Hm,

Yoongi memang merasa aneh, tak mengerti dan sadar dengan itu semua.

Tetapi ia juga bingung.

Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya?

.

.

.

.

Jimin | Yoongi | Boy's Love | As Sweet As Sugar's Sequel! | This gonna be Mpreg. Do you want to, don't you? | AU | R-18 | Beware! '-')/

.

Do not plagiarize!

.

Enjoy!

.

.

.

.

"Selamat pagi, kediaman Park, ada yang bisa saya bantu?"

.

Jimin sedang menikmati sarapan serealnya. Tetapi tiba-tiba ia teringat untuk menelepon kedua orangtuanya.

Mengenai masalah kemarin.

.

"Jihyun? Ini aku."

"Jimin-hyung bodoh?!"

"Yaak! Aku Hyungmu!"

"Tumben telepon ke rumah. Ada apa?" tanya suara lelaki itu.

Namanya Park Jihyun, adik Jimin. Usianya hanya lebih muda dua tahun dari Jimin dan ia masih bersekolah di tingkat akhir.

.

"Ayah dan ibu, apa ada di rumah?"

Tanya Jimin. Masih menyendokkan serealnya.

"Ibu sudah berangkat ke klinik. Hanya ada ayah saja. Mau bicara dengannya?"

"Boleh."

.

Sambil menunggu adiknya menyampaikan teleponnya, Jimin membiarkan ponselnya dalam mode speaker dan menatap wallpaper ponselnya.

Ada wajah Yoongi yang sedang tersenyum kaku disana.

Jimin pernah (sering) mengambil foto Yoongi secara diam-diam.

.

"Halo?"

"Ayah, ini aku Jimin."

"Bagaimana kabarmu? Dan ada apa mencariku?"

"Aku baik. Aku ingin bicara dengan kalian berdua..."

Jimin menarik napasnya dalam sejenak sebelum melanjutkan kata-katanya.

"...Dalam waktu dekat, aku akan memperkenalkan tunanganku pada kalian. Sungguh."

"Mwo? Tunangan?!"

.

.

.

.

Yoonjae tak tinggal diam begitu saja. Kalau Yoongi membenci kedua orangtuanya, maka ia akan tetap membantu Yoongi apapun keputusannya. Walau sebenarnya cukup sulit. Tetapi ia selalu mengabarkan hal ini pada mereka.

Kebetulan mereka datang ke kediamannya bersama Yoongi yang hanya berdua setelah nenek mereka meninggal.

Dan Yoonjae segera saja memberitahu mereka bahwa, selama ini hidup Yoongi tak seburuk apa yang mereka pikirkan.

Dan mereka baru saja ingin datang meminta maaf dan menyadari semuanya setelah lebih dari limabelas tahun berlalu?

Menyadari bahwa, kelahiran anak rapuh itu bukan sesuatu yang perlu dihindari.

Bukan sesuatu yang tidak berguna.

Bahwa anak serapuh Yoongi adalah harta yang tak ternilai harganya.

.

Semua itu baru mereka sadari setelah menyakiti Yoongi dan meninggalkannya selama lebih dari limabelas tahun lamanya.

Ironis sekali.

.

.

.

.

Yoongi terbangun di pagi hari karena perutnya terasa bergejolak dan cairan di dalamnya terasa mendesak untuk keluar.

Mual luar biasa.

Yoongi tanpa pikir panjang langsung menuruni ranjangnya dan pergi ke wastafel terdekat di kamarnya.

Membungkuk disana dan mengeluarkan semua isi perutnya yang bahkan tak terisi apapun karena ia baru saja membuka matanya dari tidurnya.

.

"Hoek... Hoek!"

.

Yoongi membasuh bibirnya dengan cepat. Ia baru saja memuntahi cairan tubuhnya sendiri.

Yoongi memegangi perutnya yang terasa mual itu. Lalu perlahan ia kembali ke ranjangnya dan meringkuk disana ketika ia merasa bahwa rasa ingin muntahnya telah reda.

