"Kau suka eskrim rasa apa?"

Jungkook mengulum bibirnya, mata bulatnya memindai dengan pandangan binar pada dua puluh varian eskrim warna-warni di hadapannya. Lama berpikir sampai akhirnya dia menunjuk rasa vanilla dengan taburan chocohip yang merata. Matanya menatap Namjoon dengan memohon yang lucu, hingga Namjoon terkekeh ringan dan melarikan jemari panjangnya mengusak rambut Jungkook. "Satu saja? Tidak mau dicampur dengan rasa yang lain?" dia menawarkan namun Jungkook menggeleng dengan mulut yang mencebik kecil. Jadi Namjoon mengangguk singkat dan membiarkan Jungkook memesan, lantas mengeluarkan dompetnya dan berjalan menuju kasir. "Dengan green tea satu," tambahnya.

Selesai dengan pesanannya, Jungkook berlari kecil menghampiri Namjoon yang berdiri dengan senyum lembutnya, berjalan beriringan menuju meja nomor lima. "Terima kasih, Papa." Begitu kata Jungkook selama perjalanan kecilnya, masih agak gatal dan tak terbiasa dengan panggilan dekat seperti itu. Meski sebenarnya itu cukup nyaman baginya bisa menyebut seseorang sebagai Papanya. Mungkin pergi main dan dibelikan eskrim seperti ini terdengar semacam ide yang kekanakkan tapi Jungkook suka dengan apa yang dia lakukan ini.

"Kalian lama."

Meskipun kehadiran Jihoon masih mengusik pikirannya.

"Aigoo, sudah mau habis?" Namjoon melotot sedikit kaget, melihat Jihoon sudah hampir menghabiskan satu porsi sedang eskrim green tea favoritnya dalam waktu kurang dari lima menit. Dia mengoceh banyak tentang kemungkinan perut Jihoon yang akan sakit atau barangkali beku otak dan beberapa pemikiran aneh lainnya yang membuat Jihoon mencebik malas. Sedangkan Jungkook diam memerhatikan interaksi mereka berdua sambil menikmati eskrimnya. Menurutnya mereka terlihat lucu, lupakan fakta bahwa dia benci dengan Jihoon, melihat mereka berbincang saja rasanya menyenangkan. Sempat terpikir dibenaknya tentang bagaimana jika mereka jadi keluarga yang sesungguhnya dan ada hubungan manis antara dirinya dengan Jihoon. Mungkin itu akan jadi sangat konyol tapi siapa tahu itu bisa terjadi. "Kau sendiri yang langsung memesan dan lari,"

"Diam saja, deh." Jihoon menimpali gumaman Jungkook. "Tidak usah ikut campur."

Namjoon meremas lengan Jihoon mengingatkan, "Son... tidak baik bicara begitu."

Kemudian Jihoon terdiam dengan raut wajah yang menahan kesal. Ia menggigit pipi dalamnya supaya tidak membantah lagi, matanya berpaling jengah separuh amarah. Satu hal yang tidak dia suka dengan keberadaan Jungkook adalah bagaimana Namjoon memperlakukan saudaranya dengan begitu spesial seolah orang itu adalah satu hal berharga. Padahal dia bukan siapa-siapa. Itu membuatnya cemburu akan perhatian yang biasanya diberi untuknya, kemudian Jungkook tiba-tiba datang merebut semuanya seperti penggoda. Namjoon berdeham, "Setelah ini kita naik bianglala, oke?"

"Ayah –"

"No protests, okay?" Namjoon menginterupsi rengekan Jihoon yang sudah dia antisipasi. Ia tahu Jihoon tidak menyukai hal-hal seperti itu. Pergi ke taman bermain saja, perlu waktu satu minggu penuh untuk membujuk anak itu mengatakan setuju. Dia tidak begitu suka keramaian apalagi mengantri untuk naik wahana. Itu jadi satu alasan mengapa Jihoon dan dia nyaris tidak pernah pergi ke tempat terbuka seperti ini. tapi satu hari dia dengar teman kantornya yang mengajak keluarganya pergi kesana dan setelah ia bercerita begitu, Jungkook terlihat senang. Jadi dia pikir mungkin ide bagus mengajak anak-anaknya pergi bermain dan sedikit panas-panasan. "Terus kita bisa masuk rumah hantu, dan taruhan, siapa yang akan paling sering berteriak ketakutan harus mentraktir soda dan tteokbokki."

Jungkook terlihat senang, "Terdengar seru."

"Apaan. Tidak mau, merepotkan."

"Bilang saja kalau kau takut hantu, 'kan?" Jungkook menyipitkan matanya sangsi, menatap Jihoon dengan pandangan curiga yang mengintimidasi sehingga Jihoon melotot marah. Ia tidak segan memukul kepala Jungkook dengan sendok di tangannya dan memekik tidak terima, "Enak saja! Jangan karena tubuhmu besar seperti kuli bangunan begitu berarti kau hebat! Kecil begini aku tidak takut apapun, hantu sih tidak ada apa-apanya! Malah bukannya anak cengeng dan manja kayak kamu yang berteriak paling kencang di sepuluh detik pertama?" Jihoon balas menantang hingga Jungkook balas memukul kepala Jihoon dan perang mulut terjadi. Terus balas omongan dan berdebat dengan mulut bocor mereka hingga mengundang tatapan penasaran dari beberapa orang sebab suara mereka cukup keras untuk didengar. Namjoon menggelengkan kepalanya sembari terkekeh ringan.

Lucu melihat mereka bertengkar.

Tidak selalu sebagai saudara saling mengasihi dan pelukan. Terkadang pertunjukan seperti ini cukup menyenangkan untuk ditonton. Sebab satu sudut di benak Namjoon percaya, dengan interaksi aneh seperti itu mereka akan cepat akrab dan saling membutuhkan. Seperti bagaimana dirinya dengan Kakaknya, tiada hari tanpa bertengkar, dan dia selalu rindu padanya yang tengah bekerja di Paris sebagai Direktur Golden Lee Grup cabang ke dua belas. Dia berharap Jihoon dan Jungkook juga punya hubungan seperti itu, dimana mereka sering bertengkar namun saling menyayangi.

"Ayah –! Dia menarik rambutku –argh! Ayah –!"

Dan Jungkook tidak mau kalah, "Papa –argh! Wajahku –Papa! Sakit, Papa –! Jauhkan Jihoon dariku!"

"Kau dulu menjauh dariku!"

"Lepas dulu tangan baumu, sialan!"

Jihoon melotot, "Heh, ampas kimchi! Jauhkan dulu tangan babimu dari rambutku –ya! Sakit!"

"Makanya jangan –argh! Papa, dia mau mematahkan gigiku!"

"Bohong! Ish, dasar pengadu! Ayah –!"

Mungkin dua anaknya ini akan jadi sedikit merepotkan saat bertengkar.

Namjoon menghela, "Holy, Kids..."

..


My Mama

..

Kim Taehyung

Jeon Jungkook –role as Kim Jungkook

[Vkook both KookV]

..

Let me breathe, just for a second.

..


Jimin itu tuli.

Bila sudah dihadapkan pada rengekkan Taehyung yang menolak ide bagusnya. Saat Jimin pikir dia sudah terlalu bodoh untuk duduk menonton kisah pacarnya yang seperti episode memilukan drama terkenal, sebut saja Endless Love, dia memutuskan untuk bangkit dan bertindak. Dia tidak bisa diam saja ketika belahan hatinya menderita sendirian. Pun bila dia harus merasakannya juga, itu lebih baik ketimbang menatapi seseorang yang dicintai seperti tanpa jiwa selama berhari-hari. Dia memutuskan untuk terus berdiri tegap di sisi Taehyung. Tidak peduli bahkan itu akan terlihat sangat konyol atau justru menyedihkan tetapi kebahagiaan Taehyung yang menurutnya jadi poin utama resolusi hidupnya saat ini.

Dia mungkin tidak tahu banyak tapi dia cukup mengerti seberapa besar penderitaan Taehyung. Bahkan sejak kecil pemuda manis itu sudah memendam luka sendirian, seolah dia tidak punya seorang pun yang bisa ia percaya untuk berbagi, seolah ia hidup seorang diri, seolah luka yang dimilikinya hanyalah satu buah goresan kecil tanpa makna. Tanpa bisa dia tahu semua luka itu menyakiti dirinya sendiri, membuatnya jatuh terlalu dalam hingga mungkin tak seorang pun mampu membantunya keluar dari sana. Namun mungkin Tuhan masih memberi satu kesempatan bagi Taehyung untuk menarik napas dalam-dalam dan melihat bahwa ada Jimin yang setia. Ada Jimin yang mendengar, melihat, memeluk, dan membawanya dalam satu ketenangan yang hakiki.

"Silahkan masuk, Tuan Puteri."

Taehyung mendelik, "Aku bukan perempuan."

"Tapi kamu cantik –argh! Iya, maaf." Jimin merengut setelah Taehyung memukul kepalanya dengan keras, lantas dengan sebal membuka pintu mobil dan mempersilahkan Taehyung masuk dan menutup pintunya. Berlari kecil menuju sisi kemudi dan segera memasang seatbeltnya dengan rapi. Dengan cepat menyalakan mesin dan hendak memasukkan perseneling kalau dia tidak mendapat sinyal tatapan dari Taehyung di sampingnya. Jimin mengernyit sesaat, "Ada apa?"

Taehyung mengerjap, melarikan jemari kurusnya mengelus kepala Jimin. "Sakit tidak?"

Astaga, Jimin ingin menjerit. Sekitar lima sampai tujuh detik lalu, Taehyung sangat beringas memukulnya seperti petinju kemudian menatapnya dengan mata bulatnya yang berkaca dan menggunakan suara manisnya yang dalam untuk bertanya 'apakah itu sakit?' dan itu membuat Jimin nyaris pingsan atas sikap lucu dari Taehyung. Maksudnya, demi Tuhan, terbuat dari apa hatinya itu. Dan bodohnya dia hanya diam ketika Taehyung masih memainkan rambutnya, sedikit merona dengan perhatian kecil darinya yang dirasa begitu manis. "Aku sudah kebal dengan pukulanmu, Sweets. Ya tapi jika demi mendapatkan usapan lembut darimu seperti ini, aku rela dipukul setiap saat." Ia meraih telapak tangan Taehyung yang hangat lantas mengecupnya kecil, "Rasanya menenangkan. Aku suka,"

Ketika semburat lucu di pipi Taehyung muncul, Jimin tersenyum.

"Nah, sekarang kita pergi, oke?" kemudian Jimin menatap Taehyung lama sekali hingga ia berani memberi satu kecupan panjang di bibir Taehyung yang sama hangatnya. Terasa manis sekali sampai dia nyaris lupa waktu, tidak akan berhenti kalau saja Taehyung tidak memukul dadanya hingga terbatuk memalukan. Dia hanya tertawa kala Taehyung mendelik sebal dan menggerutu tentang betapa ia kesal dengan kebiasaan Jimin saat berciuman. "Tapi kau suka-suka saja, tuh."

"Terserah!"

.

.

"Jimiiin!" Taehyung melipat tangannya didada, merengut sebal. "Cepat sedikit!"

