Main Cast :
Do Kyungsoo as Irene (GS)
Kim Jongin as Kim Kai
Cast :
Oh Sehun as Do Sehun
Lu Han as Luhan (GS)
Henry SuJu as Henry
Jung Soojung as Krystal
Jung Sooyeon as Jessica
Kim Jongdae
Kim Joonmyeon
Park Chanyeol
Byun Baekhyun (GS)
And many more
Warning! Genderswitch (GS) for UKE. KAISOO AREA!. Cerita abal. So many typo(s). Cerita pasaran. AGESWITCH. Konflik ringan. Fluffy gajadi. So many deskripsi. Skip time everywhere. Summary, judul, dan isi ganyambung. Read Lady Notes (LN) dibawah!
Summary : [Chap9 UP!] Dibalik gemerlap lampu yang menyorot kehidupan mereka. Tidak ada yang tahu perasaan mereka sesungguhnya. Kyungsoo meminta saran dari yang lain. Kai dipaksa bercerita oleh Chanyeol dan Jongdae. Saran Sehun yang ampuh. EXO FanFiction. GS KaiSoo HunSoo.
.
.
.
Happy Reading^^
.
.
.
Chapter 9 :
FALL in LOVE
.
.
.
.
.
The Celebrity
.
.
Ini sudah pukul 3 dini hari, tapi Kyungsoo belum juga bisa memejamkan matanya.
Dia rindu pelukan Jongin yang bisa membuatnya cepat tertidur sangking nyamannya. Atau pelukan Sehun apabila dia menderita susah tidur seperti ini dirumah. Atau ocehan Soojung yang menemani malamnya hingga mereka tertidur. Atau juga belaian sayang Sooyeon dikepalanya. Ah... dia merindukan keluarganya. Dan Jongin.
Beberapa kali Kyungsoo melirik ke arah smartphone-nya. Siapa tahu ada yang menghubunginya dan menemaninya hingga tertidur. Tapi hanya keheningan yang didapatnya. Jangankan berbunyi, layarnya saja bahkan tidak menyala sama sekali karena memang tidak ada pesan atau apapun yang masuk.
Setelah cukup lama melirik-lirik ke arah smartphone-nya yang tak kunjung menyala, Kyungsoo menyerah. Dan memutuskan untuk memejamkan matanya. Memaksa dirinya untuk tertidur.
Kyungsoo sudah di ambang kesadarannya saat merasakan belaian tangan seseorang di rambutnya lembut dan disusul dengan pelipisnya yang terasa seperti dicium. Bukannya terbangun, Kyungsoo yang merasa nyaman malah semakin terlelap pada akhirnya.
.
.
The Celebrity
.
.
"Hyung, si maknae itu kemana?"
Kris yang ditanya hanya mengangkat bahunya. Tanda ia tidak tahu dan melirik Suho. Seolah memberi sinyal pada si penanya untuk bertanya pada Suho saja.
Chen -si penanya- hanya mendengus malas namun tetap beranjak menuju Suho dan menanyakan pertanyaan yang sama.
"Sehun? Dia sedang ada urusan katanya. Dia tidak tidur disini malam ini"
Chen baru akan membuka mulutnya untuk kembali bertanya. Sebelum suara Xiumin menyela.
"Kau pasti ingin mengajaknya tanding games lagi ya? Yak! Kau tidak bosan apa?"
"Habisnya hanya Sehun yang bisa mengalahkanku soal games. Hyungdeul kan tidak pandai bermain games" ujar Chen yang langsung kabur menuju kamarnya sebelum mendapat pukulan mesra dari hyungdeulnya.
Xiumin menghela nafas berat.
"Memangnya Sehun kemana sih? Punya urusan dengan siapa dia disini?"
"Dia mengunjungi Irene. Semenjak di pesawat tadi dia bilang perasaannya tidak enak. Jadi dia langsung meminta izinku dan manajer hyung untuk tidak tidur disini dan baru akan kembali sekitar jam 10 pagi nanti" jawab Suho kalem.
"Ah.. Irene. Pintar juga maknae itu menjanjikan kembali pukul 10. Jadi masih banyak waktu sebelum pemotretan kita dimulai" Xiumin mengangguk-anggukan kepalanya sambil berucap demikian.
Sedangkan Suho hanya tertawa kecil mendengarnya.
.
.
The Celebrity
.
.
Kyungsoo menggeliatkan tubuhnya. Terbangun dengan bunyi alarm. Padahal seingatnya, dia tidak pernah memasang alarm apapun. Untuk apa memasang alarm kalau kau memiliki manager yang dengan setia membangunkanmu setiap harinya. Itupun hanya kalau Kyungsoo ada jadwal.
Dengan kening berkerut tidak suka dan mata tetap terpejam, Kyungsoo mengulurkan tangannya mencari sumber bunyi.
Keningnya semakin berkerut mendapati sesuatu -seperti tubuh seseorang- yang berbaring disampingnya. Hidungnya mencoba menghirup dalam aroma yang dikeluarkan tubuh disampingnya. Merasa familiar. Wangi coklat mint yang maskulin.
Siapa ya?
Seingat Kyungsoo, wangi Jongin bukan seperti ini. Apalagi Henry. Lalu siapa?
