Setelah kejadian 'penghisapan darah' yang dilakukan Sungmin, hubungan Sungmin dan Kyuhyun menjadi semakin dekat. Tidak ada siapa pun yang meragukan kalau mereka pacaran, bagaimana tidak, dengan sikap Sungmin yang selalu bermanja-manja pada Kyuhyun dan Kyuhyun yang kadang menggoda Sungmin dengan perkataan dan perlakuan yang terkesan 'intim', siapa pun pasti akan tahu kalau mereka berpacaran sekarang. Dan beruntungnya, tak ada siapa pun yang menentang hubungan mereka berdua.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang panjang, Sungmin terlihat tersenyum bahagia. Semua kesedihan dan sakit yang dia terima menghilang, tergantikan dengan penghargaan dan cinta yang selalu diberikan Kyuhyun lewat ciuman dan pelukannya. Dia bahagia…untuk pertama kalinya dia sungguh-sungguh bahagia. Dia tidak akan melupakan semua kebahagiaan yang dia buat bersama Kyuhyun ini. Dia akan menikmati semua ini…hingga ajal menjemputnya nanti. Demi Kyuhyun, dia ingin bahagia. Dia tidak mau Kyuhyun sedih karena melihatnya bersedih. Bagi Sungmin…kebahagiaan Kyuhyun adalah segalanya.

Kyuhyun sendiri, entah karena dia tahu hidup Sungmin memang tidak akan lama atau karena dia memang terlalu mencintai Sungmin, berubah menjadi sangat posesif dan protektif dengan Sungmin. Pemuda berambut cokelat itu hampir tak pernah sedikitpun melepaskan pandangannya dari pemuda berambut hitam yang kini menyandang status sebagai namjachingunya itu. Meski dia tidak pernah mengatakannya pada siapa pun, ada perasaan takut yang teramat sangat di dalam hati Kyuhyun setiap melihat Sungmin. Dia takut…setiap kali dia melihat Sungmin itu akan menjadi saat terakhirnya melihat pemuda itu tertawa dan bahagia. Dia ingin Sungmin bahagia…meski cuma sesaat, dia ingin Sungmin menyambut kematiannya dengan senyum bahagia.

Perasaan takut itu membawa keduanya begitu dekat, membuat rasa cinta mereka semakin kuat dan kuat. Perasaan mereka berdua untuk satu sama lain sudah seperti menjadi sesuatu yang melebihi cinta. Perasaan mereka berdua sudah tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, saking dalamnya rasa cinta yang mereka rasakan untuk satu sama lain. Cinta yang begitu dalam dan murni…hal terindah yang selalu diharapkan oleh setiap manusia.

Tapi yang tidak mereka tahu adalah bahwa cerita cinta mereka tak selalu bahagia…

Dengan adanya badai yang datang memporak porandakan cerita cinta mereka itu…


Kyuhyun berlari di tengah koridor sekolahnya yang masih sepi karena memang belum digunakan untuk proses belajar mengajar itu dengan tergesa-gesa sambil mengecek jam tangannya. Di tangannya tergenggam beberapa partitur musik kosong dan alat tulisnya.

"Aisssh~paboya Kyu, kenapa bisa lupa mengerjakan tugas musik sih? Padahal tugas ini harus dikumpulkan besok karena besok semester baru sudah dimulai…" gumam Kyuhyun kesal sambil tetap berlari ke arah ruang musik. Ya, mungkin karena terlalu asyik menghabiskan waktu 'pacaran' dengan Sungmin, Kyuhyun jadi mengabaikan tugas-tugas sekolahnya, termasuk tugas menulis partitur musik dari gurunya. Dia benar-benar lupa dengan semua tugas sekolah ini sampai Changmin pulang dari liburannya dan meminta Kyuhyun untuk mendiskusikan PR mereka (yang tentu belum dikerjakan Kyuhyun sama sekali). Awalnya Kyuhyun panik setengah mati karena tidak mungkin mengerjakan tugas yang menumpuk itu dalam waktu satu hari, dan kalau PR itu tidak selesai, maka para guru akan melaporkannya pada Kangin dan Leeteuk, dan hasilnya…bam, dia pasti akan diceramahi panjang lebar dan dihukum kurungan kamar oleh kedua appa ummanya itu! Tapi akhirnya sisi 'evil'nya bangkit dan dia memutuskan untuk menyontek semua PR Changmin (dia tidak khawatir sedikitpun dengan jawabannya, karena dia yakin dengan kejeniusan Changmin, jawaban di PR pemuda bertubuh jangkung itu pasti 98% benar) tapi tidak bisa begitu halnya dengan PR musik mereka, karena guru mereka sudah meminta mereka untuk menulis sebuah partitur khusus yang menceritakan kisah hidup mereka.

