Baby, I'm Not A Monster..!

Fandom: Naruto

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: SasuFemNaru

Genre: Romance& hurt/comfort

Rate: T

Warning: AU, OOC abis, typo, abal,tema dipertanyakan, gaje, don't like don't read. No flame please.

Baby, I'm Not A Monster..!

Shikamaru menghela napas berat sebelum akhirnya ia memutuskan mengejar Sasuke yang sudah beberapa langkah darinya. Ia harus menjelaskan semua ini. Agar tidak semakin memperparah hubungan Naruto dengan Sasuke. Lagipula, sekalipun nantinya ia akan diuntungkan dengan keretakan hubungan dua insan itu, ia yakin Naruto tak akan seperti dulu lagi. Ia mungkin akan mengalami penurunan strata dari orang yang dicintai Naruto menjadi sahabatnya atau yang paling parah orang yang paling dibenci oleh wanita blonde itu.

" Tunggu..!" pekik Shikamaru.

Sasuke menghentikan langkah kasarnya tanpa menoleh sedikitpun pada Shikamaru yang tergopoh-gopoh sembari memegangi sudut bibirnya yang pecah.

" Aku tekankan sekali lagi, kami berdua tak melakukan apapun. Aku dan Naruto sudah melupakan janji itu. Kami disini hanya menyelesaikan permasalahan itu. Kau tenang saja, aku tak akan mengganggu hubunganmu dengan istrimu. Aku cukup tahu diri dan terhormat untuk tidak melakukan hal bodoh itu."

" Aku tak peduli lagi."

" Jika kau sudah siap melihat jasad Naruto di hadapanmu, kau boleh meninggalkannya." Ucap Shikamaru dingin, tangan kanannya terkepal.

Mau tak mau Sasuke membalik tubuhnya, ia mengerutkan dahinya tanda tak mengerti. " Apa maksudmu?"

Shikamaru tersenyum tipis. " Apa kau tidak memikirkan apa yang akan dilakukan Naruto jika kau meninggalkannya seperti itu? Kau tidak ingat penderitaannya selama berbulan-bulan? Apa kau tidak ingat jika itu ulahmu, huh?! Dan apa kau tidak berfikir jika Naruto bisa saja melakukan hal lebih buruk dari pada sekedar memotong urat nadinya? Uchiha?"

" Tutup mulutmu!" bentak Sasuke.

" Kalau memang kau siap, kau boleh meninggalkannya sekarang dan secepatnya akan kukabari kau bahwa Naruto sudah berada dalam peti mati."

" Brengsek! Apa kau mendoakan Naruto untuk mati?!" kali ini Sasuke benar-benar geram, mana mungkin ia bisa melihat Naruto mati?

Mati?

Tunggu!

Bagaimana kalau yang dikatakan oleh Shikamaru benar? Bagaimana kalau nanti Naruto melakukan hal yang lebih parah dari pada sekedar memotong urat nadinya? Bagaimana kalau nanti Naruto mati?

Sasuke terdiam begitupun Shikamaru. Keduanya berkutat pada pikiran masing-masing. Shikamaru dengan rencana apa saja yang akan ia lakukan untuk menjelaskan pada Sasuke, dan Sasuke dengan spekulasi-spekulasi gilanya.

Menghiraukan teriakan histeris seorang suster di tepi danau.

" Tolong! Ada pasien tenggelam!" terdengar teriakan horor dari arah danau yang membuyarkan lamunan dua lelaki itu.

" Diam sialan!" bentek keduanya hampir bersamaan seraya membalik tubuh mereka.

Tiba-tiba keduanya tercekat. Mata mereka membulat tak percaya. Tak jauh dari Shikamaru dan Sasuke berdiri, mereka dapat melihat dengan jelas kepala bersurai pirang timbul tenggelam di dalam danau dengan tangan yang menggapai-gapai seolah ingin meraih udara.

