Chapter 9

Cast:

Cho Kyuhyun as Park Kyuhyun [18]

Park Jungsoo as Park Jungsoo (Kyuhyun's brother 1) [26]

Kim Youngwoon as Park Kangin (Kyuhyun's brother 2) [23]

Lee Hyukjae as Park Eunhyuk (Kyuhyun's brother 3) [19]

Shim Changmin as Kyuhyun's best friend [18]

Genre:

Family, Friendship, Hurt/Comfort, Sad, Angst,

Disclaimer:

All casts belong to God and themself and i just own the story. DLDR! Alur ff ini sudah pasaran jadi mohon di maafkan jika ada kesamaan dengan beberapa cerita yang lainnya. /.\ Tapi saya tidak memplagiat ataupun menjiplak karya author lain karena cerita ini berasal 100% dari pikiran saya dan mungkin memang terinspirasi dari beberapa ff dengan tema brothership yang pernah saya baca tanpa disengaja sama sekali!

Summary:

Perjuangan seorang adik terkecil di keluarga Park untuk mendapat kasih sayang ketiga hyungnya yang selalu menganggapnya tidak ada. Apa yang membuatnya tidak dianggap sama sekali? Bisakah ia mendapat kasih sayang para hyungnya?

"Jika sudah sangat susah untuk melakukannya, maka tidak usah.."

- Park Kyuhyun -

Sebelumnya..

Yunho sudah tiba tepat di depan pintu masuk rumah itu. Ia segera membuka bagasi dan menyuruh penjaga yang ada di sana untuk membantunya membawa peralatan itu. Ia juga meminta diantar ke ruangan dimana adik Jungsoo itu berada. Ia kaget saat melewati lorong sempit itu. Ia berpikir keras.

Namun saat pelayan yang ada di depannya itu membuka pintu, Yunho sudah melihat bahu Jungso yang menunduk sambil menggenggam tangan dongsaengnya itu.

Yunho belum melihat wajah dongsaeng Jungsoo itu. Ia segera masuk dan mempersiapkan tabung oksigen. Namun, saat ia akan memasangkan alat itu, ia terlonjak kaget.

Ia yakin itu adalah Kyuhyun. Sahabat dari Changmin, sekaligus pasiennya yang kabur dari rumah sakit. Ia merasa membeku di tempat.

HAPPY READING~!

Selanjutnya..

Ya. Yunho sangat yakin itu adalah Kyuhyun. Ia tidak mungkin melupakan wajah anak itu.

"A-apa ia bernama Kyuhyun?" Tanya Yunho dengan sedikit getaran pada suaranya. Ia bertanya karena ia ingin membuktikan apa yang sedari berkecamuk dalam otaknya serta hatinya. Ia menatap Jungsoo dalam seakan penuh arti yang tersirat dalam pandangannya itu.

"Ne.. Kumohon cepat selamatkan dia Yunho-ya.. aku.. aku sudah tidak tahu mau melakukan apa padanya.. aku benar-benar bingung.." Kata Jungsoo sambil menangis. Ia benar-benar khawatir akan keadaan Kyuhyun saat ini. Bagaimana tidak? Dengan wajah yang pucat pasi, napas yang terdengar sesak dan pendek serta darah yang mengalir dari hidung anak itu membuatnya benar-benar bingung. Ia bahkan melupakan apa itu rumah sakit. Yang ia tahu bahwa hanya Yunho yang bisa menyelamatkan dongsaengnya yang selama sebelas tahun ini ia terlantarkan tanpa adanya kasih sayang bahkan perhatian.

"Baiklah hyung. Kau tenang saja, aku akan menyelamatkannya." Yunho dengan cekatan memeriksa keadaan Kyuhyun dengan stetoskop yang senantiasa melingkar di lehernya. Sesekali ia mendengar Kyuhyun mengerang kesakitan dengan lirih sambil mengerutkan dahinya.

Ia kemudian mengambil beberapa peralatan lainnya seperti jarum suntik dan obat dalam bentuk cair, dan segera menyutikkannya di lengan Kyuhyun. Tidak lupa juga ia menginfus Kyuhyun. Namun setelah melakukan hal itu, Kyuhyun sudah mulai berangsur membaik walaupun belum sadar.

Yunho sudah hampir selesai dengan kegiatannya memeriksa Kyuhyun. Namun, ia kembali berpikir apakah ia harus memberitahu Jungsoo yang sebenarnya mengenai penyakit Kyuhyun yang sebenarnya? Namun, yang ia tidak mengerti adalah mengapa sewaktu mereka di bangku kuliah, Jungsoo tidak pernah memperkenalkan Kyuhyun? Mengapa hanya Kangin dan Eunhyuk saja yang ia tahu? Sebenarnya apa yang terjadi?

Begitu banyak pertanyaan yang bermunculan di kepalanya mengenai masalah Kyuhyun. Ia tidak menyangka akan sekompleks dan serumit ini hidup yang di jalaninya yang entah sudah berapa lama.

