Author note:
Hallooo
Chapter baru telah tiba~ (^.^)/
Buat semua yang udah nge review dan baca cerita ini, Makasih yang sebanyak-banyaknya!
Aku senang sekaliii! XD Hehehe Untuk yang udah baca cerita Tales of Prince Claire , Ainagihara-chan, makasih banyak yaa!
Aku bakal berjuang bikin cerita yang bagus lagi, hehe..
Yak, inilah chapter 10 dari FF berjudul 'Harta Berharga', maaf kalau gak memuaskan, semoga dapat menghibur! :)
Part 10
Festival Sapi
*Layar menjadi gelap, dan muncul seseorang di bawah sorot lampu*
[Halo? Kedengeran? Ya gak lah ya.. Kan ini cerita.. kali bisa kedengeran.. Okey! EHM!]
[Yak, bertemu lagi dengan saya, Kappa! Yang akan menjadi dubber narrator kali ini! Sekarang, kita kembali flash back dengan chapter sebelumnya…]
[Di chapter sebelumnya.. Carter datang menghampiri Claire!]
"Ah, selamat pagi Claire. Maaf menggangu pagi-pagi."
"… Vampire itu.. Kemana dia?"
"Aku mencium ada bau roh disekitarnya. Kalau itu benar.. Ini keadaan serius. Tolong katakan yang sebenarnya Claire."
[Dan apa yang akan Claire katakan atas pertanyaan Carter? Mari kita simak dalam chapter berikut ini!]
JENG JENG JENG~~~ (?)
*Kembali ke cerita*
Claire yang masih tidak tau harus berkata apa itu pun, masih terdiam sambil memandang Carter.
"Emm.. I-itu…"
((TOLONG AKUUU!)) Batinnya dalam hati.
"Carter!"
Tiba-tiba dari pintu masuk Mineral Farm, munculah Cliff, yang sedang berlari lalu mendekati mereka berdua.
"Hah.. Hah… Carter, kau kedatangan tamu!" Ujar Cliff, dengan nafasnya yang tidak terkontrol. Habis marathon, bro?
"Oh, hampir saja aku lupa! Terima kasih Cliff! Aku harus pergi!" Jawab Carter, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Hah.. Untung saja keburu.. Mmm? Claire kau kena.."
"SYUKURLAH CLIFF!" Teriak Claire sambil memeluk Cliff, yang membuatnya salting seketika.
"WU-WUOAHAHOAA! A-apa-apaa-aa-aan!" Sekujur tubuh Cliff langsung memerah. Tapi rambut, mata, dan giginya nggak kok. Tenang aja.
"KAMU TAU GAAK?! TADI ITU… hah.. hah.. TADDII! Hah…" Entah kenapa nafas Claire jadi bengek juga.
"Pe-pelan pelan, oke? Tenang.. Tarik nafas! Buang… Tarik lagi.. Buang…" Ujar Cliff sambil menirukan gaya Dokter kandungan yang sedang ngurusin ibu-ibu hamil.
"Okee… HUAAAHH! HAAAH! Hah…. Jadi… Tadi itu.."
Dan Claire mulai menceritakan semuanya.
"Sudah kuduga.. Ternyata Carter memang curiga pada Jack.. Apa boleh buat, aku akan mencoba meyakinkan Carter untuk tidak mencurigai tentang Jack lagi. Sebaiknya, sekarang kita bicarakan rencana mengenai hal ini."
"Baiklah! Aku akan panggil Jack juga.."
"Oke, kita berkumpul di klinik jam 9, oke? Aku akan mengabari Gray dan Dokter dulu soal hal ini!"
"Baiklah, aku juga akan bersiap-siap dulu!"
Kemudian, Cliff pun melesat pergi, sementara Claire pun masuk ke dalam rumah, untuk menceritakan semuanya kepada Jack.
-13 Summer, Klinik, 09.00 A.M.-
"HUABUCHIMM!"
"CHIIIM! OHOK! HATCHIM!"
"Elli, bawakan botol di rak nomer 2 sebelah kiri, di urutan nomer 5 dari kanan!"
"Ba-baik!"
"OHOOKK!"
"HABRRRUUHHHCHIIMM!"
SROOT! SRROOOTTT!
"OHOK! HATCHIM!"
"Ini, Dokter!"
