Chapter 10
Completed Family
"Sayang, membuat anak itu tidak mudah. Tidak langsung jadi sekali membuat. Setelah itu, perlu waktu sekitar sembilan bulan untuk mengandung." Yunho berbicara serius.
"Itu juga aku tahu. Oleh karena itu, kita harus terus berusaha," ujar Jaejoong santai.
Changmin terkekeh di jok belakang. Ia sudah tidak sabar untuk mendapatkan seorang adik. Akan seperti apa adiknya nanti? Apakah absurd seperti ibunya atau kalem seperti ayah tirinya?
.
.
.
"Sayang, kemarilah!" Yunho memanggil istrinya untuk duduk di sampingnya di atas tempat tidur.
"Ada apa?" Jaejoong bertingkah sangat imut. Ia mengenakan gaun tidur yang sangat minim. Ia menggigit bibirnya yang merah merekah untuk menggoda suaminya. Ia pun menghampiri sang suami.
Yunho tetap bersikap tenang. Ia tersenyum. "Malam ini aku ingin bicara banyak denganmu."
"Hanya bicara?" Jaejoong berpura-pura kecewa. Ia sudah berdandan cantik untuk suaminya malam ini, tetapi sang suami hanya ingin berbicara dengannya.
Yunho mengangguk. Ia menepuk tempat kosong di sampingnya, mengisyaratkan sang istri untuk duduk di sana.
Jaejoong mencoba untuk tidak bersedih. Ia duduk bersandar pada bahu suaminya. Setelah sekian lama menjanda, ia kini punya bahu untuk bersandar. Ia tidak kesepian lagi. Ia merasa sungguh bahagia. Ia bersyukur Tuhan masih memberinya kesempatan untuk mencintai dan dicintai.
"Kau tahu, Jae?" Yunho membuka pembicaraan.
"Tidak, kau kan belum mengatakan apa-apa." Jaejoong mendongakkan kepalanya, menatap suaminya.
"Sebenarnya sudah sejak lama aku memendam perasaanku kepadamu." Akhirnya Yunho bisa mengatakan hal ini, hal yang selama ini ia pendam sendirian selama bertahun-tahun.
"Sejak kapan, hmm?" Jaejoong kembali menyandarkan kepalanya.
"Sejak aku masuk SMA," jawab Yunho. Ia tersenyum mengenang masa lalunya.
Jaejoong mengangkat kepalanya. Ia menatap suaminya heran.
Yunho tersenyum lebar melihat kebingungan di wajah istrinya. "Ya, saat aku masuk SMA sembilan belas tahun yang lalu."
Jaejoong menatap Yunho dengan serius. Ia sulit memercayai suaminya itu.
"Saat aku memasuki gerbang sekolah untuk pertama kalinya, aku melihatmu. Mataku tak bisa berkedip saat melihatmu. Kau adalah gadis tercantik yang pernah kulihat." Yunho mulai bercerita. Ingatannya terbang ke masa lalu.
"Aku menempuh pendidikan SMP di sekolah khusus laki-laki. Aku sangat jarang bertemu anak perempuan," lanjut Yunho. Dulu ia adalah anak yang lugu. "Sekalinya aku melihat seorang gadis, yang kulihat adalah gadis yang sangat cantik. Kulitnya sangat putih bersinar terkena sinar mentari, rambutnya yang panjang berwarna hitam legam, dan bibirnya merah alami."
"Saat masih bocah kau sudah mata keranjang," komentar Jaejoong. Menurutnya kebanyakan pria memang seperti itu, tak terkecuali suaminya.
Yunho tidak menyangka Jaejoong berkomentar seperti itu. Tidak, ia tidak seperti yang Jaejoong katakan. "Saat itu aku berpikir bahwa aku hanya berhalusinasi. Tidak mungkin ada makhluk sesempurna itu. Itu pasti hanya imajinasiku."
"Jangan-jangan yang kau lihat memang hantu. Hihihi!" Jaejoong berkomentar lagi. Ia menirukan suara hantu.
"Ya, kupikir sekolah baruku itu berhantu," timpal Yunho. Ia tersenyum melihat tingkah istrinya yang berpura-pura menjadi hantu. "Namun, aku melihat gadis itu lagi dan kali ini hantu cantik itu mengobrol dengan senior perempuanku di sekolah. Aku pun tersadar bahwa gadis cantik itu bukan hantu, melainkan manusia. Jantungku berdebar-debar saat melihatnya. Hatiku meleleh saat melihat senyuman di bibirnya."
"Pak Guru, kau tidak sedang menceritakan kisah horor, bukan?" celetuk Jaejoong. Jaejoong menutupi wajahnya dengan rambutnya agar mirip Sadako.
"Aku tidak bisa konsentrasi di kelas. Aku terus saja memikirkan gadis itu." Yunho mengingat kembali masa lalunya, masa lalu yang sempat ia kubur dalam-dalam.
"Kau pasti kesurupan." Jaejoong masih belum menyadari bahwa gadis yang diceritakan oleh Yunho adalah dirinya.
"Aku merasa tersiksa oleh perasaanku itu. Setelah seminggu berlalu, aku pun menyadari bahwa aku jatuh cinta kepada gadis itu." Kisah cinta pertama Yunho sangat tragis. Ia membuka kembali luka lamanya.
"Kau tidak seharusnya mencintai gadis itu. Dunia kalian berbeda." Jaejoong berempati kepada Yunho. Ia tahu bagaimana rasanya patah hati.
"Ya, dunia kami berbeda." Hati Yunho terasa sakit saat menceritakan hal ini. "Ia adalah gadis yang sangat populer di sekolah. Ia sangat cantik. Semua orang menyukainya."
Jaejoong menepuk bahu suaminya. "Sudahlah, lupakan gadis itu! Kau sudah punya aku yang pastinya lebih cantik."
Yunho terkekeh. Istrinya itu lucu sekali. "Ya, kau jauh lebih cantik sekarang." Ia merasa lega karena cinta pertamanya itu kini menjadi miliknya. "Gadis yang kuceritakan itu adalah kau."
Jaejoong terdiam. Ia mencoba untuk mengingat-ingat. Ia tidak pernah mengenal siswa yang bernama Jung Yunho di sekolahnya.
"Seberapa keras pun kau mencoba mengingat, kau tak akan pernah ingat siapa diriku." Yunho cukup tahu diri. Ia hanyalah siswa biasanya yang tidak pandai bergaul. "Aku bukanlah siapa-siapa saat itu. Aku hanyalah pengagum rahasiamu. Aku hanya berani menatapmu dari kejauhan. Aku tidak berani mendekat. Banyak pemuda yang mendekatimu. Aku tidak akan sanggup untuk bersaing dengan mereka semua. Aku hanya akan mempermalukan diriku sendiri."
"Kau bodoh! Mengapa kau tidak berjuang untuk mendekatiku sejak dulu?" Jaejoong mengomeli suaminya.
"Aku memang pengecut. Aku hanya berani mengikutimu sepulang sekolah," lanjut Yunho. Ia sampai belajar mengendap-endap ala ninja agar tidak ketahuan.
"Pantas saja aku selalu merasa bahwa ada yang mengikutiku. Rupanya itu adalah kau." Jaejoong merasa senang karena yang mengikutinya ternyata adalah Yunho, bukan kakek tua yang selama ini ia sangka.
"Maaf jika aku membuatmu merasa terganggu." Yunho merasa malu karena telah melakukan hal itu. "Hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengagumimu."
"Mengapa kau tidak berani mendekatiku?" sesal Jaejoong. "Lihatlah dirimu! Kau tampan, tinggi, bertubuh atletis. Kau juga pasti tidak jelek saat masih remaja. Mengapa kau merasa tidak percaya diri?" Banyak di antara pemuda yang mendekatinya yang justru tidak lebih tampan dari Yunho.
Yunho tersenyum getir. Ia merasa malu mengakui betapa pengecutnya dirinya saat itu. "Aku memberanikan diriku untuk menulis surat cinta kepadamu. Namun, sepertinya kau tidak membacanya. Kau membuang surat dariku."
"Itu tidak benar. Aku tidak pernah membuang surat sebelum dibaca. Walaupun banyak pemuda yang kutolak, aku menghargai usaha mereka untuk menulis surat." Jaejoong membantah tuduhan Yunho.
Senyum Yunho penuh luka. "Setelah membacanya kau pasti membuangnya. Isi suratku itu tidak berarti apa-apa bagimu."
Jaejoong menunduk. Ia merasa bersalah. Ia merasa sangat jahat. Ratusan surat cinta ia terima saat SMA. Tidak mungkin ia mengingat semuanya.
"Semalaman aku tidak tidur untuk menulisnya, merangkai kata-kata." Dada Yunho terasa sesak. "Aku sama sekali tidak berbakat merangkai kata-kata. Aku bukanlah pria yang romantis. Aku menulis surat itu di atas kertas berwarna merah muda, bergambar beruang dan gajah. Walaupun kata-kata yang kutulis tidaklah indah, aku berharap kau tersentuh saat melihat kertas suratnya."
"Apakah kau memasukkan suratmu ke dalam amplop yang juga berwarna merah muda, bergambar hati?" Jaejoong menatap mata suaminya.
Yunho membalas tatapan Jaejoong. Ia cukup terkejut Jaejoong mengingat surat darinya. Ia pun mengangguk.
Jaejoong segera bangkit dari atas tempat tidur. Ia membuka lemarinya. Ia mengeluarkan sebuah toples kaca. Di dalamnya ada sebuah amplop berwarna merah muda, bergambar hati. Ia mengeluarkan amplop itu dari dalam toples kaca.
Yunho syok melihat amplop di tangan Jaejoong. Itu adalah amplop suratnya.
Jaejoong berjalan menghampiri suaminya. "Aku menyimpan suratmu selama ini."
Tubuh Yunho membeku. Ia tidak menyangka bahwa Jaejoong menyimpan surat darinya sampai sekarang. Jantungnya berdetak kencang.
