Title : De Angela

Chapter 10 : Kidnapped

Disclaimer : Kamichama Karin Chu © Koge Donbo

~De Angela~ © Bella-chan

Rated : T

Genre : Fantasy ; Friendship

Pairing : KazuRin

Warning : AU, OOC, typo, abal, gaje, alur kenceng, nggak nyambung, dll

Summary : "Kau lihat kan, satu langkah lagi kamu masuk. Kamu yang akan terbakar"/ "Hebat, bagaimana kau bisa tahu cara melepaskan segelnya?"/ "Bukankah akan lebih menarik kalau kita culik saja dia, dan lihat bagaimana reaksi mereka nanti. Pasti bakal seru"/ "Daripada kalian membuang waktu kalian disini, sebaiknya kalian kembali saja ke bumi!"

.

.

Please Enjoy Reading

.

.

~De Angela~

Normal POV

Pagi yang cerah, tepat di depan kediaman rumah Kujyou. Berdirilah seorang pemuda yang sedang memandangi rumah bergaya eropa itu.

"Kauk kauk."

Tiba-tiba terdengar suara burung gagak yang diiringi oleh datangnya burung gagak hitam yang melesat terbang menuju ke arah pemuda itu. Seketika burung gagak itu bercahaya lalu berubah menjadi sosok seorang gadis dengan dress selutut berwarna hitamnya.

"Mereka sudah pergi," ujar si gadis seraya ikut memandangi rumah itu.

"Benarkah, apa kau yakin?" tanya si pemuda tanpa menoleh sedikitpun ke arah si gadis.

"Apa kau tidak percaya padaku, aku sudah membuntuti mereka sejak subuh tadi tau. Sampai harus menggunakan summon-ku segala," omel si gadis.

Pemuda itu hanya diam saja, tidak menanggapi omelan yang dilontarkan oleh gadis yang berdiri di sampingnya ini. Pandangannya masih tertuju pada rumah itu. Mata onyx-nya meneliti secara detail setiap bagian luar dari rumah itu.

"Huh sudahlah, ayo kita masuk ke dalam dan kita selesaikan ini," ucap si gadis seraya berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah itu.

"Tunggu dulu Rika!" seru si pemuda sambil menahan tangan si gadis.

Gadis yang dipanggil Rika itu hanya bisa mengeryit kesal. "Ada apa lagi, Jin. Jangan bilang kau tidak mau menangani masalah ini. Baiklah kalau begitu kau tunggu disini saja. Biar aku sendiri saja yang mengurusnya," ujar Rika dengan nada kesal.

"Bukan begitu maksudku, coba lihat ini," ucap Jin sambil mengambil sebuah kerikil lalu dilemparkannya ke arah rumah itu.

Seketika kerikil itu langsung terbakar habis begitu masuk melewati perkarangan rumah kediaman Kujyou. Rika yang melihatnya hanya bisa bergidik ngeri.

"Kau lihat kan, satu langkah lagi kamu masuk. Kamu yang akan terbakar," ujar Jin tajam.

"Huh, lalu bagaimana caranya kita masuk kalau begini jadinya," ujar Rika sambil berkacak pinggang.

"Rumah ini sudah dilindungi oleh sebuah mantra segel. Segel ini membuat benda apapun yang masuk melewati batas segel ini pasti akan terbakar habis. Aku yakin yang memasang segel ini pasti Kazune. Aku tak percaya dia bisa memakai segel tingkat tinggi ini," jelas Jin.

"Ini bukan saatnya memuji apalagi memuji seorang malaikat. Jadi bagaimana sekarang, apa kita tidak bisa menghancurkan segelnya?" tanya Rika dengan raut wajah yang mau frustasi.

"Tenang saja, meski ini segel tingkat tinggi. Bukan berarti kita tidak bisa menembusnya," ucap Jin dengan senyuman liciknya.

"Lalu apa rencanamu?" tanya Rika lagi.

Jin tidak menanggapinya pertanyaan dari Rika. Ia malah mengatupkan kedua tangannya.

"Gladio ignis!"

Seketika muncul cahaya berwarna hitam pekat dan cahaya itu mulai membentuk sebuah pedang di tangan Jin.