Yang dipanggil membalas 'ya' seadanya dan buru-buru pergi setelah kerepotan dengan seorang gadis sekolahan yang tidak sengaja menabraknya dan menumpahkan es kopi ke baju santainya. Sempat heboh dengan teriakan perempuan itu, Jimin nyengir saja dan bersikap biasa hendak menjauh. Tapi mungkin benar kata orang kalau menjadi ganteng itu susah, jadi gadis itu (Taehyung yakin seratus persen) sengaja menyentuh Jimin dan mencari perhatian. Jadi Taehyung mendengus dan melangkah pergi sebab Jimin terlalu sibuk mengurusi bajunya yang basah. Jimin tersenyum jahil, menggelitik dagu Taehyung sambil terkekeh ketika Taehyung merengek. "Cemburu, ya?"

"Tidak!" lantas Taehyung melepas rangkulan Jimin dan jalan menghentak. "Cepat, panas, tahu!"

"Astaga, iya, Sayangku Cantikku Manisku." Jimin berujar gemas dan berlari mengejar Taehyung yang masih merengut tidak mau menatap Jimin barang satu lirik. Jimin tertawa saja mendiamkannya, tanpa perlu dia tanya pun dia tahu Taehyung barusan cemburu. Ah, manisnya. Jimin hanya diam berjalan sedikit lebih lambat hingga berada dibelakang Taehyung dan memandangnya, mengikuti kemana pacarnya itu pergi. Sebenarnya ini cukup membingungkan ketika tiba-tiba Taehyung masuk ke kantornya, dengan kepala tertunduk, berbicara dengan suara sangat pelan dan ragu memintanya pergi jalan-jalan. Bahkan berani mengatakan kencan padanya. Itu agak aneh bahkan dia sampai rela mendekat dan bertingkah manis menggunakan aegyeo dan satu ciuman untuk meminta Jimin membawanya pergi ke taman bermain yang sangat ramai seperti ini. Tapi Jimin hanya bisa mengiyakan permintaan Taehyung, lagipula dia tidak punya pilihan untuk menolak.

Dia senang saja melihat Taehyung jadi berbinar ketika memilih diantara sekian banyak varian eskrim dihadapannya. Masih sama seperti Taetae yang hampir ngeces kalau sudah didepan lemari pendingin penuh eskrim dan es loli ketika mereka sekolah dulu. Rautnya masih sama menggemaskan dan manis, membuat Jimin tersenyum kecil ketika Taehyung sudah lupa cemburunya dan menarik Jimin, berseru senang menunjuk rasa taro yang susah payah dia cari sejak tadi. "Oke, pesanlah yang kau suka."

"Iya, kamu yang bayar, kan?" Taehyung tertawa memakan eskrimnya. "Jimin pesan rasa apa?"

"Rasa cintaku padamu."

Usai mengatakannya, Jimin tertawa dengan reaksi konyol dari wajah Taehyung yang dia buat sedemikian jelek –meski akhirnya akan jadi lucu. Jimin berujar santai untuk memesan rasa vanilla dan membiarkan Taehyung berceloteh banyak hal, sebagian besar tentang bagaimana Jimin selalu terbuka pada hubungan mereka dan itu cukup mengganggunya dengan tatapan orang terhadapnya. Tapi Jimin hanya menukikkan alisnya heran lantas memberi satu ciuman, lantas Taehyung memekik dan mencubit bibir Jimin dan kembali mengomel tentang kebiasaan buruk Jimin yang satu itu. "Sah saja dong aku mau cium-cium kamu, kan sudah sah –aduh!" Jimin mengusap telinganya yang baru dipelintir, "Lagipula kenapa terus memikirkan kata orang, sih. Ini hubungan kita jadi tidak perlu dengar omongan orang bila itu menyakitimu. Itu adalah hakku untuk sentuh-sentuh kamu –argh! Iya, ampun, Princess."

"Jangan panggil aku Princess!"

.

.

"Jimin,"

"Hm?"

Taehyung menopang dagunya dengan tangan kanan, tatapannya terlempar pada pemandangan di hadapannya hingga ia tersenyum kecil. Rambutnya diterpa angin hingga menari-nari, ada jeda sebelum dia melanjutkan bicara tentang panggilannya barusan. "Bagaimana rasanya menjadi tinggi seperti ini? selama ini kan kamu pendek, nah, makanya aku ajak naik bianglala biar merasa tinggian dikit, gitu."

"Hm, pacarku memang paling jahat."

Taehyung tertawa, kencang sekali, sampai satu orang di seberang bianglala mereka menoleh penasaran. Nampaknya dia bahagia sekali dengan ucapan Jimin barusan. Jimin tersenyum saja, berusaha mengingat-ingat bagaimana cantiknya Taehyung saat tertawa lebar seperti itu. Bagaimana dia terlihat manis ketika melepas semua penat dan duka dalam benaknya meski untuk sesaat, juga bagaimana dia terlihat begitu bebas seperti burung yang beterbangan. Dia akan merekam momen ini untuk selamanya, setelah sekian lama dia melihat Taehyung terkurung dalam penjara luka selama bertahun-tahun. "Habis ini mau main kemana lagi? Masih ada banyak waktu,"

"Hm... rumah hantu?"

Mungkin saja cuaca tengah cerah, matahari beteriak begitu kencangnya hingga Jimin nyaris merengek hampir meleleh tapi seketika suasana hati Jimin mendung. Petir menyambar kala Taehyung dengan polosnya berkata ingin pergi ke wahana konyol (menurutnya) yang orang sebut rumah hantu. Dia tidak ingin Taehyung kecewa dengan satu penolakan halus tapi sisi lain dirinya berteriak pilu ketakutan. Ya, katakan Jimin banci dengan memiliki ketakutan seperti anak bocah tapi, astaga, entah Taehyung memang lupa pacarnya takut setan atau dia sengaja? Jimin menggigit bibirnya dalam diam, menatap Taehyung begitu ragu untuk merespon, takut-takut melukai hatinya. "Harus kesana, ya?"

"Iya lah!" Taehyung merengut lucu, "Kau tidak tahu seberapa jatuh harga diriku untuk memohon dengan aegyeo padamu untuk menyeretmu kemari? Kalau kau tidak lupa, kau berkata ingin melakukan apapun untukku supaya bahagia. Wujudkan saja sekarang," ujarnya begitu menantang dan begitu menohok Jimin yang sudah hampir mati dan ingin loncat saja dari bianglala. Dia menganga kecil dengan sikap aneh Taehyung yang jadi manja dan pemaksa. Meski terkadang dia rindu sifat menggemaskan yang satu itu tapi nyatanya perangai itu membuat Jimin cukup kerepotan untuk menghadapi maut. "Sayang, aku rela naik kora-kora tanpa pegangan atau niagara-gara tanpa sabuk pengaman dibanding masuk rumah hantu. Taetae, kamu tidak lupa aku takut setan, 'kan?" ia menggosokkan kedua telapak tangannya dan mencoba ber-aegyeo dengan mulutnya yang dicebikkan, mata bulat yang coba dibesar-besarkan, dan suara yang ia buat melengking manis, memohon pada Taehyung agar cabut gugatan. "Kau rela melihatku mati di dalam wahana neraka seperti itu? Jangan tega, Sweets. Sumpah, begini saja, aku akan lakukan apa pun bahkan melakukan tari perut di tengah-tengah sana asal tidak masuk rumah hantu."

"Ya! Memalukan, berani kau lakukan itu, putus hubungan!"

Lantas Jimin bangkit dan duduk disamping Taehyung, menggelayutinya seperti monyet. "Ayolah, Taetae yang manis dan baik hati. Kau ini malaikat, jangan membuatku mati sebelum kita menikah dan bisa bergerumul diatas ranjang alias aku menidurimu –aw!" rengekannya terputus kala Taehyung dengan cepat membenturkan kepala mereka berdua begitu sadisnya. Mata Taehyung membulat tajam atas respon ucapan Jimin yang dirasa begitu vulgar. Jimin terkekeh sok polos dan Taehyung mendengus, membuang wajah panasnya ke sisi lain. Dia sempat berpikir kotor mesti dalam hitungan sekon; tentang bagaimana hubungan mereka mungkin sampai pada jenjang yang lebih serius dan berakhir pada ranjang. Dia berpikir tentang kemungkinan Jimin menggagahinya, pasti itu akan sangat seksi jika Jimin melakukannya. Apalagi dia sempat kedapatan lihat bentuk tubuh Jimin tanpa kemeja kerjanya. Sialnya itu sungguhan seksi dan ingatan itu membuatnya semakin membara dalam diam. "Tidak ada penolakan. Aku sudah meluangkan waktuku untuk berkencan denganmu, jadi kau harus ikut kataku. Masuk rumah hantu atau putus."

"Tapi Taehyung –"

Cepat Taehyung menoleh dengan alis tertekuk kesal, "Rumah hantu atau putus?"

"O-Oke... rumah hantu."

.

.

"Taehyuuuuung! Aku mau mati."

Usai bergulat dengan rasa takutnya sejak bertahun-tahun lamanya, Jimin berhasil masuk rumah hantu dan keluar dengan selamat. Secara fisik, ya. Tapi wajahnya berantakan seperti habis disedot raganya oleh para dementor brengsek. Wajahnya pucat dan matanya kosong berair, persendiannya melemas hingga dalam hitungan detik Jimin terjatuh memalukan, peduli setan dengan orang-orang yang menertawakannya. Jimin sudah lelah berpacu jantung di dalam sana dan dia ingin punya waktu untuk sekadar merasakan pingsan. Dia bahkan tidak kuat untuk mendelik pada Taehyung yang terkikik dan menyeretnya menjauh dari kerumunan, mendudukkannya di bangku kayu dan memberikannya permen mint dan air mineral. "Payah deh, bos besar kok takut hantu. Kalau restorannya diganggu setan gimana dong? Karyawannya disuruh ngusir mereka, gitu?"

"Aku menghabiskan sepuluh juta untuk menyewa pengusir hantu."

"Kau ini idiot atau apa? Mana ada yang seperti itu, kau ditipu!" Taehyung mengacak gemas rambut Jimin dan terbahak lagi. Berusaha tak acuh pada Jimin yang masih menggerutu dan minum banyak-banyak. Ekspresi Jimin terlihat konyol jadi Taehyung tidak bisa berhenti tertawa, tentu dia tahu betul Jimin punya rasa takut pada hantu dan dia memang sengaja melakukannya. Entahlah, dia ingin sesekali mengerjai pacarnya yang bahkan lebih sering jahil padanya. Dia puas melakukan itu pada Jimin, seperti bagaimana mereka dulu masuk rumah hantu dengan paksaan Taehyung dan berakhir Jimin tidak masuk sekolah karena demam. Itu memori menyenangkan diingat. "Maafkan aku, memang seseram itu, apa? Kan kau juga tahu yang di dalam itu hanya tipuan. Hantu itu cuma bohongan, mereka staff wahana dengan kostum hantu, kenapa takut begitu, hm?" dia menahan tawanya lagi saat Jimin mendelik, "Ya, jangan tatap aku begitu. Saat ini, kau lebih seram dibanding hantu itu. Sudahlah, jangan lupa umurmu sudah hampir dua puluh enam. Masih saja takut setan seperti banci."

Ingatkan bahwa dalam diri polos Taehyung ada satu setan yang bernama jahil. Jimin mendengus sebal dan mencibir dengan sarkasme dari Taehyung barusan. Wajah pacarnya memang manis dan cantik tapi kalau sudah iseng mengerjainya seperti ini Jimin jadi gemas sendiri ingin menonjok wajah menggemaskannya itu. Oh, atau mungkin satu ciuman termasuk?

