KAIHUN - Kekasih Suamiku Chapter 10-

.

Oleh Juju JongOdult TeleportingWinds

.

KEKASIH SUAMIKU LAST CHAPTER

.

REMAKE DARI NOVEL, BUKAN REMAKE DARI FF COUPLE LAIN.

.

KIM JONGIN

OH ( KIM ) SEHUN

KIM TAEOH

.

RATED M

.

MPREG

.

CHAPTER SEBELUMNYA

.

Baekhyun mengetuk pintu kamar tidur Sehun pada saat yang tepat dan cepat cepat masuk dengan senyum mengembang. Baekhyun langsung menerjang Sehun dan
membawa Sehun ke pelukannya. " Kita akan bersenang senang bersama, Hun. " Janji Baekhyun. " Tapi kau tidak perlu mengatakannya pada Jongin, karena kalau Jongin sampai mengetahuinya ia tidak akan mengijinkan kita untuk bersenang senang karena Jongin masih memperlakukanku seperti anak anak. "

.

HAPPY READING

.

LAST CHAPTER

.

" Kau tidak boleh pergi dengan pakaian seperti itu !" Seakan tidak mendengar perkataan Jongin, Sehun tetap mengenakan kaos V neck yang memperlihatkan dada mulusnya dan mengenakan celana panjang ketat.

" Pakaianmu terlalu seksi, Hun, " Jongin berusaha mengendalikan amarahnya yang terus terang sulit dilakukan karena Sehun mempertontonkan 65 persen dari tubuh dan lekuk kakinya yang indah. " Kenakan pakaian seperti itu khusus untukku saja, tapi jangan pergi keluar dengan pakaian seperti itu. Itu tidak pantas. "

" Kau pikir aku terlalu tua dan tidak pantas mengenakan pakaian seperti ini? " Tanya Sehun dengan suara tegang.

" Kau masih sangat pantas mengenakan pakaian itu. Yang membuatnya tidak pantas karena pakaian itu akan menarik jenis perhatian yang berlebihan dan kau pasti tidak akan suka itu. Banyak pria atau wanita yang akan mendekatimu. " Ucap Jongin.

Jongin mempertanyakan apa yang ada dalam benak Sehun untuk kesekian kalinya sejak mereka meninggalkan Rumah pedesaannya. Sepanjang perjalanan ke Roma, Sehun hanya berbicara dengan pengasuh Taeoh dan terkadang bercanda dengan Putra mereka tapi tidak pernah satu patah katapun Sehun ucapkan untuk dirinya.

Jongin mengedarkan pandangannya dan perhatiannya teralih pada cincin kawin yang tergeletak di meja rias disampingnya dan melirik sekilas jari tangan Sehun.

Untuk sepersekian detik, Jongin merasa seakan dihantam kemudian dijatuhkan dari tebing.

" Kau tidak mengenakan cincin kawinmu, " Ucap Jongin datar.

" Karena sekarang kita sudah bercerai, kukira cincin itu sudah tidak diperlukan lagi. " Sehun merasa bangga karena ia bisa mengucapkan perkataan itu dengan santai.

" Well, aku terkejut kau mau melepaskannya, Sayang. " Jongin berusaha tidak memberikan reaksi saat menyadari Sehun sudah mengetahui kabar perceraian mereka. Ia memusatkan perhatian pada permasalahan cincin, yang ia sadari memberi pengaruh yang cukup besar terhadap dirinya. " Tapi bagaimanapun juga, kupikir kau harus tetap mengenakan cincinmu. "

" Aku tidak mau mengenakan cincin itu lagi karena cincin itu bagian dari masa lalu dan aku bukan lagi istrimu. Aku merasa tak nyaman jika masih mengenakan cincin itu. "
Sahut Sehun.

Keheningan yang terjadi terasa begitu mencekam. Sehun terus membenahi dandanan dan pakaiannya. Ia sama sekali tidak menghiraukan Jongin.

" Kapan kau mengetahui bahwa perceraian kita sudah diputuskan? " Jongin bertanya tiba tiba.

" Kenapa kau tidak memberitahukan hal itu kepadaku? " Bukannya menjawab, Sehun malah bertanya pada Jongin.

" Hal itu sepertinya tidak penting, jadi aku berpikir tidak perlu untuk mengatakannya padamu. "

Sehun mengertakkan gigi menahan kata kata penuh amarah yang siap terlontar dari mulutnya. Pernikahan mereka sangat penting untuknya, begitu juga perceraian mereka.

Bagaimana mungkin Jongin menganggap hal itu sama sekali tidak penting?

Menyadari bahwa ia salah berkata kata, Jongin menyusun kembali perkataannya dan cepat cepat membetulkan. " Apa yang ingin kukatakan adalah... Yang terpenting
kebersamaan kita. Sekarang kita lebih banyak meluangkan waktu bersama tidak seperti saat kita menikah dulu dan kita lebih bahagia sekarang. Kita tahu apa yang salah dan kita tidak butuh surat nikah untuk menunjukkan bahwa apa yang kita miliki tak ternilai. " Wajah Jongin yang gagah tampak tegang.

Sehun merasa terkesan. Setidaknya perkataan Jongin membuktikan bahwa pria itu menghargai hubungan mereka dan masih melihat adanya masa depan untuk kelangsungan hubungan mereka. Namun, dalam hati Sehun masih merasa marah menyadari bahwa mereka bukan lagi suami istri.

