Kau adalah yg berharga...
Disclaimer : Kuroko no basuke ©Fujimaki Tadoshi
Summary : saat tokoh KnB menjadi Tokoh yg dipenuhi bahaya, ada kisah Romantis dalam kehidupan mereka.
Chapter 10 : Midorima and Minamoto (OC) part end
Author P.O.V
Sebuah wahana tua ia lewati, Minamoto merasa tidak asing berada disini. Serasa dia pernah ada disini.
"Mikael, ini tempat apa?" tanya Minamoto yang masih digendong oleh Mikael. Mikael tersenyum tanpa merasa lelah walau ia bertarung melawan banyaknya penjaga di Mansion Minato.
"selamat datang di Wahana Barlon, My Lady.." jawabnya. Minamoto mengeryitkan alis.
"Wahana Barlon?" - minamoto
"betul. Wahana ini sudah lama tutup. Apa anda tidak ingat sesuatu tentang wahana ini?" Minamoto menggeleng.
"aku tidak ingat tapi entah kenapa...aku merasa.." - Minamoto
"anda benar – benar tidak ingat?" – Mikael, Minamoto mengangguk.
"iya.." - Mikael menghela nafas
"sayang sekali ya, padahal itu adalah kenangan yang berharga bagi saya." Ucapnya dengan nada kecewa.
"eh?" – Minamoto hanya menatapnya Bingung saat wajah Mikael yang selalu tersenyum kini suram. Tring, Mikael tersenyum kembali.
"sekarang ayo ganti pakaian nona. Karena saya, anda jadi berlumur darah seperti ini." ucap Mikael, Minamoto hanya mengangguk.
"baik. Tapi apa kau punya baju yang pas untukku?" tanya Minamoto. Mikael masih tetap tersenyum.
"saya tidak yakin, tapi saya harap kemeja saya muat untuk anda pakai..ayo kita ke theater tua itu." Ajak Mikael, lagi – lagi Minamoto hanya mengangguk. Mikael mendekati theater itu sambil mengendong Minamoto, langkah demi langkah Mikael lewati, saat diperjalanan minamoto hanya memandang disekitarnya. Berkarat, kotor dan tak layak dipakai, wahana – wahana itu sudah sangat tak layak untuk di kunjungi.
"Apa akan baik – baik saja jika aku bersama Mikael?" batin Minamoto, ia menatap wajah Mikael yang masih memasang wajah senyum itu. Tampan, itulah yang sempat dipikirkan Minamoto.
'baik hati, selalu melindungiku, dan selalu ada disisiku..' batin Minamoto yang masih menatap wajah Mikael. Karena merasa diperhatikan, Mikaelpun menoleh ke arah yang menatap.
"ada apa Nona?" tanya Mikael, Minamoto hanya bersemu.
"Ti,,tidak ada kok!" balas Minamoto, Mikael hanya terkekeh. Tanpa sadar mereka sudah sampai di depan pintu theater tua yang dimaksud Mikael, Mikaelpun menurunkan Minamoto ke bawah, kaki kecil Minamoto dapat merasakannya ini sangat berdebu dan sudah sangat tua, terdapat bunyi saat Minamoto memijakkan kakinya.
"kalau begitu nona tunggu dulu ya..." ucap Mikael, Minamoto hanya menunggu sampai akhirnya mereka sudah mengganti bajunya.
"pakaian itu sangat pantas untuk nona Hanami.." ucap Mikael yang mungkin ingin tersenyum girang melihat Nonanya ini sangat manis di balutan kemejanya. Rambut yang di gerai berantakan namun terkesan manis dan kemeja longgar yang hanya menutupi sampai pangkal paha saja. Minamoto hanya menatapi tubuhnya sendiri.
"Mikael, apa kau tidak apa – apa? sekarang kau malah telanjang dada..." tanya Minamoto saat melihat mikael hanya menggunakan celananya.
"tidak apa – apa, setelah jas dan rompi saya kering, akan saya pakai.." ucapnya. Tiba – tiba suarapun hening tak ada yang memulainya.
"Nona?" tanya Mikael saat nona manisnya ini terdiam bisu. Minamoto tak berani melihat wajah Mikael, ia lebih tertarik melihat kayu lantai yang ia pijaki.
"Nee..Mikael, kenapa kau melakukan itu?" tanya Minamoto, karena langsung mikael mengerti apa yang dimaksud Minamoto, iapun langsung menjawab dengan santai.
"bukankah sudah saya bilang? Saya melakukan ini agar tidak ada yang menganggu pertemuan kita yang indah ini." jelas Mikael. Minamoto meremas ujung kemeja Mikael yang ia kenakan.
"bahkan dengan Fuyuki – chan?" tanyanya kembali, Mikael hanya tersenyum.
"benar.." balasnya. Air mata mengalir di pipi Minamoto.
"dia adalah temanku yang berharga. Tapi kenapa kamu tega melakukan itu?" tanya Minamoto sambil mengusap air matanya.
"karena.." Mikael mendekati nonanya, lalu meraih dagu Minamoto.
"saya sangat iri." Balasnya.
"disaat bersama saya, nona hanya tersenyum paksa, tapi disaat nona bersama tukang kebun kotor itu, anda tersenyum tulus dan ceria. Karena itu saya sangat iri.." jelas Mikael. Manik hazzel milik mikael dan Manik hijau muda milik Minamoto bertemu.
"hanya itu? Kau menuduh dia karena hal seperti itu?" tanya Minamoto, Mikael mengangguk sambil melepaskan dagu Minamoto.
"benar.." jawab Mikael. Lagi – lagi Minamoto menatap lantai ia pijaki lagi,lalu mengeluarkan air mata lagi, Minamotopun tersenyum.
"gomen ne Mikael.." ucap Minamoto. Mikael mengeryitkan alisnya.
"Nona?" tanya Mikael yang masih bingung. Minamoto tersenyum sambil menangis.
"aku terlalu bodoh sampai tak menyadari hal itu dan membuatmu menderita. Bukan kau saja, tapi fuyuki – chan juga, ini semua salahku karena aku bodoh." Jelas Minamoto. Mikael mengusap air mata Minamoto dengan lembut.
"ini semua bukan salah anda juga.." jelas Mikael.
"Midorima – san ternyata benar. Karena kecerobohanku, kalian semua..."