Jaejoong tersenyum miris. "Kau sama sekali tidak menuliskan namamu di surat ini." Ia menyerahkan surat itu kepada Yunho. "Kubolak-balik ratusan kali pun, aku tak menemukan identitas pengirimnya."
Dengan tangan bergetar Yunho mengambil amplop suratnya. Ia mengeluarkan secarik kertas berwarna merah muda di dalamnya. Ya, itu adalah tulisan tangannya. Ia tidak menyangka bahwa tulisan tangannya dulu jelek sekali.
"Surat darimu adalah satu-satunya surat cinta yang masih kusimpan. Andaikan saja kau menuliskan namamu di sana, aku akan mencarimu." Jaejoong menyesalkan hal itu.
Hati Yunho mencelos. Bagaimana bisa ia lupa mencantumkan nama pengirim di amplop surat itu? Semalaman ia berjuang untuk menulis surat. Namun, usahanya itu tidak menghasilkan apa pun karena ia lupa menuliskan identitasnya.
Jaejoong menatap Yunho dengan emosi. "Andaikan kau menulis namamu, kita pasti sudah bersama sejak dulu. Hidupku tidak akan seperti ini."
Yunho merasa bahwa semua ini sangat konyol. Permainan takdir sangat konyol. "Ini memang sudah menjadi takdir kita." Ia mencoba berbesar hati dan tersenyum. "Setidaknya kisah cinta kita tidak berakhir seperti Romeo dan Juliet." Ia berdiri dan kemudian memeluk istrinya. "Jika kita bersatu sejak awal, tidak akan ada Changmin." Ia kemudian menatap wajah istrinya itu. "Aku masih bersyukur karena akhirnya kita bisa bersama, walaupun harus menempuh jalan yang berliku terlebih dahulu."
"Aku bertanya-tanya siapa dirimu, seorang pemuda yang mengirimkan surat ini. Ini adalah surat cinta terbaik yang pernah kuterima." Jaejoong membuat sebuah pengakuan. "Aku muak dengan semua rayuan gombal yang dilayangkan kepadaku. Surat darimu yang paling kusukai. Kau hanya menuliskan tiga buah kata, yaitu Sunbae, menikahlah denganku!"
Yunho terkekeh. Surat yang ia tulis sungguh memalukan. "Aku tidak pandai berkata-kata. Aku mencoba untuk menulis puisi, tetapi aku tak bisa. Hanya tiga kata itu yang bisa kutulis."
Jaejoong tersenyum. "Aku bisa merasakan ketulusanmu. Di saat pemuda lain memintaku untuk menjadi kekasih mereka, kau memintaku untuk menikahimu. Itu sangat indah."
"Jika aku menuliskan namaku, apakah kau akan mencariku dan mengatakan 'ya'?" tanya Yunho. Ia menatap mata istrinya.
Jaejoong menghela nafas. "Tentu saja saat itu aku tidak ingin menikah. Aku akan memintamu untuk menungguku."
"Kau tidak mengenalku. Bagaimana jika pemuda yang kau temui itu jelek? Masihkah kau mau menerima cintaku?" tanya Yunho lagi. Ia masih belum bisa percaya bahwa selama ini Jaejoong ternyata menyimpan surat cinta darinya.
"Aku tidak berpikir sampai sejauh itu," jawab Jaejoong sederhana. Pria yang tulus lebih membuatnya tersentuh daripada yang hanya mengandalkan ketampanan. "Apa kau langsung berhenti mengejarku karena aku tak kunjung merespon suratmu?"
"Aku sabar menantimu, Sunbae. Aku tetap menjadi pengagum rahasiamu, berharap suatu hari kau akan menanggapi suratku," jawab Yunho. Dadanya terasa sangat sesak. Ini adalah bagian yang paling tidak ingin ia ingat. "Namun, sesuatu terjadi. Siang itu aku mengikutimu ke taman. Aku mengawasimu di balik semak-semak. Kau tampak sedang menunggu seseorang. Lalu pemuda itu datang menemuimu. Kau tampak sangat gembira bertemu dengannya. Seketika hancurlah perasaanku. Semua harapanku sirna."
Jaejoong menyesali hal itu. Ia tahu bagaimana perasaan Yunho. "Maafkan aku!"
"Itu adalah cinta pertamaku. Rasanya terlalu menyakitkan. Aku tak sanggup untuk menahan rasa sakitnya." Yunho terlihat emosional. "Aku benar-benar terpuruk. Aku mengunci diriku di kamar. Aku hanya keluar kamar untuk pergi ke sekolah. Orang tuaku sampai khawatir."
"Seburuk itukah?" Jaejoong cukup terkejut mendengar pengakuan Yunho.
Yunho mengangguk. "Saat itu aku masih bocah. Aku menghabiskan waktuku dengan belajar dan melakukan aktivitas fisik secara berlebihan. Aku melakukan semua itu agar aku tidak terus mengingat dirimu. Dalam waktu beberapa tahun akhirnya aku bisa melupakanmu. Aku tidak ingat lagi nama dan wajahmu."
Jaejoong tidak tega mendengar cerita Yunho. Ia tidak ingin membayangkan apa saja yang Yunho lakukan untuk melupakan dirinya.
Jaejoong memeluk suaminya dengan erat. "Yunho, aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu." Yunho membalas pelukan Jaejoong.
"Aku lebih mencintaimu." Jaejoong menyembunyikan wajahnya di dada suaminya.
"Aku juga." Yunho tersenyum. Ia sangat bahagia saat ini. Semua rasa sakit hati yang ia rasakan sebelumnya telah terbayar.
"Tidak, aku yang lebih mencintaimu." Jaejoong tidak setuju dengan pernyataan Yunho. Ia menatap suaminya dengan tajam.
Perasaan Yunho mulai tidak enak. Ia tidak ingin berdebat dengan istrinya itu. "Baiklah, cintamu lebih banyak daripada cintaku."
"Oh, jadi cintamu kepadaku hanya sedikit?" ketus Jaejoong. Ia menyilangkan tangannya di dada.
Yunho mulai kebingungan untuk membalas perkataan Jaejoong. "Sayang, kau terlalu banyak bicara." Ia pun mencium istrinya itu dengan panas. Ia tidak pandai bicara, apalagi melawan Jaejoong.
"Ah, Yunho!" Jaejoong menyerah. Pria itu memang pandai membuat dirinya melayang.
.
.
.
Rumah tangga Yunho dan Jaejoong berjalan dengan bahagia. Perbedaan sifat mereka kadang-kadang menimbulkan perdebatan, tetapi Yunho selalu bisa menjinakkan istrinya yang liar itu. Jaejoong juga lebih sering mengalah. Ia tidak ingin rumah tangganya kembali mengalami kegagalan. Ia tidak ingin kehilangan Yunho. Ia sangat mencintai pria itu. Ia lebih menekan egonya kali ini.
Tahun ajaran hampir berakhir. Sebentar lagi Changmin akan menghadapi ujian kelulusan dan lulus dari SMA. Sebagai orang tua Changmin, Yunho merasa perlu memperhatikan masa depan putranya itu. Sampai saat ini ia belum tahu rencana Changmin selanjutnya setelah lulus SMA.
Setelah makan malam Yunho memanggil putranya untuk berbicara di ruang keluarga. "Nak, saatnya kita bicara mengenai masa depanmu." Ia tampak serius.
Changmin merasa sangat gugup. Suatu saat kedua orang tuanya harus tahu mengenai keinginannya untuk kuliah di luar negeri, tetapi ia tidak menyangka bahwa Yunho akan menanyakannya malam ini.
Yunho melihat kekhawatiran pada wajah Changmin. "Katakan saja kepada kami! Kau tidak perlu takut."
Akhirnya Changmin berani menatap ayah dan ibunya. "Aku ingin kuliah di luar negeri."
Sudah lama Jaejoong memiliki firasat bahwa Changmin akan memilih jalan ini. Putranya itu sangat jenius. Changmin harus mendapatkan pendidikan yang terbaik di universitas terbaik, apalagi ia melihat perubahan sikap putranya itu. Putranya itu menjadi lebih dewasa dan serius belajar.
Jaejoong juga merasa sangat gugup. Akankah ia sanggup untuk berpisah dengan putra kesayangannya itu? Selama bertahun-tahun hanya Changminlah yang ia miliki. Ia harus berjuang sendirian membesarkan putranya itu setelah kedua orang tuanya tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.
Jaejoong merasa sedih, tetapi ia tidak boleh menunjukkan kesedihannya itu di hadapan Changmin. Ia tidak ingin menjadi penghalang bagi putranya dalam meraih cita-cita. Ia tahu bagaimana rasanya tidak bisa meraih cita-cita. Ia gagal melanjutkan sekolahnya di bidang pastry karena ia harus menikah. Ia pun tersenyum. "Ibu senang mendengarnya. Ibu bisa menyombong di hadapan teman-teman ibu, terutama Ny. Bae. Hahaha!"
Changmin tahu bahwa ibunya hanya pura-pura tertawa. Ia sangat mengenal ibunya itu. Namun, ia merasa lega karena ibunya merestui keputusannya itu.
"Apakah kau sudah menentukan universitas mana yang akan kau pilih? Kita harus menyiapkan berkas-berkas pendaftarannya dan ujian masuknya," ujar Yunho. Ini adalah pengalaman pertamanya sebagai orang tua yang harus mendaftarkan anaknya masuk sekolah.
"Sebenarnya aku sudah diterima di Universitas Cambridge. Aku menerima surat penerimaan dari sana beberapa bulan yang lalu." Changmin berterus terang. Takut-takut ia mengatakannya. "Tanpa sepengetahuan kalian aku mengikuti ujian masuk secara online dan diterima."
"Apa?" Yunho dan Jaejoong terkejut.
"Mengapa kau tidak memberi tahu kami?" tanya Yunho. Seharusnya ia mengetahui hal ini. "Aku adalah wali kelasmu."
"Aku masih ragu untuk mengambil kesempatan itu. Aku merasa berat untuk meninggalkan ibu sendirian," jawab Changmin. Ia memang pergolakan batin sebelumnya.
