If We Love Again :

After Death

.

.

.

.

.

"Chanyeol, aku ingin kau melihat ini" Sehun menyerahkan sebuah flashdisk pada Chanyeol. "Di dalam flashdisk itu hanya terdapat satu file, ku harap kau melihatnya"

Chanyeol menggenggam erat flash disk di tangannya.

Sepulang dari rumah sakit, ia kembali pulang ke rumah. Ia bertemu dengan Ibunya dan Ibunya menangis sejadi-jadinya. Chanyeol tidak pernah melihat Ibunya menangis seperti ini sebelumnya.

Chanyeol berjalan gontai menuju kamarnya. Ia mendudukkan tubuhnya di atas ranjangnya dengan pandangan tertuju pada sebingkai fotonya dengan Baekhyun di nakas. "Kau benar-benar pergi meninggalkanku, Baek"

Ia pergi untuk meraih laptopnya dan kemudian kembali menuju kamarnya lalu memasukkan flashdisk pemberikan Sehun. Chanyeol hanya menemukan satu file di dalamnya.

Hari dimana duniaku berakhir.

File itu merupakan sebuah video, yang dibuat oleh Sehun yang sudah ia persiapkan untuk ia berikan pada Chanyeol jika suatu hari Baekhyun meninggalkannya. Dan hari ini adalah hari itu.

Rekaman pertama, ketika Baekhyun dan Sehun menikah. Baekhyun terlihat manis dalam balutan setelan putih di tubuhnya. Kemudian bibir Chanyeol terangkat membuat sebuah senyuman.

"Baek! Katakan sesuatu pada kamera!"

"Uh? Apa ini?"

"Katakan sesuatu pada kamera, cepat!"

"Urm… Kau tidak datang, Chanyeol!"

Rekaman kedua, ketika Baekhyun dan Sehun tengah makan malam di sebuah restaurant. Baekhyun tengah memakan pastanya hingga ia menyadari kamera Sehun yang merekamnya.

"Apa yang kau lakukan dengan kamera itu?"

"Untuk menunjukkan pada Chanyeol apa yang ia lewatkan"

Chanyeol terkekeh mendengarnya. Dan kembali terfokus pada layar laptopnya.

"Oh! Chanyeol harus merasa menyesal karena sudah meninggalkan Korea tanpa memberitahuku"

"Byun Baekhyun-ssi?"

Suara di samping Baekhyun, dua orang wanita di awal 20annya. "Adakah yang bisa ku bantu?"

"Erm, maafkan aku karena mengganggu waktu makan malammu. Tapi aku adalah penggemarmu, aku mengikuti bukumu dari awal kau menerbitkan bukunya. Aku selalu menanti buku-bukumu selanjutnya"

"Woah, kau hebat sekali, Baekhyun! Kau benar-benar seseorang yang idaman!"

"Ah, tidak. Tulisanku tidak sebagus itu, aku masih memerlukan banyak belajar untuk menulis. Dan tolong, abaikan temanku ini"

"Teman? Ku pikir kalian menikah"

"Teman hidupku, jadi dimana aku harus memberimu tanda tangan?"

Alis Chanyeol terangkat, "Teman hidup, eh? Sehun benar-benar seorang teman hidup Baekhyun" kemudian ia terkekeh. Teman hidup yang secara harifiah seorang teman hidup.

"Di bukuku! Aku selalu membawanya!"

Wanita itu mengeluarkan sebuah buku, When You're Gone.

"Oh, ini adalah bagian cerita kesukaanku"

"Benarkah? Darimana kau mendapatkan inspirasi untuk ceritamu. Aku awalnya merasa aneh saat menemukan jika peran utama ini adalah virus bahagia dan daging babi asap yang berbicara yang saling jatuh cinta"

"Aku mendapatkan inspirasi itu dari mana saja. Dan, well, itulah yang menarik dari ceritaku"

Rekaman ketiga, ketika Baekhyun dan Sehun tengah berada di Kanada, tepatnya di kamar yang Chanyeol pinjamkan untuk mereka.

"Baekhyun, apa yang kau temukan disana?"

Pria itu menoleh menatap kamera dan menunjukkan sebuah bingkai foto kelulusannya. Ia tersenyum lebar dan terlihat senang.

"Chanyeol tidak menyimpan barang-barangnya dengan baik"

"Foto apa itu?"