"Bagus, nah, sekarang diamlah! Aku akan menyuntikkan obat!"
"TIDHHAAK! HATCHIM! AKHU TIDHAK MAHU DISHUNTHIK! OHOK! HATCHI!"
"DIHYA DHULUHUAN! HATCHI!"
"APHUAAN KHAU ITHU! POO… HATCHI!"
"KAUH YHANG APHUAAN! KHAING KHAI.. HUAATCHIM!"
"….."
Claire, Jack, Gray, dan Cliff terdiam melihat pemandangan yang mereka lihat di klinik. Di ruang pemeriksaan, terdapat dua pasien dengan muka biru mereka. Di samping mereka, Dokter dan Elli sibuk berlalu lalang. Sementara, pasien mereka, atau yang lebih dikenal dengan duo sumber masalah, masih sibuk bertengkar di atas ranjang mereka.
"Apa yang terjadi disini?" Tanya Cliff kepada Dokter, yang saat ini penampilannya sangat berantakan gak karuan. Seolah telah terjadi hal mengerikan sebelum mereka kemari.
"Gotz menemukan mereka berdua semalam." Ucap Dokter, sambil membenarkan kerahnya yang terlipat kesana kemari. "Mereka ditemukan di luar rumahnya, dan beginilah.. Mereka kena flu Karena kedinginan."
"Dasar lemah.." Bisik Gray.
"APHHUAA KHATHAMHUU?!" Kai dan Rick turun dari ranjang mereka dan berlari ke arah Gray.
"JANGHAN SHEMBARHANGAN YAH!"
CROT!
Liur dan i***s mereka muncrat ke muka Gray.
"NOOOOOOO!" Gray langsung berputar-putar meminta bantuan untuk mengambilkannya sesuatu untuk mengelap *piiip* mereka berdua yang kini mendarat di wajahnya. Tapi malangnya, orang-orang justru menjauh darinya.
"Kalian tidurrr!" Dokter mulai emosi.
"HUABHIS DHIA NYEBHELIN.. HUAATCHIM!" Ujar Rick.
"RHASAHIN THUH! OHOK!" Kai menambahkan.
"NOOO! TIDAK! CLIFF! TOLONG AKU!" Gray menarik baju Cliff dan berusaha memakainya sebagai lap untuk wajahnya.
"HEI!" Cliff menarik bajunya dan menjauh dari Gray. "Enak saja! Cari lap sana!"
"Ini, pakailah ini, Gray.." Elli menyerahkan sebuah sapu tangan, dan membimbingnya menuju kamar mandi terdekat. Tidak lupa dia menyerahkan sabun 'super duper extra antiseptic pembasmi kuman 1000%' kepada Gray.
"Bahaya sekali.." Ujar Jack yang saat ini sedang duduk di atas meja, menjauhi orang-orang sakit itu.
"Iya.. Tampaknya Dokter akan sangat sibuk.." Jawab Claire.
"Ah, Claire.." Dokter mendekati Claire. "Apa yang ingin kau bicarakan? Tampaknya.. Saat ini aku tidak bisa membantumu.." Jawab Dokter sambil melirik ke arah kedua orang pembawa bencana itu dengan tatapan risih. "Maaf ya."
"Ah, tidak apa.. Lagipula memang sudah tugasmu kan untuk merawat mereka, sebagai Dokter?"
"Baiklah, untuk lebih amannya kalian sebaiknya keluar dari sini. Nanti setelah Gray selesai mencuci muka, dia akan menyusul kalian. Aku masih harus mengurus mereka berdua." Dokter pun kembali masuk ke ruang pemeriksaan, dan kembali memberikan Rick dan Kai perawatan intensif.
"Ayo, sebaiknya kita keluar dulu." Ujar Cliff.
Mereka bertiga pun keluar dari klinik. Kemudian Cliff lah yang pertama berbicara.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang? Ada baiknya kita menyiapkan persiapan untuk festival selanjutnya." Tanya Cliff.
"Ah! Iya! Aku mau beli sapi!" Ujar Claire.
"Mmm.. Baiklah, kalau begitu kita akan pergi ke Yodel Ranch.. Lalu.. Jack.."
{Ada apa?} Jack menulis.
"Kau sudah dengar tentang Carter mencurigaimu kan?" Tanya Cliff.