Ia ingat pada ucapan Kyuhyun untuk tidak memberitahu Changmin dan Donghae mengenai penyakitnya saja. Namun, apakah Jungsoo sudah mengetahui hal ini?

Yunho kemudian berbalik menghadap Jungsoo yang sedari tadi berdiri di belakangnya dan menatap Kyuhyun khawatir.

"Bagaimana Yun? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Jungsoo mengenai keadaan Kyuhyun saat ini.

"Dia.. Dia mengalami stres yang berlebihan dan kelelahan yang memicu kambuhnya asma yang ia idap sehingga napasnya menjadi sesak tadi, namun sekarang ia sudah tidak apa-apa.. Hanya saja.." Yunho menggantungkan kalimatnya.

"Hanya saja apa Yunho-ya?" Jawab Jungsoo tidak sabaran.

"Hanya saja.. aku ingin bertanya, apa ada anggota keluarga kalian yang mengidap kanker ataupun tumor sebelumnya? Seperti harabeoji kalian mungkin?" Lanjut Yunho. Ia menanyakan hal ini, karena ia ingin memastikan.

"Ya.. Harabeoji kami mengidap tumor otak sebelumnya." Jawab Jungsoo singkat.

Yunho tampak berpikir.

"Entahlah.. aku harus mengatakannya atau tidak.. Tapi ia terkena penyakit-" Kata-kata Yunho seketika terputus saat mereka mendengar lenguhan Kyuhyun. Entah mengapa Yunho mensyukuri sadarnya Kyuhyun.

"Eunghhh.. H-hyunghh.." Lenguh Kyuhyun sebentar. Ia perlahan menggerakkan jarinya dan diikuti dengan terbukanya manik onyx itu. Ia mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk dalam retina matanya.

Ia mengenal ruangan itu. Itulah ada ruangannya. Setidaknya ia tidak dibawa ke rumah sakit. Setelah itu ia segera mengedarkan pandangannya ke arah sebelah kirinya. Yang ia tangkap pertama kali adalah wajah khawatir Jungsoo yang begitu kontras sambil memegang tangan kirinya dengan lembut dan hangat.

"Kyunnie.." Jungsoo meneteskan air mata bahagia saat ia benar-benar melihat dongsaeng kecilnya itu sudah sadar. Ia merasa sangat bersalah pada dongsaengnya ini. Ia begitu menyesal hingga ia tak mampu untuk menjelaskannya, sehingga ia hanya terus menangis.

"Hy-hyungie.. Jangan m-menangis.." Kata Kyuhyun lirih dan masih sedikit terbata-bata karena sebagian wajahnya ditutupi oleh masker untuk membantunya bernapas. Jujur saja, saat ini ia merasa pusing dan sesak serta sedikit sakit di kepalanya.

"Um, Ne. Hyung tidak akan menangis.. Kyunnie tenang saja, ne?" Ucap Jungsoo sambil mengelus sayang pucuk kepala Kyuhyun yang terbaring lemah di atas kasurnya dan memandangnya sayu. Ia kemudian mengecup pelan dahi Kyuhyun. Ia sangat merindukaan saat-saat dimana Ia mencium pucuk kepala dongsaengnya ini.

Kyuhyun hanya menerima saja. Ia kemudian memejamkan matanya dan menerima perlakukan Jungsoo padanya. Ia belum punya cukup tenaga untuk melakukan sesuatu. Ia pun memutuskan untuk kembali menutup matanya.

Setelah mencium dahi dongsaengnya itu, Jungsoo melihat mata Kyuhyun tertutup.

"Tidak apa-apa. Ia hanya merasa lemas sehingga kembali beristirahat. Aku akan memberikannya obat tidur dan resep obat yang harus ia minum setelah ia sadar nanti dan untuk beberapa hari ke depan." Yunho mulai angkat bicara. Sepertinya ia memang harus merahasiakan hal ini terlebih dahulu dari Jungsoo. Ia tidak ingin membuat keadaan Kyuhyun semakin bertambah parah karena salah satu hyungnya sudah mengetahui penyakitnya.

Mereka kemudian berjalan keluar bersama dari kamar Kyuhyun yang kecil.

"Ne. Jeongmal Gomawoyo, Yunho-ya. Kau sudah mau menyempatkan waktumu untuk datang ke sini. Aku sungguh sudah bingung tadi. Dan namamu saja yang terlintas dalam pikiranmu." Jawab Jungsoo sambil tersenyum dan mengusap jejak-jejak air mata yang masih tersisa.

"Tidak masalah, hyung. Sudah menjadi tugasku sebagai seorang dokter sekaligus sahabatmu. Jadi kau tidak perlu sungkan lagi padaku."

"Ya.. Dan sebelumnya aku ingin bertanya mengapa kau bisa tahu kalau dongsaengku bernama Kyuhyun? Padahal sebelumnya aku belum memberitahukannya padamu." Tanya Jungsoo.

