from : Euigeon
to : Seongwoo
11:23 PM
Kabar terbaru! Daniel mengigau!
.
from: Seongwoo
to: Euigeon
11:23 PM
Sentil saja dahinya, dan dia akan berhenti.
.
from: Euigeon
to: Seongwoo
11:24 PM
Benarkah? Kurasa nanti Daniel malah bangun.
.
Karena penasaran, jadi Euigeon mencoba untuk menyentil dahi Daniel.
PLAKK
"Hyung!! Kau mengganggu tidurku!" mata orang didepan Euigeon yang sedang terbaring didepannya terbuka, Daniel bangun.
"Ouu? Maafkan aku! Seongwoo yang menyuruhku! Tadi kau mengigau! Dia bilang kalau kusentil dahimu kau akan berhenti mengigau, tapi ternyata kau memang berhenti mengigau" Euigeon jadi meringis sendiri melihat Daniel mengusap dahinya, sepertinya sentilan yang terlontar tadi terlalu keras.
"Dimana Seongwoo Hyung?" tanyanya, lalu membenarkan posisinya menjadi setengah duduk.
"Dia sudah pulang, aku yang menyuruhnya, aku takut orang tuanya khawatir" balas Euigeon santai sembari merapikan selimut Daniel.
"Hhh dia yatim piatu, Hyung"
mendengarnya membuat aktivitas Euigeon terhenti sejenak "Sungguh!? Ahh aku tidak tahu" lalu melanjutkan aktivitasnya.
"Dia tinggal hanya dengan kakeknya" lanjut Daniel, dan langsung menarik selimut hingga wajahnya tertutup dan hanya menyisakan pucuk rambut merah mudanya
Euigeon mengangguk,
"Tapi kakeknya juga sudah meninggal setahun yang lalu, jadi sekarang dia tinggal sendirian" Daniel membuka selimutnya dan menatap iba kearah Euigeon
"Kakek Chan sudah meninggal??" Mata Euigeon berkaca-kaca tapi masih ia tahan agar air matanya tidak jatuh
"Kau kenal dengan kakeknya?"
"Aku kenal" Euigeon sedikit berpikir, tapi ini terlalu cepat jika Kakek Chan pergi begitu saja untuk selamanya.
"Apa kau mengantarnya pulang?"
"Tidak" ucapnya datar, karena Euigeon jadi merasa bersalah.
"Seharusnya kau antar dia pulang"
"Sudah sudah kau tidur lagi saja!" Ujar Euigeon dan berdiri keluar dari kamar Daniel. Ia mengambil ponselnya lalu mengetikkan sebuah kata.
from: Euigeon
to: Seongwoo
11:35 PM
Kau sudah makan? Hyung?
.
from: Seongwoo
to: Euigeon
11:35 PM
Hahaha apa itu? Ada embel-embel 'Hyung' nya dibelakang.
.
from: Euigeon
to: Seongwoo
11:35 PM
Kau kan lebih tua dariku
.
from: Seongwoo
to: Euigeon
11:36 PM
Ah benar juga,
aku belum makan
nafsu makanku hilang:'(
Sedang tidak mood
.
from: Euigeon
to: Seongwoo
11:36 PM
Mau kubelikan sesuatu
untuk dimakan?
Siapa tau moodmu
bisa kembali
.
from: Seongwoo
to: Euigeon
11:36 PM
Tidak perlu, aku akan
tidur sebentar lagi
.
from: Euigeon
to: Seongwoo
11:37 PM
Okidoki,
selamat tidur.
.
from: Seongwoo
to: Euigeon
11:37 PM
Selamat tidur juga,
Eung? Tidak!
Kau harus menjaga Daniel hahaha
.
from: Euigeon
to: Seongwoo
11:37 PM
Siap boss!
…—…—…—…—…—…
Ada sebuah gemericing bunyi lonceng ketika pintu toko terbuka, seorang dengan surai coklat masuk.
"Jisung Hyung!" Sapanya.
"Kau tidak kuliah?" Tanya Jisung yang sedang menata kue kue basah nan lezat kedalam etalase kaca dengan lampu berwarna kuning terang.
"Kuliah, nanti jam 1, ini masih jam 8, aku mau beli kue dan kopi"
"Sekarang kau jadi pembeli? Sana layani dirimu sendiri! Aku sibuk!"
"Kau mau kulapori ke Jonghyun Hyung karena tidak menghargai pembeli?" Ancam Euigeon.
"Kau juga mau kulapori? Karena kemarin bolos kerja? Hah? Hah? Hah?" Tak kalah, Jisung juga berbalik mengancam.
