Disclaimer: YunJae dkk bukan milik saya.
Warning: AU, BL, Don't Like Don't Read
OC: Jung Jiyool

.

.

Lotus Candles

.

.

Cinta dan kesetiaan ibarat sepasang sayap, yang tak mampu membawamu terbang jika patah salah satunya.

.

.

Bagi nenek Jung yang begitu terpukul atas kepergian putra semata wayangnya, kehadiran Yunho bukan sekadar cucu baginya, namun juga seperti pengganti bagi anak lelakinya. Tetapi terkadang ia terlalu berambisi untuk menjadikan Yunho seperti yang ia inginkan, menjadikan sang cucu bak refleksi dari putranya yang telah tiada, tanpa memikirkan apa-apa yang menjadi keinginan Yunho.

Di saat ambisi menjelma menjadi obsesi, jiwanya seakan dibui—menggodanya untuk mendapatkan apapun yang ia mau, dan teramat sukar untuk dihilangkan dari pikirannya. Dengan begitu ia kerap kali memaksakan kehendak kepada Yunho, menunjukkan seberapa jauh ia mampu bertindak untuk mewujudkan obsesinya.

Kini kondisi kejiwaannya tergolong kurang stabil. Banyak pikiran menggerogoti kesehatannya, pun berbenturan dengan sesuatu yang diam-diam menciptakan rasa bersalah yang begitu besar, namun selama ini ia coba kubur dalam-dalam. Dan setelah Yunho menyinggung masalah itu dengan telak, ia tak sanggup menanggungnya lagi.

"Papa, buyut bangun."

Jaejoong yang sebelumnya melihat-lihat resep obat nenek Jung, kini fokus pada wanita tua yang mulai membuka matanya. Dadanya bergemuruh bising manakala pandangannya bersirobok dengan tatapan sayu sang nenek. Awalnya ia hanya berniat menemani Yunho membesuk nenek Jung yang kemarin kolaps, namun ia harus ditinggal bersama Jiyool karena Yunho sedang ke kamar mandi. Sejak kedatangan nenek Jung ke toko bunga Shim kemarin, kondisi Yunho menjadi kurang fit, dan dari beberapa saat lalu gejala sakaunya timbul lagi.

"Mau apa kau kemari?" Suara parau itu masih sarat kebencian, "Berencana membunuhku? Kau pasti senang kalau aku mati karena tidak akan ada lagi yang menghalangimu mendapatkan cucuku."

Jaejoong paham mengapa ia mendapatkan sambutan demikian, karena mustahil nenek Yunho akan begitu saja menerimanya, meskipun di hari sebelumnya ia menjadi saksi bahwa Yunho mampu membungkam mulut nyinyir wanita tua ini. Namun ia tidak bisa jika harus kembali menghindar dan membiarkan tetua Jung ini merecoki kehidupannya bersama Yunho untuk kesekian kalinya. Jalan terbaik adalah dengan menghadapinya.

"Saya tak pernah sekalipun berniat untuk merebut Yunho dari Anda. Lagipula dia bukan barang yang dapat diperebutkan. Dia punya hati untuk memilih tempat ternyaman baginya, dimana ia bisa pulang. Dan kalaupun dia memang tidak peduli dengan Anda, dia pasti akan membawa saya pergi ke tempat di mana Anda tidak dapat menemukan kami.

Kenyataannya, dia tak pernah meninggalkan Anda selama ini. Anda hanya terlalu takut kehilangan Yunho, padahal Anda adalah salah seorang yang terpenting baginya—hanya Anda keluarga terdekat yang ia miliki, sampai ia menemukan fakta bahwa ia memiliki saudara yang lain. Tapi kehadiran Yuno dan Changmin juga tidak mengubah apapun, tak membuatnya berbalik membenci Anda…."

Hening cukup lama, sampai bunyi tetes infus seolah sanggup bergema di dalam kamar yang luas itu. Nenek Jung memilih memalingkan muka ke arah jendela besarnya yang berserat tipis. Namun benaknya sibuk memikirkan apapun yang telah disampaikan Jaejoong padanya. Sesekali ia juga bisa mendengar rengekan balita yang setahunya adalah putri angkat cucunya, hingga ia mendengar pintunya terbuka, seketika menarik minatnya untuk melihat siapa yang datang.

