Lu Han

Remake from Jang Ok Jung Living In Love Drama (Yoo Ah In & Kim Tae Hee)

Warning: Content boyxboy. Saya tidak bermaksud merubah sejarah Korea atau melecehkannya. Meskipun fanfiction ini adaptasi dari sejarah yang ada, namun seperti dramanya, fanfiction ini 100% fiksi di berbagai bagian. Penggunaan gelar kebangsawanan bagi ratu dan anggota istana lainnya adalah untuk memudahkan pembaca dalam memahami cerita ini. Saya hanya meminjam dan mengubah beberapa hal untuk disesuaikan dengan pemain (HunHan). Saya memakai zaman pemerintahan Raja Hyeonjong (Raja ke-18 Joseon) dan mengubah, menambahkan, mengurangi beberapa hal seperlunya untuk keperluan cerita.

.

.

Jongin melihat semuanya dan dengan tak sadar Ia menjatuhkan payungnya dalam kondisi syok. Sebelumnya Ia bertekad untuk bertemu Sehun di istana dan meminta izin agar memperbolehkannya membawa Luhan keluar dari istana. Namun kini, harapannya untuk membawa Luhan keluar dari istana pupus sudah. Di tempat lain Ibu Suri Myeongseong dan Kyungsoo berjalan berdampingan di tengah hujan untuk mencari Sehun, Ibu Suri Myeongseong marah karena Sehun yang tiba-tiba melangkah pergi meninggalkannya dan Kyungsoo saat Ia sedang mencoba meyakinkan anaknya untuk membuka hati bagi Kyungsoo. Kyungsoo yang sedari tadi mencoba meredakan amarah Ibu Suri Myeongseong pun berakhir sia-sia juga.

Di kolam cuci dan di bawah guyuran hujan Sehun perlahan melepaskan ciumannya. Ia membelai pelan pipi Luhan tapi dengan cepat Luhan memalingkan wajahnya,

"Saya…. permisi."

Dengan cepat Luhan berjalan meninggalkan Sehun yang hanya bisa berdiri terdiam dan menghela napas berat di tengah kolam cuci.

Jongin bertemu dengan Luhan di dekat gerbang kecil ke arah kolam cuci, dengan segera Ia memanggil lelaki manis itu. "Luhan-ah!"

Luhan jelas terkejut dengan keberadaan Jongin yang juga sama basah kuyupnya dengan dirinya dan Sehun. Ia sendiri bertanya-tanya sudah berapa lama Pangeran Jongin berada disana dan apakah Ia mendengar semua pembicaraannya dengan Sehun tapi Ia berusaha berpikir positif dan membalas sapaan Jongin. Jongin berusaha mendekat ke arah Luhan namun Luhan mundur menjauh. Ia hanya tidak yakin, "Maafkan saya. Ada banyak yang harus saya kerjakan. Maafkan saya, tapi saya harus pergi."

Luhan pun bergegas pergi.

.

Dalam perjalanannya menuju kamar Ibu Suri Agung Cho bertemu dengan Ibu Suri Myeongseong dan Kyungsoo. Seperti biasa mereka saling beradu argumen antara satu sama lain. Ibu Suri Agung Cho terus menyindir Kyungsoo yang kerap kali datang ke istana meskipun belum dipilih sebagai Ratu. Kyungsoo yang mendengarnya pun meminta maaf dan berjanji akan bertindak lebih hati-hati lagi kedepannya. Ibu Suri Myeongseong yang tidak terima dengan sindiran pahit Ibu Suri Agung Cho pun langsung membela calon menantunya itu,

"Ibu mertuanya saja tidak keberatan jadi mengapa anda yang keberatan?"

"Ya ampun, sudah Ibu Mertua? Apa pernikahan kerajaan dilakukan semuanya oleh dirinya sendiri? Ingat, yang paling penting adalah keputusan putramu."

"Putraku Sehun adalah anak yang berbakti, dia akan mengikuti keputusanku hingga akhir. Kau tidak perlu ikut campur dan uruslah dirimu sendiri." Jawab Ibu Suri Myeongseong dengan senyuman licik yang terlukis di bibirnya.

"Urus diriku sendiri?"

"Ya. Karena pengkhianatan dari Pangeran Boksun dan Heo Gyeon benih-benih dari Partai Selatan sudah mengering. Aku khawatir kau mungkin terlibat dalam insiden yang malang dan dipaksa keluar dari istana. Jika itu terjadi, benih-benih dari Partai Selatan sepenuhnya mengering."

Ibu Suri Agung Cho murka mendengar perkataan lancang dari Ibu Suri Myeongseong dan segera membalas dengan lantang, "Hati-hati dengan ucapanmu! Aku masih yang tertua di istana. Siapa yang berani memaksaku keluar ketika kesopanan sudah jelas tertata?!"

Ibu Suri Myeongseong tersenyum senang melihat lawan argumennya tersulut amarah, "Apa susahnya meninggalkan istana? Dengan alasan mengkhawatirkan kesehatan kau, Sehun akan memenuhi tugasnya dengan mengirimmu ke istana di pedesaan. Tentu saja itu tidak terdengar terlalu buruk kan? Begitu kau meninggalkan istana, akan sulit untuk kembali. Jadi tinggalah dengan tenang. Kalau begitu, permisi. Ayo pergi, Kyungsoo-ya."

Ibu Suri Myeongseong dan Kyungsoo memberi salam kepada Ibu Suri Agung Cho lalu berjalan pergi meninggalkannya. Ibu Suri Agung Cho yang masih tidak terima atas perkataan Ibu Suri Myeongseong pun langsung menyuruh Dayang Choi untuk memanggil Menteri Hae dan Pangeran Jongin segera.


Di kamarnya Ibu Suri Agung Cho menumpahkan segala kekesalannya pada Menteri Hae dan Pangeran Jongin. Menteri Hae pun tidak bisa melakukan apa-apa akibat pemberontakan yang dilakukan Heo Jeok. Itu sangat membawa dampak buruk bagi partainya sehingga apapun yang dilakukannya pasti akan dianggap pengkhianatan juga oleh Partai seberang.

Tiba-tiba Ibu Suri Agung Cho teringat akan Luhan, "Oh Luhan.. Sebenarnya apa yang Luhan lakukan? Dia satu-satunya orang yang bisa kita harapkan di depan Kaisar!"

Jongin tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengar oleh bibinya, kedua manik matanya menatap kosong ke lantai lalu bertanya, "Apa karena itu, kenapa.. kalian membawanya masuk? Apakah tidak ada jalan lain disamping dirinya?"

Menteri Hae mencoba menjelaskan situasi yang ada bahwa semua cara yang ada untuk mendekati Raja sudah dihalangi, keberadaan Jongin sendiri juga tidak bisa membantu banyak dia adalah keluarga Raja dan masih banyak lagi rencana-rencana yang berakhir gagal. Jadi hanya Luhan satu-satunya cara Mendengar itu Ibu Suri Agung Cho bertekad mencari waktu untuk membawa Luhan kembali ke hadapan Raja. Karena tidak ada lagi harapan lain bagi mereka begitu juga Partai Selatan. Jongin yang tidak bisa berbuat banyak baik bagi keluarganya, partainya dan juga cintanya hanya bisa terdiam membisu.


"Ku pikir kau adalah kepala pengawal kerajaan. Dan datang ke istana hanya dengan mengetahui namamu. Tapi ternyata dia adalah Yang Mulia Kaisar. Dimana kau lebih tinggi dari langit dan lebih dalam dari bumi!"

Perkataan Luhan terus terngiang-ngiang di kepala sang Raja. Sehun yang sedang duduk di meja kerjanya pun tak dapat berhenti memikirkan kejadian siang tadi bersama lelaki pujaannya. Kemudian Ia berkata Kasim Shim, "Aku akan keluar istana. Bersiaplah."

Ia bersama Kasim Shin berkunjung ke rumah Paman Go. Tujuannya berkunjung adalah untuk mendapatkan jawaban atas tugas rahasia yang Ia berikan pada Paman Go sebulan lalu. Sehun memerintah Paman Go untuk menyelidiki dari mana sumber keuangan Partai Barat yang dikuasai Menteri Do itu. Paman Go pun memberi informasi bahwa Partai Barat menguasai perdagangan alkohol di Joseon.