" Naruto...!" teriak Sasuke dan Shikamaru bersamaan. Keduanya langsung melesat menuju danau .

Sasuke tanpa aba-aba lagi menceburkan dirinya ke dalam danau. Secepat mungkin ia berusaha meraih tubuh Naruto yang sudah mulai tenggelam ke dasar danau yang dalamnya kurang lebih empat meter itu.

" Cepat bantu aku, bodoh!" teriak Sasuke pada Shikamaru. Shikamaru tampak panic dan bingung.

" A-aku tak dapat berenang."

" Shit..!" umpat Sasuke.

Segera saja ia raih tubuh Naruto yang masih bergerak liar. Sangat sulit untuk menarik tubuh Naruto karena gerakannya yang membuatnya semakin tertarik ke dasar danau. Sasuke mulai bergerak frustasi karena kebodohan Naruto yang memilih menceburkan diri ke dalam danau meskipun ia tahu ia tak dapat berenang. Apa ia ingin bunuh diri lagi?

Sasuke menggeleng sembari tetap mencoba meraih tubuh Naruto. Ia melihat Naruto seolah menyebut namanya. Terasa sakit bagi Sasuke. Bagaimana jika ia tak bisa membawa Naruto ke daratan dengan selamat?

Sasuke sudah frustasi mencoba mendiamkan Naruto yang masih bergerak liar dan masih mencoba menggapai udara. Sesekali kepala Naruto tampak menyembul di permukaan, namun secepat kilat kembali tenggelam.

Oke! Tak ada cara lain. Ia harus membuat Naruto diam, jika tidak ia ia juga akan tertarik ke dasar danau bersama Naruto dan mati bersama. Setidaknya Sasuke tak mau mati dengan cara seperti ini. Ia ingin mati dengan cara yang heroic. Bukan tenggelam bersama Naruto dan melupakan pernikahan mereka. Oh ayolah, berpikir bagaimana caranya membawa Naruto ke daratan dengan masih mendapat predikat mahluk hidup.

Buakh..!

Tak ada cara lain, Sasuke memilih memukul tengkuk Naruto agar ia pingsan dan Sasuke dapat menariknya dengan mudah ke daratan. Satu pukulan membuat Naruto pingsan dan segera saja Sasuke menarik tubuh Naruto.

'Sedikit lagi, bertahanlah Naruto.' batin Sasuke.

Tak seberapa lama akhirnya Sasuke berhasil membawa Naruto naik. Dengan Naruto yang pingsan dan napas Sasuke yang hampir habis jika saja tidak ada sisa udara di paru-parunya mungkin sekarang organ itu sudah mengerut kering.

Tak terasa air mata Sasuke jatuh, ia memeluk tubuh Naruto yang tergeletak di pangkuannya. Shikamaru langsung memeriksa keadaan Naruto.

" Apa kau membuatnya pingsan?" Tanya Shikamaru penuh selidik.

" Kalau aku tidak membuatnya pingsan, aku dan Naruto tak akan pernah muncul ke permukaan." Jawab Sasuke masih terengah-engah. " Aku minta danau sialan itu dihancurkan."

Shikamaru tersenyum hambar, jauh dalam hatinya ia bersyukur. Sekalipun bukan ia yang menyelamatkan Naruto, karena jika ia yang menceburkan dirinya, dapat dipastikan mereka berdua akan tenggelam. Setidaknya memang seharusnya Sasuke yang menyelamatkan Naruto.

Shikamaru mengarahkan stetoskopnya ke dada Naruto memastikan detak jantung wanita cantik itu masih ada. Ia tersenyum penuh syukur. Detak jantungnya masih ada sekalipun tak beraturan.

" Cepat bawa Naruto ke ruang perawatan. Aku harus periksa keadaannya lebih lanjut." Perintah Shikamaru pada beberapa perawat yang berkerumun di dekatnya.

" Terimakasih, kau sudah menyelamatkan sahabatku." Shikamaru menepuk pundak Sasuke yang seketika langsung ditepis oleh lelaki itu.

