Hansol menghampiri gadisnya yang masih enggan berpindah dari tempatnya berdiri. Sepertinya Seungkwan masih marah perihal dirinya yang tidak memberikan izin kepadanya untuk menjadi pelatih vokal. Hansol memeluk gadisnya dengan erat, sedangkan yang di peluk hanya berdecak sebal. Bagaimana tidak sebal, saat dirinya sedang asik dengan murid-muridnya tiba-tiba saja pemuda yang memeluknya ini menelponnya untuk segera kemari –ke apartment Hansol.


-gimmelatte-

PRESENT

Interesting Feeling

.

Cinta pandangan pertama adalah sesuatu yang mustahil untuk seorang Kwon Soonyoung. Namun saat bertemu dengan gadis mungil yang menarik perhatiannya, akankah Kwon Soonyoung menarik semua perkataan itu?

.

Kwon Soonyoung x Lee Jihoon

Slight! Jishua (JihoonxJoshua), Cheolhan, Junhao, Meanie

.

Genre : romance, sad

Rated : T

.

WARNING

Typo(s), genderswitch, au, alur tidak menentu.


"Sayang kau kenapa?" Seungkwan masih diam. Tak menjawab pertanyaan Hansol. Sekarang ia sedang kesal terhadap pemuda yang memeluknya ini. Alasan yang menurut Jihoon tak masuk akal itu sekarang ia rasakan juga. Jadi buat apa dirinya di sini? Menemani pemuda blasteran ini? Oh, tentu Seungkwan sedang tidak mau menemaninya. Walaupun kenyataannya dia sudah menerima permasalahan kemarin dengan Hansol, tetap saja, ada rasa tak mau menemani pemuda yang memeluknya ini. Egois memang. Itulah Boo Seungkwan.

"Hei, jawab aku." Hansol melepaskan pelukannya dan menangkup pipi tembam gadisnya. Seungkwan masih mengatupkan bibirnya. Di luar sedang hujan deras, ia khawatir dengan Jihoon.

"Kau ini kenapa, Boo Seungkwan?"

"Di luar hujan dan Jihoon unni pasti kehujanan sekarang." Seungkwan berujar dengan penuh penyesalan.

"Tenang saja, dia tak akan kehujanan kok."

"Tidak mungkin tidak kehujanan, bodoh." Seungkwan menatap tajam iris biru Hansol.

"Percaya padaku, ia tak mungkin kehujanan."

"Bagaimana aku bisa percaya, hah?!" Seungkwan meninggikkan suaranya, membuat Hansol bergidik ngeri. Apabila Seungkwan sudah marah, pemuda blasteran ini akan kalang kabut sendiri untuk meredakan emosi Seungkwan.

Tiba-tiba saja bel apartment Hansol berbunyi, membuat pemuda blasteran itu tersenyum senang. Akhirnya ada juga yang menyelamatkan dirinya dari amukkan yang akan di lakukan oleh sang kekasih. Hansol segera berlalu meninggalkan Seungkwan menuju pintu apartmentnya. Senyumnya mengembang saat melihat sepupunya itu datang.

"Bagaimana? berhasil?" pemuda di depan Hansol mengangguk mantap. Seungkwan mengerutkan keningnya saat melihat pemuda yang sering di ceritakan oleh Jihoon ada di depan matanya.

"Loh, Soonyoung oppa?"

"Oh, hai, ada kau di sini rupanya." Soonyoung melepas sepatunya kemudian mengganti dengan sandal rumah.

"Sekarang kau tanyakan padanya, apa unni tersayangmu itu kehujanan atau tidak." Seungkwan makin mengerutkan keningnya tak paham dengan pembicaraan kekasihnya.

"Jihoon sudah sampai di apartment sahabatnya dengann selamat. Badannya tak begitu basah tadi." Seungkwan menatap kesal Hansol kemudian mencubit pinggang pemuda itu cukup keras.

"Yak! Aw! Sakit Boo Seungkwan!" Hansol mencoba melepaskan tangan Seungkwan, namun hasilnya nihil. Gadisnya itu malah makin mencubitnya dengan keras. Ia yakin pasti aka nada tanda biru esok harinya.

Seungkwan melepaskan tangannya saat ia sudah merasa puas meluapkan emosinya dengan cara mencubit Hansol.