Perlahan Kyungsoo membuka matanya yang masih terasa berat. Mengerjap-ngerjapkannya beberapa kali, baru kemudian melihat wajah seseorang disampingnya.
"SEHUNIIIIIIIIIIII"
Bruk
"Mm? Aahh... noona jangan terlalu erat. Ohok! Aku- noona-"
Kyungsoo tidak peduli dengan protesan Sehun dan masih memeluk lehernya erat. Melepasnya sebentar dan beralih mengecupi wajah Sehun berkali-kali. Membuat Sehun berhenti protes dan malah tertawa geli.
Dia tidak menyangka akan disambut sebegini hebohnya oleh noonanya ini.
"Kau kenapa tidak bilang padaku kalau mau kesini? Tahu darimana kau password apartemenku? Ada apa kau kesini? Dari kapan kau disini? Kenapa tidak membangunkanku saat datang? Memmbb-"
"Aigoo noona. Aku baru bangun. Jangan tanyai apa-apa dulu bisa tidak? Ini masih pagi lagian" Sehun berujar santai dengan sebelah tangannya yang membekap mulut berisik Kyungsoo. Alarm Sehun sudah dimatikan dengan tangan yang lainnya.
Melepaskan tangan Sehun dari mulutnya sambil berdecak sebal dan bangkit mendudukan dirinya diranjang.
"Jangan marah begitu dong noona. Kau sensitif sekali sih" cibir Sehun.
Membuat Kyungsoo mendelik tidak suka.
"Ada sesuatu? Noona sedang banyak pikiran ya makanya sensi begini?"
"Ani"
"Jangan berbohong. Ceritalah, aku akan disini sampai pukul 10 pagi. Masih ada sekitar 3 jam"
"Kenapa hanya sampai pukul 10?"
"Karena aku ada pekerjaan disini. Bukan untuk liburan"
"Sudahlah jangan mengalihkan pembicaraan. Sekarang ceritakan padaku apa yang membebani noona" lanjut Sehun sambil ikut bangkit. Duduk diranjang.
"Kenapa kau selalu tau sih kalau aku sedang banyak pikiran atau apa" gerutuan Kyungsoo membuat Sehun tertawa kecil dan mengacak helaian lembut rambut Kyungsoo.
Menghela nafas berat. Kyungsoo pun memulai cerita segala keluh kesahnya. Dari mulai dia yang semakin dekat dengan Jongin setelah sempat menjauh beberapa waktu lalu, Jongin yang menyatakan perasaannya, kebingungan Kyungsoo dengan perasannya sendiri, nasehat temannya, nasehat Henry, dan masih banyak lagi.
Sehun mendengarkan dengan seksama semua kata yang terlontar dari bibir Kyungsoo. Mengangguk-anggukan kepalanya sesekali dan memberikan intrupsi-intrupsi kecil disela-sela Kyungsoo bercerita.
"Lalu aku harus apa, Hunnie?" Tanya Kyungsoo dengan kepala menunduk setelah mengakhiri cerita panjang lebarnya.
Sehun belum menjawab. Masih berpikir untuk solusi terbaik bagi noonanya itu.
Kyungsoo mengangkat kepalanya perlahan untuk melihat Sehun merasa pertanyaannya tidak dijawab. Dan mendapati Sehun yang terlihat sedang menerawang sesuatu dari matanya.
"Hun?"
Sehun masih bergeming.
"Sehun?"
Masih belum ada tanggapan.
"Baby Hunnie-ya?"
"Mmh? Aah... kau benar-benar masih belum tau perasaanmu sendiri noona?"
Kyungsoo mengangguk polos.
"Kau mau kehilangan, Kai?"
"Tentu saja tidak!"
"Saat bersama Kai, bagaimana perasaanmu?"
"Hm? Mmmm... nyaman. Terkadang juga aku merasa deg-deg'an berlebihan. Aku suka wangi tubuhnya yang membuatku... mmm bagaimana menjelaskannya ya? Ah tidak tahu. Aku bingung. Pokoknya yang seperti ituloh Hunnie"
Sehun hanya menatap Kyungsoo dengan alis yang naik sebelah. Menandakan dia tidak mengerti.
"Ih! Aku tidak bisa menjelaskannya"
"Oke oke. Lalu apa yang noona sukai dari Kai?"
"Sukai? Jongin itu baik, gantle, tampan, lucu terkadang, dan masih banyak lagi"
"Kalau Kai membohongi noona tentang suatu hal penting tentang dirinya, Apakah noona akan marah padanya dan menjauhinya?"
"Pertanyaan macam apa itu?"
"Sudah jawab saja" Sehun menatap Kyungsoo datar.
Kyungsoo mengangkat bahunya acuh sebelum menjawab.
"Marah? Tentu saja. Tapi Jongin bukan tipe yang senang berbohong tentang dirinya, Hun. Ya... itu yang aku tahu"
"Lalu apakah noona akan menjauhi Kai apabila melakukan hal seperti itu?"
"Tentu saja tidak" Kyungsoo memutar bola matanya malas.
"Kenapa tidak?"
"Masa hanya karena hal seperti itu aku menjauhinya? Aku memang tidak suka dibohongi, tapi dia pasti memiliki alasan tersendiri. Aku tidak akan bersikap kekanakkan dengan menjauhinya tanpa penjelasan"
"Kekanakkan? Noonaku tersayang, ingatkah kau sekarang sedang menjauhinya hanya karena dia menyatakan perasaannya padamu?"
