~~oOo~~

Aerii

~proudly present~

.

.

.

Kim's Family Another Story

.

.

.

Kim's Family x Do Kyungsoo as Kim Kyungsoo

Krystal Jung (16)

.

.

.

RnR

.

.

.

HappyReading

.

.

.

~~oOo~~


"Jongdae oppa, where you'll go?" Jongdae yang baru saja menuruni anak tangga harus mengehntikn langkahnya di tangga terakhir, ia menatap malas ke arah gadis manis yang tingginya melebihi tinggi Kyungsoo.

"Bekerja!" jawabnya acuh.

Krystal melangkahkan kakinya dengan riang dan berdiri tepat di depan Jongdae "Oddie?"

"Apa itu penting? Kau tidak perlu tahu, kau kan disini liburan, nikmati saja liburanmu bersama haelmonnie dan eomma!" jawab Jongdae dengan malas.

Krystal menggeleng "Take me, please!"

"Mwo?" Jongdae melotot. Benar kan? Penderitaan ini benar-benar dimulai, selama ada Krystal, gadis itu tidak akan membuat hidupnya tenang. "Tidak! Aku tidak mau kau mengacaukan kafeku!" tolak Jongdae.

Krystal memasang wajah imutnya "Ayolah... aku akan bosan jika berada disini! Kyungiie eonnie masih lama pulang sekolahnya!"

"TIDAK"

"Tidak ada salahnya membawanya, Jongdae-yah!" suara lembut Yixing menginterupsi mereka. "Kasihan Krystal jika harus menunggu Kyungsoo, nanti sepulang sekolah, eomma akan meminta Kyungsoo untuk menjemputnya!"

Jongdae mengacak rambutnya "Tap,..."

"Thanks Yixing aunty!... aku berjanji tidak akan mengganggu Jongdae oppa! Dan aku akan menjadi menantu termanis untuk mu...!" Krystal mengapitkan tangannya di lengan Jongdae yang berhasil membuat Jongdae terperanjat.

"Yak!" bentak Jongdae sambil mendelik ke arah Krystal.

Namun bukannya takut, Krystal malah tersenyum lebar "Kajja! Kita pergi sekarang... bye aunty...!" Krystal langsung menarik lengan Jongdae agar cepat-cepat keluar dari rumah itu.

Yixing hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Jongdae yang terlihat pasrah karena perlakuan Krystal padanya.

.

~~oOo~~

.

Kyungsoo merenggangkan ototnya ketika jam istirahat berbunyi. Hari ini pikirannya benar-benar terkuras karena Matematika. Sebenarnya fikiran Kyungsoo tidak terfokus pada matametika, ada sosok lain yang ikut memenuhi pikirannya. Pria yang menggandeng mesra wanita lain di depannya kemarin pagi membuatnya sedikit gelisah. Tapi gelisah kenapa?

"Kau terlihat murung?" tegur Baekhyun.

"Benarkah?" Kyungsoo menoleh ke arah sahabatnya "Apa aku terlihat seperti itu?"

Baekhyun mengangguk "Kau terlihat sedang putus cinta..." Kyungsoo menempelkan kepalanya ke atas mejanya, wjahnya menghadap ke arah Baekhyun "...Tunggu... kau benar-benar sedang putus cinta?"

Kyungsoo mendecak "Mollayo..." Kyungsoo memalingkan wajahnya menghadap ke arah pintu kelasnya "Aku mengenalnya baru belum lama, aku merasa nyaman, ku pikir dia menyukaiku... ternyata dia sudah memiliki kekasih..." Kyungsoo melanjutkan kata-katanya.

Terdengar helaan nafas Baekhyun "Pria berkulit putih itu?"

Kyungsoo mengangguk "Arggghhh..." Kyungsoo menegakkan kepalanya "Aku benci pada diriku sendiri... kenapa aku terlalu mudah percaya diri jika ada pria yang mendekatiku, aku selalu berfikiran dia menyukaiku... huuuwaaaa,,, aku ingin mati saja rasanya..."

Baekhyun mengelus punggung sahabatnya itu "Kau bukannya terlalu percaya diri, tapi kau memiliki nasib yang kurang beruntung... dulu Chanyeol, sekarang pria berkulit putih itu..."

Kyungsoo melotot "Yak! Kenapa kau ungkit masalah itu!? Aku sangat malu mengingatnya..." Kyungsoo menutup wajahnya kedua tangannya.

"Sudahlah jangan terlalu difikirkan! Untung kan kau belum terlalu berharap banyak pada pria itu! Lagi pula kau baru beberapa minggu mengenalnya, dan itu terlalu dini untuk berfikiran jika kau menyukainya!" Baekhyun menenangkan sahabatnya yang mudah patah hati itu "...Lebih baik tahu sekarang daripada nanti..."

Kyungsoo mengangguk, ia lebih memilih untuk menunduk. "Kau tidak bersama Chanyeol...?" beberapa menit kemudian

Baekhyun menggeleng "Dia harus pergi latihan basket, kemarin dia absen latihan karena kencan denganku! Dan Jongin menagihnya, katanya..."

"Kemarin kau kencan dengan Chanyeol ? Sabtu malam?"

Baekhyun mengangguk lagi.

"Oh my god!" Kyungsoo menepuk jidatnya.

"Ada yang salah?"

Kyungsoo memandang ke arah Baekhyun "Otthokkae...? Argh, aku ketahuan bohong... ah,, Jongin pasti sudah tahu jika aku membohonginya..."

"Bohong apa?"

"Lusa kemarin aku mengatakan pada Jongin jika aku pergi denganmu ke toko buku sepulang sekolah dan... kau ternyata pergi dengan Chanyeol! Pantas saja kemarin malam dia sangat menyebalkan..." Kyungsoo kembali menunduk. Ia frustasi. Kenapa Jongin tidak memarahinya saat ia tahu jika Kyungsoo berbohong?.

"Kau berkencan dengan pria putih itu?" tebak Baekhyun.

Kyungsoo mengangguk "Aku jalan dengannya, dan paginya aku bertemu dengannya di suangai han dan dia bersama kekasihnya... sangat menyebalkan bukan?"

