PERHATIAN
Ff ini mengandung unsur dewasa, hubungan sesame jenis dan dikhusus kan untuk para fujoshi dan fudanshi. Terdapat banyak typo, bahasa yang berantakan dan kesalahan lainnya yang tidak terkoreksi oleh author. Dan mohon maaf apa bila terdapat bahasa yang rancu dan suli dimengerti karena tidak semua laki-laki~ *abaikan* manusia sempurna. Sekian dan selamat membaca.
Penjelasan singkat:
.
.
Perpindahan alur waktu pendek masih di hari yang sama
…
Perpindahan waktu untuk esoknya atau beberapa hari kedepan
…
BUK! BRUK!
Tubuh itu jatuh ketika pukulan Chanyeol mendarat di wajahnya. Ia benar-benar tidak ada persiapan menerima pukulan keras itu membuat kepalanya pening dan pastinya nyeri. Belum sadar sepenuhnya, tubuh itu sudah di angkat dan di pukul kembali oleh si tersangka. Tidak hanya pukulan sebuah tendangan mengenai perutnya lalu pukulan lagi di wajahnya dan tersungkur lagi tubuhnya di lantai.
"Apa yang kau lakukan?" ia meringir nyeri di wajahnya terasa sangat menyakitkan. Darah segar terlihat di ujung bibir Yoonoh dan memar di tulang pipi pria itu.
Chanyeol menarik napasnya kasar sebelum berucap, "Di mana Baekhyun?!"
Deg! Tubuh itu seketika menegang. Ia lupa apa alasan si jangkung berada di sini. "A-apa maksud mu?" ia mengelak dan itu taunya membuat Chanyeol marah.
Si jangkung itu kembali meraih kerah kaos Yoonoh dan mengangkatnya dengan kedua tangannya.
"Jangan pura-pura tidak tau, BRENGSEK! KAU MENYEKAP BAEKHYUN KAN?!" teriaknya.
Sebuah suara terdengar dari sebuah ruangan di dekat ruang santai. Sesutu yang jatuh dan terseret. Chanyeol memiringkan kepalanya untuk melihat keadaan di dalam sana. Suara yang mengalihkan fokusnya.
"Baek?" panggilnya tapi tidak ada sautan. Ia menjatuhkan tubuh yang sudah tak berdaya itu di lantai lalu melangkah pada sebuah pintu yang tertutup rapat di ruangan besar itu.
FIRST LOVE
Chapther 10
Ia membawa dirinya menyusuri ruangan santai yang cukup luas itu. Langkahnya ia buat lebar, tergesa mendekati sebuah ruangan di sebrang sana. Dengan pintu yang tak sepenuhnya tertutup, Chanyeol bisa mendengar suara sesuatu yang di seret-seret.
Dengan lengan besarnya pintu itu terbuka. Hanya dengan satu dorongan, ia langsung disuguhkan oleh seseorang yang berusaha merangkak mendekati pintu dan ia jelas kenal siapa sosok itu.
"BAEKHYUN!" Chanyeol langsung berlari ke arah tubuh tak berdaya di samping ranjang. Tubuh itu lemah dan mencoba merangkak ke arah sumber suara.
"Baekhyuh?" suaranya terdengar panik ketika kekasihnya sudah dipelukannya.
Baekhyun mengangkat tangan kanannya dengan tenaga yang tersisa. Mengelus lembut wajah tampan kekasihnya yang nampak panik. Senyuman lemah terukir sebelum tangan itu jatuh dan sosok itu tak sadarkan diri.
.
.
"Tidak ada luka serius. Hanya memar di pergelangan tangan dan rahang karena bekas cengraman dan luka lecet di bagian anusnya karena berulang kali di masuki secara kasar. Juga asam lambungnya yang naik karena kurang asupan makanan berhari-hari." tutur sang dokter. Si jangkung mengepalkan tangannya, menahan emosi yang sudah sedari tadi akan meledak.
Melihat kondisi awal Baekhyun, Chanyeol tau kalau si keparat Yoonoh melakukan sesuatu pada kekasihnya dan dengan perkataan sang dokter semuanya terbukti. Chanyeol mendengarkan dengan baik apa saja yang dikatakan si dokter dari pemberian obat setelah makan dan ada beberapa obat yang harus di minum satu jam sebelum makan dan itu ia ingat dengan baik-baik.
"Hanya itu saja dan besok aku akan datang untuk mengganti cairan infusnya." si pria paruhbaya yang menjadi dokter keluarga Park sejak lama itu membereskan peralatannya dan bangkit dari duduknya. "Kalau begitu saya pamit." terus si dokter nyanyi lagu tulus deh yang pamit *plak*.
Setelah mengantar si dokter ke pintu keluar, Chanyeol kembali ke kamar dan memeriksa apa saja yang harus ia beli. Dari mulai obat juga makanan karena jujur selama Baekhyun menghilang, pria jangkung ini tidak pernah berbelanja kebutuhan sehari-harinya. Seperti bahan makanan atau kebutuhan lainnya.
Ia akan makan kalau Sooyoung datang membawa makanan atau Kyungsoo dan Jongin yang mampir untuk mengecek kekasih sahabatnya itu. Jadi tak heran kalau sekarang ia kewalahan karena membeli banyak barang.
.
.
Lelaki berkuping peri ini dengan rajin mengecek keadaan sang kekasih yang belum sadarkan diri semenjak ia tolong beberapa jam yang lalu. Ia tidak melaporkan sang tersangka ke pihak berwajib karena asal kekasihnya itu selamat dan si tersangka tidak mengganggu kembali kehidupannya itu cukup.
Ada pergerakan dari si kecilnya dan dengan sigap, Chanyeol menggenggam lengan lentik itu yang sedetik yang lalu berkedut.
"Baek?" panggilnya. Benar saja Baekhyun sadarkan diri dan matanya yang sayu mengerjab karena belum terbiasa dengan cahaya.
"Ada yang sakit? Kau mau minum? Atau kau mau makan? Apa yang kau butuhkan?" pertanyaan bertubi itu terlontar dari bibir tebalnya. Tapi setelah dua detik hening Baekhyun benar-benar sadar dan panik. Ia terus meronta dan berteriak histeris seperti orang ketakutan.
"Chanyeol~" ia menangis dan memeluk tubuh tegap sang kekasih. "A-aku hiks…" dan lengan besar yang lain hanya mengelus berusaha menenangkan.
"Ada aku sini. Tenanglah."
.
.
Membutuhkan waktu yang lama memang untuk menenangkan Baekhyun yang terus menangis dan sesekali berteriak histeris. Tapi Chanyeol memiliki kesabaran ekstra untuk menghadapi kekasihnya ini.
Setelah benar-benar tenang, Chanyeol menyiapkan bubur yang ia buat tadi dan obat yang harus diminum kekasihnya itu.
"Ada yang kau butuhkan lagi?" Chanyeol memastikan dan si mungilnya hanya menggeleng lalu merapatkan tubuhnya pada sang kekasih.
"Aku hanya ingin kau di sini." sumpah demi apapun itu benar-benar rengekan manja pertama dari sang kekasih yang pernah ia dengar. Lengan besarnya mengelus punggung sempit Baekhyun dan ia juga menyenandungkan lagu tidur dengan sangat lembut.
"Chanyeol," dan taunya ia memanggil sang kekasih. Chanyeol menghentikan senandungnya dan bergumam "Ehm?" lalu Baekhyun melanjutkan kalimatnya. "Apa boleh aku meminta sesuatu?"
"Apa itu?"
"Jangan lagi menyembunyikan apapun padaku." matanya masih terpejam dan tangannya meremas baju Chanyeol dengan sangat keras.
Ia jelas tau apa maksud si kecil dan ini jelas ada sangkutpautnya dengan masalah yang membuat mereka terpisah lama. Sepertinya Baekhyun hanya merasa di bohongi jadi Chanyeol kembali merasa bersalah karena tidak menceritakan masalah itu pada Baekhyun dan masuk dalam permainan Jieun.
"Masalah foto itu," Chanyeol bersuara tapi Baekhyun hanya berguman menangapi kekasihnya. Sepertinya obatnya mulai bekerja. "Aku tidak tau menahu kalau Jieun mengambil foto kami. Jadi kau tidak marah lagi kan?" gelengan menjadi jawaban. "Aku janji akan lebih sering mengabadikan momen kebersamaan kita nantinya." tapi gelengan lagi dari si kecil menjadi jawaban. Baekhyun kembali merapatkan tubuhnya, mencari kehangatan juga kenyamanan dari kekasih yang menjadi bantalan hidup.
"Aku hanya ingin bersamamu." lugu dan sederhana keinginan dari Baekhyun mengundang senyuman dari si jangkung. Chanyeol mengecup pucuk kepala Baekhyun dan napas yang mulai stabil menandakan, Baekhyunnya sudah terlelap.
…
Mendengar Baekhyun sudah kembali, besok paginya Kyungsoo langsung mendatangi apartemen Chanyeol ditemani Jongin kekasihnya. Ada juga Luhan yang sudah berada di apartemen si jangkung itu dari pagi buta karena jujur ia sangat kawatir saat menyadari adiknya itu tidak pulang ke apartemen Sehun. Jadi beginilah apartemen mewah Chanyeol dengan beberapa orang yang sudah memenuhi kamarnya.
"Aku nyaris mati lemas saat tau kau hilang." Kyungsoo memeluk erat tubuh sahabatnya yang masih terdapat selang sinfus di tangannya.
"Bukankah kau malah senang saat aku tidak mengganggumu di kelas?" wajahnya datar bukan karena lemas karena ia merasa sahabatya itu terlalu berlebihan. Luhan yang baru pertama kali ia lihat itu.
"Wow, aku baru melihat ekspresimu yang seperti itu? Apa saat bersama Chanyeol kau begitu juga?" lontar si cantik bermata rusa. Baekhyun hanya melirik bingung pada sang kakak dan Kyungsoo memandang tak minat pada Luhan.
"Anehnya saat bersama Chanyeol dia akan berubah menjadi sang putri yang pemalu." itu Kyungsoo dengan wajah yang masih menatap tak minat pada Baekhyun sang sahabat.
"YAK!" teriakan terdengar dan seorang pria berkuping peri menerobos masuk. Ketiga mahluk cantik memang berada di dalam kamar dan ke tiga mahluk bangsat ganteng duduk-duduk di ruang santai dengan obrolan entah apa krena author ikut nongkrong dengan cocan-cocan di dalam kamar *plak*
"Apa apa?" itu Chanyeol yang menerobos masuk dengan paniknya. Dua pria dengan wajah cantik di samping Baekhyun hanya menoleh bingung dan salah satunya berkomentar. Lebih pada menyindir. Atau sebuah pujian yah?
"Wah, suami siaga." celetuk Luhan dan anggukan Kyungsoo menyetujui itu.
"Ti-tidak ada apa-apa." Baekhyun buru-buru bersuara dengan dua tangan di gerakan di depan dada seolah melambai.
"Lihat? Ia mulai begitu lagi." wajah datar Kyungsoo memang paling menakutkan tapi malah membuat Baekhyun kembali berteriak sambil melempar bantal yang menjadi pengganjal punggungnya.
"YAK!" "YAK!" kedua mungil itu sama-sama berteriak membuat dua makhluk lain di sana hanya berkedip memandang mereka bingung.
.
.
"Sekarang istirahatlah. Aku akan menghangatkan bubur." katanya seraya mengelus helayan rambut Baekhyun. Lima menit yang lalau Chanyeol baru mengantar kepulangan sahabat dan kakak kekasihnya.
"Eh,," Chanyeol kembali memutar tubuhnya ketika gumaman itu terdengar. "Boleh aku meminta sesuatu?" lanjutnya dan anggukan menjadi jawaban. "Boleh kau tetap di sini? Ma-makan buburnya nanti saja."
"Kenapa? Kau belum lapar?" Baekhyun mengangguk. "Tapi ini sudah siang dan waktunya kau minum obat."
"Ta-tapi kalau aku meminum obatnya,," ia bermain dengan jari-jari lentiknya, pandangannya jatuh pada selimut tebal yang menutupi sebagian dari tubuhnya. Ia memainkan jari-jarinya sebelum kembali berucap, "Aku akan tertidur dan tidak bisa berlama-lama denganmu." Lan jutnya.
Hal itu mengundang senyuman dari yang lebih muda dan membuatnya tidak tahan untuk mendaratkan sebuah kecupan di dahi Baekhyun kekasihnya. Semenjak kejadian itu, Baekhyun memang tidak bisa lepas darinya bahkan sikap manjanya berangsu-angsur mendominasi setiap kali Chanyeol akan berangkat sekolah. Itu yang membuat si jangkung ini ikut-ikutan tidak pergi ke sekolah sebenarnya. Tapi itu bukan masalah serius karena ya dia pintar dan bisa mengikuti pelajaran dengan mudah.
…
Flashback
Dua pemuda dengan marga berbeda sedang berbincang di sebuah meja perpustakaan. Pembahasan tidak lain mengenai matakuliah mereka. Rencana pembangunan sebuah perusahaan untuk memenuhi tugas matakuliah di jurusan mereka. Salah seorangnya bermarga Park yang mengusungkan nama Park&B dan kawannya yang bermarga Byun menyetujuinya.
"Kita harus menjadikan perusahaan ini nyata Byun." ucap si Park dengan semangatnya. Pria yang di sebut itu hanya tersenyum dan kembali menuliskan entah apa di kertas tugas mereka.
"Dan untuk memperkuat kerja sama, kita jodohkan kedua anak kita. Bagimana?" lanjutnya. Byun menoleh dan mengulurkan tangannya ke arah Park lalu sedetik kemudian disambar dengan antusias oleh yang lain.
Beberapa tahun kemudian setelah mereka merayakan kelulusan, Byun memutuskan menikah dengan seorang gadis yang ia kenal di masa SMAnya lalu memiliki anak sembilan bulan kemudian. Setahun kemudian Park menyusul dengan seorang wanita yang dikenalkan ayahnya. Chanyeol lahir tujuh bulan setelah Baekhyun lahir.
Tuan Park benar-benar lupa dengan janjinya di masa kulia dan karena tidak ada kehadiran anak perempuan di kedua keluarga tersebut membuat keduanya beranggapan janji itu takkan pernah terlaksana.
Karena urusan pekerjaan tuan Byun sering bertemu. Perusahaan yang mereka rencanakan di masa kuliah dulu pun benar-benar terbentuk. Tapi kepemilikan perusahaan dipegang oleh tuan Park dan tuan Byun sebagai sekertaris setia. Itu yang membuat tuan Park sering mengunjungi kediaman Byun untuk mengurus beberapa dokumen yang tidak sempat mereka bicarakan di perusahaan.
…
Seorang pria berusia empat puluhan menggandeng seorang bocah usia lima di sampingnya. Sang ibu yang masih berbincang dengan seorang wanita yang menggendong seorang bocah berusia sama dengan anak lainnya. Mengahiri suatu pertemuan itu memang sulit, mengingat sang kepala rumah tangga kedua kelurga itu memang dekat semenjak kuliah.
"Kalau begitu kami pamit. Nyonya Byun terima kasih atas hidangan makan malamnya. Itu sangat enak." puji sang istri tuan Park dengan senyum menawannya. Wanita yang lebih tua dua tahun itu tersenyum merespon pujian itu.
"Hati-hati di jalan. Maaf merepotkan kalian." itu tuan Byun yang ikut mengantar kepulangan sang sahabat. Tak lama sang tamu masuk ke dalam mobil dan pergi menembus malam di kota Seoul.
…
"Ayah, kapan kita ke rumah Baekkie lagi?" celoteh anak satu-satunya dari keluarga Park. Sang ayah yang tadinya sibuk dengan pekerjaan di mejanya menghentikan kegiatan menulisnya. Ia memandang sang anak dengan senyum hangat lalu menggendong anak itu di pangkuannya.
"Kau senang berteman dengan Baekhyun?"dan sang anak mengangguk.
"Aku senang karena Baekkie selalu tersenyum dan baik padaku. Oh ya waktu hujan juga dia memelukku dan menciumku." celoteh sang anak. Mendengar kata cium, pria tua itu mengerutkan dahinya.
"Mencium?"
"Iah ayah. Ayah tau, petir dan gelap itu sangat menakutkan. Suaranya bagai monster dan gelap menutupi sosoknya. Aku takut dan terus menangis tapi Baekkie menenangkanku lalu menciumku."
"Mencium seperti apa?" ini sebenarnya bukan topik yang serius tapi mengingat kedua anak ini adalah laki-laki jelas membuat pria bermarga Park ini fokus pada ucapan sang anak.
"Baekkie menciumku di sini." ia menunjuk bibirnya. "Dan aku langsung berhenti menangis. Rasanya ada sesuatu yang menggelitik di sini ayah. Tapi aku merasa senang untuk itu." ia mengelus-elus perutnya lalu tersenyum lucu pada sang ayah yang makin memperdalam tikungan di dahinya.
…
Setelah kejadian itu pria bermarga Park ini tidak pernah mengajak sang anak untuk berkunjung ke kediaman Byun seperti pada tiga tahun terakhir ini. Banyak alasan digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan sang nyonya Byun atau bahkan tersangka utama(Baekhyun).
Walau masih kecil, penyimpangan sexual bisa saja terjadi pikirnya dan akan berdampak buruk pada sang anak. Ia harus mencegahnya agar penyimpangan itu tidak berlanjut dan perusahaannya tidak akan terganggu karenanya.
Tapi sepertinya hal itu tidak berpengaruh pada sang anak. Dengan berbagai cara si anak tetap berhasil menemui Baekhyun di kediamannya. Entah itu pulang sekolah ia kabur dari supir yang menjemputnya atau bahkan kabur dari rumah. Itu berlangsung sampai Chanyeol berusia sembilan tahun dan sang ayah mulai bersikap tegaspada sang anak.
"Jika kau masih menemui Baekhyun, ayah janjikan keluarga Byun akan dipindah tugaskan." acaman si ayah dan bocah bermata besar itu hanya membuang mukanya dan melipat tangan di dada.
"Aku masih bisa mendatanginya."
"Tapi sayangnya tempat itu berada jauh di negara lain. Kau lupa? Ayah punya anak perusahaan di Kyoto, Jakarta juga Bangkok. Kau mau keluarga Byun di pindahkan ke mana? Pilih salah satunya!" pria tua itu mengangkat tinggi sudut bibirnya. Ia tersenyum angkuh sedangkan si anak memandang tak percaya pada pria di hadapannya yang sayangnya adalah ayah kandungnya.
…
Beberapa tahun kemudian, saat Chanyeol baru memasuki setengah tahunnya di kelas sepuluh, ia harus memilih pindah bersama sang ayah ke Busan atau tetap tinggal di Seoul. Tapi karena ia baru menikmati dekat dengan sang pujaan hati, jadi ia ingin melanjutkan sekolahnya di Seoul. Tentu itu membuat sang ayah kesal dan menentang keinginan si anak. Bujukan tak henti di lancarkan si ayah agar sang anak mau ikut dengannya ke Busan. Dari mulai membelikan segala keinginan si anak dan lain sebagainya. Namun di tolak oleh Chanyeol yang memiliki tekat tetap bersekolah si Seoul.
"Aku akan ikut dengan ayah dan ibu ke Busan, tapi aku takkan melanjutkan sekolah." negosiasi masih berlangsung. Sang ayah mengepalkan dengan kuat tangannya di atas meja. Ia sudah putus asa.
"Jangan harap ayah membelikanmu apartemen."
"Aku bisa tinggal di kediaman Byun. Bukankah ayah dan almarhum paman Byun begitu dekat?" mati kutu.
"Kau bisa tinggal bersama Sooyoung." tawar yang lebih tua dan Chanyeol hanya mengangkat tangan kanannya dan mengoyangkan jari telunjuknya.
"Tidak, tidak. Rumah bibi Byun lebih dekat ke sekolah dan aku tidak perlu repot-repot mengeluarkan kendaraan untuk sampai ke sana. Ayah harus ingat aku tidak suka ketika semua orang tau aku anak dari pemilik perusahaan terkenal Park&B." pria paruh baya itu kembali memutar otak. Semua yang dikatakannya memang benar. Tapi persoalan sang anak tidak mau semua orang tau hal itu sudah di negosiasi sejak lama.