"Y-Ya!" Taehyung menepuk pipi Jimin menjauh, "Jangan cium-cium! Ini tempat terbuka."

Jimin menjilat bibirnya sendiri, menyeringai jahil. "Tapi sudah terlanjur. Dan kau yang paling tahu kalau satu ciuman saja tidak akan cukup untukku, jadi kemari dan berikan satu lagi. Atau lima." Dia berujar begitu menggoda hingga dada Taehyung sesak menahan gemuruh. Dia memang berkata penolakan dan memekik tidak suka tapi jauh dalam logikanya, dia suka saat Jimin menciumnya tiba-tiba dalam kesempatan yang sempit. Sesungguhnya dia suka dicium ditempat umum dan digoda seperti tadi, terlalu cepat membakar rasionalitas dalam otaknya hingga ia nyaris merengek minta dicium lagi oleh Jimin. Lebih banyak dan lebih intens, kalau perlu hingga Taehyung terbang ke angkasa. "Oke, yang tadi itu sudah keberapa, ya? Saking banyaknya aku lupa menghitung."

"Sudah dua belas!" Taehyung mengusap bibirnya yang basah. Rupanya Jimin benar-benar menggunakan lidah panasnya untuk teknik berciuman. Taehyung ingin pingsan saja rasanya, jemarinya bergetar hebat, dadanya bergemuruh seperti gempa, perutnya melilit geli, dan wajahnya panas sekali hampir membuat kepalanya meledak dan hancur berkeping; selaras dengan akal sehatnya yang menguap entah kemana. Tapi bodohnya Taehyung malah makin tergoda. "Sudah cukup cium-ciumnya, napasku habis."

Dengan ungkapan lucu begitu, Jimin terpingkal.

"Tidak usah tertawa."

Tapi Jimin masih terbahak meski suaranya melemah. Ia mengatur respirasinya usai puas tertawa mendapati Taehyung terus menyentuh bibir merahnya yang berkilau oleh liur mereka detik lalu. Ia bernapas dalam, menyandarkan tubuh lemasnya ke bangku dan menatap Taehyung yang masih asyik oleh pikirannya. Entah apa. Jimin yang pada dasarnya tidak suka keheningan bertanya, "Kenapa tiba-tiba kau ingin berkencan denganku?" ia melarikan jemarinya untuk merapikan rambut Taehyung yang terbang tertiup angin. Suara rendahnya membuat Taehyung menoleh dengan sedikit terkejut dan tersenyum begitu transparan, mengikuti langkah Jimin merebahkan punggung pegalnya. "Kau jadi manja dan minta ini itu padaku, setelah bertahun-tahun, kau melakukan ini dihadapanku. Aku tidak bodoh untuk tahu bahwa ini bukan kencan kita, Taehyung. Biarkan aku mendengar luka itu, tidak apa. Sebab aku tidak mau terus berpura-pura bahwa semua ini normal, tidak, kau bukan Kim Taehyung. Jadi cepat jawab aku dan katakan dengan jujur; untuk apa kau membawaku kemari dan menjadikanku objek mainanmu?"

Untaian kata yang tersusun begitu dingin dan kaku membuat Taehyung meremang.

Bibirnya terkatup rapat seolah dia lupa bagaimana caranya melempar kata. Dia dibuat bodoh untuk terdiam dan merenung, melewatkan waktu begitu sia-sia dan bermain-main dengan ancaman Jimin yang terdengar begitu menakutkan. Dia sadar telah salah membawa Jimin dalam sandiwara konyolnya hari ini. Seharusnya dia tahu kalau Jimin akan berkata seperti itu, pada akhirnya, sejauh apapun Taehyung membawanya dalam skenario buatannya, Jimin akan mencium kebodohan dalam drama abal-abal itu. Namun ia sudah kepalang idiot untuk sekadar berpikir panjang, hanya Jimin yang dia punya untuk saat ini dan Taehyung sudah lelah menimbang semua perbuatannya. Dia lelah berpikir dan ia ingin cepat saja, meski tahu bahwa Jimin akan menjadi radar kebodohannya tanpa cela. "Maafkan aku..."

"Aku butuh penjelasanmu, Taehyung."

"Aku lelah –" Taehyung menarik napasnya dalam-dalam, " –aku rindu Papa."

Jawaban singkat itu menusuk relung hati Jimin, membuatnya tanpa sadar meremas genggamannya pada jemari Taehyung yang basah oleh keringat dingin. Rahang Jimin mengeras menahan amarah, matanya bergetar menahan tangis, takut-takut dia terbawa emosi. Susah payah Jimin menelan semua umpatan dalam benaknya dan menghela begitu panjang, "Kau tidak perlu sebodoh ini. Jelaskan padaku dengan benar, buat apa kau menyeretku kemari?! Buat apa kau memohon untuk kemari?! Apa itu bahkan ada urusannya dengan pak tua brengsek itu? Kalau dia bilang lupakan, maka lupakan saja dia! Kenapa –"

"Mereka disini." Taehyung berujar lirih, memotong ucapan Jimin. "Aku mengikuti mereka."

"A-Apa...?"

Dengan perlahan dan hati yang tidak siap, Jimin melepas pandang dari Taehyung dan memfokuskan penglihatannya pada sosok di belakang punggung bergetar Taehyung. Mereka bertiga, tidak terlalu dekat juga tidak terlalu jauh, ada Namjoon; Jungkook dan Jihoon berjalan beriringan. Tertawa bahagia dan tidak tahu bahwa satu bagian mereka tengah merintih pilu dalam dekapan Jimin. Jimin dibuat termangu oleh adegan konyol yang dia lihat. Bagaimana bisa Taehyung berpikir begitu bodohnya untuk pergi kemari demi melihat kebahagiaan keluarganya sedang dirinya bahkan nyaris mati tersiksa? Jimin tidak habis pikir oleh perangai Taehyung yang kelewat idiot untuk bermain peran selama hampir dua jam hanya untuk lebih dekat dengan keluarga bangsat yang dia miliki. Jemari Jimin mengepal kuat hingga bergetar, mengirim impuls bagi Taehyung untuk mengelusnya lembut.

Mata mereka bersitatap dalam diam, begitu lama, dengan gelombang emosi yang berbeda jauh. Jimin mati-matian menahan murka, dia ingin sekali berteriak nelangsa melihat Taehyung tersenyum begitu idiot dengan mata berkaca nyaris menumpahkan bulir matanya yang berharga. Jimin merasa gagal untuk sekian kali, betapa bodoh dia untuk mengikuti alur bodoh yang diciptakan Taehyung yang justru menyeretnya dalam kubangan luka lebih dalam lagi. Jimin merutuki dirinya yang selalu berakhir gagal menyembuhkan luka Taehyung, ketika dia justru hanya menambah luka baru untuknya. Dia merasa begitu payah dan tidak berguna, ketika Taehyung hanya diam dan menikmati pedihnya menderita. "Kau idiot, Taehyung."

"Ya, aku tahu." Taehyung terisak, masih menahan airmatanya jatuh. "Tapi tak apa."

"Kau lebih idiot dibanding monyet di kebun binatang."

Taehyung tersenyum lebih lebar, "Ya, kau benar. Tapi tak masalah."

"Kau –" Jimin menggeram rendah, jemarinya naik meremas rambut Taehyung begitu erat dan gemetar menahan emosinya sendiri. Takut melukai terkasihnya, " –sakit jiwa. Kau gila, Taehyung."

Kemudian Taehyung hanya tertawa ringan.

Sebab mungkin Jimin berkata benar, bahwa Taehyung sudah gila.

Dan dia tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalahnya. Dia gila dan putus asa.


Dengan kepayahan Jungkook berlari.

Mengerjar sosok Jihoon yang berjalan santai dan berada jauh di depannya. Ia tidak mengira makhluk kecil seperti itu punya kemampuan berjalan sangat cepat seperti semut. Ya, meski dia ingat Jihoon pernah merebut medali perak dalam marathon tahun lalu. Tapi dia sungguh tidak tahu Jihoon benar-benar sangat cepat dalam melangkah. Jungkook hampir kehabisan napas mengejar saudaranya itu, sampai akhirnya ia bisa meraih lengan mungil Jihoon dan menariknya pelan. Jihoon menatapnya bingung, diam menunggu Jungkook yang tengah mengatur napasnya dan mengelap keringatnya. "Papa bilang pulang bersama."

"Apa? Tidak mau!"

"Kau pikir aku tidak?!" Jungkook ikut tersulut emosi, "Sudahlah. Ayo cepat, dasar cebol."

"Hei!"

Tidak peduli mau sekencang apa Jihoon meronta, nyatanya Jungkook jauh lebih kuat untuk menyeret Jihoon ke sisi barat gedung sekolah menemui Namjoon yang menuggu di dalam mobil. Jungkook merasa jengkel dengan kelakukan Jihoon yang sangat kekanakkan. Terus menolak bila itu berarti harus bersamanya, melibatkan Jungkook, dan segala sesuatu tentang itu. Jungkook juga sama tidak sukanya pada Jihoon tapi dia biasa saja jika Namjoon berusaha mengakrabkan mereka berdua. Menurutnya itu sah saja sebab mereka ini bersaudara; meski Jungkook masih belum bisa sepenuhnya menerima.

"Aku tidak mau –hei! Pelan-pelan!"

Jihoon menyempatkan diri memukul lengan Jungkook yang baru saja mendorong tubuhnya ke dalam mobil. Ketika Jungkook mengambil tempat disampingnya, Jihoon memukul habis kepala Jungkook yang menurutnya sangat mengganggu itu. Dia terus memekik bahkan ketika Namjoon menengahi. "Son, tidak ada salahnya 'kan, pulang bersama. Itu bagus untuk kalian mengakrabkan diri, lagipula bukannya aku terhitung jarang menjemputmu? Kau pernah sekali berkata ingin dijemput Ayah, kan?"

"Ya tapi tidak mau dengan dia!" Jihoon mendelik pada Jungkook, "Pilih aku turun atau dia yang turun?"

Namjoon menghela, "Tidak ada. Kalian semua duduk yang tenang di belakang, kita pulang sekarang. jangan ada protes, Jihoon-ah. Ayolah, kau tidak bisa selamanya benci saudaramu." Dia berujar begitu tenang dan tajam, berupaya Jihoon mendengar dan mengalah. Dia tahu Jihoon sangat membenci Jungkook entah apa alasannya tapi jelas dia tidak ingin kedua anaknya saling membenci. Pada akhirnya mereka akan saling menyayangi layaknya saudara. "Nah, kalian mau makan pizza?"

"Mau!"

Jungkook berseru senang, Jihoon mencibir, "Dengan pinggiran keju. Jangan sosis."

"Kenapaaa? Lebih enak pinggiran sosis, tahu."

"Suka-suka aku! Ayah bertanya padaku, bukan padamu."

Jungkook merengut, "Papa bertanya pada kita berdua. Aku tidak mau pinggiran keju, rasanya aneh!"

"Yasudah tidak usah makan!"

