Tittle : Skull
Chap : 10
Main Cast : Do Kyungsoo
.
.
.
Author POV
"Kau bisa membantuku? Aku perlu menemui arwah seseorang.."
Sehun dan Chanyeol tak dapat menyembunyikan raut kebingungan pada wajah mereka karena kalimat singkat yang Kyungsoo bisikkan. Kedua pemuda itu bahkan belum sempat mengedipkan kelopak matanya namun Kyungsoo kembali membuat mereka tercengang.
"Beberapa waktu yang lalu, aku terlibat pada kematian seseorang dan sampai sekarang aku masih merasa bersalah karenanya. Kumohon bantu aku Sehun ah, aku ingin sekali meminta maaf padanya" lagi lagi Kyungsoo menggunakan senjata andalannya, mata besar yang kerkaca kaca saat benda bulat itu menatap Sehun dengan pandangan memohon. Pemuda itu menghembuskan nafas dan mengusap lembut pipi berisi Kyungsoo.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Ada hal yang belum kau ceritakan padaku?"
Mendengar pertanyaan tiba tiba dari Sehun membuat Kyungsoo menelan ludahnya dengan berat. Kalimatnya sudah di ujung lidah tetapi apa yang ia alami masih melibatkan Baekhyun dan sudah dipastikan Chanyeol dan Sehun akan marah kembali jika ia mengungkitnya.
"I-itu, sebenarnya beberapa minggu yang lalu.. Saat aku berkencan dengan Baekhyun, aku berkenalan dengan seorang gadis kecil di butik di pusat kota.."
Kening Chanyeol berkerut sedangkan Sehun berdecak tak percaya saat mendengar nama Baekhyun kembali terlontar dari bibir menggemaskan Kyungsoo. Mereka berkencan? Sehun sama sekali tak ada ide soal ini, jika Baekhyun ada di sampingnya mungkin ia akan menghajar pemuda itu hingga babak belur. Dalam pemikiran Sehun, pria itu benar benar brengsek.
"Dengarkan aku dulu.." Seolah mengerti dengan perubahan raut wajah Sehun dan Chanyeol, Kyungsoo menyela dengan cepat sebelum Sehun mengeluarkan protesannya.
"Gadis kecil itu, Yoona, ia memintaku untuk menemaninya membeli es krim di seberang jalan, namun aku menolaknya. Dan kecelakaan itu terjadi.." Kyungsoo meringis pelan saat gambaran tubuh kecil Yoona yang berlumuran darah di tengah jalan kembali memenuhi memorinya. Rasa sesak dengan cepat membuat nafas Kyungsoo tersengal terutama saat ia ingat jika ia juga penyebab kematian pengemudi ferarri yang telah membunuh Yoona. Dua kematian beruntun dan Kyungsoo terlibat didalamnya.
"Huufftt" satu tarikan nafas panjang Kyungsoo ambil untuk membuat jantungnya berdetak sedikit lebih normal.
"Cutie, kau baik baik saja?" Chanyeol menyentuh bahu Kyungsoo dan meremasnya pelan hingga pemuda itu mengalihkan pandangannya pada Chanyeol untuk memberinya sebuah senyuman yang dipaksakan.
"Aku baik baik saja.. hanya perasaan bersalah masih menghantuiku sampai saat ini. Jika aku menemani Yoona saat itu, mungkin ia masih hidup sampai sekarang. Aku yang bodoh, aku yang bersalah. Sepertinya dewa kematian sangat membenciku, bahkan ia mengambil nyawa gadis kecil yang hanya mengobrol denganku selama tak lebih dari sepuluh menit." Kyungsoo menundukkan wajah ketika ia merasa ada linangan berwarna bening di sudut matanya. Sehun dan Chanyeol terenyuh dan tanpa berpikir dua kali Sehun menarik tubuh Kyungsoo dalam pelukan hangat. Kyungsoo membalas dengan memeluk Sehun tak kalah erat.
"Itu sudah takdir Tuhan, Kyung. Kau tak akan bisa merubah sesuatu yang telah Tuhan rencanakan. Jadi apa yang bisa kubantu? Kau ingin aku mempertemukanmu dengan Yoona?" Kyungsoo mengangguk pelan dalam dekapan Sehun dan jemarinya meremas seragam Sehun lebih kencang dari sebelumnya.
"Tapi arwah tak selalu menampakkan diri Kyung, ada saatnya mereka muncul karena urusan mereka yang belum terselesaikan di dunia.."
"Apa yang kau maksud, Yoona anak keluarga Im, Cutie?" Chanyeol tiba tiba bertanya saat Kyungsoo dan Sehun masih terlarut dengan pelukannya masing masing. Kyungsoo menarik diri dari Sehun sambil mengusap airmata yang terlanjur membasahi wajahnya dan ia memandang Chanyeol dengan lekat.
"Kurasa ya, seingatku namanya Im Yoona. Kau kenal mereka Chan?"
Chanyeol mengangguk, ia meletakkan telunjuk tangan kanannya di dagu membuat gesture berpikir karena pemuda itu tengah mencoba mengingat sesuatu.
"Ibuku kenal baik dengan Nyonya Im, beberapa minggu yang lalu kami memang mendengar kabar soal kecelakaan yang menimpa anak mereka. Aku tak menyangka jika kau terlibat dalam kecelakaan itu Cutie.." Pandangan Chanyeol menerawang langit pagi yang dihiasi sedikit kabut putih yang sesekali melintas. Salju sudah berhenti turun namun udara masih belum beranjak dari kata suhu dingin. Pemuda tinggi itu kembali mengangguk saat memastikan dengan lebih jelas jika memang keluarga Im yang ia kenal adalah yang Kyungsoo maksud.
"Lalu, kau tau dimana abunya disemayamkan? Kudengar Yoona dikremasi?" Suara pelan Kyungsoo membuyarkan lamunan Chanyeol membuat pemuda itu menarik kembali tangannya dari wajahnya.
"Dia memang dikremasi, ayah dan ibuku sempat melayat ke kediaman mereka. Tapi sepertinya sekarang mereka sudah pindah rumah?"
Tenggorokan Kyungsoo tercekat dan ia memandang Chanyeol dengan mata yang melebar horor. Sehun hanya menyaksikan dengan seksama pembicaraan antara mereka berdua tanpa sedikitpun niatan untuk menyela karena ia sama sekali tak mengenal Keluarga Im.
"P-pindah?"
"Ya, kudengar mereka sudah pindah ke Seoul. Tapi aku bisa menanyakan alamat mereka di Seoul pada ibuku.."
"Seoul...?"