"Foto kelulusanku"

"Apa?! Oh benarkah? aku menyimpannya di atas meja?"

Rekaman keempat, ketika Baekhyun duduk di atas mesin mobil sembari menatap matahari terbenam di hadapannya. Lelaki itu bergumam, dan kemudian bernyanyi.

Sebuah lagu yang mengingatkan Chanyeol pada saat ia meneteskan air matanya di apartemennya setelah Baekhyun pergi meninggalkannya untuk berpergian dengan Sehun ke California.

"I did it all with a smile on my face, tidak perlu menyakiti siapapun"

"Aku tidak akan menahanmu yang pergi menjauh, aku ingin melepasmu dengan senyum" lanjut Chanyeol.

Rekaman kelima, ketika Baekhyun berkeliling bersama Luhan mengelilingi Beijing. Langkah mereka terhenti ketika Baekhyun menunjuk salah satu tempat makan.

"Donkkaseu, Chanyeol selalu menyukai donkkaseu"

"Oh, bahkan mereka memutar lagu Love Song oleh Bumkey dan Rythmking. Aku pernah menyanyikan lagu itu dengan Chanyeol"

"Baekhyun, tidakkah kau sadari, kau hanya bercerita tentang Chanyeol"

"Lalu apa yang kau harapkan? Bercerita tentang Jongin? Kau bercanda!"

"Kkkk, maafkan aku. Dan jika Chanyeol mendengarmu, apa yang ingin kau katakan?"

Baekhyun terlihat berpikir, sedangkan Luhan di sampingnya terlihat penasaran, "Apa kau hidup dengan baik? Karena aku tidak menjalani hidupku dengan baik"

Rekaman keenam, ketika Baekhyun terbaring dirumah sakit. Sehun tidak merekam Baekhyun dalam jarak dekat, lelaki itu tertidur, dan mengigau.

Jika kau mendengarnya dengan baik, Baekhyun memanggil Chanyeol dalam tidurnya.

Layar menggelap dengan bergantian kata dengan kata.

"Chanyeol akan mengunjungiku, bukan?"

"Aku mencintainya, Sehun"

"Chanyeol tidak aktif KT lagi?"

"Kau tidak memberitahuku jika ia ke Kanada!"

"Seharusnya aku berani mengatakan jika Chanyeol adalah kekasihku, dan kau berani menyatakan perasaanmu pada Luhan"

Dan video itu berakhir. Chanyeol hanya menghela nafasnya, temannya sudah mempersiapkan ini benar-benar jauh-jauh hari. Bahkan ia tak berpikir sampai situ.

"Ah, KT" gumamnya kemudian meraih ponselnya. Membuka aplikasi KT yang telah ia nonaktifkan notifikasi pesan setelah menerima undangan pernikahan dari Baekhyun.

Baekhyunee +999

Sehun 119

Unknown Jongin 103

Kyungsoo 38

SKY Sale! +999

YouLovinTheSizeClub 539

Chanyeol membukanya, tanpa tahu ia akan kembali hancur setelah membaca pesan-pesan itu. Benar-benar hancur dan menyesal.

Ia membuka pesan-pesan tertimbun dari Baekhyun.

.

.

.

Chanyeol memakai setelan jas hitam pagi itu. Begitu pula dengan anak dan istrinya, Youngwon dan Wendy. Hari ini adalah hari yang menyesakkan bagi Chanyeol.

Semalam ia tidur di kamarnya, biasanya ia dan keluarga kecilnya akan tidur di kamar tamu yang lebih luas. Namun ia semalam terus-terusan mengeluarkan air mata hingga kini matanya sedikit membengkak.

"Chanyeol, kau baik-baik saja?"

"Tentu saja tidak, Wendy" Chanyeol tersenyum kecil. "Bagaimana dengan Ibuku? Ia baik?" tanya Chanyeol.

Wanita itu menggelengkan kepalanya kecil, "Ia menolak untuk keluar kamar, dan ia menangis terus"

Chanyeol mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju pintu kamar Ibunya. Ia mengetuk pintu kamar Ibunya beberapa kali. "Bu, kita harus mendatangi upacara penghormatan untuk Baekhyun" ucap Chanyeol dari luar.