"Jihoon, Jungkook, hentikan." Namjoon baru saja memasang seatbelt, hendak menginjak pedal gas dan melaju kalau saja kedua anaknya tidak bertengkar lagi. Kali ini dia penat mendengar Jihoon dan Jungkook bertengkar, bukannya apa, mereka sangat berisik jika sudah adu mulut. Namjoon memang berpikir itu adalah lucu tapi lama-lama dia muak mendengar mulut keran bocor dari dua bocah yang bahkan hanya meributkan pinggiran pizza. Namjoon memijit keningnya yang berkerut, "Kita pesan dua pizza untuk kalian, bagaimana? Satu dengan pinggiran keju dan satu pinggiran sosis. Kurasa itu cukup adil? Ayolah, kalian sebenarnya lucu saat bertengkar tapi aku capek melihatnya terus menerus. Jihoon, Jungkook, please... jadilah akrab dan berhenti adu mulut. Aku meluangkan waktu bekerja bukan untuk mendengar kalian berantem seperti anak kecil. Kalian sudah besar, ingat?"

Suara Namjoon yang berat memantul-mantul. Menggetarkan kedua hati bocah yang terdiam kaku di sisi belakang. Keduanya merengut, merasa bersalah dan tidak enak hati. Mereka sama-sama tahu Namjoon adalah pria sibuk di kantornya, satu keajaiban pria itu mampir untuk menjemput mereka bahkan makan bersama. Seharusnya mereka mendengar dan bersikap dewasa. Ya, kali ini Namjoon benar-benar marah. Dia serius dengan ucapan dinginnya barusan, itu membuat Jihoon maupun Jungkook menyesal dalam hati. Jemari dimainkan kasar, dan Jihoon yang pertama bersua. "Maaf, Ayah."

"Aku juga minta maaf," Jungkook menimpali. "Pinggiran pizza keju juga boleh."

Jihoon menoleh, menatap Jungkook yang menunduk sedih. "Tidak apa, sosis juga enak."

Jungkook menoleh cepat, matanya berkilat penuh tanya. Menerka-nerka dengan ucapan Jihoon yang tak diduga olehnya. Dia tidak tahu Jihoon akan berkata demikian, seperti saudara yang mengalah untuk dirinya. Seperti itulah, bahkan Jihoon memandanginya lebih lembut dibanding biasanya. Jungkook mengerjap lama sekali, masih dalam kebingungannya, sampai suara Namjoon yang syahdu menginterupsi dan ia merasakan mobil bergetar. Mesin menyala. "Nah, begitu dong. Kalian sebenarnya manis bersama seperti itu. Akurlah kalian, jangan harus kumarahi dulu baru sadar. Ah, anak-anak."

Kemudian mereka putus pandangan. Jungkook menoleh ke kanan, Jihoon ke kiri. Sama-sama membuang muka dan merutuki diri. Berujar tentang betapa konyol adegan barusan, berlagak seperti saudara sungguhan dengan bersikap sok manis. Itu menggelikan untuk diingat, dan jika dipikir-pikir, buat apa mereka melakukan hal konyol begitu.

Mobil melaju perlahan, baru lima detik bergerak ketika Jihoon melihat Taehyung mengintip dari kejauhan. Sorot matanya penuh luka, penasaran, bercampur bahagia. Jihoon tidak tahu ada persaaan campur aduk seperti itu. Dan dia tidak bisa diam saja hingga ia menepuk bahu kokoh Namjoon menyuruhnya berhenti dan meloncat keluar mobil. Mengabaikan teriakan Namjoon yang kebingungan oleh tingkah gegabah Jihoon yang seperti monyet lepas. Jihoon masa bodoh, dia terlampau sakit melihat mata Taehyung detik lalu. Dia tahu Taehyung terluka, Taehyung pasti sedih melihat adegan konyol keluarga kecil ini. Dia begitu bodoh untuk tidak berada di sisi Taehyung pada saat-saat menyedihkan hidup Kakaknya itu. Jihoon melangkah begitu cepat, nyaris berlari mengejar Taehyung yang sudah kabur. "Hyung!"

Deru napas Taehyung bahkan terdengar pilu.

"Kenapa berlari?" Jihoon meremas pergelangan tangan Taehyung yang kurus. "Kau takut bertemu denganku? Kau tidak ingin bertemu aku lagi, hyung?"

"Astaga, tidak. Aku baru ingat, uhm, ya –aku harus kerja sekarang."

Jihoon tahu Taehyung pasti akan lari, jadi dia mengeratkan cekikannya. Menatap nyalang pada Taehyung yang masih menampilkan raut terluka pada wajahnya yang berpeluh dan pucat. Jihoon menarik napasnya dalam-dalam, merasa sepenuhnya iba pada sosok baik hati dan tegar dihadapannya. Ia menarik lembut lengan kurus Taehyung, hampir saja menjadi murka. "Jangan pergi seperti orang bodoh," itu katanya setelah lama terdiam. Ia tidak kuasa melihat Taehyung semakin tersiksa oleh keadaan tapi Jihoon pun tidak tahu harus berbuat apa supaya Kakaknya menyunggingkan senyum tulus. Meski pria itu banyak tersenyum di depannya, ia tahu, itu adalah fana. Ia menoleh ke belakang ketika mendengar suara pantopel yang bergemeletuk memekakkan keheningan. Namjoon disana, tersenyum lembut dan hangat. Yang mana membuat Taehyung gemetar nyaris kehabisan napas. Jihoon dapat merasakan debaran gila itu hanya dengan menyentuh kulit dingin Taehyung.

"Ikutlah bersama kami, Taehyung."

.

.

Takdir adalah sesuatu yang menyeramkan.

Itu adalah makna dari kata takdir bagi Kim Taehyung. Ketika ia dengan bodohnya kembali mengikuti Namjoon dan adik-adiknya bercengkerama. Ia sudah berusaha tidak terlihat tapi takdir selalu berakhir menyeramkan jika sudah bermain dengan Taehyung. Sejak tadi dia dibuat gugup oleh keberadaan Namjoon yang menyetir di sampingnya. Suasana di dalam mobil begitu canggung, tidak ada suara, hanya deru mesin dan lantunan musik dari radio yang memecah sunyi. Taehyung terus berdoa tanpa suara, sembari memainkan jemarinya begitu pasrah. Menunggu dengan sabar ketika Namjoon berkata akan mampir membeli pizza dan beberapa snack.

Lalu dia dibuat merana lagi.

Ketika mobil kembali berhenti, untuk arti sesungguhnya. Tujuan telah tercapai, mereka sampai di rumah megah Namjoon. Warnanya coklat pastel, sama seperti rumahnya yang dulu. Aromanya masih dominasi kayu manis dan vanilla, seperti rumahnya yang dulu. Banyak bunga mawar tumbuh di halaman rumahnya, sama seperti rumahnya dulu. Interior dan kesederhanaan Namjoon dalam menata bahkan begitu persis ketika mereka berada dalam satu rumah yang dulu, yang sudah lama terbengkalai dimakan rayap. Lantainya sama persis, suasananya sama, bahkan kehangatannya begitu identik. Taehyung tidak tahu, apakah dia harus menangis di sini atau kabur secepatnya.

"Hyung, duduk disini." Jihoon menepuk ruang kosong di sisi kirinya, sudah ada Jungkook dihadapannya yang terdiam menatapnya pula. Mereka duduk bersila di depan meja kecil di ruang tengah. Menunggu Namjoon yang mengurus soal makanan dengan sabar. Taehyung meringis pelan, dan berjalan kikuk menuju tempat yang disiapkan Jihoon untuknya. Dia sempat bertatap dengan Jungkook, yang tengah menatapnya begitu intens. Entah apa maksud dari tatapannya itu. Taehyung tidak mau terlibat begitu jauh. Rumah Namjoon sudah cukup membuatnya jatuh dan dia tidak mau menjadi begitu lemah oleh hal-hal kecil lainnya. Dia harus segera pulang dan kembali ke kafe. "Aku pesan pizza dengan pinggiran keju. Itu kesukaanmu, kan, hyung? Nanti hyung boleh minta punyaku."

Jihoon terus mengoceh pada Taehyung yang masih menatap kosong. Tidak sadar kalau Jungkook memerhatikan Jihoon yang menjadi sangat manis dengan Kakaknya. Dia tidak tahu kalau Jihoon benar-benar berbeda ketika bersama Taehyung. Dia berpikir, sejak kapan mereka saling mengenal? Apa sebelum ini mereka sudah tahu hubungan persaudaraan rumit ini; jauh sebelum Jungkook tahu? Lalu mengapa mereka hanya diam dan bermain peran dihadapannya? Dia terus berpikir keras, hal apa yang membuat si dingin Jihoon menjadi penuh aegyeo dan lembut pada sosok yang payah dalam hidupnya; Kim Taehyung. Dia penasaran, bagaimana Jihoon bertingkah seolah dia benar-benar adik Taehyung; yang mengetahui segala sesuatu tentang pemuda itu, tahu apa makanan favoritnya, tahu tokoh kartun kesukaannya, tahu sabun apa yang dia pakai, dan tahu segalanya. Jungkook muak melihat itu.

"Pizza datang!"

Suara menggelegar Namjoon memecah lamunannya. Mereka bertiga menoleh cepat, Namjoon datang dengan begitu girang menyuguhkan pizza hangat untuk semuanya. Juga tiga gelas cola dan kentang goreng, serta beberapa saus menggiurkan. Jungkook terperangah, masih terpukau dengan pemandangan dihadapannya. Dia pernah makan pizza tapi tidak semewah dan selezat ini. "Pinggiran keju dan pinggiran sosis untuk dua bocah nakal yang suka berantem. Nah, selamat makan!"

Keduanya bertepuk tangan riang, peduli setan dengan cuci tangan, lantas makan pizza dengan begitu beringas seperti tiada hari esok. Seolah itu adalah edisi pizza terakhir di muka bumi. Namjoon terpingkal melihat tingkah kedua anaknya, kemudian berhenti ketika melihat Taehyung hanya diam dengan tatapan hampa. Seolah dia tidak memiliki jiwa dalam raganya yang utuh itu, seolah dia tidak sadar tengah berada dimana, asyik melamun dan hidup dalam dunianya sendiri. "Taehyung, ikut aku."

"Uhm?"

Namjoon menatapnya datar dan dingin, "Ikut aku. Ke belakang, sekarang."

Sekali dengar pun Taehyung tahu, ada amarah dalam ucapan Namjoon. Ia meneguk ludahnya begitu lambat dan berat. Kerongkongannya seketika menjadi begitu perih dan keringatnya mengucur deras. Dia jadi sangat panik seketika melihat tatapan tajam Namjoon padanya detik lalu, dia terdiam sebentar memindai punggung tegap Namjoon yang tersuguh di hadapannya sebelum akhirnya ia bangkit dan mengikuti langkah Namjoon yang menggema dalam inderanya.

Dia jalan menunduk, tidak berani menatap apa pun selain lantai rumah Namjoon yang nampak bersih dan kemilau. Aroma jeruk dari karbol begitu menusuk ketika ia sadar telah berada di sisi belakang rumah. Angin meniup wajahnya pelan, suara Namjoon yang berat berkata untuk dia menunggu sebentar. Taehyung mengangguk saja, tidak sanggup bicara hingga ia mendengar langkah Namjoon kembali mendekat. Dan ia dibuat mendongak kala pria itu memberikannya satu paperbag ukuran sedang, masih dengan tatapan yang dingin dan menusuk. "P-Papa –"

"Burger dan cola kesukaanmu," Namjoon berujar, "Bawa dan segera pergi."

Ya, dia dibuang untuk kedua kali.