"Aperire signacula." Jin pun menusukkan pedangnya masuk ke dalam pekarangan kediaman Kujyou. Seketika muncul lapisan tipis yang mengelilingi rumah itu. Ujung pedang milik Jin mulai menyebarkan apinya ke seluruh lapisan pelindung itu membentuk sebuah pola yang teratur. Jin menekankan pedangnya lebih kuat lagi, dan munculah sebuah pola api berbentuk seperti lubang kunci yang mengelilingi pedang Jin. Dengan segenap kekuatan, Jin pun memutar pedangnya yang digunakannya sebagai kunci searah jarum jam. Setelah berhasil memutarnya satu kali putaran penuh. Akhirnya lubang kunci itu mulai menghilang, dan pola api tadi mulai membakar seluruh lapisan pelindung itu hingga menyebabkan lapisannya menghilang.

Jin pun mencabut pedangnya lagi, dan seketika pedangnya berubah menjadi cahaya berwarna hitam lagi lalu menghilang bagai ditiup angin.

"Hebat, bagaimana kau bisa tahu cara melepaskan segelnya?" tanya Rika sedikit bingung.

"Apa aku harus memberitahumu, sudahlah sebaiknya kita cepat masuk sebelum ada orang yang lewat," ujar Jin seraya berjalan masuk ke dalam kediaman Kujyou.

Rika hanya bisa menahan emosi melihat kelakuan patner-nya ini. "Sudahlah, kau tidak mau memberitahuku juga tak apa-apa. Aku tidak peduli dengan masa lalumu," ucap Rika cuek sambil berjalan di belakang Jin.

~De Angela~

'Interior rumah ini tidak ada yang berubah sejak aku masih tinggal disini,' batin Jin sambil menatap seisi rumah yang berukuran sangat luas ini.

"Berhentilah mengenang masa lalu, cepat kita selesaikan ini!" seru Rika sambil bersiap naik ke lantai dua.

"Aku tau," ucap Jin singkat sambil mengikuti Rika yang sudah lebih dulu naik ke atas.

Mereka berdua mulai mengaktifkan kekuatan iblis mereka dengan ditandai munculnya sepasang sayap hitam di punggung mereka. Mereka terus berjalan menyusuri koridor yang memang cukup panjang ini. Mereka menghentikan langkahnya begitu melihat seorang gadis berambut indigo panjang tengah bersandar lemas di samping sebuah pintu. Sepertinya gadis itu tidak menyadari kedatangan mereka.

Rika berniat untuk menghabisi gadis itu dengan kekuatannya. Namun langsung dicegah oleh Jin. Rika hanya melotot kesal ke arah Jin. Gadis itu mulai berdiri tegak, dan sepertinya ia berniat untuk pergi dari situ. Dia berjalan sambil menunduk ke arah tempat Jin dan Rika berdiri.

Tampak gadis itu menghentikan langkahnya, tepat di hadapan Jin. Sontak gadis itu langsung mengangkat kepalanya, dan alhasil matanya membulat begitu melihat sosok yang berdiri di hadapannya sekarang.

"Defectio!" seru Jin sambil mengarahkan tangannya di depan wajah gadis itu. Bagai dihipnotis, gadis itu langsung jatuh terkulai lemas di hadapan Jin.

Rika hanya tersenyum sinis melihat satu malaikat sedang tidak berdaya di hadapannya kini. Berbeda dengan Rika, wajah Jin hanya datar. Dia sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun. Ia pun mulai melangkahkan kakinya melewati gadis itu begitu saja. Kini kakinya sudah berdiri tepat di depan sebuah pintu. Pintu dari kamar seorang malaikat yang sedang mereka incar sekarang ini. Malaikat yang harus mereka habisi.

Kriett…

Jin pun membuka pintu itu secara perlahan-lahan. Ia mendapati sosok gadis yang tengah tertidur pulas di atas ranjangnya. Jin pun langsung menghampiri Karin yang tengah tertidur nyenyak itu.

"Laqueum diabolis," ucap Jin lirih, dan seketika munculah banyak tali yang menjulur keluar dari tangan Jin. Dan tali-tali tersebut mulai menjerat seluruh tubuh Karin.

Sontak Karin langsung membuka matanya. "A-apa yang terjadi, si-siapa kau!" seru Karin kaget setengah mati bagitu ia melihat sosok yang sedang menjeratnya kini.

Jin hanya diam saja, ia malah mempererat jeratannya, membuat Karin menjerit kesakitan.

