.

Saruhiko menghentak pedal gas dengan tidak sabar. Napasnya terengah. Memaksakan sisa-sisa dari mobil curiannya untuk membawanya menjemput takdirnya. Sekuat raganya melawan perih setiap kali lukanya yang terbebat bergesekan dengan desir udara yang ditebasnya—di saat seperti ini ia tidak bisa lagi pilih-pilih kendaraan mana yang harus ia curi, sampai tidak peduli mobil itu dilengkapi kap penutup atau tidak. Ia harus memacu lajunya secepat mungkin. Ia harus mengejar waktunya. Atau ia akan terlambat sama sekali.

Karena matanya tidak bisa lepas dari Pedang Damocles merah menyala yang menari-nari di langit, dari sisi Timur Kota Shizume. Tepi laut.

.

Just give me a reason

to keep my heart beating

.

Pikirannya disita kalut. Saruhiko terus membatin, sementara bibirnya tidak berhenti merapal sebuah nama.

Misaki….

Misaki. Misaki. Misaki. Misaki. Misaki….

Semoga ia tidak terlambat. Tidak. Ia tidak boleh terlambat sedetik pun. Atau hal yang paling ia takutkan di seluruh dunia akan terjadi. Mimpi buruknya. Ketakutan terbesarnya.

Misaki. Tidak….

Misaki… Misaki… Misaki….

Misakiiiiii…!

Mobilnya mendecit di tengah jalan. Mogok mendadak, kehabisan bahan bakar. Saruhiko mendecak. Ia melompat turun dan mulai memaksakan kedua kakinya untuk berlari.

"Fushimi-san…! Berhenti sampai di situ, Fushimi-san…! FUSHIMI-SAANN…!"

Saruhiko terus berlari. Tidak peduli dengan puluhan orang yang nyaris ia tabrak. Tidak menghitung berapa mobil yang ia lompati. Tidak mendengar raungan preman kelas teri yang tidak sengaja ia hantam di dalam gang yang sengaja ia ambil sebagai jalan pintas demi menghindar dari kejaran mobil patroli Scepter 4 yang dikendarai oleh Fuse dan Gotou. Kejarlah dirinya kalau bisa, namun Saruhiko tidak bisa berhenti berlari.

Peluh mulai membanjiri, merembes hingga kulitnya yang mengelupas di bawah balutan perban. Saruhiko meringis menahan perih yang mengiris. Peluh yang membanjiri tengkuknya. Dan napasnya yang semakin memberat.

Tidak. Tidak boleh berhenti. Tidak boleh.

Misaki….

Misaki… kumohon….

Misaki….

Dan di ujung pencariannya, pada hembusan anak-anak angin yang membawa wangi laut menyelusup di indera penciuman, Saruhiko terpaku pada sebuah pemandangan di hadapannya. Sel-sel dalam kepalanya yang lantas bekerja dengan cepat—ia sendiri tidak bisa lagi menangkap laju kerja otaknya—yang lantas meginstruksikan kakinya untuk melangkah lagi, lebih cepat dari sebelumnya.

"MISAKI…! AWAS—"

Dor! Dor! Dor!

.

Don't worry it's safe

right here in my arms

.

Saruhiko tersenyum. Samar. Namun sarat kelegaan. Rupanya ia tidak terlambat. Ia tidak akan kehilangan apapun. Ia berhasil mengalahkan mimpi buruknya, dan imaji itu akan sekali lagi tergenggam erat di telapaknya. Takdirnya sendiri yang berhasil ia taklukan di depan kedua matanya.

Yang penting… Misaki… selamat….

Bruk!

.

"SARUHIKOOOO…!"


.

Project K (c) GoRA & GoHands

Kings ~Chapter 9: Outcry~

disertai terjemahan lirik lagu yang berjudul The Beginning, oleh One OK Rock

.

'… hanya untuk menyambut sosok yang begitu dikenalnya, memunggunginya, kedua tangan terentang, dan wajah yang menoleh menatapnya, menyeringai kecil seolah menyapa seorang teman lama.'

.

.

.

Tiga puluh menit sebelumnya….

.

.

.

"—karang tepi laut… Saruhiko pernah ke sana bersama Misaki, 'kan?"

Menatap sepasang manik semerah darah itu lekat-lekat, yang Saruhiko temukan adalah sebuah kepastian. Anna tidak mungkin berbohong. Dan pada karang tepi laut itulah tempat terakhir yang akan didatangi Misaki selepas keduanya lulus dari SMP. Harusnya tanpa perlu mencari tahu dan membuang waktu lebih lama, Saruhiko bisa langsung menebaknya sendiri dengan mudah.

.

I'll risk everything if it's for you

.

Mendadak, Saruhiko merasa nyeri menusuk di dadanya kirinya, tepat di atas lambang HOMRA yang terukir di tubuhnya.