"Kenapa lagi denganku..."

Gumam Yoongi lirih. Menarik selimut hingga ke dadanya dan memegangi kepalanya yang terasa pusing itu.

Yoongi kemudian meraba meja nakas disampingnya, mencari pil vitaminnya yang selalu disimpannya disana dan segera meminumnya.

.

.

.

.

"Jiminie, kurasa ibumu tak 'kan menyetujuinya kalau—"

"Benar. Katakan pada ibu bahwa tunanganku adalah seorang lelaki."

.

Jimin segera menutup sambungan teleponnya dan kembali menghela napas disana.

Semoga, hal ini tak merepotkan untuknya.

Atau setidaknya, ada keajaiban untuknya.

Fiuh.

.

.

.

.

Yoonjae terdiam di depan pintu kamar adiknya.

Ia terdiam dan merenung disana ketika ia dapat mendengar suara Yoongi yang sedang muntah-muntah.

Uh, ini masih jam lima pagi. Tak mungkin Yoongi sudah bangun apalagi makan di jam segini.

.

Dan Yoonjae tidak bodoh.

Pasti ada sesuatu yang aneh tentang Yoongi. Dan tentang semua perubahannya yang dapat Yoonjae lihat akhir-akhir ini.

Apalagi Yoonjae tahu jelas bagaimana kondisi tubuh Yoongi yang sebenarnya. Yang menjadi sebab mengapa anak itu tak diinginkan oleh orangtuanya sendiri. Jadi, tak akan mustahil jika ia memikirkan hal ini.

Kalau sebenarnya Yoongi itu...

Punya hormon yang bagus untuk mempunyai seorang...

Bayi?

.

Yoonjae menggelengkan kepala sebentar dan ia membuka kamar Yoongi dengan pelan. Ia melongokkan kepalanya hanya untuk melihat Yoongi tertidur di dalam ruangan temaram itu.

Yoonjae tersenyum singkat dan ia menutup kembali pintu kamar tersebut untuk kembali ke kamarnya. Bersiap untuk pergi ke kantor seperti biasanya.

.

.

.

.

Beberapa waktu silam...

.

Seorang ibu muda berjalan menunduk dengan wajah kecewa. Ia meninggalkan anaknya yang masih berusia enam tahun itu tertinggal jauh di belakangnya dan membiarkannya menangis tanpa mau menoleh sedikitpun.

.

Sangat jauh bahkan bocah lugu itu tak dapat melihat punggung ibunya sekalipun.

Bocah lugu itu hanya bisa menangis di bawah guguran dedaunan musim gugur. Wajahnya yang bulat dan pipi pucatnya yang tembam itu dipenuhi oleh tangis, kedua sudut bibirnya turun kebawah dan ia tetap menangis tergugu. Berjalan tertatih karena ia ditinggalkan oleh ibunya sendiri. Kini ia harus pulang sendirian kerumahnya.

Bocah lugu itu memeluk erat sebuah buku raport, buku bersampul kuning cerah dan ada tulisan namanya disana,

Min Yoongi.

.

Bocah lugu bernama Min Yoongi itu baru saja menerima laporan nilai tahunan dirinya di kelas pertama sekolah dasar. Ibunya datang ke sekolah untuk menerima buku laporan itu.

Tetapi, karena hasilnya yang tidak memuaskan, ibunya itu hanya memberikan buku laporannya pada Yoongi—dengan melemparkan buku bersampul kuning itu ke wajah gembilnya yang lucu. Kemudian meninggalkan anak manisnya dan membiarkannya pulang sendirian.

.

Yoongi pulang kerumahnya sendirian. Ia menemukan ibunya berdiri di depan pintu dengan wajah yang menakutkan untuknya.

Bocah lugu itu melangkah takut-takut menuju ibunya ketika wanita itu meneriakkannya untuk menghampirinya. Ia semakin mendekap erat buku raportnya di dadanya.

.

"Kemari kau anak idiot!" Panggilnya sarkastik.