Jaejoong merasa terharu oleh penuturan Changmin. Ia memeluk putranya itu. "Kau tidak usah mengkhawatirkan ibu, Nak. Ibu bisa menjaga diri."
Changmin membelai punggung ibunya. "Aku merasa tenang karena ibu sudah menikah dengan pak guru. Kini ada pak guru yang akan menjaga ibu."
Jaejoong menitikkan air matanya. "Walaupun tidak ada pak guru yang menjaga ibu, kau harus tetap pergi. Kejarlah cita-citamu! Buatlah ibu bangga! Ibu tidak akan pernah menyesal melepaskanmu pergi."
"Terima kasih, Ibu. Aku sayang ibu." Changmin tidak bisa menahan rasa harunya. Ia sangat bersyukur memiliki ibu seperti Jaejoong. Walaupun ibunya itu terkesan cuek, ia tahu bahwa ibunya itu sangat menyayangi dirinya. Ia juga merasa sedih karena harus berpisah dengan ibunya. Namun, membuat ibunya bangga lebih penting. Ia harus kuat meninggalkan ibunya.
"Aku juga jadi ikut sedih." Ny. Jung yang sejak tadi diam saja ikut terbawa suasana.
Yunho membelai punggung ibunya. Ia tahu bahwa ibunya itu juga menyayangi Changmin, meskipun Changmin hanyalah cucu tiri.
.
.
.
Yoochun sangat merasa tidak nyaman. Entah mengapa Junsu marah kepadanya. Wanita itu seringkali menghindarinya dan tidak mau berbicara dengannya. Apakah ia mempunyai salah kepada wanita itu? Memangnya apa yang telah dilakukannya, sehingga Junsu marah kepadanya?
Yoochun melihat Junsu berjalan menuju ruang guru bersama guru lain. Mereka baru selesai mengajar. Selagi ada kesempatan ia pun berlari menghampiri Junsu. "Bu Guru Kim, bisakah kita bicara sebentar?"
Perasaan Junsu terasa sakit setiap kali melihat pria berdahi lebar itu. "Ya, Pak Guru Park. Silakan katakan saja!"
Yoochun melirik guru yang sedang bersama Junsu, seolah ia menyuruh guru itu untuk enyah dari hadapannya. "Bisakah kita berbicara berdua saja?"
Junsu tidak ingin berbicara berdua saja dengan Yoochun. Ia pasti akan menangis lagi. "Aku sedang bersama Bu Guru Han. Kau katakan saja sekarang."
Bu Guru Han merasa tidak enak, apalagi Yoochun menatapnya dengan tajam. "Uhm, Bu Guru Kim, aku baru ingat bahwa ada yang harus segera kukerjakan. Aku pergi duluan ya!" Ia bergegas meninggalkan Junsu bersama Yoochun.
Junsu hanya melongo memandang temannya yang berlari meninggalkannya. Mengapa temannya itu tega sekali meninggalkannya?
"Mengapa kau menghindariku?" Nada bicara Yoochun terdengar serius. Tidak pernah ia bicara seserius ini.
Junsu cukup terkejut mendengar nada bicara Yoochun itu. "Memang apa pengaruhnya untukmu? Memangnya aku ini siapa?"
Yoochun menatap wanita di hadapannya itu dengan lekat, membuat wanita itu tersipu malu. "Kau adalah teman baikku. Kaulah yang paling mengerti diriku. Hanya kepada dirimulah aku bisa berkeluh-kesah."
Teman? Jadi, Yoochun hanya menganggapnya teman selama ini? Junsu merasa sakit hati. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya lagi. "Kau sangat keterlaluan, Pak Guru! Jadi, saat kau ditolak oleh para wanita yang kau kejar, kau akan mencariku dan mengeluh kepadaku? Kau sangat tidak berperasaan."
Yoochun tidak mengerti mengapa Junsu marah kepadanya. Apakah yang dilakukannya itu salah? Apa selama ini Junsu tidak suka ia mengeluh kepada wanita itu?
Rasanya Junsu ingin mencakar-cakar wajah Yoochun. Ia merasa sangat kesal dan ingin meluapkan semua kekesalannya itu. "Mengapa kau mengejar-ngejar para wanita itu, padahal ada aku yang selalu ada di saat dirimu membutuhkanku. Saat kau ditolak oleh seorang wanita, aku selalu ada untuk menghiburmu. Mengapa tidak pernah sekali pun kau memandangku?" Ia sudah tidak bisa menahan air matanya. Ia pun berlari meninggalkan Yoochun.
Yoochun masih bingung mencerna kata-kata Junsu. Junsu adalah wanita yang sangat istimewa di matanya. Ia tidak bisa menggoda wanita itu karena ia merasa segan dan menghormati Junsu. Junsu terlalu berharga untuk digombali. "Apa itu artinya ia menyukaiku?" Tanpa sadar ia tersenyum.
.
.
.
Ini adalah hari Minggu. Seperti biasa Jaejoong memasak untuk keluarganya. Ia memasak sambil bersenandung. Rasanya bahagia sekali bisa memasak untuk keluarga tercintanya. Pada hari Minggu ia tidak pergi ke toko kuenya. Ia memilih untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya, apalagi sebentar lagi Changmin akan pergi meninggalkannya ke luar negeri. Selagi ada kesempatan ia ingin menghabiskan waktu bersama anak kesayangannya itu.
Aroma lezat masakan menyeruak ke dalam hidungnya. Entah mengapa hal itu membuat Jaejoong merasa mual. Ia pun muntah di tempat cuci piring. "Sepertinya aku masuk angin."
"Jae, kau kenapa?" Ny. Jung yang baru masuk ke dapur melihat menantunya itu mengeluarkan keringat dingin. "Apa kau sakit?"
Jaejoong merasa lemas setelah muntah. "Aku merasa kurang sehat. Sepertinya aku masuk angin. Bu, bisakah ibu melanjutkan masakanku? Aku ingin beristirahat di kamar."
Ny. Jung merasa khawatir dengan keadaan menantunya itu. "Beristirahatlah! Ibu akan menyelesaikan masakanmu."
Ny. Jung merasa sedikit heran. Sahabatnya itu sangat jarang sakit selama ini, walaupun bekerja sangat keras di toko kue. Mengapa setelah menikah dengan putranya, Jaejoong jatuh sakit? Aha! Sesuatu terlintas di pikirannya. Mungkinkah menantunya itu sedang hamil? Asyik! Ia akan mendapatkan cucu baru yang bisa ia timang-timang. Hmm, tetapi ia tidak ingin terlalu cepat menyimpulkan. Bisa saja Jaejoong hanya masuk angin.
.
.
.
Ny. Jung menyajikan makanan di atas meja untuk sarapan. Anak dan cucunya baru pulang joging di sekitar komplek rumah mereka.
"Ibu mana, Nek?" Changmin tidak melihat ibunya di ruang makan.
"Ibumu merasa tidak enak badan. Ia sedang beristirahat di kamar," jawab Ny. Jung. Ia menata makanan sendirian. Biasanya ia melakukan hal itu dengan menantunya.
Mendengar jawaban ibunya, Yunho segera pergi ke kamar untuk melihat keadaan istrinya. Saat ia berpamitan untuk pergi joging bersama Changmin, istrinya itu terlihat sehat. "Jae Sayang, kau kenapa? Apa kau sakit?" Ia duduk di tepi tempat tidur.
"Yunnie, kepalaku pusing," rengek Jaejoong. Ia tidak mempunyai cukup tenaga untuk bangun. "Aku merasa lemas setelah muntah."
Yunho sangat khawatir mendengar penuturan istrinya. "Ayo kita segera pergi ke dokter!"
"Gendong!" Jaejoong bersikap sangat manja.
.
.
.
Changmin merasa sangat resah menunggu kepulangan ibunya dari dokter. Selama ini ibunya jarang sakit. Ia takut ibunya sakit parah. Ia melirik ke arah neneknya yang terlihat sangat tenang. "Mengapa nenek terlihat tenang-tenang saja dan tidak merasa khawatir?"
"Untuk apa merasa khawatir? Paling ibumu itu sedang hamil." Ny. Jung terkekeh.
Changmin memandang neneknya dengan serius. "Bagaimana nenek bisa seyakin itu?"
"Tentu saja aku tahu. Hahaha!" Ny. Jung merasa senang karena ia akan mendapatkan cucu baru.
Changmin tersenyum. "Akhirnya aku akan punya adik." Ia melompat kegirangan di atas sofa.
"Eh, turun dari sofa!" Ny. Jung memarahi Changmin. "Tubuhmu itu besar sekali. Sofanya bisa roboh jika kau melompat-lompat di atasnya. Nanti kau jatuh."
Changmin turun dari atas sofa dan memeluk neneknya. "Nenek, aku senang sekali!"
"Ya, aku tahu," balas Ny. Jung. Ia juga merasakan hal yang Changmin rasakan. "Akan tetapi, kita harus berpura-pura tidak tahu sebelum mereka memberi tahu kita. Saat mereka memberi tahu kita, kita harus pura-pura terkejut."
Changmin mengangguk tanda mengerti. "Aku senang karena ibu akan mendapatkan penggantiku saat aku berada jauh."
"Kau jangan berbicara seperti itu," ujar Ny. Jung. Perkataan Changmin terasa kurang enak didengar. "Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hati kami. Walaupun aku akan mendapatkan cucu baru, yang benar-benar cucu kandungku, aku akan selalu menyayangimu. Kasih sayang kami kepadamu tidak akan berubah."
"Aku tahu. Aku hanya senang karena ibu akan mempunyai pelipur lara saat sedih karena teringat kepadaku." Changmin menjelaskan. Neneknya itu tampak salah paham memaknai perkataannya.
.
.
.
"Kami pulang!" Jaejoong terdengar sangat riang saat sampai di rumah. Ia sudah tidak terlihat sakit.
"Ibu sakit apa? Apa ibu baik-baik saja?" Changmin berpura-pura khawatir. "Aku sudah membuatkan jus buah untuk ibu agar ibu tetap fit."
Jaejoong tersenyum lebar. "Aku punya kabar baik."