"Mendominasi pendistribusian alkohol untuk mendapatkan dana politik, mereka benar-benar mempunyai tangan dimanapun." ucap Sehun tak percaya.

"Yang Mulia, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?"

Sehun tersenyum sinis, "Apa yang akan kulakukan? Aku akan minum dengan baik ketika aku sedang minum. Itu akan membantuku mendapatkan jawaban yang baik. Bukankah begitu?"

Keesokan harinya Sehun sudah duduk bersama para pejabat dan menteri untuk berdiskusi harian. Dalam diskusi hari itu Sehun menyampaikan keinginannya untuk menjatuhkan pajak dalam bentuk tekstil dan membuat peraturan itu berlaku bagi siapapun tanpa terkecuali baik itu rakyat maupun pejabat istana. Para Menteri berlomba-lomba menyampaikan perasaan tidak suka mereka terhadap keinginan Sehun itu.

"Pajak pada kain dan keharusan setiap pihak untuk membayar pajak tanpa pengecualian? Bagaimana bisa kau meminta hal itu dari kelas bangsawan ketika itu untuk rakyat jelata, Yang Mulia? Itu adalah hal yang sama sekali tidak masuk akal." protes salah satu Menteri dari Partai Barat.

Sehun mengambil buku tebal berisi catatan dari Raja-raja terdahulu yang sudah disiapkan Kasim Shin, "Melihat dari catatan sejarah, ada diskusi tentang mengutip pajak kain dari kelas bangsawan pada periode Hyo Jong. Bagaimana bisa kalian berpendapat bahwa permintaanku adalah hal yang tidak masuk akal?!"

Menteri Do pun mencoba untuk ikut berkomentar, "Yang Mulia, pajak pada kain biasanya hanya dilakukan oleh rakyat jelata. Jika kau meminta hal itu dari kelas bangsawan, lalu apa bedanya rakyat jelata dan kelas bangsawan? Itu akan menghancurkan urutan kelas hirarki. Mohon dipertimbangkan kembali!"

Sehun pun memalingkan wajahnya ke arah mertuanya yaitu ayah dari Inkyeong, Menteri Kim, untuk mencoba mendapat dukungan darinya namun nihil. Menteri Kim pun bersependapat dengan Menteri Do kali ini. Ia berkata bahwa menarik pajak dari kaum bangsawan akan menggoncangkan dasar negara Joseon. Ia juga memaparkan bahwa ada kaum bangsawan yang terlalu miskin untuk membayar pajak dalam bentuk kain.

Sehun benar-benar kesal, "Bahkan ayah mertua yang kupercayai juga mengatakan hal yang sama. Ini sangat mengecewakan. Jika kelas bangsawan membayar pajak militer itu akan meningkatkan kekuatan militer dan bahkan sangat membantu pertahanan militer kita. Bahkan ketika kelas bangsawan menikmati hak istimewa dari pembebasan tugas militer kalian masih memungut pajak militer dari rakyat jelata. Aku sangat kecewa!"

Sehun membanting kasar buku catatan sejarah yang dipegangnya tadi, meluapkan rasa kecewanya. Namun lagi-lagi para menteri membuat alasan, "Tetap saja, apa yang tidak benar tetap tidak benar. Mohon tarik kembali perintahmu, Yang Mulia."


Setelah pertemuan antara Sehun dan para menteri selesai Menteri Do segera menghampiri Sehun di luar ruangan.

"Yang Mulia, mohon jangan begitu marah. Itu juga demi kebaikanmu."

Namun Sehun tidak bisa percaya perkataan Menteri Do, semua pasti ada alasan lain dibaliknya. "Kau menentang pemungutan pajak dari kelas bangsawan demi diriku? Lucu sekali. Semua orang punya alasan."

Menteri Do berkata lagi, "Apa kau tahu alasan kenapa Yeon San dan Gwang Hae digulingkan? Pembenaran resmi adalah perilaku tidak bermoral tapi pada kenyataannya itu karena mereka mengulurkan tangan pada kantong dari kelas penguasa."

"Jadi jika kau mencoba mereformasi pajak, apa kau akan mencoba menggulingkanku?" tembak Sehun pada Menteri Do.

Menteri Do yang terkejut akan pertanyaan Sehun pun membalas dengan terbata-bata, "Me-me-menggulingkan apa… Itu tidak mungkin, Yang Mulia. Masalah negeri sekarang bukan mengumpulkan pajak lebih banyak tapi untukmu memiliki pengantin baru dan melanjutkan garis keturunan. Kalau begitu, aku akan bertemu denganmu di pertemuan pagi besok."

Menteri Do pergi. Sehun yang masih kesal karena apa yang terjadi di pertemuan hari ini meminta Kasim Shin untuk segera memanggil Pangeran Jongin untuk menemaninya minum arak. Lelaki bertubuh tegap itu berpikir kalau Ia tidak minum sekarang ia bisa gila karena murka.


Luhan yang sedang menjemur pakaian bersama pelayan lainnya di tempat menjemur tak sengaja melihat Cheon Sanggung dari kejauhan yang sepertinya berjalan mengarah ke tempat yang sama dengan tempat ia menjemur. Ia tahu bahwa atasannya itu masih kesal dengan insiden Wonsam. Luhan mengarahkan pandangannya ke sekitar, Ia melihat Joohyun yang juga berdiri tak jauh darinya dan sepertinya Joohyun tak tahu bahwa Cheon Sanggung juga berada di tempat yang sama. Luhan pun dengan sengaja memancing Joohyun.

"Joohyun-ssi," panggil Luhan.

"Oh, kau masih ada di dalam istana? Ku pikir kau sudah ditendang keluar." ucap Joohyun sinis pada Luhan.

Luhan berkata pada Joohyun bahwa Ia belum sempat berterima kasih pada Joohyun waktu itu, jika bukan karena Joohyun, ia tidak akan bisa mencoba mengenakan Wonsam milik calon Ratu berikutnya.

"Kenapa kau masih berterima kasih kepadaku?"

Luhan berbicara agak keras agar Cheon Sanggung yang berdiri tak jauh dari mereka bisa mendengar percakapannya dengan Joohyun. Ia tahu Cheon Sanggung mencuri dengar percakapan mereka, "Kaulah orang yang memberi tahuku. Karena tak ada cermin besar untuk Tuan Do melihat dirinya sendiri memakainya dia ingin melihatnya pada orang yang membuat pakaian itu. Itu yang kau beritahu padaku."

"Apa gunanya mengungkitnya sekarang? Terlepas dari kau pelayan yang tidak sopan yang memakai pakaian dari tuannya. Kau pikir ada orang yang akan percaya padamu sekarang?"

"Tetap saja kebenaran harus diungkapkan, Joohyun-ssi. Bahwa kau berbohong padaku sehingga aku memakainya tanpa mengetahuinya."

"Apa kau punya bukti? Apa ada orang yang melihatku memberitahumu untuk memakai pakaian itu? Kau tak punya, kan? Lalu, bagaimana kau membuktikan bahwa aku berbohong padamu?"

Cheon Sanggung yang sudah mendengar semuanya berjalan mendekati Joohyun dan Luhan kemudian berkata, "Ada disini, orang yang akan membuktikannya. Joohyun menoleh dengan syok, terkejut dengan kehadiran Cheon Sanggung. Cheon Sanggung menatap dingin Joohyun.

Joohyun dengan segera berlutut meminta ampun dihadapan Cheon Sanggung, "Nyonya, mohon maafkan aku. Kumohon, jangan keluarkan aku, Nyonya."

Cheon Sanggung berteriak marah, "Ketika hati dari pembuat pakaian beracun, sama dengan membuat orang lain memakai racunmu! Dasar bodoh!" Joohyun menangis meminta maaf, Ia ingin dilepaskan sekali ini saja.

Cheon Sanggung berkata pada Joohyun bahwa Ia tidak akan langsung mengusirnya dari istana tapi menempatkannya pada masa percobaan terlebih dahulu. Lalu setelah berdiskusi dengan pihak pendisiplinan baru Ia akan memberitahu Joohyun hukuman apa yang harus gadis itu jalani sebagai ganjarannya. Cheon Sanggung yang begitu murka tidak tahan melihat wajah Joohyun kemudian mengusirnya pergi dari hadapannya. Joohyun pun berjalan keluar sambil melirik marah kepada Luhan.

