Disclaimer: Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Warning: AU, bahasa kasar, typo, oOC, shounen ai, dll…
A/N: Uh... maaf menunggu. Silakan dibaca lanjutannya.
Cerita Sebelumnya...
"Jadi, apa pertanyaanmu?" tanya Sloth.
"Beri tahu aku cara menghindari Maut," ujar Akashi serius.
Janji di Bawah Bulan Purnama
© lunaryu~
Bagian 10: Pertukaran
"Cara menghindari… maut?" Iblis bermanik violet itu mengejapkan mata lambat-lambat, memiringkan kepalanya sambil terus memandang pria mungil di hadapannya. Meskipun kecil, manusia besurai merah itu sepertinya memiliki kekuatan yang cukup tangguh. Apalagi ia telah mengikat dirinya sebelum Sloth menyadari kalau lehernya telah terbelit benang dari pilinan rambut wanita. Uh… tampaknya ia telah dipanggil oleh seseorang yang merepotkan.
"Bagaimana? Apa kau bisa menjawabnya, Iblis?" Si kecil memincingkan mata dikromatik rubi-emasnya dan ada nada yang menantang dalam suaranya yang jernih dan merdu. Ia bisa merasakan jerat di lehernya sedikit mengencang.
Sloth makin merasa kalau ritual pemanggilan kali ini bakal menjadi sesuatu yang kelak akan ia sesali. Namun, sudah kewajiban iblis yang dipanggil untuk mengabulkan permohonan pemanggilnya biarpun itu untuk harga jiwa dari si pemanggil. Bukan berarti kegiatan itu sama sekali tak membuatnya lelah. Sloth mendapat nama demikian karena ada alasannya. Ia teramat malas melakukan pekerjaan yang harus dikerjakan. Terlalu menyusahkan. Ia paling enggan dengan yang seperti itu.
Lagi pula, apa yang ditanyakannya barusan? Menghindari maut?—Sloth tak mengerti mengapa manusia ingin menghindari maut. Bukankah hidup terus menerus di dunia itu melelahkan? Lebih nyaman kalau bisa segera beristirahat dari kehidupan duniawi, kan? Tak perlu repot-repot memikirkan bagaimana cara mempertahankan diri lagi. Manusia memang aneh—pikirnya heran.
"Hei, aku bertanya padamu, Iblis. Jawab aku," kata si pendek makin terdengar tak sabar. Ia mengepalkan tinjunya dan Sloth merasa sedikit sesak nafas. Untuk ukuran manusia, hebat juga si mungil itu bisa menjerat Sloth hingga ia merasakan 'sakit'. Meskipun malas, ia jadi sedikit berminat dengan manusia satu ini.
"Permintaanmu tidak valid, Manusia. Tiada makhluk hidup yang bisa menghindari sang Maut," jawab Sloth perlahan, tanpa merubah inflasi nada suara dan ekspresi wajahnya. Bahkan sayap hitamnya sama sekali tak berkedut.
Si mungil berambut merah itu hanya memandang Sloth dengan wajah serius. "Yah, aku tak terlalu berharap mendapat jawaban dari iblis kelas teri, sih." Ia menghela nafas, dan pinggir mata Sloth berkedut sekali. Namun, itu tak cukup untuk memancing emosi Sloth. Bagaimanapun juga, ia hanya tidak berniat untuk mengerjakan sesuatu yang melelahkan, dan 'marah' baginya adalah aktivitas yang membuang energi dengan percuma. Apalagi Wrath akan mengamuk kalau ia mencuri identitasnya.
"Tak ada iblis dengan kedudukan setinggi apapun yang bisa menghindari Maut," tukas Sloth, masih dengan suara lambat, tetapi ia merasa ekspresinya sedikit berubah, kedua alisnya mengerut sesaat. "Bahkan Satan tak bisa mencampuri urusan Maut," tambahnya.
Si manik rubah itu makin menyipitkan matanya. "Tapi para iblis adalah makhluk imortal. Maut tak bisa menyentuh mereka," debatnya dengan nada curiga.
Sloth berpikir sejenak. Yah, sejenak bagi Sloth mungkin membutuhkan waktu cukup lama bagi orang atau iblis lain. Ia menyadari kalau manusia di depannya semakin mengetatkan ikatan pada lehernya yang hampir membuat Sloth henti nafas. Baiklah, paru-paru Sloth tak terlalu membutuhkan udara. Kerja organ tubuhnya sama malasnya dengan kepribadiannya. Ia tak akan cedera hanya karena tidak bernafas selama beberapa jam… atau hari. Sloth belum pernah mencoba untuk mengetes sejauh mana ia bisa bertahan tanpa bernafas.
"Beri tahu aku, Sloth. Apa yang dilakukan para iblis untuk mendapat waktu keberadaan yang lebih lama dari manusia?" Pria mungil tersebut mengganti pertanyaannya dan menarik benang di genggamannya. Sloth terpaksa sedikit membungkuk akibat gaya tarik tersebut. Mata violetnya menerawang lekat-lekat manik si kecil, tetapi ia sama sekali tak berjengit, berkedip pun tidak. Sungguh manusia yang aneh. Aneh sekali hingga Sloth merasa penasaran.
"Jiwa iblis bukanlah milik iblis itu sendiri. Jiwa para iblis terikat oleh Satan," Sloth berbisik, desisan yang mengeluarkan asap beracun yang umumnya menginfeksi manusia untuk menjadi malas. Saking malasnya, mereka sampai enggan untuk bergerak, tak mau mengerjakan sesuatu yang menjadi basis pertahanan diri, seperti makan dan minum hingga mereka tewas. "Maut tak bisa menyentuh jiwa iblis yang masih ada dalam genggaman Satan."
"Hoo… jadi bisa ya, memanjangkan umur dengan perjanjian iblis?" Seringai yang diperlihatkan si kecil agak membuat bulu kuduk Sloth berdiri. Rasanya seperti berhadapan langsung dengan Lucifer yang Agung. Siapa sesungguhnya pemuda ini? "Kalau begitu kau juga bisa memberikan perjanjian yang sama untuk memanjangkan nyawa seorang manusia bukan, Sloth?"