Changmin dan Ny. Jung saling pandang. Mereka pura-pura tidak tahu. "Apa itu, Bu?"
"Coba tebak!" Jaejoong tidak ingin memberitahukannya langsung.
"Hmm..." Changmin terlihat berpikir. "Ibu menemukan uang di jalan."
"Salah!" Jaejoong cukup kecewa oleh jawaban Changmin yang asal-asalan.
"Lalu apa? Sama sekali tidak terpikirkan olehku," ujar Changmin. Ia terus berpura-pura.
"Kalau kau tidak bisa menebaknya, kau tidak boleh makan malam," ancam Jaejoong. Ia tersenyum jahat.
"Ah, ibu pasti membeli makanan enak!" Changmin melihat bungkusan di tangan Yunho. "Dari aromanya itu pasti daging panggang."
"Ya, kami membeli daging panggang setelah dari dokter." Yunho menunjukkan bungkusan yang dibawanya.
"Asyik, tebakanku benar!" Changmin bersorak. Ia mengambil bungkusan daging panggang dari tangan Yunho.
"Tunggu dulu!" Jaejoong mencegah Changmin untuk membuka bungkusan itu. "Bukan itu kabar baik yang aku maksud."
"Lalu apa?" Changmin berpura-pura kesal. "Ayah dan ibu pulang membawa daging panggang adalah kabar baik untukku."
"Kami membeli daging panggang untuk merayakan kabar baik itu," ujar Jaejoong. Ia berharap Changmin mendapatkan petunjuk.
"Aku tak peduli. Yang penting aku bisa makan daging panggang." Changmin tertawa di dalam hati.
Jaejoong mulai merasa kesal. Ingin rasanya ia memukul kepada anaknya itu, tetapi ia tidak bisa melakukannya. Yunho pasti akan memarahinya dan membela Changmin.
"Jae, sebaiknya kau katakan saja. Changmin sepertinya tidak akan bisa menebaknya." Yunho mencoba untuk mengendalikan situasi.
"Baiklah, aku akan mengatakannya, tetapi daging panggang ini aku ambil kembali." Jaejoong merebut bungkusan daging panggang dari tangan Changmin.
Changmin tidak rela Jaejoong mengambil kembali daging panggang itu. "Baiklah, aku akan menebak dengan benar. Dokter pasti mengatakan bahwa ibu sedang hamil. Tebakanku benar, bukan?" Ia tampak sangat percaya diri. Jika tebakannya salah, ia akan menyalahkan neneknya. Neneknya itu harus bertanggung jawab karena telah membuatnya tidak bisa makan daging panggang.
Jaejoong menatap Changmin. "Bagaimana kau bisa tahu?"
"Sebenarnya aku sudah tahu. Itu mudah sekali. Ibu yang jarang sakit tiba-tiba muntah setelah menikah," jawab Changmin. Ia terlihat angkuh.
"Lalu mengapa kau berpura-pura tidak tahu?" tanya Jaejoong. Ia memicingkan matanya.
"Nenek yang menyuruhku untuk berpura-pura." Changmin menunjuk ke arah Ny. Jung.
Ny. Jung terkejut karena tiba-tiba Changmin menunjuknya. Anak itu tidak bisa diajak bekerja sama. Hanya demi daging panggang, Changmin tega mengkhianatinya. "Eh, mengapa aku?"
"Kau tidak boleh seenaknya menuduh orang lain." Jaejoong malah memarahi Changmin. "Sebagai hukumannya kau tidak boleh makan daging panggang ini."
Changmin tidak terima. "Tidak bisa begitu. Aku sudah menebak dengan benar."
.
.
.
"Jae, apa kau tidak terlalu kejam kepada anakmu?" Yunho merasa kasihan kepada Changmin yang tidak diizinkan untuk makan daging panggang oleh Jaejoong.
"Biarkan saja dia. Hahaha!" Jaejoong tertawa.
Ny. Jung merasa bersalah. Ini memang salahnya yang menyuruh Changmin untuk berpura-pura tidak tahu. "Ibu tidak bisa makan dengan tenang saat Changmin kelaparan. Aku akan mengantarkan daging ini ke kamarnya."
"Tidak usah, Bu." Jaejoong mencegah Ny. Jung. "Ibu makan saja di sini. Aku yang akan pergi ke kamarnya." Ia mengambil sepiring daging panggang dari tangan Ny. Jung dan pergi ke kamar Changmin.
Yunho dan Ny. Jung hanya saling pandang. Mereka tahu bahwa Jaejoong tidak akan sekejam itu kepada putranya. Cara Jaejoong menyayangi Changmin memang berbeda.
.
.
.
Jaejoong membuka pintu kamar Changmin. Anaknya itu sedang membaca buku. "Jangan belajar terus! Makanlah dulu!" Ia menaruh sepiring daging panggang yang dibawanya di hadapan Changmin.
Changmin menatap daging panggang itu. Ia kemudian menatap ibunya. Ia melihat Jaejoong berlinangan air mata.
"Apa kau pikir aku sekejam itu?" Jaejoong menangis. "Apa kau pikir aku akan berhenti menyayangimu hanya karena aku akan mempunyai anak lagi?"
Changmin berdiri dari kursinya. Ia mengusap air mata di pipi ibunya. "Tidak, Bu. Aku tahu ibu sangat menyayangiku dan akan selalu menyayangiku."
Air mata Jaejoong turun semakin deras. Kepergian Changmin semakin dekat. Ia merasa sedih jika mengingat hal itu.
"Tidak seharusnya ibu menangis. Seharusnya ibu merasa bahagia karena ibu akan mempunyai bayi." Changmin lebih tegar daripada ibunya. "Terima kasih karena ibu mengabulkan keinginanku untuk mempunyai adik. Sayangnya saat adikku lahir nanti aku tidak bisa berada di samping ibu untuk menyambut kelahiran adikku."
"Selesaikan kuliahmu secepat mungkin agar kau bisa segera bertemu adikmu." Jaejoong berpesan. Ia tidak ingin terlalu lama berpisah dengan Changmin.
"Aku akan belajar dengan sungguh-sungguh dan memberi contoh yang baik untuk adikku." Changmin berjanji kepada dirinya sendiri.
Jaejoong menghapus air matanya. "Makanlah! Kau pasti sudah sangat lapar."
"Suapi, Bu!" manja Changmin. Ia merasa sedikit bersalah karena sebenarnya tadi ia berhasil mengambil sepotong daging tanpa sepengetahuan ibunya.
Jaejoong menjitak kepala Changmin. "Kau sudah besar. Makan saja sendiri. Sudah untung aku mengantarkan makanan untukmu."
Changmin tertawa. Ia sudah biasa menghadapi ibunya yang galak itu. Ia bisa merasakan kasih sayang Jaejoong di balik sikap galaknya itu.
.
.
.
Seperti wanita hamil pada umumnya, Jaejoong juga mengidam. Ia ingin menonton kucing berkelahi di atas genting. Ia membawa kucingnya ke atas atap.
"Ibu ke mana? Bukankah ia ingin dibuatkan jus mangga muda?" Changmin sudah membuatkan jus mangga muda untuk ibunya yang sedang hamil. Ia mencari-cari ibunya. "Nek, apa nenek melihat ibu?" Ia bertanya kepada neneknya yang sedang menata pot bunga di halaman.
"Tidak, sejak tadi nenek berada di sini untuk menata pot bunga," jawab Ny. Jung. Ia tampak asyik menyusun koleksi tanaman hiasnya. "Mungkin ibumu sedang beristirahat di kamar."
Changmin pun pergi ke kamar orang tuanya. Ia mengetuk pintu. "Bu, jus mangganya sudah jadi!" Ia tidak mendapatkan jawaban dari dalam. "Hmm, mungkin ibu sedang tidur." Ia pun membawa kembali jus mangganya ke dapur.
Dari dapur Changmin bisa melihat taman belakang melalui jendela. Ada yang aneh. Mengapa ada tangga bersandar di dinding? Siapa yang menaruhnya di sana? Ia pun pergi ke halaman belakang melalui pintu dapur. Ia mendekati tangga tersebut dan melihat ke atas. Betapa terkejut dirinya melihat Jaejoong berada di atap bersama kucingnya. "Bu, apa yang sedang ibu lakukan di atas?" Ia berteriak histeris. "Ayo turun, Bu? Nanti ibu jatuh."
Jaejoong tidak mengacuhkan peringatan Changmin. Ia memandangi kedua kucingnya. "Mengapa kalian malah berpelukan? Aku ingin melihat kalian berkelahi."
"Ayah, tolong! Ibu naik ke atas atap." Changmin memanggil Yunho yang sedang mencuci mobil.
Yunho segera memenuhi panggilan Changmin. Ia syok melihat istrinya bertengger di atas genting. Ia ingat kejadian Jaejoong jatuh dari atap. Ia tidak ingin hal itu terulang lagi, apalagi saat ini Jaejoong sedang hamil. "Sayang, ayo turun! Untuk apa kau naik ke atap? Apakah atapnya bocor? Biar aku yang memperbaikinya."
"Aku tidak mau turun." Jaejoong menggeleng. "Aku ingin melihat kucingku berkelahi."
"Mereka sangat akur. Mengapa ibu menyuruh mereka berkelahi?" Changmin mencoba membujuk ibunya untuk turun.
Yunho tahu bagaimana sulitnya membujuk Jaejoong. Tanpa banyak basa-basi ia naik ke atas genting, menyusul istri tercintanya. Daripada membujuk Jaejoong yang tidak mau turun, lebih baik ia menjaga istrinya di atas.
"Yunnie, apa kau mau ikut menonton kucing berkelahi juga?" Jaejoong bertanya kepada suaminya. Ia senang karena ia tak sendirian.
"Apa pun yang kau lakukan di atas sini, aku akan menemanimu," jawab Yunho. Ia duduk bersila di samping istrinya.
Changmin terkagum-kagum kepada ayah tirinya. Ia merasa sangat yakin ayah tirinya itu sangat mencintai ibunya. Ia tidak salah memilih jodoh untuk ibunya.
