"Congratulations for all of you who passed the study of this beloved Harvard University!"
Tepukan tangan berseru pasca upacara kelulusan Harvard University berakhir. Sekarang aku telah menjadi sarjana arsitektur. Tepat hari ini juga aku akan meninggalkan Amerika dan pulang ke Jepang. Walaupun aku sering pulang ke Jepang, tetap saja aku tidak bisa menghabiskan waktu banyak seperti aniki–jika ia pulang ke Jepang. Enaknya jadi aniki.
Aku segera pulang ke apartment untuk bersiap-siap ke bandara.
Aku memencet bel kamar apartment aniki yang berada di sebelah kamarku.
"Bukain, Sukira!" Terdengar suara aniki dari dalam. Aniki memang menyebalkan! Aku penasaran, apakah Sukira-nee tidak jengkel dengan perilaku ottonya itu?
"[Name]-chan sudah siap?"
"Um," aku mengangguk.
"Tetapi lebih baik masuk dulu," Sukira-nee mempersilakanku masuk.
Aku segera duduk di atas karpet halus yang diduduki oleh aniki dan errrrr… keponakanku, Sousuke yang baru berumur beberapa bulan. Aku memandangnya gemas.
An Annoying Boy
Disclaimer Tadatoshi Fujimaki
Enjoy this last chapter~
Aku menatap pantulan diriku di depan cermin. Rasanya, sudah lama sekali aku tidak bercermin di depan kaca kamar. Pandanganku beralih pada foto yang terbingkai di atas meja lampu tidur. Foto diriku empat tahun lalu, saat aku lulus dari Teiko kouko.
Aku merebahkan diri di atas kasur. Makan malam tadi, sangat menyenangkan.
Drrt Drrrtt
Aku meraih smartphone yang terletak di atas meja.
From: Takuna-kun
To: [Name]
Subject: Kabar
Yo, baru pulang dari Amerika ya? Apa kabar?
Senyumku langsung merekah, segera saja kuketik balasan untuknya.
From: [Name]
To: Takuna-kun
Haha, Watashi wa daijoubu! Takuna-kun wa?
Aku mendekap smartphone di atas dada sembari barbaring. Kuhidupkan kembali layar smartphone untuk sekadar bernostalgia dengan kontak-kontak yang tersimpan rapi. Yah, walaupun hanya melihat-lihat. Tidak sampai menghubunginya atau mengirimkan mail box.
Afendi Franklin
Akihito Kanbara
Alise McKenna
Annoying Boy
Senyumku serta pergerakanku terhenti dengan kontak itu. Tubuhku serasa kaku. Lidahku menjadi kelu.
–Aku tersenyum pahit–pahit sekali. Kontak dengan pemilik nomornya adalah–aku menghembuskan napas dalam–Sei–
–agar tangisku tidak pecah–tapi…
–tetap saja pecah jika aku mengingatnya! Apalagi jika aku sampai menyebut namanya–walaupun hanya dalam hati.
Sudahlah, sudah terlambat untuk menahan tangis. Entah sudah berapa kali aku meluapkan emosiku dengan air bening hangat ini–ketika aku mengingatnya. Mengingat hal-hal kecil yang dulu terasa biasa. Aku hanya bisa terisak dengan parau di dalam kamar.
"Aku menyukaimu, [Name]."
Jemariku meremas seprei kasur.
Kumohon datang ke jembatan dekat sekolah besok siang.
Mungkinkah?
Mungkinkah saat itu kau benar-benar datang?
Datang dan mendapat kekecewaan dariku?
Tentang janji–yang kubuat–dan kuingkari sendiri?
Argh! Aku sungguh naif!
Aku tahu, mungkin kau sudah melupakanku.
Atau bahkan, kau membenciku.
Setelah tangisanku mereda, aku diam-diam keluar rumah. Seperti enam–tujuh tahun lalu. Di malam turunnya salju, di tengah lapangan basket kompleks.
Hanya sepoi-sepoi angin serta kelopak-kelopak sakura yang sudah menipis. Menandakan berakhirnya musim semi dan tanda-tanda datangnya musim panas–menemaniku di malam sunyi ini.
Natsu kah?
Mou! Terlalu banyak kenangan di musim panas bersamanya! Kebun binatang–foto pre-wedding–tunggu. Hm, kurasa hawa-hawa panas mulai terasa. Hah, memang seharusnya begitu. Ini kan akhir Mei. Kalau begitu, buat apa aku memakai sweeter!
Segitu panasnya-kah sehingga pipiku panas? Huh! Lagipula, kenapa aku menjadi baper sih!
Langkahku perlahan menuju lapangan basket. Lagi-lagi tempat kenangan bersama Sei.
"Aku tak menyangka, kemampuan basketmu bagai langit dan bumi dengan sepupumu sendiri."
–Kalimat yang diucapkan oleh Sei begitu ia tiba.
"Kau ini benar-benar bad girl!"
