KP : Akhirnya update juga chap 10. Sebenernya agak bingung mo nyebut ini chape 9 or 10. Coz, chap 7nya dipake buat chap khusus sih … yaaa sutralah … .
Chapter 9 : Jinchuuriki?
"Eee? Ke bengkel?!" Sakura ngegeleng-geleng gak rela. "Jangan, Sasuke-kun~. Kalo ada apa-apa ama Naru, gimanaaaaa? Gimannnnaa? GIMANNAAAA???" cegahnya, lebay. Sasuke berdecak, sebel. "Minggir. Gue musti ngambil Ferrari di bengkel mobil sekarang. Lagian, bentar lagi bodyguard yang gue sewa bakal dateng.". Oiya, di Konoha ini siapa pun boleh bawa alat transportasi apa aja asal lulus tes mengemudi. Sama sekali nggak ada syarat usia. Mangkanya remaja 15 tahun macem Sasuke wajar-wajar aja kalo udah bawa mobil di jalan.
Sasuke lalu menghampiri Naruto yang masih keliatan ngobrol ama Kisaliten. "Stupidobego." panggilnya, yang langsung dapet jawaban death glare dari si blonde. "Gue musti pergi sekarang. Karna kebegoan loe yang gak bisa ilang itu ngancem rencana minggu depan, gue udah nyewa bodyguard buat loe sebagai pengganti gue."
"Tapi nggak ada satu pun orang yang bisa ngegantiin elo, my seme ~. Highs ~. Don't go, please … " Ucap Seseorang di belakang Naruto. "Sakura-chan ~ … " Cowok pirang tsb noleh ke tuh cewek yang lagi sembunyi di belakangnya. "Naru. Mustinya elu ngomong apa yang gue bilang tadi ke Sasuke-kun. Dia pasti gak bakalan pergi deh." Bisik Sakura, keras.
Kisaliten pada sweatdrop.
"Tapi, gue straight. N gue sama sekali nggak suka ama si kaiju brengsek itu, Sakura-chan … " Sebenernya Naruto dongkol tiap kali liat Sakura mo ngenyomblangin dia ama Sasuke, tapi dianya sendiri nggak bisa marah. Dia kan ada lope ama Sakura?. Apalagi Naruto tuh bukan tipe orang yang bisa marah ke cewek yang dia suka.
"Aaah, Naru. Yang nggak ngerti itu elo. Liat aja ntar. Gue pasti bakal nyadarin elo kalo elo tuh sebenernya cinta ama Sasuke-kun. N Sasuke-kun … " Sakura lalu nunjuk ke Sasuke yang masih berdiri di depan Naruto. "Gue juga bakal nyadarin elo kalo elo tuh sebenernya cinta mati ama Naru." Katanya, dengan gaya ngancem.
Sasuke mendengus. "Itu nggak mungkin. Gue udah punya seseorang yang gue suka lebih dari siapa pun." Katanya, berbalik. Mo pergi.
…… sunyi ……
"EEEEEEHHH???!!!"
Semua pada kaget. Naruto yang sejak kemaren udah ngeduga hal itu juga ikutan kaget. "Apaaa? Siapaaaa?!" buru Sakura, ngalangin jalannya. Nggak rela! Nggak rela! Gue nggak rela Sasuke-kun naksir orang lain selain Naruto! Pokoknya gue nggak relaaaaa!!!.
"Wah, berita baru, tuh." (Tenten)
"Sekian lama ini daku sama sekali tak pernah melihat dikau menunjukkan tanda-tanda dari seseorang yang sedang jatuh cinta, Uchiha-kun." (Lee)
"Siapa orang sial-eh, 'beruntung' yang elo taksir itu, man?" (Kiba)
"Guk!" (Akamaru)
"Padahal selama ini gue nyangka elo yang benci cewek itu nggak bakalan bisa suka ama mereka." (Sai)
"Huh. Siapa bilang kalo yang gue suka itu cewek?" sahut Sasuke, ketus.
……….. sunyi lagi ………..
"EEEEEEEHHHH???!!!"
Kali ini suara Naruto yang paling keras. "Ja-ja-ja-jadi, yang elo suka itu co-co-co-cowok?" tanyanya, gak percaya.
"Emang kenapa?" tanya Sasuke, ikutan kaget dengan reaksi mereka.
"Jadi … elo gay?" tanya Tenten, bikin cowok itu langsung terdiam seketika.
" ………………………………………………… hah?" Sasuke berkedip sejenak. Emangnya kalo gue suka ama Minato-san bisa dibilang gay?. Dia membatin, dahinya mengernyit. Terbayang wajah ramah nun tampan dari seorang Namikaze Minato di benaknya. Minato yang tersenyum. Minato yang tertawa. Minato yang serius. Minato yang keren te-o-pe be-ge-te itu. Dia langsung blushing satu detik, sebelum akhirnya buru-buru menggeleng, keras.
"Bo-bodoh! Kalo cuma sekedar suka wajar-wajar aja, kan?! Jangan samain dengan cinta, dong! Seenaknya nuduh!"
"Hiiii! Iya, maaf!!"
Tapi, Sakura sang Fujoshi, satu-satunya manusia di sana yang tadi sempet ngeliat Sasuke blushing walau cuman sedetik, nggak menganggap kalo hal itu cuman rasa suka biasa. Dahinya berkerut.
"SELINGKUH!" Tuding Sakura. "Naru, Sasuke-kun selingkuh! Ayo jambak dia!" tereaknya, nggak rela. Orang-orang di sekitar mereka jadi pada bisik-bisik. Maklumlah … mreka kan masih di jalan alias di tempat umum, gitu loh.
"Apanya yang selingkuh?! Emang kapan gue ama dia jadian?! Dasar bodoh!" Bentak Sasuke, marah. Ngeliat Sakura yang dibentak gitu, Naruto jadi nggak bisa diam. "Tunggu dulu. Elo kan nggak perlu ngebentak segala ke Sakura-chan? Jangan gitu dong ama cewek!"
"Suka-suka gue! Yang penting elo sekarang jaga diri aja sampe minggu depan. Nggak usah ngurusin yang lain!"
"Minta maaf dulu ke Sakura-chan! Kalo nggak, gue nggak bakal mau dateng minggu depan!"
Mendengar itu, Sasuke jadi tambah marah.
"Heh! Denger, ya? Elo tuh udah janji, tau! N elo sendiri pernah bilang kalo hero itu selalu nepatin janji, kan?!"
"Ngebela kaum lemah juga salah satu tugas seorang hero, tau!"
"Lemah? Apanya yang lemah dari Fujoshi itu? Lagian, biar gue bentak gitu juga dia gak bakalan mati!"