Kyungsoo terdiam.
"Untuk hal seperti itu kau dengan tegas bilang tidak akan menjauhinya. Bahkan kau yang bilang sendiri, kau tidak suka dibohongi. Tetapi masih mau mendengarkan penjelasannya. Sekarang, dia bahkan jujur padamu dan pada dirinya sendiri bahwa dia mencintaimu dan ingin memilikimu. Lalu kenapa kau malah menjauhinya? Hanya karena masih bingung dengan perasaanmu? Bukankah itu kekanakkan?"
"Aku bukan mau menggurui noona. Tapi sebaiknya noona meminta maaf pada Kai karena sudah menjauhinya. Dan bilang padanya baik-baik kalau noona masih perlu waktu berpikir. Jujur padanya. Aku yakin Kai pasti mengerti dan membiarkan noona berpikir"
"Begitukah?"
Sehun menganggukan kepalanya menyakinkan.
"Tapi sejujurnya aku tetap tidak mengerti apa yang membuat noona perlu berpikir. Dari segala yang noona ceritakan dan yang aku ketahui, noona sudah jatuh cinta dengan Kai dari lama. Mungkin noona tidak sadar. Tapi bagi yang mengenal noona, pasti menyimpulkan hal yang sama"
Kyungsoo mendengarkan segala ocehan Sehun dengan mata yang menerawang.
"Ataukah noona hanya takut mencoba menjalin hubungan yang lebih dari teman? Aku tahu ini pertama kalinya untuk noona. Tapi bukankah dulu sekali, noona pernah menceramahiku tentang jangan takut memulai segala sesuatu yang baru? Kalau aku tidak salah ingat, noona mengatakan itu saat aku bertanya apakah noona tidak takut untuk tinggal sendirian di negara orang demi sekolah percepatan itu"
"Iya aku ingat"
"Lalu kenapa noona sekarang seperti ini? Ayolah, ini seperti bukan Do Kyungsoo. Kemana noonaku yang cuek itu? Kemana noonaku yang dengan mudahnya mengambil keputusan? Kemana noonaku yang tidak takut apapun? Kemana? Kau menjadi seperti oranglain, noona"
"Maaf"
"Jangan meminta maaf padaku. Noona tetap noona tersayangku apapun yang terjadi. Yang sepantasnya mendapatkan maaf noona adalah Kai. Dia yang dengan setia menunggu jawaban noona. Dia yang masih memperhatikan noona sekalipun noona menjauhinya dan membuatnya tersiksa"
"Kau... tau itu darimana?"
"Tau apa?" Tanya Sehun bingung.
"Kalau Jongin masih memperhatikanku, setia menungguku dan tersiksa dijauhi olehku?"
"Memangnya aku mengatakan itu tadi?"
Kyungsoo mengangguk mantap.
"Hanya menebak. Yang penting sekarang, kapan noona akan menemui Kai?"
"Eh? Ngngngng... tidak tahu"
"Ayolah noona. Kau itu mencintainya. Jangan menyiksa dirimu sendiri begini"
"Aku masih belum yakin, Hun"
"Oke oke. Terserahmu saja noona. Tapi jangan merengek padaku apabila nanti Kai menyerah atasmu dan berbalik menjauhimu"
"Kalau seperti itu, berarti dia tidak sungguhan denganku"
"Setiap orang punya batasan atas sesuatu. Siapa tahu saja Kai nanti memutuskan untuk menyerah dan membiarkan dirimu bahagia dengan yang lain lalu memilih menjauhimu atau mengawasimu dan menjagamu dari jauh"
"Atau bisa juga rasa cintanya memudar padamu karena kau tidak kunjung menjawabnya. Segala kemungkinan amat sangat mungkin terjadi noona. Dan aku sebagai dongsaengmu yang paling tampan dan baik hanya mengingatkanmu agar tidak menyesal nantinya" lanjut Sehun sambil menutup mulutnya yang menguap.
Kyungsoo diam. Memikirkan semua perkataan Sehun.
"Ah sudah pukul 9.30. Aku menumpang mandi ya noona. Aku harus sampai hotel pukul 10. Ngomong-ngomong, aku lapar. Bisakah noona membuat sarapan untuk kita selama aku mandi?"
Melihat Kyungsoo yang masih diam, Sehun menghela nafas pelan.
"Jangan terlalu dipikirkan. Aku tahu noona pasti bisa mengambil keputusan terbaik. Aku menyayangimu"
Sehun mengecup dahi Kyungsoo sebelum berlalu ke kamar mandi. Meninggalkan Kyungsoo yang tersentak. Tersadar dari lamunannya. Sebelum beranjak membuat sarapan untuk mereka. Sesuai permintaan Sehun tadi.
.
.
The Celebrity
.
.
"Kenapa kau ada disini?"
"Memangnya kenapa? Ini apartemenku juga"
"Hyung! Aku bertanya serius. Kenapa kau ada disini?"
"Ayolah Jongin, masa aku tidak boleh ke apartemenku sendiri?"
Jongin menatap Jongdae tajam. Seakan bersiap mencincang Jongdae apabila hyungnya itu tidak menjawab dengan benar. Membuat Jongdae membuang nafas kasar.