Entah mengapa cara orang itu memanggil namanya sedikit mengusik benak Sloth. Ia merasa… seolah-olah ada sesuatu yang menggerakkan dirinya dari tempat lain. Ada yang aneh. Ia tahu ada sesuatu yang salah dengan situasi ini, tetapi ia harus menjawabnya.
Huh? Mengapa aku berpikir demikian? Harus menjawab…? Menga—
"Dengan bayaran setimpal, aku bisa mengabulkannya," jawab Sloth dengan sendirinya, padahal ia masih sibuk berpikir. Mulutnya bergerak sendiri seolah-olah terhipnotis tatapan dan kata-kata lelaki itu.
Senyum penuh kemenangan mengembang di wajah si pendek sebelum kemudian ia memanggil seseorang—pelayannya? Sloth tak terlalu memperhatikan makhluk bertudung dan bertopeng di belakang lelaki itu, yang sepertinya membawakannya sesuatu. Sebuah benda panjang mirip tongkat yang berselimut kain hitam dan ada sedikit lengkungan di ujungnya.
Selanjutnya, pria berambut merah itu menarik lepas kain pembungkus benda itu dan di dalamnya terdapat sebuah pedang samurai bersarung perak dengan ujung gagang berwujud kepala naga bermata merah scarlet, berkumis emas yang sewarna dengan pembatas pedangnya, dan di sisi atas pembatas itu tertera huruf Kanji berwarna hitam yang terbaca: 'Ginryuu'*.
Sang Naga Perak…!
Sloth melebarkan matanya. Pedang Naga Perak 'Ginryuu' ada di hadapannya. Pedang mistik legendaris yang rumornya mampu membasmi iblis, yang kepopuleran namanya setara dengan 'Onikirimaru' (1). Mengapa pedang itu bisa ada di tangan manusia?
"Kau tahu kalau pedang ini berjiwa bukan, Sloth?" Suara penuh melodi itu mengalihkan fokus Sloth dari pedang indah yang tampak bersinar itu. Pria tersebut mengelus pedang perak itu dari ujung gagangnya, mulai dari mulut sang Naga hingga ujung sarungnya dengan jari-jemarinya yang lentik, seolah olah ia sedang mencumbu tubuh orang terkasihnya dan itu membuat Sloth menelan ludah. "Akan kuberikan jiwa pedang ini padamu, asalkan kau mau mengabdi kepadaku," katanya sambil membuka sarung pedang Ginryuu lalu mengarahkan mata pedangnya ke arah Sloth.
Sloth tak kuasa mengalihkan tatapannya dari mata pedang runcing yang berbinar tersebut. Entah itu rasa takjub atau takut, tetapi kilauan pedang itu menggelitik jiwa Sloth. Ia ingin menyentuhnya. Meskipun ia tahu kalau pedang itu kemungkinan bisa mengoyak ikatan jiwanya dengan Satan dan memakan nyawanya, Sloth sangat ingin menyentuhnya.
Tangannya perlahan terangkat tanpa ia sadari dan bagaikan ngengat yang terpesona oleh cahaya lampu neon, ujung jarinya mendekat dan menyentuh ujung mata pedang Ginryuu. Ia tak menggubris tetesan darah yang mengalir dari luka akibat tusukan mata pedang tajam tersebut, dan ketika ia memahami apa yang terjadi, ia sudah bertekuk lutut di bawah kaki sang manusia.
"Namaku Akashi Seijuurou. Mulai hari ini, namamu adalah 'Murasakibara' Atsushi. Kau adalah iblis pelayanku." Akashi menyerahkan pedang Ginryuu ke tangan Murasakibara dan kedua sayap hitamnya menggelepar bagai tersengat listrik. Lilitan rambut di lehernya mengencang dan menebal bak kulit kedua yang terhubung dengan mata rantai perak yang tersambung langsung ke dada dan masuk ke jantungnya.
Akashi Seijuurou… Aku pernah mendengar namanya. Jenderal Bellial pernah bercerita tentangnya. Ia adalah Onmyouji yang telah berhasil meloloskan diri dari perjanjian dengan Satan…—batin Sloth limbung, akhirnya mengetahui nama orang yang telah berhasil menangkapnya.
"Kau lengah, Iblis. Membiarkan darahmu bercampur dengan darah manusia adalah kesalahan besar. Kini kau terikat perjanjian denganku, dan sebagai Familiar-ku, kau tak bisa melawan kata-kataku." Akashi tertawa kecil, mata merah dan emasnya berkilat dengan lalimnya.
Namun, entah mengapa Murasakibara tidak merasa terancam oleh suara tawa dan tatapan mata Akashi yang seolah memandang rendah dirinya. Mungkin karena sesaat ia terhubung dengan 'jiwa' Akashi ketika darahnya bertemu dengan darah sang Onmyouji. Ia merasa telah 'mendengar' suara hatinya.
Ketika Murasakibara perlahan mendongak, ia hanya bisa melihat cahaya terang dari balik sosok Akashi dan sewaktu ia menurunkan pandangannya untuk memberi hormat pada tuannya yang baru, ia menyadari bahwa tangan Akashi juga terluka. Ada torehan panjang di telapak tangannya, dan ujung-ujung jarinya juga terkena goresan pedang saat ia menjebak Murasakibara tadi. Bahkan darah masih menetes dari jari-jarinya.
Akashi masih tertawa, tetapi Murasakibara tidak mempedulikan hal itu. Ia mengangkat tangannya sekali lagi, kemudian meraih tangan Akashi. Tawa Akashi menipis saat Sloth membawa tangan tuannya mendekati wajahnya. Lalu, tanpa basa-basi, ia menjilat darah dari ujung jari Akashi hingga ke luka gores yang paling dalam sambil memejamkan manik violetnya.
Akashi tersentak ringan, suara tawanya sudah tak terdengar lagi.
"Hamba siap melayani Anda, Master." Murasakibara membuka mata sekali lagi dan memandang Akashi sambil tersenyum layaknya anak kecil yang mendapat teman baru.
