You're a Broken Man
.
.
.
.
.
.
.
Aomine Daiki, Haruno Sakura
.
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
.
.
DILARANG COPAS DALAM BENTUK APAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DLDR!
Selamat Membaca!
oOo
Aomine Daiki memejamkan matanya. Kedatangan Sakura kemarin membawakannya makanan benar-benar membuatnya terkejut. Kenapa.. Kenapa wanita itu tidak membencinya? Kenapa? Padahal dia telah melukai wanitanya.
Dia sengaja menyakiti Sakura agar wanita itu berhenti berharap padanya. Karena dia sadar, dia bukanlah sosok pria yang baik untuk Sakura. Dia tidak mau Sakura hidup bersama dengan pria brengsek sepertinya.
Di tengah suasana yang sunyi dan pengap itu, dia bisa mendengar suara langkah kaki. Dari kejauhan, seorang perwira polisi datang.
"Aomine Daiki, kamu kedatangan tamu."
.
.
.
"Maaf merepotkanmu, Taiga."
Sakura membawa kopernya masuk ke dalam apartemen Kagami. Pria berambut merah itu memaksanya untuk tinggal bersama selama kehamilannya. Sahabatnya itu mengkhawatirkan kondisinya.
"Kamu bisa memakai kamar milik Alex." Kagami membuka kamar yang biasa digunakan gurunya ketika berkunjung ke Jepang.
"Aku jadi rindu dengan Alex." Sakura mendudukan dirinya di ranjang. "Bagaimana ya, kabarnya?"
Kagami menatap Sakura dengan pandangan sulit diartikan. Apakah sebegitu Sakura mencintai Aomine hingga rela mengorbankan segalanya?
Pada akhirnya, Sakura berniat tidak akan mengatakan semuanya pada Aomine. Dia akan menyimpan semuanya sendiri dan membesarkan buah hatinya sendiri.
Andaikan Sakura tahu, dia bahkan rela membesarkan bayi Sakura meski itu bukan darah dagingnya.
"Taiga, kamu melamun."
Tersadar dari lamunannya, Kagami mengusap belakang kepalanya.
"Aku akan bekerja, sebentar lagi Tatsuya akan datang."
Sakura tersenyum pahit ketika Kagami meninggalkannya seorang diri.
.
.
"Akashi, Tetsu."
Aomine tidak mempercayai apa yang dilihatnya. Mantan kapten dan mantan rekan di tim basketnya datang menjenguknya.
"Bagaimana kondisimu, Daiki?" tanya Akashi.
Aomine tidak menjawab. Dia tidak memperkirakan jika sahabat-sahabatnya akan menjenguknya.
"Aomine-kun, aku kecewa padamu."
Uhuk! Kuroko masih saja seperti biasanya. Kata-katanya masih saja membuatnya tersinggung.
"Yang dikatakan Tetsu ada benarnya, Daiki. Kenapa kamu jadi seperti ini?" tanya Akashi.
"Apa itu semua penting bagi kalian?"
"Kami peduli padamu, Daiki." Akashi menghela napas panjang. "Jika ini untuk pelarianmu, aku yakin Satsuki pasti akan kecewa. Apa kamu tidak berfikir, jika Sakura juga akan kecewa."
Akashi terlihat dewasa. Aomine tidak tahu jika pengusaha sekelas Akashi yang dulunya selalu berteman dengan gunting dapat menjadi bijaksana seperti ini. Akashi benar-benar telah berubah.
"Aku yakin jika kamu juga mencintai Sakura." Akashi bangkit dari duduknya. "Aku akan meminta Shintarou sebagai pengacara untuk mengambil alih kasusmu. Aku berharap hukumanmu tidak akan berat."
Kuroko hanya terdiam. Aomine tahu, jika Kuroko pasti benar-benar kecewa padanya. Mungkin tidak hanya Kuroko, tetapi semua orang yang peduli padanya.
"Aku harus kembali ke kantor," ucap Akashi. "Ayo, Tetsu."
Menundukan kepalanya, Aomine memandang lantai dingin yang sekarang akan menjadi kamarnya. Bodoh. Dia memang bodoh dan tidak pernah berfikir panjang.
"Tunggu, Tetsu, Akashi."