"Aku disuruh appa menengokmu. Kau mengabaikan telefon umma dan appa. Mereka jadi khawatir dengan keadaanmu" jawab Jongdae malas.
"Sudah kan? Aku baik-baik saja. Jadi sebaiknya kau lekas kembali ke Korea"
"Yak! Kau mengusir hyungmu? Aish benar-benar anak ini"
Jongin tidak menanggapi dan melangkah melewati hyungnya itu ke dapur. Untuk sekedar melihat bahwa kulkasnya benar-benar kosong.
Jongdae mengikuti Jongin ke dapur dan tersenyum mengejek melihat dongsaengnya membuang nafas kasar sebelum meneguk air putih yang diambilnya dari kulkas.
"Ck! Kau ini benar-benar ya. Pantas saja umma begitu mengkhawatirkanmu. Aku kira kekhawatiran umma tidak beralasan. Ternyata..." Jongdae melanjutkan ucapannya dengan berdecak tak habis pikir.
"Diamlah, hyung. Kau tidak membeli sarapan sebelum kesini?"
"Tidak"
Jongin mendengus. "Tidak berguna" gerutunya.
"Tapi aku sudah memesan delivery begitu melihat kondisi kulkasmu yang mengenaskan. Seperti pemiliknya"
Jongin mendelik ke arah Jongdae yang hanya ditanggapi Jongdae dengan mengangkat bahunya acuh.
"Aku tidak mengenaskan"
"Ya ya ya terserah. Karena di mataku kau sangat amat mengenaskan. Kondisimu jauh lebih buruk daripada saat putus dari Soojung"
Jongin mengangkat sebelah alisnya. Bertanya maksud hyungnya dengan bahasa tubuh.
"Karena saat itu kesedihanmu memang terlihat, membuatmu mengenaskan. Sedangkan sekarang, kau mencoba tegar diatas kesedihanmu. Itu yang menurutku membuatnya lebih lebih mengenaskan"
"Lalu aku harus apa? Sepertinya segala sesuatunya tetap terlihat mengenaskan dimatamu, hyung"
"Memang"
Jongin melengos mendengar jawaban Jongdae. Meninggalkan Jongdae yang masih di dapur ke ruang tamu. Menunggu delivery pesanan Jongdae datang.
Sambil menunggu, Jongin dan Jongdae sudah duduk berhadap-hadapan di sofa. Jongin menatap Jongdae serius. Membuat Jongdae ikut-ikutan menatap Jongin serius.
"Katakan sebenarnya kenapa kau kesini? Tidak mungkin appa menyuruhmu kesini hanya karena mengkhawatirkan aku. Aku sudah bukan anak kecil yang harus selalu di pantau"
"Aku kesini memang untuk mengawasimu. Kau mulai bertingkah keterlaluan lagi, Jongin. Sekarang ini kenapa?"
"Aku tidak kenapa-napa, hyung"
"Kau tidak bisa berbohong padaku. Aku mengenalmu dari kau masih mengompol dan memakai pempers"
Jongin memutar bola matanya malas.
"Yang aku tahu, pasti ini menyangkut Kyungsoo. Ada apa?"
"Haruskah aku menceritakan padamu, hyung?"
"Tentu saja!"
"Bisakah tidak sekarang? Aku banyak pekerjaan di kantor, hyung"
"Aku bisa membantumu nanti. Jangan mengelak!"
"Baiklah baiklah, jadi-"
Smartphone Jongdae berbunyi menandakan ada telefon.
Merogoh saku celana bahannya dan langsung menggeser tombol mengangkat.
"Masuk bodoh! Kau lambat sekali!" Semburnya langsung.
"Aku tidak tahu password apartemenmu, bodoh! Bagaimana bisa masuk?"
Jongdae menepuk dahinya sambil merutuki kebodohannya sendiri.
"Akan aku buka. Sebentar"
Memutuskan sambungan telefon itu sepihak sebelum bangkit berdiri membukakan pintu untuk tamunya.
Jongin hanya menatap tingkah hyungnya dengan sebelah alis terangkat. Tidak ada niatan buka suara sedikitpun.
Tidak lama kemudian Jongdae kembali bersama Chanyeol di belakangnya. Mereka berdua sama-sama menenteng plastik -yang sepertinya- berisi makanan.
Chanyeol menyapa Jongin sekilas sebelum meletakkan makanan itu di meja dan langsung membukanya bersama Jongdae.
Mereka bertiga makan dengan tenang hingga habis tak bersisa.
Setelah menenggak minum, Jongdae kembali menatap Jongin serius. Meminta Jongin bercerita.
Chanyeol yang memang tahu maksud kedatangan Jongdae kesini hanya terduduk santai sambil menatap Jongin.
Jongin menghela nafas berat sebelum memulai ceritanya.
Cerita seberapa kacaunya ia saat Kyungsoo menjauhinya setelah makan siang mereka waktu itu. Menceritakan juga soal ia yang hanya bisa mengetahui kondisi serta memperhatikan Kyungsoo lewat perantara Henry. Semua Jongin ceritakan kepada hyungnya dan Chanyeol yang mendengarkan dengan seksama.
Selesai Jongin bercerita, Jongdae dan Chanyeol hanya mampu geleng-geleng kepala. Mereka tidak habis pikir, mereka kira selama ini Jongin dan Kyungsoo sudah menjadi sepasang kekasih. Kedekatan mereka berdua sudah menjadi rahasia umum bagi yang mengenal mereka.