Ternyata tidak hanya Saruhiko. Seluruh anggota Klan Merah di sekelilingnya mengernyitkan reaksi yang serupa. Beberapa dari mereka lantas mengecek simbol yang kini terbakar kemerahan itu. Sensasi ini… Saruhiko pernah merasakan sebelumnya. Sensasi sesaat ketika Suoh Mikoto memaksakan batas maksimum kekuatan sebagai rajanya, dengan nyeri menusuk yang kemudian menjalar melalui simbol itu ke tiap-tiap tubuh pengikutnya.

Jangan-jangan… Misaki….

Tidak! Tidak. Tidak. Tidak. Tidak….

.

A whisper into the night

telling me it's not my time and don't give up

.

Sontak Saruhiko berlari keluar bar, matanya mencari ke sekelilingnya. Hingga akhirnya Saruhiko menemukan tanda itu di langit. Ya, Pedang Damocles merah yang mengangkasa, terbungkus aura merah dengan sempurna, disertai kilat-kilat menyambar di sekeliling bola aura tersebut. Saruhiko menggeram. Seketika teringat apa yang pernah diceritakan kaptennya suatu kali padanya.

.

"Damocles milik Raja Merah memang yang paling kuat di antara para raja lain, sekaligus yang paling destruktif. Tidak hanya bagi orang yang melawannya, namun juga bagi pemiliknya. Karena itu aku tidak heran ketika Weismann's Level milik Suoh Mikoto akan mencapai batasnya dalam kurun waktu secepat ini. Siapapun yang mewarisi kekuatan sebagai Raja Merah… tidak akan bertahan lama apabila tidak menggunakan kekuatannya dengan bijak."

.

Dan apa yang sekarang sedang Misaki lakukan? Tidakkah pemuda bodoh itu tahu kalau ia memaksakan diri, maka kekuatannya akan….

.

I've never stood up before this time

However I won't let go of this hand

.

"Saruhiko, ada apa—astaga… Pedang Damocles…?! Yata-chan…!"

"Berhenti di tempat Anda, Fushimi-san…! Kami mendapat perintah langsung dari Kapten. Mohon ikut kami dan kembali ke markas, Kapten membebastugaskanmu dari permasalahan ini."

Saruhiko mendecak. Kali ini muncul gangguan baru. Rupanya kaptennya itu masih terlalu sayang padanya hingga tidak membiarkannya menyentuh kasus ini barang seujung kuku pun. Terima kasih, Kapten, tapi anak buahmu yang satu ini tidak akan menuruti perintah kali ini. Apapun yang terjadi, bahkan jika harus kehilangan sebelah tangan atau kakinya, Saruhiko tidak peduli. Saruhiko tidak bisa mundur sekarang.

Atau selamanya, ia akan tenggelam atas rasa yang bernama penyesalan.

.

I clutched

of what I can not relinquish

.

Tanpa mengucap sepatah kata lagi, Saruhiko berlari. Menulikan telinga dari teriakan Fuse dan Gotou yang mengejarnya—dan hampir saja memborgol kedua lengannya layak seorang tahanan penjara yang sedang melarikan diri, ia lantas menodong seorang pengendara mobil yang tengah memarkirkan mobilnya dan menunggu seseorang di tepi jalan—tindak ilegal, sebetulnya, harap ingatkan dirinya lagi nanti. Menyeret laki-laki itu keluar dari mobil dan melemparkan kartu pengenalnya, Saruhiko masuk dan menyalakan mobil tersebut. Oh, tuduhlah ia mencuri atau apapun sebutannya. Dan biarkan panel bahan bakar yang tinggal tersisa dua bar. Peduli setan dengan itu.

.

So stand up

Just gotta keep on running

.

Saruhiko tidak punya waktu lagi.

.

Just tell me

how I can never give up

.

Sekarang. Atau tidak sama sekali.


.

Take my hand….

And bring me back….

.

Misaki meraung, menahan jutaan panas membakar di seluruh sel-sel tubuhnya. Sementara Pedang Damocles di atas kepalanya mulai berguncang. Gemuruhnya mengerikan di gendang telinga siapapun yang mendengarnya. Dan Misaki terus mengeluarkan aura merahnya. Ilalang-ilalang sekitarnya telah menjadi abu. Tempatnya berpijak hangus kehitaman, mengeluarkan aroma asap tidak sedap. Sementara api yang terus berkobar membuat dadanya dihimpit sesak. Kepalanya pusing.

Harus sampai kapan…? Kapan kekuatan mahadahsyat ini menghilang dari tubuhnya? Apakah… raganya harus ikut dibakar kekuatan itu…?

Sial. Sialaaan…!

"Turunkan auramu, kecuali kau memang berniat untuk mati, Raja Merah."

Misaki terlonjak. Sebuah suara rendah seorang wanita menyapanya. Misaki berbalik, menemukan wanita itu berdiri hanya terpaut beberapa meter darinya, entah sejak kapan dan ia tidak bisa merasakan aura keberadaan wanita itu. Ya, wanita yang ia temui di kedai beberapa malam yang lalu. Wanita bertubuh semampai yang masih anggun terbalut furisode musim dingin berwarna gelap dengan corak bunga-bunga indigo dan putih. Warna ungu di pakaian itu yang sepadan dengan sepasang manik yang jatuh telak di kedua hazel miliknya.