Taehyung bergetar sesaat, matanya menatap Namjoon dengan binar memohon. Bibir dia gigit kuat-kuat menahan suaranya terdengar menyedihkan. Ia mungkin tersiksa berada dalam aroma Namjoon di rumahnya tapi ia akan lebih menderita jika harus pergi saat ini. "Apa ucapanku kurang jelas? Jangan pernah mencoba untuk muncul di kehidupanku lagi. Jangan berani mencari tahu apa yang kulakukan dan jangan bertemu lagi," Namjoon menghela. "Aku tidak main-main dengan ucapanku, Sayang. Kita tidak seharusnya bertemu. Aku sungguh tidak mau melihatmu berada dalam pandanganku lagi, sungguh tidak. Itu sangat menyiksa batinku ketika aku dapat memandangimu yang nampak begitu lemah disini. Aku tahu kau sebegitu terlukanya tapi aku benar-benar tidak bisa. Satu-satunya jalan agar kita sama-sama bahagia adalah dengan berpisah."

"Tapi ini tidak adil." Taehyung menangis, suaranya pecah. "Aku juga anak Papa. Sebagaimana Jihoon dan Jungkook, lalu kenapa –kenapa hanya mereka yang dapat kasih sayangmu hingga detik ini? Kenakalan apa yang aku perbuat sampai Papa marah sehebat ini? Aku minta maaf jika telah merepotkanmu di masa lalu tapi apakah aku sebegitu bandelnya hingga kau membuangku?" ia mengusap sudut matanya yang memerah, dadanya sesak menahan amarah. "Kesalahan apa yang aku lakukan sampai Papa tidak mau mengenal aku lagi? Aku anakmu, Papa! Bocah yang dulu kau banggakan, kau manja, kau ajak bermain. Bertahun-tahun aku menahan rindu dan kenapa aku mendapat hal konyol darimu ini? Sandiwara macam apa yang kau tawarkan padaku, Papa? Maksudku, ya Tuhan, kenapa? Sedang Jungkook bahkan kau sayang-sayang, dengan alasan ingin memberikan kasih sayang seorang Ayah."

Namjoon menghela, "Memang itu yang kulakukan, Taehyung."

"Bohong!" Taehyung berteriak pilu, isaknya lebih kencang. "Alasan tidak masuk akal. Memangnya aku percaya dengan omong-kosong itu? Hanya karena Jungkook tidak pernah diasuh orangtua, tak lantas aku tidak berhak mendapatkannya. Tak lantas kau membuangku seperti sampah! Aku sudah capek menjadi sampah masyarakat dan aku tidak menyangka Papa menganggapku sampah juga. Kenapa? Sekotor apa aku ini sampai Papa tidak mau bertemu aku lagi; hanya karena aku datang kau jadi marah, mengusirku seperti kecoak lantas memutus hubungan," ia menangkup wajahnya yang sudah basah dan memerah. "Kita... Hubungan yang kita miliki ini bukan sekadar dua pria yang saling mengenal. Bukan satu hubungan dimana ada kata perpisahan dan mantan dalam status kita. Aku tidak bisa menyebutmu mantan Papa dan kau juga tidak bisa menyebutku mantan anak; lantas mengapa kau mengusirku jauh-jauh?"

"Sudah kuingatkan, hubungan kita sudah hancur. Dan aku tidak mau terjebak pada masa lalu."

"Lantas pergi saja dan jauhi kami," Taehyung memukul dadanya yang semakin sesak. "Mengapa kau justru begitu jahat untuk melemparku ke dasar jurang dan menyelamatkan adikku? Kenapa kau menjatuhkan aku dan menggenggam Jungkook? Jika memang Papa tidak mau bermain dengan masa lalu maka jangan pula Papa menemui Jungkook! Ini tidak adil ketika kau membuangku dan menyelamatkan dia, anakmu bukan hanya dia –aku juga."

Seluruh organ dalam tubuh Namjoon menciut, seperti ada jemari besar yang mencubit hatinya begitu kuat mendapati Taehyung menangis begitu menyedihkan. Sosoknya terlihat begitu ringkih seperti berada dalam ambang kematian. Itu membuat dada Namjoon sesak dan menderita. Meski raut wajahnya dibuat datar seolah tak acuh, percayalah, Namjoon nyaris mati melihat Taehyung menderita. Tapi dia tidak punya pilihan yang lebih baik. Katakan dia pengecut untuk ketakutan fantasi yang belum tentu benar adanya, tetapi dia benar-benar tidak bisa melihat Taehyung lagi di kehidupannya. Itu akan menambah rasa sakit dalam hatinya, ia tidak bisa membuka lukanya lagi. Tidak lagi.

Perlahan, Namjoon meremas bahu Namjoon. "Kalau aku beri satu alasan mengapa aku melakukannya, apa kau bersedia untuk pergi dari hidupku... selamanya?"

Hati Taehyung tidak siap tapi dia tidak suka dipermainkan.

"Aku butuh seribu satu alasan," Taehyung menantang. "Maka aku akan pergi."

Namjoon menggeram rendah, menarik lengan kurus Taehyung keluar melalui pintu belakang. Mengabaikan pekikkan kecil dari bibir Taehyung yang begitu terluka, entah karena cengkeramannya yang begitu kuat atau hatinya yang tergores hingga berdarah. Cepat dia mendorong Taehyung pergi dari teritori rumahnya yang megah, menyodorkan paperbag dalam dekapan Taehyung. "Kau hanya butuh mendegar satu alasan dariku, maka kau akan sendirinya pergi." Ia bernapas dalam, menyelami manik Taehyung yang bergetar penuh luka. Lantas memalingkan pandangan sebab tak kuasa berlama-lama menatap wajah polos Taehyung yag sudah hampir menangis lagi. "Kau punya waktu untuk pergi sebelum mendengar alasan dariku. Aku tidak menanggung luka baru yang akan kau terima nantinya. Kau bisa pergi sekarang atau tetap tertarik mengetahui mengapa aku membuangmu jauh-jauh."

Katakan dia bodoh tapi Taehyung putus asa.

"Katakan padaku –"

"Kau adalah bencana." Namjoon berujar rendah. "Bagiku, kau adalah sumber penderitaan. Kim Taehyung yang mana dulu adalah Lee Taehyung sudah menjadi bagian dari masa lalu kelamku. Aku tidak mau merasakan penderitaan apa pun lagi. Dengan melihatmu, aku sudah tersiksa lahir batin. Dadaku selalu sesak, kakiku menjadi lemas, dan kepalaku terasa berat nyaris mati. Aku nyaris mati tiap kali melihatmu berada dalam pandanganku," ia berhenti sejenak, memberi waktu untuk Taehyung menangis dalam diam dan suasanya terkejutnya. Ia memindai wajah yang sudah rusak itu, banyak gurat kecewa penuh luka mendalam di setiap sudutnya. "Kesalahanmu adalah terus membuka luka yang susah payah aku sembuhkan selama bertahun-tahun. Luka itu masih ada, membekas dalam sudut hatiku dan tidak pernah bisa kering meski waktu terus berjalan. Hanya karena melihatmu untuk satu sekon, rasanya sangat menyakitkan. Luka itu kembali terbuka, aku menderita dan rasanya aku nyaris mati untuk mengingat semua yang terjadi di masa lalu. Kau tidak mengerti tapi aku sungguh merana hanya karena melihatmu."

Taehyung tidak ingin percaya. Bibirnya bergemeletuk hebat, kerongkongannya tercekat.

"Papa menderita... karena aku?"

Namjoon mengangguk sok kuat, "Ya. Sekarang pulanglah, terlalu lama melihat wajahmu membuatku muak. Aku sudah muak melihat wajah menyedihkanmu itu. Aku tidak suka melihatmu lagi. Kau sudah dapatkan apa yang kau mau. Jadi kumohon, ini adalah terakhir kita bertemu." Perlahan Namjoon mundur dan berbalik pergi, langkahnya gontai menahan tangis. Kepalanya masih didera pusing hebat, terlebih gumaman lirih Taehyung yang memanggilnya begitu putus asa membuatnya lemah. Ia benci situasi konyol seperti ini, suasanya yang membuatnya kehilangan fokus dan prinsipnya untuk bertahan. Temboknya serasa dirubuhkan paksa hingga ia nyaris goyah oleh isak memilukan dari Taehyung yang masih berdiri kaku di depan pagar rumahnya macam pengemis. Tapi dia tahu dia tidak bisa kembali untuk memeluk anaknya itu, dia terlampau takut merasa sakit lebih dari ini. Maka dia harus merelakan satu hati yang terluka, meski dirinya sendiri pun jauh terluka.

Hati yang penuh luka, mungkin tak pernah menemukan kata pulih.


Jungkook pulang sedikit larut, penasaran mengapa Taehyung tiba-tiba menghilang saat di rumah Namjoon tadi siang. Dia tidak begitu peduli, sebenarnya. Dia hanya merasa heran mengapa Kakaknya pergi tanpa satu ucap pamit. Dia mendapati rumahnya remang-remang, lampu ruang tengah tidak menyala. Mungkin Taehyung sudah tidur, entahlah. Jungkook melangkah ke dapur untuk mendapatkan segelas air dingin, kemudian memilih opsi untuk melihat ke dalam kamar Taehyung.

Setelah memperbaiki relasinya dengan Namjoon, Taehyung berubah.

Tidak ada makan malam di meja, tidak ada air hangat di malam hari, tidak ada ucapan selamat pagi dari suara serak Taehyung yang manis, dan tidak ada Taehyung yang menunggunya hingga larut meski itu sampai pukul satu pagi. Jungkook geli mendengar pemikirannya sendiri tapi ia tidak bisa mengelak kalau ia rindu Kakaknya yang perhatian. Dia sadar kalau Taehyung sudah sangat peduli padanya untuk memberikan apa yang dia miliki. Dan melihat Taehyung secara perlahan menghilang dari kehidupannya, sedikit banyak mengundang tanya dalam benak Jungkook.

Ia baru menyentuh pintu kamar Taehyung ketika ia kemudian mendengar tangis pilu.

Tubuh Jungkook kaku mendengarnya, pintu kamar Taehyung tidak tertutup rapat. Satu dorongan halus dari telunjuk besarnya membuka ruang cukup untuk Jungkook melihat Taehyung menangis dalam dekapannya sendirian. Mengurung diri dalam gelap dan ruang sepi, mengeluarkan tangis tanpa henti yang semakin lama terdengar menyakitkan. Napasnya dia tarik begitu dalam hingga suara grok terdengar begitu jelas di telinga Jungkook. Setiap Taehyung melakukannya, dada Jungkook merasa sesak. Dia seolah ditarik begitu dalam menuju palung kegelapan tanpa oksigen.

Ada rasa amarah dalam dada Jungkook melihat Kakaknya menangis. Mungkin dia sering kesal oleh kelakuan bodoh orang itu, atau muak dengan keluguannya, tetapi jauh dalam hatinya Jungkook menyayanginya sebagai saudara. Dia tidak lupa bahwa Taehyung adalah satu orang yang menghidupinya bertahun-tahun. Dia mungkin murka dengan kegagalan dan kemiskinan dalam hidupnya tapi dia tahu Taehyung juga berusaha untuknya. Pria itu telah begitu baik padanya, dan Jungkook hanya terlalu brengsek untuk bersikap tak acuh dan semakin melukainya.

