Mischievous Kiss

.

MinYoon's FanFiction

Story © Jimsnoona

MinYoon and others Are belongs to God, Themselves.

Rated: T

Length: Chaptered

Warning:

Boys love, OOC, typo(S)

Summary:

Min Yoongi bukan termasuk siswa pintar, ia jatuh cinta dengan sosok tampan dan jenius bernama Park Jimin. Namun sayang, cintanya tak terbalas karena Park Jimin tidak menyukai orang bodoh sepertinya.

.


"Kau tidak sendirian. Aku bersamamu, jadi jangan takut."-Jimin.

"Tuhan, kalau aku bilang aku tambah menyukai Jimin apa Engkau akan marah?" –Yoongi.


.

Heechul histeris, mengajukan aksi protesnya mendengar keputusan Kangin untuk keluar dari kediaman keluarga Park. Heechul begitu menyukai Yoongi dan menolak mentah-mentah, tidak ingin berpisah dengan sosok yang disayanginya itu. Yoongi tersenyum miris melihat Heechul yang menjerit tidak terima. Tetapi Kangin tetap pada pendiriannya, berbekal alasan tidak ingin lebih lama lagi menyalahgunakan kebaikan keluarga Park dan tidak ingin melihat Yoongi yang semakin menderita karena menyukai Jimin.

Hankyung hanya bisa memaklumi keadaan yang ada, tetap setia merengkuh istri cantiknya itu ke dalam dekapan hangatnya berharap dengan pelukan yang ia berikan dapat membuat istri cantiknya sedikit tenang.

"Hannie, lakukan sesuatu! Yoongi… Yoongi akan meninggalkanku. Hiks." Heechul menangis sesenggukkan.

"Yoongi akan sering berkunjung kemari, yeobo." Ucap Hankyung menenangkan.

"Tidak! Ini semua karena Jimin! Kalau saja… Kalau saja anak bodoh itu menyadarinya—"

"Jangan menyalahkan anakmu, Heechul-ah. Ini sudah keputusanku dan Yoongi. Kami tidak ingin merepotkan kalian lebih jauh."

"Terima kasih atas kebaikan Paman dan Bibi untuk selama ini, maaf jika aku selalu merepotkan kalian." Kata-kata Yoongi terhenti akibat Heechul yang secara langsung menghampirinya untuk memeluk Yoongi dengan erat.

"Bibi sangat menyayangimu, Yoongi-ya. Jangan tinggalkan Bibi, ya?" bujuk Heechul untuk kesekian kalinya.

"Maafkan aku, Bi. Aku janji akan sering berkunjung untuk menemuimu." Heechul menatap Yoongi dengan raut wajah sedihnya, mau tidak mau dirinya yang harus mengalah disini.

"Bibi berjanji akan membawamu kembali kerumah ini, bagaimanapun caranya! Termasuk memberi Jimin pelajaran."

Yoongi memberikan senyum manisnya. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya. "Yoongi sangat menyayangi Bibi, terimakasih sudah memberikan kasih sayang Bibi, aku merasa seperti memiliki Eomma yang terlahir kembali."

Kangin dan Hankyung menyimak dalam diam. Sama-sama tersentuh melihat perpisahan keduanya. Pertemuan dalam satu tahun itu terasa begitu singkat bila dilakukan dengan perasaan bahagia.

Taehyung berjalan mengendap, ia menguping pembicaraan orang tuanya tentang Yoongi dan ayahnya yang akan segera pindah. Hatinya berbunga bukan main, ia harus segera menyampaikan informasi berharga ini kepada hyungnya. Taehyungpun segera berlari ke kamar Jimin,

"Jimin hyung! Coba tebak apa yang dilakukan Yoongi di luar sana?" Taehyung menghampiri Jimin yang tengah sibuk dalam lamunannya.

"Akhirnya si bodoh itu pergi dari rumah kita, hyung! Aigoo, aku senang sekali!"

Jimin menghela napasnya, menatap Taehyung dengan raut wajah terganggunya, sontak saja membuat sosok Taehyung terdiam membeku,

"Apa hanya aku yang bahagia melihat kepindahannya dari seluruh penghuni rumah kita, hyung?" Tanya bocah nakal itu yang sudah pasti ia tahu sendiri jawabannya.

.

Mischievous Kiss

.

Yoongi membereskan barang-barang di kamarnya, merasa sedih harus berpisah dengan kamar itu. Yoongi teringat saat dimana Heechul pertama kali mengantarkannya ke kamar tersebut. Mengingat betapa bahagianya Heechul memperlihatkan kamar itu kepadanya. Yoongi menatap seluruh ruangan kamarnya dan mengucapkan selamat tinggal,

"Sudah satu tahun aku tinggal bersama keluarga Park. Hingga akhirnya aku dan Appa memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka."

Di pintu depan sosok Hankyung membantu Yoongi dan Kangin untuk memasukkan barang bawaan mereka ke truk pindahan. Taehyung yang melihat dari atas balkon rumah justru tersenyum senang sambil melambaikan tangannya.

Sementara Yoongi mulai menangis saat Hankyung mengucapkan salam perpisahannya. Heechul yang tak sanggup melihat kepergian Yoongi itu memilih untuk mengurung diri di dalam kamar.

"Paman, terimakasih untuk semuanya. Berkat Paman dan Bibi, kami merasa sangat terbantu."