Akashi tampak sedikit terkejut, sebelum kemudian ia tersenyum kecil. Ia mengangkat tangannya yang bebas dan mengelus rambut Murasakibara di atas kepalanya. "Aku ingin kau membantuku melakukan sesuatu," katanya, masih sambil mengelus-elus surai berwarna ungu tersebut. Murasakibara merasa nyaman dengan sentuhan lembut Akashi. Ia tak keberatan mengikuti kata-katanya asalkan ia tak berhenti mengelusnya seperti itu.
"Apa yang Anda kehendaki, Master Akashi?" dengkurnya penuh kenikmatan.
"Aku ingin kau menjauhkan sahabatku dari sang Maut," titah Akashi sembari menggelitik Murasakibara di bawah dagunya, membuatnya mendengkur lebih keras layaknya anak kucing yang sedang dimanja induknya.
Mata Murasakibara berkilat dan bersinar dalam kegelapan ruangan tersebut saat senyum tipis mekar di wajahnya. "Permohonan Anda adalah perintah hamba."
~Kagami x Kuroko~
"Seminggu…" Midorima menghela nafas panjang saat ia menyantap sandwich yang ia beli dari kantin rumah sakit, di halaman belakang RS Teikou. Di sana ada taman luas dengan kumpulan pohon Ginko yang cukup besar. Salah satu pohonnya yang berdiri di tengah-tengah dengan megahnya, adalah pohon suci. Pohon tersebut sudah berumur seratus tahun lebih. Batangnya masih besar dan kuat. Daunnya pun sangat lebat, bahkan tidak berguguran di musim gugur. Konon, dulunya pohon itu didewakan dan disembah oleh manusia. Tali pembatas yang menandakan kesuciannya serta mengikat batang gemuk pohon itu masih tertambat di sana, dan di keempat sudut persegi di sekelilingnya dibangun patung-patung Shisa (2) kecil.
Agak aneh, memang, sebab patung Shisa jarang dibangun di Tokyo. Ia kan, hewan suci dari legenda di Okinawa. Entah siapa yang membuat dan meletakkan mereka di sekeliling pohon Ginko tersebut. Namun, meskipun kuilnya sudah diruntuhkan untuk pembangunan rumah sakit, pohon tersebut masih dianggap sakral. Para dokter dan pasien, bahkan pemilik rumah sakit masih menghormatinya.
Mungkin pohon tersebut memang pohon yang berjiwa. Lagipula, Kuroko tak akan berekspresi sesenang itu seandainya pohon itu hanyalah pohon biasa—Midorima memperhatikan pemuda pendek bersurai biru terang yang tengah menyentuhkan kedua telapak tangannya ke batang pohon suci itu. Ia mengambil nafas dalam-dalam sembari memejamkan kedua matanya, senyum kecil nan hangat menghiasi wajahnya yang biasanya selalu datar.
Ia terlihat sangat menikmatinya. Apa ia sedang berkomunikasi dengan jiwa pohon itu, ya?—batinnya sedikit penasaran. Meskipun Midorima adalah dokter yang nota bene seharusnya sangat rasional, ia masih percaya dengan yang namanya ramalan bintang dan Oha-Asa. Setidaknya, ramalan Oha-Asa tak pernah meleset sebelumnya, kalau itu menyangkut soal dirinya.
Tapi kalau tiba-tiba ia diberi tahu umurnya tinggal seminggu oleh Kuroko, apa lantas ia harus langsung percaya juga? Hasil cek lab-nya normal. Ia tidak merasa sedang sakit atau hampir mati. Oha-Asa juga tidak menginformasikan apa-apa tentang diri(zodiak)nya pagi ini. Lantas mengapa aku masih bisa melihat Kuroko dengan jelasnya?
Kemarin dunia Midorima telah diguncang dengan keberadaan iblis dan sang Maut, juga kenyataan kalau penyakit Takao secara ajaib sembuh total. Bagaikan mimpi, kanker stadium akhir yang tidak bisa disembuhkan… menghilang begitu saja tanpa bekas. Seolah-olah sejak awal ia tak pernah sakit.
Hari ini keluarga Takao akan menjemputnya pulang. Biarpun Midorima masih sangsi dengan kondisi Takao yang katanya menjadi wadah sang Maut itu sendiri, ia tak kuasa menahan diri untuk bersyukur bahwa Takao masih hidup. Namun, ia masih tak tahu harus berbuat apa dengan peringatan Akashi yang mewantinya untuk menjauhi Takao mulai dari sekarang.
Kalau dipikir baik-baik, alasan Akashi kemarin terdengar aneh.
"Kalau kau ingin hidup, jauhi dia."
Kalau aku ingin hidup, katanya… Apa itu artinya kalau aku berdekatan dengan Takao, aku akan semakin dekat dengan kematian juga?—Midorima menghela nafas panjang. Ia berharap kalau ia bisa sedikit lebih memahami peraturan dunia sini dan sana, jadi ia tidak pusing tujuh keliling karena tak tahu harus bersikap bagaimana dengan dilema yang sedang ia alami sekarang.
"Hei, Kuroko," panggilnya, berniat menanyakan hal itu, tetapi ia belum sempat berkata-kata ketika Kuroko membuka mata dan menoleh ke arahnya, sebab tiba-tiba ada suara gemeresak yang sangat keras, seperti ada sesuatu yang jatuh dari langit dan tersangkut di ranting-ranting dan dedaunan pohon suci di depannya.
"Ah," Kuroko menaikkan alis matanya sejenak saat ia memandang ke atas dan Midorima kontan ikut mendongak juga karena terkejut.
"Auuuuw! Aomine-chi, jahaaat-ssu! Dikau tidak perlu menubruk daku sekeras itu, kan~!"
Suara cempreng lantas berteriak mengikuti gasak-gusuk dari ranting dan dedaunan itu. Midorima tak kuasa menahan rasa syoknya saat matanya menangkap sebuah—Bukan! Itu…!?
Sepasang sayap putih merebak dari balik dedaunan, diikuti sesosok manusia (?) dengan rambut pendek pirang keemasan yang berkilauan memantulkan cahaya mentari, terlihat bagaikan halo di atas kepalanya. Tubuh ramping dengan gaun (?) berjubah putih melambai dan paras cantik rupawan kemudian merekah, ia mengejapkan mata amber dengan binar-binar emas yang menakjubkan.
