Akai-san membentangkan peta wilayah Haido di atas meja kerja ayahku. Aku dan Heiji mengamatinya dengan serius. Akai-san menunjuk bagian yang akan kami serbu besok menggunakan telunjuknya.

"Pabriknya di Haido barat nomor 65. Pabriknya cukup besar sehingga satu blok penuh dikuasai oleh pabrik tersebut, blok 6. Hattori-san sudah member tahu kepolisian Tokyo untuk menutup daerah sekitar blok 6 dengan alasan perbaikan saluran air. Jadi, warga sekitar blok 6 sudah harus berada di rumah pada pukul 5 sore, sedangkan kita akan menyerbu pada pukul 6. Bisa di pastikan warga sekitar akan aman." Akai-san menjelaskan sambil menatap kami satu per satu dengan serius.

Aku mengangguk-angguk, begitu pula dengan Heiji.

"Malam ini kalian istirahat saja, besok akan menjadi hari yang berat." Akai-san menggulung peta lalu memanggulnya di bahu. "Nah, selamat malam, detektif." Ia berjalan dengan santai meninggalkan kami, tapi bisa kulihat bahunya tegang.

Aku menghela napas lalu berjalan menyusul Akai-san meninggalkan ruangan. Aku menaiki tangga sambil menghitung berapa jumlah anak tangga yang sedang kunaiki. 7…11….14….15. Ternyata jumlah anak tangga di rumahku adalah 15. Aku baru tahu.

Aku membaringkan diri di atas kasurku lalu memejamkan mata. Belum lama aku memejamkan mata, saku celanaku bergetar. Aku merogoh saku celanaku sambil menggerutu pelan. Ku unlock password ponselku dengan cepat lalu kulihat ada sebuah LINE masuk. Aku mengerutkan dahiku, jarang ada LINE masuk untuk Shinichi Kudo.

Ternyata Ran. Ia hanya menanyakan pertanyaan simple. 'sedang apa?'. Apa Ran sudah kangen padaku ya? Aku mengetikkan jawabanku dengan cepat. 'tiduran'. 2 detik kemudian Ran sudah membalas message ku. Wow, cepat sekali.

'sudah mau tidur ya?'

'ya. Selamat malam, Ran' lalu aku mematikan ponselku.

Aku mendesah. Sebenarnya aku tidak mau membalas LINE dari Ran dengan sejutek itu. Tapi entah kenapa moodku sedang menginginkan itu. Mungkin karena besok.

Aku mendesah lagi. Pemikiran buruk mengenai hari esok datang tanpa diundang kedalam kepalaku. Bagaimana kalau janji yang kuberikan pada Ran tidak kutepati? Kata orang, kalau mati belum menepati janji, kita tidak bisa masuk surga. Aku menggelengkan kepalaku keras-keras. Tidak, tidak. Aku tidak boleh negative thinking.

Aku memejamkan mataku. Hal terakhir yang kuingat adalah wajah Ran, lalu aku tertidur.

Esoknya pukul 5.30

Kami semua sudah siap untuk berangkat. Aku menggunakan setelan serba hitam. Heiji juga sama. Aku mengisi pistol yang diberikan Akai-san dengan peluru. Aku bergidik pelan membayangkan pistol yang kutaruh di sarung pistol di celanaku meledak sendiri.

Heiji sangat semangat mengenai hal ini. Sejak tadi ia memegang pistol dengan gaya seperti koboi. Seluruh anggota FBI hanya bisa menggelengkan kepala.

Aku menyalakan ponselku sejenak. Lalu muncul LINE dari Ran yang dikirmkannya semalam. 'selamat malam shin'. Aku terpekur menatap layar ponselku. Bimbang dengan pilihan yang ada di kepalaku. Setelah berdebat cukup lama dengan sendiri, aku memutuskan untuk mengirimnya. Stiker LINE dengan gambar Leonard si kodok memberikan bunga beserta kue. Dan tulisannya adalah, I love you.

Secepat kilat aku langsung mematikan ponselku dan menaruhnya di laci meja. Aku masih diam di tempat saat Agen Jodie memanggilku untuk naik ke dalam mobil. Kami akan segera berangkat.

Pabrik Pusat BO. Pukul 6.00

Aku melirik keluar jendela dari dalam mobil Audi milik FBI. Benar saja, kawasan sekitar pabrik sudah bersih dari para manusia. Yang ada hanya mobil polisi yang diparkiran tersembunyi agar tidak menarik perhatian BO.