{Ah, pendeta itu.. Ya, aku sudah dengar darinya. Kenapa?}
"Yah.. Menurutku untuk saat ini, lebih baik kau tetap berada di Mineral Farm. Sampai aku bisa meyakinkan Carter soal dirimu." Jack terdiam mendengar ucapan Cliff.
"Aku hanya sebentar kok, setelah membeli sapi, aku akan segera pulang." Ujar Claire meyakinkan Jack. Setelah lama terdiam, Jack pun akhirnya menulis,
{… Baiklah. Aku mengerti.} Kemudian, Jack pun mulai berjalan menuju Mineral Farm.
"Terima kasih, Jack. Kami pergi dulu ya!" Ujar Cliff, sambil berjalan bersama Claire menuju Yodel Ranch.
Cliff dan Claire memilih mengambil jalan melalui Inn. Di perjalanan, keadaan benar-benar sunyi.
Tiba-tiba Cliff memecahkan keheningan.
"Sepi ya?"
"Ah, iya.. Habis biasanya kan ada Dokter, Gray, dan juga Jack.. Baru kali ini kita berdua seperti ini!" Jawab Claire.
"Haha, benar juga ya.. Tapi.. Sesekali seperti ini, rasanya enak juga." Bisik Cliff.
"Apa katamu tadi?"
"Ti-tidak! Hehe!" Cliff mulai salting dan melambai-lambaikan tangannya.
Keadaan pun kembali hening. Kemudian, mereka pun berjalan melewati Inn… Dan..
BRAK!
Tiba-tiba dari dalam Inn, muncullah Ann, Popuri dan Karen yang tampaknya sangat gembira.
"CLAIRE! Pas sekali kamu disini!" Teriak Popuri.
"Ayo ikut kami!" Ann menarik Claire untuk masuk ke Inn.
"E-eh! Tunggu dulu! Apa yang kau lakukan pada Claire?"
"Oh, ada Cliff rupanya! Sebaiknya kau ke gereja saja! Ini urusan perempuan!" Jelas Karen.
"Benar-benar!" Popuri menambahkan.
"Ah.. Tapi aku dan Cliff ingin membeli sapi untuk festival.." Ujar Claire.
"Hmm…" Ketiga perempuan itu terdiam. "Nanti saja kami temani! Sekarang ayo ikut kita dulu!"
BLAAMM!
Mereka bertiga menarik Claire masuk ke dalam Inn, meninggalkan Cliff sendirian di luar. Setelah beberapa saat terbengong-bengong, Cliff pun memegang ganggang pintu sebelum..
BRAAK!
"Cowok dilarang masuk sampai jam 12!"
BLAM!
Ann mengusirnya.
"…. Hah.. Lalu apa yang akan kulakukan sekarang?" Jawab Cliff pasrah.
-Di dalam Inn-
Saat ini Claire sedang duduk di salah satu kursi di Inn. Dikelilingi oleh para peremuan-perempuan itu. Sampai tiba-tiba, Ann mengeluarkan sebuah majalah.
"Nah, Claire.. Kau tau kenapa kita disini? Dan hanya perempuan saja?" Tanya Ann.
((Ya mana aku tau?! Kalian yang menarikku masuk kan…)) Ucap Claire dalam hatinya.
"Jawabannya karena ini!" Popuri menunjukkan cover depan majalah itu, yang penuh dengan gambar hati dimana-mana. Dengan gambar seorang perempuan tersenyum di tengah-tengahnya.
" 'TIPS SEGALANYA TENTANG CINTA' ?" Claire membaca judul buku yang font-nya sebesar plang rumah dijual itu.
"Yap! Kita bertiga sekarang akan membahas mengenai cinta! Karena kita beempat belum terlalu mengerti apa itu jatuh cinta kan?" Jawab Karen.
"Ya Claire! Siapa tau dengan membaca buku ini kita bisa memiliki orang yang kita suka.. Atau mungkin pacar! Bahkan menikah!" Ann mengangkat majalah itu tinggi-tinggi.
"Me-menikahhh?!" Claire mengambil langkah mundur. Dia sama sekali belum kepikiran sampai kesana.
"Ya iyalah! Kau ini dari kota kan? Apa sebelumnya kau tidak pernah suka pada seseorang atau.. pacaran? Padahal kau ini dari kota..?" Tanya Karen.
