Tittle : Tell Me What Is Wrong, Tell Me What Is LOve

Cast : Kim Doyoung (17)

Jung JaeHyun (17)

Lee TaeYong (18)

Chittaphon/ Ten (17)


Warning Alur sangat cepat.. heheheeheh


Ten menatap wajahku dengan sedikit heran, mungkin ia dapat melihat bekas airmata dipipiku, tentu saja sebelum kesini aku sudah sangat banyak menangis.

"cepat katakan apa yang ingin kau bicarakan" ucapku pelan, Ten tersadar kembali lalu menunduk kemudian menatapku lagi.

"aku tak akan berbasa – basi.." ucapnya pelan, aku balas menatapnya dengan dingin.

"lupakan Jaehyun dan bercerailah dengannya.." aku membelalakan mataku kaget, ten menatapku "lupakan Jaehyun kumohon, aku tak sanggup lagi melihat kalian berdua, aku tak bisa lagi menahan ini.. lepaskan dia untukku" pintanya, aku balas menatapnya tampaknya ia mulai menangis.

"kenapa.. kenapa aku harus bercerai dengannya untukmu" jawabku dingin, Ten membelalakan matanya kaget, sedangkan aku tetap memandangnya dingin.

"kami direstui dan aku juga mencintainya, kenapa aku yang harus terluka dan melepasnya untukmu" lanjutku, sambil berdiri dan berlalu ingin pergi tapi Ten menarik tanganku dan berlutut dsampingku, aku membelalakan maataku kaget dan menatap sekelilingku, orang – orang dicafe tampak memandangi kami dengan heran.

"Ten-a.. cepat berdiri, apa yang kau lakukan.." tanyaku panic sambil menarik untuk Ten berdiri, tapi ia tetap bersikukuh berlutut didepanku sambil terus memegang tanganku.

"aku tak akan melepasmu sebelum kau setuju.." pintanya, aku menatapnya dengan bimbang. Lalu memperhatikan orang – orang yang masih menatap kami dengan heran.

"kita bicara diluar saja" pintaku lalu menarik Ten berdiri dan membawanya keluar, aku melepaskan tangannya dengan kasar saat kami sudah berada ditempat yang cukup sepi.

"kau gila..!' bentakku marah, Ten hanya menunduk dan terus menangis,aku mendesah saat melihatnya... kemana Ten yang kuat dulu..? kemana dia..?

"aku memang gila, aku sakit hati melihatmu dan Jaehyun, perlahan kusadari dia mulai selalu membawa namamu dalam setiap pertemuan kami, tertawa saat menceritakan tentangmu, marah dan kesal padamu, dia mulai menyukaimu..sedangkan kau sudah memiliki Taeyong Hyung.. bisakah kau memberikan jae padaku… Aku mohon"

"aku pernah belajar ingin melupakannya, karena dia sudah menjadi suamimu tapi aku tak bisa Doyoung-a, aku sangat membutuhkannya, aku tak bisa melepaskannya aku sangat takut kehilangannya, aku.. aku tak sanggup, kumohon jangan rebut dia dariku lagi.. jangan lakukan itu lagi.." aku melihatnya yang makin terisak dengan iba.

"aku..aku sakit Doyoung-a.." aku menatapnya kembali dengan bingung, apa yang diucapkannya.

"dokter bilang usiaku tak akan lama.." isakannya menjadi makin kencang menjadi tangisan, aku terpaku menatapnya, pikiranku mendadak kosong hingga aku terduduk lemas kutatap ia yang terus menangis.

dalam waktu 4 bulan ini.. ijinkan aku bersama Jaehyun.. ijinkan aku bersamanya..kumohon" aku menatapnya tak percaya, kali ini air mataku ikut jatuh, aku baru menyadari, betapa aku menyayangi Ten.. "aku tak akan lama lagi, Doyoung-a hanya 4 bulan aku dapat bertahan, jadi kumohon"

"Ten-a.."ucapku, dengan suara serak

"ijinkan aku bersamanya, aku tak akan memohon lagi.. hanya ijinkan aku mencintainya sampai.." ia berhenti sejenak, menghapus airmatanya.

"sampai akhir hidupku.. ijinkan aku bersamanya" pintanya sambil berlutut kembali dihadapanku, aku menutup mulutku dan membiarkan tangisanku membuncah keluar, sungguh aku tak sanggup melihatnya seperti ini.

"mianhae Doyoung-a, aku meminta ini tapi.. tapi aku.. aku benar – benar t-tak sang…gup…" ucapannya terhenti, ia jatuh dihadapanku sambil memejamkan matanya, aku menatapnya kaget lalu berlari menghampirinya dan memeluk tubuhnya segera.