"Ibu tidak akan pergi… Baekhyunku sayang" dan kemudian Chanyeol mendengar Ibunya menangis kembali. "A-ayolah, Bu. Jangan membuat ini menjadi lebih sulit"

Chanyeol membuka pintu kamar Ibunya, dan penampilan Ibunya benar-benar kacau. "Bu, ayolah… jangan seperti ini"

"Ti-tidak… Ibu tidak boleh menghadiri pemakaman anak Ibu… I-ibu tidak bisa, Chanyeol"

"Bu, bukan ini yang Baekhyun inginkan. Ia ingin Ibu berada di sana, berusaha tersenyum, okay?" Chanyeol mengusap air mata Ibunya. "Baekhyun selalu menginap di rumah ini, terlalu sering. Hingga Ibu sudah biasa akan kehadirannya, Chanyeol"

Ibu Chanyeol kembali menangis ketika ia memberikan penghormatan pada Baekhyun. Chanyeol semakin tertunduk setiap saat. Dan di sinilah ia, membantu Jongin dan beberapa kerabat Sehun mengangkat peti mati Baekhyun.

Chanyeol sedikit tersenyum. Ia tidak ingin mengantar Baekhyun dengan air mata. Chanyeol yakin, lelaki itu hidup lebih damai dan bahagia di sana.

"Selamat jalan, Baek" bisik Chanyeol setelah ia memasukkan peti itu kedalam salah satu kotak besi, tempat kremasi.

"Ku harap kau bahagia" gumam Chanyeol ketika petugas menutup kotak besi itu.

"Kau harus menunggu, Baek" gumamnya lagi ketika petugas memulai prosesi kremasi dan akhirnya Sehun menangis dan hancur, kehilangan sahabat terbaik dalam hidupnya.

Luhan di sana, merengkuh tubuh Sehun dan memberikan semangat pada lelaki itu.

.

.

.

"Apakah aku terlihat baik?" tanya Sehun pada Chanyeol, Jongin, dan Kyungsoo. "Kau selalu terlihat baik, Sehun! Ini bukanlah pernikahan pertamamu!" seru Jongin.

Ya, ia akhirnya menikah dengan Luhan satu tahun setelah Luhan menceraikan Kris.

Kris bermain di belakang Luhan selama ini, dengan salah satu temannya, Zitao.

Chanyeol tertawa dan meremat bahu Sehun, "kau bisa melakukan ini, Oh!"

"Diamlah, aku tidak suka mendengar bahasa inggrismu itu" Mereka tertawa mendengar penuturan sang mempelai.

"Bagaimana jika Kris datang dan menghancurkan pernikahanku? Bagaimana jika… Luhan memiliki pemikiran kedua? Bagaimana—"

"Tidak akan ada hal besar yang terjadi kecuali pernikahanmu, Sehun. Hanya ada kau mencium Luhan dan kalian akan terikat hubungan pernikahan" Chanyeol berusaha menenangkan Sehun. Dan ia rasa cukup berhasil.

.

.

.

"Erm, Jongin, apa yang kau lakukan?" tanya Kyungsoo pada saat Jongin tiba-tiba merendahkan tubuhnya di hadapan Kyungsoo, tepat setelah Sehun dan Luhan membagi sebuah ciuman pernikahan. "Aku mengikat tali sepatuku"

Kyungsoo berdecih kesal dan mengalihkan pandangannya dari Jongin. Ia kesal.

"Aku hanya bercanda, Kyung" kemudian Jongin mengeluarkan sebuah kotak cincin dari sakunya. "I-itu… untukku?" tanya Kyungsoo.

"Tidak, ini untuk Sehun dan Luhan"

"Kau sungguh menyebalkan!"

"Aku hanya bercanda, Kyung. Hey, dengarkan aku"

"Aku tidak akan mendengar apapun dari mulutmu itu"

"Baiklah, aku tetap akan melakukannya" Jongin membenarkan posisinya dan membuka kotak cincin yang berisi sebuah gulungan kertas, berisikan kata Maukah kau menjadi pendamping hidupku, Kyungsoo?

Chanyeol berdeham keras, membuat ruangan itu menjadi sepi. Sehun tersenyum senang melihat keromantisan kawannya itu. "Oh ini akan terasa menyenangkan" bisiknya pada Luhan.

"Jadi, apa jawabannya, Kyungsoo?" tanya Sehun.