"Jaga kesehatanmu, Yoongi. Rumah kami selalu terbuka untuk kalian." Hankyung tersenyum dengan wibawanya sambil merengkuh Yoongi ke dalam pelukannya, memberikan salam perpisahan terakhir.

Berikutnya Kangin dan Hankyung saling berpelukan, saling mengucapkan rasa terimakasih atas segala bantuan yang diberikan. Sementara Yoongi hanya bisa menatap rumah keluarga Park dalam diam. Matanya tertuju pada satu titik dimana tujuannya adalah kamar Jimin. Memberikan tatapan penuh harapnya, hatinya menginginkan Jimin berdiri di hadapannya memberikan salam perpisahan sebelum ia benar-benar pindah.

'Selamat tinggal Park Jimin, dengan begini kau akan lebih nyaman karena aku satu langkah mundur lebih jauh darimu.'

Yoongi mengucapkan perpisahan pada Jimin di dalam hatinya. Tak lama ia masuk ke dalam mobil pindahan mereka dan berlalu pergi bersama Kangin ke rumah barunya.

.

Mischieous Kiss

.

Yoongi dan Kangin tiba di tempat tinggal mereka. Sebuah apartemen kecil yang terletak di pinggir jalan. Kangin berkata rumah uang sewa di apartemen ini cukup murah dan letaknya sangat strategis dari restorannya. Mereka terpaksa tinggal di apartemen itu sampai rumah baru mereka siap untuk ditinggali.

"Mengapa kita tidak tinggal di rumah keluarga Park sampai rumah kita siap, Appa?" pertanyaan Yoongi mengundang gelengan tegas dari ayahnya tersebut.

"Ini adalah jalan terbaik untuk kita, Yoongi. Appa janji hanya untuk dua minggu saja."

Yoongi menatap apartemen minimalis itu dengan raut sedihnya. Bukan berarti ia sedih dengan sempitnya ruangan itu akan tetapi hampanya hati Yoongi karena mulai hari ini dia akan tinggal di tempat yang tidak ada Jimin bersamanya.

"Mulai hari ini, hidupku tanpamu dimulai, Park Jimin." ucapnya dengan getaran hati yang pilu.

.

Mischievous Kiss

.

"HEEEEEEH?! KAU PINDAH DARI RUMAH JIMIN?!" teriakan histeris Hoseok memekakan telinga siapapun di pagi itu.

Woozi memandang khawatir sosok Yoongi yang terduduk dengan wajah lesunya. Mereka pikir Yoongi akan tinggal selamanya di rumah Jimin. Apabila Yoongi pindah, maka lebih kecil kemungkinan kesempatan Yoongi untuk mendekati Jimin? Yoongi merasa ia akan baik-baik saja karena ia sendiri memutuskan untuk menyerah mengejar Jimin.

"Yoongi-ya, kau yakin? Yoongi yang kukenal tidak akan menyerah meskipun urat malunya telah tiada." Hoseok berusaha menghibur Yoongi dengan alakadarnya akan tetapi justru membuat Woozi menyikut lengannya dengan beringas.

"Tutup mulutmu, Jung Hoseok."

"Kali ini aku akan melupakannya, benar-benar melupakannya. Appaku bilang, kalau selama ini Appa selalu memperhatikan kami dan menurutnya Jimin sama sekali tidak tertarik padaku. Itulah sebabnya… aku akan melupakan Jimin."

Hoseok dan Woozi saling bertukar pandang, sedikit iba melihat penderitaan sahabatnya kini.

"TADAAAAA!"

Yoongi, Hoseok dan Woozi kaget bukan main saat Namjoon datang memberikan masakan spesialnya. Makanan itu dikhususkan untuk Min Yoongi seorang. Sebuah omurice dengan porsi besar beserta lilin-lilin kecil yang mengelilingi bagian pinggirnya.

"Masakan khusus untuk Yoongi tersayang!"

"Mengapa hanya untuk Yoongi? Bagian kami mana, Namjoon?"

"Tidak ada. Ini semua khusus untuk Yoongi seorang yang terlahir kembali. Yoongi-ya, aku akan membantumu untuk melupakan si manusia es itu."

"Gomawo, Namjoon-ah." Yoongi tersenyum melihat ketiga sahabatnya yang sangat mengerti dirinya.

"Nah, sekarang tiup lilinnya demi terlahirnya kembali Min Yoongi!" seru Namjoon bersemangat kemudian Yoongipun meniupnya beserta sorakan Hoseok dan Woozi.

Mereka benarbenar merayakan terlahirnya kembali Yoongi yang akan melupakan Jimin.

.

Mischievous Kiss

.

Jimin baru saja tiba di rumahnya dan melihat Taehyung beserta sosok ayahnya yang sedang membuat makanan. Jimin bertanya pada mereka apa yang terjadi, kemana ibunya?

Hankyung langsung menjelaskan bahwa istrinya tengah depresi, Heechul tak ingin melakukan apapun dan hanya berdiam mengurung diri di kamar.

"Jadi, sementara waktu ini kita harus berbagi tugas untuk mengerjakan pekerjaan rumah, Jimin." helaan nafas berat Jimin keluarkan setelah ayahnya memberikan keputusannya.

Sementara itu, Heechul hanya mengangis seharian di dalam kamar sembari memandangi foto Yoongi. Dirinya merasa sangat kehilangan Yoongi semenjak sosok cerianya itu pindah dari kediaman keluarga Park.

Jimin memegangi kepalanya yang terasa pening, memikirkan masalah ini semua membuatnya pusing.

