CPR padanya dan mulai memompa jantungnya. "Bangun, Draco," ujarku berulang kali padanya sambil terus memompa jantungnya dan sesekali memberikan napas buatan.
"Damn it! Draco kau tak dapat meninggalkanku seperti ini," racauku dengan air mata yang terus mengalir deras sambil terus memompa jantungnya.
"Aku mencintaimu, Draco! Bangun sekarang! Kau tak dapat meninggalkanku seperti ini. Damn it!"
"Hermione," suara Harry berada di belakangku.
Langsung saja segerombol Healer mengambil alih pekerjaanku sementara aku berlutut menunggu di sampingnya. Air mataku tak dapat dihentikan dan aku tak peduli akan hal itu. Aku melihat seorang Healer mengenakan masker oksigen sihir kepadanya sementara satu Healer lagi melakukan hal yang sama sepertiku yaitu memompa jantungnya.
"Kau tak punya hak meninggalkanku seperti ini, Draco. Bangunlah," isakku
Aku masih memandang tubuhnya yang terdiam dan matanya yang masih terpejam tak bergeming. Kubelai rambutnya dan berusaha menerima apapun hasil akhir dari pertolongan pertama ini. "Bangun, Draco. Aku mencintaimu."
Suara tarikan napas keluar dari mulutnya dan Draco terbatuk. Tubuhya bergerak dan mulai bergerak mengikuti gerakan paru-parunya. "Thank God," isakanku semakin kencang saat melihat ia secara perlahan membuka matanya.
Tangannya membuka masker oksigen itu segera setelah Healer menghentikan pertolongan pertama padanya. "Hermione?" ia menyipitkan matanya.
Aku hanya sanggup mengangguk sambil menyeka bulir-bulir air mataku. "Kau yang mengatakannya?"
Sejenak aku terdiam dan mengerutkan dahi dengan masih berusaha untuk tak sesenggukan di hadapannya. "Kau mencintaiku?"
Tangisku kembali pecah dan aku mengangguk-angguk seperti orang bodoh. Ia berusaha bangkit dan Healer tadi langsung membantunya. "Kau mencintaiku?" tanyanya lagi tak percaya dan aku kembali mengangguk.
"Aku mencintaimu, Draco."
Dia tertawa kemudian meringis memegang dadanya dan menarikku untuk memeluknya. Kubenamkan wajahku di lehernya. "Kau tak tahu betapa aku mencintaimu sampai rasanya aku ingin ikut mati bersamamu tadi," isakku.
Dia melepaskanku dan mengecup lembut bibirku. "Berhenti menangis bibirmu jadi asin."
Aku tertawa dan kembali memeluknya.
000
Media menggila melihat diriku dan Draco saat ini. Harry dan Ron langsung memerintahkan para Auror untuk membatasi daerah untuk para media. "Great. Kita akan menjadi bulan-bulanan mereka untuk waktu yang lama," ujarku saat membantu Draco berjalan ke arah ambulans sihir milik Saint Mungo karena ia bersikeras tak mau menggunakan tandu dengan kilatan kamera yang tak henti-hentinya mengenai diri kami.
Dia menatapku dengan matanya yang terlihat sayu. "Aku tak peduli."
Kurapatkan selimut tebal yang menyelimutinya agar tetap hangat sampai ke ambulans itu. Para Healer langsung kembali memasangkan masker oksigen kepadanya dan ia sudah merebahkan diri di salah satu tempat tidur di ambulans sihir ini yang terlihat seperti Saint Mungo berjalan. Tangan Draco dengan cepat menangkap pergelangan tanganku saat aku akan keluar dari ambulans ini. "Kau mau kemana?" tanyanya tanpa melepaskan masker oksigennya.
Aku tersenyum tipis. "Hanya ingin bertemu dengan Harry sebentar."
"Kau tak boleh meninggalkanku lagi."
Aku kembali ke sampingnya dan mendekatkan wajahku padanya. Satu tanganku mengusap lembut wajahnya kemudian rambutnya. "Kau dapat memegang ucapanku, Draco. Aku tak akan pernah lagi meninggalkanmu."
Dia hanya tersenyum lemah untuk kemudian memejamkan mata karena efek ramuan yang diberikan padanya mulai bekerja.