Cheon Sanggung pun mengembalikan Luhan pada bagian jahit, tapi Ia tetap mengingatkan Luhan bahwa jika Luhan mempunyai maksud lain di istana selain membuat baju lebih baik Luhan keluar saat ini juga karena Ia tak mau ada skandal buruk yang muncul dari bagiannya. Luhan pun dengan segera mengiyakan.


Sehun dan Jongin duduk berhadapan di depan meja yang penuh makanan dan arak. Sehun sudah setengah mabuk dan berkata pada saudara tirinya itu bahwa alasan Ia menjadi Raja yang kuat adalah agar Ia bisa menjaga rakyat sesuai keinginannya. Ia ingin rakyatnya memiliki sesendok nasi lagi dan membuat mereka merasakan daging yang mereka pelihara di tanah nenek moyang mereka. Dan Ia benar-benar kecewa dengan realita yang ada, di mana sekumpulan orang tak tahu diri merampas sendok, mencuri mangkuk dan menghancurkan meja daripada rakyatnya.

"Bahkan pajak kain ini untuk mengumpulkan pajak kain dari kelas bangsawan dan menguatkan kekuatan militer dan mengurangi beban rakyat. Tapi hanya karena tidak menguntungkan mereka, mereka menentangnya. Apa yang harus kulakukan untuk rakyatku yang malang, Jongin-ah?" tanya Sehun putus asa.

"Selama kau memegang teguh pada tujuan itu, aku percaya kau akan membuatnya terjadi." balas Jongin berusaha menguatkan saudara tirinya yang malang itu. Ia mengenal betul Sehun, Ia tahu seberapa besar keinginan Sehun untuk membawa rakyatnya pada kehidupan yang jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.

Sehun menghela napas dan menyuruh Jongin untuk meminum araknya lagi, "Ini So Gok Ju dan Seo Cheon, benar-benar enak. Mari kita berhenti membicarakan politik ini. Membuat kita semua tertekan. Bagaimana jika kita membicarakan sesuatu yang menyenangkan?" Kemudian Sehun memalingkan wajahnya pada Kasim Shin yang sedang duduk di pojokan, "Yah, Kasim Shin, tak peduli betapa telatnya aku tidur malam ini kau harus membangunkanku tepat pada waktunya besok. Aku benci terlambat di pertemuan pagi dan memberikan mereka alasan untuk membicarakanku."

Kasim Shim mengangguk tanda mengerti dan Sehun memperbolehkannya untuk pergi.

"Jongin-ah," panggil Sehun.

"Hmm?"

"Haruskah kita bermain 20 pertanyaan?" usul Sehun. Jongin setuju lalu mereka saling tanya jawab sampai kemudian Sehun membicarakan Luhan.

"Baiklah, ini yang terakhir Jongin-ah. Biasanya, dia melihatmu dengan mata yang begitu terang tanpa mengatakan apapun. Tapi ketika dia marah, matanya bertambah besar dan dia balas berbicara dengan nada marah. Kadang-kadang aku bahkan ketakutan. Hahaha,"

Jongin mencoba berpikir apakah ada yang seperti itu? "Jika dia berani menakutimu dan membalas berbicara padamu tak ada seorangpun di Joseon yang seperti itu, Sehun-ah. Apa itu si Meow ketika kita masih kecil?"

"Meow? Hahaha,"

"Kau ditipu beberapa kali olehnya ketika kau masih Putra Mahkota. Hahaha," Sehun langsung menjawab bahwa itu salah dan meminta Jongin menebak lagi. Tetapi karena sudah benar-benar buntu Jongin meminta Sehun untuk memberinya petunjuk lain.

Sehun tersenyum lalu menjawab, "Aku takut."

"Maksudmu?"

"Pertama kali, aku takut dia mendekatiku. Lalu di satu titik aku takut dia akan berhenti mendekatiku. Lalu aku mulai merindukannya ketika aku tidak melihatnya. Pada akhirnya, aku mulai berkeliaran di sekitarnya sebelum aku tahu apa yang sudah kulakukan."

Jongin sepertinya mengerti sekarang dan bertanya lagi untuk mendapat kejelasan, "Lalu?"

"Apakah dia adalah orang yang kau suka? Orang yang kau katakan sebelumnya padaku?"

Sehun mengangguk sambil tersenyum, matanya terpejam membayangkan wajah Luhan. Hati serta pikirannya tiba-tiba saja terasa tentram dan bahagia. Ada sesuatu yang membuatnya kecanduan tiap kali Ia memikirkan pemuda cantik itu. Ia membuka kembali matanya ketika Ia mendengar Jongin berbicara lagi.

Jongin dengan kesedihan yang tertahan, "Sehun-ah, apa kau benar-benar tulus mencintai hingga di tahap takut kehilangannya?"

"Ini pertama kalinya Jongin-ah, tanpa mengkalkulasikan apa dia berasal dari keluarga yang secara politik menguntungkanku aku sudah jatuh cinta. Dia yang pertama kalinya. Aku akan segera memperlihatkannya padamu" Sehun menjelaskan.

Jongin menghela napas, Luhan juga cinta pertamanya. Apakah benar-benar tidak ada kesempatan baginya untuk mendapatkan Luhan? Untuk kali ini saja sebenarnya Ia ingin menjadi egois, tapi hati kecilnya berteriak jangan. Sehun adalah saudara tirinya, teman bermain dan belajarnya dari kecil. Ia tidak bisa menjadi egois kepada Sehun. Jongin menegak habis araknya, kali saja Ia bisa menghilangkan rasa sakitnya walaupun hanya sedikit.

"Sekarang kau mulai minum? Hahaha," Sehun tertawa. Sehun menuangkan arak lagi pada gelas saudara tirinya itu dan mengajaknya untuk minum perlahan karena mereka akan minum sampai pagi. Dan itu benar adanya.

Sehun dan Jongin berakhir berbaring di lantai dengan keadaan benar-benar mabuk. Tiba-tiba Sehun duduk dan berseru pada Kasim Shin, "Kasim Shin! Aku pernah di panggil Ibu Suri Agung Cho sebelumnya dan hampir minum teh disini. Bawakan pelayan waktu itu ke sini sekarang! Aku ingin minum teh itu." Kasim Shin mengiyakan lalu pergi untuk memanggil Luhan.

Sehun berbaring lagi, disampingnya Jongin menghela napas berat. Ia tahu betul siapa pelayan yang dimaksud Sehun. Tak lama, dayang raja mendekati Jongin dan mengingatkan bahwa sebentar lagi jam malam dan saat itu tidak boleh ada pria di dalam istana selain Raja. Jongin mengangguk mengerti kemudian menoleh sebentar ke arah Sehun sebelum akhirnya keluar dari kamar dipapah oleh para kasim. Sehun duduk lagi, tersenyum, lalu tertidur lagi.

Luhan diantar masuk oleh Kasim Shin ke depan kamar dimana Sehun tidur. Lalu dayang raja memberi baki teh padanya. Luhan berjalan masuk ke dalam kamar dan melihat Sehun tidur begitu saja diatas tikar, mabuk berat. Luhan meletakkan baki teh dan memandangi Sehun. Luhan meletakkan bantal di bawah kepala Sehun dan menyelimutinya. Sehun tiba-tiba saja memegang tangannya dan bergumam. Lalu Ia membuka matanya dan melihat Luhan.

Sehun merasa ini mimpi, Ia tersenyum dan tidur lagi. Luhan kemudian dengan perlahan memasukkan tangan Sehun ke dalam selimut. Setelah itu Luhan kembali ke bagian jahit sambil terus memegang dadanya yang tidak berhenti berdegup kencang. Dari kejauhan, Jongin melihat Luhan berjalan, dari ekspresi wajah lelaki manis itu saja Jongin tahu bahwa Luhan mencintai Sehun. Dan benar-benar tak ada kesempatan baginya untuk masuk ke dalam hati lelaki pujaannya itu. Ia tahu, ia bahkan kalah jauh sebelum memulai.


