Disclaimer: GS/GSD bukan milik saya, sepertinya #plak

Perhatian : Italic untuk flashback dan gumaman/apa yang sedang dipikirkan/monolog/penekanan kata/telepati/percakapan di telepon.


"Kira."

Pemuda bermata amethyst itu menghentikan langkahnya. Ia menantikan sosok yang memanggilnya mendekatinya dari ujung koridor.

"Ssigh. Ada apa?" tanyanya setelah Ssigh berada cukup dekat dengannya. Ssigh tidak langsung menjawab, ia mengangkat sebelah tangannya-meminta Kira memberi jeda untuk membiarkannya menarik napas setelah berlari dari ujung koridor.

"Kamu tampak tidak sehat," komentar Kira sembari memperhatikan penampilan pemuda dihadapannya. Kacamatanya sedikit melorot, rambut cepak coklat mudanya acak-acakan, matanya tampak lelah, dan ekspresinya sedikit risau.

"Sangat. Aku tidak minum seminggu ini karena sibuk," balas Ssigh.

"OSIS?" tebak Kira. Ssigh menggeleng.

"Urusan Aprilius. Tapi kali ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan penerus. Semalam aku menemani kak Da Costa mengawasi para pendatang dan mengecoh para hunter agar tidak mengenali mereka."

"Pendatang?"

"Kamu belum medengarnya Kira?" Ssigh menatapnya tak percaya. "Mereka para pengungsi."

"Pengungsi? Maksudmu?"

Ssigh tidak menjawab-sebagai gantinya sesosok pemuda pirang muncul dan menyela pembicaraan mereka. "Apa kau belum mendengar Rumah Kecil di Skandinavia habis kemarin malam?"

"Apa?"

Si pemuda pirang mengangguk prihatin. "Keadaan makin memburuk, Kira. Kita harus bicara sekarang. Banyak yang harus kita diskusikan. Kau tak keberatan kan kalau harus membolos pelajaran setelah ini dan mangkir sebentar?" candanya.

Kira setengah tersenyum, "apa aku harus memerankan bagianku dalam waktu dekat, Miguel?"

Si pemuda pirang-Miguel Aiman, menggeleng. "Belum. Kami masih bisa mengurusnya." Ia menoleh saat dua orang pemuda lain datang kearah mereka, "ya, kan Yzak? Dearka?"

"Affirmative. Kita cukup memantau keadaan untuk saat ini. Dewan juga sudah memperingatkan kita untuk siaga," jawab Dearka.

"Kita memang selalu dalam keadaan siaga. Tidak ada yang perlu dikhwatirkan," sambung Yzak acuh tak acuh.

"Jangan terlalu sombong Yzak. Kita hanyalah sekelompok vampire picisan. Kuat memang, tapi tetap saja 'muda'. Dan kalau Skandinavia saja habis ditangan mereka kau tentu tahu seberapa mengerikannya mereka," tegur Ssigh.

"Dasar manusia," decis Yzak. "Jadi nanti malam kita harus 'mengawas' lagi? Menyusahkan saja."

"Argh aku benci ini! Besok aku ada ulangan pula," ujar Dearka frustasi. Kawan-kawannya tertawa-kecuali Yzak.

"Kau punya waktu ratusan untuk hidup. Kalau kau sebegitu sukanya belajar di sekolah, kau bisa menyamar jadi anak SMA selama sisa hidupmu sampai kau bosan."

"Bukan begitu maksudku, Yzak bodoh." Ia memukul pelan belakang kepala Yzak. "Cukup bercandanya. Aku ingin tahu soal pergerakan mereka."

Ssigh mengangguk, "Kak Da Costa memberitahuku. Mereka sudah mencapai Orb. Jumlah mereka juga bertambah sebulan belakangan. Hanya masalah waktu sampai mereka tahu kita disini. Menurutmu apakah kita harus mengomunikasikannya dengan paman Siegel dalam waktu dekat?"

