Baekhyun tinggal semalaman, menenangkan Kyungsoo sampai ia berhasil tidur. Selama malam itu, Baekhyun mengelilingi seluruh bagian apartemen dalam misi mencari rokok-rokok yang mungkin masih disembunyikan oleh Kyungsoo. Pada akhirnya ia menemukan dua bungkus rokok tersembunyi di dalam kamar tidur dan segera menghancurkannya dengan memotong tiap puntung rokok kemudian menginjak bungkus kecil rokok tersebut, melemparkan semuanya ke dalam tong sampah.

Kyungsoo kembali bekerja keesokan harinya dan Baekhyun telah membuat Kyungsoo bersumpah untuk tidak menghisap rokok lagi.

Baekhyun kembali ke apartemen Kyungsoo ketika ia pulang kerja malam itu dan mereka menikmati makan malam bersama. Laki-laki yang lebih tua berhasil membuat Kyungsoo tertidur sekali lagi dan pagi harinya, kegiatan itu kembali berulang dan terus berulang selama beberapa hari.

Walaupun ia lelah dengan semua ini, Baekhyun tidak berkomentar apapun. Ia ingin membantu Kyungsoo dan ini adalah satu-satunya cara yang ia tahu ia bisa lakukan.


Senin

1 July 2015

1:30 PM

Chanyeol duduk di belakang meja kerjanya seperti biasa, lembar kerja bertebaran dimana-mana dan sepasang kacamata tebal tersampir di hidungnya.

Ia menelaah laporan penjualan dan stok barang dengan cermat, melingkari dan mencatat sesuatu ketika dibutuhkan saat teleponnya berdering. Mengerang, ia meraih tangannya untuk mengambil telepon tersebut, menguraikan kawatnya dan meletakkan beberapa lembar kerja setelahnya. Chanyeol benci diganggu ketika ia sedang bekerja.

"Hello, ini Chanyeol Park berbicara." Sapanya secara professional.

"Hello, ini hanya temanmu Jongin berbicara." Jawabnya dalam suara monoton yang sama sebelum laki-laki di seberang mulai tertawa.

"Jongin?"

"Ya, Yeol?"

Chanyeol bisa merasakan Jongin meringis. "Kenapa kau menelepon? Aku sedang bekerja."

"Aku hanya ingin menelepon dan memberitahumu bahwa show pertama berjalan baik dan setelah aku selesai dengan dua show lainnya, Aku akan pulang pada tanggal 12."

Mata Chanyeol terbelalak ketika ia memandang ke arah kalender di dindingnya. "12? Itu kurang dari dua minggu."

"Yeah, aku akan berada di Grand Central sekitar jam…" Jongin berhenti sejenak untuk berpikir. "Mungkin 6 PM"

"Oh begitu?" tanya Chanyeol pelan sembari menuliskan hari serta tanggalnya pada sticky note. Ia harus memberitahu Baekhyun malam ini.

"Mhmm. Aku hanya ingin memberitahumu karena kau bilang kalau kau ingin menyambutku ketika aku pulang."

Oh, benar… "Aku tak begitu yakin dengan hal tersebut, Jongin. Aku benar-benar minta maaf tapi pekerjaan sedang ribut sekali sekarang dan hal ini akan bertambah buruk."

"Ooooh." Ujar Jongin. "Cara yang bagus untuk membunuh mood, Chanyeol." Candanya. "Tapi tak apa. Aku tidak perlu dijemput."

"Tentu saja tidak." Chanyeol tertawa sebelum mendengar dering kedua yang datang dari teleponnya. "Hey, Jongin, ada satu panggilan masuk lagi untukku. Aku harus membiarkanmu pergi, kay?"

"Baiklah. Sampai jumpa lagi."

"Dah." Chanyeol memutuskan sambungannya dengan Jongin sebelum mengangkat telepon kedua, profesionalitasnya kembali lagi. "Hello, ini Chanyeol Park berbicara."


Sore itu, ketika Chanyeol akhirnya melepaskan diri dari pekerjaan kantornya yang mengikat, bukannya pulang ke rumah, ia melajukan mobilnya ke apartemen Baekhyun.

Setelah begitu seringnya kunjungan, penjaga pintu tidak lagi memberikannya tatapan curiga melainkan hanya menyentuh ujung topinya dengan sebuah senyuman saat ia berjalan melalui pintu kaca menuju elevator.