Tentang jitakan yang mendarat pada kepalaku–dilanjutkan dengan sentil yang memantul di keningku. Kata-kata yang membuatku bungkam.
"Terima kasih."
Lalu, ucapan terima kasih yang samar-samar kudengar.
Sekarang tidak mungkin seperti dulu, bukan?
Ia tak akan muncul di sini; saat ini.
Kusso! Pandanganku buram.
Semilir angin yang menguak berjuta kenangan membawa langkahku menuju Teiko kouko–jembatan tempat aku akan menjawab pernyataan Sei.
Aku seperti orang bodoh saja. Tidak–aku memang bodoh. Tidak peka, dan baru menyadari perasaannya ketika ia menyatakannya. Sosok sempurna seperti dia, memang tidak pantas untukku.
Begitu sampai di ujung jembatan, terpaan angin yang membawa helaian-helaian kelopak sakura menyambutku. Helaian rambut serta anak rambutku turut mengikuti hembusan angin. Di antara merah muda itu kutemukan helaian merah. Bukan. Ini bukan kelopak sakura. Dan yang kulihat bukan merah muda–tetapi merah. Merah yang cerah di bawah pancaran sinar rembulan.
Kumohon, aku tidak mengalami gejala skizofrenia atau gangguan psikologis yang lainnya kan?
Tetapi…
–entah mengapa…
–ini nyata.
Ya, ini nyata.
Sosok dengan pandangan tajam lurus ke depan itu. Ini nyata.
Aku terpaku di tempat. Netraku hanya lurus menatapnya. Semua perasaan bercampur aduk dalam diriku.
Perlahan kepala itu menoleh padaku. Apakah ia menyadari keberadaanku?
Tatapannya masih sama. Tetapi apakah perasaannya padaku masih sama, seperti dulu?
"[Name]?"
Samar, tapi terdengar.
Aku meneguk ludah. Dengan langkah yang terasa berat, aku melangkah–mendekatinya. Ia hanya memperhatikanku.
Aku mengigit bibir bawahku. Dengan gemetar, aku bertanya, "Sedang apa kau di sini?"
Dengan jarak yang hanya satu meter ini ia pasti bisa mendengarnya.
"Menunggumu." Tajam, dingin, dan… lembut secara bersamaan.
Aku terkejut. Netraku melebar. Ia melanjutkan, "sejak empat tahun lalu. Aku tetap di sini." Netranya yang tajam menatapku dalam.
Aku menautkan alis. "Bohong!"
Aku bisa mendengar kekehannya. Masih sama. Seperti dulu. Seperti saat ia berhasil mengerjaiku.
Ia mengangkat tangannya lalu–"Ittai!" rintihku. Aku mengusap keningku pelan. "Dasar bad girl!" ucapnya sarkastik. "Kau pikir sekarang jam berapa? Seorang gadis tidak sepantasnya berkeliaran sendiri!" ucapnya sarkastik–lagi.
Aku hanya bisa menundukkan kepala. Sebelum ia melanjutkan, "Pantas saja. Yang seperti ini memang sudah wajar di kalangan masyarakat Amerika."
Aku menghela napas. "Aku tidak terpengaruhi, tahu!" bantahku pelan–tetap dengan kepala yang tertunduk.
Aku menghela napas lagi. "Aku–
–su…–
Aku gugup! Benar-benar gugup.
–suka Sei! Aku suka Sei. Suka. Suka. Benar-benar su–"
Seketika aku bisa merasakan jemari-jemari halus menyentuh daguku–lalu mengangkatnya. Hingga tatapan kami bertemu. "Katakan dengan jelas dan lantang." tuturnya lembut.
GLEK
Aku menelan ludah lagi. "Aku menyukai Sei." singkat padat jelas.
Ia tersenyum lembut. "Kau tahu?"
Inilah bagian yang kunantikan sekaligus tidak kuinginkan. Mengetahui perasaanya saat ini. Sama seperti perasaan jika aku menyatakan perasaanku pada Takuna-kun. Dulu.
Jemarinya yang mengangkat daguku ia lepas. Beralih pada punggung tangan kananku. Jemari kami saling bersentuhan.
DEG DEG DEG
Aku bisa merasakan debaran yang terjadi pada kedua jantung kami. Tangan Sei yang menuntunku untuk menyentuh dada sebelah kirinya membuatku merasakan. Merasakan debaran jantungnya. Wajahku memanas.
Sei tersenyum tulus. "Perasaanku hingga sekarang masih sama. Tatapanku serta tingkah lakuku masih sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah." Masih dengan senyum hangatnya, ia melanjutkan, "Aku mencintaimu, [Full Name]. Sejak dulu, tiga belas tahun lalu."
Wajahku kembali memanas. Aku mengalihkan pandanganku. "Ada apa? Kau malu, eh?"
Walaupun aku tak melihatnya, tapi aku bisa merasakan seringai penuh kemenangan pada wajahnya. "Ti-tidak!"