.

Mischievous Kiss

.

Yoongi memasuki apartemen kecilnya begitu ia sampai. Mengatakan pada seisi rumah yang kosong bahwa ia telah pulang, dirinya kembali diliputi kesedihan, ia mulai memejamkan matanya membayangkan saat dirinya tinggal di rumah keluarga Park.

Bibi Heechul akan menyambutnya di pintu utama dan mengatakan bahwa ia telah memasakkan makanan kesukaan Yoongi, kemudian beralih pada sosok Taehyung di bawah anak tangga yang senantiasa menjahilinya dengan menyebutnya si bodoh Yoongi, Paman Hankyung yang menyapanya di ruang keluarga dan menanyakan bagaimana harinya di kampus dan terakhir, sosok Jimin yang berada di meja makan memberikan senyum menawannya kemudian berkata, Selamat Datang.

"Tidak!" Yoongi membuka kedua matanya dan menerima kenyataan pahit.

"Itu semua sudah berlalu. Aku harus terbiasa…"

Yoongi masuk ke dalam dan menyalakan lampu, ia bergumam bahwa ia sudah memutuskan untuk melupakan Jimin dan tidak akan kembali ke rumah keluarga Park.

Malam ini merupakan hari kedua Yoongi bermalam di apartemen kecilnya. Ia harus tidur sendiri karena tampaknya sang ayah tidak akan pulang, melihat betapa sibuknya Kangin dalam mengurus restorannya.

"Aku sendiri lagi…" monolog Yoongi dengan rasa hampa di hatinya.

Pikirannya melayang kembali saat dirinya harus merasakan kesendirian seperti ini, lebih sering ditinggal oleh sang ayah. Yoongi merasa bosan dan semenjak ia tinggal di keluarga Park membuatnya memiliki pengalaman baru yang sangat menyenangkan.

Akan tetapi semua itu telah berakhir. Durasi waktu satu tahun yang terasa sangat cepat.

'Duk!'

Bunyi suara di luar jendela apartemennya mengalihkan atensi Yoongi, sedikit tersentak melihat bayangan seseorang yang berlalu begitu saja. Yoongi menggigit bibir bawahnya, merasa sedikit ketakutan. Matanya menatap nyalang pintu apartemennya yang sudah ia kunci. Yoongi membenamkan seluruh tubuhnya di balik selimut, masih berharap jika saja sosok ayahnya berada di luar. Akan tetapi sudah hampir sepuluh menit lamanya sosok yang ia kira Appa itu tidak ada tanda-tanda memanggil namanya.

"Apa mungkin tetangga sebelah?" bisik Yoongi oleh dirinya sendiri.

Merasa tidak ada lagi suara aneh tersebut, Yoongi memutuskan untuk tidur. Besok ia harus kuliah pagi, tak lupa dengan kegiatan tambahan dari klub basket di sore hari. Membayangkannya saja sudah membuat Yoongi lelah.

Bicara tentang klub basket, Yoongi jadi teringat sesuatu. Pikirannya kembali pada sosok yang dicintainya,

"Apakah besok Jimin akan datang?" ujar Yoongi penuh harap, mengingat semenjak ia pergi dari kediaman keluarga Park sama sekali belum pernah bertemu dengan pujaan hatinya.

"Ah, terserah! Aku mau tidur saja."

.

Mischievous Kiss

.

Sore itu, Yoongi sudah siap sedia dengan kostum basketnya. Sosok manis dengan kulit putih pucat itu menyapukan wajah mulusnya dengan beberapa lembaran tissue, merasa sangat berkeringat setelah melewati perkuliahan dari pagi hingga sore. Untuk sementara hatinya kembali merenungi perkataan Hoseok dan Woozi yang memprovokasi dengan pertanyaan, mengapa masih saja pergi ke klub basket jika ingin melupakan Jimin?

Yoongi menatap ragu pada lapangan basket di hadapannya. Itu benar, Yoongi akan melupakan Jimin. Akan tetapi Yoongi sudah terlanjur mengikuti ini semua. Tak akan menjadi masalah besar, kecil kemungkinan sosok Jimin menampakkan dirinya di setiap latihan mengingat orang yang dicintainya itu merupakan anak kelas khusus dalam klub basket.

"Ya, aku pasti bisa!" ikrar Yoongi dengan semangat berapi-api.

Setengah jam kemudian Yoongi menyesali itu semua. Di klub basket, Yoongi masih digembleng dengan latihan fisik yang diwajibkan melakukan push up sebanyak 100 kali bersama para anggota baru lainnya oleh seniornya, Kim Myungsoo.

Setelah push up mereka genap 100 kali, senior galak itu menghentikan para anggota baru dan mengucapkan rasa bangganya karena mereka telah bertahan hingga sejauh ini. Sebagai gantinya, untuk memberikan apresiasi para anggota baru, Myungsoo akan memberikan hadiah dengan mengizinkan mereka semua untuk bermain basket sepuasnya. Yoongi luar biasa senang mendengarnya, begitupula dengan anggota baru lainnya.

"Min Yoongi!"

"N-ne?"

"Karena kau sangat tidak becus dalam bermain basket, untuk sementara waktu kau belum bisa bermain basket. Tugasmu adalah memunguti bola anggota lain yang berlatih."

"Apa?!"

"Tidak ada bantahan, mengerti?"

"Baik, sunbae."