Baekhyun hanya mengangguk mengerti. Tidak bertanya lebih lanjut. Lebih baik ia diam disaat sahabatnya tengah frustasi karena kesalahannya.

.

~~oOo~~

.

"Nunna, aku akan memberitahu cara terbaik menikmati permen ini..."

Jika bisa Minnie ingin sekali mengusir bayang-bayang Jongdae dari ingatannya. Dan juga kata-kata manis sebelum Jongdae menciumnya kini terngiang-ngiang dikepalanya. Itu sangat menyiksa!.

Sejak kejadian ciuman itu, Minnie menjadi salah tingkah. Ia tidak fokus mengerjakan sesuatu. Bahkan semalaman ia tidak bisa tidur. Jantungnya selalu berdetak lebih kencang saat ia teringat adegan kissing tersebut dengan permen kapasnya.

Di mulai dari tadi malam ia menghindari kontak langsung dengan Jongdae. Entahlah, sebenarnya ia ingin marah. Tapi marah kenapa? Toh, dirinya juga menikmati ciuman itu. Kesal? Ayolah, ini bukan ciuman peratama Minnie. Malu? Mungkin kata itu lebih tepat untuknya. Ia malu jika menatap langsung ke arah Jongdae. Saat makan malam dan sarapanpun ia mati-matian menghindari Jongdae. Bersyukurlah karena kehadiran Krystal membuat Jongdae mengalihkan perhatiannya. Jongdae sibuk untuk menghindari kelakuan Krystal.

"Nunna, aku akan memberitahu cara terbaik menikmati permen ini..." Oh Tuhan, bahkan suara itu masih terdengar siruang rapat yang sangat kedap suara. Minnie berkali-kali memejamkan matanya untuk menghindari fikiran kotornya. Tunggu, bibir Jongdae masih membekas dibibirnya. Ugh! Minnie benar-benar mesum sekarang. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, berusaha fokus pada rapat yang tengah di pimpin oleh ayahnya sendiri itu.

"Minseok-ssi, bagaimana menurutmu tentang iklan minuman X yang..."

"Huh? CIUMAN?" potong Minnie dengan reflect saat suara Joonmyeon memecahkan lamunannya.

Beberapa staff memandang ke arah Minnie termasuk Joonmyeon.

Oh Tuhan! Bagaimana bisa kau tidak fokus seperti ini?. Minnie merutuki kebodohannya karena salah ucap dari minuman menjadi ciuman.

Suasana benar-benar akward. Bahkan beberapa karyawan yang berada diruang rapat tertawa geli karena kelakuan Minnie yang berhasil membuat dirinya sendiri seperti kepiting rebus karena saking malunya.

Minnie hanya menundukkan kepalanya sambil memejamkan matanya, menghindari pandangan aneh Joonmyeon dan juga beberapa rekan kerjanya.

"Baiklah.. karena satu karyawan tidak fokus, kita bisa melanjutkan rapat ini setelah makan siang" Joonmyeon memutuskan sambil menatap ke arah Minnie yang duduk disudut ruang. Joonmyeon berjalan keluar dari mimbar, ia mematikan tampilan presentasinya di layar LCD.

Beberapa karyawan pamit mengundurkan diri.

Mendengar rapat di akhiri, dengan cepat Minnie membereskan berkas-berkasnya dan berencana berlari sekencang-kenacangnya menuju ruangannya. Namun usahanya harus sia-sia karena...

"Minnie-yah! Bisa bicara sebentar?" suara Joonmyeon menginterupsi langkahnya saat Minnie sudah berhasil memegang gagang pintu untuk keluar.

Fighting, Minnie! Hari ini akan menjadi hari yang panjang!. Minnie menghadap ke arah ayahanya yang tengah duduk dengan manis menatap Minnie. Di ruangan itu hanya tersisa Minnie dan Joonmyeon. Minni mendekat ke arah ayahnya dan duduk disampingnya.

Joonmyeon tersenyum.

"Maafkan, Minnie, appa!?" lirihnya.

"Kenapa meminta maaf?"

Minnie mendongkak dan menatap ayahnya "Aku merusak rapat ini dan..."

"Kau sedang jatuh cinta?" potong Joonmyeon.

"Eoh?" Minnie terkejut. "Ah, ani... em maksudku.." Minnie tak lagi melanjutkan kata-katanya. Joonmyeon mengerutkan keningnya "Appa, bisa lupakan kejadian ini, eoh?"

"Jadi siapa yang menciummu?"

"Jong..." Minnie langsung menutup mulutnya, huh! Ia hampir kelepasan menyebut nama Jongdae di depan Joonmyeon.

"Jong?" Joonmyeon memancing.

Minnie mengggit bibir bawahnya, ia gugup. Tidak mungkin kan sekarang ia mengungkap hubungannya dengan Jongdae sedangkan ia sendiri masih belum yakin dengan perasaannya. Ini akan menjadi boomerang baginya.

"Jadi anak appa benar-benar sedang jatuh cinta...?" Joonmyeon mengulang pertanyaannya lagi. Kini ia berdiri dan memegang pundak anak pertamanya itu.

"Appa..." Minnie mendongkakkan kepalanya "...ini belum sejauh itu! Maksudku, aku masih belum sejauh itu..." lanjutnya.

"Kau masih ragu pada hubunganmu?" Minnie mengangguk menanggapi pertanyaan appanya "Baiklah... appa tidak akan bertanya lebih lanjut! Yakinkan dulu perasaannmu, kenali lebih dalam lagi dia, dan... jangan sampai kau kehilangan konsentrasi lagi dalam bekerja, arraseo?"

"Ne appa! Aku mengerti" lirihnya.

Setelah mendapat beberapa jamuan berupa nasehat, Minnie dan Joonmyeon kembali ke ruangannya masing-masing. Minnie duduk di kursinya, ia membuka tasnya dan mengambil ponselnya.

"Tidak ada notice..." dengan sedikit kecewa Minnie meletakkan ponselnya diatas meja. "Ish! Setelah apa yang ia lakukan padaku, sekarang dia malah tidak ada menghubungiku? Apa dia Cuma main-main denganku!" Minnie mengedumel. "Menyebalkan sekali..." lanjutnya.