Paginya, Sehun terbangun sambil memeluk selimutnya. Kasim Shin lari, "Yang Mulia! Tak ada waktu lagi! Sudah waktunya untuk pertemuan pagi."

Sehun terkejut dan langsung duduk, kepalanya sakit sekali. "Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?" Kasim Shin pun meminta maaf karena telat membangunkannya kemudian membantu Sehun berdiri.

Sehun menghadiri pertemuan pagi. Para menteri masih bisa mencium bau alkohol yang cukup menyengat dari tubuh Raja. Sehun meminta maaf dan menjelaskan bahwa Ia minum banyak semalam. Para menteri langsung sok menasehati, "Yang Mulia, tidak baik minum alkohol terlalu banyak."

"Ya, aku tahu."

Menteri Do juga meminta Sehun untuk menjaga kesehatannya. Sehun setuju lalu berkata bahwa mulai hari ini Ia akan berhenti minum alkohol karena itu tidak baik untuk kesehatan. "Untuk melakukan itu, aku membutuhkan alasan untuk diriku sendiri pada keputusan itu. Bagaimana jika masing-masing dari kalian memberitahuku sebuah alasan?"

Menteri Do memberikan komentarnya, "Jika kau memperlihatkan kami sisi lemah dari dirimu karena minum terlalu banyak seperti hari ini, pertama, itu akan menyebabkan pemerintahan kehilangan disiplinnya,"

Menteri lain menambahi, "Itu benar. Terlebih lagi, banyak beras yang tersia-siakan untuk membuat anggur memperdalam kelaparan dari rakyat yang bahkan tak cukup untuk dimakan. Tolong pertimbangkan itu."

Sehun lagi-lagi setuju, "Itu benar! Begitulah alkohol. Bagaimana bisa aku membiarkan beras diambil dari rakyat dan dibuat menjadi anggur? Ya, jadi aku akan berhenti minum sementara. Bagaimana?"

Semua menteri berseru, "Pertimbanganmu sungguh tak terhingga."

"Namun, jika itu hanya aku, bagaimana itu bisa membantu rakyat dari kelaparan? Karena itu, kalian semua harus bergabung. Mari kita buat larangan hukum."

Para menteri pun terkejut terlebih para menteri dari Partai Barat. Menteri Do mencoba bernegosiasi. Lalu Sehun berkata lagi, "Kalian berkata tempo hari pajak pada kain akan menggoyahkan dasar dari Joseon dan menambah bebas kelas bangsawan. Berhenti minum hanya untukku dan kalian untuk bertahan sedikit. Itu tidak akan mengambil beras dari rakyat dan akan menolong untuk memberi makan mereka. Bukankah ini ide yang bagus? Bukan begitu?"

Menteri Do mencoba menyela lagi, "Tapi Yang Mulia…"

Sehun menjawab dengan dingin, berbeda sekali dengan cara bicaranya beberapa menit yang lalu, "Ini untuk meringankan kelaparan rakyat. Ku bilang bahkan aku akan menahannya. Kenapa kalian, orang yang paling bernilai, terus menentang hal ini. Ketika yang dibutuhkan hanya sedikit kesabaran dari kalian dan bukannya uang kalian?"

Menteri Do tidak dapat berkutik lagi. Itu cara Sehun memangkas pendanaan Partai Barat sedikit demi sedikit. Jika ada undang-undang pelarangan alkohol, siapa yang akan berani minum? Tidak akan ada yang membeli alkohol lagi berarti Partai Barat akan kehilangan pundi-pundi untuk sementara.

Dengan bangga Sehun mengumumkan, "Kalau begitu, di kesempatan langka dari kebulatan suara ini aku menganggap hukum larangan sudah disahkan. Aku menyatakan larangan dalam batas Seoul. Sekretaris, persiapkan langkah yang dibutuhkan. Aku sangat senang banyak minum semalam hahahaha."


Setelah pertemuan pagi selesai Sehun bergegas ke rumah Paman Go untuk memberitahu apa yang baru saja Ia lakukan pagi ini di pertemuan. Paman Go yang telah mendengar semuanya pun memuji kecerdasan sang Raja. Sehun tak henti-hentinya merasa bangga akan keputusan yang Ia buat hari ini, setidaknya Ia berhasil mengurangi kelaparan dalam masyarakat walaupun mungkin hanya sedikit. Ini seperti membunuh dua ekor burung dengan sebuah batu. Paman Go tentu saja merasa senang mengetahui bahwa para pejabat dari Partai Barat kebingungan. Ia sendiri adalah pendukung Partai Selatan yang dimana sudah menjadi penyokong bisnisnya beberapa tahun kebelakang. Sebagai ucapan terima kasih pada Sehun atas apa yang terjadi hari ini dan juga beberapa bulan lalu saat Ia hampir dihukum mati karena mulanya bersekongkol dengan Pangeran Boksun, Paman Go menawarkan sebuah hadiah. Hadiah yang Ia maksud adalah Luhan. Ia teringat akan perbincangannya dengan Ibu Suri Agung Cho beberapa minggu lalu tentang rencana mereka menawarkan Luhan pada Sehun.

"Sebagai ucapan terimakasih atas semua yang telah Yang Mulia lakukan, aku ingin menawarkan sebuah 'bunga' yang saat ini sedang kupelihara," tawar Paman Go.

"Bunga?" Sehun mengerti betul ke mana arah pembicaraan ini dan apa arti sebenarnya dari bunga yang ditawarkan. Ini bukan sekali dua kalinya seorang Oh Sehun ditawari hal-hal semacam itu. Begitu banyak pejabat berlomba-lomba menawarkan putra, putri ataupun sanak saudara mereka untuk Sehun secara cuma-cuma. Tapi disini Ia benar-benar tak tahu bahwa yang ditawarkan Paman Go adalah lelaki manis pujaan hatinya.

"Ya. Bagaimana?"

Sehun menyeringai. Tentu saja ia tertarik, meskipun Ia tahu betul bahwa Ia tidak akan mungkin jatuh pada orang tersebut tapi setidaknya sekali dua kali untuk menemaninya tidur pun tak masalah bukan? "Kalau begitu kapan kau akan menunjukkannya padaku?"

"Waktu cenderung menjadi faktor penting atas terjadinya sesuatu Yang Mulia, aku percaya demikian juga dengan kecantikan,"

Sehun membalas, "Menunggu waktu yang tepat? Tapi taktik kecantikan tak akan berhasil jika itu bukan kesukaanku. Aku punya standar yang tinggi. Apa kau yakin?"

Paman Go merasa percaya diri kali ini, Ia tahu betul tidak ada seorangpun yang tidak jatuh hati pada Luhan ponakannya itu. "Tentu saja. Yang Mulia, aku yakin, pasti dia sesuai dengan kesukaanmu."


Saat ini Sehun hanya duduk bersantai di ruang kerjanya setelah membaca beberapa catatan sejarah tentang taktik perang dan juga permasalahan ekonomi di Joseon. Kepalanya benar-benar pening, sepertinya sudah harus beristirahat sekarang dan melanjutkan pekerjaannya besok pagi. Wajah Luhan tiba-tiba terlintas dipikirannya, Sehun teringat akan kejadian semalam saat Ia mabuk berat bersama Jongin. Ia merasa melihat sosok Luhan di hadapannya, tapi yang Ia tidak yakin apakah itu hanya sekedar mimpi atau memang Luhan datang mengunjunginya.

Namun jika itu sungguhan bagaimana bisa Luhan muncul di dalam kamarnya?

Brak! Pintu terbuka dan Putri Sena berlari masuk ke ruang kerja Sehun. Sehun yang melihat adik cantiknya itu hanya bisa tersenyum senang. Pekerjaan yang menumpuk membuatnya tidak bisa menghabiskan waktu bersama sang putri. "Orabeoni!"

Sehun tertawa lebar mendengar suara ceria Sena saat memanggilnya kemudian membalas, "Senaku sudah datang!"

Sena menutup buku tebal yang berada di depan kakaknya, "Apa kau tidak muak melihat buku setiap hari?"

