IT'S (not) A
PERFECT WEDDING
Sherry Kim
.
WARNING
GS. Typo bertebaran. Alur tidak jelas juga lambat.
Tidak suka jangan baca.
NO BASH.
.
.
Keheningan terasa membekukan sekitar. Ac ruangan tidaklah sedingin ini ketika Yunho sendirian sebelum istrinya itu di sini. Pria itu berdiam diri. Menahan apapun yang akan ia ucapkan karena sungguh, ia tidak ingin membuat masalah ini lebih rumit lahi dari yang sebelumnya.
Kalau boleh jujur, Yunho menyesal. Ia hanya menghukum diri dengan menjauh dari istrinya agar dapat menenangkan diri serta berusaha membunuh perasaan yang ia rasakan terhadap Jaejoong. Tidak mudah karena sebelum ini Yunho belum pernah jatuh cinta. Sialan.
Ia tidak menyukai perasana ini karena nyaris menyita semua waktu yang ia milikki untuk memikirkan istrinya yang polos namun penuh gairah di ranjang. Meneriakan nama Yunho penuh nikmat saat meraih pelepasan serta bergerak menggoda di bawah tekanan tubuhnya setiap malam.
Sialan. Bisakah ia membenci istrinya setelah ia mencintai wanita itu. Perasaan cemburu itu telah hilang jauh hari di malam ia memperlakukan Jaejoong dengan kasar.
Yunho menyesali tindakannya malam itu karena pengaruh wiski. Tidak, ia cukup sadar saat melakukan itu. Hanya saja memang sedikit kasar karena ia merasa cemburu. Dan ketika ia bangun di tengah malam dalam dekapan istrinya, ia luluh. Perasana sakit hati atau pun benci yang pernah ia rasakan musnah seketika dengan melihat wajah terlelap Jaejoong di sampingnya. Wanita itu begitu mungil dan rapuh. Ia pun mencoba menebus kesalahannya dengan memuja serta membuat istrinya itu menggerang nikmat berkali kali setelahnya.
"Ini tidak akan berhasil." Kata itu menarik Yunho kembali ke dunia nyata. Musang pria itu menatap tajam luluh.
"Kita kembali lagi ke titik awal. Di mana aku memang kau butuhkan untuk menjaga anak-anak." Jaejoong menghela napas, menatap Yunho dengan tatapan sendu yang membuat Yunho merasa dirinya adalah iblis yang sangat kejam.
"Mulai sekarang akan lebih baik jika kita tidur terpisah. Karena percuma jika kita memaksakan diri untuk bersama dan mencoba akur lalu bertengkar lagi di hari berikutnya. Tidak kah kau lelah Yun," tatan sendu itu menikam Yunho lagi.
Pria itu berdiri membeku, karena ia sadar sepenuhnya, apa yang di katakan istrinya benar adanya. Ia juga lelah mengelak dari perasaan ini.
"Aku lelah. Aku telah terus mencoba lalu gagal. Kau lebih memilih menyimpan segala masalah yang ada tanpa berbagi, itulah dirimu. Kau menyembunyikan banyak hal dari masa lalumu, aku tidak akan mengunkitnya. Tapi jika kau juga mengungkit masa laluku serta hal pribadi lainnya, dengan siapa aku bergaul dan sebagainya. Maka kau harus bersiap untuk terbuka, jika tidak, aku akan melakukan hal yang sama, menutup diri sama seperti yang kau lakukan. Dan menjadikan pernikahan ini seperti di neraka."
Tidak ada lagi yang ingin Jaejoong katakan. Segala masalah yang ingin ia tumpahkan telah ia lempar kewajah Yunho, jika pria itu menginginkan lebih atas pernikahan ini. Maka Yunho paham apa yang harus pria itu lakukan, jika tidak, Jaejoong tidak memiliki harapan lain selain terjebak dalam pernikahan ini selamanya.
Wanita itu pergi. Pintu tertutup di belakangnya. Meninggalkan Yunho dalam dilema yang membuatnya hampir gila. Apa yang wanita itu katakan, apa yang ia inginkan.