"jangan sebut nama itu di saat kita berdua, Hanami." Potong Mikael yang tiba – tiba menjadi dingin.
"eh?"
"aku sangat tidak suka mendengar itu. Jika ini adalah suatu kesalahan, berarti orang itu yang harus disalahkan." Ucap Mikael sambil menatap Minamoto dengan dingin.
"orang itu? Maksudnya Midorima – san?" tanya Minamoto, Mikael mengangguk.
"benar. semuanya, semuanya salahnya bukan salahmu." Ucap Mikael sambil mengelus pipi Minamoto.
"Midorima – san sama sekali tidak -..." slurp! Mikael menjilat pipi Minamoto. Secara reflek Minamoto mendorong Mikael.
"apa yang kau lakukan!?" tanya Minamoto yang terkejut. Mikael meraih lengan Minamoto, mengenggamnya erat.
"dengarkan aku, setelah kau ada disisiku, orang itu sudah tidak ada dan juga -..." plak! Minamoto menampar Mikael karena bibir mereka hampir bertemu.
"hentikan!" teriak Minamoto sambil menjauh.
"ini bukan Mikael yang aku kenal, siapa kau?" tanya Minamoto, Mikaelpun menyeringai seram.
"siapa..aku? ahahaha..AHAHAHAHAHHA!" Mikael tertawa histeris, suaranya menggema dari panggung theater ini.
"Kau..kau benar – benar lupa!? Apa kau benar – benar lupa Hanami!?" tanya Mikael, Minamoto Semakin bingung.
"aku ini...Suamimu.." ucap Mikael. Dengan sempurna, Minamoto sangat terkejut dan saking terkejutnya iapun jatuh.
"a..apa?" – Mikael memperlihatkan cincinnya.
"lihat cincinku, ada nama kita berdua. Kita membuatnya bersama, untuk cincin pernikahan kita..." jelas Mikael sambil tersenyum, ah bukan menyeringai. Minamoto semakin ketakutan, jika itu benar...kenapa ia tak ingat!? Lagipula ia sama sekali tak punya cincin itu.
"ji..jika aku istrimu kenapa aku tidak memilki cincin itu!?" tanya Minamoto. Mikael melangkah kedepan menghampiri Minamoto yang sedang merayap mundur menghindari Mikael. Bruk! Mikael mengurung tubuh kecil Minamoto dengan tubuhnya, membuat Minamoto terbaring dibawahnya.
"ayahmu yang mengambilnya, dia melarang hubungan kita karena perbedaan status..." jelas Mikael dengan membisikkannya. Mereka terlalu dekat.
"tu..tu..tunggu sebentar, ke..kenapa aku bisa lupa? Ke..kenapa aku tak bisa mengingatnya..?" tanya Minamoto, sambil mendorong bahu polos milik Mikael. Mikael tersenyum senang..
"sepertinya harus aku ceritakan dari awal.."
.
.
.
.
.
.
.
Dengan kecepatan penuh Midorima melajukan mobilnya, menuju tempat yang dimaksud oleh musuh, dimana tempat Minamoto diculik. Drrtt! Drrrt! Drrt! Smartphone Midorima berbunyi, dengan sempat dan tanpa menghentikan laju mobilnya, ia mengangkat telephonenya.
"Halo?"
~Midorima – kun, ini Nagisa. Kembalilah ke markas, kita kesana bersama – sama! Terlalu bahaya untuk sendiri! – ternyata Nagisa.
"aku harus sampai disana pada jam 8 malam kalau tidak dia akan mati, aku akan menyelamatkannya.." jelas Midorima.
~tapi-..
"aku mohon jangan hentikan diriku!" midorima membentak. Hening, merekapun hening tak ada yang berbicara. Lalu disebrang terdengar suara menghela nafas.
~wakatta, tapi dengarkan cerita ini.. – Nagisa.
"aku tidak punya waktu untuk mendengarkan cerita-.."
~ini tentang hubungan Minamoto dan Mikael kau harus mendengarnya! Lagipula, Mikael ada hubunganya dengan kita! – kali ini Nagisa yang membentak karena sangat kesal dengan adik iparnya ini. Sekarang Midorima yang menghela nafas.
"baiklah, jelaskan dengan ringkas." Balas Midorima.
.
.
.
.
.
.
.
"i..iini bohong." Ucap Minamoto sambil memegang kepalanya. Mikael meraih tangan yang memegang kepala Minamoto.
"itu benar. Aku tak pernah mengatakan bohong." Ucap Mikael, Mikael meraih pinggang Minamoto. Mulutnya mendekati telinga Minamoto.
"Hanami sayangku, maaf ya aku membiarkanmu menderita seperti ini.." ucap Mikaael sambil memeluknya erat. Tubuhnya bergesekan, Minamoto bisa merasakan kehangatan yang dimiliki Mikael.
"membiarkanmu tersakiti oleh orang berengsek itu, mulai sekarang akulah yang akan melindungimu.." Set! Dengan cepat Minamoto melepaskan pelukannya, mendorong bahu Mikael untuk keberapa kalinya.
"jangan sebut Midorima – san berengsek seperti itu!" bentak Minamoto, Mikael sedikit terkejut, namun ia langsung tersenyum.
"kenapa?" tanya Mikael.
"karena Midorima – san bukanlah orang yang jahat!" jelas Minamoto. Hening, mereka hening sejenak. Mikaelpun menghela nafas.
"souka? Jadi kau sudah menaruh perasaanmu pada orang itu?" tanya Mikael, Minamoto hanya diam.
"tapi apa kau yakin ia membalas perasaanmu?" – Mikael. Minamoto hanya diam lagi.
"aku..memang tidak yakin, tapi aku yakin dia akan menjemputku!" jelas Minamoto. Mikael mengelus paha minamoto.
"kalau begitu bagaimana kita taruhan?" ucap Mikael sambil mengelus lembut, Minamoto menahan suaranya.
"ta..taruhan?" tanyanya. Mikael mengangguk sambil tersenyum.
"benar, aku akan menaruh 50 dinamit ditubuhmu." - Mikael
"50 dinamit!?" – Minamoto.
"tenang saja, jika ia memang tidak datang akan langsung kumatikan dan setelah itu kau harus menikah denganku sekali lagi." Jelas Mikael.
