This story belong to Purpleskies, and I just translate it.

Please don't reupload this story!

This is MY BELOVED KAISOO STORY LINE

NOCTURNA SUPPRESSIO

10

Summary :

Do Kyungsoo sangat menyukai tinggal di alam mimpinya. Dia menghabiskan banyak waktu hanya untuk bermimpi, menemukan sebuah kehidupan yang lebih baik dari pada kenyataan.

Tapi apa yang membuat Kyungsoo gagal untuk menyadari bahwa tidak semua mimpi indah akan terjadi seperti apa yang mereka—mimpi itu—tampakkan.

Foreword :

"Apakah kau lelaki yang ada di mimpiku?"

"Wow. Itu adalah hal paling murahan yang pernah aku dengar."

NOCTURNA SUPPRESSIO

FOR SERIOUSLY Please always read the special note from Me at the end of this story~


Saat itu pukul sembilan di malam yang dingin dan Kyungsoo hanya ingin berada di tempat tidur di bawah selimutnya. Ia membayangkan dirinya berada di kamarnya sendiri di rumah orangtuanya, bergelung di bawah selimut. Ia bahkan tak akan peduli bila kedua orangtuanya masih bertengkar atau saling berteriak, suara mereka menusuk dinding tipis kamarnya. Ia hanya ingin beristirahat sejenak, aman dalam lingkup ruang pribadinya dan tetap berada di sana hingga ia ingin keluar.

Namun Kyungsoo tak mampu mendapat seporsi kecil kemewahan itu karena ia tengah terjebak dalam pekerjaan, menyusun buku-buku tua untuk dikirim esok hari. Hal ini darurat, bosnya bilang. Ia membutuhkan bantuan Kyungsoo dan Kyungsoo juga tak bisa menolak. Ia menyukai bosnya. Ia suka bagaimana bosnya tak memberi Kyungsoo banyak masalah atau kesulitan. Dan ia membayar lebih untuk waktu lembur, cukup untuk Kyungsoo membantu membayar tagihan rumah.

Andai saja anak lelakinya tak aneh, Kyungsoo menghela napas saat ia memindahkan tumpukan buku di samping kanannya. Ia telah beberapa lama tak datang karena ia tak ingin bertemu dengan Luhan. Apapun yang terakhir mereka bicarakan masih terngiang di kepalanya dan satu-satunya waktu ia mampu menyingkirkan hal itu dari kepalanya hanyalah saat ia belajar atau di saat ia menyibukkan pikiran.

Seperti sekarang, pikir Kyungsoo saat ia mengangkat sebuah buku tua dengan lembut dari atas meja. Pekerjaan membantu.

Tak sengaja Kyungsoo meletakkan buku itu dengan kasar di atas meja konter dan setiup debu berterbangan. Terbatuk, Kyungsoo mengibas-ngibas untuk membersihkan semua debu darinya sementara ia menjatuhkan buku-buku yang tertumpuk di sisi lain.

Kyungsoo mengerang saat ia memungutnya, berharap halamannya tak terkoyak. Ia tak mau menyebabkan masalah dan saat ia membungkuk untuk memungut satu dari sekian banyak buku-buku dengan hati-hati, ia melihat bahwa itu adalah buku tentang mimpi dan ia terhenti.

Buku itu tua dan usang. Namun Kyungsoo tertarik pada hal itu seketika. Mengangkatnya ke atas konter, Kyungsoo berhati-hati membuka sampulnya dan melihat-lihat isi halamannya.

Ada banyak penjelasan mengapa seseorang bermimpi dan Kyungsoo membaca semuanya. Ia tak tahu apa yang sebenarnya ia cari. Apa yang diketahuinya adalah bahwa ia ingin mencari tahu apa yang tengah terjadi padanya. Bila memang sesuatu terjadi padanya.

Ia membalik halaman lainnya dan melihat bahwa ia berada pada bab tentang mimpi buruk. Tertarik, Kyungsoo membaca bagian itu saat langkah kaki menuruni tangga membuatnya berhenti untuk melihat bahwa orang itu adalah Luhan.

Mereka saling beradu pandang selama beberapa saat, tak tahu harus melakukan apa. Kyungsoo menatapnya seolah ingin mengatakan sesuatu namun tampak tak siap. Dan Luhan menatapnya balik seolah ia ingin membantu.

Bantuan. Mungkin hal itulah yang amat ia butuhkan.

"Hei," Kyungsoo memulai, mengangguk pelan padanya dan Luhan menganggap hal ini sebagai izin untuk mendekat padanya.

"Hei," ia menjawab, melangkah untuk duduk berseberangan dengannya. "Butuh bantuan?"

Kyungsoo menggeleng dan memberinya senyuman. "Aku sudah selesai."

Luhan mengangguk, mengambil sisa buku di lantai.

"Hei Kyungsoo—"

"Luhan—"

Keduanya berucap bersamaan dan Luhan terkekeh. "Teruskan."

Kyungsoo tersenyum. "Terimakasih. Aku, um, aku hanya ingin minta maaf untuk waktu itu."

Luhan menatapnya dan Kyungsoo bisa melihat bahwa ia benar-benar ingin membantu.

"Aku tahu kau bermaksud baik. Kurasa aku hanya terlalu keras kepala." Kyungsoo melanjutkan, mengusap tangannya pada buku.

"Tak mengapa." Jawab Luhan. "Agak sulit memang menerima hal-hal aneh."

Kyungsoo menatap Luhan sementara ia mengerling buku yang terbuka di hadapannya.

"Aku…" ujar Kyungsoo. "Kurasa aku memang membutuhkan bantuan."

Luhan mengalihkan pandangannya kembali pada Kyungsoo.