Pertanyaan itu terdengar bodoh karena ia menginginkan istrinya mencintai dirinya sebesar Yunho mencintai Jaejoong. Ia ingin Jaejoong menyambutnya dengan tangan terbuka serta senyum indah wanita itu ketika ia pulang dari kantor setiap hari.
Harapan yang tidak akan pernah terwujud tentunya. Terlebih setelah melihat betapa marah istrinya tadi.
Dengan lelah, ia melempar diri ke sofa. Melonggarkan dasi dengan gerakan kasar. Selama ini Yunho tidak terbiasa berbagi perasaan, mengorek masa lalu yang hannya akan membuka luka lama dan rasa sakit itu kembali muncul. Jika itu yang di inginkan istrinya, maka jawabannya adalah tidak!
Yunho tidak akan membiarkan Jaejoong menguasai tubuh serta pikirannya agar wanita itu dapat melukai Yunho suatu hari nanti. Cinta yang ia rasakan akan menjadi senjata yang ampuh untuk membuatnya terluka.
Demi anak-anak lah ia menikahi Jaejoong, itu pula yang akan mereka dapatkan. Meskipun ini tidak adil bagi Jaejoong. Mungkin ini yang terbaik. Yunho dengan kehidupannya sendiri, menyerahkan tanggung jawab triplet dalam pengawasan Jaejoong. Tentu saja, ia harus memberi kebebasan Jaejoong dengan kehidupan wanita itu sendiri.
Meskipun Yunho tidak yakin ia akan bisa menerima segala hal tanpa Jaejoong. Terlebih ia hanya mampu melihat istrinya tanpa dapat menyentuh, namun ia juga tidak bisa menolak jika istrinya menginginkan kamar terpisah.
Baiklah. Mungkin dengan ini mereka akan dapat menjaga jarak, dan Yunho dapat membunuh cinta yang ia rasakan terhadap istrinya.
Rahasia itu akan tetap tersimpan dalam hati. Rahasia tentang Jung Yunho yang mencintai istrinya. Jung Jaejoong.
.
。。* 。。
.
"Dia mengatakan mencintaiku, aku tidak yakin itu nyata atau mimpi." Bibir Jaejoong menghimpit sedotan yang berada di sela bibirnya dengan gemas. "Waktu itu aku setengah sadar, saat kami tidur bersama. Itu pasti mimpi, jika tidak bagaimana Yunho mengabaikanku keesokan harinya bahoan sampai saat ini." renung Jaejoong.
Kim Heechul mendengarkan dengan tenang setiap kata yang di ucapkan sepupunya itu. Siang ini, mereka memiliki waktu luang untuk makan siang bersama, atau tepatnya Jaejoong memaksa dirinya keluar rumah.
Sudah lebih dari seminggu yang lalu keduanya tidak bertemu atau bertukar kabar. Heechul sendiri tidak berani menelfon Jaejoong sejak terakhir kali sepupunya itu memberitahunya sedang terlibat masalah dengan Yunho karena Changmin.
"Mungkin Yunho memang mengatakannya. Ketika dia yakin kau tidur, yang tentunya pria itu meyakini kau tidak mendengar ungkapan perasaan suamimu." Jaejoong meragukan itu. Meskipun sebagian dalam dirinya berfikir sama tentang pendapat Heechul, hanya saja ia takut untuk berharap. Kenyataan tidak selalu menyenangkan. Kenyataan lebih pahit dari bayangan yang indah, lebih mengerikan dari mimpi di malam hari lalu kau terbangun di pagi hari dengan perasaan hampa.
"Aku tidak tahu." Jaejoong mendesah. "Aku mengajakmu bertemu bukan untuk membicarakan masalahku."
Alis Heechul bergerak aneh. "Lalu?"
Kedipan mata penuh makna Jaejoong membuat serigai Heechul muncul. Sudah sangat lama ia tidak melihat kilatan jahil pada kedua mata replika dirinya itu pada mata sepupunya. "Kau dapat kartu gold dari suamimu?"