Sakura jadi nyengir dua detik di belakang Naruto. Wah, situasi ini bisa gue manfaatin. Otaknya langsung dapet ide. Gak lama kemudian, Sakura ngeletakkin kedua tangannya ke kelopak mata yang ditutup. "Hiks, jaahaaaaat~ …. " air mata buaya mulai mengalir dari kedua mata emeraldnya. "Sa-Sakura-chan?" si cowok pirang itu berbalik padanya. "Naaruuu, Sasuke-kun jahaaat .... . Ayo, marahin diaaa … ".
Kisaliten pada sewatdrop lagi.
"Kaiju brengsek, tega banget si loe?" Naruto marah. Sasuke cuman muterin bola matanya, nggak peduli.
"Hiks ~. Po-pokoknya, Sasuke-kun musti bikin gue berenti nangis … . Kalo enggak, gue nggak bakal bisa berenti, nih Naru ~. Huks! Huweee~" Sakura nangis makin keras. Orang-orang yang lewat makin berbisik-bisik. Sasuke langsung melototin mereka dengan mata liat-apa-loe-mo-mati-ya khasnya. Bikin mereka langsung jalan cepat pergi dari sana.
"Huh. Bodo amat." Uchiha tadi kembali berbalik, mo pergi. Tapi Naruto nahan belakang bajunya. "Gue sumpah nggak bakal dateng minggu depan kalo elo nggak bikin Sakura-chan berenti nangis sekarang juga." Ucap cowok bermata biru itu, penuh tekanan, serius. Sasuke udah mo ngomong sesuatu ke dia, tapi suara tangis Sakura yang makin kencang menginterupsi.
"Haaaakh!" Sasuke ngegaruk kepalanya sekali, gusar. "Oke. Tapi, inget. Kalo gue berhasil bikin dia berenti nangis, elo nggak boleh nggak bisa nepatin janji minggu depan ama gue untuk alasan apa pun. Ingat?" tudingnya, di depan hidung Naruto. "I-iya, deh." Diancem dengan bola mata hitam itu bikin Naruto jadi ngeri juga. "Janji?" todong Sasuke lagi. "Iya-iya! Gue janji! Cepetan sana bikin Sakura-chan berenti nangis." Naruto lalu ngedorong cowok itu, menjauh. Lalu meluncur ke belakangnya n ngedorong dia lagi, supaya dateng ke Sakura yang masih ber-huwe-huwe ria.
Sasuke ngehela nafas "Gue kasih lu duit sejuta asal diem." Tawarnya, datar. "Nggak mau, nggak mau! Huweee!!" Sakura makin nangis aja. Kisaliten pada ngiler. Gile … lumayan tuh, sejuta. Sasuke jadi geram. Dia lalu nawarin berbagai macam hal lain yang berhubungan dengan uang n barang, tapi tetep aja ditolak ama Sakura. Tuh cewek tetep gak berenti nangis.
Naruto menatap Sakura, kasian. Lalu melotot marah ke Sasuke. Sasuke ngelirik ke si pirang yang berdiri di belakangnya itu sebentar. Lalu ngehela nafas lagi. Dia kembali menatap Sakura.
Dasar … cewek licik.
Sasuke kemudian melotot ke Kisaliten di deket Sakura. "Sana menjauh." Perintahnya, bikin mereka semua pada mundur lima langkah dalam tiga detik. Sedangkan Naruto masih ada di belakangnya. Sasuke berdecak kesel, satu kali. Sebelum akhirnya maju n membisikkan sesuatu di telinga kiri cewek berambut pink tsb.
" ……………… " Sakura terdiam.
" ……………… " Muka Sakura memerah.
" ………………" Mulut Sakura menyunggingkan senyuman.
" ……………… " Senyuman Sakura barubah jadi cengiran.
"Uhhhuyyyy!!!!" tereaknya, melonjak kegirangan. Naruto n Kisaliten sampe terkaget-kaget dengan kehebohannya. "Naru! Gue tiba-tiba punya sesuatu yang musti gue rencanain dari sekarang, nih! Deeeeh!" serunya, melambai dengan ceria. Trus lari sambil sesekali melompat-lompat kesenangan menuju rumahnya.
Naruto n Kisaliten berkedip, heran.
"Wuaw. Hebat banget reaksinya." Sai yang pertama kalinya ngomong setelah beberapa saat mereka semua mematung. Mereka semua serentak beralih ke Sasuke. "Emang barusan elo ngomong apaan ke Sakura-chan?" tanya Naruto, penasaran. Tadi doi emang ada di belakang Sasuke, tapi dia nggak denger apa yang dibisikkin tuh cowok ke Sakura. Sasuke ngebetulin tas bahunya sebelum ngejawab. "Gue cuman bilang soal rencana kita minggu depan." jawabnya, cuek. Nggak peduli ama Naruto yang keliatan mo meledak.
"Uwapwaaaa???!!!"
Si blonde itu bergegas meluncur ke arahnya n mencengkram kaos hitam Sasuke di bagian dada pake kedua tangan. "Kenapa? Kenapa elo bilang ke Sakura-chan?"
"Karna itu satu-satunya yang bisa gue lakuin buat bikin dia berenti nangis."
"Tapi-tapi, elo kan tau kalo di dunia ini yang paling gue enggak mau ketahuan soal rencana itu adalah sama Sakura-chan?!"
"Tau koq. So what?"
Naruto terperangah. Dia menggeleng, pelan. "Elo bener-bener nggak ngerti perasaan gue, ya? Elo … elo … elo bener-bener tega!".
"Heh." Sasuke balik mencengkram kedua pergelangan tangan itu. "Gue bukannya nggak ngerti, tapi nggak peduli. Inget, loe udah janji ama gue. Elo nggak bisa ngebatalin rencana itu untuk alasan apa pun lagi."
Naruto tertunduk, suaranya mengecil. "Ta-tapi, gue malu … . Gue nggak mau sampe diliat Sakura-chan dengan penampilan cewek … . Harga diri gue sebagai cowok bisa-"
"Emangnya gue pikirin? Lagian, gue heran cowok tampang banci macam elo bisa juga punya harga diri seorang cowok." potong Sasuke, masih megang kedua tangannya. Muka Naruto terangkat, marah. Maksud hati mau melotot, yang ada malah air matanya keluar.
"A-apa?" Sasuke jadi kaget ngeliatnya. Selama ini, biar diapain juga, bahkan dipukulin pun cowok pirang satu ini nggak pernah sampe nangis. Dia enggak pernah nunjukkin ekspresi ini sebelumnya di depannya. Naruto emang cuman bakal nangis di depan Kyuubi n Gaara, or pas lagi sendirian.