"Ten.. hey Ten."


aku menatap Ten yang masih tak sadarkan diri, selang infuse dan oksigen terpasang di tubuhnya, pikiranku tiba – tiba terasa kosong saat itu.

"Doyoung-ssi Terima kasih .. untung kau segera membawanya kesini kalau tidak, Bibi tak tau apa yang akan terjadi" aku hanya mengangguk mendengar ucapan eomma Ten padaku.

"dia sebenarnya sudah tau tentang penyakitnya sudah sangat lama, dokter bahkan mengatakan dia seharusnya sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi itu tak terbukti dan dia tetap hidup dan sangat ceria sekarang, tak akan ada orang yang mengira ia sakit seperti ini.."ucap eomma Ten sambil tersenyum melihat kearah anaknya.

"mungkin itu sebuah keajaiban, saat dia mengenal Jaehyun dia tak pernah mengeluh sakit lagi bukan karena ia tak merasakannya tapi karena ia mencoba menjadi kuat, menjalani hidupnya dengan senang karena itu dia bertahan, tapi.. penyakitnya kambuh lagi sekarang.. bahkan kondisinya lebih parah daripada sebelumnya tapi anak itu bersikeras tak mau berobat dan tetap memilih bermain diluar, dasar nakal" sekarang matanya berkaca – kaca menahan sedih.

"dokter kembali mengatakan kalo usianya hanya 4 bulan lagi, bibi tak ingin percaya lagi bibi berharap keajaiban terjadi seperti dulu saat Jaehyun bersamanya, bibi hanya ingin dia dapat melewati bangku sekolahnya, bibi benar - benar hanya ingin dia bahagia, hanya ingin itu" aku segera memeluk eomma Ten yang kini terisak, aku tak tau Ten menderita seperti itu dan aku tak sadar betapa pentingnya Jaehyun bagi dirinya.

Tiba – tiba terdengar sebuah langkah kaki berderap disusul Jaehyun yang masuk dan langsung menghampiri tubuh Ten yang masih terbaring lemah tak sadarkan diri, ia menggenggam tangan Ten dan mencium keningnya dapat kulihat tubuhnya bergetar dan nafasnya tersenggal – senggal, sepertinya dia tak melihatku.

"Ten..hey... bangunlah, aku sudah disini, Ten maafkan aku.."ucapnya lembut ditelinga Ten, aku ingin menangis lagi melihat itu, masih ada rasa sakit dihatiku, sakit yang amat sangat.

Aku segera melepas pelukanku dari eomma Ten dan berpamitan pulang, aku berhenti disebuah lorong kusandarkan tubuhku didinding dan perlahan – lahan aku terduduk di lantai, tak peduli pandangan orang – orang yang melewatiku.

"kenapa jadi seperti ini.." bisikku lemah. "kumohon..jangan membuat Ten menderita seperti ini, aku menyayanginya..maafkan aku" isakanku kini berubah menjadi tangisan kepedihan.

"jangan ambil sahabatku.. jangan buat aku tak bisa memiliki siapapun lagi, bahkan cintakupun aku tak sanggup memikirkannya saat ini... aku sangat takut.." doaku.


Apa yang terjadi sekarang..?, kenapa semuanya menjadi sangat menyedihkan seperti ini, sebenarnya ini salah siapa..?, salahku kah yang secara tak sengaja memisahkan dua orang yang saling mencintai dengan kehadiranku ataukah salah dia yang mencintai pria yang sudah menikah atau juga salah Pria itu yang tak bisa menentukan hatinya untuk siapa.

Aku terus bertanya – tanya dihatiku, apakah aku harus melepaskannya atau aku harus menahannya.. 4 bulan.. apa kah itu cukup untuk membuat semuanya berubah atau apakah perasaanku lah yang akan berubah, aku tak tau.. lalu bagaimana dengan Taeyong, dia yang menemaniku selama ini, apa dia tau tentang sakitnya Ten, apa dia akan menyerah dan berusaha menemani orang yang dicintainya sedangkan aku apakah aku akan menyerah sekarang.

Aku masih termangu saat sebuah tangan menyentuh pundakku dengan segera aku menoleh, Jaehyun sudah ada di sampingku ia menatapku dengan matanya yang penuh kelelahan, aku tau dia sangat terluka sekarang.

menatap wajahnya yang pucat, ia terlihat sangat lelah dan sejak kejadian Ten tak sadarkan diri tadi malam hingga siang ini, ia baru kembali dari rumah sakit.

"kau sudah pulang..?" tanyaku pelan berusaha menahan rasa sakitnya hatiku, ia hanya mengangguk lalu duduk disampingku.

"kau ingin istirahat, aku akan membuatkanmu makanan hangat.." ucapku agak khawatir melihat betapa pucatnya dia, aku ingin bangkit dari tempatku tapi Jaehyun menahan tanganku.