"Aku tidak mengerti jalan pikiran wanita" Chanyeol akhirnya buka suara.
"Waktu kau dan Baekhyun bagaimana?" Tanya Jongdae.
"Kami dekat, aku menyatakan perasaanku ke Baekhyun dan Baekhyun menerima. Selesai" jawab Chanyeol.
"Tentu saja semudah itu. Karena Baekhyun noona memang sudah menyukai Chanyeol hyung dari ajakan kencan pertama" sahut Jongin sambil memutar matanya malas.
"Wah berarti memang kau kurang beruntung soal percintaan Jongin"
"Pernyataanmu tidak membantu sama sekali hyung"
"Kami akan bicara pada Kyungsoo" usulan Chanyeol membuat Jongin mengerutkan keningnya.
"Untuk apa?" Tanya Jongin.
"Ya membantumu, bodoh!" Jongdae memukul kepala Jongin pelan. Tak habis pikir. Kenapa dongsaengnya mendadak lambat berpikir begini.
"Kau kan hanya bisa menunggu apapun keputusan Kyungsoo. Mencoba menghiburmu pun percuma. Jongdae pernah bilang padaku, kau tidak bisa dihibur saat patah hati kecuali oleh orang-orang tertentu. Jadi, lebih baik aku dan Jongdae mencari tahu dari perspektif Kyungsoo dan membantu Kyungsoo mencari jawaban untukmu. Bukankah lebih cepat lebih baik?"
Jongin dan Jongdae hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Chanyeol.
"Nah, jadi kau jangan terlalu bersedih seperti ini Jongin. Kau benar-benar terlihat mengenaskan"
Jongin mendelikan matanya dan hanya berdehem. Tidak berniat menanggapi Jongdae lebih lanjut.
Hening beberapa saat setelahnya.
"Jadi, kalian berdua jauh-jauh kesini hanya untuk ini?"
Chanyeol tergelak sebentar sebelum menjawab ringan.
"Tentu saja tidak, Jongin. Aku ada pekerjaan dengan EXO disini. Sebagai fotografer untuk photobook yang akan mereka keluarkan. Lagipula aku ingin menonton runaway Victoria Secret di London akhir tahun ini. Oh dan acara Award Gala juga. Jadi sekalian saja"
Jongin menganggukan kepalanya dan mengalihkan pandangannya ke arah Jongdae.
"Apa? Aku? Aku disuruh appa membantumu disini. Karena harga properti sedang turun kau pasti mengalami kesulitan. Belum lagi acara-acara akhir tahun yang banyaknya tidak terkira. Appa bisa menghandle yang di Korea. Jadi appa mengirimku sebagai orang tambahan disini"
"Oh, dan aku juga akan ikut Chanyeol ke London melihat model-model seksi itu" lanjut Jongdae dengan senyum mesum diwajahnya.
.
.
The Celebrity
.
.
Jadwal Kyungsoo baru saja habis untuk hari ini. Kepalanya berdenyut menyakitkan sepanjang perjalanan menuju apartemen. Dia memang bisa dengan mudah bersikap profesional saat dipanggung tadi. Tapi saat di backstage, beda lagi urusannya. Pikiran terus saja tertuju pada Jongin dan nasehat-nasehat yang diterimanya belakangan ini. Membuat Kyungsoo mau tidak mau memaksa otaknya terus berpikir tentang keputusan yang akan dia ambil. Dan dia kena akibatnya sekarang.
Kyungsoo mencoba memejamkan matanya. Berusaha tertidur. Tapi tidak bisa. Denyutan dikepalanya terasa begitu menyakitkan. Hingga akhirnya dia pingsan.
.
.
The Celebrity
.
.
Henry menyangka Kyungsoo hanya tertidur. Berkali-kali Henry mencoba membangunkan Kyungsoo namun tidak ada tanda-tanda Kyungsoo akan terbangun.
Henry mengerutkan keningnya bingung. Tidak biasanya Kyungsoo susah dibangunkan begini. Dengan berpikiran bahwa Kyungsoo hanya terlalu lelah sehingga tertidur amat lelap. Henry mengakhiri acara membangunkan Kyungsoo dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat parkir ini. Berharap ada seseorang yang bisa membantunya mengangkat tubuh Kyungsoo.
Sepertinya harapan Henry terkabul. Karena tidak jauh dari tempat Henry memarkirkan mobilnya, ada 2 orang pemuda yang seperti dikenalnya baru keluar dari mobil. Dan Henry mengenal mobil itu. Mobil Jongin.
Menyipitkan matanya berusaha melihat jelas siapa kedua orang itu. Hingga akhirnya Henry sedikit berteriak memanggil nama mereka.
Yang dipanggil menoleh dan dengan segera menghampiri Henry dengan pandangan bertanya. Tanpa membuang waktu, Henry meminta tolong mereka menggendong Kyungsoo keatas.
Tanpa banyak bertanya, akhirnya Chanyeol yang memiliki tubuh paling besar disitu, mengangkat tubuh Kyungsoo ke gendongannya.
.
.
The Celebrity
.
.
