DELIVERY SERVICE

[ CHAPTER 10 ]

EXO FAN FICTION

By kwondami

CASTS: ALL EXO MEMBERS

GENRE: Romance, Friendship, Humor

RATING: T

LENGTH: Chaptered

WARNING: Shounen-ai, Boy x boy


.

.

Awan hitam bergelayut di langit Seoul. Titik-titik air mengguyur permukaan tanah dengan beriringan, menciptakan genangan air di jalanan. Orang-orang berlalu-lalang dengan payung terkembang sambil merapatkan jaket. Tetapi langkah mereka kemudian terhenti ketika mencium aroma lezat yang datangnya dari sebuah kedai mungil.

Aroma tersebut memerintahkan otak untuk mengirimkan sinyal-sinyal lapar pada lambung. Aroma yang juga menarik dirimu untuk mendorong sebuah pintu kayu dengan lonceng mungil nan merdu.

Hangatnya perapian langsung menyapa ketika kau melangkahkan kakimu masuk. Di antara cuaca lembab dan angin dingin menerpa, sebuah perapian sengaja dinyalakan untuk memanjakan tubuh-tubuh yang menggigil.

Hujan deras yang turun sejak pagi membuat corn soup kedai pizza EXO laris manis diborong pelanggan. Kebanyakan dari mereka datang dengan boots penuh lempur hingga membuat pekerjaan Luhan menjadi dua kali lebih berat. Lantai harus selalu bersih mengkilat meskipun saat jalanan becek sekali pun. Maka pemuda manis ini akan setia di depan pintu masuk dengan gagang pel di tangan, melakukan tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh. Kris sungguh beruntung memiliki pegawai yang telaten seperti Luhan.

Jam di kedai berdentang sepuluh kali. Namun demikian, hujan belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Para pegawai kedai pizza EXO yang hendak pulang jadi tertahan di dalam kedai.

"Hoaaahhhmmm... Aku rindu kasurku." Chanyeol menguap lebar sambil menghempaskan punggungnya pada sofa.

"Aku rindu Kyungsoo..." tukas Jongin meratap.

Pintu dapur terbuka, menampilkan Chen dan Xiumin dengan jaket terseleting sampa leher.

Xiumin telah kembali bekerja hari ini dan sejak pagi ia terus menempel pada Chen. Chen yang kemarin uring-uringan kini sudah kembali menjadi Chen yang normal.

"Kami pulang ya, sampai ketemu besok! Jaga kesehatan kalian jangan sampai terkena flu." Chen melambai pada kawan-kawannya kemudian membuka payungnya untuk melindungi dirinya dan Xiumin. Tidak lupa ia mengaitkan jari jemarinya pada jemari mungil kekasihnya.

Yixing tersenyum melihat kemesraan mereka berdua.

Yixing merapatkan jaketnya menahan dingin. Dia harus segera pulang karena Baekhyun pasti menunggunya. Tapi apa daya, jika nekat hujan-hujanan dia bisa sakit. Dia mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak lagi lupa membawa payung.

Yixing kemudan meraih ponsel dari dalam kantung jaketnya lalu memencet nomor telepon rumah untuk menghubungi adiknya. Telepon di seberang berdering. Baekhyun yang sedang meringkuk di balik selimut menyingkap selimutnya dengan enggan kemudian berjalan ke arah sumber suara.

"Yoboseyo?"

"Baekhyun, ini hyung. Aku akan pulang sedikit terlambat karena hujan sangat deras. Kau tidak apa-apa kan?"

"Ne... aku tidak apa-apa. Hatchiiiih!" Baekhyun mengusap hidungnya yang gatal.

"Apa kau sakit?" tanya Yixing khawatir.

"Ani hyung, aku hanya kecapekan karena tadi bermain sepak bola di sekolah. Aku tidak apa-apa. Cepatlah pulang."

"Baiklah, berhati-hatilah di rumah. Sampai nanti. Aku menyayangimu."

Klik. Telepon ditutup.

Yixing menghela nafas pelan. Dia berdoa agar hujan segera reda. Dia ingin segera pulang ke rumah. Sesosok pemuda berseragam pelayan kemudian menepuk pundaknya dari belakang.

