Disclaimer : Yasushi Akimoto.
Black Ops
Chapter 9 : Intrusion.
Markas SSN, Ruang Klinik.
27 mei 2015.
Sudah dua hari berlalu semenjak penyelamatan itu terjadi. Perlahan kondisi Kinal dan lainnya mulai membaik, meskipun beberapa tulang yang patah tetap perlu waktu lama untuk pulih. Sendy yang nampaknya mengalami penyiksaan paling parah dan menderita gegar otak, dia kini belum bisa beranjak dari ranjangnya. Sedangkan ketiga temannya sudah bisa bangun dan melakukan aktiitas ringan. Meski dengan perban dan gips di beberapa bagian tubuh.
Di pagi menjelang siang itu Shania memutuskan untuk berkunjung ke Ruang Klinik, tempat di mana para Agen yang terluka dirawat. Ia sendirian berjalan menyusuri lorong sampai akhirnya menemukan pintu kaca yang setengahnya transparan kemudian membukanya. Di dalam ia mendapati Kinal tengah duduk bersandar di ranjangnya, dengan leher di gips dan kepala berperban. Televisi di nyalakan menayangkan berita pukul sepuluh. Shania tanpa mengucap apapun mengambil tempat duduk di samping Kinal.
"Bagaimana keadaan Kakak ?" tanya Shania.
"Yah, seperti yang kamu lihat. Aku baik-baik saja." Kinal tersenyum.
"Maaf, kakak bisa sampai seperti ini. Kalau saja kami datang lebih cepat.."
"..Kan aku sudah bilang aku baik-baik saja." Kinal memotong ucapan Shania. Ia masih menyunggingkan senyum seperti tadi. Seakan menggambarkan bahwa tiga tulang iga yang patah, persendian tangan kiri yang meleset, leher yang cedera dan kepala yang bocor itu benar-benar bukan apa-apa baginya.
Shania ikut tersenyum. "Kakak memang gak bisa di sakiti, ya ?"
Mendenganrnya Kinal tergelak sedikit. "Rasa sakit itu ada, Shan. Itu menunjukkan kalau kita masih hidup. Dan aku senang karena aku masih hidup." Kata Kinal.
"Apa suatu saat aku harus bersyukur kalau aku menderita cedera seperti kak Kinal ?" Shania bertanya diiringi senyum dan sebelah alis matanya terangkat, Retorikal. Karena itu Kinal hanya menanggapinya dengan senyum lalu mengganti Channel televisi.
Masih di dalam markas Kesatuan Rahasia itu, suasana berlangsung seperti biasanya. Dalam kesibukan masing-masing semua staffberlalu-lalang, para Agen berlatih, scienties bekerja mencoba menemukan alat-alat maupun persenjataan yang akan menunjang misi para Agen lapangan. Namun tanpa mereka sadari di tengah kesibukan itu ada seseorang bertujuan lain. Salah satu laki-laki di antara sebagian kecil staffyang berkelamin laki-laki berjalan membaur dengan yang lainnya. Berusaha terlihat biasa, ia mengenakan topi baseball hitam sebagai usaha untuk menutupi wajahnya. Lelaki itu menggenggam sebuah ponsel yang layarnya menyala menunjukkan sebuah jalur. Ia nampak berjalan menyusuri jalur yang di tunjukkan dengan garis hijau di dalam ruangan tersebut. Beberapa menit kemudian lelaki itu telah berada di depan sebuah pintu logam, terdapat sebuah papan nama di sana, Captain-Melody N.L. Lelaki itu langsung menyadari ia berada di depan ruangan yang ia tuju. Ia mengeluarkan sebuah kartu berwarna putih polos dari dalam sakunya lalu menggesekkannya di slot yang ada di kotak pengunci pintu. Lalu lampu hijau menyala, lelaki itu membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Hey !" seru seorang di dalam sana, seorang wanita. Lelaki itu terkejut, namun dengan segera ia melepas topinya. Menunjukkan identitasnya sebelum wanita itu memutuskan untuk menyerangnya.
"K-kamu.. !?" Wanita itu terlonjak kaget saat wajah si lelaki telah nampak seutuhnya. Lelaki itu menyuguhkan senyum.
"Hay, Melody. Lama kita tidak berjumpa, ya." Katanya. Kemudian mengambil tempat duduk di kursi yang ada di depan meja.
"Ada urusan apa sampai kau menyusup kemari ?" Melody pun mengambil tempat duduk di kursi kebesarannya, ia kembali bersikap tenang. Mereka kini berhadapan.
"Emm... aku Cuma merindukan kamu."
Melody tersenyum miring. "Kalian ini punya kebiasaan buruk yang sama rupanya." Kata Melody. "Cepatlah, katakan yang sebenarnya."
"Yah.." Lelaki itu memutar kursinya ke kanan-kiri. "Aku butuh data-data pengamatan kalian tentang Penculikan Reindhart Arka."
Melody mengerutkan dahi. "Untuk apa ?"
"Kami dapat pekerjaan."
"Kalian di bayar untuk membebaskan Reindhart Arka ?"
"Yap."
"Maaf, tapi data itu rahasia. Kami tidak mungkin menyerahkannya pada Tentara Bayaran seperti kalian."