Jongin mengulurkan cincin kawin Sehun. " Tolong kenakan lagi. "

" Tidak. " Sehun menolak dan berusaha menahan dorongan untuk mengatakan kalau pria itu menginginkan dirinya mengenakan cincin kawin, seharusnya ia tidak menceraikan dirinya. " Bukahkan kau bilang yang terpenting kebersamaan kita. Jadi aku tidak memerlukan cincin itu lagi. "

Wajah Jongin tampak gelap karena amarah. " Kalau kau tidak mengenakan cincin ini, orang lain akan mengira kau lajang. "

" Kenyataannya aku memang seorang pria lajang sekarang." Sahut Sehun.

Jongin menggeram marah membuat Sehun mengerutkan dahi.

" Kenapa sekarang? Dulu kau sama sekali tidak pernah mengenakan pakaian seperti ini dan tidak pernah berdandan. Lihat, " Jongin menunjukkan jarinya ke arah bokong Sehun. " pantatmu terbentuk dengan jelas di celana ketat itu dan kau memperlihatkan ke semua orang, mulusnya dada putihmu ! Orang orang diluar sana akan mengira kalau kau sedang mencari seseorang untuk di ajak berkencan !" Ucap Jongin sambil menggertakkan gigi menahan amarah.

" Aku pergi bersama dengan Baekhyun. Dengan keberadaan Adikmu disampingku, kukira aku akan sulit untuk mendapatkan seseorang. " Sehun bangkit berdiri dari kursi meja rias dan menyembunyikan senyumannya.

Memangnya Jongin pikir, ia akan mengenakan pakaian hitam dan menangis dipojokan sepanjang hari saat mengetahui bahwa mereka telah bercerai. Sebenarnya Sehun merasa bersyukur dapat merusak perkiraan Jongin dan lebih baik lagi bila
Jongin merasa cemburu karena mengira ia akan berpesta dan mencoba mencari pasangan kencan.

Tok.. Tok.. Tok

Terdengar suara ketukan pintu, membuat Jongin dan Sehun berbalik dan melihat siapa yang mengetuk. Terlihat Baekhyun sedang menyembulkan kepalanya di pintu.

" Apa kau sudah siap untuk bersenang senang, Hun? " Baekhyun memberikan senyum manisnya kepada Sehun dan Jongin yang dibalas tatapan tajam Jongin.

" Tentu. " Jawab Sehun.

Sehun berjalan melewati Jongin tanpa memandang mantan suaminya itu. Jongin menatap tajam Sehun, inginnya ia menarik Sehun dan menguncinya di dalam kamar agar tidak ada orang yang bisa melihat lekuk indah tubuh dan kaki Sehun.

Jongin berteriak geram saat pintu kamarnya tertutup kencang.

Baekhyun memandang ke arah Sehun dan menyeringai. " Jongin sangat posesif terhadapmu. Oh, itu manis sekali. Biasanya aku selalu menganggap Kakakku orang yang sangat tenang tapi ia tampak kebakaran jenggot hanya karena malam ini kau terlihat menawan dan akan pergi ke Club tanpa dirinya. "

Senyum Sehun semakin mengembang dan kedua matanya melembut. " Kau pikir begitu? "

" Aku tidak mengira akan melihatnya seperti itu. Chanyeol sebenarnya mengajak Jongin berkumpul bersama teman temannya malam ini di Club yang akan kita datangi nanti,tapi Jongin menolaknya. Tapi aku berani mempertaruhkan segalanya bahwa Jongin akan menerima ajakan Chanyeol untuk pergi ke Club malam ini. Para pria itu seharusnya akan menemui kita tengah malam ini. "

.

KAIHUN

.

Sehun melihat Jongin begitu pria itu memasuki Club tersebut.

Jongin datang bersama beberapa orang tapi yang dilihatnya hanyalah Jongin. Sehun merasa jantungnya berdegup kencang dan sesak napas. Ia mulai menarik napas untuk
menetralkan degup jantung dan deru napasnya. Ia berencana tetap bersikap tenang dan merasa lega karena apa yang dikatakan oleh Baekhyun benar adanya. Jongin datang kemari untuk menemuinya.

Sepanjang sore ia terus tersenyum sampai rahangnya kaku karena apa yang dikatakan oleh Baekhyun saat mereka berada di mobil tadi.

Sesaat sampai di Club banyak pria yang mulai menggodanya tapi syukurlah ia bisa
menghindari pendekatan para pria itu. Seharusnya ia mendengarkan apa kata Jongin agar tidak memakai pakaian seperti ini.

Sehun memikirkan kembali perkataan Jongin tentang perceraian mereka dan merasa lebih tenang serta tidak terlalu sakit hati saat mengingat perceraian mereka. Jujur saja, sudah terlambat untuk membatalkan perceraian mereka. Ia harus bersikap realistis : baru sepuluh hari sejak mereka kembali bersama. Jongin benar saat mengatakan bahwa saat ini mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama daripada saat mereka menikah dulu. Sekarang ia bisa lebih memahami Jongin dan mungkin lebih mencintai pria itu.

Kehilangan Jongin memang menakutkan baginya, tapi ia menyadari hal itu juga membuatnya lebih kuat dan mandiri. Jadi seperti yang diucapkan oleh Jongin : apalah arti sebuah cincin? Cincin bukanlah jaminan sebuah kebahagiaan. Dan Sehun akhirnya menyetujui perkataan Jongin.

