Yoshaa! Akhirnya masuk chapter 10! Maafkan saya yang suuuuuper telat post fict ini Karena yah…satu dan lain hal…*plak!* tapi here it is! Semoga bisa memuaskan ya~! ^^ Setelah sejauh ini saya jadi kepikiran…kapan fanfict ini bakalan selesai? Mmm…sebelum update saya udah berpikir berhari-hari hingga bermalam-malam(?) tapi masih belum nemu juga solusinya…Ah…bagaimana kalo chapter selanjutnya aja ya?

Blaze: Hidoi…kami padahal baru muncul…

Author: Blaze?! Kenapa kau yang disini? Dimana Hali…?

Blaze: Kak Halilin ngambek. Katanya dia sudah kesal bersama Author mulu karena batinnya udah cukup lelah ternistakan di fict ini.

Author: Heee…T_T Hali jahat…

Blaze: Udahlah, Author…kamu pasti senang kan bisa ketemu aku? *grin*

Author: Aku lebih suka Taufan sih…tapi Blaze juga ga kalah unyu. ^^ Dan jangan cemas, Author hanya bercanda. Kepala ini masih terlalu lancar meluncurkan ide-ide gila untuk fict ini :D.

Blaze: Yoshaaa! Aku tak sabar ikut menistakan Kak Halilin disini!

Author: -_- ternyata kau sama saja…ehm, baiklah! Saat nya balas review~!

Vanilla Blue12
Hontou ni sumimassen! Saya super telat update karena banyak hal yang harus saya kerjakan…dan yah, Halilintar pasti bisa sabar, meski saya nggak berani jamin sih… *plak!* Ahahaha, btw, terima kasih reviewnya ya! ^^

Willy0610
Well, Hali bukannya udah lama tau sih dia punya dua adik lagi, silahkan simak penjelasannya di chappy ini. Mohon maaf atas keterlambatannya ya *bungkuk bungkuk* terima kasih reviewnya!

Rampaging Snow
Terima kasih reviewnya ya! Dan saya minta maaf karena telat update. :D

Hahaha! Tuh Hali, banyak yang bilang sabar ke kamu tuh! Yah…Hali kuat kok, meski harus nambah dua sodara sableng lagi ^^. Terima kasih sudah mereview ya~~~!

Blackcorrals
Ya, memang begitulah Taufan. Meski saya rada setuju ama dia sih… *hush!* Hali kan meski tempramen tapi tetap sayang sama adik-adik unyu bin nyelenehnya, jadi saya yakin dia pasti bisa! Ah, baguslah Corra-san menyadarinya ya? Alasan kenapa Blaze dan Ice bisa setingkat sekolah dengan HaliTauGem itu akan dijelaskan di chapter ini. Maaf ya karena telat update *garuk tengkuk*. Thanks for review! ^^

NaYu Namikaze Uzumaki
Hahahahaa~! Saya juga senang kok bisa munculin tu dua makhluk unyu. Karena saya udah nonton Boboiboy The Movie, jadi makin bisa mendalami sifat dan karakter Blaze dan Ice (yang sebenarnya nggak berubah banyak) tersebut ^^. Ah, jelas lah Gempa merasa penasaran, tapi pertanyaan-pertanyaan tersebut di rangkum di chapter ini jadi monggo. Dan ya, rumah jelas bakalan tambah ramai ditambah Blaze dan Ice yang super unyu itu *gelindingan*. Oke, maafkan saya karena telat update ya. Dan terima kasih atas reviewnya, NaYu-san~! XD

Kin's582
Ahahahaha…saya senang deh kalo Kin-san merasa terhibur dengan fict saya yang jujur humornya agak garing belakangan ini. Dan yah, karena Blaze dan Ice sudah muncul jadi akan saya usahakan humornya bakalan di tambah! Tetapi nggak menghilangkan brotherly fluffnya tentu saja ^^.
Oke, thanks for review~!

Raina Awasari
Terima kasih ucapan sabarnya ya. Nanti saya kirim ke Hali-chan deh, karena hari ini orangnya lagi nggak ada. All right, terima kasih reviewnya! ^^

Lightning Princess
Wow! Saya suka review kamu. Yeah, Gempa memang sengaja saya buat twisted karena Gempa yang baik hati dan bijaksana itu udah menstrim :v. Saya memang berusaha buat senetral mungkin meski saya harus berusaha keras menahan hasrat saya untuk menimbulkan hint-hint ehmincestehm di fict ini, tapi yah…akhirnya timbul juga walau sedikit… saya harap chapter ini dapat menghibur kamu deh.
Thanks for review! ^^

Maqda22
Oke, kiriman ucapan sabar lagi buat Hali! Makasih ya~ nanti saya sampaikan pada orangnya. Dan makasih juga atas dukungan dan reviewnya, itu berarti buat saya meski pada akhirnya saya telat update…*bungkuk bungkuk* well, semoga kamu suka chappy ini ya~! :D

Guest
Yah, Halilintar memang sudah terlalu sering di jadiin anak sulung. Saya sebenarnya juga merasa itu udah mainstream cuman…entah kenapa nggak bisa dapet feel kalo seandainya yang jadi anak sulungnya bukan Hali. Mungkin karena udah keseringan kali ya? Yah, tapi fict yang tidak menjadikan Halilintar sebagai anak sulung juga oke sih. Tapi kayaknya saya nggak bakalan buat yang kayak gitu karena nggak sreg dan nggak terbiasa. Nggak apa-apa, saya nggak tersinggung kok, kamu udah bilang plot fict ini yang tidak membosankan aja saya udah seneng ^^. Oke, terima kasih karena sudah mereview ya~!

Kin's yhalies
Ah…saya senang jika kamu merasa fict ini lucu. Menurut saya sih, humornya masih kurang karena saya juga akhir-akhir ini lagi enggak humoris(?). Maafkan saya karena saya bukannya update kilat secepat gerakan kilatnya Hali, saya malah update suuuuper lambat sama lambatnya dengan Gopal yang datang kesekolah *menghindari tembakan molekul Gopal*. Yah, ini udah update, thanks udah review ya~!