"Apa kau akan menolongku sekarang?" tanya Kyungsoo, sedikit gugup akan permintaannya. Ia sedikit ragu untuk tahu namun ia mau. Bila hal itu membantunya tidur di malam hari maka ia harus mengetahuinya.

Luhan mengangguk. "Apa yang kau begitu ketahui tentang Kai?"

Kyungsoo mencoba untuk tak mengencangkan cengkeramannya pada pinggiran buku yang ia genggam sementara ia menjawab. "Ia seorang petualang mimpi."

"Setengah betul." Ujar Luhan.

"Kau bilang ia bukan."

Luhan memberinya senyum kecil. "Kai menyebut dirinya petualang mimpi yang mana cukup benar. Mereka bertualang di mimpi-mimpi…"

Kyungsoo berpaling ketika ia mengingat kembali saat-saat pemuda itu masuk ke dalam mimpinya.

"Dan…" keraguan dalam suara Luhan membuat Kyungsoo kembali menatapnya. " Menghisapnya."

Kyungsoo menatap Luhan, mencoba menalar apa yang ia katakan.

"Mereka menyukai yang lemah." Luhan melanjutkan. "Mereka menyukai orang-orang yang menyerah pada kenyataan dan beralih menuju mimpi sebagai pelarian diri."

Aku. Kyungsoo mulai berpikir saat-saat ia seperti ini. Ia masih seperti ini, mencoba menjauh dari kenyataan.

"Namun petualang mimpi juga dikenal sebagai inkubus dalam sejarah." Luhan mengambil buku yang digenggam Kyungsoo dan membukanya. Kyungsoo melihat halaman yang ia perlihatkan.

"Mimpi burukmu."

Gambar di halaman itu mirip manusia. Tinggi, langsing namun juga berisi. Namun sekilas lebih dekat, makhluk itu tak terlihat seperti manusia saat ia menatap balik Kyungsoo, menyeringai dengan gigi tajam dan mata merah menyala. Hal itu terasa familiar bagi Kyungsoo, sesuatu yang Kyungsoo pernah dengar namun tak pernah terpikir bahwa hal itu nyata.

Sebuah gambar di kaki halaman menunjukkan sesosok inkubus menggerayangi seorang manusia yang tengah tertidur, ekor panjangnya menggelung di leher yang tertidur dan tangannya mengusap pipi sang manusia.

Ia... ia tak mungkin Kai.

"Mereka mencoba memenangkanmu." Luhan memulai, membalik halaman lain dan Kyungsoo melihat sebuah inkubus menghibur seorang manusia di mimpinya. "Mereka menunjukkanmu apapun yang kau ingin lihat, membawamu menuju tempat yang kau inginkan."

Kyungsoo tak mampu bernapas saat ia mengingat hal-hal yang telah dilaluinya bersama Kai.

"Mereka memancingmu menuju dunia mereka. Di mana mereka mempunyai segalanya. Di mana mereka memberimu segalanya."

Ini tak benar... tak mungkin.

"Makhluk ini digambarkan sebagai iblis namun sebenarnya mereka indah." Lanjut Luhan. "Begitu indah hingga mereka mampu menggodamu, menggugahmu dengan senyuman mereka dan mata mereka yang seolah membujukmu masuk. Dan ketika kau menyetubuhi mereka..."

Kyungsoo menatap Luhan.

"Mereka menghisap jiwamu."

Kyungsoo tertawa gugup. "Itu... Itu tak mungkin benar. Kau membual. Maksudku Kai bukan... bukan..."

"Bukan salah satu dari mereka?" Luhan bertanya. "Lalu siapa atau apa dirinya bila kau pikir ia bukan salah satunya?"

Hanya... Kai. Kyungsoo menjawab dalam kepalanya.

"Apa... apa yang terjadi bila kau bertemu... seorang petualang mimpi?" Kyungsoo memberanikan diri bertanya, menghindari nama asli yang Kai miliki.

"Seperti yang kukatakan, mereka menunjukkanmu segalanya. Mereka menunjukkanmu bahwa mimpi lebih baik dari kenyataan." Jawab Luhan sembari menutup buku. "Hal itu benar. Mimpi lebih baik daripada tempat kita hidup saat ini. Namun berbahaya untuk hidup dalam mimpi. Mimpi-mimpimu adalah tempat yang berbahaya."

Kyungsoo mengepalkan tinjunya, mencoba untuk tak menunjukkan pada Luhan bahwa lentikan jarinya bergetar.

"Seorang inkubus berkelana di dunia mimpi dan mencari mangsa mereka."

Kai tak mungkin salah satunya...

"Dan ketika mereka mendapatkannya, mereka menempel seperti lintah."

Kai mengganggunya sepanjang waktu, tinggal di setiap mimpinya.

"Dan ketika mereka berhasil merengkuhmu, ketika mereka yakin mereka telah berhasil meyakinkamu untuk tinggal selamanya," ujar Luhan. "Mereka menghisap seluruh jiwamu."

Kantung matanya. Berat badan Kyungsoo turun. Kulit Kyungsoo yang memucat. Pandangannya.

"Mereka menahanmu di dunia mimpi."

Tidak, Kyungsoo tersedak oleh udara tebal penolakan dan kenyataan mengelilingnya saat ia terhuyung mundur. "Itu tak benar."

"Itu benar." Luhan berkata, melangkah menuju dirinya, namun Kyungsoo berbalik mundur, menjauh dari kata-kata Luhan yang memberatkan. "Dan hal itu tercermin pada matamu. Aku bisa melihatnya."

Tidak, pikir Kyungsoo. Ia menolak mempercayai semua ini.

