520 Family
Main cast: Oh Sehun dan Xi Luhan
Rated: T
Warning: GS, OOC, TYPO(s), Cerita pasaran, Alur cepat
Genre: Family, Romance
"Sayang" panggil Sehun manja pada Luhan yang sedang mengoleskan sebuah krim malam di wajah mulusnya. Wanita itu menoleh sambil menaikkan alisnya.
"Kemarilah, aku ingin memelukmu" ucap Sehun yang sedang bersandar di headboard tempat tidurnya. Luhan menjawab dengan tiga jarinya yang berarti berikan ia waktu tiga menit lagi dan dia akan menyusul Sehun di tempat tidur.
Sehun mengerti akan isyarat yang Luhan berikan. Ia pun kembali tenang dan melihat setiap kegiatan yang istirinya lakukan. Betapa sulitnya menjadi wanita, untuk pergi tidur saja mereka harus menggunakan beberapa krim untuk kulit mereka. Sedangkan bagi Sehun ketika ia mengantuk ia cukup mebersihkan wajahnya dengan sabun muka lalu segera tidur.
Luhan beranjak dari meja riasnya lalu mendekat ke arah Sehun. Sehun segera menepuk tempat di sela-sela pahanya agar Luhan duduk disana. Luhan tak menolak, ia duduk di sela-sela paha Sehun dan bersandar di dada favoritnya. Tangan Sehun segera memeluk Luhan dari belakang dan sedikit mengelus perut yang tak begitu rata milik Luhan.
"Ada apa Sehun?" Tanya Luhan sambil mengelus punggung tangan Sehun.
"Tak ada apa-apa, aku hanya merindukanmu" Sehun mencium belakang rambut Luhan yang beraroma segar.
"Selalu seperti itu jawabanmu" Sehun tertawa pelan melihat tingkah gemas sang istri.
"Apa kau masih memikirkan dia?" Luhan menghentikan gerakan mengelus punggung tangan Sehun. Ia sedikit menjauhkan dirinya dari dada Sehun lalu beralih menghadap ke arah suaminya.
"Kenapa kau menanyakannya lagi?"
"Tak apa, aku hanya takut dia merebutmu sayang" terlihat ketakutan di mata Sehun. Luhan mendekat ke arah wajah Sehun, dan Sehun segera menutup matanya. Luhan menaruh tangannya di sisi kepala Sehun dan mulai menciumi setiap inci wajah suaminya itu.
"Bagaimanapun ia berusaha merebutku darimu, aku akan tetap bersamamu dan keluarga kecil kita" Luhan mengucap itu sebelum mencium dalam bibir Sehun.
.
Sebelum bertemu dengan Sehun, Luhan sebenarnya telah dijodohkan oleh kedua orang tunya dengan salah satu pria berketuran Cina yang bernama Kris. Keduanya saling mencintai hingga tak ada drama penolakan dari Luhan maupun Kris. Bahkan rencana perjodohan ini terbilang sangat lancar.
"Aku mencintaimu Luhan" ucap Kris sambil memegang tangan Luhan.
"Aku juga mencintaimu ge" ucap Luhan sembari merona hebat.
"Satu minggu lagi adalah hari pernikahan kita, aku akan menjagamu dengan baik Luhan. apakah kau percaya padaku?" Luhan mengangguk. Bagi Luhan kepercayaan adalah sesuatu yang sangat sacral dan penting. Hingga ia berani mempercayakan semua kepercayaannya pada Kris yang tak lelah membuktikan rasa cinta padanya.
.
Dua hari sebelum hari pernikahan Luhan dan Kris.
Hari dimana semua berjalan rumit. Jelas terlihat ketika Kris duduk bersanding dengan seorang wanita bermata sipit yang menunduk dalam. Di hadapannya telah duduk Luhan beserta kedua orang tuanya. Orang tua Kris pun duduk berseberangan dengan mereka.
Entah kenapa di ruangan ini terlihat banyak sekai yang sedang menitikkan air mata. Luhan, Ibu Luhan, Ibu Kris bahkan wanita di samping Kris kini menitikkan air mata.
"Maafkan aku paman" ucap Kris memecah keheningan. Semua mata kini tertuju pada Kris.
"Meminta maaflah pada Luhan dan kedua orang tuamu" ucap Ayah Luhan.
"Lu aku minta maaf" Kris kini jatuh bersimpuh di hadapan Luhan. wanita di samping Kris cukup terkejut dengan apa yang Kris lakukan. Luhan hanya diam sambil menatap Kris dengan tatapan datar.