IceCandy03
Ah! Saya jadi ikutan senang deh jika banyak yang nungguin Blaze dan Ice yang begitu something(?) di fict ini. Maafkan saya atas keterlambatan update ya. Pokoknya, ini silahkan di baca dan semoga menghibur ya. Thanks for the review~! :D

Asha
Wah…banyak juga ya yang menanti Blaze dan Ice? Hehehe, mereka berdua manis sih, saya juga excited sendiri ngeliat mereka. Maaf ya karena lambat update, terima kasih reviewnya! XD

Alyana Kagamine
Wow! Ice dan Blaze pasti senang deh karena banyak yang menunggu kemunculan mereka ^^. Well, saya memang nggak bisa memunculkan Thorn dan Solar karena beberapa alasan. Yah, selain saya udah nggak tega ngeliat Hali ternistakan karena tambahan Blaze sama Ice, saya memang belum tau pasti sifat Thorn dan Solar. Duh, harus sabar deh ikutin jalan cerita Boboiboy Galaxy kalo mau tau. Tapi mungkin di fanfict Boboiboy multi chap saya yang lain akan saya pertimbangkan untuk memunculkan kedua elemen yang itu, misalnya mungkin WWWWorking atau World of Distruction…lihat nanti deh ^^.
Jangan khawatir, Hali setrong kok, jadi dia pasti nggak bakalan depresi. Dan salamnya akan saya sampaikan deh ke yang bersangkutan, oke, thanks for review~! XD

Mahrani29
Yes, BAZ itu memang Blaze, sebenarnya saya nggak bermaksud nyembunyiin identitasnya, saya hanya ingin bermain-main dengan Gempa aja, hahaha…*krik krik*. Senang deh banyak yang menanti kemunculan tu dua elemen berlawanan tapi unyu itu :3. Terima kasih ya sudah mereview! :D

N Rani kudo
Satu lagi ucapan sabar buat Hali-chan~! Sayang dia lagi nggak disini. Nanti deh saya sampaikan ke dia. Halilintar kan pria sejati, dia pasti bisa nanganin adik-adiknya yang ngeselin tapi unyu-unyu itu . Saya minta maaf atas keterlambatan update ya. Banyak hal yang sedang saya urus dan saya juga kena WB selama beberapa bulan jadinya kayak gitu deh…sekali lagi maafkan saya! *bungkuk bungkuk*
Tentu saja saya tau singkatan, itu juga kebiasaan saya kalo di medsos. No problem, saya nggak tersinggung kok. Malah bagus kamu nanya begitu artinya kamu masih memikirkan orang yang membaca kiriman kamu :3.
Terima kasih ya sudah mereview~!

Chikita466
Maafkan saya ya karena lama update. Saya sendiri jadi lama update karena kehilangan mood akibat banyak hal-hal yang harus di urus di sekolah *sigh*, tapi akhirnya bisa update juga...
Okay, trims reviewnya ya! XD

Hikaru Q.A
Hehehe, memang akan banyak kejutan yang akan menanti semuanya (terutama Halilintar) nanti, jadi tetap nantikan terus ya~! :D
Kepribadian Gempa setelah kehadiran Blaze dan Ice? Kalo itu kita lihat saja nanti. Maaf ya karena lama update. Terima kasih sudah mereview! ^^

Ililara
Tenang aja, Halilintar nggak bakalan jadi gila kok…(kan dia udah gila beneran-becanda :D). Ini udah lanjut, thanks ya sudah mereview!

Gempa nahito uzumaki
Ya, memang seru kalo semua elemental Boboiboy ada. Saya harap bisa memunculkan Thorn dan Solar juga tapi yah…sepertinya harapan tetap akan menjadi harapan *jangan baper woy!*. Oke, terima kasih rekomennnya, akan saya baca nanti kalo sudah punya waktu 'kay? XD
Thanks for the review~! :D

Nalash Polal Falayt
Entah Halilintar akan senang atau malah ngamuk setelah tau ada banyak kiriman simpati buat dia…ahahaha…*ketawa garing* *di hajar*
Ya, Gempa memang main characternya, tapi Halilintar juga. Karena masih awal-awal kemunculan Blaze dan Ice, tanpa sadar saya memang sudah memfokuskan cerita ini ke Halilintar karena dia kakak tertua…
Fict ini no pair, tapi kalo kamu mau Yaya dimunculkan kembali tentu saja ada. Kan Yaya dkk belum ketemu sama Blaze dan Ice ^^.
Oke, terima kasih sudah mereview! XD

KuroIChio
Ini udah ada lanjutannya. Maaf deh slow update, and thanks for review! :D

Ciiko
Terima kasih dukungan dan reviewnya. Ini udah lanjut, semoga suka ya! ^^

Guest
Ini udah di next. Sorry karena update nya ngaret banget ya, terima kasih sudah review! ^^

Baiklah! Sebenarnya fict ini khusus untuk menistakan Halilintar… *pliss jangan kasih tau dia!* tapi juga tetap akan ber-fokus ke Gempa dan segala macam sifat twistednya. Baiklah!

Happy Read!


"Eh? Kalian dulunya tinggal di Jepang?" kaget Gempa.

"Uhm…begitulah. Kami sudah tinggal disana bersama paman semenjak SD," jawab Blaze sambil tersenyum canggung.

"Wow…itu hebat sekali. Oh iya…kalian kan hanya beda setahun dengan kami…terus kenapa aku tidak pernah melihat kalian?" kali ini Taufan yang bertanya.

"Yah…kami memang tidak tinggal dengan Ayah dan Ibu tapi tinggal bersama Ejo jo. Oh ya…sepertinya Ibu dan Ayah tidak pernah bilang pada kalian ya, kalo sebenarnya kalian punya adik?" jelas Blaze.

