You're My Star
.
By Seoglyu Yeowang
.
Cast : EXO Member
.
Genre: Romance, Friendship
.
Length: Chaptered
.
Rate: T to M
.
Disclaimer: Author hanya meminjam nama mereka tetapi cerita dan ide ini milik saya. Apabila ada kesamaan kejadian, waktu dan tempat itu hanyalah kebetulan semata.
.
Warning: Newbie, GS for Uke, Typo(es) dan Original Chara bertebaran dimana-mana
.
DON'T LIKE DON'T READ
.
Summary
Luhan merupakan seorang rookie yang baru saja setahun debut bersama grupnya. Apakah yang terjadi ketika sang CEO yang merupakan direktur agensi tempatnya bernaung mengaku jatuh cinta padanya? Menolak dan mempertaruhkan karirnya yang tengah naik daun atau menerima dan menghianati kekasih yang telah menunggunya selama ini, sejak ia menjadi trainee?
.
.
.
Chapter 10
Wu Shi Xun is Oh Sehun?
.
Luhan's POV
Ini adalah hari Senin, hari yang sangat melelahkan bagiku. Bagaimana tidak? Aku selalu mendapatkan kesialan sejak tadi pagi. Hari ini aku harus naik kendaraan umum karena bangun kesiangan yang menyebabkan terlambat tiba disekolah. Setelah menyelesaikan hukuman yang diberikan oleh Hong Sonsaengnim aku kembali kekelas dan sialnya Jung Sonsaengnim yang mengajar Sejarah Korea, mengadakan quiz dadakan hari ini. Oh ayolah, aku bahkan baru tiga bulan tinggal di korea, mana tahu aku dengan nama-nama raja dan keturunannya itu.
Disiang harinya, seseorang yang berlari di koridor menabrakku. Apa kalian fikir itu biasa saja? Biasa saja jika ia tidak menumpahkan minuman yang dibawanya ke seragamku hingga aku harus memakai pakaian olah raga hingga kelas berakhir.
"Lu, kau yakin tidak ingin bergabung dengan kami?" tanya Sohee ketika kami dalam perjalanan ke gerbang sekolah.
Aku hanya memberikan anggukan sebagai jawaban
"bersemangatlah Xi Luhaaaaaan!" ucap Nayoung kemudian
"hari ini sungguh melelahkan, ditambah lagi guru privatku akan datang hari ini." Keluhku.
"kalau aku jadi kau sih pasti semangat, bukankah kau bilang bahwa gurumu mirip Oh Sehun?" balas Sohee
"aaaah, si nerd itu…." gumamku teringat akan sesuatu, aku memang bercerita pada mereka mengenai kemiripan guru privatku dengan si dance maker prince itu, tetapi setelah ku pikir-pikir mereka bukanlah orang yang sama. "mereka bukanlah orang yang sama." Lanjutku kemudian.
"apa kau yakin? Apa aku boleh main kerumahmu untuk memastikannya?" tanya Sohee antusias
"yak! Apa di kepalamu hanya ada Oh Sehun eoh?" bentak Nayoung setelah memukul kepala temanku yang satunya.
"bilang saja jika tidak boleh, kau tak perlu memukulku." Sindir Sohee
"mianhae nae chingu, sepertinya aku harus pulang duluan karena kang ajusshi sudah menjeputku." Ucapku pada mereka setelah melihat Kang Ajusshi, Supir keluarga kami berdiri di dekat pos satpam.
Luhan's POV end
.
.
Luhan baru saja keluar dari kamar mandi ketika seseorang mengetuk kamar tidurnya, bergegas ia membuka pintu dan mendapatkan Park Chanyeol yang tediam sambil menatapnya dari atas ke bawah lalu keatas lagi.
"waeyo oppa?" tanya Luhan setelah lama Chanyeol tak bersua
"aaah, an- anu…. Segeralah turun untuk makan malam, gurumu sudah menunggu dibawah." Jawab Chayeol yang terdengar gagap diawal.
"mwo?" tanya Luhan terkejut
"aku tunggu di meja makan, jadi cepatlah" ucap Chanyeol kemudian meninggalkan Luhan dengan raut wajah bingungnya.
"ada apa dengan chanyeol oppa?" gumam Luhan yang sedang menuju wardrobe nya
.
