Sebelumnya di Tai's Holiday:

WarGreymon yang tengah kritis dan sekarat adalah buah akhir dari peperangan awal melawan para pendosa terbesar, Phantom Lords. Secepat mereka datang, secepat itu pula mereka pergi.

"Tolong! Tolong...!"

"Pasti. Itu pasti, pemuda. Tapi semua hal di atas dunia ini mutlak memiliki bayaran yang setimpal. Dia dan kau harus mau tak mau menerima kompensasinya: Agumon tak kan dapat berubah wujud menjadi WarGreymon kembali – begitupula menjadi MetalGreymon." Azulongmon merasa prihatin. Dia berharap banyak pada Tai dan WarGreymon, tapi hal ini terjadi. Dia terlambat beberapa detik untuk mencegah runtuhnya harapan perubahan ini. WarGreymon lah penentu hancurnya para pendosa tersebut. WarGreymon lah yang akan menghancur binasakan Ogudomon nanti. Ramalan Sovereign Ebonwumon tak pernah meleset. Dia- Azulongmon, Zhuqiamon, dan Baihumon mempercayai Digimon tortois raksasa itu sepenuh hati. Tapi, apa kuasa mereka—para Sovereign. Mereka bukan tuhan. Mereka bukan dewa. Yang bisa mereka lakukan hanyalah membangkitkan kembali nyawa Agumon yang semakin melemah ini, terpaksa dengan cara mengorbankan tingkatan evolusinya.

Tai's Holiday

Chapter 9: A Guest from Another Dimension

Serangan maut para Phantom Lords yang diawali dengan turunnya Lilithmon dan Leviamon menimbulkan kerugian yang sangat besar pada pemerintah Jepang. Jalan-jalanan yang hancur, taman besar sekaligus hutan Odaiba yang rusak parah, juga bangunan-bangunan rubuh yang hanya menyisakan puing-puing kini telah mulai di rehab ulang.

Syukurnya tak ada korban jiwa dalam penyerangan Digimon di dunia manusia kali ini.

Pihak militer Jepang sempat mengirimkan bala bantuan pesawat tempur, dan telah menurunkan satuan alat perang berat, seperti tank baja dan panzer berkekuatan tinggi. Tapi semuanya terlambat. Para 'penyerang' sudah lebih cepat menghilang dari tempat kejadian. Begitupula anak-anak terpilih yang berusaha menghalau para Phantom Lords tersebut.

Ini sudah masuk hari ke-lima setelah penyerangan malam itu. Walaupun masih belum diketahui apa motif dibalik penyerangan tersebut, tapi Phantom Lords pasti akan kembali dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya dan mereka tidak akan segan-segan.

Ini bukan mimpi, kalau memang ini mimpi, tolong bangunkan aku. Kami semua benar-benar kelelahan berat. Tapi yang paling membuatku iba adalah kondisi kakak saat itu. Kak Tai sepertinya benar-benar mengalami syok berat saat mendapati Agumon tengah sekarat. Tapi untunglah, Azulongmon dan teman-teman Sovereign-nya berhasil mengembalikan Agumon ke kondisi semula. Walaupun dengan bayaran yang setimpal...

-o0o-

"Kakak, mau kemana?"

"Oh, Kari! Ini, bunda minta aku belanja ke supermarket yang masih buka." syukurlah kakak sudah kembali cerah seperti biasa, pikir Kari. Aku tidak bisa membayangkan kalau kakak menjadi seperti kemarin lagi.

"Mm... kakak, coba ke dekat rumahnya kak Kou. Kemarin sore aku belanja disana, dan mereka masih buka walaupun ada beberapa bangunannya yang retak..." sambil mengangkat bahu dan tersenyum kecil, Kari memberi saran pada kakaknya.

"Oh ya? Baiklah aku akan kesana sekarang. Thanks Kari!" mengayunkan tangannya, Tai segera berlari keluar gerbang rumah bersama Agumon yang juga sudah kembali sehat. Seperti tidak terjadi apa-apa saja kemarin itu, pikir Kari.

