Everybody give me an attention!
When I still didn't know a thing and had no choice but to just keep moving forward (This is the story of my glory road)

Ono Kensho ZERO


Senyum geli bisa kupastikan sudah tercetak jelas di wajahku sekarang. Tanganku pun agak bergetar karena menahan tawa. Saat itu aku benar-benar kekanak-kanakan sekali. Sudah bagus dituruti dan dibuatkan soal Matematika, mata pelajaran tersulit menurutku, tapi aku malah merengek lagi untuk minta penjelasan yang lebih mudah dalam mengerjakannya.

"Tak ada cara lain, kecuali Tetsu-kun harus mengingat rumus-rumus itu," kata Okaasan.

Wajahku cemberut sambil menatap dua lembar kertas di hadapanku.

Untuk percobaan pertama, Okaasan hanya memberikan sepuluh soal cerita. Kalau hasilnya sesuai ekspetasinya (mendadak aku jadi ingat seseorang), besok akan dibuatkan tiga puluh soal baru. Seingatku, Okaasan mencampur adukkan semua materi yang dipelajari dari awal kelas 5 sampai materi terakhir yang dibahas guru di kelas.

"Ugh, soalnya susah," keluhku.

"Jangan bilang susah dulu, kan belum dicoba," Okaasan menyahutiku.

"Apa Okaasan bisa memberikanku clue untuk mengerjakannya?"

Okaasan menatap Otousan dengan tatapan yang sulit diartikan olehku. "Lihat, anakmu jadi pintar menawar gara-gara kamu, Anata."

Tangan kanan Otousan memberi isyarat agar aku mendekatinya.

Ia berbisik. "Gunakan puppy eyes no jutsu milikmu, Tetsu—"

"—itu tidak akan mempan lagi, Tetsu-kun."

Aku merenggut kesal dan membuat para orang dewasa tertawa, termasuk Obaasan yang sudah tertawa sejak tadi. "Percuma dong, aku minta bantuan Okaasan," gumamku.

Bilangnya tidak mempan, tapi saat aku memilih untuk terus memandanginya beberapa menit, ia bilang. "Okaasan menyerah, Tetsu-kun menang lagi." Matanya yang sewarna denganku memandang Otousan yang duduk di sebelahnya. "Kamu sih," keluh Okaasan.

Otousan memasang wajah jahil dengan mengeluarkan sedikit lidahnya.

Aku cengengesan sambil menengok ke arah Obaasan yang duduk di atas sofa.

Ia mengangkat ibu jari pada tangan kanannya seraya bergumam, "Bagus, Tecchan."

"Ibu ternyata mendukung Tetsu-kun juga, ya. Kejam..." ucap Okaasan sedih. Tapi tak lama kemudian, ia menyisingkan lengan panjang kaosnya sampai siku. "Nah, ayo kita mulai belajar dengan serius, Tetsu-kun~"

Kegiatan belajar intensif bersama Okaasan pun dimulai.

Ternyata ingatanku tentang kejadian itu masih belum pudar.

Aku bersyukur, sampai sekarang, kami berempat masih tinggal bersama.

Momen waktu itu, takkan kulupakan.


Aku mengingatnya dengan sangat jelas. Obaasan dan Otousan tertawa melihat aku merengek meminta penjelasan dari soal-soal yang diberikan Okaasan. Hati Okaasan pun luluh, ia memberiku cara-cara mudah untuk mengerjakannya.

~ Tetsuya's 10th Paper End ~


Terima kasih sudah meluangkan membaca fanfic ZPS! #bow

CHAU!