"Ge, untunglah kau belum pulang."

"Sehunnie, ada apa?"

"Kau dipanggil bos ke ruangannya."

Mata Yixing melebar. "Eh? Sekarang?"

Sehun mengangguk.


.

.

.

Yixing mengetuk pintu ruangan Kris. Tidak biasanya ia dipanggil secara pribadi oleh bosnya itu. Tak lama kemudian Kris menyahut mempersilakannya masuk.

"Bos memanggilku? Apa ada yang bisa kubantu?"

Kris mengangguk singkat, "Duduklah."

Yixing segera mengambil posisi di seberang bosnya itu. Kris memutar-mutar kursinya kemudian berkata pelan, "Begini Yixing, langsung saja. Aku ingin mengirimmu ke forum koki masakan Italia sebagai perwakilan dari kedai ini. Acaranya dimulai besok dan akan berlangsung selama tiga hari di Busan." Ujar Kris to the point.

"Apa? Tapi kenapa aku?" Tanya Yixing bingung.

"Xiumin sudah mengambil cuti kemarin sedangkan Chen telah mewakili kedai ini di forum yang sama tahun lalu."

Yixing tergugu. "Bukannya aku menolak, tapi..." bayang-bayang tentang Baekhyun langsung melintas di kepala Yixing. "...aku tidak mungkin meninggalkan adikku sendirian."

Kris tampak berpikir sejenak, "Tapi forum ini sangat penting dalam rangka meningkatkan skill koki. Disana kau juga akan mendapat pelatihan dan masukan untuk meningkatkan kemampuanmu."

Bagaimana ini, apa tidak apa meninggalkan Baekhyun sendirian?

"Bagaimana, kau mau kan?" Kris mendesak. Sebenarnya dia juga tidak enak, tapi tidak punya pilihan lain. Kedai pizza EXO harus tetap mengirimkan perwakilan. "Oh ya tentu saja aku tidak memintamu secara cuma-cuma. Aku akan memberikan bonus, tenang saja," Kris menambahkan.

Mata Yixing melebar ketika mendengar kata 'bonus'. Bukan apa-apa, tapi ia memang sangat membutuhkan uang untuk persiapan uang pangkal Baekhyun masuk SMA.

"Aku mau," sahut Yixing cepat.

Kris mengangguk puas. "Ini tiket busnya. Pastikan kau sudah berada di terminal pada pukul tujuh pagi." Kris menyodorkan amplop putih berisi tiket bus. Yixing meraih amplop tersebut dan mendapati tiket pulang pergi tujuan Seoul-Busan.

Kris lantas menjelaskan apa-apa saja yang harus Yixing persiapkan sebelum berangkat.

"Jika masih ada yang ingin kau ketahui, kau bisa bertanya padaku atau Chen."

Yixing mengangguk paham lalu pamit mohon diri. Sekarang dia memikirkan bagaimana membicarakan hal ini dengan Baekhyun.


.

.

.

Untunglah hujan sudah agak reda. Kini hanya gerimis yang tersisa. Ia berpikir tak apalah ia sedikit kehujanan asalkan bisa cepat sampai rumah. Namun sesaat sebelum kakinya melangkah keluar, seseorang menahan tangannya.

"Di luar masih gerimis. Kau tentu butuh payung." Suho berdiri di samping Yixing dengan payung mengembang di atas kepala.

Yixing terkesiap. "Ah, gomawo..."

"Apakah kau keberatan jika aku mengantarmu pulang." Bola mata Suho menatap lekat pada jendela hati Yixing. Ada permohonan dalam nada bicaranya. Dalam hati Suho berdoa, semoga kali ini ia tidak gagal mengantar Yixing pulang. Lagipula tidak mungkin kan—adik Yixing—Baekhyun tiba-tiba datang di tengah hujan lalu menginterupsi mereka berdua.

"Apa tidak apa-apa jika kau mengantarku pulang?" Suho belum melepaskan pandangannya dari Yixing, membuat pemuda itu tersipu-sipu.

"Tentu saja."

