Menjadi seorang perempuan yang lebih dekat dengan teman laki-laki, tentu saja akan banyak hal aneh yang selalu saja terjadi. Aku sudah terbiasa, tentu saja, tapi aku tidak pernah bisa tenang saat menghadapi salah satu pun di antaranya.
Yang paling sering adalah; kau akan diminta untuk menjadi biro jodoh. Akan ada seorang gadis yang menyukai salah satu temanmu, dan dia akan meminta tolong padamu untuk mendekatkan mereka. Hal ini adalah hal yang sulit, apalagi bagiku yang pengalaman cintanya nol besar. Aku tidak pernah bisa mengerti, bagaimana bisa ada gadis normal yang menyukai teman-temanku yang tidak waras?
Yang agak sering adalah; kau dikira pacaran dengan salah satu temanmu. Hah? Bagaimana bisa? Apa mereka tidak bisa membedakan mana yang 'pacaran' dan mana yang 'teman'? Nah, kadang aku juga tidak mengerti dengan yang namanya 'sahabat jadi cinta'. Sahabat ya sahabat, pacar ya pacar. Pacaran dengan sahabat sendiri terlihat merepotkan, dan rentan membuat situasi menjadi canggung. Kalau sampai putus, situasi akan jadi lebih canggung lagi. Situasi yang canggung sangatlah sulit untuk dihadapi. Aku tidak suka itu.
Yang tidak terlalu sering adalah; pacar temanmu akan cemburu. Yah, yang ini sih wajar-wajar saja. Maksudku, kalau pacarku mempunyai teman perempuan yang sangat dekat, mungkin lama kelamaan aku juga akan cemburu. Saat kecemburuan itu mengarah padaku, itu akan menjadi hal yang sulit—yah, sebenarnya hal apapun yang merepotkan akan terasa sulit bagiku. Ha. Aku akan bingung harus bagaimana menghadapinya.
Jadi, saat sms berbunyi "Hai, Merli. Bisakah kita bertemu? Ini Clara, pacar Bruno" hinggap di ponselku, aku langsung….
.
.
… Panik.
[ 10 ]
Yang Harus Kau Lakukan Saat Pacar Temanmu Meminta Bertemu
By chounojou (Id 2221272)
Merli, Clara, & Bruno
[ Panduan untuk perempuan yang lebih dekat dengan teman laki-laki ]
Jadi, di sinilah aku. Duduk di sebuah kafe—Le Café, menunggu Clara datang saat jam makan siang. Kebetulan kafe ini juga dekat dengan tempat kerja Clara, jadi dia bisa cepat kembali ke kantornya setelah percakapan ini.
Sebenarnya, waktu yang kami sepakati adalah pukul 1 siang, tapi aku datang satu jam lebih awal karena aku panik. Sebenarnya lagu yang diputar di kafe ini sangatlah menenangkan, tapi jadi terdengar seperti noise music karena aku panik. Sebenarnya kafe ini sangatlah dipenuhi dengan aroma kopi yang harum, tapi—ah, yang ini masih tercium seperti aroma kopi. Baiklah.
Biasanya, di drama-drama, saat pacar temanmu meminta untuk bertemu denganmu seperti ini, pasti karena cemburu. Dia akan memintamu untuk tidak dekat-dekat dengan pacarnya lagi, dan tidak macam-macam dengannya atau dia akan mengancammu dengan hal yang sangat menyeramkan. Aku tidak mau diancam.
Oh, benar juga! Di drama-drama, saat kita bicara nanti, kalau aku sampai membuatnya marah, dia bisa saja menyiramkan minuman padaku! Gawat, apa yang harus kulakukan kalau sampai dia memesan minuman panas? Aku harus mencegahnya! Aku harus memesan minuman yang dingin untuknya!
Tapi, tunggu. Clara bukanlah gadis seperti itu…. Sepanjang yang aku ingat, dia adalah gadis yang dewasa dan ceria. Penampilannya tomboy, tapi dia tidak kasar. Mana mungkin dia bisa sekejam itu…. TIDAK! Di drama-drama, gadis yang paling pertama menyapa murid pindahan yang dikucilkan biasanya adalah otak di balik segalanya! Dia akan sangat ramah pada si murid pindahan, lalu di akhir kisah dia akan menyiksa si pindahan habis-habisan dan berkata, "Sebenarnya dari awal aku paling benci padamu!"
Bagaimana kalau Clara ternyata seperti itu?
Tidak … tidak … Merli, jangan berpikir macam-macam dulu, oke? Belum tentu juga Clara akan datang untuk alasan itu, bukan? Siapa tahu dia hanya akan bertanya suatu hal yang hanya bisa ditanyakan secara empat mata? Misalnya … eh, misalnya….
"Apa jangan-jangan, di belakangku, kau menggoda Brun—"
MERLI!
Ah, tanpa sadar aku menampar diriku sendiri….