"Tidak perlu. Da Costa pasti sudah lebih dulu memberitahunya," ujar Yzak.

"Jadi apa tindakan kita sekarang?" tanya Dearka.

"Cari informasi mengenai mereka. Kalau kita ingin bertahan, kita harus lebih mengenal mereka," usul Ssigh.

"Jangan khawatir soal pertahanan Rumah Kecil kita. Aku dengar para Penjaga sudah bergerak dan berpencar untuk melindungi Rumah-Rumah Kecil yang masih tersisa. Bukan begitu, Kira?"

"Kira?" ulang Miguel. Kira tidak merespon, tubuhnya tiba-tiba mematung-seakan terkejut.

"Kira? Ada yang salah? Kira, kau mendengarku?" Ssigh menepuk pundaknya, mecoba mengundang perhatian Kira. Tetapi si pemuda bermata amethyst itu tidah menghiraukannya. Kawan-kawannya merasa ia sedang berkonsentrasi terhadap sesuatu-atau lebih tepatnya mendengus sesuatu.

"Darah.."

"Eh?" Keempat kawannya mengangkat alis.

"Kenapa, Kira? Kau lapar?" cemooh Yzak.

Dearka ikut mendengus. "Tidak, Kira benar. Memang bau darah." Ia kemudian menyernyit, "Tunggu... rasanya aku kenal bau darah ini..."

"Athrun. Darah Athrun." ujar Kira. Ekspresinya berubah khawatir.

"Cagalli menggigitnya."


"Siapa kau sebenarnya, Cagalli?"

Cagalli tidak berani menatap pemuda dihadapannya. Pemuda ini, Athrun, membuatnya takut. Bukan dalam konotasi yang buruk, tapi dalam hal yang... baik?

Cagalli takut dengan mata emeraldnya yang memandang lurus kearahnya, seakan menelusuri setiap jengkal jiwanya-mengiba padanya untuk mengumbar setiap rahasia yang ada padanya. Ia takut pada bau darahnya yang merayu rasa dahaganya. Cagalli takut pada tangannya yang kini memenjarakannya. Ia takut pada detak jantung Athrun yang menggema-yang bahkan bisa didengarnya. Ah, tentu saja-dia vampire. Dia bisa mendengar beberapa hal lain yang tidak bisa didengar manusia biasa.

Ia takut karena Athrun mempengaruhinya. Lebih dari yang ia kira.

"Ka-kau tentu tahu siapa-atau apa aku sebenarnya."

Athrun menggeleng. "Bukan itu yang ingin aku tahu. Beri aku penjelasan, Ca-" Ia terhenti ketika tiba-tiba Cagalli tersentak. "Ada apa?"

"Kak Kira tahu," ujarnya panik. Mata ambernya melebar ketakutan. "Dia tahu aku mengigitmu."

Tahu apa yang akan terjadi bila Kira mengganggunya kali ini, ia menarik Cagalli pergi. "Kalau begitu kita pergi dari sini."

"Maksudmu?"

"Nggak keberatan kan kalau bolos? Kau bisa memanjat?" tanya Athrun. "Kita kabur dari sini, dari Kira."

"Athrun!" Cagalli memekik kecil saat Athrun menggendongnya, membantunya naik ke atas pagar. "Apa maksudmu? Kita mau kemana? Hey, apa yang kau lakukan?"

Ia memanjat lalu melompati tembok pembatas halaman belakang sekolah dengan mudah, lalu meraih pinggang Cagalli dan menggendongnya turun-mengacuhkan sepenuhnya serangan protes Cagalli. Ia tersenyum kecil sebelum menarik tangan Cagalli dan membawanya berlari menjauhi sekolah. "Aku tidak akan melepaskan buruanku sebelum aku mendapat apa yang aku mau dari mereka."

Buruan? Cagalli mengerjap tak percaya. "Tung-Kau hunter?"