"Jadi ini semua rencana kalian?" keduanya menganggukkan kepala. "Aish! Kalau sampai unni ku sakit besok, kalian berdua yang harus tanggung jawab! Aku tak mau tau soal itu, pokoknya kalau dia sakit, kalian yang tanggung jawab!" Seungkwan berujar cepat, membuat Soonyoung mendecak.

"Ku pastikan esok ia tak akan sakit." Pemuda sipit itu berujar dengan mantap.

Soonyoung meraba dinding untuk menyalakan lampu apartmentnya. Sudah hampir satu bulan Soonyoung tinggal di apartment lamanya. Sebenarnya ia lakukan ini juga untuk menghindari ibundanya yang semakin hari semakin berkelakuan aneh –menurut Soonyoung.

Pemuda bermata sipit itu langsung berjalan menuju ruangan kecil yang ia klaim sebagai ruangan kerjanya. Soonyoung langsung menyalakan lampu kemudian mata sipit itu semakin menyipit saat senyumnya mengembang. Disana banyak foto Jihoon menggantung. Ada beberapa foto yang selalu ia ambil diam-diam saat bersama dengan Jihoon. Soonyoung mengitari dinding yang hampir penuh dengan foto Jihoon. Senyum itu mengembang saat melihat 3 foto favoritnya. Foto dimana ia mengambil saat Jihoon sedang asik bermain ayunan, foto saat Jihoon sedang bersama dengan murid-muridnya, dan terakhir foto yang paling ia suka, foto saat Jihoon sedang piggyback Byulchan. Di foto terakhir Jihoon benar-benar terlihat seperti seorang ibu.

"Semoga saja kau bisa menjadi ibu dari anak-anakku kelak, Ji." Soonyoung terus tersenyum melihat foto tersebut dan yang kalian tahu, Byulchan, Yujin, Yera, Kina dan Youngmi, mengizinkan Soonyoung untuk menjalin hubungan layaknya sepasang kekasih. Soonyoung terkekeh geli saat mengingat kejadian itu.

FLASHBACK

Soonyoung menggenggam tangan Jihoon dengan erat. Mengantar gadis mungil ini sampai di depan tempatnya mengajar. Senyumnya mengembang saat melihat 5 bocah berlari menghampiri Jihoon dan memeluk kaki Jihoon dengan erat.

"Samchon, jangan pegang-pegang nunnaku!" Soonyoung membelalakkan matanya saat kalimat itu keluar dari bocah laki-laki yang menurutnya berumur 7tahun itu. Jihoon terkekeh mendengar perkataan bocah itu. Gadis mungil itu mensejajarkan tingginya dengan para anak muridnya.

"Byulchan kenapa berkata seperti itu?"

"Jihoon nunna milik kami." Byulchan dan keempat sahabatnya itu memeluk Jihoon dengan erat. Soonyoung yang melihat kejadian itu tak habis pikir di buatnya. Bagaimana bocah-bocah ini bisa meng-klaim bahwa Jihoon adalah milik mereka?

"Samchon pacarnya Jihoon unni?" Soonyoung dengan asal mengangguk mengiyakan pertanyaan seorang bocah perempuan yang di kepang itu. Jihoon yang melihat itu mati-matian menyembunyikan perasaannya. Dirinya mensugestikan jangan bersikap seperti orang salah tingkah.

"Oke kalau begitu belikan kita eskrim." Bocah perempuan yang mengenakan bando itu berujar santai. Matanya membulat memohon menatap Soonyoung.

"Hey, boy, girls, kalian tidak boleh seperti itu." Jihoon memperingati sikap murid-muridnya yang memang selalu manja kepada orang yang dekat dengan Jihoon.

"Memangnya kenapa, unni? Samchon kan pacar unni, dan unni kan adalah kakak kami, jadi tak apa jika Samchon membelikan eskrim untuk kita." Ujar bocah berumur 8 tahun yang bernametag kan 'Kim Youngmi' pada cardigan merahnya.

"Kal-"

"Arra, samchon akan belikan kalian eskrim." Jihoon menatap Soonyoung dengan penuh sangsi, sedangkan Soonyoung menatap balik seperti mengatakan 'Tak apa, biarkan saja'.