"Huh, dasar kakak. Mentang-mentang sudah setahun tinggal di Inggris, pake bahasa inggris segala ngomongnya," lanjut si adik yang melihat kakaknya berlari riang bersama Digimonnya.

Seraya membalikkan badan, Kari memandangi setiap sudut rumahnya. "Fyuuh, untungnya rumah kami tidak terkena dampak serangan. Syukurnya lagi, rumah kak Mimi juga tidak apa-apa..."

Kembali menyunggingkan senyuman lega, Kari berjalan menghampiri ibundanya di dapur.

XXX

Tai dan Agumon berjalan di susunan komplek Odaiba. Cuaca hari ini cerah, dan waktu saat ini menunjukkan pukul setengah empat. Di supermarket, bahan sayur-sayuran pasti belum habis, pikir Tai.

Mood-nya sudah kembali ke semula lagi, walaupun masih ada beberapa masalah yang belum terseleaikan. Dia dan Matt sudah kembali bersahabat layaknya dulu. Phantom Lords sudah berhasil dihalau sementara waktu, dan Tai juga tidak menyesali papan skate-nya yang menghilang entah dimana. Namun, ada satu kejanggalan lain dihatinya: Sora.

Dia tidak sempat meminta maaf pada gadis berambut oranye itu. Setiap kali Tai mengirimkan sebuah pesan singkat melalui selpon-nya, tak kunjung datang pesan balasan dari gadis yang dimaksud selama berhari-hari tersebut.

Apakah pesanku tidak sampai padanya?, batinnya pertama kali. Lalu Tai mencoba mengirimkan pesan asal-asalan pada nomor ponsel si adik. Tidak lama, Kari masuk ke kamar kakaknya dan bertanya, "Kenapa harus make sms 'sih, minta ambilin air minum saja?".

Tai mulai gundah. Apa Sora memilih untuk tidak membalas pesan-pesannya? Dia semakin merasa bersalah pada gadis itu. Apa yang harus kulakukan, tanyanya dalam hati.

"...ai...Tai...! Bumi kepada Tai! Bumi kepada Tai! Ganti!"

"Ha? Ah, ooh, a-aku melamun ya...Agumon?"

Agumon membalas anggukan balik. "Ada masalah, Tai?"

"Hmm...tidak, tidak ada apa-apa kok, sobat..."

Belanjanya tidak lama. Tai hanya memilih beberapa sayuran dan juga beberapa pon ikan tuna untuk dibuat sushi malam ini. Melewati rumah Koushiro, Tai berhenti sejenak. Dia berpikir, apa tidak apa-apa meminta bantuan Izzy sekarang. Namun Tai mengurunkan niatnya, dan terus melanjutkan jalannya menuju rumah. Tidak bisa, aku tidak bisa membawa-bawa Izzy ke dalam masalah pribadiku, pikirnya sambil menghela napas panjang.

"Ayo, Agumon, kita segera pulang!" Tai mengayunkan tangannya dengan semangat, berusaha mengalihkan perasaan bersalahnya saat ini.

Digimon dinosaurus yang sangat setia pada Tai tersebut mengikuti pemiliknya berlari. Namun Agumon berhenti tiba-tiba sambil menatapi langit sore hari yang semakin menggelap di atasnya.

"Hei, Agumon?" Tai memutar tubuhnya menghadap si Digimon.

"Tai, ada sesuatu...di atasmu,"

"...?" Tai menatap atasnya pula. Tapi, dia tidak menemukan apa-apa, kecuali langit jingga memudar menghiasi awan sore yang berarak.

Tanpa diduga-duga oleh mereka, terdengar teriakan seorang wanita dari tempat yang tidak mereka ketahui keberadaannya. "Kyaaaa—!" suara itu kedengarannya semakin mendekat ke arah Tai berdiri.