Karena itulah dia berada di sini sekarang, berlari ke arah ruang musik untuk mulai mengerjakan partitur musik itu sebelum jam malam asrama tiba dan dia terkunci di luar asrama. Bisa hancur imagenya sebagai 'murid tampan teladan yang pintar dan baik hati' kalau itu sampai terjadi.

Kyuhyun segera menggeser pintu ruang musik sebelum membatu begitu melihat pemandangan di dalamnya.

Dia melihat Siwon yang tertidur pulas di sofa panjang ujung tempat biasanya guru mereka duduk saat mendengarkan para murid bermain. Fakta bahwa pemuda berambut hitam pendek itu tidak terbangun sedikitpun meski Kyuhyun membuka pintu ruang musik dengan keras menandakan kalau pemuda bertubuh kekar itu pasti lelap sekali.

Dengan ragu-ragu Kyuhyun segera melangkah masuk ke ruang musik dan menutup pintu di belakangnya dengan pelan. Kyuhyun memandang wajah Siwon yang masih tertidur itu dengan pandangan nanar.

Entah kenapa, sejak 'pertengkaran'nya dengan Siwon tentang Sungmin malam itu, hubungannya dengan Siwon juga jadi menjauh. Siwon seperti menghindarinya, menjauh darinya, dan jujur saja, itu membuat hati Kyuhyun sakit. Selama ini dia terbiasa diperhatikan, terbiasa diperlakukan baik oleh Siwon. Mengetahui kalau Siwon menjauhinya, menghindarinya, bahkan seperti menganggapnya tidak ada seperti ini…tentu Kyuhyun merasa sedikit marah dan…tidak rela.

'Apa…Siwon-hyung marah padaku?' pikir Kyuhyun dalam hati. 'Karena aku lebih membela Sungmin-hyung daripada dia?'. Kyuhyun menghela napas frustasi. 'Kalau dipikir-pikir memang tindakanku itu kekanak-kanakan sekali, sampai marah seperti itu, padahal waktu itu Sungmin-hyung bukan siapa-siapaku, dan semua yang dikatakan Siwon-hyung itu fakta. Siwon-hyung hanya berusaha melindungiku, tapi aku malah membentaknya seperti itu….' Kyuhyun segera kembali memandang wajah Siwon. 'Aku harus minta maaf…'

Mata Siwon perlahan-lahan terbuka dan dia mengucek matanya sejenak. Pandangannya segera beralih ke wajah Kyuhyun yang kini berdiri di hadapannya. "Kyuhyun?" tanya Siwon sambil bangkit dari posisinya yang tadi berbaring di sofa. "Kenapa…kau ada di sini?"

"Aku…ingin minta maaf, hyung…" gumam Kyuhyun sambil membungkukkan badannya pada Siwon. "Atas perkataan kasarku tempo hari. Aku sadar Siwon-hyung hanya berusaha menjagaku kalau-kalau Sungmin-hyung lepas kontrol lagi, tapi aku malah―"

"Tidak apa-apa kok, Kyu," kata Siwon sambil tersenyum. "Aku mengerti. Kau mengatakan dengan jelas kalau kau mencintai Sungmin. Siapa pun pasti tidak akan senang kalau ada orang yang mencela orang yang mereka cintai, kan? Apalagi perkataanku kemarin memang benar-benar menghina Sungmin, aku maklum kalau kau marah padaku. Aku yang seharusnya minta maaf padamu, karena sudah memperlakukan dan menganggap Sungmin seperti penjahat."

Kyuhyun tersenyum mendengar perkataan Siwon. Siwon memang selalu pengertian padanya, membuatnya selalu merasa tenang melakukan apa pun. Siwon selalu mentolerir perbuatannya, melindunginya, memperhatikannya, mengkhawatirkannya, juga selalu mengerti dia.