"Hehehe itu... karena adikku masuk rumah sakit kemarin"
"Oo?? Adikmu? Maksudnya sirambut pink itu?"
"Benar! Kau bertemu dengannya tempo hari bukan? Siapa yang lebih tampan?"
"Tentu saja adikmu! Dia lebih imut! Lebih ramah! Kau? Kau itu kebalikannya! 180 derajat berbeda! Sangat berbeda!" ujarnya ketus
"Hhhh sudah cepat ambilkan pesananku! Sebelum banyak pelanggan yang datang! Kau menghabiskan waktuku!"
"Dasar bocah tengik!"
"Hahaha"
Ting! Nong!
Seongwoo membuka pintu rumahnya, ia sedikit terkejut karena Euigeon yang datang.
"Aku bawakan sarapan" ujar Euigeon sedikit ramah
"Maaf rumahnya sedikit berantakan, aku kewalahan jika harus mengurus rumah ini seorang diri-" Seongwoo memotong kata terakhirnya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya "mati aku" batinnya.
Euigeon melihat sekelilingnya, rumah sebesar ini bisa dikatakan sangat rapih, tapi tadi Seongwoo bilang rumahnya sedikit berantakan, mungkin Seongwoo belum pernah mampir kerumah Euigeon dan melihat seberapa berantakannya rumah itu, bahkan tidak pantas untuk disebut sebuah rumah,sebut saja bangkai kapal yang karam. Karena sangat hancur berantakan.
tapi, Itu karena Euigeon yang jarang berada dirumah, jadi belum sempat membereskan semuanya.
"Tak apa, Daniel sudah bilang semalam, kau cukup berani untuk tinggal dirumah sebesar ini"
Seongwoo menurunkan tangannya, "ah dia sudah cerita ya? Sebenarnya aku ingin menjual rumah ini lalu pindah keapartemen atau kerumah yang ukurannya lebih kecil" Lanjutnya. "Apa kau lapar? Pagi-pagi begini sudah bertamu kerumahku, pasti kau lapar"
"Sedikit" Euigeon menggaruk tengkuknya sebentar, "boleh aku duduk?" Tanyanya.
"Silahkan saja, anggap saja rumah sendiri" Seongwoo berjalan kearah dapur. "Mau kubuatkan sesuatu?" Tanya Seongwoo dari dapur.
"Tidak perlu, aku sudah beli kopi dan kue, aku hanya ingin sarapan denganmu lalu pergi kuliah"
"Ahh aku mengerti" Seongwoo berjalan kembali keruang tamu dan duduk di samping Euigeon, Seongwoo berpikir sejenak, agak aneh ketika orang yang wajahnya mirip dengan pacarmu bahkan kau baru mengenalnya kemarin lalu dia tiba-tiba menjadi baik seperti halnya dia adalah pacarmu sekarang.
"Jadi Niel- ah tidak.. maaf, maksudku Euigeon.. ah aku lupa mau bicara apa tadi" Seongwoo salah tingkah, ia memalingkan wajahnya menyembunyikan semburat merah dipipinya.
"Haha santai saja, kau boleh panggil aku Niel, atau Nyel? Atau Dan haha anggap saja aku dia"
"Nyel? Namanya aneh! Apa kau sering memanggilnya begitu"
"Aku selalu panggil dia Nyel, karena dulu aku tidak bisa mengeja namanya, lalu yang keluar dari mulutku adalah Nyel, dan dia sebaliknya, Daniel tidak bisa mengeja namaku makanya selalu menggilku Hyung, ya.. Hanya Hyung, tanpa Euigeon dibelakangnya.. Hyung~ haha" sedikit terkekeh matanya juga menyipit sama seperti Daniel jika tertawa
"Haha, padahal jeda kelahiran kalian hanya 4 menit, tapi kenapa bisa dia menganggilmu Hyung? Haha lalu bagaimana keadaan Daniel?" Tanya Seongwoo
"entahlah, itu terjadi begitu saja.. kau tahu, semalam aku tidak bisa tidur karena terus kepikiran Daniel, dia terus menerus mengigau lalu menggertakkan giginya, aku jadi terus terbangun dan tidak bisa tidur" jawab Euigeon menyeruput kopi yang sudah agak dingin
"Tapi sejauh ini dia baik-baik saja, sepertinya.. entahlah ini hasil analisaku, terkadang aku melihat dia sangat baik, tapi beberapa menit kemudian jadi sangat lemah" Euigeon berhenti sejenak, "aku belum berani bertanya kenapa dia bisa masuk rumah sakit, karena aku takut.."