Sekarang semua orang menatap Kyungsoo dan Jongin yang merendahkan tubuhnya di hadapan Kyungsoo. "Kita telah mengenal dari sekolah menengah pertama, Jongin. Hubungan kita tidak jelas hingga kau berani menyatakan perasaanmu padaku. Dan aku mengatakan ya tanpa ragu—"

"Oh ayolah, jangan mencuri spotlight seseorang di pernikahan seseorang" gerutu Chanyeol yang di hadiahi sebuah senggolan dari Wendy.

"Well, kau benar, Chanyeol"

"Jadi?" tanya Jongin dengan gugup.

"Ya! hell yes! Aku ingin menikahimu, Jongin"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

After life

.

.

.

"Kau! Berani-beraninya kau mengintip seorang putra mahkota" telunjuknya menunjuk seseorang ketika ia tengah bersenang-senang berlarian kesana kemari di taman istana.

Merasa ditunjuk, ia memunculkan tubuhnya dari balik pohon, "M-maafkan aku, putra mahkota"

"Kau siapa? Aku tidak pernah melihatmu disini"

"Aku Park Chanyeol, putra mahkota. Ibuku bekerja di dapur kerajaan ini"

"Aku Byun Baekhyun, seorang putra mahkota. Kau berapa tahun?"

"A-aku tujuh tahun, putra mahkota" meskipun begitu ia mengeluarkan delapan jarinya.

"Jarimu menunjuk delapan dan kau berkata tujuh, sebenarnya mana yang benar? Aku bingung"

"Tu-tujuh, putra mahkota"

"Hn, baiklah, karena aku juga berumur tujuh tahun dan aku tidak punya teman selain para pengasuhku, sekarang kau ku angkat menjadi, erm, teman setiaku!"

"Teman setia?"

"Teman setia, kau bertugas untuk menemaniku hingga akhir hidupku! Kau percaya diri akan hal itu?"

"Ya, itu mudah untukku!"

.

kosong

.

Suara ledakan terdengar nyaring, sangat nyaring hingga menyakitkan telinganya. "Chanyeol! Periksa rumah itu, dan jika kau menemukan seseorang di rumah itu, bawa mereka ke penampungan" ucap Yoojin dan kemudian berlalu dengan senapannya.

Chanyeol mengambil nafasnya dan membuka pintu itu perlahan. Ia berjingkat ketika memasuki rumah itu, takut-takut penghuni rumah itu terkejut dan berlarian hingga Chanyeol harus menggunakan senapan di tangannya untuk menghabisi nyawanya.

Sekali lagi suara ledakan terdengar.

Suara tangisan kecil terdengar, dari balik lemari baju.

Chanyeol membukanya perlahan dan menemukan seorang remaja di dalam sana. Ketika matanya bertemu dengan mata anak itu, anak itu tidak berteriak ataupun melakukan hal lain. Anak itu hanya menangis.

"Dimana keluargamu yang lainnya?" tanya Chanyeol dalam bahasa china.

"Tidak tahu, aku takut dan segera bersembunyi"

"Siapa kau?"

"B-bian Baixian"

Chanyeol mengalami pergulatan dalam hatinya, ia tidak ingin membiarkan anak ini mati di penampungan dan ia tidak ingin anak ini mati di tangannya, "Aku seharusnya tidak melakukan ini, tapi kau harus ikut aku. Aku akan membawamu pergi, Baixian. Jauh dari negerimu ini" ucap Chanyeol dalam bahasa chinanya.

Baixian mengangguk, dan ketika Chanyeol mengulurkan tangannya, Baixian segera meraihnya tanpa ragu.

Pelarian yang akan sangat melelahkan akan dimulai dari sekarang.

Menghindari temannya, keluarganya, dan negaranya.

.

kosong

.

"Apakah kau Baekhyun?"

"Ya, tidak ada di kelas ini yang memiliki nama Baekhyun"

"A-aku Chanyeol. Park Chanyeol"

"Aku tahu"

"Jadi, bagaimana jika kita mengerjakan tugas ini dirumahku?"

"Ya, aku tidak masalah"

"Erm, sampai jumpa di gerbang sekolah sepulang sekolah!"

"Itu Chanyeol?"

"Ya, seperti yang kau lihat, Lu"

"Kau beruntung berada di dalam satu kelompok yang sama dengannya, Baekhyun"

"Oh diamlah. Dan kau, selamat berkencan dengan Sehun"

"Jangan tertawa, Baekhyun! Aku hanya berada dalam satu kelompok dengan Sehun, Baekhyun"

.

satu

.