Bocah mungil itu tersentak dan mengeratkan pegangannya pada buku dalam dekapannya.

"Eomma..." Panggilnya mencicit.

"Jangan panggil sebutan itu dengan mulutmu!" Wanita itu menampar pipi tembam Yoongi, membuatnya memerah lebam dan bocah itu semakin terisak menangis.

"Ap—appo..." Yoongi memegangi pipinya dengan sebelah tangan mungilnya itu. Tetapi lengan lainnya tetap mendekap erat buku raportnya di dadanya.

Melihat hal itu, entah bagaimana ibunya semakin terlihat murka, ia menyeret bocah berusia enam tahun itu dengan kasar memasuki rumah.

"Kau tahu, aku malu karena keidiotanmu! Dan jangan menangis! Berisik!"

Wanita itu menoyor kepala anaknya sendiri dan membiarkan bocah itu tetap menangis keras.

Wanita itu menghela napas penuh amarah, dengan paksa ia menarik buku raport yang di dekap anaknya.

Membuka buku tersebut dan menunjukkannya pada Yoongi dengan menarik paksa helaian surai madu anaknya yang lembut itu tanpa rasa kasihan. Menjenggutnya dengan kasar dan mengarahkan kepala anak itu untuk menghadap buku raportnya sendiri yang ia buka di lantai.

"Eomma! Huhu eomma... Sakit!" Bocah tembam itu semakin menangis dan memegangi lengan ibunya yang sedang menggenggam erat rambutnya itu dengan kedua tangan mungilnya.

"Lihat!" Wanita itu menurunkan kepala anaknya dengan kasar menghadap bukunya. "Nilaimu itu membuatku malu saat di sekolah tadi! Kenapa kau itu idiot sekali sih?!"

"Sakit... Eomma mian—hiks." Yoongi menunduk paksa menghadap bukunya, membiarkan airmatanya menetes diatas buku tersebut.

Tetapi ibunya itu tak terlihat peduli sedikitpun.

"Tak bisakah kau pintar seperti kakakmu?! Dan juga sedikit normal?!"

Wanita itu mengeratkan cengkeramannya pada rambut Yoongi. Yang membuat bocah lugu itu menangis semakin keras karenanya.

.

Tiba-tiba seorang lelaki dewasa dengan seorang anak lelaki cukup besar berada di gendongan punggungnya menghampiri ibu dan anak yang dalam kondisi tidak baik itu.

"Yoongi-yah!" Anak lelaki itu turun dari gendongan ayahnya, dia adalah Yoonjae, kakak Yoongi. Dan lelaki dewasa yang bersamanya itu adalah ayah mereka. "Eomma! Lepaskan!"

Wanita itu melepaskan cengkeramannya. Kemudian menatap tajam suaminya dan anak sulungnya yang baru saja tiba itu.

Yoonjae segera menghampiri adiknya. Ia berdiri dengan lututnya untuk menyamai tinggi adiknya dan memeluk tubuh kecil yang bergetar ketakutan itu dan mengusap rambutnya yang acak-acakan.

"Cup... Cup, sudah ada Hyungie disini. Yoongi jangan takut."

.

"Kau ini apa-apaan sih?!" Lelaki paruh baya itu menghampiri istrinya yang sedang terbakar emosi.

"Apa?! Lihat, anak idiotmu itu. Dia sudah mempermalukanku dengan nilai jeleknya!" Bentak wanita itu.

Lelaki yang menjadi suaminya itu jadi terpancing juga emosinya. "Dia juga anakmu!"

"Bukan! Anak bodoh dan kelainan seperti dia bukan anakku! Anakku harus pintar dan dia adalah Yoonjae!"

"Enak saja, Yoonjae itu anakku! Anakmu itu adalah Yoongi! Kau yang melahirkannya!"

"Aku juga melahirkan Yoonjae! Aku tak punya anak idiot!"

.

Yoongi itu sebenarnya tidak idiot apalagi kelainan. Ia hanya berbeda. Ia hanya suka menulis dan bermain sendirian. Ia berbeda. Ia tak pernah memiliki kasih sayang yang sama seperti yang didapatkan kakaknya.

