C'est La Vie

Chapter Ten

© 2015 This story belong to me. The Cast belong to their agency. If there same place or anything else, its not on purposed. This story just fiction.

KAISOO Pedofile FANFICTION

MATURE CONTENT

BY DON'TJUDGEMELIKEYOU'RERIGHT

Proudly Presents

Author POV

Kris baru saja memarkirkan Pagani-nya di lantai basement. Tao ada disebelahnya dengan katupan mata yang enggan terbuka. Wajar saja, toh ini masih pagi buta. Barangkali, pemilik apartemen yang mereka kunjungi juga belum terbangun. Kai, mereka ada disini karena pria berkulit gelap itu harus mendapatkan apa yang dimintanya. Setelah aksi pencurian kemarin siang, hasil itu kini sudah ada ditangan Kris dan Tao.

"Tao-ya, sudah sampai." Kris mengguncang bahu Tao, nihil karena tidak ada pergerakan selain lenguhan. "Ya~ Tao-ya, aku juga mengantuk, tahu. Setelah mengantar ini, kita bisa pulang kembali. Oke?"

"Mmh~ Gege, berisik." Tao meringkuk lagi, acuh. "Lima menit, sebentar. Nghh..oh-oh, tapi aku merindukan Kyungsoo." Kris memutar bola matanya, malas. Ternyata Tao masih belum berubah, mengejar Kyungsoo sama saja mencari mati. Uh. "Nanti kita mengantarnya lagi, kan? Ke sekolah? Gege.."

"Itu pun kalau Kai menyuruh, sepertinya Kyungsoo sudah sedikit akrab dengannya. Kau mau apa kalau sudah begitu?" Kris menutup kaca jendela, lalu mencabut kunci dari lubangnya. "Ayo, cepat bangun, pemalas."

Tao akhirnya menurut, setelah sebelumnya mengerjapkan mata berulang kali. Agak membuat Kris jengah karena lama menunggu diluar bersama dingin yang menggigit tulang. Tapi kemudian, si mata panda itu keluar dengan langkah terhuyung, menandakan bahwa ia memang masih ingin terlelap. Pada akhirnya, tidak ada pilihan lain bagi Kris untuk menuntun Tao, hingga mereka kini sudah di elevator.

"Ya~ Gege, jangan pegang-pegang, aku mau mengucek mat-"

"Siapa yang pegang-pegang? Kalau kau tidak dipegangi, kau mau jatuh tersungkur? Dasar tukang tidur!"

Tanpa disangka Tao, reaksi Kris benar-benar diluar dugaan. Hingga Kris melepaskan tangannya dari lengan Tao, lalu membuang muka. Ah, mungkin mood-nya sedang buruk hari ini. Begitu bunyi ting! terdengar, Kris melangkah mendului Tao.

"Ya~ Gege, kenapa, sih? Sepertinya kau sedang Pre-Menstru-"

"Laki-laki tidak bisa menstruasi, bodoh! Kau mau mengataiku?"

Astaga, padahal Tao hanya ingin bercanda, yang sekiranya bisa mengurangi kekesalan Kris. Entah didapat darimana, setiba-tiba itu kakaknya menjadi mudah tersinggung. Lalu, ini pintu kamar Kai, Kris mengetuk tidak serantan. Tao berpikir mungkin saja kakaknya juga terserang hawa kantuk, hingga ia mudah marah seperti tadi.

"Tsk. Kemana si hitam itu, sih?" Tao menggeleng, sementara Kris tetap mengetuk—kali ini menggedor dengan keras-keras. "Kalau dia tidak membukanya juga, aku ak-"

"Akan apa?" Kai disana, memotong gertakan yang hendak diucapkan Kris. Seketika membuat Tao terkejut. Kemunculan tiba-tiba Kai juga tidak diduga, Tao hanya tidak habis pikir kenapa pagi ini semua orang selalu melakukan hal tak terduga yang tiba-tiba. "Masuk."

"Oh, Kai. Kau tak tahu betapa amburadulnya perasaanku hari ini." Kris mulai mengoceh, ia merebah badan disofa empuk milik Kai. Sementara Tao memusatkan pandangannya ke kamar yang pintunya setengah terbuka, kamar Kai dan Kyungsoo. "Apa Kyungsoo belum bangun? Hei, dia bisa terlambat ke sekolah."

"Kupikir dia tidak akan ke sekolah hari ini, sayang dia tidak mau dan tetap memaksa." Kai menyingkap tirai, biarkan cahaya matahari menyilaukan retina ketiganya. "Dia sudah ada kemajuan untuk tidak ketakutan lagi melihatku."

"Bagus." Kris memejamkan matanya barang sebentar, "Berkasnya sudah kudapatkan dari kemarin, aku baru sempat mengantarnya sekarang." Telunjuk Kris mengarah ke map kuning yang ada di meja nakas. "Rencana selanjutnya?"

"Belum ada, ah terima kasih Kris, Tao. Aku berhutang banyak untuk ini." Kai mendudukkan diri didekat Kris, ia membuka-buka lembar didalam berkas tersebut, lalu tersenyum. "Masih tanda tanganku. Oh, astaga. Kalian menyelamatkanku."

"Itu juga berkat kebodohanmu." Kris membuka matanya lagi, "Kau mau kami yang mengantar Kyungsoo at-"

"Aaaaaaaa~!" Itu suara Kyungsoo, berteriak histeris dan segera membuat ketiga orang dewasa itu melesat menuju sumber keributan. "Pergi! Pergi! Hiks, Ahjussi jahat! Aaaaaa~!" Mata bulat itu masih terpejam, isyarat bahwa bocah mungil itu tengah tertidur. Kesimpulannya adalah, dia sedang mimpi buruk.

"Mm, sisa-sisa traumanya masih ada, Kai." Kali ini Tao berucap tenang, ia maju selangkah. Berada didepan Kai dan Kris yang sama melongo. "Mungkin ia sudah mau menerima, tapi tetap saja anak kecil sulit menghilangkan rasa takutnya."

"Kau terdengar seperti psikiat-"

"Aaaaaaa~! Aku bilang pergi! Kyungsoo takut, uhh, hiks, sakiit, aaaa~!" Kai membiarkan Kyungsoo memutus kalimatnya, tapi hatinya seolah teriris. Apakah Kyungsoo masih setakut itu? Terbukti lewat dua lengan kurus itu, yang mulai menutupi wajah dan keringat dingin membuatnya bergerak gelisah.

"Tapi kemarin kami baik-baik saja, maksud-"

Tidak ada yang mendengarkan omongan Kai, Kris kini mengikuti Tao. Mendekati Kyungsoo dan berjongkok disebelahnya. Tangan Tao sudah mengelus lembut surai basah Kyungsoo, sementara Kris ada disana karena ingin mengawasi adiknya.

"Kalau sudah begini, bangunkan ia dengan cara yang halus. Kau sudah berlatih untuk ini?" Lagi-lagi Tao bersikap seolah ia sedang menggurui Kai. Tapi untuk sekarang, Kai tidak akan membantah, toh ia tidak tahu cara bermanis-manisan dengan anak kecil. "Turuti semua keinginannya, dia akan cepat luluh. Kalau ia ingin ke sekolah kau jangan melarangnya."

Kai mengangguk, tidak terlihat oleh sepasang kakak-beradik itu. Ia berjalan mendekat, ikut menyaksikan bagaimana Tao mengatasi hal ini. Kyungsoo masih menggeliat, airmatanya merembes sedikit.