Yunho tak mengatakan apapun ketika ia beringsut memeluk sang nenek di tempat tidurnya. Ia tak mengerti mengapa tangis nenek Jung pecah saat itu juga. Yang ia tahu, baru kali ini neneknya menangis di hadapannya, pun kali pertamanya mendengar rangkaian kata penuh penyesalan yang berulang-ulang dibisikkan di telinganya.

.

.

.

"Boo, kita akan nonton konser, bukan mau piknik."

Yunho protes karena Jaejoong menyiapkan bekal segala untuk acara yang hendak mereka hadiri sore ini, kurang lebih sejam lagi dari sekarang. Padahal itu hanya irisan buah favoritnya—semangka dan stroberi—dan kotak lainnya berisi dimsum.

"Ck, kau tinggal makan saja, jangan cerewet," gerutu Jaejoong tanpa menghentikan kegiatannya. Ia harus menyelesaikannya dengan cepat karena ia juga perlu waktu untuk mempersiapkan diri.

.

.

.

Yuno sedang mematut dirinya di depan cermin di kamarnya. Untuk pertama kalinya ia merasa kurang percaya diri dengan style berpakaiannya. Dari mengenakan kemeja berdasi, menambahkan vest, sekadar kaus oblong, sampai ia menjatuhkan pilihan pada kaus tanpa lengan yang ia lapisi kemeja kotak-kotak merah hitam dan membiarkan kancingnya terbuka.

Tak lupa ia merapikan rambutnya, sedikit memberikan gel pada bagian depan agar ia bisa dibedakan dengan adiknya. Pun tak ketinggalan ia menyemprotkan parfumnya yang beraroma kayu cendana, namun hanya sedikit karena ia teringat akan wanita yang belakangan hidungnya menjadi berkali-kali lipat lebih sensitif. Ia tidak ingin wanita itu mual dan muntah lagi mencium wewangiannya.

.

.

.

"Astajae, apa lagi?" Yunho heran karena Jaejoong tampak ribet sendiri dari tadi. Ia bahkan sudah hampir menghidupkan mesin mobilnya ketika pasangannya itu kembali turun dan masuk ke rumah. Jiyool yang duduk di jok khusus belakang hanya terkikik geli melihat papanya sempat terpincang karena sandalnya yang lepas ketika berusaha berjalan cepat.

"Aku baru ingat belum membawa kamera video," ucap Jaejoong ketika kembali duduk di sebelah Yunho sembari menunjukkan tas kecilnya.

"Bukannya semalam aku sudah mengingatkanmu untuk menyiapkan semuanya?"

"Benarkah? Yang ku ingat cuma kegiatan bakar kalori kita." Jaejoong menyengir lebar.

"Tsk." Yunho segera melajukan mobilnya untuk menyamarkan sipu malunya. Bisa-bisanya pasangannya ini membicarakan itu dengan kelewat santai. Untung saja Jiyool masih terlalu kecil untuk mengerti pembicaraan orang tuanya. Sedikit jail sebelah tangannya merusak bagian depan rambut Jaejoong yang dibuat berdiri.

"Aish—kau pikir berapa lama aku membuat ini? Aish!"

Yunho hanya terkekeh mendengar Jaejoong mengomel tak jelas. Tanpa melupakan perhatian pada jalan, ia terbahak ketika melirik Jaejoong dan mendapati pasangannya itu sampai harus mengeluarkan cermin hello kitty keramatnya untuk memperbaiki penampilan. Sementara itu Jaejoong fokus pada pantulannya dengan bibir mengerucut karena suami dan anaknya terus menertawakan tingkahnya sepanjang jalan.

.

.

.

"Oi, Hyung!" Jaejoong tahu ke mana ia dan Yunho akan duduk setelah melihat Junsu melambai padanya. Tetangganya di apartemen itu tidak datang sendiri ke pertunjukan musik ini, namun bersama seorang perempuan yang juga dikenalnya; Heebon, yang tak mau menerima upah atas jasanya memotongkan rambut Yuno kala itu.