Begitu.

.

Yoonjae semakin mengeratkan pelukannya pada Yoongi mendengar kedua orangtuanya mulai bertengkar hebat.

Yoongi yang saat itu sedang memegangi kepalanya dan tetap menangis, ia terus bergumam.

"Yoongi benci mereka, Yoongi ingin bersama halmeoni. Yoongi benci eomma. Yoongi benci appa."

Dan yang bisa Yoonjae lakukan kala itu hanyalah ikut menangis bersama adiknya dan terus mengusap kepala adik kesayangannya itu tanpa henti.

"Hyungie akan selalu bersama Yoongi. Hyungie janji."

.

Sejak saat itu, Yoongi sangat menutup diri. Ia tumbuh menjadi anak yang dingin dan pemilih dalam berteman.

Hingga sekarang.

Dan kakaknya lebih memilih tinggal bersama Yoongi dengan nenek mereka kala itu sampai beliau meninggal dunia. Dan Yoonjae bisa lulus perguruan tinggi dan bekerja untuk menghidupi dirinya sekaligus Yoongi bersamanya.

Hanya satu yang Yoonjae inginkan, ia tak mau kehilangan Yoongi sebagai adik satu-satunya dan keluarga yang paling ia sayangi.

.

.

.

.

"Yoongi-hyung~ aku ikuuut~"

Yoongi memutar bola matanya dengan bosan. Ia sedang berada di dalam bus kota siang ini. Setelah ia geladi wisuda lagi untuk terakhir kalinya hari itu (lusa ia sudah di wisuda sungguhan), Yoongi ingin pergi ke mall. Dan seseorang di sambungan teleponnya kini adalah...

Siapa lagi sih kalau bukan kekasihnya nan bocah lagi bodoh itu, Park Jimin.

.

"Jangan menggangguku, kau pulang saja, aku akan bersama Yoonjae-hyung! Aish..."

Yoongi memanyunkan bibirnya. Baru pergi diam-diam tanpa Jimin saja kekasihnya itu sudah heboh duluan.

"Ish, Hyung. Masa' aku tidak boleh ikut sih."

"Dengar ya, aku hanya ingin pergi berdua dengan Hyungie. Kalau kau tiba-tiba muncul, aku tidak akan segan untuk—"

"Iya deh iyaa." Terdengar helaan napas Jimin disana. "Hati-hati ya, Hyung. Selalu kabari aku kau ada dimana. Aku menyayangimu."

"Iya, bawel."

Yoongi memutuskan sambungan teleponnya dengan Jimin. Ia tersenyum sekilas dan kembali menikmati perjalanannya dalam bus itu.

.

.

Yoongi telah sampai di COEX, ia berbohong pergi berdua bersama kakaknya.

Nyatanya ia pergi sendirian disana. Ingin membeli kado untuk Jimin, niatnya.

.

Yoongi berada di pusat aksesoris sekarang, saat di bus tadi ia sudah memikirkan hadiah apa yang bagus untuk Jimin.

Dan Yoongi berpikir untuk membelikan Jimin sebuah dompet untuknya.

Tak tahu mengapa Yoongi hanya ingin membelikan kekasih bodohnya itu sebuah dompet.

Karena sebuah dompet pasti akan selalu Jimin bawa kemana-mana.

Hm.

.

Yoongi memilih-milih dompet kulit cukup mewah disana. Ia berada di rak khusus Byford—salah satu merk London dan sedang memeriksa dompet kulit yang menurutnya terbaik di matanya.

Dompet simpel dengan bahan kulit lentur berwarna hitam pekat menjadi pilihannya.

Yoongi tersenyum memilihnya dan menerima nota dari Sales Boy disana. Ia kemudian berjalan santai menuju kassa dan sesekali melihat banyak aksesoris lain yang di lewatinya.

.