"Baekhyun, cepat! Kita tidak memiliki banyak waktu lagi. Anak buah Wu sedang dalam perjalanan kemari!"

"Tidak, Chanyeol! Tidak! Jangan membuat ini sulit untukku!" Baekhyun mulai mengeluarkan air matanya kemudian memeluk tubuh tinggi Chanyeol. Lelaki tinggi itu tidak bisa untuk tidak membalas pelukan Baekhyun, lawan dari organisasi miliknya.

"Jika kau tidak segera menembakku, kita berdua akan mati"

"Itu lebih baik daripada aku harus menembak mati dirimu" Chanyeol menghela nafasnya dan meremat kedua bahu sisi. "Itu bukanlah pilihan yang sangat bagus, Baekhyun. Kau dapat hidup dengan baik di kalangan Wu"

"Aku tidak akan hidup dengan baik tanpamu di sisiku, Chanyeol!"

Chanyeol menyerahkan pistol ke tangan Baekhyun dan mengarahkan mulut pistol itu ke arah dadanya, "Kau bisa melakukannya, Sayang. Tarik pelatuknya dan kau akan menjadi pahlawan dalam organisasi Wu. Aku sangat mencintaimu" ucap sang ketua mafia Loey.

"Tidak, Chanyeol! Lebih baik mereka menemukanmu dan aku dalam keadaan berciuman hingga mereka harus menembak kita berdua daripada aku harus melakukan ini"

Tangan Chanyeol yang lain terangkat untuk mengusap rambut Baekhyun lembut dan ia tersenyum kecil, "Kau tahu? Itu bukanlah ide yang buruk, Baekhyun. Aku senang mendengar mulut cerdasmu dengan segala ide milikmu—"

Baekhyun segera menutup bibir Chanyeol dengan bibirnya. Air mata kembali mengalir dari sudut matanya. "Aku sungguh mencintaimu, Loey" bisik Baekhyun di depan bibir Chanyeol. Kedua kening berkeringat mereka saling bersentuhan.

Lelaki tinggi itu terkekeh, "Kau sungguh memberdayaiku, Light. Wu akan sangat bangga denganmu"

"Pastikan, jika kita bertemu lagi, kita tidak bertemu sebagai lawan. Sehingga aku tidak harus menerima perintah untuk menjadi terbuang hingga kau memungutku lalu menghabisimu lagi"

"Jika itu terjadi lagi, aku akan memikirkannya. Aku tidak akan mempermasalahkannya selama itu adalah kau, Light"

"Bukan Light. Aku tidak ingin menjadi Light, dan aku tidak ingin kau menjadi Loey. Aku hanya ingin menjadi Baekhyun dan bertemu dengan Chanyeol. Aku hanya ingin kau dan aku dapat berkencan seperti orang biasa, memiliki kisah asmara seperti orang biasa"

"Light! Apa kau di dalam?" itu adalah suara dari luar kamar itu. Mata Baekhyun membesar dan air mata kembali memenuhi matanya. "Ini aku, Kai" lanjutnya.

"Jawab dia, Light" bisik Chanyeol dengan kedua mata menatap mata berair Baekhyun.

"Y-ya, Jongin. A-aku di sini"

"Damn, Light! Jangan sebut namaku! Apa kau mendapatkan Loey? Tuan Wu tidak begitu senang mendengar Loey membawamu pergi dan juga Tuan Wu tidak menyukai berita burung yang berkata jika kau menyukai Loey"

"Katakan 'ya' padanya, Baekhyun"

"Y-ya"

"Aku akan masuk!" di luar sana Jongin sudah menggenggam kenop pintu dan membuka pintu itu sedikit. "Tunggu!" suara Baekhyun menghentikan Jongin untuk membuka pintu. "Tunggu. Ini tugasku untuk menyelesaikan Loey" Baekhyun menghela nafasnya, "Setelah kau mendengar suara tembakan, kau bisa masuk. Namun tidak sekarang, kumohon"

Pintu itu kembali tertutup rapat. Chanyeol tersenyum dan sekali lagi mengecup bibir Baekhyun. "Tembak aku, Light. Tepat di sini"

"A-aku… tidak bisa, Chanyeol" suara berbisiknya bergetar.