"Baiklah. Asal jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Jangan memalukan nama keluargamu!" nasihat sang kepala rumah tangga. Chanyeol harus senang, sebentar lagi ia akan tinggal dengan pria kecil yang ia cintai sejak lama.
Mungkin usahanya mendekati si cantik akan berbuah manis. Ya asal sang ayah tidak mengetahuinya. Namun setelah setahun ia tinggal bersama si mungil itu hubungannya tercium sang ayah dan yah, sang ayah bertindak cepat menanggapi persoalan penyimpangan sang anak.
Flashback end
…
"Aku memang sudah curiga dengan pria itu sebelumnya." Si canti Sooyoung melipat tangannya di depan dada. Ia sedang bersama ketiga sahabatnya berbincang di ramainya suasana kantin sekolah mereka.
"Ya setidaknya Baekhyun masih hidup." Lontar Kyungsoo yang membuat semua mata terarah padanya. Memang terkadang kata-kata pria mungil itu asal ceplos dan mengundang tandatanya besar 'apa ia benar sahabat si mungil Baekhyun?'.
"Tapi ini tidak ada campur tangan Jieun kan? Soalnya aku tidak pernah melihat si Yoonoh, Yoonoh itu bersama dengan Jieu?" ketia orang itu setuju dengan ucapan si tan. Jangan sampai ini ada kaitannya dengan si Jieun. Karena kalau yah ini ada campur tangan anak itu, empat orang ini tidak akan tinggal diam.
"Sekarang begini saja." mulai Sooyoung. "Kita awasi Jieun! Siapa tau anak itu kembali berulah. Dan tentang si Yoonoh, kita serahkan pada Chanyeol." Dan sebuah rencana mereka rancang seddemikian rupa agar mahluk-mahluk tidak tau diri itu lenyap selamanya.
…
Sudah tiga hari Baekhyun berada di apartemen. Kondisinya sudah membaik tapi dokter masih belum memperbolehkan dirinya untuk masuk sekolah. Pria jangkung kesayangannya pun masih setia menemani dan sama-sama tidak masuk sekolah, tapi untungnya ia memiliki sepupu baik sekaligus cantik yang selalu mencatatkan materi untuk Baekhyun juga dirinya.
Walau kondisinya membaik, Chanyeol memilih untuk tidak berbuat nekat pada sang kekasih. Jadi singkat cerita Baekhyun berulang kali meminta walau tidak secara terang-terangan kepada Chanyeol. Dan menyadari maksud dari sang kekasih, Chanyeol pun selalu mengalihkan pembicaraan atau lebih pada menolak secara halus.
Tapi pernah suatu malam saat si mungil terlelap karena pengaruh obat. Chanyeol yang sedang berbaring di sebelah Baekhyun, mengelus sayang sang kekasihnya itu. Niatnya hanya menemani sampai sang pujaan hatinya itu tertidur, tapi saat mata itu terpejam, Chanyeol mengecup bibir tipis itu. Bibirnya memang hanya menyentuh bibir lain di hadapannya tapi salahkanlah otak mesumnya yang membayangkan sesuatu sampai benda hidup di bawah sana mengeras. Lelaki jangkung itu dengan cepat melompat dari ranjagnya dan berlari menuju pintu kamar mandi yang tak jauh dari sana.
Obat tidur memang sudah membuatnya terlelap, tapi sentuhan bibir tebal lelaki raksasa itu membuatnya kembali terjaga. Hatinya bersorak gembira tapi saat sentuhan itu tidak terasa lagi juga si jangkung yang melompat dari tempat tidurnya, hati itu kembali bersedih. Ia memaksakan matanya untuk terbuka, memandang sedih sebuah pintu yang tertutup juga suara erangan dari dalam sana. Walau namanya disebut tapi tetap saja rasa sedih itu membuat hati di dalam sana sakit. Kekasihnya lebih memilih bermain sendiri sambil menyebut namanya dan menolak ajakannya. Tanda taya besar menghantui benaknya kala itu. Apa kekasihnya mulai merasa jijik padanya karena ia sudah disentuh pria lain? Atau….
.
.
Dua puluh menit Chanyeol berada di dalam sana dan Baekhyun sudah tak selera untuk melanjutkan tidurnya. Sepertinya pengaruh obat tidur itu sudah tidak bereaksi.
"Kau terbangun?" tanya Chanyeol setelah keluar dari kamar mandi. Baekhyun hanya menatap sekilas dan kembali tertunduk. Ia duduk di hadapan kekasihnya dan mengelus lembut pipi Baekhyun yang tembam.
"Apa kau merasa jijik padaku, Yeol?" tanya itu akhirnya terlontar. Chanyeol mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa yang di maksud si kecil.
"Kenapa aku harus merasa jijik padamu?"
"Kau selalu menolak saat aku meminta 'itu' padamu. Kau juga selalu mengalihkan pembicaraan saat aku membahas hal yang…." entah mengapa ia malu akan mengatakan kata bercinta di hadapan kekasihnya. "Dan tadi kau melakukannya sendirian di kamar mandi. Apa aku semenjijikan itu karena sudah disentuh orang lain?" dan barulah Chanyeol mengerti arah pembicaraan itu.
Melihat raut wajah yang terluka juga tatapan Baekhyun yang sedih, membuat hatinya ikut merasa sakit. Ia tidak merasa jijik sama sekali, bahkan saat tiga hari yang lalu di mana saat ia harus memandikan Baekhyun, ia harus dengan sekuat tenaga menekan hasratnya untuk tidak terangsang dan menolak mati-matian bujukan Baekhyun yang tersampaikan dengan baik oleh gestur tubuhnya. Tapi kembali ia tidak mau kalau trauma sang kekasih membuatnya menderita. Cukup dengan mendengar tangisnya setiap malam juga teriakan-teriakan histerisnya saat tertidur membuat hatinya remuk. Jadi ia memutuskan untuk tidak mengikuti egonya itu. Lagian luka di sekitar lubangnya belum sembuh benar pikirnya.
"Kalau memang aku men-hmppt" belum selesai Baekhyun meluapkan isi hatinya, Chanyeol sudah membekap mulut si kecil dengan bibir tebalnya.
Ia menyerang bibir itu dengan nafsunya, tanpa ampun hingga tubuh kecil itu berbaring di ranjang. Chanyeol menindih tubuh itu juga melumat daging tak bertulang itu tanpa ampun. Tautan mereka terlepas dan tubuh Chanyeol sedikit menjauh dengan napas berburu.
"Aku.. Hah..hah.. Tidak pernah… menganggapmu.. Hah.. Hah.. Menjijikan." ucapnya dengan napas terputus. Pria di bawahnya juga sama bernapas dengan terengah karena perbuatan kekasihnya.
"Lalu kenapa? Kau bosan denganku?" tubuhnya mulai bergetar dan isakan mulai terdengar. "Aku pernah bilang….aku tidak suka… Ketika… Hiks.. Banyak tanda orang lain.. Di tubuhku…" Chanyeol terkejut saat Baekhyun menangis di bawahnya.
"Bayangan dia yang menyentuhku, memaksaku untuk mengulum miliknya dengan mulutku dan saat ia memasukan miliknya padaku, itu membuatku gila Yeol. Aku hanya ingin kau membantuku menghapus semua tandanya." isakan itu berganti tangisan pelan dan kedua tangannya menutupi wajah basahnya. Ia tidak ingin Chanyeol melihat dirinya yang menjijikan.
"Aku tidak menganggapmu menjijikan, Baek. Aku hanya takut menambah traumamu." itu Chanyeol memulai penjelasannya. "Aku panik setiap kali kau menjerit dan menangis di malam hari. Aku hanya tidak mau menambah rasa takutmu."
"Aku harusnya menyadari itu. Maafkan aku." sebuah penyesalan dan terasa tulus dari si jangkung. Perlahan Chanyeol menarik sebelah tangan Baekhyun dari wajahnya. Disusul yang lainnya dan terlihatlah wajah merah basah kekasih kecilnya.
"Aku minta maaf." sekali lagi ia menyesali kesalahannya tapi Baekhyun melingkarkan keduatangannya di leher Chanyeol dan menarik perlahan wajah si jangkung untuk mempertemukan dua belah daging tak bertulang milik masing-masing.
"Rasanya.. Hiks.. Manis." sebuah senyum di selingi isakan dari si kecil membuat mata besar itu menatap tak percaya. Pasalnya hanya sebuah kecupan bisa membuat kekasihnya itu kembali tersenyum. Karena senyuman itu satu kecupan rasanya kurang maka ia kembali meraub bibir ranum itu dengan perlahan tanpa nafsu.
.
.
Kecupan-kecupan itu beberapa menit kemudian berubah jadi lumatan. Saling berperang mencari pemenang dengan lidah yang saling terlilit dan bertukar saliva. Lenguhan si kecil menambah keinginan Chanyeol untuk melakukannya. Membuat yang di bawah sanah semakin mengeras.
Merasakan sesuatu yang semakin menggembung di bawah sana, Baekhyun melepas tautan mereka. Dengan mata sayunya, ia memandang Chanyeol dengan penuh arti dan memandang adik milik kekasihnya yang masih terbalut kain itu.
"A-apa?" gugup Chanyeol tapi taunya Baekhyun hanya tersenyum nakal dan melirik miliknya di bawah sana. Chanyeol tidak punya ide mengenai senyum nakal itu. Yang ia tau hanya itu terlihat cantik dan bukan Baekhyunnya yang seperti biasa.
Tangan lentik milik si kecil mengelus lembut gembungan itu dan di bawanya bibir tipis yang mulai membengkak ke arah telinga peri milik kekasihnya. Sebelum berkata-kata, ia menghembuskan napas hangatnya dan lalu membisikkan sebuah kalimat yang sontak membuat mata lebar Chanyeol nyaris loncat dari tempatnya.
"Aku ingin milikmu. Apa boleh?" bisiknya dengan nada manja. Mata Chanyeol membola, dari mana asalnya sikap berani sang kekasih? Apa selama bersama Yoonoh, lelaki itu sudah mencuci otaknya? Tapi berpuluh-puluh menit yang lalu, Baekhyun masih Baekhyun yang Chanyeol kenal tapi sekarang, entahlah.
Tanpa menunggu izin dari si pemilik, Baekhyun mendorong perlahan sang kekasih hingga mereka duduk berhadapan. Selanjutnya ia menunduk untuk menurunkan celana santai si jangkung dan menemukan sesuatu yang tertutup celana dalam hitam yang sudah basah karena percumnya. Ia tersenyum simpul dan mendongak mempertemukan mata sipitnya dengan mata bingung milik kekasihnya.
Perlahan tapi pasti, Baekhyun mengeluarkan cacing besar itu dari sarangnya. Chanyeol langsung memejamkan matanya ketika adiknya perlahan masuk ke dalam mulut si kecil. Suara hisapan dan bunyi saliva mulai terdengar memenuhi ruangan di apartemen mahal milik si muda Park. Kepalanya mulai mendongak ketika pijatan-pijatan dari tangan lentik Baekhyun terasa. Begitu nikmat dan membuat ia lupa siapa dirinya bahkan namanya.
"Aahhh…" desahan meluncur ketika dengan sengaja Baekhyun menjilat bagian pucuk kepala adik kekasihnya dan ia mengintip bagaimana reaksi nikmat sang kekasih ketika ia mengerjai batang besar itu.
"Chan~" panggilnya. Chanyeol perlahan membuka matanya lalu menunduk mendapati si kecil yang mendongak dengan senyum entah bagaimana begitu cantik juga tangan lentik yang mengocok kejantanannya.
Baekhyun mengangkat sedikit tubuhnya lalu mempertemukan kedua bibir mereka dan melumat perlahan tanpa bermain dengan lidahnya. Saling menghisap belahan bibir masing-masing, Baekhyun masih setia mengocok kejantanan Chanyeol dan si jangkung itu menangkup belahan pipi kekasihnya agar ciuman mereka lebih dalam.
.
.
Baekhyun sudah berada di bawah Chanyeol dengan napas berantakan juga rambut kusut tapi masih nampak cantik. Mereka saling berpandangan setelah semenit yang lalu berperang lidah.
"Kau cantik, Baek." puji yang lebih tinggi. Baekhyun hanya tersenyum karena pujian itu.
"Kau yakin akan melakukannya?" tanya si jangkung dan taunya senyum Baekhyun luntur mendengar kalimat itu dari kekasihnya.
"Kau benar-benar merasa jijik padaku?" muka sedihnya malah membuat lelaki yang berada di atasnya panik. Pasalnya bukan itu alasan ia tidak ingin menyentuh dirinya. Tapi lelaki jangkung ini takut kalau saat dirinya menyentuh tubuh yang sudah tak bernoda itu malah bereaksi lain.
"Bukan itu maksudku." ia berkata. "Aku hanya tidak mau tidurmu terganggu lagi karena traumamu." penjelasannya.
"Jeritan ku setiap malam itu karena bayangan Yoonoh yang menyetubuhiku. Ingatan mengerikan itu selalu hadir di malam-malamku." tangan kanannya terulur untuk mengelus pipi Chanyeol. "Kalau semua sentuhannya sudah terhapus oleh jejakmu, aku yakin ingatan tentangmu akan mengantikan jeritan dengan senyuman, Yeol." ia menatap dalam manik kelam milik kekasihnya itu dan tersenyum untuk meyakinkan si lelakinya. "Jadi, kau mau membantuku menghilangkan kenangan buruk itu?"
Chanyeol tidak menjawab tapi matanya menatap dalam pada netra kekasihnya itu. Sedikit tidak yakin tapi kekasih kecilnya itu terus memaksanya dan kalau belum dicoba siapa yang tau hasilnya. Maka dengan gerakan perlahan, Chanyeol merendahkan tubuhnya dan mengecup perpotongan leher Baekhyun dan meninggalkan tanda kemerahan di sana. Mengecup lagi pundak kekasihnya juga meninggalkan banyak kissmark di kulit bersih Baekhyunnya.
Entah bagaimana caranya, semua pakaian yang lebih kecil sudah berantakan di lantai. Kulit putih bersih Baekhyun bagaikan kanvas dengan torehan-torehan cat yang di tata sedemikian rupa oleh sang seniman di atasnya.
Tubuh ramping itu mengeliat indah ketika miliknya di hisap dan dipermainkan si jangkung. Jemarinya yang lenting meremas lembut helayan-helayan rambut lelakinya yang bergerak naik turun.
"Aaahhh…. Ahhh.. Yeollie~" desahan juga rengekan terdengar begitu menggairahkan di telinga peri milik Chanyeol. Tidak hanya menghisap kejantanan si mungil, ia juga melumuri cincin berkerut milik kekasihnya yang sudah benar-benar sembuh. Terasa geli tapi nikmat dalam waktu bersamaan.
Lidahnya menerobos pada pintu kenikmatan yang membuat desahaan juga erangan si kecil berlomba memecah keheningan sore berganti malam indah itu. Keduanya tengelam dalam rasa rindu juga mendamba dari si jangkung yang begitu bergairah.
"Chanyelo,, aaahhh…. Eeemmmm,,, aaahhh" saat lidahnya sudah tidak menempati lubang itu, Baekhyun merasakan kekosongan di sana. Ia membuka sebelah matanya dan mengintip apa yang dilakukan sang kekasih.
Chanyeol bangkit memandang memuja pada sosok polos tak tertutup sehelai benangpun. Cahaya bulan membuat semua itu semakin sempurna dengan kilatan cahaya yang terpantul dari keringat si kecil membuat dirinya semakin mengagumi pemberian Tuhan padanya.
"Apa yang kau lihat?" suara itu menariknya kembali ke kesadarannya. Ia menarik sudut bibirnya lalu merendahkan tubuhnya untuk mengurung tubuh di bahanya dengan kedua lengan di kanan kirinya. Jarak wajah mereka begitu dekat dan mata mereka memandang dalam.
"Aku hanya sedang mengagumi pemberian Tuhan yang begitu indah untukku." Ia tersenyum tapi sebuah tikungan terlihat di dahi yang lebih kecil. Ia tidak mengerti apa arti pemberian Tuhan yang di maksud kekasihnya dan untungnya si jangkung itu tau kalau kekasihnya tidak mengerti.
"Kau adalah pemberian Tuhan yang terindah." Terangnya. "Tuhan memberikanmu yang indah hanya untukku. Aku bersyukur untuk itu." Dan rona di pipi si kecil mulai timbul.
"Aku yang lebih bersyukur karena memilikimu yang tampan dan sempurna." Ucapnya dengan senyum yang sangat manis di mata Chanyeol. "Terkadang aku merasa bangga saat semua mata memandang iri padaku saat kau berjalan sambil merangkulku di kantin juga koridor. Jadi aku lebih bersyukur aku memilikimu di hidupku." Lanjut yang lebih kecil. Chanyeol merendahkan wajahnya mengecup sebelah pipi kekasihnya.
"Harusnya itu yang selalu kau pikirkan. Bangga dan mengangkat dagumu tinggi-tinggi. Bukan menunduk dan merasa tidak pantas bersanding denganku." Ciumannya turun pada leher jenjang si kecil dan kembali meninggalkan noda merah di sana.
"Tapi aku…" Chanyeol menaruh telunjuknya di depan bibir membengkak itu.
"Ssstttss,, kau cantik, kau manis, dan kau sempurna bagiku. Jadi kau pantas berada di sekitarku." Lalu bibir itu ia raub kembali dan ciuman panas menjadi kegiatan mereka untuk kesekian kalinya.
…
Gadis bermarga Lee duduk sambil memainkan kakinya di atas sofa besar di kediamannya. Suasana ramai juuga hilir mudik beberapa orang tidak membuat hatinya kacau karena ini adalah pertemuan dua keluarga yang akan membahas mengenai pertunangan.
"Kau senang?" seorag pria paruhbaya duduk di sebrang sofa yang terbatasi meja keca indah dengan harga yang selagit tentunya. Si gadis hanya menyunggingkan senyum dan kembali memainkan kakinya.
"Bukan hanya senang ayah." Ujar putri tercintanya dengan senyuman bahagia. "Aku bahkan tidak bisa tidu tadi malam." Lanjutnya mengambil bantal lalu memeluknya.
"Kau boleh senang tapi jangan abaikan kesehatanmu." Dan tak lama tamu yang ditunggupun datang.
Keluarga Park yang menjadi tamu memasuki kediaman Lee denan sang kepala rumah tangga memimpin rombongan sedangkan sang istri berada di sebelahnya.
"Wah sambutan yang mengagumkan tuan Lee." Puji si tamu tulus lalu menyambut tangan yang terulur di hadapannya.
"Karena calon besan kami bukan orang bias maka kami pun harus menyambut kalian dengan apapun yang kami bisa lakukan." Ujarnya.
"Tapi maaf Chanyeol tidak bisa hadir. Putraku itu sibuk dengan beragai urusan." Bohong kepala rumah tangga itu yang membuat senyum Jieun jatuh. Ia kecewa.
…
Ini entah keberapa kalinya Sehun mendengar Chanyeol teman sebangkunya menghela napas. Ini hari pertamanya masuk setelah sekian lama ia izin karena mengurus Baekhyun kekasihnya.
Si mungilnya belum di perkenankan beraktivitas oleh dokter keluarganya, padahal kalau dilihat ia sudah nampak sehat, tidurnya juga lebih lelap setelah kejadian itu. Ternyata benar ia trauma karena sentuhan orang lain di tubuhnya. Buktinya setelah bercinta dengannya, pada malam harinya Baekhyun tidak menjerit seperti malam sebelumnya. Ia tidur nyenyak dengan napas yang teratur, ia juga memeluk tubuh Chanyeol erat dan akan tersenyum kalau aroma tubuh si jangkung tercium indra penciuman si mungil. Ini membuatnya bisa bernapas lega.
"Bisa tidak kau menghentikan menghela napas seperti itu?" bisik Sehun pada pria yang terus-terusan menghembuskan napasnya bosan. Chanyeol merotasi bola matanya pada pria di sampingnya. Kalau bukan sahabatnya, mungkin sekarang ia tinggal nama.
Chanyeol mengambil ponselnya di saku karena beberapa menit yang lalu benda persegi panjang pipih itu bergetar hebat. Ada sebuah pesan singkat dengan nama sang kekasih di sana membuat ia buru-buru membuka pesan itu.