"Sejak hari kedua kami menikah."
"Lalu kenapa baru sekarang kau mengajakku shoping." ujarnya penuh tuduh. Wanita muda itu menggerang.
Kedikan bahu Jaejoong membuat alis Heechul kembali berkerut. "Tidak tega menghabiskan uang suamimu eoh?"
"Tidak juga. Buktinya aku mengajakmu keluar hari ini. Kita perlu berbelanja untuk calon bayimu. Di dalam kepalaku sudah terdaftar banyak sekali barang yang ingin aku belikan untuknya."
Heechul memutar bola mata jenggah. "Kita bahkan belum tahu bayiku laki laki atau perempuan."
"Kita bisa membeli semuanya."
"Orang kaya baru." sindirnya. "Hankyung pasti tidak akan senang jika tahu kau membelikan banyak sekali barang yang tidak perlu."
"Bukannya tidak perlu, hanya belum di butuhkan."
"Ck. Ayolah, kau hanya terbakar emosi karena masalah yang kau dan suamimu hadapi. Kau hanya mencoba membuat suamimu marah dengan menguras habis uangnya, jujur saja. Yunho tidak akan peduli meskipun kau memborong emas bersama toko itu sekalipun. Pria itu terlalu kaya untuk kehilangan uang yang tidak seberapa."
Jaejoong mendesah. Meski sebagian apa yang di katakan sepupunya itu benar. "Kalau begitu aku perlu membelikan Bibi Paman dan yang lainnya juga. Sekalian saja dia marah karena hartanya akan segera ludes oleh istri barunya yang boros." yang kenyataanya berkata lain. Jaejoong tidak setega itu untuk menguras dompet Yunho dengan banyak barang.
Empat jam kemudian keduanya sudah lelah menyusuri deretan toko-toko salah satu pusat perbelanjaan ternama. Hari sudah sore, namun kedua wanita itu masih betah berada di sana meskipun kedua kaki mereka seakan ingin patah, mengingat sudah sangat lama mereka tidak berbelanja.
Jaejoong tidak tahu jika suaminya adalah pemilik mall tersebut sampai beberapa pelayan butik serta toko mengenalinya sebagai istri Jung Yunho. Yang sial mengurangi semangatnya berbelanja hanya dengan mendengar nama suaminya itu di sebut.
"Aku lelah." Heechul duduk di kursi tidak jauh dari restoran mahal yang wanita itu sering lihat di tv. Salah satu restoran termahal di mall ini. "Bagaimana jika kita masuk ke sana."
Jaejoong mengamati restoran mewah itu dengan tatapan ngeri. Ia pernah mendengar nama restoran itu di sebut oleh sepupunya itu. "Tidak. Terlalu mahal untuk seporsi steak yang bisa kau beli dengan harga murah di restoran lain. Aku menduga rasanya tidak akan jauh beda."
"Tapi aku ingin." Untuk menambah keyakinan ia berkata "Bayiku ingin." kata itu cukup untuk melupakan berapa pundi yang akan kartu Jaejoong keluarkan.
Keduanya berjalan bak peragawati melewati pelayan yang berjaga di pintu masuk. Melenggang nyaman seperti mereka biasa memasuki tempat mahal untuk menghamburkan uang suami mereka.
Seorang pelayan pria membawa mereka berdua ke sebuah meja kosong di salah satu sudut. Jaejoong menerima buku menu dan mulai mengamati. Ia menahan napas. Ini namanya penipuan. "Aku sedang diet, jadi aku hanya ingin salad dan jus."
Heechul sepertinya juga menerima keterkejutan yang sama, hanya saja Jaejoong tidak membiarkan wanita itu membatalkan pesananannya. "Steak termahal yang ada di restoran ini." Jaejoong memutuskan. Meyerahkan menu tersebut kearah pelayan yang membukuk sebelum meningalkan mereka.
Dari seberang meja Heechul berbisik. "Ini penipuan. Kita tidak harus tetap duduk di sini jika tidak ingin, bukan?"