"Kyungsoo-ya, ayo, bangun. Ini sudah pagi. Kau pasti tidak ingin terlambat ke sekolah, kan? Sssh, semuanya akan baik-baik saja, kau tidak perlu takut." Suara Tao mendominasi ruangan ini, lalu Kris segera menyibak tirai dan biarkan sinar mentari menyerbu lewat kisi jendela. Kai agak memicing, merasa silau.

"Nghhhh~" Tidak, astaga. Mengapa dengan mendengar lenguh setengah desah dari Kyungsoo membuat Kai maupun Tao sama-sama menegang? Kai pintar saja menyembunyikan reaksinya, tapi Tao tentu tidak. Kai sadar jika adik Kris itu menaruh ketertarikan pada 'miliknya' ini. "Tao Ge?" Mata bulat itu cerah, benderang. Berkedip lucu, sungguh menggemaskan. Hanya bukan waktunya jika mereka ingin mencubit pipi itu. "Hueee~ Tadi Kyungsoo mimpi jelek, Ge. Ada, ada, ada, hueee~"

"Sudah, sudah, sekarang sudah tidak ada." Sialan. Ingin rasanya Kai merajam Tao karena selancang itu ia memeluk Kyungsoo. Namun, hanya angan, karena bagaimana pun Tao adalah adik sahabatnya yang sudah banyak memberikan bantuan. Bayangkan saja jika kehadiran mereka tidak ada, mungkin Kai akan kerepotan menenangkan Kyungsoo. Ujung-ujungnya, ia akan membentak dan Kyungsoo akan takut lagi padanya. Memang serumit ini.

Tao membenahi posisi Kyungsoo, mengajaknya agar terduduk. "Kau mau ke sekolah?"

"Yaaaa~ Aku merindukan Sehun dan Baekhyuuuun~" Kyungsoo bersorak sendiri.

Entahlah. Kai merasa panas saja melihat keakraban Tao dan Kyungsoo. Kris yang sejak tadi mengamati di sudut kamar, hanya mengangguk lalu menggeleng sambil sesekali menguap. Benar-benar, dua orang ini bisa jatuh dipesona yang sama. Bedanya, adalah Tao selalu mencari kesempatan dalam kesempitan dan sebalik itu, Kai telah memegang kuasa atas Kyungsoo.

Tao menggendong Kyungsoo kini, "Aku akan memandikan Kyungsoo. Kalian bisa menyiapkan sarapan." Apa? Bahkan dia berani memerintah Kai? "Oh, maksudku, Kris Ge yang membuat sosis panggang dan telur mata sapi. Maaf, Kai, aku pinjam dia dulu supaya bisa tenang."

Tenang apanya? Kai mengusak rambutnya sendiri begitu Tao dan Kyungsoo sudah ada didalam toilet. Kris datang, ikut berjongkok didepan Kai. "Hah, jangan memedam dendam kepada adikku, Kai. Kurasa penyakit pedofil kalian benar-benar kekanakan." Lalu Kris menyulut cerutu, menghimpitnya dibelahan bibir. "Ya~ Jadi, dimana bahan-bahan untuk memasak?"

"Tsk. Memangnya kau sudah meminta ijinku untuk merokok?"

"Ah, karena trauma Kyungsoo belum hilang sepenuhnya saja, itu mempengaruhi sikapmu terhadapku juga?"

"Hah~ Sudah sana masak. Aku juga lapar."

Karena Kai enggan membahas ini. Ia berlalu pergi dari kamar, sisakan Kris menyeringai bersama kepulan asapnya. Ia mendengar gemericik air, belum lagi canda-tawa didalam sana yang agak mengusik hatinya. Bagaimanapun, disana hanya ada Kyungsoo dan Tao. Demi Tuhan, mereka hanya berdua. Tidak, ini kesalahan dan kelengahan yang terjadi disatu waktu.

Maka Kris segera melangkah ke depan pintu kamar mandi, memukul bahan mahoni itu sekali tapi cukup keras. "Tao-ya! Tao-ya! Jangan macam-macam dan jangan main-main~ Kau tidak ingin mati hari ini, kan? Mandikan dia sewajarnya, Tao-ya!" Saat ini, malah Kris yang kelimpungan. Merasa bahwa tanggung-jawabnya diruntuhkan secara paksa.

"Gege cerewet!" Sahutan itu semakin membuat Kris dongkol setengah mati. "Aku baik-baik saja dengan Kyungsoo, tenanglah. Aku masih ingin hidup. Kalau menyentuh sedikit-sedikit tidak masalah, kan?"

"Sialan! Tao-ya!" Tak peduli makian Kris, Tao tetap menyabuni Kyungsoo. Ia mencurahkan seluruh atensinya untuk balita itu, yang sedang semangat menceritakan teman-teman dan gurunya disekolah, yang sedang menceritakan bagaimana Kai memperlakukannya belakangan ini. Ah, mungkin Tao hanya berandai, jika saja Kyungsoo menjadi mil- "Tao! Ya! Kau dengar aku, kan?!" Gegenya selalu memutus alur imajinasinya.

"Yeee! Gege masak saja sana!" Akhirnya, Tao membentak. Mungkin Kris sudah lelah berteriak dan memukul pintu, ia tidak ingin bekas merah ditangannya menjadi tanda tanya bagi Kai. Jadi, benar, tidak ada pilihan lain selain menuju dapur dan memasak. Sambil tetap melafalkan doa agar tao tak bertindak diluar batas. "Nah, Kris Ge sepertinya sudah tidak didepan. Kyungsoo-ya, biasanya mandi sendiri?"

Kyungsoo mengangguk, ia asik memutar-mutar dan menerbangkan bebek kuning, teman barunya saat membilas tubuh. Tao merendamkan tubuh telanjangnya didalam bak mandi, bersama buih sabun yang membusa. Benar-benar, balita seimut ini sangat mengeraskan sesuatu dibawah sana. Tao berusaha menahan hasrat itu, selain pengalihannya dengan meraba punggung sempit Kyungsoo.

"Hueee~ Bebeknya bisa terbang, Ge. Lucu, yaaa~"

Tao tertawa, masih mengusap-usap setiap bagian tubuh Kyungsoo menggunakan sikat. Tidak boleh terlalu lama jika tidak ingin mengundang kecurigaan. Beruntung, yang sempat mengingatkannya hanya Kris, tidak sampai Kai yang mungkin saja bisa memecatnya atau parahnya lagi langsung memenggal kepala Tao.

"Aaaaa~ Harusnya bebek ini punya teman lain, Ge."

Tiba-tiba, Tao sudah mengangkat Kyungsoo, membenamkan tubuh dan kepalanya dalam balutan handuk tebal. "Minta ke Kai ahjussi, atau Pamanmu itu, Kyungsoo-ya." Kyungsoo merasakan Tao sedang mengeringkan rambutnya, mengacak-acak helai itu hingga berantakan. Kyungsoo diam saja, tapi bibirnya mengerucut. "Kenapa? Dia lebih kaya dari pada Tao ge, tahu."

"Tapi tetap jahat." Kyungsoo memperhatikan tangan Tao yang cekatan mengolesi tubuhnya dengan minyak hangat. Sebersit bayangan Min-ah pun tergambar dibenak. "Mm, jadi merindukan Min-ah, sedang apa dia, ya? Ahjussi itu tetap jahat karena tidak membolehkan Kyungsoo menemui keluarga Kyungsoo lagi. Padahal Kyungsoo kangen Hyera dan Halmeoni di Daegu."