"lalu kalau midorima – san datang?" tanya Minamoto.
"akan kutarik ucapanku tadi..jadi bagaimana?" tawar Mikael. Minamoto berpikir sejenak, pertaruhannya sangat besar, ia harus menikah dengan Mikael meninggalkan Midorima, tetapi ia juga tidak menerima jika mikael menghina Midorima. Minamoto menghela nafas.
"baiklah, aku terima itu."
.
.
.
.
.
.
.
Sampailah Midorima di wahana, dengan senjata lengkap. Midorima memantau keadaan sekitar, pohon, lumut, debu, dan sebuah kamera CCTV yang masih menyala? Itu tidak mungkin. Midorima mendekati kamera CCTV itu. Drrrtt!drrrt! smartphonenya bergetar lama, menandakan sebuah panggilan masuk untuk dirinya, Midorima mengangkatnya.
~haloo, kau sungguh datang ya?
"dimana Hanami?" – tanya midorima to the point.
~hmm, kira – kira dimana ya.. aku tidak tahu..
"Jangan bercanda, katakan!" – bentak Midorima
~hei, aku serius. Nah bagaimana jika kau yang memikirkannya?
"apa?" – Midorima.
~jika kau memang mencintai Hanami, kau pasti akan tahu..wahana apa yang sangat disukai Hanami?
"Tunggu-.."
~ja nee... – telephonenya langsung dimatikan. Midorima menggerutu kasar. Dia menghela nafas, dan mulai berpikir tenang. Memikirkan semuanya, apa wahana yang disukai Minamoto? Seingatnya, ia tak pernah keluar rumah maupun pergi ke wahana bermain. Tenang, pikirkan sesuatu...apa Minamoto pernah mengatakan sesuatu tentang Wahana bermain? Hening. Disekitar Midorima menjadi hening, bukti bisu jika ia benar – benar memikirikannya. Thing! Minamoto pernah mengatakan sesuatu tentang bebas, itu artinya..
Tanpa basa basi, Midorima langsung berlari menuju wahana yang minamoto idamkan untuk menaikinya, sebuah Bianglala. Dengan cepat Midorima langsung ke wahana besar itu. Lalu melihatnya, melihat gadisnya yang terikat di bom waktu, hanya memakai kemeja yang menutupinya sampai pangkal pahanya.
"Hanami?" tanya Midorima, Minamoto mengalihkan pandangannya ke sumber suara. Minamoto membulatkan mata, Midorima memasuki bianglala yang sudah diisi 50 dinamit dan bom waktu.
"Mi..Midorima – san?" tanya Minamoto, Midorima mengelus pipi Minamoto. Manik mereka bertemu, terpampang jelas jika midorima sangat panik tapi tetap berusaha tenang.
"kau tidak apa – apa? Jangan bergerak, aku akan menolongmu." Ucap Midorima sambil menyelimuti jaketnya ke tubuh mungil Minamoto. Tangan Midorima mulai bekerja, membongkar dan memisahkan kabel, lalu melepaskan satu – satu dengan hati – hati...tes! setetes air mata terjatuh dipipi midorima, namun Midorima Mengabaikan air mata itu, berusaha untuk serius memisahkan bom – bom itu.
"Midorima – san, aku senang." Ucap Minamoto sambil tersenyum, tapi senyuman itu tak dilihat oleh midorima.
"tapi..maaf ya.." – minamoto mengigit bibir bawahnya.
"aku sudah...bersuami.." – jelasnya.
"lebih baik kau tinggalkan aku." Pinta Minamoto. Midorima sudah tak bisa berkosentrasi, chu! Dia menciumnya, melumatnya lembut menyalurkan kehangatan lewat bibir mereka.
"Midorima – san?" tanya Minamoto kebingungan. Entah kebingungan atau apa, tapi yang pasti dia merasa senang karena untuk pertama kalinya Midorima menciumnya.
"bodoh, mana mungkin aku meninggalkanmu.." ucap Midorima. Minamoto membulatkan matanya. Midorima tersenyum, baru pertama kali ia melihat Midorima tersenyum seperti itu.
"kau ini tunanganku-kan? Ah bukan. Kau ini, Midorima Hanami-ku kan?" air mata Minamoto mengalir deras. Tangan Midorima mulai bekerja kembali.
"maaf ya, sikap tsundereku ini memang menyebalkan. Aku tak bisa mengatakan langsung seperti orang biasa karena malu, bahkan sampai menyakiti perasaanmu. tapi saat kau dalam bahaya, entah kenapa sikap tsundereku menghilang. Maaf ya..pasti kau sangat benci padaku" jelasnya sambil bekerja. Minamoto tersenyum bahagia.
"Midorima – san, kau tak perlu minta maaf dan juga aku tak membenci midorima – san kok. Lagipula aku sudah tahu semuanya.." jelas Minamoto, Midorima mengalihkan pandangannya.
"semuanya? Maksudmu-.." minamoto mengagguk.
"ya ampun bahkan kakak juga merahasiakan. Tapi, apapun pekerjaan Midorima – san, aku tetap mencintai Midorima – san.." Midorima tersenyum senang, lalu mencium kening Minamoto.
"arigato.." ucap Midorima. Set! Potongan terakhir kabel pun selesai. Semua bom yang terpasang ditubuh Minamoto sudah terlepas, bahkan bom waktunya berhenti.
"baiklah selesai.." – Midorima sambil membenarkan kacamatanya. Mengerjapkan matanya tak percaya.
"cepatnya!" Gyut! Midorima memeluk Minamoto dan mengelus kepala Minamoto.
"hal seperti itu sangat mudah bagiku." – ucap Midorima sambil tersenyum, Minamoto ikut tersenyum. Midorima melepaskan pelukannya.
"ayo.." – ajak midorima. Minamoto megeryitkan alis.
"kemana?" tanya Minamoto, Midorima meraih tangan Minamoto.
"ke orang itu, aku akan memberikannya pelajaran." Jelas Midorima, Minamoto mencegah Midorima.
"sudah cukup! Kita langsung pulang saja!" jelas Minamoto, Midorima menggeleng.