Tadi wanita ini menyapanya dengan sebutan apa? Raja Merah…? Kenapa wanita ini bisa tahu….

"Tolong, turunkan auramu, Yata Misaki-kun, Raja Merah dari HOMRA. Aku ingin bicara denganmu."

"Kau… wanita yang mendatangi kedai tempatku bekerja… kenapa…."

"… aku akan punya banyak waktu untuk menjawab pertanyaanmu jika kau menurunkan auramu, Raja Merah, sebelum aku ikut terpanggang percikan apimu dari sini."

Beberapa detik kemudian Misaki habiskan untuk mencari-cari di balik raut datar wanita itu. Tidak ada ekspresi yang bisa Misaki baca dari wanita di hadapannya. Bahkan tidak ada intensi membunuh maupun menyerang sekalipun. Datar. Atau malah… kosong. Misaki tidak mengerti. Amankah dirinya untuk menghilangkan kobaran aura merahnya dan mendengarkan apa yang ingin dikatakan wanita ini?

Sangsi, perlahan Misaki menanggalkan merahnya. Meski belum cukup sempurna untuk menyembunyikan keberadaan Pedang Damocles di langit. Keringat dingin mulai mengucur mengaliri tengkuknya. Telapak tangannya mulai basah. Wanita itu seolah tidak berbahaya, namun kenyataan bahwa wanita itu mengenalnya—bahkan hingga statusnya sebagai Raja Merah tidak bisa membuat Misaki untuk berhenti gusar sedikit pun.

Ia menarik napas panjang. "Siapa sebenarnya kau? Katakan padaku, kenapa sejak awal kau tahu tentang HOMRA, lalu kini tentang aku, sebagai Raja Merah?"

Wanita itu mengambil jeda sembari menarik sudut bibirnya beberapa sentimeter sebelum menjawab, "Ah, rupanya belum ada yang memberitahumu, ya? Baiklah kalau begitu. Namaku Hishiki Yuna. Aku strain. Dan aku butuh bantuanmu, Yata Misaki-kun."

"Bantuan…? Bantuan apa…?"

Sesaat, Misaki menangkap kilat dalam manik ungu di hadapannya, bersamaan dengan lengkung wanita itu yang turut melebar.

"Jika kau tidak keberatan dan jika kau tidak ingin kekuatanmu sebagai seorang raja, bagaimana jika kau memberikan kekuatanmu padaku?"

Misaki melongo. Terperangah. Hampir saja mangap lebar. Wanita ini… apa-apaan? Ia bukanlah salah satu dari anggota klannya, dan dengan ringan meminta kekuatannya begitu saja? Seumur hidup Misaki baru diperlakukan seperti ini—tidak, baru kali ini ia mengalami sendiri kejadian yang sepertinya memang tidak pernah tercatat dalam sejarah para raja penguasa Kota Shizume. Ada yang secara frontal meminta kekuatan seorang raja? Yang benar saja. Wanita ini—siapa namanya tadi? Hishiki Yuna?—sepertinya sudah gila.

Dengus mencemooh, Misaki bertanya lagi, "Lalu, jika kau mendapatkannya, apa yang mau kau lakukan? Kau bahkan bukan anggota Klan Merah, jadi bagaimana aku bisa—"

"—jika melihat ini, kau mau mengakuiku sebagai anggota klanmu?"

Wanita itu menjentikkan jemarinya. Lalu bara api muncul, menari-nari menyelubungi telapak tangannya. Misaki terbelalak. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Lagipula api itu… sewarna dengan api miliknya. Warna terang yang bahkan tidak dimiliki seorang Suoh Mikoto sebagai raja sebelumnya.

"Apiku… bagaimana bisa…."

"Kelebihanku sebagai strain adalah aku mampu menyerap kemampuan orang lain dan mampu membaca masa lalu serta identitas seseorang melalui kontak fisik. Kuharap kau tidak melupakan bahwa kau sempat memegang tanganku ketika aku tergores cangkir di kedai yang tidak sengaja kujatuhkan."

Misaki menelan ludah. Ia mulai merasa keputusannya untuk melenyapkan auranya adalah kesalahan fatal dan kebodohan terbesar yang pernah ia lakukan. Ia sendirian, terpojok, tanpa seseorang ada di sana untuk membantunya. Dan kini ia harus berhadapan dengan seorang strain yang telah berhasil mencuri kekuatannya… kemampuannya sebagai seorang raja, dan Misaki tidak tahu seberapa banyak kekuatannya yang telah tercuri darinya itu. Jika ia harus terlibat pertarungan dengan wanita ini… sama saja artinya ia harus menghadapi seorang raja. Yang jadi pertanyaan, sanggupkah?

Bahkan ia masih belum bisa mengontrol tenaga sepenuhnya. Lalu bagaimana caranya ia sanggup bertahan?

