Naruto Mk

Secret Passion

Sasuke. U x Hinata. H

Rate M

Drama/Romance

Typo(s), OOC, EYD, and etc.

Happy reading.

Flashback.

Beberapa tahun yang lalu, Sasuke dan Neji adalah teman satu kelas saat di SMA, mereka bersaing satu sama lain untuk menjadi yang terbaik, meski sifat mereka memiliki kemiripan dan terlihat saling bermusuhan, tapi sebenarnya mereka bisa disebut teman yang cukup dekat, bahkan mereka selalu terlihat bersama seperti kelompok remaja lainya.

Neji, Naruto, Gaara dan juga Sasuke selalu terlihat bersama saat di sekolah, tapi Sasuke lebih dekat dengan Naruto dan mungkin itulah penyebab orang lain menilai Sasuke dan Neji tidak berteman dengan baik, orang lain menyangka mereka berdua seperti perang dingin.

Saat lulus dari SMA, Neji meneruskan pendidikannya ke luar negri, Neji mengikuti orang tuanya yang pindah ke London, dan sejak itu mereka tidak pernah berkomunikasi lagi.

Flashback end.

Suasana Mansion Hyuga sedikit hening setelah kedatangan Neji, Sasuke hanya menampakan raut datar di wajahnya, kedua pria berbeda iris mata tersebut masih saling menatap dingin.

"Sepertinya banyak yang sudah kulewatkan, tapi kau tahu? masalah tentang kau dan Hinata aku sudah mengetahuinya, skandal memalukan yang tidak bisa disebut sepele." Neji berucap dengan wajah seriusnya.

"Kau sangat perhatian Neji, terima kasih." Sasukepun berucap dengan nada suara yang dingin.

"Cih, masih angkuh, keras kepala dan sombong." Neji melipat kedua tangan di dadanya.

"Hn, pujian yang bagus." Sasuke kembali menambahkan perkataanya.

"Apa kau tidak bosan?, sudah kukatakan sejak dulu, berhentilah memikirkan sepupuku, karena aku tidak akan memberikanya untukmu." Sasuke menghela napas mendengar ucapan Neji.

"Dan jawabanku tetap sama, terlebih saat ini, tidak ada seorangpun yang bisa menghentikanku, dan itu termasuk kau, Neji." jawab Sasuke dengan yakin.

Memang benar Neji sudah mengetahui tentang perasaan Sasuke sejak dulu, sejak mereka masih bersekolah bersama, Neji sangat tahu bagaimana Sasuke begitu menyukai Hinata, setiap kali Neji mengingatkan agar Sasuke tidak mengganggu Hinata, dan Sasuke tahu Neji hanya melindungi sepupunya.

"Kau sudah tahu jawabanya bukan." Neji melirik ke arah Hinata yang menundukan kepalanya.

"Biarkan dia memikirkanya lagi, hanya dia yang akan memutuskanya." Sasuke juga menatap Hinata.

"Kalau kau berani memaksanya kau akan berhadapan denganku, aku tidak akan segan walaupun kau adalah temanku." ucap Neji dengan sedikit amarah.

"Kali ini aku tidak akan membiarkanmu Neji, aku juga tidak akan ragu untuk menghadapimu." Sasuke masih bersikap tenang dan terlihat santai.

"Kau tidak tahu apapun, jadi sebaiknya jangan ikut campur." tambah Sasuke.

Tatapan Sasuke dan Neji terlihat tenang, tapi ada aura ketegangan diantara mereka seolah saling mengingatkan satu sama lain.

Secret Passion.

Hinata meremas rambut dengan frustrasi, semua semakin terasa rumit baginya, satu sisi di bagian hatinya dia percaya dengan perkataan Sasuke, tapi satu sisi dalam pikirannya dia sudah merasa muak dengan semua masalah yang di timbulkan Sasuke, selalu saja pria itu melakukan semua yang diinginkanya tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Hinata tahu pria itu tidak pernah mengingkari perkataanya, Sasuke selalu menepati apa yang sudah dia katakan, dan mungkin semua perkataan Sasuke saat ini pun benar-benar akan di tepatinya, masalahnya bukan pada diri Sasuke, tapi pada pemikiran dirinya sendiri, Hinata belum bisa membuka hatinya, rasa sakit yang masih dirasakanya membuat Hinata memilih untuk diam.