"YEAAAAY!" Sorakkan itu terdengar riuh di telinga Soonyoung. Pemuda sipit itu langsung melangkahkan kakinya menuju minimarket di depan sekolah di ikuti dengan ke-5 bocah itu di belakangnya. Jihoon yang melihat itu tertawa ringan. Soonyoung sudah seperti induk ayam dengan anak-anaknya.

Soonyoung mengambil 5 buah bungkus eskrim kemudian memberikannya satu-satu kepada 5 bocah di depannya ini. Ia langsung membayar semua eskrim yang di belinya, sedangkan 5 bocah itu terlihat sedang mengobrol, entah mengobrolkan apa.

"Samchon, samchon, come here." Ujar Byulchan dengan bahasa inggrisnya yang fasih. Soonyoung hanya menurut dan menghampiri ke-5 bocah itu.

"Samchon duduk disini." Byulchan menarik salah satu bangku dan menghadapkan bangku itu di hadapan bangku kayu panjang yang di duduki oleh para bocah perempuan. Soonyoung mengerutkan keningnya bingung. Ada mau apa anak-anak ini dengannya? Soonyoung langsung duduk di bangku plastic yang di tarik oleh Byulchan tadi.

"Samchon jawab pertanyaan kami dengan jujur, ne." ujar bocah perempuan yang bernametag kan 'Choi Yera' pada cardigan merahnya. Soonyoung mengangguk. Yang di hadapinya anak kecil, pasti mereka tak akan menanyakan apapun yang aneh. Sepintar-pintarnya mereka, anak kecil tetaplah anak kecil.

"Samchon menyukai nunna kami?" Byulchan menatap Soonyoung dengan tatapan introgasinya. Soonyoung menganggukkan kepalanya.

"Samchon mencintai unni kami?" kini gadis bernamakan 'Bae Kina' itu angkat bicara. Soonyoung kembali mengangguk sebagai jawaban.

"Kalau begitu, samchon harus penuhi persyaratan kami." Youngmi –anak yang paling besar di antara mereka itu berbicara serius. Sonyoung ingin tertawa. Sikap anak-anak ini melebihi sikap anak-anak seusia mereka.

"Samchon jangan buat unni kami menangis, jangan buat unni sedih karena samchon, bisa?" gadis yang di bando itu –Choi Yejin- berkata seperti memohon. Soonyoung menyernyit kaget. Bagaimana bocah-bocah sekecil ini bisa berbicara demikian?

"Samchon bisa kan memenuhi persyaratan kami?" Byulchan masih menatap Soonyoung dengan tatapan introgasinya. Soonyoung mengangguk mengiyakan. Persyaratan seperti itu sangat mudah baginya.

"Arra, aku akan menjaga nunna kalian." Soonyoung mengelus surai Byulchan yang tebal itu.

"Baiklah-" Youngmi menggantung ucapannya membuat Soonyoung tak mengerti. Astaga anak-anak kecil di depannya ini memang susah sekali untuk di tebak. "Kami menyetujui samchon berpacaran dengan Jihoon unni." Youngmi bangun dari duduknya dan langsung memeluk Soonyoung di ikuti dengan teman-temannya.

Soonyoung tak bisa menyembunyikan rasa terkejut dan bahagianya. Mereka menyetujui pemuda sipit dan gadis mungil itu menjalin hubungan. Astaga, bocah macam apa mereka ini? Apakah mereka sekelompok cupids yang sudah di beri tugas oleh Tuhan agar mempersatukan Soonyoung dengan Jihoon? Bolehkan Soonyoung menganggap mereka cupids? Apa salahnya? Sikap mereka seperti tadi sudah seperti cupids.

"Dan sekarang, bolehkan aku memanggil samchon dengan sebutan hyung?" Soonyoung mengangguk. Lagipula sebutan samchon sangat aneh di telinganyaa. Wajahnya yang masih seperti anak kecil ini sudah di panggil samchon? Apa kata ummanya nanti? Yang ada wanita paruh baya itu malah mentertawakannya.

Soonyoung membalas pelukan 5 bocah itu. Ia sudah seperti seorang ayah dengan 5 orang anak sekarang. Hah. Ia merasakan jadi ingin cepat menikah, dengan Jihoon tentunya.