.

~~oOo~~

.

Senyum gadis itu tidak pernah menghilang dari wajahnya. Bahkan untuk berkedip pun ia enggan. Ia tak mau jika ia berkedip objek yang tengah ia pandangi itu menghilang. Duduk dengan Americano yang berada di genggamannya ia menganggumi pahatan Tuhan yang tengah sibuk di sudut ruangan. Semua orang yang melihat tingkah gadis itu, dengan mudah ia akan menebak jika gadis itu tengah jatuh cinta. Iya, jatuh cinta pada barista yang kini tengah sibuk di meja kasir. Kim Jongdae.

"Tidak tidak akan kabur, berkediplah! Kasihan matamu akan lelah memandangi wajah bebek itu!" Luhan menyodorkan cake red velvet pada gadis itu.

"Terimakasih, eonnie!" gadis itu tersenyum "Dia sangat tampan!" pujinya "Ku pikir Tuhan dalam keadaan mood yang baik saat memahat wajahnya..." lanjutnya.

Luhan hanya menggeleng-geengkan kepalanya melihat gadis belia itu yang terlihat begitu snagat kasmaran "Kau sangat menyukainya...?"

Gadis itu mengangguk "Sangat... bahkan sejak aku berusia 6 tahun aku sudah bercita-cita menjadi istrinya..." jawabnya polos.

Luhan mengangguk "Baiklah,... kau ikmati kue itu! Kau tidak akan kenyang hanya menatapnya..." kata Luhan. "...dan akan sangat percuma aku mengajak gadis ini bicara, tatapannya hanya terfokus pada si bebek itu!" kata Luhan dengan lirih lalu menuju meja kasir. Ia meletakkan nampannya dan berdiri di samping Jongdae.

"Kau seperti penasaran tentang sesuatu?" tanya Jongdae tanpa mengalihkan pandangannya dari mesin kasir.

"Gadis itu!" tunjuk Luhan smabil memonyongkan bibirnya "Aku baru mengenalnya tadi pagi, tapi kurasa dia tidak buruk untukmu..." goda Luhan.

Jongdae menghentikan kegiatannya. Ia mendengus lemas. "Kau harusnya tahu bagaimana menderitanya aku karena gadis itu... dan apa tadi? Kau mengatakan aku dan dia cocok? Yak! Berdiri disampingnya saja aku merasa seperti seorang pedofil, kau tahu..." omelnya "Dari sekian banyak nama Jong, kenapa dia harus menggilai Jongdae!? Bahkan Jongin lebih cocok dengannya!"

Luhan menepuk-nepuk pundak sahabatnya "Sabar... harusnya aku tahu jika seleramu itu, nunna,...nunna..."

"Yak!" Jongdae ingin mengomel namun dengan cepat Luhan berlari ke arah dapur. Jongdae memalingkan wajah ke arah Luhan yang tengah mengindarinya "Ck... dia senang sekali menggodaku..." Jongdae memutar kepalanya kembali dan dia tersentak ketika Krystal sudah berdiri tepat di depannya, hanya terpisah dengan meja kasir. "Kkamjakiyah...!" omelnya. "Kenapa kau kemari?" tanyanya dengan ketus.

"Oppa! Aku bosan... ajak aku jalan...!" katanya dengan manja.

"Andwe... tunggulah sampai Kyungsoo dan Jongin datang! Kau akan jalan dengan mereka!" jawab Jongdae acuh.

"Aku ingn jalan berdua denganmu...!"

Jongdae mendelik "Tidak bisa... kau masih pelajar! Dan aku tidak mau jalan dengan seorang pelajar"

Krystal cemberut.

"Kau harus menyerah, Krystal-ssi! Oppa tersayangmu itu lebih senang jalan dengan nunna-nunna..." sambung Luhan yang keluar dari pentry dan membawa beberapa cake di atas nampannya, sepertinya pesanan pengunjung.

Krystal mendelik "Jinjja!?" tanyanya tak percaya "Andwee... ! oppa, kau hanya milikku! Dan tidak ada yang boleh memilikimu selain aku, titik!" lagi dan lagi Krystal mempatenkan kepemilikannya.

Jongdae mendecih "Dewasalah dulu anak kecil... aku tidak menyukai gadis berseragam! Aku menyukai gadis kantoran!" olok Jongdae.

Krystal mendecih "Aku tidak peduli... oppa tetap milikku..." katanya lalu kembali ke mejanya untuk menikmati amerricano dan red velvetnya itu.

Jongdae mendengus. Menyebalkan sekali. "...dan memang aku lebih menyukai gadis kantoran, seperti Minnie nunna!" lirihnya. Jongdae terdiam untuk beberapa saat. Minnie? Ah, gadis itu kenapa dari semalam menghindariku sih?. Jongdae menggambil ponselnya dari dalam kantong celananya. Kenapa dia tidak menghubungiku? Eh, apa pernah dia menghubungiku? Kenapa dia...? Apa dia malu karena kejadian kemarin sore? Ah, sepertinya begitu! Dia tidak membahas masalah ciuman itu dan sepertinya dia memang malu... dasar yeoja!. Jongdae memasuki kembali ponselnya.

.

~~oOo~~

.

"Tahun ini harusnya kau berusia delapan beas tahun, nak!" lirihnya dengan matanya yang memandang secarik kertas lusuh di tangan kanannya. Kertas yang menampakan gambaran abstrak hitam putih.

Huang Zi Tao, wanita itu tengah duduk di kelasnya yang kosong. Menatap secarik kertas dengan penuh senyum bangga dan kadang sebersit penyesalan mengembang disudut mataya. Hanya kertas itu satu-satunya bukti bahwa ia pernah mengandung. Kertas yang menjadi sebuah potret USG ketika kandungannya berusia delapan bulan. Bahkan hasil USG yang abstrak itu tidak menampakan dengan jelas wajah anaknya. Cantikkah, tampankah atau sebaliknya. Kertas itu benda berharga satu-satunya miliknya setelah Luhan.