"Aku melihatnya di perpustakaan di hari pertama kita bertemu. Matamu terlihat berbeda." Luhan menatapnya. "Dan sekarang hal itu semakin parah, bukan?"

Kyungsoo melangkah mundur sembari meresapi segalanya. Kai, inkubus. Kai, menghisap jiwanya.

Kai... monster.

Tidak, Kyungsoo menggeleng namun semua makhluk dalam buku itu adalah apa yang ia lihat dengan taring tajam dan mata merah. Ia terhuyung mundur kembali dan tak butuh waktu lama sebelum ia melarikan diri. Ia mendengar Luhan memanggil namanya, memintanya kembali namun Kyungsoo tak mau. Ia menolak untuk kembali dan mendengarkan. Ia takut.

Kyungsoo membanting menutup pintu di belakangnya saat ia sampai ke kamarnya. Ia benar-benar sendirian malam ini. Samar-samar ia ingat Baekhyun memberitahunya bahwa ia tak akan kembali untuk mengerjakan beberapa tugas dan Kyungsoo berharap bahwa ia ikut dengannya. Ia tak mau sendirian. Ia menginginkan seseorang untuk diajak berbicara. Seseorang untuk mengingatkannya bahwa ini, tempat ia berada kini, adalah kenyataan. Ia ingin berbicara dengan seseorang yang nyata.

Kyungsoo merangkak ke tempat tidurnya, menyelipkan diri ke dalam selimut untuk berlindung dan bantalnya untuk bertahan. Ia terlihat aneh, bersembunyi di balik selimutnya sembari menatap pintu seolah seseorang, sesuatu akan mendobrak masuk ke dalam kamar dan menangkapnya.

Merenggut keluar kehidupan dari dalam dirinya.

Memejamkan mata rapat-rapat, Kyungsoo mengubur diri di bawah selimut, berharap bahwa selimutnya yang tipis mampu melindunginya malam ini.


Nocturna Suppressio


Ia berlari.

Berlari di antara pepohonan dan semak belukar. Ia menghalau sebuah ranting saat ia berlalu, menghela napas lega ia menyingkirkannya di saat-saat terakhir. Namun kemudian ia mendengarnya lagi, mendengar sesuatu mengejarnya hingga Kyungsoo menghirup napas dalam-dalam dan berlari lebih cepat.

Sesuatu bergerak di belakangnya dan Kyungsoo mencoba sebisanya untuk memberi jarak di antara mereka. Namun gemerisik pepohonan di sekitarnya membuat ia merasa makhluk itu semakin mendekat dan ia menoleh untuk melihat, ia tersandung bebatuan dan terjatuh.

Kyungsoo menegakkan diri untuk berlari ketika sesuatu menyenggol lututnya. Melihat kebawah, Kyungsoo melihat sepasang mata, mata merah menyala menatapnya dan Kyungsoo menelan kembali jeritannya saat ia melihat makhluk itu merangkak menuju wajahnya.

Ia mencoba melawannya, mencoba menendangnya menjauh namun makhluk itu begitu berat. Ia semacam mendesis dan tertawa pada Kyungsoo, menunjukkan gigi-giginya padanya dan Kyungsoo berpaling. Ia merasakan sesuatu melingkar di lehernya dan ia menyingkirkan ekor sang makhluk dengan segenap tenaga.

Sesuatu bergemerisik kembali di antara pepohonan dan Kyungsoo merasakan makhluk itu menghentikan apa yang tengah ia lakukan. Kyungsoo tak bergerak saat napas sang makhluk berhembus pada lehernya, merangkak naik hingga melompat dari dada Kyungsoo, bergegas menuju apapun yang telah menarik perhatiannya.

Gemetar, Kyungsoo menenangkan diri sembari beranjak bangun. Berbalik untuk kembali berlari, ia berhenti saat melihat seseorang yang dikenalnya, seseorang yang familiar berdiri di dekat sebuah pohon, bersandar sementara matanya menatap pepohonan di mana makhluk tadi pergi.

Kyungsoo perlahan melangkah mundur saat orang itu menatapnya dan saat mata mereka bertemu, ia melihatnya menatap balik dengan hati-hati.

"Jadi begitulah kau melihatku kini?" Kai bertanya, memberinya senyum lemah dan Kyungsoo menoleh untuk melihat makhluk tadi kembali memandang balik padanya, memiringkan kepala ke samping dan mengamatinya. Kyungsoo menjauh dan menatap Kai saat ia tengah memperhatikannya, menunggu ia merespon.

Ekspresi wajahnya bukanlah sesuatu yang pernah Kyungsoo perkirakan. Lagipula ialah pemangsanya. Kyungsoo adalah mangsanya. Namun hanya seorang pemudalah yang Kyungsoo lihat saat ia menatap balik. Pemuda yang menanyakan ribuan pertanyaan tentang hidupnya. Pemuda yang terbiasa mengunjungi mimpi-mimpinya dan membawanya menuju berbagai tempat. Pemuda yang membuatnya tertawa, tersenyum.

Pemuda yang tahu bagaimana perasaannya tanpa harus bertanya.

Senyum muram di wajahnya cukup untuk mengingatkan Kyungsoo bahwa tidak, ini bukanlah bagamana ia melihat Kai. Kai tak seperti itu. Tak peduli apa yang dikatakan Luhan padanya, Kai tidaklah seperti... makhluk ini. Tak mungkin.

"Itu..." Kyungsoo mengerling pada sang makhluk yang telah pergi lagi dan kembali pada Kai. "Itu bukan dirimu."

Kai kembali memberinya senyum kecil. "Memang. Kami tak punya wujud asli."

Kyungsoo tak membiarkan keterkejutan tampak pada wajahnya. "Jadi memang benar kau salah satunya. In—Inkubus."

