Best Friend Become Lovers

Chapter 10 : Sorry

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Romance, Friendship

Rated: T

Sumarry: Siapakah pria misterius yang muncul di chapter sebelumnya? Apa yang dia inginkan sebenarnya? Dan bagaimana hubungan Mina-Kushi ke depannya.

RnR!

Minato duduk berhadapan dengan dua orang guru dan empat orang anggota OSIS, juga di dampingi ke dua orang tuanya.

Perbincangan mereka amat serius, tidak dengan Minato yang menanggapinya dengan santai. Tidak! Bukan, bukan santai! Dia tertekan.

"Ah baiklah kalau begitu, kami pamit dulu. Permisi." Setelah argumen sengit antara orang tuanya dengan para guru juga empat orang anggota OSIS, selama hampir 1 jam. Masalah itu terselesaikan.

Terselesaikan bagi pihak yang tidak menjalaninya, tapi masalah sesungguhnya baru di mulai bagi Minato.

Setelah meminta izin kepada ibunya, Minato berjalan menuju ruang OSIS. Mengenang semua yang terukir, tergores, terlukis dan semua memori yang tertulis rapih di dalamnya.

Bagaimana dia memimpin rapat OSIS untuk pertama kalinya sampai-sampai dia terus menerus mengucurkan keringat dingin, saat di mana dia resmi menjabat sebagai ketua OSIS, juga saat dia bertengkar dengan Kushina sampai membuat gadis itu menangis. Semua masih jelas terngiang di benaknya.

Sejenak dia melirik ke arah jendela yang langsung terhubung ke lapangan belakang, tempat di mana kelas Kushina sedang berolahraga. Maju mendekati jendela, matanya terfokus pada sosok gadis yang rambut merahnya sudah basah kuyup oleh keringat. Juga mengenang violet indah itu untuk yang terakhir.

Tangannya mengambil gunting kuku pemberian Kushina, mengingat Minato selalu menggunting kukunya dengan cara di gigit. Jadi Kushina membelikan Minato gunting kuku agar dia berhenti mengigiti kukunya.

Tangannya memutar pisau pencungkil yang ada di sela-sela tuas gunting. Mengarahkan bagian tajamnya ke kusen kayu jendela, mengukir kalimatnya dengan Kushina dulu.

'KMTS AAOH ZKOI EION AAAA'

Ukiran yang menjadi judul dari buku kehidupan Minato dan Kushina, nama mereka berdua.

Dengan masih menggenggam gunting kuku itu, Minato berjalan mengitari ruang OSIS. Mengukir semua kenangan fiksi menjadi kenangan fisik.

Tangannya terus bergerak, menekan pisau kecil pada gunting kuku itu. Mencurahkan semua kegundahannya menjadi karya ukir nan menyayat, bagi siapapun yang mengerti maknanya.

Sampai...

Minato berhenti di meja dan kursi yang sempat di tempati oleh Kushina saat rapat dulu, merabanya. Dan kembali bernostalgia pada detik-detik saat dia membentaknya, dan membuatnya menangis.

Tangannya kembali menari dengan gunting kuku tadi, dia kembali mengukir kalimat yang keluar dari hatinya.

'HNGN OIOA NIMS TIEA OINI UINI'

Minato ingin menangis, tapi bagaimana caranya. Dia tidak akan bisa jika terus memikirkan reaksi Kushina nantinya.

Dengan langkah yang enggan, Minato berjalan menuju pintu masuk. Wajahnya tertunduk, matanya kosong, seakan tidak memiliki cahaya lagi. Dia merutuki kebodohannya, banyak orang yang menjulukinya Jenius. Tapi dia bodoh sekarang, apa pedulinya itu semua tanpa sosok Kushina?! Itu tidak ada artinya.

'KC UH SA HN II'

Kalimat terakhir sekaligus penutup dari semua ukirannya, matanya memandang ruangan itu sekali lagi. Seakan enggan melangkah pergi dari tempatnya berpijak, ruangan itu seakan menjadi pusat gravitasi semua kehidupannya.

Masih dengan menggenggam erat gunting kuku pemberian gadisnya, dia melangkah menuju tempat parkir. Masuk ke dalam mobil milik ibunya, duduk di kursi penumpang yang berada di belakang.