Luhan memilih kaos berlengan dengan celana bahan selutut sebagai outfitnya malam ini. Setelah merasakan tanpilannya pantas, ia bergegas ke ruang makan untuk menyusul oppanya. Terlihat Chanyeol dan Shi Xun tengah melahap makan malamnya, Luhan berdehem sebagai tanda kehadirannya hingga membuat kedua orang dihadapnya mendongak ke sumber suara.
"duduklah lu, kita bicara nanti setelah makan malam." Ucap Chanyeol yang dibalas anggukan oleh Luhan, sedang Shi Xun hanya memandangi Luhan hingga ia duduk di kursinya.
Dan makan malam mereka pun dilanjutkan tanpa ada yang bersua satupun.
.
Ketiga remaja yang masing-masing terpaut satu tahun itu kini sudah berada diruang tamu. Melihat karakter dari dua orang dihadapannya kini, Luhan merasa hendak di sidang setelah melakukan kesalahan besar.
"aaah, aku minta maaf padamu Shi Xun-ssi karena suasana canggung ketika di ruang makan tadi." Ucap Chanyeol membuka percakapan
"Animida, ketika makan kita memang tidak boleh bersuara bukan?" balasnya sopan
"aku suka padamu, eomma tidak salah memilih." Ucap Chanyeol "kau boleh memanggilku chanyeol hyung jika mau." Tambahnya
"saya juga senang bertemu dengan anda, chayeol hyung." Jawab Shi Xun ragu di akhir.
"tidak buruk bukan?" tanya Chayeol sedang Shi Xun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban "mari kita mulai, ini adikku Luhan. Eomma pasti sudah bercerita banyak tentangnya. Hanya sekedar informasi, Shi Xun satu tingkat diatasmu. Jadi bersikap sopanlah padanya lu." Terang Chanyeol pada keduanya
"aku mengerti oppa." Jawab Luhan sedang Shi Xun hanya memperhatikan Luhan yang berbicara.
"kalian bisa mulai belajarnya di ruang baca dalam perpustakaan atau disini juga tidak apa. Aku berada di kamarku jika ada apa-apa." Pamit Chanyeol
"Shi Xun oppa" panggil Luhan ragu setelah Chanyeol pergi sedang yang dipanggil menengok terkejut
"boleh aku memanggilmu oppa?" tanya Luhan
"itu tidak buruk, aku tidak keberatan." Jawabnya "kau ingin belajar dimana?" tanyanya kemudian.
"aku suka di ruang baca, kau pasti juga akan suka." Jawab Luhan bersemangat. "biar ku antar kesana dulu, lalu aku akan mengambil buku-buku ku di kamar." Sambungnya
.
Luhan baru saja kembali dengan tumpukan buku dikedua tangannya, namun ia tak menemukan Shi Xun diruang baca. Ia meletakan asal buku yang dibawanya dimeja dan berjalan ke perpustakaan yang terletak di sebelah ruang baca. Tak butuh waktu lama bagi Luhan untuk menemukan Shi Xun yang tengah membaca sebuah buku sambil bersandar ke rak buku di sudut perpustakaan. Cukup lama Luhan memperhatian pria diujung sana yang masih sibuk dengan dunianya hingga tidak menyadari kehadiran orang lain.
"kau sudah datang nona?" tanya Shi Xun terkejut karena luhan telah berada di depannya.
"panggil aku Luhan saja. Lulu juga tidak apa." Ucap Luhan mengabaikan pertanyaan Shi Xun
"ayo kita mulai belajarnya." Balas Shi Xun mengabaikan pernyataan Luhan
"oppa" panggil Luhan yang masih mengekor dibelakang Shi Xun
Terlihat Shi Xun menghembuskan napas sebelum berhenti dan membalikan badannya "ada apa Luhan?" tanya Shi Xun
"tunggu aku, aku tidak suka mengekor dibelakang." Jawab Luhan dan melangkah beriringan dalam diam hingga ke ruang baca.
"terima kasih karena memanggilku Luhan." Gumam Luhan namun masih bisa terdengar oleh Shi Xun
.
Hari pertama kegiatan privat mereka bisa dibilang kaku, Shi Xun menerangkan setiap materi dengan detail sedang Luhan hanya menyimak dan bertanya jika dirasa bingung. Terkadang Luhan mencuri-curi pandang ketika pria dihadapannya itu sedang menjelaskan.