Atas kata-katanya, Kai mengernyit. "Nama apapun kau menyebutku tak masalah. Kau tahu kenyataannya."

Ekspresi di wajah Kai penuh dengan berbagai emosi namun tak satupun yang Kyungsoo kira akan ia lihat. Ia tengah menunggu rasa riang, sesuatu yang menunjukkan bahwa Kai bangga dipanggil sebagai... julukan itu. Akan tetapi, apa yang ia lihat hanyalah kepedihan dan tersiksa serta frustasi yang membuat Kyungsoo menjulurkan tangan untuk meraihnya.

Kai menjauh dari jangkauannya, menatapnya gentar seolah bukan ia pemangsanya melainkan Kyungsoo.

"Tidak apa-apa." Ucap Kyungsoo lembut. Ia tak mengerti mengapa ia yang membujuk meski jelas bahwa Kyungsoo ketakutan. Namun ia Kai. Ia merasakan keinginan untuk melindunginya, meyakinkannya bahwa semua baik-baik saja.

"Tidak apa-apa," ucap Kyungsoo lagi, melangkah ke arahnya namun Kai masih menjauh, tampak kebingungan.

"Tidak," Kai menjawab, menggelengkan kepalanya. "Ini tidak baik-baik saja."

Kyungsoo tak butuh argumen semacam ini saat ia dengan cepat menghapus jarak di antara mereka dan merengkuh wajah Kai di tangannya. Pada sentuhannya, Kai menyandarkan diri dan menutup mata.

Lelaki ini... Kyungsoo menatapnya. Ia bukanlah monster.

Ia adalah Kai.

Dan kemudian ia tersadar. Sadar bahwa hanya Kai yang tahu siapa dirinya. Yang benar-benar peduli untuk bertanya tentang masalahnya. Hanya Kai-lah satu-satunya yang mampu membuat ia tertawa dan bicara serta membuatnya bernapas.

Sebuah kehidupan bersama Kai dalam mimpi-mimpinya terasa lebih baik daripada saat ia terbangun.

Mereka menahanmu di dunia mimpi. Ucapan Luhan bergema di kepalanya.

"Tidak apa-apa." Ucap Kyungsoo lagi, membuat Kai menatapnya meski ia tidak. "Tak mengapa. Bila kau ingin menahanku, tidak apa-apa."

Kai membuka matanya dan menatap Kyungsoo tak percaya. "Apa?"

"Aku tahu apa dirimu. Siapa dirimu." Jawab Kyungsoo, "Dan seandainya kau menginginkanku di sini itu tidak apa. Aku tak menginginkan hidupku."

Kyungsoo tak mengerti darimana datangnya kata-kata itu namun ia tahu itulah yang sejujurnya. Kehidupan di luar dunia mimpi hanya dipenuhi oleh rasa sakit dan kekecewaan. Di sini, ia bisa melakukan segalanya. Ia tak perlu mengkhawatirkan apapun.

Di sini, ia bisa bersama Kai.

Kepedihan dan frustasi dalam mata Kai tergantikan oleh amarah saat ia merenggut tangan Kyungsoo dari wajahnya.

"Kau harus bangun." Ia berkata, sekali lagi menjauh dari Kyungsoo.

"Tidak, kita harus bicara."

"Bagaimana bisa kau sampai di sini?" Kai langsung menyahut dan atas kata-katanya, kepala Kyungsoo mulai berpikir tentang bagaimana ia bisa berada di tempat di mana pepohonan seolah mengelilinginya. Ia tak bisa mengingat bagaimana ia sampai di sini dan ia mencoba untuk memikirkannya. Namun ia masih dan perlahan ia mulai bangun, mengerjap pada langit-langit kamarnya sementara lengannya terjulur meraih seseorang yang ia tahu tak bisa ia sentuh saat ia telah terbangun.


Nocturna Suppressio


"Kau benar-benar terlihat pucat."

Kyungsoo mengerling Baekhyun yang mengernyit.

"Aku tak banyak keluyuran." Sekenanya Kyungsoo menjawab, berharap Baekhyun tak langsung menyadari kebohongannya.

"Aku khawatir." Ucapan Baekhyun membuat Kyungsoo merasa sedikit bersalah telah berbohong padanya. "Ada apa?"

Baekhyun temanmu, Kyungsoo mengingatkan dirinya saat ia berhenti mengunyah sarapannya hanya untuk melihat lelaki itu. Ia patut tahu tentang apa yang tengah terjadi pada hidupmu.

"Aku... banyak bermimpi belakangan ini." Kyungsoo menjawab, memilih jawaban aman. Ia tak bisa begitu saja memberitahu Baekhyun segalanya. Ia bahkan tak yakin bila ia harus memberitahunya apapun. Ia boleh saja teman baiknya namun apakah Baekhyun akan mempercayainya bahwa alasan ia terlihat kacau belakangan ini adalah karena seseorang menghisap jiwanya? Bahkan Kyungsoo merasa bahwa hal itu konyol. Apa yang akan Baekhyun katakan tentang hal itu?

"Oh." Sahut Baekhyun. "Apa lelaki dalam mimpimu masih mengganggumu?"

Kyungsoo sudah lupa bahwa Baekhyun sebenarnya tahu siapa Kai. Ia telah memberitahunya tentang Kai mengunjunginya setiap kali ia tidur.

"Tak juga." Balas Kyungsoo, memilih memainkan makanannya daripada memakannya. "Ia tak lagi di sana."

"Ia pasti bosan denganmu. Kita berdua tahu seberapa membosankannya kau." Cibir Baekhyun.