Lamunan Sehun terputus saat Jongin duduk dan menarik tubuh Sehun ke pangkuannya. Mata Jongin mengunci mata Sehun. Entah siapa yang bergerak terlebih dahulu diantara mereka atau mereka bergerak secara bersamaan. Apapun yang terjadi, Jongin menangkup kepala Sehun untuk menahannya dan melumat mulut Sehun dalam sebuah ciuman penuh gairah yang membakar tubuh Sehun seperti api.

Lidah Jongin memasuki mulut Sehun yang terbuka dan mulai menggoda lidah Sehun agar saling melilit. Sehun meremas rambut Jongin untuk melampiaskan rasa nikmatnya.

" Jonginhhh... " Desah Sehun, menyandarkan diri pada tubuh Jongin.

Seulas senyum puas menggantikan ketegangan yang menghiasi mulut Jongin yang sensual. " Kita akan menikah lagi segera setelah semuanya dapat di atur. "

Karena masih diliputi gairah, Sehun menatap Jongin dengan bingung. " Maksudmu? "

" Kau bilang kau lebih bahagia kalau kita menikah, Sayang." Ucap Jongin sambil mengelus bibir bawah Sehun dengan lembut. " Karena aku ingin melihatmu bahagia, jadi kita akan menikah lagi. "

Sehun melepaskan diri dari pelukan Jongin. Ia tergoda untuk menampar pria itu tapi ia tidak yakin bisa berhenti dengan satu tamparan saja. Lamaran Jongin seakan menusuknya karena hal itu sangat merendahkan dan mempermalukan dirinya.

" Tapi tentu saja hal itu juga akan membuatku bahagia. Kebahagiaanmu kebahagiaanku juga. " Tambah Jongin kemudian.

" Kalau begitu sayang sekali, karena aku tidak ingin menikah denganmu lagi. Satu kali saja sudah cukup. " Tolak Sehun.

" Apa kau ingin aku berlutut di tempat umum untuk melamarmu? " Jongin bertanya dengan kasar. Sehun hampir saja mengiyakan hanya untuk melihat reaksi marah Jongin. Tapi ia tidak mau mempermalukan dirinya.

" Bagian mana dari kata 'tidak ' yang tak kau mengerti? "

" Kau membuatku gila, Hun. " Geram Jongin.

" Kuberitahu sesuatu... Aku cukup bahagia dengan status lajangku. " Sahut Sehun tenang.

" Benarkah? Sepertinya pagi tadi saat kau mengetahui perceraian kita, kau terlihat tidak bahagia. " Jongin menambahkan. " Jadi apa yang membuat sikapmu berubah? Apakah ada pria lain yang menarik perhatianmu? "

" Bukankah itu akan memudahkanmu untuk mengusirku dari kehidupanmu? " Mata Sehun berkilat karena amarah.

" Aku akan membunuh pria itu. Kalau ada pria lain yang menyentuhmu, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri !" Sumpah Jongin dengan marah. " Jangan pernah bermain main denganku, Hun. Aku sudah melamarmu lagi jadi kenapa kau tidak mau menikah denganku lagi? "

" Bukannya aku tidak mau menikah denganmu lagi. Hanya saja aku ingin menikah karena cinta. Kau tidak mencintaiku karena itulah aku tidak ingin menikah lagi
denganmu. " Sahut Sehun.

Mata Jongin menunjukkan rasa frustasi. Ia meraih kedua tangan Sehun untuk menahannya karena pria itu berusaha melepaskan diri. " Hunnie... "

Keheningan menyelimuti mereka. Sehun menunggu tapi Jongin sama sekali tidak mengatakan apa apa dan hal itu membuatnya marah.

" Tinggalkan aku sendiri !" Dorong Sehun.

Di tengah suasana tegang itu, seorang pria bersandar ke meja dan berkata pada Sehun. " Bolehkah aku membelikanmu minuman? "

Sehun menoleh kaget. Apa pria ini bodoh? Pikirnya. Apa pria ini tidak bisa melihat ia sedang bersama seseorang?

" Pria ini bersamaku !" Jongin berkata tajam.

" Aku melihatnya mendorongmu... Apakah pria ini menganggumu? " Pria asing itu membalikkan tubuh untuk bertanya pada Sehun.

" Jangan ikut campur !" Jongin memperingatkan pria itu dengan ketajaman mematikan yang membuat tengkuk Sehun merinding.

Sehun sadar situasi mulai memanas dan ia berdiri untuk pergi dan tidak menanggapi ajakan pria asing itu. Ia lalu beranjak ke ruang penyimpanan mantel untuk mengambil
mantelnya. Berharap hal itu akan memberi Jongin kesempatan untuk menenangkan diri.

Tapi ternyata, Jongin bergerak lebih cepat dari Sehun. Sebelum Sehun sempat melangkah keluar dari balik meja, Jongin telah memukul pria asing itu. Ia benar benar takut sekarang saat melihat Jongin memukuli pria asing itu dengan brutal.

Baekhyun yang mendengar suara ribut langsung berlari dan betapa terkejutnya ia saat mendapati Kakaknya yang mengagung agungkan sikap gentleman malah berkelahi di Club seperti ini. Ia mulai mendekati Sehun saat Polisi datang dan melerai perkelahian dengan membawa Jongin dan pria asing itu ke kantor Polisi.