Bisa dibilang, Chanyeol tinggal di tempat Baekhyun akhir-akhir ini. terdapat sebuah laci berisi barang-barang miliknya di kamar Baekhyun, beberapa produk perawatan kulit dan rambut miliknya di kamar mandi, dan beberapa setel pakaian di dalam lemari. Ia terlalu lama menghabiskan waktunya di tempat Baekhyun sampai-sampai kucing Baekhyun yang dulunya membencinya mulai mentolerir keberadaannya di sekitar tuannya.

Ia tengah berada di konter dapur, mengiris daging dengan Kali menggosokkan tubuhnya pada kakinya, bulu kucing bertebaran pada celananya. Jaketnya berada di suatu tempat di ruang keluarga bersama dengan dasinya dan lengan kemejanya ia gulung sampai pada lengan atasnya. Jendela apartemen terbuka, membiarkan angin sepoi-sepoi hangat masuk melaluinya.

Baekhyun lebih senang tidak pesan makanan dan Chanyeol senang membantunya memasak. Hal tersebut membuat hubungan mereka baik-baik saja dan mereka menikmati sepiring kare untuk makan malam kali ini.

"Jadi," mulainya sembari meletakkan irisan daging ke atas piring dan memberikannya pada Baekhyun. "Bagaimana Kyungsoo hari ini?"

Baekhyun mengambil piring tersebut dari tangannya. "Masih sama. Paling tidak ia tidak merokok lagi." Ia menghela nafas saat ia memasukkan daging tersebut ke dalam sepanci penuh saus panas. "Bisakah kau memotong kentang dan wortelnya?"

"Baguslah. Dan tentu." Chanyeol kembali berjalan ke konter, mengambil sebuah pisau chef dan mulai memotong sayuran menjadi potongan-potongan kecil. "Ngomong-ngomong, hari ini Jongin menelepon ke kantor." celutuknya pelan.

"Benarkah? Kenapa?"

"Ia pulang pada tanggal 12."

Baekhyun berhenti memasak sejenak dan berbalik menatap Chanyeol. "Itu kurang dari dua minggu."

"Aku tahu. Aku merasa tidak ada salahnya memberitahumu. Aku bilang aku akan menjemputnya di Grand Central ketika ia kembali tapi sepertinya jadwal kerjaku tak memperbolehkannya."

"Oh, begitu.." gumam Baekhyun sembari berbalik kembali ke arah daging. "Kau tak bisa… tapi Kyungsoo bisa." Ucapnya, sebuah ide mencuat di pikirannya. "Chanyeol! Ini sempurna! Ini bisa menjadi cara agar Kyungsoo dan Jongin rujuk kembali!"

Chanyeol mengerut sembari memotong kentang menjadi setengah. "Mereka masih ingin rujuk?"

"Tentu saja!" seru Baekhyun. "Mereka hanya terlalu bodoh untuk mengakuinya. Lagipula, hal ini akan menjadi kejutan yang menyenangkan bagi Jongin." ia mematikan kompornya setelah selesai memasak daging. Berjalan ke arah konter, ia berdiri di samping Chanyeol, menyandarkan punggungnya pada meja marmer konter. Chanyeol melirik ke arahnya.

"Ada apa?"

Baekhyun mengerutkan bibirnya dan menggeleng. "Tidak ada apa-apa. Hanya saja kau bekerja terlalu keras." Ia menepuk dada Chanyeol dengan sebuah sengiran.

Si jangkung terkekeh lembut. "Kau juga. Kau harus merawat Kyungsoo sembari mempersiapkan perilisan album barumu. Kau akan kembali ke tempatnya setelah ini, kan?"

"Tolonglah, itu bukan apa-apa." Baekhyun mendengus. "Dan yeah. Aku akan pergi lebih lambat dari biasanya. Kyungsoo bekerja lembur malam ini. Aku akan memberitahunya tentang Jongin."

Chanyeol mengumpulkan sayurannya pada sebuah saringan dan menoleh ke arah Baekhyun. Sembari menggenggam salah satu tangannya, ia berkata, "Sempurna. Lebih banyak waktu untuk kita berdua." Ia bergerak mendekat.

Baekhyun memutar bola matanya dan mencondongkan tubuh mungilnya untuk sebuah ciuman. Tangan Chanyeol dengan segera meluncur ke pinggang Baekhyun sedang tangan laki-laki yang lebih mungil mencengkram bahu Chanyeol. Bibir mereka bergelayut bersamaan secara pelan dan Baekhyun dapat merasakan basahnya lidah pada bibirnya.

Ia melepaskan ciuman tersebut dan mendorong Chanyeol dengan lembut. "Makanan dulu." Ujarnya, bergerak menjauh dan membawa sayuran bersamanya mendekati kompor.

