Bayi mungil yang masih merah itu memang sangat manis di mata panda Tao. Ia jadi ingin menciumi pipi adiknya terus kalau adiknya sangat imut seperti ini.
Tangan mungil milik bocah dua tahun itu kembali menyisir wajah bayi di hadapannya. Kalau tahu adiknya akan se manis ini ia tidak akan menolak untuk punya adik dulu.
Benar. Seperti kata mamanya kemarin, karena ia sekarang seorang kakak, Tao harus bisa lebih mandiri. Ia juga tidak boleh cengeng dan merajuk lagi. Ia harus tumbuh lebih tinggi dan kuat agar bisa melindungi adik bayi kecilnya.
Tao-ge.
Hihi. Tao geli sendiri membayangkan ia akan dipanggil gege oleh adiknya nanti.
Mr. Wu!
Chapter 10 – Tao Gege!
Cast aren't mine.
Kris/Suho
Tao & Sehun
Romance, family.
Genderswithced.
~Mengucapkan selamat membaca~
Meja sudah penuh dengan makanan. Susunya juga sudah disediakan oleh sang mama. Seharusnya ia sudah mulai memakan makanannya. Tapi.. uh, Tao ingin sekali disuapi. Tao menoleh dan memanggil babanya, tapi hanya dibalas iya-iya saja. Bahkan ayahnya itu tidak memindahkan perhatiannya dari koran pagi.
Tao merasa dirinya tidak lebih penting dari seribu yuan. Ia bisa menukarkan diri dengan se mangkuk es krim sekarang. Uh.
Dan kemudian mamanya yang cantik dan baik hati duduk di hadapannya, sambil menimang adiknya yang baru di bawa pulang kemarin siang dari rumah sakit.
Balita itu ingin disuapi. Tapi ia juga tahu ia punya adik sekarang. Mamanya bahkan terlihat lebih sibuk dan lelah.
Menghela nafas, bocah dua tahun itu lalu terpaksa mulai memasukkan sarapan paginya ke mulut.
"Tao-er, mau Mama suapi?"
Tao mendongak, lalu menggeleng. "Tidak usah, Ma. Mama suapi mei-mei saja. Tao sudah bisa makan sendiri, kok."
Kedua orangtuanya berpandangan, bangga sekaligus tak percaya dengan jawaban Tao. Putra mereka yang begitu manja.. bisa seperti ini?
Yifan mengulurkan lengan, menghapus bubur yang masih tersisa di sekitar bibir Tao. "Makan pelan-pelan, Tao-ge. Dan jangan lupa minum susumu." Ia mencium bibir juga pipi putranya, lalu bangkit untuk menyapa kening dan pipi dua perempuan lainnya. "Baba berangkat. Jaga mama dan mei-mei, oke, Jagoan?"
Tao tersenyum lebar, menampakkan gigi susunya yang bahkan belum lengkap. "Baik!"
.
Tentu saja karena Tao laki-laki, ia harus bisa menjaga mama dan mei-meinya.
"Hun, mau main boneka?" Ia menggoyang-goyangkan Ace di depan wajah adik perempuannya. Tapi bayi itu hanya berkedip-kedip lucu. Tao terkikik, adiknya bahkan lebih lucu daripada Ace.
Ia asyik saja menciumi pipi lembut seperti kapas milik adiknya. Pipinya merah sekali. Dan Tao suka sekali. Hihi. Tapi kemudian adiknya menangis, mungkin merasa terganggu. Dia menggerak-gerakkan tangannya ke atas kanan dan kiri, yang tanpa sengaja kepalan tangannya memukul kepala Tao. Tidak keras, sih, tapi tetap saja sakit.
Uh, Tao ingin sekali menangis. Kenapa adiknya jahat padanya. Apa Sehun tidak suka dia?
Sekarang adiknya itu sudah tenang meminum susunya, mengeluarkan suara-suara lucu. Tapi Tao tidak ingin tertawa. Ia masih sedih dan sangat terpukul karena ternyata adiknya, yang sangat disayanginya, yang ia hendak jaga setiap hari, yang kulitnya lembut dan halus, yang manis dan menggemaskan itu, ternyata tidak menyukainya.
"Tao? Kenapa?" Putranya tidak terlihat seperti biasanya. Joonmyeon jadi khawatir sendiri.
Masih mencoba menahan tangisannya, bocah itu berkata, "Sehunnie.. tidak suka Tao, Mama."