"aku tak apa, kau disini saja… "pintanya lirih, aku hanya mengangguk lalu duduk kembali.

"kurasa aku bodoh.." ucapnya tiba – tiba, aku hanya mengeritkan kening tak mengerti.

Jaehyun menatapku dengan ekspressi yang tak dapat kuterka

.

"aku ternyata secara tak sadar telah jatuh cinta padamu.." aku tertegun, ia kembali meraih tanganku lalu membaringkan tubuhnya di pangkuanku membuatku makin tak bergerak ditempatku, aku terlihat seperti orang bodoh saja sekarang.

"melihatmu bersama Taeyong membuatku tak bisa bernafas, aku merasa aku ingin memukulnya mendorongnya agar tak menyentuhmu, tapi… aku malah menyakitimu membuatmu menangis entah sampai kapan…dan membenci Taeyong tak menghasilkan apa – apa untukku, aku seperti anak kecil yang tak mau miliknya diambil orang lain tapi malah menyia – nyiakan miliknya sendiri" kali ini aku memberanikan menatap matanya, ia terlihat sangat lemah apa dia merasakan apa yang kurasakan.

"Tapi aku benar – benar tak bisa menjadikanmu milikku sekarang Doyoung-ah walaupun hatiku sangat menginginkanmu, Ten…Ten lebih membutuhkan aku saat ini, akupun ingin menjaganya sepenuh hatiku menjauhkan semua yang dapat membuatnya terluka.. bahkan menjauhkan perasaanku darimu sekarang.." ucapnya lagi dengan pelan lalu tangannya menyentuh rambutku dan memainkannya.

"untuk saat ini ijinkan aku begini, karena mulai besok aku tak akan dapat lagi" ucapnya lemah,aku kembali dikuasai rasa ingin menangis lagi, kenapa aku sangat cengeng.

"kau tahu…?, entah mulai kapan aku menyadari rasa sukaku pada Ten adalah rasa yang lain kadang aku pikir itu cuma rasa cinta kepada seorang saudara dan saat kau hadir semuanya berubah, membuat perasaanku yang belum pasti itu menjadi pasti, aku memang menyukaimu…" lanjutnya lagi perlahan, sambil menatapku aku hanya dapat menundukan wajahku, airmata lagi dan lagi menetes pelan dipipiku, tapi ini bukan kesedihan, aku sangat bahagia ternyata dia juga menyukaiku.

"aku benar – benar menyukaimu..bukan…. yang benar … aku benar - benar jatuh cinta padamu" ucap Jaehyun sambil mendongak menatap wajahku yang terus dibanjiri airmata, ia membelai pipiku lembut lalu menghapus airmata itu.

"sampai aku bisa mengungkapkan semuanya kepada dia dan juga kepadamu.. sampai aku dapat mengungkapkan dengan bangga bahwa kaulah yang kucintai… bahwa kaulah istriku..tapi saat ini bisakah kau bertahan.. bisakah kau menunggu untuk aku menyelesaikan semuanya dulu..aku tak ingin bercerai..aku ingin kau menungguku..bila kau masih mencintaiku"

Aku semakin terisak.. bisakah aku.. bisakah aku menunggu…?


Aku berjalan memasuki kelas, rasanya aku lelah sekali, semua yang menyapaku tak kupedulikan, aku lebih memilih duduk manis dan berdiam diri ditempat sembari memandang siswa – siswi yang sedang melakukan kegiatan mereka masing – masing.

"kau sudah datang " tegur seseorang yang sangat kukenali suaranya, aku menoleh dan melihat Jaehyun yang sudah duduk disampingku, ia balas menatapku lalu mengalihkan pandangannya ke depan aku hanya mengangguk lalu memilih untuk kembali merenung diri.

aku jadi teringat semua percakapan kami kemarin, ia mengatakan dia mencintaiku.. rasanya saat itu jantungku memompa sangat kencang, rasa bahagia menyusup dihatiku, tapi.. tetap saja.. aku tetap harus melupakannyakan setidaknya untuk saat ini.

"baby..!" aku menoleh kearah pintu masuk kelas, Taeyong sudah berdiri dan melambai – lambaikan tangannya kearahku, aku segera bangkit berdiri dan hendak menuju kearah Taeyong, tapi Jaehyun malah menahan tanganku.

Aku menatapnya kaget, tapi ia tak balas menatapku kualihkan pandanganku kearah Taeyong, yang sekarang matanya tak lepas dari genggaman tangan kami berdua.