" Kakakku tak akan pernah melupakan hal ini. " Baekhyun tertawa terbahak saat melihat ekspresi Jongin saat ia tertangkap.

Sehun menyalahkan dirinya sendiri. Jongin telah melamarnya dan harus ia akui itu lamaran yang diungkapkan dengan canggung, tapi tak ada orang yang
mengetahui sebaik dirinya bahwa Jongin tidak pandai dalam hal melamar. Jongin tidak menyangka Sehun akan menolak lamarannya. Jongin sangat percaya diri dan secara mental tidak siap menerima penolakan dari dirinya.

Emosi Jongin yang meledak tadi pasti karena Jongin sedang berada di bawah tekanan.

.

Kaihun

.

Karena tidak ada tuntutan yang dijatuhkan pada Jongin. akhirnya Jongin bebas pada pagi harinya. Para wartawan telah mengambil gambar Jongin saat ia meninggalkan Club malam tersebut dalam pengawalan Polisi dan gambar itu menjadi berita utama dalam kolom gosip dengan judul "Seorang KimJongin berkelahi mempertahankan mantan istri. "

Sehun mengangkat wajah dari majalah yang dibacanya saat mendengar suara pintu ruang tamu terbuka. Ia berharap Jonginlah yang datang tapi betapa terkejutnya ia saat
melihat kedatangan Kakaknya.

" Luhan? " Seru Sehun bingung.

" Apa kau masih marah padaku? Aku takut untuk meneleponmu terlebih dahulu. " Luhan memperlihatkan wajah gugup. " aku pikir kau pasti akan menolak bertemu
denganku karena aku sangat kasar terakhir kali kita berbicara. "

Sehun berdiri dan menyambut Luhan dengan senyum. " Aku tidak mungkin menolak bertemu dengan Kakakku sendiri. Walau bagaimanapun kau adalah Kakakku satu satunya. Dan kau sudah jauh jauh datang kemari untuk menemuiku. " Ia mengingatkan dengan perlahan. " Emm.. Bagaimana kau tahu aku ada di Roma? "

" Aku hanya menebak. Saat kudatangi rumah kalian di Seoul dan ternyata kalian tidak ada disana jadi aku berpikir Jongin pasti membawamu kemari. Karena Jongin menggelar pesta pertunangan kalian ditempat ini dan tempat ini pasti tempat yang nersejarah untuk hubungan kalian. Apa kau tidak ingat kalian bertunangan di tempat ini? " Tanya Luhan.

Sehun sudah melupakan hal itu dan mengingat betapa gugupnya serta canggungnya ia malam itu, ia tersenyum tulus. " Apa yang membuatmu datang kemari, Luhan? "
Sambil duduk, Luhan menurunkan pandangan matanya.

" Ada hal yang ingin kukatakan padamu. Seharusnya aku mengatakan hal ini bertahun tahun lalu, tapi aku tidak ingin menyakitimu. Tapi karena sekarang kau kembali bersama Jongin, aku merasa sudah tugasku untuk mengatakannya. "

Sehun merasa tegang saat mendengar perkataan Luhan. " Aku tidak mengerti dengan yang kaubicarakan, Lu? "

" Aku sangat terkejut mengetahui Jongin ditangkap karena kekerasan saat membaca di majalah tadi. " Ucap Luhan. Nada suaranya terdengar sedikit bahagia.

" Itu hanya kesalahpahaman... " Sehun menatap ke seberang ruangan karena ia melihat Jongin memasuki pintu ruang tamu dengan perlahan.

Jongin menyunggingkan seulas senyum yang menjungkir balikkan hati Sehun dan Jongin mengangkat satu jari telunjuknya ke mulut untuk memberitahu Sehun agar tidak menyebutkan keberadaan dirinya pada Luhan.

" Aku tidak terlalu yakin itu karena kesalahpahaman. Ia mungkin saja memukulmu kemudian... "

" Aku rasa Jongin tidak akan pernah memukulku. " Sehun memotong perkataan Luhan. Ia mengamati Jongin tiba tiba menghentikan langkah dan berbalik dengan cepat. Sehun tidak menyalahkan Jongin bila pria itu memilih tetap tinggal dan mendengarkan pembicaraannya dengan Kakaknya itu. " Kita tidak perlu membicarakan tentang hal itu, Luhan. "

" Kau tahu aku tidak suka pada Jongin. Apakah kau tak pernah merasa heran mengapa aku membencinya? " Luhan melanjutkan seakan Sehun tidak pernah berkata kata. " well, sebenarnya cukup sederhana. Beberapa bulan setelah kau menikah, Jongin berusaha mendekatiku. Ia merayuku. "

Sehun dapat merasakan wajahnya mengeras karena amarah dan ia tidak dapat menatap ke arah Jongin. " Kenapa kau menunggu sekian lama untuk memberitahukanku hal ini? "

" Karena menurutku tidak ada gunanya memberitahumu saat kau akan bercerai dengannya. Namun, kau kembali tinggal bersamanya sekarang. Jadi aku berinisiatif untuk memberitahumu sekarang. " Jelas Luhan.

" Berapa banyak uang yang kau harap dapatkan dari tuduhan palsu itu, Luhan? " Jongin bertanya dengan dingin.