… atau biarkan saja wanita ini mengambil seluruh kekuatannya? Toh ia memang mati-matian menolaknya. Status dan bebannya sebagai seorang raja di balik kekuatan yang menggiurkan ini… apalah artinya jika ia harus kehilangan segalanya? Kehilangan sosok teman-teman yang kini berbalik menatap hormat padanya… adalah sebuah pandangan yang sama sekali tidak bisa ia banggakan dan hanya berakhir menjadi sebuah ironi memuakkan. Dan ia pun akan semakin ditinggalkan—atau lebih tepatnya terpaksa meninggalkan—sosok yang seharusnya selalu bisa menjajari langkahnya, karena sosok itu bukanlah seorang raja, dan kecil kemungkinan untuk lantas terpilih sebagai raja.

.

Look how far we've made it

The pain, I can't escape it

.

Misaki menyerah. Ia tidak bisa berpikir jernih. Ia tidak bisa menemukan jalan keluarnya. Dan daripada mati dibakar kekuatannya saat ia berontak untuk melepaskan, lebih baik serahkan saja pada seseorang yang memang meminta kekuatan tersebut.

"Jadi bagaimana, Yata Misaki-kun? Kau bersedia menyerahkan apa yang kau miliki itu?"

Lemah, dalam keputusasaan dan keterpurukan, Misaki mengangguk. Dilihatnya wanita itu mengulurkan tangan padanya.

.

Even if I nearly die so many times

Even if I nearly to decay

.

Dan ketika Misaki menyambut genggaman tangan itu, yang kemudian tubuhnya rasakan adalah panas menggeliat di sekujur tubuhnya, membakarnya bengis tanpa ampun. Derak-derak api yang menjalar, ia merasakannya, seolah berpindah dan perlahan meninggalkan tubuhnya, diiringi nyeri menusuk yang mengungkungnya. Sementara kekuatan itu ikut berontak, meraung bersama jiwanya, tidak ingin lepas dan berpisah dari tubuhnya. Sekali lagi, tubuhnya kemudian diselimuti bola aura merah, kali ini membawa serta wanita itu di dalamnya. Misaki memicingkan mata, dan tidak sedikit pun ia melihat wanita itu terbakar auranya.

Hishiki Yuna benar-benar akan menyerap kekuatannya sampai titik penghabisan. Wanita itu menyeringai lebar. Misaki menangkap intensi mengancam yang kuat, menguar dari wanita itu.

.

there is still no ending in my sight

.

Dan perasaan takut yang menjelma. Seketika segalanya terasa salah. Ini perangkap. Misaki terlanjur jatuh di dalamnya. Ia harus segera memutuskan kontaknya dengan wanita ini, jika tidak….

Sebuah perisai biru dilontarkan dan menghantamnya telak. Misaki terhempas seketika, memutuskan ikatannya dengan wanita itu. Tubuhnya terlempar kencang ke arah tebing. Dan ketika ia yakin ia akan benar-benar jatuh dari tepi karang terjal, sebentuk perisai berwarna biru kemudian menjadi alas tubuhnya untuk mendarat.

"Lindungi Raja Merah…! Jangan sampai Raja Merah jatuh dari tebing…!"

Seruan itulah yang berhasil ditangkap gendang telinganya, beserta siluet figur tinggi tegap dengan pakaian serba biru memunggunginya, menjadi tamengnya, berganti menghadapi wanita yang sepertinya tersungkur setelah menabrak beberapa pepohonan di seberangnya.

Siapa…? Saruhiko kah…?

Namun ketika sosok itu menoleh ke arahnya dan memberinya satu sorot tatapan dingin penuh amarah yang tidak terucap, Misaki tahu matanya telah mengkhianatinya. Harapannya yang lantas menguap, hilang tanpa bekas. Karena yang berdiri di sana tidak lain adalah Munakata Reishi, sang Raja Biru itu sendiri, beserta Pedang Damocles biru yang menggantung kokoh di langit.


"Wah, wah… aku tidak tahu apa dosaku sehingga selalu saja direpotkan oleh mereka yang bergelar sebagai Raja Merah."

Tidak ada lengkung bibir di wajah. Tidak ada intonasi sopan di balik kalimat sarkasnya. Reishi melempar tatapan yang ia sendiri tidak mudah mengartikannya pada sosok Raja Merah yang tersungkur di punggungnya. Marah? Tentu saja. Betapa pemuda labil yang ditampuki tanggung jawab seorang raja ini membuatnya muak karena sudah seenak jidat melakukan upaya bunuh diri dengan menolak mentah-metah kekuatan yang dimiliki pemuda itu. Sedih? Jangan dikira tidak. Hubungan pahit si raja kecil dengan orang ketiga di organisasinya itu kerap kali membawanya pada intrik di antara dirinya dan Suoh Mikoto, mengundangnya pada berbagai rasa dan emosi lainnya. Kecewa? Itu hal yang mutlak. Kecewa karena alasan Damocles memilih pemuda bermental bocah berumur sepuluh tahun ini untuk menjadi seorang raja. Kecewa karena Misaki begitu lelet membenahi urusannya sendiri….

… dan kecewa karena nasib hidup atau mati seorang Suoh Mikoto harus juga dipikulkan di bahu kecil seorang Yata Misaki.

"Raja… Biru…."