"Hmph!" Halilintar hanya memutar bola mata bosan dan memilih mengalihkan tatapannya ke arah jendela kaca mobil.

Ngomong-ngomong, posisi duduk mereka saat ini adalah Gempa yang duduk di sebelah kursi supir alias Ejo jo, lalu di belakang Ejo jo ada Halilintar, lalu Taufan, Ice (yang sudah tertidur dengan kepala yang bersandar pada bahu Blaze) serta Blaze yang di belakang Gempa.

"Tapi Kak Hali kayaknya udah tau tuh, perihal kalian berdua," komentar Taufan dengan kedua netra yang melirik kakak sulungnya yang sejak memasuki mobil sudah tidak berbicara apa-apa lagi.

"Aku juga belum lama tau. Tok Aba yang memberitau ku…lalu sebulan kemudian Ejo jo memberi kabar bahwa kedua orang ini akan tinggal dengan kita…" gumam Halilintar dengan aura-aura gelap membuat Taufan reflek menjauh dari sang kakak tempramen tersebut.

"Kenapa kalian pindah disini? Ku pikir bersekolah di Jepang lebih bagus," tanya Taufan setelah aura gelap sang kakak menghilang.

"Yah…kami hanya merasa bosan saja. Maksudku…kami masih terlalu muda untuk tetap berada disana. Kami pernah mendapat telepon dari Ayah bahwa kami akan pindah ke Malaysia saja bersama kakak-kakak kami," jelas Blaze.

"Kalian sudah tau tentang kami?" tanya Gempa.

"Umm…sejak kami berumur 6 tahun…dan kami saaaangat ingin bertemu dengan kalian…tapi baru kesampaian sekarang," jawab Blaze sambil menggaruk tengkuknya.

"Heee…" Gempa bergumam pelan kemudian dengan cepat kepala yang terlindungi topi dinosaurus bermotif gunung kuning itu berbalik menghadap keempat saudaranya dengan mata berbinar-binar.

"Ne, ne…Jepang itu seperti apa?" tanya Gempa antusias.

"Eh? Blaze yang sedang memperbaiki tudung jaketnya menatap sang kakak ketiga dengan bingung.

"Begini…aku itu sukaaa sekali dengan Jepang…karena Anime, Tokushatsu, dan game-game keren semuanya berasal dari sana! Jadi…ceritakan Jepang itu seperti apa?" ucap Gempa.

"Mmm…Jepang itu…gimana yah…" Blaze menggaruk tengkuknya lagi, bingung harus mulai menjelaskan darimana.

"Yang pasti…Jepang itu udaranya cukup dingin…beda dengan disini yang hangat," ucap Blaze sekenanya.

"Itu wajar sih…kan ini Negara tropis," komentar Taufan. "Emm…ada lagi? Yang menurutmu menarik gitu," Gempa masih belum menyerah 'mengintrogasi' adik kejutannya tersebut.

"Yah…system pembelajarannya sedikit berbeda…" Blaze semakin kebingungan mau menjawab apa.

"Ah…bagaimana dengan anime? Aku pikir di Jepang Otaku itu banyak," Taufan memutuskan untuk angkat bicara sebelum situasinya menjadi lebih canggung.

"Emmhh…oh! Tentu saja, di Jepang bukan hanya Otaku…tapi ada NEET(*), Weaboo(**), Nijikon(***), dan masih banyak lagi. Ngomong-ngomong, di Jepang memang ada tempat khusus untuk mereka. Misalnya Akihabara, kota idaman para Otaku," jelas Blaze.

"Uwwoh! Sudah kuduga! Aku jadi ingin kesanaaa!" Gempa mulai joget-joget(?) di kursinya.

"Hentikan, nanti mobilnya bisa jungkir balik," desah Halilintar sweatdrop dengan reaksi lebay adik keduanya tersebut.

~Twisted~

"Baiklah, sudah sampai. O iya, barang-barang Blaze dan Ice sudah diletakkan di dalam rumah. Tapi belum di tata. Sisanya aku serahkan pada kalian bertiga ya," setelah menurunkan kelima Boboiboy bersaudara tersebut, Ejo jo langsung pasang senyum ganteng sebelum pamit dan akhirnya tancap gas pergi dari kediaman Boboiboy bersaudara yang baru nambah penghuni tersebut.

"WOY! SETIDAKNYA BANTUIN RAPIIN KEK! DASAR ORANG SABLENG!" Halilintar langsung heboh bagaikan orang demo minta naik gaji.

"Udahlah, Kak Hali. Jangan teriak-teriak di jalan, malu-maluin ah," bujuk Taufan.

"Kita masuk aja yuk…tanganku pegel nih…" keluh Blaze dengan tangisan buaya ala jones(?).

"Ngomong-ngomong, Blaze…apa dia selalu seperti itu…?" tanya Gempa setengah sweatdrop melihat Ice yang masih tertidur nyenyak dan sedang digendong ala bridal style oleh Blaze.

"Ehehehe…tolong di maklumin yah…anak ini memang dari dulu selalu punya kebiasaan seperti ini," jawab Blaze kikuk.

"Oh…kelihatannya cukup sulit juga ya?" komentar Gempa sambil tersenyum sweatdrop.

"Tch…awas saja kau, Ejo jo…" Halilintar masih mendumel kesal kemudian melangkahkan kakinya memasuki rumah yang sudah dimasuki duluan oleh Gempa, Blaze, dan Ice, di susul Taufan yang masih sweatdrop dengan tingkah kakak pertamanya itu.

"O iya…topi mereka…" perhatian Taufan langsung tertuju pada topi berwarna hitam bermotif api orange-kemerahan milik Blaze dan topi berwarna biru laut bermotif balok es milik Ice yang saat ini sebagiannya tertutup oleh hoddie jaket mereka.

~Twisted~

"Astaga…kenapa bisa sebanyak ini…" Halilintar mengurut pelipisnya dengan frustasi begitu mendapati ruang tamu dipenuhi belasan kardus ukuran sedang dan besar.