Kyungsoo tahu ia hanya bercanda. Karena inilah yang biasa Baekhyun lakukan. Namun ucapan teman sekamarnya terasa sedikit menusuk karena ia tahu bahwa hal itu juga benar. Mungkin Kai bosan dengannya setelah semua ini.

"Hei, aku hanya bercanda." Ucap Baekhyun cepat-cepat dan Kyungsoo tersenyum padanya.

"Aku tahu. Tapi aku tak bisa untuk tidak berpikir bahwa barangkali ia memang benar-benar sudah bosan denganku." Kyungsoo mengedikkan bahu. "Tak apa-apa, ini bukan masalah besar. Seharusnya aku tahu bahwa menyukainya tak akan membawaku ke mana-mana."

"Tunggu, kau menyukainya?"

Kyungsoo berhenti untuk melihat Baekhyun memandangnya dengan mata lebar.

Apa yang baru saja kukatakan?

Apa aku baru saja...

"Maksudku," Kyungsoo berucap cepat, "Sering melihatnya dan lain-lain... Menghabiskan waktu dengannya..."

Namun hal itu percuma. Kyungsoo tahu seberapa buruk ia dalam berbohong dan Baekhyun tak akan mempercayainya sekarang saat ia mengakui hal itu.

"Kau bisa tertawa sekarang." Kyungsoo menghela napas sembari menunggu Baekhyun menyahut. "Aku tahu itu konyol."

"Memang." Sahut Baekhyun namun tak ada cemoohan pada wajahnya saat Kyungsoo menatapnya. "Tapi kau tak pernah menyukai seseorang hingga seperti ini, maksudku, lihat dirimu, kurang tidur karena seseorang yang mana sejenis ironis."

Betul juga, pikir Kyungsoo.

"Ia pasti benar-benar menarik sampai kau menyukainya." Siul Baekhyun. "Meksi ia hanya potongan kecil imajinasimu."

Kyungsoo tak punya apapun untuk menyahuti hal itu sementara ia pergi ke kamar mandi.

Kai menarik. Pikir Kyungsoo saat ia mentup pintu di belakangnya. Kamar mandi yang kosong membuat Kyungsoo kembali berpikir siapa Kai sebenarnya.

Aku tak percaya aku menyukainya. Kyungsoo dengan kesal membasuh tangannya. Aku tak percaya aku menyukai seseorang yang hadir untuk mengambil nyawaku.

Kai sebagai seorang inkubus adalah sesuatu yang kepalanya masih belum bisa mengerti. Sesuatu yang tak nyata. Hal itu adalah sesuatu yang dibuat-buat oleh orang-orang saat mereka saling bercerita dan juga menjadi sumber dari mimpi buruk.

Semua ini terlalu cepat, Kyungsoo memberitahu dirinya sendiri saat ia membasuh wajah dan menekan sakit kepala yang mulai kembali.

Kyungsoo membuka pintu untuk kembali ke tempat di mana Baekhyun berada namun apa yang ia lihat bukan lagi kafetaria namun kerumunan di mana-mana. Orang-orang berlompatan, menari, tertawa mengikuti irama musik yang memekakkan telinga Kyungsoo.

Ia tak tahu di mana ia berada kini. Tempat ini gelap namun penuh dengan cahaya-cahaya kecil di sekelilingnya, mengedip dan juga bergerak. Sebuah lantai dansa. Kyungsoo mendesak kerumunan di sekitarnya, mencoba mencari jalan keluar dari tempat ini hingga ia melihatnya. Ia melihat Kai.

Ia melihat Kai menatapnya dingin di tengah kerumunan, matanya seolah menantang mata Kyungsoo untuk lari darinya. Namun Kyungsoo membeku di tempat, matanya menatap dan menantang balik. Ia tak takut pada Kai. Ia tak akan pernah takut padanya.

Secercah amarah kembali hadir dalam mata Kai dan sebelum Kyungsoo mampu mengerti apa artinya, Kai meraih ke samping dan melingkarkan lengan pada pinggang seorang gadis. Ia melihat gadis itu terkikik saat Kai berbisik padanya, menempelkan bibir pada sisi wajahnya.

Kyungsoo tak berpaling saat gadis itu menoleh pada bibir Kai dan tersenyum. Dan sebelum ia sadar, mereka telah berciuman di tengah lantai dansa, saling menyentuh satu sama lain. Tangan Kyungsoo mengepal melihat gadis itu begitu dekat dengan Kai, tangannya mengangkat ujung kaus sang pemuda sebelum menghilang di baliknya.

Kai menatapnya sembari terus mencium sang gadis, matanya menantang Kyungsoo untuk pergi sekarang namun ia tak pergi. Sebaliknya, ia melangkah mendekatinya, merenggut lengan sang gadis dan menariknya menjauh dari petualang mimpinya.

Ia mendengar gadis itu terkikik, surai hitam panjang menari saat ia menoleh pada Kyungsoo. Namun Kyungsoo tak memperhatikannya, matanya hanya memandang lelaki di hadapannya bertingkah lancang dan kekanakan.

Ia tak tahu apa yang akan menimpanya, terlalu sibuk menatap balik pada Kai. Namun apa yang tak ia sangka adalah sebuah lengan melingkar di belakang kepalanya, tangan lainnya merenggut bagian depan kausnya, menariknya turun dalam sebuah ciuman yang membuatnya terkejut dan bingung.

Ia merasakan bibir gadis itu pada bibirnya, tangannya menggerayangi tubuhnya. Hal itu membingungkannya sejenak namun sebelum ia mampu mendorong sang gadis menjauh, ia mendengar sebuah geraman, sebuah genggaman kencang lain di pergelangan tangannya dan seseorang menariknya menjauh dari gadis itu, menjauh dari kerumunan orang-orang, menjauh dari cahaya menyilaukan dan musik yang keras.