Benar –benar seperti seorang kakak…

"Terima kasih, hyung…" gumam Kyuhyun. "Aku bahagia…mengenal dan dekat dengan orang seperti hyung…"

Siwon balas tersenyum pada Kyuhyun saat mendengar perkataan pemuda berambut cokelat itu. "Sama-sama, Kyu…" katanya. "Lalu…apa yang kau lakukan di sini?" tanya Siwon lagi.

"Ah, aku mau mengerjakan PR musikku," kata Kyuhyun sambil menunjukkan kertas-kertas partitur yang masih dipegangnya. "Karena terlalu asyik pacaran dengan Sungmin-hyung aku melupakan tugas ini, padahal tugas ini harus dikumpulkan besok. Makanya…aku mau mengerjakannya sekarang…"

"Hmm…begitu ya…" kata Siwon pelan. "Kalau begitu boleh aku ikut mendengar permainan pianomu?" tanya Siwon.

"Eh?" kata Kyuhyun terkejut atas pertanyaan Siwon yang tiba-tiba itu. "Ta…tapi permainan pianoku tidak bagus…"

"Bohong," kata Siwon sambil tersenyum menggoda pada Kyuhyun. "Aku tahu setiap kali kau memainkan piano, semua murid di kelasmu terpana mendengar permainanmu saking indahnya. Bakatmu dalam bermain piano begitu hebat, Kyu. Jangan membohongiku dengan mengatakan permainan pianomu tidak bagus ya…"

Wajah Kyuhyun memerah malu karena mendengar pujian Siwon itu. Selain Sungmin, Kangin, Leeteuk, Yesung, Ryeowook, Kibum, dan Changmin, Siwon adalah satu dari sedikit orang yang mau memuji permainan pianonya, bahkan sebelum mereka mendengarnya. Mereka percaya kalau permainan piano Kyuhyun bagus dan selalu mendukung pemuda itu untuk memainkan piano, sementara orang lain malah iri dan benci dengan permainannya. Bahkan pernah sekali waktu ada siswi yang mencoba melukai tangannya supaya dia tidak bisa bermain karena cemburu dengan permainan piano Kyuhyun "Ba…baiklah, tapi jangan tertawa ya kalau permainanku jelek…. Aku sudah agak lama tak bermain piano, mungkin aku sudah lupa bagaimana memainkannya…" kata Kyuhyun pelan pada Siwon yang hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum manis pada pemuda berambut cokelat itu.

Kyuhyun segera duduk di atas kursi piano dan membuka tutup piano di hadapannya. Dia segera meletakkan jari-jemarinya di atas tuts-tuts piano itu dan menggerakkannya dengan anggun, bersamaan dengan terdengarnya sebuah alunan musik yang begitu indah. Tanpa disadari Kyuhyun, Siwon langsung memandang nanar ke arah Kyuhyun saat mendengar lagu yang dimainkan Kyuhyun. Pandangannya begitu sedih, dan tanpa disadarinya, setetes air mata menetes dari mata Siwon saat dia mendengar permainan Kyuhyun.

Lagu itu…lagu yang dimainkan Kyuhyun…

Adalah lagu indah…dalam memori masa lalunya. Lagu kesukaannya…yang selalu menemani malam-malam sepi tapi indah dalam masa lalunya.

"Lagu itu…" gumam Siwon setelah Kyuhyun menyelesaikan permainannya.

"Lagu itu…aku selalu mendengarnya di mimpiku, dan aku selalu merasa hangat saat mendengarkan melodi lagu itu, meski hanya sekedar dalam mimpi yang tidak jelas. Entah kenapa aku merasa mengenal lagu ini, terasa sangat familiar. Aku merasa pernah memainkannya di hadapan orang dengan begitu bahagia…" gumam Kyuhyun. "Aku tak tahu apa pun soal lagu ini, tapi lagu ini terasa penting. Entah kenapa―"

Tanpa mengatakan apa pun, Siwon langsung berlutut di hadapan Kyuhyun dan menggenggam tangan pemuda berambut cokelat itu dengan erat. "Si…Siwon-hyung?" tanya Kyuhyun pelan saat dia merasakan tangan hangat Siwon yang menggenggam erat tangannya.