"Hey," sapaku padanya saat ia membuka mata untuk pertama kali sejak ia diberikan ramuan entah apa namanya di ambulans lalu oleh seorang Healer.
Ia mengerjap sesaat lalu tersenyum. "Hey," sapanya.
"Kau lapar?" tanyaku.
Ia menggeleng. "Berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanyanya yang mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya namun langsung kutahan dan aku menggeleng untuk melarangnya.
Ia kembali kembali ke posisinya namun kubantu untuk membuatnya bersandar dengan nyaman. "Kau tidur hampir dua belas jam. Ramuan dari Healer itu membuatmu tertidur untuk mempercepat proses pemulihanmu," ujarku menjelaskan padanya.
Dia mencebik setelah mendengarku. "Memangnya aku sakit apa sampai harus dirawat seperti ini. Aku akan berbicara pada perawat atau Healer rumah sakit ini untuk melepaskanku saat ini juga."
Aku mendengus saat mendengarnya. Draco Malfoy-ku telah kembali. Lengkap dengan sikap tukang perintah, cepat marah, dan menyebalkannya. "Kau keracunan asap pembakaran kastil itu dan ada sisa jelaga di jalur napasmu. Bersyukurlah kau tak mati terpanggang disana."
Dia menatapku sinis. "Aku tak akan mati semudah itu dan memberikan kesempatan untuk para pria di luar sana untuk menggodamu."
Aku tertawa lantas duduk di pinggir tempat tidurnya. "Terima kasih, Tuan Malfoy. Aku sangat tersanjung mendengarnya," ucapku lalu memegang wajahnya dengan terus menatap mata kelabunya.
"Bagaiamana caranya kau keluar dari kastil yang ambruk itu dan membuat gelembung sihir untuk memerangkap Malcolm bersaudara itu?" tanyaku tetiba yang penasaran akan hal itu.
Dia menyeringai. "Kau hanya perlu tahu bahwa aku adalah penyihir yang hebat. Itu saja. Bagaimana keadaan Earl?"
"Dia juga sedang menjalani perawatan sama sepertimu."
Dia tersenyum lalu mendekatkan diri kepadaku namun kemudian meringis karena aku tahu dadanya masih terasa sakit akibat asap kemarin. Bukannya merasa iba aku justru tertawa dan mengambil inisiatif untuk semakin mendekatkan diri padanya. "Oh Tuhan, aku merindukanmu," ujarku sebelum mendaratkan ciuman di bibirnya.
Bibir lembut khas dirinya hilang untuk sementara. Bibirnya terasa kasar dan kering akibat dehidrasi yang disebabkan oleh insiden kemarin, namun kehangatan dan aroma tubuhnya tak pernah berubah. Dia tetap Draco Malfoy yang membuatku jatuh cinta sedalam-dalamnya. Kulepaskan bibirku darinya. "Rasanya aku ingin bercinta denganmu sekarang di ranjang rumah sakit ini."
"Mesum," tandasku dan dia hanya tertawa.
"Aku akan memanggil perawat agar membawakanmu makanan."
"Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh kau, tak ada yang lain."
Aku mendengus. "Kau butuh perawatan untuk kesehatanmu."
Dia melihatku malas karena tahu bahwa ia tak akan menang bila berargumen melawanku. Bukan tak akan menang tepatnya, tapi terlalu malas untuk membuatnya menjadi panjang dan menghabiskan energi dengan percuma. Ia kemudian menatap ke sekeliling ruangan ini. Aku tahu ia tak menyukai berada di rumah sakit seperti ini, oleh karena itu aku memilih ruangan VVIP terbaik yang bisa diberikan Saint Mungo.
"Aku akan menjalani perawatan, tapi aku mau kita dipindahkan ke kamar yang lebih layak," ucapnya enteng.
"Tetapi, ini adalah kamar terbaik di rumah sakit ini."
Dia menggeleng. "No, love. Aku akan meminta secara khusus pada pemimpin rumah sakit ini untuk mendapatkan dimana seharusnya seorang Malfoy berada."
Aku hanya mendengus. "Terserah padamu. Aku akan melapor pada perawat bahwa kau sudah sadar dan membutuhkan makanan serta obat agar kau sedikit waras."
Dia hanya tertawa dengan sangat sexy dibalik jubah pasien rumah sakitnya itu saat aku keluar.