Heiji duduk di sebelahku dengan tenang. Ia bersenandung pelan sambil melirik keluar jendela dengan penuh semangat. Begitu pula dengan Agen Jodie yang duduk di balik kemudi.

Kami sudah berada tepat di depan gerbang pabrik. Pabrik ini dikelilingi tembok yang sangat tinggi sehingga tidak memungkinkan untuk mengetahui apa yang berada di dalamnya. Ku kira, kami akan memarkirkan mobil di tepi jalan dan memanjat tembok raksasa tersebut, tetapi Agen Jodie dengan santai membawa mobil kedalam pabrik. Ia mengedip penuh arti pada penjaga gerbang.

Aku menganga. Apa yang dilakukan para FBI hingga bisa membuat memasuki pabrik BO terasa seperti masuk ke dalam Disneyland?

Aku mengamati bangunan di dalam tembok raksasa tersebut. Bagunan berlantai 1 ini lebih terlihat seperti super market dibandingkan pabrik. Di dalamnya terdapat beberapa tempat parkir yang sudah di sediakan. Agen Jodie memarkirkan mobilnya di tempat parkir ini secara pararel.

"Nah, detektif, kalian masuk duluan. Kami akan mengatur beberapa hal terlebih dahulu."

Kami mengangguk lalu langsung keluar mobil secara perhalan. Di tengah gedung ini, terdapat sebuah pintu yang terlihat seperti pintu utama. Aku menatap Heiji dan ia membalas tatapanku. Ia mengangguk.

Kami memasuki pintu utama secara perlahan-lahan. Pintu utama terbuat dari kaca dan membuka secara otomatis dengan sensor. Ruangan di dalamnya berbentuk lingkaran dan tampak seperti lobby hotel. Di belakang ruangan terdapat meja tinggi yang tampaknya seperti meja resepsionis. Tepat di atasnya, terdapat kamera CCTV yang bergerak memantau ruangan ini.

Aku menelan ludah, tegang. Ku tatap Heiji yang sedang mengangguk kepadaku. Kami merayap pada dinding dengan memanfaatkan titik buta CCTV. Saat CCTV, bergerak ke arah kiri, kami merayap dengan cepat pada dinding bagian kanan.

Kami sampai tepat di bawah kamera CCTV. Aku mengeluarkan kamera dan menempelkannya di bawah kamera CCTV, merekam keadaan ruangan sesuai dengan gerakan CCTV. Setelah 1 putaran penuh, aku memberikan kamera tersebut kepada Heiji. Heiji memasangkan alat penempel pada kamera tersebut, dan memasangkannya tepat di depan CCTV dengan cepat. Sehingga siapapun yang mengawasi CCTV, akan melihat ruangan ini kosong tanpa penyusup. Jadi, FBI akan aman masuk ke ruangan ini.

Aku menghembuskan napas lega. Baru kusadari sejak tadi bahuku sangat tegang. Aku mengedarkan pandangan pada ruangan ini. Di kanan dan kiri pintu masuk kaca, terdapat ruangan berpintu. Aku menyikut rusuk Heiji dan memberikan isyarat menggunakan dagu pada kedua ruangan tersebut. Heiji langsung berlari menuju ruangan di sebelah kiri, sedangkan aku berlari menuju ruangan di seberangnya.

Aku membuka pintu ruangan tersebut dengan perlahan. Aku menyentuh pistolku berjaga-jaga, tetapi tidak terdengar apapun. Aku membuka pintu sedikit lebih lebar dan melongokkan kepalaku kedalam ruangan ini. Dari yang kulihat, tidak ada apa-apa di dalamnya. Aku membuka pintu sepenuhnya. Kosong. Hanya ada sofa dan meja dengan beberapa majalah di atasnya.

Aku menutup pintu dan berjalan menuju tengah lobby. Heiji menyusul 1 menit kemudian.

"Kosong. Gudang." Katanya singkat. Aku mengangguk.

"Kosong. Waiting room." Kali ini Heiji yang mengangguk.

Pandanganku tertuju pada satu-satunya jalan keluar dari ruangan ini, yaitu pintu di sebelah kiri meja resepsionis. Aku dan Heiji berjalan dengan kompak menuju pintu tersebut. Baru setengah jalan kami menuju pintu tersebut, aku merasakan ada tangan yang menyentuh pundakku. Tubuhku mengejang. Seharusnya bukan FBI, karena kalau FBI pasti mereka sudah memanggil nama kami. Kulirik Heiji yang berdiri kaku di sebelahku, ternyata bahunya juga di pegang oleh orang tak dikenal.