"Aku tidak ingin keponakanku lahir kurang dari sempurna. Demi dia makanlah yang banyak. Aku yang traktir."
"Dengan uang suami yang kau benci." Tidak ada gunanya membantah. Heechul memutuskan. Toh ia memang tidak sanggup lagi membayar makanan mereka berdua setelah membeli banyak barang yang telah di antar pulang oleh sopir Jaejoong.
Calon suaminya tidaklah semiskim apa kata orang, Hankyung memang kaya, hanya saja tentu tidak dapat di bandingkan dengan kekayaan directur utama Jaeyun Corp. Setengahnya pun tidak, tapi Heechul tidak menyesal telah memilih Hankyung, karena ia mencintai pria itu.
Semoga. Ia berharap. Semoga saja Yunho mampu membuat Jaejoong bahagia, karena jika tidak, Heechul tidak akan tenang karena ia lah yang membuat Jaejoong berada di posisi wanita itu saat ini.
.
。。* 。。
.
"Kita akan liburan kemana?"
"Apakah Daddy akan ikut?"
Jaejoong mendiamkan anak-anak yang ribut itu dengan sabar. "Kita akan ke perkebunan milik suami saudara Mommy, kalian ingat suami Bibi Heechul, Paman itu memiliki perkebunan jeruk di Gongju, kita akan pergi kesana selama tiga hari untuk liburan." Jaejoong menjelaskan.
Pelayan sudah membantunya mengepak sebagian barang barang Triplets kedalam koper. Jaejoong terkejut mendapati dua koper besar penuh dengan barang barang mereka berempat hanya untuk liburan selama tiga hari.
Daehan Minguk Manse mengamati Jaejoong dari atas ranjang, mengikuti pergerakan wanita itu kesana kemari seperti anak ayam mengamati induknya. "Apakah Daddy juga akan ikut bersama kita?"
"Tidak! Dad terlalu sibuk untuk liburan, bahkan di hari minggu sekalipun." Jawab Jaejoong. Ia memang tidak berbohong.
Meskipun Jaejoong tidak bertanya kepada Yunho ia tidak ragu bahwa Yunho menolak ajakannya. Yang pada kenyataanya ia tidak mengharapkan pria itu ikut bersama mereka.
"Lalu kita akan naik mobil siapa?" Salah satu dari si kembar kembali bertanya.
"Kakek Kim akan menjemput kita." Jaejoong menjelaskan sambil lalu. "Sudah malam, cepatlah tidur karena besok pagi pagi sekali kita harus bangun untuk perjalanan yang sangat panjang."
Ketiga bocah itu meloncat senang kearah ranjang mereka masing masing. Terlihat bersemangat mengingat ini adalah liburan pertama mereka bersama ibu baru mereka. "Daehan ingin Dad ikut." Putra pertama Yunho itu menatap Jaejoong yang bersiap mematikan lampu.
"Dad sibuk, sayang."
"Selalu begitu." Manse menyahut. "Dad selalu sibuk ketika kita membutuhkannya."
"Manse ah. Dad harus bekerja untuk bisa mendapatkan uang untuk kita semua. Agar kita bisa tetap sekolah dan makan enak." Minguk menjelaskan. Jaejoong tersenyum mendengar penjelasan putra keduanya itu.
"Kau benar." Manse membenarkan.
Hening.
Jaejoong mematikan lampu dan menyalakan lampu meja yang menerangi kamar dengan sinar temaram. Ia menuju ranjang lantai yang ia tempatkan di lantai beberapa saat lalu, berniat tidur di kamar anak anak.
"Kenapa Mom tidur di lantai?" Daehan terbangun melihat Jaejoong tidak keluar dari kamar mereka, melainkan tidur di sana.
"Karena Mom ingin bangun pagi pagi sekali besok, Mom tidak ingin menganggu Ayah kalian ketika kita pergi." Jawaban itu seakan memuaskan tiga wajah yang menatap Jaejoong curiga. Beruntung ia memiliki alasan yang tepat untuk menjawab karena ia tidak tahu harus menjelaskan apa kepada mereka tentang masalah orang dewasa.