Chanyeol memperhatikannya pergi dengan sebuah sengiran, menyandarkan dirinya pada konter, tangannya mencengkram tepi konter.


Jumat

12 July 2015

5:49 PM

Kyungsoo berdiri agak menjauh dari eskalator, memberi jalan pada orang-orang.

Stasiun Grand Central tidak seramai biasanya, tapi masih ada beberapa orang menjengkelkan yang berkeliaran, mencoba untuk memasuki peron yang benar dan kembali. Kyungsoo tengah bersandar pada dinding, menjaga kegugupannya saat ia menunggu, adakalanya ia menatap lukisan yang terpajang di langit-langit hijau.

Ketika Baekhyun memberitahunya bahwa Jongin akan pulang, ia tak tahu harus berpikir bagaimana.

*flashback*

Baekhyun datang setengah jam setelah Kyungsoo kembali dari kantornya. Ia membawa sisa kare bekas makan malamnya dengan Chanyeol. Kyungsoo telah terbiasa dengan kedatangan Baekhyun pada larut malam dan tak lagi menyadari keuntungan dari menghabiskan energinya untuk berdebat dengan Baekhyun tentang bagaimana ia seharusnya pulang saja, kembali pada Kali dan Chanyeol, mengetahui bahwa temannya tak berpindah tempat.

Mereka sedang berada di ruang keluarga dengan duduk bersila di atas sofa. Kyungsoo sedang makan ketika Baekhyun memutuskan untuk memberitahukan berita ini pada Kyungsoo.

"Jongin akan pulang." Ucapnya dengan nada lembut.

Kyungsoo berhenti mengunyah sebelum menelan seluruh potongan daging ke dalam kerongkongannya. Berhenti beberapa saat agar tidak tersedak, ia berbisik balik dengan parau. "Apa?"

"Pada tanggal 12 pukul 6 PM."

Kyungsoo meletakkan piringnya pada meja kopi di sampingnya. "Baiklah kalau begitu. Kau ingin aku melakukan apa?" tanyanya monoton.

"Aku ingin kau menemuinya di Grand Central ketika ia kembali dan rujuk dengannya. Seharusnya Chanyeol pergi menjemputnya tapi ia tidak bisa karena ada pekerjaan." Jelas Baekhyun.

Kyungsoo mengerang, menekuk lututnya dan memeluk kakinya saat ia mencoba untuk bersandar pada sofa. "Baekhyun, aku tak bisa melakukannya. Tidak ada dari kami yang tahu apakah ia mau apa tidak melihatku, ia mungkin tidak akan mau rujuk denganku. Aku harus apa?"

"Omong kosong." Laki-laki yang lain merutuk dan Kyungsoo tampaknya tidak mengetahui hal tersebut. "Kyungsoo, kapan kau akan mengatakan bahwa kau merindukannya dan jangan bilang kau tidak merindukannya. Cukup jelas bahwa kau merindukannya. Kau harus menyelesaikan hal ini dengannya atau kau akan berakhir seperti ini sepanjang sisa hidupmu."

"Tapi bagaimana jika-" Kyungsoo memejamkan matanya dan menghirup nafas dalam-dalam. "Bagaimana jika, pada akhirnya, ia tidak menginginkanku?"

Baekhyun tidak mengatakan apa-apa untuk beberapa saat, mulutnya membuka dan menutup seraya memperhatikan sekeliling, mencoba untuk menemukan kata-kata yang tepat. Ia menggeleng, matanya tertuju pada Kyungsoo dan ia berujar, "Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah berbicara dengannya."

*end of flashback*

Kyungsoo ingat bahwa ia masih berdebat panjang dengan Baekhyun mengenai topik ini tapi ingatan itu tiba-tiba saja menghilang jauh ke belakang pikirannya.

Setelah itu, jam terasa berjalan lambat dan satu hari terasa seperti berbulan-bulan dan Kyungsoo tak yakin apakah ia bersemangat atau takut karena akan bertemu Jongin.

Di sudut penglihatannya, ia melihat segerumbulan orang turun melalui eskalator. Ia memfokuskan matanya untuk mencari wajah-wajah familiar, hanya ingin melihat satu wajah. Ia mulai panik ketika ia menyadari ia datang kesini untuk siapa.

Jongin tidak berubah sama sekali, tapi Kyungsoo merasa seperti baru pertama kali melihatnya. Ia terlihat mengagumkan seperti biasa, berpakaian secara kasual dengan balutan skinny jeans serta T-Shirt dan sebuah koper kecil didorong olehnya. Kulitnya terlihat lebih gelap berkat sinar matahari California. Rambutnya masih coklat dan bersinar dan disisir menyamping seperti biasanya.