Aku menelan ludah. Seperti robot, tubuh kami berputar secara bersamaan. Aku memejamkan mata sampai tubuhku berputar sepenuhnya menghadap seseorang itu. Saat aku membuka mataku, kulihat orang terakhir yang kuarapkan kutemui di pabrik ini.

Ran dan Kazuha.

Aku dan Heiji tercekat. Kami hanya bisa menatap kedua gadis nyasar ini dengan mata membelalak. Heiji dengan cepat menguasai diri dari kekagetannya.

"Sedang apa kalian disini?" desisnya.

"Kami lihat ada ayahmu di depan. Lalu ada bu Jodie, jadi kami ke dalam sini. Dan benar saja ada kalian disini." Jawab Kazuha enteng.

"Ngomong-ngomong ini tempat apa?" Ran mengedarkan pandangan pada lobby ini.

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan. Pokoknya disini berbahaya. Kalian cepat keluar!" Heiji memutar bahu Kazuha lalu mendorongnya.

"Berbahaya? Kalau begitu aku ikut!" Kazuha membalikkan badannya menghadap Heiji lagi.

"Kazuha kamu gak ngerti apa-apa…" Heiji berkata lirih.

"Pokoknya kami ikut." Kali ini Ran yang berbicara.

Aku saling tatap dengan Heiji. Tatapannya putus asa. Lalu aku menarik tangan Ran.

"Oke, kalian boleh ikut. Tapi kalian tidak boleh bertidak ceroboh. Tetap diam di belakang kami. Dan, kita harus bergerak cepat." Aku menjelaskan sambil berjalan cepat. Aku mengakhiri kata-kataku tepat setelah kami masuk ke dalam pintu di sebelah resepsionis.

Terdapat perpecahan. Ada 2 jalur, ke kiri dan ke kanan. Heiji menghampiri peta yang tertempel di tembok lalu mengamatinya.

"Ke kiri ke pabrik produksi. Ke kanan ke laboratorium. Kita harus berpencar." Aku mengangguk lalu menarik Ran berjalan menuju lorong kanan.

Lorong yang kami lewati berwarna putih bersih seperti lorong rumah sakit. Rasanya mencekam berjalan di lorong ini. Tidak sampai 50 meter di depan kami, terdapat pintu kaca lagi. Ran mengenggam tanganku lebih keras. Kami berjalan dalam diam dan akhirnya sampai di laboratorium.

Ruangan ini luar biasa besarnya. Di depan kami terdapat bermacam-macam alat penelitian. Mikroskop terdapat hamper di setiap meja. Di barisan meja di depan kami, terdapat seseorang sedang focus melihat mikroskop. Ia mengenakan jubah panjang putih yang senada dengan rambut pirangnya. Ia tidak menyadari kehadiran kami. Saat kami melangkah 1 langkah, barulah ia mengangkat wajahnya dari mikroskop dan memandang kami. Langkahku tertahan di tempat itu.

Bourbon.

Ran tercekat di sampingku. "Kak Amuro.." katanya lirih.

Bourbon tersenyum kepada kami. "Hai, sedang apa?" tanyanya santai.

"Harusnya aku yang tanya kakak. Kakak sedang apa?" Nada suara Ran terdengar tajam.

Bourbon terkekeh pelan melihat Ran. "Hai, Ran. Sedang apa disini? Ikut menantang nyawa dengan pacar detektifmu?" Bourbon tesenyum sinis pada kami.

"Kakak.. ini kan tempat orang jahat." Suara Ran mengecil perlahan-lahan.

Bourbon tertawa terbahak-bahak. "Definisi orang jahat menurutmu itu seperti apa, gadis manis?" Pertanyaan Bourbon membuat Ran ciut di belakangku.

"Bourbon, sedang apa kamu disini? Di laboratorium?" Aku mengambil alih percakapan.

"Menurutmu? Kalau orang di laboratorium ya buat obat lah." Ia menaikkan bahu tidak peduli.

"Obat? Penawar APTX itu kamu yang buat?"

"Ah, obat itu. Iya begitulah. Kaget ya? Kamu pikir obat tersebut tidak ada penawarnya? Organisasi pasti tidak akan tinggal diam hanya karena pembuatnya menghilang secara tiba-tiba" Ia terkekeh lagi. Aku mendesis di tempatku.