Sentilan Tao dihidung Kyungsoo memang bentuk perwujudan lain untuk menghalau birahinya. Kemudian ia memakaikan seragam TK Kyungsoo, mengaitkan kancingan, dan merapikan kerahnya. "Tao ge dan Kris ge sudah berjanji akan membawamu kesana, kan? Nanti kalau waktunya sudah tepat." Sekarang celana pendek kotak-kotak itu sudah terpasang pas di kedua paha Kyungsoo. Tao mulai menyisir rambut Kyungsoo, begitu telaten hingga kini mereka sudah berasa didepan cermin.

"Tao ge, yang mengantar Kyungsoo siapa?"

"Pamanmu, mungkin."

"Yaaaah~"

Sirat kecewa itu tak ingin terlihat lebih lama, Tao segera menggandengnya ke ruang makan. Kris sudah menyediakan apa yang dimintanya, telur mata sapid an sosis panggang adalah sarapan sehat untuk balita seperti Kyungsoo.

"Kris ge, dimana Kai?" Tao mencari keberadaan pria itu lewat matanya, tapi diseluruh penjuru ruangan nihil sama sekali. "Apa dia marah, ya?"

Kris mengedikkan bahu, "Mana kutahu. Sudah kubilang, jangan sembarangan. Lancang sekali."

"Tapi tadi dia tidak memprotes apa-apa. Jadi, kupikir dia setuju saja." Tao mendudukkan Kyungsoo dikursi, memakaikan celemek agar noda makanan tidak mengotori bajunya.

"Dia bilang ingin keluar ke minimarket sebentar." Kris berujar sambil lalu, ia mengambilkan sendok dan garpu untuk Kyungsoo. "Kau mau telur saja, sosis saja, atau dua-duanya?"

"Dua-duanya, Kris ge~" Rajukan Kyungsoo ulaskan senyum dari Kris. Ia turut meletakkan apa yang diminta Kyungsoo ke piringnya.

"Nah, silahkan dimakan, Tuan Kyungsoo."

Kyungsoo sempat tergelak mendengar guyonan dan melihat cara Kris. Tao yang menuangkan susu segar ke gelas disamping piring itu, lalu menjawil dagu Kyungsoo.

"Jangan lupa juga meminum susunya."

Saat ketiganya sudah bergabung di meja makan—dan telah menikmati suap demi suap nasi— pintu utama tiba-tiba terdorong tidak serantan. Ah, Kai tentu saja pelakunya, dengan sekantung bungkusan entah apa. Ia menyambut penghuni apartemennya dengan senyuman tak terbaca, tapi kemudian mendudukkan diri dihadapan Kyungsoo, selingan tatap Tao dan Kris yang terus memperhatikannya.

"Kau membeli apa?" Kris yang berani bertanya.

"Kenapa kalian melihatku seperti pencuri? Ini apartemenku." Seloroh Kai tidak terima sambil mengunyah suapan pertamanya, lalu menelannya dalam sekali tenggak. "Ayo, Kyungsoo-ya, habiskan makananmu. Setelah ini kita berangkat."

"Ya~ Kai cemburu, eoh?" Lagi-lagi hanya Kris yang berani menggoda.

Kyungsoo tidak lagi berselera, meski kepalang tanggung karena sudah separuhnya. "Kyungsoo mau berangkat bersam-"

"Tidak bisa, Kyungsoo. Kau berangkat denganku." Desisan Kai menajam, ia tidak menerima penolakan. Sayangnya saja, ia lupa sedang berhadapan dengan Kyungsoo. "Kalau kau tidak mau makan lagi, sekarang minum susunya."

Kyungsoo mencebik, kali ini sengaja membanting alat makannya. "Aku tidak mau! Pokoknya aku mau diantar Tao ge dan Kris ge!"

"Kyungsoo," Tao menggenggam tangan kecil Kyungsoo, memberi instruksi agar ia mengikuti ujaran Kai sekaligus meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja. Namun, anak kecil selalu memiliki argumen lebih kuat dan Kai selalu tidak sabar dengan hal itu. "Kau sudah selesai, kan? Ini sudah jam tujuh, nanti kau terlambat."

Dengus berat dari Kai mengeras tatkala lagi-lagi Kyungsoo menempel pada Tao. Tidak ada cara lain selain menjauhkannya, Kai menarik Kyungsoo lalu menggendongnya. "Ya! Turunkan aku Paman jelek, hitam dan menyebalkan! Ya!" Kai tak peduli tangan-tangan kecil itu memukuli punggungnya, tapi senyuman hadir kembali.

"Terima kasih Tao dan Kris, sudah bersedia mengurus pagi-ku yang berantakan." Kai menghilang dibalik pintu utama. Ia keluar dengan langkah cepat bersama Kyungsoo yang berteriak-teriak dan tak henti memaksa ingin turun.

"Aku sudah bilang, Tao-ya. Sekarang aku tidak mau tahu bagaimana caramu meminta maaf padanya." Kris merapatkan mantelnya, lalu menyambar kunci cadangan apartemen Kai. "Ayo pulang."

Tao tampak terpekur sebentar, "Yaaa~ Gege, bantu aku meminta maaf, ya?" Lalu langkah seribunya menyusul Kris yang kini sedang mengunci pintu.

"Kalau itu karena kesalahanmu sendiri, maaf saja aku tidak bisa membantu. Masih beruntung Kai tidak mengamuk berlebih, setidaknya ia bisa mengontrol diri." Kris menekan tombol elevator, Tao ada disampingnya dengan kepala tertunduk dalam.

"Aaaah~ Habis Kyungsoo menggemaskan, sih." Kris mengangkat tangan mendengar komentar itu, isyarat tidak peduli. Ia memilih untuk menulikan telinganya kalau saja Tao masih mengoceh ini-itu. "Kris ge, yaa~ Tolong aku, ya?"

-ooo-

Kai memasangkan sabuk pengaman untuk Kyungsoo, lalu ia menyalakan mesin hingga detik berikutnya terfokus pada jalanan. Kyungsoo pun diam, selain bibirnya yang dimajukan setengah centi, tidak ada lagi gelagat aneh yang ditampilkan balita itu.

"Paman jahat. Kenapa selalu merusak kebahagiaanku, sih?"

"Memangnya kau tidak bahagia kalau hanya bersamaku?"

Kyungsoo kontan menggeleng, sambil tetap memegangi sabuk pengamannya dan mata nyalang yang menatap luar jendela. "Apa Paman lupa membawa tas-ku?"

"Sudah ada dibelakang." Kai tidak mempermasalahkan bagaimana Kyungsoo sulit membuka diri. Memang begini konsekuensinya, bukankah ia harus terima? Toh ini semua karena kesalahan masa lalu yang sulit dimaafkan. "Kau mau cokelat?"

Kyungsoo tidak menjawab. Itu artinya lampu hijau pertanda setuju. Kai melemparkan bungkusan yang tadi ia bawa dan kini sudah ada dipangkuan Kyungsoo. "Ini a-apa?"

"Buka saja." Kai menunggu tangan-tangan itu bergerak sangat lamban. Lalu dapat ia lihat bagaimana mata bulat itu membola sempurna. "Kau suka? Ambillah. Kau mau? Makanlah."

Dengan begini seharusnya Kyungsoo mudah luluh, Kai sudah positif seratus persen tanpa gugatan. Sayang, hilang tak berbekas saat Kyungsoo begitu saja meletakkannya di atas dashboard. "Paman pikir aku orang yang mudah disogok?"

Hah? Kai jelas tak percaya. Kyungsoo adalah balita berumur lima tahun, dan dia bisa mengucapkan hal sedewasa itu? Oh, Kris pernah bilang kalau anak ini memiliki riwayat jenius. Cih, riwayat?