Kira menggeram kesal mendapati dirinya terlambat selangkah dari sang adik. Ia mengerutkan dahinya-bau darah Athrun begitu pekat tercium. Ia tidak bisa mengontak benak adiknya dan melacak keberadaannya, karenanya sebagai gantinya ia memelototi kotak bekal makan siang adiknya yang tergeletak terbengkalai di bangku taman.

"Mereka pergi," komentar Dearka. "Kabur keluar sekolah. Baunya dan bau Cagalli sih kearah sana." Ia menunjuk kearah tembok pembatas. "Hidungku bilang begitu."

Yzak memutar bola matanya. "Bukan saatnya menyombongkan bakatmu, bodoh."

"Hey, hidungku tidak pernah salah kau tahu!" rajuk Dearka kesal.

Miguel menepuk pundak Kira. "Tenang, Kira. Setidaknya Cagalli tidak membunuhnya sekarang. Kalau mereka kabur, itu berarti 'ada sesuatu'. Dan lagi, mereka 'kabur' berdua."

"Tapi bahaya kalau Athrun tahu siapa 'kita' kan?" bantah Ssigh.

"Ayolah... Hal itu bisa ditangani. Ayo Kira. Masih ada yang harus dibicarakan. Cagalli sudah dewasa, ia tahu cara menjaga dan mengendalikan diri."

Kira menghela napas pelan lalu beranjak pergi dengan berat hati mengikuti teman-temannya.

Tolong jangan lakukan hal yang bodoh, Cagalli.


Erica Simmons sebisa mungkin mempertahankan ekspresi netralnya saat Natarle Badgiruel, salah seorang yang menduduki posisi top class daftar orang yang tak disukainya 'mendobrak' masuk ke ruang kerjanya di Rumah Besar tanpa diundang.

"Ya? Ada yang bisa kubantu?"

"Dimana Mwu?" tanyanya.

Erica memutar bola matanya. "Mana aku tahu. Aku bukan ibunya."

"Aku serius Simmons!" bentaknya-mata ungunya berkilat berbahaya.

"Dia sudah beristri, Nat. Bisakah kau tidak mengganggunya?"

"Demi Tuhan, Erica! Aku sedang tak ingin pura-pura bergurau denganmu! Dimana dia? Boleslav memintanya menghadap."

"Lalu, apa urusannya denganku?" Erica mengerjapkan matanya-memberi kesan naïf dan polos.

Natarle maju kearahnya dengan kesal dan tidak sabar. "Dia kolegamu, bukan? Jangan buang waktuku! Ini perintah darurat. Boleslav baru saja menerima kabar bahwa Rumah Yuri dan Onogoro diserang."

"Mustahil. Semalam Rumah di Skandinavia jatuh dan sekarang-"

"Aku tidak berbohong-" ia terhenti ketika gaung sirene tiba-tiba terdengar.

"Oh, Tuhan." Nafas keduanya tercekat. "Bagaimana mungkin-"

"Natarle, awas!" Erica mendorongnya jatuh tepat sesaat sebelum sebuah peluru melesat kearahnya.

"Brengsek! Bagaimana mungkin mereka menemukan tempat ini? Penjaga tak berguna!" maki Natarle sembari mencoba berdiri sekaligus menghindari hantaman peluru yang datang dari arah jendela. "Jangan terpekur seperti itu Simmons! Jauhi jendela agar mereka tidak bisa melihatmu!" Ia menarik revolver dari balik jaketnya dan dengan ketepatan yang tidak manusiawi membalas serangan sang hunter dan tepat mengenainya.

Namun, kejutan lain datang dari arah pintu. Seorang hunter muncul dan menyeringai, memamerkan samurai di tangannya yang berlumuran darah.

"Oh, yang benar saja! Kita benar-benar habis," gumam Natarle putus asa. "Mereka bahkan berhasil masuk-"

"Nat, bisakah kau menolongku?"

"Apa?" bentaknya sembari berusaha membidik si hunter yang entah kenapa selalu berhasil mengecohnya.

"Lindungi aku selama beberapa menit. Aku akan mencoba mengontak Mwu."