Suho tersenyum sambil memutar-mutar gagang payung. Gelisah bercampur bahagia. Hatinya terasa gempita dan melambung. "Lagipula rumah kita searah," lanjutnya.

Suho berbohong. Sebenarnya rumah mereka sama sekali tidak searah. Yang akan Suho lakukan adalah mengantarkan Yixing pulang dengan selamat kemudian kembali ke kedai untuk mengambil motor lalu pulang menuju rumahnya sendiri. Namun itu tidak masalah. Itu semua bukan masalah besar karena kini ia tengah berpayungan berdua dengan Yixing.

"Gamsahamnida Suho-ssi," bisik Yixing lembut.

Sebuah ungkapan terima kasih sederhana yang terdengar merdu di telinga Suho.

Dalam hati ia bersyukur pada Tuhan karena telah menurunkan hujan malam ini. Mereka mulai berjalan beriringan menembus hujan. Sesekali Yixing merapatkan tubuhnya pada Suho untuk menghindari cipratan air. Suho menggigit bibirnya sebagai upaya meredam rasa bahagia yang meletup-letup.

Kini mereka duduk berdampingan di dalam bis.

Yixing mengalihkan perhatiannya pada rintik-rintik hujan yang membasahi jendela. Seberkas sinar membuat tetasan air tersebut berpendar kemudian kembali meredup. Pikirannya menerawang, bagaimana jika nanti Baekhyun menolak untuk ditinggal? Sejak kepergian orang tua mereka, Baekhyun menjadi sangat bergantung padanya.

"Uhm... Yixing-ah, boleh aku bertanya sesuatu?"

"Ne?" Yixing menoleh pada Suho yang duduk di sebelahnya.

"Mengapa nama keluargamu dan adikmu berbeda? Maksudku—kalian kan kakak beradik." Mendengar pertanyaan tersebut, raut wajah Yixing langsung berubah sedih. "Eh maaf jika pertanyaan ini terlalu pribadi. Kau boleh tidak menjawabnya. Aku pernah mendengar ini dari Chanyeol, jadi—yah karena aku penasaran, kenapa tidak aku langsung tanyakan padamu," Suho cepat-cepat menambahkan.

Yixing tersenyum simpul. "Tidak apa-apa, aku hanya sudah lama tidak membicarakan ini dengan orang lain. Jadi aku merasa sedikit aneh." Yixing menghela nafas panjang.

"Kau bisa percayakan padaku." Suho meyakinkan Yixing.

Yixing nampak ragu untuk memulai namun kemudian bibirnya bergerak. "Aku Zhang Yixing, lahir dan dibesarkan di China. Tentu saja kedua orang tuaku orang China. Keluarga kami memliki restoran bebek peking yang dikelola sendiri oleh ayah dan ibuku. Suatu hari, seorang pria datang dan makan di rumah makan kami. Ia terpesona pada kemampuan memasak ibuku. Pria itu pun lalu meminta pada ayahku agar mengizinkannya menyekolahkan ibu. Ternyata sekolah yang dimaksud adalah sekolah pendidikan koki masakan Italia. Ibuku yang memang berbakat lulus dengan baik. Pria tersebut kemudian merekrut ibuku untuk bekerja di restorannya yang ia dirikan di China. Setelah ibuku bekerja disana, jadilah hanya ayahku seorang diri mengelola restoran bebek pekingnya. Setelah itu Ibuku jadi sering pulang malam karena terlalu sibuk. Aku tidak pernah menyalahkan ibu karena sayang sekali jika talenta sebesar itu disia-siakan. Tapi dibalik itu, perubahan besar terjadi pada ayahku. Karena merasa ibu sudah tidak peduli padanya, ia jadi mabuk-mabukan dan sering membawa wanita. Ia bahkan sering memukulku kalau aku tidak menuruti perkatannya."

Kristal bening mulai menggenangi pelupuk Yixing. Suho buru-buru mengambil sapu tangan untuk menyeka kesedihan yang mengalir pada pipi pucat pemuda China itu. Ketika Suho mengarahkannya pada tempat dimana kristal bening itu meluncur, Yixing menepisnya dengan lembut. Saat itulah kulit mereka bersentuhan ringan. Hanya sekilas namun getaran yang dialirkan sontak membuat hati Yixing terasa hangat.