Sekembalinya mereka dari liburan, ia akan menempati kamar samping kamar anak-anak, dengan begitu ia tidak harys berjauhan dengan mereka dan tidak perlu menghawatirkan Yunho karena pria itu tidur di sisi lain mansion. Hanya saja ia harus memikirkan alasan apa yang akan ia gunakan nantinya jika anak-anak serta mertuanya bertanya.
"Mom ingin tidur bersama Minguk?" seperti biasan, Minguk selalu yang pertama memahami keadaan dan menawarkan untuk berbagi ranjang.
"Ranjang itu terlalu kecil untuk kita berdua." Penjelasan Jaejoong membuat bocah itu terdiam. Menelengkan kepala besarnya untuk berpikir.
"Tidurlah, di sini empuk karena Mom menggunakan kasur lantai untuk mejegah dingin."
"Kalau begitu Daehan ingin tidur bersama Mom di lantai." teriak Daehan. Minguk juga meluncur dari ranjang bocah itu bersama selimut serta bantal yang di seret di kedua tangan. "Minguk juga."
Jaejoong mendesah. Mereka akan kedinginan karena kasur lantai itu tidak cukup besar untuk mereka semua. Terlebih melihat si bungsu juga melakukan hal yang sama seperti kedua kakaknya yang lain, menaruh selimut mereka di sekeliling Jaejoong.
"Di mana kami harus tidur." Ketiga kepala itu mengamati sekeliling. Jaejoong bergeser agar ketiganya mendapat tempat di atas ranjang dan ia menggunakan selimut lain sebagai alas untuk dirinya sendiri.
Hanya semalam tanpa ranjang tidak akan membuatnya sakit, terlebih lantai kamar anak-anak terdapat karpet yang lebih tebal dari ruangan lain, Jaejoong bersyukur akan hal itu.
"Baiklah, selamat malam."
"Selamat malam."
Dalam keremangan kamar, Jaejoong mengamati wajah mereka yang terlihat kaku karena mencoba untuk menutup mata, paksa. Ia tersenyum melihat wajah wajah lucu itu mulai damai karena kantuk.
Ia bersyukur dengan keberadaan mereka bertiga. Karena ia tidak merasa kesepian di mansion besar ini ketika bersama mereka.
Jaejoong menutup mata. Merebahkan diri, ia merasa lelah setelah sepanjang sore menghabiskan waktu bersama Heechul untuk berbelanja. Ia juga membeli beberapa baju untuk anak anak, senang karena pakaian itu pass di tubuh mereka semua.
Jarum jam berdetak setabil detik demi detik. Menjadi musik pengantar tersendiri bagi Jaejoong yang mulai berlabuh ke alam mimpi.
Suara mobil berhenti di teras mansion menandakan kepulangan Yunho. Jarum jam menunjukan pukul sepuluh malam, Jaejoong sudah terlelap tidur untuk mengetahui suaminya pulang.
Di lantai dasar, tepatnya keberadaan Yunho membuat sibuk pelayan untuk melayaninya. Jaejoong sudah mengatakan kepada mereka serta menyuruh dua pelayan untuk menyiapkan segalanya sebelum pria itu tidur.
"Kenapa kalian mengikutiku?" Yunho mengamati dua pelayan wanita itu heran. "Di mana istriku?" Pria itu membiarkan pintu kamarnya terbuka, kedua pelayan tersebut mengikutinya masuk untuk membantu menaruh jas serta tas kerja majikan mereka.
"Nona besar memerintahkan kami untuk menyiapkan segala kebutuhan Anda mulai malam ini, Mr. Jung."
"Di mana istriku?"
"Beliau tidur di kamar anak-anak." Jari Yunho berhenti untuk menanggalkan dasi yang mencekik lehernya. Pria itu mengibaskan tangan menyuruh kedua pelayan itu keluar. "Aku bisa melakukanya sendiri."