"Kajja, kita ke sekolah, sepertinya Jihoon nunna sudah menunggu kalian." Soonyoung melepaskan pelukannya dari anak-anak kecil dengan pikiran supernya itu. Soonyoung langsung menggiring bocah-bocah itu memasuki sekolah. Dan benar saja, Jihoon sedang menunggu kehadiran mereka di depan pintu ruangan vokal.

Anak-anak itu langsung berlari menghampiri Jihoon dan berceloteh ria sebelum mereka masuk ke dalam –kecuali Byulchan. Entah mengapa anak itu malah masih di depan pintu tengah berbincang dengan Jihoon. Mata sipit gadis itu di alihkan kepada Soonyoung dan Soonyoung membalas tatapan itu dengan bingung.

'Bicara apa anak itu? Aish, mereka susah di tebak, sama sepertimu, Lee Jihoon.' Soonyoung mendecak. Tak lama ia melihat Jihoon bangkit dengan Byulchan yang di gendongnya di belakang –piggyback. Soonyoung yang melihat itu langsung tersenyum, kemudian mengeluarkan ponselnya dan memotret pemandangan di depannya itu. Satu lagi foto untuk koleksinya.

FLASHBACK OFF

Soonyoung mencium foto terakhir yang ia ambil itu. Bolehkan seseorang berandai apa yang ia inginkan? Jadi tak masalahkan jika Soonyoung terus berandai untuk mempersunting Jihoon?

Jihoon menghampiri sang sahabat yang tengah menunggunya sedari tadi. Jihoon berjalan mengendap, kemudian menepuk bahu berisi itu dengan keras dan hal itu tentu membuat Seungkwan berteriak.

"YAK!" Seungkwan membalikkan tubuhnya dan memberikan death glare yang malah di anggap lucu oleh gadis mungil itu.

"Masa begitu saja marah, ah kau tidak seru." Jihoon menyenggol tangan Seungkwan, kemudian berjalan mendahului gadis tembam itu menuju mobil putih Seungkwan yang terparkir rapih.

Seungkwan langsung berjalan menghampiri Jihoon. Gadis mungil itu langsung memasuki pintu penumpang saat kunci mobil sudah di buka oleh Seungkwan. Gadis tembam itu hanya bisa mendengus pelan. Apa sih yang membuat seorang Jihoon bisa seperti ini? Apa jangan-jangan gadis mungil itu stress menjalani jadwal kesehariannya yang bertambah karena ia mengikuti les? Ah, masa bodoh lah. Seungkwan langsung memasuki mobilnya.

"Aku jadi ingin belajar menyetir." Jihoon menatap Seungkwan dengan penuh harap. Kali saja ia bisa memanfaatkan Seungkwan untuk mengajarinya menyetir. Seungkwan yang sedang menyetir, melirik kearah Jihoon lewat sudut bulatnya.

"Bilang saja kau minta ku ajari, unn." Jihoon tersenyum bodoh kearah Seungkwan dan di tanggapi decakkan dari gadis tembam itu.

"Ya, ya, ya, ajarkan aku, ya."

"Kenapa tidak minta di ajarkan oleh Soonyoung oppa? Kenapa harus aku?" Jihoon mendecih sebal. "Ya, nanti kalau kita punya waktu senggang, akan aku ajarkan menyetir." Jihoon langsung menoleh dan tersenyum senang.

"Gomawo! Kau memang yang terbaik!" Jihoon mengacungkan kedua ibu jarinya. Seungkwan menanggapi hal itu dengan anggukkan. Kini gadis tembam itu tengah sibuk memarkirkan mobilnya.

Jihoon melangkahkan kakinya memasuki pelataran sekolah yang lumayan sepi. Gadis mungil itu tersenyum saat melihat Byulchan tengah duduk bersila menunggunya di depan ruang vokal. Bocah 6 tahun itu tersenyum saat tatapan matanya bertemu dengan manik cokelat Jihoon. Byulchan langsung berdiri saat Jihoon sudah tepat berada di depannya.

"Nunna, kenapa nunna belakangan ini selalu telat sih?" Jihoon tersenyum simpul. Jadwalnya makin padat, sepertinya ia cepat-cepat harus menyelesaikan semua urusannya untuk s2 di negara impiannya.

"Mianhae, chagi. Nunna sering telat karena nunna ikut les."

"Les? Les apa?" Jihoon mendekatkan kepalanya, kemudian membisikkan sesuatu. Byulchan tersenyum. "Nanti ajari aku ya, nunna, aku juga mau belajar." Jihoon menganggukkan kepalanya.