Itu adalah sosok paling indah yang pernah Midorima lihat sepanjang hidupnya. Ia sampai gagal menutup mulutnya saking tertawannya penglihatannya oleh sosok cantik yang putih bersih itu.
"Aomine-chi memang keterlaluan-ssu! Aaaah! Daku sampai jatuh menimpa dan merusak dahan pohon suci! Ba-bagaimana ini!? Daku bakal kena marah-ssu! Huuuh! Ini salah Aomine-chi!" keluh sosok indah tersebut dengan panik sebelum ia melihat ke bawah dan tiba-tiba- "Aaaaaah! Kuroko-chiiiii!" -ia langsung meluncur turun dan menyeruduk Kuroko dengan wajah berbinar-binar, makin membuat sosoknya berseri saat ia memeluk pemuda bermata biru langit itu. "Daku kangen-ssu!" serunya tampak sangat bahagia.
Lidah Midorima terasa kelu.
"Kise-kun," Kuroko hanya bereaksi seperti itu, mendengus pelan, terdengar kering.
"Oi, Kise! Jangan seenaknya kabur, ya! Kita sedang kencan, tahu!"
Sekarang disusul pula suara menggelegar yang entah mengapa terdengar seksi (Apa-apaan, otak?!—pikir Midorima horor) yang sepertinya memanggil sosok cantik barusan. Lantas Midorima hanya bisa mendongak lagi ketika sepasang sayap hitam mekar di angkasa, menutupi matahari dan menimbulkan bayangan hitam di atas kepala mereka.
Sekarang Midorima benar-benar menjatuhkan dagunya, apalagi ketika sosok gagah berkulit tan (Dan kenapa ia memakai baju yang hampir tidak menutup apa-apa begitu?!—batin Midorima panik), bersurai biru gelap dengan iris mata layaknya baru safir yang menyala-nyala melesat turun dari langit, menyambar pria (?) pirang bersayap putih itu, dan memaksanya melepaskan Kuroko. "Tertangkap kau," desirnya dengan senyuman dan melodi menggiurkan yang membuat muka Midorima memanas dan memerah hanya dengan mendengarkannya saja.
Apalagi ekspresinya itu…! Astaga! Makhluk apa mereka iniiiiiii?!
Ya, tentu saja. Midorima makin mati kutu.
#
"Aomine-kun, Kise-kun, bisakah kalian berhenti bertengkar sehari saja?" Kuroko menghela nafas panjang. Dengan adanya Kise saja sudah merepotkan. Sekarang Aomine malah ikutan muncul. Tampaknya hari ini akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan bagi Kuroko yang secara otomatis harus mengurusi mereka juga.
"Bicara apa kau, Tetsu? Ini kan janjimu tempo hari. Katamu aku bisa kencan dengan Kise seharian kalau aku tutup mulut soal Kagami," seringai Aomine.
Lantas apa gunanya janji itu kalau kau membeberkannya di sini?—Kuroko ingin memprotes, tetapi ia menahan diri dan hanya mendesah lemas.
"Kuroko-chiiii! Katakan kalau itu bohong-ssu! Mana mungkin Kuroko-chi menjual temannya untuk alasan apapuuuun!" Kise merengek sambil memberontak, berusaha melepaskan diri dari dekapan Aomine yang sepertinya amat erat dan kuat itu.
Kuroko merasa sedikit bersalah dan sesaat mengalihkan pandangannya dari wajah memohon Kise.
"Kuroko-chiiiiiii?!" protes Kise makin keras.
"Jangan begitu, Kise-kun. Aomine-kun tidak seburuk itu, kok," ujar Kuroko sambil tersenyum, agak canggung. "Iblis dan malaikat pun bisa berteman dekat," bujuknya.
"Kuroko-chi… ini karena dikau berteman dengan iblis-ssu. Karaktermu perlahan berubah dan dirimu menjadi jahil-ssu," keluhnya sambil menutupi wajah dan menangis tersedu-sedu.
"Hah, kalau Tetsu sih dari sananya memang sudah begitu," Aomine mengangkat bahu dan Kuroko tersenyum kecil. Mungkin ia mereferensikan soal dirinya yang 'penyihir', tetapi ia bersyukur karena Aomine tidak sampai mengejanya di depan Kise. Itu hanya akan membuat Kise merengek dan meraung lebih keras.
"Aku tidak punya komentar untuk yang satu itu," sahut Kuroko ringan.
"Tapi kenapa dikau bersikeras menggangguku, Aomine-chi? Bukankah banyak malaikat lain yang bisa kau jahili-ssu?" Kise bergelut lagi, sekarang mengarahkan muka sebalnya pada Aomine, masih dengan mata berkaca-kaca.
Aomine tersentak sejenak dan Kuroko merasa bersimpati pada iblis itu biarpun hanya sedikit. Kalau Aomine memang senaksir itu pada Kise, ia pasti agak syok karena semua usahanya menarik perhatian Kise dikategorikan oleh sang malaikat sebagai 'mengganggu'.
"Sudah jelas karena aku menyukaimu, Kise. Aku mencintaimu," aku Aomine dengan senyuman menggodanya, mendekatkan wajahnya pada wajah Kise.
"Itu juga yang kau bisikkan pada istri orang saat menghasut mereka untuk berselingkuh, kan?" debat Kise masih cemberut saja, membuang muka dan menggembungkan pipinya seperti anak berumur lima tahun yang marah pada orang tuanya yang melanggar janji untuk membelikannya mainan.
Sebulir keringat menetes dari pelipis Aomine. "Itu untuk pekerjaan. Yang ini lain. Aku serius menginginkanmu, Kise," katanya sambil mengencangkan pelukannya dan memandang mata amber Kise lekat-lekat. "Hanya kau saja yang tak akan kulepaskan," bisiknya kemudian, semakin mendekatkan wajahnya ke wajah sang malaikat sambil menurunkan tatapannya ke sepasang bibir merah muda yang merekah dengan lembut di hadapannya.