Jadi istrinya itu benar benar akan memulai peperangan ini. Baiklah jika Jaejoong ingin kamar terpisah, ia akan memberikan kamar manapun yang wanita itu inginkan. Tapi jangan harap Yunho akan memberinya ijin wanita itu kembali ke kamar mereka suatu hari nanti.
Yunho mendesah. Sialan, ia tidak akan dapat menolak pesona Jaejoong jika istrinya itu menggodanya, ia terlalu lemah untuk menolak Jaejoong, terlebih jika ia berhasrat kepada istrinya yang dapat ia rasakan kapan saja ada Jaejoong di ruangan yang sama dengannya.
Sial. Membayangkan percintaan mereka sepanjang minggu ini yang tak kenal lelah membuat Yunho mendamba. Ia ingin melihat Jaejoong sebelum ia tidur, hanya melihat saja, tidak ada salahnya bukan!
Minimnya cahaya memberi batas bagi pandangan Yunho untuk mengamati ruangan. Ranjang Daehan kosong, begitu juga kedua ranjang lainnya. Rasa khawatir melingkupi perasaan Yunho. Mendorong pria itu untuk membuka pintu lebih lebar. Pria itu terkejut mendapati istri bersama anak-anak tidur di lantai.
Perasaanya seketika tenang melihat mereka semua bergelung dengan nyaman di sana. Ketiga putra Yunho bergelung kearah Jaejoong seakan mereka mencari kehangatan dari pelukan ibu mereka. Ingin rasanya Yunho bergabung bersama mereka namun ego pria itu menahan Yunho untuk tetap berdiri di pintu.
Ia tidak akan membiarkan perasaanya menang. Ia telah memutuskan untuk mengabaikan perasaanya, jadi, untuk apa ia memberi harapan atas perasaan yang ia rasakan.
Yunho tidak ingin menyiksa diri lebih lama lagi, pilihan dengan mengabaikan istrinya yang merajuk serta kekeras kepalaan wanita itu menang. Pintu tertutup, ia pun meninggalkan kamar anak-anak dengan perasaan yang sama membingungkannya seperti sebelumnya.
Ia tidak yakin akan dapat tidur sendirian di ranjangnya yang luas tanpa Jaejoong. Ya Tuhan.
.
。。* 。。
.
Lift berhenti di lantai teratas gedung Jaeyun corp, membawa Park Yoochun ke lantai di mana pria itu harus bekerja lembur sepanjang hari libur. Ia tidak habis pikir, bagaimana ia masih bertahan di perusahaan ini dengan sikap menindas directure utama mereka yang seenak jidatnya memerintahkan Yoochun harus lembur di hari sabtu secara mendadak.
Apakah bos tampannya itu tidak membutuhkan hari libur untuk memanjakan diri, jika pria itu tidak, maka berbeda dengan dirinya. Ia adalah pria bebas yang membutuhkan hiburan setelah sepanjang minggu bekerja di balik komputer bersama dokumen dan deretan angka serta huruf yang setiap hari mencekiknya.
"Selama pagi." ia memberi salam kepada Directure tampan Jaeyun corp yang saat ini berdiri di belakang meja kerja, kedua tangan pria itu di masukan kedalam saku, sementara pria itu menatap keluar gedung.
Hari ini cuaca cerah, Yoochun berniat memancing bersama teman temanya andai saja big boss yang terhormat itu tidak memanggilnya untuk lembur. Sungguh boss yang sangat tidak manusiawi.
"Kau datang." Kemeja Yunho tidak berdasi, jas serta dasi pria itu tersampir di punggung kursi kebesaran pria itu tidak berguna.
"Jika aku tidak datang. Apakah kau akan membiarkanku begitu saja Directur yang terhormat." Yoochun mengamati bossnya dengan tenang. Ia menduga ada yang tidak beres di sini. "Ada yang salah dalam proyek pembangunan taman bermain kita yang baru?"