Baekkie-
Aku bosan~
09:04 AM
Ia tersenyum seketika melihat isi pesannya. Ternyata sang kekasih merasakan hal yang sama, mereka benar-benar berjodoh. Ia mengetik balasannya dengan senyuman bodoh.
Yeollie-
Memang apa yang sedang kau lakukan?
09:06 AM
Baekkie-
[picture]
Aku hanya duduk di depan tv.
09:08 AM
Setelah membaca pesan itu, mata besar Chanyeol semakin besar. Ia mendekat wajahnya ke layar ponsel itu dan seakan memastikan penglihatannya tak salah. Pasalnya foto yang dikirim kekasihnya adalah gambar sepasang kaki dari paha atas yang terhalang bawahan kemeja kebesaran miliknya. Ia tidak bodoh untuk mengatahui kekasihnya itu tidak menggunakan celana karena tidak tanpak kain apapun dari balik kemeja itu yang sedikit transparan. Oh Tuhan, sesuatu di bawah sana siap untuk nenegang dan dengan segera si jangkung itu bangkit dan berlari menuju pintu keluar kelas. Seluruh murid termasuk guru juga Sehun yang menjadi teman sebangkunya menatap bingung pintu yang sudah terbuka itu.
Sehun merogoh kantung celananya lalu mengambil ponsel pintarnya. Ia membuka aplikasi pesan di ponselnya dan mengklik nama Baekhyun lalu mengetik sebuah pesan untuk lelaki itu.
Oh Sehun-
Apa yang kau kirimkan pada Chanyeol?
09:15 AM
Byun Baek-
Kirim apa?
09:15 AM
Oh Sehun-
Kau mengirimkan pesan apa pada Chanyeol, sampai ia berlari keluar kelas di jam pelajaran Lee saem?
09:16 AM
Setelah pesan itu, Baekhyun tidak membalas pesan dari pria berkulit pucat itu. Ini membuat pertanyaan besar di kepala Sehun. Sebenarnya obrolan apa yang mereka bicarakan? Atau mungkin sebenarnya Baekhyun berkepribadian ganda seperti yang di katakana Jongin? Hanya Tuhan, Baekhyun dan Chanyeol yang tau.
.
.
Chanyeol berlari dengan sangat cepat ke arah kamar mandi. Memasuki salah satu bilik menutup pintu dan tak lupa menguncinya. Ia menutup kloset duduk lalu duduk di atasnya dengan terburu. Dengan tergesa ia membuka sleting celananya, memelorotkan celana dalam serta celana seragamnya bersamaan. Batang tegap itu terlihat sudah basah di ujungnya, Baekhyun benar-benar sudah membuat pikirannya kacau hanya karena sebuah foto. Maka tidak ambil banyak waktu, Chanyeol langsung menyambar benda tegak besar itu dan mengocoknya.
Kepalanya mendongak dan punggungnya bersandar pada tabung besar di belakang kloset itu. Matanya terpejam dan nikmat dari batangnya itu menyebar keseluruh tubuh sampai ujung jari-jari kakinya. Sesekali ia mengerang dengan suara beratnya, memanggil-manggil kekasih kecilnya yang jauh di sana.
Bayang-bayang Baekhyun yang mendesah, menggeliat, juga membuka kakinya lebar menjadi bahan fantasi onaninya. Ternyata hanya dengan foto bagian bawah Baekhyun sukses membuat tiang bertubuh kekar ini ambruk dalam kenikmatan. Ia harus menghukum kekasihnya sesampainya di apartemen. Itu pemikirannya. Dan biarkan Chanyeol dengan kegiatan nistanya.
…
"Di mana sopan santunmu?" suara di sebrang sana terdengar keras menembus gendang telinga si jangkung Park. Ia menolak kembali pertemuan dengan keluarga Lee untuk membahas tanggal pertunangan.
"Aku sudah bilang, kalau dengan si wanita rubah itu aku tidak mau."
"Lancang!"
"Terserah apa kata ayah, pokonya aku tidak akan menghadiri pertemuan itu." Dan sambungan terputus. Chanyeol membanting ponselnya sembarang di atas sofa. Ia mengerang frustasi dan mengacak-acak rambutnya. Kenpa si rubah jalang itu selalu mengganggu hidupnya? Bagaimanapun caranya menghindari wanita itu, ia seakan punya sejuta cara untuk kembali menganggu hidupnya.
Kalau bisa memilih ia tidak mau terlahir sebagai bagian dari keluarga Park. Tapi kalau ia tidak terlahir di keluarga ini, ia jelas tidak akan dengan kekasih hatinya yang sangat ia cintai itu. Jadi apakah ia harus menyesalinya atau mensyukurinya?
…
Chanyeol membuka pintu apartemen, Ia melangkah memasuki ruangan dan melangkah ke ruang santai. Sosok Baekhyun berada di sana, tertidur dalam posisi duduk dengan pakaian milik Chanyeol yang jelas kebesaran. Kata si kecil dengan mencium bau pria jangkung itu, ia akan merasa aman dan nyaman. Tapi hal ini sering menimbulkan niatan lain di benak si jangkung yang menjadikan tubuh kekasihnya itu candu utama.
"Kenapa tidur di sini?" ia berbisik pada sosok yang masih terpejam. Mendengar suara berat Chanyeol, Baekhyun membuka sedikit matanya lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Chanyeol. Ia memeluk erat tubuh itu dan menyamankan tubuhnya. Chanyeol hanya terkekeh karena perlakuan si mungilnya. Dengan gerakan mudah Chanyeol mengangkat tubuh itu dan mengaitkan kedua kakinya di pinggang. Ia menggendongnya seperti anak koala dan tangannya menahan tubuh itu tepat di bokong kenyalnya.
Chanyeol sempat tersentak karena sesuatu tapi tetap melangkah menuju kamar mereka. Membaringkan tubuh mungil itu di atas ranjang tak membuat si mungilnya melepas pelukannya. Dengan tubuh membungkuk, Chanyeol kembali terkekeh dengan suara beratnya dan mengecup perpotongan leher Baekhyun.
"Aku tau kau tidak tidur kan?" ia berbisik tepat pada telinga si mungilnya. Baekhyun tertawa tanpa suara karena aksinya terbaca oleh sang kekasih.
Si kecil ini memeluk tubuh Chanyeol semakin erat dan bibirnya mengecup leher si kekasih hingga meninggalkan bercak kemerahan di sana. Sebenarnya Baekhyun tidak membohongi Chanyeol karena ia memang tertidur saat menonton acara tv yang membosankan menurutnya. Saat pintu terbuka, Baekhyun terbangun walau tidak ada niatannya membuka mata dan saat Chanyeol mendekat dan berbisik padanya ia pakai untuk mendekap si jangkung memberi kode sebenarnya bahwa dirinya ingin di gendong menuju kamar dan itu berhasil.
Masih dengan pose membungkuk, Chanyeol kembali berbisik. "Kenapa kau tidak menggunakan celan dalam?" itu kembali mengundang senyum dari si kecilnya di bawah sana.
"Itu karena aku ingin kau langsung menyentuhku saat kau mengendongku." Jawabnya dengan bisikan.
"Kau sudah merencanakannya?" dan anggukan sebagai jawaban. Entah harus berterimakasih pada sosok Yoonoh atau rasa benci itu harus tertanam di dalam lubuk hatinya karena setelah kejadian itu sifat Baekhyun berubah drastis.
Baekhyun menjadi pria yang lebih terbuka. Ia akan mengatakan apa yang ia inginkan, ia akan menceritakan segalanya pada Chanyeol setidak penting apapun cerita itu dan yang terpenting bagi si jangkung ini adalah, kebutuhan sexnya terpenuhi tanpa haus ia meminta karena si kecil ini terkadang memberi sinyal-sinyal untuk minta di sentuh.
"Aku merindukanmu." Rengekan itu yang selalu membuat buku kuduk si jangkung berdiri dan menjadi sumber gairahnya.
"Aku hanya meninggalkanmu untuk pergi sekolah."
"Tapi itu lama."
"Hanya beberapa jam, Baekkie."
"Tetap saja itu lama." Tangan ramping itu mendorong pelan tubuh si jangkung agar menjauh. Manik mereka bertemu dan Chanyeol tidak tahan untuk tersenyum dan membelai surai kekasihnya yang cantik tiada tara itu.
"Besok kau sudah bisa bersekolah, jadi tidak ada kata rindu lagi." Katanya. Baekhyun memejamkan matanya untuk merasakan sentuhan lembut jari besar Chanyeol di wajahnya.
"Tapi tetap saja kita berbeda kelas dan jangan lupa Jieun yang menjadi teman sebangkumu."
"Sudah tidak." Buru-buru Chanyeol menimpali si mungilnya.
"Benarkah?" mata itu menatap tak percaya.
"Ya, aku duduk dengan Sehun sejak kau tinggal dengannya." Jelas si Chanyeol tapi taunya Baekhyun kembali teringat kenangan buruk itu dan membuat senyumnya luntur.
"Maaf." Sesalnya. Chanyeol mengecup pipi kanan kekasihnya dan mengucapkan kata-kata agar si kekasih tidak kembali menyesali hal itu.
"Aku hanya ingin memastikan." Mulai si jangkung. "Apa kau ke apartemen ini saat aku sakit?" Baekhyun membulatkan matanya sebagai respon dan dengan itu Chanyeol tau bahwa bayangan tentang kekasih kecilnya benar-benar nyata. "Kenapa kau tidak jujur saja dan malah berbohong kalau itu Sehun?"
"Aku hanya…. Tapi kenapa kau tau?" ia tidak meneruskan jawabannya dan malah menanyai pertanyaan lain.
"Karena Sehun tidak mengetahui kode pin pintu apartemen kita." Dan dengan itu si kecil merutuki kebodohannya. "Kau tidak mau menjawab pertanyaanku?" ia berbicara tepat di depan bibir ranum yang menjadi candunya. Ia mengecup sekali bibir yang terbuka sedikit itu dan kembali melihat pada manik bening itu.
"Aku…" ia menggantungkan kalimatnya dan menatap manik hitam kelam itu dalam. "Aku masih bingung dengan diriku saat itu. maaf, Yeollie." Ia memutus kontak mata di anatara mereka. Ia menggeleng dan Chanyeol menebak kalau pria kecilnya itu akan menangis jadi sebelum itu terjadi, ia membawa bibir mereka untuk menyatu dan melampiaskan perasaan cintanya pada sang kekasih.
Baekhyun memang selalu kewalahan menangani ciuman dasyat Chanyeol kekasihnya. Pasalnya ia tidak bisa menandingi kekasihnya itu dan ya berujung Chanyeol selalu memimpin. Seperti saat ini, ia hanya mengerakan kepalanya ke kanan dan ke kiri guna memperdalam ciumannya. Menghisap dan mengaitkan kaitan lidahnya dengan si jangkung. Ketika pangutan mereka terhenti, mata sayunya memandang si jangkung yang tersenyum padanya.
"Aku akan merasa sangat berdosa jika melihatmu menangis." Ucapnya dan sebuah kecupan mendarat di bibir yang sudah agak membengkak. "Jadi aku mohon, jangan menangis Baek." Mohonnya dan anggukan menjadi jawaban.
Mereka kembali dengan kegiatan manis mereka. Saling mencium dan memangut daging tak bertulang itu.
.
.
Baekhyun duduk di atas perut kekar Chanyeol, tubuh bagian bawahnya bergerak maju mundur untuk menggesekkan miliknya juga milik kekasihnya bersamaan. Kedua tangannya berpegangan pada sisi tubuh si jangkung yang berbaring di ranjang milik keduanya.
"Terus Baek, oh…" erangan berat milik Chanyeol terus terdengar seraya tubuh bagian selatannya yang di manjakan. Ia mengulurkan tangannya untuk merain tonjolan kecil yang mencuat sedari tadi, memilinnya juga mengusapnya dengan ibu jari tapi si kecil menepisnya.
"Jangan… ehhmm… di..sentuh… Ahh.." ia masih bergerak tapi Chanyeol tidak berhenti samapai di situ. Dari samping, tangannya merambat ke atas tepat pada dua gundukan daging kenyal milik sang kekasih. Meremas,mengelus dan meremas lagi.
Tubuh di atasnya menggeliat karena sentuhan itu dan batang mungilnya menggembung lalu memuntahkan lahar putih hangan di atas dada kekasihnya. Baekhyun ambruk di atas tubuh kekar itu dan menghirup napas dengan rakusnya.
"Kenapa berhenti?"
"Aku… hah..hah..sudah bilang..hah..hah..jangan..disentuh…" nafasnya putus-putus namun tubuh itu kembali bangkit.
Taunya si jangkung menyeringai dan mengelus pinggang sintal sang kekasih. "Tidak tahan dengan sentuhanku?" goda yang lain. Wajah cantik itu mendadak merah sepenuhnya, bagai kepiting rebus yang siap di santap. Melihat itu, terlintas godaan lainnya dari si telinga peri jangkung itu. Tangannya merambat naik melewati pipi pantat Baekhyun dan lalu meraba punggung mulus sang kekasih. Bergerak naik turun seraya berkata, "Masih mau melanjutkannya? Aku ingin lubangmu menghisap penis besarku." makin saja wajah itu memerah.
Entah kenapa, Chanyeol sangat suka menggoda kekasih mungilnya. Dari waktu ia belum menyandang gelar kekasih sampai sekarang, wajah memerah malu kekasihnya menjadi peringkat pertama hal yang paling ia sukai. Dan dengan label kekasih bisa dibanyakan cara apa yang Chanyeol lakukan untuk membuat pipi itu bersemu merah? Seperti saat ini tentunya.
Baekhyun bangkit dari duduknya dan berniat turun dari tubuh kekasihnya tapi dengan cepat Chanyeol mencegahnya.
"Mau ke mana?" tanya yang lebih tinggi. Baekhyun menatap wajah bingung Chanyeol dengan tatapan tidak suka dan memalingkan wajahnya lagi.
"Aku mau mandi." singkatnya tapi tubuh itu kembali di tarik oleh si jangkung.
"Tidak mau melanjutkan permainan? Bahkan kita belum sampai ke inti?"
"Aku tidak mau!"
"Benarkan?" seringayain itu tercipta. Matanya terarah pada bagian selatan mereka. Batang mungil kekasihnya kembali mengeras dan itu rupanya membuat seringayan setan Chanyeol semakin menjadi. Ia kembali menatap Baekhyun masih dengan senyum setannya. "Tapi, penismu berkata lain, Baek." ucapnya tanpa ba bi bu. Pipinya kembali bersemu merah dan ia tak berani menatap sang kekasih di bawah sana.
Chanyeol meraih batang mungil milik Baekhyun, mengusapnya perlahan lalu menggenggamnya. Ia mengocok benda itu naik turun seraya matanya mengintip si kecil yang kembali terangsang. Tubuh itu ambruk tapi sempat ditopang kedua tangannya sendiri, memejamkan matanya dan kembali mendesah.
"Masih berniat menyudahi permainan?"tanya si jangkung dan Baekhyun menggeleng dengan mata terpejam, menikmati sentuhan menggila di bawah sana. "Manjakan milikku dengan lubangmu, Baek." Baekhyun mundur untuk meraih belut raksasa kekasihnya. Mengocoknya sebentar, sebelum mengangkat tubuhnya sedikit lalu mengarahkan batang itu ke depan pintu masuknya. Ia menggesekan kepala jamur itu dengan lubang berkerut miliknya. Mencari sensasi aneh yang selalu membuat tubuhnya menggeliat dan setelah itu memasukan batang keras itu ke dalam lubang surga hangat itu.
"Oh.." "Aahh" desah keduanya merasakan sensasi awal kenikmatan dunia. Baekhyun mulai bergerak, menggesek penis kekasihnya perlahan dan hal itu membuat kekasihnya tersiksa bukan main. Gerakannya maju mundur yang membuat penis itu hanya menggesek kulit luar penis yang lebih besar.
"Bisa kau melompat?" mata itu terbuka saat suara besar Chanyeol terdengar. Ia mengeryit bingung.
"Melompat?"
"Dengan gerakan seperti itu, kau malah menyiksaku, Baek. Jadi melompatlah." intruksi kekasihnya. Si kecil itu mengerti dan ia menekuk kedua kakinya, berjongkok di atas tubuh kekar Chanyeol dan mulai melompat-lompat seperti permintaan si jangkung.
"Ohh… yah… seperti itu Baek…sshh" erangnya ke enakan. Baekhyun terus berusaha agar penis itu keluar masuk dengan mudahnya. Bergerak naik turun membuat kecipak berisik di tengah ruangan.
Desahan keduanya saling bersautan memenuhi seisi ruangan bahkan terdengar hingga ruang santai. Bersyukurlah mereka hanya tinggal berdua karena tidak ada orang lain yang akan mendengrkan desahan merdu si kecil yang hanya milik Chanyeol.
"Aaahh… akuh… lelah…" si kecil bersuara.
"Kemarilah." dan Baekhyun merendahkan tubuhnya untuk memeluk tubuh kekasihnya. Chanyeol segera mencium bibir itu dan melumatnya. Tubuh bagian bawahnya mengambil alih permainan awal si kecil. Bergerak mendorong penisnya untuk menyentuh sesuatu yang kenyal di dalam sana.
.
.
"Aahh….Yeollie… ahh.."desahan itu menggema di setiap sudut ruangan dengan pemandangan kota Seoul di jendela besar di samping ranjang mereka. Chanyeol menusuk dalam dan cepat lebang milik kekassih mungilnya yang terus mendesahkan namanya.
Merancau kata nikmat dan peluh membasahi badan keduanya. Seragam Chanyeol berantakan dan kemeja kebesaran yang digunakan Baekhyun sudah raib entah ke mana. Kegiatan panas membuat mereka melupakan waktu juga cuaca yang mulai menurunkan hujan.
"Kau selalu membuatku gila, Baekkie." Chanyeol berbisik pada si kecil yang sama sekali tidak mendengar suara sang kekasih karena rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuh.
Chanyeol menarik tubuh kecil itu untuk duduk di pangkuannya, melingkarkan tangan kekasihnya pada leher dan tangannya menopang kedua kaki sang kekasih untuk melompat lebih tinggi di pangkuannya.
"Chanyeol,, akuhh… aaaahhh…. "kata-kata itu mengantung seraya cairan kental itu keluar desar dari saluran kecil di kepala penisnya. Ini untuk kesekian kalinya Baekhyun orgasme sedangkan si rasasa itu belum mendapatkannya.
Tubuh besar it uterus mengenjot penisnya pada lubang milik kekasihnya sampai pada tusukan ke enam ia mendapatkan orgasme pertamanya. ia mengahiri kegiatan panas itu karena sang kekasih yang kelelahan juga karena besok adalah hari pertamanya si kecil ini masuk sekolah setelah sekian lama absen. Jadi ia membiarkan tubuh itu berbaring di ranjang juga dengan dia yang memeluk tubuh lemas itu dari samping.
…
Chanyeol benar-benar frustasi setelah menerima telepon dari sang ayah. Kenapa harus dirinya dan kenapa harus Jieun yang menjadi wanita pilihan ayahnya? Ia benar-benar habis akal untung menghindari pertemuan ini.
Baekhyun yang memandang bingung kekasihnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa?" awalnya si jangkung ini engan bercerita, tapi kejadian tempo hari membuatnya urung.
Ia menempati sofa di sebelah si mungil, melingkarkan kedua tangannya di pinggang sintal kekaaihnya dan menghirup aroma sampo dari rambut Baekhyun. Ini menjadi aroma terapi yang menenangkan jiwanya sebelum bercerita.
"Ayahku memaksaku mendatangi sebuah pertemuan."mulainya.
"Pertemun apa?"
"Pertunanganku dan Jieun." seketika tubuh di depan si jangkung menegang. Menyadari itu, Chanyeol membalik tubuh yang lebih kecil di hadapannya. Menangkup wajah si cantik dan mempertemukan manik keduanya.
"Aku akan menolaknya." seolah tau apa yang pria kecil itu pikirkan. Baekhyun tersenyum dan mengelus belah pipi kekasihnya.