"Bukan menyogok. Hanya membuktikan kalau Paman juga sebaik Tao dan Kris." Kai meremas kuat setir kemudinya, agak sanksi menanti jawaban apa yang dilontarkan bocah berotak milyaran sel itu. "Ya, kan? Paman hanya ingin kau percaya."

Tapi tidak ada tanggapan. Kai seolah berbicara dengan tembok beton. Hah, kalau saja Kyungsoo sama seperti bocah normal lain, yang perhatiannya mudah terenggut karena hal sepele. Oh, bukankah Kyungsoo memang normal? Hanya ada tambahan, tsk. Salahkan saja mengapa Kai jatuh cinta pada balita semacam Do Kyungsoo.

"Baiklah, kalau begitu kau mau apa? Supaya memaafkan Paman."

Beruntunglah, perjalanan dari apartemen Kai menuju sekolah Kyungsoo lumayan jauh. Sehingga masih ada tenggang waktu bagi mereka untuk mendinginkan diri dan mengobrol hangat. Meski Kai seakan tak memiliki penumpang lain dimobilnya. Toh, wujud Kyungsoo jarang mengeluarkan suara.

"Ada Hari Ayah lusa. Kyungsoo mau pulang."

Hari Ayah? Meminta pulang? Mungkin otak jenius Kyungsoo sedang korslet. "Ayahmu kan sedang di penjara." Kai menengok, dan mendapati Kyungsoo menepuk jidatnya. "Dasar pelupa."

"Aku tidak lupa, Paman. Aku hanya ingin menjenguk Appa."

"Dasar, hobi berkelit dan membodohi orang tua. Tsk, tsk."

"Aku bilang aku tidak lupa. Aku juga tidak sedang membodohi Paman."

Tidak tahu bagaimana awalannya, hingga mereka malah berdebat. Entah Kai yang ingin mengetes kepintarannya dibanding Kyungsoo, atau Kyungsoo yang memnag benar-benar polos dibawah pengaruh Kai.

"Kalau begitu, biar Paman yang mewakili Appa-mu. Anggap saja begitu."

Kyungsoo merubah-rubah ekspresinya, lalu mengamati garis tegas wajah Kai. "Apa Paman yakin? Paman tidak akan mempermalukanku?"

"Ya~ Kau pikir aku apa? Memang sekolahmu itu melarang orang kulit tan untuk ikut acara?"

Kenapa Kai tahu pikiran Kyungsoo? Itu karena balita yang membuatnya jatuh cinta malah terkikik heboh. Secara tidak langsung mengatainya. "Aku takut Paman akan memegang-megang tubuhku seperti waktu itu. Ini kan didepan khlayak ramai."

"Berkelit lagi. Bilang saja kau mau mengejek kulit eksotisku." Kai tetap menatap lurus, kemacetan mulai membuatnya pegal. Tapi, tunggu, ada satu hal yang terlewat. "Oh! Jadi, kalau Paman memegang-megangmu ditempat sepi, kau mau?"

Mata bulat itu bergerak-gerak liar, sembari satu telunjuk menopang dagunya. Astaga, anak ini memberi harapan untuk Kai, meski ia tidak tahu ini trik untuk mengelabuhi sekaligus permainan bocah jenius yang menyebalkan. "Tidak! Enak saja, Paman pikir tidak sakit?"

"Yaa~ Sekarang Paman akan melakukannya lebih lembut."

"Tidak mau! Paman kan sudah janji kalau tidak akan melakukannya lagi."

Benar juga. Kalau sudah termakan skak mat milik sendiri, Kai bisa apa? Kemudian, Porsche-nya sudah berbelok ditikungan, dan gerbang sekolah Kyungsoo tampak bersama murid-murid bagai kurcaci yang berlarian dihalaman.

"Kyungsoo-ya, tidak perlu gengsi. Kau pasti ingin makan cokelatnya, kan? Bagikan dengan teman-temanmu juga." Kai menyodorkan bungkusan itu, lalu tangan-tangan kecil itu ia rapatkan agar menggenggamnya. Kyungsoo memutar bola matanya, tapi kemudian ternsenyum tulus.

"Aaah, terima kasih, Paman. Baiklah, kuterima sebagai bentuk sogokan." Tsk.

"Kyungsoo-ya. Ingat pesan Paman yang satu ini. Jangan berdekatan dengan gurumu yang kemarin. Suho songsaenim itu. Dia mesum dan berbahaya. Pokoknya kau harus hati-hati. Jangan sembarangan. Kalau dia mendekatimu, larilah." Kyungsoo mencerna kalimat wanti itu, benar juga.

Balita itu pun mengangguk, "Paman takut kehilangan aku, ya?"

"Bodoh! Tentu saja." Kai memandangi wajah tanpa dosa itu, begitu..begitu..ah. Entahlah. Kyungsoo terlalu menawan hanya dengan bertatap muka seperti ini. Dia benar-benar telah merampas jiwa sekaligus raga Kai disaat yang bersamaan. Hanya ada rasa ingin memiliki, sayang dan takut kehilangan. Kai tidak bisa membayangkan, bagaimana hidupnya tanpa bocah bak malaikat ini. "Sana masuk, Paman jemput jam duabelas. Tunggu didalam jangan diluar."

Mungkin benar jika dengan kelembutan, perlahan trauma itu berangsur terkikis. Sehari ini Kyungsoo melupakan kerinduannya dengan keluarga, adik dan pengasuhnya. Tapi tak ada pertanda untuk hari esok, ia tak tertebak dengan sikap berkebalikannya yang berubah setiap hari. Sejauh ini, Kai hanya memaklumi. Menanti, menunggu, untuk apa yang ia perjuangkan.

Kyungsoo sudah membuka pintu mobil, kakinya bahkan sudah hampir memijak tanah, sebelum badannya terputar kembali. Tertarik tangan besar milik Kai sehingga wajah mereka bertemu, terutama bibir, dan "Mmmh~" Kai menciumnya, mencuri kesempatan dalam kesempitan, seperti yang dilakukan Tao. Kai tidak sekedar mengecup, lumatannya berujung lama, pagutannya berakhir panas, tanpa balasan. Karena Kyungsoo tidak tahu.

Setelah terlepas, Kyungsoo mendelik. "Sssh, Kyungsoo, jangan tatap Paman seperti itu. Yang tadi supaya kau semakin semangat. Fighting!" Nah, sekarang yang pandai berkelit siapa? Bukankah Kai?

"Paman memang sudah gila. Kyungsoo kan jadi kaget, bibir Kyungsoo juga basah."

Singkatnya, kalau sekedar mencium tidak masalah. Asal Kai tidak bermain dengan tubuh telanjang Kyungsoo. Trauma itu akan datang jika sudah menjurus ke hal-hal penggaris bawahan itu.

"Kyungsoo, ingat pesan Paman. Hati-hati dengan Suho, guru jadi-jadianmu itu."

Karena Kai tidak terpikir lebih jauh, Kyungsoo hanya mengangguk sekilas dan kaki-kaki lincahnya berlari menuju kelas. Apa ia akan baik-baik saja? Bagimana pun Kyungsoo ada disarang buaya dan kandang macan sekaligus, apa Kai semudah itu menyerahkannya sebagai umpan? Tidak, Kai hanya perlu meyakinkan diri.