"tidak, aku ingin hidup tenang setelah ini bersamamu." Jelas Midorima. Tanpa sadar Minamoto mengikuti langkah Midorima. Mereka pun berjalan ke arah sebuah theater tua yang sudah tak terpakai. Bagaimana Midorima tahu jika Mikael ada disana? Karena Midorima melacak handphone Minamoto.
"Hanami, kau disini sa-..."
"wah..wah..kata – kata yang bagus..." Midorima menoleh ke sumber suara, begitu juga dengan Minamoto. Terpampanglah disana, seorang pelayan terduduk di paling atas. Midorima menatap tajam Mikael yang masih bersandar dibangku.
"Mikael.." – Mikael hanya tersenyum saat Midorima memanggil namanya dengan amarah.
"kau, berani sekali menceritakan imajinasimu kepada istriku." Jelas Midorima yang masih mengenggam tangan Minamoto.
"hah, apa maksudnya? Tentu saja, aku dan dia sudah bersuami istri." Jelas Mikael. Minamoto tanpa sadar mengeratkan genggamannya dan menunduk sambil menangis, Midorima mengelus kepala Minamoto dengan lembut seperti mengatakan 'tenanglah jangan menangis'. Midorima menatap kembali Mikael.
"itu benar tapi itu hanya dalam imajinasimu saja.." jelas midorima, membuat Minamoto mengerjapkan matanya.
"apa maksudnya?" tanya Minamoto.
"kau dan dia bukanlah suami istri." – Midorima. Minamoto terkejut.
"a..apa?" Mikael memandang rendah Midorima sambil tersenyum.
"apa maksudmu? Aku benar – benar menikah dengannya kok. Kaupun juga tahu akan hal itu.." jelasnya sambil meperlihatkan cincin dan menekan kata 'hal itu'. Minamoto mulai kebingungan.
"Midorima – san juga tahu?" tanya Minamoto.
"jadi..ternyata dugaanku benar. Jika kau adalah si monster polandia." – Midorima.
"Monster Polandia?" – Minamoto.
"benar. Mesin pembunuh yang sudah diajari dari lahir, membunuh berantai anak kecil dengan sadis saat umurnya 6 tahun, bahkan dia membunuh orang tuanya." Jelas Midorima. Mikael melompat 3 meter lebih dengan sempurna. Menghampiri mereka berdua yang berada di panggung theater.
"lalu aku dikucilkan, disiksa dan dibuang ke laut , dan terdamparlah aku disini. Bertemu dengan seorang gadis yang manis dan menawan, untuk pertama kalinya ada orang yang ingin memberikan uluran dan senyuman padaku." Jelas Mikael. SET! Entah kapan, tapi yang pasti, Minamoto sudah ada dipelukan Mikael sekarang.
"kehangatanmu begitu membuatku terlena dan ingin sekali ke dalam pelukanmu..." bisik Mikael sambil mengecup pelan leher Minamoto.
"Hanami!" teriak Midorima sambil menodongkan handgun laras panjang.
"Nee...Hanami sayangku, menikahlah denganku dan kau akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa!" tawar Mikael, sambil meraih pinggang Minamoto dengan tangan kanannya, lalu mengangkat lengan Kiri Minamoto dengan tangan kirinya. Memeluknya dari belakang. Minamoto memberontak.
"bukan itu taruhannya! Midorima – san sudah menemuiku dan sebagai kenyataannya dia mencintaiku, seharusnya kau melepasku dan meminta maaf pada Midorima – san!" jelas Minamoto, Mikael menggigit perpotongan leher Minamoto, Minamoto berteriak kecil dan kesakitan. Melihat itu, Mikael hanya tersenyum.
"hmm, bagaimana ya? Anda terlalu manis untuk dilepaskan." Jelas Mikael.
"taruhan? Taruhan apa?" – tanya Midorima. Mikael menaruh telunjuknya di mulutnya.
"Rahasia! Hanya diriku dan Hanamiku saja yang tahu.." ucapnya sambil mulai meraba tubuh Minamoto yang hanya terbalut kemeja polos milik Mikael.
"tch! Berengsek! Jangan sentuh dan Lepaskan dia!" perintah Midorima dengan marah. Mikael menatap rendah, diapun tersenyum.
"kalau begitu bagaimana jika seperti ini?" Mikael melemparkan Minamoto kearah Midorima.
"Hanami!" DORR! Mikael menembak Midorima, peluru itu pun berhasil bersarang di paha Midorima. Bruk! Tanpa memikirkan lukanya, Midorima menangkap Minamoto sambil memeluknya, punggung Midorima bertabrakan dengan marmer lantai itu.
"Mi...Midorima – san?" tanya minamoto dengan panik.
"ka..kau tidak apa – apa?" tanya Midorima, Minamoto mengangguk.
"eum, aku baik – baik saja Midorima – san -..." jawab minamoto, tanpa sengaja manik minamoto menangkap luka Midorima.
"Midorima – san, kau terluka!" ucap minamoto mengingat tadi Midorima tertembak. Midorima tersenyum.
"tenang dulu, aku akan baik – baik saja.-..." deg! Tiba – tiba pernapasan Midorima menipis dan..
"ARGGGHHH!" Midorima memuntahkan darahnya sendiri membuat Minamoto membulatkan mata dengan sempurna.
"A..apa yang terjadi!?" – tanya Minamoto dengan kepanikan yang menyelimutinya.
"semuanya berjalan dengan lancar..." – ucap mikael sambil menurunin tangga.
"Midorima – san! Midorima – san!" panggil Hanami sambil membaringkan midorima dipangkuannya. Midorima mengangkat tangannya, mengelus pipi Minamoto dengan lembut.
"Ha..Hanami, gomen ne..aku lagi – lagi tak bisa melindungimu.." ucap Midorima sambil tersenyum. Minamoto mengeluarkan air matanya dengan deras.
"Midorima – san, jangan banyak bicara-..." cup! Midorima menciumnya lembut. Membuat Minamoto terdiam.
"aku mencintaimu, Hanami.." midorima menjatuhkan tangannya yang meyetuh pipi lembut milik Minamoto, menutup matanya sambil memandang Minamoto yang shock melihat ini.
"Midorima...- san?" panggil Minamoto. Midorima tidak menyaut. Minamoto mengoncangkan tubuh Midorima.
"Midorima – san bangun, kau tidak bercandakan? Bangun, aku mohon bangun.." lagi – lagi tidak menyaut.