"Muak apa? Kau hanya tidak mengerti, dalam buku ini―" ucapan Sehun terhenti karena teringat akan perkataan Luhan tentang buku bahwa ada rumah sebesar ikan paus tersembunyi di dalam buku, "―ada rumah sebesar ikan paus tersembunyi di dalamnya, Sena-ya."

Sena menunjukkan wajah bosan dan berkata bahwa Ia tidak membutuhkan rumah sebesar ikan paus kemudian menjulurkan tangan bermaksud menagih hadiah pada kakak lelakinya. Sehun mengernyitkan dahi bingung. Hadiah? Sena langsung mengerucutkan bibirnya kesal setelah melihat ekspresi Sehun yang kebingungan, sudah pasti kakaknya itu melupakan hari jadinya.

Namun tak butuh bermenit-menit bagi Sehun untuk mengerti apa yang dimaksud oleh adiknya, bagaimana bisa Ia melupakan hari ulang tahun adik kandungnya sendiri? "Ahh, lusa adalah hari jadimu! Kau sudah punya hadiah dalam pikiranmu?"

Sena mengangguk kemudian mendekatkan bibirnya ke arah telinga Sehun untuk membisikkan rencana yang sudah Ia pikirkan matang-matang sebelumnya. Setelah mendengar hadiah yang dimaksud Sena Ia langsung panik, "Itu… tidakkah itu terlalu berbahaya?"

"Bila aku segera menikah, kapan aku bisa mendapatkan hadiah seperti itu? Itu apa yang benar-benar aku inginkan. Ayolah orabeoni, sekali saja." rengek Sena.

"Ibu takkan menyukainya, Sena-ya. Tapi…. Baiklah, mari kita lakukan sekali ini saja. Aku akan mendapatkan yang terbaik untukmu!" ucap Sehun. Putri Sena tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya dan tidak berhenti mengucapkan terima kasih pada Sehun. Kemudian dengan cepat Ia mengecup pipi Sehun dan lari keluar dari kamar. Sehun yang agak terkejut hanya bisa tertawa melihat tingkah menggemaskan adiknya.


Hari sudah mulai gelap. Luhan yang sudah selesai mengerjakan semua kain pesanan istana pun memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di area istana untuk mencari angin. Langit malam hari ini sungguh cerah, manik rusanya bisa melihat jelas bintang-bintang yang bertaburan menghiasi malam sepi. Angin dingin malam bertiup dengan kencangnya. Setelah merasa cukup lelah berjalan, Luhan duduk di tangga yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia terdiam mengingat semua pertemuannya dengan Sehun. Luhan menjadi sentimentil dan melantunkan beberapa puisi yang barangkali bisa sedikit membuat hatinya lega. Dadanya terasa sesak, terlalu banyak yang Ia pendam dalam hati kecilnya tanpa bisa diekspresikan pada siapapun.

"Embun putih sudah timbul di tangga batu istana,

Dinginkan kaus kaki sutra di larut malam―"

Tiba-tiba Sehun muncul dari arah belakang dan menyambung bait berikutnya, "Turunkan layar amethyst dalam kamar. Dan melihat sinar rembulan di musim gugur." Luhan yang terkejut akan kehadiran Sehun langsung berdiri dan memberi hormat. Ia menatap lekat wajah tampan Sehun yang bersinar terang terkena cahaya rembulan.

Sehun tersenyum lalu menoleh ke arah Luhan dan berkata, "Puisinya Li Ba. Itu puisi pelayan istana yang merindukan seseorang, tak menyadari kakinya yang basah dari embun yang dingin di bawah sinar rembulan."

Luhan membenarkan.

"Siapa namamu? Bila dipikirkan, aku tak pernah menanyakan namamu." tanya Sehun lembut. Ia ingat pernah meninggalkan namanya untuk pemuda manis itu agar jika suatu hari Ia pergi ke istana Luhan tahu siapa yang harus dicari. Tapi Sehun sendiri lupa untuk menanyakan nama milik pemuda manis itu.

"Lu Han. Namaku Luhan."

Sehun mengulang nama Luhan berkali-kali di bibirnya. Nama yang benar-benar cantik, sama seperti pemiliknya. "Ternyata itu… namamu. Ngomong-ngomong, mungkinkah aku orang yang aku rindukan itu?"

Luhan tidak bisa menjawab. Ini tidak benar, meskipun memang Sehunlah orang yang Ia rindukan tapi ia tidak bisa egois. Ia hanyalah seorang pelayan, dan seorang pelayan tidak boleh berperilaku melebihi batas. Ia tahu betul Sehun bukanlah sandingannya. Luhan membungkuk dan berkata bahwa Ia harus segera pergi karena malam semakin larut. Setelah mengucapkan salam Ia bergegas pergi meninggalkan Sehun.

Tapi belum sampai beberapa langkah Sehun berusaha mengejar dan memeluk tubuh mungilnya dari belakang. Luhan bisa merasakan panas napas Sehun di lehernya, tak ada jarak lagi antara tubuh mereka. Kedua lengan Sehun melingkar erat di dada Luhan, menahan sang pelayan untuk berjalan lebih jauh lagi, "Jangan membalikkan punggungmu lagi padaku atau berjalan menjauh dariku. Kumohon."

Luhan tampak syok, "Yang Mulia―"

Sehun berusaha meyakinkan Luhan, "Aku akan memperpendek jarak itu. Selangkah demi selangkah, tidak terlalu cepat, juga tidak terlalu lambat. Aku akan datang padamu perlahan-lahan. Bukan sebagai Kepala Pengawal Kerajaan tapi sebagai seorang pria. Sebagai Oh Sehun yang sebenarnya dari istana ini."

Hancur sudah dinding pertahanan Luhan. Apa yang bisa Ia lakukan jika laki-laki yang begitu dicintainya menjanjikan hal seperti itu? Bolehkah Ia menjadi egois untuk kali ini? Salahkah?

"Kalau begitu, apa kau bisa berjanji padaku bahwa kau takkan pernah melepaskan tangan yang kau pegang sekarang?"

Sehun menjawab pertanyaan Luhan dengan yakin dan tegas, "Aku berjanji. Bukan sebagai Kepala Pengawal Kerajaan tapi sebagai Oh Sehun sang Kaisar."

Luhan tak bisa membendung air matanya lagi, hatinya terasa lega. Ia benar-benar berharap Sehun akan memegang teguh janji yang baru saja Ia ucapkan. Kini pemuda mungil itu sudah tak peduli, persetan dengan kasta, Ia hanya ingin berada disamping Sehun dan mencintainya dengan semua kekurangan yang Ia miliki. Ia berharap begitu juga sebaliknya dengan Sehun. Dengan penuh keyakinan Luhan menggenggam erat jemari Sehun, berusaha menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar bagi sang raja. Biarlah, biarlah kali ini para dewa mengutuknya karena telah bersikap tak tahu malu tapi yang terpenting adalah Ia berada disini, bersama Sehun.

Yang Mulia, aku juga tidak akan pernah melepaskan tangan ini.


Gosip mulai menyebar, para pelayan istana membicarakan soal raja yang memeluk seorang pelayan misterius yang masih tidak diketahui sosoknya. Gelapnya malam membuat si penyebar gosip tak bisa melihat jelas raut wajah milik si pelayan yang dirangkul erat oleh Sehun. Hong Sanggung―kepala pelayan bagian kamar Raja―juga menyampaikan gosip yang tersebar luas itu kepada Ibu Suri Myeongseong.

Ibu Suri Myeongseong jelas tak senang dengan apa yang didengarnya siang itu, Ia bertanya dari bagian mana dan partai mana pelayan itu berasal. Tetapi Hong Sanggung berkata bahwa tidak ada yang melihat jelas seperti apa wajah pelayan itu. Ia juga memaparkan bahwa hari ini tidak ada yang mengenakan pakaian serba putih. Memakai pakaian serba putih menandakan bahwa mereka telah mendapatkan kemurahan raja alias tidur dengan raja.

"Aku kesal karena seharusnya raja lebih mengutamakan Kyungsoo tapi selagi pelayan itu bukan dari partai selatan aku tidak masalah. Selir bisa membantu dengan keturunan, itu sama sekali tidak buruk. Jadi aku berharap jika pelayan itu pria, dia adalah seorang carrier. Namun, sekarang Yang Mulia dimana?" tanya Ibu Suri Myeongseong pada Hong Sanggung.