Ia telah bergerak menjauh dari gerumbulan orang dan tengah mencari-cari sesuatu, sebuah ponsel di tangannya, seolah-olah ia tengah menunggu seseorang. Melihat ini, Kyungsoo merasa sesuatu dalam dirinya berderik.

Ia tak tahu harus berpikir apa ketika ia mulai bergerak dengan langkah cepat mendekati Jongin. Kyungsoo melewati anak-anak kecil, pebisnis pria, dan lansia, matanya terfokus pada tujuannya. Di satu sisi, Jongin mendongak dan menatap sekeliling sebelum pandangannya tertuju pada Kyungsoo, matanya terbelalak seolah-olah ia tidak menyangka kehadiran laki-laki itu.

"Kyungsoo? Apa yang kau-" ia tak bisa menyelesaikan kalimatnya saat Kyungsoo berjalan mendekatinya dan dengan cepat menangkup wajahnya dengan kedua tangannya, menempelkan bibir mereka berdua bersamaan. Terkejut, lengan Jongin jatuh dengan canggung, ponselnya hampir saja terjatuh.

Saat ini, dengan anehnya Kyungsoo merasa hidup. Rasanya seperti ada arus listrik menyetrum bulu kuduknya dan semakin berdiri ketika Jongin akhirnya mencium balik dan hal tersebut menghangatkannya sampai ke awan. Tangan Jongin telah berada pada pinggangnya, tangannya sendiri mencengkram bahu Jongin dengan kuat, tubuh mereka berdempetan.

Ketika mereka saling menarik diri, Kyungsoo merasakan pelukan Jongin meregang dan semua ketakutan yang ia rasakan selama seminggu ini kembali bermunculan. Mundur beberapa langkah, ia mulai meminta maaf sedalam-dalamnya. "Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf! Seharusnya aku tak melakukan itu. Aku minta maaf, seharusnya aku tak ada disini-"

Kali ini giliran Jonginlah yang menginterupsinya ketika sepasang lengan melingkari tubuhnya, menariknya mendekat ke arah laki-laki yang lebih jangkung. Prasangka Jongin telah berakhir, kepalanya terbenam pada bahu Kyungsoo dan ia bernafas dengan cepat. "Aku tahu kau akan merindukanku." Kyungsoo mendengarnya bergumam dan suara itu terus berulang di dirinya.

Tersenyum, Kyungsoo memeluk Jongin balik, lengannya yang lebih pendek melingkari Jongin. "Aku benar-benar merindukanmu." Akunya.


Keheningan dan kenyamanan mengisi perjalanan pulang menuju apartemen Kyungsoo dengan taksi. Tidak sampai mereka berdua sendirian di dalam apartemen ketika kecanggungan itu kembali. Max tidak berada di apartemen saat itu. Kyungsoo telah bertanya pada teman-temannya apakah ada yang mau merawat Max selama beberapa hari dan sekarang anjing Corgie itu berada di tempat Luhan. Jongin tengah duduk di ujung sofa di ruang keluarga, dengan anehnya merasa kaku saat ia duduk tegak, jemarinya terpaut satu sama lain.

Kyungsoo sedang berada di dapur mengisi dua cangkir merah dengan teh putih. Ia membawa kedua cangkir itu ke ruang keluarga dan memberikan salah satunya pada Jongin, yang mengambilnya dengan sebuah gumaman 'terima kasih' sebelum duduk di salah satu ujung sofa, bersiap untuk menghadapi hal-hal yang tak terelakkan.

"Kenapa kau datang menemuiku?" tanya Jongin.

Kyungsoo meniup asap menjauh dari tehnya. "Aku telah mengetahui seluruh ceritanya. Kau tahu, dirimu dan Stephanie."

"Ah," Jongin mengeluarkan sebuah suara saat ia menyesap tehnya. "Kau tahu sekarang?"

Kyungsoo terdiam selama beberapa saat. "Ya." Ia berhenti untuk memastikan suaranya tidak pecah. "Jongin.. aku benar-benar minta maaf. Jika saja aku membiarkanmu menjelaskan, kita tak mungkin sekacau ini."

Jongin tidak mengatakan apapun melainkan helaan nafaslah yang ia keluarkan saat ia meniup asap menjauh dan menyesap tehnya lagi.

"Da-dan, aku akan benar-benar paham jika hubungan kita telah berakhir. Keputusannya ada di tanganmu." Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya.

"Terserah padaku, kan?"