Tao menarik nafasnya dalam-dalam, saat ini kelas kosong. Tugasnya mengajar kelas matrial arts untuk pemula sudah berakhir sejam yang lalu. Dan ia lebih memilih untuk duduk melantai di sudut ruangan tanpa alas, kursi dan meja tersebut.

TAP...TAP...TAP...

Tao mendongkak ketika sepasang pentopel hitam berhenti tepat di depannya. Setelah melihat siapa pemilik kaki panjang tersebut, Tao tersenyum sinis. Ia membereskan barang-barangnya termasuk kertas tersebut ke dalam tasnya. Ia berdiri.

"Kau lagi?" tanyanya sinis.

Pria itu tidak perlu menuduk kepada lawan bicaranya, karena Tao memiliki tubuh yang tinggi hampir menyamai tinggi tubuhnya.

"Kembalilah ke negaramu, disana kau sangat dibutuhkan!" usir Tao lagi.

Pria itu menghela nafsnya dalam-dalam "Ijinkan aku menebus kesalahanku,!"

"Aku injinkan!" kata Tao dengan cepat, ia memandang malas ke arah Kris –lawan bicaranya- "Aku mengijinkanmu... sekali lagi aku mengijinkanmu untuk menebus semua kesalahanmu, tebuslah dengan tidak menampakan dirimu di hadapanku!" lanjutnya.

"Aku akan menemukan anak kita!"

Tao memicingkan matanya "Anak? Anak siapa?" tanyanya sarkatis "...oh aku lupa! Anak itu! Kau memintaku untuk membunuhnya kan? Anak itu sudah mati, Kris! MATI! Kau sendiri yang menyuruhku untuk membunuhnya...Kau yang menyuruhku untuk membunuh anakku!" jawabnya dengan sedikit teriak.

Kris sudah menduga akan sikap Tao yang begitu membencinya, semua penderitaan Tao memang berawal darinya. Tak salah jika kini Tao membencinya, bahkan menolak ketulusannya.

"Enyahlah... kau benar-benar mengusik kehidupanku!" kini nada suarana melemah. Ia memandang iba ke iris milik Kris. Ia benar-benar meminta Kris untuk tidak lagi menemuinya.

Kris memejamkan matanya ketika Tao melewatinya, "Kau!... kenapa kau tidak pernah menikah?" Kris membuka matanya ketika memberikan pertanyaan 'bodoh'nya ke pada Tao.

Tao menghentikan langkahnya. Diam.

Kris kini sudah berdiri tepat di belakang Tao "Kenapa kau tidak pernah menikah dan membina keluarga?"

Tao menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia bersuara "Ku pikir... mengenalmu sudah cukup mewakili ratusan pria brengsek diluar sana!" dengan tegas Tao menjawab dan berniat keluar dari kelasnya. Jika Kris tidak berhenti menemuinya, maka ia harus menghindari pria itu kan?.

"Tao-yah! Tidak kah kau lelah menghindariku selama ini? Bukalah sedikit hatimu, dan biarkan aku menebus segalanya..." lirih Kris, mata tajamnya tak lepas dari punggung Tao yang berjalan pelan menghampiri pintu.

Tao mendengar, ia mendengar lirihan suara Kris. Meski samar ia bisa mendengar suara Kris yang memintanya untuk mengulangi semuanya dari awal. Rencana itu mungkin mudah, tapi tidak jika menjalaninya. Tao sudah terlanjur sakit. Semuanya sakit, fisik dan psikis. Bahkan kini pandanganya memudar, ia tak bisa menjaga keseimbanganya hingga akhirnya ia hilang kesadaranya.

.

~~oOo~~

.

Kaki mungilnya mencoba mengejar langkah kaki lebar milik adiknya. Jongin berjalan pelan menuju teras rumahnya namun berbeda bagi Kyungsoo, langkah Jongin sangat lebar dan ia sulit untuk menyamai langkahnya. Saat ini Jongin tengah kesal, bukan karena Kyungsoo. Tapi karena Krystal. Gadis itu membuatnya menahan amarah yang sudah mencapai di pucuk kepala. Hari ini tidak ada jam tambahan di sekolah, tidak ada jadwal ekstra, waktu senggang sepulang sekolah akan Jongin gunakan untuk tidur bersama anak kesayangannya. Tapi rencana indahnya gagal karena rengekan Kyungsoo yang memintanya untuk mampir ke kafe milik hyung-nya. Katanya untuk menjemput Krystal, tapi setelah sampai di kafe, Krystal malah menolak di jemput. Ia masih ingin bersama Jongdae, katanya. Jadi Jongin mengantar Kyungsoo untuk menjemput Krystal itu sia-sia karena hingga akhirnya mereka harus pulang ke rumah dengan tangan kosong. Minus Krystal. Itu sebabnya, Jongin melangkahkan kakinya dengan kesal sejak keluar dari mobil dan disusul Kyungsoo.

Jongin menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamarnya, tangannya masih memegang knop pintu. " Kenapa kau disini? Kamarmu disana!" tunjuknya dengan dagu ke arah kamar Kyungsoo.

Kyungsoo sedari tadi memang mengikuti Jongin. Kyungsoo mendongkakkan kepalanya agar bisa menatap Jongin "Kau marah?" tanyanya.

"Iya, aku marah! Aku lelah dan kau memintaku untuk menemanimu menemui gadis itu lalu..." jawabnya kesal saking kesalnya ia tak meneruskan ucapannya.

"Eomma yang memintaku untuk menjemputnya...!"

Jongin menarik nafasnya dalam-dalam "Harusnya kau tahu, gadis Jepang itu sangat menggilai Jongdae hyung! Jadi percuma kau menjemputnya jika dia sedang bersama Jongdae hyung! Harusnya kau mendengar ucapanku! Pabbo!" omelnya.

Kyungsoo merengut. Jongin akhir-akhir ini mudah sekali marah dan uring-uringan. "Jongin-ah! lupakan masalah tadi ne... eumm..." Kyungsoo memegang ujung seragam Jongin, kepalanya menunduk. Kaki kirinya menghentak-hentakkan lantai dengan pelan "Soal kemarin malam.. ah maksudku sabtu malam kemarin aku..."