Kyungsoo terbangun saat di lift. Melihat Kyungsoo yang sudah bangun, Henry pamit ke keluar dilantai tempat apartemennya berada. Dia masih harus mengurus banyak berkas dan kontrak-kontrak.
Kyungsoo yang masih lemas hanya bisa mengangguk. Tubuhnya masih di topang dari kanan kiri oleh Chanyeol dan Jongdae.
"Ada apa oppadeul?" Tanya Kyungsoo saat mereka sudah keluar dari lift dan berjalan menuju apartemen Kyungsoo.
"Nanti saja di apartemenmu. Kau terlihat lemas"
"Ah... itu tadi sepertinya aku pingsan di mobil"
"WHAT?!"
Kyungsoo mengusap-usap kedua telinganya yang terasa berdengung akibat teriakan suara nyaring Jongdae dan suara bass Chanyeol di kanan kirinya.
"Kenapa? Ada yang salah?"
"Kami kira tadi kau tertidur" lirih Jongdae yang diangguki Chanyeol.
Kyungsoo hanya menanggapi dengan tawa kecil.
.
.
The Celebrity
.
.
Setelah meminum obat pereda pusing di dapur. Kyungsoo kembali ke ruang tamu dengan membawa jus jeruk untuk Chanyeol dan Jongdae. Yang diterima dengan senang hati oleh mereka.
"Jadi?"
"Apa?" Tanya Jongdae -sok- polos.
"Kenapa oppadeul kesini?"
"Oke langsung saja. Ada masalah apa kau dengan Jongin?"
Kyungsoo terdiam beberapa saat dengan mata berkedip-kedip bingung.
"Oh? Masalah? Tidak ada"
"Ayolah, jangan berbohong pada kami" sahut Chanyeol.
"Tidak ada apa-apa oppadeul. Aku akan menyelesaikannya secepatnya"
"Do Kyungsoo" suara Jongdae terdengar menakutkan.
Kyungsoo menghembuskan nafas kasar.
"Oke aku akan cerita"
Mengalirlah cerita versi Kyungsoo ke telinga Chanyeol dan Jongdae. Mereka mendengarkan dengan serius. Seakan-akan apabila mereka melewatkan 1 kata pun, mereka akan dihukum seberat-beratnya.
"Nah, aku sudah mengambil keputusan berkat ceramah Sehun tadi pagi. Jadi oppadeul tidak perlu cemas. Oke?"
"Bagus deh. Kalau kau sudah mengambil keputusan. Aku tidak tega melihat Jongin begitu mengenaskan" ucap Jongdae sambil tertawa pelan.
"Benarkah keadaan Jongin mengenaskan?" Kyungsoo meringis membayangkan kondisi Jongin.
Chanyeol tertawa pelan melihat ekspresi Kyungsoo.
"Kau jangan merasa bersalah begitu. Jongdae hanya terlalu membesarkan sesuatu. Jongin tidak semengenaskan yang kau bayangkan. Tapi ya... memang cukup mengenaskan sih"
"Yak oppa!"
"Aigoo" Chanyeol yang gemas akhirnya mengacak-acak rambut Kyungsoo.
Mereka melanjutkan dengan obrolan yang ringan. Diselingi candaan konyol dari Chanyeol maupun Jongdae. Membuat Kyungsoo melupakan denyut menyakitkan dikepalanya.
.
.
The Celebrity
.
.
Jongin merebahkan dirinya dikasur empuknya. Menatap nyalang langit-langit kamarnya. Ia lelah. Tubuh, pikiran, dan hatinya. 3 hari lalu Jongdae bilang bahwa Kyungsoo sudah memiliki keputusan. Tapi nyatanya sampai sekarang ia masih digantung dengan ketidakjelasan. Bukan. Jongin bukan lelah mencintai Kyungsoo. Lebih kepada lelah menunggu ketidakpastian.
Tapi Jongin bisa apa? Demi Kyungsoo apapun akan ia lakukan. Sekalipun memaksa hatinya untuk selalu bersabar.
Setidaknya, sekarang Jongin tidak sekacau kemarin-kemarin saat Jongdae belum datang. Tanpa hyungnya sadar, dia sedikit banyak membantu Jongin lebih rileks menjalani hari.
.
.
The Celebrity
.
.
Jongin sedang mengawasi real estate sekitaran malibu. Sebenarnya ini pekerjaan bawahannya, tapi berhubung Jongin sedang penat di kantor. Dia memutuskan untuk mengambil alih pekerjaan ini sekalian berkunjung nantinya ke sekitaran pantai. Berharap angin pantai yang lembab dapat mengangkat sedikit rasa lelahnya.
Lagipula Jongdae tidak melarang.
Menurut Jongdae, Jongin memang membutuhkan sedikit angin segar untuk melepas penatnya.
Pekerjaannya selesai lebih cepat dari yang dia perkirakan. Matahari masih bersinar terik diatas kepala. Namun tidak menghalangi Jongin untuk keluar dari mobilnya dan merasakan angin pantai menerpa wajahnya tanpa ampun.
Jongin mulai berjalan menyusuri pantai dengan bertelanjang kaki. Jas kerjanya dan dasi sudah dia letakkan di mobil, sehingga hanya menyisakan kemeja putih yang membungkus tubuhnya dengan pas dengan kancing teratas yang dibuka sambil menenteng sepatu kerjanya.