Ia dibawa keluar dari tempat apapun itu dan segera setelah ia mendengar musik yang berangsur menghilang, Kyungsoo menengadah menatap orang yang menariknya dan melihat Kai begitu marah dan kesal.

"Apa yang sedang kau mainkan?" Kai mendesis padanya dan Kyungsoo menarik lepas pergelangan tangannya.

"Seharusnya aku yang bertanya begitu." Sahut Kyungsoo balik. "Aku menyukaimu."

Kai berdiri di sana, terkesiap akan apa yang baru saja Kyungsoo ucapkan. Ia tahu ini bukanlah waktu dan tempat yang tepat untuk pengakuan macam ini tetapi apa yang Kai lakukan, menggodanya, membuat ia melihat betapa kekanakannya pemuda ini.

"Aku menyukaimu." Kyungsoo berujar kembali, memelototinya. "Aku tak tahu kalau kau bodoh tapi aku menyukaimu."

Kai kemudian menggelengkan kepala dan tertawa padanya. "Kau menyukaiku? Aku bahkan tak nyata!"

Kyungsoo mencoba untuk tak mengernyit saat ia mendengarnya.

"Aku hidup dalam mimpimu!" ucap Kai, menghempaskan lengannya ke atas. "Kau tak bisa menyukai seseorang yang tak nyata, Kyungsoo."

"Aku tak perduli." Balas Kyungsoo. "Aku juga menyukai mimpi-mimpiku. Hal itu ternyata lebih baik dari kenyataan."

Mendengar ucapannya, Kai kembali menarik lengannya dan menyeretnya pergi. Kyungsoo mencoba untuk tak terjatuh di belakangnya dan sebelum ia bisa memberitahunya untuk berhenti, Kai menuntunnya menuju sebuah pintu dan apa yang Kyungsoo lihat di bawah sana cukup untuk membuatnya terkesiap.

Sebuah kota. Sebuah kota besar yang gelap dan dipenuhi oleh orang-orang yang hanya berlalu lalang, menyenggol satu sama lain, terlihat linglung dan mati. Kulit mereka terlihat begitu putih hingga hampir berpijar dan tak ada emosi dalam wajah mereka, tak ada rona pada pipi mereka. Mereka seolah terlelap namun mereka sedang tidak melakukan hal itu.

Langit malam bergemuruh dan petir berkilat-kilat di atas mereka dan Kyungsoo melangkah mundur melihat wajah mereka membusuk. Apa... apa ini?

"Ini," teriak Kai, menunjuk pada orang-orang di bawahnya. "Ini adalah dunia mimpi."

Kyungsoo menatap orang-orang itu, atau setidaknya apa yang tersisa dari mereka, berjalan tanpa arah di antara jalan-jalan d bawahnya.

"Tempat ini penuh dengan orang-orang berjalan setiap siang dan malam mencari jalan keluar."

Layaknya diriku, batin Kyungsoo saat ia menatap mereka.

"Petualang mimpi menghisap hawa hidup dari mereka." Kai melanjutkan. "Aku hanya sembarang menarikmu dari kerumunan itu."

Aku... dulu disini?

"Kami memilih satu. Kami menggemukkan mereka dengan apa yang mereka ingin mimpikan dan kami menghisapnya. Kau," Kai berbalik padanya. "Kau tak berarti apapun bagiku."

Kyungsoo menatap balik pada Kai. Lucu rasanya bagaimana Kyungsoo mampu melihat dirinya yang sebenarnya. Kai bersikap seolah ia kuat di hadapannya. Kyungsoo bahkan tak harus tahu bahwa ia sedang berbohong. Suaranya yang bergetar sebelum ia mengatakannya terdengar seperti sebuah kebohongan.

"Itu tak benar." Kyungsoo berbisik dan Kai melangkah mendekatinya.

"Itu benar." Ujar Kai, menyudutkan Kyungsoo pada sebuah dinding. "Setiap saat yang kuhabiskan denganmu."

Kai meletakkan telapak tangannya pada dinding di samping kepala Kyungsoo sembari menunduk padanya.

"Setiap saat aku menyentuhmu, menciummu, mencumbumu," desisnya di telinga Kyungsoo. "Aku menghisap jiwamu."

Kyungsoo bergidik di bawah tatapannya saat ia mendengarkan. Kai sebagai seorang inkubus... Ia teringat kembali akan apa yang Luhan katakan padanya dan meskipun Kai beraada tepat di hadapannya, mengakui segalanya, Kyungsoo masih menolak untuk takut kepadanya.

"Terima saja." Balas Kyungsoo balik dan Kai berdiri untuk menatapnya seolah ia sudah gila.

Mungkin memang benar, pikir Kyungsoo.

"Kau masih tak mengerti, ya?" tanya Kai dan Kyungsoo menggeleng.

"Aku mengerti." Kyungsoo berujar padanya. "Dan kau tahu, aku tak perduli."

Kai menatapnya, matanya melebar kembali dalam keterkejutan.

"Karena aku lebih memilih tinggal di dunia di mana aku bisa melakukan apa yang kumau."

Kai menggeleng tak percaya. "Kau gila."

"Benarkah?" sahut Kyungsoo. "Kau bisa menghisap jiwaku. Aku bisa berada di sini. Aku bisa bersamamu."

"Tidak," Kai berbisik. "Kyungsoo, ini bukan—"

"Aku lebih memilih tinggal di dunia di mana aku tak perlu memikirkan tentang tugas, kuliah dan orangtua yang saling berteriak satu sama lain." Ucap Kyungsoo. "Dunia di mana masalah tak pernah ada. Hanya dirimu."