-ooo-

Baekhyun sedang bersama Chanyeol sekarang, ia tak menyadari kedatangan Kyungsoo yang mulai bisa tersenyum sumringah. Ia segera menghampiri bangkunya bersama Sehun, tapi teman sejawatnya itu belum tampak. Kyungsoo mendudukkan diri didekat jendela, seperti biasa ia menata peralatan tulis dan bukunya diatas meja.

"Sehun tidak masuk, Kyungsoo. Kau sendilian, uh." Tiba-tiba Baekhyun sudah ada disana, bersama kakaknya, Chanyeol. Kyungsoo sendiri juga tak habis pikir mengapa ia begitu membesarkan masalah kecil. Hingga sikap dingin dan suara ketusnya benar-benar membuat Kyungsoo sedikit jengkel. "Kyungsoo tidak akan punya teman hali ini."

"Biarkan. Aku tidak masalah. Lagipula, kenapa Baekhyun marah-marah terus, sih? Kyungsoo kan sudah meminta maaf." Chanyeol yang ada diantara mereka hanya bisa mengulum kata. Ia tidak berani menyela adiknya yang sedang berapi-api. Meski ia mengikuti ini tanpa tahu apa masalah mereka berdua. "Yaaa, Baekhyun-ie mau memaafkan Kyungsoo, kan?"

"Masa dipegang saja Kyungsoo tidak mau, itu belalti Kyungsoo benci padaku." Baekhyun memalingkan wajah, sisi cemberutnya tertampil pada Chanyeol disebelahnya. Mereka berdua sama-sama bersedekap, seolah siap menanti pembelaan Kyungsoo. "Chanyeol-ie, Kyungsoo jahat, kan?"

"Tapi itu kan, sudah lama, Baekkie. Maafkan Kyungsoo lagi, ya. Kyungsoo juga tidak tahu kenapa bereaksi seperti itu, Kyungsoo tidak benci Baekkie dan Kyungsoo juga tidak jahat. Ya, kan, Chanyeol Hyung?"

Kini Chanyeol tak tahu harus berkata apa. Dua sisi ini menderanya dan begitu mendesak. Baekhyun adalah adiknya, yang tentu sangat ia sayangi dan harus dilindungi. Tapi Kyungsoo, menurut versi cerita yang didengarnya, Kyungsoo tidak salah. Oh ayolah, Chanyeol tahu kalau mereka memang masih anak-anak, tapi itu masalah wajar yang pasti dialami bocah seumuran mereka, kan?

"Tanya Songsaenim saja, deh."

"Hah?" Baekhyun menyatukan alis, tampak tidak terima. "Hyung jahat. Kenapa tidak membela Baekkie?"

"Aduh, Baek. Hyung juga bingung."

Setelah saran itu, objek yang dimaksud pun telah memasuki kelas. Lagi-lagi Chanyeol harus pergi dari kelas adiknya dan kembali menuju kelasnya sendiri. Suho sudah mendudukkan diri dikursinya, secara langsung membuat murid-muridnya berhamburan menuju kursi masing-masing.

"Chanyeol Hyung, jangan pelgi dulu." Baekhyun menahan lengan Chanyeol, hingga ia berhenti ditempat. "Bantu Baekkie bicala ke Songsaen-"

"Baekhyun? Ada apa? Kenapa kau tidak membiarkan kakakmu kembali ke kelasnya?" Baekhyun tidak menjawab, melainkan tatapannya terarah ke Kyungsoo. "Ada apa dengan Kyungsoo?"

"Kyungsoo tidak suka padaku, Songsaenim. Kyungsoo benci Baekkie." Suho mengukir senyum malaikatnya, lalu duduk dibangku Sehun yang kosong. "Chanyeol Hyung saksinya, kok."

"Memang benar, Chanyeol?" Kyungsoo ingat bagaimana Pamannya tadi membicarakan tentang guru yang satu ini. Mesum dan berbahaya. Sejujurnya, ia tidak tahu apa artinya mesum, tapi berbahaya? Itu lebih dari tahu. "Jangan menutupi kesalahan adikmu dengan berbohong." Karena Suho tetap membela Kyungsoo.

Chanyeol berganti memandangi Baekhyun, mencari kepastian. "Mm, kalau menurutku, tidak ada yang salah, Songsaenim. Mereka hanya salah paham." Suho mengangguk, setuju. "Jadi, lebih baik Songsaenim menyuruh mereka bermaafan."

"Ah, Chanyeol pintar sekali menganalisa dan menyelesaikan masalah, ya?" Suho memuji, senyum kelewat lebar itu pun tampak sebagai ucapan terima kasih. "Baiklah, kau bisa kembali ke kelasmu." Lalu Chanyeol pamit undur diri setelah menepuk bahu Baekhyun.

"Tapi-"

"Tapi apa, Baekhyun?"

"Tapi, Kyungsoo-"

"Tidak apa-apa, sekarang ayo bersalaman." Ungkapan mutlak Suho benar-benar harga mati bagi Baekhyun. Ia tidak menyangkal dan menyanggah, selain tangannya yang terulur lebih dulu. Meminta Kyungsoo untuk membalas jabat tulus itu. "Ayo, Kyungsoo."

Pada akhirnya, Kyungsoo tanpa ragu menggenggam tangan Baekhyun. Mereka resmi berteman kembali sekarang. Setelah Baekhyun menyadari betapa karena masalah itu hubungannya merenggang. Ia tentu tak ingin teman sebaik Kyungsoo menjauh, ia tidak rela sama sekali. Dalam lubuk terdalam, Baekhyun memang sangat menyayangi Kyungsoo.

"Sehun pasti senang melihat kita sudah belbaikan, Kyungsoo."

"Ne, Baekhyun-ie duduk denganku saja. Bagaimana?"

Suho menyingkir saat dilihatnya Baekhyun mengusir lewat isyarat mata. "Mm, sekarang kita akan adakan tes lisan menghitung, ya. Songsaenim tunggu diluar, siapa yang sudah siap harus maju dan menemui Songsaenim." Karena Suho seyakin itu, anak sejenius Kyungsoo pasti menjadi peserta pertama. Ia segera membereskan tas hitamnya, lalu membawanya keluar ruangan. Menunggu mangsa.

"Kyungsoo-ie tidak pelu belajal pasti bisa." Namun Kyungsoo menepis anggapan itu dengan membolak-balik halaman buku tulisnya. Sebenarnya yang menjadi masalah bukan karena grogi tidak bisa menjalani tes, sebalik itu peringatan Kai terus terngiang dikepalanya. Berhati-hati, intinya Kyungsoo jangan berdekatan dengan guru yang itu. Kyungsoo mengiyakan karena orang itu memang memiliki masalah terhadapnya. Terlalu aneh. "Tuh, kan, Kyungsoo malah melamun."

Dengan begini, mereka akan berdua saja dikoridor sana. Tanpa seorang pun tahu. Tanpa sadar pula Kyungsoo menggeleng berulang kali. "Tidak boleh maju berdua, ya? Misalnya Kyungsoo dengan Baekhyun." Baekhyun menggeleng pasti, menegaskan bahwa permintaan Kyungsoo itu mustahil adanya. Kecuali jika Suho mengatakan untuk tes lisan berkelompok.

"Kyungsoo takut apa? Kan Kyungsoo sudah pintal, pasti bisa menjawab soal-soalnya." Jemari mungil Kyungsoo itu sudah berkeringat, saling terkait satu sama lain. Dalam benaknya, ini bukan sesuatu yang beres. "Mau aku antal?"