"Apa itu benar, hyung? Kau menyukai Loey?" tanya Jongin dari luar sana. Tubuhnya bersandar pada pintu dibelakangnya, ia dapat mendengar pembicaraan mereka. Jongin memanggilnya hyung, itu berarti Jongin ingin berbicara dengan Baekhyun, bukan pada Light.

Chanyeol dan Baekhyun masih bertukar pandangan, pistol itu masih tertuju pada dada Chanyeol. Namun mereka mendengar Jongin dengan baik.

"Aku mengatakan ini karena kau telah banyak membantuku ketika Tuan Wu membawaku dan menyiksaku di penangkaran, hyung" Jongin berada di tempat itu seorang diri. Ia tiba lebih cepat dari rekannya yang lain.

"Aku mencuri dengar, setelah anak buah Tuan Wu menangkapmu. Mereka akan meminta kesaksianmu dan pernyataan jika kau tidak jatuh cinta pada Loey. Jika kau terbukti bersalah, mereka akan menembakmu langsung di tempat. Dan jika kau tidak bersalah, mereka akan memukul kakimu dengan palu dan mengurungmu di penangkaran hingga kau mati"

"B-benarkah itu?"

"Ya, dan jika mereka mengurungmu di penangkaran. Aku akan menyusup setiap malam untuk menemanimu, hyung. Seperti yang biasa kau lakukan padaku" kemudian Jongin terkekeh untuk menghilangkan rasa sedihnya.

"Ternyata mati denganmu… adalah jalan terbaik, Loey" Baekhyun berbisik pada Chanyeol dan kemudian ia mengecup bibir Chanyeol. "Aku tidak akan pernah menjadi seorang pahlawan untuk kelompok Wu"

Tangan Baekhyun yang lain meraih pistol di sakunya dan menyerahkannya pada Chanyeol. "Kau benar, mati bersamaku adalah satu-satunya jalan. Tidak ada lagi pelarian dan tidak ada lagi darah yang keluar dari tubuh kita" Chanyeol meraih pistol itu dan mengarahkan mulut pistol itu pada tengkuk Baekhyun.

"Hyung, kau mendengarku? Mereka sudah tiba"

"Ya, t-terima kasih, Jongin kecil"

"Hyung? Kau tidak akan melakukan hal bodoh bukan?" Jongin tersentak mendengar Baekhyun memanggilnya Jongin kecil.

"Dalam hitungan ketiga?" tanya Baekhyun pada Chanyeol, mengabaikan Jongin.

"Tuhan tahu betapa aku mencintaimu, Baekhyun"

"Aku juga mencintaimu, Chanyeol"

"Tiga" ucap mereka dalam satu suara dan masing-masing dari mereka menarik pelatuk di tangan mereka.

"Hyung!" teriak Jongin mendengar dua buah tembakan dari dalam kamar.

.

dua.

.

Chanyeol merasa berat di lengannya lalu ia membuka kedua matanya, itu Baekhyun yang sedang mendekapnya erat. Ia membuat sebuah senyum kecil dan mengusap rambut Baekhyun. "Jangan pergi" gumam anak itu.

Datang lagi, perasaan itu datang lagi.

"Baekhyun" ucap Chanyeol lemah dengan sisa tenaga yang ada di dalam dirinya. Yang lebih kecil terbangun dan menatap Chanyeol penuh ke khawatiran, "Chanyeol? Kau baik-baik saja?"

"Aku tidak, Baekhyun" Chanyeol mencengkram bajunya, tepat di atas dada. "A-aku… kesulitan untuk bernafas" kemudian ia terkekeh.

"C-chanyeol! Bertahanlah! Tuan Oh sedang mencari suku cadangmu"

"Tidak, Baekhyun. Jantungku tidak memiliki suku cadang" tangan itu terulur meraih pipi Baekhyun dan mengusap air matanya. Chanyeol terkekeh, "Sudah ku katakan, bukan? Percintaan di antara manusia dan robot itu tidak benar"

"Kau bukan robot lainnya, Chanyeol"

"T-tidak, Baekhyun. Aku hanyalah robot yang ditugaskan untuk menemanimu oleh Tuan Oh"

"Maka dari itu tuntaskanlah tugasmu… untuk menemaniku"

"Tuan Oh adalah ilmuwan yang sangat pintar, ia akan membuatkan robot lainnya untuk menemanimu, Baekhyun. Dan pastikan, jangan jatuh cinta pada sebuah metal besi lagi" ia terkekeh di atas ranjangnya masih dengan mengusap pipi Baekhyun.