Pantai ini sedang sepi sepanjang dia berjalan tadi. Tapi tiba-tiba manik mata Jongin menemukan sebuah keramaian aneh lumayan jauh darinya. Dengan penasaran, Jongin mendekati keramaian itu.
Matanya membulat terkejut melihat seseorang yang sedang berpose menggoda di tepi pantai itu dan disekelilingnya ada beberapa staf selain sang fotografer. Tidak jauh dari sana juga terlihat model-model cantik dan seksi lain yang sedang beristirahat dibangku khusus.
.
.
The Celebrity
.
.
Kyungsoo baru duduk di tempatnya saat matanya menangkap bayangan seseorang yang familiar tidak jauh dari lokasi pemotretannya ini. Sedang berdiri terdiam menatap ke arahnya.
Tunggu.
Kearahnya?
Kyungsoo mengerjapkan matanya berkali-kali. Berharap itu hanya ilusinya semata karena terlalu merindukan orang itu. Tapi bayangan Jongin yang berdiri disana tidak juga hilang.
"Aku masih ada sesi tidak?" Tanya Kyungsoo ke seorang wanita yang mengurus pemotretan ini.
"Tinggal sesi foto grup. Setelah itu kau bebas" jawab wanita itu dengan mata tetap terfokus pada sesi pemotretan di depannya.
"Masih lama?"
"Lumayan. Ada apa?"
"Tidak. Aku seperti melihat temanku tadi. Boleh aku menghampirinya dulu?"
"Silahkan saja"
Kyungsoo segera bangkit mengambil jubahnya. Dan menghampiri Jongin.
.
.
The Celebrity
.
.
"Hai"
Sapaan yang terdengar canggung itu membuat Jongin mengerjapkan matanya. Seakan nyawanya baru kembali kedalam tubuhnya.
"Hai... juga"
"Kenapa kau ada disini?" Kyungsoo meringis kecil mendengar pertanyaannya sendiri.
"Hei, ini tempat umum. Salah aku disini?"
"Umm.. tidak sih. Baiklah aku ganti pertanyaan. Kenapa kau berdiri diam disini?"
"Mengamatimu"
"Ha?"
Jongin menarik nafas panjang.
"Aku sedang ada pekerjaan di daerah sini. Lalu memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar pantai. Tanpa sengaja melihatmu yang sedang pemotretan. Yasudah aku memutuskan mengamatimu saja dari sini"
Kyungsoo terdiam mendengar penjelasan Jongin dengan pipi yang merona.
"Victoria Secret?"
"Apa?"
"Kau pemotretan untuk Victoria Secret?" Tanya Jongin lebih jelas.
"Oh? Iya. Bagaimana kau tau?"
Jongin tidak menjawab. Namun matanya menyusuri tubuh Kyungsoo dari atas hingga bawah. Kyungsoo dengan pandangan bertanya mengikuti arah pandangan Jongin. Dan merona malu. Menyadari dirinya hanya asal memakai jubahnya sehingga tubuhnya yang masih memakai dalaman Victoria Secret terlihat jelas.
"Yak! Jaga pandanganmu Jongin!"
Jongin hanya terkekeh pelan melihat wajah Kyungsoo yang merona.
.
.
The Celebrity
.
.
Setelah Kyungsoo menyelesaikan pemotretannya, ia pergi dengan Jongin untuk makan malam sekaligus menyelesaikan segala permasalahan diantara mereka.
Mereka memilih restoran italia untuk makan malam. Dengan nuansa yang sedikit tertutup agar bisa leluasa membicarakan masalah mereka.
Makanan pembuka datang.
Jongin mulai menyuap makanannya namun pandangannya tidak lepas sedikitpun dari Kyungsoo. Membuat Kyungsoo salah tingkah dan akhirnya mengalah. Menatap balik Jongin dengan pandangan bertanya.
"So?"
"Apa?"
Jongin menghela nafas panjang.
"Apa jawabanmu atas pernyataanku waktu itu Do Kyungsoo?"
"Haruskah kita membicarakan itu sekarang, Jongin?" Lirih Kyungsoo.
Jongin mengangkat sebelah alisnya.
"Kau tidak bisa mengulur waktu lagi, Kyungsoo. Aku menerima apapun keputusanmu. Kau tau itu"
Kyungsoo menghela nafas panjang.
"Aku... aku juga mencintaimu, Jongin. Maafkan aku yang terlalu lama berpikir. Ini pertama kalinya bagiku. Maaf" Kyungsoo menundukkan kepalanya dalam.
Senyum Jongin merekah tanpa bisa ditahan.
Mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Kyungsoo yang saling bertautan di atas meja. Mengambil tangan halus itu dan mengecup jari berhias cincinnya.
"Aku mengerti. Terima kasih karena kau sudah mau mencoba memahami perasaanmu. Aku mencintaimu. Sangat"
Perasaan Kyungsoo menghangat tanpa bisa dicegah. Senyum uniknya terukir jelas. Pipinya merona. Dadanya berdetak berlebihan.
Belum pernah Kyungsoo merasa seperti ini sebelumnya. Ah, perasaan yang menyenangkan.
.
.
The Celebrity
.
.
Selesai makan malam, Jongin mengantarkan Kyungsoo ke apartemennya dan langsung pamit untuk kembali ke apartemennya sendiri setelah mengecup kening Kyungsoo.