Kyungsoo mengangguk. "Mhmm. Dan aku hanya akan mengikuti keputusanmu. Aku hanya.. aku hanya ingin kau bahagia. Dan aku tak tahu apakah aku telah melakukannya."

Jongin meletakkan cangkirnya di atas meja dan meletakkan tangannya pada pangkuan Kyungsoo. "Kurasa akulah yang seharusnya mengatakan itu."

Kyungsoo tak dapat berkata apa-apa, tidak begitu mengerti apa maksud Jongin jadi ia hanya duduk diam dan melingkarkan jemarinya pada cangkir.

Keheningan mulai menghinggapi mereka, berat dan tampak jelas di udara.

Setelah beberapa saat, Jongin bangkit dari duduknya. "Aku harus pergi."

"Oh, tentu." Kyungsoo meletakkan cangkirnya tepat di sebelah cangkir Jongin dan ikut bangkit, mengikuti Jongin ke arah pintu, tempat dimana Jongin meletakkan koper serta sepatunya.

"Jongin?" tanya Kyungsoo dengan suara paling pelan yang pernah Jongin dengar darinya.

"Ya?" ia berbalik ke arah pria yang lebih pendek, meluruskan punggungnya setelah meraih sepatunya. Ketika Kyungsoo tak mengatakan apapun, ia menjadi khawatir. "Ada apa, Kyungsoo?"

Kyungsoo tetap menunduk memandang lantai. "Tolong jangan."

"Jangan apa?"

Matanya mendongak menatap Jongin dan ia melihat mata laki-laki itu berkaca-kaca, air mata mulai menetes dari ujung matanya. "Tolong jangan tinggalkan aku." Bisiknya.

Jongin meletakkan kembali sepatunya sebelum berjalan mendekati Kyungsoo. Ia menyeka air mata yang akan menetes turun dengan ibu jarinya sebelum berkata dengan nada rendah, "Tak akan." Membiarkan jemarinya bergerak ke dagu Kyungsoo, ia mengangkatnya dan menautkan bibirnya pada bibir Kyungsoo.

Ciuman mereka berawal murni dan manis, namun perlahan-lahan ciuman mereka berubah panas ketika Jongin menghimpit Kyungsoo di dinding lorong masuknya, lidahnya bergeliat dan mulutnya menghisap bagian bawah bibir Kyungsoo. Membuka mulutnya, Kyungsoo membiarkan Jongin memasukkan lidahnya, merasakan sisa-sisa teh di mulutnya serta sesuatu yang lain yang sangatlah Jongin.

Kyungsoo melingkari lengannya pada leher Jongin dan tangannya menggerayangi punggung atas laki-laki itu sedangkan tangan Jongin berada pada pinggang Kyungsoo dan perlahan-lahan bergerak ke selatan sebelum tangannya mulai meraba punggungya.

Jongin melepaskan ciumannya dan mulai membubuhkan ciuman singkat pada rahang Kyungsoo dan bergerak ke bawah ke arah lehernya saat Kyungsoo mengeluarkan suara terengah. Ia membenamkan dirinya pada kulit lembut Kyungsoo sebelum kembali menatap laki-laki itu. "Apa ini yang kau inginkan?" tanyanya, suaranya berat dan sedikit terengah-engah ketika ia menatap mata Kyungsoo.

Laki-laki yang lain meraih tangannya dan memberikan Jongin ciuman singkat. "Ya." Jawabnya.


Perjalanan menuju kamar tidur berjalan cepat, namun dipenuhi oleh ciuman serta sentuhan dan di saat mereka telah terjatuh di atas ranjang, atasan mereka berdua telah lepas dari badan masing-masing.

Mereka tidak bersusah-susah untuk menyalakan lampu. Cahaya penerangan dari luar yang masuk melalui celah gorden tipis Kyungsoo sudah cukup menerangi mereka berdua.

Jongin dapat mengatakan bahwa ia lebih suka cara ini ketika ia mengambil tempat di antara kaki Kyungsoo, meluncurkan hidung serta bibirnya ke atas batang tubuh Kyungsoo. Terdapat suatu hal yang cukup erotis tentang bagaimana Kyungsoo terlihat begitu pucat dan mungil saat sinar bulan menerangi tubuhnya yang berbanding terbalik dengan seprai hitam miliknya. Ia mengarahkan bibirnya kembali ke arah laki-laki yang lebih mungil, tangan Kyungsoo terangkat untuk menarik rambut Jongin ketika laki-laki itu mulai bekerja dengan jeansnya.