"Simpan rasa terharumu untuk nanti saja, Yatagarasu. Aku harus membereskan kekacauan yang kau buat ini terlebih dahulu."

Mengalihkan perhatian dari Misaki, Reishi mengamati sosok perempuan di hadapannya, tengah tertatih berdiri sembari diselimuti bola aura transparan. Ia tahu perempuan itu sudah bukan lagi perempuan yang menjadi target serangan perisai birunya barusan. Tidak ada lagi surai berwarna gelap yang melambai tertiup aura. Kini berganti helai-helai putih platina ditemani sepasang manik emas, berpupil tipis seperti kucing, balas menatapnya nyalang. Serta satu seringai melebar. Penuh kegilaan.

Tentu saja, Reishi sudah mengetahuinya. Yang berhadapan dengannya adalah Hishiki Yuki.

"Heeehh… lihat siapa yang datang, Kak! Munakata Reishi, si Raja Biru…! Raja Biru datang tanpa perlu kita repot-repot harus mencarinya…!"

Reishi mengulas senyum tipis. "Suatu kehormatan bagiku, Hishiki Yuki dan Hishiki Yuna, untuk dijadikan target pengejaran oleh wanita cantik seperti kalian berdua. Dan berkat kejadian ini pula, aku dan anak buahku tidak perlu kerepotan untuk mencari-cari lokasi keberadaan kalian. Sekarang," Reishi mengambil jeda sembari membetulkan posisi kacamatanya, "Hishiki Yuki dan Hishiki Yuna, kalian kutangkap atas tuduhan strain kelas alpha yang mengacau dan menghancurkan ruang publik enam hari yang lalu, serta tersangka pelaku penyerangan terhadap third in command Scepter 4, Fushimi Saruhiko."

"Hei Raja Biru… kakakku tidak menyerang pemuda itu. Kakak membela dirinya sendiri karena diserang terlebih dahulu. Kau masih bisa bilang kalau itu kesalahan kakakku?"

"Aku yakin sebelumnya Fushimi-kun sudah meminta kalian menyerahkan diri dengan tenang tanpa perlawanan, Hishiki Yuki. Fushimi-kun hanya menjalankan perintahku, dan jika saja kalian menurut saat itu, perbincangan ini kujamin akan berakhir damai di markas Scepter 4, tanpa adanya pihak yang akan mengalami kerugian sedikitpun."

"Heeeehh…. Tapi sayangnya kau sendiri tahu bahwa kami tidak akan menyerahkan diri semudah itu. Iya 'kan, Raja Biru?"

Menghela napas, Reishi masih sempat memanipulasi mimik keberatannya. "Ya, sayang sekali. Sepertinya aku memang harus menangkap kalian menggunakan kekerasan kali ini, hidup ataupun mati."

Reishi menarik pedangnya, dan desing lain di sekitarnya menandakan bahwa para anak buah setianya juga tengah menarik pedang dan bersiap pada posisi menyerang. Perempuan lawan tandingnya itu terlihat mengamati, mengedar pandang bergantian, pada dirinya, lalu satu per satu anak buahnya. Hal yang kemudian tidak Reishi antisipasi adalah tawa yang meluncurkan dari pita suara tipis perempuan itu, diiringi sebuah ledakan besar dan kobaran api yang meruntuhkan area tempat anak buahnya berpijak.

"Kau dan aku, satu lawan satu, Munakata Reishi…!"

Reishi tidak sempat menoleh untuk mengetahui kondisi anak buahnya—ataupun Raja Merah yang masih terpaku di punggungnya. Kobaran api raksasa mengurungnya dalam radius puluhan meter, menari-nari seolah membentuk arena pertempuran baginya, dan Hishiki Yuki menerjangnya dengan sebentuk tornado api mengudara. Udara di sekelilingnya memanas. Panas yang familiar. Panas membakar yang mengingatkannya pada gelegak bara milik Raja Merah sebelumnya.

Masih saja. Di tengah medan pertempuran dan perih masih selalu punya waktu untuk mampir melintas di benaknya.

Ia memasang perisainya, lalu mengelak kanan-kiri, sesekali menerjang dan menghunus, namun kebanyakan berusaha menghindar setiap serbuan ganas dari tubuh lawan tandingnya yang terbakar api. Sementara Hishiki Yuki tidak berhenti mengejarnya. Satu lambaian tangan dari perempuan itu saja mampu membuat pusaran api kecil yang sanggup menghanguskan ujung seragamnya. Reishi memusatkan konsentrasinya di tengah panas yang menggelegak. Berusaha membaca pola gerakan acak dan brutal dari Hishiki Yuki. Seharusnya mudah baginya untuk melakukan serangan balik dari sebuah agresi yang tidak memiliki pola keteraturan, namun….

Setengah terkejut, Reishi melompat ke tepi arena, hampir terbakar oleh dinding api yang mengepungnya. Kali itu, yang menyerangnya bukan lagi pusaran api, melainkan luncuran bola-bola api, meliuk seakan tengah mengejarnya.