"Oh iya, aku baru ingat," setelah membaringkan Ice di sofa, Blaze bergegas mengambil salah satu kardus yang berukuran sedang, kemudian menyerahkannya pada ketiga kakaknya.

"Apa ini?" tanya Taufan bingung. "Ah…ini oleh-oleh dari kami, yoroshiku ne~!" ucap Blaze dengan cengiran cerahnya.

"Eh? Beneran?" Gempa dengan antusias membuka kardus pemberian sang adik tersebut, dan langsung joget selebrasi setelah melihat isi dari kardus tersebut adalah beberapa game baru, anime DVD, action figure, serta merchandise-merchandise lainnya yang sangat digemari Otaku.

"Beneran ini semua untuk kami?!" tanya Gempa berbinar-binar.

"Uhm…sekalian ucapan terima kasih karena sudah mau menerima kami disini," jawab Blaze dengan sedikit rona merah di pipinya.

"Wah! Tentu saja kalian di terima! Terima kasih ya!" Gempa mulai kesenangan kemudian langsung memikul(?) kardus tersebut dan lari menuju kamarnya yang terletak di lantai atas.

"Kak Taufan! Ayo temani aku menata semua ini!" teriak Gempa dari atas.

"Sekarang dia jadi sibuk sendiri…" Taufan tersenyum sweatdrop kemudian bergegas menaiki tangga untuk menemui sang kembaran ketiga tersebut.

"Hah…aku sih tidak meminta apa pun…aku hanya ingin ketenangan…" gumam Halilintar dengan lesu. Aura-aura suram kembali menguar dari tubuhnya.

"Uh…seberapa depresinya Kak Halilin dalam menghadapi Kak Taufan dan Kak Gempa…?" batin Blaze sweatdrop bercampur prihatin melihat kondisi kakak pertamanya yang cukup mengenaskan baginya.

"Ano…memangnya kenapa dengan Kak Taufan dan Kak Gempa? Maksudku…Kak Taufan memang kelihatan agak…emm…sulit di atur tapi…Kak Gempa tampaknya baik-baik saja. Dia hanya terlalu terobsesi dengan Anime…iya kan?" komentar Blaze ragu-ragu.

"Hah…itu karena kau belum tau…" gumam Halilintar.

"Belum tau apa?" tanya Blaze.

"Ah…nanti juga kau bakalan tau sendiri. Aku mau ke kamar dulu," jawab Halilintar masih dengan nada lesu kemudian berjalan terseok-seok(?) menuju lantai dua.

"Eh? Kak Halilin, kami tidur dimana?" tanya Blaze.

"Oh yah…ada kamar kosong tidak jauh dari kamar Gempa. Tapi kalian berdua harus berbagi, karena itu satu-satunya kamar yang tersisa di sini," jawab Halilintar sebelum melanjutkan perjalanannya menuju lantai dua.

"Oh…kenapa aku harus berbagi kamar lagi dengan si beruang kutub hibernasi itu…?" gumam Blaze pasrah sambil melirik malas ke arah Ice yang masih bobok cantik di sofa.

~Twisted~

"Gempa! Sudah saatnya makan malam!" seru Taufan sambil membuka pintu tanpa permisi membuat Gempa yang sedang asik menata action figure Anime barunya langsung jungkir balik mencium lantai dengan sangat tidak indah.

"Uh…Kak Taufan kenapa tidak ketuk pintu dulu sih?" protes Gempa sambil mengelus ubun-ubunnya yang agak berasap karena barusan bertegur sapa(?) dengan lantai.

"Maaf~ ayolah, kau tidak ingin kehabisan jatah kan? Hari ini Kak Hali memasak sesuatu yang special!" seru Taufan dengan gaya seperti orang yang mempromosikan sebuah restoran.

"Oh? Tidak biasanya…" Gempa langsung melupakan rasa sakit kepalanya dan berjalan keluar kamar di susul Taufan-yang masih harus menutup pintu kamar tersebut.

~Twisted~

"Woaah!" Gempa menatap semua hidangan di meja makan dengan tatapan blink-blink.

"Kak Hali…apa nggak terlalu berlebihan?" Taufan tersenyum sweatdrop melihat makanan yang akan mereka santap malam ini terdiri dari steak panggang dengan saus barbekyu, spaghetti, omelette rice, dan pudding sebagai makanan penutup.

Ah…dan bagaimana sampai Halilintar bisa membuat semua itu dalam porsi lebih dari lima orang sendirian hanya dengan waktu tidak sampai 2 jam merupakan sebuah misteri.

"Kak Halilin jangan-jangan memasak semua ini untuk kami berdua yang baru datang ya?" tebak Blaze yang lagi-lagi menggendong Ice yang sedang tertidur, kali ini menggunakan punggungnya.

"Hah?! S-siapa yang bilang begitu? Aku membuatnya karena bahan makanan yang baru dikirim Ayah dan Ibu terlalu banyak. Jadi…apa boleh buat?" elak Halilintar sambil mengalihkan wajah merahnya ke arah lain.

"Kak Hali…" Taufan hanya tersenyum sweatdrop sedangkan Blaze bergumam-gumam tentang sifat kakaknya ini mengingatkannya pada heroine-heroine berambut pirang twintail yang bersifat malu tapi mau alias Tsundere.

"Kak Halilintar…kau memang kakakku yang terbaik~!" ucap Gempa dengan senyuman blink-blink ditambah latar belakang bunga-bunga pink yang mungkin bisa membuat fans-fansnya di sekolah (plus Author) nahan diri buat nggak keluarin karung(?), tapi tidak dengan Boboiboy Halilintar yang poker face melihat kelakuan adik keduanya.

"Umm…kita makan yuk. Nanti keburu dingin," ucap Taufan mencoba mencairkan suasana dan tentu saja di sambut dengan gembira oleh Gempa.