"Sebelum pertandingan polo siang ini, Yang Mulia akan mengatur hadiah yang akan dia berikan pada Putri Sena."

"Benarkah? Apa hadiahnya?"

.

Di bagian jahit, Luhan masih saja terus dijahili pelayan lainnya. Mereka menumpahkan arang di kepala Luhan saat pemuda manis itu sedang merebus kain. Minseok yang tidak tahan melihat sahabatnya dikerjai terus menerus pun mencoba menolong Luhan. Minseok mendekat ke arah Luhan dan mendorong para pelayan menyebalkan itu. Ia kesal mengapa mereka selalu menjahati Luhan yang notabene sangat baik dan ramah. Jadi sebenarnya apa salah Luhan?

"Yah Minseok, jika kau terus melindunginya, Joohyun juga tak akan membiarkanmu." ucap salah seorang pelayan yang berdiri di sebelah Joohyun. Minseok yang tidak takut semakin melototkan matanya pada pelayan-pelayan itu. Tak lama para pelayan menyebalkan itu membubarkan diri.

Minseok kemudian membantu Luhan membersihkan diri. Luhan yang merasa tak enak karena terus dibantu oleh Minseok pun bertanya, "Minseok-ah, kenapa kau begitu baik padaku? Aku dari kelas rendah dan kau dari kelas pedagang."

"Apa itu masalah? Jika kau bukan dari kelas bangsawan, semuanya sama saja."

Luhan berjanji pada dirinya sendiri di hadapan Minseok bahwa sampai kapanpun Ia tidak akan melupakan semua yang telah Minseok lakukan untuk dirinya. "Minseok-ah. Aku takkan melupakanmu."

"Apa? Kau takkan melupakan apa?" tanya Minseok kebingungan. Matanya yang lebar dan indah seperti kucing mengerjap-ngerjap pelan.

"Suatu hari nanti jika aku menjadi sesuatu yang lain…."

"Apa? Menjadi sesuatu yang lain?" Minseok masih tidak mengerti. Luhan diam saja tidak ada niatan untuk meneruskan perkataannya. Tetapi mulai terlihat perasaan tidak terima dalam raut wajah cantiknya Ia marah, kecewa dengan keadaannya sekarang yang kerap kali diinjak-injak orang. Ada terbesit satu pengharapan kuat dalam diri Luhan karena Sehun sendiri yang memilih untuk jatuh hati padanya. Yang Luhan butuhkan hanyalah waktu.

Sehun sendiri sedang bersiap memakai perlengkapannya untuk bermain polo hari ini. Hyeonmu yang berdiri tak jauh darinya memberikan informasi bahwa Jonginlah yang akan menjadi pemimpin tim lawan. Tidak bisa dipungkiri, saudara tiri Sehun yang berkulit tan itu memang pandai sekali berkuda. Sehun yang sudah hampir selesai berpakaian meminta Hyeonmu dan timnya untuk berangkat terlebih dahulu karena Ia akan mampir sebentar ke suatu tempat.

Setelah Hyeonmu serta tim dan pelayan pergi, Sehun yang sedari tadi ingin melihat Luhan pun mengajak Kasim Shin bersama dengannya untuk mengunjungi bagian jahit. Ia ingin mendapatkan energi sebelum bertanding hari ini dengan melihat wajah cantik kekasihnya itu. Kekasih? Memang tak ada tawaran yang keluar dari mulut mereka berdua baik Sehun maupun Luhan untuk memulai sebuah hubungan. Tapi Sehun tahu dan Ia yakin Luhan pun tahu setelah apa yang terjadi kemarin, semua itu pasti akan menuntun ke sebuah hal yang lebih jelas dan berani lagi. Jadi tak salahkan Ia memanggil Luhan dengan sebutan kekasih?

Sehun dan Kasim Shin pun tiba di depan pintu bagian jahit. Kasim Shin membuka pintu dan memberi tahu dengan sedikit berteriak pada para pelayan bahwa sang raja telah tiba, "Yang Mulia telah tiba!"

Para pelayan juga Cheon Sanggung yang terkejut dengan kehadiran Sehun pun langsung buru-buru meninggalkan pekerjaan mereka dan berbaris untuk memberi hormat. Luhan berdiri agak belakang, Ia pun juga terkejut dengan kedatangan tiba-tiba kekasih tampannya itu. Ada apa gerangan? Luhan juga menyadari beberapa pelayan berusaha merapikan pakaian dan rambut mereka agar terlihat cantik atau tampan di hadapan Sehun. Beberapa dari mereka bahkan melempar senyum menggoda pada sang Raja.

Sehun tersenyum dan berjalan masuk, "Teruskan pekerjaan kalian."

Cheon Sanggung yang masih bingung pun bertanya kepada Sehun apa tujuan tuannya itu datang ke bagian jahit, "Yang Mulia, apa mungkin ada pakaian yang membuatmu tidak nyaman?"

Sehun terkekeh dan berkata bahwa tidak ada yang salah, semua indah dan sesuai ekspektasinya. Ia menjelaskan bahwa kedatangannya ke bagian jahit adalah untuk mengucapkan terimakasih kepada para pelayan dan juga Chong Sanggung yang telah bekerja begitu keras untuk menghasilkan pakaian yang cantik-cantik dan nyaman untuk dipakai.

Cheon Sanggung membungkuk berterima kasih atas pujian Sehun untuknya dan juga tim jahit, "Berkahmu tidak terhingga, Yang Mulia."

Sehun berjalan ke arah para pelayan, mata elangnya dengan cepat bisa menemukan dimana Luhan berdiri. Sehun berusaha tidak bertindak terlalu kentara dengan berbasa-basi bahwa bagian dapur istana akan memberi semangat untuk Pangeran Jongin yang menjadi lawannya dalam bermain polo hari ini, dan Sehun ingin bagian jahit memberi semangat untuknya juga. Selagi berbicara Sehun tetap berjalan pelan menuju spot Luhan yang berdiri agak belakang.

Sehun sengaja berbalik badan di depan Luhan. Ia dekatkan tubuhnya ke tubuh mungil Luhan, tangan yang sedari tadi ia silangkan di belakang mencoba menyentuh tangan Luhan dan diam-diam menggenggam jemari kecil kekasihnya itu. Karena posisi Luhan yang berada di paling belakang, Sehun yakin tak akan ada yang melihat aksi nakalnya tersebut. Luhan sendiri terperanjat dengan aksi Sehun. Sang raja tetap berbicara untuk mengalihkan perhatian.

Luhan berusaha menyembunyikan senyum bahagianya.

"Dengan penampilan dan bakat kalian ini, aku ingin memberikan sutra untuk prajuritku sebagai hadiah. Bisakah kalian menyiapkannya?" tanya Sehun.

Semua serentak menjawab, "Tentu saja, Yang Mulia."

Tak lama Sehun kemudian melepaskan genggamannya dan berjalan keluar. Luhan tersenyum ke arah Sehun, Ia melihat punggung tegap Sehun yang semakin menjauh. Hatinya tidak berhenti berdegup kencang. Ia semakin semangat untuk mengerjakan tugasnya hari ini.


Ibu Suri Myeongseong tidak lupa mengundang Kyungsoo ke perayaan ulang tahun anak perempuannya hari ini. Ini adalah saat yang tepat menurutnya karena banyak pejabat yang akan datang dan Ia bisa menunjukkan kepada mereka bahwa Kyungsoo lah yang Ia pikir cukup berpotensi untuk menggantikan posisi Inkyeong. Dan Kyungsoo pun berterima kasih akan itu. Ia dan Ibu Suri Myeongseong berjalan berdampingan menuju tempat pertandingan polo yang juga tempat dimana mereka akan merayakan ulang tahun Putri Sena.

