Hi, everyone!
Anne muncul lagi, nih. Maaf , ya, lama nggak update. Anne sibuk di kampus lagi. Tugas banyak banget. Nah, kali ini Anne mau cepet-cepet update mumpung ada kesempatan. Yuk, balas review dulu.
ninismsafitri: Rosie mau ngajak Lily sesuatu, tapi.. baca aja, deh, hehehe.. thanks ya, kakak Ninis. Hehehe :)
AnnisaNisa: Iya, dua chapter sebelumnya agak pendek dari biasanya. Ini aku perpanjang lagi, semoga puas, ya. Thanks ya. Maaf bikin nggak sabar. hehehe.. semoga suka chapter endingnya :)
syarazeina: aduh kasihan kamu.. semoga punya gadged baru, ya. Aku doain. Amin. Hehehe Lucy sama Domie duo baru setelah James dan Fred. Duo drama. Hehehe thanks, ya! :)
Dande Liona: ide gilanya lebay, drama banget! Mereka suka nonton sinetron, sih, bapernya nggak ketulungan. Hehehehe thanks ya :)
Guest: yups, aku juga nggak sabar kasih tahu apa yang terjadi sama ide si Rose. Thanks, ya.. :)
AMAZING: Lucy dan Domie menyebar virus bagi Rosie, kita lihat di chapter ini.. Apa yang akan dilakukan Rosie, hehe thanks ya :)
Baiklah.. yang penasaran langsung saja, ya. Oh, ya. Untuk sequel Guinevere lalu ANne ucapkan banyak banyak terima kasih untuk kalian, ya. Anne sampai terharu bacanya. Nah, untuk sesi balas review, rencananya Anne mau buat chapter baru di fic sequel lalu yang isinya balasan review kalian. Mungkin besok atau beberapa hari lagi. Jadi, yang sempat review minggu lalu ditunggu, ya, balasan dari Anne.
Baiklah.. lanjut ke Home? dulu. Selamat membaca final chapternya!
Happy reading!
"Yups," Lucy menjentikkan jarinya, "setahuku Lily belum pernah dinetralkan sementara kekuatan sihirnya. Yang aku tahu dari Al, Lily belum begitu menunjukkan kekuatan sihirnya itu. Hanya sihir-sihir kecil. Ya, mungkin bisalah membantumu melakukan 'sesuatu' untuk rumahmu ini," ujarnya pada Rose menjelaskan saran menunjuk Lily sebagai pengeksekusi rencana gila mereka. Lucy mengangguk pada ibunya siap pulang, "daripada kau diusir, Rosie," tukasnya sebelum melambaikan tangan berpamitan.
"Semua kembali padamu, Rosie. Aku hanya mendoakan semoga keberuntungan berpihak padamu. Bye, aku harus pulang. Vic sudah berteriak-teriak, bye!"
Dominique pun akhirnya ikut pergi. Suara-suara mereka membicara tentang judul-judul drama baru masih terdengar sebelum digantikan suara letupan perapian. Tinggallah keluarga George dan Harry di sana. Para anak masih sibuk bermain. Namun, suara Ginny memanggil anak-anaknya membuat pertanda rumah sebentar lagi akan semakin sepi. Harry dan Ginny siap mengajak anak-anaknya pulang.
"Hugo, aku pulang dulu, ya! Besok kita lanjut lagi, aku akan minta Mummy untuk main ke sini lagi," kata Lily. Rose mendengarnya seksama.
"Iya, Lils. Besok jangan lupa, ya, ajarkan aku gerakan memukulnya. Seperti game tadi."
Rose melihat Lily. Badan Lily kecil. Rasanya tidak mungkin jika Lily bisa meledakkan rumahnya seperti Hugo waktu itu. Ia sendiri melihat jika Lily hanya jago berkelahi. Kekuatan sihirnya tak pernah muncul sebesar kekuatan adiknya. "Mungkin Lucy dan Domie benar, aku bisa meminta Lily melakukan sesuatu agar kami tak diusir dari rumah ini," batin Rose.