"Damage 85%"

Baekhyun mengusap rambut milik Chanyeol. Memang ia adalah robot, namun ia memiliki perawakan seperti manusia seutuhnya. Jikapun orang melihatnya, mereka akan melihat Chanyeol seperti manusia biasa.

"Aku tidak akan jatuh cinta pada siapapun kecuali padamu Chanyeol"

"Damage 90%" suara muncul dari mesin Chanyeol. "Aku tahu, Eri" balas Chanyeol pada mesin itu.

"Carilah manusia-manusia untuk menemanimu, Baekhyun. Berteman dengan robot tidak selalu berakhir baik. Lihat dirimu sekarang, menangisi seonggok besi rapuh"

"H-hentikan itu"

"Damage 95%"

"Baekhyun?"

"Hn?"

"Bisa kau tutup matamu?"

"K-kenapa?"

"Damage 99%"

"Aku akan segera mati"

"T-tidak!" namun kemudian Baekhyun menutup kedua matanya.

"Lapor, robot PCY nomor seri 271192 telah dimatikan. Jantung telah berhenti bekerja—"

.

tiga

.

Dan kemudian, datanglah hari kebahagiaan itu.

Seperti yang mereka janjikan.

Mereka menunggu satu sama lain.

Meskipun Tuhan menghapus ingatan mereka.

Pada akhirnya mereka menemukan jalan untuk kembali bertemu di lain waktu.

.

.

.

"Aku tidak membayangkan tempat ini akan dipenuhi oleh Elsa" Baekhyun tersenyum senang setelah ia memberikan sebotol air putih kepada Chanyeol. "Ya—" Chanyeol masih berusaha mengatur nafasnya yang tersenggal setelah bernyanyi dan menari selama delapan menit tanpa henti "—aku senang Elsa begitu menyukai penampilan kita, Baek"

"Cepat ganti pakaianmu, setelah ini Sehun akan tampil" Baekhyun mengingatkan Chanyeol.

"Ya, terima kasih sudah mengingatkanku, manager-nim" ucap Chanyeol sebelum ia berlari menuju ruang ganti dengan kekehan. "Manager-nim?! Sialan, Chanyeol! Aku juga anggota!"

Dengan cepat ia mengambil pakaian yang harus ia gunakan untuk pertunjukan selanjutnya. Setelah managernya menghapus keringat di keningnya, Chanyeol berlari untuk menuju belakang panggung.

Sembari menunggu, ia menemukan bahwa dirinya terpana pada gerak tubuh Baekhyun dan suaranya yang merdu di atas panggung. "Joonmyeon hyung, bisakah kau mengambilkan sesuatu untukku?"

"Apakah hal 'itu'? Kau bersungguh-sungguh untuk melakukannya di hadapan Elsa?"

Chanyeol tidak menjawab, ia hanya tersenyum kecil dan kembali tertuju pada Baekhyun yang berada di atas panggung.

Acara konser dari grup itu, SKY-B, berakhir dengan sangat meriah. Ini adalah pertunjukan mereka yang terakhir setelah selama sepuluh tahun mereka berkarya. Ketika Sehun, Jongin, Chanyeol, dan Baekhyun berdiri di atas panggung. Para Elsa, julukan penggemar mereka, menangis.

Mereka tidak dapat membayangkan SKY-B akan berakhir. Mereka tidak membayangkan hidup mereka tanpa lagi melihat SKY-B bersama.

Secara bergantian mereka mengucapkan kata-kata perpisahan pada penggemar mereka. Dan ketika Chanyeol mengakhiri ucapannya, tiba-tiba lampu sorot itu mati, dan layar besar di belakang mereka menyala. Mereka memutar sebuah video mengenai kerja keras mereka selama sepuluh tahun belakangan.

Mata Baekhyun berair ketika ia menemukan dirinya tengah bercanda dengan Chanyeol dan Sehun ketika memasuki tahun ketujuh mereka. Semua orang tahu jika Chanyeol dan Baekhyun telah berpacaran saat itu, dan diluar dugaan, banyak orang yang mendukung mereka meskipun banyak yang menentang mereka juga.