"Dia tidak akan berhenti sampai kau memberi keputusan." suara Neji tiba-tiba terdengar dari arah pintu kamarnya, Hinata hanya menatapnya sekilas, saat ini Hinata berada di balkon kamarnya, setelah perdebatan Sasuke dan Neji berakhir, Hinata hanya ingin sendiri, entah kemana Sasuke pergi, apa dia mencari hotel atau masih bersama keluarganya Hinata tidak tahu.

"Apa yang akan kau rencanakan sekarang." suara Neji terdengar kembali, pria itu menghampiri Hinata yang berdiri di pagar pembatas.

"Kuharap kau tidak akan melompat ke bawah untuk mengakhiri hidupmu." Hinata tersenyum tipis mendengar ucapan Neji.

"Haruskah?" Neji juga tersenyum mendengar suara halus milik sepupunya.

"Ini memang berat, tapi percayalah aku tidak mau mati konyol seperti itu." Neji tertawa, ternyata Hinata tidak terpuruk seperti yang dia bayangkan.

"Kau sudah berubah, kau lebih kuat sekarang, itu bagus."

"Lagi pula tidak ada gunanya kalau kau harus menderita karena pria seperti dia." lanjut Neji, Hinata tersenyum.

"Aku hanya butuh waktu sedikit lagi, tapi pria itu terus saja menggangguku, tentu saja tidak mudah bagiku untuk melupakan semua yang sudah dia lakukan."

"Baik aku ataupun dia, kami berdua sudah salah faham selama ini, dan bodohnya semua itu di biarkan selama bertahun-tahun, dan sekarang semua menjadi rumit." Neji terdiam, Hinata menundukan kepalanya sambil menghela napas.

"Dulu, dia menjadi idola para gadis, jika dia mau dia bisa mendapatkan semuanya, tapi dia tidak melakukanya, aku sangat tahu dengan perasaanya, dia menyukaimu, mungkin aku turut bersalah dengan semua ini." Hinata mengalihkan perhatian pada Neji.

"Aku selalu mengatakan padanya untuk tidak mengganggumu, setiap kali dia ingin menyapamu aku akan melarangnya karena kupikir dia tidak bersungguh-sungguh." Neji menerawang seperti mengingat sesuatu.

"Padahal aku tahu dia tidak seperti itu."

"Dia sahabatmu, tentu kau membelanya." Hinata menyela ucapan Neji.

"Hn, tidak, aku tidak membelanya, sebagai sahabat aku, Naruto, dan Gaara sangat tahu dengan kepribadian Sasuke."

"Keseharianya hanya dia habiskan dengan kegiatan sekolah dan ... menatapmu."

"Itachi, selalu memaksakan kehendaknya pada Sasuke, aku juga melihatnya saat dia memaksa Sasuke untuk menjadi model majalah pria dewasa." Hinata hanya mendengarkan Neji tanpa mengalihkan tatapan.

"Pada awalnya Sasuke menolak apa yang diinginkan Itachi, bahkan dia tidak pulang selama seminggu karena tidak ingin bertemu dengan Itachi."

"Yah, tapi akhirnya Sasuke begitu menikmati pekerjaanya kan?." Hinata menyela ucapan Neji.

"Yah, sesuatu yang tidak kita sukai jika dilakukan secara terus menerus, maka kita akan terbiasa, dan setelah sesuatu menjadi sebuah kebiasaan, maka bukan tidak mungkin jika hal itu menjadi sebuah kebutuhan." jawab Neji.

"Ya ampun jawabanmu terlalu panjang Neji." Hinata dan Neji tertawa bersama.

"Aku dan Sasuke pernah berkelahi, kami saling memukul satu sama lain, aku menghajarnya karena dia keras kepala."

"Dia ingin aku tidak menghalanginya untuk mendekatimu, tapi aku tidak membiarkanya." Neji kembali berkata yang hanya di dengarkan oleh Hinata.

"Saat ku dengar kau menjadi model majalah pria dewasa, aku sangat terkejut dan tidak percaya, gadis lugu dan pendiam sepertimu tidak mungkin seberani itu."

"Dan jujur saja aku merasa kecewa padamu Hinata." Neji mengalihkan perhatian pada Hinata, tapi wanita itu sedang menundukan kepalanya, kedua tanganya saling meremas.