Naruto yang tersadar kalo air matanya mengalir, langsung tertunduk panik. Doi lalu ngelepasin kedua tangannya yang tadi masih dipegang Sasuke, kasar. Lalu cepat-cepat ngehapus air matanya. Duh! Koq gue bisa-bisanya nangis di depan dia kayaq gini, sih? Gue bakal makin diledekin, deh! Malu-maluin!. Dia jadi marah-marah sendiri dalem hati.
Kisaliten yang cemas masih belum beranjak dari lokasinya. Mereka masih takut ama Sasuke.
Naruto udah mau mundur, kembali ke temen-temennya. Tapi, sebelum doi berbalik, Sasuke menahan kedua bahunya. Bola mata biru Naruto membesar sekilas. "Mau apa lagi loe?! Masih belum puas jug-!"
"Maaf."
Ucapan Sasuke barusan bener-bener bikin matanya belo sekarang. "He?"
"Maaf. Jangan nangis lagi … " ucap Sasuke, kecil. Wajahnya tertunduk. Tapi kedua tangannya masih megangin Naruto supaya tetep di tempat. Ngeliat cowok pirang tadi nangis, tiba-tiba dia yang biasanya cuekkan jadi ngerasa bersalah. Rasanya beda banget pas dia ngeliat Sakura yang nangis tadi.
Naruto sendiri mematung, herman.
Sasuke lalu mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk, ngadep dia. "Gue … perlu banget kehadiran loe minggu depan, Naruto. Please banget. Ada yang pengen gue lindungin di sana." Muka Sasuke keliatan memohon. Nafas si pirang itu tertahan ngeliatnya. 'Naruto'? Dia manggil gue 'Naruto'? Nggak pake julukan pedas or ledekan kayaq biasa?!. Dia lalu berkedip dua kali. Wah, si brengsek ini bener-bener cinta ama cewek-erh … 'cowok' yang bakal dilindunginnya di pesta minggu depan itu, ya? Sampe-sampe dia yang punya harga diri tinggi ini bilang 'please' segala. Naruto lalu tersenyum, lembut. Gue jadi pengen ngebantu dia. Naruto emang orang yang baik hati. Ama orang yang paling disebelinnya di dunia pun dia tetep mau nolongin.
"Iya, Sasuke. Gue pasti bakal dateng minggu depan. Tenang aja, gue janji."
'DEG!'
Tiba-tiba jantung Sasuke serasa berdetak keras, satu kali. Apa? Kenapa … rasanya senyuman ini pernah gue liat sebelumnya?. Kali ini giliran Sasuke yang dibuat berkedip dua kali. Selain itu … barusan dia manggil gue 'Sasuke'? Bukan 'kaiju' or 'brengsek'?. Walau nggak bakalan pernah mengakuinya, dia jauh lebih suka kalo Naruto manggil dia pake nama kecilnya itu.
Naruto lalu ngelepasin kedua tangan Sasuke yang udah mulai rileks di kedua bahunya. Dia lalu berbalik n meluncur kembali kumpul ama temen-temennya di sana. Mo ngelanjutin perjalanan mereka ke kafe Sunday. Ninggalin sang Uchiha yang masih terdiam, bingung dengan perasaannya barusan.
KucingPerak
Deidara mengangguk-angguk seiring dengan irama musik yang didengernya dari earphone, sambil nyusunin letak bunga-bunga di tokonya. Sedangkan adeknya, Ino, sekarang lagi ngitung duit di meja kasir. Bunga-bunga di toko mereka berkualitas bagus n cantik-cantik sih. Jadi bisa dibilang Yamanaka-Florist ini cukup sukses!
'Kling'
Suara bel seiring dengan pintu yang dibuka berbunyi.
Ino langsung menyambutnya, senyum. "Selamat da-" kalimatnya terputus gitu tau siapa yang dateng. "Sasori-san?" Cewek itu langsung deg-degan. Ya, gitu deh. Soalnya dia kan naksir ama sohib kakaknya itu?. Ino langsung ninggalin meja kasir. "Se-selamat datang, Sasori-san!" sambutnya, gugup.
Sasori keliatan ngos-ngosan, keringetan. Kayaqnya dia habis lari. Ino jadi cemas. "Sasori-san?" tanyanya, penasaran. "Maaf, hahh … hahh … Ino-chan … hahh … bisa … tolong panggilin … "
"Saso?"
Baru aja Sasori mo minta cewek itu manggilin Deidara, tapi orangnya udah keburu menghampiri. "Dei … " Sekilas wajah pucatnya keliatan lega ngeliat tuh orang. Deidara buru-buru mendekati mereka, mukanya serius. "Kenapa loe bisa ngos-ngosan gini, sih? Elo habis lari, ya?!" marahnya. "Terpaksa … " Sasori tertunduk. Masih ngos-ngosan. Ino menatap mereka berdua gantian, bingung. Jarang-jarang kakaknya yang terkesan nyantai terus itu keliatan marah.
Deidara mendesah n ngeletakkin lengan kanan Sasori ke bahunya. Trus tangan kirinya sendiri melingkar di pinggang cowok itu, memapahnya. "Ke kamar gue dulu, deh."
"Eh, anu … " cerewetnya Ino pasti langsung sirna kalo ada Sasori. Padahal kalo dia yang biasanya pasti bakal bawel, deh. "No, tolong bawain air n kue ke kamar gue. Buat Saso, nih." Katanya, ngelirik adeknya sambil senyum. Dia tau sih, kalo tuh cewek naksir ama sohibnya. Ino langsung mengangguk cepet n buru-buru ke dapur. Sementara Deidara memapah Sasori naik tangga, menuju kamarnya di ruko lantai dua.
… di kamar Deidara ….
Deidara ngeletakin Sasori ke tempat tidur. Trus ngelepasin sepatu cowok berambut merah itu. Sasori kliatan makin ngos-ngosan aja. Tangannya tampak mencengkram dada n lehernya sendiri. Ekspresinya sesak.
Deidara miris ngeliat dia. Earphonenya dilepas. "Elo bawa inhaler, kan?" tanyanya, cepat n berlutut di samping tempat tidur. Sasori manggut satu kali. "Ada … di … saku kanan … jaket gue … " jawabnya, serak. Deidara buru-buru nyari benda yang dimaksud di jaket coklatnya Sasori. "Ada."
(KP: Inhaler tuh semacam benda mirip pipa kecil berbentuk L, yang biasanya dipake n dihirup lewat mulut oleh penderita asma kalo lagi kumat).
Deidara ngebuka tutupnya n ngebawa benda itu ke mulutnya Sasori. Doi neken bagian atasnya hingga ngeluarin semacam udara baru yang masuk ke mulut sobatnya itu. Beberapa detik kemudian, Sasoripun kembali bernafas dengan lega.