000
Draco benar-benar membuktikan perkataannya. Tak lama setelah ia mengatakan pada perawat ia ingin bertemu dengan pemimpin rumah sakit ini, seorang pria yang sudah cukup tua datang mengunjunginya untuk kemudian berbicara dan sekarang ia sudah dipindahkan ke sebuah ruangan yang mirip dengan kamar utama di rumah Muggle-nya. King size bed, perapian, jendela besar serta karpet bulu super lembut namun tetap ada beberapa selang yang bekerja secara sihir untuk perawatan tubuhnya. "Ini baru sebuah kamar," komentarnya sementara aku hanya melengos.
Tak ada yang kulakukan seharian ini selain membaca dengan Draco yang tertidur di sampingku. King size bed ini adalah salah satu yang kusyukuri dari kamar ini. "Hermione," ujarnya yang membuatku langsung menutup buku itu.
"Ada apa? Kau tak bisa bernapas lagi?" tanyaku.
Dia tersenyum lalu menggeleng. Ia masih memejamkan matanya saat kembali membuka mulutnya. "Apakah bila aku tak akan mati seperti kemarin kau akan kembali pada Krum?"
Kata-kata itu membuatku bangkit dari sandaran tempat tidur ini dan menatapnya. "Apa yang kau katakan?"
"Kau menciumnya di ruanganmu sore itu. Apakah kau akan kembali padanya bila aku tak mengalami kejadian seperti kemarin?"
Kuhela napas sejenak sebelum membalas pertanyaannya. "Ciuman itu adalah ciuman perpisahan kami. Dan aku tak ada niatan sedikitpun untuk kembali padanya, aku tak cukup jahat untuk kembali padanya sementara hati dan pikiranku ada pada pria lain."
"Lalu mengapa kau lebih memilih meninggalkanku disaat kau tahu apa yang kau rasakan terhadapku?"
Kali ini aku butuh waktu yang sedikit lama untuk menjawab pertanyaannya. "It was a woman's thing," jawabku tanpa menatapnya.
Dia menggeleng. "It was a Hermione's thing."
Aku tersenyum kepadanya. "Mungkin," jawabku.
"Dengar, love. Enyahkan semua perasaan bersalahmu pada siapapun. Kau dan aku ditakdirkan bersama. Aku tak mau lagi kehilangan dirimu dan aku tahu bahwa kau juga merasakan hal yang sama. Aku tak ingin kembali ke masa-masa saat aku kehilanganmu. Hal itu membunuhku setiap waktunya."
"Aku tahu rasanya," jawabku.
"Di kastil kemarin saat aku kehabisan akal untuk keluar dari sana, aku berpikir mungkin hal itu adalah jalan terbaik untukku. Mati dan mengakhiri semuanya."
Aku langsung meletakkan jariku di bibirnya. "Jangan berbicara seperti itu. Aku akan mati ratusan kali bila hal itu terjadi padamu. Melihatmu terkapar tak berdaya seperti kemarin membuatku kesusahan untuk bernapas juga. Kau sempat mati, Draco. Demi Merlin, itu adalah hal terburuk yang pernah kurasakan di muka bumi," air mataku mengalir tanpa dapat kukendalikan saat bayangan akan Draco kemarin.
"Hush, love. Aku baik-baik saja sekarang. Wanita secantikmu tak boleh lagi mengeluarkan air mata untuk kejadian buruk seperti insiden itu," lalu ia menarikku dan aku ikut tidur disampinnya dengan lengannya sebagai bantalku.
Mendengarakan setiap detak di dadanya sambil terus bersyukur akan hal itu. Kami berada di posisi ini tanpa bergerak dan berbicara dalam waktu yang lama sampai sebuah ketukan menginterupsinya. Tanpa perlu menunggu aku untuk membukanya gerombolan Zabini, Nott, dan Pansy Parkinson menghambur masuk.
"Oh mate, aku kira kau tak berdaya dan terkapar lalu tengah sekarat. Kau terlihat sangat sehat dan sudah bisa menghabiskan siangmu dengan Miss Granger," ujar Blaise Zabini menggoda Draco.
Kubantu Draco untuk bersandar di tempat tidur ini. "Shut up, Blaise."