Setelah berpikir begitu keras, Jungkook mendekat. Membawa tubuh rapuh Taehyung dalam dekapnya yang begitu hangat. Membiarkan Taehyung menangis dalam keterkejutannya mendapati Jungkook tahu-tahu datang dan bersikap begitu manis. Biarlah dia membuang gengsinya malam ini, nalurinya berkata dia perlu sesekali bertingkah tidak brengsek untuk Taehyung. "Kenapa hyung menangis?" itu ucapnya setelah Taehyung menjauhkan kepalanya dari dada Jungkook, mengelap pipi Taehyung yang basah dan memerah oleh tangis tak henti. "Hyung bahkan pergi tanpa pamit. Kau tidak tahu seberapa rewel si cebol Jihoon yang bertanya kemana Taehyung pergi? Kami makan pizza tanpamu, aku bertanya pada Papa dan dia berkata dia harus pergi rapat mendadak. Kau tidak tahu seberapa kacau jika kami hanya berdua, dia mengalahkan aku saat main play station. Itu menyebalkan! Dia terus berceloteh tidak penting dan berusaha terdengar dia lebih mengerti kamu atau apalah,"

Taehyung tersenyum getir, "Aku baik-baik saja."

"Lalu kenapa menangis?" Jungkook memiringkan kepalanya tidak mengerti. "Aku tahu hyung adalah orang lemah tapi seekor anjing pun tak akan menggonggong tanpa alasan."

"Kau menyamakan aku dengan anjing?"

"Itu perumpamaan, hyung."

Taehyung tersenyum lagi, mengacak rambut Jungkook yang lepek. "Sudahlah. Hari ini pekerjaan terasa sangat berat, banyak pelanggan yang menyebalkan dan aku menahan semua kesalku tadi. Jadi aku menangis untuk melampiaskannya, begitulah. Aku sering seperti ini, jadi jangan khawatir." Ia menepuk pipinya pelan dan berusaha nampak baik-baik saja, meyakinkan Jungkook yang terlihat belum sepenuhnya percaya pada ucapan bohongnya. "Percayalah, hyung baik-baik saja. Setelah menangis, perasaanku lebih baik. Ini hanya karena pekerjaan dan pelanggan iseng. Jimin dan karyawan lain baik padaku, jadi tenang saja, aku mencintai pekerjaan yang aku miliki saat ini."

"Lalu tentang kepergianmu?"

Bibirnya ia kulum pelan, menyusun kebohongan lagi. "Ya, Jimin menelpon dan berkata kafenya hampir rubuh oleh pengunjung. Beberapa karyawan kepayahan jadi aku harus datang untuk membantu. Meskipun dia temanku, aku tetap harus mendengar perintahnya atau aku akan dipecat lagi." Ia terkekeh ringan, menambah esens dalam cerita memuakkannya supaya Jungkook berhenti bertanya. Ia sudah cukup lelah dan ingin mengakhiri pembicaraan. "Sudahlah. Oh, ya. Apa menyenangkan di rumah Papa?"

"Uhm!"

Jungkook mengangguk senang, mata bulatnya bersinar sangat terang. Mau tak mau membuat Taehyung kembali tersenyum melihat raut gembira itu. Meski dia memendam luka sendirian, asal Jungkook tetap nampak bahagia, mungkin tidak apa. Mungkin ia akan baik-baik saja selama Jungkook mendapatkan kebahagiaannya yang dia damba. Asal melihat Jungkook senang, mungkin itu obat yang mujarab baginya untuk menyembuhkan luka mendalam di hatinya. "Rumahnya bagus, ya, hyung? Ternyata si cebol Jihoon sangat dimanja. Dia dibelikan banyak sekali barang tidak penting yang sialnya sangat mahal dan keren. Bahkan dia terlihat tidak peduli jika aku membawa pulang iPad atau Xbox miliknya yang sudah berdebu di kolong ranjangnya. Ya, dia memang sombong memperlihatkan kamarnya. Dia mengajakku main semua yang dia miliki sampai larut dan membuatku kalah untuk mengerjakan pr-nya."

Suara Jungkook terdengar sangat gembira meski kalimatnya adalah rasa kesal.

Itu sungguh terdengar lucu bagi Taehyung. "Begitu, lalu?"

"Dia berlagak seperti pangeran kecil atau apalah dan bertingkah menyebalkan selama Papa bekerja. Dia mengajakku menonton film di ruang khusus menonton, menyuguhkan lima macam rasa popcorn, dan terus berceloteh tidak penting. Aku berkata bahwa aku kelaparan setelah mengerjakan pr dan dia dengan sombong memamerkan hasil les memasaknya," Jungkook mendengus. "Bahkan masakannya terasa hambar. Kalau saja bukan karena perutku keroncongan, aku akan meludahi masakan itu dan memberikannya pada kucing. Sayangnya Jihoon terlalu menyebalkan. Begitulah!"

Ya, mungkin Jungkook bisa jadi penyembuh luka Taehyung.


Seokmin melangkah pasti. Giginya bergemeletuk menahan amarah, dadanya naik turun bernapas pendek-pendek nyaris murka. Dia tidak peduli tentang perutnya yang berbunyi kelaparan, atau tugas matematika yang baru separuh dia saling dari Mingyu. Masa bodoh, kata batinnya. Dia baru saja mendengar desas-desus memuakkan, bisik-bisik menjijikkan, dan umpatan-umpatan konyol. Awalnya dia berusaha tidak peduli, diam saja ketika Mingyu sudah menahan lengannya yang hampir menonjok pria-pria penggosip di sudut kelas. Tapi dia benar-benar marah, nyaris tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Sebab Seokmin tahu dia tidak seperti itu, dia tidak seburuk itu, dia tidak sebajingan itu.

Cepat dia membuka pintu kelas, "Kim Jungkook!"

Seluruh siswa menoleh ke arah Seokmin yang keringatan dan terengah. Mengernyit bingung dan melirik Jungkook yang menunjukkan wajah bingungnya yang polos. Cepat dia bangkit dan menggiring Seokmin pergi agar tidak merusuhi kelasnya. Seokmin cukup merepotkan ketika sudah marah seperti itu. Jungkook tidak mengerti apa gerangan yang membuat sahabatnya begitu kesal, dia terlihat begitu marah padanya meski dia tidak ingat pernah sekali pun menyakiti pria ceria itu. "Hei –"

"Katakan padaku itu bohong, Jungkook."

Jungkook menukikkan alisnya bingung, "Tentang apa?"

"Aku mendengarnya. Mereka terus berbicara tentangmu –" kemudian Seokmin berhenti sejenak. Napasnya terlalu memburu karena emosi, ia mengipasi wajahnya yang panas dan mengatur respirasinya. Ia mendengus melihat Jungkook yang nampak sangat polos. " –aku tidak percaya bajingan-bajingan itu. Katakan saja bahwa itu bohong, maka aku akan sepenuhnya percaya padamu, Jungkook. Aku tahu kau bukanlah seorang bajingan, kau mungkin cuek dan menyebalkan tapi kau tidak brengsek! Aku kesal sekali mendengar ucapan orang, bahkan Mingyu hanya diam saja –sial! Aku sudah hampir menonjok mereka tapi si bodoh Mingyu terus berkata untuk sabar; aku tidak bisa!"

"Tunggu, kita ini membicarakan apa, sih?"

Seokmin mendengus keras, lantas menggoyang bahu Jungkook kuat. "Kau bukan pelacur, 'kan?"

Bangsat. Kartunya terbuka.

Dengan perlahan Jungkook terkekeh, berusaha menutupi kegugupan dalam dirinya. Meski tidak dipungkiri bahwa jantungnya berdegup luar biasa kencang. Ia mengepalkan tangannya tanpa sepengetahuan Seokmin, yang jadi penguatnya dalam membela diri. Dia meneguk ludahnya begitu natural agar tidak nampak berdusta dan mengelak. "Brengsek sekali orang-orang berkata," itu katanya setelah sekian lama adu tatap dengan manik Seokmin yang membara. Dia semakin gugup kala raut wajah Seokmin berubah, dia tidak mengerti apa maksudnya. "Hei, seharusnya kau pukul saja mereka. Kenapa berani sekali menuduh tanpa bukti? Mereka hanya bicara omong-kosong, Seokmin, mana mungkin aku sebangsat itu? Untuk apa aku menjadi pelacur? Kau menyeretku kemari hanya untuk bertanya hal seperti itu? Tidakkah itu membuktikan bahwa kau lebih percaya mereka dibanding aku?!"

"Aku bilang aku percaya padamu!"

"Tapi tindakanmu berkata lain!" Jungkook mengaum dan mendorong tubuh Seokmin menjauh. Ya, peran marah seperti ini sedikit memberinya kekuatan untuk berbohong. Dia sukses bersandiwara dengan sifat yang terluka seperti ini. ekspresi Seokmin melembut, membuat Jungkook tertawa dalam hati sebab dia tahu aktingnya berhasil menipu. "Kau marah dan memohon padaku untuk mengatakan itu semua bohong; untuk apa?! untuk apa kau melakukan itu jika kau bilang kau percaya aku?! Kalau memang kau di pihakku maka kau seharusnya tahu jawabannya tanpa perlu merusuh dan bicara omong-kosong ini! kau pikir aku cukup brengsek untuk melakukannya? Ya, aku sudah menjadi brengsek untuk berteman dengan Sehun lalu apa masalahmu? Kau mengikis kepercayaanmu karena kita sudah jarang kumpul bersama? Cih, kau itu yang brengsek! Kalau kau temanku, seharusnya kau percaya padaku!"

Ucapan Jungkook memukul Seokmin begitu dalam. Hingga ia melemas dan menatap Jungkook dengan raut penyesalan dan kecewa. Dia kecewa pada dirinya sendiri yang bertindak begitu gegabah dan sok jagoan, terlalu emosi hingga ia digelapkan oleh kepercayaan yang dia punya. Terlalu termakan omongan publik tentang Jungkook yang bekerja menjadi pelacur dan suka bermain. Dia hanya merasa kesal dengan omongan itu dan tanpa sadar dia sudah mengikis kepercayaannya terhadap Jungkook. Apa yang diucapkannya barusan adalah benar; jika memang Seokmin percaya pada Jungkook maka seharusnya ia tak perlu bertanya dan memastikan. Seharusnya ia yang lebih tahu dibanding orang brengsek penyebar gosip murahan di kelasnya. Dia merasa begitu bodoh untuk percaya orang lain ketimbang sahabatnya.

"Maafkan aku," Seokmin meraih jemari Jungkook dan meremasnya lembut. "Maaf,"

Tidak tega dengan wajah melas itu, Jungkook menepuk bahu Seokmin. Tersenyum dengan paksa dan merangkulnya erat. Kemudian membawanya pergi untuk masuk kelas. "Tidak apa, aku mengerti. Aku juga sudah berkata kasar tentangmu; maka maafkan aku juga. Kau tidak brengsek, kok. Kau tetap teman baikku yang konyol dan menyenangkan. Aku mengerti kau hanya khawatir padaku, kau percaya padaku –aku tahu. Tentu kau percaya padaku, tidak apa." Kemudian ia melepas rangkulan hangatnya ketika sampai di kelas Seokmin, tersenyum lebih lebar untuk meyakinkan. "Perlu kau tahu, aku bukan bayi. Aku mungkin bisa jadi sangat brengsek, jadi ketika kau menemukan aku menjadi bajingan, kuharap kau mengerti bahwa aku bukan anak kecil polos seperti bayanganmu. Aku tidak peduli dengan kata orang, selama menurutku itu baik untukku, itu yang aku lakukan."

"Hei, kau orang baik, Jungkook."

Jungkook menggeleng, "Tidak, Seokmin. Aku... sudah menjadi brengsek."