"Lepaskan aku, aku mohon," ucap Karin lirih. Kini di pelupuk matanya sudah tergenang air mata yang bersiap untuk jatuh membasahi pipinya.

Seakan tidak mendengar perhomonan Karin. Jin malah mencentil dahi Karin yang entah kenapa berhasil membuat Karin langsung tidak sadarkan diri.

"Huh, benar-benar malaikat yang berisik," keluh Rika yang masih memegang telinganya yang sakit akibat jeritan Karin tadi.

"Menurutku malah kau yang berisik," ucap Jin ringan yang langsung dihadiahi tatapan death glare dari Rika.

Seakan sudah kebal, Jin tidak menghiraukan tatapannya. Ia malah mencoba untuk menggendong Karin.

"Apa yang kau lakukan, bukannya kita disuruh untuk menghabisinya?" tanya Rika kebingungan melihat tindakan yang dilakukan Jin itu.

"Bukankah akan lebih menarik kalau kita culik saja dia, dan lihat bagaimana reaksi mereka nanti. Pasti bakal seru," ujar Jin dengan seringainya.

"Oh bagitu, baiklah aku ikut denganmu," ucap Rika menyetujui.

Setelah itu mereka kabur lewat jendela dari kamar Karin dan langsung terbang entah kemana. Tentunya bersama dengan Karin yang berhasil mereka culik.

~De Angela~

Sementara di dunia langit…

"Jadi kita harus melindungi Karin sampai kekuatannya bangkit?" tanya Kazusa.

"Apa kau tuli, tadi juga sudah dibilangin sama tetua malaikat. Masih saja nanya," ucap Kazune sedikit kesal.

"Yah maaf, habisnya kenapa mereka menyuruh kita yang melindungi Karin. Kalau bertarung melawan shadow sih kita masih bisa menanganinya, tapi kalau sudah harus berhadapan dengan iblis. Aku tak yakin kalau aku akan bisa menanganinya," keluh Kazusa.

"Tenang saja, kita akan lindungi Karin dan kita habisi iblis-iblis jahat itu," ujar Micchi dengan nada dan mimik yang riang sentosa bahagianya (?).

Micchi langsung dihadiahi sebuah jitakan spesial dari Kazusa.

"Woy, kenapa kau menjitak kepalaku. Sakit tau," protes Micchi.

"Salah sendiri, kenapa kau bisa mengatakannya dengan enteng. Memangnya kau sendiri bisa menangani iblis," tantang Kazusa.

"Tentu saja a-"

"Sudahlah, kenapa kalian jadi ribut sih. Sebaiknya sekarang kita segera selesaikan urusan disini lalu pulang," ucap Kazune yang langsung terbang melewati Kazusa dan Micchi.

Seakan tidak mau ketinggalan. Kazusa dan Micchi pun lantas langsung mengejar Kazune yang sudah di depan.

Setelah terbang beberapa menit. Mereka bertiga akhirnya tiba di depan sebuah rumah berukuran tua. Kazune memimpin teman-temannya masuk ke dalam rumah. Mereka langsung masuk tanpa mengetuk pintu rumah terlebih dahulu. Seakan sudah hapal betul dengan struktur bangunan ini. Mereka langsung berjalan menuju ke satu pintu. Dimana dibalik pintu itu, mereka yakin ada pemilik dari rumah ini.

Kali ini Kazune tidak langsung menerobos masuk, tapi ia berniat untuk mengetuk pintu ruangan itu terlebih dahulu.

"Kalian langsung masuk saja." Terdengar sebuah suara dari dalam ruangan tepat sebelum Kazune mengetuk pintu tersebut.

Akhirnya mereka bertiga langsung masuk ke dalam. Di dalam ruangan itu penuh dengan tabung yang berisi cairan-cairan aneh yang berjejer rapi di atas rak-rak. Ruangan itu terlihat berantakan, terbukti dengan banyaknya cairan yang tumpah di lantai maupun di meja. Bahkan di dinding ruangan pun ada noda cairan yang belum sempat dibersihkan.

"Ya ampun, tempat ini berantakan sekali," komentar Kazusa begitu melihat kondisi ruangan yang baru saja mereka masuki.

"Bukannya tempat ini memang selalu berantakan ya," ujar sebuah suara yang tiba-tiba muncul dengan jubah kotornya dan rambut acak-acakan.