"Tentu saja Sehun suka dengan gege. Adik bayi memang hanya bisa menangis, Tao-er, bukan berarti Sehun tidak suka dengan gege."
"Tapi," satu isakan akhirnya terdengar, "tadi mei-mei memukul Tao." Tangannya memeragakan bagaimana tadi kepalan jari mungil adiknya mengenai pelipisnya.
Joonmyeon tersenyum. Anaknya ini manis sekali. Ia jadi tidak tahan ingin mencium pipi gembul Tao. "Benarkah?" Joonmyeon mengelus pelipis Tao yang tadi terkena pukulan Sehun, lalu mengecupnya. "Maafkan mei-mei, ya. Tadi Sehun tidak sengaja. Karena lapar Sehun menggerak-gerakkan tangannya seperti itu, sampai terkena Tao-ge. Karena Sehun tidak sengaja, jadi Tao-ge mau maafkan Sehun?"
Tao kecil mengangguk.
"Kalau begitu mau cium adik bayi?"
Ia mengangguk lagi, lalu mengecup hati-hati pipi mulus adiknya, sedikit takut kalau nanti bayi yang bahkan masih merah ini memukulnya lagi.
.
Mata panda miliknya berkedip-kedip, masih menyesuaikan dengan cahaya kamar yang sudah terang benderang. Mamanya sudah membuka tirai membuat cahaya matahari pagi masuk mengisi kamar tidur orang tuanya. Emh, padahal Tao masih ingin tidur.
Tao terduduk sambil mengucek mata. Iris hitam itu sudah menelusuri seluruh ruangan. Ia tidak bisa menemukan ayah dan ibunya. Samar-samar terdengar suara dari dapur, mungkin itu ibu atau ayahnya. Ia menghempaskan tubuhnya lagi ke atas bed cover empuk, berguling beberapa kali sebelum tiba-tiba berhenti ketika melihat adik bayinya masih tertidur lelap.
Jantungnya berdetak ketakutan. Ia akan menggilas adik bayinya kalau saja ia tidak cepat berhenti tadi.
Mendekatkan wajah pada adiknya, Tao bermaksud mengecek Sehun apakah terluka atau tidak. Uh, manisnya. Bibir merah adik bayi mengerucut lucu. Tangannya mengepal di depan dada. Kulitnya sangat putih dan kemerahan, sangat halus ketika Tao menyentuhkan tangannya. Adik bayinya memang manis dan menggemaskan kalau sedang tidur. Tapi kalau bangun bisa jahat sekali. Rasa sakit di kepalanya bahkan masih ada. Uh.
Eh, tapi mumpung adik bayinya masih tidur, tidak apa-apa, kan, kalau dicium?
Pipi kanan. Pipi kiri. Kening. Hidung. Bibir—eh?
"Mama!"
Duh, adik bayinya menangis!
Tangan kanannya menepuk-nepuk pantat adiknya, sedang tangan kirinya mengelus rambut yang masih tumbuh sedikit di kepalanya. "Shh. Cup-cup." Sebisa mungkin Tao mempraktikkan apa yang biasanya kedua orangtuanya lakukan untuk menenangkan adiknya. Tidak apa-apa, Sehuna, ada Tao-ge. Shh, jangan menangis.
Perlahan, bayi perempuan itu tak lagi menangis. Bibirnya sekarang membuka-tutup lucu. Menurut Tao, seperti ikan di akuarium di rumah neneknya.
Hihi, Sehun memang adik Tao yang paling manis sedunia.
.
Joonmyeon langsung mematikan kompor dan berlari ke kamarnya begitu mendengar tangisan Sehun dan teriakan membahana dari Tao. Tak peduli dengan apron bunga-bunga yang masih dipakainya, tak peduli dengan spatula yang masih ia genggam di tangannya.
Dia berjumpa dengan Yifan yang masih menggigit sikat gigi penuh busa di mulut. Joonmyeon ingin memotret penampilan Yifan yang langka seperti ini. Yifan pun juga ingin tergelak melihat Joonmyeon yang membawa-bawa serokan wajan. Tapi tak ada waktu bahkan sekedar tertawa, mereka hanya saling melempar tatapan khawatir. Keselamatan buah hati mereka terancam.
Tapi pemandangan di depan mereka sama sekali mengubah ekspresi orang dewasa itu menjadi tersenyum dan bangga.