"Sekarang aku mengerti, alasan Sasuke membencimu, dia merasa kecewa, sangat kecewa."

"Neji, aku..."

"Entahlah Hinata..." Neji memotong ucapan Hinata, sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu.

"Apakah aku juga ikut andil dalam masalah kalian berdua?"

"Neji..." Hinata berusaha menyela ucapan Neji.

"Aku hanya perlu waktu." Hinata berucap pelan, dan Neji hanya menganggukan kepalanya.

Di suatu tempat...

Prang...

Prang...

"Arrrgghhh..."

"Sial, brengsek..."

Seorang wanita tengah mengamuk di ruang apartementnya, semua barang berserakan di lantai, pecahan kaca juga bertebaran di sana.

"Hiks, kenapa ini terjadi pada diriku?, setelah semua yang kulakukan, aku di buang seperti sampah...hiks." wanita itu menangis histeris, wajahnya memerah, matanya membengkak, bibirnya bergetar dan pakaian yang berantakan.

"Aku tidak mau kau menjadi miliknya, aku tidak rela, kau hanya milikku."

"Aku,... aku tidak akan membiarkanya." ucap wanita itu sambil mengusap kasar air matanya.

Secret Passion.

'Selamat tinggal Hinata, aku akan pergi.' Hinata merasa sesak luar biasa di dadanya.

'Sasuke...' Hinata mengulurkan kedua tanganya tapi Sasuke tidak bisa di gapainya, bayangan pria itu semakin menjauhinya.

'Aku akan lihat sampai di mana batas pengorbananku, jika saat itu tiba dan aku tidak bisa mengobati lukamu, maka aku akan melepas cinta ini.' satu tetes air mata terlihat di mata obsidian milik Sasuke, sesuatu terasa mencelos dalam hati Hinata.

'Cinta bicara begitu halus dengan perasaan, cinta hadir tanpa di undang dan di paksakan, aku bahkan tidak bisa mengusirnya.' wajah tirus Sasuke semakin pucat, Hinata masih berusaha menggapainya tapi tidak bisa, perlahan bayangan Sasuke yang membelakanginya semakin menghilang dan menjauh.

'Sasuke, jangan pergi...' percuma Sasuke tidak mendengar ucapan Hinata, wanita itu berlari berusaha menggapai bayangan yang tidak berbekas.

'Sasukeee...'

"Hah...hh...hh...hhh..."

Napas Hinata terengah tak beraturan, keringat membasahi tubuhnya dan air mata yang mengalir di pipinya.

Mimpi yang begitu jelas, memperlihatkan penderitaan yang di pendam Sasuke selama ini, apakah pria itu merasa begitu tersiksa sekarang ini?.

Hinata terbangun dari mimpi buruk yang baru saja di alaminya, waktu menunjukan pukul 2 dini hari, wanita itu bangkit dari tempat tidurnya kemudian membuka pintu balkon kamarnya, angin malam yang terasa begitu dingin menusuk di kulitnya yang berbalut gaun tidur tipis, pagar pembatas menjadi tujuannya saat ini, mungkin dengan menatap langit malam di sana akan membuat perasaanya lebih ringan.

Tangan mulus Hinata bersandar di pagar pembatas, sedangkan wajahnya menengadah ke langit yang sedikit gelap.

"Tidak ada bintang, kenapa gelap sekali? apa akan turun hujan?" Hinata bergumam dan melihat ke sekelilingnya.

Deg...

"Sasuke..." Hinata memekik pelan, saat melihat ke bawah tanpa sengaja netranya menemukan sosok Sasuke yang sedang berdiri di taman yang berada tepat di bawah kamar Hinata, posisi pria itu membelakangi Hinata sehingga dia tidak menyadari kehadiran wanita itu.

"Apa yang sedang dia lakukan?" Hinata bisa melihat punggung lebar Sasuke yang berbalut kemeja putih, sepertinya sejak kedatanganya pria itu belum mengganti pakaianya.

Terr...

"Aachh..." Hinata terkejut, ada getaran kecil di perutnya seperti sengatan listrik yang begitu kecil, Hinata mengusap perutnya yang masih rata.

"Selalu seperti ini." setiap kali dia memikirkan Sasuke, maka sesuatu yang ada di perutnya akan berdesir, Hinata kembali menatap ke arah Sasuke, pria itu juga menengadahkan wajahnya ke arah langit.