Kyungsoo menggeleng, "Tidak usah. Aku maju sendiri saja, Baek." Kyungsoo bertekad kini, ia sebagai satu-satunya murid yang telah siap tanpa belajar. Terlalu mudah, sudah ia kuasai diluar kepala. Kemudian saat diambang pintu ia mendengar Baekhyun berteriak untuk menyemangatinya, sekaligus melihat bagaimana rupa Suho yang kini sedang menyilangkan kaki.

"Halo, Kyungsoo." Suho sudah menyediakan kursi mini untuk diduduki Kyungsoo. "Kau nyaman tinggal dengan Kai?" Sudah menjadi perkiraan Kyungsoo sebelum sampai kemari, gurunya ini memang bukan semestinya guru.

"Songsaenim bilang ingin mengetes kemampuan berhitungku."

"Ah, kesalahan jika aku bermusuh mulut denganmu. Sayang, ini hanya dalih semata. Sesuai seperti yang kuharapkan." Suho menyentuh puncak kepala Kyungsoo, tapi balita itu segera menjauhkan diri. "Kau datang pertama kali."

Menurut Suho, semua ini hampir rampung. Setelah dua bedebah itu mencuri berkas kepemilikannya, ia tak akan mudah menyerah. Memang apa guna Kyungsoo?

"Kenapa harus disini? Didalam kan bisa, Songsaenim."

Tapi Suho malah berdiri, mengantongi kedua tangannya disaku celana. "Ayo, ikut Songsaenim."

"Kemana? Ah, Kyungsoo tidak mau. Songsaenim masih harus mengajar."

Selanjutnya, Suho membungkukkan diri, sejajar dengan tinggi badan Kyungsoo yang hanya sebatas lututnya. "Ikut aku, atau ayah dan ibumu tidak akan bebas dari penjara. Mereka ada disana karena aku, bodoh." Terang saja Kyungsoo terkejut. Mana bisa, mana mungkin. Oh, tentu ini tetang permainan kamuflase. Tapi Kyungsoo tidak bisa berpikir sejauh itu.

Ayah dan ibunya tidak bebas? Meski mereka kerap menyakiti Kyungsoo, sungguh yang ia miliki sebagai keluarga adalah mereka. Jadi, "Baiklah, tapi tetap bebaskan Appa dan Umma lima tahun lagi." Suho tersenyum—setengah menyeringai—lalu menggamit jemari Kyungsoo dan mengajaknya berlalu darisana.

Tidak ada pilihan lain, Kyungsoo menuruti opsi ini. Melupakan bagaimana suara Kai terus membayangi kepalanya. Tidak seharusnya begini, tidak seharusnya ia bersama orang ini. Tapi buntut yang ditawarkan gurunya ini tidak bisa dibantah apapun. Kyungsoo tidak memiliki pandangan kemana Suho akan membawanya, hanya halaman belakang yang ia jumpai saat ini.

"Naik lewat tangga itu, Kyungsoo." Kyungsoo menggeleng, sedetik itu ia ingat tentang ancaman sebelumnya. Ini tangga darurat yang dipasang sembarang, dibalik tembok beton ini sudah pasti rerumputan dan bebatuan. Apa gurunya gila, menyuruh ia menjatuhkan diri? "Disana akan ada orang yang menangkapmu. Naik dan turun baik-baik." Suho sudah menghimpitnya, dorongan tangan itu dipunggung kecil Kyungsoo adalah paksaan.

Kyungsoo mengikuti arahan itu, perlahan ia menaiki anak demi anak tangga, kedua tangannya erat mencekal pinggiran daun yang merambat. Baru saat kepalanya melongok, ia merasakan Suho sengaja mendorong dirinya dan ia jatuh digendongan seseorang. Bukan itu saja, karena selanjutnya saputangan ber-kloroform sudah dijejalkan ke indera penciumannya. Kyungsoo tak sadarkan diri.

-ooo-

Kai sedang menyeduh kopinya, sembari menanti jarum jam berada di angka duabelas. Suasana apartemennya memang selalu sepi, tetapi semenjak Kyungsoo tinggal disini gairah hidupnya ikut bertambah. Beberapa detik setelah itu, pemandangan gedung-gedung tinggi Seoul adalah rutinitasnya bersama secangkir kopi, satu dari sekian banyak pekerjaannya mengawasi gelandang.

Selalu terganggu karena dering ponsel, kini nama diayar itu membuat Kai mengernyitkan dahi. Dia segera meletakkan cangkir kopinya, mengelap tangan, baru kemudian menempelkan benda itu ke telinga kanan. Dia tidak tergesa, hanya ingin terlihat natural.

"Ya?"

Tapi tidak ada sambutan, tidak ada suara seseorang dan tidak ada kata-kata. Hening selama lima menit, hingga- "Mmmh~mmh~" -hanya suara tertahan, Kai mensinyalir jika mulut itu sedang disumpal. "Mmh-mmph." Terdengar lagi dan semakin membuatnya gusar.

"Ya! Bangsat! Suho!"

Karena Kai tahu sekarang. Kai tahu apa maksud dan siapa pemilik suara itu. Bagaimana Kai tidak naik pitam?

"Sialan! Lepaskan Kyungsoo!"

Ponsel itu belum beralih, selain hanya teriakan Kyungsoo yang terdengar. Kai benar-benar panik sekarang, ia kehilangan akal dan entahlah. Kenapa Kyungsoo bisa sampai di tangan Suho?

"Ya, Kai?" Baru ini dia suara sialan yang berpura-pura tenang. Membuat Kai semakin geram dan hampir meremas ponselnya. "Is something bother you?"

"Brengsek! Tunggu, Suho, tunggu! Aku akan datang!"

"Baiklah, aku menunggumu. Oh, apa Kyungsoo? Kau mau menangis? Silahkan." Lalu suara Suho cepat berganti, isakan-isakan kecil yang membuat Kai memanas. "Kau masih disana, kan?"

"Hiks~ Pam-hiks, tolong, Kyungsoo, hiks-disini gelap, hiks~Pam-hiks, amp!"

"Suho! Kau apakan dia? Jangan macam-macam, Bajingan!"

Karena Kai tahu Suho kembali membungkam mulut kecil bocah kesayangan Kai.

"Sudah tahu masalah dan konsekuensinya, kan?"

Mungkin Suho bisa mendengar gemertakan gigi Kai, berikut nafas memburu yang tak terkendali.

"Kai, jangan membakar berkas yang kau curi. Paham? Aku ingin kau mengembalikannya."

Kai masih terdiam. Akal bulus macam apa milik Suho, kalau ia mengembalikan berkas, jaminan Kyungsoo selamat pun masih tidak pasti.

"Asal kau tahu, sekarang aku tahu mengapa kau mengidamkan Kyungsoo. Dia..ehm, menggiurkan." Kai tidak tahan lagi, ia hampir memekik. "Apa, Kai? Ah, aku tidak dengar."

Klik! Sial. Suho mematikan sambungannya. Padahal belum sempat Kai mengobral maut untuk pria penuh topeng palsu itu. "Ya! Suho! Sialan!" Kini tidak ada hal lain yang bisa dilakukan Kai, kecuali satu.

Ia segera menekan beberapa tombol, tidak serantan menunggu nada operator. "Tsk. Angkat-angkat, cepat, tsk." Kaki-kakinya terhentak dilantai, sementara jemarinya mengetuk dikusen jendela.

"Ya?"

"Ah! Kris?"

"Ya, aku Kris, ada apa Kai? Kalau kau mau memarahi Tao, kau bisa bilang send-"

"Hell, bukan masalah itu! Ini kronis dan gawat, Kris." Bahkan Kai bersumpah, Kris juga ikut menyuarakan kekhawatirannya. "Kyungsoo diculik Suho!"