Melepasnya, ia mencengkram bagian pinggang celana Kyungsoo serta pakaian dalamnya dan menariknya turun, kemudian ia melemparkannya sembarangan. "Kau sangat cantik." Ucapnya dengan sebuah kekehan.

Kyungsoo dapat merasakan dirinya merona sebelum duduk dan mulai melepaskan jeans milik Jongin, menariknya turun bersamaan dengan boxernya. "Kau juga." Dan celana Jongin hilang ditelan kegelapan.

Jongin merangkak maju, mendorong Kyungsoo lebih jauh ke ranjang, wajah mereka berdekatan satu sama lain dan nafas mereka bercampur jadi satu.

"Tapi kau lebih cantik." Bisiknya sebelum mengunci bibirnya pada leher Kyungsoo dan mulai menjilat serta menghisap satu titik sedang salah satu tangannya meluncur ke kejantanan Kyungsoo.

Laki-laki yang lain mengeluarkan sebuah desahan.


Ciuman dan gigitan penuh cinta saling diberikan saat mereka melanjutkan kegiatan mereka pada satu sama lain. Jemari Jongin tengah bekerja pada Kyungsoo, wajah laki-laki yang lebih tua berubah-rubah dari kesakitan menjadi ketidaknyamanan.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jongin, tidak ingin menyakiti Kyungsoo.

"Yeah, aku akan baik-baik saja." Ia menunggu sebentar sebelum meminta Jongin memasukkan satu jari lagi.

Jongin memasukkan satu jari lagi dan mulai membuka lubang Kyungsoo dengan kedua jarinya. Rasa sakit perlahan mulai surut dan digantikan oleh sedikit perasaan menyenangkan dan jika Kyungsoo tidak sedang berada pada situasi ini, ia akan berterima kasih pada Tuhan karena Jongin memiliki jari-jari panjang serta ahli.

Ketika laki-laki yang lebih jangkung membengkokkan jarinya sedikit, Kyungsoo mendesah kencang, punggung sedikit terangkat naik dan Jongin melakukan hal itu lagi beberapa kali, menyukai cara Kyungsoo mencoba untuk menyeimbangi gerakannya.

"Aku masih ingat dimana itu." Gumamnya.

Kyungsoo tidak dapat menjawab.


Kyungsoo mengeluarkan tangis teredam ketika Jongin memasukinya. Setelah tidak berhubungan seks selama beberapa waktu, bagian dalam lubangnya terasa terbakar kesakitan. Jongin mencoba untuk menyembuhkannya dengan membisikkan hal-hal manis di telinganya.

Setelah penisnya benar-benar masuk pada lubang Kyungsoo, ia menunggu sampai laki-laki yang lain memintanya bergerak. Beberapa dorongan pertama terasa pendek dan cepat dan secara berangsur-angsur menjadi lebih cepat saat rintihan Kyungsoo bertambah kencang dan suara pelan Jongin berharmonisasi dengan suara Kyungsoo.

Ranjang berkeriat serta sedikit berguncang dengan setiap dorongan yang Jongin berikan kemudian tiba-tiba berhenti.

Kyungsoo membelalakkan matanya. "Jongin! Apa- Ah!" ia mendengking ketika Jongin tiba-tiba mengangkatnya naik saat ia duduk, meletakkan Kyungsoo pada pangkuannya, lututnya mengapit paha Jongin. Laki-laki yang lebih pendek mengeluarkan sebuah desahan, merasakan penis Jongin terdorong lebih dalam pada lubangnya. "A-ah Jongin…"

"Ikuti saja arusnya." Gumam Jongin pada telinganya sembari meletakkan tangannya pada pinggang Kyungsoo, sedikit membuatnya lebam. "Sekarang, bergeraklah."

Kyungsoo mulai menggerakkan pinggulnya naik turun, menentukan ritme serta kecepatannya, terengah dan merintih setiap kali dorongan Jongin bertemu dengan semua gerakannya dan berteriak ketika penis Jongin mengenai prostatnya. Tangannya mulai meninggalkan bekas merah pada punggung Jongin. Mengambil alih, Kyungsoo mendorong Jongin sampai ia terbaring dan mulai 'mengedarai'nya dengan bersungguh-sungguh, Jongin masih saja mendorong masuk penisnya ke dalam lubangnya sedangkan tangannya mengocok kejantanan Kyungsoo.

Tak butuh waktu lama hingga Kyungsoo mengeluarkan sebuah desahan panjang yang meneriakkan nama Jongin saat ia mengeluarkan spermanya pada tangan Jongin tepat di atas perutnya. Jongin menggerakkan pinggulnya beberapa kali sebelum mengeluarkan cairan spermanya di dalam lubang Kyungsoo, laki-laki yang lain merasakan cairan hangat tersebut mengalir turun ke paha pucatnya.