"Terserah! Lakukan sesukamu. Cepat-kalau kau masih ingin hidup!"


"Ke-kenapa mengajakku ke kediamanmu sih!" teriak Cagalli murka. Wajahnya kini merah padam karena malu. Siapa yang tidak, kalau seorang pemuda tampan menyeretmu ke dalam ruangan apartemennya-berdua saja.

Ia mundur menjauh dari Athrun. Tangannya mengepal dan kakinya mempersiapkan posisi kuda-kuda yang mantap kalau-kalau Athrun berani macam-macam padanya.

Athrun hanya menanggapinya dengan terkekeh geli. "Tenang, aku tidak akan berbuat yang aneh-anah padamu kok. Kecuali kalau kau ingin aku melakukannya." Ia mengedipkan sebelah matanya, menggoda Cagalli. Gadis pirang itu balas memelototinya.

"Nah... sekarang, jawab aku."

"A-aku tidak bisa." Cagalli menggigit bibirnya. "Aku terikat aturan-"

Athrun menyelanya. "Jawab aku dan aku akan memberi tahumu sesuatu."

"A-"

"Aku tahu siapa pemilik kalung Haumea-mu." Cagalli terdiam.

"Ba-baik... Beri tahu aku dan aku akan memberi tahu apa yang ingin kau tahu," balas Cagalli ragu-ragu. Athrun menyetujuinya. Ia mempersilahkan Cagalli duduk di ruang tengah lalu masuk ke kamar kemudian keluar dengan membawa sebuah foto dan jubah berwarna merah. Ia memberikannya pada Cagalli.

"Arnold Neumann. Dialah pemilik haumeamu. Seorang Red Hunter, anggota hunter dengan komando tertinggi di lapangan-orang yang telah membunuh ratusan vampire dalam misinya. Dia mentorku."

Cagalli gemetar. Di tangannya, ada sebuah foto dengan Athrun dan seorang pemuda asing didalamnya. Cagalli tidak mengenalinya-si pemuda asing itu. Rambut birunya serupa Athrun hanya lebih pendek, dan warna kulitnya lebih gelap dari Athrun, senyumnya tampak tulus, dan ekspresinya lembut. Cagalli tidak mengenalnya, tapi ia mengenal mata emeraldnya.

Pemuda asing dalam foto itu, Arnold Neumann, adalah hunter yang telah menolongnya.

"Cagalli, dia sudah meninggal."

Cagalli tak sanggup berkata-kata. Ia telah menemukannya... tapi, ia tidak bisa menyampaikan rasa terimakasihnya. Tidak setelah ia tahu bahwa penyelamatnya sudah tiada. Tidak setelah ia tahu bahwa penyelamatnya adalah seorang penjagal kaumnya.

"Aku... berhutang nyawa padanya," ujarnya lirih.

"Cagalli..." Athrun meraih pundaknya. "Dia... bukanlah orang jahat. Dia mungkin telah menghabisi banyak vampire sepertimu, tapi itu diluar kehendaknya. Itu diluar kehendak kami."

Cagalli mengangguk. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Athrun-tiba-tiba merasa lelah dan bingung.

Jadi selama ini, apa yang aku cari? Apa yang aku nanti?

"Athrun... ceritakan aku mengenainya."

Athrun tersenyum. "Kau tahu kan kalau dulu aku pernah tinggal di kota ini?" Cagalli mengangguk. "Aku dulu bersama ayahku sampai akhirnya beliau tiba-tiba mengajakku pergi ke suatu tempat. Dan, dari situlah awal semua berawal. Tempat tinggal baru kami, sebuah desa kecil. Desa itu diserang sekelompok vampire, atau seperti itu yang kawan-kawan hunterku katakan, dan seluruh penduduknya tewas kecuali aku. Arnold menemukanku, ia mengajakku bergabung bersama para hunter lain. Ia bilang, ia sama denganku. Seluruh keluarganya dibantai oleh para vampire dan ia ditemukan oleh seorang hunter yang mengajaknya masuk organisasi. Ia mengajariku bertarung, mengajariku banyak hal."