"Jaehyun-ssi lepaskan.."pintaku lirih, Jaehyun tetap diam menunduk tak menatapku tapi tak juga melepas tanganku, Taeyong langsung berjalan kearahku dan melepaskan genggaman tangan Jaehyun kasar, lalu menarikku pergi dari situ, aku hanya dapat diam mengikutinya, sekilas aku menoleh pada Jaehyun yang masih menunduk entah apa yang ada dipikirannya sekarang.

Taeyong terus menarikku hingga di sebuah lorong ia melepas genggamannya dan menatapku tajam.

"tadi itu apa..?" tanyanya pelan aku mengerutkan keningku heran

"apa maksudmu…?" tanyaku tak mengerti, Taeyong tersenyum sinis, lalu mendorong tubuhku hingga merapat kedinding, ia lalu mengurungku dengan kedua lengannya dikanan kiri pundakku, aku menatapnya makin tak mengerti.

"kau benar – benar tak tau..?, tadi itu apa..?, kenapa Jaehyun menggenggam tanganmu seperti itu…kau bilang kau akan melupakannya kan..?" aku dapat mendengar nada amarah dalam tiap ucapannya. Aku mendorong kedua tangannya hingga lepas dari pundakku.

"bukan apa – apa, aku akan kekelas sekarang, sebentar lagi masuk" jawabku malas lalu meninggalkannya, tapi Taeyong malah menghadang arah jalanku.

"apa maumu..?" tanyaku kesal sambil menatapnya, ia balas menatapku dengan marah.

"aku belum selesai bicara.. kau sudah janji akan melupakannya, apa kau lupa itu, lalu mengapa sekarang kau membiarkan dia memegang tanganmu seperti tadi" sekarang nada Pria itu makin meninggi, membuat emosiku yang sedari tadi tertahan memuncak sudah.

"itu bukan urusanmu..!, jangan melarangku seperti itu, aku memang kekasihmu tapi kau tau yang kusukai Jaehyun dan lagipula kau menyukai Ten kan…?, lalu kenapa kau jadi semarah ini padaku.." ucapku keras, Taeyong menatapku semakin marah, ia langsung meremas rambutnya seperti orang tak sadarkan diri, aku menatapnya takut saat ia kembali menatapku.

"aku…? Marah kenapa..?" tanyanya sambil menunjuk pada dirinya sendiri

"apa kau tak tau mengapa aku marah seperti ini.. apa sikapku sama sekali tak membuatmu mengerti.. apa selama ini kau tak juga mengerti…?" ucapnya tak kalah keras, hingga aku terpaku karena bentakanya, ini kedua kalinya dia semarah ini denganku.

"Taeyong..?. jangan seperti ini.." ucapku berusaha menenangkannya, tapi Taeyong menepis tangaku dan memilih meninggalkanku, aku hanya dapat terdiam mematung melihat punggungnya yang makin menjauh.

"kenapa dia semarah itu..?"tanyaku pada diri sendiri "apa dia sudah tau tentang Ten..?" kemungkinan itu tak dapat kusingkirkan, Ten sekarang sedang dirumah sakit, bisa saja Taeyong mengetahui hal itu hingga dia menjadi se'emosi tadi karena yang kutahu yang dapat membuat dia semarah itu hanya Ten.

"maaf Taeyong-a" bisikku pelan, lalu kembali ke kelasku.


"Hyung.. Jaehyun hyung kemana..?" Tanya Mark padaku, sambil menghampiriku yang sedang termenung di balkon kamarku dan Jaehyun.

"kerumah sakit.." jawabku singkat, Mark ikut bersandar di pagar balkon, ia terus – terusan menatapku membuatku merasa jengah, aku saat ini tak mau bertengkar dengannya.

"kau ini bodoh ya Hyung" aku menatap Mark yang tersenyum mengejek, aku benar – benar malas meladeninya saat in, aku ingin berbalik pergi tapi Mark menghalangi langkahku dengan ucapannya.

"kau tak cemburu..!" aku terdiam lalu membalikkan badanku menghadap Mark yang juga sedang menatapku.

"untuk apa..?' tanyaku lirih, Mark kembali tersenyum kecil ia menatapku seolah aku ini anak kecil yang sedang berbohong kepadanya.

"Hyung kau benar – benar polos.." ucapnya sambil tertawa kecil, aku hanya dapat mengatupkan bibirku kesal.

"ya.. jelas saja kau harus cemburu, dia suamimu kan.. dan saat ini dia lebih memilih bersama Pria lain daripada bersamamu, kasihan sekali" aku tetap terdiam menatap Mark yang tetap tertawa,menganggap semua yang kualami itu lucu.

"kupikir itu bukan urusan anak kecil sepertimu."jawabku kesal, Mark kembali tertawa tapi kali ini tawa itu terlihat mengerikan, ia berjalan kearahku lalu memegang ujung rambut panjangku.