"Kau tenang saja, kalau kau tetap ingin melayat. Aku dan Chanyeol akan mengantarmu" setelah sebelumnya hanya terdiam dengan menyimak pembicaraan antara Chanyeol dan Kyungsoo, Sehun akhirnya menawarkan diri untuk mengantar Kyungsoo menemui Keluarga Im, ia sama sekali tak tega melihat wajah menyedihkan Kyungsoo saat pemuda itu kehilangan harapan untuk dapat menemui Yoona di tempat penyimpanan abu kremasinya.
"Terima kasih.." Kyungsoo berbisik pelan namun cukup untuk dapat didengar kedua sahabatnya. Lengkungan itu kembali muncul di sudut bibir Kyungsoo dan tanpa ragu kedua jemari pemuda itu menggenggam tangan Chanyeol dan Sehun secara bersamaan.
. . .
Baekhyun menatap sebuah dokumen yang disodorkan Young Woon dengan raut kebingungan yang terbentuk setelah beberapa menit ia membaca dokumen tersebut. Dalam dokumen itu tercetak wajah beberapa pemuda dengan variasi usia yang berbeda beda. Namun yang membuatnya tak habis pikir seluruh gambar wajah tersebut terstempel kata "died". Mereka sudah mati?
"Siapa mereka?" Setelah merasa cukup untuk melihat dokumen yang ia pegang, pemuda itu mengembalikannya kembali pada sang pemilik yang tengah menghisap cerutu di tengah meeting yang mereka lakukan. Jongin, Kris, Luhan juga Baekhyun hanya menatap sang petinggi Skull tersebut dengan kewaspadaan penuh pada wajah mereka.
"Luhan, kau pasti mengenal mereka" sorot mata Young Woon menatap tajam Luhan yang langsung menghela nafas berat setelah pandangan intimidasi atasannya tersebut. Pemuda itu mengusak rambutnya dengan kasar dan setelah beberapa saat hanya bergumam tak jelas akhirnya ia memberanikan diri menatap keempat orang yang masih menunggu jawabannya.
"Mereka adalah kompetitorku.." Sahut Luhan dengan lemas.
"Kompetitor?" Jongin menyela langsung dengan tanda tanya yang belum menghilang dari sorot matanya.
"Ya, mereka sainganku dalam sebuah kompetisi yang kuikuti beberapa tahun lalu. Saat itu aku masih berusia 15 tahun dan belum bergabung dengan Skull, tapi aku cukup aktif dalam salah satu komunitas hacker yang besar."
"Lalu?" Kali ini suara dari Baekhyun yang terdengar, sedangkan ketua mereka hanya mendengarkan percakapan sambil menunggu cerutu yang ia hisap habis.
"Saat itu kami diminta membuat sistem komputer program pertahanan. Aku membuat sebuah sandi algoritma versiku sendiri, dan yang kalian lihat di dalam dokumen itu adalah para pemenang dari kompetisi, selain diriku.."
Cerutu dalam tangan Young Woon semakin mengecil dan pria itu memutuskan untuk mematikan sisa puntungnya.
Secara tiba tiba Kris menyela percakapan.
"Aku diminta menjemput salah satu hacker itu kemarin malam oleh ketua, untuk menghindarkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi. Tapi sayang, dia sudah mati. Sebelum aku sampai, rumah pria itu terlebih dulu hancur oleh ledakan" Kris meletakkan kedua tangannya di dagu saat memberi penjelasan pada member Skull yang masih terlihat waspada pada percakapan yang mereka lakukan.
"Bom?" Tanya Baekhyun cepat.
"Ya, dan sangat rapi. Orang awam yang melihatnya sepintas akan mengira itu adalah ledakan dari tabung gas"
"Sebenarnya apa yang membuat mereka 'diburu'? Jongin merubah posisinya dengan bersandar pada kursi yang ia duduki. Kerutan di keningnya semakin bertambah seiring dengan pembicaraan yang semakin berat.
Mendengar pertanyaan dari Jongin tersebut membuat Luhan menelan ludahnya dengan susah payah, besar kemungkinan ia juga termasuk dalam sasaran buruan karena mereka adalah satu team dalam kompetisi itu.
"Aku belum terlalu yakin dengan smuanya. Hanya saja kalian harus lebih waspada. Seseorang mencoba bermain main dengan kita. Dan kali ini akan terjadi ledakan yang lebih besar. Aku memiliki firasat buruk" Young Woon akhirnya bersuara setelah sebelumnya hanya terdiam. Sorot matanya menjadi gelap karena pemikiran aneh yang menghantui otaknya. Pria itu tak cukup yakin dengan sugestinya, namun kewaspadaan penuh diperlukan sebelum hal yang lebih buruk terjadi.
. . .
"Haaahh, akhirnya pelajaran si creepy Choi berakhir juga. Kepalaku rasanya mau pecah mendengar penjelasan panjang lebarnya mengenai sejarah penyihir yang pernah berjaya di dunia" Sehun merentangkan kedua tangannya lebar lebar setelah jam pelajaran wali kelasnya berakhir tepat di jam makan siang. Hampir seluruh murid langsung beranjak dari tempat duduk masing masing saat aroma parfum guru tampan itu perlahan menghilang dari kelas mereka. Kyungsoo hanya tersenyum simpul mendengar celotehan Sehun. Guru mereka yang satu ini memang istimewa, ia sangat terobsesi dengan cerita cerita berbau mistis. Seharusnya ia mengajar ilmu alam dan matematika, namun setiap kali mengajar, tiga puluh menit terakhir akan dia habiskan untuk sekedar bercerita mengenai agama atau cerita urban legend.
"Menurutku cerita mengenai penyihir Ursula Southeil itu cukup menarik. Ia terlahir dengan kondisi tubuh cacat dan tak lengkap bahkan penduduk desa beranggapan jika ibunya berhubungan intim dengan iblis karena wajahnya yang sangat mengerikan. Namun ia memiliki kelebihan dapat melihat masa depan, dan kemampuannya itu membuatnya lebih popular dengan sebutan Mother Shipton Sang Peramal. Aku iri dengannya.." tangan Kyungsoo sibuk membereskan beberapa buku yang masih berserakan di atas meja tapi Sehun terlihat sama sekali tak tertarik untuk membantunya. Pemuda itu justru asyik menatap wajah menggemaskan sang pemuda bertubuh mungil yang terus bergumam tak jelas.
"Kau iri dengannya? Apa aku tak salah dengar? Dia berwajah buruk dan sering menyebarkan gossip mengenai akhir dari dunia?" Sehun berdecak tak percaya, pemuda itu mendekatkan tubuhnya kepada Kyungsoo membuat Kyungsoo merasa sedikit tak nyaman karena hembusan nafas Sehun yang terasa jelas menerpa kulit wajahnya. Kyungsoo memasukkan buku terakhir dalam tas dan ia menekan lembut bahu Sehun agar sedikit memberi jarak antara tubuh mereka.