"fokuslah pada materinya lu, apa wajahku lebih menarik dibandingkan dengan rumus-rumus ini?" tegur Shi Xun tanpa melihat Luhan
"eoh?" Luhan pun gelagapan karena tertangkap basah sedang memandangi sang guru mengajar namun tak lama ia merubah ekspresi wajahnya dan menutup buku yang dipegangnya. "oppa, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Luhan setelahnya
"apa itu Lu? Bagian mana yang belum kau mengerti?" tanya Shi Xun
"kau tahu oppa? Aku seperti pernah melihatmu, tapi aku tidak yakin…" Luhan menggantungkan ucapannya
Sebentar, tubuh Shi Xun menegang karena pernyataan yang Luhan lontarkan, namun sepertinya tak terlihat oleh Luhan.
"apa itu Oh Sehun?" tanya Shi Xun sambil menatap mata Luhan
"bagaima kau bisa tahu? Apa kau mengenalnya?" tanya Luhan terkejut
"kau adalah orang yang kesekian kali mengatakan aku mirip dengannya, padahal aku baru tiga bulan berada di Seoul." Jawabnya terdengar sedih
"benarkah? kau baru juga disini?" ekspresi terkejut tak bisa ditutupi dari wajah Luhan
"ya, tapi banyak yang bilang aku mirip dengan si brandalan itu." ucapnya datar namun terlihat bahwa ia tengah menahan emosinya
"kau mengumpat padanya oppa." Tegur Luhan halus
"lalu aku harus memuji orang yang telah mencemarkan nama baikku eoh? Aku banyak kehilangan pekerjaan mengajarku karena si brandalan bodoh itu." maki Shi Xun
"mianhae oppa aku tidak bermaksud untuk menyamakan kalian." Ucap Luhan menyesal "bagaimana kalau kita lanjutkan belajarnya?" tanya Luhan mengalihkan topic pembicaraan
"kita sudahi saja belajarnya." Jawab Shi Xun datar
"tapi kita baru saja memulainya oppa, bagaimana dengan ujianku?" Bela Luhan tak terima bagaimanapun Luhan tak ingin mengumpulkan kertas kosong pada ujian nanti.
"aku tidak perduli." Balasnya Shi Xun yang kemudian berjalan meninggalkan Luhan
.
Shi Xun baru saja menuruni anak tangga ketika ia berpapasan dengan Chanyeol yang hendak membawakan camilan. Pria bermarga Wu itu menunduk sejenak sebagai tanda penghormatan kemudian melanjutkan langkahnya. Baru saja Chanyeol hendak mencerna apa yang terjadi, ia dikejutkan oleh suara Luhan yang menghentikan Shi Xun sambil berlari menuruni anak tangga.
"apa yang sebenarnya terjadi eoh?" tanya Chanyeol setelah mencegah Luhan mengejar Shi Xun
"kami berkelahi. Kenapa kau tidak menahannya oppa?" tanya Luhan kesal
"dia terlihat marah. Kenapa dia bisa semarah itu pada mu?" tanya Chanyeol mencoba sabar pada adik sematawayangnya itu
"karena aku menanyakan Oh Sehun padanya" cicit Luhan takut
"Kau menyamakannya dengan si brandalan itu? kau sungguh keterlaluan nona Xi!" bentakan Chanyeol sukses membuat tubuh Luhan tersentak
"aku tidak menyamakannya oppa, aku hanya menanyakannya karena wajah mereka mirip." Bela Luhan dengan tubuh yang bergetar
"kau benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa kau membandingkan dia yang dari keluarga terpandang dengan berandalan yatim piatu itu eoh?" oceh Chanyeol tanpa memperdulikan kondisi adiknya yang sudah berkaca-kaca. Sedangkan Luhan hanya mampu menahan isakannya agar tidak menjadi.
"mengapa kau tak menjawabnya? Bagaimana bisa kau mengenal si berandalan itu eoh?" tanya Chanyeol setelah melihat kondisi adiknya, sambil mengelus surai panjangnya bermaksud menenagkan. Bukannya membaik, isakan Luhan malah semakin menjadi.