"Suara siapa itu...?" masih penasaran setengah mati, Tai menengadahkan kepala dan menatap kesekelilingnya. Ada suara, akan tetapi tak ada satupun orang disekitar mereka.

"Tai, di atasmu!"

Sebuah pusaran bermuatan listrik tiba-tiba terbuka di atas Tai, membentuk lingkaran berdiameter kurang lebih 5 meter. Dari dalamnya, seorang gadis berambut maroon se-leher terjun bebas ke atas tubuh Tai-yang-walau-kaget sudah merentangkan tangan guna menahan gadis tersebut terjatuh ke tanah. "Wa- wa- wa-!" Tai yang kepanikan akhirnya ikut terjatuh juga ke tanah.

"A-aduduh..." rengek si gadis sambil mengelus-elus kepalanya. "...Eh! Lalamon, Lalamon! Kau dimana?" Menegakkan tubuhnya di atas badan Tai, gadis itu duduk diatas tanah, nampak semakin cemas.

"Yoshino, aku disini!" sesosok Digimon berbentuk benih tumbuhan melambaikan tangan (?) kanannya dari sebelah Agumon.

Gadis tersebut menarik napas lega, dan mengelus-elus dadanya. "Syukurlah..."

"Err, Yoshino..." Lalamon ragu-ragu menunjukkan tangannya ke arah pemuda yang tengah terbaring telentang di atas tanah.

"Apa?"

"A-adduh..." sekarang terdengar suara rintihan Tai. "Apa tadi itu...?"

Tersentak mendengar suara pemuda tersebut, Yoshino dengan serta merta—walau panik segera membantunya duduk dengan benar.

Taichi bersila di depan si gadis dan menatap mata violet gelapnya. "Umm...kau tidak apa-apa?" tanyanya masih sambil mengelus belakang kepalanya yang terasa cukup nyeri.

"Ya ampun, seharusnya aku yang bertanya padamu! K-kau tidak apa-apa? Ma-maaf, tadi aku tiba-tiba terjatuh begitu saja dan menimpamu. Err, itu... te-terima kasih, ta-tapi kau tidak apa-apa 'kan? Tadi keras sekali 'kan? Ma-maafkan saya!"

"Wo-wow, santai. Satu-satu saja, kepalaku masih sedikit pusing..." sambil berkeringat kecil dan cekikikan pelan, Tai menjulurkan tangan dan membantu si gadis berdiri. Setelah berdiri dengan sempurna, Tai melanjutkan kata-katanya. "Aku tidak apa-apa, tapi ngomong-ngomong..."

"Tunggu, kita simpan bincang-bincang tersebut untuk nanti, hati-hati!" Yoshino melirik ke arah pusaran arus listrik yang masih menganga di udara. Bola matanya tiba-tiba melebar, dan segera bersiaga. "A-awas!"

Yoshino melompat dan menyingkir dari ledakan bersama Tai dalam gepitan tubuhnya. Perlahan, Yoshino melepaskan gepitan tubuhnya terhadap si pemuda, dan lalu berdiri menatap ke arah kepulan asap trotoar.

"A-apa itu?" tanya Tai, yang juga sudah berdiri di samping Yoshino.

"Digimon. BK Digimon..."

"...? BK?" tanya Tai, sedikit bingung.

"Itu adalah kode untuk semua tipe Digimon yang mendapat pengaruh kegelapan dalam tingkat dan takaran yang tinggi. Mereka semua adalah Digimon yang tidak memiliki anti-virus yang cukup kuat. Saking kuatnya pengaruh kegelapan dalam bentuk virus tersebut, Digimon bertipe-Vacine pun bisa terinfeksi dengan mudah." Lalamon melayang ke samping partnernya dan menjelaskan hal yang mesti diketahui Tai saat ini.

Dari dalam kepulan asap, nampak tiga sosok Digimon yang nampak tidak asing lagi di mata Tai.