Theodore Nott hanya tersenyum ala kebanyakan Slytherin sambil menuangkan wine yang ia bawa ke dalam gelas. "Apa yang kau pikir sampai membawa wine saat menjenguk pasien, huh?" dengus Draco.
"Merayakan bahwa kau tak mati, Draco. Simpel," ucap Theo lalu membagikan gelas wine pada Blaise, Pansy dan yang mengejutkan adalah kepadaku.
Aku menerimanya dengan ragu dan dia hanya mengedik saat menatapku dengan tatapan aristokrat lagi-lagi khas para Slytherin. "Berapa banyak galleon yang kau habiskan untuk menyogok Webber memberikanmu fasilitas seperti ini?" tanya Pansy setelah ia menyesap wine di tangannya.
"Tak sebanyak harga krim perawatanmu," ujar Draco yang langsung disambut dengan tawa oleh Theo dan Blaise sementara Pansy hanya mendengus.
Dan seketika itu pula ia menatapku lalu beralih pada Draco yang masih tersisa tawa di wajahnya. "Dari yang kubaca di media dan apa yang kusaksikan sekarang, apakah kau kembali pada Draco?"
Baru saja aku ingin menjawabnya ia telah kembali membuka suara. "Aku tidak perlu tahu dan aku tak mau tahu."
"Pans," ucap Draco.
"Tenang. Aku tak akan menjambak atau memakan kekasihmu," ujar Pansy malas lalu menyesap wine-nya. "Asalkan kau tak mati itu sudah cukup. Terserah kau mau berhubungan dengan siapapun."
Draco terkekeh. "Haruskah aku mengucapkan terima kasih atau memberikanmu voucher perawatan di salon favoritmu karena telah merestui hubungan kami?"
"Shut up, Draco!" tandas Pansy kesal lalu benar-benar menenggak habis wine-nya.
Blaise berjalan ke belakangnya lalu memegang pundaknya dan Pansy langsung memberikan tatapan mematikan miliknya. "Tenang saja, Miss Granger. Pansy sudah jinak. Dia sudah lulus dari perawatan jiwa di rumah sakit ini."
"Kau mau mati, huh?" geram Pansy yang disambut tawa oleh ketiga sahabatnya ini.
Saat ini aku menyadari bahwa bukan hanya Gryfindor yang memiliki persahabatan yang hangat. Draco, Blaise, Theo, dan Pansy membuktikannya. Mereka masih tertawa sampai saat Theo menatapku lalu menaikkan gelasnya. "Welcome to the club, Hermione Granger."
000
Draco kembali ke kantor dan perusahaannya tepat satu minggu setelah insiden lalu, begitupula dengan diriku yang mengajukan cuti ke Kementerian. Semuanya berjalan dengan sangat indah dan hanya ada dua hal yang memuakkan bagiku yaitu, sorotan media dan tatapan orang-orang padaku. Seperti saat ini, aku harus berjalan sangat cepat dari perapian Kementerian menuju lift untuk menghindari para pencari berita. Wajahku dan Draco tengah menjadi cover terhangat dari media cetak gosip sihir di seantero Inggris Raya. Spekulasi yang menyatakan bahwa aku adalah penyebab perceraian Draco dan Astoria serta Draco adalah penyebab perpisahan aku dan Viktor menjadi headline utamanya. Gambar-gambar kami selama di tempat kejadian perkara lalu juga menjadi gambar yang paling banyak di perbincangkan saat ini.
"Aku akan berbicara pada Auror lain untuk meningkatkan keamanan Kementerian dari para wartawan gila itu," ujar Harry yang langsung menarikku ke dalam lift.
Aku mendengus. "Terima kasih."
Saat bel dari lift ini berbunyi menandakan bahwa kami telah berada di lantai yang diingini aku dan Harry keluar dengan Draco yang telah menunggu di lorong menuju kantorku. "Pagi, love," ujarnya padaku sementara Harry hanya menggeleng dan melengos.
Namun ia berhenti sejenak lalu berbalik untuk menatap Draco. "Andre dan Bastian Malcolm akan menjalani sidang siang ini, kau ikut disana?" tanya Harry.
"Tentu. Aku tak akan melewatkan persidangan dua orang gila itu," ujar Draco enteng.