"Arra, nanti akan nunna ajarkan padamu, sekarang ayo kita masuk dan berlatih." Jihoon mengeluarkan kunci cadangan ruangan vokal dan membukanya. Saat pintu terbuka, bocah berumur 6 tahun itu langsung berlari masuk dan duduk di salah satu bangku kosong. Jihoon dan Seungkwan yang melihat itu tersenyum.

Soonyoung menggerak-gerakkan kakinya bosan. Tatapan matanya kosong kearah pintu kayu yang sedari tadi tertutup rapat. Soonyoung langsung mengalihkan pandangannya pada jam tangan kulit di pergelangan tangan kirinya yang menunjukkan pukul 14:47 KST. Soonyoung menatap paper bag yang berisikan 2 kotak berwarna merah itu. Senyumnya mengembang saat suara riuh anak-anak yang berasal dari ruangan vokal terdengar. Akhirnya pintu kayu itu terbuka juga. Soonyoung berdiri saat melihat orang yang ia tunggu sedari tadi keluar juga. Jangan lupa, tangan kirinya yang membawa paper bag itu ia sembunyikan di belakang tubuhnya.

Senyumnya semakin mengembang saat sosok yang ia tunggu berjalan menghampirinya. Pakaian yang di gunakan gadis mungil itu cukup simple, namun terlihat sangat cocok di tubuhnya.

"Soonyoung oppa."

"Oh, hai Seungkwan."

"Mau menjemput unni?" Soonyoung menganggukkan kepalanya.

"Arrayo, kalau begitu aku duluan ya, aku juga sudah di tunggu oleh Hansol di rumahnya." Seungkwan melambaikan tangannya sebelum menghilang di balik pagar sekolah yang tinggi menjulang itu.

Soonyoung mengulurkan tangan kanannya, kemudian menyelipkan anak rambut yang tak gadis mungil itu ikat ke belakang telinganya, dan hal itu tentu membuat jantung gadis di hadapannya berdetak lebih cepat.

"Tidak ada yang tertinggal kan?" Jihoon menggelengkan kepalanya yakin. "Ayo pulang." Soonyoung menurunkan tangannya untuk meraih tangan mungil gadis di depannya ini.

"Aku ada sesuatu untukmu."

"Apa?" Soonyoung mengulurkan tangan kirinya yang sedari tadi menenteng paper bag yang lumayan berat itu.

"Buka di apartment saja." Titah Soonyoung saat gadis itu hendak meraih kotak merah yang berada di dalam paper bag tersebut.

"Ck, arra." Gadis mugil itu mendecak pelan, kemudian berjalan mengikuti langkah kaki pemuda di sampingnya ini

Soonyoung kembali melakukan kebiasaannya yaitu membukakan pintu untuk gadis mungil itu sebelum dirinya sendiri masuk ke dalam mobil.

"Sudah, Ji. Jangan di pandangi terus." Jihoon tersenyum konyol. Dirinya benar-benar ingin tahu apa isi dari kotak merah tersebuut.

"Tumben sekali tadi kau telat keluar."

"Tadi ada yang aku bicarakan dengan anak-anak, makanya jadi lebih lama, maaf ya membuatmu menunggu." Soonyoung tersenyum. Tanpa meminta maaf pun dirinya sudah memaafkan gadis mungil itu. Soonyoung sama sekali tidak keberatan untuk menunggu Jihoon, toh dirinya sendiri juga sedang menunggu Jihoon untuk menjadi miliknya.

Soonyoung menyeret langkah kakinya menyusuri lorong apartment yang sepi. Masa bodoh dengan bunyi berisik dan gema itu. Soonyoung menekan beberapa nomor password apartmentnya kemudian melangkah masuk ke dalam.

Pemuda sipit itu langsung melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya. Senyumnya terulas saat melihat foto-foto itu bertengger dengan manisnya disana. Ini sebenarnya ruang kerja atau studio? Kalau ada orang yang melihat ini, mungkin akan menyebutkan ruangan ini sebagai studio pribadi bukan ruang kerja. Mana ada ruang kerja isinya foto semua, kecuali kalau dirinya seorang designer atau seorang photographer, baru ruangan ini bisa di sebut sebagai ruang kerja, lah dirinya sendiri saja seorang sarjana psikologi, jadi ruangan ini pantas di sebut apa?