"Hooaamm…Kak Blaze…? Dimana ini?" tanya Ice sambil mengucek-ngucek matanya.

"Di meja makan. Kau tertidur semenjak masuk ke mobil hingga sekarang," jawab Blaze sweatdrop.

"Oh…begitu yah…sekarang kita di rumahnya Kak Halilintar dan hoaamm…nyem nyem…" Ice bergumam tidak jelas sambil menyuapi dirinya dengan makan malam jatahnya.

"Entah kenapa…melihatnya malah membuatku seperti melihat Taufan versi lesu ya…?" batin Halilintar yang duduk di depan Ice sambil melirik Taufan disampingnya yang sibuk mengunyah makanan sambil mengoceh tidak jelas.

"Ehm…ngomong-ngomong, Blaze…" Gempa memulai percakapan begitu menyadari suasana makan malam mereka yang cukup absurd.

"Ada apa, Kak Gempa? Masih ada yang ingin di tanyakan?" tanya Blaze.

"Mmm…begini, kalian kan berada di Jepang cukup lama…kalo boleh tau, di daerah mana kalian tinggal?" tanya Gempa.

"Mmm…kami tinggal di kota kecil tapi cukup ramai," jawab Blaze.

"Dan kota apa itu?" tanya Taufan.

"Ikebukuro,"

Jawaban singkat dari Blaze itu sukses membuat Gempa yang sedang mengkhayati steak panggangnya terbatuk-batuk.

"Serius?! Kalian tinggal di Ikebukuro?!" seru Gempa sambil menggebrak meja, sempat membuatnya mendapatkan deathglare dari Halilintar tapi sama sekali tak di gubris.

"Iya…paman sampai sekarang masih disana, kok," jawab Blaze berusaha untuk tetap tenang.

"Kalian tinggal di Ikebukuro tapi kau malah menyebutnya kota kecil? Itu adalah salah satu dari 7 kota Jepang yang ingin aku kunjungi!" seru Gempa lagi.

"Oh…benarkah? Tapi jika dibandingkan dengan Tokyo…Ikebukuro itu kecil," ucap Blaze innocent.

"Ya itu wajar…Tokyo kan Ibukota Jepang," komentar Taufan sweatdrop.

"Jadi…kalian tinggal di Ikebukuro kan…? Hmm…" Gempa memasang pose berpikirnya, sedikit membuat Halilintar heran karena ini pertama kalinya Gempa mengesampingkan makan malamnya-apalagi makanan Buatan Halilintar.

"Apa disana ada banyak geng warna(1)? Atau mungkin seorang bartender yang memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata(2)?Atau Dollars(3)? Informan asal Shinjuku yang terobsesi dengan manusia(4)? Zombie pedang bermata merah(5)? Restoran sushi ala Rusia(6)? Oh, atau pengendara motor hitam tanpa kepala(7)?!" tanya Gempa panjang lebar dengan kecepatan 1.000 kilometer per detik.

"Kak…kami memang tinggal di Ikebukuro…tapi kami tidak berasal dari dunia Durarara," jelas Ice yang untuk pertama kalinya berpendapat semenjak mereka sampai di rumah.

"Hee? Padahal kalo iya aku ingin kirim salam ke mereka semua disana…" gumam Gempa sambil menopang dagunya. Halilintar memutar matanya dan segera beranjak dari kursinya.

"Lho, Kak Hali? Udah selesai?" bingung Taufan, karena biasanya dirinya lah yang paling cepat selesai makan meski porsi makannya adalah yang terbanyak.

"Kalian yang terlalu lama karena terus-menerus mengoceh tanpa henti. Dan Ice, makan. Jangan buat masakanku jadi mubazir," sahut Halilintar kemudian segera melangkahkan kakinya menuju tempat cuci piring.

"Ahahaha…Kak Halilintar bisa aja," Gempa hanya tertawa nervous dan memutuskan untuk melanjutkan makan siangnya yang tumben-tumbennya belum habis setengah itu.

~Twisted~

"Gempa, Taufan! Sudah saatnya mandi. Tunjukkan arah ke kamar mandi pada Blaze dan Ice," pinta Halilintar setelah keluar dari kamarnya dengan baju piyama.

"Sip, kak! Oke, siapa yang mau mandi duluan?" tanya Taufan.

"Aku! Aku!" seru Blaze sambil mengacungkan tangannya dengan antusias.

"Aku mau…" gumam Ice dengan mata sayu.

"Kak Taufan harus membiarkan aku mandi duluan. Anak itu kalo sudah menyentuh air pasti nggak bakalan mau keluar lagi," ucap Blaze sambil menggembungkan pipinya, sedikit membuat Taufan tersentak karena meski paras mereka mirip, ternyata Blaze itu imut sekali...

"Kak Hali masih lebih imut…" gumam Taufan tanpa sadar.

"Hah?" Blaze memiringkan kepala bingung.

"Eh? M-maksudku baiklah. Kamar mandinya bersebelahan dengan dapur, ada juga yang di lantai dua, tapi yang di atas lagi dipakai sama Gempa jadi kalian berdua gantian ya," jelas Taufan salah tingkah karena barusan keceplosan.

"Oke! Aku mandi nggak lama kok. Kalo begitu aku pergi ya~~~!" Blaze dengan semangat 45 langsung berlari menuju kamarnya untuk mengambil handuk baru kemudian lari memasuki kamar mandi.

"Hmph, ternyata Kak Taufan itu brother complex ya?" gumam Ice masih dengan mata sayu tapi seulas senyum miring mengembang di wajahnya.

"B-bukan! Hanya saja…duh…" Taufan dengan wajah merah tidak tau harus menjelaskan darimana.

"P-pokoknya, lama-kelamaan kalian akan mengerti, Kak Hali itu menarik tau!" bentak Taufan.

"Oh ya? Menarik seperti apa?" Taufan sedikit bingung karena ini pertama kalinya Boboiboy Ice yang tampak lesu dan malasitu terlihat sedikit antusias.