"Lihat ke mana, Raja Biru? Sepertinya kau lupa bahwa yang kau hadapi adalah dua orang, bukan hanya satu."

Berubah lagi dalam satu kedipan mata. Hishiki Yuna yang kali ini menghadangnya. Satu sapuan gemulai sepasang tangan perempuan itu, dan Hishiki Yuna memanggil bola-bola api dari percik-percik dinding api di sekeliling, kembali mengejarnya. Kali ini Reishi terjebak. Dengan cepat ia memasang pelindungnya, hanya untuk terus-menerus terhantam tanpa sempat memberikan serangan balik.

Reishi harus berpikir. Cepat. Ia tidak mungkin diam dan menunggu lawannya kehabisan tenaga untuk menyerang, karena sayangnya Hishiki bersaudara tidak akan semudah itu untuk kehilangan energi mereka. Membuat proteksi dinding api menjalar tinggi merupakan ide cemerlang, lawan tandingnya itu tidak perlu kehabisan amunisi untuk menyerangnya karena elemen terkecil dari dinding itu saja bisa menjadi senjata baru untuk melumpuhkannya. Mau tidak mau, Reishi harus mengakui kemampuan bertarung strain yang satu ini. Entah sudah berapa puluh—atau mungkin bisa jadi ratusan—kemampuan manusia berkekuatan supernatural yang berhasil dicuri perempuan ini, Reishi tidak mau membayangkannya. Dan kekuatan yang dicuri Hishiki Yuna adalah milik seorang raja… tidak heran jika saat ini ia sama saja sedang berhadapan dengan seorang raja penguasa Kota Shizume lainnya.

Sontak, Reishi melemparkan tirai birunya. Menciptakan satu ledakan, dan Reishi menerjang ke dalam sisa ledakan tersebut, menyerang frontal Hishiki Yuna di sisi lain kepungan abu sisa ledakan tersebut. Gerakannya mulus, tebasannya telak tertoreh di sepanjang punggung lawannya yang tidak sempat mengelak dari serangan baliknya. Namun baru saja ia mendarat dan akan melakukan serangan selanjutnya, sepasang manik emas kembali berhadapan dengannya. Dan tubuh perempuan itu yang kembali diselubungi aura perak. Hasil torehannya yang kembali menutup sempurna hanya dalam beberapa detik saja, sementara tornado api kembali diluncurkan ke arahnya.

Untuk pertama kalinya, Reishi nyaris kehilangan akal. Menghadapi musuh yang mampu meregenerasi bagian tubuh begitu cepat… lalu bagaimana cara ia mengalahkan perempuan ini?

Tiba-tiba saja, derak dinding api di sekelilingnya berubah arah—lebih tepatnya tertiup tepat ke satu arah. Perlahan kobaran dinding itu menyusut, seolah terisap sebuah kekuatan lain dari luar radius medan tersebut. Benar saja. Dinding api yang tersingkap lantas memperlihatkan sosok Yata Misaki, berdiri tegap dibungkus aura merah jingga, tengah menarik kembali api yang semula mengurungnya dan Hishiki bersaudara.

"Kau berantakan, Munakata-san. Dan maaf karena telah melibatkanmu. Dari sini, biar urusan ini aku yang selesaikan."

"… Yata Misaki-kun… bisa-bisanya kau menarik kembali apa yang telah kau tolak mentah-mentah…."

"Heh. Maaf aku mengecewakanmu juga, Hishiki. Kekuatan ini milikku, dan harus aku yang menentukan bagaimana akhirnya. Lebih baik aku mati saat menolaknya daripada aku harus mengalah padamu."

"Kau tidak akan bisa menang melawanku, Yata Misaki-kun. Kau bahkan tidak bisa mengendalikan kekuatanmu."

"Kalau begitu, api lawan api, Hishiki Yuna. Kita lihat api siapa yang bertahan paling lama."

Setitik lega, membuat Reishi mengulum senyum tipisnya. "Sebaiknya kau juga tidak melupakan bahwa pertarungan ini sebetulnya dua lawan dua, Yatagarasu. Aku merasa baru saja dibodohi karena bukti fisik mereka hanya satu orang." Ia lalu melempar pandang sejenak pada pemuda yang kini menjajarinya itu, "Anak buahku, selamat?"

Pemuda itu mengangguk. "Tebing ini tidak begitu tinggi, namun cukup terjal di bawah sana. Mereka selamat, sedikit luka sana-sini sepertinya, tapi mereka sedang merangkak naik ke sini lagi."

"Baiklah. Kita mulai ronde kedua, kalau begitu, Hishiki bersaudara?"


.

Just tell me why baby

They might call me crazy

For saying I'll fight until there is no more

.

Misaki melangkahkan kakinya. Sesaat menghirup udara dalam-dalam, sebanyak-banyak. Beban yang menghimpit dadanya berangsur menghilang. Ia harus melakukannya. Ia tidak bisa lari lagi dan bersembunyi di balik bayang-bayang Mikoto, Izumo, atau Kamamoto sekalipun. Ia harus berjuang. Untuk apa dan untuk siapa, ia harus mengesampingkannya untuk sementara waktu. Ia bahkan baru saja memaksa Raja Biru mengotori tangan karena ulahnya sendiri. Jika masalah ini sudah selesai, dirinya rela ditertawai atau dicemooh habis-habisan oleh Raja Biru….