Seongwoo menaikkan kedua alisnya "takut?" Lalu menopang dagunya, Euigeon mengeluarkan nafas berat "baiklah tidak perlu dilanjut, kurasa itu tentang masa lalu kalian, aku tidak tahu ceritanya tapi kedengaran sangat sensitif, sudah jangan dilanjut" ujar Seongwoo. "Makan kuenya, ini enak! aku suka, lain kali bawakan aku agak banyak ya haha" lanjut Seongwoo.
[Jalan Raya, 06:45 PM]
Euigeon berjalan menelusuri gedung pencakar langit dikota Seoul, rencananya mau kembali kerumah sakit, ia jalan perlahan tanpa memperhatikan sekitar, tanpa sadar juga seorang laki-laki sudah berjalan sejajar dengannya, tapi Euigeon pura-pura tidak melihat.
"Jeo-jangggg!! Jeoooojanggg!!" Ujar lelaki disampingnya, mencoba menarik perhatian lawan bicaranya dengan membuat teriakan dan membuat bentuk persegi dengan kedua ibu jari dan jari telunjuknya.
"Mau apa?" Tanya Euigeon berhenti.
"Tidak ada, hanya ingin pulang bersamamu Hyung"
"Aku tidak pulang kerumah, aku ingin kerumah sakit"
"Siapa yang sakit? Apa kau sakit? Kenapa bisa sakit?" Tanya lelaki itu
Euigeon menepuk dahinya, "Gawat! Aku kelepasan" lalu berpikir sejenak mencari alasan "T-temanku, iya.. temanku sakit"
"Apa aku boleh ikut?"
"Tidak, kau pulang sana"
"Ah akukan mau ikut melihat temanmu"
"Jihoon-" ucapannya terpotong, "baiklah aku pulang" ucap Jihoon pasrah, lalu pergi begitu saja meninggalkan Euigeon
Park Jihoon namanya, baru saja masuk SMA, terkadang sikapnya manja, dia adalah tetangga sebelah rumah Bibinya Euigeon, dulu saat Jihoon masih SD, Euigeon sering antar jemput Jihoon, sejak dari situ mereka menjadi dekat sampai sekarang.
[Rumah sakit, 10:11 PM]
Sikembar Kang hanyut dalam kesibukannya masing-masing.
Daniel terbaring diatas ranjang, menghitung setiap tetesan infus yang turun dari botolnya. Euigeon sedang berkutik dengan tugasnya dan mendudukan dirinya diatas sofa lalu sebuah kertas, buku dan alat tulis lainnya berserakan diatas meja yang tingginya sejajar dengan sofa.
"Hyung" panggil Daniel, rasanya Daniel bosan.
"Apa? Aku sedang sibuk"
"Tidak kangen dengan ibu?"
Euigeon mendongak, berhenti sejenak dari aktivitas mengerjakan tugas kuliahnya.
"Kenapa tanya?" Jawab Euigeon kembali mengerjakan tugasnya
Daniel berpikir sejenak.
"Aku ingin tahu Hyung" jawab Daniel, menaikkan bahunya dan mempoutkan bibirnya.
"Kenapa ingin tahu?" Tanya Euigeon, matanya kembali fokus pada kertas diatas meja
"Hanya saja, terkadang aku melihat ibu selalu berdiri dijendela samping pintu, selalu.. setiap waktu, menurut pandanganku, sepertinya ibu menunggumu"
"Kau tahu ...Terkadang, dia bisa berjam-jam memperhatikan jendela rumah dari sofa, aku prihatin melihatnya, pulanglah Hyung, sepertinya ibu merindukanmu"
Euigeon terdiam, keadaan dikamar rumah sakit itu menjadi semakin sunyi dan sedikit sensitif.
"Ibu.. kemarin meneleponmu, tapi aku yang angkat karena kulihat kau sedang tidur sangat nyenyak, aku pura-pura menjadi dirimu saat ditelepon, kubilang padanya kalau kau ingin menginap beberapa hari dirumahku" ujar Euigeon sedikit menoleh kearah Daniel yang sedang memperhatikan Euigeon dari atas ranjang.
"Lalu?" Tanya Daniel sedikit merendahkan volumenya.
"Awalnya ibu curiga, tapi akhirnya dia mengizinkan"
Hening lagi, Daniel tidak sempat berpikir membuat ibunya khawatir, karena yang sekarang ini terbayang dipikirannya adalah ia selalu merepotkan dan menyusahkan Euigeon, masih ada sedikit rasa penyesalan dihati Daniel perihal perginya Euigeon.
"Apa kau benar-benar tidak mau pulang?"
"Entahlah" ujar Euigeon, masih berpikir dan menimbang bagaimana jika Ibunya masih belum memaafkan semua kesalahan dimasa lalu, Euigeon juga belum sempat minta maaf atas kesalahannya yang sudah bertahun-tahun
Jujur saja, anak mana yang tidak merindukan ibunya walaupun sudah diusir dari rumah, bagaimanapun dia tetap seorang Ibu, Ibunya Euigeon.