"Ti-tidak lah! Aku.. Belum.. Suka pada seseorang.." Claire langsung membantah dengan muka memerah.
"Padahal kalau di sinetron-sinetron aku suka liat bahwa di kota itu banyak kawin muda.. Atau.. Itu loh! Hamil diluar nikah!" Teriak Popuri dengan polosnya. Sampai-sampai Doug yang ada di kasir memuncratkan kopi yang dari tadi sedang diminumnya.
"WUAAAHH!" Claire berdiri dan menggulingkan meja yang ada di depan mereka.
"Be-berhentiii! Tidak ada seperti itu taau! Dan lagi.. Kenapa kita jadi membahas begituan?!" Teriak Claire.
"Popuri.. Itu kejauhan.. Lagipula sinetron apa sih yang kau tonton?" Tanya Karen heran.
"Ah.. Itu.."
"Sudah-sudah, lebih baik kita baca majalah ini saja ya.." Ann memotong perkataan Popuri sebelum dia memulai hal-hal yang aneh lagi.
"Hah.. Ya ampun.." Claire menarik nafasnya dan kembali duduk lagi.
"Hmm.. Yang mana ya yang akan kita baca terlebih dahulu.. Ah! Ini nih! Ciri-ciri orang jatuh cinta!"
"Apa-apaa?!" Popuri dan Karen mendekat, mencoba melihat isi buku itu. Sementara Claire, membenarkan meja yang sudah dia jungkir-balikkan itu.
"Pertama! Siap-siap… 'Awalnya kau merasa kesal dengan kehadirannya'!"
TRING!
Tiba-tiba Jack, dengan wajah menyebalkannya, muncul di dalam pikiran Claire. Claire langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.
((Mana mungkin sih..)) Ujarnya.
"Kok kesal sih? Kan ini ciri-ciri orang jatuh cinta.. Bukan orang mau tawuran kan?" Tanya Popuri.
"Mana aku tau?" Jawab Ann.
"Aku lanjutkan yaa! Kedua.. 'Entah tanpa sadar kenapa kau menuruti apa yang dia mau, dan bersedia menolongnya ketika dalam kesulitan'."
TRING! TRING!
Muncul wajah Jack dan seorang Kakek-kakek yang mukanya entah kenapa di sensor di kepala Claire.
((Aku.. memang sih menolong Jack untuk membuka harta kakeknya.. Ta-tapi..)) Claire menggelengkan kepalanya lagi.
"Menolongnya dalam kesulitan? Masa cewek yang nolongin sih? Dia gak gentleman dong!" Protes Karen.
"Mmm.. Aku sih gak masalah.." Ujar Ann.
"Haha, Aku lanjutin yaa~ Ketiga~! 'Kau pernah menangis untuknya'!" Ujar Popuri.
DEG!
Teringat di benak Claire kejadian yang ingin dilupakannya. Dia menangis.. Sampai dua kali hanya karena.. Jack.
((Ti-tidaakk! Tidaakk! Bukan! Itu hanya kebetulan! Aku.. menangis karena kasihan saja!)) Ucap Claire dalam hatinya, sambil mencubit kakinya.
"Nangis? Tapi.. Aku gak pernah nangis.." Ujar Ann bingung.
"Aku! Aku sering nangis! Apa itu artinya aku jatuh cinta?" Tanya Popuri.
"Sudahlah, tangisan yang dimaksud disini itu berbeda dengan tangisan yang ada di pikiran kalian, kawan-kawan.." Jawab Karen pasrah.
"Begitu ya? Lalu.. Yang keempat… 'Kau pernah ingin sekali memeluknya, atau menyentuhnya'!"
DEG DEG DEG DEG!
Claire teringat, saat festival memasak, dia bermaksud memeluk Jack tanpa sadar. Entah kenapa dia ingin melakukan itu. Yang jelas dia merasa sangat senang waktu itu.
((Tenangkan dirimu Claire.. Tenang.. Tenang.. Gimana caranya tenang?! Tenang.. Tenang… Apa itu tenang!?)) Claire mulai error, namun dia masih tetap berusaha menyimak kelanjutan dari majalah itu.
"Pe-peluk?! Mmmm.. Pernah gak ya?" Karen berpikir.
"Aku sering! Tiap ketemu mama, Rick dan kalian semua!" Jawab Popuri.