"What the..heck?!"

"Tidak ada waktunya mengumpat, Kris. Jalankan rencana selanjutnya, aku bergantung padamu. Selesaikan, Kris, aku memohon padamu."

"Wow, Kai, you beg for me?"

"Kris!"

"Ya, ya. Aku kesana sekarang, kau harus ikut. Aku jemput."

Lagi-lagi sambungan terputus sepihak, Kris benar-benar. Ah, biarlah, Kai lebih mementingkan bagaimana anak buahnya itu harus membawa Kai pulang dan menjebloskan Suho ke penjara. Kai rasa, Kris lebih cerdik dibanding Suho. Lalu kenapa yang terdahulu ia harus mempercayai si wajah malaikat itu? Sialan. Tidak ada waktu untuk menyalahkan diri sendiri sekarang. Sesal pun percuma. Ini akibat mutlak.

Kai menyesap kopinya yang tertinggal, sejenak mengusap wajahnya sekali berharap tampak segar. Sayang, pikirannya hanya dipenuhi Kyungsoo. Ia lengah, ia kecolongan. Dan itu membuatnya tampak tidak berguna. Bisnis yang ia geluti dengan milik Suho jelas tidak jauh berbeda. Kalau saja Kris menyerahkan kasus ini pada kenalan temannya di kepolisian, bukankah beresiko?

Tsk. Kai semakin buntu sekarang.

-ooo-

Kyungsoo paling benci dengan ruangan sempit, gelap dan pengap. Sialnya, ia berada disini sekarang. Dengan tangan terikat dan kaki hampir terpasung, mulut dibungkam lakban dan mata tertutup kain. Bukankah kau merasa seperti tidak memiliki panca indera apapun?

"Halo, Kyungsoo, apa kau merindukan Pamanmu? Oh, kau sudah membuka hati untuk memaafkannya, ya?"

Terlebih jika suara memuakkan ini mulai menyapa telinganya. Seharusnya ia tak melulu menuruti kemauan guru gadungan ini, seharusnya ia berpegang teguh dengan peringatan Kai dan seharusnya yang lain tidak pernah sinkron dengan apa yang terlanjur.

"Oh, kau tidak bisa bicara, ya?" Suho ada dihadapan Kyungsoo, berjongkok tepat didepan dudukan balita itu. "Hentikan tangismu, Sayang. Pamanmu itu akan datang dan dia akan memohon padaku. Cih, dia tidak akan berani membawa-bawa komplotan, hah~ lupakan, kau juga tidak menegrti ocehanku." Lalu tangan itu sudah membelai surai cokelat Kyungsoo, tidak lagi bisa ia hindari karena ruang pergerakannya terbatas.

Hingga jemari besar itu turut menyentuh pipi Kyungsoo, mengalun turun dan sampai di dagu. Ia menyeringai, tak terlihat karena remang menyamarkan tabiat itu. "Aku ingin menikmatimu, tapi aku menghormati dirimu yang pasti masih trauma. Hm?" Suho pun tak berbaik hati untuk melonggarkan ikatan ataupun menyenggangkan sumpalan itu. "Kau lapar, ya? Ingin makan apa?"

Tidak habis pikir, Kyungsoo enggan menggeleng atau mengangguk. Itu sama saja menyertakan harga dirinya. Mengapa gurunya ini berubah menjadi penculik, dan apa maksudnya menanyai orang yang tak bisa berbicara?

Seharusnya Kyungsoo tahu, lewat hubungan tidak beresnya bersama Kai, ia pun tak kesulitan menebak. Tetapi, mengapa hanya dengan ancaman Appa dan Umma, Kyungsoo tak mampu mengelak?

"Kau mau susu?"

Krek~ Suho membuka lakban yang merekat dimulut Kyungsoo, menampakkan belahan bibir yang memerah disana.

"Well, kutanya lagi, kau mau susu?"

Kyungsoo bergeming, sengaja tidak merespon. Sedikit-banyak membuat Suho kesal menunggu.

"Kau mau pulang? Mau kembali pada Pamanmu yang tolol itu? Dia bahkan bukan benar-benar Pamanmu."

Suho mendecak, kali ini berdiri dibelakang Kyungsoo. Kedua tangannya diletakkan dibahu Kyungsoo, memjitnya pelan.

"Apa dia memperlakukanmu dengan baik? Apa dia tidak menyetubuhi atau membentakmu? Kuberi tahu saja, kalau kau ada bersamanya karena aku, dan keluargamu yang dipenjara itu karena permintaannya."

Dalam gelap kain hitam itu, Kyungsoo membulatkan mata. Lebih kepada menajamkan telinga agar bisa menyimpan informasi dalam ingatan.

"Karena dia menginginkanmu. Dia melakukan segala cara termasuk menyuruhku ikut bergabung. Ternyata mendapatkanmu lewat tanganku begitu membuatnya terlena."

Kyungsoo tidak bisa menangkap jelas apa maksud dibalik kalimat itu. Segala tentang orang dewasa dan masalah peliknya, sama sekali tak bisa Kyungsoo mengerti. Kecuali satu hal, Kai memang sudah merencanakan ini. Itu sebabnya, mengapa orangtuanya bisa masuk ke penjara, Min-ah tiba-tiba pulang, dan hak asuh ada di tangan si asing Kai.

"Ah, aku jadi menmbuka kartu, Kyungsoo. Tapi setidaknya, kau mengerti, kan? Tentang pertanyaan mengapa kau ada bersama Kai itu sudah terjawab. Latar belakang Pamanmu itu begitu rumit, Sayang, pasti kau cukup penasaran."

Suho sadar diri jika ia sedang mendongeng. Meski ia juga tahu bahwa maknanya tak mungkin tersampai untuk balita seperti Kyungsoo.

"Kai, Kim JongIn. Aku telah mengincarnya sejak lama, maksudku, mengincar gelandangnya. Orbitnya terbilang besar dan sukses meraup keuntungan melejit. Penyaluran barang-barang illegal yang mulus tak terendus Negara itu, ah astaga, aku tidak tahu bagaimana ia menjalankannya."

Kemudian, tangan Suho tersampir dikepala Kyungsoo. Menepuknya beberapa kali.

"Hingga dengan uang, ia bisa mendapatkanmu. Melalui aku yang berkedok dalam samaran, seandainya aku menyimpan berkas itu lebih baik, maka Kai akan hancur dalam hitungan minggu. Sayang saja, bukti relevan itu malah memicumu kemari."

Sekalipun Suho menanti suara serak Kyungsoo, nol besar. Balita itu membisu.

"Kau tidak ingin berkomentar? Apa kau merasa aman dengan Kai?"

Lama. Kyungsoo menunduk. "A-aku, aku, di-dia sudah berubah." Tergagap. Traumanya hadir kembali.

"Benarkah? Setelah kau mengetahui bahwa dia juga yang mencelakai keluargamu?"

Memang. Kyungsoo rasa Kai memang bejat. Mengerahkan apapun asal dirinya ada bersama dia. Tunggu, Kyungsoo bahkan tidak punya alasan lain, mengapa Paman itu begitu mencintainya? Apa yang menarik dari balita berumur lima tahun? Ah, tanyakan saja pada Kai mengapa ia terlalu jatuh dan sulit bangkit dalam kubang cinta Kyungsoo.

"Di-dia pasti menyelamatkanku."

"Setelah itu kau dirusak."

"Ti-tidak. Dia jahat dulu."

"Sekarang? Ah, sama saja."