" Tch, urusan kita belum selesai."

" Terserah kau saja."

Shikamaru melenggang meninggalkan Sasuke yang membeku di tempatnya. Sasuke mengacak rambutnya kasar. Ia merutuki dirinya sendiri yang tak becus menjaga Naruto. Kenapa selalu Naruto berada dalam bahaya? Kenapa selalu dia penyebabnya? Apa benar yang dikatakan oleh orang-orang bahwa ia hanya menjadi monster bagi Naruto?

Sasuke merasa benar-benar menjadi monster bagi kehidupan Naruto.

Mendengar kabar bahwa Naruto tenggelam, Minato langsung menuju rumah sakit bersama Kushina. Tak lupa, setelah sampai, mereka berdua menceramahi Sasuke habis-habisan dan hanya ditanggapi oleh Sasuke dengan kata maaf. Seolah kata itu yang ia ketahui saat ini.

" Bagaimana bisa kau membiarkan Naruto menceburkan dirinya ke dalam danau. Kau harusnya tahu, Naruto baru sadar dan emosinya masih labil. Apa kau tidak memikirkan bagaimana jika Naruto mengelami hal yang lebih buruk daripada sekedar koma, Sasuke?" oceh Minato, ia mondar-mandir di depan ruang tindakan menanti kepastian dari doter.

" Maafkan aku, Ayah." Sesal Sasuke, ia menundukkan kepalanya dalam.

" Kau terlalu sibuk dengan emosi sesaatmu tanpa melihat akibatnya, seharusnya kau mendengarkan penjelasan dari Naruto terlebih dahulu, bukannya pergi meninggalkannya." Tambah Kushina.

Oh ayolah, sekarang Sasuke tak tahu harus menjawab apa. Dia sungguh terpojokkan saat ini. Ia ingin sekali menerjunkan tubuhnya dari lantai teratas rumah sakit ini melihat tatapan penuh tuduhan dari pasangan suami istri itu.

" Hontou ni, gomenasai.."

" Pasien sudah bisa dijenguk." Minato hampir saja kembali mengoceh jika saja suara seorang suster tidak menginterupsinya.

" Terimakasih." Ucap Minato.

Ketiganya langsung memasuki ruang rawat Naruto. Naruto tampak masih lemah dengan alat bantu napas di hidungnya. Sesekali ia tersengal mengingat betapa lamanya ia ternggelam tadi. Sasuke menatap Naruto dengan tatapan penuh permohonan maaf, Yang ajaibnya dibalas senyuman lembut dari Naruto. Sasuke benar-benar merasa bersalah.

" Bagaimana keadaanmu little kitsune?" Tanya Minato sambil tersenyum dan membelai rambut Naruto.

" Aku baik, tou-san, kaa-san. Maaf merepotkan kalian."

Minato dan Kushina tersenyum.

" Istirahatlah, kami keluar sebentar." Ucap Kushina sambil menarik lengan baju Minato dan melirik Sasuke.

" Ah, iya." Ucap Minato canggung.

Di ruangan itu hanya ada Sasuke dan Naruto. Keduanya terdiam saling pandang satu sama lain. Tak ada yang membuka suara. Sampai akhirnya Sasuke jengah dan melangkah mendekati tempat tidur Naruto. ia tersenyum paksa.

" Kenapa kau lakukan hal bodoh lagi, rubah idiot?" Tanya Sasuke sambil mengusap punggung tangan Naruto. Dingin.

" Cincinnya, belum ku temukan." Jawab Naruto takut-takut.

Sasuke mendengus, ia sangat gemas dengan kecerobohan 'istri'nya itu. Hanya karena cincin yang dapat ia beli dengan mudah, bisa-bisanya ia menceburkan diri ke dalam danau. Dan lebih bodohnya, tak bisa berenang pula.

Haaahh...!

" Kau tidak bisa berenang, bodoh!" Sasuke menjitak kepala Naruto.