"anak kecil..lucu sekali kita hanya berbeda tiga tahun" ucapnya sambil tersenyum sinis "kau yang anak kecil Hyung, tanpa kau sadari kau yang menyebabkan banyak orang terluka.. menyerah saja kau tak akan dapat bertahan lebih dari ini, Jaehyun hyung milik Ten Hyung, tak bisakah kau mengerti itu" ucapnya tajam, aku menepis tangannya dari rambutku.

"kenapa.. apa kau juga menyukai Ten.."tanyaku sambiil tersenyum sinis, Mark menatapku kaget.

"kasihan sekali.. kau tak akan mendapatkan Hyungmu itu, aku heran mengapa semua orang selalu jatuh cinta pada Ten, jujur aku iri padanya dan kau.. daripada mencari masalah denganku lebih baik mengejar cintamu itu.." lanjutku lalu berbalik meninggalkan Mark, tak peduli bagaimana reaksi anak itu atas apa yang kukatakan


Aku ingin berjalan kekelas, istirahat siang sudah hampir berakhir tapi langkahku terhenti saat mataku menangkap seseorang yang tersenyum manis padaku,

Ten..

jantungku langsung berdegub kencang melihat wajah pucatnya.

"apa kabar.." sapanya lemah, aku tetap diam menatapnya, ia berjalan menghampiriku lalu memeluk tubuhku aku mengernyit tubuhnya terasa panas.

"kenapa..? kau sudah tak apa apa..?" tanyaku dengan suara bergetar, Ten menggeleng kecil.

"aku baik - baik saja. 2 bulan lagi ujian akhir, aku harus lulus bersama kalian kan.. setidaknya aku akan lulus SMU, walau tak mungkin aku kuliah bersama kalian tapi aku akan bersamamu 3 bulan ini" ucapnya lembut, aku menatapnya sedih, 4 bulan lagi… aku tak pernah percaya akan hal itu, Ten adalah Pria yang kuat dia tak mungkin..

"Doyoung-ah, bisakah kita lupakan masalah kita hanya untuk 3 bulan ini.. haah.. maksudku 4 bulan ini.. hemmm rasanya aku tak percaya usiaku hanya 4 bulan lagi hahaha., setidaknya aku akan menghabiskan masa smu selama sebulan ya kan.. lulus smu 3 bulan, sebulan bersenang-senang, pasti tak akan ada penyesalan kan.." ucapnya sambil tetap tersenyum, tapi aku tau ia tak setenang itu, matanya menunjukan kesedihan yang amat sangat.

"tentu saja, aku akan tetap bersamamu dan Jaehyun.. Jaehyun juga akan bersamamu" ucapku sambil berusaha tersenyum, senyum Ten tampak memudar saat aku mengucapkan nama Jaehyun.

"Terima kasih Doyoung-a.. dan maafkan aku.." ucapnya lirih, aku balas tersenyum aku sudah berjanji akan merelakan Jaehyun untuk kebahagian Ten, setidaknya untuk saat ini...


Sudah 2 bulan sejak hari itu, semua berlangsung dengan baik – baik saja, Ten juga baik – baik saja walaupun ia sering pingsan dan masuk kerumah sakit berkali – kali tapi ia tetap dapat berjuang, aku sering sekali menangis melihat dia yang terkadang memaksakan diri seperti ini.

dan Jaehyun.. kami tetap menjalani pernikahan secara berpura – pura, berusaha membuat semuanya berjalan sempurna, seolah kami bahagia saat ini, kadang aku merasa sakit sekali saat melihatnya bersama Ten, tapi senyum Ten yang bahagia membuatku tetap harus menahan rasa sakit ini, aku tetap bersama Taeyong, ia sangat baik dan memperhatikanku, kadang aku merasa bersalah padanya tapi hatiku tetap tertuju pada Jaehyun dan tak akan semudah itu beralih padanya.

Mark.. dia tetap berusaha membuatku sakit hati, entah sampai kapan dia akan mengakhiri ini.

"jangan melamun terus, ini minum.." aku menerima minuman dingin yang diberikan Jaehyun padaku, saat ini kami sedang berada di taman keluarga Taeyong, belajar bersama seperti itulah.

"aku benar – benar tak mengerti ini.." ucap Taeyong kesal, sambil menunjukan soal kimia padaku, aku tersenyum kecil Taeyong pintar di pelajaran apapun kecuali kimia, katanya itu ilmu yang tak seharusnya ada di seluruh dunia

"sini kuajari, jangan ganggu Doyoung " ucap Jaehyun sambil menariknya menjauh dariku, aku hanya tersenyum melihat itu, Jaehyun sudah mulai menunjukan persahabatan pada Taeyong, aku menoleh pada Ten yang tetap terpaku pada buku yang dibacanya.