Mungkin karena nama juga adalah doa, Lily memiliki sebagian kebiasaan dari pemilik nama tengahnya di dalam dirinya. Luna, dari seorang bernama sama, sahabat baik dari kedua orang tuanya, yang memang terkenal memiliki kebiasaan yang aneh-aneh. Salah satunya adalah tidur berjalan. Kali ini Lily seperti itu.
Sebenarnya, beberapa jam yang lalu, tepat di tengah malam, pesta kejutan untuk kakaknya, James, yang berulang tahun ke sebelas membuatnya susah tidur. Ayah, ibu, dan kakak keduanya rela tidak tidur untuk menggerebek kamar James tepat pukul dua belas malam. Alhasil, Lily ikut-ikut saja. Tidak lama-lama, hanya sampai pukul satu kurang sepuluh menit, Harry meminta anak-anaknya untuk kembali tidur karena ke esokan paginya mereka harus kembali ke sekolah.
Kepala Lily penuh dengan bayang-bayang rasa iri pada kakaknya. Kenapa? Tahun ini James berangkat ke Hogwarts. Sesuatu yang sangat diidam-idamkan oleh Lily. Tapi rasanya, Lily harus cukup bersabar, waktunya masih lama.
"Beberapa hari sebelum kau berangkat saja kita beli perlengkapan Hogwartsmu, Jamie," kata Harry ketika membaca surat Hogwarts yang diterima oleh James malam ini.
Betapa bahagianya James mendengar sang ayah siap untuk membelikan semua perlengkapan sekolahnya beberapa bulan lagi. "Bisakah aku meminta tongkatku lebih dulu, Dad?" rayu James.
"Tidak, aku takut kau menggunakannya aneh-aneh sebelum kau menguasai sihir betul-betul. Kita beli paling cepat satu bulan sebelum kau berangkat." Jawab Harry memberikan opsi paling tepat.
Disitulah Lily mulai semakin tergugah. Tongkat sihir. Lily selalu terpukau ketika melihat para penyihir menggunakan tongkatnya. Melihat ayah dan ibunya sendiri beraktifitas dengan tongkat itu. Ketika ayahnya bekerja selalu menggunakan tongkat sebagai senjata dan itu sangat hebat di matanya. Dari hal itulah, Lily bahkan sempat berkata ingin menjadi Auror yang berani dan tangguh dengan tongkat sihir seperti ayahnya.
"Aku juga ingin tongkat sihir," batin Lily berharap besar.
Dulu, Lily ingin sekali memiliki barang-barang sihir seperti sapu terbang. Mengingat kedua orang tuanya penggila terbang, Lily akhirnya mendapatkan sapu terbang pertamanya, walaupun mainan, tanpa perlu bersusah payah merayu. Meski mainan, harganya cukup mahal karena masih memiliki sihir dan didesain khusus untuk anak-anak.
Harry dan Ginny boleh-boleh saja ketika Lily meminta sapu terbang itu. Lucu sekali ketika Lily memainkan sapunya. Kaki-kaki kecilnya masih bisa menapak tanah sedikit-sedikit ketika sapunya membawa terbang tubuhnya hingga ketinggian beberapa meter saja. Dan kali ini, ia sangat ingin memiliki tongkat sihir. Bukan mainan, tapi sungguhan.
Lily menatap ayahnya penuh pengharapan ketika selimut tebalnya ditarik ke atas, "boleh, ya, Dad?"
"James saja baru Dad belikan nanti saat dia mau berangkat. Apalagi kau, pumpkin. Nanti saat kau siap berangkat ke Hogwarts, ya—" ujar Harry.
Lily menolak keras, "tapi itu masih lama, Daddy. Em-pat-ta-hun!"
Harry hanya menjawabnya dengan gelengan kepala sambil tersenyum simpul. "No, no, no! Sudah sekarang kau tidur lagi, beberapa jam lagi kau harus pergi ke sekolah!" dikecupnya dahi Lily sebelum keluar dari kamar putrinya. Lily menyerah.
Begitulah yang akhirnya membuat Lily terus berpikir tentang tongkat sihir yang akan ia miliki lagi empat tahun mendatang. Rasa tak sabarnya itu terus menerus membuatnya gusar. Hingga terlelap tidur, kepala Lily tak henti-hentinya memikirkan tentang tongkat sihirnya nanti.