"Mungkin akan aku pikirkan lagi Nyel, sekarang aku yang tanya, kenapa kau bisa sampai dirumah sakit dengan semua luka itu? Hah?"
"Itu.. ceritanya panjang, apakah harus aku ceritakan?" Daniel berbalik badan, menaikkan selimutnya perlahan, "aku mengantuk Hyung, mau tidur"
"Hhhhffff" Euigeon membuang napas kasar.
"Jadi waktu itu, saat kita berpisah diperempatan jalan... sebenarnya... aku tidak benar-benar pulang, aku mengikutimu pulang, aku mengikutimu lewat gang, berharap kau sampai tujuan dengan selamat, tapi ternyata aku yang tidak selamat" jawab Daniel yang masih memunggungi Euigeon dan bicara dibalik selimut dengan tiba-tiba.
"Kenapa mengikutiku bodoh?"
"Karena semalam sebelum kita bertemu dikolumbarium aku bermimpi kalau kau kecelakaan, tertabrak sebuah mini bus, lalu kau meninggal ditempat, aku sangat takut! Aku terbangun saat itu juga lalu aku sadar kalau itu hanya mimpi, walaupun hanya mimpi tetap saja semuanya terlihat sangat nyata, jujur saja, aku tidak mau kehilangan orang yang kusayangi, pertama Ayah, lalu jika kemudian kau... aku... aku.. sangat tidak ingin hal itu terjadi" Daniel menangis diatas ranjang, walaupun tidak terlihat tapi terdengar dari suaranya yang bergetar dan sebuah isakan kecil disela-sela ceritanya.
"Begitu kah? Aku juga bermimpi demikian, aku bermimpi kalau kau meninggal, tepat setelah kita bertemu, sebelumnya saat dijalan pulang aku mendengar suara orang dari dalam gang- TUNGGU!!! berarti? Itu bukan halusinasiku? Itu benar kau? Yang berteriak dari dalam gang???"
"Kau mendengarnya?"
"Aku mendengarnya, kupikir itu halusinasiku!"
"Hmm.. yasudahlah ini memang salahku, aku yang bodoh, seharusnya aku memang tidak mengikutimu" Daniel terkekeh, Euigeon sedikit tersenyum.
"Haha, kau memang bodoh, oh iya kemarin aku baca kalau kita memimpikan orang yang meninggal berarti orang itu akan panjang umur, kalau begitu mari kita bersenang-senang dengan umur panjang kita Nyel"
"Ya.. semoga" ujar Daniel tapi tidak disuarakan.
[Rumah Sakit, 08:34 AM]
Euigeon bersiap-siap, dua manik diatas ranjang menatapnya intens, terasa heran karena melihat kakaknya menggunakan baju kemeja rapih dan celana bahan hitamnya, padahal hari ini hari Minggu.
"Mau kemana?" Tanya Daniel masih memperhatikan Euigeon
Euigeon berbalik arah dan menatap Daniel "Kerja!" Lalu berbalik arah lagi memasukkan bajunya kedalam celana.
Lalu suara pintu terbuka, ada yang masuk.
"Pagi!" Ujar seseorang dengan konstelasi dipipinya, "apakah terlalu pagi untuk menjenguk orang sakit?" tanyanya.
"Pagi Hyung! Bagaimana tidurmu semalam?" Tanya Daniel langsung bangun.
"Aku tidur nyenyak semalam" jawab Seongwoo lalu mendekatkan dirinya kearah ranjang Daniel.
"Aku yang tidak bisa tidur" ujar Daniel manja, "aku rindu bibirmu Hyung haha" goda Daniel, Seongwoo tersenyum lalu menatap Euigeon yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka berdua.
"Euigeon? Mau kemana?" tanya Seongwoo ramah
"Kerja" ujarnya singkat, lalu mengambil ranselnya "aku berangkat ya" lalu pergi begitu saja.
"Oo?? Dia kenapa? Moodnya sedang tidak bagus?" Tanya Seongwoo
"Entahlah sepertinya semalam dia baik-baik saja, abaikan saja moodnya memang suka naik turun"
Seongwoo masih melihat kerah pintu yang barusan tertutup.
'ada yang salah dengannya' batin Seongwoo
TBC
Karena di wattpad sudah sampe chapter 13 aku mau cicil publish disini, nanti kalau udah sampe chapter 13 insya allah mau apdet seminggu sekali setiap hari sabtu malam. hehe
btw terima kasih untuk yang sudah review:))