Menghirup nafas dalam-dalam, ia melepaskan dirinya dari penis Jongin namun tetap duduk di pangkuannya. Jongin bangkit dengan sebuah erangan dan Kyungsoo melingkarkan kakinya pada pinggul Jongin. Ia menyeka rambut yang jatuh pada kening peluh Kyungsoo dan meringis. "Rasanya seperti baru pertama kali."

Kyungsoo tersenyum, matanya tampak berat dan lelah, efek after sex mulai membuncahinya.

Jongin membubuhkan ciuman lembut pada tulang selangka Kyungsoo, mendekap tubuh pria mungil itu dalam pelukannya. "Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu."

Mata Kyungsoo terbelalak kaget sebelum ia merilekskan dirinya kembali dan melingkarkan lengannya pada leher Jongin lagi. "Aku juga mencintaimu." Ia menelengkan kepalanya untuk sebuah ciuman yang diterima dengan gembira oleh Jongin. "Aku juga mencintaimu." Ulangnya.

Jongin menghela nafas. "Akhirnya." Ujarnya. "Kau mengatakannya."

Bibir Kyungsoo tersungging naik dan ia menyisirkan jemarinya pada rambut Jongin saat laki-laki yang lain menelengkan kepalanya untuk sebuah ciuman panas. Kyungsoo tersenyum saat sebuah bibir serta lidah yang lembut bergelayut pada bibirnya.


Keesokan harinya, Kyungsoo terbangun dengan perasaan sakit dan rasa kepuasaan yang aneh.

Hal pertama yang ia ketahui adalah fakta bahwa ia telanjang dan Jongin tertidur di sebelahnya, mulutnya sedikit terbuka saat ia mendengkur dengan enteng. Matahari bersinar melalui gordennya, menghangatkan kulitnya dan membuat Jongin bersinar. Sembari bergeser, ia meringis ketika merasakan sakit di bagian bawah tubuhnya. Menundukkan kepalanya, ia melihat bekas luka memar serta bekas gigitan yang menghiasi kulit polosnya. Menimang kepalanya dengan tangan, ia melanjutkan kegiatannya melihat Jongin tertidur, tidak menyadari suara dengkuran Jongin telah berhenti.

"Kau suka melihatku tidur?" tanya Jongin dengan suara berat, matanya tak juga terbuka. Di belakang pikirannya, Kyungsoo tengah memikirkan betapa ilegalnya Jongin mengeluarkan suara seperti itu di pagi hari.

Kyungsoo membelalakkan matanya kaget sebelum menyadari tegangan pada bahunya ketika Jongin membuka matanya, memperlihatkan bola mata coklatnya. Ia mengedikkan bahu. "Kau terlihat lebih baik jika sedang terbangun."

Jongin tertawa seraya bangkit, seperai mengumpul dan berdesir di sekitar pinggangnya. Kyungsoo mengikutinya, meregangkan lengannya dan mengintip ke arah celah di antara gorden. Lututnya ia tekuk sampai ke atas dadanya ketika burung-burung bertebangan di jendelanya.

"Jadi," mulainya, berbalik kembali ke arah Jongin, suaranya tampak tidak yakin dan bergetar. "Akan dibawa hubungan ini?"

Jongin bergerak ke samping Kyungsoo dan melingkarkan lengannya pada pinggang Kyungsoo, menyandarkan dagunya pada bahu Kyungsoo. "Kurasa… masa lalu berada di belakang kita. Apapun yang telah terjadi, terjadilah. Kita bersama sekarang dan aku tahu aku tidak akan pergi ke kencan buta yang direncanakan ibuku."

Kyungsoo bersenandung sebagai jawaban, meletakkan tangannya pada perut Jongin.

"Tapi kenapa kita tidak memulainya dengan kau menceritakan dirimu?" saran Jongin.

"Kau telah mengetahui semuanya." Ucap Kyungsoo, alisnya berkerut.

"Lalu? Aku suka mendengar cerita tentangmu."

Kyungsoo tertawa. "Baiklah. Hai, aku Kyungsoo. Aku memperbaiki artikel Koran dan aku dengan senang hati memberitahumu lebih banyak tentangku sembari menikmati sarapan karena aku lapar. Apa kau ingin mengikutiku menyantap bacon, telur, dan kopi?"

Jongin ikut tertawa bersamanya saat ia menolong Kyungsoo naik dan mereka menutupi badan mereka sedikit. Mereka berjalan ke dapur dengan memakai pakaian dalam masing-masing dan Kyungsoo memakai atasan Jongin.