"Di kalangan kami, dia adalah hunter terkuat yang mendapat gelar tertinggi. Kalungnya, yang kini ada padamu adalah perlambang untuk gelarnya." Ia memandang Cagalli yang tanpa sadar menyentuh Haumeanya. "Dua tahun lalu, ia bilang padaku kalau ia ingin berhenti. Arnold bilang kalau ia merasa yang dilakukannya selama ini salah. Setelah bilang begitu ia menghilang sampai akhirnya datang kabar kalau dia-" Athrun tidak melanjutkannya.

"Apa kau tahu, kenapa dia..."

"Tidak. Awalnya kukira ia terbunuh dalam misi. Tapi aku mengenalnya. Dia Arnold Neumann-hunter terkuat saat itu. Maka dari itu aku berusaha menyelidikinya. Sampai akhirnya setengah tahun lalu aku menyadari bahwa sepertinya ada yang salah dengan organisasiku." Athrun menoleh kearah Cagalli. "Cagalli, apakah kalian para vampire membunuh kami untuk memuaskan dahaga?"

Cagalli menggeleng keras. "Jelas tidak! Kalian pikir kami apa? Binatang?"

"Nah," lanjut Athrun. "Maka dari itu, setelah sekian lama berburu aku pikir 'Kenapa kami harus memburu kalian padahal kalian bahkan tidak membunuh manusia?'. Mungkin Arnold berpendapat sama dan memutuskan untuk hengkang. Dan organisasi tidak menyukai penghianatannya. Sama sepertiku. Saat aku tidak mematuhi perintah, mereka menghukumku, mengambil senjataku, menahan uang tabunganku, dan mengasingkanku kemari-tanpa uang-sebagai peringatan kalau aku berhutang budi dan bergantung pada mereka, bahwa aku tidak boleh macam-macam kalau masih ingin hidup."

Cagalli menyentuh tangannya, merasa bersimpati. "Ba-bagaimana rasanya menjadi hunter?"

"Tidak menyenangkan. Aku ingat pertamakalinya aku membunuh. Usiaku sebelas tahun waktu itu. Aku terus menangis dan tidak bisa tidur. Dihantui perbuatanku. Dan Arnold menyemangatiku-dia bilang bahwa kalian, para vampire yang telah merenggut keluarga kami, pantas mati. Aku terus berpegang akan hal itu. Sampai akhirnya aku kehilangan arah saat tahu bahwa kalian mungkin tidak bersalah. Dan bahwa kami lah yang terpenjara dalam dendam."

"Membunuh karena seseorang dibunuh, dibunuh karena telah membunuh… itu tidak akan mengakhiri apapun," bisik Cagalli.

"Benar. Dendam akan terus berputar dan kita akan terus terjebak didalamnya. Aku ingin ini berhenti, Cag."

"Aku mengerti. Kita akan mencari cara untuk menghentikannya."

Athrun tersenyum mendengarnya. 'Kita' yang diucapkan Cagalli amatlah berarti buatnya.

"Kali ini giliranmu. Ceritakan mengenai dirimu."

"Eh?" Cagalli tersipu. "Yah, kau tahu kan... kami vampire.."

"Keluargamu juga?" Cagalli mengannguk. "Teman-temanmu?" Ia mengangguk lagi.

"Tak kusangka selama ini aku dikelilingi vampire..." Cagalli tertawa kecil. "lalu, bagaimana rasa darah?"

"Sama seperti kalau kau minum. Lain orang, lain darah, lain rasanya juga," jawabnya ringan.

"Kalau darahku? Bagaimana rasanya?" Wajah Cagalli berubah merah lagi.

"A-aku nggak mau jawab," balas Cagalli tergagap karena malu. Athrun tertawa.

"Kalau begitu, kuubah pertanyaanku. Apa pendapat kalian tentang kami, para hunter?"