" Aww, ittai.! Kau tahu kan, itu cincin pernikahan kita..."

" Kita akan melakukan pernikahan lagi, aku sudah menyiapkannya. Jadi kau tak perlu takut dengan cincin yang..err...ehm...kubuang itu."

Naruto terdiam. Bukan karena ia shock bahwa ia akan menikah. Toh, Sasuke sudah menikahinya sejak ia masih koma waktu itu. Tak mengulangnya pun tak masalah. Tapi ia terdiam karena kata-kata 'kubuang' yang membuatnya teringat pada saat-saat sebelum ia menenggelamkan tubuhnya sendiri.

" Soal, itu aku bisa jelaskan – " ucapan Naruto terputus saat Sasuke menempelkan jari telunjuknya di bibir pucat Naruto. Sasuke bergerak dan mencium bibir itu lembut.

" Aku tahu, aku percaya padamu. Dokter itu sudah menjelaskannya padaku. Maafkan aku karena tak mempercayaimu." Ucap Sasuke pelan. Ia mengenggam lembut tangan Naruto.

" Sasuke, maafkan aku. Kau tahu aku hanya mencintaimu."

" Ya, aku tahu itu. Bagaimana bisa kau tidak mancintai aku yang tampan ini?" canda Sasuke yang langsung mendapat cubitan keras dari Naruto. keduanya tersenyum dan tak lama kemudian tertawa-tawa.

Shikamaru tersenyum lembut mendengar percakapan mereka berdua dari balik pintu.

Saatnya melepaskan semua perasaannya. Inilah titik dimana ia harus menyerah. Karena ia tahu, bahagia Naruto hanya pada Sasuke, ia hanya cinta masa kecil Naruto. Cinta pada orang yang begitu dikaguminya.

Sekali lagi Shikamaru tersenyum sekalipun ia merasa begitu sakit. Tak apa. Dengan wajah yang tampan – menurut Naruto – mungkin ia dapat dengan mudah mendapatkan gadis di sini.

0o0o0o0o0o0o0o0

Gaara menidurkan kepalanya di atas meja bar. Di hadapannya terlihat beberapa botol minuman beralkohol yang sudah tak berisi. Sesekali terdengar racauan tak jelas dari bibirnya.

" Kitsune, mengapa kau tak melihatku sedikitpun? Aku mencintaimu. Hanya aku yang boleh memilikimu, bukan Uchiha sialan itu. Jika aku tak bisa memilikimu, tak ada yang boleh, tak ada." Ucapnya tersengal karena kesadarannya yang mulai menurun.

" Oe! Pelayan! Satu lagi!" teriaknya mengacungkan botolnya yang kosong.

" Maaf tuan, anda sudah terlalu mabuk, apa perlu saya panggilkan keluarga anda?"

Gaara bangkit dan mencengkeram kerah pelayan itu. " Berikan aku lagi atau kubunuh kau!"

Pelayan itu tampak gugup. Keringat dingin meluncur dari pelipisnya. Menghadapi orang mabuk lebih berbahaya dri pada orang waras. Kesimpulannya.

" Ba-baik tuan.." pelayan itu segera melesat menghindari jikalau tiba-tiba nyawanya menghilang di tangan pengunjung berambut merah itu.

" Apapun yang terjadi, kau harus jadi milikku. Jika aku tak bisa, tak ada yang boleh memilikimu Naruto..!" teriaknya. Ia tertawa keras. Tak menghiraukan tatapan ngeri dari para pengunjung lain.

" Aku tahu kau pasti disini. Minum ini!" ujar seorang pemuda berambut coklat tua sambil menyodorkan sekaleng susu pada Gaara.

" Ini apa Kankuro?" Tanya Gaara yang pandangannya mulai mengabur.

" Itu beer.." jawab lelaki yang dipanggil Kankuro itu enteng.