Jongin pergi pada siang harinya.

Kyungsoo berjalan turun ke lobby bersamanya, ia harus memeriksa kotak pesannya setelah melalaikan hal tersebut selama beberapa hari. Kyungsoo melambaikan tangan saat taksi Jongin melaju ke jalanan sebelum melangkahkan kakinya menuju kotak pesan.

Ia memikirkan kembali perbincangan yang mereka lakukan saat sarapan. Jongin memberitahu Kyungsoo bagaimana cara dia meyakinkan ibunya untuk berhenti menjodohkannya adalah dengan mengancam untuk meninggalkannya lagi. Kyungsoo merasa bersalah. Ia merasa bahwa ia adalah alasan mengapa Jongin sampai harus berbuat seperti itu pada ibunya, tetapi Jongin menenangkannya dengan berkata bahwa ia tak melakukan kesalahan apapun.

Pada akhirnya ia memberitahu Jongin tentang masa depresi kecilnya dan kemudian ia harus menghabiskan sisa dua puluh menitnya dengan ocehan Jongin yang membuatnya bersumpah untuk tidak merokok lagi.

Membuka kunci kotak pesan mungil miliknya, Kyungsoo terkejut mendapati tidak banyak pesan bertumpuk di dalamnya. Kebanyakan merupakan bill dan iklan. Mengambil tempat di salah satu kursi di lobby, ia mulai menggeledah amplop-amplop di tangannya. Hanya satu surat yang berhasil mendapat perhatiannya. Itu adalah sebuah amplop berwarna coklat dengan alamatnya tertulis pada tinta hitam namun tidak ada keterangan siapa pengirim surat tersebut. Ia meletakkan surat-surat yang lain dan mulai membuka amplop tersebut. Di dalamnya, terdapat sebuah kertas yang dituliskan dengan tangan dan bertuliskan,

Untuk Soo,

Aku harap saat kau mendapatkan surat ini, Kau dan Jongin telah rujuk kembali :)

Melihat dari bagaimana kau adalah sahabatku, kurasa akan terasa lebih special jika kau mendapatkan surat undangan tertulis daripada yang telah diketik yang mana sama seperti yang orang lain dapatkan.

Pada hari Sabtu, 27 Juli, aku mengadakan pesta perayaan mengenai peluncuran album baruku 'Spectrum' yang akan dirilis di hari yang sama. Pesta akan dimulai pada pukul 6:00 PM sampai pukul 12:00 PM. Yep, kita akan bersenang-senang sampai tengah malam!

Aku akan berada di Crystal Bar di East 85th Street,. Berjanjilah untuk sedikit berdandan! Aku mengharapkanmu datang layaknya seorang miliader. Minuman juga akan disediakan. (Kami akan menyajikan beberapa minuman favoritmu! :D)

Jangan pernah berpikir kau akan mempertimbangkannya karena aku tahu kau akan hadir. Dan juga, kurasa ini adalah saat yang tepat untuk mengenalkanmu dengan Chanyeol secara resmi..

Pastikan kau membawa Jongin! Aku ingin melihat kalian berdua sebagai sepasang kekasih sungguhan.

Mungkin aku tak dapat menemui selama beberapa hari. Bisnis benar-benar melelahkan :p

Aku mencintaimu!

Baekhyun :3


Jujur aku agak kecewa dengan chapter ini. mungkin kalian senang karena chapter ini mengandung beberapa adegan smut Jongin dan Kyungsoo tapi entah aku kecewa. Seperti yang pernah aku bilang, aku gabisa mentrans adegan smut dengan baik karena aku payah memiliki kata-kata yang lebih erotis supaya feel 'hot'nya dapet.

I tried my best though ;;

Mungkin kalian menemukan beberapa kejanggalan dalam adegan smutnya. Seperti mengendarai mungkin. Aku sengaja mencantumkan tanda kutip karena aku bingung bahasa yang lebih baik itu apa. So, aku mau tanya. Ride him (kalian pasti tahu ini maksudnya apa) lebih enak menggunakan bahasa yang kaya gimana. Aku bingung di bagian ini untuk beberapa menit

Anyway, chapter berikutnya adalah chapter terakhir setelah itu aku bakalan ambil hiatus karena uas is coming to my way D: wish me a good luck, guys semoga ipk bagus huhu

Dan aku membuat akun twitter baru, do leave some asks if you want to tapi sorry aku hanya akan follow back akun fangirling :( do check ultrakais if you have time :)

Reviews are so much loved ;)