"Anda tidak apa-apa, Nona?" seorang pelayan bertanya padaku. Aku berusaha tertawa sambil mengatakan bahwa aku baik-baik saja. Tawaku pasti terdengar canggung sekali, karena pelayan itu juga ikut tersenyum canggung sebelum akhirnya pergi.
Sudahlah, Merli, tidak apa-apa … jangan panik dan tenanglah….
Oh, itu dia, Clara datang. Dia masuk ke kafe, melambaikan tangan padaku. Dia masih tersenyum ceria seperti biasa. Baguslah…. Dia langsung menghampiri mejaku dan duduk di hadapanku. Tenang, Merli … tidak apa-apa…. Clara masih tersenyum, jadi tenang saja.
Seorang pelayan menanyai pesanan kami.
"Kau mau minum apa, Merli?" tanya Clara. Baguslah, nadanya terdengar ceria dan ramah.
"A-aku mau Cappucino Ice Blended," kataku, berharap Clara akan berkata, "Baiklah, aku mau itu juga!" Dengan begitu, ketakutanku bahwa aku akan disiram minuman panas akan sirna….
"Sepertinya enak! Baiklah, kami pesan dua." YEEEEEESSSSS! Baguslah, rasanya satu beban sudah terangkat. Pelayan itu pergi.
"Jadi, Merli, ada yang ingin aku katakan…." Uh-oh. Apa ini? Kenapa tiba-tiba auranya jadi serius? Apa ini saatnya? Dia akan memintaku untuk tidak mendekati Bruno sekarang?
"Aku ingin meminta sesuatu padamu, dan aku sangat berharap kau akan melakukannya." Bam. Bebanku yang tadi rasanya kembali lagi berkali-kali lipat. Ini dia. Dia tidak akan tersenyum lagi sekarang. Tadi dia hanya tersenyum karena banyak orang melihat, bukan? Karena ada pelayan itu, bukan?
"Jadi … Merli, bisakah kau…." Yak, ini dia….
Clara terdiam lama. Dia seperti berpikir keras, bagaimana dia harus mengatakannya. Mungkin dia tidak mau menyakitiku dengan perkataannya, dan aku berharap begitu.
"Silahkan, pesanan anda." Bam. Pelayan datang, membawa pesanan kami. Bagus. Bagus sekali. Sekarang akan ada minuman untuk disiramkan padaku. Terima kasih, pelayan! TERIMA KASIH BANYAK!
Clara masih terdiam. Perasaanku terombang-ambing antara berharap ini cepat selesai atau berharap keadaan tetap seperti ini. Halo, aku pecinta damai. Rasanya lucu, bukan, kalau aku keluar dari kafe ini dengan kopi di sekujur tubuhku?
"Aku ingin … kau…." Lagi, Clara seperti kesuliltan untuk mengatakannya. Mau tidak mau ini membuatku penasaran juga, sebenarnya Clara ingin minta tolong ap—
"… Mengambilkan kaus Bruno yang penuh keringat untukku!"
—a?
Setelah mengatakan itu, Clara menunduk sejadinya. Tidak usah melihat wajahnya, telinganya saja sudah merah padam. Tunggu, bilang apa dia tadi?
"Eh?" adalah satu-satunya hal yang berhasil lolos dari mulutku. Clara terlihat lebih malu lagi. Dia memainkan jarinya dan berusaha lebih menunduk lagi, lalu berdeham.
"Uh, yah … setiap kali aku menyusulnya saat dia sedang berolahraga, dia akan terlihat sangat berkeringat dan itu keren sekali … ah, tidak, aku tidak mau menceritakannya!"
… "Eh?" Lagi-lagi, hanya itu yang bisa kukatakan.
"Saat dia sedang seperti itu, dia tidak akan mau dekat-dekat denganku. Katanya, 'aku sangat berkeringat, nanti bau,' padahal aku sama sekali tidak keberatan! Aku sangat ingin dia memelukku di saat seperti itu—AH, TIDAK! KAU TIDAK DENGAR APA-APA, 'KAN, MERLI?!"
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku pelan.
"TAPI KAU HARUS MENDENGARNYA!" Wow. Kali ini bahkan dia sampai menggebrak meja.
"Uh…. Baiklah … jadi?" tanyaku akhirnya, masih berusaha mengeluarkan lebih banyak kata-kata.
"Um … ya … aku…. AH, TIDAK APA-APA. TERIMA KASIH, MERLI!"
Dan Clara pun pergi. Aku? Masih mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Bruno … jadi pacarmu adalah gadis seperti itu, ya….
Kesimpulannya
Melangkah keluar dari kafe, aku menghela napas dan menatap langit. Kutancapkan satu pelajaran yang sangat berarti hari ini di benakku, dan kuresapi dalam-dalam.
Aku harus benar-benar berhenti menonton drama….