"Kau jalan dengan Sehun! Aku tahu!" potongnya

Kyungsoo mendongkak "Darimana kau tahu?" tanyanya penasaran

"Apa itu penting? Kau sudah berbohong padaku agar kencan dengan pria pucat itu..."

"Aku tidak kencan!" potongnya.

"Kau sakit hati karena dia sudah punya kekasih?"

Kyungsoo melotot "Yak!"

"Ck..ck...ck..." Jongin mengacak rambut coklat Kyungsoo yang terikat "Dongsaeng ku sepertinya sakit hati..." oloknya.

"Yak!" Kyungsoo berteriak "Kau..." belum sempat Kyungsoo memberikan pelajaran pada Jongin, pria itu sudah masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu guna menghindari amukan dariKyungsoo. "Ck... dasar menyebalkan! Senang sekali dia mengejekku! Dan apa katanya tadi, dongsaeng? Ish!" omel Kyungsoo sambil menghentak-hentakkan kakinya karena kesal dan menuju ke kamarnya.

.

~~oOo~~

.

Luhan berlari menuju lobbi rumah sakit. Setelah membayar beberapa won kepada taksi, ia langsung menuju ruang UGD untuk mencari ibunya yang katanya pingsan. Beberapa jam yang lalu ia ditelpon seseorang dan mengatakan jika ibunya pingsan dan dibawa ke rumah sakit.

"Suster, dimana eommaku?" tanya Luhan panik setelah ia tidak menemukan ibunya kepada salah satu suster yang kebetulan lewat.

"Maaf nona, sebaiknya anda tanya ke meja resepsionis! Saya harus memeriksa pasien lainnya" jawabnya dengan lembut.

Luhan mengangguk, setelah itu ia menuju meja resepsionist yang tak jauh darinya.

"Suster, dimana eomma ku?" tanya Luhan dengan panik sehingga ia tidak bisa mengatur kalimat pertanyaannya.

"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya lembut.

Luhan menarik nafasnya dalam-dalam. Keringat dingin menetes dari pelipisnya "Eommaku..eommaku pingsan dan dibawa ke mari..."

"Boleh saya tahu siapa nama ibu anda?"

"Huang Zi Tao...!"

Perawat itu mengangguk "Huang Zi... ah!" wanita itu tersenyum saat menemukan nama yang di carinya melalui komputer datar di depannya "Nyonya Huang sudah di pindahkan ke ruang VIP... anda bisa menemuinya di bangsal VIP di lantai 12"

"VIP?" tanya Luhan. Kenapa untuk pasien seukuran ibunya bisa di rawat di ruang berkelas, pikirnya. Meski pertanyaan itu berkecamuk di pikirannya, Luhan tak lagi menggubrisnya. Eomma nya lebih penting, tidak peduli di bangsal mana dan nomer berapa. Ia ingin tahu kondisi ibunya.

"Appa?" lirih Luhan setelah ia sudah berada di lantai 12 dan melihat Kris dengan wajah lusuhnya tengah duduk di depan ruangan.

Kris menoleh ke arah Luhan, ia berdiri. Kini Luhan berada di depannya.

"Appa membawa eomma kemari?" tanyanya.

Kris menngangguk "Eomma mu pingsan! Appa yang menemukannya..." jawabnya "Tenanglah... eomma mu hanya lelah! Dia butuh istirahat..." Kris memegang pundak Luhan yang bergetar.

"Hiks..hiks...hiks..." Luhan menangis. Ia menangis karena takut Tao kenapa-kenapa. "Eomma..." kini Luhan menangis dalam pelukan Kris.

"Percaya pada appa! Dia wanita kuat.. dan dia butuh istirahat!" Kris mengelus punggung Luhan dengan sayang "Kemarilah..." Kris menarik lengan Luhan untuk mendekai pintu salah ruang rawat tersebut "Lihatlah... eomma mu sedang istirahat.." tunjukknya melalui kaca pintu.

Luhan menurut. Ia melihat Tao tengah terbaring nyaman dengan infus ditangannya. "Dia benar baik-baik saja..." tanyanya dengan sisa isakannya.

Kris mengangguk "Tentu saja! Dia Huang Zi Tao dan dia pasti baik-baik saja!" balas Kris.

.

~~oOo~~

.

Setelah melepas pakaian kerjanya dan membersihakan tubuhnya, Minnie mengenakan pakaian santai di rumahnya. Hanya dress berbahan sifon sebatas lututnya dan berwarna pasta membalut tubuh rampingnya. Tak lupa Minnie menyisir rambut hitamnya dan mengoleskan bedak di wajahnya. Minnie mengambil lip balm di atas meja riasnya. Ia mengoleskan ujung lip balm di bibir bagian bawahnya.

"Nunna, aku akan memberitahu cara terbaik menikmati permen ini..."

Ujung lip balm tersebut berhenti di sudut bibirnya saat suara Jongdae kembali terngiang di telinga nya. Minnie memandangi dirinya dari pantulan cermin di depannya, lebih tepatnya ia memandangi bibirnya. Bibir itu, bibir yang kemarin di kecup oleh Jongdae.

"Ish..." omelnya sambil meletakkan lip balm itu dengan kasar di atas meja riasnya "kenapa dia selalumenghantuiku sih!" omelnya. "Membuatku gila..." lanjutnya lalu buru-buru keluar kamarnya. Ia melangkahkan kakinya menuju tangga yang menghubungkan dengan ruang utama keluarganya.

Minnie belum sempat menuruni anak tangga, langkahnya harus berhenti ketika Jongdae dan Krystal berjalan menuju ke arahnya.

"Ouch shit!" umpatnya sambil memegangi erat pegangan tangga yang terbuat dari kaca itu ketika Jongdae sudah semakin dekat dengannya.

"Oh nunna! Kau mau kemana?" tanya Jongdae dengan senyum khas nya.

Minnie gugup. Melihat Jongdae melangkah mendekatinya membuatnya teringat ketika detik-detik sebelum Jongdae menciumnya. Semua terasa jelas, apa ini sedang reka ulang adegan? Pikirnya dengan konyol.