Langkah Akashi maupun Kuroko terhenti. Mereka menolehkan kepalanya dan memandang Aomine.
"Maaf dan terima Kasih untuk semuanya."
Akashi tersenyum tipis begitu pula dengan Kuroko.
"Aku yang akan mengurus semuanya, Daiki. Kamu tenang saja."
Aomine tidak tahu betapa menyesalnya dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa buta hanya karena dia adalah seorang anak broken home yang tidak mendapatkan Kasih sayang? Dia frustasi ketika Momoi Satsuki meninggalkannya dan dia tidak peduli pada sekitarnya.
Dia merindukan Sakura.
.
.
.
Kagami mengusap wajahnya lelah. Sebagai seorang penegak keadilan, terkadang pekerjaannya tidaklah mudah. Dia harus berurusan dengan penjahat atau orang yang menyebalkan. Tetapi dia menyukai pekerjaannya.
Memarkirkan mobilnya di basement apartemennya, Kagami memijat pundaknya yang terasa kaku. Dia menekan tombol sepuluh di dalam lift.
Dia mengunjungi Aomine tadi. Dia dengar jika Akashi dan Kuroko datang untuk menjenguk Aomine. Dan ketika dia datang untuk melihat bagaimana kondisinya, Aomine tampak tenang. Tidak seperti sebelumnya yang tampak frustasi.
Dia tidak mengerti apa yang dikatakan keduanya pada Aomine, tetapi selama itu membuat Aomine tersadar dia tidak akan banyak bicara.
Apartemennya tampak sepi saat dia datang. Tatsuya pasti sudah tidur begitu pula dengan Sakura. Meletakan sepatunya di rak sepatu, dia melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil air minum. Kemudian matanya memandang meja makan yang penuh dengan makanan.
"Oh Taiga." Tatsuya keluar dari kamarnya. "Aku pikir siapa."
"Makanan ini.." Kagami menunjuk makanan yang ada di meja makan.
"Sakura memaksa untuk memasakan makanan untukmu."
Kagami tertegun sejenak. Dia melempar jaketnya sembarangan dan melangkahkan kakinya menuju kamar Sakura. Dia membuka pintu kamar Sakura dengan pelan agar tidak membuat keributan ataupun membangunkan wanita yang sedang mengandung itu.
Matanya memandang Sakura yang sedang tidur dengan nyenyak. Jika dia boleh jujur, dia rela melakukan apapun untuk wanitanya. Dia sangat menyayangi Sakura. Tetapi dia tahu, jika dia tidak memiliki tempat di hati wanita itu.
.
.
.
.
Sakura membuka matanya ketika cahaya masuk melalui celah jendela kamarnya. Ah bukan. Ini kamar milik Alex, sekarang dia ada di apartemen Kagami. Mendudukan dirinya, Sakura mengusap kepalanya sebelum rasa mual kembali menyerangnya. Dia berlari keluar menuju kamar mandi untuk memuntahkan semua isi perutnya.
Ah. Morning Sickness benar-benar menyiksanya.
"Sakura, apa kamu baik-baik saja?"
Tatsuya masuk ke dalam kamar mandi dan menghampirinya yang sedang memuntahkan isi perutnya. Pria berambut hitam itu memijat tengkuk Sakura dan membiarkan Sakura membasuh mulutnya.
"Aku baik-baik saja, Tatsuya." Sakura tersenym sumbang.
Entah mengapa pagi ini perutnya terasa sangat tegang.
"Ayo kita ke ruang makan, Taiga sudah membuatkanmu sarapan." Tatsuya membantu Sakura berjalan.
"Terima Kasih, Tatsuya."
Mereka berjalan menuju meja makan dan menemukan Kagami sedang memasak bubur. Tercium dari baunya yang menggugah selera. Di meja makan sudah ada segelas susu dan dua cangkir kopi. Sakura duduk di salah satu kursi dan meneguk susu yang ada di gelas.
"Ini bubur untukmu, Sakura. Aku sengaja membuatkan khusus untuk ibu hamil."
Sakura memandang semangkuk bubur yang ada di hadapannya. Dia benar-benar bersyukur memiliki kedua sahabat seperti Kagami dan juga Tatsuya. Jika bukan karena mereka, mungkin dia tidak akan kuat bertahan.