"Apa bayi ini merasakan kehadiran ayahnya?"

"Apa kau rindu pada ayahmu?" Hinata kembali mengusap perutnya, sesuatu terasa menghangat di dadanya.

Secret Passion.

Pagi ini Hinata keluar dari kamarnya dengan mengendap-ngendap, dia mengedarkan pandangan kesekeliling, entah kenapa dia mekakukan itu, apakah ada yang dia hindari?.

Berjalan secara perlahan ke ruang makan untuk sarapan dengan perasaan sedikit cemas.

Sampai di ruang makan Hinata kembali melihat sekelilingnya seperti mencari sesuatu.

"You looking for someone?" Hinata sedikit terkejut dengan suara seorang pria di belakangnya.

"N-Neji..." Hinata tampak gugup dan tergagap.

"Kenapa kau mengendap-ngendap seperti itu, ayo sarapan." Neji berjalan melewati Hinata dan menuju ruang makan.

Hinata dan keluarganya menikmati sarapan bersama, tapi Hinata tidak melihat kehadiran Sasuke, apakah pria itu sudah pergi?.

"Sasuke sudah pulang ke Jepang satu jam yang lalu." sang kepala keluarga tiba-tiba membuka suara, entah kepada siapa dia berbicara.

Gerakan tangan Hinata terhenti saat memegang sendok, tidak ada yang tahu ekspresi dari wajahnya karena wanita itu terus menunduk.

"Itu bagus, dia hanya orang asing, dia sama sekali tidak ada hubungan dengan keluarga ini." Neji berkata setelah mendengar ucapan Hiashi.

"Kau salah kakak, ada uchiha lain disini, calon keponakanku." Hanabi juga ikut berkata.

"Sudahlah, tapi tentang Jepang, sudah lama kita tidak kembali ke sana." Ibu Hinata juga mulai ikut dalam pembicaraan di antara anggota keluarganya.

"Bagaimana kalau kita liburan ke sana?" Hanabi kembali bersuara.

"Bukan liburan, tapi kita pulang ke sana, kita akan ke Jepang besok pagi." sang kepala keluarga kembali bersuara.

Tidak ada yang bersuara setelah Hiashi berkata.

"Aku tidak ikut, aku akan tetap di sini." Hinata mulai berkata, semua orang hanya menatapnya, Hinata segera beranjak dan meninggalkan ruang makan.

Ada rasa kesal dan juga sedih, entah kenapa Hinata merasa kecewa, Sasuke kembali begitu saja, apa dia berhenti dan menyerah untuk membujuknya, jadi semua yang di katakan pria itu adalah kebohongan, dan Hinata lupa Sasuke masih punya kekasih, mungkin saja pria itu kembali pada kekasihnya, ternyata pria itu memang tidak bisa di harapkan.

"Aku sudah tahu ini pasti terjadi."

"Aku memang bodoh, kenapa aku harus percaya padanya." Hinata menggumam, tanpa di sadari sepasang mata mengawasinya, Hinata menatap kolam renang yang ada di hadapanya, air kolam yang melewati kapasitas terlihat seperti menyatu dengan pemandangan laut yang terhampar di hadapanya, angin laut juga menerbarkan helaian indigo yang tergerai rapi.

"Tidak baik melamun sendirian, mau kutemani." Hinata tersentak karena terkejut, kenapa Hinata tidak menyadari ada seseorang yang menghampirinya.

"K-Kau... sedang apa kau di sini?" ucap Hinata sedikit berteriak, namun orang yang di ajak bicara hanya tersenyum, Sasuke berjalan dan berdiri di hadapan Hinata.

"Sinar matahari pagi mungkin sangat bagus untukmu dan juga bayi kita, tapi angin di sini terlalu kencang, sebaiknya kau masuk."

"Apa pedulimu, pergilah!" Hinata tidak menghiraukan ucapan pria yang ada di hadapanya.

"Aku akan pergi,..." Hinata menatap Sasuke tidak percaya.

"Aku akan kembali, tapi tidak sendiri, kau akan ikut bersamaku, ibuku sedang sakit dan membutuhkanku, tapi aku tidak ingin kembali tanpa dirimu." Sasuke menatap Hinata, terlihat kesungguhan di mata obsidian miliknya.

"Aku tidak mau." Hinata berucap sedikit keras dan mengalihkan perhatian, wanita itu hendak pergi tapi pergelangan tanganya di cekal.

