CHAPTER 10
=UNEXPECTED=
Sebelumnya...
Kesakitan tergurat di wajahnya yang tiba tiba saja menegang.
"Apa yang terjadi hah? Bangunlah! Kumohon sadarlah", Suga dengan panik menepuk pipi adiknya, menghiraukan laptop di pangkuannya terjatuh ke lantai.
"Jin Hyung..." nama itu berhasil lolos keluar dari bibir gemetar sang namja sebelum lunglai tenggelam dalam dekapan Suga.
Suga POV
Jin hyung- apa dia terluka? Aiish, Apa yang harus kulakukan. Aku tak mungkin meninggalkan adikku. Ya Tuhan, badannya panas sekali. Haruskah kutelepon oemma?
"Maaf, boleh Kubantu? Ada rest room dibelakang. Kita bisa bawa adikmu ke sana. Akan kupanggilkan dokter untuknya."
Suga memandang namja yang berdiri di depannya dengan tatapan penuh kelegaan.
"Terimakasih. Aku sangat menghargai bantuanmu. Aku Suga."
"Suho"
-za-
Jin POV
Pria ini penculiknya? Tampan sie, tapi Apa yang ada dipikirannya hingga melakukan hal bodoh seperti ini? Hei, Bukankah itu Sehun?! Benar apa yang dikatakannya, dia tampak lemah. Sabarlah, Kami akan membebaskanmu. Aiish, dimana kutaruh billnya? Bodohnya aku, harusnya ku baca dulu berapa tagihannya. Ahh, ketemu. Di meja marmer ini rupanya. Marmer...?
Seketika sekelebat memori menghampiri Jin.
Derap langkah kaki terdengar dari sosok namja yang berlari kecil mendatangi Jin.
"Hyung― ", panggilnya mendekat dan berbisik ke telinga Jin: "Saat kau lihat marmer, Ingat! MARMER! Jangan biarkan dia belakangmu. Aku―"
Lalu aku menepuk pundaknya, memintanya percaya bahwa semua akan baik baik saja. Pesan itu... MARMER! ASTAGA! DIA DiBELAKANGKU!
Keadaan yang tak pernah terbayangkan oleh Jin terjadi. Di hadapannya Rosery mengacungkan Pistol Sig Sauer P-266 ke arahnya dengan senyum licik dan tatapan membunuh. Reflek Jin mencabut pistol yang tersembunyi di pinggang kirinya.
DORR
Timah panas lebih dulu menembus bahu kanan Jin membuat tubuhnya jatuh bersimpuh bertumpu pada kedua lututnya. Sensasi panas menembus hingga ke tulang membuat lengannya seakan mati rasa dan mengakibatkan pistolnya terjatuh. Untuk sesaat Jin terlihat shock, diam terpaku.
Apa yang terjadi... Aku—Aku tertembak?! Shit! Sadarlah Jin!
Dengan tekad baja Jin bangkit mengesampingkan rasa nyeri yang mulai menjalari lukanya dan meraih pistolnya yang terjatuh. Dilihatnya Rosery memanggul Sehun di bahunya ala Fireman's carry menyelipkan siku kanannya mengelilingi lutut Sehun dan memegang pergelangan tangan Sehun dengan tangan yang sama, persis yang digambarkan adik sahabatnya, hanya saja keadaan berbeda ada pistol yang tengah mengarah ke tubuh Sehun yang membuat Jin tidak berani berbuat apapun.
"Kau tak akan bisa keluar Tuan Jang. Menyerahlah, Kau terkepung."
Tidak ada gurat ketakutan di wajah Rosery, yang ada sebuah smirk tersemat di wajahnya tampannya.
"Kalian pikir aku bodoh? Aku tahu kalian di sini-" sesaat matanya melirik pada Teleskope yang terarah keluar jendela, kembali menantap sinis Jin. "Dan mencoba menarik semua akses keluarku".
Rosery berjalan mundur menuju dinding lukisan mawar tempat lift rahasia tersembunyi di baliknya.
"Aku sudah mengantisipasi keadaan seperti ini. Kalian ahli dalam mengunci, aku mahir dalam membukanya. Jadi- See you Mr Policeman" Rosery menutup pintu lift melambaikan tangannya yang masih setia mengenggam pistol pada Jin dengan senyum sarkatis.
SIAL!
Jin berteriak meluapkan kekesalannya, berjalan hendak menyusul. Tiba tiba saja pintu terbuka dan muncul sosok Kapten Lee Seunggi, Suga dan beberapa polisi di belakangnya.
Suga POV
Syukurlah mereka menjaga adikku. Aku segera berlari ke lantai empat gedung, memecahkan kode pintu kondominium ini. Sepuluh detik... 94412... Sukses! Benar analisaku, pria itu menggunakan tanggal lahir Sehun.
-
"Bahumu― Kau tertembak hyung?!"
Suga berlari menghampiri Jin, memeriksa sekilas luka di bahu rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.
"Kau baik baik Saja?", tanya kapten Lee menimpali.
"Saya tidak apa apa. Dia mengetahui kehadiran kita Chief. Rosery membawa Sehun keatas."
Suga menatap Jin penuh keheranan. Ya, bagaimana bisa Rosery keluar disaat semua akses telah ditutup olehnya.
Jin seakan membaca ekspresi Suga dan membisikkan sesuatu padanya.
"Kurasa dia sama gilanya denganmu"
Mata sipit Suga membuka lebar dengan alis terangkat mengekspresikan keterkejutannya akan pernyataan Jin. Sebelum sempat mendebat perintah Kapten Lee membuyarkan hasratnya.
"Kita susul keatas. Cepat!"
Lembayung senja tak lagi malu menampakkan dirinya diantara deretan langit biru. Semilir angin menyapu lembut ratusan mawar yang terbuai menyebarkan aroma khasnya.