Kai melangkah mundur saat ia mengatakannya. "Aku tak akan berada di sini, Kyungsoo."

Apa?

Dengan tiba-tiba Kai menoleh sekeliling seolah merasakan sesuatu. Tangannya meraih lengan Kyungsoo. Namun kemudian ia sadar apa yang dilakukannya dan cepat-cepat melepaskan Kyungsoo.

"Kau harus bangun."

Kyungsoo juga menoleh sekelilingnya, mencoba menemukan apa yang telah menarik perhatian Kai ketika asap tiba-tiba memenuhi kota. Kyungsoo menyadari bahwa itu adalah asap hitam yang sama, asap yang sama seperti bayangan yang ia lihat di mimpinya yang lain dan ia memperhatikannya melingkupi kota.

"Apa itu?" tanya Kyungsoo, menatap bayangan yang menggantung di atas orang-orang yang masih berlalu lalang namun mereka tak menyadarinya.

"Kau tak mau tahu." Jawab Kai.

Asap mulai menyebar, menyentuh apapun di jalurnya. Kyungsoo merasa hal itu membangun sebuah benteng perlindungan di sekeliling orang-orang itu dan ia melangkah mundur, takut tersentuh bayangan itu.

"Kau harus pergi." Kai berujar. "Sekarang."

"Kita belum selesai bicara." Kyungsoo menjawab namun Kai menjauh darinya, melangkah menuju kota.

"Kai, tunggu."

Kai menggeleng. "Bagaimana bisa—"

"Kai, jangan."

"Bagaimana bisa kau berada di sini?"

Kyungsoo merasa dirinya terbangun saat ia mendengar kata-kata itu dan ia juga merasakan tangan-tangan membantunya berdiri, menyangga kepalanya. Ia merasa agak linglung dan kaku saat ia bersandar pada entah siapapun itu.

"Syukurlah kau baik-baik saja," suara Baekhyun terdengar lega yang membuat Kyungsoo bertanya-tanya kenapa, apa yang terjadi? "Kau terlihat kacau."

Kyungsoo mencengkeram kepalanya sementara Baekhyun membantunya duduk. Ia menatap sekeliling dan melihat bahwa ia berada di kamarnya dan ia mencoba mengingat-ingat di mana ia sebelum ia tertidur.

"Kau pingsan di kamar mandi kafetaria pagi ini." Baekhyun menjelaskan seolah ia baru saja mendengarnya. "Bila Luhan tak melihatmu..."

"Luhan?" tanya Kyungsoo, suaranya terdengar serak.

Saat namanya disebutkan, sebuah ketukan terdengar dan Baekhyun pergi untuk melihat siapa itu. Untuk keterkejutannya, Luhan masuk, membawa sebuah cangkir yang tercium seperti kopi dan meletakkannya di meja kecil samping tempat tidur Kyungsoo.

"Minum ini." Luhan berkata padanya dan Kyungsoo melihat Baekhyun menatap aneh pada Luhan dan secangkir kopi yang ia bawa. Ia tahu seberapa aneh ini terlihat baginya, menawarkan kopi pada seseorang yang sakit karena kafein bukanlah apa yang Kyungsoo butuhkan saat ini. Ia butuh istirahat dan tidur.

"Um, Baek," Kyungsoo memulai. "Bisa kau beri kami sedikit waktu?"

Baekhyun mengangguk dan berisyarat di balik Luhan apakah ia akan baik-baik saja. Kyungsoo balik mengangguk dan tersenyum padanya, berharap wajahnya terlihat meyakinkan karena ia tak yakin berada bersama Luhan akan baik-baik saja. Namun ia tahu bahwa ia juga butuh bicara dengannya. Sendirian.

Segera setelah pintu tertutup, Kyungsoo menoleh padanya. "Apa yang terjadi padaku?"

"Kau pingsan di kamar mandi." Jelas Luhan. "Kau harus mengontrol dirimu sendiri sebelum semua ini menjadi parah."

"Memang pingsan di kamar mandi adalah kesalahanku?"

"Ya." Luhan melotot padanya dan Kyungsoo menatap balik, terkejut akan jawabannya. "Keinginanmu untuk bertemu dengan Kai harus dihentikan. Semakin kau mencarinya, memikirkannya, semakin sering kau akan tertidur di sembarang tempat."

Kyungsoo menelan kembali keinginan untuk mengatakan bahwa ia tak memikirkan Kai pagi ini namun ia tahu ia tak bisa meyakinkan Luhan.

"Apa yang kau lakukan ini berbahaya, Kyungsoo." Luhan melanjutkan, menyentuh lengannya. "Bayangkan bila kau berada di tengah jalan."

"Itu... aku tak akan membiarkannya terjadi." Ucap Kyungsoo pelan. "Apa lagi yang harus aku ketahui?"

"Aku memberitahumu segalanya." Ucap Luhan.

Belum semuanya, pikir Kyungsoo, menatap tangannya. Ia bisa melihat kulitnya yang pucat dan teringat kembali apa yang ditunjukkan Kai. Kumpulan... orang itu berlalu lalang di kota yang besar. Wajah-wajah membusuk... Apa hal itu terjadi padaku?

"Apa yang terjadi saat mereka menghisap jiwaku?" Kyungsoo bertanya, berjuang agar suaranya tak bergetar.

"Seperti yang kukatakan, kau terjebak dalam mimpimu." Jawab Luhan.

Kyungsoo merasa tenang mendengar hal itu. "Tak begitu buruk."

Memang tidak. Pikiran bahwa ia akan berada dalam mimpinya selamanya, melakukan apa yang ia inginkan, pergi kemanapun ia mau.

Luhan menatapnya terkejut. "Kau suka?"