Keputusan mutlak Myungsoo membuat Yoongi semakin melengkungkan garis bibirnya ke bawah. Sedikit geram dengan perlakuan senior galaknya itu yang sangat meremehkannya. Yoongi segera mengumpulkan bola-bola basket yang berada di sekitarnya, kemudian menaruhnya pada ring bola yang telah disediakan.

"Oops, sorry!" Yoongi mendongakkan kepalanya, melihat siapa pelaku yang tampaknya sengaja melempar bola ke arahnya.

"Kau tidak menyerah juga ya?"

Yoongi mendelik tidak suka melihat lawan bicaranya, siapa lagi kalau bukan Lee Sungyeol. Pria cantik dengan senyum menawannya itu menatap Yoongi yang sibuk mengumpulkan bola tanpa menjawab pertanyaannya.

"Kalau aku jadi kau, sudah pasti tidak akan lagi mengikuti klub basket. Aku tidak tahan harus latihan fisik dan memunguti bola-bola bodoh itu, apalagi Jimin juga tidak pernah datang untuk berlatih." Kata Sungyeol sengaja membuat Yoongi merasa kesal atas semua ucapannya.

"Sayangnya aku melakukan itu semua bukan demi Jimin." ucap Yoongi dengan nada tegas.

"Oh ya? Kalau begitu lanjutkan tugasmu!" Sungyeol mengangkat dagunya angkuh, seolah memberi tahu Yoongi untuk segera mengumpulkan bola basket yang masih tersisa di pojok lapangan.

Yoongi mengikuti arah pandang yang dimaksud Sungyeol dan beringsut malas menghampiri bola tersebut dengan wajah lesunya. Sedikit tersentak begitu hendak memungutnya, nampak sebuah kaki yang dengan kurang ajarnya menahan bola basket yang sedang Yoongi punguti.

"Ya!" merasa kesal bukan main, Yoongi berteriak dengan kaki kurang ajar yang berhadapan dengan wajahnya saat ini.

Namun saat tahu siapa pemilik kaki tersebut, Yoongi kaget bercampur senang. Entahlah, rasa rindu itu menyeruak mengelilingi relung hati Yoongi yang membuatnya merasa senang dan menghilangkan semua rasa hampa yang ia miliki selama ini.

"Ji…min…?"

"Kau terkejut?" sosok tampan itu menaikkan satu alisnya seraya menampilkan seringai angkuhnya yang semakin terlihat mempesona.

Yoongi segera bangkit dari acara jongkoknya, berdiri menatap sosok Jimin yang kini sangat jelas berada di depan matanya.

"Untuk apa kau kesini?" Tanya Yoongi seperti orang bodoh.

"Tentu saja untuk berlatih, karena aku adalah anggota klub basket." Jawaban Jimin membuat sosok Yoongi mengangguk bodoh.

"Ah, kau masih saja memunguti bola ya? Sama sekali tidak ada kemajuan." Cemoohan itu mengundang raut wajah kesal Yoongi terhadap Jimin.

"Jangan jahat begitu padaku, aku sudah tidak lagi tinggal di rumahmu."

"Oh ya? Tetap saja mau itu kau tinggal di rumahku atau tidak, kau selalu membuat masalah."

"Aku tidak—"

"Ya, kau membuat masalah! Sampai kapan kau akan mengganggu kehidupanku, Min Yoongi?" Yoongi menatap Jimin sendu. Ia salah lagi ternyata?

"Kau tenang saja, aku akan melupakanmu. Setelah itu, kehidupanmu pasti tak akan terganggu lagi." Ujar Yoongi mantap, menarik segaris senyuman tipis yang mengarah pada sebuah senyum miris.

"Baguslah. Aku yakin Eomma akan cepat pula melupakanmu, ah… sangat merepotkan." Jimin melenggang pergi begitu saja meninggalkan Yoongi yang setia menatap punggung lebar Jimin dalam diam.

"Jimin!" pekikan Sungyeol yang terdengar ceria langsung dihampiri Jimin.

'Aku memang selalu salah di matamu, Jimin. Benar, sekalipun dalam keadaan terpaksa… aku sama sekali tidak pantas bersanding denganmu.' Yoongi terdiam lesu, hatinya perih melihat interaksi Jimin dan Sungyeol yang teramat sangat mengganggu.

Bukankah memang ia sudah bertekad akan melupakan Jimin?

Yoongi harus tegas akan perasaannya, meskipun rasanya sangat sakit sekalipun ia harus benar-benar melupakan sosok yang sama sekali tidak menaruh hati padanya.

"Min Yoongi, kemarilah!" seruan Myungsoo membuat Yoongi tersadar dari lamunannya. Tanpa pikir panjang dirinya sedikit berlari menghampiri Myungsoo yang berada di sekitar Jimin dan Sungyeol.

"Jimin, bagaimana jika kita bertanding lagi?" tawar Myungsoo dengan senyum tampannya.

"Aku tidak ingin mempermalukanmu lagi kalau kau tahu." Mendengar jawaban Jimin membuat Myungsoo mendidih. Bagi Myungsoo, Jimin itu terlalu percaya diri.

"Bagaimana dengan dua lawan dua? Aku dengan Sungyeol dan kau dengan… Yoongi. Itu adil bukan?"

Jimin syok mendengar usul Myungsoo. Bagaimana bisa seniornya yang ia kenal dari dulu itu menjebaknya seperti ini. Yoongi? Yang benar saja!