Pertama adalah sesosok Digimon seperti serigala berwarna hitam, dan juga burung api berwarna hitam yang baranya mengelilingi sekujur tubuh dengan penuh niat membunuh. Dan terakhir adalah sosok hitam dengan kulit seperti pedang di kedua sisi lengannya, berambut putih, dan berwujud dinosaurus yang tengah mengamuk.

Mata Tai menatap dengan sekasama untuk sejenak. "Ga-Garurumon! Birdramon juga! Dan..."

"BKGrowlmon," sahut Yoshino. "Dan mereka sama sekali bukanlah Digimon yang kau kira saat ini. BKGarurumon, BKGrowlmon, dan BKBirdramon, mereka bertiga adalah monster yang sebelum ini tengah kuhadapi."

"Oh, begitu...mereka tampak cukup kuat juga, ya...?" tanya Tai, menelan gumpalan di tenggorokannya.

"Jangan anggap mereka remeh. Digimon anda bisa bertarung?"

"Tentu saja! Agumon adalah petarung kebanggaanku, kau tahu?"

"Eh?" Yoshino terdiam sejenak. "A-Agumon?"

"Bahaya!" Tai menarik tubuh Yoshino sedikit ke belakang secara tiba-tiba. Dalam sekejap trotoar yang menerima serangan BKGrowlmon hancur berkeping-keping.

"Mereka pasti tidak bisa diajak bincang-bincang!"

"Mereka hanya bisa diubah menjadi Digi-Egg agar kembali tenang!" teriak balas Yoshino, sedang mencari posisi aman bersama Tai yang juga berlari di sebelahnya.

Tai menganggguk. "Kalau begitu akan kubantu! Agumon!"

"Baik, Tai!"

Tai menembakkan sinar berwarna jingga terang dari dalam Digivice-nya. Sinar tersebut menerangi tubuh Agumon dan merubah bentuk tubuhnya.

Sosok dinosaurus setinggi 10 meter berwarna oranye yang gagah lagi perkasa muncul di depan Tai dan Yoshino. Agumon telah selesai melalui Digivolution.

Berdiri dengan sempurna, Greymon menghembuskan napas uap dari dalam mulut karnivoranya. Helm bertanduk tiganya memberikan kesan yang sangat garang juga tak terkalahkan. "GREYMON!" raungannya menggema di langit sore hari.

"Woaah..." Yoshino begitu terpukau melihat Digimon tersebut. "Benar-benar mirip GeoGreymon..."

Di tengah keterpukauannya, Yoshino tidak sadar kalau BKGarurumon dan BKBirdramon sudah menerjang ke arahnya berdiri. Dengan cepat, Tai memberi perintah pada Greymon untuk menahan serangan dua Digimon virus tersebut.

Tangan kanan Greymon menahan kepala BKGarurumon dibawah, sementara tangan kirinya mencakau leher BKBirdramon. Begitu tertahan dengan sempurna, digimon dinosaurus milik Tai itu melempar dua lawannya ke udara.

"Lalamon kita juga!"

"Baik, Yoshino!"

Greymon melompat ke udara, dan menyabetkan tanduk solid topengnya ke tubuh Birdramon. Tidak sempat diberi napas luang, Greymon melanjutkan seri serangannya kepada BKGarurumon dengan mengayunkan ekor kuatnya ke badan Digimon serigala hitam itu.

Dua mangsa Greymon lenyap bersamaan—BKBirdramon terbelah di udara, sementara BKGarurumon menghantam bumi dulu sebelum berubah menjadi Digi-Egg berwarna putih bercorak biru.

Begitu mendarat di trotoar, Greymon langsung bersiaga kembali pada kuda-kudanya. Sambil berlari dengan gencar, BKGrowlomon menyerang Greymon dengar Spit Fire bertubi-tubi. Tapi, tanpa kesulitan yang berarti, Greymon berhasil menghindari tiga serangan tersebut. Tidak memberi jeda, BKGrowlmon mengumpulkan energi kilatan dan menyerang menggunakan Plasma Blade berbalut listrik di lengannya.