Kyungsoo berpaling saat ia mengangguk. "Setidaknya dalam mimpiku, aku bisa melakukan apa yang kumau."

Kyungsoo tak mendengar jawaban apapun dari Luhan dan hal ini membuatnya menoleh melihatnya. Ia melihat matanya melebar dan terkejut atas jawabannya.

"Apa?" tanya Kyungsoo.

"Kau," Luhan memulai. "Kau lebih memilih tinggal dalam mimpimu?"

"Ya." Kyungsoo berbisik.

"Kenapa?"

Kenapa? Kenapa tidak? Pikir Kyungsoo. Tak ada satupun dalam mimpimu yang mampu melukaimu. Bahkan terjatuhpun tak akan membuatmu hancur.

Dan dalam mimpinya...

"Dalam mimpiku, aku bisa bersamanya." Jawab Kyungsoo. "Aku bisa bersama Kai."

Ekspresi di wajah Luhan dipenuhi oleh keterkejutan. "Kau... kau menyukai petualang mimpimu?"

Kyungsoo tak menjawabnya, namun ia tahu Luhan mengerti apa jawabannya.

"Kau tak bisa." Luhan menggelengkan kepala. "Kau tak bisa menyukai... mereka. Para makhluk itu. Inkubus. Hal itu tak akan bekerja."

"Kenapa?"

Luhan berhenti sebelum ia menjawab saat sebuah suara terdengar di balik pintu. Kyungsoo melihat pintu terbuka dan Baekhyun mengintip masuk.

"Hey, um," Baekhyun menatap Kyungsoo kemudian Luhan. "Seseorang bernama Sehun di sini mencarimu."

Luhan mengangguk. "Terimakasih. Aku akan segera keluar."

Segera setelah pintu tertutup, Kyungsoo menatap Luhan. "Sehun tahu tentangku, ya 'kan?"

"Ya," Luhan menjawab. "Karena Sehun pernah menjadi sepertimu."

Kyungsoo menatap pintu itu. "Apa... Apa Kai adalah..."

Luhan menggeleng. "Tidak. Kai bukan petualang mimpinya. Miliknya adalah orang lain."

Kyungsoo menghela napas lega. "Lalu bagaimana kau bisa tahu tentang Kai?"

"Karena ia telah berada di dunia itu begitu lama. Semua orang tahu siapa Kai di dunia mimpi."

Kyungsoo menatap Luhan saat kata-kata Baekhyun terngiang kembali di telinganya. Ia sedikit aneh.

"Siapa... Apa kau ini?" tanya Kyungsoo hati-hati dan Luhan hanya memberinya senyum kecil.

"Aku hanya pemuda biasa, Kyungsoo."

"Lalu bagaimana bisa kau tahu akan semua hal ini?" Bagaimana kau bisa tahu apa yang sedang terjadi padaku?

"Aku punya sebuah kemampuan... yang selalu dicemooh orang-orang." Ujar Luhan. "Aku tak tahu darimana aku mendapatkannya tetapi semenjak aku kecil, aku selalu bisa... melihat banyak hal."

Ia sedikit aneh.

Kyungsoo kini menyesal telah berpikir bahwa Luhan adalah orang gila. Ia hanya membantunya. Bukan kesalahannya bila ia tahu akan semua hal ini.

Luhan menepuk pundaknya sembari beranjak bangun. "Jangan tertidur."

Kyungsoo hanya mengangguk, tahu bahwa hal itu tak akan pernah terjadi. Luhan juga tahu hal itu namun ia mengerti tak ada salahnya memberi sedikit peringatan.

Segera setelah Luhan pergi, Kyungsoo melempar selimutnya dan mulai memakai jaket. Menyambar dompet dari dalam tasnya, Kyungsoo baru akan melangkah pergi ketika Baekhyun masuk.

"Kau mau kemana?" tanya Baekhyun. "Kau masih harus beristirahat."

"Pusing. Aku hanya akan pergi membeli obat." Jawab Kyungsoo cepat-cepat sembari menutup pintu di belakangnya.

Namun saat ia melangkah keluar menuju apotik terdekat, Kyungsoo bertanya-tanya berapa harga pil tidur dan berapa banyak yang harus ia minum.


To Be Continue


Well special thanks to~! Purpleskies who is gave me a permission to translate this story.. And, once again.. i do not own this story. this story belongs to Purpleskies.

Mulai dari chapter ini sampek chapter 13 bakalan ditranslate sama fanboy nih wkwkwk, padahal di chapter depan itu ada NCnya muahahaha, kurang chapter 13 sih yang belum dia kirim, dan aku selalu canggung ketika harus memanggilnya 'Oppa' jadilah aku selalu memanggilnya 'kak' wkwkwk, aduh ini pengalaman pertama dapet temen translator di asianfanfics seorang fanboy. Wkwkwkwk…

Mulai dari chapter 9, saya pikir kalian sudah mulai bisa merasakan kefrustasian yang dimiliki Kyungsoo dan Kai. Serta Luhan dan Sehun yang selalu kalian tanyakan mulai sedikit terjawab di sini. Chanyeol entar keluar lhooh di akhir Chapter wkwkwkwkwk, *kalau enggak salah inget :p /slap/ wowowowooww maaf ya update lamaa~~

Ada rekomendasi ff KaiSoo yang bagus? Ratting tinggi di asianfanfics? Yang chapternya enggak banyak-banyak, dan bahasanya enggak bikin mupeng, gitu? Silahkan beritahu saya di twitter NamRaein_1106 yaw… kalau saya berminat bisa saya translatetin abis UN *MUAHAHAHHAHAHA

Terimakasih sebelumnya :)


Review and Favorite Please?