Menteri Do yang melihat dari kejauhan putranya dan Ibu Suri Myeongseong pergi bersama pun tak bisa menyembunyikan raut senangnya. Karena itu berarti jalannya untuk menjadi keluarga istana terbuka lebar. Lamunannya akan masa depan yang cerah dalam istana tiba-tiba terganggu dengan kedatangan kaki tangannya yang membawa berita bahwa raja memiliki kekasih seorang pelayan yang juga keponakan dari Paman Go. Menteri Do kesal sekali dan meminta suruhannya untuk mencari tahu nama pelayan itu dan melenyapkannya segera.

Putri Sena yang sedari tadi sudah berada di atas kudanya pun tak bisa berhenti tertawa kesenangan. Ini adalah hadiah yang tak mungkin Ia lupakan dalam hidupnya, kalau bisa, Ia lebih memilih untuk berkelana dengan kudanya daripada menikah dan hidup dengan laki-laki yang sama sekali tidak Ia cintai. Tapi apa boleh buat, takdir sudah digariskan untuknya.

"Orabeoni! Terima kasih! Aku akan menaikinya setiap hari!" teriak Sena dari atas kudanya.

Sehun tertawa, "Hahaha. Tapi tetaplah berhati-hati, Sena-ya. Kuda ini masih belum terlatih, jadi jangan menunggang sendirian."

Sena yang melihat ibunya dan Kyungsoo datang pun berteriak dengan kencang memanggil mereka. Ia melambai-lambaikan tangannya dari atas kuda, Ibu Suri Myeongseong yang melihat putri cantiknya itu terlihat bahagia hanya bisa ikut tersenyum bahagia. Sehun yang melihat kedatangan mereka berdua langsung memberi hormat dan memberi salam. Dengan antusias Ibu Suri Myeongseong menjelaskan bahwa Ia lah yang mengundang Kyungsoo datang. Senyum yang tadinya terpatri di wajah tampan Sehun pun lambat laun menghilang.

"Dia masih belum menjadi anggota kerajaan, bagaimana bisa dia sudah…. Ah sudahlah, ada pertandingan polo yang harus kuhadiri. Aku permisi dulu,"

sindir Sehun kemudian beranjak pergi. Kyungsoo sendiri hanya bisa menunduk malu setelah mendengar sindiran Sehun.

Ibu Suri Myeongseong meminta Kyungsoo ke arena polo. Kyungsoo sebenarnya ragu, tapi Ibu Suri Myeongseong tidak berhenti memaksanya untuk menciptakan pertemuan tak sengaja antara dirinya dan Sehun di arena polo. Dengan agak sedikit berat hati Kyungsoo menuruti perkataan Ibu Suri Myeongseong dan melangkah pergi. Namun di perjalanan, Ia malah bertemu dengan Luhan yang sedang membawa baki penuh pakaian.

Kyungsoo menyindir pemuda bermata rusa itu, "Kita terus menerus bertemu di istana besar ini. Ini bukan sekedar hubungan biasa yang kita miliki. Tentu saja, jika aku mendapat posisi Permaisuri aku mungkin membutuhkan bantuanmu dari area penjahit. Ini jelas bukan hubungan yang berlalu begitu saja."

Luhan membenarkan dan memaksakan senyumnya. Dalam hati ia berkata, Tidak. Aku berharap ini hanya hubungan biasa denganmu. Hubungan seperti kau hanya lewat di jalan. Aku benar-benar tidak berharap harus bertarung melawanmu dengan Yang Mulia berada di tengah.

Sehun berangkat ke lapangan polo bersama Hyeonmu dan tim, tiba-tiba Ia menoleh ke belakang dan melihat Luhan berdiri berhadapan dengan Kyungsoo. Namun tak lama mereka berpisah setelah Luhan memberikan salamnya. Dari kejauhan dapat Sehun lihat adik perempuannya masih sibuk belajar naik kuda. Sehun agak sedikit khawatir sebenarnya, ini adalah pertama kalinya Sena menunggang kuda dan Ia masih belum terlalu mengerti apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Putri Sena yang tidak sabaran karena kudanya tak mau berjalan cepat pun turun dan menendang kesal kudanya. Kuda yang memang agak sensitif dan terkejut akan tendangan Sena pun marah dan tidak bisa dikendalikan sehingga tak sengaja melukai Sena hingga terlempar agak jauh.

Kemudian kuda itu berlari tak tentu arah menuju tempat Luhan berdiri. Luhan yang syok pun tak sempat menghindar dan hanya bisa terdiam. Kakinya seakan-akan begitu berat untuk digerakkan, pemuda manis itu memejamkan matanya erat-erat ketakutan. Sehun yang panik langsung berlari ke arah Luhan dengan sekuat tenaganya sambil berteriak memanggil nama kekasihnya itu, "Luhan-ah! Luhan-ah!"

Sehun berlari kencang melewati Kyungsoo dan langsung mendorong Luhan menjauh dari kuda yang tak terkontrol itu. Luhan yang syok dan terdorong agak keras pun terjatuh begitu juga dengan Sehun yang merelakan tubuhnya terkena tendangan dari kaki-kaki kokoh si kuda. Sehun terlempar agak jauh ke arah dinding, kepalanya terbentur keras. Darah kental berwarna merah pekat menetes dari pelipisnya.

Kyungsoo yang terkejut atas apa yang baru saja terjadi di depan matanya hanya bisa terdiam membeku tak bisa berbuat apa-apa. Lalu Luhan, melihat keadaan kekasihnya yang tak sadarkan diri membuatnya segera berlari kencang ke arah Sehun, menahan sekuat tenaga rasa sakit di lengan kanannya karena ia tahu rasa sakitnya tak ada apa-apanya dengan sakit yang dirasakan Sehun saat menolongnya tadi.

"Yang Mulia! Yang Mulia!" teriak Luhan sembari mengguncang pelan badan Sehun yang tak sadarkan diri.

Tak lama Kyungsoo dan semuanya lari ke arah Sehun dan Luhan. Tak ada yang berani berbuat apa-apa dan menyingkirkan Luhan dari samping Sehun. Luhan sendiri benar-benar panik dan masih tetap berteriak memanggil Sehun, "Yang Mulia!"

Ibu Suri Myeongseong tiba dan terkejut melihat keadaan puteranya yang bersimpuh di tanah tak sadarkan diri. Dengan cepat Ibu Suri Myeongseong menyingkirkan Luhan dari samping Sehun, "Putraku! Mengapa kalian diam saja?! Enyahkan si jalang ini dan urus Kaisar!" Semua kalang kabut. Para dayang Ibu Suri Myeongseong langsung menarik Luhan menjauh dari Sehun.

Kyungsoo benar-benar syok, ia sama sekali tidak menyangka Sehun bersedia mengorbankan nyawanya untuk Luhan. Ini jelas pukulan telak bagi Kyungsoo.


Sehun terbaring kaku di ranjangnya, masih belum siuman sejak sejam lalu. Ibu Suri Myeongseong, Putri Sena dan Pangeran Jongin duduk disekitar Sehun. Wajah mereka terlihat benar-benar cemas.

"Tabib! Kenapa Yang Mulia masih belum sadar juga?" tanya Ibu Suri Myeongseong marah.

"Kepalanya terpukul ke dinding begitu keras. Mohon maafkan hamba Ibu Suri," jawab sang tabib. Ibu Suri Myeongseong menangis dan meminta tabib untuk melakukan akupuntur. Jongin hanya bisa menghela nafas berat.

Di tempat lain Menteri Do yang baru saja mendapat kabar bahwa Luhan lah keponakan Paman Go langsung bergegas pergi ke istana untuk berbicara dengan Ibu Suri Myeongseong. Ibu Suri Myeongseong yang diberi kabar oleh pelayannya bahwa Menteri Do dan Kyungsoo ingin berbicara pun segera bergegas kembali ke kamar pribadinya dimana Menteri Do dan putranya telah menunggu.

Mereka bertiga duduk di atas karpet lembut di kamar Ibu Suri Myeongseong. Teh dan beberapa camilan tertata rapi di atas meja. Kyungsoo duduk di samping ayahnya dan Ibu Suri Myeongseong tepat berada di hadapan mereka. Menteri Do langsung melapor bahwa pelayan yang diselamatkan Sehun , pedagang yang terkenal itu. Menteri Do memberitahu bahwa Luhan masuk istana atas perintah Ibu Suri Agung Cho melalui Menteri Hae.