Ia lantas mengambil tempat duduk di sebelah Junsu yang memang miliknya. Sedangkan Yunho di sebelahnya memangku Jiyool. Tak lama datang empat orang yang menempati kursi di belakang mereka. Jaejoong menengok untuk memastikan bahwa mereka adalah orang-orang yang dikenalnya. Ia tersenyum melihat Soojin datang bersama Yuno, dan dapat ditangkapnya raut gugup pada saudara kembar suaminya itu.

"Oh—jidat, ternyata kau punya waktu untuk datang juga," sapa Yunho dengan tidak elitnya kepada sang sahabat karib yang datang bersama pasangannya.

"Kau pikir kegiatanku cuma seputar klinik. Lagipula tiket gratis dari Noona ini."

"Dasar maniak gratisan."

Yunho kembali terkenang masa-masa remajanya dengan Yoochun, dimana saat senggang ia kerap diajak sahabatnya itu untuk mengunjungi objek wisata yang tidak dipungut biaya. Dari ikut tour gratis sampai menjelajahi distrik yang belum pernah didatangi.

Langit mulai menggelap ketika kembang api bertaburan. Sorak sorai penonton menggema di antara dentuman bunga api yang meledak di langit tanpa mendung. Beberapa pejalan kaki sengaja berhenti karena rasa penasaran tinggi terhadap pendatang baru yang kabarnya seorang solois. Konser debut itu memang tidak diselenggarakan di gedung atau stadion, tetapi di balai kota Seoul.

Jaejoong nyaris bangkit dan turut meneriakkan nama pemuda yang muncul di atas panggung, kalau saja ia tidak ingat bahwa dirinya seorang pria dan sudah sepatutnya bersikap cool. Namun ia tetap tak bisa menahan dirinya untuk tidak mengangkat light stick merah di tangannya.

"Changmiiin~"

Puas berteriak ala fanboy, Jaejoong menoleh pada Yunho. Bisa dilihatnya pandangan kagum Yunho terhadap sang adik. Yunho memang tak bisa mewujudkan mimpinya sebagai seorang musisi, namun ia telah menitipkannya pada Changmin. Iseng, Jaejoong menarik perhatian dengan meninju pelan lengan Yunho, membuat sang suami menoleh dan menghadiahinya senyum tipis. Ia bahkan bisa melihat kilat bahagia yang terpancar dari sepasang mata Yunho yang memandangnya teduh.

"… Aku juga tak bisa berdiri di sini tanpa kakak-kakakku—keluarga yang selalu mendukungku, dan tentunya tak lupa berkat—"

Changmin memberikan sambutannya di tengah jalannya konser. Berikutnya ia menyampaikan terima kasih khusus kepada Boa yang kemudian bergabung di panggung yang sama dengannya. Irama musik berubah slow ketika keduanya berduet lagu romantis, dengan Changmin yang memetik gitar akustiknya.

Dalam keremangan, Yuno dapat merasakan Soojin menggamit jemarinya. Ia menyambutnya dengan remasan lembut disertai senyum terkulum.

.

.

.

Tak jauh dari semarak di balai kota, sebuah limusin hitam singgah untuk beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanannya.

.

.

Kita tidak dapat menuai cinta sampai merasakan perpisahan yang memilukan, dan yang mampu membuka pikiran, merasakan kesabaran yang pahit serta kesulitan yang menyedihkan.

.

.

.

END
Terima kasih banyak bagi yang sudah baca dan review dari chapter awal. Maaf tidak bisa nyebutin dan bales satu-satu, tapi saya sangat menghargainya. Terima kasih juga untuk yang sudah fav atau follow, para pembaca dan reviewer setia, dan salam kenal juga bagi para pembaca baru.
Note: Beberapa quote bukan milik saya, sebagian terinspirasi dari obrolan, segala penghargaan buat yang punya. Sampai jumpa.
Thanks for reading
#B

20140828