"Thanks, Dei … "
"Don't mind." Deidara jadi ikutan ngehela nafas lega, deh. Doi terduduk di lantai, samping tempat tidurnya sendiri, setelah dari tadi berlutut. Akasuna Sasori emang punya asma dari dulu. Karna itu jugalah tuh cowok berbadan lemah n jarang ikut olahraga. Dia nggak boleh terlalu capek or berada di tempat yang banyak debunya alias yang bisa ngeganggu saluran pernafasan. Sasori jarang kumat kayaq gini. Sampe-sampe kebanyakan orang di sekitarnya (di kampus) nggak tau kalo dia punya asma. Ino pun nggak tau. Yang tau di sini paling cuman Deidara n Itachi doang. Juga nenek Chiyo, nenek pengasuh yang ngurus Sasori dari dulu. Sasori kini tinggal hanya berdua dengan nenek itu di sebuah apartemen yang gak terlalu jauh dari ruko Deidara.
"Lalu … kenapa loe lari? Loe kan tau itu bahaya buat asma loe?" tanya Deidara lagi, masih membelakanginya.
Sasori diem sejenak.
"Jinchuuriki … datang … " ucapnya, kecil. Seolah nggak mau didengar yang lain. Mata biru cowok blonde di situ keliatan terbelalak. "What?" ulangnya, nggak kalah lirih. "Yeah … " Sasori bangkit untuk duduk. Deidara yang ngerasain gerakan itu dari punggungnya yang nyandar sisi tempat tidur, buru-buru berdiri n ngebantuin dia. "Gue … habis dikejar ama salah satu dari mereka, Dei … " Sasori ngegigit bibir bawahnya, cemas. Dia lalu natap wajah sohibnya di sebelah dengan pandangan khawatir. "Kayaqnya mereka udah tau kalo gue ada di kota ini dari dulu. Mereka tau alamat gue. Mereka tau di mana gue kuliah. Mereka … "
"Ssshh … " Deidara meluk kepala n pundak cowok itu, nenangin. Sambil sesekali membelai rambut merah itu, lembut. "Tenang. Atur nafas loe. Awas, ntar kumat lagi, lho … "
Mata Sasori terpejam takut. "Mu … mungkin … sebaiknya gue mati aja, Dei … " Suaranya kedengaran putus asa. Deidara melotot mendengarnya. Dia lalu memeluk sobatnya yang gemetaran itu, makin erat. Matanya ikutan terpejam. "Jangan pernah ngomong gitu. Elo masih punya orang-orang yang sayang ama loe di dunia ini. Gue tau elo bukan orang yang seegois itu untuk bunuh diri n ninggalin kami."
Sasori balas meluk dia, erat. Lima detik kemudian, doi ngelepasin pelukan itu n ngehela nafas, panjang.
"Ngerasa lebih baik?" tanya Deidara, senyum. Sasori ngelirik dia, lalu kembali natap kakinya sendiri yang lagi duduk, mengangguk. Sebenarnya dia rada malu tiap kali paniknya dateng kayaq gini. Sehari-harinya Sasori selalu pasang kesan kalem n dingin, sih. Dia juga pernah keliatan gugup gitu di depan Itachi, tapi nggak sesering di depan Deidara.
Deidara pun ikut duduk dari posisi berdirinya tadi. Di sebelah Sasori. "Kita musti minta tolong ama Itachi untuk masalah perlindungan … " usul Deidara. Sasori mengangguk, diam. "Trus … " Si blonde tadi kembali ngomong. " … kita juga musti ngomong ke Akamizu soal ini." Sambungnya. Cowok berambut merah itu langsung menatapnya dengan pandangan nggak setuju. Dia menggeleng. "Nggak. Jangan … "
Deidara ngehela nafas. "Sampe kapan elo mau diam terus, sih? Elo musti ngasih tau dia, Saso. Ini juga masalah hidupnya." Cowok bermata biru satu ini keliatan mendesah, kecewa.
"Tapi … " Sasori kembali tertunduk. Kakinya yang tadi selonjor dilipat menyilang. Posisi bersila. Kedua tangannya mencengkram pergelangan kaki, erat. "Kalo gue bilang soal itu … hidupnya pasti nggak bakal pernah tenang kayaq gue. Kalo ngebayangin hal itu … gue jadi ngerasa jahat banget, Dei … "
"Gimana si, loe? Elo mau nanggung semua sendiri? Oh, God … ". Deidara nepuk jidat, mijit. "Cepat atau lambat gue yakin mereka juga bakal tau soal dia, Saso. Ini bukan masalah ringan, tau. Makin cepat elo ngasih tau dia soal ini, makin baik. Daripada dia taunya dari 'orang itu' n ditambahin info palsu macem-macem gimana, hayo?" desaknya, sambil bangkit n duduk di hadapan cowok berambut merah tsb.
Sasori menatap mata biru yang serius itu, ragu. Lalu dia kembali nunduk. Dia tampak berpikir, lama.
"Ya … gue rasa … gue bakal mulai ngomong ke dia nanti … "
Deidara ngerasa sedikit lega ngedengernya. "Bagus. Eh, tapi … 'nanti' itu, kapan? Yang pasti-pasti dong." Nada suaranya kembali mendesak. "Uh … um … besok, kali … " jawab Sasori, ragu. Deidara mengangguk, mantap. "Oke deh kalo gitu. Besok di kampus. Kebetulan kayaqnya dia ada jadwal pagi. Kita samperin aja pagi-pagi."
"Hm." Sasori mengangguk lagi, pelan. "Tapi … gimana ama setan yang selalu bareng dia itu?" tanyanya, natap si blonde. "Gue rasa pembicaraan nggak bakal lancar kalo ada dia."
"Kita minta tolong lagi aja ama Itachi. Gue rasa … cuman 'boss' kita itu aja yang bisa ngadepin." Deidara nyengir. "Oiya, siapa sih nama kecil Akamizu itu? Gue lupa." Doi nyubit dagu, brusaha nginget. Sasori angkat bahu. "Wajar kalo elo lupa. Orang di kampus nggak ada yang manggil dia pake nama kecilnya, koq. Bahkan orang terdekatnya, si setan Uzumaki itu aja nggak pernah manggil dia pake nama." Sasori ngeluarin hapenya dari saku celana n ngeliatin foto seorang wanita berambut pirang n bermata aquamarine di situ. "Gaara. Namanya Akamizu Gaara." Ucapnya, lirih.
Deidara angkat alis, nyaksiin sobatnya itu yang nggak pernah bosen-bosennya ngeliatin tuh foto. Dia senyum. "Hhh … " Deidara ngehempasin dirinya di tempat tidur, berbaring. Trus mulai masang earphone lagi. "Kira-kira … gimana reaksi Gaara, ya? Kalo tau dia tuh bukan Akamizu, melainkan seorang Akasuna … ?"
KucingPerak
Kafe Sunday …..