"Hanami sayangku, dia itu sudah mati.." ucap Mikael sambil mendekati Minamoto.
"a..apa? itu tidak mungkin, Midorima – san takkan selemah itu, kini dia hanya bercanda-..." – Minamoto.
"itu racun ular king cobra, dia sudah tak terselamatkan lagiloh.." jelasnya sambil tersenyum senang layaknya pelayan. Minamoto hanya diam.
"nah sekarang-.." DORR! DORR! Tangan Mikael tertembak dengan sempurna, dua tembakan itu mengenai bahu kanannya dan kaki kirinya.
"Hanami?" Mikael membulatkan matanya dengan sempurna, melihat Minamoto yang menodongkan handgun milik Midorima dengan tangan kanan miliknya. Mikael hanya tersenyum bangga.
"melumpuhkan musuh dengan menembak tangan dan kakinya, kau hebat Hanami – ku.." ucap Mikael dengan bangga. Minamoto masih menodongkan handgun milik Midorima dengan wajah despresi.
"sudah hentikan, Mikael." Ucap Minamoto. Mikael masih tetap tersenyum. Minamotopun bangkit sebelum ia membaringkan midorima di lantai.
"kau, menghancurkan segalanya...bahkan kau juga membunuh Fuyuki – chan dengan racunmu itu!" jelas Minamoto. Mikael mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu tersenyum kembali.
"begitu ya, jadi saat itu anda masih sadar?" tanya Mikael. Minamoto yang dulunya pendiam dan manis kini menjadi orang yang dingin dengan tatapannya yang tajam.
"Ya begitulah...aku memang terjatuh tapi kesadaranku masih setengah sadar!" ucap Minamoto sambil mendekati Mikael. Ckrek! Minamoto menodongkan senjata Midorima tepat kearah kepala mikael.
"selamat tinggal Mikael..." DUAGHH! Mikael memukul perut Minamoto dengan kuat sampai terlempar jauh. Handgun milik Midorimapun juga terlepas dari tangannya.
"ARGGHH!" tubuh lemah Minamoto menabrak bangku penonton paling atas membuktikan jika pukulannya sangat kuat. Set! Tanpa sadar Mikael sudah menimpanya sambil mencekik leher Minamoto, mengabaikan luka dibahunya.
"Nona, maaf ya. Sudah waktunya kau tidur dan juga.." Mikael mendekatkan dirinya ke telinga minamoto.
"aku tak ingin kita berpisah.." bisik Mikael. tangan kanan mikael yang masih bebas menekan perut bagian kiri minamoto yang habis terpukul.
"KYYAAAAA!" Minamoto berteriak histeris, Kakinya menendang – nendang liar. Dia sangat kesakitan. Ingin melawan tapi kedua tangannya sudah ditekan dengan kedua dengkul Mikael yang menimpa dirinya.
"maafkan aku nona." Mikael makin menekan perut Minamoto. Minamoto berteriak sangat kesakitan. Mikael hanya diam, suara teriakan Minamoto bagaikan melodi yang indah, suaranya menggema dalam theater ini, memperhias keadaan malam yang hening dengan suaranya. Syung! Sebuah pedang terlempar dari panggung.
"Sudah kubilang jangan sentuh dia!" zret! tangan Mikael tersayat, ah bukan lebih tepatnya terpotong dengan sempurna. Mikael membulatkan matanya. Iapun menoleh kebelakang.
"tidak mungkin! Seharusnya racunku itu membunuhnya!" batin Mikael sambil menatap Midorima yang sudah menodongkan handgun miliknya.
"selamat tinggal. Semoga kau tenang berada disana..." DORR! Sebuah peluru berhasil menembus jantung mikael.
"Ohok! Ohok! Mikael?" tanya Minamoto. Bruk! Mikael memeluk Minamoto dengan lembut.
"Mi-.."
"kumohon biarkan saya seperti ini..sekali saja..." ucap Mikael sambil mengelus kepala Minamoto. Midorima yang melihat itu geram dan mulai menembakkan peluru kedua kearah kepala Mikael.
"Oi! Sudah kubilan-..."
"jangan Midorima – san!" larang Minamoto. Minamoto memberi instruksi lewat mata agar midorima tidak menembaki mikael lagi. Melihat instruksi itu, Midorima hanya mendecih kesal.
"tch!" Midorima menurunkan senjatanya. Melihat keadaan yang mulai tenang Mikael menghela nafas.
"terimakasih Hanami. Sekarang dengarkan aku.." ucap Mikael sambil menangkap wajah Minamoto. Kedua manik itu saling bertemu, mikael hanya tersenyum puas.
"aku sangat mencintaimu. Kau adalah cinta pertama dan terakhirku. Kau selalu memberiku senyuman manismu saat aku dijauhi oleh orang – orang." Jelas Mikael yang mulai mengeluarkan air matanya. Mikael menyatukan keningnya ke kening Minamoto. Mikael menangis, baru pertama kali Minamoto melihat mikael menangis seperti ini.
"aku selalu ingin bersamamu, selalu...hiks! tapi takdir memang tidak -...hiks.."
"jangan begitu Mikael." Ucap Minamoto sambil mengelus pipi Mikael. Mikael membulatkan matanya saat Minamoto mengeluarkan air matanya sambil tersenyum lembut.
"kau tahu? Kau adalah orang yang baik, saat itu yang aku lihat, kau adalah seorang anak kecil yang lugu bahkan sampai saat ini, kau adalah orang baik." Jelas Minamoto yang masih mengelus pipiya. Mikael mengigit bawah bibirnya karena terlalu senang namun juga perih.
"anda bohong." Ucap Mikael. Minamoto menggeleng.
"aku tidak bohong kok. Kau melindungiku, menjagaku, dan selalu merawatku. Aku jadi sangat bersyukur bertemu denganmu diwaktu itu." Jelas Minamoto yang lagi – lagi membuat Mikael sangat senang. Kedua manik itu sama sekali tak merubah arah pandangnya. Mikael tersenyum senang sambil menangis.
"Nona.." Mikael mengeratkan pelukannya, menagis perih sampai tersendu – sendu.