"Sudah cukup, aku sudah mengerti. Tidak usah mengatakan apa pun lagi padaku…" gumam Siwon pelan sambil mengusap lembut pipi Kyuhyun. "Sekarang tidurlah, Kyu…Bermimpi indahlah sekarang…. Tidurlah, bermainlah di alam mimpi dengan bahagia…"

Entah kenapa, perkataan Siwon serasa menghipnotis Kyuhyun. Dalam sekejap pandangan mata Kyuhyun langsung mengabur dan tidak lama kemudian dia segera jatuh tertidur ke pelukan Siwon.

Siwon memandang wajah Kyuhyun yang tertidur itu sambil tersenyum sedih. Tangannya segera terulur dan mengelus rambut cokelat itu dengan lembut. "…Belum waktunya kau mengetahui semua itu, Kyu. Belum waktunya kau ingat semua itu. Meski kini…hatimu bukan lagi milikku, dan aku pun tak punya hak apa pun padamu, aku berjanji untuk selalu membuatmu bahagia, meski harus melukai dan mengorbankan siapa pun…oke, mungkin kecuali Kibummie…. Aku akan selalu melindungi dan menjagamu, tak peduli siapa pun yang kulukai." Siwon segera menggendong Kyuhyun yang masih tertidur itu di punggungnya. "…Dan aku akan selalu melakukannya. Aku akan selalu membahagiakanmu, meski harus terus menipu dan membohongimu seumur hidup…."


Mata Kyuhyun perlahan-lahan terbuka, dia segera memandangi sekelilingnya dan sadar kalau kini dia berada di kamarnya di rumah kepala sekolah. Kyuhyun segera bangun dari pembaringannya dan celingukan dengan bingung. "Kenapa…aku ada di sini ya? Bukannya tadi aku ada di ruang musik bersama Siwon-hyung?" gumam Kyuhyun pelan.

Suara pintu terbuka segera membuat Kyuhyun menoleh ke arah pintu kamarnya. Dia melihat Sungmin yang berjalan masuk sambil membawa satu piring nasi goreng dan air di tangannya. Pemuda berambut hitam itu segera tersenyum manis saat melihat Kyuhyun yang memandangnya dengan bingung.

"Kau sudah sadar, ya? Bagaimana keadaanmu?" tanya Sungmin sambil meraba dahi Kyuhyun sebentar, membuat Kyuhyun segera memejamkan matanya sejenak saat dia merasakan tangan Sungmin di dahinya.

"Aku baik-baik saja kok, hyung~" gumam Kyuhyun. "Kenapa aku ada di sini, ya? Terakhir kali rasanya aku ada di ruang musik…"

"Siwon membawamu ke sini, katanya kau pingsan di ruang musik, mungkin karena kelelahan," kata Sungmin sambil memindahkan tangannya ke pipi Kyuhyun. "Sudah kubilang jangan bekerja berlebihan, Kyunnie, karena jadinya kau pasti pingsan, dan ternyata benar, kan? Untung ada Siwon di sana, kalau tidak mau jadi apa kau di ruang musik itu sendirian? Bisa-bisa kau baru ditemukan besok pagi dan kau pasti akan terkena sakit yang lebih parah."

"Iya, iya, maaf…" kata Kyuhyun dengan pelan saat mendengar omelan Sungmin yang panjang lebar itu.

Sungmin menghela napas sebelum kembali tersenyum manis dan membelai rambut Kyuhyun dengan lembut. "Ya sudahlah, pokoknya kau baik-baik saja," kata Sungmin. "Sekarang lebih baik kau makan dulu, kau belum makan siang juga kan?"

Kyuhyun memandangi nasi goreng di piring di sampingnya dengan pandangan tak bernafsu sebelum sebuah seringai muncul di bibirnya. "Suapi aku, hyung~" gumamnya manja pada Sungmin yang duduk di sebelahnya.

"Aisshhh~Kyunnie, kau itu manja sekali sih! Aku ini bukan ibumu!" seru Sungmin kesal sambil mengambil piring berisi nasi goreng itu dari meja di samping Kyuhyun.