Di sampingnya, bola mata Suho masih menguncinya dengan pandangan memuja. Dalam jarak sedekat ini, Yixing menyadari jika Suho sebenarnya tampan. Kebaikan dan ketulusan seakan terpancar dari irisnya. Cepat-cepat Yixing memutuskan kontak di antara mereka. Mendapat hujaman memuja seperti ini membuat Yixing tertunduk malu.

Dengan getaran yang dirasa makin hebat, Yixing mencoba melanjutkan ceritanya, "Aku yang tidak betah di rumah karena terus-terusan disiksa lalu memutuskan untuk melihat sendiri tempat ibu bekerja. Saat itulah pertama kalinya aku mengenal pizza, pasta, lasagna, dan masakan italia lainnya. Ada suatu hari dimana aku berkesempatan melihat interaksi antara ibu dan pria itu. Ketika itu aku langsung menyadari ada percikan di antara keduanya. Di depannya ibu bisa tertawa bebas dan merasa nyaman. Saat itu juga aku tahu bahwa ibu telah jatuh cinta."

"Boleh kutebak, pria itu adalah—"

"—ya, dia adalah ayah Baekhyun."

Hujan kini telah berhenti digantikan oleh hembusan angin dingin. Tiupan angin menerobos melalui celah jendela, membelai tengkuk mulus Yixing. Yixing mengepalkan tangannya, ia merasa kedinginan.

"Apakah kau mau mendengar lanjutannya?"

Suho mengangguk halus, "Tentu saja, lanjutkanlah."

"Ayahku akhirnya mencium affair di antara mereka. Ibu kemudian diusir dan diceraikan—tentu saja. Pria bernama Byun Shiyoon tersebut kemudian menutup restorannya di China lalu menikahi ibu. Sebelumnya ibu bersikeras agar hak asuh jatuh ke tangannya dan ibu berhasil. Kami berdua pun diboyong ke Korea. Tidak lama kemudian Baekhyun lahir."

Yixing memeluk tubuhnya sendiri untuk menghalau dingin. Melihat itu Suho secara refleks melepaskan syal di lehernya kemudian dengan lemah lembut dan hati-hati mengalungkannya pada Yixing.

"Sudah merasa hangat?" Suho bertanya lembut. Yixing memberanikan diri untuk menatap iris Suho. Lagi-lagi ia melihat ketulusan yang tumpah ruah. Yixing tergetar. Sanubarinya tersentuh.

"Terima kasih." Yixing meremas-remas ujung jaketnya. Tubuhnya terasa dingin, namun berada di dekat Suho seperti berada di samping perapian. Hangat dan nyaman.

"Lalu apa yang terjadi setelah itu?"

Satu persatu penumpang bus mulai turun. Rumah Yixing ada di pemberhentian paling akhir.

Yixing kembali melempar pandangannya pada jendela yang basah. Ia menghirup nafas pelan sebelum melanjutkan, "Ketika Baekhyun lahir, ibuku menwarkan untuk mengganti nama keluargaku dengan nama Byun."

"Dan kau menolaknya?"

"Ya, kurasa dengan tetap menyandang nama Zhang, ini merupakan bentuk penghargaan seorang anak terhadap ayahnya. Bagaimanapun juga, ayahku sebenarnya orang baik. Aku ingat sekali perutnya yang tambun dan wajahnya yang jenaka." Yixing tersenyum kecil ketika mengucapkan kalimat terakhir ini. "Ia mulai berubah menyeramkan ketika ibuku meninggalkannya. Aku tidak pernah membenci ayahku walaupun ia suka memukuliku. Aku rasa dia hanya kesepian..."

Seketika sepi hadir di mata Yixing. Sepi merenggut seluruh binar di mata pemuda China tersebut.

"Tapi aku juga tidak bisa membenci ibu. Bukan salahnya jatuh cinta pada pria lain karena appa Byun adalah seorang pria yang sangat penyayang. Ia mencinta ibu dengan sepenuh hatinya. Dia tidak peduli pada status ibu yang pernah menikah dan telah memiliki anak. Ia juga sangat menyayangiku. Dia tidak pernah membedakan antara aku dan Baekhyun. Aku tidak bisa membencinya karena telah membuat ibu jatuh cinta."