"Yah…kalian dari Jepang bukan? Bisa dibilang…Kak Hali itu Tsundere, kalo marah serem, tapi juga gemesin…terus dia pintar masak jadi kayak isteri idaman gitu, ah! Kak Hali juga sebenarnya sayang sama kami tapi nggak mau ngaku, sok-sokan, tapi sebenarnya pedulian terus…"

"Oh? Jadi begitu ya?" Ice tersenyum makin lebar sedikit membuat Taufan curiga.

"Senangnya Kak Taufan mau jujur…dengan begitu semuanya beres, iya kan, Kak Halilintar?" sahut Ice.

Bahu Taufan menegang begitu merasakan ada aura-aura negatif di belakang punggungnya. Dengan gerakan patah-patah, Taufan menoleh ke belakang, dan langsung kicep seketika karena mendapati Halilintar berdiri di belakangnya dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"O-oh…hai, Kak Hali…ehehehe, apa Gempa udah selesai mandi?" tanya Taufan dengan senyum yang di paksakan.

"Ternyata kau ini orang yang jujur ya, Taufan?" gumam Halilintar dengan tatapan mematikannya yang pasti sudah membuat Taufan meregang nyawa jika seandainya tatapan bisa membunuh.

"A-ayolah, kak…tau kan kalo aku suka bercanda?" elak Taufan gugup.

"Ya, dan kau tau kan betapa tidak sukanya aku dengan candaanmu itu?" sahut Halilintar masih dengan tatapan yang sama membuat Taufan langsung ambil langkah seribu.

"Kembali kau, Taufan! Biarkan aku menunjukkan padamu betapa SAYANGnya aku padamu!"

Halilintar dengan gerakan kilat(?) langsung mengejar Taufan yang lari entah kemana, meninggalkan Ice yang menatap tingkah laku kedua kakak tertuanya itu dengan datar.

"Sepertinya Kak Halilintar dan Kak Taufan itu memang patut dicurigai…" gumamnya tidak jelas.

"Ice, aku sudah selesai mandi. Eh? Mana Kak Taufan?" tanya Blaze sambil menyeka rambut basahnya dengan handuk.

"Menjelajahi dunia dengan Kak Halilintar. Sekarang berikan handuknya," Ice menjawab seadanya kemudian merampas handuk yang masih dipakai Blaze sebelum berlalu menuju kamar mandi, tidak mempedulikan tatapan tak mengerti dari sang pemuda ber-code name BAZ tersebut.

~Twisted~

"Ah~ hidup itu memang harus dibawa santai, benarkan Ice~~~?" desah Gempa sambil berguling-guling di atas karpet dengan consol game kesayangannya serta sebungkus keripik kentang dan sebotol cola.

"Hmm…aku setuju dengan Kak Gempa…hooaamm~" gumam Ice sambil menguap kemudian menyamankan kepalanya di atas paha Blaze yang sibuk memainkan PSP yang dia pinjam dari Gempa.

"Blaze, Gempa, jangan lupa bereskan semua itu sebelum tidur," ucap Halilintar.

"Baik, kak!" sahut Blaze patuh sedangkan Gempa tidak peduli dan masih sibuk dengan consol gamenya.

"Taufan,"

Taufan yang baru saja menghela napas lega kembali menegang karena panggilan 'sayang' dari sang kakak (Oke, entah kenapa terdengar ambigay lagi…).

"Y-ya?" sahut Taufan patah-patah.

"Ikut aku. Urusan kita belum selesai," perintah Halilintar dengan tatapan tajamnya.

"Hieee! Jangan, kak! Aku masih ingin sekolah! Masa depanku masih panjang!" rengek Taufan dengan air mata buaya membuat perempatan siku-siku muncul di dahi Halilintar.

"Berisik! Aku bilang ikut denganku!" Halilintar dengan kesal segera menarik kerah piyama Taufan dan menyeretnya menuju lantai dua, mengabaikan teriakan "TIDAAAAAAKKK!" dari sang adik pertama tersebut.

"Kak Halilin dan Kak Taufan ternyata cukup dekat ya…?" komentar Blaze sweatdrop.

"Begitulah. Sebenarnya dulu Kak Taufan nggak tinggal disini, tapi orang tua kami memindahkan Kak Taufan disini bersama kami. Yah…sekitar tiga bulan yang lalu kurasa," jelas Gempa.

"Benarkah? Jadi kalian belum pernah bertemu dengan Kak Taufan?" tanya Blaze.

"Hanya Kak Halilintar saat kami kecil dulu. Dan aku rasa itu sebabnya Kak Halilintar dan Kak Taufan jadi lebih akrab…dan jika kalian ingin tau, saat kembali dari KL dulu, Kak Halilintar selalu menyempatkan diri membantu Atok memasak atau belajar masak sendiri. Ketika aku tanya alasannya, Kak Halilintar suka mengelak. Aku tanya sama Atok, Atok hanya senyum terus jawab kalo Kak Halilintar ingin memuaskan seseorang…gitu," jelas Gempa panjang lebar.

"Oh? Jadi itu sebabnya Kak Halilintar pintar masak ya, meski tampangnya agak menyeramkan gitu," komentar Blaze sambil tertawa kecil.

"O iya, kalian berdua kenapa bisa sekelas dengan Kak Taufan dan Kak Halilintar? Kalian setahun lebih muda dari kami kan?" tanya Gempa.

"Oh? Kak Gempa baru sadar sekarang?" Blaze tertawa kecil, "Itu karena kami disekolahkan lebih cepat. Aku juga bosan jika tidak ngapa-ngapain di rumah jadi saat umur empat tahun kami udah daftar sekolah," lanjutnya.

"Hee…kalian hebat juga," Gempa bergumam-gumam sambil mengunyah keripik kentangnya.

"Ne, saat kita bertemu di ClockZone hari itu, kenapa kau tiba-tiba melarikan diri saat turnamen final RoadFight?"