"Duduklah Yoochun." Panggilan itu membuat Yoochun mendesah. Pria brengsek ini... Sialan. Yunho memanggilnya datang ke perusahaan di pagi yang cerah pada hari sabtu hanya untuk menyuruhnya duduk di kursi yang sudah sangat bosan ia duduki sepanjang minggu.
"Masalah dengan istrimu lagi aku rasa." Yoochun menarik dasi yang beberapa saat lalu ia simpul rapi. Membuka kancing kemeja teratas untuk merilekskan diri.
"Apa sekentara itu?"
Bola mata Yoochun mendelik sebelum memutar jenggah. "Ayolah, masalah apa lagi yang membuatmu kalang kabut kalau bukan istri cantikmu. Hampir sebulan kalian menikah, apakah kalian belum memahami satu sama lain, setidaknya dalam beberapa hal setelah berbagi ranjang setiap malamnya. Tidakkah kalian membicarakan sesuatu semalam penuh? Atau kalian tidak memiliki waktu karena sibuk bercinta?"
Ingin rasanya Yunho menyumpal mulut sahabatnya itu dengan dasi. Mungkin dirinya memang keterlaluan dengan memanggil Yoochun di hari libur. Bukan untuk bekerja, tentunya bukan. Hanya untuk mendengarkah keluh kesah yang ia rasakan. Siapa lagi kalau bukan Yoochun yang selalu menjadi tong sampah kekesalan dirinya. Pria malang ini, terkadang Yunho merasa iri dengan kebebasan yang Yoochun dapatkan sejak mereka kuliah.
Jika dirinya di beri tanggung jawab sebuah perusahaan besar dengan ratusan bahkan ribuan pegawai di beberapa tempat berbeda di seluruh korea, Yoochun tidak demikian. Pria itu lebih memilih bekerja untuk orang lain ketika perusahaan keluarga yang tidaklah terlalu besar di pimpin oleh adiknya. Yoochun pria bebas, pergi kemanapun pria itu inginkan, bicara sesuka hati dan bergaul dengan semua orang.
Ia iri. Yunho merasakan hal itu kepada Yoochun dalam hal kebebasan. Meskipun asmara Yoochun tidak semulus jalan tol di hari kerja, pria itu terlihat tenang dalam menghadapi dilema kehidupan. Tidak seperti dirinya.
"Kau tahu sendiri. Aku tidak begitu memahami wanita."
"Tidak ingin memahami wanita selain di atas ranjang." Yoochun meralat. "Kau lebih suka mengendalikan mereka sesuka hatimu, menuruti kemauan mereka lalu mengatur mereka kemana mereka harus pergi dan bagaimana mereka harus bertindak. Bukan, bukan mereka. Tapi istrimu seorang yang jelas sangat tidak menyukai sikap arogan dan sok berkuasamu itu." Keterdiaman Yunho tidak bertanda baik, karena rahang pria itu tegang.
"Kenyataanya Yunho," Yoochun berkata lebih lembut. "kau memahami istrimu. Tahu bagaimana membahagiakan dia. Tapi kau memilih untuk mengatur dan menguasai istrimu. Kau boss dalam peruhaan yang kau pimpin, tetapi di rumah, kau tetaplah seorang suami dan seorang ayah. Keluarga bukanlah untuk kau atur layaknya kau mengatur bawahanmu, mereka membutuhkan cinta serta kasih sayang untuk dapat mendengarkan omongan serta menghindari apa yang tidak di sukai olehmu. Bukan berarti mereka harus melakukan hal itu, tapi mereka akan mencoba demi kenyamanan bersama dan membahagiakan satu sama lain."
Ini bukanlah kali pertama Yunho mendapat ceramah panjang. Hanya Yoochun lah yang mampu memberinya nasehat serta arahan yang sering kali Yunho lakukan. Ayahnya, jangan di tanya. Pria itu hidup sesuai keinginanya. Ibunya? Ya ampun, bahkan Yunho tidak tahu ibunya sekarang berada di mana. Wanita itu terlalu bebas sejak Yunho memberinya kebebasan. Tentunya setelah perdebatan panjang dirinya dengan sang ayah.