Menyisakan dua anak tangga lagi sebelum Jongdae benar-benar berada tepat di depan Minnie. Dan itu benar-benar membuat Minnie tercekat.

"STOP!" Minnie merentangkan tangan kanannya ke arah Jongdae "Berhenti di situ dan jangan mendekat!" lanjutnya sambil memejamkan matanya.

Jongdae dan Krystal terkejut dan reflek mereka berhenti sesuai perintah Minnie.

Jongin dan Kyungsoo yang tengah menyaksikan acara televisi pun menolehkan kepalanya ke arah Minnie dan melihat Jongdae dan Krystal yang seperti sedang di tilang polisi.

Minnie membuka matanya dengan perlahan, ia menatap Jongdae dna Krystal yang tengah memandangnya dengan heran. Minnie menarik kembaali tangannya.

"Minseok-iie eonnie, kau kenapa?" tanya Krystal dengan mimik herannya.

Minnie mengerjapkan matanya beberapa kali "Ouch.. God! I must be crazy now!" umpatnya lalu melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapatnya tanpa memperdulikan pandangan heran dari Jongin dan Kyungsoo.

"Kau lihat? Bukankah dia aneh?" tanya Kyungsoo pada Jongin.

Jongin hanya membalasnya dengan menggidikkan kedua pundaknya lalu melanjutkan kegiatannya yang semula yaitu tengah mengusap-ngusap rambut Kyungsoo, namun bagi Kyungsoo Jongin bukannya mengusap tapi memainkan kepalanya, ia sendiri tidak habis pikir jika duduk bersama Jongin tangan Jongin tak pernah mau diam, ada saja yang ia mainkan, seperti ini contohnya. "Jongdae hyung! Ku pikir seseorang melakukan sesuatu padanya?" tanya Jongin saat Jongdae menghampirinya dan duduk di single sofa.

Jongdae tersenyum menanggapi pertanyaan Jongin. Ia mengangguk.

"Oh, benarkah?" tanyanya antusias.

Jongdae memainkan kedua alisnya seolah menandakan dirinya menang akan sesuatu.

"Mungkinkah? Skinship?"

Jongdae mengangguk lagi dan lagi.

"Benarkah? X or O?"

"Yak! Apa yang kalian bicarakan?" tanya Kyungsoo jengah karena melihat obrolan Jongin dan Jongdae.

Jongdae terkikik "Sepertinya aku sangat bahagia hari ini..."

"Apa karena aku, oppa!?" tanya Krystal yang duduk di samping Kyungsoo.

Jongdae menarik nafasnya dalam-dalam "Aku akan sangat bahagia karena mu jika kau cepat kembali ke negaramu!" Jongdae meninggalkan mereka menuju kamarnya.

"Hahahaha... kembalilah ke negaramu, Krystal-ssi!" olok Jongin.

Krystal yang duduk di samping Kyungsoo langsung mendelikkan matanya ke arah Jongin. Jongin memang senang mengolok dirinya.

"Haruskah ku beritahu rahasia besar?" pertanyaan Jongin membuat Kyungsoo memfokuskan dirinya ke arah Jongin "Jongdae hyung sudah memiliki kekasih..."

"Jinjja?" tanya Krystal dan Kyungsoo bersamaan.

Jongin mengangguk, ia menarik tangannya dari kepala Kyungsoo. "Wanita itu cantik, berwibawa, anggun dan..."

"Nunna-nunna?" potong Krystal.

Jongin mengangguk lagi "Jika melihat dirimu, dia sangat jauh berbeda darimu! Dia cantik, putih, body-nya wow dan dadanya besar,..." Jongin menelisik Krystal dari kaki hingga kepala "Sedangkan kau... masih terlihat seperti anak TK! Kau harus membesarkan dada dan pantat mu!" lanjutnya.

TUK!

"Kyung... kenapa kau memukul kepalaku?" erang Jongin sambil memegang kepalanya karena Kyungsoo sempat memukulnya.

"Apa yang bicarakan dengan anak kecil eoh!? Kau ini mesum sekali..." omel Kyungsoo.

"Eonni, kenapa kau mengataiku anak kecil?" kini Krystal berteriak pada kyungsoo "Hiks...hiks...hiks... otthokae? Aku harus memiliki tubuh montok agar Jongdae oppa menyukaiku...!"

"Anniyo, Krystal-ssi! Bukan begitu maksud Jongin..." kini Krystal berlari menuju kamar Kyungsoo, -mereka memang tidur bersama- "ish... dia mulai merajuk lagi kan? Setelah ini kita semua pasti akan dibuatnya pusing untuk mencari alat pembesar payudara" omel Kyungsoo yang melihat miris ke arah pintu kamarnya.

Jongin mengerutkan keningnya "Kenapa harus mencari,? Aku bisa membuatnya besar dengan remasan ku... seperti ini..." jawab Jongin sambil mengepal-ngepalkan kedua tangannya di udara.

Kyungsoo memutar kedua matanya dengan malas "Dasar kkamjong, mesum..mesum..mesum..." omel Kyungsoo smabil memkul-mukul pundak Jongin.

"Auuuw,,, nunna hentikan... ini sakit..." Jongin berusaha menghindari pukulan Kyungsoo namun sayang Kyungsoo terlalu kuat dan Jongin sedikit kwalahan. Ia harus mengikhlaskan pundaknya memerah karena pukulan Kyungsoo.

"Jongin pabbo! Mesum...mesum...mesum..." Kyungsoo masih dengan brutal memukuli Jongin.

GREP.

Berhasil. Jongin berhasil memegang kedua tangan Kyungsoo dengan kedua tangannya, keduanya berhadapan. Kedua mata mereka bertemu.

DEG

DEG

DEG

Sudah lama sekali aku tidak sedekat ini dengannya? Aku benar-benar merindukan aroma wangi ditubuhnya. Jongin masih memandangi Kyungsoo.

Ooh! Kenapa? Kenapa jantungku berdetak kencang untuk Jongin? Oh tidak, mata itu! Kenapa matanya begitu indah saat menatapku? A-ada apa ini? Ini aneh sekali...