"Jungkook –"

"Sudah, ya. Aku ada kelas Sejarah."

Sebutan brengsek itu terdengar sangat kotor untuk Jungkook.

Bagi Seokmin, Jungkook adalah teman baiknya. Dan dia akan terus percaya itu.

.

.

"Jadi temanmu sudah tahu?"

Jungkook menoleh, Sehun asyik dengan asap rokoknya. "Belum. Tapi mereka sudah dengar gosipnya. Entah bagaimana orang-orang bisa membicarakannya, kau tidak memberikan pelanggan anak sekolah padaku, 'kan?"

"Kau pikir klub milikku seperti bar murahan?"

"Aku berpikir kalau-kalau ada satu oknum yang bercinta denganku lalu menyebarkannya di sekolah. Aku tidak begitu memerhatikan siapa saja pelangganku, asal dia memuaskan aku oke-oke saja." Ia menghela begitu panjang setelah akhirnya ia mengapit sebatang rokok kesukaan Sehun. Menyalakan pemantik dan menghirupnya dalam-dalam. Seolah ia bernapas dengan tembakau itu, menyedot seluruh penatnya bersama bahan berbahaya itu. Sehun benar tentang perkataannya bahwa rokok sangat menyenangkan untuk dihisap. Maksudnya, astaga, ia baru benar-benar mengerti kenapa Sehun terus menawarkan rokok padanya. Awalnya dia memang takut paru-parunya bolong atau apa tetapi kini ia mengerti ketika ia sudah menemukan angkasa dalam satu hirup rokok dalam belah bibirnya. Ia menemukan ketenangan hakiki setelah menghisap dalam-dalam rokoknya. Membuatnya jauh melayang-layang dalam kesunyian yang menenangkan dan ia tidak bisa berhenti untuk mengonsumsinya. "Aku hanya tidak ingin mereka berdua tahu aku se-brengsek itu, meski nyatanya aku juga sudah terlanjur brengsek." Ia menghembuskan asap rokoknya kuat-kuat. "Aku tidak bisa melihat wajah kecewa mereka jika mereka benar-benar kenal siapa Kim Jungkook ini; yang benar-benar telah menjadi pelacur dan bercinta dengan banyak orang. Merokok di belakang sekolah dan suka mabuk. Aku tidak bisa memilih, antara teman dan semua kenikmatan ini –kebahagiaanku. Aku menjadi bodoh untuk ketergantungan tapi biarlah ini mengalir, toh, aku ini memang bajingan yang butuh ketenangan."

Sehun menghisap rokoknya dalam sembari menatap Jungkook. "Baguslah. Kau tahu, tidak ada yang namanya teman selamanya. Mereka hanya sesaat, setelah lulus sekolah kalian akan berpisah. Tidak akan ada yang menemanimu makan atau membelamu lagi," ia menyeringai halus, "Jika benar mereka tulus, seharusnya dia berada di sisimu saat ini. Bukannya aku yang bangsat ini; seharusnya mereka membiarkanmu merokok dan melakukan hal lain. Kau tahu, kau itu cowok."

"Ya, kurasa juga begitu."

Suara itu bukan jawaban dari bibir Jungkook. Terdengar lebih berat dan dalam, mengintimidasi, dan penuh kekecewaan tanpa batas. Keduanya menoleh, lantas bola mata Jungkook membola saking kagetnya mendapati Mingyu dan Seokmin berdiri tidak jauh darinya duduk dan merokok. Mereka berdua berdiri kaku seperti patung, dengan raut wajah penuh murka menahan amukkan. Jungkook jelas melihat rahang Seokmin mengetat dan samar-samar ia mendengarnya mendesis. Mingyu tetap memasang raut datar meski matanya menggelap dan dingin. Inilah pemandangan yang menakutkan bagi Jungkook seumur hidupnya; ketika sahabatnya justru melayangkan tatapan kecewa dan marah padanya.

"K-Kalian –tunggu, begini –"

Dengan kekesalan yang tertahan, Seokmin memalingkan wajah. "Ya, mungkin aku salah percaya padamu dua jam lalu. Padahal rasanya baru detik lalu kau berkata kau tidak cukup brengsek untuk melakukan semua hal menjijikkan ini," ia mendesis lebih keras, "Seharusnya aku tahu, kau benar-benar menjadi brengsek seperti apa yang kau katakan. Sialnya aku memilih percaya padamu yang begitu bangsatnya menipuku dan Mingyu. Kami percaya padamu, berada di pihakmu, tapi kau memilih Sehun untuk jadi orang pertama yang mendengar cerita dan menjemput semua kebodohan ini. Semua ini konyol, brengsek, kau sudah bukan pada tahap bajingan lagi, Jungkook. Lebih dari itu, kau menjijikkan! Buat apa kau berkata hal-hal manis dan menyuruhku percaya sedang kau berbuat hal sebrengsek ini; buat apa?! Kau benar-benar mengikis habis rasa percayaku padamu. Aku sungguh kecewa, Jungkook."

"Dengar dulu, aku –"

"Aku pergi." Seokmin beranjak tanpa sempat melihat mata Jungkook yang berair. Meninggalkan Mingyu yang masih diam terpaku dengan wajah datarnya yang semakin lama semakin mengeras, ekspresinya kecewa, matanya gelap menahan marah, tetapi dia tahu percuma untuk melakukan hal itu. Ia diam saja ketika Jungkook memanggil namanya dengan suara pilu, rasanya begitu menyakitkan ketika melihatnya menjadi lemah disaat dia sudah bisa dibilang brengsek. "Mingyu –"

"Aku nyaris tidak percaya, kau tega melakukan ini."

Jungkook menggeleng, berjalan mendekati Mingyu yang melangkah mundur.

"Aku terlalu lama menahan diri untuk tidak memukul siapapun yang menghinamu sejak kemarin. Yang berkata buruk tentangmu, yang menggunjingmu, yang membuat gosip murahan, yang berbisik tentang kamu; aku selalu menahannya. Aku harus menahannya atau kami berdua akan benar-benar menghancurkan isi sekolah untuk membelamu saja. Aku tidak masalah kau berteman dengan siapa pun, saat Seokmin berkata kau dekat dengan si brengsek itu pun aku diam, aku ingin marah tapi aku tahu aku tidak punya hak atas itu. Karena aku percaya, kau orang baik." Lama setelah akhirnya Mingyu menggenang airmata di kelopak matanya dan mulai menunjukkan ekspresinya. Ia menarik napas dalam-dalam meski ia hanya mencium aroma rokok dari tubuh Jungkook. "Tapi mungkin aku salah. Tidak seharusnya aku menaruh seluruh kepercayaanku pada orang se-brengsek kamu. Aku sungguh tidak mengerti mengapa kau melakukan hal bodoh ini; kau adalah cowok. Ya, aku mengerti; lantas apa itu menjadi alasan kuat bagimu untuk merokok di sekolah, menjadi tukang mabuk, dan bekerja untuk menjadi hina –aku tidak kuasa mengatakannya tapi kau sungguh bajingan, Jungkook."

"Kau tidak mengerti, Mingyu –"

"Lantas bagaimana aku bisa mengerti ketika kau memilih diam?" Mingyu berteriak kencang dengan suara beratnya yang serak. Nyaris turun airmata di sudut mata itu, namun tangannya dia kepal kuat-kuat sampai nyaris tersakiti oleh kuku panjangnya sendiri. "Kau yang tidak percaya pada kami lagi, kau yang membuat kami menjadi si brengsek yang tidak peduli pada kawannya sebab kau hanya diam! Kau tidak mengisahkan apa pun tentang masalahmu pada kami jadi bagaimana kami bisa mengerti apa yang kau keluhkan?! Penderitaanmu; bagaimana kami bisa tahu jika kau tidak pernah sekali pun berkata tentang itu, bagaimana, bagaimana bisa, Kim Jungkook?!"

"Mingyu, aku –"

"Lepas –" cepat dia menepis jemari Jungkook yang berusaha menyentuhnya. " –menjijikkan. Aku tidak mengenal siapa kamu, tidak lagi tahu siapa Jungkook, tidak ada lagi Kim Jungkook si cowok cuek yang baik hati dan perhatian. Semua hanya fana dan omong-kosong, aku sudah muak denganmu."

Jungkook kepayahan saat hendak mengejar Mingyu yang sudah lari. "Mingyu!"

"Jangan pernah kita bertemu lagi."

Ya, Jungkook sudah terlanjur brengsek.

Untuk melepas satu kebahagiaannya dalam hidup. Sahabatnya, pergi dengan kemuakkan.


Jungkook marah.

Hari ini terlalu memuakkan untuk dilalui. Baginya, ini adalah hari tersialnya. Dia dibuat murka pada skenario Tuhan yang satu ini. Tak henti ia mengumpat tiap detik ia bernapas, terlampau penat dengan segala kejadian yang dialaminya satu hari penuh. Mulai gunjingan orang di sekolah tentangnya, pertengkarannya dengan Seokmin dan Mingyu, juga seorang pria tua menjijikkan yang nyaris melecehkannya di klub dan membuat keributan. Sehun menjadi marah dan memberinya hukuman dengan menon-aktifkan dirinya selama dua hari. Mana dia tahu pria tua itu adalah pelanggan VIP?! Lagipula dibanding uang, dia lebih sayang harga diri.

Lalu seorang pemabuk menambah kesialannya, ketika ia hendak pulang dengan merengut; pemuda itu mengganggu Jungkook dan merepotkannya dengan muntah tidak jelas di tubuh Jungkook. Dia terlihat sangat muda dan Jungkook harus repot mengantarnya ke kantor polisi, bahkan harus menunggunya dijemput orangtua. Sial, dia terlalu lama dibuat kesal. Cepat dia melempar sepatunya dan membanting pintu rumah, bersamaan dengan dengus sebal yang tak henti mengalun.

"Kau pulang, Jungkook."

Jungkook mendongak kecil, mendapati Kakaknya berdiri di dapur, baru selesai memasak dan tengah menggenggam mug besar berisi teh hangat. Dia tersenyum begitu manis, nyaris merusak akal sehat Jungkook untuk berpikir jernih. Tak mau terbawa emosi, dia melengos ke kamar mandi dan mencuci wajahnya yang berpeluh dan lengket. "Kau tidak tidur?"

"Nanti saja," Taehyung berkata dengan suara manisnya. Menepuk sisi kosong di sampingnya, menyuruh tanpa kata bagi Jungkook untuk duduk disana. jungkook menurut dalam diam, terlalu lelah untuk bergerak aneh-aneh. Lagipula, tubuh Taehyung itu hangat dan nyaman. Mungkin dia bisa merebahkan tubuh lelahnya dengan bersandar pada bahu sempit Taehyung yang kurus namun lembut. Ia memejamkan matanya menikmati usapan halus jemari Kakaknya yang bermain-main dengan rambutnya. Rasanya sungguh menenangkan, seperti ketika ia kecil, ketika Taehyung sering membuatnya tertidur di malam hari dengan cara yang sama. Terlalu membuai dan nyaris membuat Jungkook gila.

Semakin lama, sentuhan itu menggoda Jungkook.