"Apa yang kurang dariku Ge? Aku sudah memberikan semua kepercayaanku padamu, tapi sekarang kau melukaiku" ucap Luhan yang hanya bisa mengeluarkan air matanya dari sudut matanya.
Tepatnya kemarin Luhan memergoki Kris sedang bercumbu dengan wanita yang ada di sampingnya. Salahkan Luhan yang mempunyai akses lebih di apartemen Kris hingga ia bisa masuk ke dalamnya kapan saja dan melihat cumbuan calon suaminya pada wanita bermata sipit itu.
"Maafkan aku Lu, kita harus tetap bersama" Kris memohon kepada Luhan.
"Apa yang kau lakukan Kris? Berdirilah" wanita bermata sipit itu menarik lengan Kris agar tak bersimpuh lagi kepada Luhan. ia tak sanggup melihat Kris memohon seperti itu.
"Nona Tao, bersimpuhlah seperti Kris ge. Kau juga bersalah layaknya dia" ucap Luhan kelewat dingin.
"Tidak akan. Aku mencintai Kris ge, dia juga mencintaiku" Tao sedikit melupakan derajatnya saat ini. kris memandang Tao dengan tak percaya.
"Bangunlah ge" Tao tetap menarik lengan Kris meminta pria itu berdiri.
"Tinggalkan aku ge, semuanya batal –" Luhan berdiri.
"Pergilah bersamanya, jangan sekalipun mencariku" Luhan lalu melangkahkan masuk ke dalam kamarnya.
.
Hari ini adalah hari pertama Luhan mulai menetap kembali di Korea. Sebelumnya ia pernah ke Korea saat ia menerima beasiswa di SMA yang sama dengan Junmyeon. Namun ia harus kembali ke Cina setelah ia harus menyelesaikan perkuliahaannya.
Kini ia berada di Negara gingeng ini untuk bekerja dan juga melupakan masa lalunya bersama Kris. Luhan sudah memiliki pekerjaan, tapi bukan pekerjaan ternama seperti kebanyakan. Ia hanya menjadi kasir di salah satu kedai ramyun di sudut kota Seoul pada malam hari dan menjadi sekretaris di siang hari. Tak apa, ia memang mengambil banyak pekerjaan agar ia bisa lupa dengan masalahnya.
Ia bisa menggunakan bahasa Korea namun tak sefasih orang kebanyakan. Ia harus mengasahnya kembali agar ia lebih fasih untuk berucap dalam bahasa Korea. Sebagai kasir ia harus menyapa dan sedikit bercengkrama bukan dengan beberapa pelanggannya. Dan Luhan menganggapnya itu sebagai sarana untuk belajar.
"Yak Oh Sehun, aku ini kakakmu! Pesankan untukku" ucap salah satu pelanggannya yang baru saja datang. Dua laki-laki yang sepertinya bersaudara. Lelaki tinggi dengan muka datar itu harus mengaduh saat lelaki bersenyum khas itu memukul kepalanya.
"Iya iya Hyung aish" laki-laki tinggi itu berjalan menuju ke arah Luhan, sedangkan laki-laki bersneyum khas itu berjalan ke satu meja untuk menanti pesanannya datang.
"Selamat malam, anda ingin pesan apa?" Tanya Luhan sopan pada laki-laki tinggi yang rupanya memiliki wajah rupawan menurut Luhan.
"Apa kau pekerja baru disini?" Tanya lelaki itu sambil mengerutkan alisnya.
"Ye? – ah iya saya pekerja baru disini" jawab Luhan dengan tergagap.
"Benar saja, logatmu aneh"
"Saya dari Cina. Jadi bisakah saya mencatat pesanan anda?" Tanya Luhan yang mencoba kembali bersikap professional.
"Bolehkan aku mencatat nomor ponselmu?" Luhan membelalakkan matanya mendengar pertanyaan dari laki-laki tinggi itu.
.
Sejak mendapat penolakan dari Luhan, laki –laki tinggi bernama Sehun itu terus datang ke kedai tempat Luhan bekerja. Risih memang, namun Luhan juga tak ada hak untuk melarang laki-laki berambut hitam itu datang kesini. Bisa-bisa ia dipecat oleh bosnya karena mengurangi pemasukan.
"Pesan apa?" Tanya Luhan dengan singkat. Dan Sehun sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti itu.
"Ramen seperti biasanya dan bubble tea rasa vanilla. Dan mungkin nomor ponselmu" ucap Sehun yang membuat Luhan memutar bola matanya bosan.