Jadi, tidak ada satu orang pun yang bersedia atau berani menasehati Yunho seperti bagaimana Yoochun menegurnya. Tentu saja sebelum Jaejoong menyusup ke dalam hidupnya. "Sudah ter lalu lama kita bersama sampai kau terlalu mengenalku. Aku tidak akan mengelak akan hal itu."
"Jadi, apa kau akan mengakui bahwa kau mencintai istrimu?"
"Jangan konyol!"
Kedigan bahu santai Yoochun hanya membuat Yunho menggeram. Sikap acuh pria itu sangat menyebalkan. "Aku tidak akan membuat diriku sendiri terlihat bodoh di hadapan Jaejoong dengan mengatakan aku mencintainya. Dia akan memanfaatkan perasaanku untuk menghukumku karena pernikahan yang aku paksakan kepadanya."
"Bagaimana kau yakin bahwa Jaejoong akan menggunakan perasaan cintamu itu untuk menyerangmu, apakah Jaejoong dengan terang terangan membencimu?"
Sialan. Apakah Yoochun belum paham apa yang ia takutkan.
"Setahuku, Jaejoong mencoba menjadi istri yang bertanggung jawab. Merawat anak-anak seperti yang kau inginkan. Bahkan istrimu mengijinkanmu menyentuhnya tidak hanya sekali semenjak kalian menikah, aku rasa. Apakah itu belum cukup untuk menyadarkanmu bahwa pengorbanan Jaejoong lebih besar dari apa yang berani kau sendiri korbankan?"
Seberapa banyak ia berkorban?
Pertanyaan itu tidak dapat di jawab Yunho.
Yoochun melempar pertanyaan itu seperti geranat yang di arahkan ke pihak musuh. Tanpa keraguan atau pun penyesalan yang membuat Yunho merasa dirinya seperti bajingan kejam.
Yoochun selalu benar. Istrinya sudah berkorban terlalu banyak dalam pernikahan yang tidak di inginkan Jaejoong sebelumnya. Sedangkan dirinya masih saja meragukan ketulusan wanita itu.
Ya Tuhan. Tidak heran Jaejoong begitu marah kemarin. Ketika ia masih begitu bodoh tidak mengakui perasanya yang ia rasakan. Membangun dinding di antara mereka berdua yang hanya menyakiti istrinya.
"Kau mencintainya." Itu bukan lah pertanyaan. Lebih tepat di sebut pernyataan.
Yunho tidak akan mengelak lagi. Ia mencintai istrinya. "Ya! Aku mencintainya. Puas!"
Yoochun tersenyum lebar, bersandar santai pada punggung sofa. "Sangat! Aku rasa kau belum memberi tahu dia."
Tidak sempat. Istri nakalnya itu, demi Tuhan. Ketika Yunho bangun mereka sudah pergi ke Gongju, tanpa meminta ijin kepada Yunho sebelumnya. "Aku berniat memberitahunya." Ia meraih jas serta dasi dari kursi, memakainya asal sambil berjalan menghampiri Yoochun.
"Aku akan memberimu libur selama seminggu penuh dude, setelah proyek kita ini selesai."
"Aku sangat mengharapkannya." Pria itu memeluk Yunho dan berbisik. "Terkadang seseorang harus berkaca untuk melihat kesalahan yang ia buat. Yang tentunya tidak mampu kau sendiri lihat. Jadi jangan marah ketika temanmu menegur kesalahan yang telah kau lakukan, meskipun kau sendiri menyangkal itu. Karena kau tidak akan tahu jika kemungkinan itu adalah lampu yang akan menuntunmu menuju jalan yang lebih terang."
.
.
.
-TBC-
Thank yang sudah nyempetin baca dan tinggalkan jejak di cerita sherry. Seneng kalau ada yang suka sama ff gaje ini. Semoga hasilnya tidak mengecewakan.
TYPO bertebaran EYD tak beraturan dan tidak jelas.