Tao yang tengah terkikik geli karena Sehun yang lapar menjilati ujung jari telunjuk kakaknya yang ditempelkan di bibir.
Yifan mengalungkan lengannya pada bahu istrinya, merapatkan tubuh mungil itu pada dirinya. Pria itu lalu tersenyum lebar, menunjukkan gigi yang masih penuh busa odol. "Untung saja kita melahirkan Sehun, Joon. Tao sudah belajar menjadi dewasa sekarang."
Joonmyeon memutar mata. Seharusnya, Yifan yang membuat, Joonmyeon yang melahirkan. "Setidaknya cuci mulutmu dulu sana, Yifan."
"Mana bisa aku melewatkan momen manis begini, Sayang. Tidak mau."
"Jorok!"
"Masih baik aku tidak membagi odolnya ke mulutmu."
"Yifan!"
-Epilog-
Kedua orang dewasa itu hanya tersenyum melihat putra sulung mereka. Tao dari tadi hanya diam memandang ke atas ranjang ibunya, tepatnya seseorang mungil dalam gendongan ibunya. Ace yang selalu terayun di genggamannya sudah tidak dihiraukan lagi.
Tao terpesona. Ia bahkan tidak bisa berkata-kata.
"Tao-er?"
Mata polosnya menatap sang ayah yang memangkunya.
"Tao suka punya adik?"
Bocah itu mengangguk, lalu kembali diam menatap adik perempuannya.
Bahkan kecupan gemas dari sang ayah juga tidak dipermasalahkan.
"Taozi mau cium adik bayi?"
Tao menatap mamanya tak percaya, mata pandanya melebar menggemaskan. "Boleh, Ma?"
Wanita itu mengangguk. Ia sedikit menggeser duduknya. "Tentu saja."
Sekarang bocah lelaki itu sudah duduk di samping ibunya. Setiap kali jemari kecilnya menyentuh kulit lembut adik bayi, nafasnya tertahan saking cemasnya. Pelan, dia mendekatkan wajah pada pipi si makhluk mungil, kemudian mengecupnya pelan dan hati-hati.
Orang tuanya hanya bisa semakin menahan gemas ketika bocah dua tahun itu meloloskan satu tawa.
Tao masih terlalu bahagia dan tidak percaya, bahwa makhluk mungil manis nan menggemaskan itu adalah adik bayinya. Yang dulu sempat ia benci karena sering membuat mamanya kesakitan.
Uh, Tao senang sekali punya adik bayi.
Joonmyeon belum tertidur, begitu juga suaminya. Meskipun tubuhnya terasa sakit semua dan capek, Joonmyeon rasanya tidak bisa begitu saja tertidur melihat kedua anak mereka. Rasanya masih terlalu bahagia. Tangannya masih mengelus surai hitam putra bungsunya yang sudah tertidur memeluk adik perempuannya. "Aku pikir Tao benar-benar tidak akan suka dengan Sehun, Yi. Aku sempat khawatir kalau Tao akan menolak sampai dia besar nanti."
"Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin Tao tidak suka dengan adiknya sendiri."
Wanita itu masih setia dengan senyum manisnya. "Aku jadi berfikir, apa dulu Kyuhyun oppa seperti ini saat aku lahir, ya?"
Yifan mengusak surai wanitanya gemas. "Jangankan Kyuhyun hyung, kalau aku ada saat kau lahir, akupun akan sangat senang juga. Aku pasti akan menjagamu, aku akan mencintaimu, bahkan dari detik kau hadir di dunia.
Karena kau terlalu indah untuk tidak dicintai, Joonmyeon."
Joonmyeon menunjukkan wajah malas, namun pipinya bersemu. "Kau baru enam bulan saat aku lahir. Jangan berlebihan, tolong."
-END-
Hai-hai.
adik bayinya sudah lahir. Tadinya mau bikinnya Jongin-cowok, tapi setelah sidang isbat diputuskan Sehun-cewek aja hoho. mungkin Jongin calon anak ketiga :3
hah sudahlah, Joonmyeon ga kuat. wkwk. semoga suka readers sekalian.
terima kasih yang sudah membaca dan mereview. dari chapter pertaama sampai sembilan, yang sudah setia membaca. Saya sudah siapkan endingnya mungkin satu-dua chapter lagi end nih. jadi sedih. ._.
bagaimanapun, selamat menunaikan ibadah puasa.. besok.