Luhan kaget saat mendengar suara Jongin. Ia berdiri dengan cepat dan berbalik menghadap Jongin. " Apa maksudmu? "

" Kerakusan akan uang pasti ada hubungannya dengan cerita dramatis tersebut. " Tantang Jongin tenang. " Aku tidak bisa membiarkan kau mengatakan lebih banyak kebohongan kepada Sehun. Aku akan mengatakan kebenaran pada Sehun, hal sebenarnya yang telah kaulakukan... "

" Jangan pernah berani mengatakan kebohongan mengenai diriku pada Sehun !" Luhan mendesis marah.

Jongin memandang Luhan dengan ekspresi sinis. " Aku bisa membuktikan semua yang akan kukatakan mengenai dirimu. Jika aku selama ini memilih diam dan tidak membeberkan keburukanmu, itu hanya untuk melindungi Sehun. Tapi karena kau berusaha mengancam hubungan kami, aku tidak akan tinggal diam. Aku akan mengatakan semuanya tanpa ada yang kututup tutupi lagi. " Jongin berkata muram, ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah Sehun.

" Luhan sudah menghabiskan semua harta Ayah kalian. Ayahmu melunasi utang utang Kakakmu ini sampai ia meninggal. Dan saat mengetahui kau menikah denganku, ia mulai mendekatiku untuk uang. "

" Itu tidak benar. Kau berbohong, Jongin. " Sergah Luhan marah.

" Usahanya mengalami kebangkrutan dan ia butuh pinjaman, ia mulai merayuku. Dari awal aku sebenarnya tidak pernah mau memberikan pinjaman kepadanya tapi karena aku melihat dirinya sebagai Kakak yang kau sayang akhirnya aku memberikan pinjaman padanya. Tapi seperti yang sudah kuprediksikan, pinjaman yang kuberikan tidak pernah ia bayar tapi aku tidak berusaha untuk menagihnya dan aku menganggap pinjaman itu untuk membantu keluargamu. " Jelas Jongin.

" Ia bicara omong kosong, " Bantah Luhan. Ia menunjukkan sorot mata memohon pada Adiknya. " Kau tidak boleh memercayai satu katapun yang ia ucapkan, Hun. Ia berbohong. Kau harus lebih memercayai omonganku daripada omongan mantan suamimu itu. "

" Aku mengerti sekarang mengapa kau sangat bertekad memisahkan aku dan Jongin. " Dengus Sehun pelan, ia sangat kecewa mendapati Kakaknya menipu dan berbohong semata untuk memperkaya diri sendiri menggunakan dirinya. " Kalau aku berbaikkan dengan Jongin, kecil kemungkinannya kau akan mendapatkan lebih banyak uang dari Jongin. Karena kau tahu, suatu saat Jongin akan memberitahukan yang sebenarnya padaku dan kau takut kau tidak bisa lagi mengancam Jongin. Karena kalau aku tahu, aku pasti akan melarang Jongin untuk meminjamkan uang padamu. "

" Mengapa kau tidak mendengarkan cerita ini dari sisiku, Hun? " Luhan berteriak pada Sehun, ia tidak percaya Adiknya itu lebih memercayai perkataan Jongin. " Mengapa kau tidak percaya padaku? "

Sehun mengernyit. " Bukannya aku tidak mau percaya padamu, Luhan. Tapi kau sudah terlalu sering membohongiku jadi aku agak sulit untuk memercayai
perkataanmu kali ini. " Jawabnya enggan. " Jongin, sebaliknya, ia mengatakan yang sebenarnya dan membuka kedokmu dan ia juga tidak pernah membohongiku.
Kejadian dulu hanyalah salah paham saja karena lebih memercayainya. "

" Kau memang pantas mendapatkan pria brengsek seperti dia !" Luhan berseru marah dan menghambur keluar dari ruangan dengan perasaan kesal.

" Ya, kupikir aku memang pantas mendapatkannya. " Sehun menyetujui dan akhirnya memberanikan diri memandang Jongin.

Jongin tampak terkejut dan terpaku di tempatnya berdiri.

" Beri aku lima menit. " Ucap Sehun pada Jongin, setelahnya ia bergegas keluar untuk menghampiri Luhan.

Sehun melihat Kakaknya itu berdiri di tengah ruangan, Luhan berusaha menahan air matanya. " Tinggallah disini malam ini. " Ucap Sehun lembut sambil menghampiri Luhan. " Aku tidak ingin kau pergi dalam keadaan seperti ini. "

" Aku tidak tahan kau terus bersikap baik padaku setelah apa yang kulakukan padamu..." Luhan mendesah. " ...seharusnya kau membenciku. "

" Kau adalah Kakakku bagaimana bisa aku membencimu. " Sahut Sehun tersenyum lembut.

Tapi karena Luhan tidak siap menghadapi kemungkinan bertemu dengan Jongin lagi, ia tetap bersikeras pergi. Ia berencana langsung pergi ke bandara. Tapi sebelum Luhan pergi, Sehun sudah membuatnya berjanji agar tetap saling menghubungi satu sama lain.