"Taiga, apa kamu akan bekerja?" tanya Sakura.
Kagami yang mendudukan dirinya dihadapan Sakura memandang sahabatnya itu.
"Ada apa?"
"Aku mau menemui Daiki-kun."
.
.
.
Aomine membuka matanya dan merasakan rasa dingin menusuk tulangnya. Penjara sangat pengap dan dingin. Dia merindukan rumahnya dan merindukan tempat tinggalnya yang hangat. Dia mengakui jika dirinya bodoh dan gegabah. Dan sekarang dirinya ada disini untuk mempertanggung jawabkan apa yang telah ia perbuat.
Ayah dan ibunya sama sekali tidak peduli dengan keadaannya. Ibunya menikah lagi dan tinggal di Amerika, begitu pula dengan ayahnya. Dilahirkan di keluarga broken home membuatnya jarang mendapatkan Kasih sayang dan perhatian.
Lalu pikirannya kembali ke masa lalu. Sudah lama Momoi Satsuki meninggalkannya. Dan dia bahkan sudah lupa, kapan terakhir kali dia mengunjungi makam teman semasa kecilnya itu. Dia terlalu sibuk dengan dunianya.
Dan juga Haruno Sakura.
"Aomine Daiki." seorang perwira polisi masuk. "Kamu mendapatkan tamu."
Sakura muncul dengan gaun pink berwarna pink. Wanita itu tersenyum, tetapi Aomine tahu jika terjadi sesuatu pada wanita itu. Karena wajah itu sangat pucat meski sudah ditutupi dengan make up.
"Sakura, apa kamu baik-baik saja?"
Ditanya seperti itu membuat Sakura menjadi salah tingkah. Haruskah dia menjawab jika sebenarnya semuanya tidaklah baik-baik saja?
"Aku baik-baik saja, Daiki-kun." Sakura mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas yang dibawanya. "Aku membuatkanmu makanan. Aku tahu, jika makanan penjara pastilah tidak enak."
Aomine memandang kotak bekal yang diberikan Sakura. Perasaan sesak itu kembali datang. Bagaimana bisa dia menyakiti hati wanita sebaik Sakura? Wanita itu sudah seperti malaikat baginya.
"Maafkan aku, Sakura."
"Kamu bicara apa, Daiki-kun?" Sakura tersenyum. "Aku sudah memaafkanmu."
Dia tidak pernah paham terbuat dari apakah hati milik Sakura. Wanita itu dengan tangan terbuka memaafkan semua kesalahannya, melupakan segala rasa sakit yang telah dia torehkan. Dia merasa sangat hina.
"Akashi-kun bilang jika dia kan mencoba meringankan semua hukumanmu," ucap Sakura. "Dan aku akan selalu menunggumu, Daiki-kun."
oOo
Kagami sudah sibuk di dapur padahal matahari belum menunjukan dirinya. Dia mengaduk sup buatannya sebelum mencobanya sedikit. Semenjak Sakura hamil dan tinggal bersamanya, dia mencoba semampunya untuk memasak makanan penuh gizi untuk ibu hamil.
Sakura kemudian muncul tak berapa lama. Mengenakan sebuah piyama, perutnya belum terlihat membesar. Saat memandang Kagami yang sedang memasak, entah mengapa ada sesuatu yang mengganggunya. Perutnya terasa tegang dan Sakura tahu apa maknanya.
Dia sedang ngidam.
Menggigit bibirnya, Sakura tidak tahu bagaimana mengatakan perihal ngidamnya. Dia ingin memeluk Kagami, entah mengapa dia ingin mencium dalam-dalam aroma pheromone yang dimiliki oleh Kagami. Saat pria berambut merah itu memeluknya, ada sesuatu rasa nyaman yang timbul dalam hatinya.
Kagami terkejut ketika seseorang memeluknya dari belakang. Dan saat dia menolehkan kepalanya, dia bisa melihat Sakura sedang memeluknya.
"Sakura? Ada apa?"
Tidak bisasanya Sakura menjadi manja seperti ini.
"Aku ingin memelukmu, bayiku ingin memelukmu."