"kau mau minum dulu " tawarku padanya, Ten tersenyum kecil mengambil minuman yang tadi ditawarkan Jaehyun padaku.

"terima kasih.."ucapnya pelan, aku memperhatikan wajahnya yang tampak pucat kusentuh lengannya ternyata dia panas sekali.

"kau sakit lagi, bagaimana kalau kita pulang saja, kau harus istirahat ya.." Ten menggeleng kecil.

"aku tak apa" jawabnya lemah, membuatku merasa sangat khawatir padanya, tapi aku tak bisa memaksanya, ia mungkin akan marah kepadaku kalau aku memaksanya istirahat.

"baiklah.." jawabku, tiba – tiba handphoneku bergetar pelan, aku melihat yang menelponku ternyata Mark.

Untuk apa dia menelponku..?

"hallo" jawabku malas

"Hyung…mana Jaehyun hyung kenapa dia tak mengangkat telponnya" aku mengerutkan kening, kenapa Mark berbicara dengan suara serak seperti itu, habis menangis..?

"aku tak tau,apa kau ingin bicara dengannya.."

"tidak… Hyung kau bilang pada Jaehyun hyung, kalian harus kerumah sakit P, paman masuk rumah sakit baru saja katanya jantungnya kumat" aku membelalakan mataku kaget, lalu mematikan telponku dan menghampiri Jaehyun yang sedang mengajari Taeyong.

"Jaehyun kita harus pergi, Appamu masuk rumah sakit" ucapku panic, Jaehyun tampak terkejut, lalu berdiri tanpa bicara apapun ia langsung berlari pergi, aku menatapnya bingung lalu menatap Taeyong dan Ten yang juga tampak terkejut.

Kami bertiga memutuskan untuk mengejar Jaehyun kerumah sakit.

Tapi sesampainya dirumah sakit itu, semua sudah terlambat, aku dapat melihat Jaehyun yang menundukan wajahnya disamping jenasah Appanya, ia menangis dalam diam, aku berjalan pelan menghampirinya, kusentuh pundaknya lembut, airmata menetes dipipiku kutatap wajah tenang Appa Jaehyun yang terpejam.

"Appa.." bisik Jaehyun serak, aku menutup mulutku menahan tangis yang semakin menyesakan dadaku.

Ten dan Taeyong hanya tepaku dipintu masuk, aku dapat meihat Ten yang juga mulai menangis, ia berjalan menghampiri Jaehyun dan merangkul pundaknya dan Jaehyun langsung memeluknya, aku menatap itu dengan hati sakit, tapi ini bukan saatnya aku cemburukan.

"Hyung.." aku menoleh dan melihat Mark yang menangis diampingku, ia menghapus airmatanya, membuatku semakin ingin menangis.

Kutatap wajah Appa Jaehyun yang tetap terpejam, aku tak bisa menahan semuanya, setelah ini apa yang akan terjadi.


Aku menghempaskan tubuhku disofa rasanya mataku bengkak karena terlalu banyak menangis, kami baru saja pulang dari pemakaman Appa Jaehyun.

Kutatap Jaehyun yang duduk diam disampingku, rasanya hatiku pedih sekali melihatnya seperti itu.

"Doyoung-a.." Jaehyun menyebutkan namaku dengan pandangan yang bahkan tak tertuju padaku.

"ya…" jawabku pelan.

"mari bercerai.."

rasanya saat itu ribuan pisau menyerang jantungku, aku terdiam terpaku, menatap Jaehyun, tapi Pria itu, hanya diam tak menatapku

"apa yang.."

"kita bercerai.. aku akan mengurusnya setelah ini.." aku menatap Jaehyun pedih rasanya aku tak percaya dia mengucapkan itu, airmata menetes dipipiku

dengan mulusnya

"kenapa..?" tanyaku, tapi Jaehyun hanya diam tak menatapku.

"kau.. kau bahkan tak lupa dengan perjanjian kita.. kenapa.. padahal kau katakan kau mencintaiku dan memintaku menunggu.. tapi kenapa..kenapa kau ingin bercerai denganku" ucapku lemah, airmata terus mengalir dipipiku. Jaehyun tetap diam, aku memegang pipinya dengan kesal

"tatap aku.. apa kau tak mencintaiku lagi.." tanyaku terus menangis, Jaehyun menatapku dengan pandangan kosong.

"aku mencintaimu Jaehyun-a, aku akan bertahan seperti ini..aku tak ingin bercerai aku mohon" Jaehyun hanya diam, kutatap matanya yang menatapku, dapat kulihat embun kesedihan dimatanya.

"aku akan bersama Ten setelah ini. Aku akan menemaninya, aku tak mau menyesal dengan tak melihat dia disampingku saat dia pergi nanti aku ingin aku tetap menemaninya.." ucapnya datar, ia melepaskan genggaman tanganku dan berjalan pergi meninggalkanku yang terus menangis.