"terimakasih...terimakasih.." ucap Mikael dengan suara bergetar. Waktunya sebentar lagi, dimana mikael akan pergi selamanya tanpa melihat Minamoto lagi. Minamoto membalas pelukan Mikael, mengelus punggung Mikael yang sudah mendingin. Mikael melepaskan pelukannya dan menatap Minamoto. Mikaelpun mencium Kening Minamoto dengan tersenyum lembut memejamkan mata.
"aku mencintaimu.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
6 month later...
Sebuah bulan purnama biru menyinari langit dengan indah, memasuki celah jendela besar sebuah kamar di appartement pribadi Midorima. Sang gadis sedang membuat teh untuk sang suami yang sedang terduduk tenang di atas kasur sembari melihat bulan. Ya, setelah kejadian itu, 2 bulan setelah itu mereka menikah dan tinggal bersama. Hanami – Midorima Hanami- mendekati sang suami yang sedang melamun sembari membawa 2 cangkir teh untuk mereka berdua.
"Shintaro – san...sebenarnya apa yang sedang kau lihat dilangit itu? Jangan melamun dong" ucap Hanami, Shintaro menjatuhkan diri ke kasur. Kini dia melihat langit – langit appartement sambil berbaring, Membuat Hanami sweatdrop.
"kenapa sih..." batin Hanami. Shintaro mengangkat tangannya, memberi instruksi agar Hanami bisa mendekat. Memahami instruksi itu, Hanami mendekatinya setelah menaruh 2 cangkir itu di atas meja lampu. Shintaro menarik lengan Hanami, membuat hanami jatuh ke kasur, Shintaropun memeluk tubuh kecil hanami, tangan kirinya dijadikan bantal untuk Hanami yang kini jadi berbaring berhadapan.
"ada apa sih?" tanya Hanami yang masih kebingungan. Shintaro menatap istrinya.
"tidak kok. Hanya saja terasa damai.." jelas Shintaro sambil memejamkan mata. Hanami hanya tersenyum. Hening..
"Shintaro – san, aku sangat berterimakasih padamu. Berkatmu Fuyuki – chan bisa selamat dari racun. Aku sangat berterima kasih~" ucap hanami sambil tersenyum senang. mengingat sahabatnya sudah sembuh setelah melewati kritis yang disebabkan oleh racun Mikael, Shintaro menyelamatkannya setelah mikael pergi dari taman. Shintaro hanya bersemu.
"bu...bukan apa – apa.." ucap Shintaro yang sepertinya penyakit tsunderenya belum hilang. Hanami hanya terkekeh kecil. Kini hening, wajah Hanami menjadi sedih, Shintaro mengelus pipi Hanami.
"kenapa?" tanya Shintaro. Hanami menatap dada bidang Shintaro.
"jika Fuyuki – chan selamat, berarti aku membunuh Mikael.." ucap Hanami. Shintaro mendekatkan Hanami, mempererat pelukan.
"bukan kau tapi aku..sudah ah jangan bersedih.." ucap Shintaro. Gyuut! Shintaro mencubit pipi Hanami, Hanami hanya meringis sakit.
"aduh Sakit jangan cubit pipiku.." ucap Hanami, Shintaro tetap melanjutkan kegiatannya, malah jadi lebih gemas.
"habis pipimu menggemaskan.." ucap Shintaro sambil memainkan pipi Hanami tanpa ekspresi. Hanami hanya mengembungkan pipinya, menunggu Shintaro menyelesaikan kegiatanya itu sampai puas.
"Sa..sakit tahu!" Ucap Hanami sambil bersemu menangis. Shintaro menghentikan kegiatannya, mengubah kegiatannya menjadi menghilangkan air mata di Hanami.
"ma..maafkan aku, habis kau terlalu manis.." ucap Shintaro sambil mengusap air matanya. Hanami hanya mengerucutkan bibirnya, jengkel dengan perlakuan Shintaro kepadanya. Melihat itu Shintaro menarik dagu Hanami, lalu mengecap bibir Hanami yang terlihat manis. Melumatnya pelan sambil mengelus kepala Hanami, berkali – kali dan berkali, Hanami hanya memejamkan matanya, menikmati setiap detik yang diperlakukan Shintaro. Ciuman itu berlangsung lama, membuat Hanami kehabisan nafas, Shintaro melepaskan ciumannya. Kini Shintaro memasang wajah sedih, Hanami mengeryitkan alis.
"ada apa Shintaro - san?" tanya Hanami yang kini mengelus pipi Shintaro. Shintaro mengubah posisinya, merendahkan posisinya dari hanami sehingga ia memeluk Hanami dengan kepalanya berada di bagian dada Hanami. Shintaro Memeluknya erat, melihat kelakuan Shintaro, Hanami hanya mengelus kepala Shintaro saja.
"kau tahu saat Mikael bilang menikah denganmu? Kenyataan itu memang benar." Jelas Shintaro yang tak berani memandang Hanami. Hanami membulatkan matanya, dengan reflek ia bangkit melepaskan diri dari Shintaro.
"a...apa!? ka...kalau begitu aku-..!"
"tenanglah..." ucap Shintaro, sambil duduk. Hanami menatap Shintaro cemas.
"ta..tapi..." Shintaro mengelus kepala Hanami, menyelipkan rambut Hanami di selah kuping.
"pernikahan itu tidak sah.." ucap Shintaro. Hanami mengerjapkan matanya beberapa kali. Shintaro meraih telapak tangan Hanami, menciumnya dengan waktu yang lama.
"ini terjadi sekitar 6 tahun yang lalu. Mikael mengamuk dan menculikmu setelah dengar jika kau bertunangan denganku. Kau dibuat tak sadarkan diri dan dipaksa membaca ikrar pernikahan tanpa sadar." Jelas Shintaro, Hanami hanya menegukkan ludahnya. Kenapa dia tak ingat? Kenapa dia tidak ingat akan hal sepenting itu? Pantas saja hal itu membuat Mikael sakit.
"ta...tapi kenapa aku tidak ingat? Seharusnya walaupun sedikit..." – Shintaro menyatukan keningnya ke kening Hanami.
"aku yang membuatmu melupakannya." Jelas Shintaro. Lagi – lagi membuat Hanami terkejut, iapun mengeryitkan alis.
"Shin...Shintaro – san yang melakukannya?" tanya Hanami, Shintaro hanya mengangguk.