"Semua orang menganggapnya iblis karena wajahnya yang buruk rupa, tapi kemampuannya meramal masa depan hampir menyamai peramal terkenal Nostradamus dan itu membuatnya menjadi penyihir yang populer. Aku iri dengannya karena ia memiliki kelebihan yang berguna, bukan malah membuat orang lain kehilangan nyawa karena kemampuannya itu.." Kyungsoo menjadi lebih sensitif setiap kali wali kelas mereka bercerita konyol mengenai penyihir dan ilmu magis, dan hal itu terkadang membuat Sehun sedikit merasa kesal pada pria sok tampan yang sayangnya memang tampan itu.
"Jangan konyol Kyung!"
"Tidak, justru aku sedang berusaha memahami segalanya dengan benar. Kekuatanku adalah kutukan mengerikan, dan selamanya aku tak akan pernah bisa hidup dengan normal. Kau tak tau rasanya Sehun ah, bagaimana mengerikannya ketika malam hari mimpimu dipenuhi oleh gambaran orang mati dan sekarat. Bahkan saat aku mencelakakanmu dulu, tidur adalah hal yang paling kuhindari" Kyungsoo tersenyum kecut dan ia beranjak dari duduknya. Sehun mengerutkan kening dengan cepat dan ia menahan lengan Kyungsoo sebelum pemuda itu berjalan meninggalkan kelas mereka.
"Kau mau ke kantin? Kutemani!"
Kyungsoo hanya bisa pasrah saat Sehun menarik lembut lengannya dan menggiringnya keluar dari kelas, tapi tujuan utama Kyungsoo bukanlah kantin. Kyungsoo sama sekali tak memiliki nafsu untuk makan siang, ia hanya ingin beristirahat dan hanya ada satu tempat yang yang terpikir olehnya.
"Se-Sehun ah. Tunggu, aku tak ingin ke kantin" Kyungsoo berucap dengan terbata bata dalam usahanya mengikuti langkah lebar Sehun yang masih belum berhenti menariknya seperti anak kecil.
"Lalu kau mau istirahat dimana? Biar kutemani" Sehun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Kyungsoo. Ia menatap Kyungsoo lekat membuat pemuda itu menjadi salah tingkah karenanya.
"A-aku ingin beristirahat di atap gedung.. kurasa sedikit tidur akan membantuku saat ini" ucap Kyungsoo pelan.
"dan..sendirian.." Kyungsoo memotong dengan cepat ketika ia melihat Sehun akan menarik lengannya kembali. Hal tersebut membuat pemuda berkulit pucat itu tak memiliki pilihan lain selain melepaskan tangan mungil Kyungsoo walaupun dengan berat hati.
"Sehun ah!" Kyungsoo dan Sehun membalik tubuh mereka secara bersamaan ketika seseorang berteriak dari ujung lorong dan menghampiri mereka dengan setengah berlari.
"Kim Jongin" Sehun berdecak malas saat melihat pemuda berkulit tan itu semakin mendekat. Ia melipat kedua tangannya di dada dan menunggu Jongin tiba di tempatnya. Cukup cepat pemuda berkulit tan itu melewati lorong sepanjang beberapa meter karena dalam hitungan detik ia sudah tiba di tempat Kyungsoo dan Sehun berdiri.
"Oh Sehun. Aku menunggumu di kantin, kenapa lama sekali?" saat Jongin tiba, pemuda itu langsung menepuk keras kepala Sehun, sepertinya sedikit menyakitkan karena Kyungsoo dapat mendengar dengan jelas suara tepukan tangan kekar Jongin padanya. Sehun meringis dan membalas dengan melotot horor pada Jongin.
"Yak, tanganmu Kim Jongin" ia menjadi sewot sendiri karena sikap tak menyenangkan Jongin namun itu justru membuat Jongin terkekeh. Kyungsoo hanya memperhatikan interaksi keduanya dengan wajah kaku dan setengah tak percaya. Ia mengedipkan kelopak matanya berkali kali dan memandang keakraban dua manusia berkulit kontras di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Setelah puas mengerjai Sehun, Jongin berbalik memandang ke arah Kyungsoo dan memberinya sebuah senyuman manis. Tunggu, Jongin tersenyum pada Kyungsoo? Apa yang terjadi pada otaknya? Sesuatu yang keras pasti telah menghantam kepala Jongin karena sikap tak lazim yang ia tunjukkan. Jongin perlu menemui dokter bedah otak.
"A-apa?" alih alih membalas tersenyum pada Jongin, Kyungsoo justru terlihat ketakutan dan ia mundur beberapa langkah untuk bersembunyi di belakang tubuh Sehun.
"Aku belum sempat mengucapkan terima kasih padamu Bocah Pendek" Jongin membungkukkan tubuhnya agar dapat menyejajarkan pandangan dengan Kyungsoo yang masih setengah bersembunyi di balik tubuh Sehun. Tangan kekar pemuda itu mengusak kasar rambut Kyungsoo kemudian berganti mengusap dengan lembut pipi tembam pemuda itu. Kyungsoo semakin menautkan kedua alisnya. Ia merasa aneh dan tak terbiasa dengan sikap hangat Jongin, walaupun harus ia akui Jongin yang hangat lebih menyenangkan daripada Jongin yang tanpa ekspresi.
"Kau tau? Sikap sok pahlawanmu mengingatkanku pada ibuku, kalian sama sama bodoh. Tanpa berpikir panjang mengorbankan diri sendiri hanya untuk menyelamatkanku!"
"Well, menyelamatkan orang lain tak memerlukan kepintaran, hanya perlu sedikit kepedulian dan hati nurani.." Kyungsoo akhirnya memberanikan diri keluar dari perlindungan tubuh Sehun, tak ada yang perlu ditakutkan dari Jongin dan ia mulai menyadarinya. Hati Jongin telah mencair dan itu membuat perasaan Kyungsoo semakin lega.
"Arraseo! Kudengar dari Sehun, tak akan ada yang bisa berdebat denganmu. Kau terlalu keras kepala" Kyungsoo mendelik ke arah Sehun namun pemuda berkulit pucat itu hanya merespon dengan mengendikkan kedua bahunya.
"Aku benar kan? Kau terlalu keras kepala?" sahut Sehun..
Jongin kembali tersenyum "Katakan jika kau memerlukan sesuatu atau bantuan? Aku berhutang satu nyawa padamu.."