Namun, sebelum Aomine sempat mencium bibir Kise, jari telunjuk sang malaikat tiba-tiba menempel di bibir bawahnya, menghentikan laju niatnya. "Kata-kata manis adalah senjata iblis untuk menjebak dan menyesatkan manusia dari jalan Tuhan," katanya, tatapannya lurus tak bercela dan jari telunjuk itu bergeser turun ke dagu dan ke leher Aomine saat ia melanjutkan ucapannya. "Yang dikatakan mulut iblis dan yang berada di sini," lalu Kise menuding jantung Aomine dengan wajah sedikit sedih, "tidak pernah sama."
Wajah Aomine terlihat bagaikan tersambar petir. Tubuhnya membatu dan ia tak bereaksi ketika Kise melepaskan dirinya dari dekapannya. Kuroko hanya bisa menatap dengan sendu saat Kise membalikkan badan dari Aomine. Entah mengapa di mata Kuroko, ekspresinya terlihat sedikit kecewa. Saat sepertinya ia sadar Kuroko masih memperhatikannya, Kise hanya tersenyum getir ke arahnya.
Kise-kun… tidak bisa mempercayai kata-kata iblis. Yang diajarkan kepada para malaikat melekat begitu kuatnya pada prinsip, nurani, dan jiwanya, agar ia tidak jatuh seperti Lucifer…—Kuroko memejamkan mata, bisa memahami hal itu. Bukan berarti ia sepenuhnya setuju dengan penciptaan malaikat dengan menghilangkan nafsu mereka setelah Lucifer jatuh dari surga ke neraka.
Tujuh Malaikat Agung… Lucifer adalah salah satu dari mereka dulu. Keenam Malaikat Agung lainnya sangat taat pada Tuhan, hanya Lucifer saja yang memiliki rasa cinta berlebihan pada sang Pencipta dan saudara-saudaranya sehingga menganggap penciptaan manusia tidaklah adil baginya. Ia tak ingin membagi cintanya dari dan pada Ayah dan kakak-kakaknya dengan manusia.
Rasa cinta yang posesif… cinta asmara yang membara… cinta yang membuat orang menjadi gila karenanya. Cinta yang seperti itulah… yang melahirkan para iblis.
Kuroko perlahan membuka mata dan melihat kedua tangannya. Ia menerawang masa lalunya dan Kagami. Cintanya… cinta abadinya yang menjerat dan mengubah Kagami menjadi iblis, yang memerangkap ruhnya sendiri di dunia fana.
Aomine tampak sangat terpukul dengan kata-kata Kise, tetapi setelah diam selama beberapa waktu, ia hanya mengepalkan tinjunya dan tersenyum pahit. "Aku hanya perlu terus mengatakannya sampai pertahananmu hancur dan kau jatuh, Malaikat," desisnya dengan seringai yang tersendat, seakan-akan merupakan hal berat bagi Aomine untuk mengucapkan 'nama' sang malaikat.
Kise hanya melebarkan mata sejenak sebelum senyumnya mengembang dengan lebih lugas dan tegas. Ia membalikkan badan sekali lagi, menyambut tantangan Aomine dengan berani. "Daku ingin melihat dirimu mencoba, Iblis," balasnya menantang.
"Ma—!?"
Suara tercekat seseorang memotong perang sunyi antara sang malaikat dan iblis, dan Kuroko baru saja teringat kalau mereka tidak sendirian di sana. Ia sama sekali lupa dengan keberadaan dokter berkaca mata dan bersurai hijau itu.
"Ma-ma-ma—malaikat?!" Wajah Midorima bak bulan kesiangan saat ia menuding Kise dengan jari telunjuk yang gemetar, tampak sangat tercengang. Kise hanya mengejapkan matanya sekali, dua kali, lantas—
"Eeeeeeh!? Kok manusia bisa melihat daku-ssu?!" teriaknya dengan sangat terkejut.
#
Aomine kontan menangkap suatu aroma aneh dari manusia yang terlihat panik ("Sa-sampai ada malaikat juga?! Kemarin iblis dan Maut, sekarang malaikat?! Apa-apaan ini?!" Ia tampak hampir hiperventilasi karenanya) dengan mata zamrud yang terbelalak. Pria itu bisa melihat Kise. Berarti ia juga bisa melihat Aomine.
"Heeh, jarangnya. Ada manusia biasa yang bisa menangkap sosok malaikat dan iblis dengan mata telanjang," komentarnya, memusatkan manik safirnya pada pria berjas putih itu. Jelas sekali kalau ia adalah dokter di rumah sakit itu.
Pandangan sang dokter teralih ke Aomine yang perlahan mengepakkan sayapnya dan terbang mendekati lelaki tinggi berkaca mata itu. Jujur saja, baru pertama Aomine melihat ada manusia yang lebih tinggi darinya, dan warna rambutnya itu! Manusia berambut hijau… kalau tidak dicat, maka pria itu adalah satu-satunya yang pernah ia temui.
"K-kau… iblis…?! Sejenis dengan Kagami?" tanya dokter tersebut dengan terbata-bata sembari membetulkan posisi kaca matanya yang sedikit melorot.
"Hoo, kau kenal Kagami?" Aomine mengangkat kedua alis matanya, agak terkejut mendengar nama saudaranya dari mulut manusia itu.
"Banyak hal yang terjadi kemarin, Aomine-kun. Ini berkaitan dengan sang Maut," jelas Kuroko tiba-tiba, sepertinya hendak mencegah Aomine berkomentar macam-macam tentang Kagami yang sedang ada dalam wujud sementaranya. Atau ia hendak menghentikan apapun yang akan dikatakan dokter itu pada Aomine.
"Hmm… sang Maut, eh?" Aomine membungkuk sedikit, kakinya masih melayang di udara selagi sayapnya mengepak-kepak kecil, dan ia mendekatkan wajahnya ke wajah sang dokter yang kontan mundur selangkah saat ia mengendusnya. "Baumu sedap," katanya sembari menjilat bibirnya sendiri.
Air muka si dokter memucat. "Ha—?! A-a-apa?!" Ia sepertinya tak mengerti dengan apa yang Aomine lakukan.