" Oh kau memang kakakku yang paling baik. Tumben sekali kau memberikanku beer, biasanya kau memberiku sekaleng susu segar." Ucap Gaara langsung menyambar kaleng itu dan membukanya.

'kenapa sulit sekali?' batin Gaara yang tak kunjung dapat membuka penutup kaleng itu.

Kankuro menghela napas panjang sembari menatap prihatin adiknya.

Sungguh lelaki bermata hitam itu ingin sekali menggorok leher adiknya yang saat ini tengah mabuk berat itu. Ia tidak bisa membedakan kaleng susu dengan kaleng beer lagi? Sudah berapa kali Gaara tertipu oleh kakaknya itu? Selalu sama setiap Gaara mabuk. Pasti karena ulah Naruto yang tak menerima perasaannya. Gaara selalu berada di bar yang sama, tempat duduk yang sama, jenis minuman yang sama. Bahkan jumlah minuman yang ia habiskan sama. Seharusnya semakin meningkat, kan? Itulah mengapa Kankuro yakin untuk menjemput adik tersayangnya itu di bar ini dan menyodorkan sekaleng susu yang seperti biasa akan dikira beer oleh Gaara. Sungguh, ia bingung dengan kelakuan adiknya itu, sudah tahu tidak kuat dengan minuman beralkohol, masih saja mengkonsumsinya. Bodoh.

Byuurr..!

Gaara menyemburkan susunya tepat di wajah Kankuro. Lagi, sama seperti dua hari yang lalu saat ia menyodorkan kaleng susu yang sama dan mendapat hadiah satu semburan susu dingin dari mulut bau alcohol adiknya. Bahkan susu itu sudah bercampur dengan bau alcohol.

" Kau menipuku.." geram Gaara sambil melemparkan kaleng susu itu ke arah Kankuro. Untung saja, pemuda pecinta robot itu cepat berkelit, jika tidak mungkin jidatnya sudah menjadi korban pelemparan kaleng susu oleh adiknya.

" Dan seperti biasa, kau selalu tertipu. Ayo pulang!" perintah Kankuro menarik lengan Gaara paksa.

" Aku tidak mau Kankuro-nii." Pinta Gaara sok manja yang membuat Kankuro ingin sekali muntah. Sejak kapan anak ini jadi gila? Batin Kankuro miris.

" Pulang, jika kau ingin hidup atau kau ingin dibunuh oleh Temari."

" Peduli apa orang itu? Dia lebih sibuk dengan modelingnya. Persetan! Dan kau – " Gaara menunjuk muka Kankuro yang masih belepotan susu. " – urus saja robot-robot menjijikanmu itu."

" Cukup Gaara! Kau sudah kelewatan!" teriak Kankuro.

" Aku mencintainya Kankuro, tapi dia tak menerima cintaku." Keluh Gaara. Tatapannya menyendu. Ia meringsut mendudukkan tubuhnya di atas kursi.

" I know. Tapi terima kenyataan, masih banyak gadis-gadis yang lebih cantik di luar sana. Jangan seperti ini, kau bukan Gaara yang ku kenal."

" Gaara yang dulu sudah mati, Gaara yang baik hati sudah tidak ada, kakakku yang bodoh. Yang ada hanya Gaara yang penuh dengan obsesi." Ucap Gaara pelan.

" Aku tak peduli, pulang sekarang juga."

" Aku tidak mau, robot!" bentak Gaara.

Oke sekarang Kankuro mulai tidak nyaman. Ia benci dipanggil robot sekalipun ia pecinta robot.

" Pulang bodoh..!"

" Tidak..! aku harus mendapatkan Naruto, apapun caranya."

" Aku tak peduli yang jelas kau harus pulang!" bentak Kankuro. Ia sudah kehilangan kesabarannya kali ini. Ia tak peduli orang menatapnya dengan tatapan orang-itu-brother-complex. Yang jelas ia harus membawa Gaara pulang.

" Aku ti – "

Buakh..!