"Totalnya lima ribu won" Sehun kemudian membayar sebagaimana Luhan ucapkan. Luhan menerima uang dari Sehun dan segera memberikan laki-laki itu nomor meja.
"Mana nomor ponselmu?"
"Maaf itu tak ada di dalam menu"
Dan lagi, Sehun mendapat penolakan.
.
Luhan memutuskan untuk mampir ke kedai topoki seusai pulang bekerja. Ia ingin sekali mencoba makanan itu karena rekan kerjanya banyak yang merekomendasikan kedai ini. ia memesan satu topoki untuk ia bawa pulang, mengingat ini sudah jam sebelas malam, maka ia tak ingin mengambil resiko.
Setelah pesanannya selesai dan ia telah membayar semuanya, kini Luhan berjalan cepat agar cepat pula ia sampai di flat kecilnya. Ia sadar jika malam hari seperti ini pasti memiliki resiko kejahatan yang sangat tinggi.
Dan benar saja kini ia merasakan seseorang tengah memeluknya dari belakang. Ia merasakan tubuhnya sedikit menegang karena pelukan seseorang itu semakin erat ditubuhnya. Ia ingin sekali menolak namun tubuhnya terasa lemas ketika akan melakukannya.
"Hai… maukah kau… menemaniku mala mini hik" Luhan tau jika seseorang yang sedang memeluknya ini adalah seorang pria berbadan besar yang sedang mabuk. Ia menangis ketika mencium bau alcohol yang mulai menusuk hidung bangir Luhan.
"Lepaskan aku tolong" ia memohon namun sepertinya itu tak mempan karena pria besar itu mulai membalik tubuh Luhan dan menghimpitnya disebuah tembok.
"Jika aku… melepasmu, aku akan… kehilangan tempat… untuk… menyalurkan hasratku bodoh!" Luhan menangis semakin keras karena mendapat bentakan.
Dan ketika pria itu semakin mendekatkan dirinya pada Luhan, dan saat itu pula Luhan merasakan ada seseorang yang menyela di sela-sela antara ia dan pria bertubuh besar itu. ia bisa merasakan bau parfum yang kuat saat ini.
"Pergi bajingan!"
"YA! Kau siapa? Beraninya kau!" tanpa berniat membalas perkataan atau membuatnya semakin panjang, pria yang memakai punggungnya untuk tempat bersandar bagi Luhan yang lemas ini segera memukul telak wajah pria hidung belang itu dan segera meninggalkannya. Luhan yang merasa badannya ditarik oleh lelaki itu dan ia memang tak bisa menolaknya karena terlalu lemas.
"Kau?" ucap Luhan yang akhirnya bisa melihat orang yang dengan baik hati menolongnya.
"Wae? Aku tak boleh menolongmu? –"
"Aku berpikir jika sejak saat ini aku harus melindungimu" lanjut lelaki yang telah menolongnya. Ia adalah Sehun, ya ia memang telah beberapa hari ini selalu menguntit Luhan ketika ia pulang dari kedai tempatnya bekerja. Apalagi alasannya jika bukan karena ia mengagumi dan ingin lebih banyak tentang Luhan.
..
Mereka tak pernah berpacaran atau apapun itu. hubungan mereka mengalir tanpa adanya status yang mengikat. Namun karena mereka telah dewasa dan telah membicarakan mengenai komitme maka mereka telah tau batasan diantara mereka.
Ini dilakukan karena Luhan masih trauma dengan kisahnya bersama Kris. Ia ingin semuanya mengalir bersama dengan waktu yang akan membrikan takdir indah padanya.
Hingga suatu hari Luhan dengan kagetnya menerima tamu yang tak terduga. Sehun datang ke flat sederhana Luhan bersama kedua orang tua, kakaknya dan kaka iparnya. Mereka datang dengan senyum yang mengembang. Dan tak tau kah jika Luhan kini hanya sedang menggunakan kaos oblong dan celana jeans selutut, ia berpikir bahwa ini terlalu santai untuk menjamu keluarga teman dekatnya itu.
Luhan mempersilahkan keluarga Sehun duduk di ruang tamunya yang hanya ada sofa, meja, dan televise. Begitu sederhana hingga ia merasa tak enak hati sendiri.
"Maafkan flatku yang begitu mewah ini. sebentar aku akan menyiapkan minuman dan beberapa makanan yang aku punya" Luhan berpamitan lalu berjalan menuju ke dapurnya. Ia malu saat ini, karena ketika ia membuka lemari es nya ia hanya menemukan air putih dingin dan beberapa brownies yang sudah terpotong.