"Hyung.." aku melihat Mark yang ternyata sedang memperhatikanku dari pintu kamarnya, ia mungkin mendengar semuanya tadi.

"kau puas..?" tanyaku pada Mark yang tetap diam " KAU PUAS..!, ini yang kau inginkan kan.. aku bercerai dengan hyungmu… apa kau puas… kami akan bercerai setelah ini.." bentakku marah, rasanya kesabaranku sudah habis sekarang.

Mark berjalan menghampiriku dan memegang tanganku tapi dengan kasar kutepis, aku segera berdiri, emosiku memuncak sudah.

"jangan menyentuhku, kalian semua sama saja..kau.. Jaehyun.. kenapa kalian senang melihat orang bersedih, kenapa…" isakku pelan.

"Hyung…" Mark terus berusaha menenangkanku, tapi aku sudah terlanjur marah sekarang.

"kenapa… kau menyukai Ten kan.. pergilah kejar dia dan kembalikan Jaehyun padaku.. semua menyukai dia kan.. tak ada yang benar – benar menganggapku ada kan… semuanya selalu tentang Ten dan Ten…" jeritku marah, Mark balas menatapku kali ini ia terlihat sangat marah padaku

"jangan menatapku seperti itu… kau pikir siapa.." ucapan ku terhenti saat Mark memelukku erat, aku membulatkan mataku kaget dengan apa yang baru saja terjadi, dan saat aku tersadar aku berusaha berontak dalam pelukannya , tapi ia malah mengeratkan pelukannya padaku.

"kenapa.. kenapa Hyung selalu bicara seperti itu, aku tak menyukai Ten Hyung, aku menyukaimu Hyung, aku menyukai Doyoung …" aku semakin terpaku saat Mark mengucapkan itu, bukannya selama ini dia jahat padaku.

"aku mencintaimu Hyung, aku memang dulu sangat membencimu, karena Jaehyun hyung , tapi seiring berjalannya waktu, aku malah jatuh cinta padamu.. jatuh cinta pada orang yang selama ini kubenci, aku benci melihat Jaehyun hyung yang baik padamu dan aku lebih membenci Taeyong yang menjadi kekasihmu, hingga membuatku terus menjadi jahat padamu…" aku tetap terdiam, airmata terus menetes dipipiku.

"bercerailah dan jadilah milikku Hyung.. aku mohon.." ucap Mark pelan.

Cerai..

aku mengingat kata itu lagi, kemarahanku kembali memuncak, aku melepaskan diri dari pelukan Mark dan berlari pergi sempat kudengar suara Mark yang memanggilku, tapi aku tak peduli aku terus berlari entah kemana aku tak tau.


Udara malam yang dingin dan rintik hujan turut mengiringi airmataku, aku membaringkan tubuhku dipasir, saat ini aku berada dilaut entah bagaimana aku bisa kelaut ini, aku tak peduli lagi.

Kutatap langit malam yang bahkan tak berbintang. Sekarang rasa hati ini jauh dari kebahagian, yang ada hanya rasa benci dan benci.

"kenapa…" bisikku serak, aku sudah terlalu banyak menangis hari ini. Kenapa semuanya jadi seperti ini, handphoneku bergetar pelan, entah yang keberapa kalinya. Kutatap nama dilayar itu, Taeyong.. dengan pelan kuterima telpon itu

"ha…"

"Kau dimana…..?" terdengar suara keras Taeyong memutuskan ucapanku.

"tae… aku tak ingin pulang sekarang" ucapku lemah, hening…

"Tae..?" panggilkku lagi.

"kau dimana..?" Tanya Taeyong, kali ini dengan suara yang dibuat berusaha tenang.

"dilaut.." jawabku pelan, lalu mematikan telponku, kembali handphoneku bergetar kuraih benda itu, Taeyong lagi.

Aku tak mengangkatnya.

Hanya diam menatap langit malam, handphoneku bordering lagi, aku melihat nama itu..

Ten… untuk apa dia menelponku..

"aku benci padamu Ten… aku sangat membencimu…." Jeritku sambil berdiri dan melempar handphoneku kedalam laut


"Doyoung.. Doyoung..! kau dimana.." aku menoleh dan melihat cahaya senter dikejauhan, mereka sudah menemukanku..

Aku menatap cahaya yang makin mendekat itu dan tersenyum sinis lalu membaringkan tubuhku kepasir yang basah dan memejamkan mataku, membiarkan air laut membasahi tubuhku.

"Doyoung. Kau di….!, yaaa… Doyoung-a.." suara Taeyong memanggilku, mereka sudah menemukanku dapat kudengar suara langkah Taeyong menghampiriku, ia langsung memeluk tubuhku.