"GAAAARAAAAA!!!" Seru Naruto, panik. Dia menghambur masuk hampir nabrak Kankuro yang baru ngambil jus dari jendela order. "Ada apa, Nar-ugh!" Kalimat Gaara terputus gitu sobatnya meluk lehernya dari jendela. "Gaara, tolong gue. Ada orang gil-!" Tiba-tiba tubuh Naruto terangkat dari bumi. Pelukannya pun lepas. "-aaaaakh! Turunin Gueee!" Gaara kaget, ngeliat seseorang bertubuh besar n tinggi yang sekarang lagi ngangkat pinggang Naruto kayaq ngangkat bayi. Gile, tangannya gede amat.
"Naruto!" Kisaliten keliatan ngos-ngosan lari menghampiri mereka. Kafe pun serentak jadi ramai. Terang aja heboh. Soalnya ada seorang pria berbadan besar layaknya beruang muncul di kafe. Kulitnya gelap. Rada buncit. Pake kacamata hitam. Dia pake baju biru dengan motif kembang-kembang putih n … ah, pokoknya penampilannya terlalu itu terlalu norak untuk dijelasin.
"Ooh ! manis banget sih anak iniiii! I jadi gemas!!" Pria tadi meluk Naruto, erat. Jenggot pendeknya ngegesek-gesek pipi cowok pirang itu sampe krasa gatel.
"Kirabi. Kalo elo terusin dia bisa pingsan, tau." Ucap seorang anak kecil bermata ungu n berambut hijau lumut. Dia dengan santainya nyeruput coffee milk punya orang di meja. Yang punya terlalu shock dengan kehadiran pria besar itu sampe-sampe nggak nyadar.
"Yuki! Nama I Killer-Bee! Jangan seenak perut diganti-ganti!" si raksasa marah, dengan sedikit nada rap dalam kalimatnya. (KP: Ah, aku tau kalo Killer Bee nggak gede-gede amat badannya. Tapi, di fic ini aku bikin dia punya badan gede lebih dari 2 meter, boleh dong?).
"Nama gue Yukimaru. Jangan dipotong-potong. Lagian, loe kan tau lidah gue emang susah dipake buat ngelafalin bahasa Inggris. Gak usah protes, deh." (Yukimaru=if g slh bocah pengendali Sanbi itu loh)
"Mohon maaf, Tuan. Bisakah Anda selesaikan urusan Anda di luar?" Gaara datang, pasang muka stoic. Entah sejak kapan doi udah berdiri di hadapan Killer Bee. "Maaf sekali lagi, tetapi kehadiran Anda dirasakan mengganggu bagi para tamu kafe kami." Tegurnya, sopan. Kankuro juga ikutan mendampingi di sampingnya. Meski nggak bilang apa pun, mukanya serius menghadap pria itu. Walau rada berkeringat dingin karna nyembunyiin rasa takut. Iya dunks! Orang yang di hadapannya ini kan gede banget. Udah gitu dia juga bawa 2 pedang yang dipasang di punggung. Hari gini siapa juga yang berani-berani ngelanggar aturan buat nggak bawa senjata tajam selain orang-orang berbahaya?. (Kyuubi juga suka bawa sih). Sedangkan Chouji gemetaran sembunyi di balik meja kasirnya sambil ngintip.
"You-you siapa, bakayaro-konoyaro? Uh yeah?" tanyanya, masih dengan intonasi rap yang bikin aneh buat para pendengar. "Kirabi … " panggil Yukimaru, cowok yang keliatan kayaq anak SD tapi pake black suit itu beranjak dari duduknya. Dia ngajak si raksasa tsb buat ngikutin dia keluar. Killer Bee, yang diperkirakan banyak orang bakal ngenolak karna diperintah anak kecil, anehnya nurut-nurut aja n keluar. Masih ngebawa Naruto.
"Lepasin, nggak?!" Naruto nendang-nendang perut Killer Bee dengan sepatu rodanya, kesal. Tapi, rupanya kumpulan lemak di perut pria tsb seolah menyerap semua damage yang ada. Tadi sebenernya Naruto n Kisaliten udah berantem sekuat tenaga, tapi mereka semua pada nggak berkutik ama orang ini.
Ugh, kalo gue henshin … orang macam ini pasti bakal gampang di KO. Naruto buru-buru menepis idenya barusan. Nggak! Bisa berabe kalo gue brubah jadi cewek di sini! Mana banyak orang, lagi!
"So. Di mana rumah you, beybeh?" tanya Killer-Bee, sambil meluk Naruto lagi. Hiiii!!!. Naruto jadi merinding. Ngapain dia nanyain rumah gue?.
Mereka kini tengah berada di trotoar gak jauh dari kafe. Tentu aja pria gede berpenampilan norak yang lagi ngegendong paksa seorang remaja itu menarik banyak perhatian orang-orang sekitar. Tapi, mereka terlalu takut untuk mendekat. Apalagi pas liat dua pedang yang nangkring di punggung si raksasa.
"Lepaskan dia."
Suara barusan bikin Killer Bee noleh ke belakang. Ke Gaara yang berdiri tegak di sana dengan tampang serius. Doi masih make seragam hitam putih kafe Sunday. Kayaq pelayan ala Eropa. Di belakang n sisi-sisinya berdiri Kisaliten. Tadi sehabis pria itu ninggalin kafe, Gaara buru-buru izin ke Chouji buat ninggalin kafe bentar. Chouji sih manggut-manggut aja sambil pesan 'hati-hati'. Orang tadi keliatannya berbahaya, sih. Meski tampangnya nggak garang kayaq beberapa preman jalanan dulu yang pernah datang ke kafe buat bikin ulah. Tetep aja bikin cemas. Dulu emang pernah ada preman-preman jalanan yang dateng. Tapi, saat itu mereka berhasil dikalahin semua ama Gaara.
"Hm? Kenapa I musti ngelepasin dia, yeah?"
"Karena pemuda itu jelas sekali tidak senang dengan perlakuan Anda." Jawab Gaara, masih sopan.
"Gaara?!" Naruto berseru senang. Yukimaru yang berdiri di dekat kaki gede Killer Bee ngeliatin cowok berambut merah itu dengan mata yang agak memicing. Dia … ?
"No fucking way, konoyaro." Killer Bee ngenolak, masih megangin Naruto dengan erat.