"Ibu Suri Agung membawanya melalui Menteri Hae? Maksudmu, dia dari Partai Selatan?" tanya Ibu Suri Myeongseong tak percaya.

"Ya, dan bukan hanya itu, seperti yang saya bilang tadi bahwa ia juga keponakan dari Paman Go, pejabat yang bertahan hidup dalam pengkhianatan dari Partai Selatan setelah menyediakan dana untuk mereka," Menteri Do menjelaskan.

"Ya ampun! Itu berarti Partai Selatan bermaksud sesuatu dengan membawa pelayan itu?" Ibu Suri Myeongseong terkejut dan mulai mengerti.

Menteri Do menambahkan, "Di samping itu, ibu Luhan adalah budak. Ibunya berasal dari Tiongkok yang kemudian menikah dengan orang Joseon. Ayahnya pun berasal dari kelas rendahan."

Ibu Suri syok, "Kelas rendahan? Dasar tak tahu malu!"

Menteri Do meminta maaf dan mengatakan bahwa ini semua adalah salahnya karena tidak lebih hati-hati. Dengan segera Ibu Suri Myeongseong meminta Menteri Do untuk mengusir Luhan karena ia tak mau lelaki hina dan rendahan itu berada dekat dengan putranya. Tapi kemudian Ibu Suri Myeongseong berubah pikiran dan berkata akan melakukannya sendiri.


Luhan langsung diseret kasar menuju ruang cuci dan didorong ke tanah. Luhan meminta kepada para pelayan yang lain untuk melihat Sehun sekali saja. Tak lama Ibu Suri Myeongseong dan para pelayannya pun datang menghampiri Luhan yang bersimpuh memohon di tanah. Luhan segera berdiri, "Ibu Suri, mohon biarkan aku melihat Yang Mulia—" belum selesai Luhan bicara, Ibu Suri Myeongseong langsung menampar keras pipinya.

Ibu Suri Myeongseong marah dan berteriak, "Beraninya kau menyebut nama putraku dengan mulut tak tahu malumu! Apa yang kalian lakukan? Usir si jalang tak tahu malu ini sekarang!"

Para pelayan mengikuti perintah Ibu Suri Myeongseong dan langsung melempar Luhan keluar istana. Kemudian menutup pintu gerbang rapat-rapat. Luhan yang sempat terjatuh segera berdiri dan menggedor-gedor pintu gerbang dengan kedua tangan mungilnya. "Ibu Suri! Ibu Suri! Ibu Suri! Mohon biarkan aku menemuinya sekali saja, kumohon!"

Ibu Suri Myeongseong sengaja mengusir Luhan keluar istana karena jika seorang pelayan istana sudah keluar istana maka kesuciannya bisa diragukan. Luhan menangis dan tetap menggedor pintu gerbang tanpa henti.

Di ruang temu istana, Menteri Do bersama para menteri dari partainya membahas tentang keadaan Sehun yang masih belums sadar dan kondisinya belum bisa dipastikan. Menteri Kim menghela napas dan berkata bahwa sekarang adalah saat yang mengkhawatirkan karena Raja belum memiliki keturunan dan tidak ada yang bisa menggantikannya bertugas. Sedangkan takhta tidak boleh dibiarkan kosong meskipun hanya sebentar.

Menteri Do memberi usul untuk menempatkan seseorang memerintah di balik layar. Menteri Kim dan beberapa menteri mengira bahwa Ibu Suri Agung lah yang akan memerintah sebelum akhirnya Menteri Do mengutarakan bahwa Ibu Suri Myeongseong lah yang tepat untuk memerintah. Ia tidak mau Ibu Suri Agung Cho yang memerintah karena beliau berasal dari Partai Selatan.

"Tentu saja harus Ibu Suri Myeongseong, Ibu dari Kaisar," ucap Menteri Do.

"Tapi dengan begitu Ibu Suri Agung pasti akan sangat menentang," menteri lain memberikan tanggapannya.

"Jadi kenapa jika tetua ruang belakang menentang? Alih-alih dengan dengan format memimpin dengan kuasa Ibu Suri Myeongseong bisa menjadi figur simbolis dan Partai Barat kita bisa mengurus masalah istana."

Setelah rapat selesai Menteri Do segera menemui Ibu Suri Myeongseong dan memintanya menjadi pengganti raja untuk sementara karena takhta tidak bisa dibiarkan kosong walaupun hanya sebentar. "Dengan tak adanya pangeran yang meneruskan, takhta yang kosong bisa menyebabkan pengkhianatan."

"Apa? Pengkhianatan? Itu tidak boleh terjadi!" Ibu Suri Myeongseong pun setuju dan bertanya apa masalah istana yang mendesak saat ini.

Menteri Do menjawab, "Tentu saja pernikahan kerajaan."

.

Keesokannya Ibu Suri Myeongseong duduk di takhta raja, ia menjelaskan kepada para menteri bahwa ia akan memerintah untuk sementara saja sampai Sehun kembali pulih. Semua menteri setuju menerima perintah Ibu Suri. Ibu Suri Myeongseong langsung mengajukan usulan pernikahan kerajaan.

"Aku ingin menyambut putra Menteri Do mengisi posisi Permaisuri. Bagaimana Menteri Do?" Ibu Suri Myeongseong pura-pura bertanya persetujuan Menteri Do.

Menteri Do tentu saja langsung mengiyakan. Ibu Suri Myeongseong meminta agar Kyungsoo masuk istana dengan iring-iringan seperti seorang permaisuri. Menteri Do yang mendengar itu langsung membungkuk berterima kasih. Menteri Kim—ayah dari Inkyeong, ratu sebelumnya—hanya melirik dingin saja pada rekannya itu.

Di lain tempat, Kyungsoo yang benar-benar gelisah hanya bisa mondar-mandir tak karuan di kamarnya. Pikirannya terbang pada ingatan saat Sehun berteriak panik dan tanpa pikir panjang berlari demi menyelamatkan Luhan. Kyungsoo menggelengkan kepalanya, berusaha menyingkirkan bayangan itu. Tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dan ayahnya masuk.

Menteri Do mendekati putra semata wayangnya itu, "Sudah selesai. Sudah selesai sekarang."

Kyungsoo tertegun, "Abeoji…?"

Tiba-tiba dari luar terdengar sorakan selamat dari pendukung Partai Barat. "Selamat Yang Mulia Permaisuri!"

Kyungsoo berjalan keluar dan menerima penghormatan dari pelayan istana dan semua anak buahnya. Kyungsoo tersenyum.

Kyungsoo segera naik ke atas tandu yang akan membawanya ke istana, rumah barunya. Selama perjalanan menuju istana semua penduduk Joseon yang melihatnya segera berlutut dan memberikan ucapan selamat yang sungguh tak terhingga. Mendoakannya agar berumur panjang dan membawa Joseon ke arah kemakmuran.

Luhan sendiri masih duduk menunggu di depan pintu gerbang istana. Tiba-tiba saja pintu gerbang istana terbuka dan dari dalam keluar iringan para pelayan istana. Mereka membungkuk ke depan ke arah luar. Luhan berdiri dan mendengar teriakan dari arah pemukiman penduduk, "Kosongkan jalan! Permaisuri baru telah tiba!"

Luhan bukannya langsung menunduk malah berjalan mendekat ke arah iringan tandu dan melihat Kyungsoo dalam tandu itu. Iringan tandu berhenti Luhan menatap tajam Kyungsoo. Keduanya beradu pandang dengan dingin.

Sepertinya duel telah dimulai.

.

.

TBC

Halo! Chapter baru! Maaf banget ya lama. Ini semester terakhir di college dan desember ini aku graduate, jadi aku bener-bener sibuk. Setiap ada waktu kosong aku selalu nyempetin negrampungin chapter 10 ini. Semoga aja kalian ga bosan nunggu karena chapternya masih banyak. Sekarang ini aku lagi proses chapter sebelas dan doain cepet selesai. Maaf banget kalo chapter ini kurang dapet feelnya coz aku udah lama ga nulis, terus banyak typo, semoga kalian suka. Dan tunggu chapter selanjutnya ya! Jangan lupa review, satu review berkesan banget buat aku~ Udah lama kita ga tegur sapa.