Jongin mengamati Sehun berjalan kembali ke dalam ruangan dan menghembuskan napas perlahan. " Kau mengagumkan, Sayang. Kau tetap memperlakukan Luhan dengan baik dan aku sempat takut tadi kau akan memercayai semua perkataannya. "

" Aku sudah curiga dari awal saat ia datang kemari. Ia tidak mungkin datang menemuiku jauh jauh kesini hanya karena dia merindukanku, tindakannya itu pasti
mengandung sesuatu dan ia cukup bertingkah aneh, menurutku. " Sehun meringis. " Kau seharusnya memberitahuku mengenai pinjaman yang kau berikan kepadanya. Akan lebih baik bila Luhan dipaksa bertanggung jawab karena gagal mengembalikan uang pinjamannya tersebut. Aku tidak ingin melihatnya menenggelamkan diri dalam lebih banyak utang. "

" Ia kecanduan menghabiskan uang yang tidak ia miliki. Ia butuh bantuan profesional untuk menolongnya. Tapi, haruskah kita membahas masalah Kakakmu itu, sekarang? " Tanya Jongin.

Sehun merona merah. " Tidak... "

" Bisakah kau memaafkan tingkah lakuku semalam? Saat di Club? " Tanya Jongin.

" Ternyata di balik setelan Armani itu kau juga manusia seperti kebanyakan orang yang tidak bisa menahan emosi. kukira kau adalah orang yang tidak akan berkelakuan
barbar tapi ternyata aku salah. " Goda Sehun.

Rona malu mewarnai tulang pipi Jongin dan ia mengernyit." Saat kau berdiri, kupikir kau akan pergi dan minum dengan pria itu. Itulah sebabnya aku memukul pria itu. "

" Aku berdiri untuk mengambil mantel, bukan untuk menerima ajakan pria asing itu. " Bantah Sehun.

" Saat kau mengatakan tidak mau menikah denganku, rasanya seolah atap runtuh menimpaku. Aku cemburu... "

Sehun mengamati wajah Jongin dengan mata terpesona. " Mengapa kau mengatakan semua ini padaku? "

" Aku... " Jongin memantapkan hatinya. " ... Aku tidak ingin kehilanganmu lagi, Hun. Makanya aku mengatakan semua ini. " Jongin mengakui dengan kasar.

" Kalau aku meninggalkanmu, apakah hal itu berpengaruh besar padamu? " Tanya Sehun. Ia ingin memastikan perasaan Jongin terhadapnya.

Jongin menyunggingkan senyum miris. " Bagaimana kau bisa mempertanyakan hal seperti itu padaku? Tentu saja, hal itu akan sangat berpengaruh besar padaku. Kau satu satunya orang yang sangat kusayangi dan kucintai. Well, sebenarnya bukan satu satunya, kau harus rela berbagi cinta dan kasih sayangku pada Taeoh, Putra kita. " Ia
tersenyum saat mengingat Putra satu satunya itu.

" Mungkin kau berpikir aku punya cara aneh untuk menunjukkannya,tapi itu bentuk pertahanan diriku... Aku tidak sadar betapa berartinya dirimu bagiku sampai kau meninggalkanku dua tahun lalu. "

Sehun terdiam, ia mencerna semua perkataan Jongin di otaknya. " Bagaimana perasaanmu saat kutinggalkan? "Akhirnya ia mengucapkan pertanyaan yang selama ini sudah ia pendam.

" Seperti mati selama berbulan bulan lamanya, Sayang. " Jongin mengusapkan tangannya yang sedikit gemetar ke rambut hitamnya yang terpotong rapi, matanya menatap ke arah Sehun. " Butuh satu tahun lamanya sebelum ada pria lain dan aku harus berpura pura pria itu adalah kau... Walau bagaimanapun juga aku tidak pernah bisa lepas dari dirimu, Hun. "

Pengakuan yang diucapkan dengan marah dan wajah muram itu membuat Sehun mengernyitkan hidung untuk menahan tangis yang hampir keluar. " Jadi, mengapa kau tidak datang menemuiku? "

" Well, apa yang kau ucapkan mengenai harga diriku itu benar adanya. Aku pikir kau pasti akan kembali padaku tapi setelah dua tahun dan kau tidak kembali padaku
membuatku melemah. Hal bodoh ini kulakukan hanya karena harga diriku yang terlalu tinggi. Aku bahkan tak sanggup mengakui kesengsaraanku pada diriku sendiri. "

" Kukira hanya aku yang merasa sengsara karena kehancuran pernikahan kita. " Ucap Sehun dengan suara tercekik.

" Jadi saat kau datang ke kantorku, aku serasa ditarik ke lusinan arah yang berlawanan. Aku menginginkanmu, tapi aku juga tidak menginginkanmu. Aku... Aku takut terluka lagi. " Jongin mengakui dengan sulit. " saat aku menerimamu kembali sebenarnya rencana awalku adalah menghukummu karena kau sudah meninggalkanku tapi dengan seiringnya waktu ternyata itu bukanlah hal yang sebenarnya ingin kulakukan... "

" Itu bukan hal yang ingin kau lakukan sebenarnya? " Sehun merasa bingung dengan penjelasan Jongin.

" Aku membiarkan perceraian kita tetap berlangsung karena aku harus membuktikan bahwa kau akan tinggal bersamaku bahkan ketika kita tidak menikah. Aku menguji dirimu seperti anak kecil yang bodoh... Aku ingin kau membuktikan bahwa kau benar benar mencintaiku walau dalam kondisi apapun. "

Mata Sehun basah oleh air mata. " Aku juga ingin kau membuktikan hal yang sama... Bahwa kau juga benar benar mencintaiku. "

Mata Jongin menatap Sehun. " Aku tidak tahu bagaimana caranya membuktikan cintaku padamu. "

Sehun berpikir mengenai perkelahian yang dimulai Jongin di Club malam sebelumnya. Jongin melakukan itu karena ia berusaha menutupi ketakutan dirinya karena ditolak olehnya. Sehun juga memikirkan gaya sok berani Jongin yang sering kali digunakan untuk menyembunyikan ketidakpastiannya. Dan yang terakhir, Sehun berpikir mengenai bagaimana Jongin menanggalkan sifat dingin pria itu dan memaksa diri untuk berbicara padanya karena takut kehilangan dirinya lagi.