"benar...bahkan aku juga melakukannya pada diriku sendiri." - Shintaro
"Shintaro – san juga melakukannya?" Hanami.
"benar."
"kenapa?"
"karena itu...terlalu menyakitkan..." jelas Shintaro, Hanami mengerjapkan mata, merasa kebingungan dengan penjelasan Shintaro. Melihat Hanami yang masih belum mengerti, Shintaropun menjelaskan semuanya.
"sebelum mengucapkan ikrar janji, aku dan kakakmu, nagisa, bertarung terlebih dahulu mengalahkan Mikael. Tapi karena aku dan Nagisa tidak cukup kuat melawannya, kamipun kalah. Kami hanya bisa melihat kalian membaca ikrar janji dan-.."
"lalu?"
"dia melakukannya..." jelas Shintaro, Hanami otomatis menutup mulutnya, mengeluarkan air mata dari kedua matanya.
"ja..jadi da..dari awal aku...aku sudah-..tidak suci?" tanya Hanami. Shintaro merangkul Hanami, menjatuhkan hanami dalam pelukannya. Mengelusnya pelan dengan perasaan.
"lebih tepatnya, hampir..." – jelas Shintaro, Hanami menatap Shitaro.
"mungkin jika Tuan Akashi Masaomi tidak datang, hal itu akan terjadi." Sambung Shintaro. Hanami mengeluarkan nafas yang panjang.
"syukurlah.." ucap Hanami sambil mengelus dadanya. Hening, kini tak ada suara kembali. Tiba – tiba Shintaro meraih lengan Hanami.
"maafkan aku..." ucap Shintaro. Hanami hanya mengeryitkan alis.
"hmm...untuk apa?" tanya Hanami sambil tersenyum.
"Ciuman pertama mu telah diambil darinya...maafkan aku.." jelas Shintaro. Hanami hanya tersenyum, Sruk!sruk! Hanami menggosokkan kepalanya ke dada bidang Shintaro.
"tidak apa – apa kok.." jawab Hanami sambil menatap manik Shintaro. Shintaro mengeratkan rangkulannya.
"aku juga gagal menyelamatkanmu dan membuatmu menangis..maafkan aku.." ucap Shintaro lagi sambil mengecup tangan Hanami. Diciuman itu bisa Hanami rasakan, ada rasa kekecewaan dan keputus asaan yang dialami Shintaro, Sudah 6 tahun ia menahan rasa penderitaan dan bersalah padanya. Hanami mengelus Puncak kepala Shintaro.
"Shintaro – san, tak ada yang perlu kau khawatirkan lagi..." jelas Hanami. Hanami masih mengelus lembut Shintaro.
"kau itu orang baik, dan juga itu bukan ciuman pertamaku..kau tidak ingat? Yah walaupun samar, aku masih ingat. Shintaro – san sudah menciumku saat masih kecil.. jadi aku sudah menghitungnya sebagai ciuman pertamaku." Jelas Hanami malu – malu, mengingat saat Shintaro menciumnya tanpa sengaja. Shintaro menatap Hanami.
"Hanami..." panggil Shintaro. Hanami memejamkan matanya dan tak menghentikan belaiannya.
"setiap orang pasti memiliki kesalahan, kegagalan dan kekalahan. Shintaro – san juga termasuk orang itu, di dunia ini bisa terjadi apa saja..jadi jangan salahkan dirimu sendiri, Shintaro – san..." jelas Hanami sambil tersenyum lebar. Chu! Shintaro mencium Hanami, Hanami hanya diam menikmati setiap ciuman dan kecapan dari Shintaro. Shintaro mengurung Hanami dengan tubuhnya, mencium hanami dengan french kiss yang menggoda, menjilat, mengigit dan berdansa dengan lidah sehingga celah mulut mereka mengalir saliva mereka berdua. tangan Shintaro juga tak diam, tangannya mulai bergerak, membuka kaos polos milik Hanami yang langsung menampilkan bra pink berenda. Wajah Hanami memerah saat Shintaro menatap lama bra itu.
"Shi..Shintaro – san, ja..jangan me..menatapnya seperti itu. Ji..jika me..memang tak pantas aku tak akan memakainya ..la..lagi" jelas Hanami yang mulai mengeluarkan air matanya.
"da...dan juga tak adil jika..ha..hanya aku yang terbuka.." jelas Hanami yang jelas – jelas memberi kode 'buka bajumu..'. Shintaro yang mengerti kode itu hanya mendengus pelan dan tersenyum, melepaskan kacamatanya lalu menaruhnya di lampu meja terdekat. Memperlihatkan ketampanan tambahan yang tak pernah dilihat oleh Hanami. Set, satu – persatu Shintaro melepaskan kancing kemejanya, memperlihatkan tubuh atletis yang ia latih setiap hari, Hanami yang melihat itu memerah hebat secara reflek menghalangi pandangan dengan lengannya, namun sedikit mengintip, munafik sekali ya kau nak.
"Shi..Shintaro – san! Sa..sangat keren!" batin Hanami sambil membuang wajahnya. Melihat itu Shintaro langsung melepaskan kemejanya, melemparnya entah kemana dan sekarang ia sudah sepenuhnya telanjang dada. Hanami masih tak mau menatap Shintaro.
"ara..ara... ada apa? Bukannya kau ingin aku buka baju?" tanya Shintaro. BLUSHH! Wajah Hanami sudah memanas.
"sa...saat a..aku bilang se...seperti itu..bu..bukan berarti aku me..menginginkan Shintaro – san te..telanjang!" balas Hanami padahal didalam hatinya sangat senang. Wait..wait...kenapa sekarang Hanami yang Tsundere?
"la..lagipula ke..kenapa Shin..Shitaro – san...tidak malu..seperti biasanya?" tanya Hanami. Shintaro masih mempertahankan senyumannya yang menawan.
"Entahlah...mungkin..." Shintaro mendekatkan wajahnya kebagian atas dada Hanami, Slurp! Shintaro menjilat tengah – tengah dada hanami
"kyaa~.." Hanami tak sengaja membuat erangan manis dari mulutnya. Shintaro tersenyum dan mendekatkan wajah mereka berdua, slurp! Kini Shintaro menjilat air mata yang sedari tadi bertengger di sisi mata Hanami.