Soonyoung menarik kursi kerja miliknya dan mendudukkan bokong berisinya disana. Soonyoung memajukan kursi kerjanya menghadap foto-foto yang sudah ia koleksi sejak lama. Tangannya meraih spidol warna-warni yang berada di wadah berwarna hitam itu. Soonyoung bangkit kemudian menuliskan satu-persatu kalimat di balik foto yang ia gantung. Dimulai dari foto dari pojok kiri.

Foto pertama.

Ini foto pertama yang ku ambil diam-diam pada saat pertemuan pertama kita. Lihat, dirimu sangat cantik menggunakan dress tosca yang di padukan dengan bandana putih itu. Manis, itu adalah kesan pertamaku untukmu, Lee Jihoon~

Soonyung menggantungkan foto itu lagi kemudian bergeser mengambil foto berikutnya.

Foto kedua.

Aku mengambil foto ini entah kapan. Kau terlihat menggemaskan bermain ayunan seperti itu. Lihat senyummu itu, sangatlah manis~

Foto ketiga.

Ini foto saat pertama kali aku mengunjungi apartmentmu. Lihat, dari belakang saja kau sudah sangat cantik, Ji, dan di saat seperti ini aku melihat dirimu sangat cocok untuk menjadi seorang ibu. Ibu dari anak-anak kita kelak, kkk~

Foto keempat.

Ini foto selfie kita, Ji. Di taman pinggir sungai Han. Ah, kau memang cantik ya. Aku sampai tidak bisa berkata banyak jika sudah di sampingmu. Biar perlakuanku padamu saja yang berkata kalau aku menyukaimu

Foto kelima.

Ini gaya berselfie kita yang pertama, lihat, ekspresi bahagiamu saat mencubit pipiku, aku menyukai ekspresi itu, tetaplah berekspresi seperti itu

Foto Keenam

Selfie gaya kedua, Lihat ekspresimu itu saat aku mencubit hidungmu~ Aku menyukai ekspresimu, sungguh

Foto ketujuh.

Ini selfie gaya ketiga, lihat lengan kecilmu itu sangat pas saat melingkar di leherku. Ah, aku makin jatuh hati padamu~

Foto kedelapan.

Ini gaya keempat, lihat wajah sok mu itu. Walaupun ekspresimu seperti itu, kau tetap saja terlihat manis~

Foto kesembilan.

Ini gaya ke lima, lihat senyum penuhmu itu sangat manis. Gigi-gigi yang berderet dengan rapih itu makin menambah gemas dan terakhir, aku suka matamu saat kau tersenyum dan mata kita sangat mirip sekali bukan? Kkk~

Foto kesepuluh.

Foto yang ku ambil saat kau terpukau pada bunya-bunga yang berada di taman. Matamu yang berbinar melihat bunga-bunga itu membuatmu makin tambah cantik, Ji~

Soonyoung menambahkan emotikon love di akhir kalimatnya. Ini sudah foto kesepuluh, dan masih ada beberapa foto lagi.

Foto kesebelas.

Foto yang aku ambil saat kau memakai bunga sakura itu di kupingmu. Dan senyummu itu, senyum itu yang membuat aku makin tergila-gila padamu kkk~

Foto keduabelas.

Foto ini aku dapatkan dari Seungkwan. Lihat, dirimu seperti ibu disini. Ah, aku jadi ingin menjadikanmu istriku, Ji, kkk~ Jika nanti kita punya anak, maka aku dan anak kita akan memanggilmu Uri Jihoonie, karena kau adalah milik kami~

Foto ketigabelas.

Ini foto kedua yang di ambil oleh Seungkwan. Kau berada di tengah kelima anak itu sungguh terlihat seperti seorang ibu. Aku makin jatuh cinta padamu~

Foto keempatbelas.

Ini foto ketiga yang di ambil oleh Seungkwan. Byulchan sangat menurut sekali padamu bukan? Kau juga sayang dengannya bukan? Namun kau lebih sayang kepadanya atau kepadaku?

Foto kelimabelas.