Dengan mata tertutup, Lily berjalan tanpa sadar menuju kamar kedua orang tuanya. Mengerang tak jelas hingga ketika gagang pintu kamar ayah dan ibunya susah dibuka. Pintunya terkunci. Lily mengerang sekali lagi. Dengan sekali putar, gagang pintu itu mengeluarkan suara bergemeletak keras. Pintu terbuka.
Lily masuk dengan sempoyongan menuju pusat kamar, dimana satu buah ranjang besar berada di sana. Lily tidak menyadari ia sudah berhasil masuk ke dalam kamar kedua orang tuanya yang terkunci dari dalam. Langkah kakinya hampir sampai di depan ranjang. Ranjang tempat kedua orang tuanya sedang tidur sekarang. Berbalut selimut dengan posisi saling berpelukan. Selimut tebal menutupi keduanya yang tampak pulas.. tanpa busana.
Brukkk!
"Bloody hell—Lily?" pekik Harry terkejut ketika tubuh Lily ambruk tepat di kakinya.
Tidak hanya Harry, Ginny terkejut bukan main langsung bangkit terduduk sambil meremas selimut di depan dadanya. "Kau lupa mengunci pintunya, hah?" tanya Ginny syok melihat Lily tertidur dengan posisi tengkurang di atas kaki suaminya, suara dengkuran samar-samar ikut terdengar dari mulutnya yang kecil.
"Sudah, astaga lihat itu—" Harry menunjuk gagang pintu kamar mereka yang rusak. Lubang pengunci di bagian kusen pintu retak dan patah. "Dengan apa dia masuk ke sini? Itu seperti bekas didobrak—Ginny?"
"Kau buang ke mana piamaku, Harry?" bukannya menjawab Ginny balas bertanya. Suaranya masih berbisik.
Cepat-cepat, dengan bermodal mantera Accio, Harry mengambil pakaian-pakaiannya yang berserakan di lantai untuk segera di kenakan. "Celanaku!" pekik Harry meminta Ginny mengambilkan celana piamanya yang tergeletak di sisinya. Harry tertawa namun tertahan.
"Merlin, kenapa Lily bisa seperti ini, sih? Kebiasaan tidur anehnya ini semakin mengkhawatirkan, Ginny. Untung saja kita pakai selimut, Lily juga tidak sadar," bisik Harry mengangkat tubuh Lily agar naik dan dibaringkan tepat di tengah-tengah ia dan Ginny.
"Aahh apa yang dilakukan anak ini? Lain kali kunci pakai mantra juga, Har—"
"Emm—"
Lily akhirnya tersadar. Ia mengucek matanya susah payah melihat ke sekelilingnya. Terlihat aneh ketika ayah dan ibunya melihatnya dengan tatapan penuh heran. Terutama ayahnya yang melihat wajahnya begitu dekat. "Daddy? Mummy? Mana tongkatku?"
Itu yang pertama keluar dari mulut Lily. "Hah?" balas Ginny dan Harry bersamaan.
Harry mengambil tongkatnya lantas mengucapkan, "reparo!"
Retakan kayu yang terkoyak karena ulah Lily yang memaksa masuk., kini kembali utuh dan baik. Lily makin tak sabar menuntut tongkat sihir pertamanya. "Aku mau tongkatku, Dad—"
"Eh, semalam Dad bilang apa? Tidak ada tongkat sebelum kau berangkat ke Hogwarts. OK! Daddy tidak menerima rayuan apapun. Kalau kau mau Dad belikan tongkat sihir mainan saja, ya?" tawar Harry memberikan kesempatan Lily memilih.
"Tapi.. aku mau yang asli!"
Ginny memukul pantat Lily pelan lantas berucap, "nanti, sayang, kalau kau sudah dapat surat Hogwartsmu. Empat tahun lagi, ya," rayu Ginny.
Protes Lily tidak diterima. "Pokoknya aku mau tongkat sihir, Mummy. Daddy nggak boleh bangun sebelum Daddy belikan tongkatnya, nggak boleh! Mummy juga," Lily memeluk tubuh Harry dalam posisi berbaring miring begitu erat. Seolah tak membiarkan ayahnya bergerak ataupun turun dari ranjang.