… kalau dirinya berhasil selamat. Ya. Bukan maksud ingin mengakhiri hidup, namun Misaki sendiri tidak yakin bahwa ia tidak akan dilahap oleh merahnya sendiri. Ia sudah berkali-kali diperingatkan oleh Izumo tentang takdir para pemilik Pedang Damocles merah. Namun saat ini, ia harus mencobanya.

.

At this rate,

I still cannot end it, huh?

.

Melangkahkan kaki satunya, tubuhnya berputar, menghasilkan gelombang tornado api raksasa, jauh lebih besar dan mengerikan dari yang pernah ia lakukan selama ini. Tubuhnya seperti melayang, begitu ringan, namun menakutkan. Salah sedikit, segala hal yang disentuhnya bisa lenyap tanpa meninggalkan abu sedikit pun. Ah, rupanya seperti ini kekuatan seorang raja? Misaki lalu menerjang, berputar cepat, mengejar targetnya. Sementara dari sisi lain Munakata Reishi melancarkan serangan, menebas dan menghunus.

Serangan keduanya yang intens. Namun Hishiki Yuna di hadapannya tidak gentar sedikitpun. Lambaian lengannya kini membentuk sapuan tirai api, melenggok dan menyambar, seperti dua utas pecut yang menahan sembari balik menyerang dirinya dan Raja Biru. Bahkan tembok pusaran api Misaki tidak cukup tebal dan cepat untuk menghindar dari beberapa lecutan yang mengenai sisi tangan dan kakinya. Panas membakar yang terasa berbeda dan asing di kulitnya. Dan setiap kali tusukan pedang Munakata Reishi ataupun percikan bara apinya berhasil mengenai mereka, Yuki akan selalu muncul dan menyelubungi tubuh gemulai itu dengan aura penyembuhnya. Benar-benar pertarungan dua lawan dua yang berimbang. Misaki tidak lagi merasa bahwa ia dan Raja Biru sebenarnya hanya berkutat melawan satu tubuh saja.

"Yatagarasu…! Lontarkan apimu…!"

Misaki sedikit terkejut dengan instruksi yang diperintahkan Raja Biru. Namun dengan kekuatan penuh Misaki lantas mengirimkan serbuan kuda merahnya ke arah wanita itu, di saat yang bersamaan Raja Biru mengacungkan pedangnya, mengirim aura birunya untuk membentuk tembok kubus yang mengurung Hishiki besaudara. Api Misaki yang kemudian terperangkap dalam kubus tersebut, terlihat melalap dan menjilat apapun benda yang ada di dalamnya.

Yang kemudian terdengar adalah sebuah jeritan. Misaki sudah ingin menarik napas lega—

—sebelum kubus perisai Raja Biru meledak, dengan serpihan yang bagaikan kaca melesat, beberapa menggores tubuhnya dan juga Raja Biru yang sama-sama lengah.

Dan dari tempat ledakan tersebut yang kepulan abunya belum surut, satu tembakan meletus. Misaki nyaris tidak bisa menangkap arah laju peluru, sampai gerakan refleks Munakata Reishi yang mengangkat pedangnya, dengan sebutir peluru bersarang di gagang pedang berwarna emas dari pria itu. Lalu tembakan kedua. Misaki tidak cukup cepat untuk menghindar. Timah panas itu melesat, merobek kulit sisi wajahnya.

Hingga ketika tidak ada lagi abu yang menghalangi, Misaki menemukan Hishiki Yuki yang berdiri di sana. Tangannya menggenggam pistol. Manik emas itu tidak lagi digenangi kegilaan seperti yang wanita itu tunjukkan di sela-sela pertarungan sebelumnya, alih-alih air mata deras yang mengucur dari kedua bola mata itu.

"Kakakku… kalian membunuhnya…."

"Sepertinya yang satu sudah binasa, Yatagarasu. Tinggal satu lagi—"

Belum sempat Raja Biru menyelesaikan kalimatnya, dinding api menjulang kembali dilontarkan Hishiki Yuki, namun kali ini acak ke segela arah. Seakan wanita ini berniat untuk membakar habis apapun dan siapapun yang memutuskan untuk melawan. Misaki mengepalkan tangannya. Napasnya mulai terengah dan darah mengalir membasahi pipinya. Sekali lagi, Misaki melancarkan serangan, berputar membentuk pusaran api raksasanya lagi, dan yang kali ini balas melecuti tubuhnya adalah pusaran dan terkaman percik merah jingga dari segala arah, tanpa ampun.

Letusan tembakan lainnya. Misaki tidak menyadarinya, entah bagaimana, namun peluru ketiga telah bersarang di paha kiri Raja Biru.

"MUNAKATA-SAN—"

Dinding api menjalar di antara Misaki dan Raja biru. Asap hitam mulai membumbung tinggi. Napasnya sesak, Misaki mulai kesulitan menghirup udara bebas.