"Dengarkan aku, berikan kesempatan untukku, satu kali saja, maka aku tidak akan membuat pengorbananmu sia-sia." Hinata terdiam, apakah dia harus memberi kesempatan pada Sasuke.

"Lihat aku Hinata, tatap mataku dan katakan kau masih mencintaiku." Sasuke menarik tubuh Hinata lebih mendekat, tidak hanya itu satu tangan Sasuke merangkum wajah Hinata.

"Hentikan omong kosongmu, dan pergilah pada kehidupanmu, lupakan semua yang terjadi dan biarkan aku sendiri." Hinata menurunkan tangan Sasuke yang berada di wajahnya.

"Di mana Hinata yang kukenal, Hinata yang selalu diam saat aku menyakitinya." Sasuke berkata dengan suara yang pelan.

"Dia sudah tidak ada Sasuke, Hinata yang mencintaimu sudah tidak ada." Hinata menangis.

"Hinata yang selalu menatapmu, Hinata yang selalu menunggumu, Hinata yang mengharap kebaikanmu, dia sudah mati." Hinata memukuli dada Sasuke, tapi Sasuke diam dan membiarkanya.

"Aku tidak ingin mengingat itu semua, saat dadaku terasa sakit karena memikirkanmu, saat aku tersiksa karena merindukanmu, saat aku menangis karena aku mencintaimu." Hinata mengeluarkan emosi yang tersimpan di dadanya.

"Setiap saat aku ingin mengatakan kalau aku mencintaimu, tapi kau hanya memberi luka, aku sudah bosan, aku sudah muak padamu, selama ini kau hanya memberi luka padaku." gerakan tangan Hinata yang memukuli dada bidang Sasuke masih belum berhenti sehingga tubuh Sasuke sedikit terdorong.

"Bagaimana aku bisa tahu? kau tidak pernah menunjukan sikap kalau kau mencintaiku, seharusnya kau memukuliku sejak dulu, atau jika perlu kau pukul kepalaku ini." Sasuke mencekal pelan tangan Hinata yang terus memukul dadanya.

"Maafkan aku, aku tahu kata maaf saja tidak akan cukup, tapi aku akan menerima hukuman apapun yang kau berikan, katakan padaku apa yang harus kulakukan?" Sasuke kembali membujuk Hinata.

"Besok aku akan kembali, kuharap kau mau memberi kesempatan untukku, dan kembalilah bersamaku, 8 tahun yang kau lewati akan kuganti dengan kebahagiaan untuk 8 tahun berikutnya." ucap Sasuke dengan yakin.

"Cih, jangan membuat janji seperti itu, manusia tidak akan bisa menepatinya, lagipula belum tentu aku mau bersamamu."

"Aku belajar dari kesalahan, dan kurasa orang yang pintar tidak akan melakukan kesalahan dan kebodohan yang sama untuk kedua kalinya." ucap Hinata dengan nada suara yang dingin, Sasuke terdiam merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.

Hinata pergi tanpa melihat Sasuke yang terdiam, pria itu mengepalkan tanganya dengan kuat, ada emosi yang tertahan di dadanya, dia memang pantas mendapatkanya, Sasuke sadar akan hal itu, apa yang dia berikan untuk Hinata jauh lebih menyakitkan di bandingkan apa yang Hinata ucapkan tadi.

Secret Passion.

Tok-tok...

Hinata mengalihkan perhatian pada pintu kamarnya yang di ketuk seseorang.

"Masuk!"

Ibu Hinata muncul bersama Hanabi dari arah pintu yang terbuka.

"Ibu dan kau Hanabi, ada apa? ini sudah larut, kalian belum tidur?" Hinata menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.

"Kau sendiri masih terjaga, apa kau baik-baik saja?" Hikari menghampiri Hinata dan duduk di tepi ranjang, sedangkan Hanabi berdiri di dekat ranjang.

"Apa ada yang ingin ibu bicarakan?" Hinata bertanya langsung dan Hikari hanya menganggukan kepalanya.

"Ikutlah bersama kami, kita akan berkumpul bersama di Jepang." Hikari menggenggam tangan Hinata dan mengusapnya.

"Tapi aku..."

"Ayolah kakak, kita sekeluarga akan kembali bersama, kami tidak akan membiarkanmu kesepian lagi, jika kau tetap di sini tidak ada yang menemanimu." Hanabi memotong ucapan Hinata.