Mata Yoongi segera terpaku begitu ia tanpa sengaja menemukan sebuah ikat pinggang yang menarik perhatian. Sebuah ikat pinggang dengan kepala standar dan terbuat dari kulit ular yang berwarna cokelat madu. Talinya bagus dan itu membuat Yoongi mengambilnya tanpa pikir panjang.

Yoongi pikir, ia akan menambahkan ikat pinggang itu sebagai hadiah untuk Jimin selain dompet tadi.

.

Setelah mendapatkan hadiah untuk Jimin, sebelum pulang Yoongi mengitari mall tersebut untuk menemukan sebuah bakery dan berniat untuk membeli cheesecake kesukaannya untuk di bawa pulang.

.

Namun, baru beberapa langkah jauhnya Yoongi dari tempat bakery tersebut, Yoongi dapat mencium jelas aroma roti panggang dan cake-cake manis menguar dari dalam toko.

Dan aromanya itu entah bagaimana membuat Yoongi merasa begitu mual karenanya. Membuat perutnya terasa diaduk paksa.

.

"Ukh—oek."

.

Yoongi segera menutup mulutnya kemudian berlari dari toko bakery tersebut dan mencari toilet terdekat untuk mengeluarkan rasa mualnya.

.

Yoongi mengusap sudut airmatanya dan membasuh mulut serta kedua tangannya. Untung saja toilet disana sepi, jadi tak ada yang mendengar Yoongi muntah-muntah disana. Sama seperti pagi tadi.

.

Yoongi mengeringkan kedua tangannya dan menatap cermin disana, nafasnya terengah dan wajahnya cukup pucat. Kemudian ia bergumam.

"Kenapa aku merasa begitu mual hanya dengan mencium bau roti? Lalu bagaimana aku akan membeli cheesecake kalau masih di luar saja aku tak tahan baunya? Ukh..."

Yoongi merengut lucu. Tak mengerti lagi apa yang terjadi pada dirinya.

.

Karena hari sudah sore dan ia juga lemas pasca menyelesaikan rasa mual dan muntahnya. Yoongi memutuskan untuk pulang saja. Sebelum rasa mual itu datang kembali dan merepotkannya.

.

.

.

.

Yoongi pulang ke rumah dengan ceria. Ia mengulum lolipop di tangannya dengan semangat.

Kalau ketika di mall tadi Yoongi merasa lemas karena mual, sekarang ia melupakan semua itu ketika ia membeli banyak permen saat turun dari bus untuk mampir ke minimarket.

.

Yoongi membuka pintu gerbang kecil rumahnya kemudian menatap terkejut pada sebuah mobil yang terpakir disana. Mobil kakaknya.

.

"Tak biasanya sudah pulang." Gumam Yoongi sambil berjalan memasuki pintu depan rumah dan juga menghampiri kakaknya yang sedang berduduk santai di ruang televisi dengan secangkir kopi disana.

.

Yoonjae menyadari kedatangan adiknya. Ia segera menoleh dan mengisyaratkan adiknya untuk menghampirinya.

"Tumben sudah pulang?" Tanya Yoongi, setibanya ia di hadapan kakaknya dan duduk disampingnya.

Yoonjae hanya tersenyum. Ia kemudian melirik paper bag yang dibawa Yoongi. "Apa itu? Kau membelikan apa untukku?"

Yoongi segera mendekap belanjaannya. Takut kalau tiba-tiba kakaknya menginginkan bungkusannya. "Bukan untukmu!"

"Yaah," Yoonjae pura-pura kecewa. "Kalau bukan untukku pasti untuk Jimin..." Keluhnya lagi, pura-pura.

"A—apaan sih." Yoongi segera berpaling. Ia berdiri untuk pergi ke kamar dan meninggalkannya.

"Tunggu dulu." Yoonjae menahan lengan adiknya. "Nanti malam kita makan malam bersama."

Yoongi menaikkan sebelah alisnya. "'Kan biasanya juga begitu?"

Yoonjae hanya tersenyum canggung meresponnya.

"Ah! Kau ingin mengenalkan pacarmu padaku yaa." Goda Yoongi kemudian.