"Ya, sudah. Ini juga baru jam setengah lima. Ayo tidur lagi, Mummy. Biarkan Lily memeluk terus sampai nanti matahari terbit. Daddy malah suka dipeluk sampai tidur lagi," goda Harry makin mengeratkan pelukan Lily.
Ginny tertawa karena ulah Harry yang tidak menanggapai serius permintaan putri mereka yang super manja. Kebiasaan Lily selalu dipenuhi keinginannya membuat Lily suka menuntut jika menginginkan sesuatu. "Anakmu, Harry!" keluh Ginny menunjuk hidup Harry yang kini menekan kepala Lily ke dadanya.
"Kalau sudah nakal begini saja bilang anakku, kau lupa kita membuatnya bersama?" Harry menyungingkan seringainya kembali menggoda. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Lily sampai membuat putri kecilnya kembali tertidur karena kelelahan merengek.
"Dasar," jawab Ginny malu-malu. Mereka siapkembali tidur meski hanya beberapa jam.
James, Al, dan Lily bersama Ginny datang ke rumah Ron untuk menemani Rose dan Hugo yang hanya berdua karena kedua orang tua mereka masih bekerja di Kementerian. Ginny memilih untuk datang karena menuruti permintaan Hermione agar Ginny menemani kedua anaknya sementara sebelum ia pulang. Hermione meminta karena menurut jadwal ia akan pulang lebih cepat untuk mempersiapkan kepergiannya bertugas ke luar Inggris.
"Rosie, panci untuk merebus kentangnya disimpan di mana, sayang?"
Ginny berteriak dari arah dapur meminta bantuan Rose sebagai tuan rumah. Ia ingin menyiapkan makanan agar ketika Hermione datang tidak akan sibuk-sibuk lagi untuk memasak.
Rose menunjuk lemari kecil di bagian atas kompornya. "Di sana, Aunty. Aku sempat melihat Mum memasukkannya di sana," ujarnya.
"Terima kasih, sayang. Kau mau bermain atau—"
"Aku ikut membantumu saja, Aunty. Sekalian kita ngobrol soal masakan. Aku ingin pandai memasak seperti Aunty Ginny. Boleh, ya?"
Ginny tertawa melihat putri sulung Ron yang begitu semangat untuk bekerja, berbeda dengan ayahnya yang pemalas. "Untung kau mewarisi semangat Mummymu, sayang. Jangan jadi pemalas seperti Daddymu itu. Sukanya makan saja," gurau Ginny mulai meracik bumbu-bumbu masakannya.
"Kalau untuk Dad, kebanyakan Hugo yang mengambil alih kebiasannya. Mereka sama-sama suka makan, dan suka marah-marah tidak jelas."
Kedua orang wanita berdarah Weasley itu tertawa bersama sembari memasak. Rose memotong beberapa buah tomat dan wortel yang sudah dikupas untuk membuat sup. Sementara Ginny mengolah daging ayam dan pasta. "Namanya juga anak dan orang tua. Paling tidak ada yang diwarisi. Sepertimu dengan Mummy. Benar, kan?"
Rose memang merasakannya sendiri. Seleranya hampir sama dengan sang ibu, seperti buku-buku bacaan. "Apa James, Al, dan Lily juga punya kesamaan dengan Aunty Ginny dan Uncle Harry? Ya, walaupun aku melihatnya sendiri sebagian, tapi aku ingin tahu dari Aunty Ginny, benar tidak sih?"
"Benar sekali," Ginny mencincang dada ayam menjadi dadu kecil-kecil untuk disisikan sebagai campuran saus pastanya. Ia melihat Rose yang begitu semangat memtong, "kau lihat sendiri, kan. Seperti James, itu.. suka sekali menjahili tapi ia punya tanggung jawab besar untuk melindungi adik-adiknya, dia overprotective seperti Uncle Harry. Sifat lain Unclemu itu bisa dilihat dari Al. Coba apa yang kau bisa lihat kesamaan mereka? Selain dari wajahnya, ya," tanya Ginny.