"Omong-omong," ia melanjutkan "aku tidak tahu bagaimana detektif sepertimu bisa masuk ke dalam sini, tetapi aku lebih tidak tahu bagaimana bocah-bocah itu bisa kesini." Ia member isyarat menggunakan dagunya.

Aku mengikuti arah gerakan dagunya lalu rasanya jantungku berhenti berdetak pada detik itu. Di sudut ruangan, terdapat 3 anak kecil sedang asik bermain dengan mikroskop sambil tertawa. Sisa anggota grup detektif cilik.

Bourbon membersihkan telinganya menggunakan kelingkingnya. "Hari ini aku sedang baik, jadi nanti saat aku pulang aku akan mengantar mereka pada professor mu itu. Untunglah, kalau moodku sedang tidak baik, bisa kuhabisi mereka." Bourbon menunjukkan senyum yang mengerikan.

Tanpa diduga-duga, Ran beranjak dari tempatnya dan menghampiri Bourbon. Tepat pada saat Bourbon memalingkan muka untuk melihat Ran, Ran melayangkan tendangan mautnya. Bourbon terkena tendangan tepat di wajahnya, lalu ia pingsan di tempat setelah beberapa gigi gerahamnya copot.

Mendengar suara cukup keras, 3 bocah di sudut ruangan menoleh pada kami. "Kak Ran!" Ayumi berjalan menghampiri Ran. Lalu disusul oleh Genta dan Mitsuhiko.

"Sedang apa kalian disini?!" Teriakku pada mereka semua. Mereka memandangku kaget tapi tidak menjawab pertanyaanku.

"Kalian sedang apa disini?" Kali ini Ran yang bertanya.

"Untuk menyelidiki tentu saja. Ada anak kelas C yang menyampaikan kecurigaannya pada kami. Katanya jalanan ditutup dengan alasan perbaikan saluran air, padahal saluran airnya baik-baik saja. Jadi kami kesini." Genta menjelaskan panjang lebar sambil berkacak pinggang.

"Kalian tidak memikirkan resikonya?"

"Tidak. Tadinya aku mau mengajak Conan, Nao dan Ai, tetapi mereka sudah 2 hari tidak masuk." Kali ini Ayumi yang menjawab.

Aku merasa sedikit bersalah karena tidak berpamitan kepada grup detektif cilik sebelum berubah besar kembali.

Aku dan Ran menghela napas. Lalu ku tarik ketiga tangan anak kecil ini. "Kalian cepat keluar dari sini. Lewat pintu yang itu. Oke?" Mereka menatapku bingung.

Mereka baru mau bergerak ketika Ran mendorong mereka dengan halus. Se perginya mereka, aku dan Ran melanjutkan perjalanan kami. Di ujung ruangan, tepat di sebelah mikroskop tempat anak kecil bermain tadi terdapat sebuah pintu kaca.

Pintu tersebut otomatis terbuka pada saat kami mendekatinya. Di depan kami terdapat lorong putih lagi. Saat kami bersiap untuk melangkah, kaki Ran tersandung yang menyebabkan sapu tangannya terbang ke tengah lorong putih tersebut. Pada saat sapu tangan tersebut terbang, sapu tangan tersebut terkena garis merah yang bersinar.

"Laser…" kataku dan Ran berbarengan.

Aku berdecak kesal dan berpikir. Kalau lorong ini di penuhi laser, berarti ada tombol untuk meng non aktifkannya.

Pandanganku tertuju pada peta yang terpajang di tembok. Peta tersebut di bingkai sehingga agak sedikit timbul. Aku menghampiri peta tersebut lalu mencoba melepasnya. Benar saja, saat ku lepas, di belakangnya terdapat tombol untuk mematikan laser laser ini.

Aku mengerutkan keningku. Ran mengintip dari belakang bahuku, ia memiringkan kepalanya dan berpikir. Aku menepuk pahaku kesal, tombol ini berupa kode angka. Tiba-tiba tanganku merasakan suatu benda yang mungkin bisa membantu. Aku merogohnya dan memandanginya penuh harap.

Alat yang kupegang sekarang berbentuk seperti bolpoin. Panjangnya tidak lebih dari 15 cm dan terbuat dari tembaga.

"Apa itu?" tanya Ran.