Sei menghela napas, "Apa perlu aku berteriak?"
"A-APA–"
"[FULL NAME] SUKI DA! MULAI SEKARANG, DIA ADALAH MILIKKU! TAKKAN KUBIARKAN LELAKI LAIN MEREBUT PERHATIANNYA!"
Sei menyeringai, telingaku memerah. Aku benar-benar malu!
"Ini sudah malam, Sei," aku masih menundukkan kepala. "Biar saja. Lagipula tak ada siapa pun," responnya enteng.
SRAT
BUG
Aku bisa merasakan tulang belakangku menyentuh besi jembatan. Dihadapanku ada Sei dengan seringainya. Sisa kanan dan kiriku terdapat jari-jemari memegang besi.
GLEK
Jantungku langsung berdebar dengan kuat.
Tangan kanan Sei ia melepaskan. Beralih untuk menyentuh daguku. Debaran itu semakin besar. Aku sungguh tidak siap untuk yang seperti ini.
Ia semakin meminimalisir jarak antara kami, hingga–"Sei! lihat langitnya!"
Dengan sekuat tenaga aku mengangkat wajahku untuk menghadap langit. Sei tertegun. Ia ikut mendonggakkan kepalanya.
"Hmph, maksudmu summer triangle itu?" Sei menunjuk langit dimana terdapat rasi Lyra, rasi Aquila, dan rasi Cygnus. Yang masing-masing dari konstelasi itu mempunyai bintang bermagnitudo 1. Bintang Vega, bintang Altair, dan bintang Deneb. Yang akan membentuk segitiga di langit malam. Tidak lupa juga dengan bima sakti yang membentang di antara bitang Vega dan bintang Altair.
"Ya. Sekarang kan akhir Mei! Summer triangle itu yang menandakan datangnya musim panas!" jelasku.
Aku bisa merasakan helaan napas tidak suka dari Sei. "Jangan berkata seolah kau lebih mengetahuinya dariku, [Name]." desisnya dingin.
"Biar saja!"
"Natsu kah?" gumam Sei. Ia tampak berpikir, untuk sesaat aku bisa melihat semburat merah pada pipinya. Hei, aku tak salah lihat kan?
"[Name]." panggilnya. "Ya?"
Ia mengangkat tangan kanannya untuk menutupi hidung hingga mulutnya. "Apa kau ingat, um... ramen... kupon gratis..."
Kenapa Sei jadi begini sih? Tiba-tiba ia out of character.
"Ramen? Kau ingin mendapat kupon gratis, Sei?"
Tidak mungkin seorang Akashi Seijuurou yang hidup dengan segala kelebihan mengharapkan kupon gratis.
"Bukan."
"Dasar [Name]! Dari dulu hingga sekarang masih saja tidak peka!" batin Akashi.
"Memang tidak ada cara lain untuk mengatakannya langusng!" lanjut Akashi pada dirinya.
Sei berdeham lalu berdiri tegap. "Aku dan keluargaku akan datang ke mansion-mu untuk melamarmu! Pada musim panas tahun ini, mengerti?"
GLEK
Apa? Melamar? Musim panas ini? Jadi, yang ia maksud ramen kupon gratis itu adalah foto pre-wedding?!
Tetapi soal melamar, apakah itu berarti aku akan tinggal seatap dengan Sei? Berinteraksi layak otou-san dan okaa-san?
Inikan berarti, aku akan menikah dengannya?
"S-sei?"
"Ini serius." ia membentuk sebuah seringai, lalu, "Lalu kita akan melanjutkan yang tadi. Saat kau benar-benar menjadi milikku."
Wajahku semakin panas. "Jangan gombal, Sei!" ucapku malu. Sei terkekeh, "Aku tidak gombal."
Sei tertawa sementara aku menahan malu. "Daripada terus di sini, lebih baik aku mengantarmu pulang," celetuknya. "Baiklah."
Kami sama-sama berjalan sejajar menuju rumah.
Rasanya seperti dulu. Pulang sekolah bersama. Sei berhenti di tengah jalan.
"Ada apa?"
Ia tidak menjawab pertanyaanku, tetapi ia berjongkok dan memerintahkanku untuk naik ke punggungnya. "Naiklah!"
Aku menuruti perkataannya. Ini benar-benar seperti dulu. Aku yang dibopong di punggungnya ketika sepatuku penuh dengan saus tomat, dan ketika kakiku terkilir. Memang tegang, tetapi...
sungguh berdebar!
Hanya mereka berdualah yang mengisi suara di tengah malam selain terpaan angin. Mengisi malam dengan debaran hangat di dada.
E N D
Yo Minna-saaaaaannnn!
Inilah final chapter dari An Annoying Boy!
Terima kasih banyak yang sudah melakukan apapun untuk fic ini.
Mohon maaf atas segala yang terjadi dalam fic ini.
SEE YOU SOON!