Ketika video itu berakhir dan lampu sorot menyala, Chanyeol pergi untuk memeluk tubuh Baekhyun yang menangis. "Jangan menangis, kita tidak berakhir disini" bisik Chanyeol lembut, mengabaikan teriakan para penggemar yang menyukai momen Chanyeol dan Baekhyun tersebut.

"Berhenti menangis, atau aku akan menciummu di sini" mata Baekhyun terbelalak dan menghasilkan sebuah kekehan dari Chanyeol.

Chanyeol melepas pelukan itu dan mendekatkan mic itu pada bibirnya. "Jadi, Baekhyun, aku sudah mengenalmu lebih dari sepuluh tahun. Kau tahu, kau dan aku mendatangi pernikahan Jongin bersama dan kau berkata kau ingin menikah suatu hari nanti"

"Apakah ini sebuah lamaran, Chanyeol-ssi?" Sehun tertawa setelah mengucapkannya.

"Itu tergantung pada jawaban Baekhyun, sebenarnya"

"Lamaran macam apa ini, Yeol? Sama sekali tidak romantis" ucap Baekhyun yang dihadiahi sebuah teriakan 'tidak' dari para Elsa. "Jadi menurut kalian Chanyeol adalah orang yang romantis karena melamarku di hadapan kalian semua?" tanya Baekhyun.

Dan sekali lagi mereka berteriak dengan jawaban 'ya'.

"Romantis dan tidak romantis bukanlah hal yang penting, Baekhyun. Sekarang aku meminta tanganmu dan meminta hidupmu. Jika kau menginginkan aku berlutut maka aku akan berlutut sekarang" kini Chanyeol berlutut di hadapan Baekhyun yang menghasilkan teriakan dari para penggemar.

"Jadi?" Sehun telah menaruh dagunya pada bahu Jongin dan menatap pasangan itu dari ujung panggung. Memberikan mereka berdua spotlight dari panggung itu.

"Aku akan menyusun lamaran lainnya jika kali ini tidak berhasil"

"Berapapun proposal yang kau sampaikan padaku, jawabanku akan tetap sama, Yeol"

Sungguh, jantung Chanyeol berdetak terlalu cepat.

"Ya! Tentu saja, aku akan menikahimu, Chanyeol! Ayo menikah denganku!"

"Baekhyun, aku yang melamarmu!"

.

.

.

"Apa kau, Park Chanyeol, menerima pria di tanganmu sebagai pendamping hidupmu yang akan melewati segala kesulitan dalam hidup dan hidup mati bersamanya?"

Chanyeol menatap lelaki lebih kecil di sampingnya, "Aku mendapatkannya, Tuan. Aku tidak akan pernah melepaskan tangan ini"

"Dan kau, Byun Baekhyun, apa kau menerima pria di tanganmu sebagai pendamping hidupmu yang akan melewati segala kesulitan dalam hidup dan hidup mati bersamanya?"

Baekhyun tersenyum kecil dengan mata yang tertuju pada Chanyeol, "Aku adalah orang paling bodoh jika aku mengatakan 'tidak' untuk orang ini, Tuan"

"Sekarang, kalian dapat mencium pasangan kalian. Tuan-tuan dan nyonya-nyonya, secara resmi saya telah menikahkan kedua anak adam yang berbahagia ini, Park Chanyeol dan Byun Baekhyun!"

Kedua bibir itu bertemu, dan Baekhyun menangis. Sungguh, ia merasa sangat bahagia mendapatkan lelaki di hadapannya. "Jangan menangis, Baek. Apakah ciumanku seburuk itu?" tanya Chanyeol setelah ia melepas ciumannya. Baekhyun terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Ruangan itu masih penuh dengan suara tepuk tangan dan suitan dari Sehun yang menyebalkan.

"Mulai sekarang, kita akan selalu bersama, Chanyeol"

"Selamanya, Baekhyun"

.

.

.

.

.

END

.

.

.

.

Note :

Akhirnya cerita ini berakhir di sini, kkkk. Terima kasih untuk kalian yang telah mengikuti cerita ini dengan sabar dan menghargai kerja kerasku. Aku sungguh mencintai kalian yang telah mengapresiasi cerita ini dan selalu meninggalkan jejak di kolom review. Setelah ini akan ada satu extra chapter, aku harap chapter ekstra itu tidak membutuhkan waktu yang banyak

PS. Aku merasa 'aneh' menulis ketika Chanyeol melamar Baekhyun, sungguh.

Terima kasih~