"Kubilang… baumu sedap," Aomine makin mendekatinya dan dengan cepat menangkap kedua sisi kepala manusia yang kontan memekik kaget saat cakar-cakar dingin nan tajam Aomine menggores kulitnya. Aomine sekali lagi menghirup nafas dalam-dalam di dekat leher pria itu. Ia bisa menciumnya, aroma ranum yang sangat menggoda. Pembuluh darah besar di lehernya berdenyut-denyut dengan cepat membuat Aomine sangat gatal untuk menancapkan taring-taringnya ke sana.
Namun, sebelum ia kehilangan akal sehatnya dalam hamparan nalurinya untuk merobek daging dan meminum darah, indera keenamnya menangkap adanya ancaman dari samping. Kontan ia melepaskan si dokter dan melesat ke atas saat bulu-bulu sayap putih dengan ujung yang diruncingkan terbang ke tempat ia melayang tadi dan menancap di dahan pohon beberapa meter di samping sang dokter.
"A—!?"
"Midorima-kun!"
Suara cemas Kuroko menarik perhatian Aomine kembali ke bawah. Sang dokter telah jatuh terduduk di rerumputan dan Kuroko ada di sampingnya, sepertinya mencoba menenangkannya. Lalu… Kise ada di depan mereka, membentangkan sayap putihnya lebar-lebar dan menatap Aomine dengan wajah garang.
"Daku tak akan membiarkan iblis melukai manusia secara langsung!"
Bahkan saat marah pun Kise terlihat indah. Gawat… Aomine benar-benar sudah cinta mati pada malaikat satu ini. Ia lantas terkekeh sebelum tertawa terbahak-bahak. "Tak perlu jadi segalak itu, Kise," ujarnya masih sambil tertawa. "Aku hanya ingin memeriksanya sedikit."
"Apa maksudmu Aomine-chi!? Dilihat dari manapun, barusan dikau bermaksud menggigitnya! Dikau tahu kan, kalau iblis tidak boleh melukai manusia secara fisik?! Apalagi manusia yang belum masuk catatan kematian!" bentak Kise tegas. Wow, ia terlihat beringas kalau sedang seperti itu. Bahkan malaikat pembawa kebahagiaan pun bisa bertingkah senanar itu.
"Bicara apa kau? Apa kau tak bisa mencium bau lezat itu darinya, Kise?" tanya Aomine heran, membubungkan alis matanya tinggi-tinggi. "Orang itu," ia menunjuk si dokter yang dipanggil Midorima oleh Kuroko, jadi mungkin itu namanya, "-akan segera mati."
"Eh?" Kise membelalakkan matanya, tampak bingung.
"Yah, mungkin malaikat tak bisa menciumnya, tapi hidung iblis sangatlah peka," Aomine menyentuh hidungnya sambil menyeringai kecil. "Aroma yang sangat khas dan lezat, yang bisa menarik dan menggoda iblis sampai hampir kehilangan dirinya dalam naluri dasarnya yang buas… Aroma ruh yang sudah matang dan siap dituai oleh Maut. Aroma itu muncul dari dalam dirinya, manusia yang hampir mati," tambahnya.
"Eh…?!" Midorima, yang sepertinya sudah kembali dari rasa syoknya karena hampir diserang tadi, sekarang melihat Aomine dengan tatapan tak percaya.
"Aomine-kun… kenapa kau harus melontarkan kata-kata sejahat itu?" Kuroko berdiri dan mendongak juga, memandang Aomine dengan pandangan penuh kekecewaan. "Kau tidak perlu mengatakannya segamblang itu. Midorima-kun yang tiba-tiba bisa melihatku, malaikat, dan juga iblis pasti sudah memiliki dugaan sendiri."
"Kuroko…" Midorima menoleh ke arah Kuroko dengan wajah tertegun.
"Kau bilang… ini ada hubungannya dengan sang Maut, kan? Apa salah satu wadahnya ada di rumah sakit ini?" tanya Kise dengan air muka sangat cemas juga.
"Haa, memang bisa runyam kalau di rumah sakit muncul wadah sang Maut. Bisa-bisa isi catatan kematian tiba-tiba membludak karena ruh yang bakal masuk ke akhirat jadi banyak," ujar Aomine sambil terkekeh. "Tugasku bakal bertambah, deh. Habis, iblis yang bertugas di wilayah ini kan Kagami, tapi sekarang ia sedang tak bisa bekerja, kan?"
"Aomine-kun…" Kuroko menatapnya dengan penuh peringatan.
Dasar Tetsu. Ia masih saja mencemaskan kondisi Kagami—Aomine berdecak sebal. Entah mengapa ia jadi merasa sedikit iri pada Kagami. Ada sesorang yang begitu memikirkannya hingga membuat Aomine jadi muak.
Sebab perasaanku pada Kise tak akan berbalas…! Konyol, aku jadi seperti makhluk bodoh. Terguncang karena beberapa patah kata dari malaikat…!
"Lebih baik aku pergi dan mengerjakan tugas sajalah," Aomine mengangkat wajahnya dan berpaling dari kumpulan manusia, peri, dan malaikat di bawah sana. "Kise, kita lanjutkan kencan kita kali lain saja, ya! Ingatlah, aku akan datang lagi untukmu," lambainya sambil meringis dan ia pun terbang menjauh dari mereka.
Aku masih belum menyerah. Sampai tiba saatnya kau mengakui perasaanku, Kise… Aku akan terus mengejarmu.
#
Kise menatap ke langit yang sekarang sudah kosong itu dengan khawatir. Ia lalu menunduk, mengerutkan alisnya, dan perlahan menyadari kalau baik Kuroko dan dokter bernama Midorima itu masih memperhatikannya.
Kise tersenyum kecil pada mereka dan berlutut di samping Midorima. "Hai," sapanya pelan, memandang pria bersurai hijau bermata zamrud itu dengan penuh perhatian. "Dikau manusia kedua yang bisa melihatku-ssu. Namaku Kise Ryouta, malaikat pembawa kebahagiaan-ssu!"
"Ah, sa-salam kenal," sapa Midorima balik dengan wajah sedikit canggung.
"Dikau teman Kuroko-chi-ssu?" tanyanya penasaran.
"Ah…" Midorima melirik ke arah Kuroko dan pemuda kecil itu mengangguk sambil tersenyum menenangkan. "Aku baru bertemu Kuroko kemarin, tetapi aku sudah sering mendengar tentangnya," jawabnya kemudian, berdehem pelan.