Yoongi tidak bisa berkutik. Memilih pasrah dengan ini semua. Dirinya benar-benar tidak bisa bermain basket dan sepertinya lagi-lagi ia harus merepotkan Jimin untuk ke sekiankalinya.

"Menurutku, ini sangat adil. Sungyeol dan Yoongi sama-sama anggota baru di klub basket." Myungsoo semakin mengibarkan senyum mengerikannya.

"Bagaimana mungkin? Kemampuan Sungyeol dan Yoongi sangat berbeda jauh! Jika kau bisa bermain ganda dengan orang seperti dia—" Jimin menunjuk Yoongi berikut dengan tatapan tajamnya,

"—Kau terlihat akan sia-sia melihat kemampuannya yang amat jongkok." Ucapnya lagi merendahkan.

Yoongi menarik napasnya kasar. Dalam hati membatin untuk bersikap biasa, bukankah dia sudah pernah merasakan yang lebih dari ini? Jadi Yoongi harus kuat menghadapi mulut mematikan Jimin.

"Aku tidak menerima penolakan. Atau… kau takut, Park Jimin?" Myungsoo tersenyum remeh.

"Aku tidak takut dengan apapun itu." Jawab Jimin dengan yakin. Ia langsung menyeret Yoongi menuju lapangan dan memposisikan dirinya berada di tempat lawan antara Myungsoo dan Sungyeol.

"Jimin, apa kau yakin? Aku sama sekali tidak bisa…"

"Aku tahu kalau kau tidak bisa apa-apa. Bagaimanapun, yang perlu kau lakukan hanyalah berdiri. Jangan pernah melewati jalanku, mengerti?"

Yoongi mengangguk paham, sebisa mungkin memilih untuk menurut saja kepada Jimin daripada dirinya dianggap sok tahu.

Pertandinganpun dimulai. Jimin, Sungyeol dan Myungsoo penuh semangat untuk melakukan pertandingan sementara Yoongi sangat ketakutan sendiri. Ia lebih takut membuat kesalahan dan mempermalukan Jimin.

"Yoongi, jangan diam saja!" ejek Myungsoo sembari melihat sosok Jimin yang tengah menghampirinya untuk merebut bola di tangan Myungsoo.

Sungyeol berlari tak jauh dari Myungsoo, mengambil posisinya di daerah kuasa Jimin kemudian Myungsoo mulai mengoper bola basket tersebut kepada Sungyeol. Pria cantik itu melakukan dribblenya dan dilanjutkan dengan lay up diakhiri dengan adegan Sungyeol yang memasukkan bola ke dalam ring basket.

Kejadian tersebut membuat Jimin terbakar. Dengan semangat menggebu, Jimin mengambil bola tersebut, melakukan dribblenya dan sukses menggiring bola itu sendiri hingga garis lawan. Jimin memainkan feelingnya untuk menembakkan bola dari jarak jauh, setelah melakukan dribblenya sekali lagi, tak main-main Jimin langsung melakukan shootnya dan berhasil memasuki ring lawan.

"Yeaaay! Jimin hebat!" Yoongi bersorak dengan penuh semangat tanpa tahu malu. Jimin, Myungsoo dan Sungyeol langsung memberikan tatapan sengitnya, membuat Yoongi mati kutu.

Pertandingan itu tetap dilanjutkan, masih dalam strategi yang sama. Myungsoo menyerang Jimin yang mulai kewalahan dan kembari menggiring bola basketnya menuju daerah kekuasaan Jimin dan Yoongi. Sungyeol ikut membantu hingga mereka kembali melakukan tembakan bola ke dalam ring.

Hal tersebut membuat pasangan Jimin dan Yoongi kalah telak. Tak lama dari itu pertandingan berakhir. Myungsoo tersenyum puas, sembari mengejek Jimin kalau pertandingan mereka barusan sangat menyenangkan.

"Bagaimana kalau minggu depan kita tanding lagi dengan pasangan yang sama, Jim?"

Tawaran Myungsoo membuat Jimin menyipitkan matanya, berdecih melihat seniornya yang tengah menyombongkan diri.

"Oke, tidak masalah." Jimin menyanggupinya dengan santai.

"Minggu depan aku yang akan mempermalukanmu dengan kemampuan kami." Ujarnya sarkasme.

Yoongi mendadak pening. Itu tandanya penderitaan belum berakhir! Ia memilih undur diri dan pergi menjauh dari tiga orang yang membuatnya pusing.

"Ah, tidaaaak! Aku bisa gila."

.

Mischievous Kiss

.

Yoongi tiba di apartemen minimalisnya. Perasaan hampa itu datang kembali, saat dirinya menemukan ruangan kosong yang menyambutnya saat pulang. Ayahnya masih sibuk mengurus Restorannya, besar kemungkinan malam ini Yoongi akan menghabiskan waktunya seorang diri lagi.

Yoongi tersenyum miris, merasakan kesepian sudah menjadi teman hidupnya. Padahal baru saja ia bertemu dengan Jimin, ia pikir dengan begitu rasa rindunya sedikit terobati. Akan tetapi, perasaan rindunya terhadap seluruh anggota keluarga Park, membuat hatinya perih. Kehangatan obrolan yang membuatnya nyaman. Yoongi amat merindukannya.

"Paman, Bibi, Taehyungie…"

Yoongi memberengut lucu, semakin ia mengingatnya maka semakin susah pula ia melupakan Jimin. Namja berkulit pucat itu segera menutup pintu apartemennya, hendak menguncinya namun aktivitasnya terhenti begitu sebuah suara menginterupsinya.