"Kalau begitu … maaf, saya harus menggunakan sedikit kekerasan." Gaara ngelepasin apron pinggang putih polosnya, n nitipin itu ke Lee di sebelah. Trus doi ngegulung lengan panjang kemeja putihnya sampe siku. Lalu pasang kuda-kuda siap menyerang. Kisaliten pada nelen ludah, Naruto juga. Udah lama mereka gak liat Gaara berantem. Cowok itu sendiri emang bilang kalo dianya gak suka berantem, sih. Ikut pertandingan aja dia nggak mau. Gaara bilang, doi ngemasterin taekwon cuman buat ngejagain Naruto. "Wah, Gaara-kun mama-mode : ON." Bisik Tenten ke Sai semangat. "Hush. Nggak sopan, loe" . Mereka udah pada tau semua sih kalo Gaara itu overprotective banget ke Naruto.
"Muhahahah! Emangnya tangan kurus itu bisa apa?!" Killer Bee tergelak, perutnya yang rada buncit sampe keliatan berguncang. "Ga-Gaara … " Ngeliat ekspresi Naruto yang keliatan kesusahan itu bikin doi jadi marah.
Gaara lari ke arah pria yang masih terbahak tadi, cepat. Kaki kanannya nginjak lutut kiri Killer Bee, trus kaki kirinya langsung naik ke pundak kanan pria tsb. Lalu, sambil ngerebut Naruto dengan kedua lengannya …
'DUASH!'
… Gaara nendang bagian belakang kepala Killer Bee pake kaki kanannya, keras. Bikin pria itu jatoh nyungsruk trotoar dengan muka duluan.
Kisaliten pada ngeyes-yesin dia. Sedangkan Yukimaru kliatan terbelalak. Apa? Dia bisa bikin Kirabi jatuh dengan sekali serang?
"Naruto … " Gaara sendiri sama sekali nggak ambil pusing ngeliat 'korbannya' yang jatoh itu. Dia lebih sibuk meriksa Naruto. Doi muter-muterin badan Naruto, meriksa. Cemas kalo dia luka-luka.
"Gue nggak papa koq, Gaara." Naruto menghentikan gerakannya yang keliatan kayaq mo muterin dia lagi. "Thanks, ya?" Si blonde itu nyengir. "Emang sih … rada malu-maluin kalo hero itu ditolong. Tapi, hero sekalipun kan kadang ngalamin kesulitan n ditolong ama partnerrnya? So, kalo lain kali elo ngalamin kesulitan, panggil gue aja, oke?" Naruto nunjuk dadanya sendiri pake jempol. Gaara ngehela nafas, lega. Kalo misalnya dia sendiri yang brada dalam kesulitan, orang yang paling nggak bakal mau dia panggil adalah Naruto. Kenapa? Karna doi nggak mau kalo Narutonya sampe kenapa-napa. Dia lebih rela dirinya habis dibantai daripada ngeliat Naruto disakitin!. Rasa sayangnya ke cowok itu emang udah ngelebihin kategori sahabat kayaq yang dibilang Kyuubi.
Gaara meluk pundak Naruto, erat. (Inget, di sini tinggi mereka sama). "Maaf, tadi gue nggak bisa langsung nolongin. Gue nggak mau bikin ribut di kafe. Nggak baik buat reputasi kafe." Naruto tertawa kecil n ngebales pelukannya. "Gue tau, koq."
Tapi, kalo tadi nggak ada kemungkinan akan adanya kesempatan dia bisa ngejar Killer-Bee, bisa dipastikan Gaara bakal langsung ngehajar tuh orang di kafe.
Mereka berenti pelukan. Kisaliten menghampiri keduanya. "Gaara-senpai emang kuat, ya? Kami aja dari tadi nyerang orang itu tapi nggak ngefek." Ucap Sai, kagum. "Iya, man. Padahal Gaara-senpai kan nggak keliatan rajin latian lagi akhir-akhir ini? Tapi, ternyata masih tajem aja." Sambung Kiba. "Gaara-senpai! Jadikanlah daku sebagai muridmu!!!" seru Lee, terbakar semangat. "Yare-yare … " Tenten geleng-geleng, senyum. Kiba, Sai, n Lee emang suka manggil Gaara dengan 'senpai' walau mereka semua pada seumuran (Kalo Tenten tetep manggil dengan 'Gaara-kun'). Soalnya sikap Gaara yang selalu keliatan tenang itu bikin kesan dewasa dalam dirinya. Selain itu, dia juga sering berperan kayaq guru bagi mereka.
"Maaf, Lee. Gue nggak ada waktu." Tolak Gaara, halus. Dia lalu beralih ke Kiba. "Gue emang udah lama nggak latihan lagi, koq. Kesibukan kuliah n kerja (plus ngurusin Kyuubi-Naruto) nggak nyediain waktu untuk latihan. Gue juga nyadar kalo gue nggak sekuat dulu." Soalnya tangan Gaara sekarang lebih sering dipake buat masak, nyapu, ngepel, alias ngurus rumah! Nggak ada lagi kesibukan macem mukulin n nendangin sand-sack tinju, push-up sit-up beratus-ratus kali, or sparring.
"Hah? Tapi, buktinya elo sanggup ngejatuhin orang gede itu, Gaara. Itu buktinya elo masih kuat, dong?" Naruto bingung. Soalnya tadi dia n Kisaliten sempet menyerang Killer Bee berkali-kali tapi tuh orang masih berdiri aja seolah mereka semua cuman nyamuk yang muter-muter.
"Ah, itu karna … "
"U .. ugh … bakayaro … konoyaro … " Killer Bee bangkit perlahan. "Dia masih nyadar rupanya!!!" Kisaliten langsung 'menyatu', pasang kuda-kuda. Akamaru menyalak. Naruto berdiri di depan mereka, di sebelah Gaara.
"Kirabi … " Yukimaru ngehela nafas lega.
Gaara yang dari tadi masih membelakanginya mulai balik badan, pelan. Tangan kanannya direntangkan, menyuruh Naruto n Kisaliten supaya tenang n tetep di tempat. Mereka ngeliat dia dengan ekspresi kesel. "Gaara, kayaqnya elo nggak bisa ngalahin dia sendiri, deh. Untuk lawan gede kayaq dia, kita musti menyatukan kekuatan kayaq power rangers." Desis Naruto, rada kesel dengan sikap Gaara yang selalu aja selalu mau ngelindungin dia. Gaara udah keliatan mo ngomong, tapi Naruto langsung nginterupsi. "Oke deh, Gaara. Meski gue lebih suka jadi ketua team, tapi kalo dalam hal ini kayaqnya elo yang paling pantes jadi ketua." Naruto nurunin lengan Gaara yang tadi masih terentang ngalangin. "Elo ranger merahnya, Kiba ranger biru, Sai ranger hitam, Lee ranger ijo, Tenten ranger pink, n gue … ranger kuning."
Kisaliten n Gaara pada sweatdrop. Nih anak … otak heroesnya emang selalu nyala nonstop, ya?
Killer Bee keliatan ngejap-ngejapin matanya, kabur. Doi nyabut pedang di punggung.