Kyungsoo terlihat sedikit berpikir, ada hal yang terlintas dalam pemikirannya saat ia mempertimbangkan tawaran Jongin "Umm, Jongin ah. Sebenarnya, aku, Sehun dan Chanyeol berniat pergi ke Seoul akhir pekan ini untuk mengunjungi seseorang. Kami membutuhkan kendaraan. Kau bisa membantuku?"
"Yak, Kyung! bukankah kita sepakat untuk naik kendaraan umum? Kenapa mengajak si hitam ini?" Sehun tanpa ragu melancarkan protesannya saat mendengar permintaan konyol Kyungsoo. Satu lagi hal yang membuat Sehun tak habis pikir, sebenarnya terbuat dari apa kepala Kyungsoo? Terlalu keras kepala dan seenaknya dalam membuat keputusan.
"Tapi akan lebih cepat jika kita memakai kendaraan pribadi. Apa lebih baik jika aku meminta bantuan Luhan atau... Baekhyun?" Kyungsoo mengambil jeda cukup lama saat menyebut nama Baekhyun di depan Sehun agar pemuda itu menyetujui usulannya. Cukup berhasil karena tak lama berselang, Sehun berdecak frustasi dan ia mengibaskan tangannya sebagai tanda tak ingin berdebat lebih jauh dengan Kyungsoo.
"Jadi bagaimana? Kau bisa membantuku?" Kyungsoo bertanya dengan penuh harap.
"Hmm, sebenarnya aku ada pertemuan dengan agen Skull akhir pekan ini. Tapi kemungkinan jam pertemuan diundur hingga sore hari karena menunggu Ketua Kim selesai dengan urusannya. Aku bisa mengantarmu pagi harinya" Kyungsoo meloncat dari tempatnya berdiri dan langsung menghamburkan diri dalam pelukan Jongin. Sehun dan Jongin sempat terkejut dengan reaksi spontan dari Kyungsoo namun tak lama Jongin membalas pelukan yang ia rasakan cukup hangat dari pemuda bertubuh mungil tersebut.
"Terima kasih.." setelah ia rasa cukup memberi Jongin pelukan, Kyungsoo melepaskan pemuda berkulit tan tersebut dan mengucapkan kalimat dengan ketulusan yang terpancar dari sorot matanya.
"Kau tak perlu sungkan. Aku berhutang nyawa padamu dan kau juga hal yang paling berharga bagi sahabatku. Aku perlu untuk menjagamu" tak perlu mencari tau siapa orang yang Jongin maksud dengan sahabat yang menganggap Kyungsoo adalah hal yang paling berharga karena gambaran wajah Baekhyun langsung melintas dalam pikiran Kyungsoo membuat sorot mata yang semula bersinar kembali meredup. Jongin melihatnya dengan jelas dan perasaan bersalah langsung muncul dalam hatinya.
"Maaf soal Baekhyun, dia tak bermaksud menyakitimu. Kalian hanya memerlukan waktu saja.."
"Aku tau, hanya saja ini terlalu menyakitkan. Aku terlalu bergantung padanya" Kyungsoo seolah lupa jika nama Baekhyun adalah yang paling Sehun benci saat ia menyebutnya dalam obrolan mereka. Kyungsoo terlarut dalam pemikirannya mengenai Baekhyun dan tak menyadari aura dingin yang dimunculkan Sehun saat ia melihat keterpurukan Kyungsoo.
"Sudahlah jangan membahas orang itu lagi. Aku sedang tak ingin mendengar namanya!" Sehun tiba tiba berucap dengan ketus, membuatnya mendapat perhatian lebih dari Jongin dan Kyungsoo.
"Maaf Sehun ah, aku tak bermaksud membahasnya lagi. Oh ya, kalian bisa pergi ke kantin bersama. Aku tak bisa menemani kalian, ada hal yang harus aku lakukan, bye" tak ingin melanjutkan debatnya dengan Sehun, Kyungsoo lebih memilih untuk meninggalkan kedua pemuda yang masih terpaku di tempatnya itu sambil membalas lambaian tangan Kyungsoo.
. . .
Hembusan angin yang cukup dingin menerpa kulit wajah Kyungsoo ketika ia membuka pintu yang menghubungkan tangga dengan atap gedung sekolah. Saat itu suhu yang masih cukup dingin membuat telinga Kyungsoo berubah warna dengan cepat menjadi kemerahan. Namun hal tersebut tak menyurutkan niatannya merileksasikan pikiran di tempat ini. Atap sekolah adalah pilihan yang tepat jika ingin termenung tanpa gangguan suara apapun karena tak banyak murid yang datang ke tempat ini. Lagipula untuk apa datang ke tempat seperti ini, atap ini mengarah ke pekarangan belakang sekolah dan hanya ada hamparan pohon maple yang menjadi pemandangan utamanya.
Kyungsoo mengambil spot untuk duduk di salah satu pinggiran tembok pembatas, dan tangan mungilnya berpegangan pada pagar besi agar ia tak jatuh dengan mudah dari ketinggian 10 meter.
Kyungsoo memejamkan kedua matanya dan menikmati udara bersih yang ada di sekitar. Hembusan angin kembali datang dan menerbangkan sisa dedaunan yang masih menempel pada batang pohon maple. Siluet ranting pohon yang meliuk mengikuti arah angin berputar menjadi pertunjukan tersendiri bagi Kyungsoo yang masih setia dengan pemandangan alam ciptaan Tuhan tersebut.
Kyungsoo benar benar menikmati saat saat seperti ini. Ketika tak ada orang lain di sekitarnya dan hanya ada ia juga lukisan Tuhan dengan segala keindahannya. Saat tak ada orang lain, itu adalah hari yang cerah bagi Kyungsoo karena ia tak perlu merasa ketakutan kehilangan kendali kekuatan di hadapan orang lain dan Kyungsoo bisa menjadi dirinya sendiri.
Kedua bola mata indah Kyungsoo kembali terlihat saat ia membuka kembali kelopak matanya. Saat itu sebuah suara cicitan menarik perhatian Kyungsoo dan ia mengalihkan perhatiannya pada sebuah pohon maple yang terletak tak jauh dari tempatnya duduk. Kyungsoo melihat seekor tupai hampir jatuh dari salah satu ujung ranting pohon dan tanpa sadar tangan Kyungsoo bergerak untuk membantu tupai tersebut sebelum makhluk mungil itu jatuh menghantam tanah. Gerakan tangan Kyungsoo itu membuat si tupai melayang dan dengan perlahan Kyungsoo meletakkan tupai tersebut pada salah satu batang pohon yang lebih kuat.
"Oh" Kyungsoo memekik tertahan ketika tanpa sadar ia terlalu jauh mencondongkan tubuhnya, membuat tubuh Kyungsoo sedikit oleng dan hampir terjatuh. Namun sebelum itu terjadi, sebuah lengan menahan perut Kyungsoo dan membuatnya kembali ke posisi semula.