Mereka menoleh sejenak ke arah ruang tamu tempat Al membaca buku koleksi Rose yang ada di rumah itu. "Al itu pembawaannya tenang, tidak tergesah-gesah, pemikir seperti Uncle Harry. Tapi dia juga bisa santai dan enak kalau dijak berbicara."
"Itu dia, para laki-laki lebih banyak meniru ayahnya." Tambah Ginny.
Rose tertawa, ia sadar jika memang kebanyakan sifat ayahnya juga menurun pada adik laki-lakinya, Hugo. "Tapi, apa Lily juga punya sifat seperti Uncle Harry? Sejauh yang aku lihat, Lily itu lebih seperti Aunty, loh. Keras!"
"Wow, jangan salah.. garang-garang begitu, Lily manja sekali," kata Ginny.
"Manja? Iya, sih. Tapi mirip siapa, ya? Setahuku Aunty itu orangnya mandiri sekali, independent dan—"
"Uncle Harry, dong, sayang," Ginny memotong cepat lantas melanjutkan untuk memasak pastanya. "jangan salah," lanjut Ginny.
Rose terbelalak tak percaya. Seorang Harry Potter manja?
"Iya, Rosie. Jangan bilang-bilang.. kadang, pria dewasa lebih manja dari anak-anak. Mungkin Daddymu juga begitu, kan? Ah, aku yakin seratus persen kalau Ronald Weasley itu adalah orang yang tak kalah manjanya dari pamanmu, Rosie. Sebagian hidupku tinggal bersamanya."
Rose dan Ginny terbahak bersama. Mereka membicarakan ayah dan suami yang sedang bekerja dengan hal-hal yang tersembunyi di balik kegagahan mereka sebagai Auror. Bayangkan saja, kepala dan anggota khusus divisi Auror bisa bersikap sangat manja ketika di rumah bersama istri-istri mereka.
"Lupakan jabatan dan status mereka, nak. Percayalah, suatu saat ketika kau memiliki suami, lihat betapa laki-laki itu masih memiliki jiwa-jiwa kekanak-kanakan di dalam diri mereka. Aunty berani bertaruh!"
"Aku percaya, Aunty." Jawab Rose masih tertawa kencang. Tangannya memeluk perutnya menahan nyeri terlalu kencang tertawa.
"Aku bilang tendang di sana, Hugo. Pakai kaki punggung kakimu. Jangan pakai ujung jari kakimu. Nanti sakit, jari-jarimu bisa patah kalau kau salah." Instruksi Lily begitu serius menerangkan cara menendang yang baik. Lily memenuhi janjinya mengajarkan gaya memukul dan menendang pada Hugo hari ini.
Untuk pelajaran pertama, Hugo diminta untuk menendang botol plastik yang digantung pada tiang plafon di teras belakang. James yang menggantungnya.
"Susah, Lily. Aku tak sampai," keluh Hugo.
"James, bantu aku menurunkan botolnya. Aku tak sampai. Kau yang paling tinggi di antara kita," teriak Lily ke arah James dan Al yang sibuk menonton ulah Hugo berlatih berkelahi.
James mendelik, "malas, ah. Aku, kan, sudah bantu ikatkan," protes James masih tak mau untuk membantu. Ia memang sengaja meninggikan ikatan botolnya agar kaki Hugo tak sampai ketika menendangnya. Al mengetahui semuanya hanya bisa diam dan menahan tawanya.
"Kau jahat juga, James. Lihat Hugo. Kasihan dia!" bisik Al di sampingnya. Ada buku tebal milik Hermione di atas pangkuannya.
"Biarkan, Al. Kalau tidak seperti ini, tidak akan ada hiburan. Lucu sekali Hugo ketika menendang botong yang menggantung tinggi itu. Kakinya tak sampai—"
Rose dan Ginny masih sibuk dengan masakan mereka di dapur. Ketika Rose sejenak keluar untuk meletakkan piring-piring di atas meja makan, ia tak sengaja melihat Lily yang begitu berapi-api mengajarkan Hugo gerakan-gerakan menendang dan memukul. "Hugo masih ingin bisa berkelahi seperti Lily? Kalau Hugo masih sibuk dengan Lily, bagaimana caranya aku bisa meminta Lily membantu merusak beberapa bagian rumah ini? aku tak punya waktu lama," batinnya.