Mata bulatnya indah, hidungnya begitu sempurna, kedua pipi gembilnya begitu bersih dan sepertinya pipi itu sangat lembut seperti kulit bayi. Bibirnya, bibirnya begitu penuh dan menggairahkan...

"Jo-Jongin...?" panggil Kyungsoo lirih.

Astaga! Apa yang aku pikirkan tentang kakakku sendiri?

"Jongin, kau kenapa seperti itu menatapku?" tanya Kyungsoo lagi dan berhasil membuyarkan lamunan Jongin.

Jongin sedikit tersentak, matanya tertangkap basah sedang menatap bibir Kyungsoo. Jongin gugup, ia menurunkan pandangannya ke tubuh Kyungsoo yang terbalut kaos jersey dan pants berwarna kuning. Kaki jenjangnya terekspose bebas. Jongin menyunginggkan senyum mesumnya –menurut Kyungsoo- "Nunna..."

"Euh?" Kyungsoo mengerjapkan mata bulatnya beberapa kali.

"Eum... ku pikir tubuhmu montok...!"

.

.

.

.

"Eum... ku pikir tubuhmu montok...!" Kyungsoo mendelik setelah sadar maksud perkataan Jongin tentang tubuhnya "...dadamu terlihat padat berisi dan pantatmu sepertinya...eum..."

"Yak, Kim Jongin sialan..." Kyungsoo menarik tangannya dari cengkeraman Jongin dan langsung meraih bantal sofa yang di dekatnya dan memukul berkali tubuh Jongin dengan tenaga yang kuat.

.

~~oOo~~

.

"K-K-Kyungsoo sunbae-nim..." Kyungsoo dan Baekhyun yang tengah asik bercengkerama di dalam kelasnya saat jam istirahat, mendongkakkan kepalanya dan mendapati seorang hobbae-nya yang ia kenal sebagai Han Eun, adik kelas mereka yang kini berada di tahun kedua.

Kyungsoo dan Baekhyun saling pandang. Gadis yang mengenakan kacamata dan rambutnya yang selalu dikepang kuda itu jarang sekali berinteraksi dengan dengan senior-nya bahkan rekan sekelasnya pun jarang. Baekhyun mengernyit, ia tahu gadis itu. Gadis itu adalah pengagum rahasia mantan kekasihnya. Daehyun.

"Ah iya, ada apa?" tanya Kyungsoo dengan lembut.

Gadis itu menggaruk tengkuknya "A-a-ku i-ingin bicara de-denganmu..." jawabnya terbata.

"Oh silahakan!" balas Kyungsoo sambil tersenyum. Namun Han Eun hanya diam. Kyungsoo menyadari akan kehadiran Baekhyun. Sepertinya gadis itu merasa risih jika ada Baekhyun. "Haruskah kita bicara di luar?" tawar Kyungsoo dan gadis itu mengangguk. "Baiklah.. kita bicara di taman ne... Hyun-ah! mian, hanya sebentar..." katanya sambil memegang pundak Baekhyun.

Dan Baekhyun hanya mengangguk lalu tersenyum.

Kyungsoo dan Han Eun meninggalkan kelas, mereka menuju taman sekolah yang Kyungsoo maksud.

"Ada apa, Han Eun-ssi?" tanya Kyungsoo lembut.

Han Eun tampak gugup dan merogoh kantong seragamnya untuk mencari sesuatu "I-i-ige...!" Han Eun menyodorkan kertas berukuran kecil.

Kyungsoo menatap heran ke arah Han Eun lalu menatap kertas yang ia yakini adalah selembar photo. Kyungsoo mengernyitkan dahinya "Mwoya ige?" tanyanya sambil menerima poto tersebut. "D-Daehyun?" matanya melotot saat melihat isi dari gambar tersebut. Ia itu Daehyun yang tengah terkapar di lantai yang sepertinya itu adalah lantai atap.

Han Eun mengangguk.

"Maksudnya?" Kyungsoo bingung kenapa Han Eun memberikan poto Daehyun yang sepertinya tengah terlibat perkelahian dengan seseorang.

"Itu hari terakhir Daehyun sunbae-nim berada di sekolah ini"

Kyungsoo seperti mengingat sesuatu setelah mendengar penuturan Han Eun, terakhir kali ia melihat Daehyun di ruang kepala sekolah sesaat setelah mereka beradu jotos di kelasnya. Setelah itu ia di skors seminggu dan terakhir ia dengar Daehyun masuk rumah sakit karena Daehyun mendapati patah tulang ditubuhnya. Patah tulang? Tunggu, saat itu aku ingat sekali menghindari tubuh yang rawan cidera saat berkelahi dengan Daehyun. Aku jelas mengingatnya tidak membuat Daehyun cidera apa lagi patah tulang...maksudnya apa ini?

"Daehyun sunbae-nim pindah sekolah setelah ia di pukuli oleh Kim Kai" lanjut Han Eun.

DEG

Kyungsoo menatap Han Eun "Jadi didalam gambar ini Daehyun bersama Kim Kai?" tanya Kyungsoo terkejut. Ia melihat poto tersebut. Namun sayang, orang yang di yakini itu adalah Kim Kai tengah membelakangi kamera. Kim Kai tengah berdiri dan sedikit menuduk menatap Daehyun yang tengah tergeletak penuh darah di wajahnya.

"Hari itu tepat setelah sunbae berkelahi dengannya di kelas"

Kyungsoo mendongkak dan menatap Han Eun.

"Kau sangat beruntung sunbae-nim! Kau memiliki pelindung seperti Kim Kai. Dan kau membuatku kehilangan Daehyun sunbae-nim karena dia harus keluar negri..." Han Eun menunduk.

"Aku sungguh tidak mengenal Kim Kai, Han Eun-ssi!" elak Kyungsoo "Aku sudah menyelesaikan urusanku dengan Daehyun saat itu di ruang kepsek... dan Kim Kai sepertinya memiliki masalah sendiri dengannya... itu tidak ada urusannya denganku..."

Han Eun menggeleng "Aku saksi satu-satunya, sunbae-nim. Saat itu aku berada di atap dan tidak sengaja mendengar pertengkaran mereka, Kim Kai menyebut namamu karena Daehyun sunbae-nim membuat sunbae terluka..."