Melihat situasi semakin memanas, Tai memberi komando dari belakang dengan segera. "Greymon, balas dengan tandukmu!"

"Baik, Tai! GREAT ANTLER!" tanpa ragu, Greymon melancarkan serangan dengan tanduknya yang bersinar.

Begitu serangan mereka beradu satu sama lain, tercipta ledakan angin yang sangat dahsyat.

"Ukh, luar biasa! Dia sudah sangat terbiasa bertarung bersama Agumonnya!"

"Yoshino!" pekik Digimon tumbuhan miliknya.

"Ya, ayo berubah Lalamon!"

Greymon dan BKGrowlmon terlempar kearah yang berlawanan secara bersamaan. Tapi, Greymon masih berada di atas angin. Walau sudah susah payah berdiri, BKGrowlmon masih memaksakan diri untuk membuka mulutnya lebar-lebar, dan mengumpulkan energi api berwarna hitam.

"Black Exhaust Flame!"

"Nova Blast!" Membalas api tersebut, Greymon mengeluarkan napas api raksasa dari mulutnya, dan mendorong mundur api hitam lawan sekaligus memusnahkan Digimon BK tersebut.

Tepat saat Lalamon menyelesaikan evolusinya menjadi Sunflowmon, pertarungan telah usai—membuat gadis berambut merah muda gelap dan Digimon miliknya itu terbelakak.

"Su-sudah...?" tanya Yoshino terheran-heran.

"Yup. Itu mudah." Balas Tai dengan riang. "Kami sudah sering menghadapi yang seperti itu sedari dulu, ya 'kan Greymon?"

"Tentu saja!" jawab Greymon.

Tai kembali mendongak keatas langit, dan melihat lingkaran aneh tersebut masih ada disana. "Mm...hei, ngomong-ngomong apa itu tidak membahayakan?"

Yoshino menjawab kecil. "Aku juga tidak tahu. Aku juga secara tidak sengaja memasukinya..."

"Loh, kok bisa...? Oh, iya, dimana sopan santunku. Namaku Taichi Yagami. Kau boleh memanggilku Tai. Dan ini Agumon. Kami sudah bersahabat sangat lama." papar Tai pada gadis di depannya.

"Namaku Yoshino Fujieda. Panggil Yoshi saja, lebih singkat… dan ini Lalamon, partnerku. Kami dari DATS." Jelas Yoshi, sambil membalas jabat tangan Tai.

"DATS?" lanjut Tai dan Greymon bertanya-tanya.

Belum sempat menjawab, terdengar suara yang lebih ribut dari sebelumnya. Asal suara itu kembali datang dari lubang aneh di udara. Keadaan juga semakin membahayakan karena ribut-ribut barusan menarik perhatian penduduk di sekitar.

"Tu-tunggu! Ka-kalian jangan mendekat kesini dulu!" sorak Tai pada orang-orang di sekitarnya.

"Taichi, awas!"

Mendapat alarm dari Yoshino, Tai melompat menjauh dari tempatnya berdiri. Getaran tanah yang baru saja terjadi membuat orang-orang kehilangan keseimbangan, begitupula dengan Tai dan Yoshi.

"Grroooooooarrrrrr!" raungan amarah seketika menyatu dengan udara petang Odaiba.

"BlackMetalGreymon...!" Yoshino mendapati tubuhnya gemetar melihat makhluk kolosal tersebut—yang hampir dua kali besarnya dari Greymon.

Tai pun sedikit gentar melihat wujud yang hampir mirip dengan perubahan Greymon tersebut. Tapi, dibandingkan Digimonnya, lawan mereka tersebut berkulit ungu dan bermata merah darah, seolah tengah dikendalikan atau sedang marah besar.

"Semuanya, lari sejauh mungkin! Tinggalkan tempat ini untuk sementara!" Tai kembali berteriak. "Yoshino, ayo! Kita harus memancingnya menjauh dari kota!"