"masuklah ke kamar dan renungkan kesalahanmu. Akan ku diskusikan dengan baba lalu kita bicarakan besok." Putus Chanyeol kemudian sedang yang diajak bicara hanya menganggukan kepala lalu meninggalkan orang yang dipanggilnya "oppa" itu sendirian.
.
.
Keesokan harinya Luhan terbangun dengan kondisi yang tidak cukup baik, rambut berantakan serta mata pandanya yang sembab semakin memperburuk keadaannya meskipun ia sudah mandi dan siap berangkat kesekolah. Moodnya benar-benar bertambah buruk ketika berpapasan dengan kakaknya yang juga hendak sarapan. Bahkan Luhan hanya akan menjawab pertanyaan dari kakaknya dengan gumaman, gelengan atau anggukan.
Disekolah pun kondisinya tidak jauh berbeda, Luhan mengabaikan kedua sahabatnya yang sejak tadi pagi berceloteh ria dan memilih membaca catatannya sebagai persiapan ujian.
"bagaiman lu? Kau sudah menanyakannya pada gurumu? Apa benar dia Oh Sehun?" tanya Sohee bersemangat ketika mereka sedang makan siang di kantin, sedang yang ditanya hanya mengangguk kemudian menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"kau kenapa Lu, sejak tadi pagi sepertinya tidak besemangat?" tanya Nayoung khawatir
"kami bertengkar semalam." Jawab Luhan lesu
"kalian tidak cocok? Mengapa secepat itu?" tanya Nayoung bingung
"itu semua karena rasa penasaranku terhadap Oh Sehun." lirih Luhan, Luhan benar-benar merenungkannya semalam, dan satu kesimpulannya semua karena rasa penasarannya terhadap Oh Sehun
"kenapa kau jadi menyalahkan dia?" tanya Sohee tak terima
"sudahlah, aku sedang tidak ingin membahasnya!" bentak Luhan kemudian mengambil sisa makananya kemudian meninggalkan kedua sahabatnya yang sama-sama tekejut.
.
Setibanya dirumah, Luhan dikejutkan dengan kehadiran sang appa yang berada dikamarnya.
Luhan tahu bahwa sang appa akan pulang hari ini, tetapi ia tidak menyangka akan secepat itu.
"merindukan appamu eoh?" tanya tuan Xi yang masih memeluk putri bungsunya.
"sangat." Jawab Luhan singkat seolah tak ingin kehilangan sedetik pun waktunya.
"lihatlah, appa membawakan oleh-oleh untukmu." Ucapan appa Luhan sukses melepaskan pelukan sang putri.
"jinjja? Eodi?" tanya Luhan antusias.
"itu disana, kau suka?" tunjuknya pada boneka rusa diatas kasur.
"hwaaaaaaaaaaaaaa daeeeeeeeeeebak appa." Komentar Luhan kemudian berlari kearah hadiahnya itu "ukurannya bahkan dua kali lipat dariku." Tambahnya sambil memeluk sang objek yang dimaksud.
"bersiaplah, kita akan makan malam bersama dibawah." Ucap appa Luhan yang terakhir sebelum meninggalkan kamar sang anak
"ayayay kapteeeen." Balas luhan yang kemudian kembali memeluk boneka terbarunya itu
.
Keluarga Xi baru saja menyelesaikan makan malamnya, kini mereka berada di ruang keluarga sambil menikmati tontonan dari salah satu saluran parabola ditemani beberapa camilan yang tersedia. Luhan masih bergelayut manja pada sang appa sambil sesekali berbincang, sedang anak yang lebih tua memilih fokus pada tontonan didepan sana.
"oppaaaa tak bisakah kau kedepan untuk mengecek siapa yang bertamu malam-malam seperti ini." Rengek Luhan karena terganggu oleh suara bel yang terus berbunyi
"kau saja lu, aku tak ingin ketinggalan tayangannya." Balas sang oppa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi
"jja Lu, lihatlah dulu tamunya." Komentar sang appa setelah kedua anaknya berdebat tanpa ujung sementara yang ditunjuk hanya mendelik sebal.