"Doyoung… kau tak apa," ucapnya suaranya terdengar panic, aku membuka mataku perlahan, kutatap Taeyong yang juga menatapku, ia menghembuskan nafas lega.

"kau baik – baik saja..?" tanyanya, ia membantuku berdiri aku menatap Taeyong dingin, kenapa ia sebaik ini bukannya dia suka pada Ten.

"Doyoung-a kau baik – baik saja, kami mencarimu ditiap laut didekat sini.. aku sangat khawatir" aku tertegun saat mendengar suara Ten, aku menoleh melihatnya yang langsung memelukku.

"jangan begini lagi, ayo kita pulang.." ucapnya terisak kecil, Ten memegang tanganku dan memakaikan jacket padaku, aku segera menepisnya dan melagkah dengan lunglai, aku melihat Jaehyun yang juga sedang menatapku, ia tampak khawatir.. untuk apa khawatir, bukannya kalau aku tak ada bebannya akan hilang.

"Doyoung-ah, jangan seperti ini, ayo kita pulang.." ajak Ten lagi aku tau ia mencoba sabar, tapi aku kembali menepisnya, ia menatapku heran.

"kau kenapa..?" tanyanya, aku tersenyum sinis

"aku..kenapa.." geramku lalu dengan sekuat tenaga aku mendorong Ten hingga ia terjatuh,

Jaehyun dan Taeyong tampak terkejut melihat apa yang kulakukan pada Ten.

"hey…! Apa yang kau lakukan.. Ten Kau baik – baik saja.." bentak Jaehyun sambil berlari menghampiri Ten dan membantu Pria itu berdiri aku tersenyum sinis melihat semua itu.

"ya.. ada apa denganmu.." ucap Taeyong hati - hati, ia memegang tanganku tapi pandanganku tak teralihkan dari Ten, ia juga menatapku kaget.

"kenapa.?" tanyanya sedih.

"kenapa…?, hahahaha lucu sekali.." jawabku sambil tertawa mengejek, aku dapat melihat semua pandangan heran yang tertuju padaku.

"kenapa.. kenapa selalu semua tentangmu Ten… , kenapa bukan aku.. kenapa semua menyukaimu, kenapa bukan aku…" ucapku keras, Ten membesarkan matanya karena kaget.

"kenapa kau mengambil semua yang kusayangi, bahkan orang yang kucintaipun lebih memilihmu.." jeritku, kemarahan kini keluar sudah.

"kau tau.. aku selalu berusaha menahan semuanya sendirian, menangis sendirian.. karena semua yang kusuka selalu beralih padamu…" aku melihat Jaehyun yang menatapku tak percaya.

"kalian semua lebih menyukainya kan… kalau cuma kasihan padaku jangan mendekatiku…!" Ten berjalan pelan kearahku, airmatanya menetes dipipinya.

"Do.. Doyoung-a aku…"

"jangan dekati aku…" bentakku, marah, Ten menghentikan langkahnya.

"kau tau Ten…aku membencimu.. AKU SANGAT MEMBENCIMU TEN..!" bentakku keras, Ten menatapku sedih begitupun Jaehyun dan Taeyong.

"apa yang kau katakan.." Tanya Jaehyun dengan marah, aku menatap Pria itu penuh kebencian.

"kau juga.. kau mengatakan kau mencintaiku.. tapi kau bohong kan…!" jeritku keras, Jaehyun terdiam menatapku, Taeyong dan Ten menatap Jaehyun heran.

"kau tak pernah mencintaiku.. padahal aku mencintaimu.. sangat.." ucapku serak, airmata mulai menetes dipipiku.

"tapi kau lebih memilihnya dari padaku.. kau ingin bercerai.. okay…mari kita bercerai…." aku menatap kearah Ten yang sedang menangis.

"kau puas sekarang...aku benar – benar membencimu…"desisku.

"aku tak ada maksud membuatmu seperti ini.." isak Ten, aku kembali tertawa ditengah tangisanku.

"mulai sekarang jangan muncul dihadapanku.." ucapku tajam.

"aku tak ingin melihatmu lagi mengerti… aku tak akan peduli lagi dengan semua tentangmu dan Jaehyun.. jadi jangan muncul dihadapanku lagi.." ucapku kali ini dengan nada meninggi.

"SEHARUSNYA KAU MATI SAJA SECEPATNYA TEN, KAU MATI SAJA….!"


A/N : supriseee.. hari ini lagi good mood banget heheheh makanya updatenya lebih cepat... owwww jadi sekarang siapa yang jahat ya.. memang sifat mereka itu berubah - ubah ya... ga jadi angst masih di chap berikutnya hahahah... JANGAN LUPA REVIEWS