"Aku percaya kau akan melakukannya." Si kecil ingin mengerti kondisi ini. "Tapi kalau memang tidak bisa, jangan-"
"Tidak! Aku pastikan kalau pertunangan itu akan dibatalkan." Jawab cepat si jangkung. Baekhyun tersenyum dan mengangguk-anggukan kepalanya lalu kembali mengelus sayang kekasihnya itu. ia hanya berharap kekasihnya tidak bermaslah dengan kedua orang tuanya atau sampai bermusuhan.
…
Setibanya si jangkung di kediaman Park, ia disambut para pelayan yang membimbingnya pada sebuah ruangan yang dulunya adalah kamar terdahulunya. Suasananya masih sama seperti terakhir ia meninggalkan tempat itu.
Di atas ranjang sudah tersedia setelan jas lengkap dengan kemeja celana hitam juga dasi. Sepatu hitam kulit juga di sediakan dan di letakan di atas meja belajar si jangkung. Sang ayah tidak main-main dengan pertemuan ini tapi tekatnya sudah bulat untuk membatalkan pertunangan.
.
.
Tidak butuh lama untuk menata penampilannya karena ia bukan actor yang harus di poles sedemikan rupa untuk tampil tampan di pertemuan itu.
Kakinya ia bawah melangkah menuruni anak tangga kediaman Park. Kedua orang tuanya sudah siap di ruang santai dengan penampilan mewah juga gaun sang ibu yang bisa ditapsir bernilai lebih dari jutaan won harganya.
"Sudah siap?" tanya sang ibu merapihkan dasi kupu-kupu yang sedikit miring sang anak. Chanyeol hanya bergumam untuk menjawab pertanyaan si ibu. Ia hanya tidak suka dengan situasi ini. Lalu kemudian mereka berangkat menuju kediaman Lee.
Sudah bukan pemandangan yang asing bagi Chanyeol berada di kediaman Lee. Ia sudah dua kali mendatangi tempat ini, yang pertama saat Jieun membohonginya tentang Baekhyun yang ikut pertanya dan kedua saat si kekasih kecilnya di culik dan nyaris di setubuhi si bedebah Changsung. Dan kali ini ia kembali ke tempat ini untuk menghadiri pertemuan kedua keluarga dalam hal pertunangan. Tidak, tepatnya membatalkan pertunangan.
"Selamat datang tuan Park." Sambut si tuan umah dengan rama. Ia mengulurkan tangan lalu memeluk juga menepuk belakang tubuh calon besannya. Lalu pandangannya bergulir pada sosok jangkung tampan yang berdiri di belakangnya.
"Senang akhirnya kau datang dalam perkenalan keluarga ini, Chanyeol." Katanya menjabat tangan yang lebih muda. Jieun tersenyum senang atas kedatangan si jangkung. Wajahnya merona ketika calon dari tunanganya berpenampilan rapid an makin tampan dengan setelan jas hilam juga dasi kupu-kupu. Pada kenyataannya si jangkung ini tidak menyukai penamplannya.
"Maaf atass ketidak sopananku untuk tidak hadir di perkenalan keluarga beberapa minggu lalu." Sesalnya penuh dusta.
Tidak menanggapi terlalu serius, si empunya rumah membawa mereka keruang pertemuan keluarga yang megah dengan penataan bunga-bunga indah di beberapa tempat.
"Senang kau datang, Chanyeol." Itu Jieun dengan senyum malu-malu khas anak gadis yang sedang jatuh cinta. Chanyeol bergidik ngeri melihat pemandangan itu. Rasa ngeri dan takut ketika sosok itu yang nyatanya adalah calon tunangannya bersikap so manis padahal kenyataannya ia memiliki hati yang busuk melebihi kotoran busuk di pembuangan akhir.
Jaga jarak adalah hal yang ia lakukan demi menjauhi si cantik jelita berhati busuk ini. Ia tidak mau kalau tubuhnya terkontaminasi aroma tubuh Jieun karena bisa di prediksi ia harus membersihkan diri dengan kembang tujuh rupa dan memeluk tubuh Baekhyun adalah penyelamatnya.
.
.
Chanyeol tidak berani menatap kedepat karena Jieun terus memandang ke arahnya dengan tatapan menjijikan. Fokusnya terarah pada si empunya rumah yang sedang asik bercengkrama dengan ayahnya. Perbincangan dua orang atasan.
"Dengan pertunangan ini, saya harap kita akan bekerja sama dengan baik." Itu tuan Lee yang meneguk minuman di tangannya.
"Ya dan perusahaan kita akan menjadi yang terbaik di Asia." Sautan yang lain dan tawa menjadi latar suasana yang empat orang lain di rungan itu tidak mengerti.
"Bagaimana Chanyeol di sekolah?" nyonya Park membuka pembicaraan. Jieun tersneyum manis dan tatapannya terarah pada jemari-jemari tangannya yang bermain satu sama lain.
"Chanyeol anak yang pintar juga baik." Jawabnya.
"Lalu bagaimana dengan Jieun di sekolah?" dan nyonya Lee mengikuti jejak wanita paruh baya yang lain. Chanyeol tersentak kaget karena ia benar-benar tidak mendengarkan. Bayangannya melayang ke si kecil yang entah sedang apa sekarang.
"Dia baik." Singkat padat dan jelas. Hal itu membuat tikungan di dahi nyonya Lee.
"Hanya itu?"
"Ya." Sekali lagi jawaban singkat si jangkung membuat dua orang kepala keluarga di sana memperhatikan mereka.
"Mungkin Chanyeol hanya malu menjelaskannya." Tuan Park menimpali. Chanyeol yang merasa sang ayah so tau tentang urusannya membuka mulutnya untuk meluruskan.
"Aku bukan malu. Hanya saja aku tidak terlalu tertarik." Ucapnya. Orang tertua dari keluar Park itu mengepalkan tangannya erat. Ia menahan semua amarahnya di sana.
"P-pria popular seperti Chanyeol memang tidak akan tertarik padaku yang hanya murid biasa bu." Gadis belia itu menahan malu sebenarnya karena ucapan si jangkung yang berniat membeberkan kejelekannya. Ia hanya tidak mau di permalukan di depan keluarganya.
"Ya selain itu aku juga tidak tertarik atas sikap-"
"Sebaiknya kita makan dulu, sepertinya hidangan sudah siap." Potong Jieun. Chanyeol cukup bersabar tapi dengan ini ia memutuskan mempercepat niatnya untuk menyampaikan niatnya datang ke mari.
Ia berdiri membuat tubuhnya menjulang di sana, memperbaiki jasnya dengan mengaitkan kancing teratas jasnya. Ia memperbaiki juga letak kancing di lengan bajunya sebelum akhirnya mengucapkan sebuah kata, "Sepertinya aku tidak bisa melanjutkan sandiwaraku." Mulainya. "Aku dengan tegas menolak pertunangan ini. Terima kasih atas sambutannya, aku pamit. Permisi." Dan tanpa memandang sang ayah, ia melangkah pergi.
.
.
Ia kembali dengan setelan baju santai yang sebelumnya ia kenakan. Melangkah mantap menuju mobilnya yang terparkir apik di halaman kediaman Park. Membuka pintu monilnya namun sebuah teriakan membuat niatnya terhenti.
"Lancang sekali kau berkata seperti itu di perteuan penting tadi." Nada tinggi yang melengking itu milik sang pengusaha kaya bermarga Park yang sayangnya adalah ayahnya.
Chanyeol menutup kembali pintu itu dan membalik tubuhnya menghadap sang kepala keluarga.
"Ayah sendiri yang menawarkan pertunangan itu padaku dan apa salah aku menolaknya?" ucap sang anak namun tamparan menghantam pipi itu membuat wajahnya menoleh ke samping.
"Aku tidak pernah mengajarkanmu untuk berbuat tidak sopan pada rekan kerja ayah." Geram dan sebuah penekanan di setiap kalimatnya menandakan bahwa pria itu benar-benar marah.
Anak satu-satunya itu belum bergeming, ia masih menatap tanah di bawah sana. Ini adalah pertama kalinya sang ayah menampar mulai terasa dan rasa sakit itu tidak akan pernah ia lupakan untuk selamanya.
"Dulu aku begitu mengagumimu."ia masih pada posisi awalnya. "Mengagumi betapa hebatnya kau sebagai ayah. Namun harta dan jabatan membutakan matamu dan menelantarkan keluarga." Ia menatap tajam pada sosok sang ayah yang menatapnya sama tajamnya. Si ayah hanya dia mengepalkan tangan menahan segala amarah yang dapat kapan saja meluar dan meledak.
.
.
Terhitung 24 jam setelah pamitnya Chanyeol untuk menghadiri pertemuan di kediaman Lee dan si jangkung bertelinga peri itu tak kunjung tampak dari balik pintu masuk.
Berpuluh-puluh pesan ia kirimkan juga berkali-kali ia menghubungi Chanyeol tapi hasilnya nihil. Sooyoung bahkan tidak tau kalau hari ini ada pertemuan sepenting itu.
"Mungkin dia hanya akan menginap semalam dan besok pulang, Baek." si cantik itu berusaha menenangkan si pria kecil itu.
Baekhyun menatap jam di layar ponselnya, sudah jam dua dini hari dan rasa kawarirnya semakin menjadi-jadi. Ia hanya takut kalau selain pertunangan itu berjalan dengan lancar, Chanyeol memilih tinggal di kediaman Park yang tak lain adalah rumahnya sendiri. Lalu dirinya bagaimana?
…
Paginya Baekhyun mengecek kehadiran si jangkung di kelasnya. Ia hanya melihat Sehun yang duduk di bangkunya juga Jieun yang sedang bersendagurau dengan temannya entah siapa. Tidak ada sosok Chanyeol di sana dan itu membuat dirinya kembali kecewa.
Di jam istirahat, Sooyoung menemani pria mungil yang sebenarnya lebih tinggi darinya itu. menemani kemanapun pri itu inginkan, perpustakaan, antin dan berakhir di atap sekolah.
"Mungkin Chanyeol hanya-"
"Apa ia tidak mengginkanku lagi?" ucap si kecil menyela gadis itu. Sooyong membulatkan matanya. Kenapa temannya itu sampai berpikiran seperti itu pada sepupunya yang memang tidak ada kabar itu.
"Kenapa kau berpikiran seperti itu?" ia menatap wajah sedih sang sahabat. "Dengan Chanyeol tidak pulang dan tidak memberi kabar padamu, bukan berate dia tidak menginginkanmu lagi. Ini mungkin ada sedikit masalah di keluarganya yang mengharuskan ia menginap."
"Tapi sampai kapan?" air mata mulai mengenang di matanya.
"Entah. Tapi sepulang sekolah aku akan mampir ke kediaman Park untuk memastikan dia baik-baik saja.
"Aku ikut."
"Tidak. Karena ada sesuatu yang ku curigai. Jadi setelah aku mengetahu dia baik-baik saja, aku akan mengabarimu. Ok?" dan angukan menjadi jawaban.
.
.
Seperti janjinya pada Baekhyun, Sooyoung meminta supir pribadinya mengantarkannya ke kediaman Park.
Gerbang mrgah lang menyambut mobilnya dan beberapa penjaga di sana membukakan gerbang itu lalu memberi hormat.
Halaman yang luas membuat mobil itu membutuhkan waktu untuk sampai pada pintu masuk sebuah bangunan besar di sana. Bangunan bak istana berdiri kokoh denan pilar-pilar khas bangunan Eropa pertengahan.
Sooyoung memasuki ruangan utama dan seorang wanita paruh baya langsung menghampirinya untuk sekedar memberi hormat.
"Selamat datang nona." Sapa wanita bermarga Han itu sopan. Sooyoung memberi horat juga dan membalas sapaan itu dengan senyuman.
"Chanyeol ada di rumah?"
"Tuan muda ada di kamarnya. Tapi siapapun di larang mengunjunginya untuk sementara waktu." Sebuah tikungan tercipta di dahi mulus gadis itu. ia tidak mengerti kenapa harus melarang orang lain untuk mengunjungi Chanyeol?
"Apa itu perintah langsung dari Chanyeol?" ia bertanya lagi tapi si wanita tua yang menjabat pelayan utama kediaman Park menggeleng.
"Ini perintah langsung dari tuan besar." Pati ada apa-apanya. Setelah mendapatkan informasi dari sumber terpercaya, Sooyoung meninggalkan kediaman megah itu dan mengirimi Baekhyun sebuah pesan singkat
Sooyoung-
Ada yang aneh dengan semua ini. Tapi jangan panik dulu Baek, aku akan menyeldikinya lebih lanjut dan mengabarimu secepatnya.
...
BRAK
BRAK
BRAK
Gebrakan keras pintu dari lantai tiga sebuah bangunan megah di kota Seoul terdengar nyaring. Seorang pria bergerak kesetanan mengebrak-gebrak pintu juga berteriak untuk siapa saja membukakan pinti itu. ia sudah terkurung dua hari, terhitung dari saat ia berpammitan pada kekasih kecilnya.
"BUKA PINTUNYA KEPARAT!" teriakan itu tak henti-hentinya terdengar. Chanyeol si pemilik suara bas itu akan diam kalau ia lelah dan kembali berteriak juga mendobrak pintu ketika tenaganya kembali. Ia di kurung oleh sang ayah dengan bantuan para penjaga di sana setelah pembicaraannya di halaman rumah.
Sang ayah yang marah dan merasa terhina atas menolakan pertunangan yang ia lakukan membuat kepala rumah tangga itu mengurung sang anak.
Chanyeol tidak bisa menghubungi siapapun karena ponselnya berada di mobil kala itu. sedangkan mobil mewahnya masih terparkir apik di halaman luas kediaman Park, rumahnya sendiri.
Sang ibu sebenarnya tidak setuju dengan keputusan sang ayah yang mengurung anak sau-satunya itu. bagaimanapun ia seorang ibu yang memiliki hati nurani dan ikatan kuat dengan sang anak. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan penyimpangan sex sang anak. Mau ia menyukai wanita atau laki-laki, Chanyeol tetap anaknya yang ia sayang. Maka sang ibu dengan rutin mengunjungi sang anak walau pengawalan ketat di depan pintu kamarnya menjadi syaraat telak yang tidak bisa di ganggu gugat.
"Chanyeol tenang lah." Ucap sang ibu dengan nada sayangnya. Petugas yang berjaga membukakan kunci pintu itu dan mempersilahkan nyonya Park untuk masuk dengan sebuah nampan berisi makanan kesukaan sang anak.
"Berhenti membangkakng nak. Ayahmu akan semakin menjadi kalau kau terus menolak perjodohan itu." nasehat sang ibu. Chanyeol melempar tubuhnya di atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya yang tinggi.
"Ibu hanya tidak tau perasaanku."
"Aku tau. Kau begitu mencintai Baekhyun. Tapi apa salahnya kau mencoba untuk mendekati Jieun juga? Dia anak yang baik juga manis, ibu yakin-"
"Jieun itu ular berbisa. Dia gadis bermuka dua bu." Yang lebih muda menyela perkataan sang ibu.
"Kenapa kau berpikir seperti itu?" sang ibu meminta penjelasan. Chanyeol bangkit dan menatap sang ibu. Ia tidak mau menjelekan sang gadis yang nyatanya bukan menjelekan tapi membeberkan hal yang sebenarnya.
"Jieun pernah menyakiti Baekhyun hanya karena pria yang ia suka menyukai Baekhyun bukan dirinya. Dia gadis yang egois dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Seperti sekarang ini." sang ibu masih mendengarkan sang anak bercerita dengan setia. Penjelasannya itu berbeda jauh dengan kenyataan yang ia lihat selama ini.
Menurut nyonya Park, Jieun sosok yang baik dan mudah bergaul. Bukan berate dengan itu ia tidak mempercayain sang anak. Hanya saja ia asih sedikit ragu.
Menyadari keraguan si ibu, Chanyeol kembali bersuara, "Ibu tau aku tidak bisa berbohong pada ibu. Ibu akan selalu tau kalau aku berbohong, maka dari itu, bujuk ayah bu. Aku tidak mau ayah tertipu oleh perusahaan yang hanya memanfaatkan kekayaan ayah. Ya setidaknya anggaplah seperti itu."
"Ibu mempercayaimu nak. Sekarang makan dan berhenti membuat kegaduhan. Ibu akan berusaha membujuk ayahmu dalam hal ini." senyum Chanyeol terkembang. Ia meraih tangan sang ibu dan menggenggamnya.
"Terima kasih bu." Dan nampan di atara mereka Chanyeol ambil dan meakan apa yang di sediakan sang ibu.
…
Sudah empat hari dan Chanyeol belum menampakan batang hidungnya di sekolah. Sooyoung berpesan untuk tidak terlalu kawatir karena kemarin saat si gadis itu kembali mendatangi rumah Chanyeol, ia masih mendengar teriakan nyaring dari si jangkung raksasa itu. walau memang aga memprihatinkan kedengarannya.
"Aku ikut Sooyoung." Pinta Baekhyun ketika si cantik itu akan kembali mendatangi rumah si jangkung.
"Tidak. Ini massih belum waktunya. Aku takut kalau paman Park tau kau datang untuk mengunjunginya. Kita harus menyusun rencana." Ujar si cantik. "Aku hanya akan melihat situasi dan mencari tau kapan saja paman berada di rumah.
"Tapi aku merindukannya."nada sedih terdengar menyakitkan pada siapa saja yang mendengarkannya.
"Aku tau, Baek. Tapi kau harus bersabar. Aku akan mengabarimu secepatnya." Lalu si cantik itu bangkit dan meninggalkan Baekhyun yang masih memandang punggungnya yang menjauh.
…
Kodisi Chanyeol semakin memburu ketika dirinya diketahui kabur dan pengamanan diperketat oleh sang ayah.
Semenjak itu ia mogok makan hingga akhirnya sekarang ia terbaring lemah di janjang kamarnya. Selang infus menjadi pasokan makanan satu-satunya karena ia masih juga menolak makan. Ia lebih memilih menderita dari pada harus menerima peertunangan itu.
Jieun berkali-kali datang menjenguk tapi Chanyeol akan murka dan akhirnya nyonya Park melarang si cantik Jieun datang.
Sooyoung jelas menghawatirkan kondisi sepupunya itu juga Baekhyun yang berulang kali membujuk si cantik itu untuk mengantarnya ke kediaman Park bertemu sang kekasih.
Baekhyun meminta bantuan Luhan untuk mendandaninya juga menggunakan seragam Sooyoung yang syukurnya begitu pas dengan badan Baekhyun. Penyamaran siap dan mereka berangkat menuju kediaman Park.
.
.
"Tuan besar melarang-"
"Dia ini adalah ketua kelasnya." Potong Sooyoung. "Wali kelasnya menyuruh untuk mewakili kelas menjenguknya juga memberikan apa yang buru ttipkan." Jelas si cantik. Jelas ia berbohong karena gadis di sampingnya adalah Baekhyun yang menyamar dan kenyataannya ia berbeda kelas dengan si jangkung.
Seketika itu si penjaga mempersilahkan mereka masuk. Pintu kembali di tutup setelah dua gadis yang salah satunya adalah Baekhyun itu masuk.
Chanyeol sedang tidur ketika itu dan Baekhyung langsung berjalan mendekat. Ia mengenggam tangan Chanyeol yang terdapat jarum infus itu.
Hatinya sakit ketika melihat tubuh itu terbaring. Ia menangis dan bersimpuh di samping ranjang itu. membawa tangan itu untuk mengelus pipinya, matanya memandang sedih dengan air mata membasahinya.
"Yeollie." Panggilnya dan Chanyeol belum merespon. "Ini aku, Baekhyun." Lanjutnya. Si jangkung itu mengeryitkan hadinya dan mata itu perlahan terbuka.
"Baek." Pangil suara lirih si jangkung. Baekhyun tersenyum walau air mata masih mengalir.
"Iya, ini aku."
"Aku merindukanmu." Tangannya yang lain terjulur untuk mengelus pipi basah sang kekasih. Baekhyun memejamkan mata saat tangan lemah itu mengelus permukaan kulitnya.
"Aku juga." Jawab yang lain. Sooyoung yang melihat itu meneteskan air mata tanpa ia sadari. Kenapa begitu berat kisa cinta teman juga sepupunya itu? kenapa mereka harus merasakan sakit seperti ini. terpisah karena mereka berbeda.