Kagami tidak bisa melakukan apapun selain balas memeluk Sakura. Wanita yang sedang mengandung itu memeluknya erat dan mencium dalam-dalam aroma tubuhnya. Meskipun Sakura sudah biasa memeluknya, tetapi ada sesuatu yang berdesir dalam hatinya.
"Sakura, kamu mau menikah denganku?"
.
.
.
Aomine merasa gelisah. Dia sangat gelisah dan seingatnya dia belum pernah merasa segelisah ini. Ada sesuatu yang mengganggunya dan dia menjadi sangat khawatir.
Sudah tiga minggu Sakura tidak mengunjunginya. Dia merasa sangat khawatir. Apakah wanitanya itu baik-baik saja? Memandang langit-langit penjara, Aomine merasa dia tidak pantas berada di sisi Sakura. Wanita itu terlalu baik untuknya dan wanita itu berhak mendapatkan orang yang layak untuknya. Dia hanyalah bajingan brengsek yang telah menyakiti Sakura.
Dan jika keputusan Sakura untuk meninggalkannya, dia akan merasa bahagia apabila Sakura sekarang bersama dengan orang yang tepat.
.
.
Sakura mengangkat kepalanya dan memandang Kagami dengan pandangan tidak percaya. Apakah Kagami benar-benar melamarnya? Rasanya dia bahkan tidak pernah bermimpi untuk dilamar oleh Kagami.
"Taiga-"
Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang."
"Maafkan aku, Taiga. Bukankah kamu tahu jika aku hanya mencintai Daiki-kun?"
Kagami merasa dia sangat bodoh. Apa yang baru saja dia katakan? Seharusnya dia tahu jika Sakura akan selalu mencintai Aomine dan dia tidak seharusnya melamar Sakura.
Sakit. Rasanya dadanya sangat sesak dan hatinya berdenyut sakit. Jadi, beginikah rasanya patah hati? Rasanya sangat sakit.
Tatsuya menyandarkan tubuhnya di balik tembok yang ada di belakangnya dan menarik napas panjang. Ternyata, meski Kagami sudah menjadi polisi sekalipun. Pria itu masih saja bodoh.
.
.
.
"Aomine Daiki. Pengacaramu ingin bertemu."
Aomine membuka matanya ketika sebuah suara terdengar. Ini sudah berapa hari? Dia bahkan tidak tahu sudah berapa lama dia berada di dalam penjara. Dia lama kelamaan mulai terbiasa dengan semua yang terjadi.
Midorima muncul dengan pakaian rapi. Seingatnya Midorima memang selalu memakai pakaian rapi selain Akashi. Dia memandang Midorima yang kini menjadi pengacaranya.
"Aomine, bagaimana kabarmu hari ini?" Midorima menaikan kacamatanya dengan tangannya yang terbalut perban. Di tangannya terdapat sebuah boneka teddy bear yang lucu. Kebiasaan Midorima memang tidak bisa hilang rupanya.
"Aku baik-baik saja." dia menjawab pertanyaan Midorima sekenanya.
"Sidangmu akan dilakukan lusa. Aku akan mencoba melakukan semuanya sebisaku. Aku akan mencoba meringankan hukumanmu."
"Terima Kasih, Midorima."
Tidak ada lagi yang harus dia katakan. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Teman-temannya sangat baik dan bagaimana bisa dia melupakan dan mengabaikan mereka semua? Tempo hari, Murasakibara datang bersama temannya yang dia tahu bernama Himuro Tatsuya. Pria berambut ungu itu membawakan banyak makanan untuknya dan dia rasa Murasakibara sudah sedikit berubah. Seingatnya, Murasakibara bukanlah orang yang suka berbagi makanan.
Dia memang pria yang bodoh.
"Oi, Midorima."
Midorima yang akan berjalan keluar menolehkan kepalanya.
"Ada apa, Aomine?"
"Ada yang ingin aku tanyakan." Jeda sejenak. "Apakah kamu tahu kabar Sakura? Aku sudah lama tidak bertemu dengannya."
Midorima terkejut mendengar pertanyaan Aomine. Tempo hari dia bertemu dengan Sakura dan tak kalah terkejutnya melihat betapa wanita berambut pink itu sudah berubah menjadi seorang ibu hamil.