"Kau ceroboh sekali" suara yang sangat akrab dalam ingatan Kyungsoo menyapa indera pendengarannya. Kyungsoo tau betul pemilik suara khas yang bahkan terdengar merdu ketika ia berdebat dengannya.
"Aku tau.." Kyungsoo menjawab dengan pelan dan secara perlahan ia meletakkan kedua tangannya pada lengan Baekhyun yang membelenggu perutnya. Baekhyun menghembuskan nafas dengan berat dan meletakkan dagu runcingnya pada bahu sempit Kyungsoo. hembusan nafas pemuda itu menggelitik tengkuk Kyungsoo dan membuat bulu kuduknya sedikit meremang. Posisi mereka terlihat sangat nyaman saat ini dan masing masing terlalu enggan untuk melepaskan diri. Kyungsoo termenung menunggu kalimat selanjutnya yang akan Baekhyun ucapkan, ia memberanikan diri menyandarkan punggungnya pada bahu baekhyun dan membuat tubuh keduanya semakin melekat sempurna.
"Apa yang kau lakukan disini? Mencoba bunuh diri?"
Kyungsoo tersenyum kecut mendengar pertanyaan Baekhyun dan ia menjawabnya dengan lirihan tertahan "Apa itu bisa membantuku menghentikan kutukan ini? Asal kau tau saja aku sudah mencoba membunuh diriku berkali kali tapi selalu gagal. Kekuatan busuk ini selalu mengambil alih tubuhku saat ada bahaya yang mengancamku"
"Lalu kenapa saat itu kau mengancamku dengan ancaman bunuh diri?"
"Kupikir aku cukup berharga bagimu dan kau akan terluka jika aku mati" jemari Kyungsoo mengusap lembut lengan Baekhyun yang masih setia memeluk erat pinggangnya.
"Kau memang berharga, tak perlu mengancamku seperti itupun kau sudah menang Kyung"
"Jangan bercanda lagi Tuan Muda Byun. Aku tak ingin memunculkan lagi harapan" Kyungsoo melepaskan dengan paksa lengan Baekhyun dan ia bergerak menuruni tembok pembatas atap. Saat ia berdiri tepat di depan Baekhyun, pandangan keduanya bertemu dan ada rasa rindu yang besar terpancar dari sorot mata masing masing. Kyungsoo menggelengkan kepalanya berkali kali saat tatapan mata Baekhyun semakin menghipnotisnya. Ia tak ingin jatuh dalam pesona Baekhyun saat ini. Tidak, Kyungsoo sedang tak ingin kalah.
Namun ketika langkah kakinya justru mengkhianati Kyungsoo dengan tetap berdiam diri di tempatnya, Baekhyun mengambil kesempatan dengan menarik tubuh Kyungsoo dan mendesaknya pada tembok pembatas. Kyungsoo sadar, ia masih kalah jauh dengan kekuatan Baekhyun. Ia terlalu dalam mencintai pemuda itu dan semuanya terbukti ketika Baekhyun melumat bibir Kyungsoo dan Kyumgsoo hanya bisa pasrah menerimanya.
Baekhyun mencium dalam bibir Kyungsoo, menghisapnya dengan kuat seolah ia tak akan pernah merasakannya lagi. Rasa manis yang timbul dari bibir merah ranum milik Kyungsoo membuat Baekhyun semakin terbuai dan tak satupun bagian dari bibir Kyungsoo yang ia lewatkan.
Kyungsoo melenguh ketika Baekhyun memasukkan lidah hangatnya dalam mulut kecil pemuda itu dan membuat Kyungsoo semakin kehilangan kekuatan tubuhnya. Ia tak memiliki pilihan lain selain mengalungkan kedua tangannya pada leher Baekhyun agar tubuhnya tak merosot ke lantai. Suara yang ditimbulkan dari hisapan bibir keduanya menjadi alunan yang menemani keheningan suasana atap bertemankan hembusan angin musim dingin.
Baekhyun menarik diri dari Kyungsoo kemudian menatap wajah indah pemuda itu dengan tatapan penuh cinta. Ibu jarinya mengusap lembut bibir kemerahan Kyungsoo yang sedikit basah karena campuran saliva keduanya. Kyungsoo membuka kedua matanya dan memberanikan diri membalas tatapan mata Baekhyun.
"Kau mau menungguku? Aku akan menjalani misi terakhirku di Skull dan setelah memastikan si tua Kwon tak akan menganggumu lagi, aku akan menemui ayahmu." Kesungguhan yang besar terpancar kuat dari sorot mata Baekhyun ketika ia menyatakan pernyataannya. Kyungsoo sama sekali tak memiliki kalimat yang tepat untuk membalas pernyataan terdalam dari Baekhyun. Ia terlalu terkejut.
"Baek.."
Baekhyun menarik tubuh mungil Kyungsoo dan menenggelamkannya dalam pelukan hangat "Kau tenang saja, kali ini kau bisa memegang janjiku.."
. . .
Saat hari menjelang sore, Kyungsoo pulang lebih cepat karna Luhan hari ini absen dari sekolah dan mereka tak melakukan jam pelajaran tambahan. Ketidakhadiran Luhan membuat Kyungsoo sedikit merasa khawatir, Kris juga tak menampakkan wajahnya di sekolah hari ini. Hanya ada Baekhyun dan Jongin. Terlebih kalimat Baekhyun siang tadi terus terngiang di benak Kyungsoo.
'Kau mau menungguku? Aku akan menjalani misi terakhirku di Skull dan setelah memastikan si tua Kwon tak akan menganggumu lagi, aku akan menemui ayahmu ' misi apa yang sebenarnya sedang mereka jalankan?
Tak pelak lagi kalimat Baekhyun yang membekas di salah satu ruang memori ingatannya memunculkan semburat merah muda hadir di kedua pipi Kyungsoo. Memang benar, selama ini mereka hanya membutuhkan waktu. Dan kini masalah terbesar mereka hanya meyakinkan ayah Kyungsoo.
Kyungsoo menghembuskan nafasnya dengan berat saat ia terpaksa mengingat ayahnya kembali. Hubungan mereka belum membaik, dan akhir akhir ini ayahnya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Entah menghadiri pertemuan gereja atau mengerjakan pekerjaan proyek yang melibatkan anggota gereja. Ia selalu pergi sebelum Kyungsoo bangun dan pulang setelah Kyungsoo tertidur.
Jemari Kyungsoo cukup lama memegang kenop pintu sebelum akhirnya ia memutuskan untuk memutarnya. Keyakinan Kyungsoo jika ayahnya masih berada di luar rumah lenyap dalam sekejap saat ia aroma harum samgyetang menghampiri indera penciuman Kyungsoo.