"Menyebalkan, mengganggu, tidak akan puas sebelum kami mati," jawab Cagalli berapi-api membuat tawa Athrun semakin keras.

"Oke. Kalau pendapatmu tentang aku?"

"Hah?"

"Athrun? Kau dirumah?" sapa sebuah suara dari pintu apartemen-menghentikan percakapan mereka berdua. Athrun tidak perlu susah payah membukakan pintu karena si pemilik suara sudah lebih dulu menyelonong masuk dan memeluknya. "Sudah kuduga kau dirumah! Apalagi pintu apartemen tidak terkunci. Tadinya kukira Rusty... Aku kangen banget! Kok jam segini sudah pulang? Nggak sekolah?" Si pendatang menyerbunya dengan pertanyaan.

Cagalli, yang sedari tadi mengamati, mengangkat alis. Si pendatang, seorang gadis yang mungkin dua atau tiga tahun lebih muda darinya, berambut merah terang dikuncir dua dengan mata berwarna biru muda. Wajahnya entah kenapa rasanya mirip dengan seseorang yang pernah ditemuinya.

Perhatiannya kini beralih kepada pemuda yang mengekor si gadis kuncir itu. Pemuda itu berambut pirang sebahu dengan tatapan tajam yang membuat Cagalli merasa canggung. Si pemuda itu balas menatapnya. Mereka saling beradu pandang selama beberapa saat sampai suara cempreng si gadis kuncir menyadarkannya.

"Athrun, siapa dia?"

Athrun, tampak tidak nyaman karena si gadis kuncir terus menempel padanya, memanfaatkan-atau lebih tepatnya memperburuk-keadaan dengan berkata, "Dia pacarku."

Hening. Si gadis kuncir memelototi Cagalli yang shock namun memilih untuk diam-lalu tatapannya berpindah pada Athrun. Begitu terus selama semenit penuh. Si pemuda dibelakangnya bungkam dan memandang dengan bosan.

"Bohong.." gumam si gadis kuncir.

"Be-" Cagalli ingin mendukung perkataannya tapi Athrun mendahuluinya.

"Tidak, Mey. Dia pacarku. Aku menyukainya. Aku mohon maaf. Kita tidak bisa bersama lagi."

Dan, seperti setiap adegan di drama televisi yang biasa Cagalli lihat, gadis itu menampar Athrun lalu pergi keluar apartemen sambil menangis. Athrun tidak mengejarnya. Malah sepertinya ia terlihat lega.

"Kau keterlaluan kali ini, Athrun." Si pemuda pirang sebahu, akhirnya angkat bicara. "Kau bisa dibunuh Luna nanti."

'Luna? Ah, iya. Teman Athrun yang di stadion waktu itu. Pantas rasanya si kuncir itu mirip seseorang. Apa dia adiknya? Apa mereka juga hunter sama seperti Athrun?' pikir Cagalli dalam hati.

"Aku tak peduli. Ngomong-ngomong ada apa sampai kau berinisiatif mengunjungiku, Rey?" balas Athrun.

"Kau tahu... tentang 'rencana' kita. Lokasinya akan kuberitahu nanti. Dan ini." Ia melemparkan sebuah bungkusan ke Athrun. "Hukumanmu dicabut. Kau bisa menggunakannya."

Athrun tersenyum kecil. "Terimakasih."

"Siapa?" tanya si pemuda pirang itu-Rey pada Athrun. Matanya tertuju pada Cagalli.

"Temanku," jawab Athrun singkat.

Rey mengangkat alisnya namun tidak berkomentar. "Baiklah. Aku harus pergi menyusul pacarmu. Akan kutemui lagi kau nanti." Ia berbalik keluar apartemen, menyusul si gadis kuncir.

Cagalli menginisiasi pembicaraan terlebih dulu, "Jadi?"

"Mereka temanku di organisasi. Dan yang lari barusan itu Meyrin-pacarku, tadinya."

"Tadinya?" Cagalli terkekeh.