Mendengarnya malah membuat Yoonjae tertawa. Ia kemudian mengusak rambut karamel Yoongi dengan gemas.

Yoongi balas tersenyum. Ia kemudian melanjutkan langkahnya untuk pergi ke kamarnya. Merapikan hadiahnya untuk Jimin kemudian pergi mandi untuk menyambut kekasih kakaknya yang akan datang.

Yoongi berpikir mungkin kakaknya itu akan berpacaran dengan pekerjaannya sendiri selama ini karena dia tak pernah punya kekasih. Dan sekarang Yoongi lega kalau akhirnya sang kakak mau mengenalkan seorang pasangan padanya.

Khekhe.

.

.

.

.

Yoongi telah berpakaian rapi. Ia memakai sweater soft green dan celana panjang santai hitam. Ia bergegas menuruni tangga untuk menemui kakaknya dan menagihnya untuk makan malam bersama.

.

Tetapi langkah Yoongi segera berhenti di ujung tangga ketika ia melihat kakaknya di ruang tamu tak sendirian. Melainkan dengan dua orang lainnya yang sudah terlihat cukup tua namun Yoongi mengenal mereka.

.

Tidak, Yoongi memang sudah menghapus semua memorinya tentang kedua orang itu, tetapi Yoongi tak bisa memungkiri kedua wajah itu dapat ia kenali dengan mudah walau mereka tak pernah saling jumpa hingga lebih dari limabelas tahun lamanya.

Mereka adalah kedua orangtuanya.

.

.

"Anak yang tak kalian anggap itu lebih baik dari yang kalian bayangkan. Yoongi pintar dan ia tak kelainan seperti yang kalian pikir waktu itu. Yoongi itu istimewa. Kupikir ia—"

"Aku tahu, Jae. Aku tahu! Maka dari itu aku—"

.

Prang!

.

Benar. Itu mereka.

Kedua orangtua Yoongi dan juga kakaknya.

Yoongi terperangah tak percaya bahwa ia bisa melihat dan mengingat mereka lagi.

Lagi.

.

Untuk apa mereka datang kemari?

'Apa Hyungie yang mengundangnya?'Pikir Yoongi kalut. Ia tak tahu mengapa kedua matanya tiba-tiba terasa panas.

Tetapi untuk apa.

Bukankah Yoonjae telah berjanji pada Yoongi kalau ia adalah keluarga satu-satunya yang ia miliki.

Tak ada lagi selain mereka berdua.

Tetapi mengapa.

Ada dua orang yang tak mau Yoongi ingin menampakkan lagi itu kini justru telah menampakkan diri mereka.

.

Ketiga orang di ruang tamu itu segera menoleh kearah Yoongi ketika tanpa sengaja Yoongi memecahkan piring hias yang tergantung di dinding dekat tangga.

Yoongi menutup mulutnya untuk menghilangkan isakan yang tiba-tiba muncul. Ia bahkan tak sadar telah menyenggol benda tersebut dan membuatnya pecah berantakan. Dan Yoongi bergetar berdiri disana.

.

Wanita paruh baya dengan keriput yang mulai menggurat wajahnya itu menangis menatap Yoongi disana. Ia ingin berlari dan memeluk Yoongi. Tetapi rasanya kedua kakinya begitu berat untuk terangkat.

"Yoongi-ah..." Gumamnya lirih. Yoongi yang mendengar itu menggelengkan kepalanya dengan keras. "Eomma-ya..."

.

"Tidaaak!"

Yoongi semakin menggeleng keras. Ketika ia melihat wanita itu mulai bergerak ke arahnya, Yoongi segera berlari kencang melewati mereka semua.

Menghiraukan panggilan-panggilan dari kakaknya yang meneriakkan namanya. Juga menghiraukan kalau kakinya baru menyenggol pecahan beling piring hias itu dan melukai tumitnya hingga berdarah.