"Rosie, kau melihat apa, sayang?" Ginny tiba-tiba muncul dari belakang Rose, ia membawa beberapa nampan berisi makanan kecil dan jus jeruk menuju halaman belakang, "kau mau ikut bermain, ya? Ke sanalah, tak apa. Di dapur tinggal cuci-cuci sambil menunggu supnya matang," pesan Ginny meminta Rose untuk ikut bermain saja.
"Ta-tapi, Aunty—"
"Tak apa, terima kasih, ya, sudah membantu Aunty memasak. Sekarang giliranmu istirahat, kau bisa bermain dengan yang lainnya. Anak-anak—" Ginny memanggil anak-anak yang bermain untuk mendekat ke meja santai di teras belakang, "ada snack, makanlah!"
Ginny meletakkan nampannya tergesa-gesa karena ingat, daging panggangnya sudah siap di angkat. "Makanlah, Rosie. Aunty kembali ke dapur dulu, ya. Aunty lupa kalau masih mengoven daging," kata Ginny tanpa mempedulikan kain pembersihnya dan sebuah benda panjang tertinggal bersama nampan di atas meja. Tongkat sihir Ginny.
Rose mengangguk pasrah. Ini kesempatannya untuk mulai mendekati Lily memulai rencananya.
"Aduhh, bagaimana, ya? Apa ada kayu atau—nah itu mungkin bisa digunakan," Lily melirik sejenak ke arah meja. Benda panjang yang ia lihat tak begitu jelas tergeletak di meja langsung ia ambil untuk mengurai ikatan yang ada di atas.
Lily mengambil tongkat sihir Ginny yang tertinggal. Tanpa ia sadari, ia menggunakan tongkat itu untuk menarik ikatan yang terpasang di atas tiang langit-langit. Tidak sampai, Lily terus mengayunkan tongkat Ginny berusaha menjangkau simpul ikatan yang dibuat James.
Ada gerakan memutar di tangan Lily sambil terus mengayun ke arah ikatan talinya, tentu saja dengan tongkat Ginny yang masih digenggamnya. Dari jauh, Rose terus memikirkan bagaimana cara agar ia bisa mengajak Lily berbuat sesuatu membantunya merusak sedikit rumahnya. Ia tak begitu memperhatikan apa yang sedang dilakukan Lily, apalagi benda yang digunakan untuk menarik tali mainannya.
"Rosie—" Ginny berteriak lagi dari arah pintu belakang, "Rosie, kau lihat tongkat sihir Aunty?"
Rose langsung tertegun. "Tongkat?" tanya Rose.
"Iya, tongkat Aunty tidak ada. Seingat Aunty tadi Aunty bawa, tapi lupa—"
Tiba-tiba, dari arah Lily dan Hugo berdiri, James mengolok Lily yang tak sampai menarik tali ikatannya. "Huh, dasar pendek. Banyaklah melompat, Lils, kau masih bisa tumbuh tinggi. Jangan jadi pendek seumur hidup!"
"Diam kau, James! KENAPA SUSAH SEKALI, SIH!" teriak Lily lantang.
BRUKK! Plafon teras belakang rumah itu rubuh tepat saat Lily berteriak keras. Debu pecahannya bertebaran membuat pandangan mereka terhalang beberapa saat. Ginny dan para anak-anak tertegun melihat betapa dahsyatnya suara lapisan tebal penahan panas dan hujan itu jatuh dan hancur di lantai. Tepat di depan kaki Lily dan Hugo.
"Lils," panggil Hugo terbata.
"Lily, ka-kau apakan atapnya—"
James berhenti bertanya ketika Lily berbalik cepat lantas mengacungkan ujung tongkat di tangannya ke depan wajah James. "Diam kau, James. Ini semua gara-gara KAU!" teriak Lily terkuasai oleh emosi. Wajahnya memerah menahan marah.
"I-itu, kan?" Rose menunjuk tongkat yang diacungkan Lily.
"Tongkatku! Astaga pasti aku lupa meletakkannya dengan nampan," kata Ginny mulai panik.