Awalnya dia tidak mempercayai pendengarannya. Bagaimana Sakura menceritakan dan wanita itu berpesan padanya. Sakura tidak ingin Aomine tahu perihal kehamilannya.
Sebenarnya dia merasa kasihan dan ingin mengatakan pada Aomine tentang kehamilan Sakura. Jika wanita bersambut merah muda itu sedang mengandung buah Cinta mereka. Tetapi dia tidak mau membuat suasana menjadi semakin rumit.
"Aku akan mencari tahunya."
Suara pintu yang ditutup menjadi satu-satunya suara yang terdengar karena setelahnya hanya keheningan dan napasnya. Dia kembali kepada kehidupannya di dalam penjara yang sempit, pengap dan sepi.
.
.
"Yura-chan, berikan senyuman terbaikmu. Ah, begitu."
Suara jepretan kamera terdengar di dalam studio foto. Sakura sedang fokus untuk mengambil foto dari model yang ada dihadapannya. Dia terlalu lama mengambil cuti dan sekarang saatnya dia kembali bekerja.
Beberapa model yang sedang menunggu gilirannya bergunjing. Berkasak-kusuk dan Sakura tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Tentu saja tentang kehamilannya. Kehamilannya yang sudah masuk usia empat Bulan mulai menarik perhatian banyak orang. Beberapa orang yang ingin tahu mulai menanyakan perihal ayah dari bayi yang dikandungnya, tetapi dia enggan memberitahu kepada sembarang orang tentang kehamilannya. Untuk apa?
Dia mulai terkenal sebagai wanita MBA. Dia tidak ambil pusing dengan semua gunjingan yang diterimanya. Toh, setiap orang hanya bisa menilai dari apa yang dilihatnya. Dia sudah hafal dengan hal itu dan tidak mau ambil pusing dengannya.
"Siapa itu?"
"Tampan sekali."
"Apakah dia model?"
Kagami memandang gedung perusahaan dihadapannya. Itu adalah gedung majalah fashion dan disanalah Sakura bekerja sebagai fotografer. Melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung, dia mengabaikan berbagai pasang mata yang kini memandangnya tanpa berkedip. Memang sudah dasarnya dia tidak peka, jadi dia tidak begitu memperhatikan sekitarnya.
Kemudian langkahnya terhenti di sebuah ruangan. Tanpa ragu-ragu dia membuka pintu dan mendapati Sakura sedang memotret model pakaian. Beberapa wanita yang ada disana memandangnya dengan pandangan kelebihan hormon. Sayang sekali dia tidak tertarik dengan wanita seperti itu.
"Sakura-san, sepertinya ada yang mencarimu."
Menolehkan kepalanya, Sakura terkejut melihat Kagami yang ada di depan pintu. Kagami memang mengajaknya makan siang, tetapi dia menolaknya. Lagi pula seharusnya teman kecilnya itu sedang bekerja sekarang.
"Taiga? Apa yang kamu lakukan disini?" Sakura meletakan kameranya dan menghampiri Kagami.
"Aku ingin mengajakmu makan siang."
Telinga milik Sakura bisa menangkap suara bisik-bisik di belakangnya. Kedatangan Kagami sudah pasti membuat tempat kerjanya menjadi heboh. Apalagi dia tidak suka menceritakan tentang kehidupan pribadinya dan sekarang tiba-tiba seorang pria tampan menjemputnya.
"Sakura-san, sebaiknya anda istirahat saja." modelnya tersenyum hangat. "Bukankah ini juga sudah masuk jam istirahat?"
Sakura menarik napas panjang dan memandang Kagami. Pria bodoh dan menyebalkan itu sudah ada disini, jadi tidak ada salahnya jika dia makan siang bersama Kagami.
"Tunggu sebentar, Taiga. Aku akan ambil tasku."
.
.
.
Pintu ruang sidang terbuka. Aomine melangkahkan kakinya masuk dan Akashi selaku pengacaranya sudah ada disana. Beberapa pasang mata memandangnya. Diantara tamu yang duduk, dia yakin jika ada beberapa wartawan yang akan meliput jalannya sidangnya.
Tentu saja kini dia menjadi terkenal di seantero Jepang. Terkenal sebagai penjahat.