Bahu Yixing berguncang lembut. Beberapa kristal bening jatuh bersusulan. Dengan sigap, Suho mengusap dengan ibu jarinya. Suho mengusapnya pelan—sangat pelan seakan-akan Yixing adalah gelas kristal yang rapuh.

Dari kisah yang ia dengar, Suho berkesimpulan bahwa hati Yixing sangatlah halus. Ia tidak bisa membenci siapapun. Ia tidak mau menyalahkan siapapun atas perceraian kedua orang tuanya. Ia mencintai ketiganya sekaligus; ayah kandung, ibunya, dan ayah tirinya.

Suho sungguh salut pada kepribadian Yixing yang begitu tulus.

"Suatu malam, kami sekeluarga berencana untuk merayakan kemenangan Baekhyun karena telah meraih juara satu dalam ajang festival menyanyi di sekolahnya. Kedua orang tua kami berencana untuk memasak masakan italia di rumah. Baekhyun sangat girang. Mereka bertiga pun pergi membeli bahan-bahan sedangkan aku menunggu di rumah menyiapkan semuanya. Kemudian..." Yixing terisak. Dia tak sanggup meneruskan. Semuanya terlalu pedih untuk diingat.

"Kemudian... kecelakaan itu terjadi. Kecelakaan yang merenggut kedua orang tuaku. Untunglah Baekhyun berhasil selamat setelah seminggu mengalami koma."

Yixing memejamkan matanya. Ingatannya melayang pada waktu pasca kecelakaan.

.

.

Bau obat-obatan tercium tajam...

Selang infus mengalir pada tubuh ringkih seorang anak laki-laki...

Di sampingnya Yixing tertidur dengan tangan menggenggam erat tangan adiknya.

Kelopak mata itu akhirnya terbuka...

"Appa... Umma..." Mulut kecil Baekhyun memanggil kedua orang tuanya.

Yixing sontak terbangun. "Baekhyun, kau sudah sadar? Kau akhirnya sadar. Aku akan segera memanggil dokter."

"Hyung, dimana appa dan umma? Kita kan sudah berjanji masak masakan Italian bersama-sama..."

Tangis Yixing meledak. Ia kemudian berkata di antara isak tangisnya. "Baekhyun—sayang—dengarkan hyung. Mulai sekarang hanya ada kita berdua. Mulai sekarang hanya ada hyung dan kau. Hyung berjanji tidak akan meninggalkanmu. Hyung berjanji akan selalu menjagamu. Mulai hari ini hyung adalah appa sekaligus umma untukmu."

"Hiks—aku tidak mau—hiks—aku mau appa... aku mau umma... mereka sudah berjanji... hiks."

Yixing mengenggam tangan adiknya. Ia pun tak kuasa menahan tangis. Ia tak punya kata-kata hiburan atau pengharapan untuk disampaikan pada Baekhyun, karena ia pun telah kehilangan itu semua..

Kini hanya ada mereka berdua...

Hanya ada Yixing dan Baekhyun...

.

.

Yixing membuka kelopak matanya.

Di sampingnya, Suho tampak sibuk menghapus lelehan air mata di pipinya sendiri. Yixing kemudian tertawa kecil. "Kenapa kau malah ikut menangis?"

"Kau—sungguh tabah," Suho memuji dengan tulus. "Kau sungguh hebat."

Yixing tersenyum lembut. Baru kali ini ia berbagi kesedihannya dengan seseorang. Suho—disampingnya mendengarkan dengan sepenuh hati. Ia bahkan meneteskan air mata untuk Yixing.

Bus yang mereka tumpangi akhirnya sampai pada perhentian terakhir.

"Ah, sepertinya kita sudah sampai." Yixing menggamit lengan Suho lantas menuntunnya keluar.

Angin dingin langsung menerpa wajah keduanya. Desauannya membelai permukaan kulit yang pucat.

"Terima kasih telah mengantarkanku Suho-sshi dan terima kasih telah mendengarkan kisahku yang membosankan." Yixing membungkuk sopan. "Kau tidak perlu mengantarkanku sampai atas."