Matanya masih memandang siluet Kushina yang sedang berlari, gadis yang bersemangat, cantik, baik. Sempurna untuk di jadikan sandingan Minato.

Kushina berbalik, menatap mobil sedan silver yang asing baginya. Tapi di dalamnya dia melihat sosok yang amat dia kenal, Minato. Sosok kekasihnya yang terlihat mengenakan pakaian bebas, apa hari ini Minato tidak sekolah? Tapi kalau tidak sekolah, bagaimana bisa dia di sekitar lingkungan sekolah?

Dua buah kelereng berbeda warna saling beradu pandang, bertukar kata, frasa juga kalimat. Kushina perlahan melangkah maju, berniat menuju mobil silver itu. Bertanya apa yang sebenarnya terjadi, tapi langkah kakinya ragu. Langkah kecil, dan waktu pun berputar lambat.

Minato tersenyum, menggelengkan kepalanya ke kanan. Memberi sebuah isyarat pada Kushina untuk pergi ke arah kanan Minato, jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan Minato yang di dempetkan dengan telapak yang mengarak ke arah Kushina. Mulut Minato yang membentuk bulatan 'o', dan tangan kirinya masih dengan telapak tangan yang mengarah ke Kushina. Dengan ibu jari yang terlipat ke depan, dan jari kelingking yang di tekuk setengah.

Kushina berhenti melangkah, matanya terfokus pada Minato yang sedang memberi tau sesuatu padanya. Dan otaknya yang entah sejak kapan mulai bekerja secara lambat dalam memahami isyarat Minato.

Kini kedua tangan Minato ia tangkupkan seperti sedang memohon doa, senyum kecil, dan kelerengnya yang mengarah ke arah matahari yang sedang tertutup awan. Dan sapphirenya kini turun menatap Kushina yang tengah terpaku memandangnya, mengacak surai pirangnya hingga benar-benar berantakkan. Memasang wajah masam, dan senyum kecut.

Tangan kanannya terangkat ke arah Kushina, mengarahkan kelima jari yang biasa ia gunakkan untuk mengacak helaian mahkota merah milik Kushina. Di mulai dari ibu jari yang di lipat ke depan, dan kemudian di susul dengan jari kelingking yang menekuk setengah. Tersenyum dan kemudian membalikkannya.

Violet Kushina memburam, air mata mengalir deras membasahi pipi putihnya.

Tersenyum di dalam tangisannya, Kushina mencoba membalas kalimat Minato. Memejamkan matanya dan mengarahkan tangan kirinya ke arah Minato dan tangan kanannya yang sudah membentuk huruf 'V' di dekatkan perlahan ke arah tangan kirinya.

Kushina segera berlari, menuju tempat yang di maksud Minato. Ruangan yang berada di sebelah kanannya, melihat tiap-tiap pintu ruangan. Semuanya tertutup.

Tapi pintu ruang OSIS terbuka sedikit. Penasaran dan curiga kalau ruang OSIS adalah ruang yang di maksud Minato, Kushina berjalan masuk. Berdiri dan terpaku di depan pintu masuk, menatap sekilas ruangan yang terbilang cukup besar itu.

Memandang satu-satunya jendela yang godennya tidak di tutup, memperhatikannya. Hendak menutupnya, tapi ada satu goresan kasar di sana.

'KMTS AAOH ZKOI EION AAAA'

Alisnya berkerut, sudah lama dia tidak pernah mendengar atau pun melihat kalimat ini sejak kepergian Minato dahulu. Dan sekarang, dia melihatnya lagi. Tersenyum simpul, senang kalau Minato masih mengingat kalimat mereka.

'KMTS AAOH ZKOI EION AAAA'

'KAZE MAKI TO SHINA'

Yang berarti Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina, mereka membuat kalimat mereka dengan acak. Tapi tentu dengan satu buah sistem, Kriptografi. Sistem persandian, mereka memilih itu karena tidak banyak orang yang tau akan Kriptografi. Jadi kemungkinan rahasia mereka akan aman.

Senyum yang tadi sempat tersemat hilang, tidak mungkin Minato menyuruhnya ke ruang OSIS hanya untuk sebuah kalimat mudah seperti ini? Pasti ada kalimat lain. Tapi di mana?