"Hei," Yoongi tersentak mendengar seorang pria dengan pakaian serba hitam yang kini memanggilnya dalam keadaan mabuk.

"Hei manis, kau sombong sekali." Godanya diiringi tawa yang menggelegar.

"Aku punya kejutan untukmu, sayang." Kedua mata Yoongi membola ketika pria mabuk itu mulai membuka ikat pinggangnya serta membuka pengait celana hitam yang tengah dipakainya. Merasa panik luar biasa, Yoongi lekas menutup pintunya sekuat tenaga.

Jantung Yoongi berdebar keras saat pria mabuk itu menahan pintu apartemennya untuk tetap terbuka. "Pergi, atau aku akan berteriak!"

"Argh!" jeritan itu keluar dari pria tersebut akibat tangannya yang terjepit oleh pintu.

"Sialan!" umpatannya sengaja dilayangkan kepada Yoongi. kesempatan itu Yoongi gunakan untuk menutup pintu dengan keras, lalu menguncinya dua kali.

Yoongi berdiri gemetar, ketakutan setengah mati kalau saja pria mabuk itu hampir memasuki apartemennya. Pikirannya melayang bebas, menerka kejadian buruk yang akan terjadi.

"Appa… hiks, Yoongi takut…" Yoongi jatuh terduduk, tubuhnya lemas bukan main.

Dapat dirasakan kerusuhan dari luar sosok pria mabuk yang tengah menggedor-gedor pintu apartemennya berulang kali. Yoongi beringsut dengan sisa tenaganya untuk segera memastikan seluruh jendelanya terkunci rapat. Ia memasuki kamarnya, dan sekali lagi menguncinya. Masih dengan keadaan paniknya Yoongi menghambur untuk menyembunyikan diri ke dalam selimut, berharap mala mini cepat berlalu.

.

Mischievous Kiss

.

Hoseok dan Woozi kaget saat mendengar Yoongi dan Jimin akan bermain dalam satu tim lagi. "Apa?! Kau akan bermain dengan Jimin?" pertanyaan itu diangguki oleh Yoongi dengan lemas.

"Ya… Aku tidak bisa berbuat apa-apa."

"Yoongi kau ini bagaimana sih? Kalau begini caranya, mana bisa kau melupakan Jimin?!" Hoseok mengajukan protesnya.

"Yoongi-ya, apa kau tidak apa? Kau yakin bisa melupakannya jika kalian bertemu setiap hari?"

"Sebenarnya… aku tidak yakin aku bisa." Keluh Yoongi frustasi.

"Tentu saja, kalian 'kan sudah berciuman!" ejek Hoseok dengan wajah sangarnya.

Woozi menghela nafasnya berat, "Tapi di sisi lain, ini merupakan kesempatan bagus untukmu, Yoongi. Dengan melakukan sesuatu bersama, Jimin mungkin saja akan merubah hatinya." Nasihat sahabatnya itu membuat Yoongi berpikir keras kemudian memasang wajah jeleknya,

"Bahkan… aku dan Jimin sudah melakukan banyak hal bersama. Dia yang membantuku belajar untuk ujian akhir di SMA dan mengerjakan tugas liburanku. Tapi perasaan Jimin sama sekali tidak berubah,"

"Sudahlah Yoongi, kau terima nasib saja." Geplakan keras mendarat bebas di kepala Hoseok, tentu saja Woozi pelakunya.

"Semangat Yoongi-ya! Ah, mungkin akan menjadi minggu yang melelahkan untukmu."

Yoongi mengeluh karena mulai hari ini ia akan berlatih dengan Jimin sampai beberapa hari ke depan. Ada sedikit perasaan berbunga, tetapi masalahnya di sini adalah Yoongi harus melupakan sosok Jimin. hal tersebut membuatnya dilemma. Kita lihat saja nanti, apakah Yoongi akan berhasil?

.

Mischievous Kiss

.

Yoongi berjalan mengendap begitu memasuki lapangan basket, tetapi di depan pintu masuk telah berdiri sosok Jimin yang berseru jika Yoongi terlambat lima belas menit.

"Mengapa baru datang?"

"Aku… aku ada jam tambahan. Maafkan aku ya…" Yoongi memasang wajah memelasnya.

"Aku tidak menerima alasan! Cepat kita harus latihan!" perintah Jimin kejam.

Keduanya mulai berjalan bersamaan hingga suatu ketika sosok Myungsoo datang dengan langkah angkuhnya,

"Oow, ada Jimin dan Yoongi ternyata? Kalian tampak akur ya…"

"Kami ingin latihan, sunbae." Ucap Yoongi menampilkan senyum manisnya.

"Heh? Min Yoongi tidak pernah lulus latihan basket, sehingga aku tidak bisa mengizinkanmu untuk bermain basket. Kau tau tugasmu, 'kan?" sindir Myungsoo dengan sangat tega.

"Kau terlalu kekanakan, Kim Myungsoo." Desis Jimin tak suka.

"Hm… bagaimana ya, peraturan tetaplah peraturan." Myungsoo tersenyum enteng sembari berlalu meninggalkan Jimin dan Yoongi.

Berlalunya sosok Myungsoo membuat keduanya terdiam. Jimin menghela nafas gusar, sementara Yoongi hanya bisa menatap kepergian Myungsoo dan meminta maaf pada Jimin untuk kembali melaksanakan tugasnya.