Kankuro memukul tengkuk Gaara hingga pemuda itu pingsan. Ya, tak apa sekalipun ia haru menggendong Gaara hingga ke mobil dari pada ia harus berdebat dengan adiknya. Kau tak tahu bagaimana menyebalkannya berdebat dengan orang yang tengah mabuk. Kau pasti akan merasa ingin mencerkik leher orang itu.

Mobil yang Kankuro kendarai sudah hampir mencapai kawasan perumahannya saat Gaara menggeliat tak nyaman. Ia tercengang saat mendengar bibir Gaara menggumam sekalipun matanya masih terpejam.

" Aku pasti akan mengambilnya darimu, Uchiha. Pasti."

Dan Kankuro merasa bulu romanya berdiri mendengar adik bungsunya mengatakan itu. Ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi nantinya.

0o0o0o0o0o0o0

Naruto merapatkan mantel yang ia kenakan. Udara kali ini cukup dingin terbukti dengan uap yang muncul dari hidungnya. Ia mendengus kesal melirik jam tangannya. Sudah lima belas menit ia berdiri tapi tak jua ada tanda-tanda kedatangan Sasuke. Memang sudah lebih dari satu minggu ini Naruto boleh keluar dari rumah sakit. Ya sekalipun Shikamaru masih sering datang berkunjung, namun sepertinya Sasuke tak keberatan.

Senyumnya terkembang saat melihat sosok Sasuke berjalan mendekatinya. Namun secepatnya senyum itu ia gantikan dengan raut kesal.

" Lama sekali, aku bisa membeku, Sasuke.." protes Naruto.

Sasuke merangkul bahu Naruto dan membimbingnya untuk duduk di bangku taman. " Maaf, tadi aku ada sedikit urusan."

" Ya, selalu saja urusi perusahaanmu itu, aku membeku pun kau pasti tak akan tahu."

" Hei, dari mana kau tahu aku mengurusi perusahaan, Rubah idiot?" Tanya Sasuke, ia tersenyum geli.

" Siapa lagi kalau bukan perusahaanmu yang kau urusi. Aku entah nomor keberapa.."

" Hn, sok tahu."

" Ya, memang itu kenyataanya kan?" Tanya Naruto, tak lupa dengan wajah kesalnya.

" Bagaimana kalau yang ku urusi bukan perusahaan?" Tanya Sasuke.

" lalu apa lagi?"

" Ini.." ucap Sasuke seraya menyodorkan kotak kecil yang di dalamnya berisi cincin berwarna putih.

" Sasuke, ini cantik.." puji Naruto. Matanya membulat dan berkaca-kaca.

" Ini sebagai ganti cincin yang ku buang waktu itu."

" Sasuke.."

" Uzumaki Naruto, menikahlah denganku dan jadilah pendampingku dalam senang maupun susah. kaya maupun miskin." Ungkap Sasuke seraya berlutut di hadapan Naruto. Sangat romantic pikir Naruto.

" Ya, aku mau. Aku mau menjadi istrimu."

" Terimakasih." Sasuke bangkit dan menyematkan cincin itu di jari manis Naruto. Ia memeluk erat Naruto dan mencium bibirnya pelan.

" Bukankah kita sudah menikah?" Tanya Naruto.

" Itu hanya siasat agar kau mau bangun dari koma." Ucap Sasuke enteng. Sasuke lalu berdiri.

" Sasuke~~~~" teriak Naruto dan mengejar Sasuke yang lebih dulu berlari meninggalnya.

Manis sekali bukan?

0o0o0o0o0o0o0

Naruto tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin. Bagaimana kau tak tersenyum bahagia jika saat ini kau mengenakan gaun pernikahan yang amat sangat indah pilihan calon suamimu dan beberapa jam lagi kau akan menjadi istrinya? Sasuke memilih untuk kembali mengulang pernikahannya secara lebih resmi.