"Dan Malfoy," Harry berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "Terima kasih karena telah menjaga mereka tetap hidup saat kastil itu mereka bakar dengan bodohnya."
"Sudah bagian dari tugasku."
Saat Harry berbalik untuk meningalkan kami, aku menyipitkan mata untuk menatap Draco. "Sudah bagian dari tugasmu, huh? Aku akan memindahkanmu ke divisi yang minim dari bahaya jika diperlukan."
Dia tertawa. "Jadi ini rasanya memiliki kekasih yang lebih berkuasa di kantor, huh?"
Saat ia akan merunduk untuk menciumku aku menghindar. "Ingat Mister Malfoy kita sedang berada di kantor, jaga sikapmu atau aku akan memberikanmu surat peringatan."
"Baiklah, Miss Granger. Sampai jumpa saat makan siang, aku akan ke bagian forensik sekarang."
"Sampai jumpa."
000
Sudah hampir satu tahun kami kembali bersama. Bila bukan aku yang bermalam di rumahnya berati dia yang menghabiskan malamnya di rumahku. Draco sering sekali komplain mengenai betapa tidak prakstisnya gaya hidup kami, tapi aku belum siap untuk berkomitmen lebih. Aku belum siap untuk pindah bersama dengannya, apalagi memikirkan pernikahan walaupun Draco telah memintaku berulang kali. Mulai dengan cara yang paling romantis dengan makan malam cantik dipadu dengan tata cahaya yang indah sampai mengajakku menikah saat kami makan siang di kafetaria Kementerian. Aku berusaha memberikannya pengertian bahwa menikah bukanlah tujuan akhir dari segalanya. Asalkan ia mencintaiku dan aku mencintainya itu sudah cukup bagiku.
"Kau sudah bangun?" ujarnya dengan suara parau saat kepalanya menyelusup ke dalam leherku.
Aku masih tak bergerak dan membiarkannya menciumi tubuhku. "Sudah beberapa menit yang lalu."
"Masih terlalu pagi untuk bangun di akhir pekan seperti ini, love," ucapnya lagi yang kini telah melingkarkan kakinya serta tangannya di tubuhku.
Kulepaskan tangannya dan merubah posisi dengan dia berada di bawahku sementara aku meletakkan dagu di dadanya. "Aku belum berniat bangun dari ranjang ini," godaku.
Ia menyeringai. "You must be craving for our morning sleepy lazy sex, huh?" tanyanya dengan tangan yang membelai lembut anak rambut yang membingkai wajahku dan aku hanya menganguk dengan senyuman untuk menjawabnya.
"Oh aku ingin bangun di pagi hari dengan kau di sampingku untuk selamanya," ujarnya lagi.
Aku tertawa. "Keinginanmu akan kukabulkan, love," balasku.
"Hermione."
"Yaa."
"Menikahlah denganku."
Kuhela napasku sebelum mengecup bibirnya. "Kau tahu apa yang akan menjadi jawabanku, bukan?"
"Apalagi yang kau tunggu? Aku bukan anak remaja yang mengajak kekasihnya tanpa memiliki apapun. Aku memiliki pekerjaan yang amat sangat bagus dengan penghasilan yang tak perlu dipertanyakan lagi, kau juga memiliki pekerjaan yang kau sukai. Aku memiliki properti yang menjamin bahwa kita tak akan pernah hidup di bawah kolong jembatan. Dan yang paling penting adalah kau mencintaiku dan aku juga terlalu mencintaiku."
Aku hanya menatapnya pongo. "Ini masih pagi dan kau sudah berkhotbah sepanjang ini."
"Bila yang terperting adalah aku mencintaimu dan kau juga mencintaiku lalu apalagi yang harus dipermasalahkan? Pernikahan hanya selembar perkamen saja, Draco."
"Aku ingin mengikatmu selamanya."
"Tanpa perlu menikahiku aku milikmu selamanya."
Dia hanya menghela napas mendengar jawabanku. "Lagipula karirku tengah menanjak, Draco."
Tanpa menjawabku dia menyingkap selimut kami dan keluar dari ranjang ini. "Kau mau kemana? Katamu ini akhir pekan dan terlalu dini untuk bangun."
"Aku butuh kafein," jawabnya sambil berlalu keluar dari kamar tanpa perlu menggunakan baju untuk menutupi telanjang dadanya.