"Hei bodoh," Jimin melakukan dribblenya kemudian melemparkan bola basket tersebut ke arah Yoongi, bermaksud agar Yoongi dapat menangkapnya dengan tepat.

"Aaak!" di luar dugaan, Yoongi justru menghindari bola tersebut.

"Jangan menghindarinya, buka matamu dan lihat bolanya! Kau harus menangkapnya kemudian lakukan dribble sendiri." Ujar Jimin memberi saran.

Jimin juga menambahkan hal apa saja yang harus Yoongi lakukan saat bola dioper kepadanya. Interaksi keduanya terjadi sampai menghabiskan waktu satu jam. Saat semuanya selesai latihan, Jimin mengajak Yoongi untuk meneruskan latihan mereka.

"Jimin… bisa istirahat dulu? Punggungku mau patah, tahu!"

"Kita tidak punya pilihan karena kau tidak bisa latihan selama klub basket berlangsung." Perkataan Jimin membuat Yoongi tidak bisa berkutik.

Jimin memberikan arahan agar Yoongi melakukan dribble bolanya. Gayanya yang kaku mau tak mau harus membuat Jimin turun tangan,

"Lakukan seperti ini, bodoh. Condongkan sedikit badanmu ke depan, jangan membanting bolanya terlalu keras!" Jimin mendampingi Yoongi dari belakang sembari menuntun tangan Yoongi secara perlahan.

Posisi mereka nampak seperti Jimin yang tengah memeluk Yoongi dari belakang. Hal tersebut membuat jantung Yoongi berdebar-debar. Sentuhan Jimin membuatnya nyaman dan hatinya berbunga.

"Fokus pada bolanya!" titah Jimin dengan suara lantang.

Tahu sendiri jika seorang Park Jimin mengajarkan sesuatu kepada Min Yoongi, sudah pasti akan melalui acara teriakannya dan perasaan kejam tanpa ampun.

"Jimin… aku lapar…"

"Tidak usah protes, lakukan dribblenya sampai 50 kali."

Yoongi mendengus tak suka dengan sikap Jimin yang sangat sadis.

"Jimin, hujaaaan!" teriak Yoongi dengan gusar, ia sedikit sumringah begitu menyadari hujan turun.

"Hanya gerimis kecil, latihan tetap berlanjut!"

"Bocah sinting."

"Aku mendengarmu bicara!"

Dengan patuh Yoongi kembali melakukan hal yang Jimin perintahkan. Yoongi mencoba berseloroh jika gerakannya sedikit melambat akibat hujan turun, tetapi Jimin tetaplah Jimin, ia akan melemparkan pelototan tajamnya dan menyuruh Yoongi untuk tetap fokus.

Latihan tambahan antara Jimin dan Yoongi berlangsung selama dua jam. Yoongi mengatur nafasnya yang sedikit terengah-engah akibat rasa pegal dan letihnya dalam melakukan apa yang semua Jimin perintahkan.

"Oke, latihan cukup sampai di sini." Keputusan Jimin membuat Yoongi senang.

"Akhirnyaaaaa!" Yoongi bersenandung menumpahkan rasa bahagianya terlepas dari penderitaan.

"Besok kita akan latihan lagi setelah klub basket berakhir."

"T-tapi—"

"Kau ingin mempermalukanku lagi ya?"

"Tidak sih—"

"Maka dari itu kau harus bisa!" semburan kuat itu membuat Yoongi langsung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Baik, senior!"

Jimin membereskan peralatannya, memasukkan semuanya ke dalam tas dan hendak pergi. Namun ekspresi Yoongi justru membuatnya penasaran,

"Kau tidak pulang?"

"Err, Jimin… Bolehkan aku merepotkanmu lagi?" Tanya Yoongi takut.

Jimin menaikkan sebelah alisnya, "Kau selalu merepotkanku dari dulu hingga sekarang. Apa, cepat katakan?!"

"Untuk kali ini, uhm… tolong antarkan aku pulang…"

"Kau pikir kau ini siapa? Aish."

"Kali ini saja Jimin…" Yoongi menatap Jimin sendu, memohon dengan wajah memelasnya.

Perasaan khawatir sedikit melintas dalam pikiran Jimin. Dengan sedikit menurunkan egonya, ia turuti permintaan Yoongi.

"Baiklah, dengan syarat kau harus bisa melawan Kim Myungsoo sialan itu."

.

Mischievous Kiss

.

Jimin dan Yoongi berjalan beriringan, tak ada lagi jarak dua meter sebagai pemisah di antara keduanya seperti masa SMA mereka dulu. Yoongi tiada henti untuk mengeluarkan senyumnya, merasa paling bahagia ditemani oleh Jimin hampir seharian ini.

"Bagaimana kabar Bibi?"

"Yah, kau pasti tau. Eommaku sedikit depresi."

"Aku tak bermaksud membuatnya sedih, Jimin."

"Mau bagaimana lagi, itu adalah proses. Lagipula, bukannya kau akan melupakanku?"

Yoongi menatap Jimin dalam diam, hal tersebut membuat Jimin ikut menoleh ke arahnya. Keduanya saling bersitatap menyelami manik indah masing-masing.

"Aku… akan berusaha melupakanmu, agar kau tidak lagi merasa terganggu." Yoongi tersenyum pedih.

"Ya, teruslah berusaha semampumu. Aku tak suka diusik oleh siapapun."