"Kalau masalah tempatmu ini, aku bisa maklum. Tapi bisakah kau bersihkan dirimu terlebih dahulu," ucap Kazune dengan nada sedikit menyindir.

"Oh maafkan aku, baiklah aku akan membersihkan diriku dulu. Sagena," ucapnya yang setelah itu muncul gelembung-gelembung yang mulai menyelimutinya. Tidak butuh waktu lama gelembung itu pecah, dan memperlihatkan sosok yang terlihat sudah berumur tua, dan rambut putihnya yang sangat panjang yang sekarang sudah tersisir rapi. Tidak seperti tadi yang masih acak-acakan.

"Nah kalau begini enak dilihatkan. Bagaimana kabarmu, Arthur?" tanya Kazune yang langsung memeluk pria itu.

(Bella : Kalau kalian lupa siapa itu Arthur, coba baca lagi chapter dua)

"Baik, sudah lama sekali aku tidak melihat kalian bertiga. Terakhir aku melihat kalian waktu kalian diangkat menjadi malaikat senior," terang pria itu sambil melepaskan pelukannya pada Kazune. Dan langsung bergantian memeluk Kazusa dan Micchi satu persatu.

"Benar, rasanya sudah lama sekali ya," ucap Kazusa seraya tersenyum.

"Oh ya, dari tadi aku sudah bertanya-tanya. Kenapa kalian bisa ada disini, kalian sedang liburan ya?" tanya Arthur heran.

Memang tidak biasanya,seorang malaikat senior berkeliaran di dunia langit. Seringnya mereka tinggal di dunia manusia. Cuma waktu libur tugas atau ada sesuatu yang mengharuskan mereka kembali ke dunia langit.

"Tadi kami habis melaporkan suatu hal pada tetua malaikat di gedung pusat," jawab Kazune.

"Hmm, apa soal malaikat dalam ramalan itu ya," tebak Arthur.

"Memang itu yang kami laporkan, dan alasan kami bertiga datang kesini. Karena kami ingin menanyakan sesuatu padamu sebagai malaikat yang meramalnya," ujar Kazune.

Arthur langsung duduk di kursinya, menyandarkan tubuhnya. Matanya tidak menatap ke arah Kazune, Kazusa, maupun Micchi. Justru ia malah menatap sebuah botol ang berisi cairan berwarna hijau lumut.

"Daripada kalian membuang waktu kalian disini, sebaiknya kalian kembali saja ke bumi!" seru Arthur tiba-tiba.

"Apa!" pekik Kazusa kaget. "Kenapa kau menyuruh kami untuk kembali ke bumi?" tanya Kazusa tak mengerti.

"Karena malaikat yang kalian tanyakan sedang ditawan oleh para iblis," jawab Arthur dengan mimik wajah yang serius.

"Ba-bagaimana bisa, aku sudah memasang segel disekeliling rumah. Bagaimana bisa mere-"

"Kau jangan pernah memandang lemah bangsa iblis. Mereka punya seribu cara untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Bagi mereka, memecahkan segel itu perkara yang mudah!" jelas Arthur dengan nada sedikit keras.

"Kalau begitu kita harus kembali secepatnya," ucap Kazune yang langsung mendapatkan anggukan dari Kazusa dan Micchi.

"Baiklah, kalau kalian ingin. Aku bisa menawarkan jalur yang cepat dan praktis," tawar Arthur.

"Jangan bilang, kau menyuruh kami pakai itu," ucap Micchi sedikit curiga.

"Benar, kalian bisa menggunakan perapianku," ucap Arthur bangga.

"Tidak, nanti bajuku bisa kotor," tolak Kazusa mentah-mentah.

"Sudahlah, sebaiknya kita bergegas," sewot Kazune.

Akhirnya Kazusa mengalah, dan mereka pun sepakat untuk pergi ke bumi lewat perapian milik Arthur. Sama seperti yang mereka lakukan dulu sewaktu menjalani tes untuk menjadi malaikat senior.

Bedanya kali ini Arthur mengucapkan suatu mantra yang menyebabkan muncul asap berwarna abu-abu di atas perapian. Beda dengan dulu yang menggunakan bubuk floo.

"Kalian masuklah ke dalam asap ini. Dengan begitu kalian bisa langsung menuju ke tempatnya," ujar Arthur.