"Tapi hyung calon istriku~" kata Kyuhyun tanpa malu-malu sedikitpun, sukses membuat wajah Sungmin merah padam dan hampir saja menjatuhkan piring yang dipegangnya.

"I…is…istr…istri…" kata Sungmin dengan gagap saking gugupnya.

"Hyung tak suka kubilang 'istri'?" kata Kyuhyun sambil tersenyum. "Tapi wajah hyung manis dan imut seperti yeoja, jadi hyung pantas sekali jadi istriku~"

"Siapa juga yang bilang aku mau menikahimu, babo!" seru Sungmin sambil mengusap wajahnya yang kini memerah dan menutupi wajahnya itu untuk menyembunyikan wajahnya yang kini sudah merah padam sempurna

"Jadi hyung tak mau?" kata Kyuhyun sambil (pura-pura) memasang wajah sedih. "Padahal aku berharap sekali saat kita selesai sekolah, aku akan melamar hyung, kita menikah, dan…kita bisa hidup bersama dengan bahagia selamanya."

"Mimpi yang terlalu muluk, Kyunnie…" kata Sungmin yang sudah berhasil menghapus rona merah di wajahnya dengan pandangan dan ekspresi serius. "Dunia ini tidak semudah mimpimu…"

"Memang tidak," kata Kyuhyun. "Tapi aku…ingin mewujudkan mimpi itu, bersama dengan hyung…. Aku serius ingin menikahimu suatu saat nanti, hyung…. Aku ingin hidup bersama hyung selamanya. Aku ingin bisa melihat wajah hyung sebagai hal pertama yang kulihat saat aku membuka mata dan menjadi hal terakhir yang kulihat sebelum aku memejamkan mata. Aku ingin selalu bersama dengan hyung, menggandeng tangan hyung…. Aku ingin kita bisa pergi kemanapun sebagai keluarga, sebagai sepasang manusia yang ikatan cintanya terlah dipersatukan di bawah restu semua orang dan Tuhan. "

Ada kesunyian yang lama di antara mereka sebelum akhirnya Sungmin tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Kita lihat saja nanti, Kyunnie. Apa mimpi itu bisa diwujudkan, tapi…." Sungmin segera mengecup pipi Kyuhyun dengan lembut. "Pastikan kau memberikanku pesta pernikahan dan cincin terbaik yang bisa kau punya saat kau melamarku nanti, jadi siapkan saja investasi hidup masa depanmu." Dia pun segera mengambil piring yang tadi diletakkannya di pangkuannya. "Sekarang ayo fokus pada masa sekarang, cepat makan dulu!" perintah Sungmin pada Kyuhyun yang hanya tersenyum dan membiarkan Sungmin menyuapinya.

Setelah selesai, Sungmin segera membereskan piring dan gelas yang tadi dipakai Kyuhyun. "Sudah, sekarang cepat tidur, istirahat yang cukup. Besok kan mulai semester baru, dan itu harus dijalani dengan penuh semangat! Jalani awal semester baru dengan semangat baru untuk menyambut satu semester, enam bulan yang penuh dengan kebahagiaan dan semangat masa muda! Hwaiting!" seru Sungmin riang. "Oke, selamat malam, Kyunnie~" lanjut pemuda bermata kelinci itu sambil berjalan ke luar kamar Kyuhyun, meninggalkan Kyuhyun yang hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Sungmin sebelum kembali berbaring dan segera memejamkan matanya untuk kembali menuju alam mimpi.


Begitu tiba di luar pintu kamar Kyuhyun, Sungmin segera menyandarkan diri di pintu kamar Kyuhyun dan membiarkan tubuhnya merosot, hingga kini dia terduduk di lantai kayu koridor depan kamar Kyuhyun. Matanya terpejam sejenak sebelum Sungmin kembali membukanya, menampakkan bola mata yang begitu sedih. Ingatannya kembali ke saat Siwon membawa Kyuhyun yang pingsan itu padanya.

FLASHBACK

Sungmin saat itu sedang membereskan rumah kepala sekolah sendirian, mengingat saat itu Kangin dan Yesung sedang pergi ke organisasi hunter untuk suatu keperluan dan Leeteuk dan Ryeowook sedang pergi untuk belanja makan malam. Dia bersenandung riang sambil menyapu lantai. Punya pekerjaan dan sibuk seperti ini membuat Sungmin tenang, karena dia punya hal yang bisa dia kerjakan dan bisa mengalihkan dirinya dari berbagai pikiran yang tidak mengenakkan.