Tai dan Yoshi berlari kearah sungai besar Odaiba. Disana biasanya sudah sepi petang hari seperti ini. Mereka menuruni dakian berumput dan kini sudah berada tepat di tepi sungai.

"Greymon, bersiap!" perintah Tai.

"Baik!"

"Sunflowmon, lawan kita level Ultimate, Digivolve menjadi Lilamon!"

Mendengar komando dari Yoshi, Digimonnya mengangguk setuju. Yoshi mengaktifkan Digivice-nya, dan melakukan Data-scanning melalui telapak tangannya. "Digi-Soul, Charge! Digivolution!"

"Lilamon!"

Wujud Sunflowmon berubah menjadi sosok yang amat manis dan dikelilingi oleh bunga lili yang sangat cantik. Matanya yang berwarna hitam kehijauan memancarkan pesona keindahan alam. Begitupula tubuhnya yang menebarkan keharuman ke sekitarnya.

"Tai, tolong cover Lilamon dari depan. Kami akan mengusahakan sesuatu di belakang!"

Pemuda itu mengangguk. "Greymon!"

"Aku mengerti, Tai!

Greymon berlari menerjang monster raksasa berwarna gelap itu. BKMetalGreymon mengayunkan tangan androidnya ke arah Greymon. Menyadari serangan tersebut, Greymon merunduk dan memasukkan satu serangan tanduk kuatnya ke arah dada robot lawannya. BKMetalGreymon sedikit terdorong, tapi masih bisa mempertahankan keseimbangannya. Dia lalu menggenggam bahu Greymon dengan satu tangannya yang masih terbebas. BKMetalGreymon mengangkat dan melempar tubuh Greymon dengan mudah ke arah sungai. Digimon milik Tai itu mendarat dengan sangat tidak mulus di air sungai, sedikit merintih.

"Greymon!" teriak Tai, berlari ke arah Greymon.

"Tunggu! awas Tai!" susul teriak Yoshi.

Sesosok bayangan besar melintas di atas Tai menampilkan wujud gelap MetalGreymon yang melayang, sebelum mendarat di atas Greymon. Tai terhempas menjauh oleh ledakan gelombang angin kaki kolosal BKMetalGreyman.

Digimon gelap itu melayangkan cakar-cakar tajam tangan kirinya yang masih utuh tanpa modifikasi mesin sama sekali ke arah Greymon. Serangan pertama berhasil masuk dengan telak ke topeng Greymon, namun tidak untuk yang kedua kalinya. "...Kh, jangan meremehkanku, tukang tiru!" hardik Greymon. Dia lalu menyundulkan tanduk tunggalnya ke kepala BKMetalGreymon—membuatnya hilang kendali. Kaki kanannya masuk, dan menendang perut lawannya melayang mundur.

"Yes! itu baru Greymon!" sorak Tai, menjentikkan jarinya.

Greymon berdiri dengan susah payah di tengah arus sungai. "Jangan mentang-mentang topengmu terbuat dari besi, kau boleh meremehkan tanduk perunggu-ku!" sorak Greymon, mengeluarkan uap dari dalam mulut karnivoranya.

"Eh, aku baru tahu itu terbuat dari perunggu, Greymon..." potong Tai, dengan wajah melongo.

"...Eh, memang dari perunggu, 'kok... mungkin... begitulah... hehe," balas si digimon, menggaruk belakang kepalanya.

Tapi, seketika Greymon terjatuh ke atas lututnya. Dia nampak kelelahan. "G-Greymon, kau tidak apa-apa?"

"Tunggu, Tai. Staminanya tentu saja terkuras. Lilamon, Soothing Powder."

"Ok, Yoshi." dari kedua tangan Lilamon yang berbentuk seperti kelopak bunga, keluar sekumpulan serbuk yang berkilau dan berwarna-warni. Serbuk itu menghampiri tempat Greymon, dan menutupinya dengan wewangian juga perasaan lembut di setiap sentuhan serbuk terebut.