"Ya." Athrun tersenyum jahil. "Sekarang kamu yang jadi 'pacar'ku."


"Kalian lihat Cagalli?"

Shiho, Flay, dan Miriallia saling pandang. "Kami tidak melihatnya dari jam istirahat. Kami justru mau tanya kak Kira kenapa dia bolos."

Kira mendesah pelan, "sudah kuduga." Ia berjalan pergi meninggalkan ketiga karib adiknya yang masih memandanginya dengan bingung.

'Kamu kemana, Cagalli?' pikirnya dalam hati. Kira menghentikan langkahnya saat ponsel di sakunya berdering. Ia menatap layar ponselnya dengan gusar. Ibunya. Apa yang harus ia katakan pada ibunya tentang Cagalli?

"Kira, ibu ada di tempat Bibi Myrna. Murrue akan melahirkan," ujar ibunya di ujung line telepon.

"Apa bibi Murrue baik-baik saja, bu?"

"Ya. Kira, ibu dan ayah mungkin tidak akan pulang malam ini. Kau tentu sudah dengar kabar mengenai Rumah Kecil di Skandinavia, kan? Jadi ibu mohon, tetap di rumah dan jaga Cagalli."

"Tapi-"

"Jaga dirimu dan adikmu, sayang." Ibunya memutus percakapan sebelum Kira sempat melanjutkan.

"Cagalli pergi." Dengan manusia.


"Yay akhirnya aku bisa menginjakkan kakiku di Arcangel High!" sorak Luna.

"Pelankan suaramu. Bikin malu saja," gerutu Shinn. "Ingat tujuan kedatangan kita."

Luna merajuk kesal-namun moodnya segera berubah ketika matanya menangkap sosok orange dari kejauhan. "Itu Heine! Heine!" lambainya kearah Heine. Tingkahnya mengundang perhatian siswa-siswi lain yang lalu lalang di depan gerbang.

Heine datang menghampiri mereka. "Mau apa kalian kemari?"

"Cuma ingin memberitahu kalau Rey datang hari ini," jawab Auel datar.

"Apa?"

"Dia baru menuntaskan misi di Skandinavia dan mendapat tangkapan besar. Dia kemari untuk memberi informasi untuk penyerangan kita nanti," lanjut Shinn.

"Tunggu dulu-jangan bilang misi kita dia yang memimpin," ujar Heine-tampak tersinggung.

"Bukan kok. Dia cuma pemberi informasi. Kau yang memimpin," balas Sting. Heine menggumam lega.

"Ah, Heine, Heine! Aku boleh bertemu kakak pirang yang tempo hari itu?" tanya Luna-yang sedari tadi tidak menghiraukan pembicaraan teman-temannya, melainkan asyik mengamati siswa-siswi yang berjalan pulang keluar gerbang sekolah.

Shinn menegurnya sekali lagi, "Luna, ingat tujuanmu." Luna mendengus kesal.

Teringat bahwa ada satu orang yang lagi yang seharusnya mereka temui, Sting menggumam, "Kalian lihat Athrun?"


Author's Note:

Selamat Hari jadi Kira-Cagalli :DDD (lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali)

Special thanks to: Magus-15IchiGo, Hoshi Uzuki, Ax-athha, lunlun caldia

Thanks to: miumiu, Ax, Magus-15Ichigo, Naw d Blume, niwa, lunlun caldia, Cagali yulla attha, Hoshi Uzuki dan teman-teman yang masih sabar menanti mbak Vryko :D

Mohon maaf reviewnya tidak dibalas satu per satu… terimakasih banyak atas suportnya :D

Maaf karena update yang seharusnya Minggu lalu terpaksa di delay karena para dosen sedang dermawan-dermawannya (bukan merk kosmetik) ngasih oleh-oleh buat saya. Semoga chapt ini tidak mengecewakan.

Kritik, saran, masukan, komentar, kesan-pesan, dan segala bentuk review lainnya amat dinanti :D

Salam,

Ofiai.