"Eh.. Aku.. pernah gak ya? Merasa ingin memeluk seseorang ya..?" Ann berpikir. Di meja kasir, Doug sudah memberikan isyarat, 'Ayah! Ayah! Kau selalu ingin memeluk ayah kan?!'
"Kayaknya gak pernah deh.."
DOOONNGGG….
Kaki Doug langsung lemas setelah mendengar pengakuan jujur dari anaknya.
"Udah, udah… Sekarang yang terakhir nih…" Ann dan Popuri langsung mendekati Karen, yang kini bermuka sangat serius.
" Kelima… 'Ada saat tertentu dimana kau merasa dia terlihat sangat keren' … Begitu."
Wajah Claire mulai memerah.. Kini yang ada di pikiran Claire adalah saat Jack melepaskan topinya, menatap ke langit, memejamkan matanya…dan.. dan…
"Keren? Kayaknya ti…"
"WUAAAAHHHH!" Teriakan Claire membuat kalimat Karen menjadi terputus.
"A-ada apa Claire?!" Ann langsung mengambilkan air minum untuk Claire.
"Mukamu merah.. Kau sakit?" Tanya Popuri yang kini meletakkan tangannya di dahi Claire.
"A-aku tidak apa-apa.." Jawab Claire sambil meminum air yang dibawakan Ann untuknya.
"Jangan-jangan.." Karen tersenyum. "Kelima hal tersebut pernah kau alami?"
BBUUUUFFFTTTHH!
Air yang Claire minum tersemburkan ke wajah Karen.
"A-apanya..! A-aku t-idak suk-a pa-padanya!" Masih dengan wajah memerah, Claire protes dengan terbata-bata. Sementara Ann sibuk mencari kain lap, Popuri terpesona melihat wajah Karen yang saat ini benar-benar.. speechless. Mungkin itu pertama kalinya dia disembur orang.
"I-ini…" Ann menyerahkan handuk pada Karen.
"… Te-terima kasih.." Jawab Karen sambil mengelap wajahnya.
"Ah! Karen! Maafkan aku!" Claire yang baru saja menyadari apa yang terjadi, langsung membantu Karen mengelap wajahnya.
"Ti-tidak apa-apa kok.. Aku hanya sedikit kaget.." Ujar Karen.
"Jadi benar?" Ann merangkul Claire.
"A-apanya?" Wajah Claire mulai memerah.
"Kau suka pada seseorang?" Tanya Karen lagi.
Wajah Claire langsung memerah. Dia tidak tau perasaannya itu bisa disebut suka atau tidak. Tapi dia tau jelas.. Bahwa kelima hal yang dikatakan majalah itu, terjadi padanya.
"A-aku tidak tau.."
"Kenapa?" Tanya Karen.
"Aku.. Tidak tau apakah aku pantas memiliki perasaan seperti ini atau tidak.." Claire mengingat, bahwa Jack, saat ini bukanlah manusia pada umumnya.
"Memangnya apa yang membuatmu berpikir begitu?"
"Aku.. Baginya, aku hanya perantara yang dapat menolongnya.. Menyentuhnya saja aku.. tidak bisa.. Dan lagi.. Aku tidak tau sampai kapan aku bisa bersamanya.. Karena dia bukanlah orang biasa.. Aku.." Claire menundukkan kepalanya.
"….."
Setelah beberapa lama merasa suasananya hening, Claire akhirnya mengangkat kepalanya. Dan betapa terkejutnya dia melihat ketiga gadis itu sudah menangis di depannya. Bahkan Doug pun sudah berlari ke kamar mandi karena terharu. (?)
"WUAAH! Clairee!" Popuri memeluk Claire.
"A-apaa?!" Claire jadi panik.
"Kenapa kau tidak pernah menceritakan hal ini kepada kami sebelumnya?! Hiks.. Kan kami bisa membantu!" Karen juga menangis.
"Hiks.." Ann menutupi wajahnya karena malu.
"Lihat ini!" Karen membuka halaman terakhir. " Kubacakan ya! 'Cinta itu bukan dilihat dari segi fisik, melainkan perasaan!' Jadi kau berhak untuk menyukai siapapun! Manusia, bahkan alien!" Teriak Karen.
"A-alien?!" Claire terhentak.
"Benar! Hiks.. Bahkan kalau kau suka pada Kappa pun tidak apa!" Tegas Ann.