Bahu Blaze mendadak menegang mendengar pertanyaan dari kakak ketiganya tersebut.

"Padahal bisa saja kau mengalahkan aku saat itu," sambung Gempa penasaran.

"I-itu…well…" Blaze mengalihkan tatapannya sambil menggaruk tengkuknya.

"Itu karena saat pertandingan final, aku datang ke sana dan Kak Blaze malu karena ketahuan suka ikut turnamen game olehku," jawab Ice tiba-tiba.

"Ice! Aku kira kau sudah tidur!" bentak Blaze dengan wajah merah.

"Hmm…aku tidak menyangka, lho kak…padahal daripada video game, Kak Blaze kan lebih suka dengan permainan anak-anak," gumam Ice.

"Diamlah! Aku kan hanya mencoba," elak Blaze mendadak gugup.

Gempa tertawa kecil melihat interaksi kedua adiknya itu, "Kalian sedikit mirip dengan Kak Halilintar dan Kak Taufan deh. Warna pakaian kalian mirip, hanya tertukar saja," komentar Gempa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Maksudnya?" tanya Blaze tidak mengerti.

"Maa, kau pasti paham maksudku. O iya, Blaze…jika kau suka video game, kapan-kapan kita ke ClockZone lagi dan lanjutkan duel kita. Bagaimana?" tawar Gempa dengan seulas seringai.

"Boleh saja. Dan lain kali aku pasti yang akan menang, kak," sahut Blaze membalas seringai Gempa.

"Miaaww!"

Seekor kucing kecil berbulu kuning melompat tiba-tiba ke arah pangkuan Blaze, tepatnya ke atas perut Ice.

"Ah…" gumam Ice sedikit terkejut meski mata sayunya hanya terbuka sedikit.

"Uwaa! Kucing?!" kaget Blaze karena kemunculan kucing bermata biru itu yang begitu tiba-tiba.

"Ochobot! Aku hampir lupa denganmu. Kau sudah makan?" Gempa beranjak menggendong Ochobot yang masih terus mengeong sambil menjilati tangannya.

"Maaf ya. Ini kucing peliharaan kami, namanya Ochobot. Dia mungkin bingung dengan adanya orang-orang baru," jelas Gempa sambil mengelus punjak kepala dan telinga Ochobot.

"Begitu ya…?" Blaze memperhatikan tubuh Ochobot dengan seksama.

"Dia mirip Pikachu ya?" komentar Blaze sambil nyengir.

"Iya, awalnya aku mau menamainya Pika-nyan, tapi karena aku pikir itu mainstream jadi aku ganti deh," jelas Gempa.

"Woy, ini sudah larut. Mau sampai kapan kalian disitu?" Blaze dan Gempa langsung menoleh ke arah lantai dua, dimana ada Taufan yang menyembulkan kepalanya dari kamar Halilintar.

"Kak Taufan, Ochobot udah makan?" tanya Gempa. "Sudah. Sebelum mandi aku sudah memberinya makan, makanya kucingnya di jaga baik-baik dong," jawab Taufan dibalas gumaman 'hehehe' dari Gempa.

"Kak Taufan baik-baik saja?" tanya Blaze cemas.

"Yah…awalnya aku takut sekali tadi…tapi nggak apa-apa. Aku hanya di suruh membantu Kak Hali beresin beberapa barang-barang lamanya," jawab Taufan dengan senyum kecil.

"O iya, ini sudah jam berapa?" tanya Gempa.

"Sebentar lagi mau jam 10 mungkin," jawab Taufan.

"Oh…" gumam Gempa seadanya, tidak menyangka acara mengobrolnya dengan Blaze bisa sampai selama itu.

"Taufan, masih ada lagi yang harus diberesin nih," panggil Halilintar dari dalam kamar.

"Ayolah, kak…ini udah larut. Biarkan aku tidur…" desah Taufan malas.

"Bantu aku atau tidak akan ada sarapan untukmu besok," sahut Halilintar dengan nada sedingin balok es.

"Huft…iya deh, iya deh…" Taufan menyahut pasrah dan kembali menutup pintu kamar yang sebelumnya terbuka sedikit tersebut.

~Twisted~

"Entah kenapa, aku jadi tak sabar menunggu besok deh," ucap Blaze sambil menggendong Ice yang kali ini benar-benar sudah tertidur lelap.

"Well, semuanya pasti akan terkejut dengan adanya kalian. Sama seperti saat Kak Taufan pertama kali masuk sekolah hari itu," sahut Gempa sambil mengelus-ngelus kepala Ochobot yang sudah meringkuk di keranjang tidurnya.

"Ochobot tidur dimana?" tanya Blaze.

"Dia tidur berpindah-pindah setiap harinya. Kata Kak Taufan, biar Ochobot bisa terbiasa dengan kami semua, tidak hanya salah satu dari kami saja. Hari ini Ochobot akan tidur di kamarku," jawab Gempa.

"Wow, aku juga mau tidur bareng Ochobot," ucap Blaze berbinar.

"Boleh saja. Tapi besok ya, urutannya sih pertama Kak Halilintar, lalu Kak Taufan, kemudian aku," sahut Gempa.

Dan percakapan di rumah Boboiboy bersaudara malam itu pun berakhir setelah Gempa, Blaze, serta Ice masuk ke kamar mereka masing-masing dengan harapan semoga hari esok akan menyenangkan (kecuali untuk Halilintar dan Ice yang menginginkan ketenangan).

~Twisted~

"Halo? Oh, yah…Blaze dan Ice sudah bertemu dengan ketiga kakaknya. Um ya, baru tadi siang," seorang pria berambut hijau yang sedang duduk di dalam mobil yang terparkir tampak sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon.