Naruto n empat sohibnya pada nelen ludah. Tapi pada berbaris sejajar di kedua sisi Gaara kayaq power ranger yang siap bertarung.
Gaara ngehela nafas. Cuman dia yang sekarang nggak pasang kuda-kuda kayaq yang lain. "Gaara, loe gimana si? Seenggaknya elo musti bertolak pinggang or nyilangin lengan di dada, dong. Biar keliatan lebih cool, gitu." Naruto nyikut lengannya, pelan.
"Nggak perlu, Naruto. Dia nggak bakal nyerang kita, koq."
"Hah?"
'BRUK!'
Killer Bee jatoh di atas kedua lutut, matanya terbelalak. "Kirabi?" bocah berambut ijo lumut di sana menghampirinya. "Kirabi? Loe kenapa?" tanyanya, ngeguncangin kedua pundak sang pria gede.
"Bakayaro … Konoyaro … " ucap Killer Bee, memicing marah ke Gaara. Gaara menatapnya yang masih berlutut, stoic. "Sepertinya tadi saya menyerang otak kecil Anda … "
"Damn you to hell!!! Berani-beraninya ngehina otak I kecilll!!!" raungnya, marah besar. "Oh, maaf. Saya tidak bermaksud menghina Anda. Yang saya maksud dengan otak kecil di sini adalah salah satu bagian otak manusia pada umumnya. Otak manusia terdiri dari berbagai macam bagian, salah satunya adalah otak kecil yang saya maksud tadi." Jawab cowok berambut merah itu, masih kalem. "Otak kecil berfungsi sebagai pengatur keseimbangan, juga sikap dan koordinasi gerakan otot tubuh secara sadar."
"Ah, iya gue inget! Pantesan aja …" Naruto menepukkan kepalan kanannya ke telapak tangan kiri. Tiba-tiba berenti pasang kuda-kuda. Gaara tersenyum sekilas n ngenoleh padanya. "Loe tau apa yang bakal terjadi kalo otak kecil sampe cedera, Naruto?". Naruto mengangguk antusias. "Gerakan kita bakal nggak terkoordinasi lagi. Sampe-sampe ngangkat gelas buat minum pun susah."
"Pinter." Puji Gaara. Naruto nyengir. Kisaliten juga. Gaara kembali mengahadap Killer Bee. "Dalam situasi Anda, memegang pedang pun akan susah." Tunjuknya, ke arah dua pedang yang entah sejak kapan udah lepas dari tangan si raksasa. "Sebenarnya tadi saya lebih fokus menyerang otak belakang Anda. Jadi, saya cukup yakin kalau sekarang pandangan Anda menjadi kabur."
"Otak belakang tuh titik penglihatan, ya?" gumam Sai, manggut-manggut. "Seberapa pun kuatnya seseorang, bagian kepala tetep bakal jadi pusat kelemahan n tempat ngumpulnya macam-macam titik vital." Gaara mulai ngomong ke mereka lagi. "Kayaq bagian otak depan di otak besar yang ngatur rencana-rencana gerakan kita. Selain itu di bagian lain otak besar juga ada yang berfungsi sebagai pusat intelegensi, memori, juga kesadaran."
"N otak tengah yang ngatur pendengaran, kan?" sambung Naruto. Gaara mengangguk, lalu menepuk-nepuk kepala si pirang itu, sayang. Naruto tertawa kecil. "Oooh, pantesan aja kalo di pertandingan biasanya nilai kepala lebih tinggi." Tenten manggut-manggut kayaq Sai. Mata aquamarine tadi memandang Kisaliten satu-satu. "Tadi loe semua nggak berhasil ngejatuhin dia karna loe-loe pada nyerang badannya, kan?"
"Iya, sih … "
"Untuk lawan yang keliatan berbadan besar or kuat, serang aja kepalanya. Kalau kepala … pake tenaga cewek pun juga bisa nimbulin damage yang lumayan besar." (KP: Asal bukan tenaga cewek letoy)
Sebenernya tenaga alias kekuatan Gaara tuh bisa dibilang ada dibawah Naruto n Kisali. Tapi masih ada di atas kekuatan Tenten, sih. Soalnya dia nggak pernah latihan lagi!. Makanya itu lengannya lebih kurus alias nggak berisi kayaq Naruto. (Tapi ototnya Naruto kecil!).
'PLOK! PLOK! PLOK!'
Suara tepukan barusan bikin mereka berenam beralih ke sumbernya. Yukimaru tersenyum. Dia berdiri di depan Killer Bee yang pingsan. "Elo hebat juga ya?" katanya, berenti berenti bertepuk.
"Hey, nggak sopan kalo manggil orang yang lebih tua kayaq gitu. Panggil 'kakak', dong." Naruto bertolak pinggang. Muka Yukimaru spontan memerah, marah. "Hey, gini-gini gue udah 17 tahun, tau! Dasar cewek tomboy!"
"Uwapwa?! Gue cowok, tau!" Naruto meledak-ledak.
"17 tahun?!" seru Kisaliten, kaget. Bikin Naruto menghentikan gerakannya yang mo maju ngejewer tuh anak. "Kalian kenapa si? Tentu aja dia bohong, kan?"
"Nggak bohong, koq! Ini buktinya!" Yukimaru jalan ke mereka n nyerahin KTP yang diambil dari dalam saku jas hitamnya. Mata Gaara membesar sekilas ngeliatnya, Naruto n Kisaliten mangap.
Beneran gak bohong nih anak!
"Wow! Elu minum APTX 4869, ya?!"
"Conan!"
"Siapa tuh? Enak aja. Nama gue Yukimaru! Emangnya salah punya badan yang gak bisa tumbuh normal? Dasar bocah-bocah udik." Cowok kecil itu pun kembali ngerebut KTPnya dari tangan Naruto, kasar. "Heh! Bocah nggak pantes ngomong bocah!" tuding Naruto, kesel. Tapi orangnya malah cuek n beralih ke Gaara.
"Gue mau berantem ama loe." Katanya, nantangin. Mata ungunya keliatan semangat. "Kayaqnya loe lawan yang tangguh."
Gaara menatapnya sejenak. "Maaf. Gue nggak minat. Gue nggak suka berantem." Katanya, sambil ngeraih lengan Naruto, jalan kembali ke kafe.
Tiba-tiba aja 'anak kecil' tadi ngalangin jalannya, trus senyum sebelum akhirnya menerjang Gaara. Gaara sendiri kaget n jatoh di trotoar dengan punggung duluan. Pegangannya lepas dari Naruto. Yukimaru menekan dahi n pundak kanannya dengan tenaga yang mencengangkan untuk ukuran anak kecil! (Meski sebenarnya dia bukan kecil)
"Gaara!"