Kyungsoo melangkah pelan menuju dapur dan saat ia tiba penglihatannya menangkap siluet punggung ayahnya yang tengah memasak menggunakan celemek berwarna maroon.
"Kau sudah pulang?" Sebelum Kyungsoo menyapa, ayahnya terlebih dulu bersuara namun ia tak menatap Kyungsoo dan lebih terfokus mengaduk sup samgyetang di hadapannya.
"Hm, kau tak gereja hari ini Ayah?" Kyungsoo meletakkan tas ransel pada salah satu kursi di ruang makan dan ia duduk tepat di belakang ayahnya.
"Pertemuan gereja hari ini lebih cepat berakhir karena proyek pengumpulan dana amal sudah memenuhi quota. Kami hanya tinggal menyalurkannya saja.." Kepulan asap membumbung dari panci yang masih dipanasi api dari kompor. Aromanya sangat menggiurkan dan membangkitkan selera makan Kyungsoo. Kebetulan sekali Kyungsoo belum makan sejak siang tadi, dan kini perutnya bersuara gaduh seolah meminta sup samgyetang itu segera memenuhinya.
Tuan Do mendengar dengan jelas suara gaduh yang ditimbulkan perut anaknya dan ia segera mematikan kompor untuk kemudian menyajikan sup tersebut di atas meja makan. Setelah itu, ia melepaskan celemeknya dan melangkah meninggalkan dapur.
"Kau mau kemana?" Kyungsoo berusaha mencegah ayahnya yang mencoba menghindari pembicaraan lagi. Ayahnya masih terlihat tak peduli namun perselisihan mereka harus segera diselesaikan karena Kyungsoo tau tak mungkin mereka saling berdiam diri terus menerus sedangkan mereka hidup bersama dalam satu rumah.
"Kau makan duluan saja, aku harus mengecek laporan para volunteer hari ini" tak sedetikpun sorot mata Tuan Do menatap Kyungsoo seolah wajah Kyungsoo adalah sejenis virus yang dapat menyebabkan kebutaan pada kedua matanya. Sikap dinginnya itu membuat hati Kyungsoo terasa perih dan sesak dengan cepat membelenggu dadanya. Ia ingin berbaikan dengan ayahnya, sungguh. Namun sorot mata ayahnya itu membuat nyali Kyungsoo ciut dengan cepat dan ia hanya bisa terdiam dengan menunduk kemudian memainkan kedua jari telunjuknya.
Langkah kaki Tuan Do terhenti ketika tubuh Kyungsoo menahannya dengan memeluk pria itu dari belakang. Ia terdiam, menunggu Kyungsoo memulai kalimatnya.
"Maafkan aku Ayah. Sungguh, aku tak bermaksud menyakitimu. Aku menyesal telah membuatmu terluka. Aku tak ingin kau mengabaikanku dan membuangku karena kehilangan kendali lagi. Cukup hanya Ibu yang pergi, aku tak ingin kehilangan orangtuaku untuk yang kedua kalinya.." Kyungsoo meraung dengan airmata yang mengalir deras di wajahnya. Ia menyingkirkan segala ego yang selama ini ia pertahankan dan menutup matanya hanya untuk sekedar mengucapkan maaf pada pria yang kini tengah ia peluk dengan erat.
"Kau pikir aku akan membuangmu?" pertanyaan Tuan Do tersebut langsung dibalas Kyungsoo dengan mengangguk.
"Anak bodoh! Aku hanya berkata jika kita akan pindah rumah, mana mungkin aku membuangmu? Ibumu akan mengutukku dari alam sana jika aku melakukannya" setelah hanya mendengar raungan Kyungsoo yang kini telah menjadi isakan kecil, Tuan Do membalikkan tubuhnya kemudian memeluk anaknya tak kalah erat. Pria itu mencium lembut puncak kepala Kyungsoo dengan mata memerah menahan linangan cairan bening yang telah memenuhi pelupuk matanya. Ini pertama kalinya ia dan Kyungsoo merasakan moment sensitif dengan saling mencurahkan perasaan masing masing.
"Saat kau terlahir kedunia, aku dan Ibumu selalu menganggap kau adalah malaikat yang dititipkan Tuhan pada kami. Wajahmu sangat menggemaskan, dan ketika kami melihat mata besar yang kau miliki, kami sadar jika kau benar benar seperti perwujudan malaikat yang sempurna. Bahkan Ibumu selalu berkata 'Apa Tuhan tak akan menyesal menurunkan malaikat terbaiknya dari surga untuk menjadi anak kita?' dan aku selalu mengangguk menyetujuinya"
Kyungsoo semakin terisak dan ia membenamkan lebih dalam wajahnya pada tubuh sang ayah.
"Kemudian kami menyadari kekuatan yang kau miliki, tapi ibumu tetap beranggapan itu adalah keistimewaan yang diberikan Tuhan pada malaikat terbaiknya dan ia menguatkan keyakinanku yang mulai goyah mengenaimu"
"Maaf soal Ibu, semua salahku... Aku tak pantas mendapat pengampunan Tuhan"
Senyuman tipis terbentuk di sudut bibir Tuan Do saat ia mendengar isakan anak semata wayangnya "Tidak, itu adalah pilihannya, dan bukan salahmu sama sekali. Saat itu ia memilih untuk menyelamatkanmu dibanding menyelamatkan hidupnya sendiri. Meskipun sulit awalnya untuk menerima kenyataan, tapi aku sadar jika ia lebih mencintaimu melebihi apapun, aku harus menghargai keputusannya"
"Tapi seandainya aku tak berbuat bodoh saat itu, pasti Ibu masih bersama kita saat ini"
"Kau memang bodoh dan aku membencimu karenanya. Tapi, sebanyak apapun aku membencimu tetap tak akan mengembalikannya bersama kita. Justru aku tak ingin ia membenciku karena kebencianku padamu. Itu terlalu mengerikan"
"Jadi kau memaafkanku Ayah?" Kyungsoo memberanikan diri menatap wajah ayahnya. Wajah pemuda itu sudah berantakan dengan sempurna. Warna kemerahan memenuhi wajah Kyungoo dan matanya membengkak karena ia belum berhenti menangis.
"Tak mungkin aku tak memaafkanmu Nak. Kau terlalu berharga" Kelegaan yang luar biasa Kyungsoo rasakan saat mendengar kalimat penuh kasih sayang yang dilontarkan ayahnya. Kyungsoo tak tau dengan pasti, namun ia merasa jika ini adalah hal yang terindah sepanjang hidupnya karena akhirnya ia yakin jika pria itu tak membencinya. Ayahnya menyayanginya.
. . .