Melirik jam tangannya sebentar.

"Masih ada waktu 45 menit lagi, itu mudah!" Ujar Kushina semangat.

Berjalan perlahan mengelilingi ruangan OSIS, berharap ada kalimat lain lagi yang saling berhubungan dengan kalimat sebelumnya.

Sudah 5 menit, tapi masih juga belum di temukan. Apa Minato amat teliti menyimpan kalimat-kalimat itu?

Sekarang Kushina tengah berdiri di lemari tempat menyimpan dokumen-dokumen OSIS, tepatnya menghadap ke arah kalender meja. Kalender berbentuk segitiga itu di letakkan di sebuah meja kecil di samping lemari dokumen OSIS, Kushina mengangkatnya. Memandang seorang pria berambut kuning yang duduk di deretan OSIS yang seangkatan dengannya, duduk di kursi paling tengah juga dengan jas yang berbeda sendiri. Cukup untuk di ketahui orang lain, bahwa pria itu adalah ketua OSIS.

Tersenyum, Kushina hendak menaruh kembali kalender meja itu. Tapi matanya berhenti pada bagian meja yang sebelumnya tertutup oleh kalender tadi, bukan! Bukan mejanya, tapi ukirannya.

'2O 7C 7T 7O 7B 7E 7R'

Kushina berkedip cepat, di liriknya kalender yang menujukkan bulan sekarang yaitu bulan November. Sudah seminggu rupanya dia menjadi kekasih Minato, Kushina tersenyum. Mengelus singkat ukiran itu. Dan kembali mencari kalimat-kalimat lain.

Tapi ada satu yang terlewat, di kalender itu. Ada bercak tetesan air yang sudah mulai mengering. Tak tau kah dia, Minato mengukirnya dengan air mata. Dan dia membacanya dengan sesekali tersenyum. Apa Kushina tidak mengerti arah dan tujuan maksud Minato?

'2O 7C 7T 7O 7B 7E R'

Kalimat yang berarti 27 Oktober itu memiliki dua arti, baik dari masa lalu. Maupun dari saat ini.

Dua tanggal yang mempunyai kejadian yang sama, 27 Oktober 10 tahun silam. Minato pergi meninggalkan luka di hati Kushina, luka karena dia tidak mengabari sebelumnya. Dan luka karena perasaan Kushina yang belum terbalas.

Dan sekarang, tanggal 27 Oktober di mana saat perasaan Kushina pada Minato di balas. Tapi seminggu setelahnya, tepat tanggal 5 November. Hari di mana Minato pergi dengan meninggalkan luka kembali terjadi, luka karena Minato pergi sesaat Kushina merasakan cinta dari Minato. Cinta sesaat. Hanya dalam tempo seminggu.

Sekarang Kushina sedang berdiri mengahadap ke arah tembok tepatnya di bawah rak tempat menyimpan buku-buku agenda OSIS, di sana terukir sebuah kalimat sambungan lagi. Mungkin untuk yang ini Kushina tidak akan tersenyum.

'BJ EE RR LM IA NN'

Kushina yang merasa janggal dengan kalimat ini segera mencari handphonenya, membuka memo. Dan menjabarkan kalimat yang asing baginya.

"Berlin, Jerman? Ada apa memangnya dengan tempat ini?" Tanya Kushina yang belum mengerti. Mengabaikannya, dan kembali mencari kalimat yang lain.

Terus mencari, sampai tak terasa waktu yang tadinya 45 menit tersisa 15 menit. Sudah setengah jam rupanya dia berkeliling ruangan ini, lumayan memakan waktu juga.

Dan sekarang Kushina memperhatikan jas putih milik Minato, sempat terpikirkan olehnya jika suatu hari kelak dia akan menjadi istri dari Minato. Dan memakaikannya jas setiap mau berangkat kerja. Senyum manis dan rona merah menghiasi wajah putih Kushina jika dia mengingat kembali bayang-bayang liarnya barusan, benar-benar memalukan!

Tangannya mengambil jas putih Minato, memeluknya. Dia berjalan menuju kursi terdekat, kakinya sudah lelah berkeliling ruangan yang terbilang lumayan itu.