Kyungsoo terlonjak.

"Aku..aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini tapi ini merasa tidak adil bagiku yang kehilangan seseorang! Saat itu aku hanya bisa bersembunyi dan takut...tapi..."

"Apa kau melihat wajah Kim Kai?" tanya Kyungsoo.

Han Eun menggeleng.

"Han Eun-ssi, Mianhae! Tapi sungguh aku tidak mengenal itu siapa Kim Kai dan aku tidak pernah berurusan dengannya... tapi jika seperti ini sepertinya aku harus mencari siapa itu Kim Kai... soal Daehyun, mianhae..."

.

~~oOo~~

.

Kyungsoo pulang sekolah lebih awal. Seharusnya ia pergi les wushu, namun karena gurunya sakit, ia memutuskan untuk pulang tanpa Jongin. Jongin masih ada kelas tambahan di sekolah. Saat ini Kyungsoo tengah duduk di meja makan. Ia makan siang sendiri yang sudah di siapkan oleh salah satu maidnya. Minnie dan appa-nya masih di kantor, Jongdae kuliah dan Krystal, ah gadis itu sangat menggilai oppa-nya jadi kemungkinan gadis Jepang itu membututi kemana pun Jongdae pergi. Sememntara Yixing dan Ryeowook, Kyungsoo tidak menemui mereka sejak ia masuk ke dalam rumahnya.

"Ah, anak kesayangan eomma tumben sekali jam segini dirumah?" Yixing tiba-tiba datang dari arah belakangnya.

Kyungsoo yang tengah menyuapkan makanan ke dalam mulutnya menatap ke arah Yixing "Iyah eomma, Huang saem sakit jadi kelas wushu diliburkan" jawabnya.

Yixing duduk di samping Kyungsoo "Ah, kau harus menjenguknya, sayang!"

Kyungsoo mengangguk "Haruskah? Kalau begitu besok siang temani Kyungsoo ke rumah sakit yah?"

Yixing membelai rambut anaknya "Iya, akan eomma temani!" Yixing melirik mangkok berisi makanan Kyungsoo "Sayang... kau menyisihkan kacang merahnya lagi?" tanya Yixing yang melihat beberapa butir kacang merah yang biasa dia atas nasi hangatnya kini berada di piring lain.

Kyungsoo mengangguk "Aku kan sudah bilang tidak suka kacang merah, tapi Kwon ahjumma malah meletakannya, dan tidak ada Jongin yang mau menggantikanku makan kacang merah ini" tunjuk Kyungsoo pada makanannya. "Eomma darimana?"

"Eoh, eomma baru saja mengantar haelmonie ke rumah temannya..."

"Haelmonie senang sekali bergosip jika sudah bertemu teman-temannya.." cibir Kyungsoo.

Yixing hanya tersenyum menanggapi cibiran Kyungsoo. Ia hanya memandang Kyungsoo yang tengah khyusuk dengan makanannya.

"Aku pulang..." seru Jongin yang berjalan ke arah mereka.

"Oh anak eomma sudah pulang..." balas Yixing yang tersenyum ke arah Jongin yang kini berdiri di dekatnya.

"Kau cepat sekali pulangnya? Kau membolos di kelas tambahan yah?" cecar Kyungsoo.

Jongin hanya bergidik "Memang sudah waktunya pulang...! ah aku haus sekali...!" kata Jongin lalu menuju kulkas untuk mengambil minumnya.

Kyungsoo hanya berdecih. Ia kembali melanjutkan aksi makannya namun ia kembali menatap Jongin.

Punggung itu!

Kyungsoo meletakkan sendoknya dan kini memfokuskan pandangannya ke arah Jongin yang tengah membelakanginya.

Astaga punggung itu? ...Mungkinkah...?

~~oOo~~

.

.

To Be Continue...

.

.

~~oOo~~


A/N :

Bingung mau cuap-cuap apa O_O

Berharap masih ada reader yang ingat cerita ini, tidak berharap ada yang menunggu ff abal-abal ini karena itu berlebihan... ada yang ingat juga syukur alhamdulilah...

Maaf mengecewakan sebagian reader yang berharap ada KaiStal-nya tapi sungguh chap ini draft nya sudah ada sebelum scandal mereka dan awalnya memang aerii gunakan karakter Krystal untuk jadi orang ketiga-nya ChenMin biar greget, tapi kayanya kurang feel yah.. mian jinjja mianhae... bagi yang kecewa boleh meminta aerii untuk meng-END-kan sampai disini... tapi aerii gak bakal berubah fikiran untuk hubungan characternya... keputusan aerii tetap menjadikan Krystal sebagai orang ke3 ChenMin, sedikit digunakan untuk ngebongkar hubungan ChenMin di depan keluarganya nanti,,,,

Awalnya mau post minggu kemarin tapi gagal gagara tiba-tiba ngebaca berita yang meruntuhkan hati aerii sebagai KHS jadi di pending,,, butuh waktu beberapa hari terhitung dari Minggu aerii buka youtube buat cari KaiSoo moment supaya dapat feel-nya KaiSoo, aerii juga baca ffn KaiSoo yang happy ending, lama loh buat balikin mood-nya lagi...

Sebagai fans yang mungkin tidak diketahui keberadaannya oleh mereka, aerii hanya bisa mendukung *meskiberat tapi tetap KaiSoo for Kai and Kyungsoo, no other one! Just Kai and Kyungsoo, sudah mutlak dan menjadi hukum alam!

Kembali ke cerita, sekali lagi maaf kalo chap ini sedikit mengecewakan... dan mau kasih clue aja kalo KrisTao bakal cepet balikan kok hahahaha

Kasih aerii feedback dong buat chap ini, boleh dalam bentuk saran, kritik, dan semangat but no war no bash!

Last, thanks buat yang udah tetap berada di KHS... guys kita bisa lewatin ini sama-sama kok... badai pasti berlalu kan? Tetap percaya sama KaiSoo, KaDi, KaiD.O. or JongSoo yah... kita gak sendiri, kita sama-sama... :D

Selamat hari Kamissss yeorobeon...

XOXO

aerii