.
.
.
Pada tengah hari Jaejoong baru mau turun dari atap. Ia merasa kepanasan dan lelah menunggu kucingnya berkelahi. Dengan hati-hati Yunho membantunya untuk turun.
"Kalau kau ingin naik ke atas atap lagi, beri tahu aku atau Changmin. Jangan naik sendirian!" Yunho berpesan. Ia tidak mungkin melarang keinginan Jaejoong.
"Aku merepotkan ya?" Jaejoong menunduk sedih.
"Tidak, aku hanya khawatir, apalagi kau sedang mengandung. Aku tidak ingin terjadi hal yang tidak diinginkan pada bayi kita," ujar Yunho. Ia harus menjadi suami siaga.
"Oh, jadi yang kau khawatirkan adalah bayi kita, bukan aku?" Jaejoong marah. Moodnya berubah-ubah seketika.
Yunho harus banyak bersabar menghadapi istrinya yang unik itu. "Tentu saja aku juga mengkhawatirkanmu. Kau pernah jatuh dari atap sebelumnya. Aku tidak ingin hal itu terjadi lagi."
Jaejoong tiba-tiba menangis. Moodnya naik turun tak menentu.
Ini adalah pengalaman pertama Yunho berumah tangga. Kadang-kadang ia bingung bagaimana harus menghadapi istrinya itu. "Aku sedih jika kau menangis. Aku merasa tidak berguna sebagai seorang suami. Aku membiarkan dirimu menangis."
Tangis Jaejoong berhenti seketika. Ia memandang wajah sendu Yunho dengan mata bulatnya yang berair. "Maafkan aku!"
Yunho tersenyum. Ia menggenggam tangan istrinya. Bisa dikatakan sikap istrinya itu sangat menguji kesabarannya, tetapi ia tetap mencintai wanita itu. Ia tak mengerti mengapa ia bisa mencintai wanita itu sangat dalam.
.
.
.
"Yunnie, aku membeli gaun tidur baru. Bagus tidak?" Jaejoong mencoba untuk menggoda suaminya.
"Bagus," jawab Yunho. Pakaian apa pun yang dikenakan oleh istrinya pasti akan terlihat bagus.
Jaejoong duduk di atas pangkuan suaminya. Moodnya sedang bagus malam ini. "Uhm, sepertinya gaunnya kekecilan. Aku merasa sesak." Ia menempelkan dadanya ke dada suaminya.
Yunho mulai merasa terganggu. Udara malam ini terasa sangat panas.
"Bisakah kau membantuku untuk melepaskannya? Aku tidak bisa bernafas." Jaejoong semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh suaminya.
Yunho harus menahan diri. Istrinya itu sedang hamil muda. Ia tidak ingin terjadi hal buruk pada bayi mereka.
Berkebalikan dengan Yunho, kehamilannya justru membuat Jaejoong semakin bernafsu. "Yunnie, mengapa kau diam saja? Apa kau tidak ingin membantuku?"
Yunho merasa bingung. Jika ia tidak membantu Jaejoong melepaskan gaun tidurnya, Jaejoong pasti akan marah, tetapi jika ia membantunya, ia takut tak bisa menahan dirinya. Ia pun memutuskan untuk membantu Jaejoong melepaskan gaun tidur itu.
Bersusah payah Yunho menelan air liurnya saat gaun tidur Jaejoong terjatuh ke lantai. Perut istrinya sedikit cembung karena kehamilannya, tetapi wanita itu tetap saja terlihat memesona. Ia kemudian menyelimuti istrinya itu. "Aku tidak ingin kau kedinginan dan masuk angin."
Jaejoong merasa kecewa oleh reaksi suaminya. Ini tidak seperti yang ia inginkan. "Apa kau tak lagi menginginkanku karena sekarang aku gendut?"
Yunho terkejut mendengar ucapan Jaejoong. Tentu saja tidak. Saat ini ia juga menginginkan istrinya itu, tetapi ia harus menahan diri. "Kau sedang mengandung, Sayang. Aku takut membahayakan kandunganmu."
Jaejoong cemberut. "Kau pasti hanya membuat-buat alasan." Ia menangis.
"Tidak, Sayang. Aku pun sangat menginginkanmu malam ini," jujur Yunho. Ia sangat mengagumi kemolekan tubuh Istrinya itu.
"Lalu mengapa kau tidak melakukannya?" balas Jaejoong. Perubahan pada tubuhnya membuat dirinya sedikit tidak percaya diri.
"Aku tidak ingin melakukan hal yang berisiko pada janinmu," ujar Yunho. Ia tidak ingin egois.
"Tidak apa-apa, asalkan kita berhati-hati." Jaejoong membujuk suaminya.
"Baiklah, aku akan melakukannya dengan hati-hati." Yunho menyerah. Ia menyerah pada hasratnya dan bujukan sang istri.
.
.
.
Changmin dan teman-temannya berhasil melewati ujian kelulusan. Seperti perkiraan semua orang, Changmin mendapatkan hasil yang sempurna. Anak itu sangat jenius.
"Akhirnya kita lulus!" Kyuhyun, Minho, dan Jonghyun melompat kegirangan. Mereka susah payah untuk lulus ujian. Selama ini mereka memang kurang serius dalam menghadapi ujian, tidak seperti Changmin.
Changmin tersenyum melihat kegembiraan teman-temannya. Ia belum memberi tahu teman-temannya mengenai rencananya untuk kuliah di luar negeri. Ia merasa berat untuk mengatakan hal itu kepada mereka. Mereka sudah bersama-sama selama tiga tahun. Susah dan senang mereka lalui bersama. Banyak sekali kenangan yang mereka lalui bersama. Mereka dihukum oleh guru bersama-sama, membolos bersama, makan bekal di atap sekolah bersama, dan masih banyak lagi. "Setelah ini apa rencana kalian?"
Kyuhyun, Minho, dan Jonghyun hanya saling pandang. Mereka belum tahu apa yang akan mereka lakukan.
"Apakah kalian akan melanjutkan pendidikan kalian ke perguruan tinggi?" lanjut Changmin. Ia merasa gugup untuk mengangkat topik ini.
"Ayahku pasti akan memaksaku untuk masuk jurusan bisnis, ekonomi, atau manajemen, agar aku bisa melanjutkan bisnis keluarga," ujar Kyuhyun. Orang tuanya adalah pengusaha sukses.
"Pasti keren menjadi seorang mahasiswa, tetapi aku tidak tahu jurusan apa yang akan kuambil," jawab Minho. Ia masih belum menemukan bidang apa yang sesuai untuknya.
"Aku malas melanjutkan sekolah. Aku mau menjadi musisi saja," celetuk Jonghyun. Ia sama sekali tidak tertarik untuk melanjutkan sekolah.
"Sebenarnya aku juga malas," timpal Kyuhyun. Ia baru berani mengakuinya setelah Jonghyun lebih dahulu mengaku. "Apa aku juga jadi penyanyi saja ya? Hehehe. Kita bisa membentuk boyband."
"Kalau begitu, aku ikut kalian saja. Rasanya pasti menyenangkan jika kita tetap bersama." Minho juga ikut termotivasi.
"Bagaimana denganmu, Min?" Jonghyun bertanya kepada Changmin.
"Changmin sudah pasti akan melanjutkan sekolahnya." Kyuhyun menjawab pertanyaan yang ditujukan kepada Changmin. "Sayang sekali jika ia tidak melanjutkan sekolahnya."
"Ya, aku akan melanjutkan sekolahku ke universitas." Changmin masih belum mengatakan universitas mana yang ia pilih.
"Apa kau sudah menentukan universitas mana yang akan kau pilih?" Minho sama sekali tidak berpikir bahwa Changmin akan memilih universitas di negara lain.
Changmin mengangguk. "Ya, aku sudah menentukan pilihan."
"Ke mana?" tanya Jonghyun. "Semoga saja tidak jauh, agar kita masih bisa sering berkumpul. Kau juga bisa menonton konser kami nanti. Hehehe." Ia berharap mereka berempat masih bisa bermain bersama.
"Sayangnya aku akan berada jauh dari kalian," ujar Changmin serius. Ia menatap langit.
Kyuhyun, Minho, dan Jonghyun terdiam. Mereka tidak suka raut wajah Changmin yang serius seperti saat ini. Perasaan mereka mulai tidak enak.
"Di mana?" Kyuhyun memberanikan diri untuk bertanya. Ia berpikir Changmin memilih universitas di luar kota, bukan di luar negeri.
"Inggris, Cambridge," lirih Changmin. Akhirnya ia mengatakannya juga.
"Kau pasti bercanda kan, Min?" Minho tidak ingin memercayai perkataan Changmin.
Changmin menggeleng. "Aku sama sekali tidak bercanda. Bulan depan aku akan berangkat ke Inggris. Paspor, visa, dan tiket pesawatnya sudah siap."
Kyuhyun, Minho, dan Jonghyun memeluk sahabat mereka. Mereka merasa sedih karena harus berpisah dengan Changmin.
"Mengapa kau baru mengatakannya sekarang?" Jonghyun menyesali hal itu. Ia hanya mempunyai waktu satu bulan sampai keberangkatan Changmin.
"Aku..." Dada Changmin terasa sangat sesak. "Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya kepada kalian. Rasanya berat sekali."
"Kau tega, Min." Kyukyun menjitak kepala Changmin pelan. "Apa kau tidak menganggap kami ini sebagai sahabatmu?"
"Kalian sudah seperti saudaraku sendiri. Aku menyayangi kalian." Changmin memeluk ketiga temannya.
"Aku sedih, Min," ujar Minho. Ia juga menganggap Changmin sebagai saudaranya. "Akan tetapi, aku merasa bangga kepadamu. Aku merasa bangga punya teman yang bisa melanjutkan sekolahnya ke luar negeri."
"Aku tidak akan pernah menyesal karena mengenalmu," timpal Jonghyun. Ia mencoba untuk berbesar hati dan menerima keputusan Changmin. "Kami tidak akan pernah melupakanmu. Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah melupakan kami!"