"Oh? Kau ingin kemari juga? Hahaha, aku tidak yakin Halilintar, Taufan, dan Gempa masih sanggup menghadapi kejutan lainnya setelah kedatangan Blaze dan Ice. Ah…ya, tapi terserah kau, jika kau memang cuti maka aku rasa tak masalah. Baiklah, aku akan sampaikan," Ejo jo segera memutuskan sambungan telepon bersamaan dengan masuknya Tok Aba ke dalam mobil.

"Siapa?" tanya Tok Aba.

"Rekan kerjaku. Saat ini dia juga tinggal di Ikebukuro dan merupakan kenalan Tuan Salim," jawab Ejo jo.

"Maksudmu…dia kenal dengan salah satu anakku? Berasa usianya?" tanya Tok Aba.

"Sebenarnya lebih muda dariku, sekitar 20 tahun," jawab Ejo jo lagi. "Begitu ya? Dan apa katanya?" tanya Tok Aba. "Dia bilang ingin berkunjung kemari karena dia juga dapat cuti disana. Yah…dia juga katanya ingin bertemu dengan Halilintar, Taufan, dan Gempa," jelas Ejo jo.

"Dia jauh-jauh datang kemari hanya untuk bertemu dengan ketiga cucuku? Dia sudah mengenal Blaze dan Ice ya?" tanya Tok Aba lagi. "Dia mengenal Tuan Salim yang menjaga Blaze dan Ice disana, jadi aku rasa iya. Katanya dia akan datang kesini dua hari lagi," jawab Ejo jo sambil menyalakan mesin mobil.

"Hmm…mungkin aku juga akan mengunjungi mereka ya…" Tok Aba mulai bergumam-gumam sendiri.

"Iya, aku sarankan sebaiknya anda kunjungi mereka. Ketiga cucu anda-terutama Gempa, pasti sangat merindukan anda," sahut Ejo jo.

Mobil berwarna hitam tersebut segera melaju di tengah keramaian pusat kota Pulau Rintis.

"Mungkin jika sudah punya waktu. O iya, apa temanmu itu punya tujuan lain selain mengunjungi cucu-cucuku?" pertanyaan Tok Aba tersebut segera mengalihkan mata merah Ejo jo ke arah sang atasan.

"Hmm…kalo tidak salah, katanya dia juga mau mengunjungi sekolah mereka. Soalnya adiknya bersekolah disana juga, dan secara kebetulan berada di kelas yang sama dengan Gempa," jelas Ejo jo.

"Sekelas dengan Gempa?"

Tok Aba mengerjapkan matanya beberapa kali, merasa sepertinya sudah bisa menebak siapa adik dari rekan kerjanya tersebut.

"Ya, dan sepertinya Gempa serta adik dari rekan kerjaku itu saling mengenal," ucap Ejo jo.

"Hmm…" Tok Aba kembali bergumam pelan.

Ejo jo tersenyum tipis, "Aku yakin dia juga mengenal anda, Tok Aba. Aku akan menghubunginya lagi jika anda mau," lanjutnya.

"Tidak, tidak perlu. Aku rasa lebih efektif jika aku berbicara langsung dengannya," tolak Tok Aba kemudian segera beralih menatap langit gelap bertabur bintang tanpa bulan.

"Baiklah jika itu yang anda inginkan," sahut Ejo jo yang kembali memfokuskan dirinya pada jalanan.

"Hmm…rekan kerja Ejo jo…kakak dari teman sekelas Gempa yang juga mengenalnya? Berarti dia…" sesosok pemuda berambut raven berkacamata mendadak langsung menghampiri pikiran pria tua berkemeja biru muda tersebut.

"Hmm…Fang ya?" gumam Tok Aba.

"Aku harap kelima cucuku tidak akan seterkejut itu," lanjutnya disertai seulas senyum kecil.

.

.

.

T B C


(*) (**) (***): Silahkan Go Google ya ^^

1,2,3,4,5,6,7: Karakter anime Durarara!

EURIKAAA! Akhirnya chapter 10 bisa saya post~! Hwaaa! *gelindingan* ngehehehe, jika kalian berpikir bahwa Blaze dan Ice itu masih belum cukup untuk menghebohkan cerita ini, berarti akan saya tambahkan karakter lagi~! Sayang sekali saya tidak bisa memunculkan Thorn dan Solar, tapi sudahlah…hehehe, berdasarkan akhir chapter ini, kalian bisa nebak kan, Ejo jo lagi teleponan ama siapa? *kedip kedip* *di lempar tong sampah*

Blaze: Author~ jadwal update selanjutnya gimana?

Author: Ah, Blaze…saya juga enggak tau. Soalnya di tengah kesibukan gini, apalagi ini udah akhir tahun…

Blaze: Jangan kecewain readers lho, Author. Nggak baik.

Author: Saya tau…uh, kemungkinan besar bisa saya update di akhir tahun nanti…atau mungkin saat udah masa liburan. Jujur, saya masih kelas dua SMA lho. Ulangan semester udah dekat, jadi harus berkutat dulu dengan tugas-tugas nyebelin yang menggunung…

Blaze: Dah, jangan curhat. Pokoknya Author harus update, nggak pake nggak! *nuntut*

Author: Iya, Blaze…duh, kau unyu sekali lagi…*ngelap iler(?)* oke, saya rasa sampai sini dulu ya? O iya, soal fict-fict multi chap saya yang lain, semua itu masih dalam tahap pembuatan, jadi masih belum tau mau post kapan. Jadi kemungkinan besar fict ini juga updatenya nggak akan secepat itu karena harus bagi waktu sama fict lainnya, tapi akan saya usahakan update pokoknya! *berapi-api*

Blaze: *Rolling eyes* Iyalah tuh, Author.

Author: Hehehe, oke saatnya undur diri. Terima kasih sekali jika ada setia menunggu fict ini sampai sekarang, dan jangan lupa tinggalkan review ya~! ^^ Dan saya akan berusaha membawa Hali kembali lagi ke corner ini. Oke, sampai jumpa di chapter yang akan datang~! Byeee~~~! XD

Review~?