"...Woah, apa ini. Nyaman sekali. Tenagaku seperti meledak-ledak kembali." ujar Greymon.

"Grrrroooaaaaaaarrrr!" tidak sempat beristirahat sedikit lebih lama lagi, Greymon diterjang BKMetalGreymon dengan tanduk besinya. Namun Greymon dapat menahan serangan itu pada kedua bahu lawan—mencengkramnya dengan kedua tangan bercakar tajam.

"Sekarang aku tidak akan bisa dikalahkan lagi!" digimon dinosaurus jingga itu mengangkat lawannya yang memiliki massa tubuh hampir dua kali lipat badannya tersebut, melemparkannya ke tengah udara.

BlackMetalGreymon yang belum dapat menyeimbangkan tubuhnya di udara, menembakkan sepasang misil kembar dengan sasaran monster bertanduk coklat itu. Greymon menyemburkan api membara, menerjang balik misil ikan tersebut.

Misil itu tak dapat menembus napas api lawannya, sehingga menimbulkan over-limit dari energi tolakan peluru-nya, dan meledak. Ledakan yang terjadi cukup besar, melenyapkan BKMetalGreymon di udara.

Sosok Agumon terjatuh ke hilir sungai, dan mengapung. "...Berhasil?" tanyanya, menarik napas dalam-dalam.

"...Sudah selesai?" tanya Tai, terus memperhatikan kepulan asap di langit petang.

Yoshi seketika terjatuh ke atas lututnya, memegang alat berwarna hitam-merah muda yang terus mengeluarkan suara seperti alarm pagi hari Tai. "A-ada apa, monster itu belum kalah?" tanya pemuda itu, sedikit panik.

"Fyuuh, tenang saja. Monster itu sudah lenyap." senyum si gadis, nampak begitu lega.

"Hore, hore! berhasil!" Lilamon menari-nari dengan senang. Ia menarik-narik tangan ber-cakar Agumon, mengangkat digimon rookie itu di udara. "Hahaha, h-hei j-jangan terlalu ke-kencang, Lilam-mon..." seru Agumon, tertawa lepas dan merasa sedikit mual.

"M-maaf..." pinta Lilamon, melihat Agumon yang tersungkur di pinggiran sungai—mengeluarkan isi perutnya.

Tawa riang Tai dan Yoshi menyusul kedua digimon itu, sebelum akhirnya sore hari memasuki petang yang menggelap.

XXX

"M-maaf, Tai... bahan-bahan makananmu jadi terjatuh..."

"Hei, kenapa kau meminta maaf seperti itu. Bukan salahmu 'kok." balas si pemuda.

Mereka berjalan bersebelahan di bawah lampu trotoar. Agumon dan Lalamon bermain satu sama lainnya di belakang mereka berdua. Selagi Lalamon melayang, Agumon berusaha meraih-raih kaki digimon tanaman itu; yang pada akhirnya selalu membuat Agumon tersungkur di tanah

"...Hmm, kau juga tidak tahu kenapa bisa melewati 'lorong' itu, ya...?"

Yoshi mengangguk. "Yang dapat kuingat saat itu: selagi keempat digimon itu mengejarku, sambunganku dengan markas pusat terputus... dan tiba-tiba muncullah lubang aneh itu..." ujar si gadis, memangkukan jari telunjuk pada dagu mulusnya.

Taichi, tidak mau kalah juga memangkukan ibu jari pada dagunya. "...Hmm, mungkin Azulong..."

"Anu, Tai..."

Pikiran Tai terbuyarkan dengan sekejap oleh panggilan si gadis. Dia pun mengalihkan pandangannya pada Yoshi yang nampak ragu. "Ya, kenapa...?"

"...Err, ini tahun berapa, ya?" tanyanya. "Aku khawatir..."

"2010. Ada apa?"