Luhan bangkit dan dengan malas melangkahkan kakinya menuju pintu utama kemudian membukakan pintu dengan setengah hati. Terkejut, adalah ekspresi yang Luhan tunjukan pertama kali ketika melihat sang tamu. Tubuhnya basah kuyup, dari rambut hingga sepatu tak ada yang terlewat satupun dari sapuan air. Bahkan tas yang digendong hingga kacamatanya pun basah pula.
"mengapa kau lama sekali? Aku tidak datang dihari yang salah bukan?" ucap sang tamu sedikit menggigil.
"k-kau datang? Shi Xun op-ppa" bukan jawaban yang dilontarkan oleh Luhan, tetapi memang itulah yang terpikir diotaknya saat ini.
.
.
"Kau ingin minum sesuatu? Teh hangat atau coklat panas?" tanya Luhan setelah memberikan handuk pada tamu yang baru saja datang
"berikan aku coklat panas saja jika tidak keberantan." Jawabnya sambil mengeringkan rambut dengan handuk yang tadi diberikan.
"tunggu sebentar, aaah aku juga akan meminjamkan mu baju pada chanyeol oppa." Komentar Luhan setelah melihat penampilan sang guru yang benar-benar basah kuyup
"terima kasih dan maaf sudah merepotkanmu." Gumam Shi Xun karena Luhan sudah berlari ke arah dapur
Shi Xun lah yang berkunjung kerumah Luhan, ia tak mengira bahwa hujan akan turun dan sialnya ia tidak membawa payung sehingga ia harus merelakan tubuhnya basah kuyup dalam perjalanan.
Shi Xun masih mengeringkan rambutnya ketika chanyeol menghampiri dan memberikan pakaian ganti lengkap dengan dalamannya. Langsung saja pria yang telah menggigil kedinginan itu berterimakasih dan meminta izin untuk berganti pakaian.
.
Pakaian yang diberikan Chanyeol sangat pas dikenakan oleh Shi Xun, mungkin karena postur dan tinggi badan mereka yang hampir sama. Shi Xun baru saja keluar dari kamar mandi ketika berpapasan dengan Luhan yang membawa cokelat panas. Sesaat Luhan terpesona oleh penampilan guru privatenya itu, ya Shi Xun sangat berbeda penampilannya dengan yang biasa dia lihat. rambut hitamnya yang basah, otot lengan yang terlihat dibalik kaos lengan pendek, serta wajahnya yang sedikit basah karena lelehan air dan jangan lupakan tatapan matanya yang ia lihat langsung karena Shi Xun melepaskan kacamatanya kembali membuat Luhan teringat sosok dance maker prince si penyebab perdebatannya kemarin.
"minumlah dulu" ucap Luhan sambil menyodorkan gelas berisi cokelat panas.
"aaaaah, gomawo." Jawab Shi Xun setelah menerima gelasnya. "apa chanyeol hyung tidak punya pakaian yang lebih sopan? Aku sedikit tidak nyaman dengan ini." Tanya Shi Xun ketika mereka dalam perjalanan keruang tamu.
"kau terlihat keren dengan itu." komentar Luhan menjawab pertanyaan Shi Xun
"Kau sudah berganti pakaian rupanya" itu suara appa Luhan ketika kedua remaja tersebut tiba diruang tamu, sontak membuat keduanya terkejut
"appa" gumaman Luhan membuat pria disebelahnya sadar akan apa yang harus dikakukannya.
"ah, annyeonghaseyo joneun Wu Shi Xun imnida." Ucap Shi Xun memperkenalkan diri dengan sopan
"duduklah, aku telah banyak mendengar cerita tentangmu." Pinta appa Luhan yang langsung dituruti oleh keduanya
"maafkaan aku atas kej- " seolah mengerti arah pembicaraan, Shi Xun segera bangkit dan meminta maaf namun ucapannya dipotong oleh pria yang lebih tua
"itu bukan kesalahanmu. Setelah aku mendengarnya, aku merasa harus meminta maaf langsung padamu atas nama Luhan. Dia baru saja pindah, jadi aku kira dia tidak mengenal siapa itu Oh Sehun. dan aku sungguh berterimakasih karena kau masih bersedia datang hari ini." Potong yang lebih tua panjang lebar.
"animida. Saya yang terlaru emosi menyikapinya." Jawab Shi Xun
"aaah kau benar-benar sopan ternyata. Jja, naiklah ke perpustakaan. Kalian bisa mulai belajarnya disana."