Ia mengutuk Sehun yang tak memberitahu jika ia akan ke flat Luhan bersama dengan orang tuanya. Jika ia memberitahu Luhan, Luhan pasti bisa berbelanja terlebih dahulu. Setidaknya ia bisa membeli sirup dan beberapa makanan yang layak untuk disuguhkan.
"Maafkan aku, aku hanya memiliki ini untuk menjamu kalian" Luhan tersenyum canggung sambil menata beberapa gelas air putih dingin dan brownies yang tentu ia menatanya sedemikian rupa agar bisa menggugah dimata tamunya.
"Tak usah sungkan seperti itu Luhanie. Kami disini karena Sehun ingin mengenalkan kekasihnya pada kami" ucap Ibu Sehun dengan senangnya. Dan betapa terkejutnya Luhan hingga menjatuhkan rahangnya begitu saja.
"M-mwo"
"Jadi kapan kalian akan melangsungkan pernikahan? Aku rasa hanya kaulah yang bisa membuat Sehun ingin cepat menikah" Tanya Ayah Sehun yang bisa membuat Luhan kembali membelalakkan mata rusanya.
"A-aku tak tahu –"
"Maukah kau menjadi istriku, Luhan?"
.
Betapa beruntungnya Sehun ketika orang tua Luhan menyetujui lamaran Sehun. Dan mereka akhirnya menyelenggarakan pernikahan di Korea secara sederhana namun sacral. Banyak teman-teman Sehun yang datang dan memuji pilihan Sehun yang menurut mereka sangat cantik.
"Saya Oh Sehun mengaku dan menyatakan di sini, di hadapan Allah dan Pendeta serta para undangan yang hadir sebagai saksi, bahwa saya mengambil Xi Luhan sebagai istri saya yang sah. Dan saya sebagai suami yang setia akan berusaha mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit dan akan memelihara dia dengan setia" ucap Sehun lantang ketika berada di altar bersama Luhan yang tengah terisak haru melihat kesungguhan kekasihnya.
"Saudari Xi Luhan, sekarang ucapkan janji nikah saudari dengan sungguh-sungguh. Dengan kebebasan dan tanpa paksaan" ucap Pendeta pada Luhan. Yeojya itu menghirup dalam-dalam oksigen agar ia menjadi tenang.
"Saya, Xi Luhan menerima engkau, Oh Sehun menjadi satu-satunya suami dalam pernikahan yang sah, untuk dimiliki dan dipertahankan, sejak hari ini dan seterusnya, dalam suka maupun duka, semasa kelimpahan dan kekurangan, di saat sehat maupun sakit, seperti Kristus mengasihi jemaat-Nya samapi kematian memisahkan kita, menurut titah kudus Tuhan dan iman percaya saya kepada-Nya, kuucapkan janji setiaku padamu" ucap Sehun yang disambut haru para tamu.
.
.
"Lu, aku ingin kau selalu bersamaku"
"Akupun begitu. Aku tak ingin kita saling melepaskan. Aku akan selalu untukmu, dan kau akan selalu untukku"
"Bisakah aku memegang kata-katamu?" Tanya sehun sambil menggenggam kedua tangan Luhan erat.
"Hei kau meragukanku Oh Sehun?" Luhan mengerucutkan bibirnya sambil melepaskan tangannya dari genggaman Sehun.
"Bukan begitu sayang, aku tak akan pernah meragukanmu. Tetapi aku hanya takut, takut kau akan memilih Kris yang notabene sebagai mantan calon suamimu"
"Jangan bodoh Oh Sehun, aku akan tetap memilihmu yang notabene adalah suamiku. Suami yang telah memberiku dua anak!" ucap Luhan sedikit membentak.
"Harusnya aku yang bertanya, apakah kau tak akan meninggalkanku ketika kau dikelilingi wanita-wanita cantik dan seksi itu? –" Sehun memutar bola matanya malas ketika Luhan bertanya seperti itu.
"Kau tau bukan jika istrimu ini tak seperti itu"
"Dan aku bersumpah aku lebih terangsang jika melihat wajah dan tubuhmu ketimbang melihat wanita-wanita yang kau maksud" Luhan tersenyum puas mendengar jawaban suaminya. Dan Sehun pun menyusul senyuman Luhan.
"Sarranghae Oh Sehun"
"Nado sarranghae Oh Luhan"