Tetapi Yoongi tetap berlari keluar dari rumahnya. Bahkan tak ingat untuk memakai alas kakinya. Begitu ia melewati gerbangnya, ia disambut oleh titik-titik hujan yang menderas. Membasahi seluruh tubuh Yoongi dan juga meluruhkan airmata yang sedari tadi ia tahan.

Membiarkan airmata serta amarahnya bercampur dalam hujan.

Tak peduli hujan deras, Yoongi masih berlari. Tak tahu ingin kemana, Yoongi hanya ingin berlari.

Sejauh mungkin agar ia tak dapat melihat kedua orang itu lagi dalam hidupnya.

.

.

.

.

Yoongi berteduh di depan pintu toko yang sudah tutup. Hari mulai gelap dan ia basah kuyup. Hujan juga turun semakin deras.

.

Yoongi tak bawa uang, ia hanya membawa ponselnya.

Dengan tangan bergetar dan gigi bergemelutuk karena kedinginan, Yoongi menyalakan ponselnya—untung ponselnya tidak mati—kemudian mendial satu nomor yang ia sudah hapal.

Menelepon Jimin.

.

"Halo?"

"Ha—halo."

"Lho Yoongi-hyung? Kau menangis? Ada dimana sekarang?" Tanya Jimin beruntun di sambungan telepon, ia langsung saja khawatir begitu mendengar nada suara lemah Yoongi yang begitu. Apalagi hujan sedang deras-derasnya.

.

"Jimin... Dingin... Jemput aku."

"Jemput? Oke-oke. Katakan posisimu sekarang, Hyung."

.

Jimin bergegas memakai jaketnya. Ia mengambil dompet dan sebuah payung dan segera pergi keluar apartemennya untuk mencari taksi. Ponselnya masih ia tempel di telinganya dan tetap berhubungan dengan Yoongi.

.

"Aku..."

Yoongi menatap sekelilingnya. Giginya tetap bergemelutuk karena dingin.

"Dimana? Kau tak di rumah? Cepat katakan lokasimu!" Jimin jadi tak sabaran, ia semakin khawatir ketika mendengar segukan tangis dari Yoongi.

"Aku... Di seberang halte bus dekat rumah, rambu jalan mati, aku tak bisa menyebrang..."

"Oke, diam disitu dan jangan menyebrang! Aku akan segera menjemputmu. Jangan sampai tertidur. Tetap bicara padaku." Jimin mulai menghentikan sebuah taksi dan masuk ke dalamnya, memberi sang sopir petunjuk untuk kemana ia akan pergi.

.

Yoongi mengangguk tanpa suara.

"Jimin... Dingin—"

.

Sambungan ponsel Yoongi mati.

"Lho hyung? Yoongi-hyung?!"

Jimin mencoba mendial kembali nomor Yoongi, namun panggilannya tidak aktif. Dan beberapa kali Jimin mencoba hasil tetap sama, tidak aktif.

"Ah shit!"

.

.

Yoongi menatap ponselnya. Ternyata baterainya habis dan ponsel itu segera mati.

Yoongi kemudian memerosotkan dirinya untuk berjongkok disana. Mendekap erat ponselnya dengan tangan bergetar. Tempatnya berteduh tak seberapa. Yoongi hanya bisa mendekap dirinya dan berjongkok disana dan membiarkan cipratan air hujan terus membasahi tubuhnya. Dan hanya bisa menunggu Jimin.

.

"Jimin..."

.

.

.

.

To be continued...

.

.

.

.

Nb: hello~ udah semakin jelas kan hehe. Buat yang kemarin juga tanya kenapa Yoongi berdarah, sebenarnya itu memang begitu tanda orang hamil. Saya juga cari dari berbagai sumber media sama orang hamilnya langsung kok. lol.

Maap telat update, ada kerjaan sebrang pulau hehe. Tapi ditambah dua halaman loh ini, maap juga jadi semakin nyinetron ;_;

Yosh, terima kasih reviewnya yang kemarin dan sudah membaca sampai sini. I love you. Kritik, saran dan masukannya boleh banget :"D

Review, please? :3

.