Entah memang disengaja atau apa, Jungkook merasa tegang dan merinding oleh usapan yang semakin intens. Dia dibuat gila dengan sentuhan polos itu. Ya, mungkin memang sentuhan sederhana tetapi semakin lama jantungnya makin bertalu-talu kurang ajar. Seketika tubuhnya memanas saat Taehyung bergumam dengan suara seraknya yang mengantuk. Itu terdengar sialan menggoda dan seksi, sangat mengotori otaknya ingin merusaknya lagi malam ini. Mati-matian ia menahan birahi ketika Taehyung semakin berani memainkan jemari panjangnya pada leher Jungkook yang sensitif. Bangsat, Jungkook benar-benar digoda habis-habisan padahal Kakaknya hanya mengelus kepalanya mengusir penat.

"Brengsek."

"Apa yang –" ucapan tanya Taehyung terputus kala Jungkook begitu cepat melumat bibirnya habis-habisan seperti tiada hari esok untuk membuka mata. Dia dibuat bodoh lagi ketika hanya bisa diam kala Jungkook kembali merusaknya begitu dalam dengan sentuhan-sentuhan nakal di sekujur tubuhnya. Sialnya dia hanya bisa diam dan mengerang, entah itu kenikmatan atau merasa kalah. Dia tidak sanggup melawan dengan tubuhnya yang terlanjur menerima semua perlakuan kurang ajar Jungkook yang sudah menggendong tubuhnya dan membantingnya ke kasur kecil di kamar adiknya. "Jungkook, tidak –"

Seperti biasa, Jungkook terlalu mendominasi.

Pakaiannya sudah hilang, bertebaran di sudut kamar, tubuhnya telanjang bulat mengundang syahwat. Dia hanya mampu menggigit bibir penuh keraguan. Ia tidak tahu, apakah dia harus berani melawan setidaknya kali ini saja? Ia tidak suka dipermainkan begini konyol; mungkin dia menyukai sensasi aneh itu tapi dia bukan orang brengsek yang akan terbuai dan menyukai hal hina seperti ini. Dia lelah dirusak oleh adiknya, terlalu lama dia menahan diri, diam dalam sepi, tak sekalipun berbisik tentang betapa ia benci fakta bahwa ia telah melakukan sesi panas dengan adiknya sendiri. "J-Jung –aaah.."

"Bangsat jahanam," Jungkook memainkan milik Kakaknya begitu terampil. Menyeringai puas kala melihat Kakaknya menggelinjang seperti ulat bulu yang menggemaskan. Dia terlihat sangat panas dalam keadaan bugil seperti itu, jauh mengundanh nafsunya hingga ia nyaris meledak dengan pemikiran kotornya tentang keinginan merusak Kakaknya lebih dalam. Persetan dengan hubungan kakak beradik yang mereka miliki, Jungkook kepalang hasrat untuk mengantar Taehyung melihat angkasa. "Jalangku yang cantik. Lihatlah betapa payah dirimu dibawah kendaliku, bangsat, sialnya kau nampak begitu menggairahkan bahkan tanpa sehelai kain pun. Sialan apa yang membuatmu tetap cantik bahkan di saat-saat panas seperti ini? Kau tidak tahu seberapa tersiksanya aku saat kau terus-menerus menggodaku seperti pelacur?"

Taehyung menangis pasrah, menggeleng pelan. "Tida –aah..."

"Penggoda murah," cepat Jungkook membuat Taehyung menungging dan memasukkan jarinya lantas mengobrak-abrik lubang Kakaknya dengan gerakan berantakan, tanpa ritme, begitu kasar, hingga Taehyung berteriak pilu bercampur desah yang amburadul seperti keadaan tubuhnya yang sudah hancur penuh bercak. Jungkook berdecak sebentar hingga ia benar-benar memasukkan jemarinya lebih dalam hingga Taehyung meledak dengan suaranya yang parau namun mendayu. Jungkook puas hanya dengan mendengarnya; dia ingin lagi. Maka dia melepas jarinya kasar dan menepuk kencang pantat Taehyung hinga Kakaknya berteriak lagi, nyaris kelepasan mendesah. Dia memberi waktu bagi Taehyung untuk bernapas setelah orgasme detik lalu dan cepat mengambil mainannya lantas memasukkannya tanpa menghitung detik. Telinganya penuh dengan suara mendayu Taehyung yang terdengar begitu erotis dan merusak akalnya hingga ia bermain lebih kasar dan bereksperimen disana. Tak lupa menyutikkan obat di tubuh Taehyung agar Kakaknya itu dapat segera menemui angkasa. Jungkook tertawa semakin keras saat Taehyung menggeliat atau mendesah keras saat tangannya ia gunakan untuk meremas bokong Taehyung yang berkeringat dan lepek lantas mengangkatnya tinggi supaya menungging lebih seksi. "Kau sangat berbakat menjadi jalang, Taehyung. Kau sukses menggodaku yang lelah ini. sialnya, aku sedang marah dan badmood hari ini jadi aku akan bermain panas malam ini. Bersiaplah –"

"Astaga, Jungkook!"

Jungkook semakin terbahak puas kala tubuh Taehyung terhentak begitu hebat dan bergetar kala mainannya beraksi begitu baik dalam lubang Kakaknya. Ia masih berpakaian lengkap, masih rapi meskipun tubuhnya panas dan berkeringat. Ia menatapi Taehyung cukup lama sampai akhirnya ia mendekat dan mencumbu leher dan punggung Taehyung dengan gerakan tanpa irama; bisa jadi lambat dan terburu nyaris seperti anjing gila kebelet kawin. Taehyung makin kuat meronta dan mendesah; dia ingin pergi dari situasi memuakkan seperti ini. dia ingin menangis di situasi konyol seperti ini. bagaimana dia bisa begini lemah disaat yang tidak tepat?!

Drrrt. Drrrt.

Ponsel Taehyung berdering nyaring, nama Jimin tertera disana. jungkook geram dengan Taehyung yang berusaha meraih benda itu, dengan cepat ia menekan tombol maksimal pada efek mainannya dan Taehyung menjadi gila oleh suara desahnya sendiri. Ia turun sedikit dan melempar ponsel Taehyung hingga retak dan mati. Jungkook tidak peduli, dia merasa terganggu dengan suara bodoh itu jadi dia harus melenyapkan semua hal yang mengganggunya mendengar Taehyung. "Sialan, suaramu sangat bangsat untuk didengar, Taehyung! Kau membuatku makin ingin merusakmu saja, tahu?!"

"Tidak –tidak, J-Jungkook –jangan... a-aku –"

"Kim Jungkook!"

Mendengar suara lain dalam ruang panasnya, Jungkook mendongak. Mendapati Jimin berdiri di ambang pintu dengan mulut menganga dan mata membara. Rahangnya mengetat dan bergegas masuk, menyeret tubuh besar Jungkook dan memukulnya kuat. Memberikannya bogeman tanpa henti pada seluruh wajah Jungkook. Jimin berteriak marah, dia murka melihat hal menjijikkan detik lalu. Dia dibuat muak dengan kelakuan Jungkook yang sangat kurang ajar pada Kakaknya sendiri. Tidak peduli dengan suara serak Taehyung yang menyuruhnya berhenti, dia tetap memukul Jungkook meski bibirnya sudah robek.

"Brengsek! Apa yang kau lakukan?!" Jimin membenturkan punggung Jungkook ke dinding, mencengkeram erat kaus yang melekat di tubuh Jungkook dan mendesis marah. Matanya nyalang dan terus berteriak pada Jungkook yang lemas oleh pukulan Jimin yang tidak main-main. Jimin menggoyangkan tubuh lunglai Jungkook dan terus berkata dengan murka. "Siapa yang mengajarimu jadi bajingan seperti ini?! Taehyung itu Kakakmu, Jungkook! Brengsek, tidak cukup kau melukai batinnya dan kau masih berani menghinanya seperti ini; kau benar-benar bajingan bangsat, Jungkook! Apa yang kau pikirkan?! Kau sudah gila? Dia itu Kakak kandungmu, sialan! Berani kau menyentuhnya dan melukainya sedalam ini?! Bangsat"

Taehyung menangis dan beteriak kala Jimin menghantam Jungkook lagi.

"Pergi dari sini, kau bajingan." Jimin menyeret Jungkook keluar. Mendengus berat dan menatap nyalang pada Jungkook yang menatapnya santai seolah ia biasa saja dan tidak merasa terancam sedikit pun oleh amarah Jimin yang membara. Seolah ia tidak peduli apakah ia merusak Taehyung atau menyakitinya, Jungkook hanya balik menatap Jimin begitu berani dan berdecih, kemudian pergi dengan rasa kesal yang terpendam di dadanya. Jimin menarik napas dalam, tidak percaya dengan perlakuan brengsek dari Jungkook barusan. Kemudian ia kembali masuk dengan berlari, menghampiri Taehyung yang menangis dalam posisi mengenaskan. "Kim Taehyung,"

"J-Jimin..."

"Ya, Ya, kau aman bersamaku. Sekarang tenang, aku akan melepas –"

Jimin hendak merapikan Taehyung ketika pemuda manisnya mencekal lengannya. Jimin bersitatap dengan manik Taehyung yang sayu dan memohon. Jimin mengerjap dan meneguk ludahnya begitu berat. Dia dibuat bingung dengan keadaan aneh seperti ini. Dia harus susah payah menahan diri atau ia justru akan melukai Taehyung lebih jauh. Namun suaranya tercekat kala ingin bersua, tidak mampu melempar satu kata untuk merespon Taehyung yang membawa tangannya pada tubuh panasnya yang bergetar menahan nikmat. Mata itu begitu menggoda, suaranya terdengar mendesah tertahan, dan tubuhnya yang telanjang menjadi kelemahan bagi Jimin. Dia semakin panik dan menjadi bingung harus berbuat apa, ia juga tidak mengerti apa maksud Taehyung. Suaranya masih tidak keluar untuk mencegah Taehyung yang memainkan tangannya untuk menyentuh tubuh Taehyung sendiri. Namun Jimin juga ikut bergetar menahan syahwat, jantungnya bertalu-talu dengan kurang ajar.

Bibir Taehyung terbuka sensual, "Sentuh aku. Please,"

.

.

.

.

.

To Be Continued.

.

[edisi: sesi panjang lebar]

Noun; cuap-cuap

..

Astaga! Pertama, mau mengucap terima kasih pada kalian semua yang support fanfik ini (termasuk review, favs, follow, bahkan merekomendasikan ff ini ke temen-temen). Karena sumpah, ini fanfik pertama saya yang mendapat kritik, saran, dan cinta yang begitu banyak. Bahkan dengan reviews lebih dari dua ratus; saya tidak menyangka akan sejauh itu. Katakan saya lebay tapi saya benar-benar seneng dengan reaksi positif dari kalian! Sekali lagi, terima kasih!

Ah... mungkin chapter ini agak terlalu panjang dan banyak adegan gak penting? Atau malah feel-nya turun karena kurang angst?

Setelah mendapat review dari postingan chapter sembilan yang banyaaak, saya termotivasi untuk menulis lagi. Kebetulan tugas kampus juga udah kelar (walaupun minggu depan masih ada lagi) dan belakangan ini banyak jam kosong jadi bisa nyempetin ngejar fanfik ini. mungkin memang kepanjangan, tapi saya ingin menceritakan dari segala sisi, jadi gak semua berporos pada Taehyung yang menderita. Sekali-kali ada juga scene dari keluarga Namjoon, juga bagaimana Jihoon dan Jungkook yang sebenernya udah cocok jadi saudara meski saling berantem. Juga bagaimana Jungkook lama-lama menderita.

Satu karma yang ia dapat; kehilangan teman dan kepercayaan.

Oke, mungkin sekiap cuap-cuapnya.

[ sugantea ]