Jongin tidak bisa menginap. Dia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan yang dibawa Jongdae kerumah.
Bulan-bulan di penghujung tahun memang selalu menjadi bulan-bulan penuh pekerjaan. Ditambah lagi beberapa bulan ini harga properti sedang turun sehingga pemasaran properti sedang mengalami kesulitan.
Tapi niat Jongin pulang bukan untuk menyelesaikan pekerjaannya dirumah. Oh ayolah, Jongin cerdas dan cekatan. Dia bisa menyelesaikan pekerjaannya di apartemen Kyungsoo sambil bermesraan. Jadi dia hanya ingin memberitahu Jongdae bahwa dia dan Kyungsoo suah resmi, mengambil berkas pekerjaan dan beberapa baju, dan kembali lagi ke apartemen Kyungsoo. Dimana Kyungsoo sekarang sedang menyiapkan cemilan untuk mereka. Ah, membayangkan rencananya saja sudah membuat Jongin tidak bisa berhenti tersenyum.
.
.
The Celebrity
.
.
Kyungsoo tidak bisa berhenti tersenyum saat memanggang kue kering untuk cemilannya dan Jongin nanti.
Memandang oven dihadapannya dengan mata menerawang. Memikirkan apa yang ingin dia lakukan saat Jongin datang nanti. Ah, Kyungsoo tidak sabar rasanya.
"Kau sedang memikirkan apa?"
Suara husky milik Jongin terdengar lembut ditelinganya. Dengan lengannya yang melingkari pinggang Kyungsoo. Memeluknya dari belakang.
"Memikirkan kapan aku bisa mengangkat kue-kue itu"
"Ey, you're liar"
Kyungsoo tertawa kecil dan membalik tubuhnya. Dengan secepat kilat mengecup pipi kanan Jongin.
"Apa-apaan itu? Tidak adil kalau hanya sebelah" ucap Jongin sambil mengarahkan pipi kirinya kehadapan Kyungsoo.
Kyungsoo tertawa renyah sebelum mengecup pipi kiri Jongin sekilas. Membuat Jongin ikut tertawa renyah melihat tingkah Kyungsoo.
.
.
The Celebrity
.
.
Kue-kue kering buatan Kyungsoo sudah di masuk dengan aman kedalam toples.
Sesuai bayangan Jongin tadi saat perjalanan ke apartemennya. Mereka sekarang sedang bermesraan dikasur kamar apartemen Kyungsoo. Dengan Jongin yang sibuk dengan berkasnya dan Kyungsoo di pelukannya.
Apa?
Oke, jadi posisi mereka itu begini. Jongin yang bersandar pada bed stand dan Kyungsoo yang bersandar pada dirinya. Dihadapan Kyungsoo dipasang meja kecil untuk meletakkan pekerjaan-pekerjaan Jongin. Jadi, Jongin membaca berkasnya melewati pundak Kyungsoo. Sedangkan Kyungsoo sendiri sibuk dengan smartphone dan cemilannya yang ikut di letakkan di meja.
Menghindari tumpahnya air ke berkas Jongin, mereka meletakkan jus jeruk -yang tadi sempat dibuat Kyungsoo- di nakas samping tempat tidur.
Mungkin kalian merasa aneh dengan posisi mereka. Tapi toh mereka berdua sama-sama menikmati posisi tersebut.
Kyungsoo bisa dengan bebas mendengar detak jantung Jongin yang seirama dengan detak jantungnya sendiri, bisa leluasa menghirup wangi khas Jongin yang menyerupai wangi kayu manis dengan sentuhan mint itu, bisa merasakan hangatnya nafas Jongin yang menggelitik di sekitar leher dan pundaknya. Ah, Kyungsoo berharap tidak pernah terlepas dari posisi ini untuk selamanya yang sangat lama.
.
.
The Celebrity
To Be Continue...
.
.
L/N :: apa? Iya tau kok ini lama banget updatenya. Sebulan lebih ya? /setel lagu taeyang/ mianhae mianhae hajima/?
Semoga kemunculan ini ga begitu mengecewakan hehe. Ga berharap banyak sih. Pokoknya makasih banget buat yang setia menunggu /very deep bow/.
Chap ini aku dedikasikan buat adek2ku tersayang yang gapernah bosen ngingetin "kak kapan update?". Ini udah update ya cantik2ku~
Btw, CHAP SELANJUTNYA SEBULAN LAGI YAAAA~ /hiding in KaiSoo hug/
Dan buat KAISOO BIRTHDAY nanti aku bakal ngepost oneshoot.
Maaf gabisa disebutin satu-satu. Pokoknya JEONGMAL GAMSAHAMNIDA BUAT SEMUA-MUANYA. BUAT YG REVIEW, FAVORITE, FOLLOW, SILENT READERS. POKOKNYA MAKASIH BUAT SEMUANYA DAN MAAF AKU UPDATE LUAMAAAAA BUANGEEEETTTT /VERY VERY DEEP BOW/
.
.
.
HAPPY NEW YEAR EVERYONE!
.
.
.
LET'S WAIT FOR OUR BOYS COMEBACK~
.
.
.
COLORFULL 2015 WITH EXO!
.
.
.
EXO AND EXO-L, WE ARE ONE!
SARANGHAJA!
.
.
.
REVIEW?^^