Changmin mengangguk. "Kalian adalah sahabat terbaikku. Aku tidak akan melupakan kalian. Aku akan sering-sering menghubungi kalian. Sekarang teknologi sudah sangat maju. Kita masih bisa berkomunikasi, seakan tidak ada jarak yang memisahkan kita."
.
.
.
Akhirnya, tiba juga saatnya Changmin untuk pergi. Ia diantar oleh keluarganya juga teman-temannya ke bandara. Ia sudah siap untuk meninggalkan orang-orang yang sangat ia sayangi.
Jaejoong terlihat sedih sepanjang perjalanan dari rumah ke bandara. Ia merasa berat untuk melepaskan anaknya itu. Ia mencoba untuk terlihat tegar di hadapan Changmin, tetapi saat hanya berdua dengan Yunho, ia akan menangis tersedu-sedu.
"Setibanya di sana, segera memberi kabar, ya!" Jaejoong berpesan kepada putranya. Ia merapikan kerah baju Changmin.
Changmin mengangguk. "Ibu jangan bersedih terus. Aku akan baik-baik saja." Betapa pun Jaejoong mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya, Changmin bisa merasakannya.
Jaejoong tidak bisa berpura-pura tegar lagi. Ia menitikkan air matanya.
Changmin jadi ikut sedih, padahal ia sudah menyiapkan mentalnya untuk berpisah dengan orang-orang yang ia sayangi. "Jika ibu terus bersedih dan memikirkanku, aku tidak akan bisa belajar dengan tenang di sana. Nanti ibu juga bisa sakit. Ibu harus sehat demi adikku yang ibu kandung."
"Changminnie benar, Jae." Yunho merangkul pundak Jaejoong. "Kau tidak ingin kan ia tidak konsentrasi dalam belajar?"
Jaejoong menguatkan dirinya. Ia menghapus air matanya. "Ibu akan baik-baik saja di sini. Kau juga harus baik-baik di sana."
Changmin mengangguk. Ia kemudian beralih kepada ayah tirinya. "Ayah, tolong jaga ibuku baik-baik!"
Yunho tersenyum kepada Changmin. "Kau tidak perlu khawatir. Percayakan saja ibumu kepadaku!"
"Kami juga akan sering mengunjungi ibumu dan membantunya di toko," ujar Kyuhyun. Ia dan kedua temannya sering membantu Jaejoong di toko. Mereka tidak punya banyak kegiatan setelah lulus SMA. Mereka ternyata tidak main-main saat mengatakan bahwa mereka akan membentuk boyband.
"Terima kasih, Teman-teman! Aku doakan kalian sukses berkarir sebagai boyband." Ucapan Changmin tulus dari dalam lubuk hatinya.
"Kau juga, Kawan." Minho menepuk bahu Changmin. "Semoga sukses dengan studimu di sana."
"Saat kau pulang empat tahun lagi, kami sudah menjadi penyanyi. Ayo kita berjuang bersama-sama!" tambah Jonghyun. Ia yang paling semangat untuk menjadi artis.
"Kau harus segera masuk, Min!" Ny. Jung mengingatkan Changmin.
Changmin memeluk teman-temannya satu-persatu. Ia kemudian memeluk nenek, lalu ayahnya. Terakhir ia memeluk ibunya. Rasanya ia tidak ingin melepaskan pelukannya kepada sang ibu. Sejak lahir ia belum pernah berpisah jauh dari ibunya. Ia merasa berat meninggalkan ibunya. "Jaga diri ibu baik-baik!" bisiknya.
"Kau juga, Sayang." Jaejoong membelai rambut putranya untuk terakhir kali. "Ibu akan menunggu kepulanganmu, Nak!"
Walaupun dengan berat hati, Changmin harus pergi. Ia harus mengejar cita-citanya.
Jaejoong memandang sosok putranya yang semakin menjauh. Tidak terasa putranya kini sudah besar. Anak itu terlihat sangat tinggi. Setelah Changmin menghilang dari pandangannya, ia menangis dengan keras. Ia tidak peduli bahwa tangisannya terdengar oleh orang-orang di bandara.
"Jae Sayang, ayo kita pulang!" Yunho mencoba untuk membujuk istrinya. Ia sampai meminta maaf kepada orang-orang di sekitarnya karena istrinya menangis sangat keras.
.
.
.
Changmin benar-benar menepati janjinya. Ia langsung menghubungi keluarganya di Korea begitu ia sampai di asrama kampus. "Halo, Ibu! Apa ibu masih terjaga?"
Jaejoong terlihat mengantuk, tetapi ia tidak bisa tidur sebelum mendapat kabar dari putranya. Di tempatnya sekarang sudah tengah malam. "Aku tidak bisa tidur. Mengapa kau baru menghubungi?"
"Maafkan aku, Bu! Aku baru sampai di asrama." Changmin mengarahkan kamera ponselnya ke sekeliling kamarnya. "Teman-teman sekamarku sangat baik."
"Syukurlah jika kau mendapatkan teman-teman yang baik. Ibu senang kau sampai di tujuan dengan selamat." Jaejoong merasa lega.
"Sudah dulu ya, Bu! Ibu pasti sudah lelah dan perlu istirahat," ujar Changmin. Ia juga merasa lelah setelah menempuh perjalanan jauh.
"Apa kau tidak ingin berbicara dulu dengan ayahmu?" Jaejoong tidak ingin terlalu cepat mengakhiri percakapannya dengan Changmin. Ia masih ingin melihat wajah tampan anaknya itu.
"Memangnya ayah masih belum tidur?" tanya Changmin. Ia mengira ayah tirinya itu sudah terlelap karena ia tidak melihat Yunho di samping Jaejoong.
"Ia tidak akan tidur sebelum aku tidur," ujar Jaejoong. Ia terkekah."Ia perhatian sekali, bukan? Ia sedang membuatkan susu untukku di dapur. Sebentar lagi ia akan datang. Nah, itu dia!"
"Halo, Ayah!" Changmin menyapa Yunho yang baru kembali dari dapur.
"Halo, Changminnie! Bagaimana kabarmu? Apa kau betah di sana?" balas Yunho. Ia senang bisa melihat wajah Changmin, walaupun hanya dari layar ponsel.
"Aku baik-baik saja. Asrama tempatku tinggal cukup nyaman," jawab Changmin. Ia tidak ingin orang tuanya khawatir. "Ayah, terima kasih karena sudah menjaga ibuku!"
"Itu memang sudah menjadi tugasku. Aku melakukannya dengan senang hati." Yunho tersenyum. "Kau jangan mengkhawatirkan ibumu terus. Kau harus semangat belajar. Buatlah kami bangga!"
"Ya, Ayah!" Changmin menjadi lebih bersemangat setelah berbicara dengan kedua orang tuanya.
.
.
.
Hampir setiap hari Changmin menghubungi keluarganya di Korea. Semakin lama ia semakin sibuk dengan kegiatannya di kampus, tetapi ia tidak lupa untuk mengabari keluarganya.
Changmin ingin mengikuti perkembangan kehamilan ibunya. Ini adalah pertama kalinya ia akan punya adik dari ibunya. Ia tidak bisa mengikuti pertumbuhan adik dari ayahnya. Kali ini ia ingin mengikuti pertumbuhan adiknya. Sesampainya di asrama Changmin mengganti pakaiannya dengan kaus tanpa lengan.
"Min, ternyata bulu ketiakmu sudah panjang. Aku jadi ingin mencukurnya." Bulu ketiak Changmin tidak luput dari perhatian Jaejoong.
Changmin terkejut oleh ucapan ibunya. Ia menyeringai. "Ibu harus menungguku pulang empat tahun lagi untuk bisa melakukannya. Hahaha!"
Jaejoong cemberut. "Dasar! Awas saja nanti saat menjemput kepulanganmu di bandara aku akan membawa gunting. Aku akan mencukur bulu ketiakmu di bandara saat itu juga. Hahaha!"
Changmin merinding mendengar ancaman ibunya. "Sebelum pulang aku akan mencukur habis bulu ketiakku dulu agar ibu tidak bisa mempermalukanku di bandara."
"Hmm..." Jaejoong tampak berpikir.
"Mengapa ibu tidak mencukur bulu ketiak ayah saja?" tanya Changmin. Ia ingin melepaskan diri sebagai target Jaejoong.
"Sudah kulakukan. Aku sudah mencukur habis bulu ketiaknya. Ia tampak pasrah saja saat aku melakukannya, tidak seperti kau yang lari terbirit-birit saat aku ingin mencukur bulu ketiakmu." Jaejoong bercerita. Ia senang mempunyai suami pengertian seperti Yunho.
"Wow! Ayah tabah sekali," komentar Changmin. Ia saja tidak tahan dengan penindasan ibunya itu. "Bu, aku ingin berbicara kepada adikku."
Jaejoong mengarahkan kamera ponselnya ke arah perut buncitnya. "Sayang, kakakmu ingin berbicara kepadamu."
"Adikku Sayang, aku sangat menyayangimu. Walaupun aku tidak bersamamu, aku sangat menyayangimu. Tunggu kakakmu ini empat tahun lagi ya!" Changmin mencium ponselnya. "Bu, apa kalian sudah tahu jenis kelaminnya?"
"Tidak, aku tidak ingin mengetahuinya. Biarlah ini menjadi kejutan. Sejujurnya aku menginginkan anak perempuan, agar aku bisa mendandaninya," ujar Jaejoong. Anak laki-laki tidak bebas untuk ia dandani.
"Bagaimana jika yang lahir adalah laki-laki?" tanya Changmin. Kemungkinan itu bisa saja terjadi.
"Kami bisa mencoba lagi," jawab Jaejoong santai. Ia tidak akan menyerah untuk mendapatkan anak perempuan.
Changmin tertawa. Ia merasa bahagia karena keluarganya baik-baik saja. Sebentar lagi adiknya akan lahir. Ia akan menjadi seorang kakak. Ia sudah tidak sabar menantikan kelahiran adiknya.
.
.
.