Wajah si gadis memucat. "Ti-tidak mungkin..." ujarnya gemetar. "Mungkinkah itu adalah... lo-lorong waktu...?"

"Ha? lorong waktu?" tanya balik Tai. "A-aku juga tidak yakin ta-tapi... aku hidup di tahun 20XX. Beberapa belas tahun dari tahun ini..." ujar Yoshi, yang mengundang raut terkejut Tai yang sama dengan miliknya.

Mereka terhenti. Tai menyilangkan kedua lengan di depan dada, selagi kakinya menapak-napak tanah di bawah mereka. "Hmm... kita pikirkan itu nanti. Kau mau ikut ke rumahku?"

"Ke... rumahmu?"

"Kurasa aku tahu cara mengembalikanmu, jadi bagaimana?" senyum riang Tai memang tak dapat ditangkis. Ekspresi riangnya saja dapat membuat orang-orang disekitarnya merasa senang juga. "Perutku sudah peko-peko*!" *keruyukan

"...Eh, haha...ha, err, y-ya kupikir...?" jawab Yoshi, lebih menjorok bertanya balik pada si rambut coklat itu. Tapi ia jadi tidak begitu memikirkan masalahnya. Hmm, kurang jelas juga alasannya apa, tapi bertemu orang dari masa lalu mungkin yang menjadi penyebabnya, pikir si gadis.

XXX

"Perkenalkan, namaku Yoshino Fujieda. Panggil aku Yoshi saja. Senang berkenalan dengan kalian semua."

"Baik, baik. Perutku sudah lapar. Bunda aku bantu masak di dapur, ya!" Tai berlari menerobos masuk, langsung menuju dapur. "Ya, ampun Tai... anak itu..." keluh si bunda, seraya tersenyum tipis.

"Mari masuk, Yoshi." bimbing si bunda bersama ayah menuju ruang tamu.

"Hei kak Yoshi," sejak kedatangan si gadis berambut maroon, Lalamon selalu dalam gendongan Kari. Mereka namprak akrab walaupun baru beberapa menit yang lalu berkenalan. "Lalamon partnernya kakak?"

"Iya. Kami selalu bersama untuk waktu yang cukup lama, Hikari," jawab Yoshi dengan senyuman hangat. Gadis itu berputar balik, dan berbisik pada gadis yang lebih muda itu. "Psst, Hikari, aku sebenarnya anggota DATS. Personil dari pelindung Digimon di dunia digital."

"Dia kesasar ke sini lewat lubang waktu, datangnya dari masa depan, Kari!" sorak Tai dari arah dapur. Yoshi yang mendengar itu hanya bisa mengeluarkan sweetdrop, dan berpikir: semudah itu dia membocorkan rahasia.

Kedatangan tamu dari masa depan. Apakah pertanda baik, atau buruk... tidak ada yang tahu. Tapi, ia datang tidak sendiri; melainkan bersama dengan pasukan BK Digimon yang bisa muncul di mana saja. Tai mulai berpikir kritis—seperti kebiasaannya pada umumnya. Dia berpikir, belum selesai mengurus para Phantom Lords, BK Digimon itu datang dan tentu saja bisa menjadi pengacau yang cukup mengganggu juga.

"Aku harus melakukan sesuatu..." ujar Tai, sambil mencuci kembang kol di watafel dapur.

|To Be Continued|


A/N: Saya tahu kalian mau ngomong: Setelah sekian lama gak update, ternyata cuma segini chapter terbarunya? Huweee, maafkan saya. Tapi, ini masuk ke dalam plot mengenai perubahan Agumon nanti.

Silahkan masukannya. Dan silahkan meng-flame kalo itu memnag dianggap perlu.

Thanks udah baca, dan see u in the next chapter.

note: Anoo, saya belum tahu kapan bisa update lagi. Tapi, fic ini gak bakal saya telantarin kok. Pribadi, saya menyukai fic ini sangadh2!

Shimacrow: OUT!