Gadis itu berharap sebuah mujizat untuk kedua orang yang ia sayangi itu.
…
"Buka mulutmu!"Baekhyun menyodorkan sendok bubur untuk kekasihnya.
"Aku sudah kenyang, Baek."
"Ini belum habis, Yeol. Ayo makan!"
Baekhyun jadi rutin datang ke kediaman Park dengan penyaarannya sebagai wakil ketua kelas. Ia menyamar sebagai Taeyeon, teman satu sekolahnya yang berada di kelas lain.
Ini demi bisa bertemu sang kekasih dan merawat Chanyeol yang akhirnya mau memakan makanannya. Tapi tetap pria jangkung itu enggan makan di pagi hari karena bukan Baekhyun yang menyuapinya.
"Akhirnya kau habiskan buburmu juga." Baekhyun menaruh mangkuk buburnya di atas nakas lalu menyodorkan minum pada pasien raksasanya.
"Besok kau datang lagi kan?" ia menerma gelas itu. meneguk cairan bening itu sambil menunggu kekasihnya menjawab.
"Aku belum tau, Yeol. Ini saja aku masih gemetaran menghadapi para penjaga yang ada di depan kamarmu." Chanyeol tertawa karena memang benar tangan kekasihnya masih bergetar karena itu.
"Kalau takut, kau bisa ajak Sooyoung ke sini."
"Ti-tidak mau." Taunya si cantik menundukan wajahnya. Chanyeol yang tau apa maksudnya kembali tertawa dan mengangkat wajah si kecil dengan jari telunjuknya.
"Kau mau berduaan saja dengan ku?" taunya pipi itu bersemu kemerahan. Chanyeol tidak kuat hanya melihat wajah menggemaskan itu maka ia mendaratkan sebuah ciuman.
Mereka saling melepas rindu mereka. Ciuman mereka teramat pelan dan tidak menuntut, saling mengecap rasa manis di bibir masing-masing.
Taunya kegiatan manis mereka tertangkap mata seseorang yang tidak di udang di balik pintu sana.
…
Pertanyaan pertama Sooyoung adalah, "Apa yang kau lakukan kemarin bersama Chanyeol?"
Baekhyun yang mendengar pertanyaan sepupu dari kekasihnya itu langsung bersemu merah. Itu menimbulkan kecurigaan dari si cantik Sooyoung.
"Eihh, kalian mesum."
"Ki-kita tidak melakukan yang aneh-aneh." Ia memainkan jarinya. "Kita hanya berciuman."
"Pantas saja kemarin kau tidak mau aku antar. Ternyata, ck"
"Ma-maaf."
"Apa hari ini kau akan meneuinya juga?"
"Sepertinya iya. Chanyeol memaksaku." Senyum itu mengembang dengan sangan manis.
"Mungkin mereka sudah tertipu sepenuhnya. Lagian hari ini paman Park belum pulang dari Hongkong, jadi kau bisa dengan leluasa pergi ke sana." Terang si cantik. Baekhyun hanya mengangguk-angguk dan membereskan buku-buku yang ada di tasnya.
.
.
Berbekal baju seragam Sooyoung, Baekhyun mengganti bajunya di rumah Sooyoung dan berangkat dengan supir pribadi sepupu kekasihnya itu.
Pertemuannya sama seperti kemarin-kemarin. Menyenangkan dan sang kekasih kondisinya semakin membaik.
Pertemuan mereka tidak lebih dari empat jam sehari. Karena Chanyeol akan segera mmenyuruhnya pulang karena ia tidak ingin kalau kekasihnya pulang terlalu malam walau rasa rindu terkadang membuat egonya ingin si kecil lebih lama lagi.
Saat Baekhyun berjalan santai menuju lantai bawah, ia di hadang seorang gadis yang siapa lagi kalau bukan Jieun. Ia melihat meneliti dari ujung kaki sampai ujung kepala si kecil. Matanya berhenti di wajah tegang si kecil, Baekhyun nyaris mati gugup saat itu.
"Sepertinya aku mengenalmu." Gadis itu melangkah mendekat, ia memutari Baekhyun dengan tangan berada di belakang punggungnya.
"Je-jelas kau mengenalku. Aku Taeyeon." Gugupnya. Ia membuat nada suaranya solah-olah dia seorang gadis. Tipe suaranya sangan membantu. Terima kasih pada Tuhan yang membantunya dengan menganugrahkannya suara indah yang selalu membuat Chanyeol bergairah. Tapi bukan itu maksudnya.
"Kim Taeyeon?" tanyanya memastikan.
"Y-ya."
"Kenapa kau ada di sini?"
"A-aku membantu So-Sooyoung."
"Sooyoung yah. Apa kalian berteman baik?" baekhyun terus berdoa aga Jieun tidak menyadari penyamarannya. Ia akan mati tegang kalau itu sampai terjadi.
"Kami satu club di sekolah." Baekhyun kehabisan ide, 'Tuhan tolong ia sekali lagi' mohonnya.
Jieun kembali berjalan dan berdiri tepat di hadapan Baekhyun yang menunduk agar gadis itu tidak dapat melihat wajahnya. Saat gadis itu mendekatkan wajahnya, ponsel Baekhyun bordering dan Tuhan memberkatinya. Sooyoung menghubunginya tepat saat detik-detik si gadis itu akan melihat wajahnya. Setidaknya ia selamat untuk saat ini.
"H-hallo Sooyoung." Sapanya. "Apa? Oh baiklah." Sambungan terputus. "Aku harus pergi, Sooyoung ingin aku membantunya." Memberi hormat dan berjalan kea rah tangga untuk pergi menjauh dari gadis iblis itu.
.
.
Jieun sangat yakin kalau gadis itu adalah Baekhyun karena ya dia pernah melihat gadis itu berciuman di kamar tunangannya.
Jari-jari lentik itu meraih kenop pintu, menariknya kebawah dan mendorong perlahan pintu itu. Chanyeol sedang memejamkan matanya setelah meminum obatnya. Pengaruh obat tidur itu sudah bereaksi dan membuat kesadarannya menghilang.
Pertemuan sebelumnya dengan lelaki itu berjalan kacau. Chanyeol mengamuk karena ia tidak ingin melihat wajah Jieun dan ibu Park melarangnya untuk datang menemui chanyeol samai kondisinya membaik.
Tapi jieun tidak tahan untuk tidak melihat Chanyeol tunangannya maka beberapa hari yang lain ia mendatangi tempat ini dan melihatnya berciuman dengan seorang gadis. Taunya itu adalah Baekhyun, ini masih kecurigaannya.
Lengannya terjulur untuk mengelus wajah damai lelaki itu setelah itu ia mendekati wajah itu dan mengecup bibir tebal Chanyeol lalu berkata, "Aku akan tetap menyukaimu, Chanyeol."
…
Besoknya masih seperti biasa, Baekhyun datang membawa makanan kesuakaan Chanyeol kekasihnya. Ia mulai terbiasa datang tanpa pengawalan Sooyoung dan para pengawal tidak ada yang curiga akan penyamarannya.
Saat itu ia lupa kalau jadwal dari ayah sang kekasih di beberapa hari hanya mengus laporan yang bisa diakses dari kedamannya. Jadi dengan kata lain sang ayah sedang berada di kediamannya saat ini.
Baekhyun melangkah dengan perasaan girang karena pertemuannya dengan Chanyeol tanpa masalah saat ini. ia menuruni anak tangga menuju ruang santai di lantai satu dan saat kakinya akan melangkah keluar pintu, seseorang dengan suara beratnya mengalihkan perhatian si kecil.
"Kau Kim Taeyeon?" tanya suara itu mengagetjan si kecil. Baekhyun yang menyamar menjadi teman satu sekolahnya itu membalik tubuhnya mengjadap sumber suara. Tuan Park berdiri jauh di belakangnya dengan kedua tangan berada di sisi kanan kiri saku celana kainnya.
Pria paruh baya itu melangkah mendekati si kecil yang mulai tegang dengan bulir keringat yang menetes di pelipis kirinya.
"Kau belum memnjawab pertanyaanku." Ia mengingatkan si kecil itu.
"Y-ya, aku Kim Taeyeon." Jawabnya gugup. Ujung-ujung jarinya menjadi dingin, lututnya nyaris menjai jeli karena rasa takut mulai menyelubungi dirinya saat ini. Ia takut kalau penyamarannya terbongkar dan akan berdampak buruk bagi Chanyeolnya. Tidak masalah kalau ia yang akan menerima tamparan atau rasa sakit yang lain. Tapi kalau Chanyeol, ia berdoa semoga tidak.
Pria itu berhenti satu meter di hadapannya. Menatap penmpilannya dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Tubuhnya yang kecil meyakinkannya kalau sosok di hadpannya adalah seorang gadis. Ia juga tidak menggunakan make up yang berlebihan tapi tetap saja mata elang itu tidak bisa di tipu begitu saja. suara yang dibuat-buat itu terasa janggal di telinganya.
"Kau teman baik anakku di sekolah?" tanyanya lagi. Remaja itu menelan ludahnya kasar berusaha menenggelamkan rasa gugupnya dan menjawab pertanyaan jaksa besar di hadapannya.
"A-aku wakil ketua kelas di kelas Chanyeol, paman."
"Lalu ada urusan apa kau menemui anakku sesering ini? Nyaris tiap hari kau mendatanginya, apa ada hubungan khusus antara kau dan anakku?" otak Baekhyun bekerja ekstra untuk mengarang cerita. Ia bukan pebohong yang baik dulu saja ia ketahuan ibunya memecahkan pot kesayangannya dan kali ini ia pasti mati di tangan pria tua itu.
"Ka-karena," belum selesai pembelaannya, Jieun muncul dan menjambak rambut palsu Baekhyun.
"Lihat, apa kataku. Dia itu Byun Baekhyun yang menyamar." Lelaki remaja itu menjatuhkan tas yang ia genggam sebelumnya itu. Matanya membola dan rasa takut itu makin menyelubungi dirinya.
Jieun menyeret tubuh itu menuju gerbang kedaman Park dan mendorongnya sampai jatuh tersungkur di aspal. Baekhyun meringis merasakan sakit di kakinya yang bergesekan dengan aspal kasar itu. Darah mengotori kaos kaki putihnya yang tinggi sebetis itu.
Kebiasaan Chanyeol tiap kali kekasih kecilnya pulang adalah memperhatikan Baekhyun dari jendela besar kamarnya hingga si kecilnya itu melewati gerbang besar kediamannya. Namun pemandangan lain saat itu adalah Jieun yang menyeretnya dengan tidak berprikemanusiaan lalu mendorongnya hingga jatuh tersungkur.
Ia tidak bisa hanya melihat seperti itu. Kekasihnya diperlakukan seperti binatang di depan matanya. Ia menggebrak-gebrak pintu dengan kasarnya seperti pada awal ia di kurung di kamar itu. Mendobrak dan menendang pintu kokoh di hadapannya.
"BUKA SIALAN!" teriaknya seraya mendobrak pintu itu.
Karena kejadian di luar sana, semua penjaga tidak berada di depan kamar Chanyeol. Dobrakan kedua pintu itu terbuka dengan ajaibnya, seolah mengizinkan dirinya untuk menolong sang kekasih yang sedang tersiksa di luar sana. Ia berlari ke arah tangga dengan kecepatan penuh dan dalam beberapa menit tiba di halaman luar kediaman Park.
Ia masih berlari menyebrangi halaman luas itu dan menyaksikan Jieun yang menjambak, memukul dan berakhir dengan mendorong sang kekasih hingga tengah jalan.
Baekhyun yang hanya bisa menangkis semua serangan Jieun berusaha menghentikan gadis itu. Walau ia sempat terjatuh, ia kemudian bangkit namun Jieun belum puas dengan serangannya. Ia kembali menarik tubuh Baekhyun, memukulnya juga menampar wajah sang mantan sahabat.
Perkelahian itu tidak terelakan dan karena sebuah dorongan dari Baekhyun, Jieun terjatuh ke tengah jalan. Saat itu memang jalanan sepi tapi siapa yang tau dari arah sebelah kiri muncul sebuah mobil dengan kecepatan yang gila mendekat kea rah gadis yang masih tersungkur di jalanan aspal itu.
Baekhyun berherak cepat, ia menarik tubuh Jieun dan mendorongnya ke sisi lain jalanan tapi sayang, tubuhnya terpental karena hantaman mobil itu.
"BAEKHYUN!" terak Chanyeol histeris.
Darah segar mengalir memasahi jalan. Tubuh kakunya tergeletak walau matanya bisa menyaksikan sang kekasih berlari ke arahnya. Memeluk tubuh itu dan terus menangis memanggil-mangil namanya. Namun sedetik kemudian semua gelap dan ia tidak lagi mendengar teriakan Chanyeol dan orang-orang.
"INI YANG KALIAN INGINKAN?!" teriakan itu kembali menggema. Tuan Park yang hanya diam menatapi anaknya memeluk sang kekasih yang terluka parah, sedikit tersentak karena terakan itu.
"Dia masih menolongmu walau kau memukulnya bertubi-tubi." Matanya menatap tajam dengan air mata yang membasahi pipinya. "Dia melarangku menyakatimu walau kau terus membuatnya menangis karena perbuatanmu. Dia masih menyayangimu atas semua kejahatanmu itu karena BAEKHYUN MASIH MENGANGGAPMU SAHABATNYA. Dan ini yang kau berikan untuknya?"
Hati semua orang terasa perih mendengar teriakan sakit dari Chanyeol yang selama ini mereka tau adalah sosok yang perang. Seceria apapun irang itu, pasti memiliki masa kelam dan sebuah titik di mana ia tertian. Dan begitulah Chanyeol.
"Aku hanya ingin bersamanya. Apa itu sulit bagi kalian?" ia memeluk erat tubuh kekasihnya. Si penabrak yang tidak tau apa permasalahan orang-orang di hadapannya terus menghubungi ambulan. Ia merasa bersalah karena perbuatannya seseorang terluka.
.
.
Semala di rumah sakit, Chanyeol tidak berhenti mondar mandir di depan ruang oprasi. Panggilan sepupunya tidak ia gubris dan sang ayah yang sedari tadi terdiam hanya menatap sang anak dengan ekspresi tidak terbaca.
"Chanyeol duduk lah." Itu Sooyoung yang sedari tadi memanggil Chanyeol namun pria jangkunng itu terus mondar mandir.
"Chanyeol, ikut aku! Kita harus bicara." Dan barulah langkahnya berhenti ketika sang ayah berbicara untuk pertama kalinya setelah kejadian itu.
Tak jauh dari ruang oprasi kedua pria Park itu saling diam berdiri. Sudah lima menit tidak ada perbincangan serius dan orang yang katanya ingin bcara juga tidak teredengar mengeluarkan suaranya.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" dingin suara Chanyeol menyadarkan lamunan sang kepala rumah tangga itu.
"Aku akan merestui kalian." akhirnya ia bersuara. Chanyeol mendongakan wajahnya menatap tak percaya pada sang ayah.
Ia hanya tidak percaya kalau sang ayah merestui hubungannya. Apa harus dengan sesuatu menimpa kekasihnya barulah sang ayah terketuk hatinya? Atau memang ada seorang malaikat yang kebetulan melintas dan memberikan keajaiban pada dirinya.
"Tapi dengan sebuah syarat." belum sempat ia bersuara, sang ayah melanjutkan kalimatnya. "Lanjutkan pendidikanmu di New York setelah itu kau bebas melakukan yang kau mau." ucapnya lagi.
"Setelah kelulusanku, aku akan mengajak-"
"Tidak! Begitu Baekhyun pulih, kau langsung berangkat ke New York. Hanya kau sendiri." potong sang ayah. Chanyeol membulatkan matanya. Masih ada rintangan besar yang harus ia hadapi rupanya.
…
Si kecil itu tidak terluka serius, hanya sebuah luka robek di pelipis yang pastinya berbekas dan patah tulang ringan di tangan juga sebelah kakinya.
Dengan rutin Chanyeol merawat si kecil itu selama tak sadarkan diri. Dari mulai mengelap tubuh si kecil, menggantikan bajunya juga bolak balik mengurusi keperluan lainnya. Sampai saat di mana Baekhyun sadar, ia lah orang pertama yang kekasihnya lihat.
"Makan yang banyak dan jaga kesehatanmu Baek."
"Kau ini kenapa? Seperti kau akan pergi jauh saja." ia terkekeh karena keanehan sang kekasih yang sangat perhatian.
Chanyeol belum memberitahu Baekhyun tentang dirinya yang akan pergi jauh darinya. Ia belum tega melihat ekspresi sedih Baekhyun dan juga tidak mau melihat kekasih kecilnya itu bersedih. Jadi biarkan ia tidak tau menau tentang kepergian itu sampai ia benar-benar sudah tidak ada di dekatnya.
"Hanya aku rasa tubuhmu mulai kurus akhir-akhir ini." alasannya mengelus kepala si kecil itu.
"Itu karena aku sendirian di apartemen. Kalau nanti kau pulang, aku yakin berat badanku akan kembali." Senyumnya ia rekam baik-baik agar nanti saat ia merindukan sosok itu, ia masih bisa membayangkan senyum indah yang selalu menemani harinya selama di korea.
"Yasudah kalau begitu sekarang kau tidur karena besok pagi kau harus pulang."
"Temani aku." Rengek manja itu juga harus ia ingat baik di otaknya. Ia merasa benar-benar tidak bisa meninggalkan si kecilnya itu. tapi ia tetap harus bertindak seolah tidak ada apa-apa besok pagi.
"Baik, malam ini aku akan memelukmu sampai kau tidur."
"Tidak! Tapi sampai besok pagi saat aku bangun lagi." Tambahnya dan Chanyeol hanya tersenyum lalu naik ke ranjang rumah sakit. Ia memeluk kekasihnya yang merupakan pelukan terakhirnya. Semoga lima tahun menjadi waktu yang sebentar baginya.
Di pagi saat Baekhyun membuka mata, si jangkung sudah tidak ada di sisinya dan tak lama berselang kabar Chanyeol yang pergi ke New York di beritahukan oleh Sooyoung yang menelepon dengan tangis yang pecah. Harus apa ia sekarang ini tanpa Chanyeol di sisinya
…
Chanyeol melangkahkan kakinya lagi di sebuah apartemen mewah. Lima tahun kepergiannya membuat banyak perubahan di lobby apartemen mereka.
Ia menekan tombol pada sebuah lift, menunggu pintu itu terbuka dan masuk lalu kembali menelan tombol lain menuju lantai apartemennya.
Lampu berhenti di angka belasan dan pintu terbuka seketika. Suasana lorong ini tidak berubah dan sebuah pintu yang tak jauh dari lift menjadi tujuannya.
Jemarinya dengan lincah menekan beberapa digit angka namun respon dari pengamanan pintu itu berkata ada yang salah. Berulangkali di coba namun tetap gagal. Siapa yang mengganti pin pintu? Pikirnya namun ingatannya pada sosok mungil itu membuat ia berpikir pada sebuah angka. Tanggal lahirnya dan benar saja.
Aroma manis langsung menyambut indra penciumannya. Keadaan ruangan sepi karena jelas ini sudah tengah malam dan si penghuni sedang terlelap jadi Chanyeol langsung mendatangi sebuah pintu yang merupakan kamarnya. Sebelumnya ia meletakkan mantelnya di atas sofa karena suhu ruangan tak sedingin ketika ia di luar tadi.
Setelah pintu terbuka Chanyeol bisa melihat pujaan hatinya meringkuk di tengah ranjang besar. Lengannya memeluk erat sebuah bantal besar dengan gambar wajah seseorang. Chanyeol hanya terkikik geli saat tau wajah siapa di sana. Itu adalah foto wajahnya yang menjadi motif bantal besar itu. Rupanya Baekhyun benar-benar merindukannya sampai berpikir membuat bantal seperti itu untuk menemaninya tidur.
Langkahnya membawa tubuh tiangnya mendekati ranjang lalu berbaring tepat di samping si kecil. Saat Baekhyun merapatkan pelukannya pada sang bantal, ada rasa iri yang menghinggapi dirinya. Walau bantal itu bergambar wajahnya, tetap saja yang ia peluk bukan dirinya. Walau Baekhyun menggumamkan namanya, tapi tetap saja itu bukan dirinya maka dengan perlahan juga hati-hati, Chanyeol mengambil bantal itu dari pelukan si kecilnya dan menggantikannya dengan tubuh kekarnya.