Aku melongo melihatnya. "How about our morning sleepy lazy sex, huh?"
Tak ada jawaban darinya. Draco Malfoy dan sifat perajuknya.
000
Aku tak tahu apa yang salah dengan otak Draco, tapi sudah hampir dua bulan belakangan ini ia tak lagi bersikeras memintaku untuk menikahinya yang berarti bagus buatku namun aku tak menemukan kelegaan akan hal itu. Apa mungkin ia sudah malas dan tak lagi berniat untuk menikahiku? Sekali lagi aku menjadi cemas akan hal ini. Aku kira dengan mengahdiri rapat dengan para kepala departemen ini akan membuatku lupa akan kecemasanku, namun bukannya lupa aku malahan mati bosan karenanya. Rasanya aku ingin sekali keluar dari sini dan menikmati secangkir teh hangat di ruanganku dengan alunan musik yang menyejukan pikiran.
Suara hak dari sepatuku menggema di lorong ini dan ketika sampai di depan kantorku aku tak menemukan Nicholas. Mungkin saja ia mengambil kopi di kafetaria atau ada urusan lainnya. Kulangkahkan kaki masuk ke dalam ruanganku dan tubuhku terpaku seketika saat melihat Draco berdiri di tengahnya. Ia menggunakan jubah kerja biasanya dengan kemeja hitam di dalamnya. Ia tersenyum tanpa berjalan ke arahku. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan ini. Suasana di runganku saat ini berubah seperti saat aku masih menjadi penyelidik di departemen ini dulu. Ada banyak sekali tumpukan perkamen di meja dengan papan-papan tulis hitam yang lengkap dengan data serta foto-foto mayat dari tempat kejadian perkara serta foto-foto hasil forensiknya. Tatapanku silih berganti dari semua objek di ruangan ini dengan Draco yang masih berdiri tak bergerak dengan senyum di wajahnya dengan terus menatapku.
"Sebenarnya ada apa?" tanyaku lalu berjalan ke arahnya.
Saat aku sudah dekat dengannya aku mengambil perkamen yang terletak di mejaku. "Semua foto dan perkamen ini adalah berkas dari kasus-kasus yang pernah kutangani, bukan?"
Ia mengangguk. "Semuanya sejak kita masih pemagang disini. Dan ini adalah kasus yang kucuri darimu agar aku bisa mendapatkan perhatianmu," ujarnya saat mendekati salah satu papan tulis hitam dengan foto-foto korban dan TKP-nya.
"Wow, aku kagum kau mengikuti dan mengetahui semua kasus yang kutangani."
Dia menyeringai. "Aku selalu mengikutinya sejak bertahun-tahun yang lalu."
"Aku mengikuti setiap langkah yang kau buat, Hermione. Dan percayalah padaku, love, bahwa aku akan terus mendukungnya."
"Draco."
"Aku akan mendukung setiap tahapan karir yang akan kau buat nanti. Mungkin kita akan sering bertengkar karenanya atau karena hal lain, tapi ingat semua itu terjadi karena kita saling mencintai. Jadi, untuk kesekian kalinya aku ingin menanyakan padamu Hermione Granger, apakah kau mau menikah denganku?"
Air mataku mengalir saat mendengar semua ucapannya. "Tapi kau tahu bahwa aku tak menginginkan anak dan aku tak mau kau merasakan ada yang hilang karena hal itu, kau juga tahu bahwa aku tak percaya akan pernikahan."
"Kita akan menjalaninya. Dan masalah anak, kau tak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kau tak perlu mengkhawatirkan aku akan merasakan kehilangan akan hal yang belum pernah kumiliki. Jadi, maukah kau menikah denganku? Menjadi sosok yang pertama kulihat saat bangun di pagi hari dan sosok yang terakhir kulihat saat aku akan terlelap?"
Aku mengangguk dengan air mata yang sudah jatuh secara sporadis di wajahku. "Aku mau, Draco. Aku mau," ujarku lalu memeluknya.
Ia melepaskanku dan menciumku. "Aku mencintaimu," ujarku dengan keningnya yang masih menempel di keningku.
"Aku lebih mencintaimu."
000
Who's excited for Draco and Hermione's life the years later, huh?