"Kau yang akan mati duluan sepertinya, Yata Misaki…."

Suara itu menyergapnya dari belakang. Misaki benar-benar melewatkannya.

"… toh kau juga memang berniat untuk mati, 'kan? Dengan ini, dendam Tuan dan Kakak, terbalaskan—"

"MISAKI…! AWAS—"

—tiga tembakan meletus. Namun Misaki tidak merasakan apapun. Seolah tidak ada timah panas yang berhasil melubangi tubuhnya. Ia yang semula memejam, perlahan membuka matanya….

… hanya untuk menyambut sosok yang begitu dikenalnya, memunggunginya, kedua tangan terentang, dan wajah yang menoleh menatapnya, menyeringai kecil seolah menyapa seorang teman lama. Kemudian, seperti film yang diputar melambat, sosok itu limbung dan jatuh ke arahnya.

.

The selecting glint in your eye

that holds sadness

is nearly sense an urge, right?

.

Saruhiko, berdiri di hadapannya, menjadi pelindungnya dan menggantikannya agar tidak menerima tiga butir peluru di tubuhnya. Mendadak Misaki merasa isi kepalanya kosong. Hanya gemetar sekujur tubuh—hingga ia ikut terjatuh ketika menadah tubuh limbung Saruhiko dengan kedua tangannya yang bergetar hebat.

Bahkan Misaki tidak bisa lagi mendengar derap-derap langkah yang membuat barisan barikade di depannya. Tidak lagi mendengar desing pedang dan serangan bertubi-tubi yang dilancarkan sepasukan berseragam biru. Tidak lagi menangkap teriakan memekik nyaring dari suara tipis penuh amarah murka yang semula bermaksud untuk mengakhiri nyawanya. Tidak lagi merasakan panas yang lantas menguap menghilang ke angkasa. Tidak lagi menyadari Munakata Reishi yang menyeret langkah dan mendekatinya.

Kosong. Hampa. Untuk beberapa detik, Misaki merasa dunianya gelap gulita.

.

Blinded, I can't see the end

So where do I begin?

.


"Sa… Saru…? Saru—hiko…?"

Saruhiko tersenyum mencemooh. Dengan sisa tenaganya, ia mengangkat lengannya, lalu menempelkan telapak tangannya di pipi Misaki yang dibanjiri darah merah segar.

.

I grasped, hold of it tightly

So I won't ever loose it

.

"—kkhh… kau ini… memang merepotkan… Mi—saki…."

Tangannya yang kemudian merasakan kehangatan dari telapak Misaki yang beradu. Serta titik-titik air mata, bercampur dengan merah yang nyaris menutupi sisi wajah pemuda itu. Saruhiko ingin tertawa. Bukan dalam artian sinis seperti biasanya. Saruhiko merasa lega. Teramat lega.

.

Because if I open my hands

then it'll just escaping from my grasp

.

'Kau melihatku sekarang, Misaki? Aku… tidak pernah meninggalkanmu, bukan?'

"Saru… Saru—kenapa…?"

'Jangan berikan aku tatapan seperti itu, Misaki….'

"Bodoh…! Kau bodoh… Saru…."

'Setidaknya aku menang melawan takdir, Misaki…. Aku, tidak membiarkanmu mati. Aku… tidak akan kehilangan apa-apa lagi….'

Saruhiko mendengus lemah. Masih dengan senyum terulas di bibir, ia menutup matanya yang semakin memberat. Yang terakhir kali sanggup ia rasakan hanyalah tangannya yang jatuh melunglai, diiringi satu teriakan Misaki yang menggaung, perih memanggil namanya.

.

There was nothing

to make me lose you

.


.

.

.

Author's note:... kali ini Night Antares engga berani komentar panjang lebar dan cuma mau sembunyi di kolong tempat tidur atau di dalem lemari sembari menunggu cacian dan cercaan tentang chapter terbaru ini. Well, singkat kata, ini chapter paling bikin sakit kepala dari 9 lainnya yang udah ditulis... sakit kepala karena banyak adegan berantemnya (dan Night masih ngerasa engga jago banget dalam hal narasi dan deskripsi adegan battle)... dan sakit kepala karena akhir dari chapter ini sendiri (yang bikin Night hampir nangis nulisnya). Semoga berkenan dan semoga engga pada pundung dengan chapter ini *bowed*. Terima kasih buat guest reiga atas review singkatnya (semoga engga nunggu kelamaan ^^v), dan buat Monkeypaw yang keep in touch via private message (semoga setelah ini Night engga dihantuin sepanjang malem sampai fanfiksinya bener-bener kelar) dan tentunya jugaaa hontou ni arigatou gozaimashita buat para pembaca yang masih setia menunggu kelanjutan cerita ini plus yang udah pada follow/favorite. Tenang aja, fanfiksi ini dijamin engga bakal tamat sampai di sini, jadi masih ada kesempatan bagi kalian yang berharap bahwa fanfiksi ini bakal punya happy end :p. That's all, see you next chapter and don't forget to leave comment~! ;3