Di perhatikannya lekat-lekat jas putih Minato, terlihat sedikit kotor di beberapa bagian. Dan aroma tubuh Minato juga masih menempel di sana, terbukti saat Kushina menciumnya. Aroma parfum yang di kenakkan Minato yang bercampur dengan keringatnya. Menciptakan kesan tersendiri bagi Kushina.

Di letakkannya jas itu di atas meja, merapihkannya.

"Aku bingung, kenapa aku mau menjadi kekasih dari pria yang jorok?" Gumamnya pada diri sendiri.

Saat sedang merapihkan jas Minato, tangan Kushina merasakan sesuatu benda yang mengganjal di saku bagian dalam jas tersebut.

"Buku?"

Sebuah buku notes kecil tersimpan di sana. Buku bergambar rubah kecil, dengan kobaran api di belakangnya.

"Selain jorok, kau juga sembarangan dalam menyimpan benda. Dasar, baka Minato." Celoteh Kushina pada dirinya sendiri.

Jari-jemari lentiknya membuka satu persatu lembaran buku notes tersebut. Cukup terasa lembab di beberapa bagian kertas. Ada yang basah sepenuhnya, ada pula yang hanya sebagian.

Pada halaman pertama tertulis,

'BTDM UEAO LRRV ABIE NIIM NIIB NIIE NIIR'

Dan di bagian bawah kalimat tersebut ada sebuah gambar tanda panah. Kushina yang berniat langsung memecahkan arti kalimat itu hanya bisa mengurungkan niatnya, kalimat selanjutnya pasti berhubungan erat dengan kalimat ini.

Halaman kedua,

'SN AO MV PE AM IB IE IR'

Pada halaman ini juga ada gambar tanda panah di bagian bawahnya.

"Sebenarnya kau ini ingin memberi tau ku tentang apa?" Gerutu Kushina, dia merasa petunjuk ini seakan tidak ada habisnya.

Halaman ketiga,

'DSNL AAOA NMVG NPEI NAMI NIBI NIEI NIRI'

Kali ini tidak hanya tanda panah di bagian bawah halaman, tapi juga sebuah gambar emoticon yang sedang tersenyum dengan mata terpejam.

"Baka!" Oke emosinya kembali berubah sekarang, Minato memang bisa merubah mood Kushina dengan cepat. Padahal tidak secara langsung.

Halaman keempat,

'DM AA NT NA NH NA NR NI'

'AT KE AR NB NI NT'

Kushina menghela napas, terlebih saat violetnya bergulir ke bagian bawah kertas. Masih dengan tanda panah, tapi dengan gambar emoticon yang berbeda. Ekspresinya sama, hanya untuk yang ini di tambahkan jari telunjuk dan jari tengah yang membentuk huruf 'V'.

Halaman kelima,

'SEBS ENUE LALT AMAE MMNL MMNA MMNH MMNN MMNY MMNA'

Halaman keenam,

'JS IU KD AA AH'

Kali ini garis lurus anak panah di gambar menyerupai pegas yang meliuk-liuk, dan di bagian ujungnya ada sebuah segitiga.

Halamam ketujuh,

'AAGM KDEA AART NAHA NAAH NAAA NANR NANI'

Halaman kedelapan,

'SL EA KG AI LI II'

'ST UE DR AJ HA HD HI H?'

Halaman kesembilan,

'MAM AKU KAN ANN ANC ANU ANL'

"APA?! Masih ada lagi?!" Teriak Kushina saat melihat tanda panah lagi (?) Di bawah lembaran kertas, sebanyak apa memangnya pesan yang ingin di sampaikan oleh Minato?!

Halaman ke sepuluh,

'GB EU RL HA AN NN AN.'

Baiklah, sekarang Kushina menghela napas singkat. Tidak ada lagi kalimat sesudah kalimat ini, dan untuk memastikannya Kushina membalik halaman setelahnya.

"Bagus!" Seru Kushina semangat, benar-benar tidak ada kalimat lagi yang tertulis di halaman selanjutnya.

"Baiklah, aku akan kembali ke kelas."

Kushina memasukkan buku notes kecil tadi di antara lipatan jas Minato, dan bergegas bangun dari duduknya.