"K-KAPPA?!" Kali ini mood galau Claire benar-benar hilang mendengar nama Kappa disebut. Khususnya dalam topik ini.
"Ya, karena itu Claire.." Mereka bertiga memegang tangan Claire.
"Siapapun yang kau sukai itu, jangan menyerah!" Ujar Ann.
"Karena yang terpenting adalah perasaanmu!" Ujar Karen.
"Cinta~ Cinta~ Claire jatuh cinta!" Teriak Popuri.
Saat ini entah kenapa, Claire merasakan perasaan yang sangat hangat di hatinya. Untuk kali ini dia merasakan rasanya memiliki 'sahabat perempuan'. Rasanya benar-benar sangat menyenangkan.. dan sangat.. membuatnya gembira.
"I-iya.. Terima kasih.."
Mereka bertiga tersenyum mendengar ucapan Claire. Kemudian Ann menyadari sesuatu.
"Ah! Kalau begini berarti.. Yang jatuh cinta hanya Claire dong!?"
"AHH! Benar! Berarti.. Hah.. Aku belum bisa menemukan pasanganku.." Karen lesu.
"Kau bukannya suka pada kakak?" Ujar Popuri.
"Kakakmu?! Hiihh! Tidak terima kasih!" Bantah Karen.
"Oh iya! Aku harus membeli sapi.." Ujar Claire.
"Tunggu! Kami ikutt!" Ujar mereka bertiga.
"Eh, tapi.. Kalian sedang sibuk kan? Tidak apa-apa?"
"Tenang saja, kita sahabat kan?" Jawab merek serentak.
"… Iya." Claire tersenyum, dengan begini, sahabatnya pun bertambah lagi.
…
Setelah membeli sapi, ditemani oleh Ann, Karen, dan Popuri, aku pun kembali ke Mineral Farm. Dan semenjak kejadian itulah, aku tidak bisa memandang Jack lagi. Aku bisa menebak dia menganggapku aneh. Biarkan sajalah.
Trio Gantengs? Mereka masih sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Gray akhirnya tertular flu ganas itu pun terpaksa dirawat di klinik. Dokter masih sibuk merawat Kai dan Rick, dibantu oleh Cliff yang dengan setia, setiap hari membacakan doa untuk mereka. Yah, begitulah kira-kira.
Soal Carter, aku masih tidak tau lagi aku harus berkata apa ketika bertemu dengannya. Kupastikan saja aku terus menghindar setiap bertemu dengannya. Ya, hanya itu yang bisa kulakukan.
Kemudian, soal hari ini.. Festival sapi! Sapi yang akhirnya diberi nama 'Sehat' oleh Jack itu pun, berhasil memenangkan festival! Karena beruntung, kedelapan peserta sapi lainnya tertular flu ganas Kai dan Rick entah bagaimana caranya. Terima kasih banyak untuk mereka.
Setelah itu..
"Hmmm…." Claire meletakkan pulpennya. Dia sudah tidak ada ide lagi harus mengatakan apa di dalam diarynya, yang baru saja dihadiahkan oleh Karen untuknya.
"Ini ada barang yang dulu ayah berikan padaku! Namun tidak pernah terpakai, jadi kau saja ya yang pakai!"
Hal itulah yang Karen katakan padanya sebelum akhirnya, diary itu ada di tangannya saat ini. Claire pun merebahkan dirinya di sofa.
"Apa lagi ya yang akan kutulis?"
Dia memejamkan matanya. Mengingat kejadian yang dia telah alami hari ini. Si Sehat berhasil memenangkan festival sapi, kemudian Claire memberikan piala kemenangan berisi kunci itu pada Jack. Kemudian Jack tersenyum dan mengatakan 'Rupanya kau benar-benar menang'.
PLAK!
Claire menampar pipinya yang sebelum dia tampar sudah berubah menjadi kemerahan itu. Semenjak dia membaca majalah cinta itu, dia tidak bisa berhenti memikirkan Jack. Dia pun memutar badannya, dan mengambil posisi untuk menulis lagi.
Aku tidak bisa berhenti memikirkan hantu sialan itu.. Ini gara-gara majalah itu.. Menyebalkan!
Claire terdiam. Kemudian dia menulis lagi.
Sebenarnya.. Apa yang terjadi padaku?