Atap teras yang hancur adalah reaksi yang dibuat Lily ketika tak sengaja mengayun-ayunkan tongkatnya dengan tekanan emosi yang memuncak. Kini, Lily bersiap mengacungkan tongkatnya lagi.
Tiba-tiba saja, James seperti mendapat dorongan pada tubuhnya hingga terjatuh. Ada rasa mendesak di bagian hidungnya. Ginny, Rose, dan Hugo tampak kebingungan dengan tingkah James yang tiba-tiba terjatuh hanya dari bentakan Lily.
"James kenapa?" tanya Rose.
Suara perapian berdebum tiga kali dari dalam rumah. Ron, Hermione, dan Harry datang ke rumah lebih cepat dari jam pulang biasa. wajah ketiganya begitu bahagia, namun seketika hilang ketika melihat keributan di halaman belakang.
"Bloody hell! Ada apa ini?" pekik Ron melihat atap teras belakangnya hancur sebagian.
"Lily? Dia membawa tongkat?" kata Hermione melihat keanehan pada Lily.
Ginny dan Rose yang berada di dekat pintu langsung menoleh ketika ketiganya datang. Harry langsung menghampiri Ginny bertanya apa yang sedang terjadi. "Itu tongkatmu, kan? kenapa ada dengan Lily?" tanya Harry. "Dia menghancurkan atap?"
Pundak Ginny terangkat. "Aku tak sengaja meninggalkan tongkatku bersama nampan makanan anak-anak karena aku lupa mengangkat masakanku di oven. Saat aku kembali, aku melihat Lily baru saja—"
"A-apa ini?" pekik James ketakutan ketika beberapa kelelawar kecil keluar lubang hidungnya. Perlahan membesar dan menyerang seolah benda-benda besar terlempar bersamaan ke tubuhnya.
"AWWW!" James duduk tertelungkup menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya.
Para orang tua langsung terbelalak melihat apa yang sedang dialami James saat ini. Mereka semua tahu apa yang sedang dilakukan Lily. Sebuah kemampuan sihir langka yang dikuasi oleh Ginny dan beberapa penyihir tertentu.
Hermione terbata tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "I-itu, kan—"
"Kutukan kepak kelelawar!" pekik Harry masih tak percaya dengan kekuatan putri kecilnya, "kenapa Lily bisa melakukan—"
"Tentu saja bisa, Harry," potong Ron lantas melihat Ginny, "kau lupa siapa ibunya?"
Semua orang melihat ke arah Ginny yang entah bahagia, bangga, atau takut dengan apa yang ia lihat dari putrinya itu. Kekuatan yang tidak sembarangan, keahlian yang sangat dikuasi Ginny sejak ia kecil.
"Itu pasti sangat sakit," kata Ron mengingat betapa nyerinya ketika dulu ia kecil pernah mendapat hex dari Ginny.
"Ini baru putriku," ujar Harry berbangga. Putri kecilnya yang manja memiliki kekuatan yang hebat dari sang ibu.
Tapi, Ron dan Hermione langsung menatap tajam ke arah Harry dan Ginny yang sedang berbangga hati. "Iya, putrimu. Dan itu artinya kau ikut bertanggung jawab dengan atap terasku itu, Potter," kata Ron mulai geram. Rumah barunya hancur lagi.
"Hehehe—" Harry tertawa pelan meras atak enak, "tapi, kan, uang tunjanganmu sudah cair, kan, Ron," rayu Harry. Ia dan Ron ikut pulang cepat setelah mengurus pencairan biaya tunjangan yang sempat tertunda. Sebagai dispensasi, Harry dan Ron mendapatkan jam pulang lebih cepat mengingat tugas para Auror tidak begitu banyak hari ini. Ron dan Hermione pun berniat mengadakan pesta ketika mereka sampai di rumah.
Ron mendelik garang, "cair, sih, cair. Tapi kan uang yang aku gunakan membeli rumah ini juga harus diganti, kan? Ini gantinya. Kalau aku yang memperbaikinya dengan uang tunjangan ini, itu sama saja aku memperbaikinya dengan uang tabunganku. Tidak. Kau harus menggantinya!"