Karena kebahagiaan yang membuncah, Sehun menjatuhkan diri ke pelukan Jongin dan memeluk pria itu erat. " Caranya sangat mudah. Cukup katakan padaku bahwa kau mencintaiku dan aku akan memercayaimu. "

" Aku mencintaimu, Sayang, melebihi apapun didunia ini. " Bisik Jongin.

Lingkaran kebahagiaan memenuhi diri Sehun. " Aku juga mencintaimu, Kim Jongin. Jadi maukah kau menikah denganku? "

Jongin menegang. " Seharusnya itu perkataanku. "

Sehun mengerucutkan bibirnya. " Tapi lamaranmu itu kau ucapkan tanpa semangat, jadi kupikir akan lebih mudah kalau aku yang melakukannya. Jadi, kau mau atau tidak menikah denganku? "

Jongin tertawa dan mengecup dahi Sehun. " Aku bersedia. "

" Oke... Sekarang ada beberapa persyaratan yang harus kau penuhi. " Sehun menambahkan.

" Persyaratan? " Tanya Jongin bingung.

" Bukan sesuatu yang berat... Aku hanya ingin kau mengurangi jam kerjamu dan memperbanyak waktu untukku dan Taeoh, sedikit perjalanan bisnis keluar negeri, dua anak tambahan... "

" Seks yang amat banyak. " Potong Jongin semangat. " Emm, sepertinya aku menyukai syarat ini. Tapi, aku juga mempunyai satu persyaratan. "

" Baiklah, apa persyaratanmu? " Tanya Sehun.

" Kau tidak boleh melepas cincin kawinmu lagi. Hanya itu syaratku. Jadi, kapan kita akan menikah? "

" Secepat yang kusuka, " Ucap Sehun bahagia, ia yakin bahwa kali ini mereka akan melakukan semuanya dengan benar.

.

Kaihun

.

Jongin dan Sehun menikah lagi dalam pesta pernikahan sederhana di London dengan Baekhyun dan Chanyeol yang sudah terlebih dahulu menikah bertindak sebagai saksi mereka.

Setelah acara pernikahan mereka selesai, Jongin membawa Sehun berbulan madu ke seluruh dunia. Dan Taeoh yang sudah cukup besar mereka titipkan pada Baekhyun dan Chanyeol.

Walaupun penuh dengan perjuangan akhirnya mereka berhasil melepaskan Taeoh dari tubuh Sehun karena Taeoh menolak pergi meninggalkan Mamanya. Taeoh yang marah karena ditinggal pergi menolak untuk melambaikan tangan saat kedua orangtuanya pergi untuk berbulan madu.

" Jongin, tidak bisakah kita membawa Taeoh ikut dengan kita? Aku takut dia akan membuat repot Baekhyun dan Chanyeol. " Ucap Sehun sambil memandang Jongin yang sedang berada dibalik kemudi.

Jongin berdecak. " Apalah artinya kita berbulan madu kalau Taeoh ikut dengan kita. Aku yakin perhatianmu akan terbagi. Bukankah kau sudah mengajukan syarat padaku, Kalau kau menginginkan anak lagi. Kalau Taeoh ikut bagaimana kita bisa bercinta? Aku sudah menyiapkan berbagai rencana dan tempat agar kita bisa menikmati
waktu berdua kita, Sayang. Bukannya aku tidak ingin mengajak Taeoh tapi ada saatnya kita memerlukan waktu berdua. " Jelasnya panjang lebar.

END

.

OMAKE

.

Dua Tahun kemudian

.

Sehun telah melahirkan bayi perempuan yang sangat manis dan diberi nama Kim Rahee. Sehun tersenyum melihat Jongin dengan penuh kasih sayang menggendong Rahee dan Taeoh menatap Adik perempuannya dengan tatapan kagum.

" Papa, benalkah dia Adik Taeoh? Apa Lahee itu Adik yang tadinya belada didalam pelut Mama? " Taeoh mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Rahee. " Adik Taeoh benal benal lembut. "

Jongin tertawa melihat sikap Putranya itu. " Iya, ini Adik Taeoh. Sekarang dia tidak tinggal didalam perut Mama lagi. Sebagai Kakak, Taeoh harus bisa menjaga Rahee, ya. "

Taeoh menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat." Tenang, Papa. Kalau ada yang menganggu dan menyakiti Lahee. Taeoh akan membalath meleka. Kalena Taeoh theolang ilon man. " Ucapnya sambil bergaya seperti Iron Man.

" Taeoh memang anak Papa yang sangat pintar dan hebat." Jongin mencium pipi Taeoh dengan lembut.

Jongin dan Taeoh terus menatap wajah tidur Rahee. Beberapa saat kemudian, karena bosan akhirnya Taeoh beranjak dari samping Papanya dan berjalan ke arah
Sehun yang berbaring di ranjang sambil tersenyum.

" Mama, " Panggil Taeoh.

Sehun mengulurkan tangannya dan digenggam oleh Taeoh.