"Ya, Jimin. Aku akan berusaha, meskipun aku sulit melakukannya, meskipun rasanya sangat sakit, aku akan berusaha melupakan—"

'Chup'

Yoongi membelalak kaget begitu Jimin mendaratkan belahan bibir tebalnya pada bibir tipisnya. Perasaan bergejolak itu membuatnya melayang, seakan seperti sebuah bunga tidur yang sangat indah. Jimin merapatkan kedua matanya, melumat habis bibir tipis Yoongi yang masih kaku akibat rasa terkejutnya.

Rasa itu tetap sama. Panasnya bibir Jimin mampu menjalar hingga wajah dan seluruh tubuh Yoongi. Jimin membuka sedikit kedua matanya, memandang Yoongi dalam diam sembari melanjutkan kecupan manis pada bibir tipis yang sedikit membengkak.

Setelah tautan itu terlepas, Jimin tetap pada pertahanannya. Menatap Yoongi dalam diam, seolah mengabaikan sorotan mata Yoongi yang meminta sebuah penjelasan.

"Kau harus melupakanku, Min Yoongi."

.

Mischievous Kiss

.

Keduanya telah sampai di apartemen Yoongi. Setelah menghabiskan waktu canggung mereka perihal aksi ciuman dadakan yang dilontarkan oleh Jimin barusan, keduanya mulai mengeluarkan obrolan singkat kembali.

"Minumlah dulu, kopi buatanku tidak beracun. Lagipula kau sudah pernah mencobanya, 'kan?" ujar Yoongi memecah keheningan di antara mereka.

Jimin dan Yoongi kembali tertelan dalam suasana hening, aura kecanggungan yang kuat menyelimuti keduanya. Hanya suara televisi satu-satunya yang menetralkan keadaan mereka saat ini.

"Aku sudah mengantarmu pulang."

"Jimin… paling tidak tunggu sampai Appaku pulang…" mohon Yoongi menghentikan pergerakan Jimin yang hendak bangkit dari duduknya.

"Apa? Hei, ini sudah malam! Aku juga butuh istirahat."

"Kumohon…" Jimin dapat merasakannya, keadaan dimana sorot mata sayu itu menampakkan raut wajah ketakutannya, kedua tangannya bergetar tanpa dibuat-buat.

"Kau kenapa?"

"Tidak apa, paling tidak Appa pasti senang bertemu denganmu." Yoongi menyembunyikan itu semua dengan menampakkan senyumnya.

"Katakan padaku Yoongi, ada apa?!" Jimin menggenggam tangan Yoongi yang semakin bergetar dan sedikit meninggikan suaranya agar sosok di hadapannya itu menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.

"Aku… aku takut Jimin." air mata itu menggenang di pelupuk mata Yoongi, matanya memerah, tak sanggup lagi untuk berkata-kata.

"Hei, bicarakan padaku apa yang terjadi?"

Jimin mengguncang sedikit bahu Yoongi yang ikut bergetar,

"Kemarin malam… ada seorang pria mabuk yang menghampiri apartemenku, dia nyaris membuka celananya di hadapanku… aku takut—Jimin, aku—hiks takut…" Yoongi membiarkan lelehan air mata membanjiri kedua pipinya.

Jimin tak bisa berbuat apa-apa selain menenangkan sosok Yoongi yang sedikit terguncang itu ke dalam pelukan eratnya.

"Kau sudah bilang ayahmu?" pertanyaan Jimin hanya disahuti Yoongi oleh gelengan pelan.

"Aku—tidak berani, takut mengganggu Appa—hiks."

"Kau seharusnya bilang dengan ayahmu, bodoh! Kalau kau kenapa-kenapa siapa yang tahu? Jangan berlagak kuat dengan memendamnya sendiri, kau tahu?!" bentakan itu murni akan kekesalan Jimin.

Yoongi bergumam kata maaf yang justru terdengar pilu bagi Jimin. Sekali lagi yang dapat Jimin lakukan saat ini hanyalah mendekap erat sosok Yoongi yang terlihat rapuh,

"Kita pulang ke rumahku sekarang, supaya kau lebih aman."

"Tapi—"

"Tidak ada kata tapi, aku akan menghubungi ayahmu nanti."

Yoongi mengatur nafasnya sejenak, mau tak mau ia harus mengikuti kata-kata Jimin. Pantas saja ayahnya bilang jika uang sewa di apartemen ini sedikit lebih murah, ternyata Yoongi baru menyadari jika keadaan sekitar Apartemen cukup sepi. Hanya beberapa yang ditempati, meskipun terletak di pinggir jalan.

"Kau tidak sendirian. Aku bersamamu, jadi jangan takut." Bisik Jimin lembut yang disetujui oleh anggukan dari Yoongi.

'Tuhan, kalau aku bilang aku tambah menyukai Jimin apa Engkau akan marah?'

.

.

.

Tbc.

a/n: HAI! Lama gak ketemu. Ini nongol Cuma mau minta maaf sama mau bilang makasih. Hehehe. Heeh, 4,7K words untuk chapter ini, yuhuuuu! Mau minta maaf, maafin Jims updatenya lama buangeeet. Lamanya kenapa? He, lagi sibuk nyekrip sama penelitian. Biar cepet sidang terus lulus terus… nikah sama Jimin. xD

Mau bilang makasih juga, buat yang udah mau baca, mau mampir dan yang sempetin buat kasih reviewnya juga. Lope lope bingit.

Salam cinca dari MinYoon.

Jimsnoona.