Naruto udah mo maju nolongin dia, tapi Yukimaru yang sekarang tengah duduk di atas perut Gaara, mengacungkan pisau pendek yang keluar dari lengan jasnya. "Eits. Jangan ganggu."
Kisaliten terbelalak. Naruto juga. Mereka terpaku ngeliat benda tajam berkilau itu. Yukimaru kembali beralih ke Gaara di bawahnya yg pasang muka stoic. "Elo … ada hubungan apa ama Pein-sama?" tanyanya, sambil ngelambung-lambungin pisau.
"Pein?" ulang Gaara. "Cowok preman dengan banyak pearcing di muka, yang … mukanya rada kotak itu?" Dulu ampe sekarang emang ada sih sekumpulan orang yang mo ngajakin dia gabung ama geng premannya. Salah satunya diketuai oleh orang bernama Pein.
Dahi Yukimaru berkedut. "Bukan!" Doi nancepin pisau tadi di sebelah telinga Gaara. Tenten sampe menjerit, kaget. "Bukan 'Pein-Peinan' yang itu. Itu sih cuman preman rendahan iseng yang niru-niru Pein-sama buat nakutin. Lagian … Pein-sama yang asli jauh lebih keren, tau! N dia bukan pemimpin geng kecil. Tapi, dia tuh Oyabun alias ketuanya Yakuza bernama Akatsuki!"
"Eh???!!" Kisaliten kedengaran kaget. Naruto juga. "Akatsuki … ?" Nama itu emang terkenal. Trutama di dunia kriminal. Sebagai sebuah geng Yakuza yang gak bisa disentuh polisi. Mereka menguasai beberapa lokasi beroprasinya tempat-tempat judi elit, hotel, tempat-tempat hiburan lain macem pub or diskotik, bahkan obat-obatan terlarang juga sex bebas wajar berkeliaran di sana. Mreka juga suka minjemin duit ke siapa pun yang tentu aja dengan bunga berlipat-lipat. Kabarnya mereka juga punya sebuah pasukan khusus pembunuh bayaran bernama Jinchuuriki. N para anggotanya meski gak termasuk dalam pasukan itu, adalah orang-orang berbahaya semua. Tapi, mereka semua berkumpul di satu kota besar bernama Ame. Denger-denger sih walikota Konoha terdahulu udah bikin perjanjian ama walikota Ame untuk gak saling mengganggu wilayah masing-masing. Karna Konoha, meski bukan kota mafia, tetep bakal jadi lawan yang cukup menyulitkan buat diganggu. Trutama karna adanya klan Uchiha yang merupakan klan elit n katanya punya beberapa bodyguard pro. Juga karna adanya klan Hyuuga, klan lama mantan Yakuza elit tempo dulu yang punya aliran martial arts sendiri. Meski sekarang udah ninggalin dunia Yakuza n hidup damai, aliran martial arts mematikannya tetep dikembangkan.
"Apa hubungannya Pein ama gue? Nggak ada." Jawab Gaara, bingung. Ketemu aja nggak pernah. "Hmm … tapi elo mirip dia. Apa karna sama-sama muka besi, ya? Stoic … ."
Gaara menggeleng satu kali. "Gue nggak ada hubungan apa pun dengannya. Ketemu aja nggak pernah." Dia bangkit mau nyingkirin Yukimaru. Tapi cowok cebol itu ngeluarin pisau baru dari lengan jasnya n narik kemeja putih Gaara dengan tangan kiri. Trus nempelin pisau itu di lehernya dengan tangan kanan. "Eits, gue belum selesai."
"Gaara!" / "Gaara-kun!" / "Gaara-senpai!"
Naruto n Kisaliten serempak nyeru namanya, cemas.
"Ja-"
"Jangan mendekat!" Gaara ngerebut kalimat cowok bermata ungu itu. "Bahaya … . " sambungnya, lirih. Dia bisa ngerasa kalo orang ini jauh lebih tangguh dari Killer Bee. Yukimaru angkat alis sebelum akhirnya senyum. "Heeeh? Ternyata loe bisa ngerasain aura berbahaya gue, ya? Hebat … " pujinya. "Kenalin, gue Yukimaru. Salah satu anggota Jinchuuriki. Code-name gue : Sanbi."
"Sanbi … ?"
'Sniff …'
Yukimaru keliatan ngedongak, mengendus udara. Trus doi nunduk ke bawah, n mengendus dada n leher Gaara, sampe ke muka. Cowok berambut merah itu cuman berkedip dua kali, heran.
"Elo … bau manis, ya?"
"Hah?"
Tadi Gaara habis bikin cake. Mungkin karna itu dia jadi rada bau kue.
'Tes'
Cowok kecil tadi jadi ngiler. Air liurnya netes ke pipi Gaara.
"Uwaaaa! Jorok!" seru Naruto, sambil …
'DUAG!'
… ngelempar sisi kepala Yukimaru pake batu gede yang diam-diam doi pungut dari sisi taman trotoar. (yang biasanya ada pohonnya itu, lho).
Cowok berambut ijo tadi jatoh miring ke samping. Matanya keliatan muter-muter ala spiral. Perutnya bunyi, keroncongan. Mulutnya masih ngiler.
"Lapeeeerr~ …. "
Suaranya sekarat.
Yang lain pada sweatdrop.
KucingPerak
KP : Di versi animenya, Yukimaru itu keliatan kayaq anak manis berambut panjang sepunggung. Tapi kalo di manga … rada beda. Rambutnya pendek n punya tampang yang kesannya rada punk kayaq Gaara. Dia punya jahitan yang memanjang di bawah mata kirinya. Tapi tetep cute sih! (Jadi bingung, apa di manga namanya Yukimaru juga, ya? Udah lama nggak ngupdate manganya, neh!) . Yah, pokoknya rupa Yukimaru yang kupake di sini lebih ngikutin versi manganya aja. Walau senjatanya kuganti ama pisau.
Soal 'bakayaro-konoyaro' nya Killer Bee tuh emang sering dia ucapin kalo lagi ngerap di versi anime jepangnya (*suka ngupdate anime Naruto*)
Aku nggak tau marga Gaara apaan! (kayaqnya emang nggak pernah disebutin di manga or animenya, deh). So, aku pake aja Akamizu. Artinya 'merah' n 'air'. Air merah bisa berarti darah. Cocok ama dia!. (ngambil dari nama gabungan Akaba n Mizumachi dari Eyeshield21. Entah di manga vol berapa, aku lupa!). Oiy, yang ngarep kejelasan hubungan Sasori n Gaara … udah mulai kukasih clue, tuh!
Soal bagian-bagian otak … itu sih kata dosenku. Aaaahh … jadi inget, Final-test Psikologi Faal ku waktu itu disuruh ngegambar otak n bagian-bagiannya …huekh ... . (*pingsan di tempat*)