Di antara semilir angin malam, sebuah lengan tiba-tiba meraih tubuh Yixing dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan. Ya, Suho telah merengkuhnya dalam sebuah pelukan yang nyaman dan menenangkan.

Yixing terkesiap.

Sepersekian detik dirinya seperti lupa cara menghirup oksigen.

Keheningan malam membuat Suho semakin merapatkan dekapan padanya. Rasa hangat menjalar. Ujung-ujung jari Suho mengalirkan riak kehangatan pada punggung pemuda yang tengah ia dekap.

Suho membelainya lembut—terlalu lembut. Nafas Suho menerpa permukaan leher Yixing yang beku. Hati Yixing bagaikan disiram lelehan cokelat. Yixing meleleh dalam pelukan yang tiba-tiba—tapi tidak tergesa-gesa.

Sebuah bisikan kemudian mengelus telinganya, "Terima kasih telah mempercayaiku. Terima kasih telah menceritakan masa lalumu padaku."

Yixing terbuai.

Kesunyian membuat Yixing kembali pada realita. Ia cepat-cepat melepaskan dirinya dari pelukan Suho. "A-aku yang harusnya berterima kasih. A-aku sebaiknya pulang sekarang." Yixing memundurkan kakinya beberapa langkah, kemudian berbalik.

Ia rasakan kini jantungnya bagai popcorn yang meletup-letup. Cepat-cepat ia melangkahkan kakinya menuju rumah, tak menoleh lagi pada Suho. Ia terlalu malu. Pipinya tengah terbakar.

Di antara langkah kakinya yang terburu-buru, Yixing masih dapat mendengar seruan Suho. "Beristirahatlah! Sampai ketemu besok."

Yixing kemudian teringat bahwa besok ia tidak akan masuk kerja. Baru saja tubuhnya berbalik untuk menyampaikan pada Suho, Suho tak ada di tempatnya berdiri. Sedikit rasa kecewa menyelinap dalam hatinya ketika mengetahui Suho telah menghilang dari pandangan.

Besok ia tidak masuk kerja, itu berarti ia tidak bertemu Suho?

Sebuah kecewa kembali mengendap-endap dalam hatinya.

Ia cepat-cepat menghapus pikirannya itu karena saat ini Baekhyun lah yang terpenting.

Yixing mempercepat derap kakinya. Ia harus segera menanyakan kerelaan Baekhyun untuk mengizinkannya pergi ke Busan.


.

.

.

"Pergilah hyung."

"Eh, kau mengizinkanku?"

"Aku tidak apa-apa. Aku kan sudah besar, aku ingin belajar mandiri dan tidak selalu bergantung padamu." gumam Baekhyun yang tengah meringkuk di kasurnya yang hangat.

"Benarkah?"

Baekhyun mengangguk.

Yixing memeluk Baekhyun lalu mengacak-ngacak rambut adiknya itu. "Kau semakin dewasa. Aku bangga padamu. Hanya tiga hari, berjanjilah kau akan baik-baik saja oke?"

Baekhyun mengangguk lagi. "Kau tak usah mengkhawatirkan aku hyung." Tegas Baekhyun—membuat Yixing semakin yakin. "Sekarang aku mengantuk hyung." Baekhyun mengucek-ngucek matanya yang mulai terasa berat.

"Tidurlah. Hyung akan menyiapkan koper untuk besok." Yixing kemudian mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur. Yixing mengusap dahi Baekhyun lembut lalu berucap, "Selamat malam."

Yixing tidak tahu, bahwa sepeninggalannya akan ada satu peristiwa yang menimpa Baekhyun. Seandainya Yixing tahu, ia akan membatalkan keberangkatannya ke Busan dan lebih memilih berada disisi adiknya.

Tapi Yixing tidak tahu.

Manusia memang tidak bisa menebak jalan yang direncanakan Tuhan.


To be continued...


a/n:

Aaaaah My SuLay feels... T-T

Review readers sangat membangkitkan mood saya untuk menulis chapter selanjutnya.

So, ditunggu 'jejak' nya ya. :)