Baekhyun menyamankan pelukannya. Wajahnya ia benamkan di dada bidang sang kekasih, menghirup aroma maskulin yang lebih besar dan rasa nyaman langsung menghinggapinya. Sekali lagi Baekhyun menggumamkan nama Chanyeol yang membuat si raksasa ini tersenyum dan mencium pucuk kepala Baekhyun dan menghirup aroma yang sangat ia rindukan. Ia senang, tidak ada yang berubah dengan kekasihnya, hanya tubuhnya yang terasa kurus dalam pelukan Chanyeol. Ia berasumsi kalau Baekhyun kekurangan gizi karena jarang makan. Itu pernah terjadi ketika ia disekap sang ayah di rumahnya dulu. Dan karena hal itu, si jangkung ini merasa bersalah akan hal ini.
Merasanyaman dengan situasi ini, Chanyeol memejamkan matanya lalu mulai terlelap karena lelah. Perjalanan dari USA menguras banyak tenaganya dan ia butuh istirahat. Setidaknya dengan memeluk sang kekasih saat ini, ia bisa tidur dengan nyenyak.
…
Matahari perlahan terbit dan cahayanya memenuhi semua wilayah di kota Seoul. Menerangi setiap sudut ruangan tanpa tirai karena sebagian dari dinding ruangan ini terbuat dari kaca. Baekhyun mengeryit merasakan tubuhnya tertahan sesuatu dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Chanyeol berada di hadapannya. Tertidur dengan nyaman dan tampak semakin tampan setelah sekian lama tak ia ketahui wujudnya.
Jemari lentik itu bergerak untuk menyentuh rahang tegas sang kekasih. Merasakan begitu nyata mimpinya yang selalu merindukan sosok tertidur itu. Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar dan lima tahun itu pula ia tidak berkomunikasi dengan Chanyeol. Lebih tepatnya si jangkung tidak pernah membalas semua E-mail darinya. Baekhyun tau si jangkung ini punya alasan tersendiri untuk tidak membalas semua pesannya, ia hanya ingin memberi tau pada sang kekasih kalau ia masih menunggu dan mengharapkan kedatangannya. Seperti saat ini dan kalau ini mimpi, siapapun jangan membangunkannya.
Merasakan sentuhan lembut di wajahnya, Chanyeol membuka perlahan matanya menatap manik bersinar kecoklatan milik Baekhyun yang memandangnya memuja. Senyumnya mengembang dan bibir tebal itu ia dekatkan dengan pipi tirus yang lebih kecil. Mengecupnya sekali kemudian kembali memandang wajah cantik yang selalu hadir di mimpi-mimpinya.
"Puas dengan pemandangan di hadapanmu?" tanya Chanyeol dengan suara serak khas orang bangun tidur. Baekhyun memejamkan mata dan mengangguk lalu kembali memandang si jangkung yang tersenyum di hadapannya.
"Ini bukan mimpi kan?" bisik yang lebih kecil tapi Chanyeol masih bisa mendengarnya.
"Kalau ini mimpi?"
"Aku tidak mau bangun."
"Kalau ini nyata?"
"Aku tidak akan pernah mau tidur lagi." ia membenamkan wajahnya di dada bidang yang lebih besar. Ia menghirup aroma menenangkan itu lalu memeluk erat sosok yang ia rindukan. Ternyata aroma inilah yang membuat mimpi indah dan tidur nyenyaknya semalam. Bukan halusinasi semata.
Telapak tangan itu bergerak mengelus punggung sempit si kecil. Menghujani jutaan kecupan di pucuk kepala si kecil.
"Aku pulang, Baek." katanya. Chanyeol merasakan tubuh itu bergetar dan suara isakan yang tertahan dada bidangnya terdengar. Baekhyunnya menangis dan itu membuat hatinya kembali terluka.
"Kenapa kau meninggalkanku?" katanya dengan tangisan. Chanyeol menjauhkan tubuh itu untuk memandang wajah basah karena air mata sang kekasih. Si jangkung itu mencium kelopak mata Baekhyun seraya berkali-kali berkata maaf menyesali keputusannya lima tahun silam.
"Aku terpaksa, Baek. Maafkan aku." sesalnya. Si kecil itu kembali membenamkan wajahnya di dada Chanyeol dan membasahi kemeja kusut si jangkung.
"Lima- hiks..tahun itu lama hiks Yeol." rengek si kecil. Chanyeol hanya terkekeh oleh ocehan lucu kekasih kecilnya. Siapa bilang lima tahun itu sebentar? Buktinya ia kembali pada saat usianya dua puluh tiga tahun. Menghabiskan wakta remajanya bersama banyak orang asing dan bertumbuh menjadi sosok yang rupawan tanpa kehadiran si kecilnya. Tapi bersyukur si kecilnya tidak banyak berubah. Tetap manis, kecil, cantik, lucu dan tetap ia cintai itu yang terpenting.
Ia melirik sebuah bantal yang semalam kekasihnya peluk. Tersenyum geli karena ia sempat cemburu pada seonggok bantal tak bernyawa itu.
"Lima taun memang bukan waktu yang sebentar,tapi dalam waktu lima tahun kau bisa berselingkuh dengan sosok tampan itu?" seketika Baekhyun mendongak dan mengikuti arah pandang kekasihnya.
"Bukankah sosok itu tampak lebih tampan daripada aku?" lanjutnya tapi Baekhyun kembali membenamkan wajahnya di dada si jangkung. Tempat favoritnya.
"Tapi aku suka yang ini." katanya dengan nada manja.
"Kenapa?"
"Karena ini nyata. Bergerak dan dapat memeluku." Chanyeol tertawa karena ucapan si kecil. Lucu pikirnya.
"Aku sangat merindukanmu, makanya aku membuat bantal itu. Setidaknya aku bisa memeluk replikamu, walau itu berbentuk bantal." ujar si kecil. "Kau tidak akan pergi lagi kan?"
"Tidak." jawabnya cepat.
"Janji?"
"Aku janji."
"Kalau bohong Yeollie mau apa?" ia mendongak. Wajah lucu dengan hidung merah itu begitu menggemaskan bagi Chanyeol. Ia sedikut merendahkan tubuhnya untuk kemudian mengecup singkat bibir merah muda itu. Ciuman pertama mereka setelah sekian lama berpisah.
"Aku akan menggendongmu berkeliling Gangnam dan berteriak aku mencintaimu keras-keras seperti orang gila." ucapnya.
"Berarti kau tidak mencintaiku saat ini?"
Matanya terpejam dan ia menarik nafas frustasi. Ia salah lagi. "Bukan begitu." Baekhyun hanya terkikik saat mendapati kekasihnya napak stres karena perkataannya.
"Kalau kau pergi lagi, aku akan melompat dari gedung apartemen ini."
"Kau mengancamku?" dan angukan sebagai jawaban.
"Itu pun kalau kau pergi dariku."
"Cukup katakan 'aku mencintaimu', maka aku akan selalu disampingmu."
"Aku mencintaimu." dengan isntan si kecil mengatakannya. Chanyeol memeluk erat tubuh kekasihnya dan mereka berbagi kehangatan di pagi yang cerah ini.
…
Setelah tiga hari kepulangannya ke Korea, Chanyeol baru menapakan kakinya lagi di kediaman Park. Sang ayah tau kalau anak semata wayangnya sudah pulang tapi ia membiarkan sang anak melepas rindu dengan sang pujaan hati.
Kunjungannya ke kediaman Park bukan untuk melepas rindu pada sang ayah, melainkan untuk membahas penempatannya pada anak perusahaan sang ayah. Janjinya sudah ia tepati dengan bersekolah di universitas di luar Korea dan pulang dengan prestasi dan nilai yang jangan di tanya lagi. Dan setelah ia menyelesaikan studinya, barulah ia boleh melanjutkan urusan asmara dengan sang kekasih seraya menjalankan usaha si ayah yang pasti suatu saat nanti jatuh ke tangannya.
"Selamat datang kembali nak."sambut sang ayah ramah. Chanyeol hanya diam tak membalas pelukan hangat sang ayah. Haya sekedar membungk lalu mengambil duduk di sebuah sofa mahal di kediaman Park.
Chanyeol hanya tidak mau terlalu dekat karena kejadian kelam masa lalunya.
"Aku hanya akan sebentar berada di sini karena nanti sore, aku harus menjemput Baekhyun di tempat kerjanya." sang ayah yang mendengar itu hanya mengangguk.
"Langsung pada topik pembicaraan kalau begitu." mulai yang lebih tua.
Ia menyodorkan sebuah map berisi beberapa dokumen yang harus ia baca sebelum menempati jabatan barunya sebagai CEO sebuah perusahaan.
"Itu adalah dokumen terdahulu perusahaan di kawasan Gangnam. Pelajari dan besok kau bisa mulai bekerja." jelas si kepala rumah tangga. Chanyeol hanya mengangguk dan mengambil kertas-kertas itu. ia bangkit dan meninggalkan keidman Park tanpa berpamitan atau sekedar mengucapkan kata salam.
…
Perkataannya pada sang ayah bukan sekedar bualan. Sore ini ia benar-benar menjemput Baekhyun di tempat kerjanya. Si kecil ini memiliki dua pekerjaan. Pagi hari ia menjadi tenaga pengajar di sekolah swasta dan siangnya ia menjadi pengajar di sebuah tempat les musik. Katanya ia harus menyibukan diri untuk mengalihkan rasa sedihnya karena di tinggal Chanyeol dan itu membuat si jangkung ini merasa bersalah.
Tempat itu tidak jauh dari kediamannya. Hanya beberapa blok dari apartemennya dan kalau berjalan kaki akan membutuhkan waktu sekitar setengah jam perjalanan.
Karena Chanyeol langsung melesat ke tempat itu dari kediaman Park, jadi tak heran kalau ia menggunakan mobilnya dan ia parkir tepat di depan gedung tersebut.
Semua tatapan para gadis tertuju padanya. Bayangan dejavu pada masa SMA terulang kembali. Bisik-bisik tetangga para murid terdengar di telinga lebar miliknya. Ada yang memujinya, ada yang hanya sekedar bertanya dia siapa, dan ada yang hanya menatapnya dengan pandangan memuja. Ia tidak menghiraukannya, tujuannya adalah menemukan si kecilnya di ruang para staf dan menggeretnya pulang lalu berduaan yang berujung pada entah apa. Semua hanya Chanyeol dan Tuhan yang tau.
Jari-jari besarnya meraih sebuah kenop pintu dengan tulisan staf pengajar di sana. Pintu perlahan terbuka dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah kekasih kecilnya sedang di rangkul entah siapa dengan mesra dari arah belakang. Matanya melebar dan nyaris keluar dari rongganya. Ia langsung berjalan cepat dan berdiri di belakang kedua sosok itu.
"Ehem." ia berdehem. Beakhyun yang kaget dan menyadari suara siapa itu langsung menoleh. Sosok kecil itu tersenyum karena tau kalau kekasihnya tidak berbohong soal menjemputnya di tempat kerja.
"Kau sudah siap?" tanyanya memecahkan keheningan. Pria tinggi walau tidak setinggi Chanyeol yang berdiri di sebelah Baekhyun mengeryitkan dahinya. Mataya terarah naik dari ujung kaki sampai kepala mempergatikan sosok Chanyeol yang sempurna bak model di cover majalah ternama.
"Siapa dia?" tanyanya dengan pandangan masih terarah pada soaok di hadapannya. Baekhyun hanya menunduk. Kedua pipi itu bersemu kemerahan saat pertanyaan itu terucap.
"Aku Park Chanyeol, kekasih Byun Baekhyun." ia menjulurkan tangan tapi mata itu hanya bergulir ke tangannya lalu kembali memandang paras Chanyeol yang sempurna dengan senyum menawan.
Kalau ia tidak mempunyai rahang, mungkin mulut itu akan jatuh berantakan di atas lantai. Pria itu tersadar dan segera meraih jabatan ramah si jangkung.
"Aku Bang Min Soo staf penganar di sini. Wah pantas saja Byun Baek ku menolak perasaanku waktu itu. Ternyata kekasihnya tampan sekali." puji yang lain. Taunya hal membuat dahi menawan Chanyeol berkerut dan otaknya mencerna perkataan pria yang lebih tua satu tahun di atasnya itu.
"A-apa?" Baekhyun segera menyikut pinggang temannya. Kekasihnya adalah pecemburu berat dan ia tidak mau kejadian saat SMA terulang kembali.
"Bukan apa-apa." gugupnya. "Ayo kita pulang. Aku sudah tak ada urusan di sini." remasan pada jari-jari besarnya mengembalikn kesadarannya. Chanyeol menatap manik kekasihnya, tersenyum dan kemudian mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan ruangan dan di sambut oleh puluhan murid wanita yang mengerumuni ruang staf pengajar. Mereka lolos dengan selamat.
.
.
Selama perjalanan pulang Chanyeol menjadi sosok yang cerewet. Bertanya ini itu, mengintrogasi sang kekasih yang kewalahan dan bingung harus menjelaskan apa pada si jangkung.
"Kau tidak tertarik padanya kan?" itulah pertanyaan yang sudah puluhan kali ia tanyakan.
Baekhyun menghela napas dalam, "Tidak Chanyeol. Sama sekali tidak."
"Lalu kenapa dia bisa dengan santainya merangkulmu dengan mesra seperti itu." Baekhyun merotasi pandangannya pada si jangkung yang sedang menyetir.
"Apa tadi itu bisa disebut merangkul dengan mesra?" lelaki cantik itu menatap tajam pada sosok jangkung di balik kemudi seolah mengatakan 'kau melukai hatiku'. "Aku tidak menyangka ternyata pemikiranmu tentang aku serendah itu, Yeol. Menepi sekarang, aku ingin turun."
"bu-bukan-"
"Menepi sekarang!" dan kata-kata itu mutlak. Chanyeol membantikng setir dan menepi kesebelah kanan tapi ia tidak bergerak untuk membuka kunci pintu mobilnya. Ia masih mau membujuk kekasihnya dan meluruskan kesalah pahaman ini.
"Dengarkan aku." Bujuk yang lebih tinggi. Dengan malas Baekhyun membawa maniknya memandang yang lebih tinggi di balik kemudi. "Aku minta maaf. Tapi aku bukan bermaksud menganggapmu murahan dan meragukan perasaanmu padaku." Mulainya. Si kecil mulai luluh dan mendengarkan perkataan si jangkung.
"Aku hanya takut kalau kau punya perasaan padanya. Dan caranya merangkulmu tadi…" dia memejamkan matanya lalu meremas jemarinya kuat-kuat seolah menahan emosinya untuk tidak keluar. Itu yang selalu ia lakukan kala bersama si kecil.
Jemari itu bergerak untuk menyisir surai kelam kekasih raksasanya, membelai dengan sayang orang yang ia cintai itu. "Aku tau kau cemburu tapi bukan begini caranya Yeol."
"Maafkan aku."ia mengecup lengan itu dan Baekhyun tersenyum karena itu. Lelakinya sudah tenang juga hatinya yang kembali mendapatkan rasa sayangnya pada sang kekasih. "Sekarang kita pulang." Elusan itu turun ke pundak Chanyeol dan si jangkung itu mengangguk lalu kembali mengemudi.
…
Sepertinya kesabaran Chanyeol sangat diuji. Inikah balasan atas semua yang ia lakukan semasa SMA? Bersalah karena si kecilnya selalu dibuat cemburu dari awal ia belum menyandang gelar kekasih. Masih ingat?
Kali ini si Min Soo memeluk kekasihnya dari belakang dengan mesra dan itu di depannya. Garis bawahi kata di depannya.
"Baekhyun, sebaiknya kita segera pulang karena aku lelah." Ini alasan yang ia gunakan. Pertengkaran kemarin adalah pembelajaran untuknya dan jangan sampai hal itu terulang lagi.
Baekhyun bergerak menjauh dari Min Soo yang memeluknya tadi. Walau awalnya ia sedikit kaget karena kedatangan si jangkung itu di saat yang tidak tepat, tapi dirinya tidak enak melepas pelukan itu yang terjadi tidak lama sebelum si jangkung memuka pintu.
Buku yang sudah tertumpuk rapih di atas meja ia masukan ke dalam tas. Menggendong ransel itu di punggungnya dan menghampiri Chanyeol yang tidak bergerak dari tempatnya.
"Aku pulang dulu. Sampai berjumpa besok siang." pamitnya dan keduanya keluar ruangan.
Chanyeol tidak mau mempersoalkan masalah tadi maka dia memilih diam sepanjang perjalanan menuju apartemennya. Pekerjaannya di kantor sudah menguras tenaganya terlalu banyak dan pertengkaran hanya akan membuat tubuhnya semakin lelah juga pikirannya semakin runyam.
"Aku minta maaf soal yang tadi." Mulai yang kecil. Chanyeol melihat dengan ekor matanya karena ia sedang berkendara saat itu.
"Aku tidak akan mempermasalahkannya lagi, walau sebenarnya aku sedikit marah tadi."
"Ya karena aku takut kau marah makanya aku minta maaf. Kau mau memaafkanku?"mohonnya dan yang lebih tinggi hanya tersenyum seraya satu tangannya membelai sayang pipi Baekhyun yang mulai kembali menembam.
.
.
Begitu pintu apartemen itu tertutup, Chanyeol dengan gerakan cepat menarik tubuh Baekhyun menyandarkannya di depan pintu dan mengurungnya dengan kedua tangan yang berada di kanan dan kiri kepalanya.
Wajahnya semakin mendekat walau ia tidak menciunya ketika bibir itu sudah berada dekat di depannya. Matanya menatap tajam pada manik kecoklatan itu, tidak ada niatnya untuk memutus tatapan mereka. Sebelum akhirnya si jangkung memecah keheningan.
"Kenapa kau begitu tegang?" tanya sosok yang mengungkung si kecil. Baekhyun menelan ludahnya saat parfum mahal itu menerobos masuk ke lubang hidungnya.
"Kenapa tiba-tiba kau j-jadi begini" gugupnya. Chanyeol tersenyum dengan tampannya. Sial jantungnya tidak bisa diajak negosiasi rupanya.
"Kau harus membayar atas apa yang terjadi saat di tempat kerjamu." Ucap yang lain.
"Membayar?"
"Ya, membayar." Ucapnya dengan seringaian. "Dia tadi memelukmu kan? Dan kau pernah bilang kalau kau tidak suka ada orang lain menyentuhmu? Mau kubantu untuk membersihkan jejaknya?"
"Ta-tapi-" sebelum kata itu lengkap, mulut itu sudah terkunci oleh bibir tebal kekasihnya. Chanyeol melumat bibir itu dengan dasyatnya hingga Baekhyun memejamkan matanya dengan rapat. Kedua tangannya meremas jas sang kekasih.
Akhirnya Baekhyun bisa bernapas dengan normal saat Chanyeol melepas tautan mereka. Si jangkung itu masih tersenyum dengan seringayan setan di wajahnya. Menjadi sebuah kesenangan tersendiri melihat kekasihnya meraub napas dengan susahnya karena ciuman itu.
"Mau melanjutkannya?" tanya yang lain. Baekhyun terdiam seketika. Memang setelah kekasihnya itu kembali, mereka belum berhubungan badan karena yah mereka memiliki kesibukannya masing-masing. Maka ajakan itu menjadi sesuatu yang asing di telinga Baekhyun.
"Ka-kalau… aku menolak?" takut-takut Baekhyun melirik wajah yang masih menyeringai itu. Tapi Chanyeol menanggapinya dengan santai.
"Kalau begitu kau harus menikah dengan ku."
Baekhyun terlihat berpikir dan itu menimbulkan tanda tanya besar di benak si jangkung.
"Tapi sepertinya, aku tidak bisa, Yeol."
"Kenapa?"
"Aku tidak bisa mengatakan alasannya, tapi yang pasti aku tidak bisa." Raut wajahnya berubah sedih. Ia meninggalkan sang kekasih yang masih terdiam di depan piintu apartemen mereka.
…
Setelah kejadian itu, Chanyeol mendatangi kediaman Sehun. Luhan hanya mengelus punggung Chanyeol.