Suho melengos, kibaskan tangannya. Ia mendekat ke wajah Kyungsoo, membaui ceruk lehernya sesaat. Lalu satu kecupan dipipi Kyungsoo itu hadir terlalu tiba-tiba, tanpa diduga dan terlalu cepat.

"Le-lepaskan aku! Kau bukan guru!"

"Memang. Kau pikir aku punya hati semanis kalian, kau pikir aku pandai mengajar anak-anak menyebalkan seperti kalian? Huh?"

"A-aku sudah me-mencurigaimu dari awal."

Setelahnya, Suho malah bertepuk tangan.

"Hebat sekali bocah jenius! Kelak kau mungkin akan menjadi detektif dan hancurkan bisnis Pamanmu."

Bisnis, Kyungsoo tidak bisa mendeskripsikan kata itu. Kecuali rujukannya yang merepet ke pekerjaan. Kyungsoo menggeleng, berulang kali. Memaksakan diri untuk mengerti sesuatu, tak ada hasil. Ia tetap tidak mampu mengetahui urusan bak benang wol disatukan ini.

"Kenapa aku diculik, hiks~ disini gelap, Kyungsoo takut, hiks~"

"Maka diam dan jangan menangis, aku akan mengambilkan susu."

"Jangan pergi! Aku tidak mau sendirian, hiks~ gel-gelap, Min-ah, hiks.."

Suho melirik arlojinya, sejak dua jam lalu ia menelepon Kai, dia tak juga datang. Pikiran dan perasaan Suho mulai berdentum tak karuan. Apa rencana Kai kali ini adalah benar-benar meringkusnya? Tidak mungkin dia membawa sekawanan polisi, itu juga akan membahayakan bisnisnya sendiri. Tsk.

"Kyungsoo-ya, apa kau mulai menyayangi Pamanmu?"

Pertanyaan macam apa itu? Kyungsoo hendak mengulang kejadian menyakitkan beberapa waktu lalu. Mana mungkin ia bisa menyayangi orang yang menyebabkan trauma berkepanjangan ini? Kyungsoo tidak tahu harus menjawab apa. Ia berada dikubu tengah yang sifatnya condong ke kanan dan kiri.

Baiklah, sejauh ini Pamannya itu terlihat baik. Maksud Kyungsoo, penunjukkan bahwa ia berubah memang sudah terlihat, jadi Kyungsoo mengangguk. "Apa? Oh, kau menyayangi pemerkosamu sendiri? Dia pedofil, dia mencintai bocah itu tidak normal, Kyungsoo. Kau harus tahu!" Tanpa sadar, Suho menggelegarkan suara tingginya. Entah merasa kesal secara tiba-tiba. Adakalanya, ini adalah perasaan iri, sulit terdefinisi. Bagi Suho, Kai adalah bebuyutan.

"Ja-jangan, hiks~ jangan berteriak keras, hiks~ Kyungsoo tak-takut, hiks~"

"Takut?" Suho menepuk pipi Kyungsoo, sekali tapi sempat membuat wajah mungil itu terlempar. "Kau takut gelap, kau takut sendiri, kau takut suara keras. Apa yang kau berani, huh?"

"Ja-jangan membentak, hiks~ hueeee~ hiks~ Kyungsoo takuut, hiks-"

"Tidak akan ada apa-apa. Kita menunggu Pamanmu, kita lihat apa yang dia bawa. Heum?"

"Dia pa-pasti menolongku, hiks- lepaskan Kyungsoo, hiks- sakit, hiks-"

Suho tidak membalas lagi, langkahnya berderap menjauh dan semakin membuat Kyungsoo cemas. Sehingga ia berteriak dan memohon, percuma karena Blam! Keras adalah pertanda pintu telah ditutup. Kyungsoo benar-benar sendiri sekarang, orang itu tega meninggalkannya.

"Hueeee! To-tolong, hiks, Kyungsoo tak-takut, hiks-"

Hanya tangis dan lafal doa, Kyungsoo masih mengharap kedatangan Paman itu dan Kris ge juga Tao ge. Mereka harus datang secepatnya. Kyungsoo tidak ingin berakhir disini tanpa kejelasan. Sejahat apapun Kai, baginya hidup ditempat layak jauh lebih menjanjikan.

-ooo-

Mereka bertiga ada di Porsche milik Kai sekarang. Kris menyetir, Kai ada disebelahnya, dan Tao ada dibangku belakang. Laju mesin juga sudah dipercepat seiring kekalutan mulai melingkup. Mobil-mobil polisi berderet dibelakang mereka.

"Gege yakin membawa polisi adalah ide yang baik? Apa dia juga tidak mendengus keterlibatan kita di usaha yang sama dengan Suho? Bagaimana kalau Suho mengungkap semuanya tentang usaha kita?"

"Cerewet, Tao. Saksikan dulu saja." Kris mendesis, dalam hati Kai juga menanyakan hal yang sama dengan Tao. "Aku yakin membawa polisi karena kenalanku yang ini juga memiliki bisni gelap. Dia tidak mungkin membuka aib kita semnetara aibnya juga ikut terancam. Kalau Suho mengungkap usaha kita, mereka tidak akan percaya. Bagaimanapun aku ada dipihak mereka, dan ini semacam permainan yang telah kuatur. Kalian tidak perlu khawatir."

"Begitu? Ah, baiklah." Tao diam lagi, ia memainkan ponsel sembari bolak-balik memandangi jalanan. "Ge, lama sekali."

Tidak ada yang menggubris omelan Tao barusan, karena Kai sibuk dengan Kyungsoo yang memenuhi kepalanya. Juga Kris yang melulu menginjak rem dan gas bergantian, membelokkan setir kemudi dan menjuruskan seluruh konsentrasinya.

Hingga Kai melepas topangan dagu dari tangan kirinya yang menyandar di jendela, lalu berdeham. "Kau yakin Kyungsoo baik-baik saja?"

"Suho tidak akan berani macam-macam." Kris berujar santai. Kai mengangguk sekali. "Disana itu gelandang milik Suho. Sebentar lagi."

Ya, sebentar lagi, Kyungsoo. Kai tidak sabar menghantam wajah Suho, belum lagi menyaksikan bagaimana polisi-polisi itu memborgol tangannya dan biarkan ia mendekam di penjara. Tuduhan yang dilayangkan pun masuk akal. Penculikan dan bisnis gelap. Ah, jalannya memang selicin ini.

Kai tidak perlu memusingkan tetek-bengek lain. Kris dan Tao adalah andalannya, dan Kyungsoo akan kembali ke pelukannya. Pasti.

-ooo-

TO BE CONTINUE!

a/n :

Halohaaa~

Bagaimana Chapter ini? Ada culik-culikannya, hoho xD Kai sudah mulai baik, kan? Kyungsoo sudah sedikit luluh, kan? Tenang, chap depan Suho sudah diringkus dan beenr-bener ilang dari ff ini, baru deh focus kaisoo Sekaligus tentang skip umur, kemungkinan besar juga ada di chapter depan, tsk yay! Jadi umur sepuluh tahun, nih, si Kyungsoo.

Oh ya, maaf kalau bagian konflik Suho-Kai agak membingungkan dan sulit dimengerti. Atau ngga masuk akal. Jujur, author juga merasakan hal seperti itu, hehe :D Tapi, yasudalaaah, ini hanya imajinasi jadi bebas-bebas aja, kan? Wqwq

Siders, yuuk reviewnya? Diliatin dongg u,u

Thankiees buat yang sudah review~

Beberapa Chap lagi end kali, ya..duabelas? tigabelas? Entahlah.

OKAY! SEE YA NEXT CHAPTER!