Apa.. Apa aku benar-benar menyukai Jack? Tapi.. Dia kan hantu.. Apa aku boleh menyukainya?
Aku..
"Apa yang kau tulis itu?" Tiba-tiba Jack sudah ada di sampingnya, berusaha melihat apa yang sedang Claire tulis.
"WUAAAAHHH!" Spontan, Claire menutup diarynya, lalu mengambil penyiram airnya yang ada di bawah sofanya dan..
KOMPYANG!
Dia melemparkannya ke arah Jack, hingga Jack terpental ke arah TV.
"W-woi! Apaan sih?!"
"Kau yang apaan bodoh! Be-berani-beraninya mengintip! Lagipula ini kan sudah malam! Kau tidak tidur?!" Teriak Claire sambil memegang erat diarynya.
"Memang itu apaan sih?!"
"Ra-rahasia!" Jawab Claire sambil mengulurkan lidahnya.
"Hooh.." Jack pun kemudian berusaha berdiri, namun.. "Agh!" Dia terjatuh lagi, sambil memegang punggungnya.
"A-apa yang terjadi?!" Claire mendekatinya. "Sakit?! Punggungmu kenapa?! Ada yang sakit?! Kamu encok?! ENCOK YA?!" Tanya Claire yang sudah panik. Sementara Jack, menahan tawanya.
"Hehe.."
"Eh?"
"Kena kau!"
SET!
Jack dengan gesitnya mengambil diary dari tangan Claire.
"Ti.. TIDAAAKK!" Claire langsung mengejar Jack.
"Hahaa! Kena kau!" Ujar Jack sambil tertawa.
"Ja-jahaatt! Padahal aku sangat khawatir!" Teriak Claire sambil berusaha meraih diary yang Jack sedang angkat ke atas.
"Eh.. Kau khawatir?" Tanya Jack.
Claire terdiam sesaat, kemudian mukanya menjadi merah seketika.
"Po-pokoknya kembalikaannnn!" Claire meloncat untuk mengambil diarynya, namun kakinya tersandung sesuatu, dan..
"Awas!"
BRUKK!
Claire akhirnya terjatuh di lantai.
"Aduh.. Sakitt.."
"Kau tidak apa-apa?"
"I-iyaa…" Claire pun membuka matanya. Dan dilihatnya Jack sedang berada di atas tubuhnya. Muka Claire pun bertambah merah dari sebelumnya. Saat ini jarak Jack sangat dekat dengannya. Dia benar-benar terlihat seperti manusia. Tubuhnya.. Wajahnya..
"Hoi?" Jack menyadarkan Claire dari lamunannya. "Kau gak apa-apa kan?"
"….. WAA!" Claire pun meraba-raba sekelilingnya, sebelum akhirnya mengambil barang yang paling dekat dengannya, dan melemparkannya ke arah muka Jack.
BUKKK!
Jack terpental untuk kedua kalinya. Beruntung barang itu hanyalah bantal yang terjatuh dari sofa. Diary di tangan Jack pun terlepas, Claire pun menganggap hal ini sebagai kesempatan dan langsung mengambil diary itu.
"Dapaat! Untunglah~" Ujarnya lega. Sementara di sudut ruangan, Jack terkapar sambil memegangi pipinya.
"Mmm.. Jack?" Tanya Claire, agak khawatir.
"^$$* %..." Jack bergumam sendiri.
"M-maaf…" Ucap Claire. Jack pun berdiri.
"Ya, tidak apa.. Ya sudah, aku mau tidur dulu ya." Jawabnya, lalu masuk ke kamarnya.
"Haahh.." Claire terjatuh ke lantai. Kakinya benar-benar lemas.
((Apa-apaan itu tadi!?)) Ucapnya dalam hati.
Dia meletakkan tangannya di dadanya. Dia bisa merasakan degup jantungnya sangat cepat. Claire pun mengambil pulpennya dan melanjutkan tulisannya yang belum selesai.
Walaupun aku tau dia hantu.. Tapi kenapa.. Aku terus-terusan merasakan perasaan seperti ini.. akhir-akhir ini?
Claire menghela nafasnya, kemudian dia menulis lagi..
Aku tidak tau lagi apa yang harus kuperbuat selanjutnya..
Nenek.. Tolong Aku…
-Bersambung?-