Usia kandungan Jaejoong sudah delapan bulan. Ia dan suaminya sudah mulai berbelanja keperluan untuk bayi mereka. "Yunnie, aku ingin semuanya serba warna merah muda."
"Bagaimana jika bayi kita ternyata laki-laki?" komentar Yunho. Ia tidak bisa menebak jenis kelamin bayinya.
"Tidak apa-apa. Aku merasa yakin bahwa bayi kita ini perempuan. Insting seorang ibu biasanya tidak salah." Jaejoong melihat-lihat pakaian bayi berwarna merah muda.
"Jika hanya warna, tidak apa-apa, tetapi kau tidak perlu sampai membeli rok untuk bayi kita," ujar Yunho. Ia melihat istrinya itu memilah-milah rok bayi. "Jika bayi kita laki-laki, roknya tidak akan terpakai."
"Kita masih bisa bisa menggunakannya untuk anak kita selanjutnya." Jaejoong tetap bersikeras untuk membeli rok bayi.
Yunho hanya bisa geleng-geleng kepala. Melahirkan saja belum, istrinya itu sudah ingin punya anak lagi.
Ketampanan Yunho membuat para wanita hamil yang mengunjungi toko pakaian bayi terpesona. Mereka melihat ke arah Yunho. Di antaranya ada yang sangat agresif mendekati Yunho. "Tuan, kau sangat tampan. Aku ingin anakku tampan sepertimu. Maukah kau mengelus perutku? Kumohon!" Wanita itu mengedip-ngedipkan matanya agar Yunho merasa iba.
Yunho kebingungan. Apa ia harus memenuhi keinginan wanita itu? Wanita hamil akan marah jika keinginannya tidak dituruti. Mungkin tidak apa-apa. Ia hanya ingin membantu wanita itu, tidak lebih. Ia tidak berniat macam-macam.
"Hey, apa yang kau lakukan?" Jaejoong tiba-tiba datang. Ia menatap tajam wanita yang mendekati suaminya. "Apa kau merayu suamiku?"
"Jae, kau salah paham." Yunho berusaha menenangkan istrinya.
"Asal kau tahu saja, suamiku itu tidak akan tergoda olehmu. Ia punya istri cantik dan seksi sepertiku. Ia sangat mencintaiku." Jaejoong mengintimidasi wanita itu.
"Sayang, sudahlah! Ia tidak merayuku." Yunho merasa tidak enak kepada wanita itu. "Nyonya, kumohon maafkan istriku!"
"Yunnie, mengapa kau meminta maaf kepadanya? Seharusnya ia yang meminta maaf kepada kita." Jaejoong tidak mau mengalah.
Wanita itu hanya diam. Ia syok karena dimarahi oleh Jaejoong.
Yunho segera membawa Jaejoong keluar dari toko itu. Ia tidak ingin menimbulkan keributan di toko.
Para pengunjung lain berbisik-bisik. "Pria itu sangat tampan, tetapi istrinya galak sekali."
"Yunnie, mengapa kau menarikku keluar dari toko?" Jaejoong protes. "Kita belum membeli apa pun."
"Kita belanja di toko lain saja." Yunho tidak ingin bertengkar. Ia lebih memilih untuk mencari jalan damai.
"Mengapa kau membiarkan wanita itu menggodamu?" Jaejoong merasa sangat cemburu.
"Maaf Sayang, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi." Rasanya percuma ia menyangkal. Jaejoong tidak akan percaya. Lebih baik ia meminta maaf.
Pernikahan menyatukan dua insan yang berbeda. Keduanya harus menyesuaikan diri dengan pasangannya masing-masing. Dari luar Yunho terlihat seperti suami yang takut istri. Ia selalu memenuhi keinginan istrinya. Namun, sesungguhnya ialah yang mendominasi Jaejoong. Ia bisa membuat istrinya itu menurut kepadanya, patuh kepadanya. Itu karena Jaejoong tidak ingin kehilangan dirinya. Jaejoong sampai rela melepaskan toko kuenya demi Yunho.
.
.
.
Kehamilan Jaejoong sudah memasuki bulan kesembilan. Dokter memperkirakan bahwa Jaejoong akan melahirkan dua minggu lagi. Meskipun dua minggu lagi akan melahirkan, Jaejoong masih saja bergerak aktif. Perutnya yang besar sama sekali tidak menghalangi aktivitasnya.
Yunho terkejut melihat istrinya datang ke sekolah untuk mengantarkan bekal makan siang. "Sayang, mengapa kau datang kemari? Seharusnya kau di rumah saja." Yunho membantu istrinya untuk duduk.
Jaejoong membuka kaca mata hitamnya. Penampilannya terlihat glamor, walaupun sedang hamil besar. Ia tetap terlihat seksi, walaupun perutnya buncit. "Aku merasa bosan di rumah. Jadi, aku datang saja kemari. Aku merindukanmu."
Yunho merasa malu disaksikan oleh rekan-rekan kerjanya. "Sayang, kita pergi ke kantin saja. Di kantin masih sepi karena jam istirahat belum tiba."
Yunho menggandeng istrinya ke kantin. Di sana mereka bertemu dengan Junsu.
"Wah, Nn. Kim! Perutmu besar sekali." Sudah lama Junsu tidak berjumpa dengan Jaejoong.
"Ny. Jung Yunho!" ralat Jaejoong. Semua orang harus tahu bahwa ia sudah menikah dengan Jung Yunho.
Junsu tersenyum malu. "Oh iya, benar juga. Kau kan sudah menikah dengan Pak Guru Yunho. Cepat sekali kau hamil ya."
"Kalau kau mau, aku bisa memberikan tips agar bisa cepat hamil." Jaejoong berkata kepada Junsu. Ia tertawa. "Aku juga mendapatkan tips dari ibu mertuaku."
"Apa itu?" Junsu tampak penasaran. "Apa kau minum ramuan herbal?"
"Tidak, bukan itu. Tipsnya adalah olahraga setiap malam. Hahaha!" Jaejoong tertawa semakin keras.
Junsu tidak mengerti maksud Jaejoong. "Olahraga seperti apa?"
"Sudahlah Sayang, kau jangan meracuni pikiran polos Ibu Guru Kim. Ia belum menikah." Yunho harus mencegah istrinya untuk menceritakan rahasia mereka.
"Halo!" Tiba-tiba Yoochun datang ke kantin. "Wah, kau terlihat semakin cantik saja, Nn. Kim!" Ia mulai menggombal.
"Ny. Jung Yunho!" Jaejoong menggebrak meja.
Yoochun terkejut. Ia merinding ketakutan.
Junsu merasa tidak senang oleh kedatangan Yoochun. Ia langsung memalingkan wajahnya.
Yoochun merasa sedih karena Junsu tidak mau melihatnya. "Pak Guru Yunho, kau tampak bahagia dengan istrimu. Bagaimana caranya menaklukkan wanita yang kau suka? Aku sedang menyukai seorang wanita, tetapi ia terus saja menghindar dariku."
"Aduh, perutku mulas!" Jaejoong memegangi perutnya.
"Ny. Jung Yunho, apa kau begitu tidak suka kepadaku sampai melihat wajahku saja kau merasa mulas?" Yoochun merasa tersindir. Mengapa semua wanita kini ingin menghindarinya?
Jaejoong meringis kesakitan. "Sepertinya aku akan melahirkan. Ketubanku pecah."
"Bukankah kata dokter dua minggu lagi?" Yunho mulai panik.
"Aku tidak tahu." Jaejoong mulai berkeringat dingin.
"Ayo kita bawa ke ruang UKS!" seru Junsu.
"Jangan ke ruang UKS!" teriak Jaejoong. "Ke rumah sakit. Aku benar-benar akan melahirkan."
Yunho segera menggendong istrinya. Ia harus segera membawa istrinya ke rumah sakit.
.
.
.
Jaejoong berteriak-teriak di rumah sakit. Ia mencakar-cakar lengan suaminya saat ia dibawa ke ruangan untuk melahirkan. "Yunnie, semua ini salahmu. Kau yang membuatku seperti ini. Kau yang enak, aku yang harus kesakitan seperti ini."
Yunho merasa malu. Orang-orang melihat ke arahnya.
"Aku tidak ingin hamil lagi. Jika kita ingin punya anak lagi, kau saja yang hamil." Jaejoong terus meracau.
Yunho dengan sabar mendampingi istrinya melahirkan. Ia rela dicakar-cakar oleh istrinya. Ia menyaksikan betapa besarnya perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anaknya. Ia tiba-tiba teringat akan ibunya. Ibunya juga pasti berjuang keras mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya. "Sayang, ayo dorong yang kuat! Kau pasti bisa."
"Yunnie, rasanya sakit sekali. Jangan tinggalkan aku!" Jaejoong mencengkeram lengan suaminya dengan kuat.
Yunho mengusap peluh di kening istrinya. "Aku di sini, Sayang. Aku selalu bersamamu."
.
.
.
Jaejoong akhirnya melahirkan dengan selamat. Ia merasa sangat lega. "Yunnie, anak kita perempuan kan?" Ia masih menggenggam tangan suaminya.
"Nyonya, bayi anda laki-laki." Dokter yang membantu persalinan Jaejoong memberi tahu pasangan Yunho dan Jaejoong.
"Yunnie, aku ingin anak perempuan," rengek Jaejoong. Keinginannya belum tercapai.
"Akan tetapi, anak kita laki-laki. Kau tetap harus menyayanginya, walaupun ia bukan bayi perempuan." Yunho memberi tahu istrinya. Baginya anak laki-laki atau perempuan tidak masalah.
"Yunnie, aku ingin anak perempuan. Ayo kita coba lagi!" Jaejoong lupa akan rasa sakitnya melahirkan.
Wajah Yunho memerah seketika. Ia merasa malu karena Jaejoong mengatakan hal itu di hadapan dokter dan perawat.
.
.
.
Walaupun bayinya laki-laki, bukan perempuan seperti yang diharapkannya, Jaejoong tentu saja sangat menyayangi bayinya, buah cintanya dengan pria yang ia cintai. Sekarang ia sedang menyusui bayinya itu untuk pertama kali. "Yunnie, kita belum memberi tahu Changminnie bahwa adiknya sudah lahir."