" Apa tubuh Mama mathih thakit? " Tanya Taeoh khawatir." Kudengal dali Paman Baekhyun katanya mengelualkan Adik itu thakit? " Taeoh menepuk nepuk pipi Sehun sebelum mencium pipi mamanya dengan lembut.

" Oh, ya, Ma. Taeoh beltanya tanya, memangnya Adik Lahee kelual dalimana? Kenapa bitha thakit? Apa Lahee menyakiti Mama? " Tanyanya sambil membuka buka baju Sehun, ingin mencari tahu keluar darimana Adik tersayangnya.

" Tadinya sakit tapi setelah mendapat ciuman dari Taeoh tersayang, Mama tidak merasa sakit lagi. " Sahut Sehun. " Rahee keluar dari sini, Sayang. " Sehun menunjuk perutnya.

" Emm, Lahee kelual dalithana, ya. Belalti pelut Mama thedang thakit? Kalau Taeoh tidul di thamping Mama, Taeoh tidak akan membuat pelut Mama tambah thakit, kan? " Tanpa menunggu jawaban Sehun, Taeoh merangkaka naik lalu dengan hati hati merebahkan tubuhnya di samping tubuh Sehun.

" Kau lelah, Sayang. Kalau begitu tidurlah. " Sehun mengecup kening Taeoh tangannya menepuk lembut pantat Taeoh.

Beberapa saat kemudian terdengar bunyi dengkur halus dari Taeoh. Jongin beranjak dari duduknya dan berjalan menuju Sehun. Ia mengecup dahi Sehun dengan lembut.

" Terima kasih, Sayang, karena sudah memberikanku dua malaikat." Ucap Jongin. " Tidak apa apakah, Taeoh, tidur disampingmu, Sayang. Aku takut kaki Taeoh akan mengenai perutmu. Jahitan perutmu belum keringkan? "

Sehun memberikan senyum manisnya sebelum menjawab pertanyaan Suaminya. " Tidak apa apa, Tuan Kim. Lagipula aku kangen sekali dengan Taeoh, jadi biarkan saja ia tidur disampingku. "

" Baiklah, itu terserahmu, Sayang. " Sahut Jongin sambil mengecup dahi Sehun dengan lembut. " Aku akan mengantar Rahee ke ruang anak, sepertinya ia sudah sangat mengantuk. "

Jongin kemudian beranjak kekamar anak untuk menidurkan Putrinya di ruang anak.

.

Kaihun

.

Tiga bulan setelah kelahiran Rahee, Sehun bertambah cinta pada Jongin, lebih besar daripada yang pernah dirasakannya.

Jongin datang ke kamar anak saat Sehun menidurkan Rahee diranjangnya. Putri mereka melihat ke arah mereka dengan mata cokelatnya yang tampak mengantuk dan menguap. Sedangkan Taeoh, karena sekarang hari harinya dipenuhi dengan aktivitas yang melelahkan, ia pun sudah tertidur dengan pulas.

Jongin tersenyum kecil. " Mereka sangat tenang pada saat seperti ini. "

" Tempat ini ajaib. " Sehun menyatakan pendapatnya, ia merasa senang tinggal dengan kedamaian yang mereka dapatkan di rumah pedesaan mereka.

Jongin membiarkan jari jarinya yang panjang menelusuri rambut Sehun, telapak tangannya membingkai tulang rahang Sehun yang mempesona. Sorot matanya berkilat memandang Sehun dengan penuh cinta. " Kau adalah kehidupan kami, Sayang. Tanpamu kehidupanku, Taeoh dan Rahee tidak akan pernah lengkap. "

Bersandar pada tubuh Jongin yang gagah, Sehun membiarkan bibirnya yang lembut membuka di bawah serangan gencar mulut lapar Jongin. Ia merasa sangat
bahagia dan dicintai. Rumah adalah berada dalam pelukan Jongin yang aman, menurutnya.

.

.

.

.

.

.

Kali ini bener bener endang.

Anyeonngggggggg

Ada yang kangen? Pasti gak ada yaa hehehe

Maaf telat update buat FF ini, makasih banyak buat yang udah setia nungguin.

Well, ini chapter terakhir. Maaf kalo endingnya biasa aza, aku lagi gak ada ide buat nambahin alurnya. Ini juga aku cuma nambahin dikit kalo ngikutin novelnya mah endingnya cuma mpe mereka mau pergi bulan madu karena terlalu biasa jadi aku nambahin omake buat kalian.

Makasih banyak buat yang setia review di setiap chapter, aku emang gak bales review kalian satu satu tapi aku membaca dan begitu menghargai review yang kalian berikan. makasih juga yg udah kasih saran atopun kritik. Gak ada yang marahkan kalo aku minta review yang banyak di chapter ending ini?

Ada sih niat mau remake novel lagi tapi kayaknya kalian bosan yaa kalo aku yang remake karena selalu minta dihargain sama review hehehe. Ntar kalo utang FF yg lain udah lunas mungkin aku bakalan remake lagi. Kali aza kalian ada saran novel yang bagus buat di remake inbox aza aku.

Sekali lagi terima kasih sebanyak banyaknya buat yang selalu setia review. Dan selalu setia sama KAIHUN yaaaa jangan berpaling ke yang lain.

LOVE U ALL

SALAM CINTA DAMAI KAIHUN HARDSHIPPER

JUJU JONGODULT