"Oh, begitu-ssu…" Kise pun terdiam sejenak. "Um, Midorima-chi."
"Midorima-chi?" Midorima terlihat akan memprotes nama panggilan barunya itu, tetapi Kuroko mendahuluinya.
"Itu hanya kebiasaan Kise-kun, biarkan saja," selanya dan Midorima hanya sedikit gelagapan karenanya, tetapi kemudian ia menghela nafas panjang, sepertinya menyerah.
"Daku ingin minta maaf-ssu. Dikau pasti terkejut karena bisa melihat kami dengan begitu tiba-tiba-ssu. Biasanya kami tidak mendekat pada manusia yang hampir…" Kise terdiam lagi sesaat, tiba-tiba sadar kalau dia akan membeberkan rahasia langit pada manusia yang akan mati. "Daku tidak menyadarinya karena namamu belum masuk ke catatan…" Ia berhenti lagi. Susah juga untuk menjelaskan karena banyak kata yang harus ia sensor agar tidak diketahui manusia itu.
"Sudahlah, tak apa-apa," potong Midorima kemudian, tampaknya melihat kesulitannya. "Dari kemarin sudah ada yang mewanti kalau umurku tinggal sebentar. Aku hanya kaget karena sebelumnya aku sama sekali tak bisa melihat makhluk gaib." Ia mendesah pelan sebelum kemudian mengusap belakang lehernya. "Yah, dibilang akan segera mati pun, aku tidak merasakan sakit apapun, jadi… meributkan hal itu juga sepertinya percuma saja."
"Midorima-chi… dikau orang yang baik, ya," Kise merasa terharu karena pria ini sepertinya tidak terlalu terikat dengan dunia. Orang seperti ini pasti bisa masuk surga dengan lancar. Ia tak perlu mengkhawatirkan dirinya akan ditarik oleh iblis ke jalan sesat. "Tenang saja, Midorima-chi! Daku akan mengantarmu dengan selamat sampai ke surga-ssu!"
Midorima terlihat linglung sejenak sebelum kemudian ia mendengus pelan, sepertinya akan tertawa tetapi juga terdengar agak aneh. "Kata-katamu barusan bermaksud menghibur, ya?"
"Eh?" Kise jadi bingung. Mengapa Midorima berekspresi kesusahan begitu?
"Kise-kun… mengantar ke surga itu agak…" Kuroko memandang Kise dengan tatapan mencela dan kontan Kise sadar dengan apa yang ia katakan dan menutup mulutnya.
"Ah! Maaf-ssu! Bukan begitu maksudnya! Maksudku, uh-…!" Kise jadi tergagap, sedikit panik.
Midorima, tanpa disangka malah tertawa kecil. "Baiklah, aku paham. Sudah, tak perlu menjelaskan dengan lebih menyedihkan lagi, Kise," katanya, sepertinya masih berusaha menghentikan tawanya sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Sepertinya Kise tengah diejek dan ditertawakan, tetapi ia merasa lega karena Midorima masih bisa bersikap begitu meskipun kondisi hidupnya sudah mencapai batas. Ia jadi ingin tersenyum dan terkikik juga bersamanya. "Sampai saatnya tiba, aku akan berusaha membuat dirimu bahagia-ssu!"
Midorima mengejapkan mata dari balik kaca matanya sekali, sebelum senyumnya mengembang lagi. "Terima kasih, Kise."
~Kagami x Kuroko~
Kagami menaikkan satu alis matanya saat mendapati kekasihnya dan si malaikat pembawa kebahagiaan duduk manis di rerumputan belakang rumah sakit. Barusan ia berpapasan dengan Midorima yang sepertinya juga baru kembali dari tempat itu. Wajah Midorima tampak lebih berseri dari biasanya saat ia berjalan kembali ke rumah sakit, tetapi Kagami tidak menanyakan apa yang membuatnya sesenang itu.
"Kuroko, Kise!" panggilnya dan keduanya menoleh ke arahnya bersamaan.
"Kagami-kun," sapa Kuroko balik dengan senyuman manis dan Kise-
"Astaga! Kagami-chi! Apa-apaan wujud itu?!" sontak menudingnya dengan mata melebar, tampak sangat kaget.
Sial, aku lupa kalau aku sedang dalam wujud sementara—batin Kagami sedikit berkeringat dingin. Semoga Kise tidak terlalu ember dan membeberkan masalah ini ke iblis atau malaikat lain.
"Cerewet, Kise! Kau sedang apa di sini?" balas Kagami berdecih. Ia ingin berduaan saja dengan Kuroko.
"Ah, tadi ada sedikit masalah dengan Aomine-chi-ssu…" Kise mengalihkan pandangannya, dengan sukses teralihkan perhatiannya dari wujud sementara Kagami.
"Dengan Aomine?" Kagami mengerjap dua kali sebelum menatap Kuroko yang hanya tersenyum sendu dan menggelengkan kepalanya. "Apa yang terjadi?" Sekarang Kagami jadi penasaran.
"Kelakuan Aomine-chi akhir-akhir ini semakin menjadi-ssu," keluh Kise sembari menghela nafas panjang, menempelkan telapak tangannya di pipi. "Tidak hanya masalah dirinya yang selalu mengerjai daku, tadi dia juga mencoba melukai Midorima-chi-ssu. Padahal seharusnya dia tahu kalau iblis mencampuri takdir manusia secara langsung, ia bisa dilenyapkan-ssu. Apa yang sebenarnya dipikirkannya-ssu?" Kise tampak sangat cemas.
"Aomine… hampir melukai Midorima?" Kagami sangat terkejut.
"Saat Midorima-kun melihatnya dan Kise-kun, Aomine-kun berkata kalau Midorima-kun akan segera meninggal. Sepertinya ia mencium aroma ruh Midorima-kun yang hampir terlepas dari raganya dan agak hilang kendali terhadap naluri liarnya," jelas Kuroko.
"Tunggu, mundur sebentar. Midorima bisa melihat Kise dan Aomine dalam wujud seperti itu?" Kagami menunjuk sayap Kise, tak habis pikir dengan hal itu. Midorima seharusnya adalah manusia biasa. Mana mungkin ia bisa melihat malaikat dan iblis dalam wujud aslinya.