Tiba-tiba dia mendengar suara pintu diketuk. Sungmin segera berjalan menuju pintu depan dan membuka pintu itu. "Ya, siapa?" tanyanya. Betapa terkejutnya dia saat dia melihat Siwon yang kini berdiri di hadapannya dengan Kyuhyun yang tidak sadarkan diri di punggungnya.

"Kyun…Kyuhyun!" seru Sungmin saat melihat kondisi Kyuhyun. Siwon, tanpa mengatakan apa pun pada Sungmin langsung berjalan masuk ke arah kamar Kyuhyun dan membaringkan Kyuhyun di ranjang sebelum berjalan keluar dan memandang Sungmin yang berdiri gugup di depan pintu kamar Kyuhyun.

"Lee Sungmin…" kata Siwon tajam.

"Y…ya?" kata Sungmin dengan gugup. Aura Siwon terasa begitu menekannya, begitu menakutkan. Aura kemarahan…yang begitu gelap dan kejam. Dia merasa seolah-olah ada tangan tak terlihat yang mencengkeram leher dan jantungnya hanya dengan memandang mata Siwon.

"Kau mencintai Kyuhyun, kan? Dan kau saat ini berstatus sebagai namjachingu Kyuhyun, kan?" kata Siwon, yang hanya bisa dibalas dengan anggukan pelan oleh Sungmin. "Kalau begitu…apa bisa aku mempercayakan Kyuhyun padamu?"

"Apa?" tanya Sungmin.

"Apa aku bisa percaya kalau kau bisa melindungi nyawa Kyuhyun?" kata Siwon. "Apa kau bisa memastikan tidak ada siapa pun yang akan melukai Kyuhyun? Apa kau bisa menjaga senyum manis itu tetap ada di bibirnya?"

Sungmin tidak menjawab pertanyaan Siwon. Dia sendiri tidak yakin dia bisa melakukan 'perintah' Siwon itu. Dia tahu di lubuk hatinya yang paling dalam, dialah yang paling berpotensi melakukan semua hal yang Siwon minta dia jauhkan dari Kyuhyun. Dia yang paling bisa melukai Kyuhyun, dia yang paling bisa menghapus senyum Kyuhyun, dia yang paling bisa membuat Kyuhyun menangis.

Dia juga…yang paling bisa membunuh Kyuhyun…

Siwon menghela napas melihat Sungmin yang diam tanpa sedikitpun menjawab pertanyaannya. "Aku…tidak bisa melindungi dan mengawasi Kyuhyun selamanya, seberapa besar pun aku ingin melindunginya. Karena itu…kau, sebagai orang yang paling dekat dan dicintai oleh Kyuhyun, harus bisa menjaganya. Apa pun yang terjadi, kau harus bisa menjaga dan membahagiakan Kyuhyun. Jadilah ksatria yang berguna untuk raja tersayangmu itu. Karena kalau kau tidak bisa melakukan semua itu…." Siwon segera berjalan melewati Sungmin sambil membisikkan sesuatu yang langsung membuat Sungmin gemetar ketakutan.

"Aku tak akan ragu untuk membunuhmu…dengan tanganku sendiri…"

END FLASHBACK

"Melindunginya…itu juga keinginanku yang terbesar, Siwon…" gumam Sungmin pelan. "Aku ingin menjaga Kyuhyun selamanya…tapi dengan diriku yang sekarang…" Sungmin segera bangkit dari posisinya. "…Aku sungguh tak yakin aku bisa melakukannya…"

Tanpa disadari Sungmin, ada sepasang mata gagak yang mengamatinya dengan seksama sebelum akhirnya burung gagak itu mengepakkan sayapnya ke arah sebuah rumah besar di daerah terpencil dan mendarat di tangan seorang namja jangkung berambut merah yang kini tersenyum keji.