Matanya memandang sekelilingnya. Tidak. Dia tidak menemukan Sakura dimanapun. Jadi.. Wanita itu tidak datang ke sidangnya.
.
.
"Sakura, apa kamu sudah bertemu dengan Akashi?"
"Akashi?" Sakura yang sedang menyendokkan red velvetnya memandang Kagami. "Aku belum bertemu dengannya, ada apa?"
"Hari ini Aomine akan menjalani sidang. Dia menanyakanmu dan berharap kamu datang ke sidangnya hari ini."
"Aku tidak mau datang."
Kagami memandang Sakura dengan pandangan tidak mengerti.
"Aku tidak mau Daiki-kun mengetahui perihal kehamilanku." Sakura menghela napas panjang. "Aku tidak mau membuatnya khawatir."
oOo
Suara dentingan bel terdengar dan butiran salju yang turun. Seorang wanita berambut merah muda membunyikan bel sebelum menyatukan kedua tangannya dan berdoa. Malam tahun baru seperti saat ini memang paling tepat untuk pergi ke kuil. Apalagi banyak orang yang datang dari berbagai daerah untuk berdoa di kuil.
Dia sebenarnya memiliki acara bersama dengan Kagami dan juga Tatsuya. Tetapi, Kagami sedang ada tugas mendadak saat malam tahun baru seperti ini dan Tatsuya harus menemani Murasakibara di restaurant milik pria berambut ungu itu.
Usia kandungannya mulai memasuki bulan ketujuh. Dia sudah tidak mengunjungi Aomine lagi dan tidak tahu bagaimana kabar pria berambut biru itu. Dari dalam lubuk hatinya, dia sebenarnya ingin datang mengunjungi Aomine dan menjenguk prianya. Tetapi, dia tidak ingin Aomine tahu tentang bayi mereka.
Mungkin, dia akan membesarkan bayinya sendirian.
Sedikit kesusahan melewati beberapa orang yang berkerumun dengan perut besarnya. Dia merapatkan baju hangatnya dan berjalan menuju stan takoyaki. Mungkin, makan Takoyaki atau ramen menyenangkan juga.
Selagi menunggu Takoyakinya matang, Sakura memilih untuk duduk di salah satu kursi yang berada tidak jauh dari tempatnya. Dia sudah mendengar hasil persidangan Aomine dan pria itu dituntut dengan hukuman tujuh tahun penjara. Dia cukup shock ketika Akashi datang untuk memberikan hasil persidangan. Tetapi, tidak ada yang bisa dia lakukan.
Midorima sudah melakukan banding, sebelumnya Aomine dihukum lebih berat. Biar bagaimanapun, Midorima mencoba untuk menyelamatkan temannya yang berada satu sekolah dengannya dulu.
Sesekali dia teringat dengan masa lalunya semasa sekolah menengah atas dulu. Betapa menyenangkannya dan dia merindukan semua moment yang terjadi. Betapa dia merindukan Aomine yang dulu.
"Ini Takoyakimu."
Sebungkus Takoyaki ada dihadapannya. Mengangkat kepalanya, dia melihat Kagami yang ada dihadapannya dengan baju hangat miliknya.
"Taiga?"
"Kamu memesan Takoyaki disana, bukan? Aku mengambilkannya untukmu."
Sakura benar-benar terkejut ketika Kagami ada dihadapannya. Bagaimana bisa pria itu ada disini? Bukankah Kagami sedang bertugas?
"Kenapa kamu ada disini, Taiga? Bukankah kamu seharusnya berdinas?" tanya Sakura.
"Untung saja temanku mau menggantikanku, jadi aku bisa pulang saat malam pergantian tahun ini. Kagami duduk di sebelah Sakura. Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah sudah aku katakan untuk diam di rumah, apalagi dengan perutmu yang membesar itu."
"Aku ke kuil, Taiga. Sakura menghela napas panjang. Aku ingin mendoakan Daiki-kun juga Kamu dan Tatsuya."
Duaaaarr! Duaaaarr!
Cahaya kembang api memenuhi langit-langit. Sakura menatap langit yang malam ini terlihat sangat indah. Rasanya sudah lama dia tidak melihat kembang api yang indah ini.
"Sakura."