Minggu, tepat pukul 9 pagi, Kyungsoo telah bersiap menunggu Jongin dan Sehun menjemputnya untuk pergi menemui keluarga Yoona di Seoul. Setelan kemeja bermotif kotak dengan warna biru menjadi pilihannya dalam berpenampilan hari ini, tak lupa Kyungsoo membawa sweater warna gading kesayangannya agar terlindung dari hawa dingin. Ponsel Kyungsoo berdering –kali ini ia tak memakai efek getar karena Kyungsoo tak ingin melewatkan panggilan penting kembali- dan nama Sehun terpampang di layar ponsel.
"Halo.."
"Kyung, cepat keluar rumah. Aku, Chanyeol dan Jongin sudah di depan terasmu."
"Baiklah, tunggu aku!"
Kyungsoo memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang yang ia bawa. Dengan langkah setengah berlari, Kyungsoo menuruni tangga rumah kemudian ia mengetuk pintu kamar ayahnya yang terletak di lantai satu.
"Ayah..." Kyungsoo tak perlu memanggil ayahnya untuk kedua kali karena pintu kamar langsung terbuka dan ayahnya keluar dengan mata setengah terpejam.
"Ada apa?" Tuan Do mengucek matanya untuk mengusir rasa kantuk. Ia memicingkan mata saat melihat penampilan Kyungsoo yang sudah rapi sedangkan seingatnya ini adalah hari libur. Lagipula matahari belum sepenuhnya menampakkan diri.
"Kau mau pergi?" tanya Tuan Do dan pria itu sedikit menguap. Kyungsoo mengangguk menjawab pertanyaan ayahnya.
"Hari ini, aku, Sehun dan Chanyeol berniat pergi ke Seoul untuk melayat teman kami yang meninggal. Aku akan pulang sebelum makan malam"
"Temanmu ada yang meninggal? Seoul? Kau tak salah? Sejak kapan kau memiliki teman yang tinggal di Seoul" Kyungsoo menelan ludahnya dengan berat karena ia lupa menceritakan part tentang Yoona kepada ayahnya. Tapi Kyungsoo sedang tak ingin merusak suasana, saat ini hubungan ia dan ayahnya sedang dalam masa pemulihan. Akan lebih baik jika ia menceritakan soal Yoona saat hubungan mereka sudah sepenuhnya membaik.
"I-itu, setelah temanku meninggal, keluarganya meninggalkan rumah lama mereka dan pindah rumah di Seoul. Mereka membawa abu kremasi temanku dan aku tak punya pilihan lain selain ke Seoul untuk melayatnya" Kyungsoo berusaha dengan keras menahan kedua telunjuknya agar tak bergerak memutar karena jika ia melakukannya, ayahnya akan dengan mudah menebak kebohongannya. Butuh beberapa saat untuk Tuan Do mencerna kalimat Kyungsoo namun tak lama ia mengangguk, memberi izin pada Kyungsoo pergi bersama Sehun dan Chanyeol. Setidaknya Kyungsoo tak pergi sendirian, ia tak perlu khawatir seseorang menculiknya kembali.
"Pergilah, dan ingat kau harus pulang sebelum makan malam" senyuman lebar mengembang di bibir Kyungsoo dan ia memberikan sebuah pelukan pada ayahnya sebelum keluar rumah.
"Aku mengerti, terima kasih Ayah"
. . .
Sepanjang perjalanan menuju Seoul, Chanyeol hanya tertidur dengan pulas di bangku belakang ditemani Sehun yang mendengarkan music melalui headsetnya. Kyungsoo duduk di bangku sebelah pengemudi menemani Jongin mengobrol, agar pemuda berkulit tan itu tak merasa bosan atau terabaikan.
"Hoo, jadi keluarga anak kecil yang tertabrak itu yang ingin kau temui?" suara Jongin terdengar datar saat ingatannya kembali di moment ketika ia pertama kali mengetahui kekuatan Kyungsoo. Ia terlihat lebih fokus dengan jalanan yang telah memasuki kota Seoul. Kini mereka tinggal mencari apartemen keluarga Im yang telah Chanyeol beritahu sebelumnya.
"Benar sekali, aku ingin meminta maaf pada Yoona karena telah mengabaikannya saat ia memintaku menemaninya membeli es krim"
"Yoona? Maksudmu keluarganya mungkin?" tanya Jongin dan ia melirik sekilas ke arah Kyungsoo untuk memastikan ekspresi pemuda bertubuh mungil itu.
"Tidak, aku ingin meminta maaf langsung pada Yoona. Karena itu, aku mengajak Sehun untuk ikut" pemandangan di luar mobil menarik perhatian Kyungsoo untuk mengalihkan pandangannya. Beberapa mobil mencoba menyalip mobil Jongin namun pemuda itu tak memberikan sedikitpun kesempatan untuk mereka menyalip. Jongin sama ahlinya seperti Luhan dalam mengemudi.
Mendengar perkataan Kyungsoo, Jongin hanya mengangguk kecil. Ia sangat mengerti apa yang Kyungsoo lakukan karena Jongin juga memanfaatkan kelebihan Sehun untuk bisa berkomunikasi dengan kedua orangtuanya.
"Oh, jadi kau meminta Sehun untuk berkomunikasi dengan gadis itu?"
"Aku hanya berharap Yoona belum pergi terlalu jauh, karena Sehun bilang jika arwah tak selalu menampakkan diri"
"Ya, si bodoh itu juga mengatakan hal yang sama kepadaku"
Kyungsoo berbalik menghadap ke arah Jongin saat pembicaraan mereka terasa semakin menarik.
"Apa kau benar benar bertemu dengan kedua orangtuamu Jong?"
"Entahlah, aku juga tak yakin karena hanya Sehun yang dapat melihatnya. Tapi, aku merasa sangat percaya pada bocah itu karena dia dapat menyebutkan ciri ciri orangtuaku dengan tepat dan rasanya menyenangkan mendengar pesan yang disampaikan ayah dan ibuku melalui Sehun"
"Apa yang mereka katakan.."
"Itu rahasia Bocah Pendek, kau sudah seperti reporter gosip saja, ahahahaha" Kyungsoo mencibir saat Jongin justru menertawakannya ketika ia sangat penasaran dengan apa yang kedua arwah orangtua Jongin katakan padanya. Memang Kyungsoo seperti wartawan gossip tapi tetap saja tawa Jongin itu menyebalkan.
"Kau masih mengingat ciri ciri orangtuamu? Bukankah orangtuamu meninggal saat kau berusia 3 tahun? Seharusnya kau masih anak ingusan saat itu" Kyungsoo kembali bertanya dengan wajah polosnya.