Mungkin kali ini foto tertega yang pernah aku ambil. Foto ini aku ambil saat kau kehujanan sehabis pulang mengajar. Wajahmu yang kedinginan itu membuat aku merasa khawatir, sangat khawatir, namun setelahnya aku tertawa melihat dirimu mendumal sendiri, tega memang, namun saat itu kau menggemaskan, sungguh

Foto keenambelas.

Ini foto yang aku ambil saat kau datang ke rumahku membawakan makanan untukku. Aku ingat betul dimana kau menceramahiku untuk tidak masak, karena aku bisa saja membakar dapur dengan tidak sengaja, dan kau juga membuatkanku omelet yang lezat pada saat itu. Ah, aku benar-benar beruntung bisa mengenalmu sejauh ini

Foto ketujuhbelas.

Ini foto yang aku ambil sekitar 2 sampai 3 minggu yang lalu. Foto kedua kau memainkan ayunan dengan asiknya. Aku suka senyummu itu, dan tawamu saat angin menerpa wajahmu pada saat itu. Jika kau bahagia, aku jauh lebih bahagia dan ini adalah foto favorit ku~

Foto kedelapanbelas.

Lihat wajahmu yang sebal karena menungguku terlalu lama~ Aih, kau memang benar-benar lucu. Pipimu yang menggembung itu, rasanya aku ingin memakannya, dan bibirmu yang mengerucut itu, ah, aku jadi ingin menciumnya lagi

Foto kesembilanbelas.

Ini foto yang aku ambil sekitar 2 sampai 3 minggu yang lalu. Lihat anak-anak yang mengitarimu, mereka bagaikan cupids, Ji. Asal kau tahu, mereka memberiku syarat agar aku benar-benar di perbolehkan untuk mendekatimu, dan saat aku menyanggupi itu, mereka memelukku dan mengizinkan diriku untuk menjalin hubungan denganmu. Mereka terdengar seperti cupids bukan? Cupids yang di persiapkan oleh Tuhan untuk menyatukan aku dan kamu menjadi kita

Foto keduapuluh.

Lihat, kau menggendong Byulchan ala piggyback. Aku saat itu bertanya sendiri, apakah dia berat? atau kau merasa lelah? Namun senyum yang kau tampakkan itu berbeda dengan dugaanku. Kau begitu bahagia bukan? Semoga saja kau juga bahagia saat berada di sekelilingku, Ji. Ily~

Pemuda sipit itu menggantungkan kembali foto terakhir yang ia ambil. Senyumnya terulas. Ia tak pernah bosan melihat semua foto-foto ini. Semua foto yang ada di hadapannya itu sangat berharga, sama seperti dengan orang yang sering di jadikannya objek foto.

"Hah, semoga saja kau suka dengan apa yang aku berikan, Ji." Soonyoung langsung menolehkan kepalanya saat poselnya bergetar dan menampilkan nama 'Jihooney' pada layar ponselnya. Soal nama kontak, gadis mungil itu sama sekali tidak tahu.

"Iya, Ji?"

tbc


Hallo~

Gim back niiiih~ Gimana ffnya? Feelnya ga dapet ya? Maaf ya, gim bener-bener di sibukkin sama tugas belakangan ini, maklum, 6 pertemuan pelajaran gim udah ukk): Oiya, panggil gim aja ya, kalau di panggil authornim jadi gimana gitu, panggil gim aja biar akrab.

Makasih kalian semua yang udah ngasih review! Kalian penyemangat gim untuk ngelanjutin ff-ff gim. Mau di up lebih cepet kan? Reviewnya yang banyak, titik doang juga gapapa kok, wkwkwk. Gim ngasih kesempatan kalian nih, kalau ada yang mau kasih saran buat ff gim, silahkan kalian bisa pm atau hubungin gim di ig/linne: mifrizma_

Sekali lagi makasih buat yang udah review~ 1 review dari kalian itu berharga banget, sungguh.

Lanjut gak nih? Apakah masih ada yang penasaran dengan kelanjutan Jisoo dan Jihoon? Atau penasarannya dengan Soonhoon? Pokoknya tunggu aja ya, chapt selanjutnya, gim bakal masuk konflik utama dan bakal gim kembangin biar makin kompleks *spoil dikit biar kayak Hoshi, wkwk*

Sampai ketemu di chapter selanjutnya guys~

BGR, 25/02/17

Soonhoon hardship, gimmelatte

Bye~~