"Ayolah, apa kamu lupa bantuan yang sudah di berikan anggota Tim ku ?"
"Tapi itu tidak sebanding dengan informasi ini."
"Jadi menurutmu nyawa Delapan orang itu tidak sebanding dengan informasi ini ?"
"apa maksudmu ?"
"Menurut penjelasan Anggota Tim-ku empat orang Agen yang kau tunjuk dalam misi penyelamatan itu sama sekali belum berpengalaman. Dan menurut penjelasan-nya lagi, empat orang agenmu yang di sandera itu sudah hampir menemui ajal kalau saja mereka terlambat. Kalau tidak ada dia mereka semua pasti sudah tamat." Tutur lelaki itu. Kali ini ia terdengar serius.
Melody diam, ia memikirkan itu. Benar saja, kalau tidak ada dia mereka mungkin akan gagal dalam misi itu. Juga sebenarnya mereka sudah banyak membantunya.
"Baiklah." Ucap Melody. Ia menyalakan komputernya. Lelaki itu yang menyadari Melody telah menyetujui permintaannya mengeluarkan sebuah USB flashdisk dan meletakkannya di meja. Melody mengambil USB itu lalu menancapkannya di slot CPU-nya.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Melody mencabut USB dan menyerahkannya pada lelaki itu.
"Terima kasih." Lelaki itu beranjak dari kursi. "Aku pergi dulu." Ia berjalan ke arah pintu, membukanya lalu kembali memasang topi baseball-nya.
"Lain kali kau bisa langsung menghubungiku. Tidak perlu menyusup seperti maling." Ujar Melody.
"Dan mengambil resiko tertangkap olehmu ?" Lelaki itu tersenyum miring. "Tentu saja tidak."
Kemudian pintu pun di tutup. Lelaki itu berlalu menjauhi ruangan Melody.
Beby beranjak keluar dari kamar setelah baru saja selesai membersihkan badannya. Latihan yang ia jalani dari tadi pagi sampai petang ini menguras tenaganya, ia merasa lapar lebih cepat dari biasanya. Beby sendiri bingung mengapa ia disuruh berlatih lebih dari biasanya padahal ia baru saja menyelesaikan misi. Yang lebih membingungkan lagi adalah ia Cuma menjalannya sendiri. Dilatih oleh seorang perempuan sedikit kelaki-lakian, tapi tetap terlihat cantik yang ia ketahui bernama Ghaida. Beby mengakui Ghaida benar-benar hebat. Ia punya kemampuan beladiri, menguasai senjata api maupun senjata tajam dengan baik. Masih teringat jelas saat tubuhnya dibanting padahal mereka baru mulai. Walau begitu, Ghaida mengatakan bahwa dirinya masih kalah hebat dibandingkan Kapten Melody, pimpinan mereka.
Beby akhirnya sampai di ruang makan. Belum banyak orang yang ada di situ, hanya beberapa itupun berada di meja terpisah-pisah. Beby hanya sendiri, ia tak tahu kemana dua orang temannya. Tapi Beby tidak peduli, ia lebih memilih mengenyangkan perutnya yang sudah berteriak minta diisi. Beby segera menuju etalase yang menyajikan makanan dan memenuhi nampannya. Lalu memilih meja yang paling dekat, dan tanpa pikir panjang segera menyantap makanannya.
"Hey, pelan-pelan. Nanti kamu tersedak."
Beby mendongak, di depannya ternyata sudah ada Ghaida. Entah sejak kapan dia mengambil makanan, nampannya sudah penuh terisi. Ghaida mengambil tempat di depan Beby.
"Bagaimana ? latihan tadi menyenangkan ?" Ghaida tersenyum, lebih tepatnya menyeringai.
"Hmm.." Beby hanya menggumam lemas, dia sama sekali tidak merasa bahwa latihannya tadi menyenangkan.
Ghaida terkekeh di depannya. "Maaf kalau aku terlalu keras. Itu perintah Kapten." Kata Ghaida lalu menyuapkan makanannya.
"Sebenarnya apa perintah Kapten ? bukannya tidak sopan, tapi kan hanya aku yang berlatih dengan kakak." Beby akhirnya menanyakan pertanyaan yang ia pendam dan baru saja diingatnya lagi.
"Aku juga kurang paham, dia Cuma memintaku untuk melatih kamu, hanya kamu."
Beby diam, ia berusaha memikirkan sebenarnya apa maksud Kapten-nya itu. Tapi Ghaida segera berbicara, memecah lamunannya.
"Sudahlah tidak usah terlalu dipikirkan. Jika sudah seperti itu tujuan Kapten pasti baik. Dia melihat potensi kamu, sama seperti saat dia melatih Kinal secara pribadi dulu. Kamu lihat sendiri, kan bagaimana Kinal sekarang ?" Ujar Ghaida.
Beby memandang ke arah seniornya itu yang masih menyantap makannya. Ia memikirkan perkataannya barusan, mungkin saja itu benar. Dan jika melihat yang sekarang ini sudah tidak perlu diragukan lagi bahwa Kinal telah menjadi Agen yang sangat hebat, mungkin bisa di katakan agen lapangan yang terbaik di sini. Mungkin sekarang Beby sudah tak perlu lagi meragukan kebijakan Kapten.
To Be Continued...