"karena kau terlalu manis untuk ditahan – tahan.." jelas Shintaro. Klek! Bra hanami sudah dilepaskan olehh Shintaro. Muncullah sebuah gunungan berukuran medium, Shintaro yang melihat itu hanya meneguk ludah. Hap! Dengan lembut Shintaro mengemut payudara Hanami, membuat erangan – erangan yang membuat Shintaro semakin tak bisa menahannya. Kenyal, wangi dan putih, itu bisa dirasakan oleh Shintaro, memainkan puting dengan lidah, memutarnya, menghisap dan mengigit, membuat si pemilik payudara itu mengerang keenakan. Berpindah dan bergilir, ke kanan dan ke kiri.
"Shi...shintaro – san.." panggil Hanami sambil menarik Rambut Shintaro saat gairahnyat tak tertahan. Gyut! Saat mulut shinatro sedang sibuk di bagian kanan dan tangan kanan dibagian sebelah kiri, kini Tangan kiri shintaro yang menganggur kini menekan – nekan kemaluan Hanami yang masih terbalut dengan pakaian dalam yang sudah satu set dengan bra tadi.
"..kya..hah...Shin..shintaro –san..hmph!" Hanami mendesah. Shintaro mencium ganas mulut Hanami sampai mulut hanami dengan lidah mereka berdua. Kedua tangan shintaro masih bekerja, kini tangan kiri mulai masuk kedalam celana dalamnya, merasakan sebuah carian yang sudah menempel di kemaluan Hanami. Hanami sudah basah.
"Kya..kyaa! Shin..shintaro. Hmph!" Hanami tak diberikan kesempatan untuk berbicara. Tangan Kiri Shintaro menjadi lebih liar lagi. Puh! Shintaro melepaskan ciumannya menjauh dari Hanami yang sedari tadi ada dibawahnya, menciptakan benang saliva yang terputus dengan cepat. Shintaro semakin tak kuat setelah melihat wajah Hanami yang begitu menggoda, memerah, berkeringat dan mata yang sayu. Ia melepaskan rok dan celana dalam yang dikenakan hanami sekaligus. Bukan hanya Hanami, tapi ia juga melepaskan pakaiannya juga, kini mereka berdua telanjang tanpa benang sehelaipun di tubuh mereka. Shintaro mengelus wajah Hanami.
"bolehkah aku melakukannya?" tanya Shintaro dengan lembut, Hanami mengangguk.
"silahkan Shintaro – san, tolong lakukan dengan lembut.." pinta hanami. Shintaro membalas senyum.
"baiklah.."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hanami P.O.V
Aku membuka mataku, mengumpulkan nyawa sambil menatap cahaya matahari yang memasuki kamarku. Bisa kurasakan jika ada sesuatu yang melingkar dipinggangku, dan juga nafas yang terautur menerpa punggungku yang polos. aku menghela nafas dan menguap, ini adalah pagi hari tapi kenapa rasanya lelah sekali, semua badanku sakit dan pegal, mengingat tadi malam aku berhubungan dengan shintaro – san. Walau kami sudah menikah 6 bulan, kami berdua tidak langsung melakukan berhubungan intim, kenapa? Aku juga tidak tahu, shintaro – san sama sekali tak menyentuhku macam – macam. Kehidupan sehari – hariku juga sangat berubah, memelukku saat tidur, mencium keningku disaat berangkat dan pulang kerja, mencium bibirku di saat bangun dan menjelang tidur, jika liburan terkadang kami berdua berbincang tentang sesuatu sambil berbaring ataupun menonton film di rumah. Sifat tsunderenya sepertinya sudah menurun, ia sekarang lebih jujur padaku, merasa kesal, marah, senang dan bahagia, di pasti akan menceritakannya kepadaku,
Tapi yang pasti aku bahagia..Akhirnya aku dan shintaro – san bisa bersatu, hari ini.
"hehehe..ureshii naa..~" perutku menjadi sesak, seperti diriku sedang dipeluk erat dari belakang.
"apanya yang senang Hanami?"
"huwaaa! Shintaro – san sejak kapan kau -..." chu! Shintaro – san mencium bibirku.
"Ohayou, Hanami..." ucapnya sambil tersenyum, aku membalasnya tersenyum. Akupun bangkit dan -...
"ohayou gozaima-...kyaa!" kesakitan, bagian sensitifku sangat perih saat digerakkan. Shintaro – san dengan reflek merangkulku.
"hati – hati, kau ini." ucapnya. Aku hanya tersenyum perih.
"go..gomen ne~hehehe" ucapku. Hening, kini tak ada yang memulai pembicaraan. Kami saling menatap, mempertemukan warna manik kami.
"ada apa?" tanyaku. Dia hanya menggeleng pelan.
"tidak, aku baru sadar jika istriku ini sangat cantik.." Blush! A..apa!?
"Shin...Shintaro – san ngo..ngomong a..apa sih!? Jangan mengagetkanku.." balasku. Ya ampun sejak kapan Shintaro – san menjadi penggoda seperti ini!?
"ada apa? Bukankah wajar jika aku memuji istriku sendiri? Dan juga ada apa dengan wajahmu itu? Kau seperti direbus dengan suhu 360 derajat celcius?" jelasnya sambil memainkan hidungku. Tunggu sebentar! Kenapa shintaro – san tahu ukuran suhu rebusan untuk manusia? Aku tahu jika dia seorang pembunuh bayaran, ta..tapi-..ah sudahlah..
"kalau begitu ayo kita mandi berdua.." ajaknya, iapun membisikkanku sesuatu..
"ayo kita lanjutkan disana, aku dengar air hangat dapat menaikkan hormon kita.. singkatnya jika kita melakukan hubungan intim di air hangat, akan ada kemungkinan besar kau langsung hamil.." jelasnya. Set! Shintaro – san menggendongku ala bridal. Air hangat? Hormon? Hamil? Hubungan intim!?
"Tu..tunggu sebentar! Aku -.."
"kau tak bisa menolak, sayang. Apalagi disaat aku sudah bersemangat...jadi.."
"bersabarlah...~"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Midorima x OC (END)
P.S:
Yahoo~ pesan dari author Cuma sedikit kok (-w- )
Jika kalian bingung membayangkan wajah mikael, bayangkan saja ia adalah sebastian mikaelis dari anime sebelah (kuroshitsuji) ( -3-)/