"Lagi pula di sini bukan tanah kelahiran kita, aku merindukan saat kita bersama seperti dulu." lanjut Hanabi.

"Aku, ibu dan ayah tidak akan membiarkanmu hidup sendiri."

"Iya Hinata, kami akan selalu ada untukmu, maafkan ayah dan ibu yang sudah menelantarkanmu." Hikari mengusap helaian indigo Hinata dan mengusap air mata putrinya yang sudah turun sejak tadi.

"Paling tidak lakukan untuk calon bayimu, kami akan selalu bersamamu untuk menghadapi semuanya."

Memang benar selama ini Hinata begitu kesepian, Hinata menghadapi semua masalahnya seorang diri, sebenarnya Hinata merasa bahagia dengan keluarganya yang berkumpul kembali.

Tapi apa dia harus kembali? Hinata merasa sangsi bila harus kembali saat ini, karena itu berarti akan timbul masalah baru, tentang kehidupan barunya yang akan di ketahui banyak orang, kehamilanya pasti akan menjadi keributan yang ditimbulkan banyak wartawan, tidak, Hinata bukanya merasa malu pada bayinya, bagaimanapun Hinata sangat mencintai calon bayinya.

Tapi sekarang Hinata punya dukungan dari keluarganya dan itu membuatnya lebih kuat dari sebelumnya, memang benar Hinata harus berani untuk menghadapi masalahnya, paling tidak dia harus melakukan semua itu untuk bayinya karena hanya itu yang menjadi penyemangat untuknya.

"Jangan lakukan untuk siapapun, paling tidak lakukan demi buah hatimu, keputusanmu akan kami terima, terlepas kau memaafkan Sasuke atau tidak, kami akan selalu bersamamu." Hikari mengusap lembut surai Hinata, wanita muda Hinata hanya menganggukan kepalanya.

Secret Passion.

Sasuke duduk dengan gelisah di kursi tunggu bandara, pria itu terlihat gelisah, bagaimana tidak, sebelum dia berangkat dia tidak bertemu dengan Hinata, wanita tetap menolak pergi bersamanya, Hinata bahkan tidak mau mengucapkan kata selamat tinggal padanya.

"Sasuke, kenapa tidak bersemangat, kita akan pulang, seharusnya kau bahagia."

Sasuke mengalihkan perhatian karena tiba-tiba mendengar suara Neji, Sasuke sangat terkejut, karena tadinya dia hanya seorng diri, tidak ada keluarga Hyuga yang mengantar kepulangannya.

Senyum Sasuke begitu mengembang saat menyadari tidak hanya Neji, tapi semua anggota keluarga Hyuga berada di sana, Sasuke tidak bisa menyembunyikan kebahagian di wajahnya saat mata obsidian miliknya menangkap kehadiran sosok wanita yang dipikirkanya.

"Sulit sekali membujuknya." Neji kembali berbisik, Sasuke hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Neji.

Hinata memang mengacuhkanya, bahkan wanita itu enggan untuk menatap bahkan meliriknya, tapi bagi Sasuke semua sudah cukup baginya, Hinata hanya berbicara dengan ibu atau adiknya Hanabi, bahkan wanita itu lebih sering menundukan wajahnya.

'Setelah kita sampai, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, kita akan kembali bersama, itu adalah janjiku padamu Hinata.'

To Be Continue.

Holla OMG, udah berapa bulan nich aku ga nongol...

Readers, Really sorry from deep inside my heart, aku ingkar janji...

Ternyata rencana cuma tinggal rencana, i have personal problem yang bisa di bilang berat sampai bikin aku drop sampai nol...

Jadi aku minta maaf karena update sangat2 terlambat...terima kasih untuk kalian yang mau menunggu dan tetap mendukung...thank u so much...i love u all...

Untuk kedepanya aku usahakan kembali seperti dulu, dukung ya biar aku tetap semangat..

Dan maaf kayanya chap ini bukan last chap, masih ada beberapa chap lagi...biar ga gantung dan maksa buat tamat...

Bocoran masalah Sasuke bukan sama Neji tapi sama Itachi dan Sakura...

Ok terima kasih, maaf chap 10 adalah chap paling ngebosenin menurut aku...

C u later my lovely readers...

Salam aisyaeva...