"Manusia yang sudah sekarat, seluruh panca inderanya akan menjadi lebih sensitif dan apa-apa yang tadinya tak terlihat maupun terdengar olehnya akan jadi tertangkap olehnya. Umumnya hanya manusia yang sudah meninggal yang bisa dengan jelas melihat malaikat dan iblis dalam wujud aslinya karena ia sudah menyeberang dari dunia sini ke dunia sana, tetapi untuk kasus Midorima-kun, ini karena ruhnya sudah tersentuh oleh wadah sang Maut meskipun ia masih memiliki raga," Kuroko menunduk, tampak sedikit sedih. "Meskipun… itu juga tak akan bertahan lama, karena Midorima-kun sudah…"
"Berapa lama lagi?" Kagami tak tahan melihat wajah murung Kuroko. Kalau bisa ia ingin melakukan sesuatu untuk membantu.
"Enam hari maksimal," jawabnya.
"Bagaimana dengan pengaruh Takao?" tanya Kagami lagi.
"Itu kalau ia tidak terus berdekatan dengan Takao-kun. Kalau ia berkeras berada di sampingnya, prosesnya akan berjalan lebih cepat menjadi setengahnya." Kuroko memejamkan matanya, tampak begitu menyesal.
Kagami menggertakkan giginya dan mengepalkan tinjunya, merasa kesal pada dirinya sendiri karena ketidakmampuannya untuk berbuat apa-apa. "Apa yang bisa kita lakukan, Kuroko?" tanyanya. Entah mengapa ia begitu berempati pada Midorima dan Takao. Apa karena ia merasa nasib mereka berdua mirip dengan dirinya dan Kuroko dulu? Ataukah ini karena ia hanya merasa tak ingin menyaksikan teman-teman Kuroko yang berharga bagi kekasihnya itu menjalani realita yang terlalu kejam?
"Kagami-chi, dikau tahu kalau iblis tak boleh mencampuri takdir manusia," wanti Kise perlahan. Mungkin ia sudah mendengar apa yang terjadi kemarin dari Kuroko, dan meskipun ia juga terlihat sedih dengan hal itu, peringatannya adalah peraturan yang memang tabu untuk dilanggar. Salah-salah, Kagami sendiri bisa hancur karenanya dan ia tak bisa membayangkan kalau harus meninggalkan Kuroko lagi.
"Apa kita hanya bisa diam dan melihat saja? Padahal kita tahu kalau hal ini bisa dicegah kalau saja kita diperbolehkan untuk melakukan sesuatu!" Kagami menaikkan volume suaranya, merasa sedikit tak terima.
"Kagami-kun…" Kuroko mendekatinya dan menyentuh lengan dan perlahan menguntai kepalannya yang terlalu keras hingga melukai telapak tangan Kagami. Ia memandang Kagami dengan mata birunya yang lembut dan sendu. Kagami bereaksi dengan menundukkan kepalanya dan mengistirahatkannya di atas bahu kecil Kuroko sembari menggenggam tangannya yang hangat. Kise hanya bisa menatap mereka berdua dengan simpati di sinar mata ambernya.
"Hmm… jadi di sini ya, yang katanya ada wadah sang Maut?"
Suara tenor yang lambat itu mengejutkan Kagami, Kuroko, dan Kise. Kontan ketiganya menoleh kesana-kemari, mencari-cari sumber suara itu. Saat mendengar kepakan sayap, barulah ketiganya melihat ke atas.
Kagami langsung mengenali sosok tinggi besar yang melayang di angkasa dengan sayap hitam yang sangat lebar itu. Dari semua iblis yang dikenal Kagami, hanya dia yang memiliki sayap selebar itu. Rambut ungunya yang agak panjang berkibar-kibar tertiup angin. Namun, ada sesuatu yang aneh dengannya. Kedua mata violetnya berpendar bagai amethyst. Sinar matanya sangat tidak biasa.
"Sloth?" panggil Kagami heran. Mengapa iblis pemalas itu tiba-tiba muncul di tempat itu? Dia adalah Sloth. Iblis itu tak suka bergerak, apalagi terbang begitu. Lagi pula, benda panjang apa itu yang digenggamnya?
Mata iblis bongsor itu beralih dari gedung di depannya ke Kagami dan Kagami bergidik melihat pandangannya yang kosong. Uh-oh, sepertinya iblis itu sedang ada dalam pengaruh makhluk lain, sebab ia sama sekali tak menggubris Kagami dan hanya terbang ke arah gedung rumah sakit tersebut.
"Tu—! Sloth!?" Kagami melepaskan Kuroko dan pemuda kecil itu sepertinya tersentak kaget, begitu juga Kise, ketika Kagami langsung tancap gas mengejar iblis itu.
"Tunggu, Kagami-kun!"
"Kagami-chi!"
Namun, Kagami tak menggubris panggilan mereka. Perasaannya sangat tidak enak. Sepertinya Sloth hendak melakukan sesuatu yang terlarang.
Apa yang akan ia lakukan?!
Bersambung…
Catatan tambahan:
1)Onikirimaru: pedang pembelah iblis/pedang pembasmi iblis.
2)Sisha: patung anjing penjaga, bentuknya seperti campuran singa dan anjing, biasanya dibangun berpasangan dan diletakkan di gerbang kuil-kuil, atau di letakkan di atas atap rumah. Di legenda Okinawa, patung Shisa dipercaya bisa menghalau roh jahat.
*Ginryuu: Pedang milik Kurogane dari Tsubasa Reservoir Chronicle (maaf, di capter lalu luna lupa menjelaskan referensi nama Kurogane, heheh)
A/N: Ahah… cerita ini pun semakin rumit. Maaf sekali kalau plotnya berjalan sangat lambat! Duh, padahal luna ingin memunculkan Takao lagi… Yah, pokoknya beginilah. Luna rasa cerita fic ini bakal menjadi semakin panjang juga, nih… Capter depan munculin karakter lain, ah.
Oya, selamat berpuasa Ramadhan bagi yang menjalankan. Sampai jumpa di capter depan!