"AYAYAY CAPTEN" jawab Luhan semangat sedang Shi Xun hanya memberi hormat kemudian menyusul Luhan ke perpustakaan.
Sejak hari itu Shi Xun kembali mengajari Luhan setiap harinya namun pada hari keenam ia tidak hadir. Luhan kira gurunya itu berhalangan hadir karena suatu hal yang mendesak, tetapi setelah empat hari sang guru tak kunjung hadir maupun membalas pesannya. Hingga Luhan berinisiatif untuk mengunjungi rumahnya keesokan harinya.
.
Luhan's POV
Chanyeol oppa tidak berbohong mengenai keluarga Shi Xun, ia merupakan seorang Chaebol. Lihat saja kediamannya yang megah dihadapanku. Ini bukan kediaman ataupun mansion, bahkan ini lebih pantas disebut istana. Sekarang aku bahkan ragu untuk menemuinya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang ahjusshi berseragam hitam, sepertinya dia adalah security di rumah Shi Xun
"aaaah, annyeong ahjusshi. Saya ingin bertemu dengan Shi Xun oppa. Dia ada dirumahnya?" tanyaku to the point
"aaaah, apa kau yeoja chingunya?" bukannya menjawab, iya malah kembali melontarkan pertanyaan padaku
"nde?!" sontak saja membuatku terkejut
"tuan muda belum pernah mengajak temannya kemari. Kau pasti sangat special untuknya." Terangnya "jja masuklah, ia ada didalam." Lanjutnya kemudian dan aku hanya mengekori dibelakang.
Tuan Lee, si security itu mengantarku hingga ke depan pintu. Ia kemudian pamit undur diri untuk kembali ke post jaganya. Kini hanya tinggal aku sendirian yang berada di depan pintu.
Sudah kesekian kalinya aku memencet bel di dekat pintu namun tak kunjung ada balasan dari dalam sana. Merasa penasaran, ku coba membuka pintu bagian kanan dan… tidak dikunci.
Krieeet~ perlahan pintu bagian kanan terbuka seiring dorongan yang diberikan oleh tanganku.
Sambil mengucapkan 'permisi' kaki ini terus melangkah masuk ke dalam rumah, namun terhenti ketika mendengar keributan yang sepertinya berasal dari ruang tamu. Dengan perlahan, kembali ku langkahkan kaki hingga melihat kedua objek yang sedang berdebat.
"sudah eomma beritahu bukan untuk tidak mengajar lagi. Tetapi kenapa kau masih berhubungan dengan anak itu eoh?" bentak seorang wanita pada anaknya –mungkin- di depan sana.
"tapi aku menyukainya eomma." Jawab sang anak yang sepertinya tak terima. Apa anak itu Shi Xun oppa?
"apa uang yang kami berikan kurang hingga kau harus susah payah mengajar seperti itu?" ah aku sepertinya tahu akar permasalahan mereka
"aku bilang aku menyukainya. Aku suka mengajar apa itu salah eomma?"
"geurae, aku tidak menyukainya." Tolak sang eomma langsung. "Lebih baik kau mempersiapkan olimpiademu yang sebentar lagi akan berlangsung." Ucapnya kemudian
"shiro, aku tidak menyukainya" sang anak balas menolaknya tegas.
"kenapa kau keras kepala sekali Wu Shi Xun!" omonaa ternyata itu benar Shi Xun oppa dan eommanya "kau selalu melakukan hal yang tidak kami sukai. Jaga kelakuanmu. Kau adalah anak orang terpandang sekarang."
"aku tidak perduli dengan si tua bangka itu!"
Plaak- sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Shi Xun oppa. "aku tidak pernah mendidikmu untuk menjadi sampah yang tak berguna seperti appamu Oh Sehun!"
Braaaak- suara vas bunga yang terjatuh. bukan dari kedua orang yang berkelahi didepan sana, tetapi aku yang menyenggolnya karena terkejut. Jadi Wu Shi Xun adalah Oh Sehun?
.
.
.
To be Continue
.
Mianhae ini late update, aku baru pulang pengabdian dan disana gak ada sinyal buat update, ini dia chapter 10. Silahkan tinggalkan jejak untuk kritik dan saran
.
.
See you soon, Annyeong