Hei, seorang Uchiha tak akan mau menikah hanya di dalam ruang rawat inap. Apalagi Naruto belum mengucapkan ikrar pernikahan di depan pendeta. Dasar Uchiha, repot.

'sudah waktunya kau kesini, cepat aku ingin lihat seberapa cantik istriku.'

Naruto kembali tersenyum geli membaca pesan singkat dari Sasuke.

'tunggu sebentar lagi, apa kau ingin aku menikah hanya dengan mengenakan piyama?'

Naruto meletakkan ponselnya dan kembali merapikan tatanan rambutnya.

'cepatlah. Semua orang sudah menunggu.'

" Huh, tidak sabaran sekali." Dengus Naruto setelah membaca balasan dari Sasuke.

" maaf, mobil sudah siap. Silahkan." Terdengar ucapan salah seorang pelayang. Naruto segera bangkit setelah membalas pesan dari Sasuke.

'aku akan segera sampai.'

" Bawa atau tidak ya? Tapi nanti kalau kubawa pasti akan merepotkan. Ku tinggalkan saja ah." Naruto meletakkan ponselnya di atas mejanya dan melenggang meninggalkan kamar bernuansa putih gading itu.

Naruto segera memasuki mobil yang sudah berhias bunga-bunga di bagian depannya. Ia tersenyum pada supir yang anehnya mengenakan topinya begitu dalam hingga menutupi hampir seluruh wajahnya. Ah sudahlah, ia tak terlalu memikirkannya.

Mobil itu melaju meninggalkan kediaman Uzumaki. Tak menyadari jika mobil yang ia naiki seharusnya berplat nomor dengan angka belakang 8 bukan 3.

Sungguh ia tak sadar.

Tak seberapa lama mobil yang sesungguhnya datang. Meninggalkan supir yang kebingungan karena sang mempelai sudah pergi dengan mobil lain yang sama persis.

" Tuan, Nona Naruto tak ada di tempat. Tadi saya mendengar dari pelayan bahwa Nona Naruto sudah di jemput dengan mobil yang sama dengan yang saya supiri."

Bagai petir di siang bolong, Sasuke membeku. Bagaimana bisa? Bahkan sampai sekarangpun Naruto tak kunjung tiba di gereja. Apa mungkin ia diculik? Tidak! Tidak mungkin!

Dilain tempat, Naruto yang hanya bisa tersenyum, tak menyadari bahwa jalan yang ia lalui berbeda dari jalan menuju gereja. Tapi –

" Kenapa jauh sekali, pak supir?" Tanya Naruto yang mulai bergerak gelisah.

" Memangnya kenapa Nona?"

" Setahuku jalannya bukan ini."

" Saya mengambil jalan pintas." Ucap sipir itu ringan.

" Tapi kenapa jauh sekali? Sejak tadi kita tak sampai-sampai ke gereja." Ucap Naruto mulai resah.

" Karena kita memang tak akan pergi ke gereja." Ucap supir itu seraya menghentikan mobilnya.

Naruto mulai ketakutan terbukti dengan keringat dingan yang membasahi tubuhnya. ia menyesal karena meninggalkan ponselnya di kamar. Sudah terlambat. Perlahan supir itu membuka topinya dan membalik badannya.

" Masih ingat bunga lili yang saya kirimkan, Little kitsune?"

Rambu merah, kulit putih, tattoo ai –

" Ga-Gaara.."

" Hn..."

" Apa yang kau inginkan...?"

" Kau.."

Naruto hendak keluar jika saja pintu mobil itu tak terkunci. Ia hendak berteriak, namun lebih dulu mulutnya dibekap sehingga ia merasakan kantuk yang begitu hebat dan akhirnya semua gelap. Sangat gelap.

" Sa-suke..."

To be continue

Saya ucapkan terimakasih pada readers yang sudah berkenan review chapter-chapter sebelumnya. Terima kasih. Maaf kalau updatenya lama. Sudah itu saja...

Akhir kata...wassalam...tunggu chap Sebelas yah...

=review=