Tapi kegiatannya sontak berhenti saat di lihatnya ukiran yang berada di meja yang ada di depannya, ukiran yang amat menarik perhatian. Bagaimana tidak, ukurannya saja lebih besar dari ukiran-ukiran sebelumnya.

'HNGN OIOA NIMS TIEA OINI UINI'

'HNGN OIOA NIMS TIEA OINI UINI'

'Hontou ni gomen nasai'

"Untuk ini kau ku maafkan karena sudah menyusahkanku dengan teka-teki bodohmu!"

Kushina berjalan keluar ruang OSIS, menatap pintu masuk yang di sana masih ada ukiran lainnya.

"Dasar bodoh! Sudah berapa kali ku ingatkan jangan pernah panggil aku dengan nama itu. Kushi-chan? Apa dia pikir aku ini anak-anak?" Tanyanya seraya melenggang menjauhi ruangan itu.

Sedangkan Minato dia bernafas lega, saat Kushina sudah tau kalimat apa yang di berikan untuknya, ya.. walaupun belum semuanya.

Karena Minato menyiapkan sebuah riddle di antara sekian banyak kriptografi buatannya.

To

Be

Continued.

That's rigth!

Chapter ini cukup memusingkan karena ada kriptografinya? Kalian bingung? Sama Suna juga bingung #sweatdrop

Okeh buat yang bingung atau sebagainya, bisa di ajukan ke Suna melalui review. Kalau mau ada yang PM juga boleh, asal di jelaskan di bagian 'Re' atau 'Subjek'-nya.

Hahhh...

Baiklah, setelah ini Suna akan Hiatus. Hiatus hanya untuk fic ini saja, bukan karena tidak ada feel atau malas.

Suna sudah membuat konsep kasarnya sebelum fic ini Suna publish, dan saat Suna baca ulang. Fic ini cukup sulit soalnya terlalu rumit bagi Suna yang pemula, entah Suna juga ga tau bisa buat konsep kasar serumit itu bagaimana caranya. Suna berniat merombak, tapi kalau di perhatikan lagi. Merombak chapter ini sama saja merombak chapter selanjutnya, bisa kalau merombak sedikit. Tapi Suna bingung mau cut di bagian mana. Jadi Suna putuskan untuk membuatnya dulu baru di publish.

Kalau ini chapter 10, berarti Suna akan publish lagi saat chapter 12 atau 13 sudah selesai di ketik. Jadi tinggal di update aja.

Kalau ada yang tanya, kalimat di notes kecil itu artinya apa? Akan Suna terjemahin di chapter depan.

Dan sekedar informasi lagi, untuk beberapa fic karya Suna.

* I Believe = Akan complete di chapter 6, dan sudah di update sesudah fic ini update. Jadi bagi yang berminat bisa mengunjunginya di list story Yasuna.

* U and I! = Kemungkinan complete di chapter 8 atau mungkin lebih, untuk kapan update... mungkin tidak lama setelah I Believe update. Chapter 3 juga sudah setengah jadi kok.

* Revolt = Untuk yang ini tidak akan di complete-kan, di karenakan ini merupakkan kumpulan fic one shoot. Jadi tidak bisa di jamin akan di complete-kan. Maaf juga karena terlambat update.

* Remorse For Better End = Kemungkinan akan hiatus sampai waktu yang tidak di tentukan. Mungkin 2 bulanan. Atau mungkin, kalau Suna berubah pikiran akan Suna Re-Make. Tapi, entahlah.. feel untuk fic itu hilang entah kemana.

* AZ = Mungkin akan update satu minggu setelah lebaran. Ficnya sendiri, sudah Suna ketik sampai chapter 5 dan untuk tulis tangan sudah sampai chapter 7.

* Dark Angel = Berhubung Dark Angel adalah fic horror, Suna ga janji bisa update tepat pada waktunya. Karena jujur, itu adalah fic horror pertama Suna. Jadi mohon maaf.

Ya.. sekian cuap-cuapnya. Setidaknya dengan begini beban Suna lebih ringan, ringan karena sudah terbuka dengan readers sekalian.

Dan lagi, kemarin-kemarin WB itu sempet melanda Suna dan Akemi-Neechan. Tapi sekarang udah mendingan kok.

Ya... baiklah, untuk para readers yang ingin mereview waktu dan tempat di persilahkan.