Merek bertiga mengangguk mengerti. Micchi pun langsung mencoba masuk pertama. Setelah itu langsung disusul oleh Kazusa. Dan kini tinggal Kazune yang belum masuk. Sebelum Kazune masuk ke asap tersebut, Arthur memberikan sebotol yang berisi cairan berwarna hijau lumut tadi. Kazune hanya menerimanya dengan wajah kebingungan. Tapi Arthur hanya tersenyum, lalu mendorong Kazune masuk ke dalam asap tersebut. Tidak memberi kesempatan Kazune untuk bertanya.

Setelah Kazune berhasil masuk, asap itu perlahan-lahan mulai menghilang.

"Percayalah, bahwa teman akan selalu menjadi teman. Meski teman itu sudah mengkhianati kalian. Dengan percaya, kalian akan menemukan arti dari kekuatan sejati."

.

.

To Be Contiuned

.

.

Please Review


Session Talkshow

Kazusa : Minna, akhirnya selesai juga chapter sepuluh ini.

Karin : Iya, setelah penantian lama.

Kazusa : Maaf ya kalau lama banget update-nya. Salahkan author yang sekarang sok sibuk ini.

Bella : #$%&%4 &

Karin : Author ngomong apa sih, pakek bahasa alien segala.

Bella : !&%$# #$% *mulai teriak-teriak*.

Micchi : Woi, ada apa sih. Lho kenapa author diiket di kursi.

Kazusa : Salah sendiri, dia udah terlambat update 2 minggu dari jadwalnya.

Bella : &#$% *#%^

Micchi : Ohh gitu, selamat menjalani hukumannya ya author.

Bella : ! $%&#$% *langsung teriak-teriak lagi*.

Kazusa : Kita abaikan saja author, anggap saja dia ini penampakan.

Karin : Berarti kita sekarang bacain balasan review dong.

Kazusa : Sayang banget, kali ini nggak ada balasan review.

Micchi : Lho kenapa?

Kazusa : Karena author lagi malas balasan review. Tepatnya malas ngetik banyak-banyak. -_-

Kazusa : Tapi tenang saja, author masih punya 'sedikit' tata krama. Dia mau mengucapkan terima kasih kepada

- Mey-Mey Hinamori

- Nakamura Reimu

- RahmaDes

- Jamilah-sama

- Zainab

- aisyahFatimah

- andien-amalia-52

- IkinaIbara

- ryukutari

- Jin kuga MESUM (wah namanya ekstrim banget o_O)

- Zaida

- Kazune jahat (aku suka nama penamu)

- Kazune TAMPAN (hmm….)

- kazunis

- jg

- jj

- Guest (lain kali sertakan namamu ya)

- Alya (wah nggak usah dobel-dobel review-nya. Cukup satu saja)

- Yume sora

- Liching

- Asahina Natsuki

- Rifqotu salma

- Nuri

- Lyn kuromuno

- Nitsuki-Ringo Matsushima29 (pen name yang paling panjang)

Karin : Terimakasih karena kalian sudah mengikuti fanfic ini sampai chapter sepuluh. Untuk pembaca lainnya juga terimakasih ya. Kita sama-sama berharap semoga author cepat selesaikan fanfic ini. Semangat untuk author!

Bella : & $%#!$ % *sambil mencak-mencak di kursi*.

Kazusa : Oh ya untuk kalian semua yang sudah ikut menyumbangkan idenya. Terimakasih ya, maaf kalau elemen Jin nggak sesuai dengan keinginan kalian. Maaf banget ya.

Micchi : Untuk chapter selanjutnya, author bakal menceritakan tentang alasan kenapa Jin bisa jadi iblis. Hayoo siapa yang kemarin tanya itu?

Kazusa : Maka dari itu, tunggu kelanjutan fanfic ini yang entah kapan bakal di update lagi sama author.

Karin : Oh ya author mau nyampein apa sama readers?

Bella : %!$ *$ *^$&!

Karin : Ya udah kalau nggak mau ngomong. Karena author nggak mau ngomong, berarti kali ini author nggak minta pendapat lagi dari para readers.

Micchi : Tapi sebagai gantinya kalian boleh tanya apapun perihal fanfic ini sama author. Kalau ada yang kalian tidak mengerti. Nanti diusahain, bakal dijelasin sama author.

Karin : Baiklah, sekian dari kami bertiga. Sampai jumpa minna!