"Mungkin ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, yeol." Itu Luhan dengan sayang mengelus punggung itu.
"Aku juga berpikir seperti itu hyung. Tapi kenapa?"
"Beri dia waktu. Aku yakin dia akan menerimamu kalau itu sudah waktunya." Nasehat yang lebih tua dan Chanyeol mendengarkannya dengan baik.
Ia kembali pulang pada malam hari ketika si kecil sudah terlelap. Tubuh itu meringkuk di balik selimut dan lengannya memeluk bantal yang bergambar wajah Chanyeol. Itu memang kebiasaannya dan entah akan sampai kapan.
Setelah berbaring di samping Baekhyun, Chanyeol mengecup pelipis kekasihnya. Membelai sayang dan mengucapkan selamat tidur pada kekasih mungilnya.
…
Yeollie-
Aku tidak bisa mmenjemputmu hari ini."
16:06 PM
Itu pesan yang di terima Baekhyun dari kekasihnya yang singkat. Tidak terlalu mempermasalahkannya, Baekhyun kembali mengecek tugas-tugasnya.
Dan tiba saat ia pulang. Ternyata mendadak cuaca beruba mendung dan akhirnya menurunkan pasukannya. Ia merutuki kebodohannya karena tidak membawa payung. Seharusnya walau ia sering di jemput Chanyeol, ia harus tetap membawa payung, tapi ini?
Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu hujan reda bersama dengan para murit di depan gedung les.
"Saem tidak di jemput si tampan?" Baekhyun hanya tersenyum karena julukan seorang siswinya untuk kekasihnya.
"Dia ada sedikit urusan di kantornya."
"Kalau boleh tau, saem dan si tampan itu sudah berpacaran berapa lama?" siswi lainnya yang berdiri di sisi lain tubuhnya.
"Sudah cukup lama. Dari kami SMA." Ingatan-ingatan manis itu mendadak singgah membuat senyum itu kembali terkembang.
"Wah ternyata lama sekali. Saem hebat bisa mempertahankan hubungan sampai saat ini. Hubungan kalian pasti lanjar jaya yah." Siswinya itu terkikik merasa geli dengan ucapannya. Tapi pemikirannya itu salah, karena perjuangan mereka mempertahankan hubungan ini sangatlah sulit. Banyak cobaan dengan air mata yang selalu membasahi wajahnya dulu.
Asik bernostalgia, ia kembali teringat lamaran Chanyeol. Ia merasa bersalah karena menolak lamaran itu, bukan karena tidak ada kesan romantic tapi ia masih belum siap untuk menghadapi beratnya berumah tangga. Tapi dengan kenangan-kenangan itu ia yakin dengan perasaannya sekarang.
Ia berencana untuk melamar kembali Chanyeol setelah tiba di apartemen. Jadi wahay hujan, cepatlah reda dan beri jalan untuknya yang akan menyongsong hidup baru bersama sang kekasih.
Ponselnya kembali bordering dan tertera nama Luhan hyung di sana. Tanpa curiga ia mengankat sambungan itu.
"Ada apa hyung?" sebuah tikungan menghiasi dahinya karena Luhan terisak di sebrang sana. Ada apa ini?
"Hyung?"
"Baekhyun…" panggil yang lebih tua. "Berjanji jangan panik." Lanjutnya dan pria yang kebingungan itu menyetujuinya. Luhan masih menangis dan tak henti-hentinya terisak sehingga Sehun mengamil alih ponsel suami mungilnya itu.
"Hallo Baekhyun, ini Sehun." Katanya. "Chanyeol mengalami kecelakaan mobil tadi sore." Tubuh itu menegang dan tatapannya kosong karena itu. "Kami berada di rumah sakit dekat persimpangan jalan. Tidak jauh dari kantor Chanyeol." Intruksinya. Baekhyun belum memutus sambungan teleponnya tapi kakinya sudah melangkah menembus hujan yang deras itu.
.
.
Dalam taxi jiwa Baekhyun tidak berada di raganya. Tatapannya masih kosong dan baju basah karena terguyur hujan tak membuat tubuhnya kedinginan. Ia hanya ingin cepat sampai di rumah sakit dan memastikan kalau kekasihnya itu tidak kenapa-napa.
Cemas? Jelas ia cemas. Pasalnya ia sedang dalam hubungan yang tidak baik setelah penolakan itu. Dan satu hari berselang setelah itu Chanyeol tidak menjemputnya malah terkena kecelakaan. Kalau sampai terjadi apa-apa pada kekasihnya itu, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Sesampainya ia di lobby rumah sakit, ia menghubungi Luhan dan kakak kandungnya itu menjemputnya tak lama setelah sambungan telepon itu terputus.
"Bagaimana kondisinya?" ia berusaha tenang walah dalam jiwanya panic bukan main. Luhan tidak menjawab dan menangis meraung-raung di pelukan Baekhyun. Sebenarnya kekasihnya Chanyeol itu siapa? Kenapa Luhan begitu panic? Apa kekasihnya itu terluka parah?
Ia tidak mau banyak bertanya maka ia hanya menyuruh Luhan membawanya pada Chanyeol yang entah di mana saat ini.
Sampai mereka tiba di depan sebuah kamar yang Baekhyun yakini adalah kamar rawat inam sang kekasih. Ia enggan untuk membuka pintu di hadapannya. Jiwanya belum siap menerima apa yang sebenarnya lagi ia lihat. Tapi Luhan segera meraih kenop pintu dan mendorongnya.
Seseorang terbaring dengan kepala terbungkus perban dan selang oksigen terpasang di hidungnya. Kakinya seakan kaku dan tak bisa bergerak karena sosok di hadapannya yang terbaring. Ini kali kesekian kalinya melihat sang kekasih terbaring tak berdaya. Pertama saat saat sakit demam, kedua dengan sakit yang sama tapi status yang berbeda karena ia sudah menjadi kekasihnya dan ketiga saat mereka dipisah secara paksa oleh sang ayah, dan kali ini yang paling parah karena banyak luka di sekujur tubuhnya.
Dengan keberani yang mulai bergerak, ia melangkahkan kakinya mendekati ranjang rumah sakit. Namun tubuhnya langsung ambruk dan ia menangis sejadi-jadinya. Digenggamnya tangan itu dan ia mulai menyuarakan semua yang ada di pikirannya.
"Kenapa?" ia masih tidak mau percaya. "Kenapa harus seperti ini?" suara tangisnya menggema di setiap sudur ruangan.
"Kalau karena aku kau begini hiks aku minta maaf… harusnya… hiks….. aku… menerima lamaranmu…. Wa..hiks…walau… lamaranmu…lamaranmu itu.. tidak romantis.. hiks.. harusnya… harusnya… aku menerimanya.. hikss… Chanyeol." Ia benar-benar menyesali semuanya.
Perlahan si pemilik lengan besar itu mengenggam balik tangan Baekhyun yang di yakini si kecil itu tidak menyadarinya. Chanyeol tersenyum karena perkataan Baehyun yang mendadak. Luka di kepalanya ia rasakan membaik walu nyatanya tidak sembuh benar tapi yang pasti hatinya kembali menghangat.
"Jadi kalau aku kembali melamarmu, kau akan menerimanya?" tanya suara bass. Baekhyun taunya menngangguk namun matanya membesar ketika menyadari sesuatu. Ia mendongakan kepalanya dan mendapati wajah tersenyum Chanyeol.
"Ka-kau?"
"Byun Baekhyun, kau mau menikah denganku?" tanya yang lain. Si kecil bangkit dan meraih apapun yang ada di atas ranjang kekasihnya. Melempar ke arah si jangkung yang katanya sakit dan BUK sebuah bantal yang entah dari mana itu mendarat pas di wajah tampan si jangkung.
Luhan dan Sehun yang baru masuk langsung kebingungan melihat kekacauan itu jadi si cantk bermata rusa itu memeluk sang adik yang kelihatannya akan melakukan hal brutal lainnya.
"Kau mempermainkanku?!" teriak sosok itu. sumpah demi apapun Chanyeol baru melihat sang kekasih berteriak dengan ekspesi marah seperti itu.
"A-aku tidak."
"Kau kira lucu membuat sandiwara sepertii ini?! Aku nyaris mati berdiri mendengar kau kecelakaan dan masuk rumah sakit, tapi taunya."
"Chanyeol memang mengalami kecelakaan." Sehun angkat bicara. Matanya yang berlinang air mata itu kembali terbuka dan memandang Chanyeol yang ada di atas ranjang. Mengamati perban-perban yang terdapat noda darah di sana. Memang benar itu luka sungguhan.
"Dia menabrak pembatas jalan saat menuju tempat meeting." Lanjutnya. Rasa bersalah itu menyelubungi si kecil dan ia mendekati si jangkung dan memeluknya sayang. Ia kembali menangis dan menyesali perbuatannya barusan.
Chanyeol hanya mengelus punggung itu sayang dan mengatakan kalau itu tidak apa-apa karena salahnya juga mengucapkan kata-kata bercandaan yang sebenarnya bukan bercandaan.
"Jadi kau menerima lamaranku?" si kecil itu segera mengangguk dan menghadiahi Chanyeol sebuah pelukan lagi.
"Ya aku mau menikah denganmu." Jawabnya dan semua orang yang ada di ruangan itu bersyukur.
.
.
Luhan dan Sehun memutuskan pulang karena sudah ada Baekhyun yang bisa menjaganya. Ini adalah kesempatan bagi keduanya untuk bermesraan.
Chanyeol terus menatap sang kekasih yang bergulat dengan pekerjaannya. Ia terbaring di ranjang rumah sakit sedangkan sang kekasih duduk di lantai dan mengerjakan sesuatu di meja tamu di sana.
"Masih belum selesai?" tanya si jangkung itu, Baekhyun mendongak lalu tersenyum dan kemudian menggeleng. "Masih lama yah?"
"Sedikit lagi. Kenapa?"
"Teruskan saja." ia berusaha untuk tidak terlihat kecewa. Pasalnya setelah lamaran tadi, Baekhyun menyibukan diri dengan segala sesuatu yang Chanyeol tidak mengerti.
Menyadari kekasihnya tidak suka diabaikan, Baekhyun menutup bukunya. Ia berjalan ke arah ranjang dan naik lalu duduk di atas perut kekar sang kekasih. Saat itu ia hanya menggunakan baju kebesaran Chanyeol yang ada di mobil tanpa bawahan. Membuat sepasang kaki jenjang dan paha menggoda itu terlihat menggiurkan. Baekhyun merendahkan tubuhnya, menindih dada sang kekasih. Bibirnya ia bawa untuk menyentuh permukaan lunak si jangkung yang tebal, memangutnya dalam sebuah ciuman hangat yang singkat.
"Kau tidak suka aku bekerja?" sebenarnya Baekhyun ingin mengatakan sesuatu setelah kejadian beberapa jam lalu, tapi ia ingin tau apa lelaki itu mengerti atas apa yang di tanyakannya.
"Aku hanya tidak suka kau mengabaikanku, Baek."
"Maaf soal itu, aku ralat pertanyaanku. Apa kau ingin aku berhenti bekerja?"
"Tidak. Tidak sama sekali." Baekhyun cukup senang dengan jawaban kekasihnya itu. Tapi masih ada keraguan. Ini soal Bang Min Soo yang sempat membuat si jangkung ini cemburu berat.
Chanyeol terlihat berfikir dan taunya memang benar dugaan si kecil itu. Mata besarnya kembali menatap manik bening kekasihnya. Menyusun kata-kata untuk mengatakan isi otaknya yang tertunda tadi. Ia membuka mulutnya dan kemudian menyampaikan apa yang menjadi bebannya selama ini.
"Aku hanya," si kecil mendengarkan dengan baik. "Tidak suka kau dekat-dekat pria itu." jawabnya akhirnya. Tepat dugaannya.
"Lalu yang kau inginkan?"
"Aku juga tidak suka kau punya dua pekerjaan." jawabnya jujur dengan ekspresi seolah ia anak yang menginginkan mainan baru tapi takut di marahi. Otot pipi si kecil kembali menarik bibirnya untuk tersenyum.
Elusan sayang Baekhyun menjadi hadiah bagi si jangkung yang sudah berkata jujur. Ia memang sudah merencanakan untuk resain dari pekerjaan keduanya. Karena awalnya ia hanya ingin menyibukan diri untuk melupakan kerinduannya kepada Chanyeol. Dan dengan Chanyeol di sisinya, ia merasa pekerjaan itu tidak ia butuhkan lagi.
Satu-satunya pemandangan indah di hadapannya adalah wajah sang kekasih yang tersenyum begitu cantik. Tangannya yang mengelus surai hitamnya terasa nyaman membuat semua lelahnya sewaktu bekerja lenyap dan rasa sakit di kakinya menghilang.
"Aku akan berhenti dari pekerjaan kedua ku." mulainya.
"Kau apa?" Chanyeol hanya memastikan kalau pendengarannya tidak bermasalah.
"Aku akan resain dari pekerjaan keduaku." maka ia mengulangi perkataannya. Merasa lega dengan keputusan si kecil, Chanyeol bangkit dan memeluk tubuh ramping kekasihnya. Tapi kembali ia membuat jarak dengan mendorong tubuh itu.
"Tapi tidak ada mahluk seperti itu di sekolah kan?" kalau masih ada orang yang sama di tempat kerja pertamanya, Chanyeol akan segera menyuruh Baekhyun berhenti dari kedua pekerjaannya. Toh dengan pekerjaannya sekarang, ia bisa menghidupi Baekhyun dan anak-anaknya kelak.
Sebelum menjawab, si kecil ini taunya tertawa karena lucu dengan pertanyaan Chanyeol yang mendadak.
"Kau cemburu dengan guru-guru di sekolah?"
"Hanya-"
"Tidak ada guru semuda aku di sana. Sesekali mampirlah." ucapnya. Baekhyun memeluk tubuh itu lagi. Menengelamkan wajahnya di dada bidang Chanyeol dan tersenyum saat mendapat ide manis di sana. "Nanti datang saja saat membagikan undangan pernikahan kita." Lanjutnya seraya kikikan terdengar dari si kecil.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri Yeol. Aku tidak membiarkan orang lain menyentuhku selama lima tahun ini. Apa itu kurang meyakinkanmu?" ia mendongak menatap manik kelam Chanyeol yang ternyata mentapnya sedari tadi ia mengoceh.
"Tapi kau membiarkan sebuah dildo memasuki lubangmu selama aku tidak ada." Baekhyun tersentak mendengar ucapan kekasih raksasanya.
"Bagai-"
"Aku menemukan benda itu ada di nakas paling bawah kamar kita. Oh dan sebotol lube yang hampis habis. Aku baru tau kau memiliki pemikiran nakal seperti itu." tolong siapapun kubur Baekhyun hidup-hidup sekarang.
"Harusnya tidak kau simpan di situ bodoh!" bisiknya merutuki kebodohannya. "Heheh itu karena,"
"Kau merindukan sentuhanku bukan?" goda yang lebih tinggi dengan suara rendahnya. Sekujut tubuh Baekhyun merinding mendengar suara berat nan sexy milik kekasihnya itu. Apa lagi sentuhan lengan besar itu di pahanya yang membiat bulu-bulu halus di kulitnya berdiri.
Bibir tipisnya ia gigit dan matanya ia pejamkan dengan rapat kala sentuhan Chanyeol merambat naik dari paha menuju bokongnya. Meremasnya dengan napsu.
Chanyeol hanya tersenyum saat Baekhyun kekasihnya mendongak dan menahan desahan yang kapan saja bisa keluar dari bibir tipisnya. Desahan kesukaannya. Ditambah Baekhyun hanya mengenakan celana dalam jelas ia bisa merasakan kulit halus itu.
"Baek," panggilnya tapi tidak ada respon. Chanyeol mendekatkan bibir tebalnya pada daun telinga kekasihnya. Meniup lubang itu dengan jahilnya sebelum membisikan sebuah kalimat pada si kecil yang mulai terangsang itu.
"Bukankah sudah terlalu lama kita tidak bercinta?" mata sipit itu membola saat bisikan mengelitik itu menembus lubang telinganya. Wajahnya berubah seperti udang rebus.
"Dari pada dildo itu, bukankah milikku lebih memuaskanmu?" lagi-lagi semburat merah itu membuat pipi tembam Baekhyun terasa panas.
.
.
"Emmhhmm." Baekhyun melenguh ketika batangnya bergesekan dengan milik kekasihnya. Pinggulnya bergerak maju mundur dengan sebelah tangannya menggenggam adiknya dengan milik si jangkung itu.
"Bagaimana? Lebih memuaskan milikku atau dildo itu?" semburat kemerahan itu kembali terlihat di kedua pipi si kecil. Baekhyun tau, Chanyeol sedang mengodanya walau bukan sebuah ejekan, tapi ia merasa malu karena itu.
Ia tidak mau menanggapi gurawan si jangkung maka ia memejamkan mata dan mendesah lebih keras. Ia benar-benar menikmatinya, di mana hangat milik si jangkung mengesek kulit batangnya di bawah sana. urat-urat yang menonjol terasa di indra perabanya. Gerakan pinggul itu semakin cepat dan akhirnya cairan kental hangat berwarna putih meluncur mengotori kemeja rumah sakit kekasihnya.
Napasnya berburu karena pelepasan itu dan dahinya membentur pundak tegap Chanyeol di depannya.
"Mau ku tunjukan sesuatu yang tidak bisa kau dapatkan dari dildo itu?" seringaian setan tercipta. Ia berbisik tepat pada lubang telinga si kecil yang membuat bulu di sekujur tubuhnya meremang.
.
.
"Chanyeolhh… aahh...ahh...aahh…. Kau… besar…" tubuh Baekhyun terhentak keras naik dan turun mengikuti gerakan Chanyeol di bawah sana.
Posisi Baekhyun yang duduk di perut kekar Chanyeol membuat titik sensitifnya berulang tersentuh oleh penis besar kekasihnya itu.
"Bisa ku pastikan… penisku lebih memuaskan dari pada dildo sialan itu." ia hanya tidak suka ada benda lain yang memasuki lubang kesukaannya. Hanya bagian dari dirinya yang boleh melecehkan liang kenikmatan ini.
"Oohh.." desahan Chanyeol lolos saat penisnya dijepit kencang oleh otot retrum Baekhyun yang berkontraksi.
"Aahh.. Eehhmmm… mmmmhhhmmm…." si kecil berusaha agar desahannya tidak membuat penghuni kamar sebelah terganggu atau membuat perawat yang tidak sengaja lewat mengetahui kegiatan panas di kamar rumah sakit itu.
"Suaramu.. Baek.. Oohh.. Ya… aaah.." Chanyeol terus merancau, ia ingin desahan milik Baekhyun mengiringi kegiatan mereka. Suara merdu itu sudah menjadi sesuatu yang ia rindukan selama lima tahun ini.
"Aahkuh.. Aahh .. Tidak mauh.. Ada yang ..curiga.." Baekhyun berusaha menjawab. Suaranya bergetar karena gerakan mereka. Merasa tidak peduli dengan pendapat orang lain, Chanyeol menambah tempo genjotannya.
Ia menumbuk lebih dalam membuat daging kenyal di dalam sana tersentak berulang. Ia tidak ingin suara merdu itu tertahan. Dan benar saja dua kali hentakan Baekhyun mendendangkan suara indahnya lagi.
"Jangan….. Aaahh.. Suaraku.. Aaahh… Ahh…" Chanyeol menyeringai. Ia berhasil membuat suara indah itu menggema di ruangan itu.
Di klimaksnya yang pertama, ia membiarkan Baekhyun bernapas dengan puas. Ia tau kalau lelakinya itu sudah kelelahan. Tapi ia belum puas dengan satu ronde saja.
"Kau mau dengan gaya lain?" taunya Baekhyun mengerutkan dahi. Belum sempat ia bertanya, tubuh itu sudah Chanyeol putar membelakangi tubuh si jangkung. Ia membuat paha Baelhyun tebuka lebar dan bertumpu pada pahanya yang tepat di bawahnya. Chanyeol membiarkan Baekhyun berbaring pada dada bidang miliknya. Membuat tubuh yang lebih kecil nyaman dan rileks untuk sesaat.