Kagami mendekatkan wajahnya dan memagut bibir Sakura dengan lembut. Meski dia tidak bisa memiliki Sakura, tetapi dia akan ada disisi Sakura sebagai malaikat yang akan melindungi wanita itu.
.
.
.
.
Aomine menolehkan kepalanya ketika melihat cahaya kembang api memenuhi langit. Bangkit dari posisi duduknya, dia menuju ke jendela jeruji dan menatap kembang api dari dalam sel penjara. Mungkin jika bukan karena kebodohannya, dia bisa menikmati pergantian tahun dengan wanita yang dicintainya.
Dan sebuah janji terucap. Jika mulai hari ini, dia akan melakukan segala sesuatu yang terbaik untuk seterusnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara tangis bayi terdengar memenuhi ruang bersalin. Sakura dengan napas terengah-engah dan keringat yang mengalir memandang dokter yang sedang membawa bayi miliknya. Kesadarannya tinggal sedikit, dia tidak tahu jika melahirkan rasanya seperti ini.
Seharusnya bayinya lahir bulan depan, tetapi sepertinya bayinya ingin segera menghirup udara di dunia. Kagami sangat panik ketika dirinya mengalami kontraksi tadi. Pria itu segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Tatsuya yang sedang berada di Akita akan segera sampai.
Selamat nyonya, bayinya laki-laki.
Sakura menerima bayinya yang berambut biru dan berkulit sedikit gelap. Sepertinya gen milik Aomine banyak menurun pada putranya daripada dirinya. Jadi, seperti inikah sosok putranya? Manis sekali.
Dia mirip sekali dengan Aomine. Semoga saja sikap menyebalkan milik ayahnya tidak menurun padanya. Kagami menggenggam tangan mungil bayi dihadapannya.
"Kau kejam sekali, Kagami-kun.
Menolehkan kepalanya, Kagami melihat Kuroko yang berdiri di sampingnya dan menatapnya dengan pandangan datar.
"Kau- sejak kapan ada disini?! Kagami benar-benar terkejut dengan kedatangan Kuroko. Rasanya sudah lama dia tidak merasakan perasaan ini."
Sudah dari tadi, yang lain juga akan datang sebentar lagi.
"Suara keributan terdengar di luar ruang bersalin milik Sakura. Kagami yakin jika kepalanya akan terasa sakit setelah ini."
"Ayo, cepatlah! Aku ingin segera melihat bayi Sakura-cchi!"
"Ryouta, jangan berteriak di dalam rumah sakit."
"Kau masih saja berisik, Kise."
"Mou, kau juga sama saja, Midochin."
Benar saja, sekumpulan Kiseki no Sedai-minus Aomine- datang. Kagami merasakan kepalanya mulai pening melihat sekumpulan grup demo ada dihadapannya.
"Selamat, Sakura-cchi! Bayinya lucu sekali! Kise memandang Sakura yang sedang menggendong bayi mungilnya. Bolehkah aku menggendongnya?"
"Jangan macam-macam, Kise. Bisa-bisa bayi Sakura kesurupan jika kamu menggendongnya". Midorima buka suara.
"Hiddoi! Midorima-cchi jahat sekali!"
"Akachin, aku lapar."
"Siapa namanya, Sakura?" tanya Akashi, menghiraukan keributan yang dibuat teman-temannya.
"Aku sudah memikirkan satu nama untuknya."Sakura menerawang jauh. Nama yang sudah aku siapkan, nama yang membuatku akan mengingatnya meski kami tidak bersama lagi.
Sakura tersenyum.
"Namanya Aozora. Haruno Aozora."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Selamat hari raya idul Fitri! Saya Aomine Sakura meminta maaf lahir dan bathin apabila ada kata-kata atau cerita yang kurang berkenan telat banget- -_-
Maapkeun baru bisa update dan ini terlalu lama. Lamaaaaaa sekaliii..
Huhuhu, apalah daya. Sebelum hari raya sibuk dengan UAS, terus sibuk dengan hari raya dan Saku melancong kesanakemari dan baru bisa memegang cerita untuk dilanjutkan akhirnya-
Daaaaan, terima kasih untuk yang sudah memberikan Review di kolom review. Silahkan tinggalkan review yang banyak ya!
Sampai ketemu di chap depan!
-Aomine Sakura-