"Daya ingatku cukup istimewa meski saat itu usiaku baru menginjak 3 tahun! Hey, apa si pendek Baekhyun yang menceritakan rahasiaku? Kau tau Kyung? Rahasia masa laluku adalah top secret, jika kau menceritakannya di waktu dan tempat yang tak tepat, aku bisa mati saat itu juga" Kelopak mata Kyungsoo melebar dan ia mengigit bibir bawahnya pelan.
"Maaf Jongin ah, aku tak bermaksud membuatmu mati dengan cepat..."
"Hahahaha, kau serius sekali sih? Aku hanya bercanda, tapi jika kau benar benar menceritakannya pada orang lain, aku benar benar akan mati. Kurasa si pucat dan tiang listrik di belakang kita tak termasuk hitungan. Aku masih bisa mempercayai mereka"
Mobil yang Jongin kemudikan tiba di perempatan lampu merah. Mereka berada di barisan paling depan menunggu antrian lampu berubah warna menjadi hijau. Mobil mobil lain tak lama muncul dan membentuk barisan di belakang mobil Jongin.
"Baekhyun bercerita padaku mengenai kelompok preman yang memburu agen FBI termasuk ayahmu saat itu. Apa menurutmu mereka masih ada? Maksudku, kejadian itu terjadi 15 tahun yang lalu, apa mungkin FBI tak membereskannya?"
"Beberapa tahun setelah kejadian itu, satu persatu anggota kelompok preman tertangkap dan FBI menyatakan jika kelompok tersebut sudah sepenuhnya menghilang. Tapi aku sangat tak yakin karena dari data yang mereka ungkap tak satupun terdapat foto wanita itu.." Jongin menggeram kecil dan genggaman tangannya pada setir kemudi mengencang.
"Wanita itu?"
"Ya, wanita dengan lipstik berwarna merah juga rambut blonde. Aku tak mungkin melupakan wajah iblis yang menyerupai malaikat itu! Dia yang membunuh ibuku, namun sampai sekarang keberadaannya masih misterius. Ketua Kim sudah berusaha mencarinya, tapi dia seperti hilang ditelan bumi dan kasus pun dinyatakan kadaluarsa"
Lampu lalu lintas kembali berwarna hijau, dan Jongin menjalankan mobilnya kembali.
"Apa mungkin dia sudah mati? Saat seluruh temannya telah tertangkap FBI, tak mungkin masih ada kesempatan untuknya hidup dengan tenang bukan?"
"Entahlah, akupun tak mengerti.." Jongin menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang karena mereka masih berada di jalanan yang padat oleh mobil juga pejalan kaki yang menyebrang. Saat Jongin masih terfokus mengemudi, pikirannya terpecahkan oleh teriakan tiba tiba Kyungsoo.
"JONGIN, AWAS!" Kyungsoo berteriak histeris hingga membuat Chanyeol terbangun dan Sehun melepaskan headsetnya untuk melihat apa yang membuat Kyungsoo berteriak dengan sangat kencang. Sebuah truk dan beberapa mobil datang dari arah berlawanan menuju mobil Jongin saat lampu lalu lintas seharusnya masih merah untuk mereka. Jongin menyadari kedatangan truk dan mobil mobil itu beberapa detik sebelum terjadi hantaman dan ia membanting setir ke arah kiri. Ketika ia membanting setir, beberapa mobil kembali datang dan kali ini menabrak bemper belakang mobil. Hantaman yang mereka rasakan cukup keras kemudian tak lama suara gaduh terdengar karena puluhan mobil yang saling bertabrakan disekitar mereka.
Beberapa saat setelah tak terdengar lagi suara hantaman dan dentuman hanya menyisakan suara klakson yang saling bersahutan dan suara panik dari orang orang yang mencoba menyelamatkan diri. Jongin berusaha mengumpulkan kesadarannya dan ia melirik satu persatu wajah penumpang dalam mobilnya untuk memastikan keadaan mereka. Kyungsoo, Sehun dan Chanyeol terlihat seperti terkena serangan jantung setelah mereka hampir saja mati.
"Kalian baik baik saja?" ucap jongin dengan khawatir.
Kyungsoo mengangguk dengan wajah ketakutan. Jongin melirik pada penumpang di bangku belakang dan ia melihat Sehun tengah menarik nafas panjang sambil menyandarkan kepalanya pada bantalan bangku mobil, sedangkan Chanyeol terbatuk karena kepulan asap mesin yang masuk ke dalam mobil.
Jongin bergegas keluar dari mobil untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Pemuda berkulit tan itu menaiki kap mobilnya sendiri agar ia bisa melihat keadaan sekitar dengan lebih jelas. Jongin tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat melihat puluhan mobil yang baru saja saling hantam dan truk yang hampir menabraknya tergeletak di pinggir trotoar dengan posisi terguling. Beberapa pejalan kaki berusaha mengeluarkan pengemudi truk yang tak sadarkan diri karena tubuhnya terjepit body truk yang ringsek. Suara klakson masih terdengar saling bersahutan dengan suara alarm mobil juga teriakan orang orang yang meminta tolong. Telinga Jongin seperti berdengung saat mendengar suara yang mengerikan itu. Setelah kesadarannya kembali sepenuhnya, Jongin meraih ponsel pada saku mantelnya dan menghubungi seseorang melalui ponsel tersebut.
"Halo" terdengar suara menyapa di seberang sambungan.
"Hyung, kau dimana?"
"Aku sedang bersama Baekhyun dan Luhan di markas. Justru aku ingin bertanya kau sedang dimana?"
"Aku sedang menemani Kyungsoo menuju Seoul"
"Seoul?" terdengar suara Kris yang memastikan.
"Ya, aku akan cerita soal itu nanti. Ada hal yang lebih penting yang harus kukatakan! Beritahu Luhan untuk mengakses situs departement pemerintah yang mengatur lalu lintas.. Sesuatu yang buruk baru saja terjadi"
Jongin mengambil jeda untuk menarik nafas sebelum melanjutkan kembali kalimatnya.
"Lampu lalu lintas di kota ini menjadi hijau secara bersamaan dan menimbulkan kecelakaan besar.."
TBC
Holaaa, im baaaaaaaaaaaack *tebar konfeti ^^ maaf karena update nya lama. kemarin kepikiran untuk buat sekuel Black Heart dulu sebelum moodnya ilang jadi Skull dilupakan sejenak, kkk. Terima kasih untuk silent reader yang sudah mulai open up, keep review ya karena mood update itu naik turun tergantung review dari reader. bukannya saya gila review, tapi kalo ada yang menghargai tulisan saya meski tulisan saya gak terlalu bagus rasanya itu menyenangkan hehe ^^
Last, Mind to review yeorobun? kamsahamnida *throwing heart