"Kau siap?" walau bingung Baekhyun menganggukan kepalanya. Satu tangan Chanyeol meraih penis besarnya yang sudah menegang kembali lalu mengarahkan benda itu pada lubang berkerut milik kekasihnya.
Satu dorongan pelan batang keras itu masuk. Baekhyun melenguh ketika benda itu perlahan memasukinya. Dari dulu hingga sekarang, Chanyeol tidak pernah bermain kasar. Mungkin pernah tapi tidak saat pengawalan mereka. Ia selalu berlaku lembut di awal pemanasan mereka. Tidak seperti ketika ia dipaksa oleh yoonoh dulu. Karena itulah mengapa ia begitu menyukai sentuhan Chanyeol.
Saat penis itu sudah berbenam seluruhnya, Chanyeol memberi waktu beberapa menit untuk Baekhyun membiasakan miliknya berada di dalam sana. Walau sebelumnya mereka sudah melakukan kegiatan panas itu, Chanyeol masih harus memastikan kalau kekasih hatinya itu nyaman dan ia juga tidak mau kalau keegoisannya melukai Baekhyun.
Beristirahat beberapa menit, Chanyeol rasa cukup memulihkan kembali tenaga si kecil. Maka ia mulai mendorong pinggulnya naik.
Tubuh indah itu mengeliat dan melengkung saat Chanyeol menggerakan pinggulnya. Kepalanya bergerak ke samping tepat pada wajah Chanyeol. Kesempatan itu ia gunakan untuk meraub bibir ranum kesukaannya. Lidah si jangkung menjulur bergulat dengan milik Baekhyun mencari pemenang.
Tangan besar Chanyeol menggenggam penis mungil Baekhyun yang terus melombat-lompat karena gerakan keduanya. Memompanya dengan konstan dan tangan lainnya memilin putting mencuat itu. Tidak ada bagian yang menjadi favoritnya menganggur begitu saja. dari bibir yang saling melumat juga lidah yang berperang, kedua tangannya yang memanjakan dua bagian sensitive milik kekasihnya itu.
Empat hentakan terakhir, Chanyeol memuntahkan lahar putih itu di dalam liang si kecilnya. Baekhyun terkulai lemas di atas tubuh kekasihnya. Dadanya naik turun karena penghirup ogksigen semampunya karena letih.
"Tidurlah." Ia membaringkan tubuh lemas Baekhyun di sampingnya. Memeluk dengan sayang Baekhyun dari belakang dan mengecup belakang kepalanya sebelum akhirnya terlelap.
Setelah pulang dari rumah sakit ini Baekhyun berjanji pada dirinya untuk membuang dildo sialan itu jauh-jauh dari hidupnya.
…
Persiapan menuju pernikahan mereka berjalan lancer tentu saja itu karena semua yang mereka butuhkan disiapkan Chanyeol dengan baik.
Baekhyun sering menjenguk ayah Park di kediamannya. Sakit yang menyerang kesehatannya membuat tubuh gagahnya yang dulu terbaring di ranjang kamarnya. Sang istri yang setia merawatnya terus mengurus dengan telaten sang suami yang sedang sakit itu. Baekhyun juga berkali-kali membantu sang calon ibu mertua itu mengurus ayah Park mulai dari membantu mengantarkan makanan, menyiapkan obat yang akan diminumnya, juga sesekali membantu mengelap atau mengganti baju sang calon ayah mertua itu.
Sikapnya masih tidak mengingginkan Baekhyun terlihat jelas dari cara ia melihat lelaki bertubuh ramping itu. Ayah Park masih tidak menerima kepenyimpangan anaknya itu tapi janji tetap lah janji jadi mau tidak mau ia harus menyetujui pernikahan ini.
"Bawakan ini pada ayah." Itu ibu yang menyodorkan sekotak obat yang harus pria tua itu minum. Baekhyun mengambil kotak itu dan membawa pergi itu dari ruang tamu.
"Aku masih bingung dengan sikap ayah pada Baekhyun, bu." Chanyeol memulai percakapan setelah Baekhyun tidak bersama mereka. Sang ibu menuangkan teh pada cangkir meja lalu menyodorkan pada sang anak yang duduk di hadapannya.
"Bingung apa yang kau maksud?" ia meremas jemari sang anak dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Ini tentang sikap ayah pada Baekhyun." mulainya. "Ibu tau kan aku menyetujui untuk belajar di New York karena ayah akan menyetujui hubunganku dengan Baekhyun? Tapi sikapnya pada Baekhyun tidak menunjukan kalau dia merestui hubungan kami." ada sedikit jeda karena ia merendahkan tubuhnya lalu memijat sebelah pelipisnya.
"Aku hanya kasihan pada Baekhyun yang lagi-lagi harus menderita bu." itulah puncak dari kekawatiran si jangkung.
Nyonya Park itu hanya mengelus punggung sang anak dengan ibu jarinya, menyalurkan energy lain untuk menyemangati si anaknya itu.
"Sebenarnya ayahmu sempat akan menjodohkanmu dengan anak dari keluarga Byun." Mendengar itu Chanyeol menajamkan indra pendengarannya.
"Tapi karena di anatara dua keluarga tidak ada yang melahirkan anak perempuan, ayah mu mulai melupakan janji itu. tapi saat kau bercerita kalau Baekhyun pernah menciumu saat kecil dulu dan kau menjadi ketergantungan ingin selalu dekat dengan Baekhyun, ayahmu mulai berikir untuk menjauhkan kalian."
Sang ibu terus menceritakan masa lalunya yang Chanyeol tidak ketahui. Dari mulai sang ayah yang dekat dengan ayah Byun juga rencana ia membangun perusahaan Park&B yang jelas ada campur tangan ayah dari kekasinya itu.
.
.
Setelah mendengarkan cerita dari sang ibu, ia menyusul Baekhyun di lantai dua. Setidaknya ia ingin sang ayah menyadari ketulusan Baekhyun. Kalau benar sang ayah merestui hubungan mereka, setidaknya sikapnya pada calon menantunya juga harus beruba. Dengan cara apapun ia akan membuat sang ayah membuka matanya.
Baekhyun baru saja menutup pintu kamar sang ayah dengan piring dan mangkung di tangannya. Sepertinya ia baru membantu sang ayah menghabiskan sarapannya.
"Ayah baru selesai makan." Baekhyun memberi tahu Chanyeol yang berpapasan dengannya. Lengan Chanyeol terjulur untuk mengelus surai kecoklatan milik kekasihnya. Ia baru menyadari kalau kekasihnya itu mewarnai rambutnya.
"Turunlah dan temani ibu." Dan setelah itu ia menuju kamar sang ayah.
Ia kembali menutup pintu dan menguncinya. Ada obrolan penting yang siapapun orangnya tidak boleh menganggu mereka.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sopanlah sedikit pada ayahmu."
"Aku sudah tidak menganggapmu ayah sedari lama." Ia duduk di samping ranjang sang ayah dan melipat tangannya di depan dada.
"Apa yang membuatmu datang ke mari? Urusan pekerjaan?"
"Lebih penting dari perusahaan ayah itu." ucapnya. "Aku sudah menepati janji menyelesaikan studyku di New York dan sekarang giliranmu bersikap baik pada Baekhyun." Ia langsung menjutu poin utama pembicaraan.
"Apa yang salah dengan sikapku pada Baekhyun?" sebuah tikungan tercipta di dahi yang lebih tua.
"Aku tidak bodoh untuk mengetahui sikapmu yang masih belum menerima dengan baik Baekhyun di keluarga kita." Mulainya. "Pernihakanku dan Baekhyun sebentar lagi dan ayah masih menganggapnya orang lain padahal dia sudah merawatmu seolah ayah adalah ayahnya sendiri.
Tidak ingatkah kau pada sahabat ayah yang banyak membantumu dulu? Itu adalah ayah dari Byun Baekhyun dan tidak kah ayah mengingat janji kalian?" yang paling tua dari keluarga Park itu membulatkan matanya. Dari mana sang anak tau tentang perjanjian itu?
"Kalau ayah tidak menyukai kepenyimpanganku ini, setidaknya ingat tentang janji kalian. Mungkin ini adalah suatu teguran tapi menurutku ini bukan sebuah kesalahan." Ia tidak bisa berkata-kata saat anaknya itu berkata hal yang benar.
Mungkin ini sebuah teguran karena ia pernah berbuat curang pada sahabatnya Byun dan ini adalah kesalahannya.
"Aku hanya ingin ayah tau kalau Baekhyun tidak pernah mendendam. Ia tidak pernah membicarakan soal kenapa kita di pisahkan atau bekas luka karena kejadian terdahulu. Yang dia lihat saat bersamamu adalah, sosok seorang ayah yang menggandikan mendiang ayahnya, sahabat ayah. Jadi bersikaplah seolah dia anakmu karena setela menikah denganku, Baekhyun adalah bagian dari Park." Ucapnya lalu bangkit. "Hanya itu yang inginku bicarakan. Aku berharap ayah bisa berubah. Permisi." Lalu ia meninggalkan sang ayah yang merenungi semua kesalahannya.
…
Upacara pemberkatan berjalan lancer dengan tangis harus semua kerabat dekat setelah janji sehidup semati terucap dari keduanya juga kedua cincin melingkar di jari manis masing-masing.
Pesta di adakan sejam setelah pemberkatan. Semua teman SMA juga teman kuliah Baekhyun datang. Chanyeol hanya mengundang teman-teman yang berada di Korea karena teman kuliahnya semua berada di New York.
Setelah pesta melelahkan itu selesai, Chanyeol mengajak Baekhyun yang tidak sempat membawa apapun kecuali pakaian yang ia kenakan juga ponsel yang sempat ia ambil dari Luhan. Itu karena Chanyeol tidak sabar untuk melaksanakan bulan madu manisnya.
Sempat bertanya akan di bawa kemana dirinya itu, Baekhyun hanya menatap bingung pada Chanyeol yang mengemudi.
Pemberangkatan mereka malam dan sampai pada beberapa puluh jam kemudian. New York menjadi tujuan mereka berbulan madu. Tempat di mana Chanyeol menghabiskan massa remajanya dan tumbuh menjadi pria tampan dengan kepintarannya mengelola bisns sang yah.
"Kalau kau bingung akan tidur di mana kita, jawabannya adalah apartemenku." Itu percakapan pertama yang mereka lakukan. Selama perjalanan Chanyeol banyak tidur dan Baekhyun memilih diam karena ini adalah penerbangan pertamanya yang terjauh. Karena penerbangan paling jauhnya adalah pulau Jeju itu pun saat stady tour di sekolah dulu.
"Jadi ayah mengirimmu ke New York?" Chanyeol mengangguk. "Jauh sekali." bodohnya Baekhyun tidak tau diasingkan ke mana sang kekasih dulu. Tapi sekarang ia sudah menjadi suaminya.
"Kenapa?"
"Tidak. Aku hanya merasa bodoh tidak mengetahui kau dibawa pergi kemana. Aku kira Jepang atau Cina, taunya…"
"Maka dari itu aku mengajakmu ketempat di mana aku menjadi dewasa." Ia mengecup pelipis si kecil di pelukannya. Ia sedang berada di taksi saat ini, menuju apartemen pribadi Chanyeol.
.
.
"Bukalah." Perintah Chanyeol pada Baekhyun. Merasa bingung, Baekhyun menekan beberapa digit yang merupakan kode pin apartemennya yang berada di Korea. Deretan angka yang merupakan tanggal lahirnya dan PIP pintu terbuka.
"Ini-"
"Masuk dan lihat ke dalam." Pintah yang lain dan Baekhyun lagi-lagi mengikutinya.
Langkahnya ia bawa pada ruang tamu, pemandangan yang asing baginya karena jelas ia baru mendatangi tempat ini. Tapi begitu ia memasuki sebuah kamar, matanya di suguhkan pada pemandangan yang biasa ia lihat.
Tata letak kamar itu pesis sama seperti kamar mereka di Korea. Dari mulai ranjang, lemari, juga jendela besar yang menyerupai dinding berada di sana. Baekhyun takjub bukan main, ia seolah berada dii rmuah.
"Aku membuat kamar ini seperti kamar kita karena aku ingin merasakan keberadaanmu di sini." Tangan itu melingkar di pinggang Baekhyun yang masih melihat sekeliling. "Aku begitu merindukanmu dan jika mengingat masa-massa itu, rasanya aku ingin terbang ke Korea menemuimu. Tapi itu tidak bisa." Ia kecup pundak Baekhyun yang terlihat karena baju kebesaran milik Chanyeol yang ia kenakan.
"A-aku.." Baekhyun membali tubuhnya dan menatap suami nya dengan berlinang air mata. Ia terharu, sebegitu besar cinta Chanyeol hinga ia merenof ruangan ini hanya karena ingin merasakan keberadannya.
"Aku janji Baek, tidak aka nada yang memisahkan cinta kita lagi. Tidak akan. Hanya ada kau, aku dan akan-anak kita kelak." Bisiknya sebelum mencium belahan lunak itu. Saling menyalurkan perasaan masing-masih seolah mereka terpisah cukup lama.
Cintaku padamu takan pernah berubah dulu, sekarang hingga waktu yang tak terbatas karena kau yang pertama dan akan menjadi yang terakhir.
END
Saatnya pengakuan dosa*masuk bilik pengakuan dosa di gereja* wkwkwkwk… mungkin ada beberapa dari kalian yang ngerasa ff ini di chapter2 awal aga aneh dan maksa,, itu karena ini ff sebenernya gue asal ketik. Kesel sama ff yang gue pikirin bener2 tapi sepi review dan waktu post ini ff malah banyak review dan mau ga mau gue harus kembangin n terusin hehehe.. dan di endingnya maksa ga sih? Wkwkwkwk panjang yah? Maafkan karena gue ga mau bikin baekhyun menderita lagi. Makassih buat yang udah setia baca ff ini. walau gue aga moodi buatnya wwkwkwk. Doakan semoga gue bisa buat ff yang kaa gini lagi dan doakan juga semoga skripsi gue lancer jaya. So makasih n met ketemu di ff belanjutnya.
Balesin Review:
Azrchanbaek : please fast update astaga gregetan gue banyak banget pengganggunya dah
Bls : untuk ff berikutnya gue usahain yah buat fast updatenya. Hehehe makasih udah baca ff ini.. semoga ga mengecewakan yah.
Aupaupchan : dikira chanyeolnya bakal jadi pahlawan kesiangan, eh keburu di enga enggain smaa yonoh,banyak bgt cobaan merekafast update fast updatee greget aku
Bls : hahahaha biar beda dong. Masa diselametin terus.. semoga endingnya ga mengecewakan yah. Makassih udah baca ff ini. jangan lupa mampir ke ffku yang lain yah..
Byunsilb : jangan menghilang kyk author lain dong kak..sakit tau cukup dia yg nyakitin hati aku kaka jangan/gg/ aduhh itu cy gmna persaannya baek diperkosa yoonoh trus itu tunangan siapa sih..kesel akutu klo mslh tunangan ditunggu yah Fighting! btw tdi dah komen tpi mlh gagal heheh
Bls :soalnya aku aga ga pede sama penulisanku setelah beres bikin ff. itu selalu hahahaha n dengan reviewnya yang ga sesuai prediksi aku jadi makin deh ga percaya diri hehehehe. Semoga ga kecewa sama edingnya yah. Hehehe makasih udah baca.. ampir di ff ku yang lain yah
Pcyxbbh : Bayak banget sih thor problem nya. Satu-satu kek. Masa udh masalah baek di perkosa harus di tambah bapak si ceye nerima perjodohannya. Jahat banget sih thor sama baek. Kirain baek ga akan sampe di apa2in eh tau nya.
Demand for positive story in next update thor please
Bls : awalnya gam au sebanyak itu. soalnya ya aku juga bingung bikin masalahnya. Aku gap inter bikin masalah sih wkwkwkw. Aku mau jadi author yang jahat ah.. wkwkwkwk semoga ga ngecewain. Makassih udah baca ffku plus review
Alexanderlexa : jadi baekhyun jadi korban sex nya yoonoh ? duhhh kasian banget sihhh...sumvahhh itu part paling akhir gw harap bukan ortu mas ceye sama ortu jieun ...pleaseeee hw kagak ikhlas baek menderita kaya gini...nextty nexttt nexttt
Bls : dan ternya emang ortu mereka wkwkwk. Gmn udah kecewa? Hahahah di iklasin deh iklas yah.. makasih loj=h udah review di semua ffku.. makasih bgt hehehehe semoga ga ngecewain yah..
Chenma : sorry kalo gw cuma review di chapter ini dan baca marathon seharian smpe emak ngomel2 krna gw ngga keluar2 kamar, wkwkwkwk
gw pikir masalahnya cm jieun aja, tp yonooh juga, namanya aneh, wkwkwk...
gw pikir lg baek bakal gagal diperkosa tp trnyata malah berkali kali bahkan sampe 5 hari segala, ckckckck
dan trnyata masalahnya ngga semudah keliatannya
alurnya di chapter awal agak bingung krna dibuat dari berbagai sudut pandang yg berbeda, agak gmn sm baek yg nunduk mulu dan maluan, tp makin ke sini baek semakin beranin nunjukkin dirinya, gw sukak, tp pas sama yoonoh dia lemah... pas jieun bilang dia sm yeol tunangan dia lemah gw kesel lagi...
pengennya baek itu kuat gtu krna gimanapun juga dia laki-laki
klo setelah ini ada trauma itu bagus... tp jangan deh, kasian amat baek menderita mulu dan katanya park sama byun itu temenan kan makanya chanyeol pindah ke rumah baek? tp kok ngga ada tanda2 sih interaksi keluarga park sama ibu nya baek berinteraksi... bahkan gw agak bingung kok perusahaannya namanya park&B ... B nya itu Byun ? heuheuheu
lanjut kilat ya
Bls : ini review terpanjang yang pernah gue dpt dan gue suka wkwkwkwk… iah km beruntung karena review di detik2 chapter ending wkwkwkw.. aduh jangan sampe emakmu marah gara2 aku dong.. jadi merasa bersalah nih.. memang alur di awal aga ngebingungin karena. Udah di jelasin yah di awal. Semoga semua kejawab di akhirnya.. jadi ga buat bingung lagi. Sekali lagi makasih udah baca n review…. Ada kekuat sendiri bacain review dari pembaca tuh heheh met ketemu di ff selanjutnya dan jangan lupa buat liat2 di ff yang lain.
Arara1314 :kenapa sampai sejauh ini... uri Baekhyun kenapa... kenapa harus uri Baekhyun? kenapaaaa! huhuhuhu hiks... sedih ini begitu menyedihkan... kenapa makhluk polos dan baik seperti uri Baekhyun yg harus mengalami kejadian mengerikan seperti ini... kenapaaaa?!
CHANYEOL BODOH! JIEUN BRENGSEK! YOONOH BAJINGAN! aku benci kalian semua huhuhuhu huweeee eomma Baekhyun... uri Baekhyun yg malang.
huft... akan jadi apa akhir cerita ini... kenapa untuk menyaksikan uri chanbaek bersama dalam suka cita dan Cinta susah sangattt
huft... aku mah apa atuh... bisany cuman baca... gimana ceritanya berakhir ya serah author
Bls : semoga endingnya ga mengecewakan yah.. heheheh makassih udah review n baca ff ini.. baca ffku yang lain yah hehehehe makasih sekali lagi
Yaya : Semangat thorrr... Next yaaa
Bls : makasih yaya
GuestLuHann : Bagiku ffn ini layak dapat anugerah.. Hehe.. Sangat keren
Bls : makasih
Rose : Aku ketagihh ffn ini.. Semangat lanjutnya thor..
Bls : makasih
Naonao : Arrrghhh cukuppp , kasian baekki jangan disiksa udah sampe chap ini aja uhuhu kasiannn lanjutkan widds semangaaaattttt
Bls : dan berakhir di chapter 10. Makasih udah baca ya nao… hehehehe
Brinabaek : ini kapan dilanjut kakkkkkkkk,,,,,,
sumpah ku penasaran. cukup jangan sakitin Baek ki lagiii
Bls : ini dilanjut kok heheh,, maaf yah lama soalnya mau aku tuntasin semuanya di chapter 10. Semoga endingnya gg mengecewakan yah. Makasih udah baca ffku :)