"Iya, iya.. maaf, ya! Nanti aku yang biayai perbaikannya." Kata Harry pasrah. Lily sudah dijemput oleh Ginny. badan Lily bergetar hebat karena ketakutan, ia sadar benda yang ia pegang adalah tongkat sihir ibunya sendiri.
"Aku tak tahu, Mummy. Maafkan aku, aku kira kayu biasa," Lily menyerahkan lagi tongkat itu pada ibunya.
Rose seperti disadarkan oleh penjelasan ayahnya tadi. "uang untuk membeli rumah? Rumah ini sudah dibeli, Mum?" tanya Rose pada Hermione.
"Tentu, sayang. Daddymu itu diam-diam menguras tabungannya untuk membeli ini. Tapi sekarang uang tunjangan itu sudah ada, jadi uang Daddymu sudah kembali. Memangnya kenapa?" tanya Hermione tak paham.
"Ah," Rose salah tingkah, "tidak ada apa-apa," katanya. Ada rasa lega ketika ia tak jadi meminta Lily untuk merusah bagian rumahnya. Tapi, walaupun tak diminta, rumahnya kini sudah rusak. Bahkan jauh lebih parah seperti yang diinginkannya.
Ron dan Harry masih saling berbicara tentang hancunya atap terasnya bersama. "Untung tak kamarku yang hancur. Kalau iya, aku ingin kembali menginap di rumahmu tapi aku minta tidur di kamar utama, alias kamarmu dan Ginny. Dan kalian tidur di kamar dekat perpustakaanmu yang sempit itu" Ron masih sebal pada candaan Harry.
"Dan untungnya, kamarmu tak tak ikut hancur," bisik Harry lega.
James dibantu Al dan Hugo kembali bangkit dengan erangan kesakitan masih keluar dari mulutnya. "Sabar, James. Nanti juga baik." Kata Hugo.
"Kau sendiri, sih, usil. Kenapa akibatnya, kan!" Kata Al pada kakaknya.
"Nasib.. nasib!" gerutu James sambil mengusap-usap kepalanya yang sedikit memar.
Semua orang tua tertawa melihat James babak belur akibat serangan mantera Lily. Sebuah keahlian yang ikut diturunkan Ginny pada Lily, putri kandungnya. Samar-samar Lily tampak berkata pelan, "aku tak jadi minta tongkat sekarang. Empat tahun lagi tak apa. Daripada aku menghancurkan rumahku sendiri."
Hermione mengusap rambut merah Lily gemas. "Tak apa, Lily. Kau masih punya jalan untuk pulang. Kalau kau menghancurkan rumahmu, Aunty dan Uncle Ron siap kok memberikan tumpangan untuk keluarga kalian menginap di sini. Kau tidur dengan Rosie, Al tidur dengan Hugo—"
"Lalu aku?" tanya James tiba-tiba. Ia kembali meringis saat Al menekan luka lebam di wajahnya.
"Kau tidur bersama Mummy dan Daddymu, James. Supaya mereka tak selalu bermain-main sebelum tidur. Bikin berisik!" pekik Ron menggoda Ginny dan Harry hingga wajah keduanya bersemu merah. Dua keluarga kecil itu pun tertawa bahagia dengan sebuah kebersamaan yang tidak bisa ditandingi oleh apapun. Mereka adalah keluarga. Keluarga, tempat untuk selalu kembali pulang.[]
- FIN -
#
Hehehe.. bagaimana, teman-teman! Semoga bisa menghibur, ya. Anne minta maaf kalau ada kata-kata yang tidak berkenan, Anne hanya semata-mata untuk menghibur saja. Hehehe.. Anne berharap kalian suka fic Anne ini, ya.
Oh,ya. Mungkin nanti Anne akan lama update cerita barunya. Anne makin sibuk di kampus. Jadi, sabar-sabar ya nunggu fic baru. Terima kasih atas perhatian kalian semua dengan fic-fic karya Anne. Kalian memang luar biasa.
Anne tunggu reviewnya. Anne akan baca, kok. kalau ada kesempatan bisa Anne balas. Maaf kalau masih ada typo. Anne sayang kalian semua! :)
Thanks,
Anne xoxo