Rosery masih setia memanggul Sehun di pundaknya, berdiri di tepi bangunan menikmati fase penyempunaan hari ini kala cahaya matahari perlahan berubah dari kuning keemasan menjadi merah jingga dan hawa panas berangsur sejuk.
"Kau tahu Oh Mija-Ku? Cinta itu letaknya di hati, tersembunyi, namun getarannya mampu mempengaruhi pikiran sekaligus mengendalikan tindakan. Cinta membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya.** Seperti itulah dasyatnya cintaku padamu"
Rosery menoleh ke kiri, ke wajah pucat Sehun yang berada di ambang kesadarannya.
"Maafkan aku Hunnie. Untuk cinta butaku ini. Sarangheo"
-
"Tuan Jang! Menyerahlah!
Suga POV
Keadaan ini, tempat ini... semua tergambar dalam bayangan adikku.
Jin POV
Tak ada yang berubah. Apakah semua akan berakhir sama...?
Ruangan yang tak seberapa luas ini mempresentasikan kehangatan dengan perpaduan warna peach dan cream yang mendominasi seluruh ruangan. Sebuah single bed tertata di sudut ruangan dan diatasnya seorang namja tengah terbaring dengan infus di tangan. Mata terpejamnya bergerak gelisah.
Kenapa berakhir sama? Apa Tuhan marah padaku karna berusaha merubah sebuah takdir. Seandainya di detik akhir itu— Andwae!
"Oh, kau sudah sadar." Suho segera menyapa pemuda di sampingnya yang baru saja terjaga. "Aku Suho. Hyung mu memintaku menjagamu."
"Berapa lama aku tidur?" Namja muda itu bergegas duduk, mencabut paksa infus yang menancap di punggung tangannya. "Aku harus menyusul hyungku." ucapnya seraya bangkit.
Suho menahan tubuh remaja yang lebih tinggi darinya itu, memaksanya duduk kembali.
"Belum lima menit. Lihatlah, tanganmu berdarah." Suho merogoh saku celananya mengambil sapu tangan dan menggunakannya untuk menekan luka yang masih terus mengeluarkan darah. "Istirahatlah. Biarkan polisi menyelesaikan semua."
"Tolong, aku harus pergi. AKU HARUS MENYELAMATKAN SESEORANG. Antarkan aku ke sana...", pintanya mengiba. Matanya berkaca kaca penuh keputusasaan.
Semua mata tertuju pada Rosery yang tetap tak bergeming berdiri di tepian bangunan memanggul tubuh tak berdaya Sehun. Tangan kirinya yang terluka sayatan menggenggam pistol dengan erat. Tak ada yang berani bertindak gegabah. Jarak hidup dan kematian begitu tipis, hanya berbatas kaca yang menjadi pemisahnya.
"Tuan Jang, bisa kita bicara? Saya yakin anda tidak akan menyakiti Sehun.", ujar kapten Lee bernegoisasi.
"Aku tak akan menyakitinya. Aku mencintainya. Selamanya tak akan ada yang bisa menghilangkan cintaku. Aku akan melindunginya sampai dia mati, dan setelah mati aku akan tetap melindunginya. Aku lebih kuat dari depresi dan aku lebih berani dari kesendirian. Tak ada yang akan mengalahkan aku." 1 ucap Rosery berfilosofi.
"Kau cinta padanya?", Suga berjalan mendekat menatap Rosery penuh intimidasi. "Jangan menyia-nyiakan cintamu untuk seseorang yang bahkan tidak pernah menghargainya.2 Dia tidak mencintaimu Tuan Jang"
"Cinta adalah berat dan ringan, terang dan gelap, panas dan dingin, sakit dan senang, terbangun dan terjaga. Cinta adalah semuanya, kecuali apa arti cinta yang sesungguhnya." 3 Balas Rosery.
"Namun sekali lagi, kebenaran telah dikatakan, jika kamu mencari kesalahan, kamu hanya perlu melihat ke dalam cermin." 4
"Hahaha..." Rosery tertawa senang. "Kurasa aku akan jatuh cinta padamu bila aku tak mengenal Sehunku lebih dulu Tuan—"
"Suga", balasnya cepat. "Jadi, bisakah kau lepaskan Sehun? Biarkan dia menjawab rasamu. Kurasa cinta itu merelakan orang yang kau cintai bahagia, bukankah begitu Jangmi-ssi?"
Rosery tersenyum sinis. "Cinta itu buta, Suga-ssi. Bukankah cinta abadi adalah cinta yang dibumbui oleh kematian? Aku tidak akan membohongi hatiku dengan mengatakan cinta tak harus memiliki, karena itu menyakitkan."
Untuk sesaat suasana menjadi hening mencekam. Rosery menatap lembayung yang hampir sempurna menutup senja.
"Hunnie, Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang. Mianhe..."
Tanpa tanda, tiba tiba Rosery mengarahkan pistol ke tubuh Sehun.
DORR
...
... ...
HUN!
...
... ...
BRUGHH
==========rosery==========
"Bagaimana keadaannya dok?"
"Peluru melukai organ dalamnya. Yang terparah adalah cidera di kepala akibat posisi yang salah saat mendarat di landing pad. Keadaannya kritis.
"Mungkinkah dia bertahan?"
"Sangat tipis. Hanya keajaiban yang bisa membuatnya bertahan dan hidup"
.
.
Cinta membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padaya
TBC
NEXT is LAST CHAPTER alias TAMAT ...
#mikyunna: makasih masukannya. Next story moga lbh panjang.
Za dah publish ROSERY di WATTPAD id MiracleZa dengan judul sama.
Jangan lupa baca story Za yang lain DEVIL BESIDE YOU
MAKASIH