"Ahh itu.. Kyuhyun adalah teman Changmin dan aku pernah berkenalan dengannya sekali."

"Hmm.. begitu.. baiklah. Sekali lagi terima kasih Yunho-ya.." Kata Jungsoo berterima kasih sekali lagi.

"Ne, Hyung. Kalau begitu aku pamit dulu. Aku harus kembali ke rumah sakit." Pamit Yunho.

"Uhm.. Hati-hati di jalan." Jungsoo melihat Yunho mengangguk sebentar dan mereka berjalan beriringan hingga ke pintu utama rumah itu.

.

.

Jungsoo kembali ke kamar Kyuhyun. Perasaannya bercampur aduk saat ini. Ia merasa sedih, sakit, bersalah, dan menyesal seluruhnya bergabung menjadi satu.

Ia duduk tepat di samping Kiri Kyuhyun yang sudah tersedia kursi di sana. Ia kembali menggenggam tangan dongsaengnya itu dengan erat.

"Mianhae, Kyu.. Hyung bersalah padamu.. Kau boleh menghukum hyung sesukamu setelah ini." Kata Jungso dengan menyentuhkan punggung tangan Kyuhyun dengan pipinya yang putih.

.

.

.

.

Kangin saat ini sudah duduk di ranjang yang ada di kamarnya. Ia menatap kosong di hadapannya. Sekarang ia sedang berpikir apa yang sedang terjadi. Tidak dapat ia pungkiri jika ia sudah mulai menyayangi Kyuhyun walaupun tindakan yang ia lakukan berbeda dengan perasaannya.

Saat melihat Kyuhyun yang terlihat kesakitan tadi, entah mengapa kaki sulit untuk digerakkan. Jungsoo hyungnya sudah lebih dahulu untuk berlari ke arah Kyuhyun sedangkan ia? Saat itu ia diam membatu seperti orang bodoh.

Ia mengusap wajahnya kasar. Ia benar- benar bingung. Dengan berbagai pergulatan hati yang selalu terjadi dalam dirinya.

.

.

.

Yunho masuk ke dalam rumahnya dan membanting badannya di atas sofa ruang tamunya. Ia melihat Changmin yang sudah sedari tadi duduk di kursi yang lain memandangnya heran.

"Waeyo, hyung?" tanya Changmin.

"Aniyo.." Ia segera menutup matanya dengan lengan kanannya. Ia benar-benar lelah saat ini.

"hah.. Changmin-ah, hyung masuk duluan yah. Hyung sangat lelah saat ini." Kata Yunho yang mulai beranjak dari sana menuju ke kamarnya tanpa mendengar apa respon Changmin. Sedang Changmin hanya memangdangnya heran dan kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda.

.

.

.

Sudah pukul 7 malam Dan saat Ini Jungsoo sudah tertidur tepat di samping Kyuhyun yang masih terlelap dengann posisi duduk.

Perlahan, Kyuhyun membuka matanya dan menampilkan manik onyxnya. Ia yang merasakan tangannya digenggam oleh seseorang, segera menolehkan kepalanya. Dan ia terkejut bukan main. Ternyata, ia tidak sama sekali bermimpi?

Jadi... Semua yang ada di bayangannya itu benar-benar terjadi?

Ia sangat senang dan tidak bisa menyembunyikan perasaannya.

.

.

.

To Be Continued

Holaaa readers~ Kimchan balik lagi nih bawa Chapter selanjutnya..

Ide di chapter ini rada-rada mentok.. Jadi Cuma segini doang..

Sebenarnya ide banyak Cuma mungkin karena faktor kecapean jadi ide-ide yang sudah ada di kepala saya itu hilang entah kemana -_-

Mengerti ajalah udah kelas XII, mana aku harus berangkat ke sekolah itu dari jam 6, habis belajar efektif di sekolah, harus lanjut pemantapan. Pulangnya harus kerja banyak pr + paper bahasa inggris..

Maap jadi curhat disini hehehe

Masukan dari para readers sangatlah dibutuhkan, jadi jangan sungkan untuk memberi ide atau apapun itu yang sifatnya membangun karena saya akan terima dengan senang hati.

Typo di chap kemarin banyak yah? Aduhhh maapin yaaa soalnya udah malam waktu diketiknya jdi ga sempet di edit deh..

Di chapter ini juga tidak di edit sama sekali, jadi jika ada typo mohon di maafin.

Yang minta di panjangin, maaf lagi yah.. nanti kalu waktu luang banyak akan aku usahain ketik lebih panjang lagi.

Mungkin segitu aja dulu. Untuk chapter ini, bisa ga kena 325 review? Sekali lagi ini buka target yahh, kalaupun ga sampe juga gpp.. Tpi klo lebih dari itu aku terima kasih banget..

Last, Mind to review this Chapter? ;))

Thank youuuu

- KimChan83 -