"Alat ciptaannya professor Agasa. Katanya, alat ini bisa mengacaukan alat elektronik. Apapun. Termasuk microwave. Sebentar, aku coba dulu."

Aku membuka tutup alat ini. Saat dibuka, terdapat satu tombol merah di atasnya. Karena, tidak ada pilihan lain, aku memencet tombol tersebut dan mendekatkannya pada tombol mematikan laser.

Benar saja, saat di dekatkan, tombol tersebut berkedap-kedip. Lalu tombol tersebut mati seketika. Aku memandang Ran penuh arti sambil tersenyum.

"Berhasil! Coba kamu lemparkan benda apa saja." Ran melepas jepit rambutnya lalu melemparkannya tepat di tengah lorong. Tidak ada cahaya merah. Aku dan Ran saling pandang sambil tersenyum.

Aku menggandeng tangan Ran dan menariknya ke tengah lorong. Ran memungut jepit rambut dan sapu tangannya.

Lorong tersebut lebih panjang dibandingkan lorong sebelumnya. Setelah berjalan selama 2 menit, lorog tersebut berbelok kearah kiri. Dan kami melihat pintu di ujung lorong putih ini. Aku menambah kecepatan jalanku.

Saat ku buka pintu tersebut, rasanya darahku berhenti mengalir. Ruangan ini tidak terlalu besar. Bentuknya persegi dengan dua pintu; satu dari arahku datang tadi dan satu lagi di seberang ku. Ruangan ini hanya memiliki 1 jendela yang posisinya cukup tinggi. Dan yang membuat darahku berhenti mengalir adalah orang yang duduk sambil memejamkan mata di bawah jendela.

Orang tersebut adalah Kazuha dan para detektif cilik. Tubuh mereka di ikat dan di sandarkan pada tembok. Sepertinya mereka dibius karena mereka tampak tertidur sangat pulas.

Melihat Kazuha, pikiran buruk menyergapku. Di mana Heiji? Bagaimana bisa dia meninggalkan Kazuha sendirian?

Ran menjerit pelan lalu langsung berlari ke tengah ruangan sebelum dapat kucegah. Aku mengejarnya dan pada saat kami hampir mencapai mereka, aku merasakan benda tumpul menghantam kepalaku dengan sangat keras. Aku terjatuh seketika. Lalu kepala Ran juga di hantam tepat setelah aku jatuh. Kami berdua tergeletak di lantai.

"Hebat juga. Tikus-tikus ini bisa masuk sampai sejauh ini." Sebuah suara berat menusuk gendang telingaku. Aku mengenal suara ini. Ini suara Gin.

Gin menjatuhkan benda apapun yang tadi digunakannya untuk memukul kami. Ia berjalan secara perlahan ke depan kami.

Aku mencoba bangkit tetapi pukulan di kepalaku membuatku tidak bisa melakukannya. Sudah tidak pingsan saja sudah bagus.

Gin merogoh sarung pistolku dan mengambil pistolku. Aku menjerit tertahan. Tidak! Dia tidak boleh mengambil pistolku!

"Whoaaa.. bawa barang bagus rupanya. Hmm.. aku ad aide. Aku akan melakukan sulap disini."

Aku bergidik mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Begini, aku akan berputar ke kanan dan kiri lalu menembak salah satu dari mereka menggunakan pistol ini. Menegangkan bukan?" Ia menyeringai padaku. Rambut panjang peraknya dikibas-kibaskan di udara.

"T..tidakk." Aku berusaha super keras untuk mengucapkan kata 'tidak'. Rasa sakit di kepalaku semakin menjadi-jadi.

"Huh, siapa suruh menyusup ke sini. Untung aku menemukan mereka di pabrik tadi. Jangan kau pikir bisa semudah itu menduduki tempat ini."

Aku masih tidak bisa bergerak.

"Baiklah aku mulai sekarang. Aku akan menghitung sampai 3 dan menghadap manapun tubuhku nanti, aku akan menembak. Siap-siaplah detektif, ini adalah mimpi buruk yang sangat menyeramkan."

Gin mulai menggerakkan badannya ke kiri. "1.."

Aku menjerit di dalam hati. Tidak! "2.." lalu ia ke kanan.

Ia memutar badannya ke kiri lagi. "3!"

DOR!

To Be Continued~


AUTHOR'S NOTE

Hayoloo siapa yang ketembak. hihihiii

ending semakin dekat! huhuu T^T

next chapter : ending!

-nisnis-