"Sepertinya Kui Xian kita tersayang tumbuh menjadi pemuda yang baik, ya…kau benar-benar membesarkan dan mengasuhnya dengan baik, Siwon~ aku bangga sekali padamu. Tapi sayang, sekarang sudah tiba saatnya untukmu menyerahkan Kui Xian padaku, Siwonnie~" kata namja itu sebelum berbalik ke belakangnya, dimana ada seorang pemuda berwajah imut berambut cokelat terang yang duduk dengan wajah tanpa ekspresi.

"Jadi kau setuju kalau kita masuk ke akademi itu, kan?" kata namja berambut merah itu pada pemuda berambut cokelat terang itu sambil mengulurkan tangannya, mengundang pemuda berambut cokelat itu untuk datang padanya.

"Aku tak peduli, Mimi-ge, lakukan sesukamu saja," kata pemuda itu sambil berjalan ke arah namja jangkung itu sebelum mencium bibir namja berambut merah itu dengan sedikit bernafsu. "Asalkan kau tidak terlalu banyak main-main dengan Kui Xian-ge tersayang kalian itu dan jadi melupakanku~" kata pemuda itu lagi sambil menjilat bibirnya.

Namja jangkung berambut merah yang bernama Zhou Mi itu hanya tersenyum sambil mengalungkan tangannya di pinggang ramping namja imut yang kini sedang duduk di pangkuannya itu. "Kau kok sepertinya tidak senang sih, Henly-ya? Padahal kau bisa bertemu dengan kakak tersayangmu itu setelah delapan tahun lamanya, seharusnya kau senang, kan?"

"Kakak tersayang yang mana?" tanya pemuda imut yang bernama Henry itu sambil memainkan dasi yang dipakai Zhou Mi. "Kau lupa atau pura-pura lupa…kalau aku sangat benci dengan kakakku satu-satunya yang selalu disayangi semua orang itu, Mimi-ge? Dia merebut semua kasih sayang dan cinta semua orang dan menyisakan penderitaan, kemarahan, dan kebencian untukku. Selama ini aku selalu menderita, disakiti dan dihina banyak orang, diperlakukan seperti sampah semua itu gara-gara dia!"

Henry memejamkan matanya sejenak sebelum kembali membukanya, menampakkan bola mata cokelat yang dingin bagai es. "Aku sangat benci padanya…. Jadi jangan pernah mengharapkan aku akan senang melihatnya lagi, satu-satunya pemandangan yang ingin kulihat darinya…adalah melihat Sungmin-hyung, kakakku itu, terbaring di peti mati atau menjadi abu…yang diterbangkan angin tanpa sisa!"


Author note:

Horee~chapter selanjutnya selesai~ -lemparkelinci- -digamparKyuMin-

Dan…ada yang nanya apa fic ini mau selesai? Gak, saya pastikan fic ini belum selesai dan masih jauh dari kata selesai. Itu masa lalu Kyu oppa juga belum ketahuan~terus…-lirik- aku nambah dua karakter baru lagi, kan? –nunjukZhoury- yap, dengan couple terakhir ini, akhirnya saya kesampaian bikin fic dengan semua couple Suju main di dalamnya, horeee~~~ so…yap, fic ini masih jauh dari kata selesai, jadi harap gak bosan buat terus baca ya para readers~

Dan...buat masalah kenapa cuma Kyuhyun yang Zhou Mi panggil pake nama mandarin sementara yang lain pake nama Korea, sebenarnya ini murni kebodohan saya...karena saya bener-bener lupa semua nama mandarin anak Suju kecuali Kui Xiannya Kyuhyun -PLAK- jadi di fic saya...anggap aja kalau Kui Xian itu bukan nama mandarin Kyuhyun, tapi nama panggilan sayang buat Kyuhyun dari Zhou Mi buat alasan tertentu di chapter-chapter depan -seenaknya banget-

Dan seperti biasa, makasih buat para readers yang mau baca dan review fic saya! Saya berterima kasih sekali, karena fic ini banyak peminatnya, terima kasih semuanya~ -bungkuk- saya sangat berterima kasih atas dukungan kalian semua untuk fic pertama saya di FSI ini

Dan yang terakhir…seperti biasa, bisa saya meminta review untuk chapter ini? Buat para readers, please review dan berikan pendapat kalian untuk chapter ini, oke?

Oke, meet again at (hopefully) the next chapter! Bye bye ^_^