"Oh iya, benar juga. Aku sampai lupa." Yunho segera menghubungi Changmin. "Semoga saja ia tidak sedang kuliah."
"Ayah, ada apa? Aku baru pulang ke asrama. Hari ini kegiatanku cukup padat." Changmin bercerita. Ia sudah mulai terbiasa dengan kehidupan kampusnya.
"Min, sapa adik barumu!" Yunho mengarahkan kamera ponselnya ke arah Jaejoong dan bayi mereka.
Changmin tercengang. "Bukankah seharusnya ibu melahirkan dua minggu lagi?" Ia merasa sangat bahagia. "Adikku laki-laki atau perempuan?"
"Adikmu laki-laki, Min," jawab Yunho.
"Asyik!" Changmin berseru. "Aku jadi ingin pulang."
"Setelah ini kami akan membuat anak perempuan." Jaejoong tampak bersemangat.
"Semangat, Bu! Aku mendukungmu. Hahaha!" Changmin juga ingin punya adik perempuan.
"Selesaikan dulu studimu!" Yunho berpesan. "Tetap semangat, Nak! Doa kami selalu bersamamu."
"Ia pasti akan menjadi anak yang tampan seperti ayah dan kakaknya. Hahaha!" Changmin mulai narsis. "Ngomong-ngomong, siapa namanya? Apa kalian sudah memberikannya nama?"
"Oh ya, aku lupa." Jaejoong merasa yakin bahwa bayinya adalah perempuan. Jadi, ia tidak menyiapkan nama untuk bayi laki-laki, sedangkan Yunho yang baru pertama kali menjadi ayah lupa bahwa ia harus menyiapkan nama untuk anaknya.
"Ah, kalian payah! Orang tua macam apa kalian, sampai lupa memberi nama anak?" cibir Changmin.
Jaejoong tampak berpikir. "Sebenarnya aku sudah menyiapkan sebuah nama, yaitu Jiyool."
"Hmm, bagus juga. Aku setuju," ujar Yunho. Ia sama sekali tidak punya ide. Jadi, lebih baik ia menurut saja.
"Apa ibu serius? Jiyool adalah nama anak perempuan." Changmin mengingatkan ibunya.
"Benar juga" Yunho juga tidak rela anak laki-lakinya diberi nama perempuan.
"Lalu apa? Aku tidak punya ide. Perlu berbulan-bulan untuk memikirkan nama anak." Jaejoong kebingungan. "Yunnie, apa kau punya ide?"
Yunho menggeleng. "Aku perlu waktu untuk memikirkannya."
"Karena kita berdua tidak mempunyai ide, ya sudah, kita namai Jiyool saja." Jaejoong mengambil keputusan.
"Aku tidak setuju." Changmin menolak dengan keras. "Yang benar saja, adikku yang tampan diberi nama perempuan."
Jaejoong sudah lama tidak mengurus bayi. Ia panik saat bayinya menangis. "Yunnie, dia menangis. Apa yang harus kulakukan?"
"Ia menangis karena ia tidak mau diberi nama perempuan," komentar Changmin. Ia tetap menolak nama yang diberikan ibunya untuk adik laki-lakinya.
Yunho juga terkejut saat bayinya menangis, tetapi ia bisa bersikap tenang. Ia mencoba menggendong bayinya dari pelukan Jaejoong.
"Yunnie, hati-hati!" Jaejoong merasa was-was saat Yunho mencoba untuk menggendong bayi mereka.
Changmin yang melihatnya melalui layar ponsel juga ikut tegang. "Kalian benar-benar payah."
Yunho berhasil menggendong bayinya. Kemudian ia menepuk-nepuk dan mengusap-usap bayinya pelan. Ia berusaha menghentikan tangis bayinya.
"Daripada adik laki-lakiku diberi nama perempuan, biar aku saja yang memberinya nama," ujar Changmin. Ia gemas kepada orang tuanya yang menurutnya payah karena tidak menyiapkan nama untuk adiknya itu. "Aku beri nama ia Moonbin."
"Ia berhenti menangis." Yunho senang karena ia berhasil menghentikan tangis bayinya.
"Ia berhenti menangis karena ia senang dengan nama yang kuberikan," angkuh Changmin.
"Baiklah, kalau begitu, kita beri nama Moonbin saja." Yunho setuju dengan pendapat Changmin. "Bagaimana denganmu, Jae?"
"Aku setuju saja, daripada anakku tidak diberi nama," jawab Jaejoong. Nama Jiyool yang sudah ia pikirkan selama berbulan-bulan bisa ia berikan kepada anak perempuannya kelak. "Moonbin juga bagus."
"Sebenarnya itu nama untuk anak laki-lakiku kelak. Aku saja sudah memikirkan nama untuk anakku yang entah kapan akan lahir, sedangkan kalian sama sekali tidak menyiapkan nama untuk anak kalian yang sudah lahir." Changmin menggeleng-gelengkan kepalanya. "Benar-benar payah!"
Changmin merasa sangat bahagia. Ia merasa keluarganya telah lengkap. Setelah bertahun-tahun hanya hidup berdua dengan ibunya, kini ia mempunyai ayah baru, nenek baru, dan adik baru. Ia juga merasa bahagia karena ibunya telah menemukan cinta yang baru. Bahagia ibunya adalah bahagianya juga.
The End
Akhirnya cerita ini tamat juga. Terima kasih kepada para pembaca yang telah sabar menunggu kelanjutan cerita ini. Mohon maaf jika kami lama mengupdate cerita ini dan mungkin ada bagian-bagian yang tidak memuaskan pembaca. Mohon maaf atas segala kesalahan kami dan kekurangan yang ada pada cerita ini.
anakyunjae: sedang tidak hamil saja Yunho kewalahan, apalagi Jae hamil. Ini chapter terakhir. Selamat membaca!
indy: gantian bagaimana? Jaejoong kan memang mesum. Hahaha! Mohon maaf baru update! Selamat membaca!
flyjung: mungkin kebanyakan fanfiksi Yunjae yang kamu baca seperti itu, Yunho yang lebih agresif dan mesum, sementara Jae malu-malu. Mohon maaf sudah membuat kamu khawatir tentang keberlanjutan cerita ini. Ini chapter terakhir. Selamat membaca!
Guest: hahaha! Mohon maaf chapter terakhir ini tidak terlalu lucu.
S: sudah dilanjutkan. Selamat membaca!
onew's wife: terima kasih atas dukungannya!
babiesyunjae: ini chapter terakhir dan masih ada satu chapter epilognya. Mohon dimaklumi saja kalau Jaejoong agresif. Hahaha!
kucing: mohon maaf baru update! Tidak sampai kembar tiga, tetapi nanti seperti kembar tiga.
Rani: terimakasih! Mohon maaf ya baru update! Selamat membaca. Chapter sebelumnya belum tamat. Tamatnya sekarang. Semoga tidak terlalu mengecewakan.
yong: tentu saja Jae bersemangat untuk mewujudkan permintaan Changmin. Hahaha! Mohon maaf baru update! Selamat membaca!
bornjjeje: chapter ini baru tamat. Semangat! Chapter ini tidak terlalu romantis, lebih fokus pada Changmin.
Guest: secepatnya. Hahaha! Mohon maaf baru update! Selamat membaca!
joongie: who are you? Hahaha! Yang dulu yang mana?
Chwang's: ya, sampai Min punya adik.
hyejinpark: kalau sudah tamat, mau bilang apa? Hehehe. Rencananya dua adiknya Min nanti. Itu pun kalau tidak kebobolan. Hahaha!
tarry24792: terima kasih ya! Mohon maaf baru update! Selamat membaca!
saaa: banyak yang mengira ceritanya sudah selesai, padahal masalah utamanya masih belum tersentuh.
PhantomYi: Changmin sudah dapat adik baru. Mohon maaf baru update! Selamat membaca!
kimjaejoong309: betul sekali. Hehehe!
Insoo: Changmin juga sekarang punya adik baru.
Triia: sst, jangan terang-terangan menulis itu! Hahaha!
ryukey: sebanyak apa?
min: maunya berapa? Hehehe. Mohon maaf ya baru update! Selamat membaca!
MyBooLoveBear: terimakasih juga sudah membaca cerita ini.
meybi: tentu. Hahaha!
mikha: seperti judul lagunya TVXQ ya. She got that something. Hehehe.
Misscel: sudah ada obatnya, jadi meriangnya sembuh. Hahaha! Ya, rencananya sampai Min punya adik.
cassieyeopo: ya, benar sekali.
park yooeun: kalau bisa, membaca fanfiksi rating M jangan ditempat umum ya! Hehehe. Bisa berbahaya. Mohon maaf baru update! Selamat membaca!
lala: mohon maaf baru update!
Guest: hahaha! Kesan nya horor ya.
marr: orang tua Jae sudah meninggal, sehingga tidak diceritakan lagi.
ELFKyu: senangnya.
mia cho: mohon maaf baru update! Selamat membaca!
Namechanz21: terima kasih!
Guest: terima kasih kembali! Maaf baru update! Selamat membaca!
ik27: tidak ada konflik lagi, tinggal penyelesaian masalah.
Key'va: Yunho juga bisa mengimbangi keagresifan Jae.
Guest: ya, Yunho terburu-buru memutuskan untuk berkencan dan bertunangan dengan Gyuri. Salah Yunho. Jangan salahkan gyuri! Hahaha!
Guest: masih ada kelanjutannya.
Kjjjyh: tidak perlu ditunda lagi. Hahaha!
siria: mohon maaf baru dilanjutkan! Selamat membaca! Ya, saya sedang menikmati pekerjaan saya.
R: tidak, Yunho sangat pengertian.
Ray: saya bilang akan lanjut menulis, belum meng-update. Mohon maaf sudah menunggu lama! Ini dilanjutkan. Selamat membaca!
Guest: update!
bornfreejjeje: lanjut!
Guest: mohon maaf baru dilanjutkan! Selamat membaca!
myjeje: sekarang. Selamat membaca!
